Thursday, July 21, 2016

Setiap Tahun

Setiap tahun, jalan-jalan melebar. Ada rumah-rumah yang tak lagi berpekarangan. Pohon-pohon tumbang diangkut otot-otot suruhan. Kerikil-kerikil sisa meruncing diinjaki bocah-bocah.

Setiap tahun, ada gedung-gedung baru yang akhirnya menjadi hantu. Menakuti kota dengan tumpukan cerita. Dari menara yang tak pernah usai, balok-balok gedung yang telanjang, dan gundukan pasir di setiap sudut pagar.

Setiap tahun, ada janji-janji yang terlantar. Sampai berganti-ganti mulut, pun berganti tahta yang ditandu menuju rumah. Cerca hanya dibiarkan berlalu. Sebab mereka hanya satu. Sedangkan penjilat ada seribu.

Setiap tahun, berita-berita dikabarkan percuma. Ada yang sudah terbiasa menyusuri 'jalan pena' yang keliru. Semua menjadi sia-sia sebab jawaban yang sama akan selalu satu: selama saku masih menghadap ke atas, maka ia selalu minta diisi.

Setiap tahun, akan selalu begitu. Selalu...

Tuesday, July 19, 2016

Bulan

Malam ini, bulan bergulir begitu cepat di kota-kota besar. Karena polusi dan lampu-lampu kota yang melekaskannya.

Malam ini, bulan sedang tidak di atas kuburan. Ia sedang dijerat kabel-kabel dan ditusuk tiang-tiang listrik.

Malam ini, bulan akan luput dipandangi. Sebab orang-orang tengah sibuk menyibak rerumputan, berharap Pikachu ada di sana.

Malam ini, bulan hanya hadir di desa-desa. Di pucuk pepohonan yang berkelambu kabut tipis.

Malam ini, bulan sedang tidak ingin dipuisikan. Tapi aku ingin...

Pantai

Pada pasir pantai
kita menyisir sedikit demi sedikit jejak
Barangkali...
ada anak-anak kepiting saling merangkul di sana
Jangan diusik
sebab mereka tak pernah berisik

Wednesday, July 13, 2016

Petjah!

Subuh tak melulu doa
Ada dosa terselip di antara kisi-kisi pagi
Ada kebiadaban yang menunggu dilecut
Dan ada bisu yang sedang pura-pura

Kemudian... Petjah!

Friday, July 8, 2016

Cinta

palembang.tribunnews.om

Alkisah, sepasang iblis buruk rupa saling mencintai. Mereka hidup di semesta berbeda dengan manusia. Mereka hanya hidup berdua dan sangat bahagia. Sudah ribuan tahun usia mereka.

Sesekali, mereka berdua bergantian menuju alam manusia, untuk menjalankan tugas menggoda. Sampai akhirnya tuhan memberi ketetapan, bahwa pasangan betina usianya sudah mencapai batas.

Iblis jantan bermohon berkali-kali kepada tuhan, agar usia pasangannya diperpanjang. Ia tidak bisa hidup tanpa pasangannya.

Permohonan itu ditolak. Akhirnya, iblis betina berpulang dengan dijanjikan akan menempati surga. Tentunya, setelah melihat wajah tuhan, seyogyanya dosa mereka diampuni.

"Pasanganmu akan ditempatkan di surga setelah ia melihat wajahku," suara tuhan terdengar.

"Dan di surga, apakah kami bisa hidup bersama kelak?" tanya iblis jantan.

"Sesuai ketetapanku, di surga kalian tentunya tidak akan hidup bersama. Nikmat kalian sebagai makhluk ciptaanku, adalah melihat wajahku," kata tuhan.

Iblis jantan hanya terus meratap. Tuhan heran, sebab seluruh mahluk termasuk manusia, malaikat, dan lain sebagainya, memiliki kerinduan tak berujung kepada pencipta mereka.

Tuhan pun bertanya kepada iblis jantan, "Kenapa kau menangis? Apakah kau tidak ingin melihat wajahku lagi? Yang kemudian akan membawamu kembali hidup di surga? Kau tidak merindukan itu?"

