Kamis, 06 Februari 2025
Tampeleng
"Orang tua dan guru pernah menjadi anak-anak. Tapi anak-anak tidak pernah menjadi orang tua dan guru."
Saya mengutip kalimat itu dari status seorang kawan di FB. Terdengar familiar dan menurut saya inilah kalimat paling mewakili dalam kasus "tampeleng" (tampar), yang diduga dilakukan seorang guru kepada anak didiknya di salah satu SMA di Kotamobagu.
Dari video live FB yang dilakukan ayah si siswi, tampak ibu guru ini meminta maaf karena telah berbuat demikian. Ia mengaku hanya menempeleng dengan lembut, yang dibahasakan sebagai "tampeleng sayang".
Pertama, yang harus diperhatikan dalam kasus ini adalah apakah benar ibu guru ini menempeleng siswi ini dengan lembut? Menurut pengakuan ibu guru ia hanya menempeleng dengan lembut, tapi kenapa siswi ini menangis lantas pulang mengadu? Kita tidak bisa menghakimi siswi ini sebagai anak manja, lalu membanding-bandingkan pengalaman kita semasa sekolah yang penuh dengan cubitan dan cambukan. Adagium "di ujung cemeti ada emas" telah usang.
Sebuah tamparan, mau keras atau lembut, kepala adalah tempat bersemayamnya otak manusia. Otak dan kemampuan berpikir manusia inilah yang menjadikan kita makhluk superior, dibandingkan binatang, iblis, bahkan malaikat. Malaikat disetel sifatnya oleh Tuhan hanya untuk menjadi makhluk baik, begitupun sebaliknya iblis hanya jahat. Tapi manusia bisa menyerap kedua sifat itu: baik dan jahat. Betapa agungnya kita sebagai makhluk hanya karena otak (daya pikir) kita.
Mungkin karena saking terhormatnya kepala maka kenapa "tola kapala" (towel kepala) sangat dilarang dalam budaya kita. Ini bisa menjadi pangkal masalah. Bahkan kita dilarang untuk menduduki bantal tidur sebab itu adalah tempat kepala kita berlabuh. Entah kenapa juga ibu guru itu memutuskan untuk menempeleng, padahal cubitan lejen (bahkan ini pun sudah dilarang) bisa menjadi pilihan kalau memang tidak bisa menahan gemas.
Kedua, jika benar siswi ini ditampar atas nama hukuman pendisplinan, maka apa yang telah diperbuatnya? Jika sering terlambat masuk sekolah, apakah teguran harus dengan kekerasan? Ajaklah siswi itu ke ruangan yang hanya ada guru dan dia. Kemudian tanyakan alasan kenapa ia sering terlambat. Bicaralah baik-baik seperti kausedang berbagi dengan teman baikmu. Apalagi kalian yang guru, yang mungkin pernah mengikuti tes psikotes pasti paling paham yang beginian. Yang sangat disayangkan, ketika para guru yang justru ikut menormalisasi kekerasan. Solidaritas memang perlu, tapi ingat ada pasal yang melarang kekerasan terhadap siswa. Lega ketika ada kawan pengajar yang malah melawan arus dan ikut menolak kekerasan terhadap siswa. Mereka yang percaya bahwa hanya ikan mati yang bisa terbawa arus.
Saya jadi ingat sebuah film pendek tentang pak guru yang kerap memukul telapak tangan seorang siswanya dengan mistar, karena anak ini sering terlambat. Sampai suatu hari, ia melihat alasan kenapa anak itu kerap terlambat ke sekolah. Ternyata setiap pagi bocah itu sering membantu dulu saudaranya yang cacat di kursi roda. Guru itu akhirnya menyesali perbuatannya dan menciumi tangan anak itu yang sering ia hantam dengan penggaris.
Saya tidak berharap ada alasan yang dramatis seperti itu dalam kasus siswi yang ditempeleng. Tapi setidaknya, itulah tugas pihak sekolah dan orang tua untuk mengungkap, kenapa anak itu sering terlambat kemudian mencari solusinya bersama-sama. Berbagai bentuk sanksi alternatif juga bisa diterapkan selain kekerasan. Hukuman yang mendidik dan tidak menyakiti fisik atau psikis siswa. Ada banyak metode seperti itu yang bisa dibaca di buku, digugling, atau yang telah dicontohkan oleh beberapa kawan misal mengulas buku dan lain sebagainya. Bukankan setiap sekolah punya Pojok Baca?
Ketiga, setelah pengaduan dari siswi kepada orang tuanya yang kabarnya karena geram sempat membuat laporan di kepolisian, kemudian selanjutnya ditempuh langkah mediasi, apakah mediator di sini ikut juga pihak kepolisian atau hanya antara pihak sekolah dan orang tua? Kenapa sebelum mediasi tidak ada kesepakatan untuk menyimpan ponsel, agar upaya mediasi bisa berjalan baik? Apakah langkah ini dilakukan tapi si ayah siswi ini yang menolak dan tetap mau merekam upaya mediasi? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang seharusnya ditanyakan oleh wartawan kemudian diberitakan, agar warga atau khalayak ramai yang dibuat gaduh oleh kasus ini bisa menerima informasi yang jelas.
Sejak kasus ini bergulir di medsos, saya menunggu berita yang bisa memperjelas kasus ini. Ada sejumlah laporan warga yang bisa masuk kategori citizen journalism (cj) pada kasus "tampeleng" ini. Bahan-bahan yang dirangkum dari live, status, dan sejumlah data ringkas dari postingan medsos. Keuntungan cj atau jurnalisme warga ini yakni kecepatan laporannya. Tapi tentu saja, ketidakakuratan dan biasanya bias informasi kerap ditemukan.
Nah, tugas wartawan untuk memperjelas informasi dari cj ini. Pertanyaannya, apakah ada satu media di BMR tersayang ini yang melaporkan kasus ini dengan berimbang? Memberi kesempatan kepada guru/pihak sekolah untuk menjelaskan kasus ini? Kemudian ada penjelasan dari orang tua/siswi? Serta sudut pandang dari pengamat yang benar-benar pengamat pendidikan?
Metode peace journalism atau jurnalisme damai juga bisa dipakai di sini. Untuk memberi laporan yang adem-adem atau narasi pemaafan, sehingga warga atau pembaca bisa menilai sendiri dengan bijaksana seperti apa kasus ini. Tapi sayang, hingga hari kedua tidak ada berita tentang kasus ini yang memenuhi standar kode etik jurnalistik. Jemaah pesbukiyah menjadi singa kelaparan yang memangsa apa saja informasi yang menyudutkan pihak si siswi apalagi ayahnya, padahal siswi inilah korbannya. Ia menjadi korban victim blaming (menyalahkan korban tindak kekerasan karena caranya berperilaku).
Keempat, siapa yang meminta ibu guru ini bersujud dan meminta maaf kepada pihak keluarga korban dan ke seluruh penghuni sekolah? Atau memang ini inisiatif sendiri karena rasa bersalahnya? Ini harus jelas sebab narasi "bersujud" ini yang membuat ia semakin "dikultuskan", lantas mengesampingkan bahwa ada korban si siswi ini. Apalagi video ketika ibu guru memeluk ibu si siswi sembari meminta maaf, dibandingkan dengan sikap si siswi yang menyilangkan kakinya. Bagaimana jika itu cara ternyamannya duduk apalagi ia memakai rok pendek. Tentang rok pendek, jika ada aturan tertulis tentang tidak bolehnya siswi memakai rok pendek, kenapa juga ia masih memakai rok itu saat ke sekolah. Yang begini juga harus diperjelas, bukan malah menghakimi siswi ini karena cara berpakaiannya yang mengundang syahwat. Bahkan jika ia menjadi korban cat calling (bentuk pelecehan jalanan yang pada umumnya berupa komentar seksual yang tidak diinginkan, provokasi, dan klakson kendaraan atau suitsuit) pun, ia sepertinya tetap disalahkan karena cara berpakaiannya. Ya ampun, mau pakai daster setumit pun kalau penjahat otak mesum tak akan memilah-milah korban. Sungguh sangat disayangkan apalagi komentar victim blaming seperti ini keluar dari mulut seorang perempuan, bahkan sampai ada yang menyebut anak itu bodoh.
