Jumat, 26 Juni 2015

Ramadhan dan Kenakalan

Tidak ada komentar
Masa kanak-kanak memang berharga, penuh keajaiban yang nantinya akan terkikis kala kita beranjak remaja, dewasa, kemudian menjadi kepala rumah tangga, lalu menua.
Masa childhood (kanak-kanak) penuh kenang. Apalagi di momen bulan suci Ramadhan kali ini, meme-meme kreatif seliweran. Di antaranya, mungkin sebagai penghubung ingat, bahwa masa childhood kita, kerap memiliki kenangan yang serupa.
Di sosial media (sosmed) seperti Facebook, Twitter, Path, juga di BBM, seringkali meme lucu itu  muncul bergiliran mengundang tawa. Kenakalan di bulan Ramadhan, memang patut dikekalkan di ingatan.
Siapa yang pernah begini saat bulan Ramadhan?
Membeli sendal jepit Yeye lalu diukirlah nama, biar usai sholat tarawih tidak tertukar. Atau membeli paku payung, lalu menancapkanya di sekeliling sendal, sebagai penanda kita ini anak metal.
Siapa juga yang pernah seperti ini?
Membawa gembok kecil, lalu menggembok sepasang sendal milik teman. Atau menyembunyikan sendal di semak belukar, dijepitkan di pagar, dan yang paling ampuh diletakkan tepat di bawah sajadah, untuk menjaga dari sepak ratusan pasang kaki jemaat usai tarawih. Bahkan, lubang menganga di beduk, jadi tempat persembunyian paling aman. Saat ruku', peci kita jatuh, lalu saat sujud, kepala ditancapkan tepat di nganga peci. Ha-ha-ha-ha....
Di Masjid Ar-Rahman Desa Passi, tempat di mana masa kecil nan sholeh saya tertoreh, keusilan tingkat ekstrem saat sholat tarawih, menjadi kegirangan tersendiri, namun seringkali menjadi pangkal tengkar. Misalnya, saat sujud, pantat nungging teman jadi sasaran empuk tangan jahil. Dua telapak tangan disatukan seperti Buddha tengah merapal tutur kebajikan. Bentuk telapak tangan serupa piramida dihunuskan tepat di lubang pantat. Aiiihhh!!! Ingat Naruto? 
Ini jurus melarikan diri paling ampuh, saat semua jemaat sujud, waktunya untuk bergegas pergi. Kabur! Ha-ha-ha....
Mungkin teman-teman di Eropassi (Passi) masih ingat pula. Salah satu teman kakak saya, memiliki trik-trik unik untuk membikin kelucuan. Sengaja dikantonginya kacang rebus, lalu ditaburkannya tepat di depan kerumunan bocah yang tengah bersedekap sholat. Rebutan. Tawa pun menggema.
Trik lainnya, foto Mandra di bungkus penyedap masakan Ajinomoto, saat jemaat tengah menyempurnakan ruku', diletakkannya tepat di atas sajadah. Astagfirullah!!! Tawa lepas!!!
Ramadhan dan kenakalan memang erat. Bahkan usai sholat tarawih, masih saja keusilan itu hadir.
Siapa yang pernah?
Menggelung ujung sajadah, kemudian melecutkannya ke arah teman. Atau origami sajadah, dengan lipatan membikin perahu, lalu dijadikan topi. Ada pula ujung sajadah teman saling dikaitkan dengan sajadah lainnya.
Saat sholat subuh pun, kenakalan masih di sana. Mukena milik perempuan dipinjam, lalu dipakai. Eh, dengan modus bisa menggandeng teman perempuan yang ditaksir. Ha-ha-ha.... Modus dosis tinggi!
Masih banyak lagi kenakalan yang bisa digali!!
Ah, masa kanak-kanak memang penuh keajaiban. Bulan suci Ramadhan menjadi pengekal keajaiban-keajaiban itu. Kenakalan-kenakalan polos, yang akhirnya mendidik kita, menjadi manusia merdeka!
Jangan pernah dewasa!!!

