Tuesday, January 31, 2017

Cocoklogi di Balik Pamali dan Tradisi


Beberapa hari lalu, setiap bohlam di rumah kami dikerumuni laron. Cara terampuh mengatasi itu ialah dengan mematikan lampu di dalam rumah. Sedangkan yang di luar dibiarkan menyala agar laron-laron beralih ke luar rumah.
Seperti kata orang tua zaman dulu, jika laron-laron muncul maka itu pertanda musim hujan akan segera tiba. Saya coba memastikannya dengan menelusurinya di internet, dan benar saja, ada beberapa artikel yang mengulas jelas tentang itu.
Yang aneh dari serangga hasil mutasi rayap itu, jika mereka sangat menyukai cahaya, kenapa mereka tidak keluar pada siang hari? Ah, mungkin matahari terlalu tinggi untuk mereka raih.
Tapi, artikel ini tidak sedang mengulas detail soal laron, melainkan soal pertanda tibanya musim hujan. Iya, setelah laron-laron itu muncul beberapa hari lalu, hanya selang satu hari hujan mulai turun. Parahnya, siang kemarin disertai hujan deras, angin kencang, dan petir. Di stasiun-stasiun tv, ramalan cuaca ekstrem juga sudah disiarkan. Sulawesi Utara termasuk di dalamnya.
Nah, ada fenomena yang unik ketika badai datang kemarin. Di desa kami, Desa Passi, yang terletak di Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara, ada cara unik untuk menangkal badai. Sebenarnya itu kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang kami. Yaitu meletakkan alat pencukur kelapa tradisional beserta sebilah parang di pekarangan rumah.
Aneh, bukan? Saat hujan deras, angin kencang, dan petir, eh, malah orang-orang tua mengeluarkan dua benda itu lalu menaruhnya di pekarangan rumah.
Saya iseng juga memikirkan maksud dari kebiasaan itu. Apakah dua benda itu merupakan alat ukur canggih di masa itu tentang seberapa besar badai bisa diketahui? Yakni dengan hanya melihat apakah parang yang ditancapkan bakal roboh atau pencukur kelapa itu terempas diterpa angin.
Tapi, bukankah atap-atap rumah yang beterbangan dan robek serupa kertas sudah lebih dari cukup? Atau pepohonan yang tumbang di sana-sini. Atau bendera-bendera partai jelang pilkada serentak yang terbawa angin dan hujan serupa anai-anai di hari kiamat. (Untuk yang terakhir ini saya malah bersyukur. Bendera-bendera partai itu jadi polusi visual di desa kami.)
Dari percakapan-percakapan orang-orang tua dulu, katanya nenek moyang kami sengaja meletakkan dua benda itu di pekarangan rumah dengan maksud sebagai penangkal atau lebih tepatnya perangkap petir. Pencukur kelapa bergerigi terbuat dari logam besi, sama halnya dengan parang. Bisa jadi, ketika petir turun menyambar, maka lecutan petir akan terarahkan ke kedua benda itu. Betapa rasionalnya nenek moyang kita, bukan?
Saat badai menerpa kemarin, foto-foto dua benda itu menjadi viral di beberapa sosial media, khususnya teman-teman sewilayah. Anehnya, banyak yang berkomentar bahwa itu kebiasaan bodoh. Padahal mereka tidak pernah coba mencari tahu apa maksud dari kebiasaan itu.
Sama halnya seperti ketika orang tua melarang kita menyapu rumah di malam hari. Pamali. Setelah mendengar alasan mereka, ternyata di zaman dulu, rumah-rumah warga semuanya terdiri dari rumah-rumah panggung. Jika menyapu malam, debu-debu akan berterbangan lalu mengenai orang-orang yang sedang berjalan di depan atau samping bawah rumah. Kebiasaan itu terus terbawa hingga rumah-rumah modern tak berkaki dibangun.
Juga larangan untuk jangan menjahit di malam hari. Itu berkaitan dengan penerangan di rumah zaman dulu, yang hanya menggunakan lampu minyak atau lampu botol. Jika menjahit dengan cahaya yang minim, tentu saja jejari kita rentan tertusuk jarum. Larangan itu juga menjadi kebiasaan hingga sekarang—di zaman yang begitu terang benderang.
Tak sedikit larangan-larangan seperti itu dibalut dengan alasan-alasan mistis. Atau hal-hal yang tak masuk akal. Tapi, tampaknya maksudnya sebenarnya baik.
Misalnya, larangan untuk jangan memotong kuku atau rambut di malam hari, yang katanya nanti akan berusia pendek atau ditemui dedemit. Padahal alasan masuk akal dari larangan itu persis seperti larangan jangan menjahit malam. Karena penerangan yang minim kala itu. Jika memotong rambut malam hari di zaman dulu, bersiap-siaplah telinga kita juga ikut terpotong. Atau alih-alih memotong kuku, malah jejari kita yang habis terpangkas.
Juga soal larangan agar jangan menduduki bantal tidur karena pantat kita nantinya bakal bisulan. Padahal sebenarnya larangan itu bermaksud baik. Bantal adalah tempat kepala kita berlabuh ketika tidur. Kepala manusia begitu dihormati karena tempat otak berdiam. Sangat tidak sopan jika kita menduduki bantal yang dipakai orang untuk tidur. Apalagi ketika kita duduk, bantal itu kita kentuti.
Selain deretan larangan di atas, yang cukup membuat kedua alis saya saling merangkul itu, soal larangan untuk jangan coba-coba duduk di depan pintu depan rumah, jika ada perempuan yang sedang hamil di dalam rumah tersebut. Jika hal itu terjadi, si perempuan hamil itu bakal kesulitan saat melahirkan.
Tapi, sebenarnya satu-satunya alasan rasional, yakni ketika kita duduk di depan pintu rumah, sebenarnya kita menghalangi arus lalu lintas di rumah tersebut. Otomatis, si perempuan hamil itu bakal kesulitan untuk melewati pintu rumah, jika kita duduk di sana. Dan itulah sebenarnya alasan kenapa larangan itu dibuat.
Ada juga satu larangan yang saya masih ingat jelas. Kejadiannya saat itu saya masih duduk di sekolah dasar. Sepulang sekolah, saya dan dua orang teman lainnya bermain gundu di pekarangan rumah. Seperti biasa, kami menumbuk-numbuk tanah dengan batu untuk membuat lubang. Hanya beberapa detik kemudian, nenek keluar dari rumah lalu meneriaki kami.
“Hoiii! Jangan menumbuk-numbuk tanah dengan batu. Nanti ayamnya mati semua.”
Kami yang saat itu baru berusia sekitar tujuh tahun saling berpandangan. Heran. Apa hubungannya tanah yang ditumbuk-tumbuki dengan ayam yang bakal mati bergelimpangan?
Bertahun-tahun kemudian, saya coba menemukan korelasi atau sekadar cocoklogi yang tepat untuk kedua kasus itu. Semuanya terjawab, saat saya hendak tidur siang, kemudian terdengar dari pekarangan suara tanah yang ditumbuk-tumbuki batu. Dentuman batu yang bertemu tanah itu terdengar sangat mengganggu. Seperti bunyi detak jantung seorang jomblo yang tengah menunggu pesan singkat dari seseorang pada Sabtu malam.
Dan ternyata … anak kakak saya dan teman-temannya yang baru pulang sekolah, rupanya hendak bermain gundu. Asu!

