Getah Semesta

Rabu, 08 Juli 2026

Mesir Memenangkan Hati Dunia

Tidak ada komentar

Dengusan dan sorakan penonton laga 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina Vs Mesir terdengar. Skor akhir 3-2 untuk kemenangan Argentina. Namun pertandingan sesungguhnya baru dimulai setelah peluit panjang berbunyi. Di media sosial dan meja-meja tongkrongan "pertandingan" terus berlanjut, hingga gelas kopi tersisa ampas dan isi sloki Cap Tikus menjadi puding. 

Laga tersebut akhirnya bukan hanya sebatas bundaran bola. Ia berubah menjadi cermin yang memantulkan bagaimana politik, teknologi, dan dolar berpadu dengan sepak bola dalam 90 menit. Semuanya bercampur jadi satu seperti dalam sepiring bubur Manado yang, tengah disantap para penikmat sepak bola.

Ketika remontada Argentina pada menit akhir, pasir harapan yang tersisa dari genggaman pemain Mesir menetes habis dari sela-sela jemari. Butir demi butir pasir itu menumpuk menjadi segurun perasaan dipecundangi oleh peluit dan layar VAR. Mesir seolah-olah sedang melawan terjangan badai kecurangan. Bahkan 1.000 piramida dijejer pun tak akan sanggup mengadang.

Badai berawal ketika gol kedua Mesir hasil kerja tim yang sangat luar biasa dan dieksekusi dengan cantik oleh Mostafa Zico pada menit ke-62 harus dianulir wasit Francois Letexier. VAR menemukan adanya pelanggaran build-up Marwan Attia kepada Lisandro Martinez tiga fase sebelum gol terjadi. Dari tinjauan VAR, pemain Mesir Marwan Attia tertangkap kamera menarik dan menginjak kaki Lisandro Martinez, sebelum serangan balik tersebut berbuah gol. 

Pembatalan gol Mostafa Ziko tersebut memicu kemarahan kubu Mesir. Pelatih dan pemain melayangkan protes keras karena menganggap pelanggaran tersebut terjadi di luar fase penyerangan inti yang sah untuk dianulir. Jika aturan memperbolehkan itu, mengapa standar itu tidak berlaku sama? Mengapa duel di kotak penalti Argentina pada menit 90+2 dianggap biasa saja?

Badai berikut, saat Mesir menuntut penalti. Hamdy Fathy dijatuhkan. Mohamed Salah juga dijatuhkan. Wasit memilih melanjutkan permainan. Psikis pemain Mesir tertekan dan ini menguntungkan Argentina. Mohamed Salah tampak begitu tenang tapi kawan-kawannya tidak. Dua menit berselang, gawang Mesir kebobolan gol kemenangan Argentina. Tapi gol tersebut berbau pelanggaran. Protes pemain dan ofisial Mesir malah dihadiahi kartu. Wasit tidak meninjau ulang insiden melalui monitor VAR pada injury time. Di sinilah muncul keraguan. VAR disebut alat paling objektif, tetapi tetap dijalankan oleh manusia. Dan manusia itu bekerja di antara teriakan 68 ribu penonton di Stadion Atlanta.

Luka tersebut terasa semakin dalam karena ia bersinggungan dengan politik. Mesir dan Palestina memiliki hubungan sejarah yang panjang. Mesir adalah negara Arab pertama yang menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada 1979 di Camp David. Namun perdamaian itu tidak membuat Mesir memalingkan wajah. Kairo justru menjadi tempat utama perundingan gencatan senjata antara Hamas dan Israel. Setiap kali Gaza bergejolak, diplomat Mesir adalah pihak pertama yang bergerak. Di forum PBB dan Liga Arab, suara Mesir paling lantang menolak perluasan permukiman dan mendukung kemerdekaan Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

Secara geografis, Mesir adalah satu-satunya negara selain Israel yang berbatasan langsung dengan Gaza melalui Penyeberangan Rafah. Karena itu, peran Mesir menjadi sangat vital. Ketika blokade diperketat, Rafah dibuka. Ratusan truk bantuan dari Mesir masuk setiap minggu sejak Oktober 2023. Rumah sakit di Sinai dan Kairo penuh dengan korban luka dari Gaza.

