Rabu, 27 November 2013

Kemarau di Negeri Kikuka (Dongeng untuk Sigi)

Tidak ada komentar
Di sebuah negeri yang bernama Kikuka. Negeri yang hanya dihidupi hewan-hewan berawalan huruf K. Hanya ada Kelinci, Keledai, Kancil, Kalajengking, Kerbau, Kepiting, dan hewan berawalan huruf K lainnya.

Pada suatu hari yang kemarau, dua hewan berbeda spesies sedang terlibat pembicaraan soal panas matahari yang semakin membakar bumi.

Kelinci bertanya, "Kau tahu Keledai, kenapa bumi semakin panas, dan matahari seperti sudah di atas kepala kita?"

"Kau salah bertanya Kelinci, aku hewan yang pandir. Coba kau tanyakan kepada Kancil, ia sangat cerdik, dan pasti pintar, dan bisa menjawab." jawab si Keledai sembari terus melahap rerumputan.

Kelinci bergegas pergi ke sungai yang tak jauh letaknya dari tempat mereka berada. Benar juga, ada Kancil di sana sedang menyesap air sungai yang tampak kabur dan hanya sedikit itu.

"Hei! Kancil!" teriak Kelinci yang membuat kaget Kancil.

Dengan mata memicing dan sungut hidung yang masih basah, Kancil itu menyahut, "Ada apa Kelinci? Sudah berapa batang wortel yang kau habiskan, kemudian merasa haus dan datang kesini?"

"Aku tidak sedang haus, tapi aku ingin bertanya," jelas Kelinci.

Dahi Kancil mengerut dan saling merangkul, "Pertanyaan apakah itu gerangan?"

"Kenapa bumi semakin panas ya?"

"Oh, soal itu, mari kujelaskan di sana," ajak Kancil ke salah satu pohon besar di tepi sungai. Pohon yang masih rimbun di tengah musim kemarau.

"Kau tahu Kelinci, bumi kita mempunyai lapisan ozon yang berguna menyaring cahaya matahari," Kancil mulai bercerita.

"Nah, kamu lihat rimbun dedaunan pohon ini," lanjut Kancil sambil menengadah, yang diikuti pula oleh Kelinci.

"Dedaunan itu memiliki fungsi yang hampir sama dengan lapisan ozon,"

Kini dahi Kelinci yang dipenuhi bulu tebal terlihat saling merangkul, tapi kedua telinga besarnya tetap berdiri tegak. Siaga. "Tunggu dulu, apa hubungannya?"

"Biar kulanjutkan. Dedaunan itu melindungi kita dari panas matahari, bukan? Coba saja kalau dedaunan itu tidak ada, pasti kita akan merasakan panas terik matahari langsung mengenai kulit kita."
Anggukan dari Kelinci sebagai tanda ia mulai paham dengan apa yang dijelaskan oleh Kancil.

"Lantas apa yang membuat daun-daun itu gugur, kalau contohnya yang pohon tadi?" tanya Kelinci lagi.

"Ini semua perbuatan manusia, coba kau ke perkotaan, karbon monoksida dari asap kendaraan di sana, kepulan asap dari pabrik-pabrik, dan masih banyak lagi hal lainnya yang menyebabkan lapisan ozon itu menipis, atau parahnya hingga berlubang. Lihat pohon ini, coba kamu memelihara api di bawahnya, kepulan asapnya pasti akan membuat daun-daun layu dan gugur,"
Penjelasan Kancil itu membikin Kelinci meringis dan terlihat gigi depannya makin menonjol keluar.

"Kau tahu Kelinci. Kalau pepohonan di hutan ini juga ditebang. Itu juga bisa mengakibatkan lapisan ozon menipis, karena tetumbuhan itu menyerap karbon yang dilepaskan oleh kendaraan atau kepulan asap pabrik-pabrik tadi," jelas Kancil dengan nada sedih, sambil memandang pepohonan yang membentang di hadapan mereka.

Tak lama kemudian Kepiting dengan langkah khasnya datang menghampiri mereka berdua.

"Sedang apa kalian? Pacaran ya? Tak bisa kubayangkan kalau nanti bayi kalian nanti jadi makhluk apa," sapa Kepiting dengan gurauan.

"Nah, ini dia salah satu hewan yang nanti jadi korban penipisan lapisan ozon," kata Kancil.

"Apa hubungannya denganku?"

"Kami sedang membahas soal lapisan ozon, dan kamu Kepiting, salah satu hewan yang paling terkena dampak buruk jika radiasi ultra violet nantinya berlebih," jelas Kancil.

"Aku kan punya cangkang untuk berlindung," jawab Kepiting dengan pongah.

"Justru cangkangmu itu yang nanti akan berubah menjadi penggorengan,"

Kepiting mengatupkan kedua capitnya. "Bikin ngeri saja kau Kancil!"

"Iya, apa yang dikatakan Kancil itu benar," kata Kelinci.

"Kenapa kau bisa sampai kesini?" tanya Kancil.

"Di pantai panasnya memang makin menjadi,"

"Ah, andai saja lautan itu tak asin," harap Kancil, agar ia bisa minum sepuasnya.

Dari seberang terlihat Kerbau, Keledai, dan Kalajengking datang mendekati mereka.

"Kata Keledai, kalian sedang bicara soal cuaca ya?" tanya Kerbau sesampainya.

"Iya, cuaca yang semakin panas. Lihat saja sungai itu makin kering," ujar Kancil sambil menunjuk ke arah sungai dengan moncongnya.

Kalajengking turut membaur bersama mereka, "Tapi aku baik-baik saja, cuaca panas sudah biasa bagiku," katanya angkuh.

"Hei! Kalajengking, bagimu biasa, tapi tidak dengan kami," teriak Kepiting geram. "Kalau kau kesini mau duel, sini denganku! Kita beradu capit di sini!" lanjutnya sengit.

