Rabu, 28 Desember 2016

Catatan Singkat Akhir Tahun...

Tidak ada komentar

2016 akan segera berlalu. Tahun yang merampas begitu banyak kawan terbaikku. Yayang, Bedew, dan Boneng. Tiga kawan yang serupa seribu.
Sebelum mereka masing-masing berpulang, ada ucap pamit yang tak pernah terbacai.
Yayang sempat bergurau denganku, tentang masa lalu yang selalu menjadi kenangan terbaik, setelah usia semakin menua lalu anak-anak terlahir sebagai boneka manja yang, harus ditemani setiap saat melebihi apa pun.
Juga istri yang selalu cemas dan bertanya-tanya: ke mana suamiku? Padahal untuk tidur di ranjang yang sama, adalah satu-satunya jalan pulang yang ada di benaknya. Waktu telah menjadi hanya tiga saja baginya: untuk dia sendiri, anak, dan istrinya. Bahkan orangtua dan teman-teman tak lagi mendapat jatah yang banyak untuk itu.
Bedew dengan kenangan apa saja yang selalu ingin ia putar kembali. Ia bisa membawa kami ke masa lalu dengan segera. Makan di rumah makan yang dulu kerap kali kami singgahi, lalu memilih menu yang sama. Mendengarkan lagu yang telah lama terhapus dari memori ponsel. Mengelabui pagi dengan cerita yang berulang-ulang. Seolah-olah waktu tidak pernah beranjak.
Ia selalu punya banyak cara untuk membuat kami kaget, tertawa, dan berulang kali memuja masa lalu. Sebab baginya di masa lalu ada bagian-bagian terbaik yang tak boleh dilupakan.
Boneng akan selalu cerewet dengan kisahnya yang tak pernah lepas dari makanan. Ia pintar memasak tapi tak banyak makan. Baginya melihat teman bercucur keringat ketika melahap hasil masakannya, adalah sebuah kebahagiaan yang kekal.
Jangan pernah mengemis makanan kepadanya. Sebab wajah lapar sudah sangat dikenalinya. Bahkan sebelum lapar itu hadir, ia akan mendahuluinya dengan tanya, "So makang?"
2016 akan segera berlalu. Di tahun ini, lebih banyak hari yang kuhabiskan di desa kelahiran. Ingin untuk berlama-lama di sini sudah bulat. Tapi sepertinya berada lama di sini, hanya membuat tanya itu semakin menebal setiap hari. Sebuah pertanyaan yang hadir berulang-ulang kali: ke mana kalian pergi, kenapa begitu lama kembali?

Sabtu, 26 November 2016

Seandainya Sigi Ngomong Gini...

Tidak ada komentar

Papa, sekarang Sigi sudah TK lho. Di TK Al-Quran. Kata Mama, sekolah itu mahal. Tapi kualitasnya bagus.

Sigi lantas bertanya, "Kualitas itu apa?"

Mama menjawab, "Kualitas itu mutu. Biar lebih sederhana, kata Mama, 'itu TK terbaik, yang bagus, nyaman, yang terbaik pokoknya'."

Suatu hari, Sigi bermain dengan Amel. Dia anak yang rumahnya hanya berdekatan dengan rumah Sigi. Amel juga sedang sekolah. Dia di TK tapi yang hanya jalan kaki. Sementara Sigi harus naik bentor atau diantar dengan motor oleh Mama.

Sigi baru tahu beberapa hari kemudian, ternyata Amel di TK yang jaraknya cuma dekat dengan rumah Sigi. Makanya dia suka jalan kaki.

Sigi lalu bertanya lagi kepada Mama, "Kenapa Sigi tidak sekolah di tempatnya Amel?"

"Sigi kan di TK Al-Quran, biar cepat tahu membaca Al-Quran." kata Mama.

Sewaktu Sigi pulang dari TK, Sigi melihat Amel berjalan dengan teman-temannya menuju rumahnya. Teman-teman Amel, teman-teman Sigi juga. Ada Bonbon, Siti, Ayu, Lesi, dan Jiko. Mereka terlihat senang sekali pulang sekolah bersama-sama sambil jalan kaki.

"Ma, Sigi mau jalan kaki ke sekolah seperti Amel dan teman-teman lainnya."

"Kan sekolahnya Sigi di kota, bukan di desa."

"Tapi Sigi kalau pulang sekolah, dijemput pakai bentor atau motor. Tidak jalan kaki seperti Amel."

"Jauh jaraknya dari kota ke desa, Sigi. Lagipula harus hati-hati biar tidak ditabrak motor, bentor, atau mobil."

"Tapi, sekolah Amel kan dekat. Mereka juga jalannya ikut halaman belakang sekolah."

"Nanti saja kalau Sigi sudah lanjut ke SD. Kan, SD-nya dekat dari rumah."

Nah, suatu hari lagi, Pa, Amel mengajak Sigi bermain. Sewaktu sedang bermain, Amel suka melantunkan doa makan. Dia lancar mengucapkannya.

Sigi lalu bertanya, "Mel, kok bisa membaca doa?"

"Iyalah, kan diajarkan guru di TK."

"Kata Mama, cuma di sekolahnya Sigi di TK Al-Quran yang bisa cepat membaca Al-Quran."

"Di TK kami juga diajarkan, Sigi."

"Waduh, Mama bohong berarti."

