Rabu, 08 Juli 2026

Mesir Memenangkan Hati Dunia

Tidak ada komentar

Dengusan dan sorakan penonton laga 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina Vs Mesir terdengar. Skor akhir 3-2 untuk kemenangan Argentina. Namun pertandingan sesungguhnya baru dimulai setelah peluit panjang berbunyi. Di media sosial dan meja-meja tongkrongan "pertandingan" terus berlanjut, hingga gelas kopi tersisa ampas dan isi sloki Cap Tikus menjadi puding. 

Laga tersebut akhirnya bukan hanya sebatas bundaran bola. Ia berubah menjadi cermin yang memantulkan bagaimana politik, teknologi, dan dolar berpadu dengan sepak bola dalam 90 menit. Semuanya bercampur jadi satu seperti dalam sepiring bubur Manado yang, tengah disantap para penikmat sepak bola.

Ketika remontada Argentina pada menit akhir, pasir harapan yang tersisa dari genggaman pemain Mesir menetes habis dari sela-sela jemari. Butir demi butir pasir itu menumpuk menjadi segurun perasaan dipecundangi oleh peluit dan layar VAR. Mesir seolah-olah sedang melawan terjangan badai kecurangan. Bahkan 1.000 piramida dijejer pun tak akan sanggup mengadang.

Badai berawal ketika gol kedua Mesir hasil kerja tim yang sangat luar biasa dan dieksekusi dengan cantik oleh Mostafa Zico pada menit ke-62 harus dianulir wasit Francois Letexier. VAR menemukan adanya pelanggaran build-up Marwan Attia kepada Lisandro Martinez tiga fase sebelum gol terjadi. Dari tinjauan VAR, pemain Mesir Marwan Attia tertangkap kamera menarik dan menginjak kaki Lisandro Martinez, sebelum serangan balik tersebut berbuah gol. 

Pembatalan gol Mostafa Ziko tersebut memicu kemarahan kubu Mesir. Pelatih dan pemain melayangkan protes keras karena menganggap pelanggaran tersebut terjadi di luar fase penyerangan inti yang sah untuk dianulir. Jika aturan memperbolehkan itu, mengapa standar itu tidak berlaku sama? Mengapa duel di kotak penalti Argentina pada menit 90+2 dianggap biasa saja?

Badai berikut, saat Mesir menuntut penalti. Hamdy Fathy dijatuhkan. Mohamed Salah juga dijatuhkan. Wasit memilih melanjutkan permainan. Psikis pemain Mesir tertekan dan ini menguntungkan Argentina. Mohamed Salah tampak begitu tenang tapi kawan-kawannya tidak. Dua menit berselang, gawang Mesir kebobolan gol kemenangan Argentina. Tapi gol tersebut berbau pelanggaran. Protes pemain dan ofisial Mesir malah dihadiahi kartu. Wasit tidak meninjau ulang insiden melalui monitor VAR pada injury time. Di sinilah muncul keraguan. VAR disebut alat paling objektif, tetapi tetap dijalankan oleh manusia. Dan manusia itu bekerja di antara teriakan 68 ribu penonton di Stadion Atlanta.

Luka tersebut terasa semakin dalam karena ia bersinggungan dengan politik. Mesir dan Palestina memiliki hubungan sejarah yang panjang. Mesir adalah negara Arab pertama yang menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada 1979 di Camp David. Namun perdamaian itu tidak membuat Mesir memalingkan wajah. Kairo justru menjadi tempat utama perundingan gencatan senjata antara Hamas dan Israel. Setiap kali Gaza bergejolak, diplomat Mesir adalah pihak pertama yang bergerak. Di forum PBB dan Liga Arab, suara Mesir paling lantang menolak perluasan permukiman dan mendukung kemerdekaan Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

Secara geografis, Mesir adalah satu-satunya negara selain Israel yang berbatasan langsung dengan Gaza melalui Penyeberangan Rafah. Karena itu, peran Mesir menjadi sangat vital. Ketika blokade diperketat, Rafah dibuka. Ratusan truk bantuan dari Mesir masuk setiap minggu sejak Oktober 2023. Rumah sakit di Sinai dan Kairo penuh dengan korban luka dari Gaza.

Bagi rakyat Mesir, ini bukan lagi kebijakan negara. Ini soal kemanusiaan. Di jalanan Kairo dan Alexandria, "semangka" Palestina bertebaran sejak 2023. Di stadion, saat Al Ahly dan Zamalek bertanding, spanduk solidaritas dibentangkan. Di sekolah, anak-anak Mesir diajarkan bahwa Palestina adalah luka bersama bangsa Arab. Masjid Al-Azhar di Kairo juga rutin mengeluarkan pernyataan yang berpihak pada hak rakyat Palestina. Karena itu, ketika Mesir kalah dengan cara seperti ini, narasi yang muncul bukan hanya "kalah bola". Banyak yang merasa ini adalah bentuk lain dari ketidakadilan yang sama yakni "Barat melawan Timur Tengah".