Kamis, 04 Juni 2015

Maling Kolam Ikan

Tidak ada komentar
Kolam ikan membentang luas di pekarangan belakang rumahku. Tampak sesekali mulut ikan mas ukuran besar, menguap di kulit air. Gelembung-gelembung pecah serupa balon di pesta ulang tahun. Lalu ikan itu kembali menyelam.
Kugetarkan senar pancing, jatuh menembus air keruh. Tak lama, senar menegang kencang, lantas kutarik galah pancing yang terbuat dari bambu, sekuat tenaga. Ikan mujair dengan piercing mata kail di ujung bibir—menembus bola mata—melayang di udara. Sirip punggungnya mengencang. Jadilah ikan itu serupa anak punk dengan rambut mohawk. Sangar.
Setelah diayunkan menuju ember penampung. Ikan mujair itu menggelepar, tak pasrah. Ikan itu mencoba melompati dinding ember, namun tak berdaya. Ember itu memenjara.
Umpan kembali kulemparkan. Sekali lagi, ikan mas itu bermain dengan udara di atas kulit air. Ujung mata kail yang mengait umpan cacing, kudekatkan ke mulutnya. Namun ikan mas itu hanya mengerling, lalu menyelam lagi, ada sisa kilatan cahaya di punggung kuningnya berpendar. Aku pikir, kenapa hanya ikan-ikan kecil di bawah air keruh, yang berhasil kukail. Ikan mas itu sudah terlalu akrab dengan mata kail. Mungkin.
"Sigid, sudah berapa ikanmu?" tanya suara serak dari arah belakang. Kaget, saat suara itu pertama kali menyebut namaku. Kutengok, ternyata Ifien datang bersama Siman. Ifien meski perempuan, namun suaranya berat. Mungkin karena Ifien perokok berat.
"Lima ekor mujair Yen," sahutku, dengan sapa Yen, nama akrabnya Ifien. Nama kereta apinya Ivana Fienringli Mubara. Setelah disusutkan menjadi Ifien, tapi lebih renyah dipanggil Yen.
"Kail saja ikan mas berpunggung kuning itu," saran Siman.
"Ah, ikan itu sudah terbiasa Sim. Sulit dikail, tapi bisanya dijala," kataku kepada Siman, yang juga punya nama tersusut, Sim. Nama panjangnya, Simanwil Rianda.
Cacing kembali kukaitkan, lalu terjun bebas ke dalam kolam.
"Harus punya umpan khusus kalau ikan mas Gid," saran kedua Siman. Ikan mas ini tak suka cacing, kata Siman. Lebih doyan roti atau semacam adonan tepung. Yang jelas, umpannya punya standar kekhususan.
Siman lantas mengeluarkan sebungkus roti dari kantong celananya.
Blup. Umpan roti menyelam. Senar mengencang. Kulit air sobek sana-sini. Tangkapan besar, pikirku.
"Tarik Sim, tarik!" teriak Ifien senada denganku.
Siman berujar menggurui, "Sabar! Harus dibikin lelah dulu, biarkan ikannya jalan kesana-kemari sampai capek."
Sepuluh menit, ikan berpunggung kuning menyembul ke permukaan. Senyum Siman mengembang.
"Tuh! Kan, apa kataku!" Siman bangga.
Setelah sempat melayang beberapa detik di udara, ikan mas itu mendarat di dalam ember. Ifien bergegas lalu menarik perlahan mata kail yang, tersangkut di bagian mulut, hampir menembus ujung kulit kepala.
"Lepas lagi Sim," pinta Ifien. Sayang juga ia sama ikan mas itu.
"Tapi sayang juga kalau dilepas nanti, mata kailnya hampir menembus kulit kepala. Ini ikan bisa radang otak nanti," canda Ifien sedikit bimbang, yang digagapi Siman dengan tawa.
"Ah, macam penyakit ala pejabat korup saja," tukasku.
"Dilepas saja, kasihan," pinta ifien. Sedangkan Siman, hanya terpaku.
Sejurus kemudian, Siman berkata, "Sebenarnya, saya juga tidak doyan makan ikan mas."
"Emang kamu sodaraan sama ni ikan. Harus banyak makan ikan ginian Sim. Ah, pantas badanmu tak gemuk-gemuk," ejek Ifien, sambil mengangkat kaos lalu memperlihatkan perut buncitnya. Tingkah Ifien serupa lelaki. Tomboi.
Aku sedari tadi, asyik menyimak dialog antara Ifien dan Siman. Dalam hati, dua kawanku ini, sebenarnya doyan ikan mas atau tidak.
"Eh, kalian berdua ini suka makan ikan mas?"
"Saya doyan sih, tapi kalau lagi dapat tangkapan saja," ujar Ifien.
Suara Siman tiba-tiba mengeras, "Saya No!"
"Yah, sudah, dilepas saja. Mudah-mudahan tak sampai radang otak," pasrahku.
Hari mulai petang. Kami bergegas meninggalkan pematang kolam. Siman dan Ifien, setelah pamit ke ayah dan ibu, keduanya berboncengan pulang.
Bau amis di telapak tangan, masih kubaui. Amis ikan mas dan mujair hampir sama. Meski setiap saat ikan-ikan itu mandi.
Usai mandi, aku masih melangkah ke pekarangan belakang. Matahari memucuk di batas desa. Langit layung, cicit burung, dan dengung serangga, menghantar senja menuju malam.
Ajak ibu untuk makan menggema di rumah yang, berpenghuni tiga manusia. Makan malam terhidang di atas meja. Lima ekor ikan mujair terbujur di atas piring, berselimut potongan tomat, cabai, dan bawah merah. Lauknya cukup untuk aku, ayah, dan ibu. Keluarga sederhana memang. Ayahku seorang kepala desa, ibuku guru, dan aku anak kuliahan.
"Sehabis makan, bawaannya ngantuk," kemudian aku pamit menuju kamar. Terlelap dalam hitungan menit.
"Maliiiiiinnnnggggg!!!!!"
Teriak itu menghentakkanku dari atas kasur. Kupikir, tidurku baru sepersekian detik. Bergegas kudatangi asal suara. Ibu, ayah, beberapa orang tetangga berdatangan menggenggam obor. Ada maling yang membobol kolam ikan. Anehnya, ikan mas berpunggung kuning, tersisa menjadi bangkai di atas lumpur. Kutengok arloji di lengan. Pukul tiga pagi. Dosa apa yang kau perbuat wahai ikan? Bahkan, maling pun enggan.