Iblis jantan menjawab, "Satu-satunya kerinduan terbesarku adalah melihat wajah pasanganku. Dan tempat yang kuimpikan bukanlah surga, tapi berada di sisinya."

Eropassi, 7:06 am
Saturday, 9 July 2016

Wednesday, July 6, 2016

Lebaran


Seperti sebuah maaf, lebaran hadir begitu singkat. Ia menunggu untuk dirayakan.

Seperti sebuah kata, lebaran terucap tanpa perbandingan. Ia muncul tiba-tiba tanpa ditimang-timang.

Seperti sebuah doa, lebaran tiba begitu hening. Ia melesat ke dalam hati yang bening.

Seperti sebuah dosa, lebaran tercipta tanpa warna. Ia ada ketika bayangan berpelukan dengan jasad.

Seperti sebuah tangis, lebaran menetes begitu deras. Ia mengalir dan membasuh kerinduan.

Seperti sebuah tawa, lebaran terdengar nyaring seketika. Ia mengekalkan rasa berbagi suka cita.

Seperti sebuah subuh, lebaran menggigil bertelanjang rupa. Ia menjadi sungai-sungai tempat melarung segala laku.

Friday, July 1, 2016

Berburu Kupu-kupu

Mari pergi berburu kupu-kupu
Di semesta bunga beragam warna
Mengejar kelepak-kelepak ringan
Dengan jaring melambai di udara

Kupu-kupu itu terbang gemulai
Jaringku menangkap satu
Kuning dan putih warnanya
Indah seperti mentari pagi

Iseng bocahlah yang mengajakku
Berburu kupu-kupu yang indah itu
Hanya ingin mengelus sayap-sayapnya
Agar kutahu seperti apa keindahan ciptaan Tuhan

Puas sudah, ia kulepas bebas
Terbang ke mekar-mekar bunga
Dengan kepak pelan ia hinggap
Menghidu aroma mewangi

(Puisi ini untuk adik Tasya, yang dibacakannya saat pentas seni 'Buka
Puisi'. Terus belajar ya, Dik.)

Boeng, Ajo Boeng! Reboet Kembali!

wikipedia.org

Sore di Ramadan itu masih benderang. Lapar dan dahaga memuncak. Namun ada segeliat anak-anak muda, tampak sibuk di sebuah taman kota. Mereka memajang buku-buku pada sepenggal rak mini. Menyulap taman kota berlumut itu jadi taman bacaan.

Panggung mungil berkesan sederhana dihiasi pajangan-pajangan. Dari mulai; nukilan-nukilan penyair dan penulis besar yang mengapur berwarna-warni pada papan-papan tulis hitam, kotak-kotak kayu dan buku-buku yang bertebaran, juga seuntai lampu hias dan kertas berwarna merambat bersilangan di atasnya.

Bangku tua, cajon, dan dua stand mic, mempertegas kesan kesederhanaan pentas seni yang bertajuk 'Buka Puisi' di sore itu. Tenda, tikar-tikar kain bermotif kotak-kotak dan bantal-bantal mungil bertebaran di sekitar panggung. Photo booth yang didesain serupa bingkai Instagram, melengkapi komposisi tema acara 'Dekorasi Piknik'.

Inisiator pentas seni itu, adalah anak-anak muda Kelompok Pelajar Mahasiswa Indonesia Bolaang Mongondow (KPMIBM) cabang Makassar. Juga diramaikan KPMIBM cecabang lainnya dari Jogja dan Bandung. Mereka mahasiswa dan mahasiswi yang tengah mencari remah-remah pengetahuan, untuk dibawa pulang ke tanah leluhur, Bolaang Mongondow.

Mereka mengatalis kegelisahan atas pembiaran ruang-ruang publik di Kotamobagu, menjadi ide untuk menggagas sebuah pentas seni. Kegelisahan yang sama, yang dirasakan oleh anak-anak muda yang mafhum, bahwa ruang-ruang publik di Kotamobagu, telah menjadi ruang hampa kreatifitas.