Artikel ini sebelumnya dimuat di Mojok

Sunday, January 15, 2017

Selamat Ultah Bedew


Sebelum berangkat ke Gorontalo, saya menziarahi makam Boneng (Onang) dan makammu, Bedew. Saya meminta Ucil, adik laki-lakinya Boneng untuk menemani saya. Saya tahu, tidak lama lagi hari kelahiranmu tiba. Tepat hari ini, 15 Januari.
Ibumu membukakan pintu dapur yang mengarah ke makammu. Ia berusaha tersenyum, tapi kesedihan terlalu berkabut di wajahnya.
Di makammu, masih ada karangan bunga yang telah hancur diremas panas matahari dan air hujan. Ada juga potongan demi potongan kenangan, ketika kami menemanimu selama tujuh malam di pondok samping makammu.
Beberapa batang rokok kami habiskan di pondokmu. Kerabatmu, Adit, juga datang menyusul. Dan seperti biasa, kesedihan itu berulang seperti kamu baru saja berpulang.
"Torang so mo pigi ne, Bedew."
Di depan, ibumu mencegat kami. Kali ini, raut wajahnya tak lagi berkabut kesedihan. Namun diliputi mendung yang dengan segera menjatuhkan bulir demi bulir air mata. Ia terisak-isak. Dan tanpa disadari, air mata kami juga telah ikut mengalir begitu saja.
"Tanggal 15 ini dia pe ulang tahun. Kong mo bekeng apa? Saki skali ini hati... Da pa inga skali." Tangis ibumu pecah. Saya jadi merasa bersalah telah mengundang kesedihan itu lagi di wajah ibumu.
Kemudian ibumu bercerita, kalau ia dan ayahmu telah bersepakat untuk menjual mobilmu. Ada satu niat mulia di balik itu. Selain itu, ibu dan ayahmu merasa tersiksa terus menerus ketika setiap terbangun di pagi hari, kerap kali mendapati mobilmu terpakir di garasi.
Tak ingin berlama-lama memupuk kesedihan ibumu, kami pun pamitan. Ia mengucapkan terima kasih. Punggung tangannya masih terus mengusap air mata, ketika kami beranjak pergi.
Ah, Bedew, maaf sudah membuat ibumu bersedih lagi.
Selamat hari ulang tahun, Bedew. Cheeerrsss!
Banggalah karena kamu menjemput kematian tanpa pernah menjadi orang dewasa.

Thursday, January 12, 2017

Pergi


Mamak baru saja sembuh. Saya juga. Tapi sepertinya rapat tahunan AJI Gorontalo 2017, yang kali ini rencananya dibikin di pesisir pantai, membuat liur ini tak berhenti menetes. Apalagi di grup WhatsApp, teman-teman mulai membagikan foto-foto lokasi rapat tahunan itu. Tahun kemarin, lokasi rapat dipilih di daerah puncak Dulomayo. Kali ini di pantai Kurenai. Keduanya tempat yang indah.
Jika komunitas atau organisasi lain bersemangat untuk menggelar rapat tahunan di hotel, kami lebih memilih menggelarnya di alam terbuka. Kemping dengan logistik yang dibawa masing-masing anggota, kemudian dimakan bersama-sama. Malam harinya, api unggun ikut menghangatkan kisah-kisah tentang apa saja yang terjadi di rentang tahun sebelumnya.
Saya akhirnya memutuskan berangkat ke Gorontalo, pagi tadi, tanpa memberitahukan dulu kepada teman-teman saya di AJI Gorontalo (setelah sampai di sekretariat AJI Gorontalo dan kantor Degorontalo.co baru rencananya catatan ini saya posting). Yang mereka tahu, saya tidak jadi hadir karena kesehatan saya menurun akibat terus memikirkan apakah bumi ini datar, bulat, kotak, atau seperti bentuk Marshmallow.