Di Papua, saya mengenal seorang ibu guru di pedalaman yang membaca novel-novel Paulo Coelho dan tentu saja Totto-Chan, serta Paulo Freire. Ini seharusnya bacaan wajib para pendidik. Ibu guru ini sudah terbiasa dengan rute Ninja Hatori: mendaki gunung lewati lembah. Mungkin sesampainya di sekolah terpencil itu, ia berpesan kepada muridnya dengan mengutip sabda Paulo Coelho, "Agar bisa menanjak di dunia ini, kau harus menjadi sarjana. Dan begitulah ceritanya sehingga dunia kehilangan banyak petani, pembuat roti, pedagang barang antik, pemahat, dan penulis hebat."
Tidak ada anak yang bodoh. Semua spesial dengan bakatnya masing-masing. Bahkan Albert Einstein pernah dianggap bodoh saat kecil. Ia diduga mengidap disleksia semacam gangguan belajar yang membuat seseorang kesulitan memproses bahasa. Lalu ia menjadi ilmuwan jenius yang ikut mengubah peradaban dunia. Film Aamir Khan tentang anak disleksia berjudul Taare Zameen Par (Seperti Bintang-bintang di Langit) juga mengajarkan bahwa setiap anak itu memiliki keistimewaan sendiri.
Terakhir, jika netizen tidak menyukai sikap ayahnya yang dinilai arogan, yang terus menyudutkan ibu guru meski ia sudah meminta maaf, maka tak harus ikut menghakimi anaknya. Apalagi ayah si siswi ini telah menghapus video dan meminta maaf dalam sebuah postingan. Tapi coba tengoklah tuntutan para netizen yang maha benar ini, bahwa si ayah ini harus membuat video secara langsung dan meminta maaf. Jika ini terjadi, barulah katanya para netizen merasa puas.
Ada beberapa video beredar ketika si ayah berada di halaman sekolah. Ia menganggap pihak sekolah dalam upaya mediasi, malah menghimpun para guru dan siswa untuk mendukung si ibu guru. Ada juga video ketika si ayah berjalan keluar sekolah, sambil merangkul putrinya yang tengah terisak-isak. Tangisan itu dianggap drama oleh sejumlah netizen. Beberapa komentar mengerikan juga menghakimi anak ini seperti; dikeluarkan saja dari sekolah, komentar cabul, bahkan sampai mengunggah foto anak di bawah umur ini yang bisa digolongkan sebagai doxing (menyebarkan informasi pribadi seseorang tanpa izinnya). Ayahnya disalahkan karena menjadi sebab kenapa anaknya jadi bulan-bulanan netizen, seperti sebuah pemakluman bahwa anak ini bisa dibuli karena ulah ayahnya. Sungguh, netizen maha jeli dan paling maha benar inilah sebenarnya yang terus memanggang kasus ini, seperti membuat tangkapan layar diikuti narasi yang sangat subjektif atau berdasarkan penilaian sendiri, kemudian para pengikutnya yang gagap terus berlelehan iler. Minta tambah lagi konten-konten lainnya.
Para konten kreator ini lebih parah lagi. Memanfaatkan momen ini dengan terus memberi asupan konten yang semakin mengaburkan pangkal masalah. Siswi ini bahkan ketika ia sedang menangis, dijadikan konten untuk bahan lelucon. Kenapa yang begini terus lahir? Karena tak ada satu pun media yang memberikan informasi yang layak untuk menjadi bahan pertimbangan. Bahkan saat menulis ini pun, mungkin saya bisa salah tafsir dengan apa yang beredar di medsos. Sebab tak ada satu pun kabar yang valid tentang kasus ini.
Saya ingin mengulangi kalimat ini, "Orang tua dan guru pernah menjadi anak-anak. Tapi anak-anak tidak pernah menjadi orang tua dan guru." Maka yang menjadi prioritas perhatian adalah siswi itu. Ia adalah korban dan anak di bawah umur. Tolong jangan menghakimi dia.
Kamis, 19 Desember 2024
Braga Jangan Dulu Dewasa
Hampir pukul 1 malam, aplikasi pesan FB berdenting. Dua pesan mengindik masuk. Yang pertama sapa, selanjutnya selebaran undangan berharap jumpa.
Pesan itu datang dari kawan Vicky Mokoagow. Dia gitaris Beranda Rumah Mangga (Braga), sebuah band indie di Tanah Mongondow, yang akan segera merilis album kedua mereka. Band ini terdiri dari Vicky (gitaris/vokalis latar), Yedi (vokalis), Vicro (gitaris/vokalis latar), Christy (bassist), dan Rian (drummer).
Rencananya album "Kembara Jiwa" akan dilepasliarkan pada 27 Desember 2024 mendatang. Pada Rabu malam, 18 Desember 2024, mereka mengajak karib dan para pendengar setia Braga untuk hadir dalam sesi dengar dan ngobrol. Selain tamu yang diundang khusus, ada 25 kursi yang disediakan bagi para penggemar Braga terpilih.
Kabarnya, ada banyak yang mendaftar lewat Google Form, tapi hanya 25 orang ini yang beruntung diundang pada sesi dengar dan ngobrol. Lokasinya pun bahkan dirahasiakan. Bukan bermaksud apa-apa, acara ini memang sengaja dibuat intim untuk menghindari riuh.
Bayangkan jika followers Yedi Mamonto—vokalis Braga—yang hampir menyentuh angka 100 ribu orang itu berkonvoi datang. Jumlah pengikut yang bisa membuatnya pasti duduk di tahta bupati (tinggal pilih mau bupati di mana se-Bolmong Raya). Jadi sabar-sabar ya, nanti pada Januari 2025, rencananya akan ada showcase album kedua mereka yang spesial diadakan untuk para penggemar.
Kembali ke pesan tengah malam itu, saya belum memastikan datang atau menyanggupi undangan tersebut. Di hari yang sama, saya bekerja di jam piket bersamaan dengan waktu acara. Vicky memberikan dua pilihan: datang atau dikirimi file preview. Untuk berjaga-jaga, saya meminta ia mengirimkan file preview album "Kembara Jiwa" yang bisa saya dengarkan lebih dulu, kemudian membikin ulasannya.
"Boleh, tapi jangan bocor, ha ha ha," tulisnya, mengekspresikan keikhlasan sekaligus ancaman dan canda.
Link Google Drive membungkuk masuk mungkin saking beratnya memikul 10 lagu, yang pastinya digarap dengan penuh bilur. Saya mulai mengunduhnya satu demi satu. Beranjak dari ranjang, menerjang penyuara jemala di sudut lemari, dan menancapkannya ke telinga.
Braga, dalam sejumlah karya kerap mengultuskan "Mongondow". Lagu pembuka berjudul "Tolatan" yang berarti Angin Selatan, sayup mendesir di kuping. Petikan gitar, menyatu bersama imajinasi para sepuh dan leluhur Tanah Mongondow. Silir angin pelan menggiring mantra Tolatan. Seolah-olah ada yang meniup kuduk. Kepak sayap burung, menambah nuansa magis lagu ini.
Beruntung, di saat-saat ekstase itu, saya luput membayangkan wajah Yedi yang meniup tengkuk saya. Seandainya terjadi, maka luluh lantak momen gigir malam itu. Yedi, dengan tingkah konyol di setiap kontennya, seperti lekas bersulih karakter ketika menjadi Braga. Sangat profesional. Jadi ingat film "Split" yang disutradarai M. Night Shyamalan. James McAvoy yang berperan sebagai Kevin Wendell Crumb, memiliki 24 kepribadian di film tersebut. Mudah-mudahan, Yedi hanya cukup sampai 4 kepribadian saja sebagai vokalis Braga, Lengkebong, guru, dan konten kreator.
"Senandung Pembuka Jalan" menyusul setelah "Tolatan". Lagu dengan petikan gitar dan ketukan derap kuda ini, menghantar sebuah pengembaraan. Selanjutnya "Jalan Hidup" berkisah tentang segala iklim kehidupan. Bagaimana kita menghalau setiap aral, menembusnya, menyusurinya, sembari bernaung di bawah petuah Ayah dan Ibu.
Dalam setiap perjalanan kehidupan, "Nasib dan Takdir" melekat. Lagu keempat ini, tentang sebuah gerak ikhtiar menjemput takdir dan hasilnya: nasib. Atau seperti apa laku kita, yang kelak memapah kita pada takdir. Lagu ini juga menyelipkan seperti apa lingkar persahabatan, hasil dari upaya atau pilihan-pilihan kita sendiri. Eh, so mulai kasana-kasana ini ngana! (momen pasca-pilkada). Cha ca ca ca!