Proyek-proyek taman kota di Kotamobagu selama ini, terkesan asal-asalan dan miskin ide. Seperti sepotong taman kota di Gelanggang Olahraga (Gelora) Ambang, yang hanya ditongkrongi dedemit. Gelora Ambang jadi sarang hantu, setelah bertahun-tahun ditelantarkan.

Taman kota yang dicat biru-putih itu, yang mungkin nanti akan diubah catnya menjadi merah, adalah sepotong taman yang angker bin mokoondok (menakutkan). Manusia mana yang berkenan melepaskan penat di sana?

Sedangkan taman kota tempat dilangsungkannya pentas seni 'Buka Puisi', yang berada di titik terindah di pusat kota, sudah menjadi rahasia umum bahwa selain jadi ring kelahi, juga menjadi tempat perempuan-perempuan malam menjajakan birahi demi sesuap nasi. Mereka yang berada di kelas terbawah, yang tak tahu lagi harus mengais uang rempah-rempah, lauk, dan beras di mana.

Taman kota juga menjadi sasaran empuk razia-razia. Siapa yang mau menongkrong di sana, jika razia-razia jadi momok menakutkan bagi anak-anak muda? Bahkan ruang seprivasi kos-kosan dan hotel-hotel, tak luput dari geruduk.

Maka pentas seni yang membingar di taman kota itu, sekadar protes atas segala pembiaran dan pembuyaran yang terjadi. Di mana lagi anak-anak muda ingin menumpah-ruahkan kreatifitas mereka? Di kedai-kedai kopi yang menjamur dan mahal itu? Tempat di mana cangkir-cangkir kopi pajangan difoto, ditebar, lalu meruap sia-sia?

Di 'Buka Puisi', bait-bait puisi karya penyair-penyair Bolmong, meninju congkak para orang-orang tua berkepala batu. Meminta agar kebodohan-kebodohan mereka disingkirkan lalu di-upgrade. Mata mereka dibuka, dan telinga-telinga mereka dilebarkan agar bisa menangkap pesan-pesan.

Tema 'Dekorasi Piknik' juga jadi bentuk kritikan kepada para pemangku kebijakan. Seperti hendak mengatakan, "Piknik dulu sana!"

Iya, piknik sebenar-benarnya piknik. Biar pikiran segar dan ide-ide cemerlang hadir. Bukan piknik berupa: studi banding, kunjungan kerja, dan pasiar-pasiar yang sia-sia, yang hanya menghabiskan uang negara, uang rakjat!

Selain protes atas razia-razia yang marak terjadi, segala keluhan anak-anak muda juga terlontar di sana. Dari internet yang katanya gratis di taman kota Kotamobagu, yang ternyata tidak bisa diakses. Taman kota yang penerangannya tidak memadai dan memang pantas jadi ring kelahi. Toilet yang gelap, licin, dan baunya seperti mulut pejabat-pejabat pengumbar janji.

Dan, ketika taman kota beralih fungsi menjadi tempat esek-esek, maka jangan salahkan perempuan-perempuan malam itu. Mereka bermaksiat karena nasib mereka sekarat. Mereka melacur karena pengingkaran janji-janji negara untuk menjamin hak hidup mereka.

Jika taman kota menjadi wadah kreatifitas anak-anak muda, bukan tidak mungkin perempuan-perempuan malam itu akan diajak bertukar-tangkap pengetahuan, lalu ditulari pikiran-pikiran merdeka; bahwa hidup tak selekas separuh malam, yang mereka lewati dengan para lelaki hidung belang. Hidup ini panjang dan begitu luas untuk dipenuhi dengan mimpi-mimpi besar.

Mencuri kata-kata penyair Chairil Anwar pada poster ketika kemerdekaan Indonesia 1945 yang, ternyata kata-kata itu dipungutnya dari ucap-ajak para pelacur di Jakarta di masa itu...

Boeng, ajo boeng!

Kita reboet kembali!

'Buka Puisi' adalah hatur hormat kami pada Kotamobagu. Kami mencintai kota yang mungil ini. Sebab kota ini adalah laci tempat dimana tersimpan kenangan-kenangan.