Rabu, 24 Februari 2016

Misteri Trailer AADC2

Tidak ada komentar
Cinta dan Rangga di AADC2 (sumber www.mampoo.com)
resah di dadamu
dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini
dipisah kata-kata
begitu pula rindu

lihat tanda tanya itu
jurang antara kebodohan dan keinginanku
memilikimu sekali lagi

Rengsa suara Rangga tatkala membacai bait-bait puisi itu. Ada sebuah rindu yang ia pendam dan terus mengait di dadanya. Ada sebuah resah yang harus ia tebus. M Aan Mansyur, sukses merekatkan puisi itu dengan rahasia-rahasia yang berdiam jauh di dalam sepasang mata Rangga. Mata yang selalu siap memendam apa saja. Bahkan rindu yang telah beratus-ratus purnama.

7 Februari 2002, film Ada Apa Dengan Cinta 1 (AADC1) menggetarkan dada para pujangga. Puisi-puisi menjadi kalung mutiara di setiap helai surat cinta. Muda-mudi membacai Chairil Anwar, melafadzkan bait-bait Aku, dan coba menjadi semirip Rangga ataupun Cinta. Rako Prijanto jadi bintang baru di daftar para penyair. Film itu, menggali kembali masa-masa keemasan para penyair.

Dalam mini drama yang diproduksi Line 2014, setelah 12 tahun menanti, para penyanjung AADC seperti menemui cenayang, yang meramalkan seperti apa kelanjutan kisah Cinta dan Rangga. Di New York, Rangga digambarkan seperti seorang jurnalis mapan. Ia melintas dengan visual sedang mewawancara, mencatat, dan memotret. Tinggal di apartemen berkelas, ia terlihat segar dan kekar. Jauh dari sosoknya di AADC1.

Entah kenapa, Rangga yang individualis, sosok penyendiri, dan pendiam, tiba-tiba menjadi jurnalis, yang jelas saja sangat bertolak belakang dari sifat-sifatnya saat di AADC1. Sukar menemu seorang jurnalis yang pendiam, penyendiri, dan suka memandang sinis. Tapi bisa jadi, New York telah menempa Rangga menjadi seperti itu.

Adegan Cinta sendiri, tampak  sibuk dengan komputer di meja kerja, kertas-kertas bertumpukan, dan helai demi helai gambar bertebaran. Mengisyaratkan, ia seperti sedang menjadi redaktur di salah satu majalah ternama. Tapi, perannya sangat tampak, bahwa ia seorang perempuan yang terlalu fokus dengan karir. Meski memang pekerjaannya tak jauh beda saat mengurusi mading di sekolah. Teman-temannya pun tampak seperti wanita-wanita karir. Saat mereka reriungan, terlihat seperti ibu-ibu muda metropolitan yang sedang arisan. Mereka anggun dengan riasan tebal dan kening yang kekinian. Juga dengan kalung-kalung berjuntai mengkilat.

Sebagian penggemar ada yang lebih sepakat bahwa AADC2 nanti, harusnya seperti visualisasi di mini drama itu. Rangga harus keliatan mapan dengan penampilan rapi. Ada pula yang bilang, di trailer singkat AADC2 yang ditayangkan Miles Films di youtube, Rangga terlihat lusuh. Meskipun mini drama Line menjadi trigger, tapi saya pikir Riri Reza cukup tahu, seperti apa imajinasi para penyajung AADC.

Saya cenderung lebih suka melihat Rangga yang lusuh. Meski sebenarnya, saya yang seorang jurnalis, juga agak setuju ketika Rangga menjadi jurnalis. Tapi, kemisteriusan dalam trailer singkat itu, menggelitik tanya; apakah Rangga menjadi seorang penulis atau penyair? Dan bisa pula, Rangga memang tidak menjadi apa apa. Ia hanya seorang pengangguran lulusan salah satu universitas di Brooklyn, New York.

Pada Video Diary yang dirilis Miles Films pun, Rangga hanya tampak berjalan di antara salju yang tak disangka-sangka turun saat syuting. Sebuah anugerah kata Mira Lesmana. Salju yang menambah ruh dalam potongan demi potongan adegan. Butiran-butiran salju seakan merangkul kesendirian Rangga. Rambutnya yang menggulung, menangkapi satu per satu butir salju, membawanya pulang untuk dijadikan sebait puisi. Bukan kah puisi, kerap kali hadir pada sosok-sosok seperti Rangga?

Cinta pun saat syuting di Yogyakarta, dengan rambut panjang berponi, juga dengan gaya berjalan yang kerap bergegas, sangat membaui karakter Cinta saat masih di AADC1. Sekali lagi, Riri Reza cukup kenal dengan mereka berdua. Ia tahu apa yang diinginkan para penonton setia AADC. Trailer Miles Films dan Video Diary, meski misterius, tapi ada jejak-jejak yang lampau di sana.

Dan jika benar Rangga akan menjadi penulis, mungkin saja kepulangannya ke Indonesia, karena ingin riset untuk penulisan sebuah novel. Kalau pun jadi penyair, bisa juga ia hendak ke Yogyakarta, karena ingin bertemu teman-teman penyair, yang kebetulan berkenalan dengannya lewat jejaring sosial. Namun di balik itu, tetap saja alasan terbesarnya, Cinta.

Cinta, jangan-jangan menjadi jurnalis? Seperti ramalan Puthut EA. Saya pun setuju jika cinta yang jadi jurnalis, biar rasa bangga menjadi seorang jurnalis, lebih terasa. Setidaknya, passion kita sama Cinta.