Sabtu, 30 Mei 2015

Bolmut Nan Imut

Tidak ada komentar
Hampir sebulan bertugas di Bolmut. Sekawanan awak media yang sebagiannya adalah karib, begitu ramah di setiap jumpa. Mereka  memperkenalkanku kepada si anu, si itu, dan si ini. Bolmut memang ramah, setulus dan seikhlas mamak angkatku (Mama Rendi).

Pijak pertama di Lapangan Kembar Boroko, Rendi wartawan media InfoBMR, kawannya Ebet yang juga adiknya Cakra si pemilik media yang menaungi Rendi, menjemputku di sudut lapangan. Ulur telapak kanan, mengenalkanku dengan keluarganya. Di sini, mamak Rendi adalah mamak angkatku. Bukan hanya masakannya yang enak, tapi tegur dan tawaran untuk makan, yang selalu membikinku berpikir, entah apa yang bisa membalas laku mereka.

Ikang puti. Wow! Itu lauk kesukaanku. Jikalau perang dunia berikutnya pecah, maka masakan mamak angkatlah yang akan kuselamatkan terlebih dahulu. Keluarga ini begitu santun. Ada si Rendi dan istrinya Ade. Ada anak mereka si Rein yang nama kecilnya Bibo. Ada anak indekos si Octav wartawan media online Berita Totabuan. Dan ada pula si Jana yang sesekali suka menawarkan kue.

Di Bolmut, ada begitu banyak kebaikan. Kawan-kawanku di Kotamobagu satu persatu menyembul. Di dinas-dinas yang kukunjungi, beberapa kawan lama duduk di balik meja, lalu heran berbinar di bola mata saat jumpa.

Inilah Bolmut, yang ditungkudi Bupati Depri Pontoh. Putra bupati, si Adit, juga pernah sebangku denganku, kala gelak tawa yang silam tersulam di Manado. Moi, istrinya Adit pun adalah kawan. Dunia memang kecil, apalagi hanya sepeta BMR. Wajah-wajah familiar berserakan tinggal saling mengernyit kening, mengingat.

Negeri Utara ini, bagiku adalah dunia baru. Kerja sebagai wartawan Radar Bolmong, nongkrong di kantor — mabes (markas besar) — memang melelahkan. Kami dikejar deadline, lalu pulang saat etalase finishing. Tapi di sini, usai mengirim berita — menyelesaikan tugas negara — maka leput mana yang mau kau tongkrongi, sembari memutar gelas kecut, lalu kenal sana-sini dengan jabat dan eja nama.

*

Bolmut nan imut. Kabupaten yang sedang merekah ini, masih perawan yang perlu dilirik dan dipandes investor. Pantainya begitu indah, saat kusaksikan melalui foto-foto buklet. Pantainya memang belum pernah kukunjungi, tapi potensi pariwisata di sini, bisa dibilang bakal gemilang. Ada sebut pantai di sini indah memang. Pantai dulang, pinagut, pulau bongkil, aer blanda, tanjung sidupa, dan entah apalagi sebut mereka. Semoga juga, nama pantai yang baru kuderetkan itu benar ejaannya.

Apalagi wisata puncak bohabak, dengan padang ilalang merunduk diterpa angin, menanti sentuhan para wisatawan. Indah. Beberapa pekan lalu, perancang busana batik Boroko, Yuku Moko, yang kujumpai di media sosial membuatku makin tertarik dengan negeri ini. Karyanya mendunia hingga ke Eropa dan Timur Tengah. Sempat kuwawancarai dan cetak di catatan kaki. Yuku adalah kakek usia 63 tahun, yang saking kecintaannya dengan negeri Bolmut asal kedua orang tuanya, ikan dijadikannya icon batik Boroko.

Selain itu, nama penulis Coen Pontoh lama mendengung di telinga. Coen dan kawan-kawannya yang suka mengganyang ketimpangan di negeri ini, dengan tulisan-tulisan kritis di Indoprogress.com. Atau karya hebat Coen berupa artikel "Konflik Nan Tak Kunjung Padam" pada buku Jurnalisme Sastrawi, yang bisa Anda bacai di sini: http://chasani.blogspot.com/2005/03/konflik-tak-kunjung-padam.html?m=1. Salah satu artikel terbaik.

Ah, Bolmut, banyak yang lebih di sini. Bahkan sebulan pun, bibirmu belum kukecup. Aroma pun baru bisa kuendus. Semerbak dalam kecibak pun (meminjam istilah si botak Uwin), masih kutimang dan kupilah. Ada banyak yang indah di sini, meski sebenarnya masih serupa misteri para Raja yang purba. Mistik lokal sesekali terumbar. Kisah-kisah heroik pun menebal di udara malam.

Bolmut nan imut. Yang semoga konflik nan tak kunjung padam pun segera usai. Politik penuh intrik, memantik api di sana sini, semoga bisa disadari sebagai tarung menuju Bolmut yang makin imut, dan dikerumuni para pencubit pipi.