Tapi ada hal lain yang terus mengganggu pikiran saya dalam perjalanan ini. Ketika Mamak sakit, yang kerap kali terjaga hingga pagi tiba itu hanya saya. Pernah dengan suara rengsanya, Mamak coba membangunkan siapa saja yang berada di dalam rumah, dengan memanggil nama. Di rumah kami, setelah Papak berpulang, sebenarnya hanya tersisa Mamak, saya, kakak laki-laki, dan satu anak perempuan dari kakak laki-laki saya yang satunya lagi, yang ikut tinggal di rumah karena ia masih bersekolah di SMP Negeri 2 Passi. Sebab jarak sekolahnya lebih dekat dari rumah kami, ketimbang dari rumah ayahnya.
Selain itu, di rumah, kadang-kadang anak perempuan dari kakak perempuan saya yang saat ini tinggal bersama saudara kami di Bali, juga sering menginap bersama putranya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Dan dari semua daftar orang di atas, setiap paginya hanya saya yang bisa terjaga siaga menangkap panggilan Mamak. Kecuali jika ada yang tidur di sebelahnya.
Sewaktu saya beritahu, bahwa saya hendak ke Gorontalo lagi, karena ada rapat tahunan, dan hanya tinggal menunggu kabar mengenai proposal kami untuk sebuah program di kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, Mamak malah senang. Di wajahnya tak ada guratan yang hendak menahan kepergian saya. Mamak malah bertanya apa-apa yang mau dibawa nanti? Mamak pula yang bersemangat menyediakan pisang goroho untuk dibawa.
Dan seperti biasa, Mamak akan bertanya-tanya apa lagi yang mau saya bawa: seperti sabun mandi, sikat gigi, air mineral, nasi bungkus, telur rebus, biskuit, dan lain sebagainya. Walau di perjalanan sebelumnya, saya kerap menolak membawa bekal itu.
Mamak selalu memperlakukan kami seperti kami ini masih kanak-kanak. Itu juga ia berlakukan kepada kakak laki-laki saya, jika kakak saya hendak pergi menengok kebun kami di Desa Toruakat.
Tadi malam, sebelum paginya saya berangkat, Mamak masuk ke kamar saya. Mamak menyodorkan secarik kertas yang bertuliskan nama dokter dan sebaris nomor telepon. Tangannya bergetar. Mamak meminta saya untuk menghubungi nomor itu, karena tiba-tiba saja keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuhnya.
"Mungkin gula darah Mamak turun atau naik lagi. Atau malah tekanan darah Mamak yang naik," katanya begitu pelan. Iya, hanya dua penyakit itu yang paling merepotkannya: diabetes mellitus dan hipertensi.
Saya kala itu sedang terlibat pembicaraan dengan teman di telepon. Setelah teman saya selesai berbicara lalu menutup telepon, saya mengambil secarik kertas itu yang diletakkannya di atas kasur. Karena tidak punya pulsa, saya bilang kepadanya, saya pergi dulu mengisi pulsa. Tapi ternyata Mamak baru saja menghubungi dokter itu, lewat ponsel sepupu saya. Mamak malah tengah asyik duduk di depan tv, menonton acara jodoh-jodohan, sambil menyesap teh manis hangatnya.
Paginya, berat hati saya untuk melangkah pergi dari rumah. Tapi pakaian saya semuanya telah di-packing. Buku-buku, koleksi majalah dan koran telah saya masukkan ke dalam lemari agar tidak berdebu. Pisang goroho sudah di kardus. Mobil sudah dipesan. Dan saya harus pamit kepada Mamak.
Rumah adalah tempat paling nyaman dan mengenyangkan. Berat badan saya akan naik beberapa kilo hanya dalam sepekan, jika saya berada di rumah. Mamak pintar memasak dan tahu memanjakan lidah kami. Dan kali ini, saya harus puasa dengan masakannya. Ah, hitung-hitung sebagai diet lagi.
Sehat selalu Mamak...