Argentina sendiri juga memiliki catatan. Pada 2018, Messi dan timnas Argentina membatalkan pertandingan persahabatan di Israel, setelah mendapat tekanan dari kelompok pro-Palestina di Argentina yang kerap turun ke jalanan untuk aksi mendukung Palestina. AFA lalu menyatakan keputusan itu demi keselamatan pemain. Namun di mata sebagian publik, citra Argentina tetap lekat dengan Barat. Dengan sponsor-sponsor besar, hak siar miliaran dolar, serta Messi sebagai wajah komersial sepak bola dunia. 

Presiden Argentina, Javier Milei, paling pro terhadap Israel di Amerika Latin dan dekat dengan Trump, Presiden AS yang baru-baru mengintervensi FIFA terkait suspensi striker AS, Folarin Balogun. Saat laga berlangsung, sejumlah suporter Argentina juga memprovokasi Mesir dengan membentangkan bendera Israel. Aksi tersebut diduga dipicu oleh sikap pelatih Hossam Hassan yang sebelumnya secara vokal mendukung Palestina. Ia mengibarkan bendera Palestina usai lolos dari fase grup. Tak hanya itu, supoter Argentina juga bersikap rasis kepada streamer dan YouTuber populer IShowSpeed, saat Argentina Vs Cape Verde. Seorang penonton melontarkan kalimat bernada rasis, "Go cry at the zoo!". Berulang ketika laga dengan Mesir. Pendukung Argentina terekam kamera melakukan gestur menyerupai monyet ke arah IShowSpeed.

Arkian, kecurigaan juga mengarah kepada FIFA. Sejarah panjang FIFA memang tidak bisa dilepaskan dari kontroversi. Mulai dari skandal Sepp Blatter, hingga isu penunjukan tuan rumah. Saat suspensi striker AS Folarin Balogun, Trump dikabarkan menelepon Presiden FIFA Gianni Infantino. FIFA tiba-tiba membatalkannya. Terkait VAR, barang ini adalah industri mahal. Ada anggaran besar di balik setiap kamera dan operatornya. Selain itu, ada ribuan triliun uang judi bola yang tengah berputar di dunia. Sepak bola menjadi padang gurun cuan. Apakah ini juga berkelindan dengan setiap keputusan dalam lapangan? 

Argentina juga tidak sepenuhnya bersih. AFA pernah terseret kasus korupsi pembinaan usia muda. Liga domestiknya sering dituduh tidak transparan. Secara bisnis, kehadiran Argentina di babak 8 besar jelas menguntungkan. Jersei ludes terjual, rating televisi naik, lalu sponsor tersenyum.

Seandainya pertandingan Argentina Vs Mesir sepenuhnya adil tanpa keputusan wasit yang kontroversial, Mesir berpeluang besar menang dan mencetak sejarah lolos ke perempat final. Skenario fair play akan mengubah arah laga, sebab para pemain Mesir jelas tak tertekan secara psikis. Argentina tertunduk pulang tapi jutaan orang akan menghormati mereka alih-alih menyebar meme FIFAnic atau VARgentina. Atau, bisa jadi Argentina comeback dengan menyuguhkan permainan yang mengesankan tanpa bantuan peluit. Wasit yang adil bukan menulis sejarah kemenangan. Ia menjaga agar sejarah ditulis dengan benar.

Peradaban yang membangun piramida tidak akan runtuh hanya karena tiupan peluit. Sungai Nil belum berhenti mengalir, begitu pula semangat mereka. Ini bukan akhir bagi Mesir. Namun muncul pertanyaan apakah sepak bola bisa dipisahkan dari politik, ketika dua tim yang bertanding memiliki posisi berbeda terhadap isu Palestina atau isu geopolitik lainnya? Dan apakah kita masih bisa percaya bahwa skor murni ditentukan di atas lapangan hijau, bukan di atas kertas neraca keuangan?

Tak harus menjadi pemain dan pengamat sepak bola untuk tahu laga itu tak imbang. Publik dunia tidak bisa dibohongi ketika kecurangan tampak jelas di depan miliaran pasang mata. Karena itu mereka mengecam. Bahkan Cape Verde dinilai ikut merasakan ketidakadilan wasit saat menghadapi Argentina. Selama FIFA tidak membuka rekaman VAR dan investigasi tidak dilakukan, maka keraguan publik akan sekekal sarkofagus. VAR pun terkesan seperti teknologi yang ikut merapikan ketidakadilan. 

Dan pada akhirnya, ketika anak cucu kita kelak bertanya, sepak bola itu apa? Lalu kita harus menjawab, "Sepak bola bukan sekadar permainan, Nak. Ia adalah geopolitik dengan kostum dan peluit."