Tapi, untuk AADC2 kali ini, mau jadi apapun Rangga sama Cinta, mengutip perkataan teman saya, asalkan Dian Sastro masih tetap ada. Dan itu adalah kerinduan terbesar, jauh melebihi rasa rindu Rangga di antara ratusan purnama yang telah ia lewati.

Semoga, KPI tidak menyensor adegan yang telah "membandarakan" hati para penyanjung AADC.

Senin, 22 Februari 2016

Catatan Terakhir dari Ekspedisi Gembira ke Batui

Tidak ada komentar
Kusali, tempat prosesi adat digelar
"Mari makan," ajak seorang ibu di salah satu pondok bambu yang saya lewati.

"Terima kasih, masih kenyang ibu," saya tersenyum, sembari melanjutkan memotret aktifitas di tempat yang mereka namai dapur umum.

Puluhan ibu itu, seperti hasil kloningan dari ibu saya sendiri. Mereka sangat ramah, penuh tawa, dan suka mengajak makan. Etos gotong royong yang mereka miliki cukup purba dan terus bertahan.

Di Kusali, tempat berlangsungnya ritual Monsawe yakni ritual puncak usai Tumpe (prosesi pengantaran telur Maleo), pondok-pondok melingkar-rangkul bangunan yang serupa masjid. Bangunan itu tempat digelarnya ritual. Ada sekitar belasan pondok yang dibangun dari papan kayu, namun bagi yang tidak mendapat bagian di pondok kayu, mereka mendirikan pondok-pondok bambu dan tenda.

Kawan saya, Christopel Paino, yang juga turut bersama dengan kami ke Batui pada awal tahun, menuliskan soal asal usul ritual itu, dengan sangat jelas di artikel ini. Saya tinggal menceritakan pengalaman ketika melihat jalannya ritual.

Setelah lelah berkeliling Kusali, saya rebah sejenak, di pondok keluarga kawan saya Rahmad Samadi. Ia warga Batui, yang menjadi karib saat reriungan di Kedai Kopi Maksoed. Ia pula yang mengajak kami melihat berlangsungnya prosesi adat yang digelar sekali dalam setahun ini.

Dan... kemudian saya pun terlelap.

Duuuunnnnggg. Duuuunnnngggg. Suara mendengung terdengar sayup-sayup. Riuh orang lalu-lalang pun berdengung serupa sekumpulan lebah. Saya sedang bermimpi. Sampai ketika mata saya terbuka, ternyata suara yang masuk ke alam bawah sadar saya, berasal dari dalam bangunan yang serupa masjid itu. Ini nyata.

"Sudah dimulai?" tanya saya kepada kakak perempuan Rahmad.

"Iya, baru dimulai," jawabnya.

Pondok yang ditempati keluarga kawan saya, Rahmad Samadi
Saya melirik jam di ponsel. Sudah pukul 11 malam. Saya bergegas menuju tempat ritual, yang sebenarnya hanya berjarak sekitar 7 meter dari pondok. Saat masuk ke dalam, bunyi gong yang ditabuh, memenuhi seisi ruangan. Gemuruh dua kalimat syahadat selaras dengan ketukan-ketukan gong. Meski memakai jaket, dingin tetap merangkul.

Di ritual ini, kabarnya nanti ada beberapa orang dari berbagai usia, yang akan dibuai oleh roh leluhur, yang mereka sebut tontembang, bukan kemasukan yang lebih berkonotasi pada roh jahat. Saya menunggu dengan degup jantung yang ritmenya tak lagi beraturan. Sepuluh menit kemudian, dua orang nenek di samping sebuah altar, tubuhnya mulai bergetar. Dalam posisi bersila, keduanya seperti sedang dibuai. Tubuh mereka bergoncang mengikuti irama gong dan syahadat.

"Itu sudah tontembang?" tanya saya penasaran, pada seorang perempuan di samping saya.

"Iya, sudah."

"Apakah pernah ada anak-anak yang tontembang?"

"Iya, ada. Biasanya yang anak-anak hanya bermain."

"Terus, hanya orang asli Batui yang bisa tontembang?" saya jadi seperti seorang reporter, yang terus mengejar dengan pentanyaan-pertanyaan. Saya ingin memastikan, apakah pengunjung seperti saya, bisa juga kemasukan.

"Tidak juga, pernah ada pendatang," jawabnya.

Jawabannya itu, membikin saya merinding. Tapi karena gemuruh syahadat, rinding perlahan berubah menjadi haru. Nuansa islami sangat terasa. Satu per satu, dari yang muda hingga renta, mulai tertarik masuk ke dalam pusaran syahadat. Tubuh mereka satu per satu dirasuki roh-roh leluhur. Kain berwarna merah menutupi pundak, sebagai penanda bahwa lima pancaindra mereka telah dikendalikan roh. Beberapa orang ibu yang tontembang, sembari gemulai menari, berjalan keluar beriringan untuk mengambil air wudhu.

"Itu, yang keluar ambil wudhu, masih tontembang?"

"Iya, nanti mereka masuk kembali," jawabnya. Tak tergurat sedikit pun kesal di wajahnya, saat meladeni setiap pertanyaan-pertanyaan saya.

"Terus, bagaimana jika yang masuk nanti roh jahat?"

"Ada yang bisa mengusir, nanti ditanyai, kalau memang bukan roh leluhur, pasti diusir," jelasnya. Ia melanjutkan beberapa bagian yang lupa saya tanyai. Saya mengangguk mendengar penjelasannya.