Monday, January 9, 2017

Motayok, Tarian Pengobatan di Bolmong yang Terancam Punah

Chairun dan putranya, sedang memainkan alat musik Gimbal (Gendang) dan Golantong (Gong).
Chairun Mokoginta, salah satu pegiat budaya di Bolmong, sedang asyik menabuh alat musik Gimbal (Gendang), ditemani putranya yang turut menabuh Golantong (Gong). Hanya lima menit ia memainkan alat musik tersebut, kemudian ia duduk berbincang dengan saya, di serambi rumahnya, di Kelurahan Genggulang, Kecamatan Kotamobagu Utara, Kota Kotamobagu.

Jika kita mendengar nama tarian Motayok, mungkin begitu asing di telinga. Tapi tarian itu adalah salah satu tarian warisan leluhur di Bolaang Mongondow (Bolmong) yang sangat jarang lagi kita dengar bahkan saksikan.

Tarian itu menurut Chairun, adalah peninggalan para leluhur sejak ratusan tahun lalu. Tarian itu juga berfungsi sebagai tarian ritual pengobatan. Tarian tersebut diiringi dengan alat musik Gimbal dan Golantong yang baru saja ia dan putranya mainkan tadi.

Motayok adalah sebuah upacara ritual untuk mengobati orang sakit. Ritual itu sudah dilakukan oleh leluhur kita, sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan, kebiasaan Mokitayok adalah upacara ritual pengobatan tertua di Bolaang Mongondow,” cerita Chairun.

Tidak setiap orang bisa melaksanakam ritual tarian Motayok. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi menurut Chairun.

Motayok atau Mokitayok tidak serta merta dilakukan oleh setiap orang. Sebelum upacara ritual, terlebih dahulu dilakukan Moki bondit. Pada upacara Mobondit inilah akan diketahui jenis penyakit yang diderita oleh seseorang, sekaligus ritual apa saja yang harus dilakukan pada saat Motayok,” terangnya.