"Hei, hei, tenang dulu kawan. Kita di sini sedang ingin membahas persoalan yang dampak buruknya untuk kita semua. Kamu juga Kalajengking, meski kamu sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini, tapi apakah kamu mampu bertahan jika hutan ini terbakar habis karena panas matahari yang berlebihan?" Kancil coba menenangkan suasana yang mulai memanas itu.

Keledai yang sedari tadi bungkam memilih bersuara, "Kalian ini kenapa? Kita sama-sama hewan tapi membicarakan soal kerusakan bumi ini yang diakibatkan ulah manusia, dan hanya manusia itu sendiri yang bisa mengatasinya."

Semua terdiam mendengar ucapan Keledai barusan.

"Sebaiknya kita pergi saja mencari makan dan minum, untuk membuat kita tetap bertahan hidup. Dan untuk Kalajengking dan Kepiting, sebaiknya capit kalian digunakan untuk mencari mangsa saja, bukan untuk diadu," nasehat Keledai.

Sejurus kemudian, mereka beranjak pergi dengan kepala tertunduk. Kepiting dan Kalajengking berjalan dengan saling bergandengan capit. Kepiting yang cara khasnya berjalan ke kiri, ke kanan itu, menyeret Kalajengking bersamanya. Melihat kejadian lucu itu. Kelinci, Kancil, Kerbau, dan Keledai tertawa lepas. Kepiting dan Kalajengking menoleh ke belakang, dan ikut pula tertawa.

Ah, andai saja manusia bisa tertawa layaknya mereka.

Sabtu, 23 November 2013

Patung Bogani

Tidak ada komentar
Hiruk-pikuk Kota Kotamobagu dengan terik matahari yang bertengger di ubun-ubun pada pukul dua belas siang, memantik didih yang memuaikan segala baja. Tapi tidak dengan sebuah patung yang berada tepat di pertigaan Osion, Kotobangon. Meski bersikutan dengan seutas jembatan yang di bawahnya ada alir sungai, tak membuatnya tampak segar. Tapi ia tetap terlihat tegar.

Patung Bogani. Fatamorgana yang meruap sebab panas kulit aspal, memanggangnya dan menghanguskan seketika jamur-jamur musim penghujan yang menyelimuti dan melumuti kulitnya. Cat kecoklatan dan purba di sekujur tubuhnya seperti mengisyaratkan: aku sejarah yang terlupakan, aku hanya seonggok patung yang ter-vandalis oleh ketidakpedulian, dan istirah di belukar salah satu bukit yang mencuat, mendinding Kotamu. Di bukit Tudu Passi. Pun belulang yang terserak di seantero kandung bumimu.

Satu dua hal yang menambah kesedihan; seliweran kita para liliput Bogani, apakah masih sempat menjelikan pandang dan memikirkan hal yang biasa itu menjadi tak biasa? Seonggok patung yang dengan kekar dan perkasa, memaksa bertahan dari sejarah yang mengelupas dan akan binasa, ia butuh sekerjap tatap. Atau kita memang benar-benar telah melupakannya?

Dari sekian banyak patung-patung yang hanya mengilustrasikan sosok wajah, patung Bogani adalah salah satu patung yang memiliki eksistensi sepenuhnya, dari mulai: bentuk tubuh yang ideal bagi penggambaran sosok manusia, senjata tombak, dan tameng siaga di genggamannya. Patung ini tak hanya sekadar penanda ke kiri, ke kanan, atau berpusarnya puluhan kendaraan. Ia adalah kabah-nya Bolaang Mongondow.

Mungkin dibandingkan dengan ratusan patung bersejarah dan arca-arca galian di pelosok negri, patung Bogani memang tak setara. Patung ini, yang menjadi hiasan sebuah kota, yang cenderung meramaikan lanskap sebuah perkotaan, yang seharusnya dirawat dengan baik, terbengkalai begitu saja. Siapa yang mau berpose dengan patung ini? Mungkin hanya orang udik yang rela. Tapi setidaknya, mereka yang udik lebih memahami apa itu bentuk kesederhanaan dan penghormatan sejarah. Orang-orang yang rela berpose dan udik itu, lebih mulia dari mereka yang berdasi, mereka yang enggan.

Entah engkau dibikin dari lempung, semen, atau sekumpulan raga yang terbuang. Saya akan sangat dengan bangga memunggungimu dan bergagah-gagahan sekalipun setara tengkukmu. Saya anak Bolaang Mongondow yang akan terus bertanya, "Ki ine nomia kon patong Bogani?" (Siapa yang membuat patung Bogani?)

Penelusuranku tak sia-sia. Setelah menjaring beberapa link di internet. Saya dipertemukan dengan salah satu blogger (http://graceeditha.wordpress.com/2010/10/18/alex-b-wetik-ayah-teman-guru-ku/) yang ternyata adalah putri kandung dari seniman asal Minahasa yang melukis patung Bogani. Grace M. E. Wetik namanya, putri dari sang seniman Alex B. Wetik. Terima kasih untuk karya besarmu pak Alex.

Mari berpose!

Senin, 18 November 2013

Gelora Ambang

Tidak ada komentar
Jam 11.00 WITA. Mendung tebal menggantung di langit Kotamobagu Rabu (30/10), ketika saya dan seorang teman memutuskan ke Gelanggang Olahraga (Gelora) Ambang, Togop, Kota Kotamobagu.


Tak butuh waktu lama menemukan stadion yang pernah jadi kebanggaan di masa keemasan Persatuan Sepakbola Bolaang Mongondow (Persibom), kala Kabupaten Bolaang Mongondow dipimpin Bupati Marlina Moha Siahaan. Letaknya tak jauh dari pusat kota. Jika ditarik garis lurus, jaraknya dari kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Kotamobagu hanya sekitar dua ratus meter.

