Thursday, August 22, 2019

Selamat Mengarungi 'Samudra Ingatan'

2 comments
Personel Beranda Rumah Mangga, dari kanan Yedi, Vicky, Vicro, Christy, dan Rian.
Sepekan setelah film Bumi Manusia merayap ke seluruh bioskop di Indonesia, Beranda Rumah Mangga (Braga), salah satu band indie di Kotamobagu-kota kelahiran saya-merilis album perdana mereka, pada 22 Agustus 2019, yang dengan takzim mereka tajuki Samudra Ingatan.

Dari kelima lagu dalam album itu, ada lagu berjudul Adil Sejak Dalam Pikiran. Judul lagu tersebut tak asing bagi pembaca karya Pramoedya Ananta Toer. Dari lembaran novel Bumi Manusia-lah, 'adil sejak dalam pikiran' ditimang-timang lalu dijadikan sebuah lagu oleh Braga.

Selain Adil Sejak Dalam Pikiran, ada empat lagu lain berjudul Samudra Ingatan, Sepasang Senja, Bilur-bilur, dan Patah Menjadi Air Mata. Empat lagu di antaranya sudah pernah saya dengar. Hanya lagu Sepasang Senja yang belum. Karena itu, saya memulai mendengarnya dari lagu itu.

Papua, khususnya Jayapura, kota di mana saya berdiam, sedang bergejolak akibat sikap rasisme yang mendera para mahasiswa Papua di Kota Malang, Surabaya, dan Makassar. Jaringan internet lamur karena dibatasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Sungguh perbuatan yang menghalangi kami mengakses atau menyebarkan informasi. Karena itu, saya lebih dulu mengunduh lagu-lagu Braga yang baru di kanal Youtube, ketika internet bisa diakses sebisanya dengan Wi-Fi kantor, agar bisa didengarkan offline di kamar kos nanti.

Setelah Sepasang Senja yang melebur penat saya karena bekerja seharian, dan rintihannya menyeretku ke kampung halaman, Bilur-bilur menjadi lagu kedua yang menepuk pundak dengan versi yang baru kali ini saya dengar. Sebelumnya, demo lagu itu dibawakan Vicky. Tapi kali ini dinyanyikan oleh Yedi. Baik Vicky atau Yedi, keduanya memiliki warna suara yang saya suka.

Entah kenapa, lagu-lagu Braga menurut saya seperti memiliki separuh nyawa saya. Ada bait-bait lagu yang penaka merangkul, mengiris, dan menebalkan ingatan, bahwa kisah setiap orang memang selalu istimewa. Bahkan dalam lagu-lagu asing yang entah datang menyapa dengan sengaja atau kita cari, ada saja lirik yang mewakili perjalanan hidup kita.

Bagi siapa saja yang gigih melawan lupa, atas kejahatan negara yang tak pernah berniat meminta maaf kepada para korban kekerasan Hak Asasi Manusia (HAM), maka lagu Bilur-bilur ialah pelarungan yang begitu lembut namun tegas.

Biar waktu berlalu takkan hentikan ingatan pilu/ kebenaran bertumbuh senandungkan dosa-dosa yang bisu/ biar kau bungkam ragaku takkan hentikan suara pikiranku/ kebenaran takkan lumpuh bertumbuh menyembilu di nadimu/ sembilu di nadimu...

Ya, kebenaran berpinak dan tak bisa jinak. Ia tak luruh meski berputar waktu. Ia berdetak di nadi yang tak henti menagih janji.

Saya menghantar lagu Bilur-bilur di altar berisi tumpukan daftar kekerasan HAM. Lalu saya menyingkap lembar demi lembar. Di sana ada kekerasan HAM terhadap orang Papua, pengungsi Nduga yang dituding hanya sedang bermigrasi meski sudah ratusan yang meninggal, para petani yang direbut lahannya atas nama pembangunan, hutan-hutan rindang yang lindang, laut yang diuruk, orang-orang diterungku karena memperjuangkan haknya, dan segala rupa dosa paling bedebah para penguasa kepada jelata.

