Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 26 November 2016
Seandainya Sigi Ngomong Gini...
Papa, sekarang Sigi sudah TK lho. Di TK Al-Quran. Kata Mama, sekolah itu mahal. Tapi kualitasnya bagus.
Sigi lantas bertanya, "Kualitas itu apa?"
Mama menjawab, "Kualitas itu mutu. Biar lebih sederhana, kata Mama, 'itu TK terbaik, yang bagus, nyaman, yang terbaik pokoknya'."
Suatu hari, Sigi bermain dengan Amel. Dia anak yang rumahnya hanya berdekatan dengan rumah Sigi. Amel juga sedang sekolah. Dia di TK tapi yang hanya jalan kaki. Sementara Sigi harus naik bentor atau diantar dengan motor oleh Mama.
Sigi baru tahu beberapa hari kemudian, ternyata Amel di TK yang jaraknya cuma dekat dengan rumah Sigi. Makanya dia suka jalan kaki.
Sigi lalu bertanya lagi kepada Mama, "Kenapa Sigi tidak sekolah di tempatnya Amel?"
"Sigi kan di TK Al-Quran, biar cepat tahu membaca Al-Quran." kata Mama.
Sewaktu Sigi pulang dari TK, Sigi melihat Amel berjalan dengan teman-temannya menuju rumahnya. Teman-teman Amel, teman-teman Sigi juga. Ada Bonbon, Siti, Ayu, Lesi, dan Jiko. Mereka terlihat senang sekali pulang sekolah bersama-sama sambil jalan kaki.
"Ma, Sigi mau jalan kaki ke sekolah seperti Amel dan teman-teman lainnya."
"Kan sekolahnya Sigi di kota, bukan di desa."
"Tapi Sigi kalau pulang sekolah, dijemput pakai bentor atau motor. Tidak jalan kaki seperti Amel."
"Jauh jaraknya dari kota ke desa, Sigi. Lagipula harus hati-hati biar tidak ditabrak motor, bentor, atau mobil."
"Tapi, sekolah Amel kan dekat. Mereka juga jalannya ikut halaman belakang sekolah."
"Nanti saja kalau Sigi sudah lanjut ke SD. Kan, SD-nya dekat dari rumah."
Nah, suatu hari lagi, Pa, Amel mengajak Sigi bermain. Sewaktu sedang bermain, Amel suka melantunkan doa makan. Dia lancar mengucapkannya.
Sigi lalu bertanya, "Mel, kok bisa membaca doa?"
"Iyalah, kan diajarkan guru di TK."
"Kata Mama, cuma di sekolahnya Sigi di TK Al-Quran yang bisa cepat membaca Al-Quran."
"Di TK kami juga diajarkan, Sigi."
"Waduh, Mama bohong berarti."
Setelah bermain dengan Amel, Sigi segera menemui Mama. Tahu tidak, Pa, Sigi masih saja dibohongin Mama.
"Iya, tapi di TK-nya Amel, tidak selengkap TK-nya Sigi."
"Buktinya, Amel juga bisa doa-doa lainnya. Sama seperti doa-doa yang Sigi hafal lho, Ma."
Mama kemudian terdiam lama, Pa. Sebenarnya Sigi suka gerah ketika harus ke sekolah kemudian memakai penutup kepala.
"Apa itu harus, Pa?"
"Pakai jilbab?"
"Iya."
"Tidak haruslah, apalagi buat anak-anak tidak wajib."
"Iya, Sigi lihat Amel dan teman-teman lain juga ke TK tidak pakai gituan. Tapi mereka lancar membaca doa-doa."
"Iya, tapi di sekolah Sigi kan aturannya begitu. Jadi ikut dulu aturannya."
Seminggu kemudian, Sigi baru berani bilang sama Mama, kalau Sigi gerah memakai penutup kepala. Tahu apa reaksinya, Pa?
"Kalau begitu, tidak usah sekolah. Mau dibikin bagus, tidak mau."
Begitu jawaban Mama, Pa. Mama marah-marah sambil benerin jilbabnya. Oh ya, Pa, Mama sekarang sudah pakai jilbab.
"Iya, Papa tahu. Itu pilihan Mama. Jika Sigi besar nanti, Sigi juga berhak memilih. Tentu saja tidak boleh dipaksakan."
"Pa, Sigi boleh nanya sama Papa?"
"Nanya apaan?"
"Kok, Papa sama Mama tidak tinggal serumah seperti Kakek dan Nenek?"
"Hmm... Tunggu ya, Papa mikir dulu apa jawaban sederhananya."
"Jangan lama-lama, Pa."
"Iya, tidak lama... Hmm..."
Setelah beberapa menit kemudian...
"Begini, Papa dan Mama sudah bercerai. Cerai itu, kalau misalnya Papa sama Mama sudah tidak sejalan lagi."
"Sejalan?"
"Iya, maksudnya Papa punya pilihan jalan lain. Begitu juga Mama."
"Terus Sigi harus milih jalan mana?"
"Ya, Sigi tidak harus memilih jalan mana. Papa ada untuk Sigi. Begitu juga Mama ada untuk Sigi."
"Kalau Sigi butuh Papa dan Mama?"
"Kan, bisa sewaktu-waktu Papa dan Mama sama-sama dengan Sigi."
"Tapi tidak sering."
"Iya, Sigi... Cerai itu karena agama juga sudah melarang Papa dan Mama sama-sama serumah."
"Kenapa agama melarang?"
"Ya, karena sudah begitu aturannya. Nanti Sigi dari TK terus lanjut sekolah, maka Sigi akan paham soal itu."
"Padahal sekolah Sigi, kata Mama sekolah agama. Tapi Sigi belum dapat pelajaran itu selain membaca, menulis, menggambar, dan baca Al-Quran."
"Iya, karena Sigi belum cukup umur. Nanti Sigi juga akan lebih banyak belajar soal agama. Semua agama. Di TK hanya sebagai dasarnya saja."
"Papa agamanya sama kan dengan Mama?"
"Iya, papa juga punya agama yang sama dengan Mama. Nanti kalau besar, Sigi juga berhak memilih agama apa yang Sigi mau."
"Kata guru di sekolah, tidak boleh ikutan agama lain. Harus tetap dengan agama Islam."
"Itu kata guru. Kalau kata Papa, nanti Sigi berhak memilih mana yang baik untuk Sigi."
"Agama yang baik itu apa sih, Pa?"
"Semua agama baik. Karena semua mengajarkan kebaikan."
"Kalau Sigi memilih semua agama itu?"
"Memahaminya saja. Tidak harus memilih semuanya."
"Memahami itu seperti apa?"
"Sigi mengerti. Sigi tahu apa yang baik dari semua agama. Kemudian Sigi yang menentukan. Seperti Sigi hendak memilih pensil berwarna, yang sesuai dengan yang Sigi mau pakai untuk mewarnai gambar Sigi."
"Sigi suka warna merah."
"Semua warna itu indah. Mau merah, biru, hitam, putih, kuning, dan lain sebagainya. Biar mereka berbeda-beda, mereka tetap disebut warna, kan?"
*Kemudian Sigi dijemput kakeknya*
Rabu, 16 November 2016
Gladys di Kota(razia)mobagu (10)
"Jika kau tidak sungguh-sungguh pada jalan itu. Kau akan luput membacai tanda-tanda." (Baca sebelumnya: Bagian 9)
Perkataan Lina lumayan menciptakan celah di jemari
Gladys. Gundah yang sedari tadi di genggamannya, perlahan-lahan bercereran dari
sela-sela jemarinya.
"Dys. Niatmu untuk menjadi jurnalis itu mulia.
Bukan karena ingin uang. Apalagi profesi itu harus memiliki hati." Lina
kali ini tiba-tiba menjadi begitu bijaksana.
"Iya, Lin. Menjadi jurnalis tidak akan kaya
harta. Tapi kaya ilmu. Lumayan, untuk kasih pesan yang benar ke anak-cucu kita
nanti."
"Jadi, aku yang tidak bercita-cita jadi jurnalis,
bakal kasih pesan yang salah ke anak-cucuku?"
"Aduh, kau ini mau jadi apa pun, pasti
pesan-pesanmu ke anak-cucu yang tidak benar semua."
"Gila!" Kali ini guling mendarat tepat di
wajah si empunya.
***
“Jadi, ada mantan wali kota yang terlibat?” tanyaku
kepada Yudi. Dia seorang jaksa di Kejaksaan Negeri Kotamobagu.
“Iya. Aku sengaja membocorkan ini kepadamu. Hanya
kau yang bisa kupercaya,” kata Yudi.
Sebundel dokumen ia serahkan. Di dalamnya, berisi
data keterlibatan beberapa pejabat, juga upaya penghilangan bukti dari pihak
Kejaksaan. Termasuk data keterlibatan mantan wali kota di Kotamobagu. Meski
mantan wali kota itu sudah berakhir masa jabatannya, tapi di tahun ini, kasus
korupsi itu terkuak dan satu per satu menyeret tersangka ke dalam jeruji. Salah
satunya pamannya Indra, anggota dewan di DPRD Kotamobagu.
“Terima kasih, Yud. Kau sudah banyak membantu sejauh
ini.”
Setelah beberapa jam mengobrol dengan Yudi, di salah
satu jembatan yang terbilang cukup sepi itu, aku pamitan. Yudi pun bergegas
pergi mengendarai mobilnya.
Tiba di kamar, aku segera membuka isi ransel. Laptop
kukeluarkan, menyusul sebuah map berisi dokumen.
Aku duduk sejenak. Kemudian menghubungi Deni.
"Den, kau di mana?"
"Baru mau ke kedai kopi, bikin berita. Kau?"
"Aku baru sampai di kos. Aku punya data baru
soal kasus pamannya Indra. Tapi sebaiknya kita ke rumahku saja."
"Oke. Kau bisa duluan. Aku segera
menyusul."
Usai menelepon Deni, aku tiba-tiba ingat Gladys.
Terlalu sibuk dengan semua urusan ini, membuat kami seakan berjarak. Padahal
hubungan kami baru saja sedang merangkak.