Bagi rakyat Mesir, ini bukan lagi kebijakan negara. Ini soal kemanusiaan. Di jalanan Kairo dan Alexandria, "semangka" Palestina bertebaran sejak 2023. Di stadion, saat Al Ahly dan Zamalek bertanding, spanduk solidaritas dibentangkan. Di sekolah, anak-anak Mesir diajarkan bahwa Palestina adalah luka bersama bangsa Arab. Masjid Al-Azhar di Kairo juga rutin mengeluarkan pernyataan yang berpihak pada hak rakyat Palestina. Karena itu, ketika Mesir kalah dengan cara seperti ini, narasi yang muncul bukan hanya "kalah bola". Banyak yang merasa ini adalah bentuk lain dari ketidakadilan yang sama yakni "Barat melawan Timur Tengah".

Argentina sendiri juga memiliki catatan. Pada 2018, Messi dan timnas Argentina membatalkan pertandingan persahabatan di Israel, setelah mendapat tekanan dari kelompok pro-Palestina di Argentina yang kerap turun ke jalanan untuk aksi mendukung Palestina. AFA lalu menyatakan keputusan itu demi keselamatan pemain. Namun di mata sebagian publik, citra Argentina tetap lekat dengan Barat. Dengan sponsor-sponsor besar, hak siar miliaran dolar, serta Messi sebagai wajah komersial sepak bola dunia. 

Presiden Argentina, Javier Milei, paling pro terhadap Israel di Amerika Latin dan dekat dengan Trump, Presiden AS yang baru-baru mengintervensi FIFA terkait suspensi striker AS, Folarin Balogun. Saat laga berlangsung, sejumlah suporter Argentina juga memprovokasi Mesir dengan membentangkan bendera Israel. Aksi tersebut diduga dipicu oleh sikap pelatih Hossam Hassan yang sebelumnya secara vokal mendukung Palestina. Ia mengibarkan bendera Palestina usai lolos dari fase grup. Tak hanya itu, supoter Argentina juga bersikap rasis kepada streamer dan YouTuber populer IShowSpeed, saat Argentina Vs Cape Verde. Seorang penonton melontarkan kalimat bernada rasis, "Go cry at the zoo!". Berulang ketika laga dengan Mesir. Pendukung Argentina terekam kamera melakukan gestur menyerupai monyet ke arah IShowSpeed.

Arkian, kecurigaan juga mengarah kepada FIFA. Sejarah panjang FIFA memang tidak bisa dilepaskan dari kontroversi. Mulai dari skandal Sepp Blatter, hingga isu penunjukan tuan rumah. Saat suspensi striker AS Folarin Balogun, Trump dikabarkan menelepon Presiden FIFA Gianni Infantino. FIFA tiba-tiba membatalkannya. Terkait VAR, barang ini adalah industri mahal. Ada anggaran besar di balik setiap kamera dan operatornya. Selain itu, ada ribuan triliun uang judi bola yang tengah berputar di dunia. Sepak bola menjadi padang gurun cuan. Apakah ini juga berkelindan dengan setiap keputusan dalam lapangan? 

Argentina juga tidak sepenuhnya bersih. AFA pernah terseret kasus korupsi pembinaan usia muda. Liga domestiknya sering dituduh tidak transparan. Secara bisnis, kehadiran Argentina di babak 8 besar jelas menguntungkan. Jersei ludes terjual, rating televisi naik, lalu sponsor tersenyum.

Seandainya pertandingan Argentina Vs Mesir sepenuhnya adil tanpa keputusan wasit yang kontroversial, Mesir berpeluang besar menang dan mencetak sejarah lolos ke perempat final. Skenario fair play akan mengubah arah laga, sebab para pemain Mesir jelas tak tertekan secara psikis. Argentina tertunduk pulang tapi jutaan orang akan menghormati mereka alih-alih menyebar meme FIFAnic atau VARgentina. Atau, bisa jadi Argentina comeback dengan menyuguhkan permainan yang mengesankan tanpa bantuan peluit. Wasit yang adil bukan menulis sejarah kemenangan. Ia menjaga agar sejarah ditulis dengan benar.