Di dalam pelaksanaan Motayok, berbagai jenis sesaji disediakan seperti ayam, beras, ketan dan koito’ (sagu hutan). Beras dan sagu itu dimasak di dalam bambu, dengan ukuran bervariasi.

“Dari mulai bambu seukuran ibu jari kaki, hingga ukuran betis orang dewasa. Semua masakan memang harus dimasak di dalam bambu. Dari nasi bail dan binarundak (nasi yang dimasak dalam bambu). Setelah semua tersedia, maka ritual dimulai,” urai Chairun.

Jumlah penari atau biasa disebut Bolian, tidak ditentukan banyaknya. Bisa satu orang atau lebih.

“Tergantung, bisa lebih dari satu orang. Waktu pelaksanaan juga ikut kesepakatan Bolian. Tapi biasanya waktu yang tepat itu, dimulai pada sore hari,” jelasnya.

Pembicaraan makin terasa aura mistisnya, sebab para penari dikatakan oleh Chairun, bisa menari hingga keesokkan harinya bahkan lebih, karena kerasukan roh leluhur.

“Bahkan bisa lebih lama, tergantung keinginan roh leluhur yang disampaikannya pada saat Nobondit. Biasanya bertahap dan bahkan bisa sampai empat belas hari, atau lebih,” kata Chairun dengan nada serius.

Namun sayang, tarian itu terancam punah kata Chairun. Di wilayah Bolmong, upacara ritual Motayok bisa kita temukan hanya di desa Bilalang Bersatu dan desa Tudu Aog.

“Tidak ada lagi generasi penerus, bahkan penarinya sekarang usianya sudah cukup tua,” sesalnya.

Ritual tarian Motayok di Bolmong hampir hilang ditelan bumi. Memang tarian itu menyuguhkan fenomena di luar akal sehat kita. Kendati demikian, tarian warisan nenek moyang itu patut dilestarikan, sebab bisa menarik wisatawan datang berkunjung ke tanah Totabuan.

Dengan sisa sebatang rokok di jepitan jemarinya, Chairun Mokoginta kembali melanjutkan cerita. Menurutnya, penari Motayok biasanya adalah perempuan. Mereka mengenakan busana kebaya putih polos, juga biasanya bermotif bunga. Mereka akan terus menari tanpa henti dan tidak merasa lelah.

“Mereka kerasukan, jadi fisik ditumpangi roh leluhur, sehingga rasa lelah yang dimiliki manusia tidak terasa lagi,” terangnya.

Katanya lagi, hanya yang bertugas sebagai pemain musik yang bergantian mengiringi. Sedangkan di sekitar tempat pelaksanaan ritual, dibangun pondok kecil dari anyaman bambu, yang disebut Sibi’ sebagai tempat diletakkannya sesajen.

“Itu diyakini juga sebagai tempat bersemayamnya roh leluhur. Biasanya dalam waktu tertentu, terutama saat meletakkan makanan di Sibi’. Seseorang yang dianggap menguasai prosesi Motayok, meletakkan sesajen sambil merapalkan mantra. Lalu meminta roh leluhur agar setelah selesai menyantap sesajen, segera kembali ke tempat asalnya,” kata Chairun, sambil membuang puntung rokok yang baru saja dihisapnya.

Tingkat keampuhan pengobatan Motayok, sangat tergantung keyakinan orang yang diobati. Menurut Chairun, terkadang sekali diobati pasien bisa sembuh, asalkan yakin dan percaya.

“Tapi ada juga penyakitnya yang tidak sembuh. Pasien yang ragu-ragu dan kurang yakin biasanya yang tidak sembuh,” jelasnya.

Para Bolian dalam keadaan intrans memilki kesaktian. Mereka mampu menghadirkan benda secara gaib, sesuai permintaan orang yang hadir dalam acara Motayok.

“Namun sering kali benda berbeda yang muncul. Misalnya kita minta buah cengkih, terkadang bukan cengkih yang muncul. Tapi ada juga benda yang tepat sesuai dengan permintaan. Para Bolian sanggup mengadakannya dengan cara mengibaskan sapu tangan. Sekejap buah cengkih mentah, bahkan masih bercampur dengan daun cengkih, berhamburan keluar dari kibasan sapu tangan,” cerita Chairun.