Tiba-tiba.... Di seberang, tempat para kaum laki-laki berjejer, ada seseorang yang dengan posisi bersila lantas tubuhnya terangkat ke udara. Seperti sebuah loncatan. Semua orang kaget. Meski hanya sekitar 5 detik di udara, dengan tinggi loncatan 1 meter, saya coba menalar, bagaimana bisa orang dalam posisi bersila, bisa meloncat setinggi itu?

Sebagian orang mulai dirasuki roh leluhur. Kain merah sebagai tanda bahwa orang-orang ini sudah dirasuki
Lewat tengah malam, semakin banyak yang tontembang. Dari ratusan orang, sudah berkisar 40an orang telah dibuai roh leluhur. Yang unik, roh leluhur menguasai tubuh tidak harus sesuai gender. Ada roh leluhur perempuan, yang masuk ke dalam tubuh laki-laki. Ada pula sebaliknya, roh leluhur laki-laki, yang masuk ke perempuan. Seorang perempuan, tampak memakai kopiah, merokok, dan duduk bersila dengan tegap layaknya laki-laki. Perangainya berubah total menjadi laki-laki.

Pukul 4 pagi, kantuk kembali menyergap. Saya memilih kembali ke pondok. Dari dalam pondok, hampir setiap saat, saya melihat oranng-orang tampak berlari mengerumuni tempat ritual. Mereka yang hanya di luar bergelantungan di jendela. Kemudian terdengar kabar dari yang sempat menyaksikan, bahwa ada seekor burung Maleo yang terbang masuk ke dalam. Padahal di sekitar situ, tidak bisa ditemui lagi burung-burung Maleo. Bahkan untuk keperluan ritual, telur Maleo terpaksa harus dibeli dari wilayah lain. Perusahaan gas bumi dan sawit yang melingkari wilayah Batui, membuat burung-burung Maleo itu takut, sebab habitatnya dirusak.

Lantunan syahadat, tabuhan gong dan gendang, membikin mata saya cepat meredup. Pukul 7 pagi, mata saya menyala terang. Saya kembali masuk ke dalam tempat ritual. Lebih ramai saat subuh. Semakin bertambah banyak orang yang mengenakan kain merah. Mereka berdiri berpasang-pasangan menari-nari. Saya hanya tidak habis pikir, sebab beberapa di antaranya usianya sudah renta. Tapi mereka bertahan menari. Ada yang tubuhnya terus bergetar karena tontembang hingga berjam-jam. Bayangkan saja, dari semalam mereka tanpa henti melafadzkan syahadat dan menari hingga pagi hari.

Sampai pagi, ritual masih berlangsung
Dan, kawan saya, Rahmad, yang sedari malam ikut dalam pusaran ritual, tubuhnya tiba-tiba bergetar. Saya segera merogoh ponsel di kantong. Saya coba merekam momen itu. Ia tiba-tiba masuk ke dalam arena ritual, yang berada di tengah-tengah. Setiap yang tontembang, pasti akan menuju atau dibimbing ke tengah arena. Hamparan karpet merah dibuat kusut oleh liuk tubuhnya. Gesturnya seperti orang bersilat, kemudian berganti menyerupai seorang panglima, sembari kedua tangannya terbentang — mengisyaratkan ajakan — agar lafadz syahadat dikeraskan.

Tak lama, tubuhnya lunglai bersujud. Ia dituntun untuk keluar arena. Ia lantas memilih keluar dari tempat ritual. Saya yang saat itu, sudah kembali menuju pondok, diajaknya untuk menjauh dari tempat ritual.

"Ayo, ikut saya,"

"Mau kemana?"

"Agak sedikit menjauh dari sini. Jika mendengar lantunan syahadat itu, saya seperti ditarik kembali ke alam lain," ceritanya, sembari terus melangkah menuju sebuah pondok berlantai dua, di dekat gerbang masuk Kusali.

Di belakang pondok, ia terus mengusap wajahnya yang masih pucat pasi. Dua orang laki-laki turut serta bersama kami saat itu. Salah satunya, ternyata adalah kerabat dekat Rahmad.

"Bagaimana perasaanmu tadi? tanyaku.

"Aduh, saya tidak tahu lagi. Saya tidak dalam keadaan sadar," ia coba mengingat.

Melihat raut wajahnya, saya coba mengalihkan pembicaraan. Saya bertanya kepada kerabatnya itu, apakah di wilayah sekitar Kusali ini, sudah ada perkebunan sawit. Saya mendapati jawaban yang membuat selengkung senyuman di wajah saya.

"Jaraknya tidak jauh dari sini, tapi saya sudah memagari batasnya. Saya mengingatkan kepada mereka, kalau sampai lewat batas tanah adat ini, maka nyawa saya jadi taruhan!"

Bangga saya dibuatnya. Di tengah gempuran perusahaan, masih ada semangat-semangat melawan seperti ini, meski yang lainnya lebih memilih jatuh dalam pelukan korporasi. Nasib ritual ini ada di tangan orang-orang seperti mereka.

Rahmad memilih kembali ke pondok, setelah ritual selesai, pukul 9 pagi. Saat melangkah menuju pondok, lantunan kidung Tumpe terdengar menyayat.

"Itu yang menyanyi laki-laki, tapi roh perempuan yang masuk," jelasnya.