Peradaban yang membangun piramida tidak akan runtuh hanya karena tiupan peluit. Sungai Nil belum berhenti mengalir, begitu pula semangat mereka. Ini bukan akhir bagi Mesir. Namun muncul pertanyaan apakah sepak bola bisa dipisahkan dari politik, ketika dua tim yang bertanding memiliki posisi berbeda terhadap isu Palestina atau isu geopolitik lainnya? Dan apakah kita masih bisa percaya bahwa skor murni ditentukan di atas lapangan hijau, bukan di atas kertas neraca keuangan?

Tak harus menjadi pemain dan pengamat sepak bola untuk tahu laga itu tak imbang. Publik dunia tidak bisa dibohongi ketika kecurangan tampak jelas di depan miliaran pasang mata. Karena itu mereka mengecam. Bahkan Cape Verde dinilai ikut merasakan ketidakadilan wasit saat menghadapi Argentina. Selama FIFA tidak membuka rekaman VAR dan investigasi tidak dilakukan, maka keraguan publik akan sekekal sarkofagus. VAR pun terkesan seperti teknologi yang ikut merapikan ketidakadilan. 

Dan pada akhirnya, ketika anak cucu kita kelak bertanya, sepak bola itu apa? Lalu kita harus menjawab, "Sepak bola bukan sekadar permainan, Nak. Ia adalah geopolitik dengan kostum dan peluit."

Senin, 12 Mei 2025

Bangga Hadir di Maa Ledungga

Tidak ada komentar

Dataran Dumoga yang selama bertahun-tahun tak pernah lagi saya jejaki, berlangit cerah sore itu. Ada aroma tanah persawahan serupa petrikor yang terhidu di dalam laju mobil. Aroma itu khas seolah-olah bercampur dengan keringat lelah para petani.

Hari itu, Jumat, 2 Mei 2025, saya tengah menuju Gorontalo melewati jalur selatan, Bolaang Mongondow. Rute ini memang jarang dilewati, tapi meringkas jarak dibandingkan jalur utara.

Di Gorontalo tepatnya di Huntu Selatan, Kecamatan Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango, sedang ada Pesta Seni Panen Padi, Maa Ledungga. Ini event yang keempat kalinya. Ada banyak seniman yang berkolaborasi pada event ini, baik perupa lokal dan mereka yang berada di luar daerah.

Jalur selatan yang saya pilih ini, menyuguhkan panorama alam yang berbeda. Sebab kita akan sering melewati persawahan ketika berada di Dumoga yang didapuk sebagai lumbung berasnya Sulawesi Utara, lalu pesisir pantai dengan pemandangan kampung-kampung nelayan ketika berada di Bolaang Mongondow Selatan. Perahu-perahu nelayan kerap terparkir di tepi pantai.

Petani dan nelayan adalah dua profesi penting yang sangat bergantung pada alam, untuk menghasilkan pendapatan. Saat ini, lahan pertanian di Indonesia mengalami penyusutan, khususnya lahan persawahan. Penyebabnya mulai dari alih fungsi lahan untuk perumahan, industri, dan infrastruktur. Sementara nelayan, kerap menghadapi kendala seperti pemasaran hingga akses modal yang kurang, sampai sering kali menjebak mereka untuk terlibat pinjaman kepada para tengkulak, mahalnya bahan bakar, serta masalah perubahan iklim.

Maa Ledungga #4 yang kali ini mengusung tema "Suaka" artinya perlindungan, hendak menyuarakan kegelisahan-kegelisahan semacam itu. Ada kolaborasi antara seni, pertanian, dan pangan yang melibatkan 43 seniman dari berbagai daerah, serta partisipasi aktif masyarakat, mahasiswa, lembaga, komunitas, dan kolektif.

Sejak dibuka pada 29 April dan dihadiri oleh kurator seni Bob Edrian, sudah berbagai kegiatan yang berlangsung. Dari mulai pameran lukisan dan seni instalasi yang menariknya dilaksanakan di gilingan padi warga sekitar, juga ada sejumlah diskusi publik, dan masih banyak kegiatan lainnya. Meski saya tidak sempat hadir pada pembukaan, tapi sesampainya di lokasi event, rasanya dada ini tetap seperti dipenuhi ratusan capung, ada rasa bangga ketika bisa hadir di Maa Ledungga.

