Jumat, 28 Agustus 2026

agustus

Tidak ada komentar

aku tak ingin mengingat agustus sebagai bulan kemerdekaan. sebab negara kerap mengutus preman yang rela merampas nyawa demi tumpukan lembaran seratus. para siluman ikut mengasah kapak pembunuh yang menyerupai bambu. membagikannya satu demi satu dengan seringai mengkilap oleh lampu jalan.

aku tak mau melihat mamakota yang setiap tahunnya pusara serupa tongkat estafet. dari helm retak ke cermin retak milik seorang lansia. yang keping-keping nyawanya tercecer sepanjang garis jalan. di antara sayup-sayup lirik "hari-hari esok adalah milik kita" tapi hari ini milik para penjagal.

aku tak sudi mengibarkan bendera yang putihnya pertanda duka. lalu merahnya adalah darah yang merembes dari jasad yang terkapar di trotoar. hanya mata kamera yang mengintip dari balik pagar ketika ruh tercerabut. tanpa tangisan kerabat dan bisikan doa pengantar sakratulmaut.

aku tak rela negri ini dipenuhi orang-orang yang dilatih menutup hati. kerap mengaburkan kematian seperti purnama tertutupi polusi jakarta. negara ikut memelihara preman bermata bintang seroja yang haus darah. lalu apakah kita harus berhenti melawan tirani? tentu tidak, karna kita masih memiliki nurani!


Passi, 2026

Tidak ada komentar :

Posting Komentar