Sabtu, 09 Mei 2015

Telunjuk Si Penuduh Santet

Tidak ada komentar
Saya seakan ingin tunduk, lalu menciumi telapak kaki ibu, kala mengingat tutur kisah tentang berpulangnya kakak perempuan Irmawaty Galuwo, saat saya di usai sekolah dasar, di tahun yang purba. Keping-keping kisah tak lagi jelas di ingatan, sebab cerita ini begitu personal dalam keluarga. Ibu pernah bertutur, kakak Ir meninggal karena disantet! Bahkan, cerita mahluk halus yang menampakkan diri di rumah usai kakak berpulang, berdengung ramai.
Iya, kakak meninggal tak wajar, sebab seluruh organ tubuhnya hancur dan menghitam. Kakak saya ini cantik, bentuk rupanya dipinjami wajah Sigi, dengan dagu meruncing serupa stalagtit mau memacak ke bumi. Binar matanya cerlang, dengan rambut keriting memahkotai. Dan ia meninggal di usia 20 tahun.
Ibu dendam tentunya. Ahli spiritual segala kutub dikejar dengan harap, agar dendam terbalas. Namun akhirnya, ibu ikhlas dan serah luruh ke hadirat. Nama si tukang santet dikantongi, tapi ibu mengucap, biarkan saja, mungkin sudah jalan kakakmu berpulang dengan kematian seperti itu.
Dari sinilah, menyoal santet selalu mengundang tanya dan sebuah hal yang irasional bagi saya. Kenapa begitu? Kenapa begini? Ah, kenapa bisa? Dan serentetan tanya, yang membikin saya menyimpul, persetan dengan itu, sebab tak masuk akal. Supranatural, yang gaib, yang transenden, memang selalu mencipta tanya. Hingga pada Sabtu (9/5) kemarin, berjejal gambar di BBM, terkait pembunuhan sadis di Kelurahan Mongkonai, Kecamatan Kotamobagu Barat, Kotamobagu. Si A menuding si B menyantet keluarganya, lalu si A memenggal kepala, jemari, dan melampiaskan kira di sekujur tubuh korban berkemeja kotak-kotak. Kepala lepas tanpa dialog kenapa begini dan begitu. Foto-foto segar pun tersebar sepersekian detik.
Usai memenggal, kepala si B dijinjing si A dengan rasa yang entah seperti apa. Mungkin saja dengan ucap; saya pembunuh sadis, saya emosi, saya mengadili, saya habis kesabaran, saya ingin membunuh! Dan entah apalagi yang sedang dirasa si A.
Korban dan si penjagal warga yang sama, dan mungkin saja pernah sederet kursi dengan kelakar akrab. Tapi kita tak pernah tahu, apa gundah yang merasuk ke relung si A, meski asupan gizi tayangan Tv kita yang berbau supranatural, atau pun segala yang gaib, jelas tentu bukan menjadi dasar pijak pikir, apa yang membuat si A itu begitu tega. Nekat tak selalu soal tontonan. See and do. Ia hadir begitu saja, mengira, lalu menghukum. Nekat itu begitu absurd.
Tentu saja, pembunuhan ini bukan terinspirasi tayangan hukuman pancung ISIS kepada sejumlah wartawan asing, atau hukuman penggal di Arab. Pun hukuman mati di Nusakambangan yang, bisa diselancari pemberitaannya di ponsel Mito, dengan begitu cepat. Jelas ada alasan yang menjadi sebab, lalu berkatalis dan segera memuncak jaya dengan kesimpulan, saya harus membunuhnya.
Apa yang dialami si A, apapun itu, jelas ia lebih mafhum, meski kita berhak menduga.
Sama seperti saat ibu bertutur tentang kakak, saya pun menduga benar lalu berniat dengan segala imajinasi superhero; saya ingin membalas dendam, serupa film superhero dan bollywood dengan segala ketertindasan. Tapi kali ini, apa yang dipikir si A yang kekar dan botak itu tak pernah bisa kita duga. Pembaca pun mungkin pernah merasa, kerabat atau siapa saja yang pernah disantet, lalu iba. Namun pembuktian selalu menjadi kendala, sebab ini adalah tentang yang jauh dari logika, pun jelas jauh dari pembuktian yang bisa diindrai.
Sekadar sebagai penimbang; kakak kandung saya perutnya membuncit. Saat ke rumah sakit, penyakitnya sukar didiagnosis. Saya memilih ke dukun, lalu kata dukun kakak saya disantet. Sebab rasa sayang terhadap kakak, saya pun sepakat lalu menghukum si penyantet.
Apakah alasan ini bisa diterima?
Dalam sidang yang kerap saya ikuti. Logika dijunjung tinggi. Apapun yang tak rasional ditelisik lalu disanggah dengan jawab yang, tentu saja rasionalitas diutamakan.
Turut berduka untuk keluarga yang ditinggalkan. Turut prihatin atas apa yang dilakukan si A dengan begitu tak manusiawi, meski hukuman untuknya tentu saja tak harus mati pula. Saya tak bisa dengan jelas merentang soal santet, meski penyakit yang sukar itu kerap tertukar dengan canda.
Satu mungkin yang bisa kita renungi di sini, bahwa yang sedang mengasuh iblis, jelas bukan si tertuduh. Tapi si penuduh dengan telunjuk yang, seharusnya ia arahkan tepat ke dahinya sendiri.