Saya menginap di Huntu Art Distrik (Hartdisk) selama 4 hari, dan di lokasi ini pula berdiri Pasar Ambuwa. Pasar yang sebenarnya hanya dibuka dua kali selama sebulan, tapi selama event Maa Ledungga dibuka penuh setiap hari. Di sini, pengujung wajib membawa perian atau tabung minum sendiri atau tumbler. Pasar menyediakan galon isi ulang. Kantong plastik atau makanan-makanan ringan berbungkus plastik, juga dihindari.

Sejak masuk ke dalam pasar, kita seolah-olah baru saja melewati pintu ke mana saja dan kembali ke masa beratus-ratus tahun yang lalu. Alat transaksi di dalam pasar, memakai kepingan yang terbuat dari tempurung kelapa. Setiap keping senilai Rp6 ribu. Keping ini nantinya dipakai untuk berbelanja berbagai macam makanan tradisional Gorontalo seperti binte biluhuta atau milu siram, popolulu, kala-kala, sabongi, apang colo, garo ubi dan lain-lain. Wadah yang disediakan kerap beralaskan daun pisang. Untuk sisa-sisa makanan, jangan khawatir, pasar menyediakan tempat sampah, serta ada banyak kucing terlantar yang tinggal di sini siap melahap makanan sisa, atau makanan dari pengunjung yang hendak berbagi. Anak kucing terbaru diberi nama Suaka, serupa tema Maa Ledungga #4.

Pengunjung bisa berlesehan di atas tikar-tikar anyaman sembari menikmati langit sore hari. Pasar Ambuwa juga sering membuat kelas memasak, pengenalan rempah-rempah kepada anak-anak, dan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan kuliner tradisional. Ada berbagai macam rempah dan hasil bumi dipajang, serta stoples-stoples mungil berisi biji-bijian.

Jika pengunjung telah kenyang, bisa langsung mengunjungi lokasi pameran yang letaknya tak jauh dari pasar. Kalau Hartdisk dan Pasar Ambuwa adalah lokasi pertama, maka lokasi keduanya adalah Gilingan Ka Mi’u, dan yang ketiga Gilingan Ka Jami’. Di Gilingan Ka Mi'u ada dua tempat yang bisa dikunjungi. Yang pertama seni instalasi dan beberapa lukisan yang bertema kasus pelecahan seksual. Ini adalah karya kolaborasi seniman Syam Terrajana dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Gorontalo. Ini serupa rumah yang mengingatkan kita, bahwa ada banyak suara-suara yang belum terdengar, bahkan itu berasal dari sekitar kita. Akhir-akhir ini, di Gorontalo memang tengah marak kasus pelecehan seksual kepada perempuan dan anak di bawah umur. Yang terakhir melibatkan rektor di salah satu universitas, yang diduga korbannya sampai belasan.

Setelah dari sini, pengunjung bisa berjalan kaki seperlemparan kerikil dan gilingan yang kabarnya baru dibangun bisa ditemui dengan pintu terbuka lebar. Di sini berisi sejumlah karya seni instalasi dan lukisan dari para perupa. Yang paling menyita perhatian adalah seni instalasi karya seniman asal Bali, I Ketut Putrayasa. Karya dari tumpukan karung plastik transparan berisi padi sebanyak 1 ton yang dibebat kain merah, dan tertusuk runcing ratusan bambu itu berjudul “Oryzamorgana". Karya ini menyuarakan isu ketahanan pangan.

Ada sejumlah lukisan dari para perupa Gorontalo dan dari luar daerah ikut terpajang. Mungkin ini satu-satunya pameran yang tidak dilaksanakan di galeri, tapi malah di gilingan padi milik warga. Dari Gilingan Ka Mi’u, kita bisa lanjut ke lokasi ketiga yang letaknya juga hanya lima menitan berkendara. Di Gilingan Ka Jami’ kita disambut fasad yang digarap karikaturis Gorontalo Yayat Gokz dan perupa Passwart, yang bertema isu-isu aktual serta ketimpangan sosial yang terjadi saat ini. Belasan fasad ini dibuat di atas kain selebar tirai dan menjuntai sepanjang tiga sampai empat meter, serta gambarnya bertinta hitam dan merah memberi kesan dark dan warning.