Repihan lagu Samudra Ingatan yang dulu hanya diunggah di media sosial ketika Braga tampil di kedai-kedai kopi di Kotamobagu, pun kini bisa saya dengar seluruh. Mungkin lagu ini bisa menjadi perayaan atas segala kegelisahan yang akhirnya mewujud. Liriknya tak segembira iramanya. Tapi dari situlah pesannya lahir: melawanlah dengan gembira.

Patah Menjadi Air Mata pernah saya buatkan puisi setelah mendengarnya, meski lagu ini bagi saya sudah sebuah puisi. Ketika mendengar lagu itu, kata-kata ini melantas ke jemari: barangkali, seorang resi ditakdirkan sendiri/ agar bisa ruah berbagi/ pada tanah yang menumbuhkan rerumputan dan cendawan/ atau pada telinga-telinga yang mampu menangkap sunyi.

Lagu Adil Sejak Dalam Pikiran jauh bulan telah dikirim Vicky ke saya, tepat di malam hari raya usia saya, 12 April 2019. Saat itu saya tengah mengutuk nyala pelita Jakarta, dari jendela bening gedung jangkung. Lagu itu semacam hadiah pengingat, bahwa tetaplah adil sejak dalam pikiran. Lekas pikiran saya hendak menuliskan rasa terima kasih atas lagu itu. Tapi niat itu saya tahan. Bukankah sebaiknya sebuah hadiah tidak kembali memuji pemberinya?

Jikalau di Makassar ada kawan-kawan Kapal Udara dan Ruangbaca, maka di Bolaang Mongondow ada Beranda Rumah Mangga. Anak-anak muda yang senantiasa bersetia dengan karya. Sudah seharusnya, setiap daerah memiliki arus seperti mereka. Harus ada yang mendirus jiwa-jiwa lelap, yang terlalu lama terbuai oleh band-band ibu kota. Bukan soal kita di pelosok bisa. Tapi tentang keberanian untuk memulai. Sekarang band-band indie sedang melarung saya dengan se-samudra karya, maka Braga adalah lungkang yang membikin perahu saya jenak tenang.

Adil Sejak Dalam Pikiran sebenarnya adalah janji yang pernah saya tagih kepada Braga. Beberapa tahun lalu, Vicky mengutarakan rencananya untuk membikin lagu tentang sosok Pram. Saya menuguri dan sempat menulis semacam 'tagihan' atas janji itu. Tulisan itu hanya sebagai pengingat agar lagu itu bisa mengada. Tak perlu buru-buru memang. Karena saya adalah orang yang selalu percaya: dalam berkarya tak usah tergesa-gesa. Sebab karya yang melalui permenungan, akan memiliki ruh lalu hidup selamanya di hati para pengkhidmatnya.

Kini, langsai sudah...

Uluk salam untuk Vicky, Yedi, Rian, Vicro, Christy, dan semua handai yang turut menyemai benih-benih, hingga akhirnya bertumbuh menjadi sebuah karya yang genah untuk disebut indah.

Selamat mengarungi Samudra Ingatan. Kelima lagu yang bertalun dalam album ini adalah seruan, agar kita tetap ingat untuk menepi di dermaga lalu meniti rampa. Pergi menengok ingatan. Atau menyapa kawan-kawan sekepal tinju, yang terus ada dan berlipat ganda.

Tuesday, August 20, 2019

Ketika 'Monyet' Menjadi 'Kingkong'

1 comment

"Saat melihat Kota Jayapura diduduki massa aksi, sa baru merasa tinggal di Papua."

Kalimat di atas, sa utarakan kepada kawan-kawan jurnalis orang Papua. Mereka tertawa. Sesekali mereka juga menertawai sa yang kerap ternganga melihat massa aksi sebanyak itu.

Kalau melihat massa saat kampanye mungkin biasa. Tapi ini, kamu satu-satunya orang yang bukan ras Melanesia, yang berada di tengah-tengah massa, yang sesekali bisa saja terjadi bentrok. Pandangan mata sa beberapa kali bertumbuk dengan demonstran. Sa selalu tersenyum. Ada yang membalas, ada pula yang tidak.