"Hei, di mana?" Aku putuskan menghubungi
Gladys.
"Sigid. Senang mendengar suaramu. Aku lagi
jalan dengan Lina. Kau?"
"Maaf, Dys. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk.
Aku sedang bersama Deni. Rencana mau ke rumahku di Desa Passi. Ada urusan yang
harus diselesaikan."
"Iya, aku mengerti. Pasti berat untuk
persahabatan kalian." Gladys ternyata mengikuti setiap pemberitaan terkait
kasus pamannya Indra. Juga mengenai perkelahian Umar dan Indra dari pemberitaan beberapa media
online lokal.
“Iya, Dys. Terima kasih atas pengertiannya.”
“Kau sudah menghubungi aku, itu sudah lebih dari
cukup. Hati-hati di jalan, ya. Kapan-kapan ajak aku ke desamu."
"Iya, pasti."
Aku kembali memasukkan laptop dan dokumen ke dalam
ransel. Lampu sengaja kunyalakan, sebab hari sudah sore menjelang malam. Setelah mengunci
pintu, aku menghidupkan sepeda motor.
Desa Passi, hanya sepuluh menit perjalanan dari kos.
Meski jarak dari desaku ini menuju Kota Kotamobagu tak begitu jauh, tapi aku
memilih menyewa kamar kos di kota. Aku terlalu sering pulang malam, dan udara
dingin sepanjang perjalanan menuju rumah, bisa berakibat buruk bagi kesehatan. Bakal tipis dada ini diparut dingin.
Jalan menuju desaku menanjak sebab berada di puncak.
Udaranya dingin. Aku sengaja memilih di desa, sebab dokumen yang aku dapatkan
kali ini cukup rahasia. Setidaknya cemas bisa berkurang, ketika membahasnya
bersama Deni di rumah, ketimbang di kamar kos.
Sudah hampir sebulan, aku tidak berkunjung ke rumah.
Ayah dan ibu pasti bakal mengajakku berbincang lama. Aku lantas memilih menuju
rumah kakak. Dia kakakku satu-satunya. Sebelumnya aku sempat menghubunginya.
Rumahnya tengah kosong, sebab mereka sekeluarga berkunjung ke rumah mertuanya.
Aku mengantongi kunci duplikat rumah kakakku. Sudah sejak SMA.
Aku coba kembali menghubungi Deni. Tak diangkat.
Mungkin ia tengah di perjalanan. Aku segera masuk ke dalam rumah kakakku. Baru
saja mau menutup pintu, sebuah sepeda motor terlihat masuk ke halaman rumah. Itu motor
Deni. Ia memang tahu letak rumah kakakku. Kami dulu sering ke sini, merampah
bebek. Umar dan Deni yang kerap jadi koki. Sementara aku dan Indra hanya bisa menyalakan
api dan menghabiskan makanan.
“Den, dokumen yang aku dapatkan ini cukup penting,”
bisikku di depan pintu.
“Soal kasus pamannya Indra?”
“Iya. Tapi ternyata kasusnya sampai merembet kepada
para pejabat tinggi.”
“Wah!”
“Dan kau tahu, yang terlibat adalah mantan wali kota!”
Deni ternganga. Ia segera merebut dokumen itu.
Membaca dengan saksama. Matanya membelalak sebab mantan wali kota itu cukup ia
kenal. Salah satu putri wali kota itu pernah berpacaran dengan Deni.
(Bersambung)
Sabtu, 22 Oktober 2016
Gladys di Kota(razia)mobagu (9)
Tujuannya hanya agar oplah naik dan berita
dikunjungi ribuan pembaca di media online. (Baca sebelumnya: Bagian 8)
Kekurangan informasi kepada masyarakat memang sangat
terasa, baik itu di perkotaan ataupun pedesaan. Kasus tentang Perlindungan
Anak malah menjadi momok tersendiri di berbagai desa pelosok. Kebanyakan
perkara menjerat remaja-remaja tanggung, yang bahkan ketika ditanyai kenapa
melakukan itu, sering kali dijawab dengan polos, bahwa mereka saling suka.
Hanya itu. Saling suka. Tapi hukum tidak mengenal kata suka sama suka. Apalagi
cinta.
Dalam Undang-undang Perlindungan Anak, ada beberapa
pasal yang memang mengatur perkara tindak pidana seperti pedofilia, pemerkosaan
anak di bawah umur, pelecehan seksual, dan kekerasan terhadap anak-anak. Dan
Amir dijerat dengan dalil pemerkosaan. Bahkan keterangan pacarnya semakin
memberatkan Amir, bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah paksaan.
“Aku heran, kenapa pacarku tega mengatakan itu. Jika
itu paksaan orangtua, sungguh tega sekali ada orangtua yang mengajarkan anak
mereka untuk berbohong,” kata Amir, sambil mengetuk-ketuk pelan tembok sel
dengan punggungnya.
Selanjutnya Amir bercerita mengenai sejumlah uang yang
diminta kedua orangtua pacarnya. Orangtua Amir yang hanya petani, tak sanggup
memenuhi permintaan itu. 60 juta… Gila! Amir yang hanya pengemudi becak motor
setelah sekolahnya kandas di kelas 2 SMA, sampai membayangkan meski kedua betis
dan lengannya meledak, dia tetap tidak sanggup menghasilkan uang sebanyak itu
dalam waktu singkat.
Bercerita dengan Amir, semakin membuat beban di
pundak Umar terasa ringan. Dia seperti mendapat perbandingan, bahwa apa yang
tengah dihadapinya, ternyata belum seberapa.
“Aku dan teman-temanku akan coba membantumu,” kata
Umar, sambil menepuk pundak Amir. Meski Umar tahu, hukuman selama apa yang akan
dihadapi Amir nanti. Namun dia hendak menyampaikan maksud, bahwa teman barunya
itu sedang tak sendiri.
Sepanjang hari mereka bercerita, sedangkan di sudut
ruang sel, Indra masih bergeming. Cahaya matahari dari jendela kecil pun telah
berganti temaram lampu.
Lalu seisi sel tiba-tiba diriuhkan oleh tiga tahanan
baru. Tiga pemuda itu setelah ditanyai oleh beberapa tahanan lain, ternyata
mereka baru saja dirazia akibat pesta minuman keras dan mabuk obat batuk di
kamar kos. Tradisi ketika ada penghuni baru pun diberlakukan. Sama seperti yang
Umar dan Indra alami saat pertama kali tiba. Memijat tahanan lain. Itu yang
paling ringan. Sedangkan yang terberat, merasakan kepal tinju para penghuni
tahanan.
***
Di kamar kos, Gladys berbaring di atas ubin yang
dilapisi karpet biru. Tampak dia pelan-pelan meremas bibir bawahnya.
Pandangannya menempel ke langit-langit kamar. Seakan-akan langit-langit kamar
koyak dan dia sedang menuju ruang lain. Gladys sedang memikirkan Sigid. Dan
ciuman itu.
"Dys! Menghayal lagi?"
Langit-langit kamar seakan runtuh.
Gelembung-gelembung pikiran Gladys meletus satu per satu.
Gladys mengumpati Lina yang telah membuatnya kaget.
"Sialan!"
"Ha-ha-ha... Eh, akhir-akhir ini sepertinya
wajahmu sumringah terus," goda Lina.
"Sedang jatuh cinta?" susul Lina lagi.
"Diam, ah!"
"Ayo, jatuh cinta sama Mr. Journalist?"
"Oh, my god!" Gladys melempari Lina dengan
guling.
"Lin, kau pernah merasa menginginkan sesuatu
karena dipengaruhi sesuatu lainnya?"
"Maksudmu?"
"Begini... Aku ingin jadi jurnalis. Dan
keinginan itu muncul sejak aku merasa dekat dengan Sigid. Sampai akhirnya
aku... Akuu... Suka kepadanya."
"Lalu, masalahnya apa?"
"Sigid pernah bilang. Jika kita menyenangi
sesuatu karena sesuatu, maka ketika sesuatu itu hilang, apa yang kita senangi
akan ikut hilang juga." Gladys coba mengingat apa yang dikatakan Sigid
semampunya.
"Kalian sudah jadian?" Wajah Lina tampak
heran namun bahagia.
"Aduh! Jangan dipotong dulu!"
"Oke. Oke. Hmm... Menurut aku benar yang
dikatakan Sigid. Tapi bagaimana jika itu dibalik. Kau suka Sigid karena dia
jurnalis. Dan ketika dia tidak lagi menjadi jurnalis, kau tidak harus
kehilangannya, bukan?"
"Tumben, logikamu licin kali ini. Tapi,
bagaimana jika hal yang pertama itu benar-benar terjadi."
"Maksudmu, ketika kau putus dengan Sigid,
cita-citamu menjadi jurnalis juga ikut pupus?"
"Iya, Lin."
"Jika kau tidak sungguh-sungguh pada jalan itu.
Kau akan luput membacai tanda-tanda."
(Bersambung)
Kamis, 06 Oktober 2016
Gladys di Kota(razia)mobagu (8)
... Kami berempat baru akrab setelah kelas tiga SMP. (Baca sebelumnya: Bagian 7)
Meski berbeda sekolah, kami merasa memiliki
kecocokan satu dengan lainnya, setelah pertemuan di salah satu warung internet.
Kami adalah tim yang hebat, ketika game counter
strike sedang menggumpal di nadi para remaja. Kemudian saat SMA, kami
memilih satu sekolah. Persahabatan kami semakin erat.
"Den, kita pernah bertengkar persoalan uang
sewaktu SMA. Ketika kita menang taruhan counter strike."
"Kita semua tidak akan melupakan kejadian
itu."
Umar memakai uang taruhan untuk membayar iuran
sekolahnya. Uang yang diberikan ibunya, dipakainya untuk membeli ganja dari
seorang mahasiswa. Umar memilin sendiri ganja kering yang dibelinya. Delapan
linting, kami mabuk dengan sangat biadab kala itu. Kami menghabiskan kebiadaban-kebiadaban
di pantai.