Di dalam ada karya seni instalasi karya perupa Gorontalo, Jon Kabila, yang langsung menyihir pandang. Sebuah sampan di atasnya berjejer belasan miniatur rumah, yang tampak seperti permukiman Suku Bajo. Di tengah-tengah sampan terpancang pohon bakau mengering. Selain itu ada belasan karya perupa ternama lainnya seperti Iwan Yusuf, Anagard, dan lain sebagainya.

Sejak berkunjung dari gilingan pertama hingga kedua, saya seperti sedang menyaksikan pameran yang tak ternilai harganya namun bisa diakses gratis. Apalagi ditambah Orasi Kebudayaan dari Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Zenzi Suhadi. Saya sempat merekam kalimat Zenzi yang berisi pesan kepada para petani. Zenzi mengatakan, para petani tak harus menanam komoditas yang tengah melambung harganya. Kebiasaan para petani kerap mengganti jenis tanaman. Padahal, semua jenis komoditas itu dibutuhkan pasar. Jika sekarang petani tengah fokus membudidayakan kakao atau cabai, maka fokuslah di situ. Ia juga mengkritik kebijakan pemerintah yang kerap mengabaikan para petani, serta pengerukan sumber daya alam yang membabi-buta tanpa mempertimbangkan bencana ekologis.

Selama empat hari di Gorontalo, sepertinya belum cukup. Sebab ada banyak kegiatan lainnya seperti pentas teater, pembacaan puisi, monolog, pantomim, hiburan dari band-band lokal, dan masih banyak lagi seni pertunjukan lainnya yang akhirnya terlewati sebab saya harus cepat-cepat pulang.

Hari ini, Minggu, 11 Mei 2025, Maa Ledungga #4 akan ditutup. Tapi ada banyak karya serta keakraban yang akan tersimpan di tabungan ingatan saya. Odu'olo ...

Rabu, 26 Maret 2025

Cemas

Tidak ada komentar
aku masih menanti
meski aku menjelma kursi
tapi tiap tapi selalu menyimpan api
membakar setiap kakikaki 
yang cemas dengan hari.

Passi, 2025

Sabtu, 22 Maret 2025

Ramadan

Tidak ada komentar

bulan ketika mala-

ikat bebas mengibas

sayap ke wajahwajah

lapar dan iblis lepas


pergi


merejah kerumunan

pemburu takjil

bisikkan: belilah lamunan

beri kepada jibril.



Passi, 2025

Sabtu, 08 Maret 2025

Amato

Tidak ada komentar

kangen suaramu yang seperti kicau cendrawasih jingga, saat melafalkan baitbait bujangga.


kangen suaramu ketika sesekali terhenti pada titik & koma, kemudian puisi kembali menggema.


kangen suaramu sebab sekarang orang-orang meracau, di atas retakan tanah kemarau.



Passi, 2025

Selasa, 18 Februari 2025

Cinta Bertepuk Sebelah Angan

Tidak ada komentar

mencintaimu, membuatku tak bisa membeda: mencintai orang yang salah atau yang benar. sebab kau bayang yang bergelimun abu-abu. datang seperti senyap kabut di pagi buta.


pernah aku menantimu hingga membatu di bangku taman sebuah danau. kau tiba dan melemparkanku ke bentang airmengapung selama seribu hari. hanya satu bunyi detak janin menunggu dilahirkan yang akhirnya menenggelamkanku.


ketika tubuhku membentur dasar, terdengar suara cinta bertepuk. bertebaran lanau angan-angan: kapan ujung temali terjulur lalu menegang setelah tergenggam. tapi kau di atas sana sibuk mengisahkan saga kepada seorang bocah.

Passi, 2025

Kamis, 06 Februari 2025

Tampeleng

Tidak ada komentar

 



"Orang tua dan guru pernah menjadi anak-anak. Tapi anak-anak tidak pernah menjadi orang tua dan guru."


Saya mengutip kalimat itu dari status seorang kawan di FB. Terdengar familiar dan menurut saya inilah kalimat paling mewakili dalam kasus "tampeleng" (tampar), yang diduga dilakukan seorang guru kepada anak didiknya di salah satu SMA di Kotamobagu.