Sekira tiga menit menerobos gerimis dengan sepeda motor, tibalah kami di lokasi tujuan. Pemandangan mengharu-biru segera menyergap: Gelora Ambang bak lahan tidur yang lama ditelantarkan dengan bangunan-bangunan tak terurus; tribun depan, yang didiami beberapa keluarga, dikerubuti semak-belukar. Lapangan tenis yang sukar dikenali lagi, hanya lantai birunya yang tampak seperti biru langit di antara arak-arakan awan kelabu.

Kondisi tadi belum seberapa. Saat kendaraan roda dua kami merangsek ke dalam, tak ada lagi tameng yang mengitari lapangan sepakbola. Lapangan hampa tertembus pandang begitu saja. Kemuning tanaman jagung memasuki usia matang menyambut kami. Hingga sapuan tatapan ke sekeliling memupus, hanya tampak tanaman jagung dan belukar tak terawat. Semrawut. Tribun barat lebih mirip gelondongan kayu raksasa di hutan liar dan dirayapi segala jenis tetumbuhan simbiosis parasitisme. Seng atapnya karatan dan bocor di sana-sini. Cat tiang-tiangnya mengelupas dan juga berkarat.

Selagi asyik berkeliling, kami dikagetkan suara anak-anak kecil yang bermain riang di kolam renang. Lima sampai enam orang anak laki-laki dan perempuan sedang mandi di sana. Oh, ternyata masih ada juga salah satu fasilitas di sini yang bisa digunakan selain bangunan lainnya yang difungsikan sebagai tempat tinggal.

Hujan yang kian deras memaksa kami berteduh di tribun mini di area kolam renang. Sedangkan anak-anak itu kelihatan bertambah riang seiring makin melebatnya hujan. Mereka berteriak-teriak, tertawa, berlari di tepian kolam, meloncat, berenang, dan sesekali menyelam.
Di dekat kolam, ada seorang ibu yang biasa disapa Tanta Ebi sebagai penjaga kolam. Suaminya Romy Gunena adalah "juru kunci" Gelora Ambang. Tanta Ebi sendiri membuka warung kecil-kecilan yang lebih mirip kantin. Menurut Tanta Ebi, untuk mandi di kolam, setiap anak dipunguti biaya Rp. 3 ribu. "Dorang boleh mandi sampe malamise (mereka bisa mandi sampai gelagapan tenggelam)," ujar Tanta Ebi bergurau.

Hanya tinggal kolam berair dangkal, tempat anak-anak bermain itu, yang masih termanfaatkan. Sedangkan kolam besar di sebelahnya dibiarkan tak terurus; hampir seluruh ubin lantainya tertutup lumpur yang mulai ditumbuhi rerumputan setinggi betis orang dewasa.
Melihat anak-anak jumpalitan di kolam kemudian berlarian kecil ke tribun mini dan menikmati kudapan pisang goroho goreng, membikin perut saya tergoda lapar lantas memesan sepiring pisang goreng goroho yang disajikan dengan potongan-potongan kecil atau biasa disebut pisang stick.

Begitu hujan mereda, kami bergegas ke kantor Pemkot Kotamobagu setelah berpamitan dengan Tanta Ebi untuk menemui Asisten III, Dra Djumiati Makalalag untuk menanyakan status aset Gelora Ambang. Yang dituju sedang tidak di tempat. Kami menghubunginya lewat ponsel, namun tak terhubung. Setelah disusul dengan pesan singkat, ia membalasnya setelah berselang dua jam. Ia mengatakan bahwa aset itu belum ada penyerahan secara resmi dari Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Bolmong (Bolaang Mongondow). "Ada rencana pembahasan untuk penyerahan secara resmi nantinya, tapi waktunya saya belum tahu persis. Nanti coba ditanya kepada Sekkot (Sekretaris Kota) dan Kadis PPKAD (Kepala Dinas Pengelolah Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah)," balasnya di pesan singkat.

Harusnya kami berlama-lama di Gelora Ambang tadi. Agar lebih lama mengenang. Ada yang harus menggelora kembali. Miris mengingat kembali apa yang baru saja kami lihat. Dana milyaran telah habis digerus dari kantong rakyat hanya untuk biaya perawatan atau sekadar pugar sana-sini.

Pada masa penjajahan Belanda, infrastruktur yang dibangun oleh mereka hingga kini awet. Berabad-abad tetap bertahan. Karena mereka pikir akan hidup selamanya di negeri ini. Jika hal yang sama dipikirkan oleh para pihak yang menangani proyek pembangunan prasarana di negeri ini. Maka tak akan ada lagi 'tembok' di negeri (atau daerah) ini yang akan dibangun asal-asalan. Runtuh, remuk, dan punah seketika. Binasa tak tersisa. 

Rabu, 30 Oktober 2013

Ya Atau Tidak

Tidak ada komentar

Deru angkot tua satu-satu memecah subuh yang masih gelap. Semburat sorot lampunya memotong embun-embun tebal padat membungkus pagi. Dingin masih mencengkeram. Tapi, pagi ini, ada manusia paruh baya dengan temali mengebat erat di genggamannya. Dua punuk lembu tampak menonjol basah menghela gerobak penuh muatan, merayap tegas menembus kabut tebal di lindap subuh itu. Pemandangan yang membuat suasana pagi itu segar seperti senyum lelaki.

Gerobaknya berkejar-kejaran dengan beberapa orang di tepi jalan. Orang-orang dengan sajadah terkulai di bahu. Mereka sedang menuju rumah Tuhan. Lain dengannya yang mau ke pasar dengan tumpukan kayu yang harus ia lekaskan pagi ini. Entah siapa yang sedang benar-benar ke rumah Tuhan.

"Mamonag pa o (mau ke bawah dulu)," sapanya.