Ketika kami menanyai Umar soal uang taruhan, dia
tidak menjelaskan dengan jujur. Dia mengaku uang itu hilang. Kami menghindarinya
untuk waktu yang lama. Sampai suatu hari kami akhirnya tahu. Uang itu
dipakainya untuk membayar iuran sekolah, yang digunakannya menebus sebuah
kebiadaban yang terlampau indah, untuk remaja seumuran kami.
"Dan sejak saat itu, kita sepakat membenci
masalah yang disebabkan oleh uang," ujar Deni.
"Juga membenci ketidakjujuran." Aku seketika
beranjak dari kasur. "Den! Media ini tidak boleh dibiarkan mati! Aku mandi
dulu."
***
Bau pesing menebal di dalam ruangan berukuran 7 x 7
meter. Ada belasan orang yang sekarang mendekam di dalam sel. Mereka saling
berhimpitan dengan raut wajah yang sama. Kosong.
Umar tampak bersandar di salah satu sudut sel. Tepat
di atasnya, jendela kecil berjeruji membagi sinarnya dari luar. Dia menatap
garis-garis cahaya itu, sembari membayangkan tubuhnya mengecil dan meniti di
atasnya. Dia ingin segera pergi dan berlari ke alam bebas. Duduk di kedai kopi,
membaca buku, atau menendang kaleng bir kosong di jalanan.
Tak jauh dari posisi Umar, Indra tengah berbaring di
atas kardus. Sedari tadi kedua lipatan tangannya menjadi bantal. Matanya
tertutup. Meski sudah beberapa jam bersama dalam satu sel, mereka berdua belum
terlibat pembicaraan. Untuk masalah yang masih memanas, mulut bisa berkata
begitu banyak, atau malah menjadi lebih irit.
Seorang tahanan, tiba-tiba menegur Umar. “Hei, kau perkara
apa?”
“Menurutmu?” Umar
balik bertanya, setelah sadar yang menegurnya adalah seorang remaja.
“Semoga tidak lebih berat dariku. Ancamannya 15
tahun hukuman penjara.” cerita remaja itu.
Penasaran dengan usia remaja itu, Umar bertanya,
“Usiamu berapa?”
“19 tahun,” jawabnya.
“Kau kasus pembunuhan?” Umar coba menebak.
“Bukan. Aku dianggap memerkosa pacar. Aneh, kan?
Pacar, diperkosa.”
Tahanan yang belakangan dikenali bernama Amir itu
seperti mendapat teman untuk mencurahkan isi hatinya. Pacarnya yang masih kelas
1 SMA, hamil. Dia mengaku sangat mencintai pacarnya itu, lalu dengan
seyakin-yakinnya mengakui perbuatannya dan bersedia menikah. Namun sayangnya,
kedua orang tua pacarnya tidak suka dengan Amir. Dia akhirnya dilaporkan ke
polisi sampai nasibnya kini berada sekurung badan dengan Umar.
“Apakah cinta mengenal usia?”
Pertanyaan polos namun begitu dalam dari Amir, pelan
dan seperti menembus tembok sel. Pertanyaan yang mewakili mereka-mereka yang
pernah mengalami perkara yang sama. Meski untuk perkara yang termasuk dalam
Undang-undang Perlindungan Anak itu, tidak melulu menjerat pasangan yang sedang
dimabuk cinta, semacam Amir.
“Tidak ada yang salah dengan cinta kalian. Hanya
saja, cinta kalian terlalu membara untuk pacarmu yang masih belia.”
“Tapi aku bersedia bertanggung-jawab!”
“Hmm… Itulah kenapa aku kurang sepakat ketika
hukuman itu bertujuan untuk membuat efek jera. Hukum dibuat seharusnya untuk
mendidik masyarakat agar menjadi awas.”
“Maksudmu, aku kurang belajar tentang risiko yang
akan aku hadapi?”
“Lebih tepatnya, negara kurang mendidik orang-orang
sepertimu soal itu.”
Umar bercerita, sempat beberapa kali dia meliput
persidangan, sewaktu masih menjadi wartawan magang di sebuah media cetak.
Pengacara, jaksa, dan hakim kerap kali mengeluarkan pernyataan, bahwa semakin berat
tindak pidana maka semakin tinggi hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku
kejahatan. Dan itu agar ada efek jera terhadap masyarakat.
“Kalian masih terlalu muda. Bahkan untuk sekadar
menyadari apa yang kalian perbuat itu sangat berisiko, kalian belum bisa.”
Umar lanjut menceramahi Amir, bahwa sosialisasi
mengenai hukum sangat minim di negara
ini. Media pun terlalu sedikit memberi porsi perihal perluasan informasi
terkait aturan hukum. Tanda awas bagi media, ketika perkara telah ada, pelaku
diseret, dan kemudian dijatuhi hukuman. Lalu berita ditebar. Mereka merasa
telah mewanti-wanti masyarakat lewat judul yang dibesar-besarkan. Benar bahwa
media tak sedikit pun membantu masyarakat. Mereka gagap dan ingin mengumbar apa
saja yang sedang hangat. Tujuannya hanya agar oplah naik atau berita
dikunjungi ribuan pembaca di media online.
(Bersambung)
Senin, 23 Mei 2016
Gladys di Kota(razia)mobagu (7)
... Wajahnya semakin mendekat. (Baca sebelumnya: Bagian 6) Sekejap, aku dan dia telah menjadi sebatang rokok dan korek api yang menyatu. Terbakar.
Deru motor terdengar berhenti di depan kamar kos. Pintu diketuk. Bara di dada kami segera padam. Gladys lekas menyeka bibirnya.
"Siapa? Bukan razia, kan?" bisik Gladys kepadaku.
"Aku baru ingat. Deni. Tadi dia katanya mau ke sini. Lagian, sepagi ini mana ada razia?" saya coba menenangkannya.
"Gid, kau di dalam?" suara panggilan itu cukup akrab.
"Iya, itu Deni. Saya juga tahu perasaanmu. Tidak apa-apa, Deni teman baikku." Aku coba menghibur Gladys, yang sepertinya tidak enakan jika aku dan dia dipergoki sedang bersama di dalam kamar.
Aku beranjak menuju pintu yang sebenarnya tidak dikunci. Pintu kamar menutup begitu saja tertiup angin, ketika aku dan Gladys tengah asyik mengobrol. Sepertinya hembus angin sengaja memberi kesempatan. Sedangkan letak jendela meski terbuka lebar, orang harus menyeret kursi untuk tempat berpijak, jika niatnya mengintip ke dalam kamar.
"Den, maaf kelamaan. Tadi aku di dapur lagi bikin kopi. Ayo, masuk! Kau seperti orang asing saja," ajakku.
Deni terkejut ketika tahu, ada perempuan yang tengah bersama saya. "Maaf, aku menganggu ya? Nanti aku kemari lagi." Dia tiba-tiba ingin pamit.
"Eh! Tidak apa-apa, Den. Malah sikapmu, membuat kami lebih tidak nyaman." Meski di dalam hatiku, kedatangan Deni kali ini, seperti serombongan pemadam kebakaran.
"Kenalkan, ini pacarku, Gladys," kataku. Raut wajah Gladys terlihat berubah mendengar ucapanku. Seperti ada yang meloncat-loncat di dalam matanya.
Usai bertukar nama, Deni bergabung selonjor di lantai. Di wajahnya ada berdiam sebuah kecemasan. Dia tampak kaku pula duduk berhadap-hadapan dengan Gladys. Aku coba mencairkan suasana yang kaku dengan menawari Deni secangkir kopi.
"Kebetulan, masih ada sisa kopi. Aku ambilkan dulu. Kau pasti akan bersujud membelakangi kiblat, ketika merasakan racikan kopi Kotamobaguku." Aku segera membikinkannya kopi. Tawa Deni terdengar menyusulku sampai ke dapur.
"Masih kuliah?" tanya Deni kepada Gladys.
"Iya. Mudah-mudahan tahun depan selesai."
"Wah, baguslah. Aku turut mendoakan."
Dari dapur mini yang hanya berjarak lima meter dari posisi Deni dan Gladys, aku bisa mencuri dengar percakapan mereka. Deni memang selalu tahu cara melonggarkan kerah.
"Kopinya siap. Secangkir, ditukar dengan lima kaleng bir sama seamplop uang," candaku.
"Taeek! Barista mata amplopan! Aku kira cuma wartawan yang mata amplopan!" Tawa seketika mengisi seisi kamar.
"Den, tadi kau menelepon sepertinya penting sekali. Ada apa?" tanyaku yang sedari tadi masih penasaran.
Deni melirik cepat ke arah Gladys. Seakan pertanda bahwa dia kurang yakin mengutarakan hal itu di depan Gladys.
"Aku mau bertemu Lina dulu," kata Gladys. Lirikan mata Deni meski secepat peluru berlalu, tampaknya berhasil ditangkap Gladys.
"Tidak apa-apa kok. Aku dan Deni percaya kau." aku berusaha membujuknya.
Gladys beranjak. Dia menunduk sebentar. Cangkir kopi yang masih berisi diraihnya. Lalu diseruputnya menyisa lumpur kopi di dasar cangkir.
"Idih... Lagian ini juga urusan kalian. Eh, kopimu enak," kata Gladys. Lalu dia pamit seiring senyum dengan ukiran lesung pipit.
Melihat senyuman Gladys dan lesung pipit di kedua pipinya. Rasanya aku ingin menceburkan diri di kedua lesung pipit itu. Setelah puas terbakar dengan, ah, sialan. Jadi kesal aku mengingat kejadian tadi. Deni memang brengsek.
"Melamun saja seperti belum gajian!" Tepukan Deni di kaki mengagetkanku.
"Pobure!" saya mengumpati Deni dengan bahasa daerah. Dan Deni membalasnya dengan umpatan berbahasa daerah pula, yang artinya terlampau kasar. Kami saling bertukar lempar dengan umpatan.
"Den, ada apa sih?"
"Masih soal Indra."
"Kenapa dia?"
"Indra semalam mendatangi Umar di kedai kopi. Setelah kita pulang."
"Lalu?"