Jumat, 08 Mei 2015

Cepat Sembuh Ses

Tidak ada komentar
BENRADABEN!!! Begitu salam Om Nal, orang yang diklaim geger otak dan menjadi gila, sebab popor senjata yang menghantam batok kepalanya, di waktu yang lampau, entah karena salah apa. Inilah Bolmut, dengan kisah tragis dan kelucuan Om Nal, kala pertama-mula saya bertugas di sini sebagai biro Bolmut. Om Nal suka bicara yang tak nyambung. Ia sehari-hari lampaui durasi giat para pewarta mengunjungi kantor-kantor. Pokoknya, Om Nal itu BENRADABEN!!
Saya di Bolmut, sebab tugas dari media Radar Bolmong kepada saya yang, kata Uwin terlalu suka meringkuk di balik sarung mendiang ayah saya, yang serupa kantung kangguru. Kalimat itu melesat dari balik botak Uwin dan benjolan sastra di dahinya yang serupa benjolan di dahi dolphin, saat saya, Sigidad, Atol, 83, Yakuza, dan entah julukan apalagi, tengah merayakan ultah April kemarin. Sebuah tafsiran dari berbagai tafsiran dalam tulisannya, tentang saya yang gemar mengucap kalimat, "Jangan pernah dewasa."
Jumat tadi, sahabat saya Shandri sedang merayakan ultah. Ucapan yang sama saya utarakan, "Jangan pernah dewasa."
Iya, jangan pernah dewasa, sebab masa kanak-kanak adalah masa yang penuh keajaiban. Sifat innocence bocah, kepolosan yang selalu menjadi bara yang menguapkan keingintahuan pada pikir mereka. Coba kita melempar pandang pada cahaya bulan malam ini, pada gemintang dan benda-benda yang menggantung di angkasa. Kita sudah merasa terbiasa, sementara bocah selalu ingin tahu, apa itu bidang hitam di angkasa, pijar bintang, pucat purnama, atau arak-arakan halimun. Iya, jangan pernah dewasa kawan, agar kalian selalu merasa ingin tahu.
Malam kemarin, saat tengah berserak gemintang dan botol bir di undangan miras salah satu teman saya, di belahan 'benua' lain tepatnya di Eropassi (julukan Desa Passi); Katz julukan buat Uwin, Ses Rulli, dan kawan-kawan lain pun tengah berpesta kecut. Katz mengirim BBM, ada tulisan dari Ses Rulli, buat saya dan Darwa (Dani). Tulisan itu pun berkesempatan bersilahturahim barusan. Kubacai dan gelak tawa meledak serupa mercon, lalu membedaki langit malam Lapangan Kembar Boroko.
Ses Rulli dan cita-citanya. Ha-ha-ha-ha...
Saya tak ingin lagi ulas-oles tentang rentetan cita-citanya, yang mau jadi aktivis, atau misalnya babulang manuk dan pemabuk mamuig-mamuntag. Saya ingin dengan segera membahas julukan Ses, yang pertama kali diutarakan kawan saya Darwa, sejak Rulli asyik mencermati kusta, TBC, ola'ap, gatal-gatal, di balik bangku kuliah Akademi Keperawatan Manado, eh, Totabuan (entar kena bully lagi).
Oh, Ses, Ses.... kamu tahu kawan, mungkin beda titik koordinat antara Atol, Darwa, dan Ses, yang hidup dan besar di lingkungan Eropassi atas dan kamu di pertengahan. Kami yang di atas sudah terbiasa dengan julukan, tak lagi alergi, seperti Ses yang sekarang tengah mengidap penyakit alergi julukan. Noi kompit kai nami in tangoi, sejak paman Kupit julukan buat Ading menyematkan Darwa ke Dani, Eding dan kawan-kawan menamai saya Atol, Katz (Ketua) dan KPA Bomlest me-mintahang-kan 83, sebutan Bulog (sogili) dan Laji kepada Yunus, atau Adan kepada Anto', Sukro kepada Ewin yang bertransformasi menjadi Bedew (karena kecipratan air liur-ewe'-gidi-gidi), Pqmz kepada Eding, Badut dan Andol kepada Ardi. Juga ada julukan Pinggo', Pinky, dan Pinggirli kepada manusia kekar Ping (ha-ha-ha), Pluri kepada Didin yang karena kebiasaannya bertutur dengan kecepatan melebihi Paman Ocing (Rossi). Pluri disematkan saat Didin asyik main Counter Strike di Play Station,  dengan kecepatan verbalnya, kotak, kotak, untuk reload pluru, menjadi takkatak pluri. Didin yang, bahkan jalan rusak disingkatnya menjadi JRX!. Masih ada lagi julukan Kartolo kepada Karta, Haye untuk Rizki, dan siapa lagi yang belum saya sebut ya? Oh, ada si Ferri yang hitam legamnya membikin ia dipanggil Ale (bukan rasis ya, Ale pun gak merasa gitu). Ada pula Kiki yang dinamai Ji'i karena kelincahannya monalok kon manuk i tete naton komintan. Toput untuk Opan, Pulut buat Awi, dan ah, masih banyak lagi label akrab lainnya. Dan, kami senang....
Oh, ya, hampir lupa, Darwa nitip nih, kata Darwa mongenggeng, "Takdir bukan hukuman, tapi pilihan," ha-ha-ha-ha...
Darwa memang kawan penuh lelucon.
Oh Ses, meski julukan itu adalah kesengajaan yang diucap Darwa, namun di balik itu ada persekawanan yang, yang, yang, sangat luhur.
Label yang membuat kami anak-anak pertigaan merasa akrab, dan menjauhkan kami dari tafsir-tafsir bisik yang berbias mengira. Kami secara gagap dan sepakat, menamai Ses, karena kamu sudah menjadi bagian dari anak-anak pertigaan, biar abad-abad pertengahan, bisa memanjat jauh meninggi menuju yang atas. Tapi sebelum ke atas, Ses memang telah disaring dengan ejek-ejekan khas Darwa. Dua kerabat yang cukup 'akur'.
Semoga, kamu tak lagi alergi. Sebab sungguh aneh, jika Ses tak bisa mengobati penyakit yang sekelas CTM pun bisa memulihkannya. Biar lidah tak lagi terjulur serupa lidah penjahat kelamin, atau petinju yang kena jotos. BBM-mu semalam Ses, yang bilang selamat menikmati Bolmut dengan kesunyiannya. Lalu kubalasi, bahwa yang ramai bukan dari faktor eksternal, tapi dari dalam diri kita-internal-dengan mencipta riuh itu sendiri. Mungkin juga, Bolmut yang pernah kau rasai sebagai hukuman, kurasai seperti sebuah sorga, sebab apapun tentang pesisir pantai, gemuruh ombak selalu berbisik, "Semoga cepat sembuh ya Ses, salam dari Negeri Utara."