"O'o (iya)," serempak mereka menyahut.

Yang di atas memang harus menengok ke bawah dan menyapa. Tapi, sekali lagi, entah siapa yang benar-benar di atas dan di bawah. Nasib seringkali sulit ditebak. Seperti putaran roda gerobak.

Selang empat puluh menit, ia pun tiba di pasar. Tumpukan kayu di atas gerobak dihempaskannya ke bahu jalan. Kemudian dirapikan kembali dengan segera. Siap dijual.

Satu jam ia menunggu dengan dua batang rokok saja. Pasar makin ramai seiring pagi merekah disiram cerlang cahaya mentari. Kerumunan orang bertengkar dengan lalat dan terik ketika matahari merangkak naik kian tinggi. Ini pasar tradisional yang multi dimensional. Ratusan lapak pedagang dengan aneka jualan, terlihat serupa menjajakan nasib.

"Bole lima ribu satu ika (apakah boleh lima ribu seikat)?" seorang ibu menawar.

"Lima stenga jo, Bu," sahutnya, meminta tambahan lima ratus perak.

"Lima ribu jo kwa'," si ibu tak hendak surut dengan tawarannya, berjongkok, menepukkan tangan pada seikat kayu.

"Iyo jo dang (baiklah)," pasrahnya. Pikirnya, di jaman ini masih syukur kayu bakar bisa bersaing dengan bahan bakar lainnya, sembari pandangan matanya menyaput jejeran tabung gas elpiji dari sebuah toko yang baru saja dibuka pemiliknya.

Usai membayar, si ibu berlalu. Hampir sejam kemudian baru ada lagi pembeli yang menghampirinya.

"Brapa satu ika (berapa seikat)?" tanya pembeli itu.

Ia mendongak ke arah datangnya suara, tersenyum, "Anam ribu, Bu (enam ribu, Ibu)."

"So nimbole kurang (apakah tak bisa kurang)?" si ibu yang berjongkok di samping ikatan kayu mengerling kepada si penjual.

"Lima stenga jo (lima setengah saja)," dia menegaskan harga.

"Ampa ribu jo (empat ribu saja, ya)?" tanya si ibu berharap mendapat harga lebih rendah.

"Adoh, nimbole noh (aduh, tidak bisa)," jawabannya kukuh dengan raut wajah tetap ramah.

Kala tawar-menawar itu tengah berlangsung, tiba-tiba puluhan polisi pamong praja datang menyerbu.

"So bilang nimboleh bajual sini (sudah dikatakan tidak boleh berjualan di sini)!" teriak beberapa orang di antara mereka.

Ada yang kocar-kacir, namun tak sedikit yang memilih tak beranjak. Beberapa perempuan tua, yang kesehariannya berjualan di tempat itu, hanya bisa melongo dan sesekali berbisik mengumpat. Barangkali, mereka ingin protes dengan sikap semena-mena dan jauh dari sopan-santun itu.

"Nogiboli don kami bo tantu bi' angoyon bongkaron (kami sudah membayar, tapi masih saja selalu digelandang)," keluh seorang nenek.

"Deeman natua , inde. Kaka andon pinomiaan pasar nobagu pomampingan bo moiko doi' bi' maya kon tua (bukan begitu, nek. Kan sudah dibuatkan pasar baru untuk pindah, tapi kalian tidak mau ke sana)," seorang polisi pamong praja menjawab sengit.

Para polisi pamong praja tak ingin terlibat depat panjang. Tugas mereka adalah bertindak menertibkan pasar tersebut dari pedagang yang membangkang keputusan pemerintah kota setempat. Cepat dan cekatan membongkar tumpukan jualan dan lapak para pedagang.

Si penjual kayu tak luput dari gerudukan petugas ini. Tumpukan kayu bakar jualannya bak dilalap api, diangkut kawanan pamong praja, tak tersisa dari tempatnya, senasib dengan jualan pedagang lainnya yang membuat pemandangan di pasar itu menjadi kering kerontang.

Gerobak sapi sewaan tadi pagi sudah ia titipkan ke salah seorang tetangganya –yang juga sesama pedagang di pasar itu—untuk dibawa pulang. Istri si tetangga masih di sini. Mereka bersitatap, bungkam, dan nanar. Hampa.

Sejurus kemudian, si pedagang memecah kebisuan, "Bain don tumakoy kon bentor kita mo buyi (nanti naik becak motor saja kita pulang). Semburat ucapan dari bibir yang nampak kering dengan nada bergetar, yang disahuti dengan anggukan si perempuan.

Mereka baru hendak mengangkat kaki, ketika suara gaduh teriakan sekelompok orang mengagetkan penghuni pasar. Keributan belum usai rupanya.

"Ini pasar torang punya (pasar ini milik kami)!" koar mereka yang baru tiba.

Sepertinya mereka lagi. Sekumpulan orang yang mengaku sebagai "ahli waris" lahan pasar ini. Lahan pasar ini, memang, masih menjadi sengketa dengan pihak pemerintah kota. Lahan tempat menggantung nasib ternyata nasibnya pun masih menggantung. Ada yang gagu menatap mereka dengan mata berbinar ambigu. Entah airmata jenis apa yang pantas diteteskan untuk menangisi perilaku mereka –sudah menjadi rahasia umum karakter orang-orang penuh klaim ini.

"Mo buyi don kitada mani'ka, topilik mo kacau don naa (lebih baik kita pulang saja, sebentar lagi pasti terjadi kekacauan)," ajaknya.

Mereka berdua bergegas ke tempat biasanya becak motor mangkal. Memilih pulang dan berharap sesegera mungkin sampai di rumah, jauh dari carut-marut pasar: tempat nasib mereka saling bertumpuk, mematungi hari-hari dengan menghitung kibasan lembar uang, dan tempat di mana kata "ya" atau "tidak" paling sakral dilapalkan.