"Dia meninju Umar."
"Apa? Dasar bajingan! Lalu Umar membalas?"
"Mereka terlibat perkelahian. Indra babak belur. Lalu Umar dilapor orangtua Indra ke Polres." Wajah Deni terlihat sedih. Dari sorot matanya, menyiratkan bahwa Umar saat ini sedang dalam masalah besar.
"Kenapa Umar tidak melapor lebih dulu? Atau jika memang Indra yang duluan melapor, pasti ada saksi yang melihat Umar ditonjok duluan," kataku geram.
"Umar melapor balik. Dan usai melapor, dia dijebloskan ke dalam sel."
"Kejadiannya semalam? Kenapa kau baru mengabari sekarang?"
"Gid, mereka saling lapor tadi pagi. Ponsel Umar juga hilang saat perkelahian terjadi. Itulah kenapa dia tidak menghubungi kita."
"Lalu siapa yang mengabarimu?"
"Istrinya."
"Sialan! Indra tega melakukan itu, padahal dia tahu, Umar itu ada anak-istri untuk dinafkahi." Aku bergegas mengganti pakaian. "Ayo! Kita ke Polres!"
"Aku agak lama tadi ke sini, karena aku masih mampir di Polres. Umar titip pesan, urusi dulu media kita. Katanya, dia bisa mengurusi dirinya sendiri." Deni coba menenangkanku.
"Terus kau tega membiarkan Umar melewati ini semua sendirian? Den, aku juga harus bicara dengan Indra sekarang!"
"Indra juga satu jeruji dengan Umar," jelas Deni. "Biarkan Umar mengatasi ini. Aku yakin dia bisa."
Tubuhku seketika membenam di kasur. Aku tidak habis pikir, pertemanan kami akan seperti ini. Umar dan Indra adalah teman sekelas sejak SD. Sedangkan aku dan Deni, setahun lebih adik dari mereka berdua. Kami berempat baru akrab setelah kelas tiga SMP.
(Bersambung)
Jumat, 22 April 2016
Gladys di Kota(razia)mobagu (6)
... "Apa?" (Baca sebelumnya: Bagian 5)
"Sigid."
Jeritan Lina mengagetkan seisi mikrolet. Cubitan Gladys tepat mendarat di pipi tembemnya. Kemudian, mikrolet itu disesaki nama Sigid. Sepanjang perjalanan.
***
Pertama kali memberitakan soal kasus korupsi yang, ternyata melibatkan beberapa pejabat penting di Kotamobagu, termasuk pamannya Indra. Media online kami dibanjiri ribuan pembaca. Sedangkan pertemanan di antara kami dan Indra, kini semakin kemarau. Retakan pertama, Indra menghapus aku, Umar, dan Deni dari pertemanan di semua media sosial.
Umar juga telah meniadakan nama paman Indra dari daftar donatur. Atau lebih tepat, nama samaran pamannya. Mereka memang terkecoh, sebab Indra berbohong bahwa donatur itu adalah kerabatnya di Bali. Jika saja Indra jujur bahwa pamannya yang menjadi donatur selama ini, sebenarnya tidak ada alasan untuk menolak. Hanya saja, jabatan pamannya itu memang cukup rentan. Apalagi beberapa orang teman pamannya, pernah terjerat kasus korupsi. Umar sendiri pernah mengutarakan kecurigaannya kepadaku. Bahwa paman Indra berada dalam lingkaran itu. Pada akhirnya, lingkaran itu mencipta liang yang cukup besar pada persahabatan kami.
Lamunanku buyar karena ponsel yang bergetar. Deni menelepon.
"Di mana?" tanya Deni.
"Kos. Kenapa?"
"Aku ke situ!" Deni menyudahi panggilan.
Aku penasaran, sebab belum mendapati penjelasan apa maksud Deni. Aku menyalakan laptop. Nyala layar membuat mataku memicing. Sedari pagi, tirai jendela kubiarkan tertutup. Dan ini sudah pukul 11 siang.
Hanya sela beberapa menit, pintu digedor. Aku bergegas membuka pintu.
"Gladys!" aku salah menduga.
"Maaf, aku terlalu keras mengetuk pintu," kata Gladys disusul senyuman.
"Tidak apa-apa. Kapan kembali?"
"Baru dua jam yang lalu."
"Masuk. Maaf berantakan."
Aku segera menyibak tirai lalu membuka jendela. Buku-buku yang berserakan di atas kasur kurapikan. Gladys mengelilingi seisi kamar dengan pandangan. Dia tampak memindai poster-poster yang menempel tak beraturan di tiga sisi dinding. Ada enam poster yang terbagi di tiap sisi dinding berbeda. Dicetak besar seukuran kulkas dua pintu.
Poster hitam-putih penyair Chairil Anwar, tepat berada di atas TV dengan posisi miring. Di sekelilingnya lembaran kertas buku menempel, juga tak beraturan. Gladys mendekat. Bait-bait puisi tampak tertera di tiap lembaran. Dengan tulisan tangan.
"Ini puisi-puisimu?" tanya Gladys.
"Ah, cuma coretan-coretan. Sebagian puisi-puisi Chairil."
Aku kembali sibuk merapikan kamar. Empat kaleng bir di lantai, segera meluncur ke keranjang sampah. Tentu saja, kaleng-kaleng itu kosong. Siapa yang tega menyisakan bir, yang bahkan buihnya mampu mendidihkan imajinasi.
Pandangan Gladys kembali merangkaki dinding. Poster kedua dicetak berwarna. Senyuman Mohammad Hatta mengukir di wajah teduhnya. Lembaran kertas di sekeliling poster, berisi kutipan-kutipan. Masih dengan tulisan tangan. Poster ketiga, karikatur hitam-putih Gus Dur. Tawa yang khas. Lembaran kertas yang sama berisi kutipan-kutipan mengelilingnya.
"Mau minum apa?" tanyaku.
"Ada bir?"
"Bir dingin?"
"Ah, aku bercanda. Ini masih terlalu siang untuk sekaleng bir. Kopi saja," kata Gladys.
"Barista beraksi! Aku menjerang air dulu." Aku berlari secepat Naruto dengan membungkuk dan kedua lengan lurus ke belakang, menuju dapur mini.
Yang tampak di depan Gladys kali ini, poster Munir. Posisinya tepat di atas poster Gus Dur, di satu sisi dinding yang sama. Warnanya didominasi merah. Di sisi dinding yang ketiga, senyum Joker memanjang hingga ke cuping telinga. Sedangkan poster terakhir, tampak Pramoedya Ananta Toer duduk menyamping. Jemarinya menari di atas mesin ketik antik.
"Dan alangkah indah kehidupan tanpa merangkak-rangkak..."
"... Di hadapan orang lain." Aku melanjutkan ucapan Gladys, yang tengah membaca kutipan dari Pramoedya Ananta Toer.
"Bagiku, kutipan itu sarat makna bagi seorang jurnalis. Oh, ya, ini kopinya." Aku menyodorkan secangkir kopi yang di atasnya masih berarak-arak sekumpulan awan.
"Kita melantai saja," ajakku.
Gladys segera menyambut cangkir kemudian selonjoran di lantai. Dia lantas mengejar perkataanku. "Kalimat itu, untuk seorang jurnalis hubungannya apa?"
"Aku pernah bercerita kepadamu, soal media yang sudah aku tinggalkan."
"Iya. Aku ingat,” kata Gladys. Dia lalu menyeruput kopi.
"Aku ingin bertanya sekali lagi. Sebenarnya alasanmu ingin menjadi seorang jurnalis itu apa? Alasan terbesarmu."
Terdengar hela napas Gladys. Dia hanya diam memelototi cangkir kopi.
Melihat Gladys hanya diam, aku melanjutkan, “Gladys, jika alasanmu balas dendam, maka yang ada dalam pikiranmu hanyalah kebencian.”
“Apakah, ketika aku ingin menjadi jurnalis, itu terlalu sulit bagimu?”
“Bukan begitu. Sebenarnya menjadi seorang jurnalis itu sederhana. Miliki nurani. Itu saja.”
Gladys memandangi aku begitu lama. Kedua bola matanya seakan meloncat masuk ke dalam mataku.
“Jika aku beralasan… Karena seseorang?”
“Maka ketika seseorang itu hilang, keinginanmu pun akan ikut pudar perlahan.”
“Dia tidak mungkin hilang. Aku baru saja menemukannya. Orang itu sekarang ada di depanku,” kata Gladys.
Kali ini, aku yang dibuatnya terdiam. Seperti ada bongkahan es yang tiba-tiba mengurut ulu hatiku.
Gladys lantas menggeser posisi duduknya. Kami seperti sebungkus rokok dan korek api. Begitu dekat. Pelan diraihnya kedua tanganku. Lalu dia menuntun dan melabuhkan tepat di pundaknya. Wajahnya semakin mendekat.
(Bersambung)
Kamis, 07 April 2016
Gladys di Kota(razia)mobagu (5)
... Tak seperti hati kami yang seketika mendung. (Baca sebelumnya: Bagian 4)
***
Sore mulai menguning. Tapi suasana desa masih begitu ramai. Rumah-rumah warga penganut Hindu bising oleh tawa. Beberapa Ogoh-ogoh telah berbentuk raksasa. Mereka tinggal mewarnai dan memberi atribut-atribut pelengkap.
Gladys dan Lina tampak sibuk membantu merapikan gelas-gelas dan piring-piring yang bertebaran.
"Ayo, kita pamit pulang," ajak ibu Gladys. "Ayahmu nanti menyusul."
Perempuan-perempuan selalu lebih dulu pulang. Tugas mereka akan berlanjut di rumah. Tepat di persimpangan jalan, Lina pamit kepada Gladys dan ibunya.
"Aku ke rumah dulu," kata Lina. Dia sudah seharian bersama Gladys dan belum mengabari orangtuanya.
"Sampaikan maaf kepada orangtuamu, Lin. Seharian aku memaksamu menjadi pengawal," kelakar Gladys itu, mengundang tinju pelan dari Lina.