Saya berlari menuju pengeras suara, untuk merekam kidung itu. Nyanyian yang melurut hati saya. Bait-bait sabda dari alam yang transendental, bahwa kebersamaan harus dijaga, sebab prosesi adat ini hanya digelar sekali dalam setahun. Maka tradisi Tumpe diharapkan menjadi momen untuk tetap menjaga sikap gotong-royong, saling membantu, dan tetap mempererat persaudaraan. Sebuah pesan moral yang datang menembus jauh dari kegaiban.

Jalan menuju Kusali, tempat ritual berlangsung. Ini foto saat kami kembali usai prosesi adat
Batui, tahun depan kami akan berkunjung lagi. Rindu akan semangat kalian, rasa persaudaraan yang erat, dan tentu saja; masakan-masakan yang enak dari ibu-ibu yang dengan lapang dada kerap kali menawari kami makan. Energi dari makanan itu, yang menebalkan dan menjaga semangat kami, juga kalian, untuk tetap MELAWAN!

Senin, 15 Februari 2016

Kotamobagu, Sebuah Kerinduan akan yang Lampau

Tidak ada komentar
sumber foto: beritatotabuan.com

Kotamobagu, adalah kota kecil yang selalu saya rindukan. Pusat keramaian yang hanya berada di satu titik, dengan jalan kaki saja, kita bisa menikmati seisi kota. Dimulai dari berjalan kaki mengitari Lapangan Hotinimbang yang dirangkul pepohonan rindang, yang suasana asrinya membikin damai di hati. Lapangan ini, dulunya begitu ramai di malam hari.

Pada suatu ketika, di bawah tahun 2010, hampir di setiap tepi lapangan, berjejer komunitas mobil, motor, sampai bentor. Lagu-lagu hip-hop, punk, dan lagu-lagu melow disetel riuh-rendah, pada masing-masing pemutar musik di tiap kendaraan.

Jika malam Minggu tiba, kita akan banyak menemu orang-orang berkaos merah. Entah kenapa, dulu sempat tren, jika malam Minggu, kostum resminya adalah berwarna merah. Keren, sebab saya pun jatuh cinta dengan warna ini. Bukan karena warna ini dijadikan dasar bendera Partai Komunis Indonesia (PKI). Tapi karena warna ini, adalah simbol perjuangan dan pengorbanan. Darah.

Di lapangan kota, meski di kala itu, miras merajalela seperti tak mengindahkan wanti-wanti si Raja Dangdut, Rhoma Irama. Tapi kita tak bakal menemui botol-botol berserakan di sekitar lapangan. Sebab ada beberapa bocah yang kerap keliling memunguti botol-botol untuk dijual. Lumayan kata mereka, untuk jajan di sekolah.

Beberapa kali pula bentor-bentor taruhan, siapa yang paling jawara menggetarkan musik hingga ke ulu hati. Bentor dari Eropassi, pernah menjadi juara bertahan dan tak terkalahkan saat kontes. Nama jokinya, Buyung Ismu. Selain jadi ajang promosi, para pengendara bentor pun ingin melepas penat, dari seharian berjemur dan berkeringat di jalanan.

Tak jauh dari lapangan, ada pula Taman Kota. Jika ingin cari makan, sila ke taman. Gerobak-gerobak jajanan mengelilingi taman itu. Sila pilih, ada nasi goreng, bakso, mie ayam, gorengan, kacang rebus, jagung bakar, pokoknya komplit. Beberapa kali pula acara-acara musik digelar. Lampu-lampu taman kota juga kala itu masih terang benderang. Bahkan jika koin jatuh pun, dengan lekas bisa ditemukan.

Sesekali, pengamen-pengamen yang terdiri dari komunitas anak punk, seliweran sana-sini. Lirik-lirik lagu Marjinal, tegas terlafadz dari mulut-mulut mereka yang ditindik. Bukan hanya ngamen, jika ada bencana alam, bahkan sedahsyat gempa Jogja 26 Mei 2006 silam, mereka mengumpulkan dana untuk disumbangkan. Uang dari hasil garukan senar gitar dan lantang suara.

Tak jauh dari taman, ada pula simpang empat yang dinamai Bundaran Paris. Penamaan itu melekat begitu saja, sebab supermarket Paris, tepat berada di ketiak simpang. Kotamobagu tampak lebih kota jika kita sedang berada di Bundaran Paris. Anak-anak punk pun menjadikan scan di sekitar bundaran, sebelum akhirnya menerima nasib yang sama. Digeruduk.

Seiring tahun tergelincir dari kalender ke kalender, Kotamobagu jadi kota geger. Di lapangan kota, tak ada lagi kerumunan orang-orang berkaos merah. Pun mobil-mobil, motor, dan bentor. Orang-orang jadi takut dengan tempat-tempat umum semacam itu. Geger razia di sana sini, dari hotel, kos-kosan, dan semua titik-titik keramaian. Meski Pemerintah Kota (Pemkot) Kotamobagu, di genggaman Walikota Tatong Bara, menancapkan visi misi Kota Model Jasa. Namun dengan sendirinya, visi misi itu terbunuhi oleh tindak-tanduk pemerintah itu sendiri.

Di Polres Bolmong, ada tim yang mendaku bernama Maleo. Keliling-keliling kota dan menjadi "hantu" bagi muda-mudi di jalanan. Bahkan di ruang seprivasi kamar kos pun digeruduk. Urusan seksual seseorang pun dijadikan santapan media, dikunyah, lalu dimuntahkan ke para pembaca. Kemudian menyusul tim Kura-kura Ninja, yang terdiri dari para baret cokelat. Tim Satpol PP Pemkot yang dikepalai Sahaya Mokoginta ini, menambah daftar "hantu-hantu" di Kotamobagu. Menyusul lagi, tim lain yang digagas pula oleh Sahaya, bernama Power Rangers. Sangat miskin ide tapi kaya lelucon dan kekonyolan.

