Rabu, 24 Februari 2016
Misteri Trailer AADC2
![]() |
| Cinta dan Rangga di AADC2 (sumber www.mampoo.com) |
dipisah kata-kata
begitu pula rindu
jurang antara kebodohan dan keinginanku
memilikimu sekali lagi
Senin, 22 Februari 2016
Catatan Terakhir dari Ekspedisi Gembira ke Batui
![]() |
| Kusali, tempat prosesi adat digelar |
Setelah lelah berkeliling Kusali, saya rebah sejenak, di pondok keluarga kawan saya Rahmad Samadi. Ia warga Batui, yang menjadi karib saat reriungan di Kedai Kopi Maksoed. Ia pula yang mengajak kami melihat berlangsungnya prosesi adat yang digelar sekali dalam setahun ini.
Dan... kemudian saya pun terlelap.
![]() |
| Pondok yang ditempati keluarga kawan saya, Rahmad Samadi |
"Itu, yang keluar ambil wudhu, masih tontembang?"
![]() |
| Sebagian orang mulai dirasuki roh leluhur. Kain merah sebagai tanda bahwa orang-orang ini sudah dirasuki |
![]() |
| Sampai pagi, ritual masih berlangsung |
![]() |
| Jalan menuju Kusali, tempat ritual berlangsung. Ini foto saat kami kembali usai prosesi adat |
Senin, 15 Februari 2016
Kotamobagu, Sebuah Kerinduan akan yang Lampau
![]() |
| sumber foto: beritatotabuan.com |
Pada suatu ketika, di bawah tahun 2010, hampir di setiap tepi lapangan, berjejer komunitas mobil, motor, sampai bentor. Lagu-lagu hip-hop, punk, dan lagu-lagu melow disetel riuh-rendah, pada masing-masing pemutar musik di tiap kendaraan.
Senin, 08 Februari 2016
Inalillahi, Kucing
Sekembali ke rumah 5 hari lalu, aku mendapati kucing di rumah tubuhnya kurus. Bulu-bulunya banyak yang rontok. Mungkin karena sudah renta, pikirku. Aku pernah sekali membelainya, lalu membersihkan kotoran di matanya. Ia masih seperti biasanya. Di mana tempat aku duduk, makan atau tidur, pasti ia datang menghampiri. Bukan itu saja, jika aku kembali ke rumah, kata ibuku, kucing itu bakal lari menuju pintu. Hal yang sama kerap dilakoni kucing-kucing sebelumnya.
Dan entah seperti tongkat estafet. Seekor anak kucing yang coraknya mirip dengan kucingku, datang begitu saja di rumah. Warnanya didominasi abu-abu. Hanya beberapa garis putih dan kuning tergores di tubuhnya. Aku pikir, anak kucing itu, mungkin saja satu-satunya anaknya yang tersisa. Tapi sebelumnya kucing itu tidak ada. Aku pernah memberi makan dua kucing itu. Kucing rentaku membiarkan jatahnya diambil si anak kucing.
Kemudian, kabar itu datang dari ucap ibuku, di pagi ketika aku sedang sarapan.
"Kucingmu sudah mati."
Aku kaget sebab semalam masih sempat memberi jatah ikan kepadanya.
"Di mana?"
"Ia mati tepat di samping jendela kamarmu. Sudah ibu kubur tadi."
Usai makan, aku menuju jendela kamar yang masih tertutup. Pukul 7 pagi. Aku membuka jendela itu lebar-lebar. Pandanganku hanya menemui gundukan tanah.
"Ibu menguburnya di sini?"
"Iya!"
Aku tersenyum namun sedih ketika melihat gundukan tanah baru. Letak kucing itu mati dan jarak ibu memakamkannya hanya semeter. Tepat di bawah jendela.
Aku rebah sejenak, kemudian memutuskan menulis catatan ini. Sampai akhirnya aku ingat. Sesudah aku tiba di rumah, 5 hari yang lalu, aku sempat memotret kucingku.
Tanggal 6 Februari kemarin, aku sempat pula membuat status di BBM. Status yang kunukil dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Tepat di hari kelahiran sastrawan ini.