Di perjalanan pulang, ibunya menemukan kegelisahan di mata Gladys. Ibunya coba menggali dengan basa-basi.
"Bagaimana kuliahmu?"
"Berharap cepat selesai."
"Selama ini, kau belum pernah menyatakan pilihan pekerjaan jika nanti tamat kuliah."
Kegelisahan Gladys, seperti terbaca dan diberi retakan oleh ibunya. Dari retakan itu, ibunya berharap kegelisahan Gladys bisa mengalir keluar. Perempuan memang lihai dalam soal kepekaan. Terlebih itu adalah anaknya sendiri.
"Aku ingin jadi wartawan," ucapannya begitu pelan namun tegas. Langkah ibunya tertahan.
"Alasanmu?" Dari sorot mata ibunya, Gladys menemu sorot yang sama di mata Lina, ketika mereka membicarakan soal keputusannya untuk menjadi wartawan.
"Aku suka menulis. Lagipula fakultas yang aku ambil tidak bakal menyulitkan nanti." Gladys coba meyakinkan ibunya.
"Kau kan, kuliahnya di fakultas hukum?" tanya ibunya.
"Wartawan dengan basis ilmu hukum, malah lebih paham dengan aturan-aturan," jawab Gladys.
"Ibu tidak mempermasalahkan pilihanmu. Tapi bagaimana caramu meyakinkan ayahmu?" Langkah ibunya kembali menjejaki jalan. Gladys mengikutinya.
"Ibu mungkin bisa membantu Gladys."
Ucapan Gladys, ditanggapi ibunya dengan diam. Selama perjalanan menuju rumah, hanya terdengar suara kerikil yang tergilas sendal. Ibunya memang berharap lebih dari sekadar menjadi seorang wartawan. Impian setiap orangtua pasti selalu yang terbaik untuk anaknya. Dengan berharap agar Gladys kelak bisa menjadi jaksa, pengacara, atau hakim. Gladys adalah putri satu-satunya. Dan untuk melanjutkan pendidikan, bukanlah suatu kesulitan bagi orangtuanya.
***
Berbotol-botol bir yang telah kosong menghuni kardus. Masih ada tiga botol yang tertutup rapat, dan satu botol setengah isi di atas meja. Sementara gelas penuh di genggaman Indra, buihnya meluncur di dinding gelas. Mata Indra merah. Ada amarah di sana.
"Jadi, kalian tetap ingin memuat beritanya?" suara Indra meninggi.
Rumah Deni kebetulan sepi. Orangtuanya sedang ke rumah kakaknya di luar kota. Rumah-rumah tetangga juga jaraknya berpuluh-puluh meter. Kediaman Deni memang serupa vila yang menyendiri.
"Indra, kami menemanimu minum, karena ingin membicarakan persoalan ini dengan lebih jujur," kata Umar coba menenangkan.
"Kalian tahu! Media kita ini... Pamanku juga donaturnya!"
Ucapan Indra kali ini membikin hening. Langit yang mulai gelap, mengubah deretan botol di atas meja menjadi siluet. Mereka masih terdiam dipayungi rindang dedaunan yang berdesir tertiup angin.
"Aku menyalakan lampu di rumah dulu. Hari mulai gelap," sela Deni.
Hanya sekejap, Deni kembali sambil membawa laptop. Aku memandangnya heran. Entah apa maksudnya membawa laptop kemari. Deni meletakkan laptop di atas meja lalu menyalakannya. Botol-botol bir tampak berkilauan disinari nyala layar. Sebatang modem dicolok. Seketika, tubuh www.koyow.com berdiri di sana. Tepat ke arah Indra.
"Indra. Ketika kita rembuk mendirikan media ini, satu hal yang pernah kita sepakati dulu masih berlaku. Untuk membenci pertengkaran karena uang," ucap Deni pelan.
"Dan kali ini... Meski masalah yang menjadi tengkar kita berbeda. Tapi ini juga soal uang." Deni semakin serius dengan perkataannya.
"Den, aku hanya coba..." Indra menyela.
Belum usai Indra dengan kalimatnya, Deni menyela, "Kenapa kau tidak jujur?"
"Aku hanya ingin agar media kita bisa menjadi besar. Kantor saja kita belum punya. Aku berharap uang dari donatur-donatur kita, bisa dipakai menyewa tempat untuk dijadikan kantor," jelas Indra.
"Aku menerima maksud baikmu. Tapi ketidakjujuranmu itu!"
"Den, berapa orang sih, yang mau mendanai media kita ini? Dan pamanku satu dari lima orang yang dengan sukarela melakukan itu!"
"Sebenarnya masalahnya sederhana. Kita hanya mencoret nama pamanmu dari daftar donatur. Itu saja," Umar tiba-tiba menyela.
"Lalu tetap memberitakan kasusnya?" ucapan Indra kembali meninggi.
"Kesepakatan kita membuat media ini, adalah memberitakan tanpa memandang siapapun. Tagline itu terpampang jelas!" Deni kali ini menunjuk sebaris slogan di layar laptop.
Saya yang sedari tadi diam, akhirnya memilih mencebur ke dalam arus yang semakin deras itu.
"Indra, kasus pamanmu itu adalah soal uang rakyat. Dan satu-satunya bos kita adalah warga. Jalan pesan yang independen," saya menukil slogan media kami di akhir kalimat. Slogan yang bermakna bahwa jurnalis adalah tempat warga menitip pesan untuk mengawasi penguasa. Koyow yang kami pilih menjadi nama media, sesuai dengan bahasa daerah kami yang artinya... Pesan.
Indra menutup matanya. Kemudian, sekali teguk, gelas yang sedari tadi di genggamannya menyisa buih. Dia beranjak dari duduk.
"Aku mundur dari media ini!"
Langkahnya begitu cepat. Meninggalkan kami yang saling bertukar pandang. Lama baru terdengar suara mobil dihidupkan. Selang beberapa menit, lampu mobil menyala. Sorot lampunya tepat mengarah pada kami. Indra seperti ingin memastikan, adakah sesal di wajah kami. Mobil memutar, lalu pergi menembus malam.
***
Seminggu sudah Gladys menghabiskan waktu di desanya. Ogoh-ogoh telah diarak keliling. Sepi juga telah membungkam seisi desa. Sekaligus melarung gelisah di hatinya.
Di punggung Gladys telah menggantung ransel. Lina yang lebih dahulu menunggu di dalam mikrolet, menyambut Gladys dengan senyuman.
"Tumben, wajahmu kelihatan bahagia meninggalkan desa ini?" tanya Lina.
"Ah, desa ini hanya sejengkal saja dari kota. Kenapa harus sedih?"
"Iya, tapi biasanya kau sedih."
"Ada hal yang membuatku bahagia," kata Gladys. Senyum melengkung di wajahnya.
"Memangnya kenapa?"
"Ayah, akhirnya mengalah. Dia tidak mempermasalahkan impianku untuk menjadi... Seorang jurnalis!"
"Kau sudah bilang ke ayah dan ibumu?"
"Selain teror di Kota... Razia... Mobagu... Dan juga Ogoh-ogoh. Niat aku pulang, ingin menyampaikan hal itu pada ayah dan ibu." Senyum Gladys bertambah lebar. Menjadi seorang jurnalis, sepertinya dia sudah tidak sabar.
"Aku sepertinya menjaring alasan yang satunya lagi, kenapa kau kelihatan begitu bahagia," perkataan Lina, seketika merubah senyum Gladys menjadi jungur.
"Apa?"
Sore mulai menguning. Tapi suasana desa masih begitu ramai. Rumah-rumah warga penganut Hindu bising oleh tawa. Beberapa Ogoh-ogoh telah berbentuk raksasa. Mereka tinggal mewarnai dan memberi atribut-atribut pelengkap.
Gladys dan Lina tampak sibuk membantu merapikan gelas-gelas dan piring-piring yang bertebaran.
"Ayo, kita pamit pulang," ajak ibu Gladys. "Ayahmu nanti menyusul."
Perempuan-perempuan selalu lebih dulu pulang. Tugas mereka akan berlanjut di rumah. Tepat di persimpangan jalan, Lina pamit kepada Gladys dan ibunya.
"Aku ke rumah dulu," kata Lina. Dia sudah seharian bersama Gladys dan belum mengabari orangtuanya.
"Sampaikan maaf kepada orangtuamu, Lin. Seharian aku memaksamu menjadi pengawal," kelakar Gladys itu, mengundang tinju pelan dari Lina.
Di perjalanan pulang, ibunya menemukan kegelisahan di mata Gladys. Ibunya coba menggali dengan basa-basi.
"Bagaimana kuliahmu?"
"Berharap cepat selesai."
"Selama ini, kau belum pernah menyatakan pilihan pekerjaan jika nanti tamat kuliah."
Kegelisahan Gladys, seperti terbaca dan diberi retakan oleh ibunya. Dari retakan itu, ibunya berharap kegelisahan Gladys bisa mengalir keluar. Perempuan memang lihai dalam soal kepekaan. Terlebih itu adalah anaknya sendiri.
"Aku ingin jadi wartawan," ucapannya begitu pelan namun tegas. Langkah ibunya tertahan.
"Alasanmu?" Dari sorot mata ibunya, Gladys menemu sorot yang sama di mata Lina, ketika mereka membicarakan soal keputusannya untuk menjadi wartawan.
"Aku suka menulis. Lagipula fakultas yang aku ambil tidak bakal menyulitkan nanti." Gladys coba meyakinkan ibunya.
"Kau kan, kuliahnya di fakultas hukum?" tanya ibunya.
"Wartawan dengan basis ilmu hukum, malah lebih paham dengan aturan-aturan," jawab Gladys.
"Ibu tidak mempermasalahkan pilihanmu. Tapi bagaimana caramu meyakinkan ayahmu?" Langkah ibunya kembali menjejaki jalan. Gladys mengikutinya.
"Ibu mungkin bisa membantu Gladys."