Senin, 04 Mei 2015

For Adew Mahasiswa from Kakaw Wartawan

2 komentar
Waduh, salut buat adew Febri. Bakat menulisnya memang ada, sejak saya sebagai admin blog Saung Laung Arus Balik, kerap dikiriminya tulisan. Isu-isu sosial budaya di Bolmong diulas cukup segar, enak dibaca pula.

Tak berapa lama, tulisan Febri (http://pondulakmongondow.blogspot.com/2015/04/galau-galau-wartawan-bolmong.html?m=1) bertengger di ruang chat saya. Waw! judulnya Galau-galau Wartawan Bolmong.

Hmm... karena saya wartawan di salah satu media di Bolmong, saya pun tertarik membacanya. Apalagi, judulnya mengenai kegalauan seorang wartawan, carut-marut, dan gundah gelisah menyesak di tenggorokan. Lantas wartawan itu bermonolog di sosial media (sosmed) dengah suara parau, sehabis menangis semalaman, inenggeng i galau na'a, lalu terciptalah dialog — curhat — ke adew Febri.

Oh, ternyata buntut dari kontrak berita pemerintah kabupaten (Pemkab), hingga berderetlah kalimat yang cukup puitis, "Belenggu itu bernama kontrak pencitraan." Oleh sebab kontrak Pemkab, akhirnya independensi wartawan dipertanyakan. Wartawan tak lagi bebas menguliti, mencerca, menerabas, me... me... meee apalagi ya?

Nah, buat adew Febri yang lagi menuntut ilmu di Makassar. Cukup elok perhatian adew kepada kakaw-kakaw wartawan di Mongondow. Betapa membikin terharu sehingga jangan heran, kalau kakaw-kakaw wartawan yang tengah ngopi di Jarod dan Korot, atau yang sedang berjibaku dengan deadline di kantor, tiba-tiba terlonjak dari kursi, saat menyimak paragraf demi paragraf tulisan.

Namun sebaiknya, ada satu yang lebih dulu adew pelajari dengan lebih matang, kalau perlu adew telanlah pil tuntas sekalian. Agar niat adew tak cumak jadi bahan lelucon kakaw-kakaw wartawan di sini yang, adew tahu, paling jago ba ajar, ba bully, deng ba poleke.

Nah, supaya niat baik tak jadi bahan bully, maka adew disarankan:

1. Adew buka KUBI atau KBBI dan lihat apa arti KONTRAK.
2. Adew cari tahu apa arti IKLAN dan BERITA.
3. Adew sedang bermain yongkit tulu', kalau untuk urusan tiga kata itu belum di atas meja hijau, tapi nekat merangsek ke ranah "penghakiman" kepada kakaw-kakaw. Nanti kena ketok palu hakim bully lagi.

Adew tahu, media dikontrak bukan berarti lidah wartawan menjulur seperti anjing, terus menjilati bokong si pejabat A dan si pejabat B. Ah, pokoknya adew kudu ke rumah kopi nanti kalau sudah mudik ke Kotamobagu. Silakan wawancara kakaw-kakaw, sebelum dibully.

Adew tahu kan? bully di Mongondow sepertinya lebih kejam dari eksekusi mati, apalagi ibu tiri. Ari Hanggara pun, enggan di-bully orang Mongondow. Ratapan Anak Tiri, akan menjelma judul jadi Ratapan Anak Bully. Di sini. Iya, di sini. Oh, sudahlah, adew juga tidak kenal Ari Hanggara. Filmnya masih zaman kakaw-kakaw.

Lalu soal standar kompetensi wartawan, adew sudah bacai semua berita mentah kakaw-kakaw di sini? Waduh, pasti jauh lebih bagus adew menulis yah? Nah, coba melamar jadi wartawan usai kuliah yah, biar adew bisa ikut berenang dan menyelam di samudera asin, tinimbang berasyik-masyuk dengan ketipak-ketipuk air di wahana pemandian, lalu menuding percik sana-sini.

Kakaw bilang, ada yang mo dapa pangge ka biru ini tante!Ada yang mo oleng ini tante!