Mari kita segera beralih dari kajian Qada dan Qadar. Meski lagu kelima "Kembar Jiwa" ini juga masih bertautan dengan konsep di lagu-lagu sebelumnya, namun ini lebih kepada seseorang yang menjadi "Kembar Jiwa" atau twin flame. Kembar jiwa (twin flame) ini berbeda dengan belahan jiwa (soulmate). Jika twin flame memiliki jiwa yang sama atau mirror soul, maka soulmate mempunyai jiwa berbeda. Mungkin seperti itu yang dijelaskan Vicky tentang lagu tersebut. Ada selarik lirik yang juga meminjam kalimat Pramoedya Ananta Toer, "Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan."
Peringatan Darurat! Lagu "Kembar Jiwa" bisa dipakai untuk merayu. Ba bue'-bue' skali pa ade'-ade'. Setelah berhasil memikat, menjalin hubungan, kemudian putus, maka segera tekan tombol next ke lagu keenam "Sedih Akan Pergi". Lagu ini tentang sebuah kerelaan. Cuaca hati akan selalu berganti. Jangan mengumpat mendung, setelahnya akan ada pelangi. Jangan mengutuk kegelapan, tapi nyalakan api. Dan hidup bukan tentang menggapai tujuan, tapi pemaknaan ketika kita menjalaninya.
Senandung ketujuh "Kelana", menyeret saya berkelana ke puncak gunung, tepi pantai, atau "leput-leput" di kampung tempat kami kerap duduk dan bernyanyi bersama. Ingat bagaimana berpuluh-puluh lagu kami nyanyikan sepanjang malam, hanya bermodalkan Cap Tikus dan kunci C, Am, F, G kembali ke C. Bubar ketika orang-orang dengan sajadah terkulai di pundak melintas.
"Subuh" jadi lagu kedelapan di album ini. Lirik "Kabut menebal, menelan jalanku" menarik ingatan tentang Atoga, Katulidan, Tutung, dan tentang jalur-jalur pergi dan pulang. Ada ketukan gendang dan ilusi para penari Kabela, menyambut tiba. Sepertinya, ini sebuah jalan berlangit abu-abu menuju Ibu.
Ibu menunggu di lagu "Pulang Yang Paling Pulang". Di mana pun bertualang, jangan lupa pulang. Ke mana pun kau mengembara, jangan lupa kembali bersimpuh di depan gua garba. Rahim Ibu.
Lagu ini, mengoyak kantong mata saya malam itu. Tali batinnya begitu erat menyimpul. Menggambarkan kesulitan perjalanan pulang saya dari Jayapura ke kampung halaman di Passi, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, ketika Ibu dikabarkan sakit parah. Kala itu sedang diberlakukan karantina wilayah akibat wabah Covid-19 pada 2020. Pilihan pulang meski sungguh melelahkan dan mengkhawatirkan karena bisa-bisa saya yang membawa virus ke kampung, terpaksa ditempuh. Kisah perjalanan pulang itu pernah saya tulis di sini: "Pulang Kampung".
Tyo Mokoagow yang membantu menulis lirik, juga berangkat dari kegelisahan yang sama. Ketika acara berlangsung, saya dan dia sempat berbincang tentang itu, sebelum "Pulang Yang Paling Pulang" ditayangkan di layar proyektor. Ia juga mengkhawatirkan Ibu di kampung, ketika Virus Corona senyap-senyap di udara dan mulai menjangkau pedesaan. Tyo dan Vicro intens berkutat dengan materi lagu ini. Apalagi, ibunda Vicro juga baru berpulang, pun personel lainnya menyerap aura serupa.
Semua kembara dan perjalanan
mencari arti pulang yang paling pulang
kini kau tahu, rumah dan rindu
adalah senyum ibumu yang menunggu.
Ada pekik melengking di penghujung "Pulang Yang Paling Pulang". Rasa yang setara ketika kau pulang, kemudian tepat berada di simpang tiga Jembatan Kaiya. Atau melihat tonggak pertanda kau telah berhasil melipat jarak. Pintu rumah sebentar lagi kaujamah.
Minggu, 29 Desember 2024 nanti, tepat dua tahun mendiang Ibu saya berpulang. Dua hari setelah album "Kembara Jiwa" dirilis di aplikasi layanan streaming musik.
Dalam novel "Amba" karya Laksmi Pamuntjak, pembaca dipeluk sebaris kalimat pembuka, "Di Pulau Buru, laut seperti seorang Ibu: dalam dan menunggu." Sosok Ibu dalam "Pulang Yang Paling Pulang" mungkin bisa menjadi siapa dan apa saja bagi setiap orang. Ia bisa menjadi laut di Pulau Buru, harapan antara kampung halaman dan tempat pengasingan; menjadi orang terkasih yang menantimu di rumah; menjadi pusara tempatmu mengadu lara; atau tetap menjadikan lagu itu teristimewa untuk Ibu.
Karna hidup adalah sebuah perayaan, maka lagu pemungkas "Rayakan" meringkus semua perjalanan di album ini. "Bukan Braga yang menemukan Kembara Jiwa, tapi Kembara Jiwa yang menemukan Braga," kata Vicky.
Tetap seperti ini, Braga. Jangan dulu dewasa. Selamat mengembara "Kembara Jiwa", temukan setiap jiwa yang ingin kausapa. Jangan lupa pulang dan bersulang.
Senin, 16 Desember 2024
Hutan "Dibuang", Sawit "Ditelan"
Di sela-sela pekerjaan yang lumayan menguras energi dan pikiran, menuntaskan film dokumenter "17 Surat Cinta" bukanlah perkara mudah. Film ini berdurasi hampir satu setengah jam, atau rata-rata durasi film Hollywood di bioskop atau Netflix. Tapi itu tak menyurutkan niat saya untuk menuntaskan film dokumenter ini, sama seperti ketika saya kerap kali menantikan dan menonton tuntas karya-karya WatchdoC lainnya, sejak Ekspedisi Indonesia Biru sampai Ekspedisi Indonesia Baru.
Film ini bisa dibilang tontonan mahal di penghujung tahun. Saya tahu persis bagaimana susahnya, ketika mengambil rekaman video atau foto satwa-satwa liar dilindungi bahkan yang nyaris punah. Saya pernah ikut beberapa kegiatan Burung Indonesia dulu. Ini adalah Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (BirdLife Indonesia Association), yang berdiri pada 15 Juli 2002, bertujuan melestarikan burung-burung liar di Indonesia dan habitatnya. Mendapatkan gambar-gambar seperti itu, butuh upaya keras, menguras tenaga, butuh kecermatan, dan kesabaran. Dan kita, bisa menikmatinya hanya bermodalkan kuota internet.
Selain itu, nyaris di sepanjang film setiap potongan gambar diambil dengan cermat dan sejumlah momen yang harus ditunggu dengan penuh kesabaran. Belum lagi berbagai upaya investigasi, pengumpulan data, pemetaan, dan bahkan sampai rela "membakar" sejumlah uang yang tak sedikit, demi menjaga Kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil di Aceh, surga bagi populasi orang utan terbanyak di dunia dan tempat satwa dilindungi lainnya bernaung, yang tengah terancam deforestasi.
Kondisi masyarakat di Boven Digoel, Papua Selatan, sesekali melintas sepanjang film. Mereka yang berupaya melawan deforestasi dengan cara-cara adat hingga memancangkan "Salib Merah". Pejuang lingkungan dan pemimpin Marga Woro, Hendrikus Franky Woro, dikutip dari laporan Jubi.id mengatakan sebanyak 1.400 lebih tanda sasi "Salib Merah" telah ditancapkan di wilayah tanah adat masyarakat suku Awyu, sejak September 2016 sampai dengan Desember 2024.
Bagi masyarakat adat Papua, hutan adalah tempat mereka meramu dan berburu untuk mencari makan, dan mengambil secukupnya apa saja di dalamnya demi menopang penghidupan. Ingin sagu, tinggal tebang dan pangkur. Ingin ikan, tinggal pancing atau jubi. Ingin hewan buruan, tinggal panah atau jerat. Hutan bagi masyarakat adat di Papua adalah "toko besar" tempat berbelanja, tanpa perlu merogoh uang.