Hotel-hotel kelas melati, kos-kosan, kini harus lebih waspada. Karena jelas saja hotel sekelas Sutan Raja, yang dengan megah memancang di antara persawahan, tidak nangkring di daftar target. Orang-orang pun akan lebih memilih menginap di hotel semacam itu, ketimbang digedor saat tengah berasyik-masyuk di hotel bercat buram. Kos-kosan tempat para pekerja dan pelajar melepas lelah, tak luput dari razia. Mereka yang beralasan, karena miras di tempat umum dilarang, lalu memilih mengurung dan meriuh di kamar kos, terpaksa harus pasrah diinterogasi. Bahkan yang hanya bermaksud berkasih-sayang dengan pacar, wajib cemas dengan degup jantung, na' limbukon inalowan katopol.

Maka, apalagi yang bisa dirindukan dari Kotamobagu, yang tingkat kegegerannya melebihi Gotham? Kota yang berisi segala macam superhumor dan "teror"!

Kini yang hanya bisa ditemui di Kotamobagu, lapangan kota yang sepi. Rumah-rumah kopi serupa jamur, tempat para generasi merunduk kopdar. Taman kota yang gelap-gulita lalu kerap kali menjadi ring kelahi. Tak ada lagi sekumpulan anak-anak mohawk yang ngamen di jalanan. Yang ada hanya sebuah kerinduan. Kerinduan akan yang lampau. Kotamobagu yang bebas dan merdeka.

Senin, 08 Februari 2016

Inalillahi, Kucing

Tidak ada komentar
Menggali ingatan itu sulit. Tapi mengira-ngira mungkin bisa mempermudah. Kucing betina yang tak pernah kunamai itu, sekitar 5 tahun lalu mulai memilih menetap di rumah. Entah apa alasannya. Kucing itu milik tetangga. Di wilayah saya, kucing masih berkembang biak sewajarnya. Bahkan banyak ditemui anak-anak kucing di tanah lapang, saluran air, atau di dalam karung. Untuk itulah, ketika kucing itu memilih menetap di rumahku, tetangga tidak begitu mempermasalahkannya. Hal seperti itu sudah lumrah.

Setiap beberapa tahun, kucing kerap berganti corak, rupa, dan kelamin, di rumahku. Mereka datang begitu saja. Meski ada beberapa di antaranya yang kupunguti di jalanan. Kebanyakan betina, yang suka mengundang kucing-kucing liar, jantan, dan perayu ulung, tuk datang bertandang. Kucing tatkala bercinta, memang cukup ricuh. Hanya berselang beberapa pekan kucing di rumahku melahirkan, rumah bakal kembali ramai lagi di tengah malam. Rayuan-rayuan gombal mengeong, terdengar hampir setiap malam. Lalu tak lama lagi, perut buncit.

Sekembali ke rumah 5 hari lalu, aku mendapati kucing di rumah tubuhnya kurus. Bulu-bulunya banyak yang rontok. Mungkin karena sudah renta, pikirku. Aku pernah sekali membelainya, lalu membersihkan kotoran di matanya. Ia masih seperti biasanya. Di mana tempat aku duduk, makan atau tidur, pasti ia datang menghampiri. Bukan itu saja, jika aku kembali ke rumah, kata ibuku, kucing itu bakal lari menuju pintu. Hal yang sama kerap dilakoni kucing-kucing sebelumnya.

Dan entah seperti tongkat estafet. Seekor anak kucing yang coraknya mirip dengan kucingku, datang begitu saja di rumah. Warnanya didominasi abu-abu. Hanya beberapa garis putih dan kuning tergores di tubuhnya. Aku pikir, anak kucing itu, mungkin saja satu-satunya anaknya yang tersisa. Tapi sebelumnya kucing itu tidak ada. Aku pernah memberi makan dua kucing itu. Kucing rentaku membiarkan jatahnya diambil si anak kucing.

Kemudian, kabar itu datang dari ucap ibuku, di pagi ketika aku sedang sarapan.

"Kucingmu sudah mati."

Aku kaget sebab semalam masih sempat memberi jatah ikan kepadanya.

"Di mana?"

"Ia mati tepat di samping jendela kamarmu. Sudah ibu kubur tadi."

Usai makan, aku menuju jendela kamar yang masih tertutup. Pukul 7 pagi. Aku membuka jendela itu lebar-lebar. Pandanganku hanya menemui gundukan tanah.

"Ibu menguburnya di sini?"

"Iya!"

Aku tersenyum namun sedih ketika melihat gundukan tanah baru. Letak kucing itu mati dan jarak ibu memakamkannya hanya semeter. Tepat di bawah jendela.

Aku rebah sejenak, kemudian memutuskan menulis catatan ini. Sampai akhirnya aku ingat. Sesudah aku tiba di rumah, 5 hari yang lalu, aku sempat memotret kucingku.

Tanggal 6 Februari kemarin, aku sempat pula membuat status di BBM. Status yang kunukil dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Tepat di hari kelahiran sastrawan ini.
"Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan. Meski itu hanya seekor kucing (yang 'kucing' sebagai pengganti hewan 'kuda' pada nukilan sebenarnya di novel Bumi Manusia)."

Aku tersenyum, sebab Tuhan masih memberi pertanda itu padaku. Semoga damai di sana kucing tak bernama.