Terus, soal media abal-abal. Coba adew deret dengan begitu rapi, nama-nama media itu, serapi dereten pagar level tujuh di Clash of Clan (CoC) yang suka adew mainkan. Juga teman adew itu, bisa berkenalan dengannya? apalagi semua wartawan di Bolmong kan, serupa kepompong kata Sindentosca. Alangkah superhero-nya dia, jika menuliskan kegundahan hatinya itu sendiri. Atau sudahlah, temanmu itu mungkin hanya ingin menjadi ghost writer.

Namun, satu saran dari adew kepadanya, alangkah lebih elok jika tidak ia terima, soal berhenti saja dari media tempat ia mengais gold, elixir, dan dark elix. Sebab nanti, dengan apalagi ia meng-upgrade wizard tower-nya? membeli air sweeper, mengecat pagar hingga berapi-api. Karena tanpa kontrak, iklan, dan berita itu, CoC-nya mungkin tak akan sampai Town hall level 9. Atau barbarian king dan archer queen-nya tak sampai memakai toga. He-he-he....

Begini dulu ya adew tersayang, kalau sudah matang mengartikan kata KONTRAK, IKLAN, dan BERITA, adew menulis lagi yah. Kakaw-kakaw wartawan ingin membaca lagi, apa yang menggelinjang dalam dada temanmu itu. Si wartawan pula.

Selasa, 28 April 2015

R.I.P Hukuman Mati

Tidak ada komentar
Ilustrasi Google

Jauh dari Nusakambangan, di kaki puncak Everest, nasib dua pendaki  sejoli Kadek Andana dan Alma Parahita, hingga kini keberadaannya masih  entah. Tapi gempa Nepal yang menelan korban ribuan jiwa manusia, tampaknya tidak terlalu menarik bagi negeri ini. Perhatian sedang  tersita, atas pro-kontra hukuman mati terhadap terpidana perkara Narkoba. Porsi ribuan korban jiwa di Nepal, tak "selezat" delapan  terpidana yang sudah tereksekusi dan terengut nyawanya seiring deru  senapan.

Lebih menggugah, terpidana satunya lagi, Mary Jane dengan dramatis  luput dari kematian. Ibu dan kedua puteranya pun girang. Tak, senasib  dengan keluarga korban lainnya, yang kepalanya meringkuk di balik  kedua lipatan kaki.

Urat syaraf kedua pemimpin negara, Jokowi dan Abbott pun tertarik  menegang. Meski sebenarnya Australia terkesan ambivalen atas keputusan  hukuman mati, ketika hantu-hantu getayangan para pelaku bom Bali yang  tereksekusi menyunggingkan mulut.

Kita sendiri tahu, pemerintah  Australia saat hukuman mati dijatuhkan kepada pelaku bom Bali, memilih  bersikap diam. Sementara keluarga korban bom Bali dan sebagian  pengecam ulah teroris sepakat dengan eksekusi. Kesan Abbott untuk menaikkan popularitas, menjadi analisis sepihak terkait penolakan atas  eksekusi mati warganya. Meski sebenarnya standar ganda yang sama melekat pada Indonesia, saat nasib para TKI yang bakal—atau sudah—terpancung di negeri para Nabi.

Tapi mari kita sejenak menjauh, dengan dua kepala negara yang sedang bersitegang ini, meski sebenarnya Jokowi terlihat santai-santai saja.  Bagi Jokowi, hukum mati sudah harga mati. Entah kematian yang  bagaimana, yang patut dilabel harga. Seperti harga 2 kg heroin yang  diuangkan, lalu disepadankan dengan total pemakai yang tewas. Padahal kita tahu, nyawa itu tak ternilai. 

Hukuman mati (selanjutnya ditulis HM). Di negara-negara benua seberang, meski HM sudah dihapuskan, tak bisa dipungkiri, itu telah melalui proses gerak  sejarah yang panjang. Seperti Perancis yang memiliki sejarah kelam dan mengerikan dengan HM. Pun negara-negara lainnya yang telah lebih dulu tercerahkan, bahwa kemanusiaan harus dijunjung dan dijuangkan. Indonesia butuh polemik HM, agar masyarakat dan bangsa ini belajar, berpikir, berdebat, dan tercerahkan seiring gerak. Momen ini pun bakal  dikenang, sama seperti titik tahun 1981 pasca Perancis menghapus HM, sama halnya dengan Australia di tahun 1985.

Manusia butuh gerak, butuh proses untuk berpikir dan merenung.  Perenungan lahir dari pentas yang riuh. Dan riuh polemik ini, bisa menjadi remah-remah roti menuju tahun penghapusan HM.  Kita sadar, HM tak berefek jera setelah melalui riset panjang. Di Inggris pada  abad ke-15, hukuman gantung berlaku bagi mereka yang mencuri atau para pencopet. Tapi disaat ramai eksekusi, para pencopet tetap beraksi, saat seluruh warga kota lengah dan terpana menyaksikan manusia bergelantungan.

Hukuman berlaku bagi apa yang diperbuat, bukan atas balas dendam dan efek jera. Kita yang melihat para terhukum dibuat  berpikir, mencuri itu tidak baik dan pasti dihukum, bukan mencuri itu  pasti mati.