Dari video live FB yang dilakukan ayah si siswi, tampak ibu guru ini meminta maaf karena telah berbuat demikian. Ia mengaku hanya menempeleng dengan lembut, yang dibahasakan sebagai "tampeleng sayang".


Pertama, yang harus diperhatikan dalam kasus ini adalah apakah benar ibu guru ini menempeleng siswi ini dengan lembut? Menurut pengakuan ibu guru ia hanya menempeleng dengan lembut, tapi kenapa siswi ini menangis lantas pulang mengadu? Kita tidak bisa menghakimi siswi ini sebagai anak manja, lalu membanding-bandingkan pengalaman kita semasa sekolah yang penuh dengan cubitan dan cambukan. Adagium "di ujung cemeti ada emas" telah usang. 


Bagaimana dengan mental atau perasaan malunya? Setiap orang termasuk anak apalagi di masa labil, memiliki badai dalam diri mereka masing-masing. Karena itu perlakuan kasar kepada anak-anak dilarang di sistem pendidikan modern, dan ada pasal yang mempertegasnya. Siapa yang mau bertanggung jawab ketika badai dalam diri siswi itu mengamuk? Karena malu dan sejumlah alasan lainnya, kemudian dia berbuat hal yang tidak-tidak (semoga ini tidak terjadi). Saksi juga harus digali keterangannya agar menyoal penamparan ini semakin terang.


Sebuah tamparan, mau keras atau lembut, kepala adalah tempat bersemayamnya otak manusia. Otak dan kemampuan berpikir manusia inilah yang menjadikan kita makhluk superior, dibandingkan binatang, iblis, bahkan malaikat. Malaikat disetel sifatnya oleh Tuhan hanya untuk menjadi makhluk baik, begitupun sebaliknya iblis hanya jahat. Tapi manusia bisa menyerap kedua sifat itu: baik dan jahat. Betapa agungnya kita sebagai makhluk hanya karena otak (daya pikir) kita.


Mungkin karena saking terhormatnya kepala maka kenapa "tola kapala" (towel kepala) sangat dilarang dalam budaya kita. Ini bisa menjadi pangkal masalah. Bahkan kita dilarang untuk menduduki bantal tidur sebab itu adalah tempat kepala kita berlabuh. Entah kenapa juga ibu guru itu memutuskan untuk menempeleng, padahal cubitan lejen (bahkan ini pun sudah dilarang) bisa menjadi pilihan kalau memang tidak bisa menahan gemas.


Kedua, jika benar siswi ini ditampar atas nama hukuman pendisplinan, maka apa yang telah diperbuatnya? Jika sering terlambat masuk sekolah, apakah teguran harus dengan kekerasan? Ajaklah siswi itu ke ruangan yang hanya ada guru dan dia. Kemudian tanyakan alasan kenapa ia sering terlambat. Bicaralah baik-baik seperti kausedang berbagi dengan teman baikmu. Apalagi kalian yang guru, yang mungkin pernah mengikuti tes psikotes pasti paling paham yang beginian. Yang sangat disayangkan, ketika para guru yang justru ikut menormalisasi kekerasan. Solidaritas memang perlu, tapi ingat ada pasal yang melarang kekerasan terhadap siswa. Lega ketika ada kawan pengajar yang malah melawan arus dan ikut menolak kekerasan terhadap siswa. Mereka yang percaya bahwa hanya ikan mati yang bisa terbawa arus.


Saya jadi ingat sebuah film pendek tentang pak guru yang kerap memukul telapak tangan seorang siswanya dengan mistar, karena anak ini sering terlambat. Sampai suatu hari, ia melihat alasan kenapa anak itu kerap terlambat ke sekolah. Ternyata setiap pagi bocah itu sering membantu dulu saudaranya yang cacat di kursi roda. Guru itu akhirnya menyesali perbuatannya dan menciumi tangan anak itu yang sering ia hantam dengan penggaris.