Meski sa ditemani kawan-kawan jurnalis Papua, sa masih merasa khawatir. Tak ada berita seharga nyawa. Apalagi saat tahu, di Manokwari massa sudah membakar sejumlah gedung. Tapi sa berusaha menyakinkan dalam hati, niat sa baik, Tuhan akan jaga sa.

Ada seorang polisi berpakaian preman, berjalan dari mobil patroli lalu mendekati sa. Ia lalu bertanya sa wartawan dari mana. Sa menjawab dari Beritagar.id. Sa saat itu memang membawa dua ID card, Jubi dan Beritagar.id. Keduanya sa gantungkan di leher secara bergantian. Ketika berada di antara massa Papua, sa mengalungkan ID card Jubi.

Saat coba mengambil gambar dari atas jembatan penyeberangan di depan kampus Uncen di Abepura, kami sempat dihardik.

"Jangan foto-foto! Kami tidak perlu wartawan!" teriak seorang demonstran, saat naik ke atas jembatan.

Tetapi karena kawan-kawan lain orang Papua juga, mereka segera menegur orang itu. Ia turun dari jembatan. Sa segera dibayang-bayangi kejadian Abepura Berdarah, 2000 lalu. Namun bayangan itu segera sa tepis.

Sa lantas bertanya kepada kawan mengenai pendapatnya, apakah aksi ini akan ricuh.

"Kemungkinan kecil, iya," katanya.

Sa berharap banyak, semoga tidak akan ricuh. Sa semakin yakin, saat melihat bagaimana koordinator aksi dan mahasiswa-mahasiswa Uncen mengontrol massa. Tali rafia dibentang melingkari ribuan pedemo. Sepanjang jalan, mahasiswa yang beralmamater coba memastikan agar provokator tidak ikut bergabung.

Sa berboncengan dengan kawan, lalu menyusuri jalan memutar agar lebih dulu sampai ke kantor Majelis Rakyat Papua (MRP) di Kotaraja. Semua lorong macet. Mobil, motor, taksi (angkot), bahkan truk berimpitan. Semua memilih menghindar dari jalan raya. Di jalan raya, ketika sa melirik ke kiri dan kanan, tak ada satu pun warga pendatang. Semua toko ditutup. Bahkan saat kehausan, kami baru mendapati warung yang dibuka, jauh ke dalam lorong. Meski dibuka, hampir semua warung di Jayapura dipakai terali besi, lalu diberi celah untuk bertukar uang dan barang.

Di jalan raya, hanya ada warga orang Papua yang berani berjajar di tepi jalan. Massa menyanyikan lagu "kami bukan merah putih, kami bintang kejora" di bawah terik matahari. Ratusan pengendara sepeda motor memimpin massa. Dari bocah sampai yang renta, terpanggil ikut aksi. Bahkan ada anak-anak sekolah yang masih berseragam.

Sa merinding, ketika massa melewati seorang nenek yang berdiri di depan rumah. Ia menyambut teriakan "Papua merdeka". Seorang kakek di deretan rumah berikutnya pun demikian. Mungkin mereka dulu pernah pula turun ke jalan, lalu ingatan menyeret mereka ketika melihat ribuan manusia mengular di atas aspal mendidih.

Saat massa sampai di depan kantor MRP, orasi lima menitan terkoar. Mereka mengajak agar lembaga kultural orang Papua itu, ikut bergabung dengan massa. Sa belum banyak mengenali para anggota MRP, tapi menurut kawan, ada beberapa yang ikut bergabung dengan massa.

Massa mulai dinaungi rindang pepohonan ketika menanjak di Skyland, tempat terindah untuk menikmati es kelapa muda dan hamparan Teluk Youtefa. Tapi jalan yang menanjak tak menyurutkan semangat mereka. Sebagian demonstran diberikan air mineral oleh mama-mama Papua yang berjualan di sana. Dari Skyland, massa kembali bergerak menuju Entrop, selanjutnya hendak menuju ke Taman Imbi, tepat di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP).

