Sunday, October 15, 2017

Pembatas Buku

Aku meloncat halaman demi halaman. Dalam gelap buku terkatup. Kedua sisi menindih, atau mungkin merangkul. Aku hanya meraba dalam pengap.

Pada halaman sebelas. Aku membacai cerita penuh galuh. Berserakan di lantai licin berbusa bir, dalam kamar bising dan bingkai jendela bau pesing. Ada tawa dan lenguhan.

Dan nama-nama yang tak kukenal itu, berbicara tentang bahagia. Tapi bukan bahagia akan cinta. Mereka menyebut cinta hanyalah kelakar. Lalu menertawainya.

Aku melihat cahaya dan berpindah lagi ke halaman empat puluh satu. Gulita. Ada nama baru lagi. Nama seorang dula, yang kerap menyesali hidup.

Hidupnya tak pernah berpinar. Ia berkata bahagia hal yang muskil. Orang-orang dula seperti dia, dan orang-orang yang duduk di geta, sedang tidak benar-benar hidup. Hanya berjalan menuju redup.

Aku lama di halaman itu. Hampir sepekan, dengan umpatan. Sampai pendar cahaya memisahkan aku, dengan halaman yang penuh senandika. Kata terakhir yang kubacai: biarkan dunia ini hubar-habir.

Halaman sembilan puluh. Salah satu nama kukenali, dari halaman sebelas. Gadis yang telah dewasa. Menikah dan bahagia, tanpa cinta.

Ia sedang menggendong bayi. Matanya penuh kasih menatap bayi, yang sesekali memuntahkan susu. Tapi ia membayangkan wajah lain. Wajah yang pernah dikecupnya, lalu dimuntahi.

Sebulan aku dengan halaman ini. Membacai berulang kali kisahnya, dan tak pernah tahu untuk siapa cintanya. Laki-laki itu tak ada di halaman sebelas. Perempuan itu kembali berbicara dengan bayi, yang tak pernah mengerti bahasanya.

Udara pantai menyergapku, sebelum aku dijepitkan ke halaman seratus dua puluh tiga. Aku bertemu seorang kakek. Ia pedofilia dan baru saja ditangkap.

Kakek itu mencumbu seorang bocah perempuan. Di bui, penisnya disundut rokok seorang sipir. Tapi kakek itu hanya tertawa. Ia berkata: aku cinta anak itu, dan aku tetap mencintainya sampai membusuk di sini.

Kakek itu kembali berkata: cinta itu bukan seperti pembatas buku, yang hanya singgah dan melompati halaman demi halaman tak berurut. Sipir itu menamparnya. Kakek itu kembali berujar: cinta juga bukan seperti tamparan ini. Dan aku seperti ditampar.

Setelah dari pantai, aku kembali berpindah di halaman seratus tujuh puluh satu. Aku hanya menemu sisi lembar kosong, dan gambar jalan bercabang di sebelahnya. Aku lama berdiam di halaman ini, sebab pembatas buku tak pernah terselip di akhir cerita. Aku tak pernah mengerti seisi buku, seperti kata kakek itu.

Mungkin, seperti itukah cinta?