Ucapan Gladys, ditanggapi ibunya dengan diam. Selama perjalanan menuju rumah, hanya terdengar suara kerikil yang tergilas sendal. Ibunya memang berharap lebih dari sekadar menjadi seorang wartawan. Impian setiap orangtua pasti selalu yang terbaik untuk anaknya. Dengan berharap agar Gladys kelak bisa menjadi jaksa, pengacara, atau hakim. Gladys adalah putri satu-satunya. Dan untuk melanjutkan pendidikan, bukanlah suatu kesulitan bagi orangtuanya.
***
Berbotol-botol bir yang telah kosong menghuni kardus. Masih ada tiga botol yang tertutup rapat, dan satu botol setengah isi di atas meja. Sementara gelas penuh di genggaman Indra, buihnya meluncur di dinding gelas. Mata Indra merah. Ada amarah di sana.
"Jadi, kalian tetap ingin memuat beritanya?" suara Indra meninggi.
Rumah Deni kebetulan sepi. Orangtuanya sedang ke rumah kakaknya di luar kota. Rumah-rumah tetangga juga jaraknya berpuluh-puluh meter. Kediaman Deni memang serupa vila yang menyendiri.
"Indra, kami menemanimu minum, karena ingin membicarakan persoalan ini dengan lebih jujur," kata Umar coba menenangkan.
"Kalian tahu! Media kita ini... Pamanku juga donaturnya!"
Ucapan Indra kali ini membikin hening. Langit yang mulai gelap, mengubah deretan botol di atas meja menjadi siluet. Mereka masih terdiam dipayungi rindang dedaunan yang berdesir tertiup angin.
"Aku menyalakan lampu di rumah dulu. Hari mulai gelap," sela Deni.
Hanya sekejap, Deni kembali sambil membawa laptop. Aku memandangnya heran. Entah apa maksudnya membawa laptop kemari. Deni meletakkan laptop di atas meja lalu menyalakannya. Botol-botol bir tampak berkilauan disinari nyala layar. Sebatang modem dicolok. Seketika, tubuh www.koyow.com berdiri di sana. Tepat ke arah Indra.
"Indra. Ketika kita rembuk mendirikan media ini, satu hal yang pernah kita sepakati dulu masih berlaku. Untuk membenci pertengkaran karena uang," ucap Deni pelan.
"Dan kali ini... Meski masalah yang menjadi tengkar kita berbeda. Tapi ini juga soal uang." Deni semakin serius dengan perkataannya.
"Den, aku hanya coba..." Indra menyela.
Belum usai Indra dengan kalimatnya, Deni menyela, "Kenapa kau tidak jujur?"
"Aku hanya ingin agar media kita bisa menjadi besar. Kantor saja kita belum punya. Aku berharap uang dari donatur-donatur kita, bisa dipakai menyewa tempat untuk dijadikan kantor," jelas Indra.
"Aku menerima maksud baikmu. Tapi ketidakjujuranmu itu!"
"Den, berapa orang sih, yang mau mendanai media kita ini? Dan pamanku satu dari lima orang yang dengan sukarela melakukan itu!"
"Sebenarnya masalahnya sederhana. Kita hanya mencoret nama pamanmu dari daftar donatur. Itu saja," Umar tiba-tiba menyela.
"Lalu tetap memberitakan kasusnya?" ucapan Indra kembali meninggi.
"Kesepakatan kita membuat media ini, adalah memberitakan tanpa memandang siapapun. Tagline itu terpampang jelas!" Deni kali ini menunjuk sebaris slogan di layar laptop.
Saya yang sedari tadi diam, akhirnya memilih mencebur ke dalam arus yang semakin deras itu.
"Indra, kasus pamanmu itu adalah soal uang rakyat. Dan satu-satunya bos kita adalah warga. Jalan pesan yang independen," saya menukil slogan media kami di akhir kalimat. Slogan yang bermakna bahwa jurnalis adalah tempat warga menitip pesan untuk mengawasi penguasa. Koyow yang kami pilih menjadi nama media, sesuai dengan bahasa daerah kami yang artinya... Pesan.
Indra menutup matanya. Kemudian, sekali teguk, gelas yang sedari tadi di genggamannya menyisa buih. Dia beranjak dari duduk.
"Aku mundur dari media ini!"
Langkahnya begitu cepat. Meninggalkan kami yang saling bertukar pandang. Lama baru terdengar suara mobil dihidupkan. Selang beberapa menit, lampu mobil menyala. Sorot lampunya tepat mengarah pada kami. Indra seperti ingin memastikan, adakah sesal di wajah kami. Mobil memutar, lalu pergi menembus malam.
***
Seminggu sudah Gladys menghabiskan waktu di desanya. Ogoh-ogoh telah diarak keliling. Sepi juga telah membungkam seisi desa. Sekaligus melarung gelisah di hatinya.
Di punggung Gladys telah menggantung ransel. Lina yang lebih dahulu menunggu di dalam mikrolet, menyambut Gladys dengan senyuman.
"Tumben, wajahmu kelihatan bahagia meninggalkan desa ini?" tanya Lina.
"Ah, desa ini hanya sejengkal saja dari kota. Kenapa harus sedih?"
"Iya, tapi biasanya kau sedih."
"Ada hal yang membuatku bahagia," kata Gladys. Senyum melengkung di wajahnya.
"Memangnya kenapa?"
"Ayah, akhirnya mengalah. Dia tidak mempermasalahkan impianku untuk menjadi... Seorang jurnalis!"
"Kau sudah bilang ke ayah dan ibumu?"
"Selain teror di Kota... Razia... Mobagu... Dan juga Ogoh-ogoh. Niat aku pulang, ingin menyampaikan hal itu pada ayah dan ibu." Senyum Gladys bertambah lebar. Menjadi seorang jurnalis, sepertinya dia sudah tidak sabar.
"Aku sepertinya menjaring alasan yang satunya lagi, kenapa kau kelihatan begitu bahagia," perkataan Lina, seketika merubah senyum Gladys menjadi jungur.
"Apa?"
Minggu, 03 April 2016
Gladys di Kota(razia)mobagu (4)
... Dan di mana begitu eratnya rasa kebersamaan. (Baca sebelumnya: Bagian 3)
Sambil melahap makanan, keduanya kembali terlibat pembicaraan. Masih dengan tema yang Satu jam saja waktu yang ditempuh. Desa Mopuya Selatan menyambut dengan hijau persawahan. Hari ini cukup cerah. Langit yang membiru seperti ditopang puncak bangunan gereja, masjid, dan pura yang saling bergandengan.
Di desa Gladys yang mayoritas terdiri dari diaspora suku Jawa, bercampur dengan Bali, Gorontalo, Minahasa, dan Mongondow, tempat peribadatannya memang sengaja dibangun berdekatan. Simbol toleransi yang erat. Desa ini bahkan menjadi objek pariwisata ketika perayaan hari-hari besar keagamaan. Masyarakatnya yang heterogen saling berjibaku. Pemuda-pemudi digiatkan dan ditanamkan sikap saling menghargai sejak kanak-kanak. Meski desa ini dikepung oleh wilayah yang cukup rentan konflik antar desa. Tapi sejauh ini, masyarakat Desa Mopuya Selatan tidak pernah tertular sikap bigot-bigot kerdil yang kerap membikin onar itu.
Konflik yang acap kali terjadi di Dumoga, penyebabnya bisa dari kuping, mulut, dan perut. Telinga yang terlampau sensitif, saling adu mulut, lalu akhirnya otot atau samurai diadu. Untuk urusan perut, yang sering menyulut masalah yakni persoalan tambang tradisional. Anak-cucu didongengi dengan kisah-kisah heroik para pendekar tambang. Sejak kecil, mereka diajari mengidolakan pendekar dari asal desa mereka, lalu membenci pendekar dari desa lain. Bahkan diajari membenci seluruh penghuni desa yang menjadi seteru.
"Kita bisa sedikit tenang di sini. Setidaknya di sini tidak ada tim Gagak, Tuturuga, atau Pokpok," ujar Gladys yang disusul tawa.
"Tenang? Ya, karena kita beruntung terlahir di desa ini," kata Lina.
"Iya juga sih. Aku juga heran dengan desa-desa lain di Kecamatan Dumoga yang suka tawuran."
"Eh! Kenapa Ririn tidak kita ajak?" Lina memotong, sebelum mereka larut dengan pembicaraan soal konflik di Dumoga yang sudah seperti arisan.
"Di depan, pak!" Gladys tiba-tiba menyeru sopir, sebab mikrolet yang mereka tumpangi sudah tepat berada di depan rumahnya.
"Lin, turun di rumah saja," ajak Gladys.
Usai membayar ongkos, Gladys menanggapi pertanyaan Lina tadi. "Iya, harusnya kita ajak Ririn."
Gladys merogoh ponsel di sakunya. Lalu menelepon Ririn. Tidak aktif. "Mungkin dia masih tidur."
Belum masuk pekarangan rumah, ibunya Gladys sudah di beranda. Segaris senyum terlihat di wajahnya, yang hampir seperti telur rebus dibelah dua dengan putri satu-satunya itu.
"Kenapa tidak bilang-bilang?" tanya ibunya.
"Mau kasih kejutan," kata Gladys.
"Sudah makan? Ibu masak ikan teri sama sayur kangkung."
"Masakan ibu bikin air liur merembes." Segera Gladys dan Lina menyerbu dapur.
"Kalian makan dulu, ibu mau ke rumah pak Wayan. Mau antarin teh. Seminggu lagi Nyepi. Sedang ramai-ramainya warga membantu membuat Ogoh-ogoh."
"Nanti kami menyusul."
Tradisi Ogoh-ogoh memang menjadi alasan lain Gladys untuk pulang ke kampung halaman. Sehari menjelang Nyepi, umat Hindu akan mengarak patung-patung dalam wujud berbagai macam raksasa. Yang menarik, Ogoh-ogoh pun kerap dijadikan bentuk kritikan kepada pemerintah. Misalnya dalam bentuk pejabat-pejabat yang korup. Usai Ogoh-ogoh diarak keliling, biasanya replika raksasa-raksasa atau patung pejabat-pejabat korup itu dibakar.
sama. Kotamobagu yang tengah diteror razia.