Ketika bersama massa aksi, ada banyak teriakan yang kerap membuat sa tersenyum. Misal, "Kami monyet, keluarkan kami dari NKRI", "Kami monyet kalian usir, kami usir Indonesia dari tanah monyet", "Kami monyet, tapi kami tidak merusak alam seperti kalian", "Kalian manusia suka mencuri kekayaan monyet", "Kami monyet pergi menuntut ilmu ke negeri manusia, tapi manusia datang cari makan ke negeri kami, lebih terhormat siapa?", dan masih banyak teriakan lainnya lagi. Mereka melawan rasisme dengan sarkasme cerdas dan balik meninju keras.

Setelah menyerah karena berada di belakang massa aksi di jalan menanjak, kami memilih melewati jalan belakang, agar lebih dulu sampai di Taman Imbi, tepat di jantung Kota Jayapura. Di sana, ratusan orang juga telah turun ke jalan.

Di Kota Jayapura, semua toko tutup. Di atap-atap gedung tampak beberapa karyawan memegang ponsel dan mengabadikan momen langka itu. Ketika massa aksi dari Waena tadi sampai, beberapa polisi sempat dikejar dengan balok kayu. Namun tak ada yang terluka. Demonstran lain mengamankan situasi, sembari mengatakan ini adalah aksi damai.

Di saat berkejar-kejaran dengan polisi itu, sa segera merapat ke kawan wartawan Papua. Sa dilewati oleh massa yang memegang balok. Tapi ada seorang demonstran mendekati sa lalu bertanya dari media mana. Ketika menyebut Jubi, ia segera berlalu sambil tersenyum.

Sekitar pukul 3 sore. Massa sudah menempuh jarak sejauh kira-kira 16 kilometer. Ada di antara mereka bahkan tak beralas kaki. Mereka berjalan sudah sekitar enam jam lamanya. Di depan kantor DPRP, mereka berorasi selama lima menit. Kemudian melanjutkan perjalanan ke kantor gubernur.

Di halaman kantor gubernur, massa disambut oleh Gubernur Papua, Lukas Enembe. Dari belakang panggung orasi, pandangan sa menyapu ribuan orang. Ketika mereka meneriakkan kata "merdeka", gemuruh suara mereka menjadi serupa auman Kingkong.

Benar sudah, sesuai orasi Juru Bicara Internasional KNPB, Victor Yeimo, rasisme yang menimpa orang Papua bukanlah satu-satunya alasan mereka berhimpun, lalu turun ke jalan. Itu adalah akumulasi amarah yang sekian lama mereka pendam. Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), nasib para pengungsi Nduga yang bahkan lainnya masih kedinginan di dalam hutan, dan pengrusakan alam Papua, adalah kegelisahan yang selama ini diabaikan pemerintah.

Salah seorang mama juga tak ketinggalan menyampaikan amarahnya di depan gubernur dan massa, atas sikap rasisme yang menimpa mahasiswa Papua di Jawa.

"Saya ini ibu. Saya mengandung dan melahirkan. Dan saya tidak pernah melahirkan anak monyet!" teriaknya, yang disambut gemuruh dukungan massa.

Mama itu mengatakan, Tanah Papua adalah tanah yang diberkati, maka ketika penghinaan ras mendera orang Papua, itu sudah menyangkut harga diri orang Papua.

"Manusia tidak melahirkan monyet. Manusia tidak melahirkan singa. Karena itu, mari orang Papua dari pesisir pantai sampai pedalaman pegunungan, kita bersatu menuntut kemerdekaan untuk menentukan nasib sendiri. Referendum adalah solusinya!" pekiknya.

Gubenur Papua, Lukas Enembe, menitikkan air mata. Ia mengatakan, orang Papua sangat mencintai mendiang Gus Dur begitu pun sebaliknya. Karena itu, ia menyampaikan permintaan agar Gubernur Jawa Timur bisa menjamin nasib para mahasiswa Papua di sana.

"Kita bukan kera. Saya juga heran, Indonesia sudah merdeka selama 74 tahun, tetapi masih ada orang-orang berpikiran picik seperti itu," kata gubernur.

Sampai pukul 6 sore, massa mulai berangsur pulang. Namun, selanjutnya, ternyata drama rasial ini belum berhenti. Dari Malang kini menjalar sampai ke Makassar.