Saya tercenung dengan salah satu potongan dalam film, tepat di bagian sejumlah orang Papua berada di hutan Boven Digoel, saat mereka tengah bercerita tentang khasiat kulit kayu yang bisa menjadi obat penyembuh sakit perut. Seseorang mengatakan sambil memperagakan bagaimana kulit kayu itu diisap vitaminnya (sari patinya), lalu setelah itu dibuang.
Kemudian salah seorangnya lagi menimpali dari belakang sembari bercanda. "Jangan, vitaminnya [yang] dibuang, kulitnya [yang] ditelan."
Orang itu, membalikkan narasi tentang khasiat dari kulit kayu itu yang bisa menyembuhkan sakit perut. Dan apa yang ia narasikan meski dengan candaan—menjadi sarkastis—memiliki arti yang mirip sekali dengan yang dilakukan pemerintah Indonesia saat ini terhadap hutan-hutan di Papua, atau di seluruh wilayah Indonesia. Hutannya "dibuang" (dirusak), dan sawitnya yang "ditelan" (ditanam). Orang ini tanpa sengaja mencela apa yang tengah dilakukan penguasa dan pengusaha (pengpeng) terhadap hutan adat mereka, dan kawasan hutan lainnya termasuk di Sumatra dan Kalimantan.
Perut, sejak manusia bisa berdiri tegak memang kerap menjadi biang masalah. Siapa yang paling diuntungkan dengan maraknya deforestasi? Tentu saja perut para pengpeng. Mereka yang kami lawan selama bertahun-tahun, karena terus merusak paru-paru dunia demi keserakahan. Jokowi berkuasa selama 10 tahun namun daya rusaknya terhadap hutan-hutan di Indonesia, bisa dirasakan hingga 1.000 tahun. Kurang lebih seperti itu maksud kalimat, yang saya kutip dari komentar salah satu penonton, di kolom komentar film "17 Surat Cinta" di kanal Youtube Indonesia Baru. Dan daya rusak ini akan terus berlanjut, setelah sebagian besar masyarakat Indonesia sambil berjoget memilih penerusnya.
Awal November lalu, perjuangan masyarakat adat Awyu dan Moi juga pupus. Mahkamah Agung menolak permohonan kasasi mereka. Ini adalah kabar duka bagi upaya mempertahankan hutan, dari ekspansi korporasi sawit di Boven Digoel. Bahkan meski tiga juta lebih pengguna media sosial mendukung kampanye “All Eyes on Papua” dan viral beberapa waktu lalu, Mahkamah Agung tetap bergeming. Kesedihan masyarakat adat Awyu dan Moi turut pula dirasakan oleh mereka yang berjuang melawan deforestasi di Rawa Singkil. Surat-surat "cinta" tak berbalas hingga sekarang.
Ada bagian dalam film yang membuat bola mata kita berkabut dan berembun, serupa lanskap hutan Boven Digoel di pagi hari. Ketika melihat hutan-hutan digunduli di Sorong, gundukan tanahnya serupa kepang rambut seorang gadis timur, serta pohon-pohon rebah tak berdaya diterjang alat-alat berat.
Film akhir tahun ini, bisa menjadi bahan renung bahwa negeri dan bumi ini sedang terancam, dan di tahun-tahun mendatang kepal kita akan semakin keras untuk melawan.
Terima kasih untuk tim Ekspedisi Indonesia Baru, Auriga Nusantara, Forest Watch Indonesia, Yayasan HAkA, Greenpeace Indonesia, dan Pusaka Bentala Rakyat, dan semua yang terlibat dalam pembuatan film ini. Hormat!
#Review17SuratCinta
Mestakung
Pukul 2 pagi, saya menyibak tirai dari ruang tamu. Di luar berkabut bahkan tebalnya nyaris menelan cahaya lampu-lampu jalan.
Saya memotret lanskap kampung malam itu lalu mengirimkannya kepada seseorang. "Mestakung!"
Seperti terhubung, ia juga melakukan hal yang sama. Memotret pekarangan rumah dan hanya hamparan kabut sejauh tangkapan kamera.
"Benar sudah, semesta mendukung (mestakung)," tulisnya, membalas pesanku.
Ketika linimasa media sosial riuh dengan kasus penangkapan pelaku politik uang, dua hari sebelum pencoblosan tersiar kabar pengerahan seribu pasukan bayangan. Tapi, para siluman pun, akan memilih tidur ketika kabut menebal seperti pagi itu. Apalagi, ada yang lebih mencekam dari itu sedang berkelebat dari ujung Timur, Selatan, Utara, mengitari tanah leluhur dan kota mungilnya.
Saya bilang kepadanya tentang gigil aneh, karena bersamaan dengan damai di hati, lalu seketika menjalar di sekujur tubuh. Perasaan ini, hanya pernah saya rasakan ketika Jokowi menang dan menjadi harapan baru kami, saat pertama kali ia dijunjung rakyat Indonesia termasuk kami Bara JP sepuluh tahun yang lalu. Kala itu, wajah Jokowi bahkan menghiasi sampul majalah TIME dengan judul "A New Hope".
Setelahnya, saya tidak lagi ikut mendukungnya sama seperti sebagian kawan lainnya, bahkan sejak dua tiga tahun ia pertama kali menjabat, karena kebijakan-kebijakannya yang mulai memunggungi wong cilik. Saya jelas memilih golput di pertarungannya yang kedua. Pilpres kemarin, tak ada pula perasaan yang sama. Kami hanya menyimbolkan perlawanan dengan salam empat jari, apalagi "Dirty Vote" semakin menebalkan yakin kami.
"Saya juga merasakan gigil yang sama," balasnya. Lalu kami mulai saling menarik ingatan dan membuka tabungan memori.
Esok harinya, sehari sebelum pencoblosan pilkada serentak, mendung menaungi langit kampung. Tak berselang lama garis-garis gerimis mulai turun. Kemudian hujan serupa butiran jagung sekejap membuat pekarangan rumah seperti kolam-kolam kecil. "Hujan mestakung lagi," tulisku dalam isi pesan.
Malam sebelum pencoblosan atau lazim disebut serangan fajar, gelombang tsunami yang sebelumnya sudah diramalkan, akhirnya terjadi. Malam ini sudah seperti pesta senyap bagi kami. Di luar sana, masing-masing pendukung memarkir berdus-dus bir, menikmatinya hingga mentari pelan-pelan memanjat punggung Gunung Ambang.
Pukul 4 sore, terbangun dari sisa-sisa mabuk dan kantuk yang terpaksa ditahan karena paginya harus ikut mencoblos, perasaan yang sama kembali hadir. Kabar-kabar terus berdatangan, dan katanya kemenangan telah di genggaman. Kabar kemenangan yang sebenarnya tinggal untuk memastikan statistik, atau seberapa banyak kau meraup kelereng di setiap lubang.
Saya menyimpan video dua lilin yang saling berbagi nyala, ketika salah satunya padam. Kemudian menuliskan sebait kalimat, "Siapa pemenangnya? Mereka yang tetap meyakini ikatan darah adalah abadi. Mereka yang menapaki tangga tanpa menginjak orang lain, kerabat, dan sahabat. Dan mereka yang masih percaya bahwa tanah leluhur ini harus dijaga dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya."
Setelah mengunggahnya di Facebook pagi hari sebelum mencoblos, kala itu bola mata saya yang berkabut. Ada banyak pertaruhan di luar sana. Ada banyak pertarungan di dalam hati.
Di luar itu semua, Yusra Alhabsyi telah memegang tongkat takdirnya untuk menjadi pemimpin di Tanah Totabuan. Ikhtiarnya bersama pendamping, pendukung, dan orang-orang di balik punggungnya sungguh luar biasa. Melawan dengan gembira, dan menyimpan rapat-rapat apa yang tak layak diumbar. Apalagi, sejak mahasiswa ia kerap turun ke jalan demi memperjuangkan tanah leluhur ini, semenjak saya masih bocah berlelehan ingus. Campur tangan lain, melengkapi ikhtiarnya.
Titip Tanah Totabuan ini, Kak Ucan dan Kak Oning! ✊🏼
Program Sperma Sapi
Di masa cuti dua pekan ini, saya memiliki banyak waktu luang dan energi untuk sekadar berbual-bual di media sosial. Untuk itu, saya masih mau meladeni akun-akun pengecut yang berlindung di balik ketiak sapi.