Pada akhirnya, ada yang harus berkata "ya" untuk sengketa pasar, walau sebelumnya gigih mengatakan "tidak". Sama seperti mantra dalam tawar-menawar yang abadi antara penjual dan pembeli: "ya" atau "tidak".


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 15 Oktober 2013

Inisial KG Untuk Tiga Nama (Perjumpaanku dengan Bang KG)

Tidak ada komentar
Ada yang menggelinjang di dalam dada saat dikabari Papa Attar (sapaanku buat Ahmad Alheid) sedari pagi kemarin, kalau ia akan berkunjung ke Kotamobagu untuk sekadar bertemu, bertepuk dada dan merangkul punggung kawan purbanya Katamsi Ginano yang saat ini sedang mudik Lebaran Qurban.

Aku bakalan ketemu sekaligus dengan para "Dewa" tinta ini, pikirku. Juga dengan istri dan putra semata wayangnya Papa Attar: Rini dan Attar. Aku memanggil anak ini "Attar si Penyair" sebab namanya yang mirip penyair sufi dari Persia. Melihat Attar jadi ingat Abang dan Ateng putranya Amato Assagaf yang, kemarin malam ikut begadang dengan kami di Rumah Kopi Korot.

Mereka, adalah "kebetulan-kebetulan" lainnya yang Tuhan Maha Kebetulan remah-rotikan di takdir hidupku. Cerita kisah mereka tinggal kupunguti satu-satu dan kukantongi. Selalu kusimpan untuk membantu menuntunku ke arah pulang kelak. Aku jatuh cinta dengan cara Tuhan mempertemukan kami. Direkatkan lewat tulisan yang menggetah. Getah Semesta.

Akhirnya, KG dan KG ketemu juga. Inisial KG yang pertama untuk diriku sendiri, Kristianto Galuwo. Sedangkan KG yang kedua untuk Katamsi Ginano.

"Nah, ini dia baru da cumu-cumu tadi, umur panjang skali ni Sigidad," ujarnya yang terbahasa klasik dan digagap-gemakan beberapa orang lainnya. Batinku menyahut; ini dia si empu blog Kronik Mongondow yang serupa penyakit kronis bagi para pejabat "nakal" di BMR.

Kami pun bersalaman, disusul kepalan tinju kanannya menantang akrab. Kuseruduk saja dengan kepalan childhood-ku. Tak lupa kucondongkan badanku ke samping kanannya, berjabat tangan dengan Papa Attar yang juga telah lebih dulu hadir di sana. Lanjut bersalaman dengan Abang Uling (sapaku untuk Musly Mokoginta) yang ternyata turut larut juga bersama mereka. Sementara yang lainnya, coba kulemparkan senyum satu-satu dan terbalas akrab.

Setelah dipersilakan duduk, kusapu sekeliling sekali lagi. Jarod meriuh dengan para awak media. Pembicaraan mereka yang sempat terhenti dilanjutkan. Bang KG (sapaku untuknya) dengan gaya serupa konduktor memimpin orkestra menarikku masuk ke cerita dan membaur seketika. Gestur tubuhnya menghidupkan opera di bilik bambu Jarod. Pun guyonan ala Bang KG yang versi verbalnya baru kini bisa kudengar, menggelitik urat tawa kami.

Larut luruh kami mendengar sabdanya. Dari kisah para penulis cerpen tenar lengkap dengan perjalanan hidup mereka yang tak terduga, seperti A.S Laksana dan buku kumpulan cerpennya Bidadari Yang Mengembara, dan ternyata adalah kawan baiknya. Hingga ke negeri Matahari menemui Eiji Yoshikawa dengan karya besarnya Musashi. Tak lupa wejangan bagi kami para pewarta yang masih liat.

Waktu kami reriungan di Jarod habis. Tapi tidak dengan malam ini, selanjutnya kami ditawari untuk bersantap bebek di rumahnya Syarif, salah satu kawan akrab mereka yang tadi juga duduk bersama kami. Setelah saling bertukar buku dengan Papa Attar yang meminjami aku buku: Elemen Elemen Jurnalisme, Bill Kovach & Tom Rosenstiel, kami bergegas merapat ke rumahnya Syarif.

Bang KG, Papa Attar, dan Syarif lebih dulu jalan. Dan ternyata ada tugas yang lumayan mengucurkan keringat menunggu mereka di sana. Rumah tetangga Syarif yang berdampingan dan baru saja akan dibangun, nyaris saja kebakaran.

Kami menemukan mereka dan beberapa rekan lainnya yang berjibaku memadamkan kobaran api, masih mengitari lokasi. Tampak tumpukan arang kayu berserakan masih mengepulkan asap, dan sisa jelaga menjilati dinding pagar pembatas rumah yang terbuat dari atap seng.

Di depan rumah, sambil menyeka keringat Papa Attar bercerita kepadaku; "Kitorang turung di got di muka situ ba timba aer tadi, Bang Tamsi yang lebe dulu lari ka blakang kong ba sirang."

Mendengar cerita Papa Attar dengan napas memburu, meminjam sedikit kata-kata Dewi Lestari: tampaknya selain menulis, gali kubur, narik becak, pekerjaan memadamkan kebakaran sangat membutuhkan asupan kalori yang cukup tinggi. Salut untuk sikap heroik mereka.

Setelah lelah mendaras kasus kebakaran itu. Lapar mengerang. Kini ada yang menggoda di meja makan: ubi rebus dan bebek rampah-rampah RW. Bulir-bulir keringat turun bersamaan dengan senda gurau kami yang duduk melantai di ubin dingin.