Sa lantas ingat percakapan seorang kawan jurnalis Papua dan seorang pendatang asal Makassar di Taman Imbi, Kota Jayapura. Ceritanya, orang Makassar itu bertanya kepadanya mengenai situasi demonstrasi kali ini. Ia menjawab bahwa mahasiswa Papua di Surabaya diserang lalu disebut monyet, karena itu aksi besar-besaran ini terjadi.

Lalu, orang Makassar itu menjawab, "Saya juga kalau dipanggil monyet, ya, marah!"

Sunday, August 11, 2019

Yang Tiada di Festival Lembah Balim

No comments

Wamena adalah kota ketiga yang sa pijaki di Papua. Jayapura dan Timika sebelumnya. Kota-kota lain, masih dalam impian.

Ketika kali pertama melihat Wamena yang serupa pusar Lembah Balim, sa tersenyum. Tak sabar rasanya ingin segera mendarat, lalu merayap di atasnya. Perasaan ini berkebalikan ketika sa melihat Timika dari udara. Kota ini seperti nyaris disapu limbah raksasa dari PT. Freeport Indonesia.

Kawan-kawan jurnalis di Wamena yang sehati seperjuangan, pertama-tama mengajak sa ke gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jayawijaya. Kebetulan ada rapat tahunan antara legislatif dan eksekutif. Di sanalah sa dikenalkan dengan beberapa orang pejabat di sana. Salah satunya Kepala Dinas Pariwisata Pemerintah Kabupaten Jayawijaya.

"Siapa tahu ko butuh wawancara," kata teman sa.

"Sebenarnya laporan sa ini hanya narasi perjalanan saja. Tak butuh wawancara narasumber. Tapi tak apalah," kata sa.

Di halaman gedung itu, kepala dinas tadi mengatakan akan ada pemecahan rekor MURI saat Festival Budaya Lembah Baliem, kategori noken terbesar. Nanti ada dua kampung yang membuat nokennya. Satu noken berbahan benang pabrikan, sedangkan satunya lagi berbahan alam biasanya dari kulit kayu atau akar anggrek.

"Sebenarnya Baliem itu ditulis Balim," kata teman sa, yang sudah bertahun-tahun meliput di Wamena.

Sorenya, kami beranjak ke salah satu puncak, tempat melihat Kota Wamena dari ketinggian. Kami harus melewati satu pos tentara. Setelah meminta izin, kami berhasil melewati pos itu. Sebelumnya kami juga melewati lokasi belajar anak-anak pengungsi yang sudah tak terpakai. Beberapa sekolah darurat sudah dibongkar.

"Di pos tadi, Jakub Fabian Skrzypzki warga negara Polandia ditangkap," kata teman sa.

"Sayang ee... Bayangkan, ketika kita sedang asyik melancong ke negeri orang, lalu tiba-tiba ditangkap begitu?" kata sa.

Skrzypzki, menurut pengakuannya, hanyalah "wisatawan ekstrem" yang suka mempelajari budaya, bahasa, dan masalah kemanusiaan. Ia mengunjungi beberapa negara konflik dan terpencil. Tapi di Wamena, ia ditangkap karena dituduh sebagai pengedar senjata. Ia akhirnya divonis lima tahun penjara. Saat ini, ia sedang banding.

Keesokan harinya, kami berangkat ke kampung pertama yang mama-mamanya sedang merajut noken berbahan benang pabrikan. Perjalanan ke sana melalui jalan yang kondisinya mulus tapi terkadang berlubang-lubang. Yang paling parah, di daerah longsoran yang katanya sudah bertahun-tahun tak pernah diperbaiki.

Sesampainya di kampung itu, mama-mama membawa noken rajutan mereka. Sudah sejak Maret dikerjakan oleh sepuluh mama. Per mama merajut bagian-bagian terpisah sepanjang tiga meter. Nanti tinggal disatukan. Tapi mereka mengeluhkan soal biaya. Mereka ingin per orang dibayar sepuluh juta rupiah, karena pengerjaannya terbilang rumit.

Saat kembali dari kampung itu, kami berkesempatan singgah di rumahnya Pastor John Djonga. Ia pernah dianugerahi Yap Thiam Hien Award, pada 10 Desember 2009 di Jakarta. Rumahnya asri dan berada di tepi Sungai Balim.