Akun-akun ini bermunculan ketika saya mulai mengkritik program sapi dari salah satu paslon. Program yang menurut saya menginjak-injak akal sehat rakyat Bolmong, bahkan seorang kawan ASN yang tahu jelas pos-pos anggaran mengatakan kepada saya, program itu entah duitnya dari mana. Mau lima tahun berjalan, janji satu KK satu ekor sapi itu tak akan kunjung tunai. Mereka saja tidak bisa menarasikan atau membuat simulasi anggaran soal itu.
Deretan status saya di FB soal program tali sapi, eh, satu ekor sapi itu sengaja ditangkap layar kemudian dibagikan di berandanya akun mangkubi'. Mengata-ngatai saya, menyerang personal, pun sebaris komentar-komentar yang tahu sendiri, kalau lagi kesal, apa saja ditumpahkah begitu saja oleh pendukung fanatik.
Selama mengunggah status atau foto-foto di beranda FB, yang saya arsipkan (bukan hapus) setelah 1x24 jam, saya memang fokus ingin menguliti program sapi ini. Paslon lain tidak pernah saya sebut namanya, atau berusaha berkampanye tentang mereka. Lagi pula saya ini jurnalis, pantang memihak seorang paslon, kalau ditemui versi-versi wartawan yang bisa memihak, barangkali mereka memang bakatnya jadi timses daripada wartawan. Coba cari produk jurnalistik saya yang partisan. Kalau pun ada membanding-bandingkan visi misi dengan paslon lain, iya, karena lucu jika ada paslon yang berkoar-koar soal program sapi, tapi malah paslon lain yang punya visi misi di sektor peternakan dan menyebut soal ternak sapi.
Seseorang berkomentar, kalau kritikan saya tidak usah diambil pusing, karena saya cuma tahunya tidur. Mungkin dipikirnya saya ini tidak punya pekerjaan, karena hanya berdiam diri di rumah saja. Pekerjaan saya lumayan menyenangkan di salah satu media di Papua, dan karena saya bebas ke mana saja maka kantor juga virtual. Saya bisa kerja di dapur, dari atas pohon, di kolam belakang rumah, atau di kamar tidur sambil berbaring menghadap laptop, dan syukur digaji UMP Papua.
Tidak butuh waktu lama untuk mengetahui siapa sosok di balik akun bodong ini. Akun aslinya jelas berteman dengan saya. Dugaan lain, ada orang lain yang membantu menangkap layar lalu mengirim kepadanya. Tapi saya lebih yakin, orang ini berteman dengan saya di FB. Setelah membanding-bandingkan akun aslinya dengan yang bodong, karakteristik penulisannya, dan sedikit ilmu kanuragan kami sebagai jurnalis, saya tahu persis siapa dia. Segera saya menghapus pertemanan dengan akun aslinya. Sampah atau limbah seperti ini, memang cocok dienyahkan dari beranda kita.
Ternyata, selain tidak berbakat menjadi intel, orang ini juga tidak tahu membalas budi. Padahal dulunya, dia pernah diberi atap agar tidak tersengat terik matahari atau kehujanan, oleh orang yang kerap dia jatuhkan. Mungkin karena itulah--karmanya--bagian atap kepalanya juga mulai kosong seperti otaknya.
Menyoal program sapi, sesudah saya berbicara panjang lebar tentang program ini, seorang kawan dengan baik hati mengirimi saya daftar visi misi setiap paslon. Saya lalu membacanya, dan lucunya, seperti yang saya katakan di atas, tidak ada program sapi yang tercantum dalam poin-poin visi misi bahkan yang menyebut sektor peternakan. Justru dari paslon lain yang mempunyai program soal sektor peternakan, dan menyebut ternak sapi selain unggas dan lain sebagainya.
Saya jadi penasaran, dari mana bermula moncong itu berujar soal "satu KK satu ekor sapi"? Dugaan saya pernyataan itu secara spontan saja terucap. Tanpa dikonsep dan dipikir matang. Karena janji ini yang paling dekat dengan urusan perut manusia. Sekadar untuk menciptakan ilusi para pendukung bahwa seekor sapi bisa beranak pinak, dijual, menghasilkan banyak uang, mampu membeli kebutuhan apa saja, dan bisa memesan berpiring-piring rahang tuna di Sarang Tude. Tapi sebelum menikmati rahang tuna ini, ada yang tiba-tiba datang menggampar pipi dengan sendal, kemudian segera tersadar dari halusinasi akibat jamur tahi sapi, lalu tahu bahwa program ini ternyata hanya bisa terwujud di Perkebunan Santibanez.
Di daerah lain masih dalam galaksi Bolmong Raya, kawan-kawan berkisah bahwa pernah ada program-program serupa. Bahkan sudah ada sejak lama, menyoal pengadaan ribuan ekor sapi. Ternyata, yang datang hanya alat suntik dan benih sapi, yang bahkan mereka bingung mau disuntikkan ke induk sapi yang mana. Kabarnya, kepala dinas terkait segera ditanduk dari kursi jabatannya.
"Bure, bule bi' sapi bo popo suntik! (Dasar, ternyata sperma sapi yang mau disuntikkan!)," kata seorang mantan bupati yang cukup dikenal dengan guyonannya.
Selasa, 22 Oktober 2024
Hambur Sapi
"If you tell a big enough lie and tell it frequently enough, it will be believed."
Kalimat itu dikutip dari Walter Langer, seorang psikoanalis kelahiran Boston Selatan, Amerika Serikat, dari ayah dan ibu imigran Jerman. Ia pernah menganalisis karakter atau mental Hitler, dan membukukannya. Arti dari kalimat itu kurang lebih seperti ini, "Jika Anda berbohong cukup besar dan cukup sering, kebohongan tersebut akan dipercaya."
Pernyataan itu menggambarkan tentang illusory truth effect atau efek kebenaran ilusi. Ini adalah sebuah fenomena seperti kebohongan yang diucapkan berkali-kali kepada seseorang, kemudian orang tersebut pada akhirnya percaya bahwa itu sebuah kebenaran.
Seperti di hari-hari ini, kita kembali menemui janji-janji kampanye jelang Pilkada Serentak 2024. Orang Papua punya istilah sendiri untuk orang yang suka menebar janji: hambur madu. Tentu saja, saat kampanye berbagai program disampaikan para paslon. Hambur madu di sana sini, hampir di setiap panggung. Bahkan sampai di panggung-panggung yang tidak semestinya.
Salah satu program yang riuh di kampanye Pilkada Bolmong, keluar dari moncong pasangan Limi Mokodompit dan Welty Komaling. Mereka berdua diusung oleh partai berlambang banteng, PDIP. Dan programnya tidak main-main, paslon ini berjanji akan memberikan satu ekor sapi bagi satu kepala keluarga (KK) di Bolmong, jika terpilih nanti sebagai Bupati dan Wakil Bupati Bolmong. Hambur sapi!
Apakah janji itu [berpotensi menjadi] sebuah kebohongan?
Mari kita kuliti mulai dari kepala. Pertama, jika satu ekor sapi ini untuk satu KK, maka jumlah KK di Bolmong ada 85.673 sesuai informasi yang diakses dari Satudata Bolmong milik Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Untuk harga bibit sapi dari berbagai jenis dan variasi ukuran, yang paling standar berada di kisaran Rp10 juta ke atas. Kita pakai patokan harga Rp10 juta saja. Jika 10 juta dikalikan jumlah KK 85.673, maka hasilnya mencapai Rp856.730.000.000 miliar.
APBD 2024 yang telah disetujui DPRD dan Pemkab Bolmong sebesar Rp1.094.397.401.079. Bandingkan dengan anggaran Rp856.730.000.000 miliar untuk program sapi yang dijanjikan paslon tersebut. Bahkan jika dikurangi setengah pun dengan mematok harga satu ekor sapi Rp5 juta, angka Rp400 miliar ini masih terbilang besar untuk menangani satu program saja. Apalagi anggaran tersebut baru pengadaannya, belum pada pendampingan, pengembangbiakan, penanganan penyakit dan lain sebagainya. Kalau untuk membeli royco atau masako rasa sapi, satu miliar saja mungkin sudah bisa mendapat stok tahunan setiap KK. Mar ini satu ekor sapi. Keode!