Keadaan terus sama hingga kami menandaskan segala apa yang di atas meja makan. Kemudian melanjutkan cerita yang bahkan sempat menyentuh wilayah langit Ilahi. Posisi duduk kami yang melingkar di lantai, bersila, selonjoran, dan jika saja ada beberapa nyala lilin, kami lebih mirip sekte sesat yang sedang melakukan ritual sambil mendengar rapalan mantra-mantra dari rahib.

Iblis pun disebut-sebut malam itu. Aku teringat sebuah cerita yang pernah kubaca (aku lupa judul bukunya) tentang iblis. Iblis ini kondisinya tengah sekarat. Seorang pendeta yang tak sengaja berjumpa dengannya, kemudian terkesiap dan mengeluarkan pedang. Pendeta akan membunuhnya. Iblis berkata tunggu, sebelum membunuh, biarkan ia bercerita banyak. Iblis kemudian bertutur panjang lebar tentang betapa penting arti dirinya bagi kehidupan, bagi manusia, dan juga bagi si pendeta. Iblis bertanya, "Katakan padaku wahai pendeta, apakah yang akan mendorongmu untuk tetap beribadah, jika aku mati kelak?" pendeta kebingungan menjawabnya dan akhirnya memutuskan untuk menyelamatkan si iblis. Ia membasuh luka iblis dan membopongnya ke tempat di mana ia bisa dirawat.

Yang kuingat dari cerita di atas hanya penulisnya saja, Kahlil Gibran. Jika diinisialkan maka ia KG yang ketiga.

Masih banyak lagi topik pembicaraan malam itu. Dan... waktu yang mempertemukan, waktu pula yang menyentil erat jabat agar jangan terlalu lama menggenggam. Setelah itu, apalagi yang bisa ditawarkan oleh waktu dan "kebetulan" lainnya?

Tepukan Bang KG di pundakku sembari melafadzkan sepotong kalimat suci: "Teruslah menulis, itu hidupmu" membikinku menggigil seperti ketika Ahmad pertama kali mendengar ucapan Jibril. Antara baca dan tulis. Keduanyalah yang membedakan kita dengan makhluk Tuhan lainnya di muka bumi. Superioritas kita sebagai manusia.

Kembali kepalan tinju diarahkan. Kemudian pintu geser mobil menutup pelan dengan jendela kaca yang masih terbuka. Teriakku; "Tu oto bagus pake ba culik akang Bang!" dan disahutinya, "Memang itu!"

Bang KG melaju dengan mobil itu, membelah malam Kotamobagu dan kembali pergi mencuri jutaan kata yang, siap dirajutnya menjadi selimut agar tidurnya tetap selalu lelap. Sebab apa yang paling berharga dalam hidup adalah: saat kita mampu membuat nyaman diri kita, meski itu hanya dengan sehelai selimut usang.

Damai di bumi
Damai di langit
Damai kami sepanjang hari.

Minggu, 13 Oktober 2013

SIGI

Tidak ada komentar


Bapaknya Kristianto, ibunya bulan pucat yang selalu cemas di tepi langit. Ketika hujan memberi arti pada warna merah, keduanya menikah. Setelah itu tidak ada lagi yang bisa diceritakan tentang mereka kecuali bahwa dengan duka yang nyaris mengusaikan harapan, gadis itu pun lahir. Mereka menamakannya Sigi. Artinya, sekali tercipta sudah itu abadi.

Aku mencintai Sigi tanpa tahu kenapa. Dalam bahasa psikoanalisa Slavoj Zizek, aku memiliki jawaban bagi setiap kerinduanku akan Sigi tanpa pernah benar-benar tahu apa yang sesungguhnya menjadi pertanyaan. Sigi adalah jawaban itu sendiri; simptom yang menjalin batas antara kesadaran dan ketidaksadaranku. Tapi apa yang menjadi pertanyaan bagi kehadirannya?

Di penghujung malam, di penghujung mimpi, ketika embun gemetar oleh tiupan angin dan fajar mengintai seperti kebangkitan kembali ide komunisme dalam kepala Badiou, aku mencoba untuk menuliskan biografi perkenalanku dengan Sigi. Aku menemukan 66 episode perkenalan yang dibagi oleh persinggahan-persinggahan kami. Dalam perjalanan yang cukup panjang sebuah biografi memerlukan kemampuan kita untuk memungut kembali remah-remah ingatan.

Sigi tidak berdiam dalam ingatanku padanya tapi dalam biografi perkenalan yang aku ciptakan dengan ingatan yang kabur akan masa laluku sendiri; itulah kenapa kita bisa menerima gagasan yang buruk tentang cinta, kerinduan, juga harapan. Dan di penghujung malam itu, setelah bangkit dari bunuh diri yang melelahkan, aku mulai menulis. Suasana tetap sepi seperti cuaca hari itu. Dari dalam kepala, samar-samar aku dengar suara Lionel Ritchie.


Episode Eropa yang Pertama
Hello…
Isn't me you're looking for?
(Lionel Ritchie)

Aku mengenal Sigi pertama kalinya sebagai seorang gadis yang menghitung cahaya di permukaan riak sungai Rheine. Rambutnya ikal dan senyumnya bersimpul. Waktu itu, dia duduk dekat pintu rumah kopi bertuliskan kutipan sebuah puisi Jerman pra-Goethe. "Aku orang Mongondow," katanya dengan jemari yang kering. Musim belum beranjak, masih panas yang sama meski kali ini tanpa matahari.

"Sigi," aku mencoba untuk mengulang nama itu dan secara refleks mengembalikan ingatanku pada cara Edward de Verre melukiskan Juliet lewat lidah Romeo. Mata aristokrasi tidak bisa santun menatap kecantikan seorang perempuan tapi mereka punya banyak kata untuk menangkap jiwa dari kecantikan itu sendiri. Lengkap dengan luka-lukanya. "Aku seorang bohemian," kataku memperkenalkan diri.