Saya tidak berharap ada alasan yang dramatis seperti itu dalam kasus siswi yang ditempeleng. Tapi setidaknya, itulah tugas pihak sekolah dan orang tua untuk mengungkap, kenapa anak itu sering terlambat kemudian mencari solusinya bersama-sama. Berbagai bentuk sanksi alternatif juga bisa diterapkan selain kekerasan. Hukuman yang mendidik dan tidak menyakiti fisik atau psikis siswa. Ada banyak metode seperti itu yang bisa dibaca di buku, digugling, atau yang telah dicontohkan oleh beberapa kawan misal mengulas buku dan lain sebagainya. Bukankan setiap sekolah punya Pojok Baca?


Ketiga, setelah pengaduan dari siswi kepada orang tuanya yang kabarnya karena geram sempat membuat laporan di kepolisian, kemudian selanjutnya ditempuh langkah mediasi, apakah mediator di sini ikut juga pihak kepolisian atau hanya antara pihak sekolah dan orang tua? Kenapa sebelum mediasi tidak ada kesepakatan untuk menyimpan ponsel, agar upaya mediasi bisa berjalan baik? Apakah langkah ini dilakukan tapi si ayah siswi ini yang menolak dan tetap mau merekam upaya mediasi? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang seharusnya ditanyakan oleh wartawan kemudian diberitakan, agar warga atau khalayak ramai yang dibuat gaduh oleh kasus ini bisa menerima informasi yang jelas.


Sejak kasus ini bergulir di medsos, saya menunggu berita yang bisa memperjelas kasus ini. Ada sejumlah laporan warga yang bisa masuk kategori citizen journalism (cj) pada kasus "tampeleng" ini. Bahan-bahan yang dirangkum dari live, status, dan sejumlah data ringkas dari postingan medsos. Keuntungan cj atau jurnalisme warga ini yakni kecepatan laporannya. Tapi tentu saja, ketidakakuratan dan biasanya bias informasi kerap ditemukan. 


Nah, tugas wartawan untuk memperjelas informasi dari cj ini. Pertanyaannya, apakah ada satu media di BMR tersayang ini yang melaporkan kasus ini dengan berimbang? Memberi kesempatan kepada guru/pihak sekolah untuk menjelaskan kasus ini? Kemudian ada penjelasan dari orang tua/siswi? Serta sudut pandang dari pengamat yang benar-benar pengamat pendidikan? 


Metode peace journalism atau jurnalisme damai juga bisa dipakai di sini. Untuk memberi laporan yang adem-adem atau narasi pemaafan, sehingga warga atau pembaca bisa menilai sendiri dengan bijaksana seperti apa kasus ini. Tapi sayang, hingga hari kedua tidak ada berita tentang kasus ini yang memenuhi standar kode etik jurnalistik. Jemaah pesbukiyah menjadi singa kelaparan yang memangsa apa saja informasi yang menyudutkan pihak si siswi apalagi ayahnya, padahal siswi inilah korbannya. Ia menjadi korban victim blaming (menyalahkan korban tindak kekerasan karena caranya berperilaku). 


Keempat, siapa yang meminta ibu guru ini bersujud dan meminta maaf kepada pihak keluarga korban dan ke seluruh penghuni sekolah? Atau memang ini inisiatif sendiri karena rasa bersalahnya? Ini harus jelas sebab narasi "bersujud" ini yang membuat ia semakin "dikultuskan", lantas mengesampingkan bahwa ada korban si siswi ini. Apalagi video ketika ibu guru memeluk ibu si siswi sembari meminta maaf, dibandingkan dengan sikap si siswi yang menyilangkan kakinya. Bagaimana jika itu cara ternyamannya duduk apalagi ia memakai rok pendek. Tentang rok pendek, jika ada aturan tertulis tentang tidak bolehnya siswi memakai rok pendek, kenapa juga ia masih memakai rok itu saat ke sekolah. Yang begini juga harus diperjelas, bukan malah menghakimi siswi ini karena cara berpakaiannya yang mengundang syahwat. Bahkan jika ia menjadi korban cat calling (bentuk pelecehan jalanan yang pada umumnya berupa komentar seksual yang tidak diinginkan, provokasi, dan klakson kendaraan atau suitsuit) pun, ia sepertinya tetap disalahkan karena cara berpakaiannya. Ya ampun, mau pakai daster setumit pun kalau penjahat otak mesum tak akan memilah-milah korban. Sungguh sangat disayangkan apalagi komentar victim blaming seperti ini keluar dari mulut seorang perempuan, bahkan sampai ada yang menyebut anak itu bodoh.