Jumat, 05 Februari 2016
Tak Ada Lagi
Nyaris tak ada, di segala sudut rumah ini yang tak mengingatkanku pada ayah; remote Tv yang lama terdiam di atas meja, asbak kosong, juga sendal yang terparkir tanpa derak langkah terseret. Nyaris tak ada. Di kamar, di bawah bantal coba kupastikan bungkusan rokok dan pemantik api di sana. Tak ada lagi. Kamar mandi tepat di samping kamar ayah, gerung dan seru pun hilang, bersama batuk ayah.
Tv coba kunyalakan, lalu menyetel siaran sinetron yang dengan terpaksa ayah gemari. Itu pilihan saat siaran sepak bola atau tinju sedang tak tayang. Tadinya, sinetron ini seru per episodenya, sebab selalu ada yang menunggu. Namun kali ini tak ada lagi teriak minta siaran diganti saat jeda iklan usai, karena ternyata remote dirampok cucu.
Tatkala hujan deras tiba-tiba mengguyur, tak ada lagi wajah cemas setiap kali menatap plafon dapur. Satu tetesan air selalu membuatnya gusar. Kursi pun ditariknya lalu dengan seketika plafon dilepas menganga. Deretan pipa dicopot lalu dipasang lagi. Cemasnya akan hilang jika tak ada lagi tetesan air hujan. Sisa genang air di lantai dengan segera ibu mengepelnya. Ayah pun tersenyum lalu kembali bersandar di sofa. Tetes hujan telah reda bersama gelisah.
Cangkir kopi kosong. Pun tak ada lagi asap membumbung. Kudapan apa lagi yang ingin ibu sajikan di meja? Kali ini ibu memilih menyapu pekarangan, setelah seisi rumah telah bersih dari debu dan kenangan.
Kemarin ibu tertunduk lama. Ia menemukan koleksi kacamata hitam milik ayah. Dan beberapa arloji antik yang seakan memutar kembali waktu. Ibu tersedu tapi ada senyum terselip di raut rentanya.
Pernah sehari, aku mengurung diri dalam rumah. Memerhatikan secara detail apa yang berubah. Hanya hening. Pinta dan suruh dari ibu pun luruh. Tak ada lagi kalimat; "Kalau ke kamar mandi jangan pergi sendiri." Meski jarak antara kasur dan kamar mandi hanya dua meter, ibu akan selalu cemas, sebab telah berkali-kali menemukan ayah terkapar di ubin dingin.
Ah, tak ada lagi suara berderak di pintu kamarku. Yang sesekali ayah coba melirik memastikan, apakah jendela-jendela kamarku terkunci rapat. Kini, biar pintu kenangan kubuka lebar-lebar. Agar rindu ini tak tertutup rapat.
Sabtu, 30 Januari 2016
Selamat Menikah Ardi dan Lara
Ardi tumbuh menjadi tembikar yang bertahan dalam hari-hari yang menggemaskan. Di antara panas, hujan, dan badai, ia tak pernah retak. Sebab ia terlalu banyak menebar kebaikan-kebaikan dengan hatinya yang rendah.
Sekali-dua Ardi termenung. Ada debur di dadanya. Masalah silih berganti memaksanya melurut dahi. Namun ia yakin, bahwa hidup tetap akan berjalan dengan semestinya. Sebab pengalaman hidup akan memberinya makna yang tiada tara.
Selamat menikah Ardi dan Lara. Jangan pernah takut gulungan ombak yang acap kali datang menerjang. Sebab itu hanya hentakan yang membuat kalian semakin erat berdekapan.
Jumat, 29 Januari 2016
Teye Liye, Kau Nulis tapi Jarang Baca
![]() |
| sumber gambar aruspelangi.com |
Adalah Tere Liye, yang novelnya tak satu pun pernah saya bacai. Saya mau mengomentari statusnya di fanpage facebook, yang dengan begitu menyentuhnya, coba memelintir isu LGBTI ke ranah agama. Saya seorang jurnalis di media degorontalo.co, dan menetap di Gorontalo. Salah satu provinsi yang tingkat kereligiusannya, setara Aceh. Makanya kenapa Gorontalo kerap disandingkan sebagai "Serambi Madinah".
Oh, ya, mbak Tere, eh, mas Tere (maaf saya sebelumnya menganggap kau itu seorang perempuan), saya dan teman-teman dari 20 jurnalis se-Endonesa, baru-baru saja terpilih beasiswa "Better Journalis for LGBTI". Kami ikut workshop di Jakarta baru-baru, yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indo bekerja sama dengan UNDP. Dan saat tengah berasyik-masyuk dengan materi-materi yang menggugah nan mencerahkan, kami dikagetkan pernyataan Menristek yang kurang piknik itu. Lumayan, materi kami bertambah. Pun begitu dengan pengetahuan kami. Gratis pulak! Tak perlu duduk di bangku kuliah yang biayanya bikin tipis kantong mamak dan papak.