Kedua, tidak semua masyarakat berbakat menjadi peternak sapi. Bakat yang saya maksud di sini, sebagian besar masyarakat Bolmong terdiri dari petani dan nelayan. Apakah mereka ini juga disasar oleh program sapi tersebut, sebab hitungannya setiap KK? Jika dalam satu dusun ada satu kelompok tani yang diberikan bantuan sejumlah bibit sapi, dan bantuannya bagi wilayah yang ideal untuk peternakan sapi, mungkin masih masuk akal. Kemudian untuk sektor lain, ada program-program tertentu juga sesuai jenis usaha.
Tidak mungkin kan, nelayan diberi bantuan ternak sapi? Kalau alasannya bisa buat usaha sampingan, eh, hele mopiara ayam atau bebek satu ekor laste di blanga ngoni rampa, apalagi ini sapi? Kalau mau dipotong buat dijual dan dijadikan modal, lalu apa guna program yang katanya buat menggenjot produksi ternak sapi di Bolmong?
Ketiga, program tersebut kerap disandingkan dengan program-program terkait sapi di beberapa daerah yang diklaim sukses. Misal, program SMS PISAN (Sapi Manak Setahun Sepisan) di Banyuwangi? Padahal, program Pemkab Banyuwangi itu untuk penanganan gangguan reproduksi. Tujuannya agar sapi dapat bereproduksi secara maksimal lalu produktivitasnya meningkat.
Dinas Pertanian dan Pangan setempat mendampingi para peternak, yang reproduksi sapi milik mereka bermasalah. Sapi-sapi ini diberi hormon, mineral, dan obat-obatan yang dirancang untuk mendukung kesehatan reproduksi sapi indukan. Selain itu, ada program inseminasi buatan atau kawin suntik pada sapi. Ini juga membantu peternak mengembangbiakkan sapi dengan cepat. Sejumlah program ini memang ada yang berhasil, tapi ada juga yang gagal.
Tapi apakah suksesnya program itu pantas disamakan dengan rencana pemberian satu ekor sapi untuk satu KK? Yang satu adalah bantuan yang dikhususkan bagi para peternak sapi, pendampingan, dan penanganan masalah reproduksi, sedangkan satunya lagi adalah janji pengadaan satu ekor sapi untuk setiap KK, yang bahkan angka anggarannya hampir menyentuh total APBD 2024.
Pada ekornya, janji ini dinilai sangat tidak rasional. Janji kampanye ini berpotensi menjadi sebuah kebohongan. Bahkan meski sudah dirinci anggarannya dan memang sangat tidak masuk akal, serta masih dalam bentuk sebuah janji, hambur sapi ini tetap dipercayai sebagian orang karena berulang kali disampaikan.
Orang-orang yang telah mengetahui sebuah kebohongan, atau tahu bahwa hal itu berpotensi menjadi sebuah kebohongan tapi mengabaikannya, mungkin adalah orang-orang yang memang sengaja diternak oleh penguasa untuk dikendalikan dengan tali moncong.
Selasa, 25 April 2023
Rindu
Di lebaran hari ketiga, ketika hendak makan sore, entah kenapa aku tiba-tiba rindu mendiang ibu. Tirai kamarnya kusingkap, dan hanya ada kesunyian tertangkap. Sore hari, ibu memang terbiasa memanggil untuk memutar posisi badannya. Tapi kali ini, suara itu tak terdengar.
Sejak kepergian ibu hampir seratus hari lebih lamanya, aku tak menulis obituari atau kisah panjang tentangnya. Hanya sepenggal cerita yang kubawa ketika mengunjungi Jogja baru-baru, yang kutulis karena ada sosok ibu kutemui di pameran lukisan.
Blogku ini sudah berdebu. Tak ada tulisan-tulisan lagi lahir di sini. Selain itu, aku tak tahu harus menulis apa tentang ibu. Selama tiga tahun bersamanya di rumah di kampung, sudah cukup mengalahkan ribuan kisah di buku-buku.
Terkadang, kita juga akan sampai pada titik, jenuh dengan media sosial, jarang mengunggah apa-apa, bahkan buku-buku bacaan pun terlantar. Waktuku kini lebih banyak berkutat dengan pekerjaan, menonton film, atau bermain game daring.
Orang-orang yang menjadi ruh tulisanku pun, satu demi satu pergi dan menjauh. Jalan buntu kerap kali kutemui ketika muncul keinginan untuk menulis lagi di blog. Seperti apa yang selama ini aku pelajari dari menulis, sirna seketika.
Kini, tinggal berita-berita kaku yang berulang-ulang aku hadapi setiap hari. Turun liputan pun jarang, karena aku sedang berada di kampung. Rasa-rasanya, insting menulis bahkan ide-ide liar seperti hilang dari gelembung-gelembung pikir.
Ketika selesai salat Id kemarin, aku langsung mengunjungi makam ibu dan bapak yang berdampingan. Makam ibu paling baru di antara makam-makam lainnya. Aku tercenung sejenak, dan merasakan angin pagi serupa jarum-jarum es yang menusuk. Doa kupanjatkan.
Ah, ibu, maaf jika masih ada salah dan keinginan ibu yang belum kupenuhi.
Al-Fatihah ...
Selasa, 18 Oktober 2022
Selamat Jalan Eca'
Medio dua ribu sebelasan, saya pernah terlibat dalam kepanitiaan event festival musik di Kotamobagu. Seingat saya, festival musik itu sekalender bulan dengan Pemilihan Putra dan Putri Kota Kotamobagu (P3KK).
Panitia P3KK sempat kewalahan, sebab peserta yang ikut cukup banyak. Karena sesama panitia festival musik dan P3KK beririsan circle pertemanan, maka beberapa panitia festival diperbantukan di kegiatan P3KK.
Para panitia dan peserta P3KK sempat dikarantina di salah satu hotel yang terbilang baru dan mungil di depan Lapangan Sinindian. Hotel ini mirip homestay, dan kamar-kamarnya melingkar saling berhadapan.
Reza Mamonto adalah salah satu panitia P3KK. Ketika itu, di kamar panitia, saya menyetel lagu Vindicated dari Dashboard Confessional. Genre musik yang ia sukai hampir mirip dengan saya. Karena itu, kami lekas akrab.
Seiring waktu, Eca'--nama kecilnya--kerap berjumpa di Gapura, Kelurahan Kotobangon. Rumahnya memang tak jauh dari sana.
Namun, kesibukan kami mulai menjauhkan lingkar sua. Saya menjadi jurnalis, dan ia lulus menjadi ASN. Setelah bertugas di Bolaang Mongondow Timur (Boltim), ia kembali melanjutkan studinya di Makassar. Di sana kami beberapa kali berjumpa.
Eca' termasuk salah satu kawan yang gemar vakansi. Ia telah mengelilingi sejumlah negara di Asia Tenggara.
"Lebih baik tidak usah ikut agen travel, jalan sendiri. Saya bahkan pernah bawa abon ikan sama mi instan sewaktu jalan-jalan," katanya, ketika kami berjumpa di Makassar beberapa tahun lalu.
Sewaktu saya pulang dari Papua dua tahun yang lalu, Eca' telah menyelesaikan studinya di Makassar. Kami sempat berjumpa di Kotamobagu dengan beberapa kawan lainnya di sebuah kafe. Ia mengabarkan, bahwa tak lama lagi ia akan menikah. Kami ikut gembira.
Belum lama ini ia menikah, mungkin sekitar tiga atau empat bulan yang lalu. Ia sempat mengirimi undangan tetapi karena bersamaan dengan jam kerja, saya akhirnya tidak bisa menghadirinya.
Kemudian, kabar itu datang. Tadi malam, seorang kawan ASN pula di Boltim, tiba-tiba menanyai saya.
"Reza sudah meninggal?"
"Hah!? Reza siapa?"
Lalu ia menyusulnya dengan kiriman foto Eca'.
"Astaga! Eca'?"
Saya segera beralih ke Instagram untuk memastikannya. Sebab di sana lebih banyak kawan-kawan yang mengenal Eca'. Benar sudah, beberapa kawan sudah berbelasungkawa.
Ah, Eca' ... akhirnya waktumu tiba sudah. Perjalananmu usai, setelah jutaan kali jejakmu tercetak di tanah-tanah asing yang kerap kau kunjungi.
Selamat jalan Ca' ...
Rabu, 28 September 2022
Ubasute
Ubasute. Legenda ini mungkin sudah pernah kalian bacai di buku, website, atau unggahan di media sosial. Ini adalah folklor atau cerita rakyat Jepang, mengenai tradisi membuang anggota keluarga yang telah renta ke gunung. Ubasute berarti: pembuangan.