Buah cengkih itu menjadi bahan obat untuk dikonsumsi pasien. Selain cengkih, ada jahe dan masih banyak lagi benda yang hadir secara gaib, sebagai obat penyembuh. Disampaikan pula oleh Chairun, meski di luar akal sehat, akan tetapi tarian Motayok harus terus dijaga dan dilestarikan. Hal-hal yang irasional, pasti menarik perhatian para wisatawan. Sama halnya dengan kekuatan supranatural yang dipertunjukkan para Bolian saat menari.

Hangat teh dan pisang goreng yang disuguhkan putri Chairun Mokoginta, membikin cerita semakin hangat pula di tengah cuaca Kotamobagu yang diguyur hujan. Chairun mengisahkan kembali, tentang tarian Motayok dan kesaktian-kesaktian para Bolian.

“Saat ritual, ada Bolian yang dapat mengambil barang antik dalam tanah dengan tangan telanjang tanpa menggunakan alat bantu. Kebanyakan roh halus yang merasuki para Bolian selain roh leluhur, juga adalah para Bogani. Sebab itu, ketika mereka dalam keadaan tidak sadar, kesaktian mereka cukup tinggi menyerupai kesaktian Bogani yang merasuki mereka,” tutur Chairun, sambil asyik menikmati kudapan pisang goreng yang tersedia di atas meja.

Selain cengkih dan jahe yang dihadirkan secara gaib oleh para Bolian, ada pula ritual saat para Bolian memberi minum air kelapa muda, juga saat memandikan para pasien. Beberapa pantangan pun berlaku bagi mereka yang menyaksikan tarian Motayok.

“Bagi yang belum pernah menyaksikan upacara ritual Motayok, harus mengetahui dulu beberapa pantangan yang harus dipatuhi,” terangnya.

Pantangan-pantangan tersebut di antaranya, dilarang Monogu’olit atau berucap Pali’ atau Wali’. Bila ada yang mengucapkan kata-kata tersebut, maka yang bersangkutan dianggap mengajak Bolian untuk beradu fisik.

“Jadi itu seperti ucapan menantang. Mendengar dua kata itu, Bolian akan marah dan mengeluarkan berbagai kesaktiannya. Kadang kala bisa berakibat fatal dan orang yang mengucapkan itu bisa lumpuh saat itu juga. Bahkan tidak bisa melihat atau jatuh sakit secara tiba-tiba,” wanti-wanti Chairun.

Selain itu, ada pula pantangan agar tidak menginjak Dodal (sebatang kayu tempat para Bolian memijak) saat sedang menari.

“Biasanya Dodal ini akan diletakkan pada areal tempat menari. Bila ada yang menginjakkan kakinya di tempat terlarang itu, maka dianggap oleh para Bolian melecehkan keberadaan mereka,” terangnya.

Saat kondisi marah, kondisi Bolian akan Motokiman (badan para Bolian menjadi kaku). Di keadaan itu, para pembantu Bolian berusaha menyadarkan mereka, dengan Logantodan (gendang ditabu secara cepat), sambil seseorang pembantu merapal mantra dengan bahasa Mongondow kuno, hingga Bolian kembali sadar.

“Bila kita menyaksikan upacara ritual Motayok, maka kita bisa menyaksikan berbagai keanehan yang kadang kala di luar akal sehat kita. Tetapi hal itu bisa kita saksikan dengan mata telanjang. Tentu semuanya bisa terjadi karena kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Bila kita melihat dari sudut pandang agama pasti banyak bertentangan dengan syariat agama yang kita yakini. Tapi secara pribadi saya melihat keberadaan Motayok sebagai sebuah karya seni peninggalan leluhur kita,” kata Chairun.

Para Bolian menurut Chairun, sangat memegang teguh tata krama, terutama yang berkaitan dengan pantangan dan larangan untuk menjaga kewibawaan profesi mereka.

Besar harapan Chairun, agar tarian Motayok tetap dijaga dan dilestarikan.

“Saya sangat setuju dengan penyampaian Wali Kota Tatong Bara mengenai penetapan Kecamatan Kotamobagu Utara sebagai pusat kebudayaan nantinya. Tapi kapan itu direalisasikan? Semoga dalam waktu dekat ini. Jika saya dilibatkan, saya akan sangat bersyukur bisa membantu kebudayaan Bolmong kembali jaya seperti di era kepemimpinan Bupati U.N Mokoagow,” harapnya.


Sebelumnya hasil liputan ini dimuat di www.radarbolmongonline.com.