Ketika memperkenalkan diri, pastor ternyata sudah diberitahu salah seorang teman sa. "Oh, Kris. Iya, ini dikirim teman nomormu," katanya.

Pastor orangnya humoris. Kaus yang dipakainya bercorak A.C.A.B. Sesekali kisahnya penuh canda. Tapi ketika ia berkisah tentang pengungsi dan konflik Nduga, sa nyaris meneteskan air mata. Orang sakit yang dibakar dalam honai, mama-mama yang melahirkan dalam hutan, mereka yang melihat keluarga dibunuh, dan kisah-kisah pilu lainnya. Yang ini sudah diberitakan Jubi dan BBC. 

Keasyikan berbincang, pembahasan kami sampai ke soal film The Mahuzes. Lalu sa menawarkan semua film dokumenter Ekspedisi Indonesia Biru kepada pastor. Ia masuk ke kamar mengambil harddisk dan sebungkus kacang.

"Ini kacang kulit dari Manado," katanya. Menyusul bergelas-gelas kopi.

"Ini kacang Kawangkoan. Kebetulan sa orang Sulawesi Utara," kata sa.

Pastor sempat menyentil soal jalan yang terkena longsor, yang sempat kami lewati. Ia meminta untuk diberitakan lagi karena tidak pernah ada perhatian pemerintah. Padahal itu menjadi akses sehari-hari masyarakat.

Kami lanjut mengunjungi siswa-siswi SMA Negeri 1 Wamena, yang sedang berlatih tarian kolosal untuk festival. Saat sedang memotret, sa terus mencari siswa-siswi yang orang asli Papua. Tapi jumlahnya tak banyak. Sa bertanya-tanya dalam hati, apakah di Wamena, bahkan penduduknya sudah lebih banyak pendatang layaknya Kota Jayapura, dan daerah lainnya?

Setelah kembali dari perjalanan, kawan sa membuat berita soal noken, mengenai keluhan mama-mama dan rencana mereka untuk tidak menyerahkan noken itu jika pembayarannya tidak sesuai permintaan mereka. Rekor bakal batal. Besoknya, berita itu dibantah pihak pemerintah daerah. Menurut mereka, noken yang dibuat mama-mama itu tak masuk rekor MURI. Yang masuk hanya berbahan alami buatan mama-mama di kampung lain. Namun, tak apalah soal tak masuk rekor MURI itu. Asal karyanya telah kami saksikan dan mendengar tawa mama-mama di tengah lelah mereka, itulah hal-hal yang lebih berharga dibandingkan rekor-rekoran.

Sebelumnya, sa sungguh tertarik ingin melihat festival. Tapi belakangan niat sa itu sa tepiskan. Sa menduga, festivalnya juga nanti mirip dengan festival lainnya. Padahal yang terpenting apa hasil festival yang kerap terabaikan, seperti pemberdayaan kampung-kampung wisata, dan lain sebagainya. Agar tak hanya setahun sekali orang-orang menemui rupa budaya satu daerah.

Sa lalu memilih pulang setelah lima hari di sana. Liputan sa memang hanya untuk persiapan festival. Sudah terlalu banyak media yang memberitakan festival itu, apalagi tentang keelokan Balim. Sa sudah sedikit puas, karena yang menjadi tujuan lain sa berangkat sudah tercapai: melihat pengungsi Nduga dan menemui orang-orang yang ikhlas membantu mereka. Duka mereka yang tak "difestivalkan" beritanya oleh media-media Jakarta.

Wa Wa Wa Wa...

Saturday, August 3, 2019

Balim

No comments

Telapak kaki tebal menjejak. Orang-orang itu hendak pulang ke honai. Di jalanan, roda gagah menggilas aspal. Berganti-gantian deru menyembur debu.

Tak mereka hirau kerikil berserakan di depan ruko-ruko manja. Di sana, dijajar jaket-jaket dan kaus tebal berlengan panjang. Seorang mama singgah bertanya. "Berapa harga kehangatan?"

Di hutan, sore yang beku mereka jala dengan mata menyala. Sembari berdiang di tepi api berembun. Ada anak berbisik kepada hatinya. "Pulanglah mama, kita masih punya api."