"Aku cenderung lebih suka Kotamobagu, ketika di zaman SMA dulu," kata Lina.
Dia dan Gladys memang seiring sejalan sejak masih SMA. Mereka memilih bersekolah di Kotamobagu kala itu, meski di daerah mereka sudah ada SMA.
"Tapi kita juga tidak harus membandingkan kondisi desa kita dengan kota. Jelas bedalah," kata Lina.
"Iya juga sih. Tapi setidaknya, kota yang lebih modern seharusnya pemikirannya juga lebih terbuka."
Sekali lagi Lina mengangguk pelan. Mulutnya tampak sibuk menguyah. Pipinya yang tembem tambah menggembung.
***
Aku baru saja terbangun. Kali ini, menjadi hari yang begitu berat bagiku. Pesan singkat yang masuk dari redaktur www.koyow.com, membikin aku bergegas ke kamar mandi. Hanya sejurus kemudian, usai merapikan rambutku yang berombak dengan jemari, aku segera menemui Umar di kedai kopi. Dia redakturku.
Media online kami yang idenya berawal dari perbincangan di kedai kopi, bersama tiga temanku, memang belum memiliki kantor. Kedai-kedai kopi jadi tempat persinggahan kami untuk membuat berita. Aku menemui Umar di kedai kopi yang biasa kami tongkrongi.
"Benar kabar itu?" aku setengah berbisik. Kedai kopi telah penuh dengan pengunjung.
"Buat apa aku berbohong?" jawab Umar dengan tampang serius.
"Terus?"
"Ya... Kita tetap harus memberitakan itu."
"Tapi itu pamannya Indra. Aku tidak enak saja."
Umar segera membereskan laptop dan beberapa buku di atas meja. Setelah semuanya masuk ke dalam ransel, dia mengajakku ke rumah Deni.
"Kita lebih aman bercerita di sana," katanya, usai membayar tagihan kepada kasir di kedai kopi.
"Aku masih tidak percaya."
"Aku juga begitu tadinya. Tapi setelah bertanya ke orang-orang yang tahu benar kasus itu. Aku menghubungimu," jelas Umar.
Rumah Deni, wartawan di media online kami, juga salah satu teman yang menginisiasi terbentuknya www.koyow.com, tak jauh letaknya dari kedai kopi. Hanya beberapa menit, Deni tampak sudah menunggu kedatangan kami di beranda.
"Yakin kau, Mar?" teriak Deni, setelah kami memarkir motor.
"Sialan! Aku saja belum bernapas, sudah ditodong," sahut Umar.
Di depan rumah Deni, ada pohon mangga rindang dilengkapi bangku memanjang. Mereka memilih mengobrol di situ. Umar lantas bercerita duduk perkaranya. Adik ayahnya Indra, yang seorang anggota legislatif terlibat kasus korupsi. Indra adalah pemimpin redaksi, juga teman baik dan termasuk founding fathers media online kami.
"Jadi, kita harus memberitakannya juga?" tanya Deni.
Umar yang jauh-jauh tahun lebih berpengalaman dari aku dan Deni, tampak gelisah. Kegelisahan itu jelas tergambar di wajahnya, apalagi Umar tahu tugasnya sebagai redaktur akan lebih berat.
"Apa sebaiknya kita bicarakan juga dengan Indra?" tanyaku.
"Jelaslah! Tapi kita bertiga harus sepakat dulu," kata Umar. Dia menjetikkan puntung rokok yang telah pupus.
"Media lain juga pasti akan memburu berita itu," kata Deni.
"Pasti. Dan jika kita memilih tidak membuat beritanya, citra media kita yang independen ikut tercoreng," aku coba berpendapat.
"Benar! Tapi bagaimana perasaan Indra nanti?" tanya Deni.
"Jelas ini bukan persoalan hubungan pertemanan kita dengan Indra. Tapi ini soal bagaimana seharusnya kita memposisikan diri. Yang lebih dipentingkan adalah independensi, bukan netralitas," jelas Umar.
"Kok, tiba-tiba rambutmu memutih, Mar. Kau berubah jadi Bill Kovach," kata Deni, yang memancing tawa kami bersamaan. Ucapan Deni mencairkan suasana yang sedari tadi serius. Aku seketika ingat Gladys, yang pernah juga aku dakwahi.
Mobil Avanza yang pelan merangkak masuk pekarangan dan menuju ke arah kami, membuat tawa kami terhenti. Indra turun dari mobilnya. Wajahnya cerah. Tak seperti hati kami yang seketika mendung.
(Bersambung)
Senin, 28 Maret 2016
Gladys di Kota(razia)mobagu (3)
... Sekejap sebuah lengan melayang dengan telapak tangan terbuka. Plak! (Baca sebelumnya: Bagian 2)
Usai menampar, ibu itu menatap nanar. Yang ditampar jadi salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa. Perasaan marah, malu, dan kesal berkecamuk di wajahnya. Semua pandangan tertuju padanya. Aku yang kebetulan menyusul juga ke rumah sakit, merangsek di antara kerumunan lalu segera menarik lengan wartawan itu. Aku menyeretnya keluar dari penghakiman.
"Kau cukup nekat mewawancarainya," ujarku.
"Aku juga tidak berani tadi. Tapi, tapi... Aku ditelepon redaktur pelaksana kami, bahwa harus dapat mewawancarai ibu itu," jelasnya sambil mengurut pipinya.
"Jika kau mendapat perintah seperti itu lagi, kau bisa menolaknya. Risikonya seperti tadi nanti."
Kami terlibat perbincangan begitu lama. Ternyata dia wartawan magang. Namanya Ojan. Di tengah pembicaraan, aku melirik kembali arloji. Tinggal sejam lagi, adzan subuh akan berkumandang.
Aku lantas pamit pulang ke kos yang sedari tadi terus saja tertunda. Hanya memacu sepeda motor beberapa menit, pintu kamar telah di depan mata. Di dalam kamar, tubuhku seketika jatuh terbenam di kasur. Dan perlahan-lahan aku diseret jauh ke dalam alam bawah sadar. Terlelap.
***
Langit berjelaga dan mentari pagi perlahan memolesnya menjadi terang. Gladys telah segar sepagi itu. Rambut hitamnya digelung dan terikat ke samping. Putih punggung lehernya tampak diterjuni beberapa helai rambut. Di depan cermin, dia sibuk mewarnai bibirnya. Merah tegas.
Sepasang sepatu Converse yang warna merahnya mulai memudar, diliriknya. Tak berselang lama, Gladys seperti gasing di depan cermin, dengan kaos putih polos berlengan pendek, dipadu celana panjang denim berwarna abu-abu yang sobek di bagian paha dan dengkul. Ransel merah menggantung di punggungnya.
Gladys mendekatkan wajahnya ke cermin. Alisnya dibiarkan tumbuh alami. Kulit wajahnya pun tanpa polesan bedak. Bibir jadi satu-satunya yang disentuh kosmetik. Hanya gincu merah tegas. Hanya itu.
"Kau sudah siap?" Suara itu datang dari depan kamar. Lalu pintu kamar menganga. Temannya, Lina, juga telah siap dengan ransel di punggung.
"Kita jalan kaki saja ya?" tawar Gladys.
"Iya. Terminalnya juga dekat kok."
"Eh, Ririn ditahan semalam?" tanya Gladys.
"Sepertinya tadi pagi dia sudah ada. Mungkin sedang tidur."
"Baguslah."
Mereka berdua hanya menyusuri beberapa lorong dari kos-kosan, kemudian sebuah terminal yang hiruk telah di depan mata. Sebulir keringat menuruni hidung bangir Gladys, yang seketika saja ditepisnya. Pipinya tampak memerah. Menempuh jarak beberapa ratus meter dengan jalan kaki, membuat napasnya tersengal-sengal.
"Kan, kau yang bilang jalan kaki saja," ejek Lina saat melihat Gladys keringatan.
"Biar sehat!" silat Gladys.
Menunggu mikrolet yang akan mereka tumpangi penuh, Gladys memanggil seorang loper koran yang kebetulan lewat. Dia membeli satu. Saat membaca, di headline tak ada berita soal razia semalam. Lekas dia memilah per halaman, lalu menemukan berita soal razia di kos-kosannya.
"Kamar kos mahasiswi ditemukan botol miras. Saat digelandang malah memaki wartawan," baca Gladys. Judul dan sub-judulnya membuat Gladys segera merogoh ponsel di saku. Dia segera menghubungi Sigid.
Setelah beberapa nada kereta api, suara Sigid terdengar memelas, "Ada apa, Dys?"
"Berita Ririn muncul di koran. Brengsek! Judulnya juga persis dugaanku semalam. Kau lupa mengingatkan teman-temanmu?"
"Gladys, tidak semua wartawan akrab denganku. Semalam aku sempat mengirim pesan singkat ke beberapa teman, tapi aku tidak bisa menjamin semuanya."
"Kasihan Ririn. Aku khawatir cepat atau lambat orangtuanya akan tahu."
"Aku juga turut prihatin. Tapi itu media milik mereka. Aku tidak bisa berbuat banyak."
"Baiklah. Lanjut tidur sana! Eh, aku dan Lina mau mudik nih! mungkin seminggu di kampung."
"Mendadak sekali?"
"Iya, tiba-tiba rindu kampung karena kejadian semalam."
"Hmm... Hati-hati di jalan ya. Salam buat bapak dan ibu."
"Iya, terima kasih. Nanti aku sampaikan."
Gladys mengulum bibir bawahnya setelah menyudahi percakapan. Dia kembali menyimak koran di pangkuannya. Di samping berita soal Kikan, ada juga berita kecelakaan tunggal. Korban meninggal.
Dia kembali sibuk membolak-balik setiap halaman. Berita-berita lainnya, hanya berisi sampah-sampah tentang laku luhur para pejabat. Yang lain, kritikan berisi sinyal-sinyal uang saku. Sedangkan di headline yang sempat dilewatkannya tadi, ada berita tentang koruptor yang katanya dikriminalisasi. Judulnya pun seperti tirai yang membikin laku bejat si koruptor jadi kian samar.