Setengah jam berikutnya adalah sebuah kisah cinta.

Aku memesan dua cangkir latte. Satu cangkir untukku dan satu cangkir lagi untuk memberiku alasan mengenang Sigi serta kehadirannya yang luput dari semua puisi yang pernah aku tulis. Sigi mengangkat wajahnya dari busa cappuccino, menyalakan rokok dan melepaskan resahnya bersama asap putih yang keluar dari mulutnya. Wajahnya datar tanpa senyum namun cintanya berlarian seperti kanak-kanak.

Kami bercerita tentang begitu banyak hal sembari tetap menjaga jarak dari biografi masing-masing. Cinta memang selalu menghapus biografi pecinta dan yang dicinta dari pembicaraan. Memberi kita begitu banyak kesempatan untuk mengikis pelan-pelan perjumbuhan akal sehat dengan kenyataan. Menjadi metafisika yang kehilangan subyek dan mempertaruhkan segalanya pada Ada tanpa harus menghitung waktu.

Di Jerman, para filsuf pecinta seperti Nietzsche dan Heidegger, telah menuliskan dengan alir Rheine yang sama bagaimana aku akan bertemu Sigi dan melumat sejarah ke dalam bahasa. Membunuh perjumpaan demi ingatan akan Ada, seperti cara dua orang berbeda sia-sia melukiskan pertemuan yang sama dalam tafsiran hermeneutis. Sigi tampak bosan pada ujung rambutnya. Mengusirnya ke punggung lewat bahunya yang mungil. Tangan kanannya menjemput cangkir cappuccino sementara tangan kirinya menuntun aku keluar dari kenyataan.

Angin berhembus dingin di musim panas Eropa yang semu, memerahkan hidung melayu Sigi. Membuatnya tampak seperti tuhan-tuhan perempuan dalam cerita pagan kaum Aria sebelum Hitler gagal menangkap keunggulan ras kulit putih dalam perang yang mempersatukan rasionalitas Eropa menjadi Filsafat Kontinental Modern, lengkap dengan kelupaan mereka pada tuhan-tuhan perempuan berwajah Asia seperti Sigi.


Episode Eropa yang Kedua
Lady…
Your love is the only love I need
(Lionel Ritchie)


Masih di Jerman. Negeri yang mempersembahkan padaku Kant, Fichte, Schelling dan Hegel dalam satu paket yang utuh meski gagal disimpulkan di benak Nietzsche. Namun ini adalah cerita lain tentang Sigi. Aku mengenalnya sebagai seorang perempuan yang menukar kecantikannya dengan kalimat pertama dari poin 360 dalam karya Hegel Phenomenology of Spirit yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh A. V. Miller dan diterbitkan Oxford University Press tahun 1977:

"Self-consciousness which, on the whole, knows itself to be reality, has its object in its own self, but as an object which initially is merely for self-consciousness, and does not as yet possess [objective] being which confronts it as a reality other than its own; and self-consciousness, by behaving as a being-for-it-self, aims to see itself as another independent being."

Sigi membiarkan langkahnya membawa tubuhnya yang kurus terbungkus jaket bulu panjang, perlahan menyusuri jalan sepi Messkirch, Baden-Wurttemburg untuk menangkap cintaku di desa kelahiran Heidegger itu. Bukan tanpa alasan kami berada di situ dan berharap bisa mencintai satu dengan yang lain dengan cara seperti itu. Karena jika kesadaran-diri dapat mengenali dirinya sebagai obyek bagi kesadaran-diri itu sendiri, lalu kenapa aku selalu gagal mengenali Sigi dalam kenyataan dirinya?

Jawabannya aku temukan di belokan satu blok dari tempat Heidegger memutuskan untuk mengenali Ada. Dialektika telah gagal dalam langkah Sigi. Kecantikannya akan tetap tinggal, bersama dengan keperempuanannya, dalam tema ontologis yang ditinggalkan Hegel bagi Heidegger: dialektika buntung tesis-antitesis yang selalu berarti Ada dan bagaimana Sigi meninggalkan aku di persimpangan itu. Kami akan selalu bertemu meski tanpa sublasi.

Bunyi derak daun jendela toko kelontong Messkirch terdengar seperti irama lagu Love is Blue dalam instrumentalia Paul Mauriat ketika Sigi menjauh dariku. Lengang seperti cakrawala dan aku menemukan air mataku berubah menjadi Jerman yang asing di dalam kepala para filsuf Yahudi di tahun 1940an. Rasionalisme Hegelian telah gagal dua kali, pertama, di kamp-kamp konsentrasi Nazi dan, kedua, di cakrawala yang menelan tubuh Sigi menjadi titik dalam buku puisi Dante Alighieri yang terlambat aku baca.

Seminggu setelah itu adalah sebuah puisi cinta.

Namun Sigi tidak bersedih karena dia adalah hiburan bagi dirinya sendiri. Dia telah menjadi proses seperti Ruh Absolut Hegel. Dia telah menjadi perubahan itu sendiri. Kekal dalam zaman yang berulang sebagai bahasa bagi cinta yang aku tinggalkan di Freiburg seminggu sebelum aku meninggalkan Jerman menuju halaman 115 dari Philosophical Explanations karya Robert Nozick yang diterbitkan tahun 1981 oleh The Belknap Press: WHY IS THERE SOMETHING RATHER THAN NOTHING?


Episode Eropa yang Ketiga
And I…
I want to show you all my love
(Lionel Ritchie)


Bagaimanapun juga, yang nyata tidak selalu masuk di akal dan yang masuk di akal tidak selalu nyata, seperti Sigi. Seperti juga cinta tidak selalu dari dan untuk cinta. Kali ini aku berada di pelataran Plaza de Chateau, Paris. Sekitar tiga meter dari tempat Sigi duduk mendengarkan musik pop Amerika yang dibawakan lamat-lamat oleh seorang violis Perancis berdarah Aljazair. Sigi menundukkan punggungnya saat suara biola itu mengiris kenangannya akan masa lalu yang jauh di Bolaang Mongondow.