Paragraf pengantar di atas, sudah cukup mendidihkan darah kita. Apalagi jika membaca novel Narayama Bushikō (The Ballad of Narayama) karya Shichirō Fukazawa. Pada 1958, Keisuke Kinoshita mengangkat kisah itu di film layar lebar.
Selanjutnya pada 1983, Shōhei Imamura juga ikut mengangkat kisah itu ke film layar lebar dan berhasil menang di Festival Film Cannes, dengan meraih penghargaan Golden Palm. Saya pernah menonton versi Imamura ini. Jika versi ini diceritakan, akan ada penyerapan berbeda dari masing-masing penonton dan pembaca tentang Ubasute.
Ada beberapa versi mengenai legenda Ubasute. Namun menurutku, sepotong versi "patahan ranting" ini yang paling menyayat:
Seorang anak laki-laki menggendong ibunya yang telah senja usianya, hendak dibawa ke gunung. Ia bermaksud meninggalkan ibunya di sana, dengan alasan untuk mengurangi beban hidup dan jatah mulut atau makan sehari-hari. Ini sudah tradisi dan setiap keluarga melakukannya. Tempat pembuangan yang akan dituju disebut Ubasuteyama yang berarti gunung tempat pembuangan.
Sepanjang perjalanan, tanpa disadari anak laki-laki itu, ibunya kerap mematahkan ranting lalu menjatuhkannya ke tanah yang telah mereka pijaki. Sesampainya di gunung, anak laki-laki itu menyandarkan ibunya di sebuah batu.
Ibunya kemudian berkata, "Nak, perhatikan ranting-ranting itu agar kau tidak tersesat ketika kembali ke desa."
Ucapan dari ibunya itu, hanyalah sepatah ranting perhatian dari sekian banyak perhatian yang telah ditabur seorang ibu sejak anak itu masih bayi. Mendengar apa yang dikatakan ibunya, anak laki-laki itu segera memeluk, lalu kembali menggendong ibunya untuk dibawa pulang.
Bayangkan jika orangtuamu yang telah rengsa dibiarkan di tengah hutan, sampai menemui ajalnya dengan cara kelaparan, kedinginan, atau bahkan disantap binatang buas dan dikelilingi burung gagak?
Meski hanya legenda, namun kisah serupa Ubasute kerap terjadi di sekitar kita dalam wujud yang lain. Masih ada anak-anak yang menelantarkan orangtua dan enggan menguras tenaganya yang, bahkan jika itu segunung pun, tak akan pernah sebanding dengan apa yang telah orangtua ikhlaskan untuk anak-anaknya sepanjang usia mereka.
Jumat, 20 Mei 2022
Allisya
Minggu, 17 April 2022
Selamat Jalan Om Oku
Senin, 27 Desember 2021
Desember
Pernah suatu hari, ayah terjatuh dari meja tempat ia berjinjit. Lantai basah menjadikan insiden itu bertambah parah. Tetapi begitulah ayah. Ia akan bangkit lagi, memperbaiki atap lagi, dan lagi, agar penghuni rumah bisa nyaman berjalan di dapur ketika hujan. Mungkin baginya, cukuplah ia yang terjungkal asal jangan sampai ibu atau anak-anak.
Tahun-tahun berlalu sepeninggalan ayah. Kini, berganti ibu yang kuyu di kasur. Sakitnya yang mengajak aku harus segera pulang. Menerobos wabah dari satu penerbangan ke penerbangan lainnya. Udara mungkin bukan jalan terbaik sebab kita diterungku di dalam tabung raksasa, bersama orang-orang yang mungkin luput dari tes sembari membawa virus di hela napas mereka. Tetapi akhirnya aku sampai di tanah lahir disambut wajah-wajah bahagia.
Aku tidak sepenuhnya membenci tahun ini. Sebab ia menyeretku untuk kembali ke kampung halaman. Berlama-lama dengan orang-orang terkasih, sebelum sesal datang menghampiri. Setidaknya aku bisa mengelabui atau berhasil menang dari penyesalan yang, kita tahu selalu datang belakangan.
Senin, 22 November 2021
Mana Kepalmu?
Dari etalase wisata yang tampak seperti travesti itu, ada jerit seorang petani yang gagal panen karena parit-parit sawah mengering. Ada ikan-ikan di sungai yang tak lagi mengandung protein, tapi secuil limbah di dagingnya yang tak akan terasa oleh lidahmu.
Bibir-bibir pantai dan hutan bakau yang diuruk, dimanterai sekejap lalu bersulih menjadi lokasi swafoto. Hutan-hutan yang kulitnya penuh gelegata, pohon-pohon membungkuk, dan bukit-bukit yang terus didinamit hingga dedemit pun enyah.
Lalu roh-roh leluhur yang mana lagi, yang ingin kau panggil untuk membakar kepalmu?
Senin, 04 Oktober 2021
Selamat Merangkul Hidup Barumu
Harapan itu berbuah kerja. Keesokan harinya, aku sudah bisa meliput ke lapangan ditemani seorang perempuan. Dari kartu pers yang ia kenakan, tercantum nama Roslely Sondakh. Yang akrab menyapanya Eling.
Selayaknya tandem, Eling terus menunjuk ini dan itu. Sesekali tertawa. Menjelaskan begini dan begitu. Sesekali berdengus. Kantor Polres dan Pengadilan, jadi rumah singgah kami sepanjang pagi menjelang senja. Bahkan malam hingga pagi, kami harus mengawasi apa saja peristiwa yang terjadi.
Bagi wartawan pemula yang bekerja di surat kabar harian, liputan hukum dan kriminal adalah gerbang. Di situlah kami diajarkan untuk memverifikasi data.
"Bahkan warna celana dalam korban [pembunuhan] pun kau harus tahu!" kata Eling, dengan gaya khasnya bercekak pinggang.
Eling pernah tergelak-gelak, ketika melihat caraku menyusun berita berbasis data. Ia baru mengajariku setelah diteriaki redaktur senior.
Sepekan, kemudian, sebulan bergulir. Pertemanan kami mengalir. Hampir seisi kantor tentu saja menjalin pertemanan. Namun selalu ada dua, tiga atau empat orang yang berhimpun menjadi karib.
Rumah kontrakan Eling, jadi tempat kami menghamburkan berbagai perca ingatan. Kami seperti adik kakak yang, kadang bertengkar hanya karena terlambat membeli obat magnya.
Kemudian kami diutus ke kantor raksasa Manado Post, untuk dilatih menjadi wartawan liputan khusus. Semua anak media Manado Post Group bahkan dari Luwuk sampai Maluku diundang perwakilannya. Kendati kami yang paling bandel dan sering telat hadir mengikuti materi, hasil liputan kamilah yang terpilih dan dipajang di halaman satu koran Manado Post.
Sebenarnya, alasan kenapa kami sering telat, karena kami hanya menumpang tinggal di rumah salah satu mantan pimpinan Radar Bolmong. Jarak rumahnya cukup jauh. Peserta lainnya tinggal di penginapan yang berdekatan dengan kantor Manado Post.
Waktu, tanpa disadari menyeret kami begitu cepat. Satu per satu dari kami mulai ditugaskan di daerah terpisah. Setelah itu, pesanan advetorial dan target kontrak menyeleksi kami. Padahal, menurut Dahlan Iskan, kami wartawan liputan khusus dibebaskan dari target kontrak, advetorial, dan iklan-iklan. Satu demi satu melepas kemeja hitam kebanggaan bertuliskan Radar Bolmong.
Sebelum melepas diri, kami pernah sempat bergurau bahwa suatu saat akan berada di pucuk pimpinan, duduk di ruang kerja sendiri di kantor baru nan megah yang saat itu tengah dibangun, dan menua dengan menikmati hasil kerja kami di masa muda. Kawan-kawan seangkatan kami saat pelatihan, beberapa di antaranya sekarang sudah menjadi pemimpin redaksi di masing-masing perusahaan yang menaungi mereka kemarin.
Namun akhirnya aku sendiri sadar, harta adalah teman yang aneh. Ia hanya menyenangkanmu, ketika ia meninggalkanmu. Aku lebih memilih hendak menimbun pengetahuan.