Terdengar teriak si sopir yang menyampaikan bahwa daftar penumpang telah penuh. Gladys meninggalkan koran itu di bangku terminal. Dia dan Lina segera masuk ke dalam mikrolet.
"Lin, menurutmu, aku cocok tidak jadi jurnalis?" tanya Gladys, setelah mikrolet mulai melaju.
"Memang kalau jadi jurnalis bisa menjamin masa depanmu?" Lina kembali serius dengan ponselnya.
"Yang kau maksudkan dengan masa depan?"
"Ya... soal karir dalam pekerjaanmu yang bisa memenuhi segala kebutuhan hidupmu."
"Aku kira bisa. Digaji secukupnya juga aku terima. Aku ingin belajar banyak soal jurnalistik."
"Tapi, tidak selamanya belajar, kan? Kau juga nanti akan menikah dan memiliki anak."
"Aku kira, itu ada pada tahap selanjutnya untuk dipikirkan."
"Dan jika kau telah ditahap itu?" Lina terus memburu. "Tahap ketika kau sudah menikah dan memiliki anak?"
"Saya mengerti maksudmu. Tapi, karier seorang jurnalis pun tak selamanya hanya menjadi pemburu berita. Selain itu, kalau mau kaya jangan jadi jurnalis. Tapi jadi pengusaha."
"Aku tidak berkata kalau menjadi jurnalis itu tidak bakal kaya."
"Lin, jika jurnalis itu digaji layak, aku kira masih bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka."
Rambut sebahu Lina diterpa angin yang leluasa masuk dari kaca mikrolet yang dibiarkannya terbuka. Dia mengangguk tanda sepakat dengan pernyataan Gladys. Kemudian pandangannya kembali terpaku pada ponsel.
"Di media online berita soal Ririn sudah ramai. Bahkan sudah menjadi viral di media sosial," kata Lina.
"Aku sudah membacanya sedari pagi. Tapi aku memilih untuk tidak mengabari Ririn."
"Sebaiknya memang begitu." Lina melempar pandangannya ke hijau persawahan.
Kendaraan yang mereka tumpangi terus melaju. Menuju satu desa di wilayah Kecamatan Dumoga Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow. Sebuah desa yang menjadi miniatur akan tingginya toleransi antar umat beragama. Dan di mana begitu eratnya rasa kebersamaan.
Usai menampar, ibu itu menatap nanar. Yang ditampar jadi salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa. Perasaan marah, malu, dan kesal berkecamuk di wajahnya. Semua pandangan tertuju padanya. Aku yang kebetulan menyusul juga ke rumah sakit, merangsek di antara kerumunan lalu segera menarik lengan wartawan itu. Aku menyeretnya keluar dari penghakiman.
"Kau cukup nekat mewawancarainya," ujarku.
"Aku juga tidak berani tadi. Tapi, tapi... Aku ditelepon redaktur pelaksana kami, bahwa harus dapat mewawancarai ibu itu," jelasnya sambil mengurut pipinya.
"Jika kau mendapat perintah seperti itu lagi, kau bisa menolaknya. Risikonya seperti tadi nanti."
Kami terlibat perbincangan begitu lama. Ternyata dia wartawan magang. Namanya Ojan. Di tengah pembicaraan, aku melirik kembali arloji. Tinggal sejam lagi, adzan subuh akan berkumandang.
Aku lantas pamit pulang ke kos yang sedari tadi terus saja tertunda. Hanya memacu sepeda motor beberapa menit, pintu kamar telah di depan mata. Di dalam kamar, tubuhku seketika jatuh terbenam di kasur. Dan perlahan-lahan aku diseret jauh ke dalam alam bawah sadar. Terlelap.
***
Langit berjelaga dan mentari pagi perlahan memolesnya menjadi terang. Gladys telah segar sepagi itu. Rambut hitamnya digelung dan terikat ke samping. Putih punggung lehernya tampak diterjuni beberapa helai rambut. Di depan cermin, dia sibuk mewarnai bibirnya. Merah tegas.
Sepasang sepatu Converse yang warna merahnya mulai memudar, diliriknya. Tak berselang lama, Gladys seperti gasing di depan cermin, dengan kaos putih polos berlengan pendek, dipadu celana panjang denim berwarna abu-abu yang sobek di bagian paha dan dengkul. Ransel merah menggantung di punggungnya.
Gladys mendekatkan wajahnya ke cermin. Alisnya dibiarkan tumbuh alami. Kulit wajahnya pun tanpa polesan bedak. Bibir jadi satu-satunya yang disentuh kosmetik. Hanya gincu merah tegas. Hanya itu.
"Kau sudah siap?" Suara itu datang dari depan kamar. Lalu pintu kamar menganga. Temannya, Lina, juga telah siap dengan ransel di punggung.
"Kita jalan kaki saja ya?" tawar Gladys.
"Iya. Terminalnya juga dekat kok."
"Eh, Ririn ditahan semalam?" tanya Gladys.
"Sepertinya tadi pagi dia sudah ada. Mungkin sedang tidur."
"Baguslah."
Mereka berdua hanya menyusuri beberapa lorong dari kos-kosan, kemudian sebuah terminal yang hiruk telah di depan mata. Sebulir keringat menuruni hidung bangir Gladys, yang seketika saja ditepisnya. Pipinya tampak memerah. Menempuh jarak beberapa ratus meter dengan jalan kaki, membuat napasnya tersengal-sengal.
"Kan, kau yang bilang jalan kaki saja," ejek Lina saat melihat Gladys keringatan.
"Biar sehat!" silat Gladys.
Menunggu mikrolet yang akan mereka tumpangi penuh, Gladys memanggil seorang loper koran yang kebetulan lewat. Dia membeli satu. Saat membaca, di headline tak ada berita soal razia semalam. Lekas dia memilah per halaman, lalu menemukan berita soal razia di kos-kosannya.
"Kamar kos mahasiswi ditemukan botol miras. Saat digelandang malah memaki wartawan," baca Gladys. Judul dan sub-judulnya membuat Gladys segera merogoh ponsel di saku. Dia segera menghubungi Sigid.
Setelah beberapa nada kereta api, suara Sigid terdengar memelas, "Ada apa, Dys?"
"Berita Ririn muncul di koran. Brengsek! Judulnya juga persis dugaanku semalam. Kau lupa mengingatkan teman-temanmu?"
"Gladys, tidak semua wartawan akrab denganku. Semalam aku sempat mengirim pesan singkat ke beberapa teman, tapi aku tidak bisa menjamin semuanya."
"Kasihan Ririn. Aku khawatir cepat atau lambat orangtuanya akan tahu."
"Aku juga turut prihatin. Tapi itu media milik mereka. Aku tidak bisa berbuat banyak."
"Baiklah. Lanjut tidur sana! Eh, aku dan Lina mau mudik nih! mungkin seminggu di kampung."
"Mendadak sekali?"
"Iya, tiba-tiba rindu kampung karena kejadian semalam."
"Hmm... Hati-hati di jalan ya. Salam buat bapak dan ibu."
"Iya, terima kasih. Nanti aku sampaikan."
Gladys mengulum bibir bawahnya setelah menyudahi percakapan. Dia kembali menyimak koran di pangkuannya. Di samping berita soal Kikan, ada juga berita kecelakaan tunggal. Korban meninggal.
Dia kembali sibuk membolak-balik setiap halaman. Berita-berita lainnya, hanya berisi sampah-sampah tentang laku luhur para pejabat. Yang lain, kritikan berisi sinyal-sinyal uang saku. Sedangkan di headline yang sempat dilewatkannya tadi, ada berita tentang koruptor yang katanya dikriminalisasi. Judulnya pun seperti tirai yang membikin laku bejat si koruptor jadi kian samar.
Terdengar teriak si sopir yang menyampaikan bahwa daftar penumpang telah penuh. Gladys meninggalkan koran itu di bangku terminal. Dia dan Lina segera masuk ke dalam mikrolet.
"Lin, menurutmu, aku cocok tidak jadi jurnalis?" tanya Gladys, setelah mikrolet mulai melaju.
"Memang kalau jadi jurnalis bisa menjamin masa depanmu?" Lina kembali serius dengan ponselnya.
"Yang kau maksudkan dengan masa depan?"
"Ya... soal karir dalam pekerjaanmu yang bisa memenuhi segala kebutuhan hidupmu."
"Aku kira bisa. Digaji secukupnya juga aku terima. Aku ingin belajar banyak soal jurnalistik."
"Tapi, tidak selamanya belajar, kan? Kau juga nanti akan menikah dan memiliki anak."
"Aku kira, itu ada pada tahap selanjutnya untuk dipikirkan."
"Dan jika kau telah ditahap itu?" Lina terus memburu. "Tahap ketika kau sudah menikah dan memiliki anak?"
"Saya mengerti maksudmu. Tapi, karier seorang jurnalis pun tak selamanya hanya menjadi pemburu berita. Selain itu, kalau mau kaya jangan jadi jurnalis. Tapi jadi pengusaha."
"Aku tidak berkata kalau menjadi jurnalis itu tidak bakal kaya."
"Lin, jika jurnalis itu digaji layak, aku kira masih bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka."
Rambut sebahu Lina diterpa angin yang leluasa masuk dari kaca mikrolet yang dibiarkannya terbuka. Dia mengangguk tanda sepakat dengan pernyataan Gladys. Kemudian pandangannya kembali terpaku pada ponsel.
"Di media online berita soal Ririn sudah ramai. Bahkan sudah menjadi viral di media sosial," kata Lina.
"Aku sudah membacanya sedari pagi. Tapi aku memilih untuk tidak mengabari Ririn."
"Sebaiknya memang begitu." Lina melempar pandangannya ke hijau persawahan.
Kendaraan yang mereka tumpangi terus melaju. Menuju satu desa di wilayah Kecamatan Dumoga Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow. Sebuah desa yang menjadi miniatur akan tingginya toleransi antar umat beragama. Dan di mana begitu eratnya rasa kebersamaan.
(Bersambung)
Langganan:
Postingan
(
Atom
)