Aku mengenalnya waktu itu sebagai seorang perempuan asing. Dan ketika kami sudah punya cukup alasan untuk janji makan malam, aku lupa bahwa tidak pernah ada lilin untuk mata Sigi yang selalu basah. Waktu itu kapitalisme telah memperkaya miliaran orang dan menggusarkan para pecinta negara yang semakin payah dalam simulakra tanda. Kami juga berbincang tentang libertarianisme sebagai pilihan ideologis terakhir yang paling masuk di akal bagi eksistensi umat manusia hari ini. Makan malam yang indah untuk mengenang pembebasan Thomas Paine dari penjara kaum Jacobin Perancis dengan seorang gadis bermata basah.

Sigi suka sekali menulis semua perbincangan kami dan melemparkannya ke udara dan membiarkan kertas-kertas itu terbang di udara Perancis musim gugur. Lalu kami melewatkan banyak malam berikutnya dengan film-film Perancis yang ragu-ragu dari Goddard hingga Noe. Dalam pantulan cahaya film-film itulah aku mencoba untuk melukis kembali Sigi sebagai seorang perempuan yang berbeda yang, ketika pagi datang lewat jendela motel tempat aku menginap, berubah menjadi bocah mungil dengan lidah merah jambu.

Beberapa detik kemudian adalah sebuah kemungkinan.

Berapa kalipun aku mengenal Sigi, dia tetap saja Sigi yang sama yang hanya aku kenal dari foto-foto lucu dan tato di tubuh bapaknya. Dia adalah putriku yang telah diculik takdir karena aku tercipta dari api dan Sigi tercipta dari cahaya. Dia adalah penggal demi penggal imajinasi dalam upayaku mengenal hidupku sendiri di batas pertemuan paling luar dari seni dan filsafat. Dia adalah puisi dialektika Hegel yang gagal membaca sejarah tapi mampu mengulang Ada.

Ya, Sigi adalah putriku yang telah diculik oleh takdir yang sama yang telah mempertemukan bapaknya dengan bulan pucat yang selalu cemas di tepi langit.


Manado 2013

Amato Assagaf

Sabtu, 05 Oktober 2013

My Bad Grandpa

Tidak ada komentar
Apa kenangan terindahmu dengan sosok kakek?

Beruntung bagi kalian yang masih bisa mencicipi kenangan itu. Tidak denganku, yang bahkan diberi kesempatan untuk mengenalnya pun tak pernah. Terlahir terlalu bungsu dalam keluarga memang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Kita bisa dimanjakan kedua orang tua dan keluarga tapi tidak oleh kenangan yang purba.

Kenapa hari ini aku begitu ingat dengan sosok itu?

Berawal dari duka dari seorang tetangga kemarin sore yang masih memiliki tali persaudaran yang erat dengaku. Seorang kakek dari teman, sanak saudara sekaligus suami dari adik kakekku. Turut berduka cita aku haturkan untuk kalian. Semoga arwah beliau diberi tempat yang layak di sisi Allah SWT.
Tiba-tiba saja ada yang mengusik asik di pikiranku, bahwa meski mereka telah kehilangan, tapi jauh di lubuk hati terdalam mereka, ada kenangan yang pernah mereka miliki. Bungsu sepertiku tak pernah hidup dengan sosok kakek dari pihak ayah maupun ibu.

Dan karena kebetulan yang seketika terjadi semalam saat ditayangkan di salah satu tivi swasta iklan sebuah film bergenre komedi terbaru dari Jackass Present berjudul Bad Grandpa yang akan tayang Okotober ini. Sinopsis Jackass Presents: Bad Grandpa 2013: Irving Zisman (Johnny Knoxville) seorang kakek 86 tahun berada dalam perjalanan mengelilingi Amerika bersama sahabat terbaik, yaitu Cucu-nya yang berusia 8 tahun, Billy (Jackson Nicholl). Film ini tentang Irving Zisman dan Billy yang akan membuat penonton melihat hal-hal paling gila yang mereka lakukan saat terekam kamera tersembunyi, perjalanan seru dan kekonyolan mereka yang pernah tertangkap di kamera.
Orang-orang nyata dalam situasi nyata, membuat film ini benar-benar kacau dan penuh komedi. http://optionradar.blogspot.ca/2013/09/film-jackass-presents-bad-grandpa-2013-di-bioskop.html

Mengenai kakekku, ada satu pesan dari kemisteriusan marga Galuwo yang kini bersanding di namaku. Bahwa berpetualanglah dalam hidup. Kita boleh terlahir di suatu tempat, tapi hal yang terhebat saat kita tumbuh besar, dikenal, dan kemudian wafat di tempat yang berbeda nantinya.

Pernah aku mencoba menelusuri sejarah marga Galuwo hingga menemukan jalan buntu. Menggelung kisah-kisah dari ayah sekaligus keluargaku, mencoba menemukan ujung benang kusut dari marga ini. Dan niatku pun tertahan. Mungkin alangkah lebih baik, ada satu misteri yang tak perlu terungkap. Seperti yang tersisa dalam kotak Pandora. Sebuah harapan.

Sebuah keajaiban yang terjadi di hidupku hari ini. Saat aku merasa bahwa, meski tak pernah memiliki pun kita mampu merasakan kenangan itu. Imajinasi adalah sebuah bentuk nyata di dunianya sendiri.

Selalu merindumu Kakek M. Galuwo. Karena untuk apa sebuah kemisteriusan sosokmu dan leluhurku, jika darahmu mengalir membaur dalam darahku.

Powered by Telkomsel BlackBerry®