Di Papua, saya mengenal seorang ibu guru di pedalaman yang membaca novel-novel Paulo Coelho dan tentu saja Totto-Chan, serta Paulo Freire. Ini seharusnya bacaan wajib para pendidik. Ibu guru ini sudah terbiasa dengan rute Ninja Hatori: mendaki gunung lewati lembah. Mungkin sesampainya di sekolah terpencil itu, ia berpesan kepada muridnya dengan mengutip sabda Paulo Coelho, "Agar bisa menanjak di dunia ini, kau harus menjadi sarjana. Dan begitulah ceritanya sehingga dunia kehilangan banyak petani, pembuat roti, pedagang barang antik, pemahat, dan penulis hebat."


Tidak ada anak yang bodoh. Semua spesial dengan bakatnya masing-masing. Bahkan Albert Einstein pernah dianggap bodoh saat kecil. Ia diduga mengidap disleksia semacam gangguan belajar yang membuat seseorang kesulitan memproses bahasa. Lalu ia menjadi ilmuwan jenius yang ikut mengubah peradaban dunia. Film Aamir Khan tentang anak disleksia berjudul Taare Zameen Par (Seperti Bintang-bintang di Langit) juga mengajarkan bahwa setiap anak itu memiliki keistimewaan sendiri.


Terakhir, jika netizen tidak menyukai sikap ayahnya yang dinilai arogan, yang terus menyudutkan ibu guru meski ia sudah meminta maaf, maka tak harus ikut menghakimi anaknya. Apalagi ayah si siswi ini telah menghapus video dan meminta maaf dalam sebuah postingan. Tapi coba tengoklah tuntutan para netizen yang maha benar ini, bahwa si ayah ini harus membuat video secara langsung dan meminta maaf. Jika ini terjadi, barulah katanya para netizen merasa puas.


Ada beberapa video beredar ketika si ayah berada di halaman sekolah. Ia menganggap pihak sekolah dalam upaya mediasi, malah menghimpun para guru dan siswa untuk mendukung si ibu guru. Ada juga video ketika si ayah berjalan keluar sekolah, sambil merangkul putrinya yang tengah terisak-isak. Tangisan itu dianggap drama oleh sejumlah netizen. Beberapa komentar mengerikan juga menghakimi anak ini seperti; dikeluarkan saja dari sekolah, komentar cabul, bahkan sampai mengunggah foto anak di bawah umur ini yang bisa digolongkan sebagai doxing (menyebarkan informasi pribadi seseorang tanpa izinnya). Ayahnya disalahkan karena menjadi sebab kenapa anaknya jadi bulan-bulanan netizen, seperti sebuah pemakluman bahwa anak ini bisa dibuli karena ulah ayahnya. Sungguh, netizen maha jeli dan paling maha benar inilah sebenarnya yang terus memanggang kasus ini, seperti membuat tangkapan layar diikuti narasi yang sangat subjektif atau berdasarkan penilaian sendiri, kemudian para pengikutnya yang gagap terus berlelehan iler. Minta tambah lagi konten-konten lainnya.


Para konten kreator ini lebih parah lagi. Memanfaatkan momen ini dengan terus memberi asupan konten yang semakin mengaburkan pangkal masalah. Siswi ini bahkan ketika ia sedang menangis, dijadikan konten untuk bahan lelucon. Kenapa yang begini terus lahir? Karena tak ada satu pun media yang memberikan informasi yang layak untuk menjadi bahan pertimbangan. Bahkan saat menulis ini pun, mungkin saya bisa salah tafsir dengan apa yang beredar di medsos. Sebab tak ada satu pun kabar yang valid tentang kasus ini.


Saya ingin mengulangi kalimat ini, "Orang tua dan guru pernah menjadi anak-anak. Tapi anak-anak tidak pernah menjadi orang tua dan guru." Maka yang menjadi prioritas perhatian adalah siswi itu. Ia adalah korban dan anak di bawah umur. Tolong jangan menghakimi dia.