Jumat, 05 Februari 2016

Tak Ada Lagi

Tidak ada komentar

Nyaris tak ada, di segala sudut rumah ini yang tak mengingatkanku pada ayah; remote Tv yang lama terdiam di atas meja, asbak kosong, juga sendal yang terparkir tanpa derak langkah terseret. Nyaris tak ada. Di kamar, di bawah bantal coba kupastikan bungkusan rokok dan pemantik api di sana. Tak ada lagi. Kamar mandi tepat di samping kamar ayah, gerung dan seru pun hilang, bersama batuk ayah.

Tv coba kunyalakan, lalu menyetel siaran sinetron yang dengan terpaksa ayah gemari. Itu pilihan saat siaran sepak bola atau tinju sedang tak tayang. Tadinya, sinetron ini seru per episodenya, sebab selalu ada yang menunggu. Namun kali ini tak ada lagi teriak minta siaran diganti saat jeda iklan usai, karena ternyata remote dirampok cucu.

Tatkala hujan deras tiba-tiba mengguyur, tak ada lagi wajah cemas setiap kali menatap plafon dapur. Satu tetesan air selalu membuatnya gusar. Kursi pun ditariknya lalu dengan seketika plafon dilepas menganga. Deretan pipa dicopot lalu dipasang lagi. Cemasnya akan hilang jika tak ada lagi tetesan air hujan. Sisa genang air di lantai dengan segera ibu mengepelnya. Ayah pun tersenyum lalu kembali bersandar di sofa. Tetes hujan telah reda bersama gelisah.

Cangkir kopi kosong. Pun tak ada lagi asap membumbung. Kudapan apa lagi yang ingin ibu sajikan di meja? Kali ini ibu memilih menyapu pekarangan, setelah seisi rumah telah bersih dari debu dan kenangan.

Kemarin ibu tertunduk lama. Ia menemukan koleksi kacamata hitam milik ayah. Dan beberapa arloji antik yang seakan memutar kembali waktu. Ibu tersedu tapi ada senyum terselip di raut rentanya.

Pernah sehari, aku mengurung diri dalam rumah. Memerhatikan secara detail apa yang berubah. Hanya hening. Pinta dan suruh dari ibu pun luruh. Tak ada lagi kalimat; "Kalau ke kamar mandi jangan pergi sendiri." Meski jarak antara kasur dan kamar mandi hanya dua meter, ibu akan selalu cemas, sebab telah berkali-kali menemukan ayah terkapar di ubin dingin.

Ah, tak ada lagi suara berderak di pintu kamarku. Yang sesekali ayah coba melirik memastikan, apakah jendela-jendela kamarku terkunci rapat. Kini, biar pintu kenangan kubuka lebar-lebar. Agar rindu ini tak tertutup rapat.

Sabtu, 30 Januari 2016

Selamat Menikah Ardi dan Lara

Tidak ada komentar
*Episode Ardi

Kini, bagi keluarganya, Ardi adalah cahaya. Ia suluh dalam lorong-lorong gelap yang sebelumnya berupa jalan terang benderang. Dalam gelap itu, Ardi selalu mencoba ada, mengawasi, dan menjaga. Meski sebelumnya, ia pernah menganggap dirinya hanya tembikar dalam keluarganya itu. Bukan emas yang bercahaya dan dielus-elus dengan kasih-sayang.

Suatu hari, ia pernah menangis sebab di hari ulang tahunnya, tak diberi uang untuk membikin senang teman-temannya. Ia memilih tak meratap meminta ke ayah-bunda. Tapi memilih mengadu dan menangis pada rumput-rumput yang dicabutinya. Semua itu, hanya kerikil-kerikil yang perlahan-lahan membuatnya tetap sesekali merasakan hangatnya kasih-sayang. Dan itu menempanya menjadi anak yang tak manja. Begitulah ia coba memaknai hidup di usia belasan tahun.

Ardi tumbuh menjadi tembikar yang bertahan dalam hari-hari yang menggemaskan. Di antara panas, hujan, dan badai, ia tak pernah retak. Sebab ia terlalu banyak menebar kebaikan-kebaikan dengan hatinya yang rendah.

Semakin berlalu tahun, ia semakin tegar hingga memiliki tameng berupa seragam Polri. Tameng yang diberikan ayahnya dengan sisa-sisa kilatan penuh harapan di bola mata. Kemudian, menurutnya, nasib hanyalah soal seberapa kuat ia mampu bertahan. Bahkan dalam kesendirian.

Sekali-dua Ardi termenung. Ada debur di dadanya. Masalah silih berganti memaksanya melurut dahi. Namun ia yakin, bahwa hidup tetap akan berjalan dengan semestinya. Sebab pengalaman hidup akan memberinya makna yang tiada tara.

Pernah kala itu, ia belum memikirkan untuk mencari pasangan hidup. Ia masih dengan nakalnya menggoda gadis-gadis. Pacarnya berganti-ganti untuk sekadar menghibur diri. 

Tanpa gadis-gadis, ia seperti ladang gersang tanpa tanaman. Sama seperti ketika ia diasingkan ke sebuah pulau seberang dalam tugas yang sunyi. Meski terbiasa dengan kesendirian, ia tak mampu tanpa pemanis.

Lalu, siklus hidup terus berputar. Ardi kembali dari pulau seberang. Tugasnya kini riuh di bawah lampu-lampu kota. Hingga akhirnya ia bertemu Lara. Seorang teman lama.