Eling mendahuluiku pergi menginjakkan kaki ke Papua Barat. Di tanah di mana Injil kali pertama menjejak di Bumi Cenderawasih. Di Manokwari, media yang masih berpayung di grup yang sama--Jawa Post Group--rencananya akan merintis nasib di sana. Tetapi, hanya beberapa bulan mereka kembali ke Manado. Saat itu, aku sudah hijrah ke Gorontalo dan bergabung dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Gorontalo.
Kemudian, aku berpindah lokus liputan di Manado. Di sanalah kami dipertemukan lagi. Eling juga sudah di media yang baru dan menetap di Manado.
Di Manado inilah, hari-hari yang pernah kami lalui di masa-masa awal berkarir di media, kembali terulang. Kami bunuh diri karir. Merintis dengan nyawa yang baru lagi.
Saat ayahnya dirawat di rumah sakit di Manado, aku dan Nanang sering menemaninya. Koridor rumah sakit kadang menjadi tempat di mana kami rebah, bercanda, dan mengenang apa saja yang bisa membuat kami menertawai hidup. Pun sekadar untuk menghibur hatinya yang, kami tahu berharap besar agar ayahnya segera pulih. Pada akhirnya, Eling ikut pasrah ketika ayahnya menyerah pada sakitnya. Ayahnya berpulang.
Tak lama kemudian, kami terpisah lagi. Aku kembali ke Gorontalo. Lalu bertambah jauh lagi karena harus pindah ke Papua. Eling kembali ke Kotamobagu.
Dua tahun yang lalu, kali pertama aku kembali dari Papua saat liburan lebaran, Eling mengendarai mobil barunya saat menjemputku di rumah. Ia mengajakku jalan-jalan. Senyumku merekah. Setidaknya, apa yang telah ia bunuh dulu, telah berbuah hasil dengan nyawa baru itu.
Hari ini, perempuan yang gemar menendang, melantak, dan menyumpahi kami dengan suara kalengnya akan memupus masa lajangnya.
Sewaktu malam peminangannya beberapa pekan lalu, ia mungkin menyumpahiku lagi meski jauh nun dari rumahnya di Bolaang Mongondow Selatan. Aku tak bisa hadir karena urusan pekerjaan yang lumayan menguras energi.
Calon suaminya, Razak, ternyata dulu pernah juga bekerja di Radar Bolmong. Sempat bersua denganku belum lama ini. Sepertinya, lelaki ini mampu meredam segala apa yang bergemuruh dari dalam diri Eling.
Selamat menikah sahabat terbaik. Akur hingga uzur.
Rabu, 07 Juli 2021
Obituari Kaka Cece
Pertanyaan itu terlontar di dalam mobil.
"Nyerah?" tanya Defaw kepada kami. Tebak-tebakan itu darinya.
"Kalau sarung itu bisa kotak-kotak, kalau kotak tidak bisa sarung-sarung."
Tawa kemudian menebal di dalam mobil. Malam itu, seingat saya, ada Ann, Kaka Cece, Sandi, Fawaz a.k. a Defaw (Dede Fawaz). Kami pergi mencari makan. Dalam perjalanan, akhirnya kami bertarung tebak-tebakan dan terus tertawa terbahak-bahak.
Lalu Kaka Cece tiba-tiba berujar, "Saya mampir di rumah dulu ya?" Sambil menunjuk sebuah rumah bergerbang raksasa. Jelas saja kami semua tertawa. Kaka Cece memang sering kali bergurau seperti itu. Beberapa kali ia menunjuk perumahan elite, kemudian seolah-olah ingin memutar kemudi mengarah ke pintu masuk.
Kaka Cece adalah satu-satunya saudara laki-lakinya Ann. Mereka empat bersaudara. Tiga lainnya perempuan. Jelas sekali, Kaka Cece pasti anak yang begitu dimanja sejak kecil. Gurauannya tentang rumah-rumah gedongan itu, sebenarnya ialah apa yang pernah dirasakannya. Kaka Cece beruntung terlahir dari keluarga yang mapan. Kakak tertua mereka di Makassar, Kaka Ida, punya rumah lebih dari satu dan sebesar rumah-rumah yang kerap kali dijadikannya gurauan.
Kaka Cece menetap di Tangerang. Namun ia sering kali berkunjung ke Cirebon. Karena sering ke Cirebon, saya dan Kaka Cece cukup akrab. Kami beberapa kali keluar pagi-pagi hanya untuk mencari nasi jamblang, makanan khas Cirebon. Nasi ini berwadah daun jati, kemudian lauknya bisa diambil sesukanya, ada udang goreng, telur, perkedel, hati ayam, dan masih banyak lagi. Saya sempat berujar heran, karena harganya hanya sepuluh ribu.
Pernah ketika Kaka Cece esoknya hendak kembali ke Tangerang, dan kebetulan saya juga tidak lama lagi akan kembali ke Papua, kami pergi mencari tempat makan yang terletak di puncak. Cirebon memang dekat dengan daerah puncak, lokasinya di jalan menanjak menuju Kuningan. Dokter Sukma, teman praktik Ann, datang bersama istri dan anaknya. Kami melahap hidangan di Restoran Salt dengan suguhan pemandangan malam hari Kota Cirebon yang indah, sembari bertukar cerita.
Lama tak bersua dengan Kaka Cece. Sejak wabah ini mengganas tahun lalu, saya memberanikan diri pulang dari Papua menuju kampung halaman karena ibu sakit. Itu pun dengan hati berdebar-debar karena tak ada pesawat langsung menuju Manado. Saya harus pulang lewat Makassar, sedangkan saat itu kota ini masuk zona merah Covid-19.
Kemudian ... kemarin, Rabu 7 Juli 2021, sebaris pesan dari Ann menyelinap di gerbang pagi, seusai Spanyol bertekuk lutut kepada Italia lewat adu penalti.
Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah adik kami M. Jusri Hidajat Tahir. Mohon dimaafkan segala salah dan khilafnya. Mohon doanya Kris ...
Saya sempat memastikan bertanya lagi apakah ini Kaka Cece, meski sudah mengira karena Ann menyebut 'adik kami' bersama marga. Pertanyaan saya itu seperti sebuah sanggahan. Itu bukan Kaka Cece. Berulang kali dalam hati saya coba meyakinkan bahwa itu bukan Kaka Cece.
"Ya Allah, sakit apa?"
"Covid."
Ann kemudian menyumpahi virus itu. Kejam. Iya, virus ini memang kejam. Virus ini terasa berada di depan mata karena mulai merenggut orang-orang di lingkaran terdekat. Kaka Cece sempat dirawat di ICU dua malam. Sempat membaik karena saturasi naik 90. Namun pukul 3 pagi kembali drop.
Jakarta dan sekitarnya sekarang zona hitam. PPKM Darurat sudah diberlakukan. Sayangnya, Kaka Cece belum sempat ikut vaksinasi dan memiliki komorbid atau penyakit penyerta. Bahkan ketika jatuh sakit, cukup sulit mencari rumah sakit. Hampir semua penuh. Ada yang menolak karena tabung oksigen semuanya terpakai di ICU. Sebagian pasien ada yang dirawat di tenda-tenda darurat. Selain itu, perjalanan ambulans juga memakan waktu lebih lama, karena sebagian jalan diblokade.
Saat menghubungi Ann lewat video call, saya terus menangis tak percaya. Ann juga terisak-isak. Air matanya seperti sudah mengering. Yang teramat biadab ketika virus ini menjemput keluarga terdekat, kita tidak tahu lagi bagaimana caranya berduka. Tidak ada pelukan terakhir. Bahkan untuk sekadar mengunjungi makam saja tak bisa dilakukan saat ini. Jakarta telah menjadi tuan rumah dari virus varian Delta. Varian terkuat.
Ketika varian Delta ini mulai menjalar di India, Ancol dibuka saat liburan lebaran. Muncul meme yang membandingkan tumpukan orang di Ancol dengan orang-orang di Sungai Gangga. Selain itu, sejumlah WNA asal India sempat masuk lewat Bandara Soetta, April 2021 lalu. Peringatan pakar-pakar epidemiologi diabaikan.
Namun, kabar Ann bahwa sejumlah rumah sakit beralasan kekurangan tabung oksigen, menandakan bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Ada banyak nyawa di luar sana yang bergantung pada tabung oksigen. Tabung yang menyimpan apa yang sedang kita hirup gratis saat ini.
Selamat jalan Kaka Cece. Al-Fatihah ...




