Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Maret 2025

Cemas

Tidak ada komentar
aku masih menanti
meski aku menjelma kursi
tapi tiap tapi selalu menyimpan api
membakar setiap kakikaki 
yang cemas dengan hari.

Passi, 2025

Sabtu, 22 Maret 2025

Ramadan

Tidak ada komentar

bulan ketika mala-

ikat bebas mengibas

sayap ke wajahwajah

lapar dan iblis lepas


pergi


merejah kerumunan

pemburu takjil

bisikkan: belilah lamunan

beri kepada jibril.



Passi, 2025

Sabtu, 08 Maret 2025

Amato

Tidak ada komentar

kangen suaramu yang seperti kicau cendrawasih jingga, saat melafalkan baitbait bujangga.


kangen suaramu ketika sesekali terhenti pada titik & koma, kemudian puisi kembali menggema.


kangen suaramu sebab sekarang orang-orang meracau, di atas retakan tanah kemarau.



Passi, 2025

Selasa, 18 Februari 2025

Cinta Bertepuk Sebelah Angan

Tidak ada komentar

mencintaimu, membuatku tak bisa membeda: mencintai orang yang salah atau yang benar. sebab kau bayang yang bergelimun abu-abu. datang seperti senyap kabut di pagi buta.


pernah aku menantimu hingga membatu di bangku taman sebuah danau. kau tiba dan melemparkanku ke bentang airmengapung selama seribu hari. hanya satu bunyi detak janin menunggu dilahirkan yang akhirnya menenggelamkanku.


ketika tubuhku membentur dasar, terdengar suara cinta bertepuk. bertebaran lanau angan-angan: kapan ujung temali terjulur lalu menegang setelah tergenggam. tapi kau di atas sana sibuk mengisahkan saga kepada seorang bocah.

Passi, 2025

Selasa, 30 April 2019

Buku Kita

Tidak ada komentar

Kita berjumpa beberapa kali dalam hening. Lalu membicarakan hal-hal yang mungkin saja penting. Tapi aku melupakan waktu yang seperti api, di setiap hari ketika kita telah berpisah. Meski jarak pernah kita lipat rapi di lemari, aromanya masih menyeret rindu ke ujung kunci.

Di Passi, mungkin cerita akan berbeda. Sebab kenangan di desa ini, seperti Gunung Ambang yang setiap hari menyapa di kiri rumahku. Sementara jauh nun di Pantura, kita berjanji meninggalkan apa saja yang pernah berisik. Mungkin pergi menatap Gunung Kelud, yang ketika bocah sering kulihat di punggung kertas bergambar.

Kita sama-sama tahu seperti apa istimewanya kertas buku. Sekalipun itu buku-buku usang yang lama berdiam di gudang. Ia pernah terbang jauh lalu bermukim di Saung Layung Arus Balik di Bilalang, sebagai tanda uluk salam. Kemungkinan selanjutnya ialah deretan gerbong berisi kata-kata yang kupungut dari semesta.

Seperti apa hidup ketika kita mulai tahu cara menghidupinya? Mungkin seperti seorang kakek pengayuh becak, yang pernah membawaku ke gedung peninggalan kolonial tak jauh dari rumahmu. Ia banyak tertawa dan giginya tinggal dua. Tapi karena kekurangannya itulah, ia melafalkan: Gedung British American Tobacco, dengan sempurna.

Bahagia tak akan hadir kecuali masing-masing kekurangan menemukan lawannya. Aku tak bisa memakai sumpit dan kau akan mengajarkannya. Lalu aku menulis dan kau membacanya. Mungkin sesekali kita akan berdebat tentang jalan cerita, hingga kita renta.

Lalu siapa yang akan membaca buku-buku itu? Aku melihat tiga bocah sedang tertawa di Karbala...

Sabtu, 27 April 2019

Delapan

Tidak ada komentar

Sigi sudah 2.920 hari di semesta. Pernahkah bertanya di mana Ayah? Ketika pulang, Ibumu mungkin bercerita. Sebelum kalian kembali berpisah.

Anak-anak lain bahagia bersama kedua orangtua. Sigi jangan berkecil hati. Sebab nanti, Sigi punya kisah sendiri. Kisah yang tak melulu soal petuah.

Usia delapan, masih sangat belia. Tapi waktu cepat sekali merebutnya. Padahal Ayah ingin Sigi jangan dulu dewasa. Tetap ceria, lucu, dan banyak bertanya.

Selamat hari raya usia, Sigi. Ayah kali ini hanya menitip puisi. Sebab kata-kata sengaja Ayah kemas di hati. Kita pasti berjumpa nanti.

Selasa, 28 Juni 2016

Kotamobagu

Tidak ada komentar

Kota ini hanya beberapa jengkal
Satu, dua, tiga, mungkin empat atau lima jengkal saja
Dan lampu-lampunya selalu sama seperti kota-kota lain
Kau tak bisa menjumpa beda di sini

Di trotoar, di lapangan, taman-taman, emperan toko, kau tak bisa lagi meraba apa-apa
Wajah-wajah yang pernah ceria di sana, kini muram dan pergi mengurung diri

Tapi kota ini tak pernah salah
Ia tidak membenci kita
Ia tak mampu menyumpahi kita
Pun ia tak bisa berbuat apa-apa

Sampai kota ini benar-benar mati
Mereka telah membunuhnya

Razia-razia melebur kegembiraan
Riuh adalah kutukan
Suara-suara dibungkam aturan

Yang muda disibuki cangkir-cangkir kopi pajangan
Di foto lalu ditebar begitu saja
Tanpa pernah mereka memaknai pahit itu apa, manis itu apa, dan mereka itu apa

Siapa yang meracuni cangkir kopi mereka di kedai-kedai itu?
Jelas bukan Jessica si Ratu Sianida
Tapi pikiran-pikiran tua
Pikiran yang mengira masa tua mereka adalah sama dengan kita

Maka pulanglah anak-anak muda yang membawa remah-remah pengetahuan
Yang ditafsir dengan pikiran-pikiran merdeka
Lalu tebarlah puisi-puisi dan sajak-sajak
Ke telinga para orang tua

Dan, kota ini bisa hidup kembali oleh puisi-puisi
Sebab ruhnya ada di sini
Pada puisi-puisi, yang mempertemukan siapa saja yang tahu cara paling sakral dalam mengutarakan isi hati
Puisi-puisi untuk Kotamobagu yang kita cintai dengan semesta hati

Senin, 30 November 2015

Kota Gorontalo

Tidak ada komentar
di pinggiran Kota Gorontalo
di antara himpitan gemuruh adzan
kita berpelukan tanpa lengan
hanya saling merasa tanpa raba
dari kejauhan

pagi kita selalu penuh duka
sebab pisah jadi jumpa yang bisu
benamkan cerita di akar-akar pohon
di tumpukan kerikil dan gigil

dan siang berubah jadi sandaran
berkisah tentang nyamuk dan tikus
juga pejam yang melekaskan mimpi
lalu kita saling berbisik, bangun, bangun

kemudian sore tiba bersama hujan
turun dengan garis-garis bening
hantarkan sekeranjang cerita
bahwa hari akan berulang terik, atau hujan

lalu malam pun lekas mengulum
bibirnya bergincu ampas kopi
kemudian satu per satu orang datang
pergi lagi diusir pagi
kita kembali saling mengingat

di pinggiran Kota Gorontalo
kita masih berpelukan
tanpa lengan
tanpa raba
pun hilang rasa
tersisa hanya....
cinta