**Episode Lara

Lara adalah bunga di sudut pekarangan. Tumbuh dari lingkungan yang berlapang dada. Tubuhnya yang semampai suka sekali dibelai angin. Wajah tirus dengan kulit eksotis membuat ia menonjol sebagai sekuntum bunga. Di usia remaja, ia suka meloncat-loncat dan bersenandung. Burung-burung, kupu-kupu, dan kelinci-kelinci kerap iri dengannya.

Pernah dalam diam, Lara melirik arloji mungil yang melingkar di lengannya. Menghitung waktu agar ia lekas dewasa. Ia ingin pergi sejenak dari desa. Merasai bagaimana memasak, mencuci, dan tertawa lepas di kamar sewaan. Akhirnya ia disetujui menempuh jarak enam jam dari rumah. Mendidik pikir di negeri berlanskap pegunungan dan kembang-kembang.

Di tempat itu, dengan centil, Lara meloncat-loncat girang. Jenjang kakinya seakan menjejak pada tumpukan awan. Kini bukan hanya burung, kupu-kupu, dan kelinci yang iri. Bahkan masa lalu pun iri dibuatnya. Sebab Lara telah direbut hari sekarang, pun masa depan yang dengan sembunyi-sembunyi membauinya. Lara tumbuh semakin cantik.

Tahun meluncur deras tanpa disadari. Jelas Lara telah merasai cinta kali pertama, kedua, hingga ia suka tersenyum sendiri sembari memeluk guling. Ia juga suka menduga-duga nasib hubungannya. Baginya, mencari pasangan yang tepat bukan persoalan seberapa lama berpacaran. Sebab waktu bisa saja berdusta.

Sampai akhirnya ia bertemu dengan Ardi, teman sepermainan di usia belasan tahun tatkala masih di desa. Sebuah desa yang sejuk dan tempat di mana semestinya telah tumbuh benih-benih cinta di antara mereka.

***Episode Bersama

30 Januari 2016, keduanya bakal berikrar mengekalkan hubungan di altar yang lebih sakral. Menjadi sepasang suami-istri. Bola mata Lara berbinar-binar kala itu, tepat di hari mereka bertukar-lingkar dengan cincin di jari manis. Sementara Ardi masih coba menemukan, adakah kecemasan-kecemasan kecil yang tersisa.

Kali ini, sebuah tanggung jawab harus ia genggam. Masa pacaran secepat kilatan tak terasa di selang tugas-tugasnya yang jujut-menjujut. Menjadi seorang suami, atau kelak menjadi ayah, adalah jalan yang tak mudah untuk dijejaki. Hingga kecemasan itu akhirnya berganti sebuah kesiapan. Ia melirik lencananya.

Ardi sebenarnya masih terlalu menikmati kesendiriannya. Meski terkadang ia membutuhkan bahu untuk bersandar. Ia ingin menceritakan gundah tentang hari yang selalu lekas berlalu. Ia yang gemar menatap langit dalam kesendirian, kerap kali bercakap-cakap dengan angin, dan mendengar bisikan-bisikan tentang apa yang harus atau tidak ia lakukan.

Pernah rasa kesendirian itu diungkapkannya. Kilatan matanya merindui seseorang tatkala sedang bertutur kata demi kata.

"Ia adalah lelaki yang telah memberikan warna dalam hidupku. Ia lelaki yang selalu ada di saat aku susah maupun senang. Ia lelaki yang tak pernah bosan mendengarkan curhatanku saat sedang banyak masalah. Tapi di saat ia sakit, apa balasanku? Seakan tak ada waktu untuknya, seakan aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, padahal tanpanya aku bukanlah siapa-siapa, dan tak mungkin menjadi seperti ini. Di saat aku sendiri seperti ini, dan merenungkan semuanya, aku hanya bisa menangis dan mengatakan betapa bodohnya diriku ini, yang tak bisa membalas segala kebaikannya. Padahal ia hanya ingin sebuah perhatian sederhana, untuk sedikit mengurangi beban dan sakit yang ia rasakan. Saat ini, sebelum terlambat, aku ingin memperbaiki semuanya. Karena aku tahu di saat ia sudah tidak ada lagi, hanya tangisan dan rasa rindu yang akan selalu ada. I Miss You Dad."

Lalu Lara datang menyondongkan bahu. Ardi melekatkan wajahnya tanpa syarat. Lara mengusap rambut kekasihnya itu, menyeka air matanya, menenangkannya, lalu melebur rasa bersama. Lara menjadi jembatan yang menghubungkannya akan sebentuk rasa rindu yang dalam. Rindu akan kasih-sayang yang semakin hari, semakin menjauh darinya.

Apalagi yang bisa diragukan akan kesendirian yang saling datang melengkapi? Sekuntum bunga yang dibentengi tembikar, kini mekar dan terlindungi. Kemudian, mereka berdua memutuskan menikah tanpa sedikitpun ragu. Ardi sekali lagi harus menjadi cahaya bagi keluarga mungilnya, yang kelak akan melahirkan kesendirian dan kerinduan baru.

Selamat menikah Ardi dan Lara. Jangan pernah takut gulungan ombak yang acap kali datang menerjang. Sebab itu hanya hentakan yang membuat kalian semakin erat berdekapan.

Jumat, 29 Januari 2016

Teye Liye, Kau Nulis tapi Jarang Baca

2 komentar
sumber gambar aruspelangi.com
Tidak usah saya runut nama-nama siapa saja yang bebalnya berjamaah, terkait isu LGBT yang melengkung warna-warni di langit Endonesa. Saya langsung saja ke satu orang yang mengaku penulis, sebab karya-karya novelnya telah bertelur macam penyu, dan beberapa telah dipilemkan pulak. Penulis ini yang ikut nimbrung menjadi bebal berjamaah.