Di workshop itu, kami diajarkan bagaimana mencoba memberitakan kaum LGBT sebaik-baiknya. Juga penggunaan istilah yang layak dalam pemberitaan. Dan setelah workshop selesai, yang digelar selama dua hari itu, saya pulang dengan rute Jakarta-Manado, dengan pengetahuan yang memadai soal isu LGBT. Sama seperti ke-19 teman saya lainnya.
Di kamar kos seorang karib di Manado, saya dikagetkan status di fanpagemu, yang dibagikan di grup facebook Gorontalo Menggugat. Busyet! Setelah membacanya, saya mempertanyakan, kau itu penulis tapi kayaknya kurang membaca.
Kau tahu mbak Tere, ehu, salah lagi, mas Tere, bahwa LGBT itu bukan penyakit kejiwaan. Itu adalah orientasi seksual yang normal. Jika yang hetero menganggap mereka itu tidak normal, mereka pun bisa menganggap yang hetero itu tidak normal. Tapi kaum LGBT tidak pernah menganggap seperti itu. Bahasa "tidak normal" malah hanya banyak digunakan masyarakat hetero pada umumnya. Padahal Tuhan menciptakan kita beragam gender, tak hanya laki-laki dan perempuan. Bahkan Tuhan pun, yang saya tahu tak berkelamin, pun hanya Dia yang mampu memutuskan sorga-neraka bagi umatnya. Manusia adalah mahluk superior yang dikaruniai akal, agar nalar kita mampu menakar apa arti kemanusiaan, tanpa atribut agama.
Soal memahami kebebasan kaum LGBT, kita tidak perlu jauh-jauh ngaca atau ngiblat ke benua Amriki atau Eropa sana. Mas tere tahu tidak, sebagai penulis, bahwa di negeri kita yang beragam ini, ada berbagai macam adat budaya yang telah membangun perspektif kesetaraan gender.
Tahu Bissu kan? Di adat Bugis, di Sulawesi Selatan. Jauh sebelum agama samawi hadir di negeri ini, agama "ibu" telah lahir dan tumbuh dengan begitu memaknai arti kemanusiaan. Kesetaraan gender di Bugis, sudah termaktub dalam I La Galigo. Mereka sudah mengenal tradisi 5 gender. Perempuan (makunrai), laki-laki (uruane), ada yang mendekati perempuan (calabai), yang mendekati laki-laki (calalai), dan ada yang berkelamin dan bergender ambigu (para-gender), yaitu para Bissu. Coba baca buku Eksistensi Calalai dalam Budaya Sulawesi Selatan, penulis Lily Sugianto. Buku yang diberi gratis oleh penulisnya saat kami mengikuti workshop. Tak seperti novel mas Tere, yang banyak mengangkat kegetiran hidup, tapi mereka yang hidupnya getar-getir tak mampu membeli novel itu. Aih!
Di Banyumas ada Lengger. Tahu Lengger kan? Saya bukan orang yang bermukim di pulau Jawa, jadi tidak secara jelas pula melihat aktifitas para Lengger. Tapi beruntung dunia digital sangat membantu kami. Dan untuk mas Tere yang bermukim di pulau Jawa, sekali-kali mas Tere piknik dulu ke Banyumas.
Setiap manusia memiliki sisi maskulin dan feminimnya, mas Tere. Bahkan saat seorang ayah menggendong seorang bayi, ada sisi feminim ibu yang hadir di sana. Mungkin sama pula dengan sisi feminim mbak Tere, ups! Salah lagi, mas Tere, yang memilih atau menerima nama pena, Tere Liye, yang terdengar begitu feminim. Meski itu dicaplok dari bahasa India, yang lebih-kurang artinya "untukmu". Namun tak dipungkiri, sebagian orang, bahkan saya pun pernah menganggap mas itu mbak. Teman saya pernah pula salah tafsir. Hi-hi-hi.
Sudah dulu ya, mmmbbmmaas Tere. Saran saya, perbanyak piknik, baca buku, jangan melulu merunduk sambil menulis novel. Ntar kejedot kepalanya.