Sampai di sini, kematian memang penuh drama, dengan plot cerita yang beragam, sebelum menuju akhir. Di waktu yang sama, ketika peluru menembus bidang dada delapan terpidana di lapangan tembak Nusakambangan, jauh di tempat berbeda ada manusia lainnya yang tertimbun reruntuhan. Ada pula yang tewas dibom, kecelakaan tragis, kehabisan darah saat melahirkan, tertimpa pohon, tenggelam, dan sebab-sebab lainnya. Meski sebab berbeda, tapi kematian memiliki esensi yang sama. Hanya mati. 

Tapi menghukum mati sesama manusia itu, sesuatu yang keji. Nyawa manusia hanya Maha Pencipta yang berhak, meski dengan dalil para ulama bahwa manusia dicipta Tuhan, untuk itu manusia bebas menghukum manusia lainnya yang berbuat kejahatan. HM tetaplah keji. Tak ada alasan yang mampu menebus kamanusiaan.

Turut berduka untuk kalian. Nyawa kalian bukan tak berarti, tapi sesungguhnya adalah momen penting bagi gerak sejarah bangsa ini, menuju pencerahan dan penghapusan atas HUKUMAN MATI.

Semoga damai di sana.

1. Andrew Chan
Andrew Chan Warga Negara Australia, dikenal sebagai Godfather di kelompok Bali Nine dalam kasus penyelundupan 8,3 kg heroin ke Bali 17 April 2005 dan ditangkap di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Andrew harus menghadapi regu tembak setelah divonis mati oleh Pengadilan Negeri Denpasar pada 2006. Grasi serta Peninjauan Kembali (PK) yang diajukannya ditolak Presiden Joko Widodo dan Mahkamah Agung (MA).

2. Myuran Sukumaran
Myuran Sukumaran yang juga gembong narkoba Warga Negara Australia, adalah satu kelompok dengan Andrew Chan yang ditangkap bersama kelompok Bali Nine di Bandara Ngurah Rai, Bali pada 17 April 2005. Myuran ditangkap setelah berusaha menyelundupkan heroin seberat 8,3 kilogram ke Bali. Myuran dovonis mati oleh Pengadilan Negeri Denpasar pada 2006. Upaya hukum lanjutan berupa PK dan Pengajuan Grasi tak bisa menyelamatkan dari regu tembak.

3. Martin Anderson
Martin Anderson alias Surajudeen Abiodun Moshood alias Belo adalah  Warga Negara Ghana yang ditangkap di rumahnya di Kelapa Gading Jakarta  Utara, 17 November 2003 atas kepemilikan 50 gram heroin. Martin dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan  pada 2004 dan 2015. Dia kemudian mengajukan Peninjaun Kembali atau PK, setelah grasinya ditolak Presiden Joko Widodo.

4. Zainal Abidin
Zainal Abidin adalah satu-satunya terpidana mati Warga Negara Indonesia yang dieksekusi mati dini hari tadi. Zainal ditangkap di  rumahnya di Palembang, Sumatera Selatan pada 21 Desember 2000, bersama barang bukti 155 gram sabu. Zainal divonis mati oleh Pengadilan Negeri Palembang pada 2004. Zainal berhadapan dengan eksekutor hukuman mati setelah PK-nya ditolak MA yang sebelumnya grasi yang diajukan juga ditolak Presiden Jokowi.

5. Raheem Agbaje
Raheem Agbaje Salami Warga Negara Spanyol, didakwa menyelundupkan 5 kg heroin pada 1999, setelah tertangkap tangan di Bandara Juanda Sidoarjo. Vonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Surabaya diterima Raheem pada 2008. Dia sempat mengajukan grasi pada 11 September 2008 dan harus menunggu 7 tahun untuk mendapatkan jawaban penolakan.

6. Rodrigo Gularte 
Rodrigo Gularte Warga Negara Brasil divonis mati Pengadilan Negeri Tangerang, Banten pada 7 Februari 2005, setelah terbukti menyelundupkan 19 kg kokain pada 2004. Rodrigo sempat menjadi perhatian para pegiat hak asasi manusia atau HAM, karena dirinya disebut memilik gangguan jiwa yang menilainya tak layak dihukum mati.

7. Silvester Obiekwe Nwolise
Silvester Obiekwe Nwolise Warga Negara Nigeria ini juga divonis mati Pengadilan Negeri Tangerang, Banten. Ia ditangkap Direktorat Narkoba Polri, setelah kedapatan membawa 1,2 kg heroin pada 2003. Silvester bahkan sudah 2 kali ditangkap Badan Narkotika Nasional (BNN) karena mengendalikan peredaran narkoba dari balik Penjara Nusakambangan pada 2012 dan 2015.

8. Okwudili Oyatanze
Okwudili Oyatanze Warga Negara Nigeria dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Tangerang, Banten pada 13 Agustus 2002. Ia ditangkap bersama barang bukti 1,1 kilogram heroin di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten pada 28 Januari 2001. Putusan hukuman mati Okwudili diperkuat dengan putusan banding oleh Pengadilan Tinggi Banten pada 2011 dan putusan kasasi MA. Dia juga empat mengajukan grasi kepada Presiden Jokowi pada 2015, namun ditolak.

Awalnya, ada 10 terpidana mati yang akan dieksekusi pada gelombang II ini. Namun eksekusi terhadap 2 di antaranya, yakni Mary Jane (WN Filipina) dan Sergei Areski Atlaoui (WN Prancis) ditunda, karena proses hukum belum selesai.

#Tolak_Hukuman_Mati