Adalah Tere Liye, yang novelnya tak satu pun pernah saya bacai. Saya mau mengomentari statusnya di fanpage facebook, yang dengan begitu menyentuhnya, coba memelintir isu LGBTI ke ranah agama. Saya seorang jurnalis di media degorontalo.co, dan menetap di Gorontalo. Salah satu provinsi yang tingkat kereligiusannya, setara Aceh. Makanya kenapa Gorontalo kerap disandingkan sebagai "Serambi Madinah".

Oh, ya, mbak Tere, eh, mas Tere (maaf saya sebelumnya menganggap kau itu seorang perempuan), saya dan teman-teman dari 20 jurnalis se-Endonesa, baru-baru saja terpilih beasiswa "Better Journalis for LGBTI". Kami ikut workshop di Jakarta baru-baru, yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indo bekerja sama dengan UNDP. Dan saat tengah berasyik-masyuk dengan materi-materi yang menggugah nan mencerahkan, kami dikagetkan pernyataan Menristek yang kurang piknik itu. Lumayan, materi kami bertambah. Pun begitu dengan pengetahuan kami. Gratis pulak! Tak perlu duduk di bangku kuliah yang biayanya bikin tipis kantong mamak dan papak.

Di workshop itu, kami diajarkan bagaimana mencoba memberitakan kaum LGBT sebaik-baiknya. Juga penggunaan istilah yang layak dalam pemberitaan. Dan setelah workshop selesai, yang digelar selama dua hari itu, saya pulang dengan rute Jakarta-Manado, dengan pengetahuan yang memadai soal isu LGBT. Sama seperti ke-19 teman saya lainnya.

Di kamar kos seorang karib di Manado, saya dikagetkan status di fanpagemu, yang dibagikan di grup facebook Gorontalo Menggugat. Busyet! Setelah membacanya, saya mempertanyakan, kau itu penulis tapi kayaknya kurang membaca.

Kau tahu mbak Tere, ehu, salah lagi, mas Tere, bahwa LGBT itu bukan penyakit kejiwaan. Itu adalah orientasi seksual yang normal. Jika yang hetero menganggap mereka itu tidak normal, mereka pun bisa menganggap yang hetero itu tidak normal. Tapi kaum LGBT tidak pernah menganggap seperti itu. Bahasa "tidak normal" malah hanya banyak digunakan masyarakat hetero pada umumnya. Padahal Tuhan menciptakan kita beragam gender, tak hanya laki-laki dan perempuan. Bahkan Tuhan pun, yang saya tahu tak berkelamin, pun hanya Dia yang mampu memutuskan sorga-neraka bagi umatnya. Manusia adalah mahluk superior yang dikaruniai akal, agar nalar kita mampu menakar apa arti kemanusiaan, tanpa atribut agama.

Soal memahami kebebasan kaum LGBT, kita tidak perlu jauh-jauh ngaca atau ngiblat ke benua Amriki atau Eropa sana. Mas tere tahu tidak, sebagai penulis, bahwa di negeri kita yang beragam ini, ada berbagai macam adat budaya yang telah membangun perspektif kesetaraan gender.

Tahu Bissu kan? Di adat Bugis, di Sulawesi Selatan. Jauh sebelum agama samawi hadir di negeri ini, agama "ibu" telah lahir dan tumbuh dengan begitu memaknai arti kemanusiaan. Kesetaraan gender di Bugis, sudah termaktub dalam I La Galigo. Mereka sudah mengenal tradisi 5 gender. Perempuan (makunrai), laki-laki (uruane), ada yang mendekati perempuan (calabai), yang mendekati laki-laki (calalai), dan ada yang berkelamin dan bergender ambigu (para-gender), yaitu para Bissu. Coba baca buku Eksistensi Calalai dalam Budaya Sulawesi Selatan, penulis Lily Sugianto. Buku yang diberi gratis oleh penulisnya saat kami mengikuti workshop. Tak seperti novel mas Tere, yang banyak mengangkat kegetiran hidup, tapi mereka yang hidupnya getar-getir tak mampu membeli novel itu. Aih!

Di Banyumas ada Lengger. Tahu Lengger kan? Saya bukan orang yang bermukim di pulau Jawa, jadi tidak secara jelas pula melihat aktifitas para Lengger. Tapi beruntung dunia digital sangat membantu kami. Dan untuk mas Tere yang bermukim di pulau Jawa, sekali-kali mas Tere piknik dulu ke Banyumas.

Setiap manusia memiliki sisi maskulin dan feminimnya, mas Tere. Bahkan saat seorang ayah menggendong seorang bayi, ada sisi feminim ibu yang hadir di sana. Mungkin sama pula dengan sisi feminim mbak Tere, ups! Salah lagi, mas Tere, yang memilih atau menerima nama pena, Tere Liye, yang terdengar begitu feminim. Meski itu dicaplok dari bahasa India, yang lebih-kurang artinya "untukmu". Namun tak dipungkiri, sebagian orang, bahkan saya pun pernah menganggap mas itu mbak. Teman saya pernah pula salah tafsir. Hi-hi-hi.

Sudah dulu ya, mmmbbmmaas Tere. Saran saya, perbanyak piknik, baca buku, jangan melulu merunduk sambil menulis novel. Ntar kejedot kepalanya.