Setelah bermain dengan Amel, Sigi segera menemui Mama. Tahu tidak, Pa, Sigi masih saja dibohongin Mama.

"Iya, tapi di TK-nya Amel, tidak selengkap TK-nya Sigi."

"Buktinya, Amel juga bisa doa-doa lainnya. Sama seperti doa-doa yang Sigi hafal lho, Ma."

Mama kemudian terdiam lama, Pa. Sebenarnya Sigi suka gerah ketika harus ke sekolah kemudian memakai penutup kepala.

"Apa itu harus, Pa?"

"Pakai jilbab?"

"Iya."

"Tidak haruslah, apalagi buat anak-anak tidak wajib."

"Iya, Sigi lihat Amel dan teman-teman lain juga ke TK tidak pakai gituan. Tapi mereka lancar membaca doa-doa."

"Iya, tapi di sekolah Sigi kan aturannya begitu. Jadi ikut dulu aturannya."

Seminggu kemudian, Sigi baru berani bilang sama Mama, kalau Sigi gerah memakai penutup kepala. Tahu apa reaksinya, Pa?

"Kalau begitu, tidak usah sekolah. Mau dibikin bagus, tidak mau."

Begitu jawaban Mama, Pa. Mama marah-marah sambil benerin jilbabnya. Oh ya, Pa, Mama sekarang sudah pakai jilbab.

"Iya, Papa tahu. Itu pilihan Mama. Jika Sigi besar nanti, Sigi juga berhak memilih. Tentu saja tidak boleh dipaksakan."

"Pa, Sigi boleh nanya sama Papa?"

"Nanya apaan?"

"Kok, Papa sama Mama tidak tinggal serumah seperti Kakek dan Nenek?"

"Hmm... Tunggu ya, Papa mikir dulu apa jawaban sederhananya."

"Jangan lama-lama, Pa."

"Iya, tidak lama... Hmm..."

Setelah beberapa menit kemudian...

"Begini, Papa dan Mama sudah bercerai. Cerai itu, kalau misalnya Papa sama Mama sudah tidak sejalan lagi."

"Sejalan?"

"Iya, maksudnya Papa punya pilihan jalan lain. Begitu juga Mama."

"Terus Sigi harus milih jalan mana?"

"Ya, Sigi tidak harus memilih jalan mana. Papa ada untuk Sigi. Begitu juga Mama ada untuk Sigi."

"Kalau Sigi butuh Papa dan Mama?"

"Kan, bisa sewaktu-waktu Papa dan Mama sama-sama dengan Sigi."

"Tapi tidak sering."

"Iya, Sigi... Cerai itu karena agama juga sudah melarang Papa dan Mama sama-sama serumah."

"Kenapa agama melarang?"

"Ya, karena sudah begitu aturannya. Nanti Sigi dari TK terus lanjut sekolah, maka Sigi akan paham soal itu."

"Padahal sekolah Sigi, kata Mama sekolah agama. Tapi Sigi belum dapat pelajaran itu selain membaca, menulis, menggambar, dan baca Al-Quran."

"Iya, karena Sigi belum cukup umur. Nanti Sigi juga akan lebih banyak belajar soal agama. Semua agama. Di TK hanya sebagai dasarnya saja."

"Papa agamanya sama kan dengan Mama?"

"Iya, papa juga punya agama yang sama dengan Mama. Nanti kalau besar, Sigi juga berhak memilih agama apa yang Sigi mau."

"Kata guru di sekolah, tidak boleh ikutan agama lain. Harus tetap dengan agama Islam."

"Itu kata guru. Kalau kata Papa, nanti Sigi berhak memilih mana yang baik untuk Sigi."

"Agama yang baik itu apa sih, Pa?"

"Semua agama baik. Karena semua mengajarkan kebaikan."

"Kalau Sigi memilih semua agama itu?"

"Memahaminya saja. Tidak harus memilih semuanya."

"Memahami itu seperti apa?"

"Sigi mengerti. Sigi tahu apa yang baik dari semua agama. Kemudian Sigi yang menentukan. Seperti Sigi hendak memilih pensil berwarna, yang sesuai dengan yang Sigi mau pakai untuk mewarnai gambar Sigi."

"Sigi suka warna merah."

"Semua warna itu indah. Mau merah, biru, hitam, putih, kuning, dan lain sebagainya. Biar mereka berbeda-beda, mereka tetap disebut warna, kan?"

*Kemudian Sigi dijemput kakeknya*

Castro Eropassi

Tidak ada komentar
Tato di punggung Bro Donna. Foto: Koleksi pribadi

Bangku dan meja di SMP Negeri 2 Passi kala itu kerap dipenuhi coretan nama. Selain tinta pena, spidol, Tipp-Ex, nama-nama itu juga diukir menggunakan paku atau benda tajam lainnya. Saya salah satu yang gemar mengukir nama di bangku, meja, dinding, atau pintu kelas.

Saya belum mengenal seni tato sewaktu SMP. Nanti setelah SMA, saya mulai mengenal band-band cadas bertato seiring ramainya VCD player. Dari sanalah, kami yang terbiasa mengukir nama-nama di bangku, meja, dinding, atau toilet sekolah, mulai bersulih mencoret kemeja sekolah.

Logo-logo band luar negeri seperti Guns N' Roses, Metallica, Scorpion, Sepultura, dan masih banyak lagi, kerap kali kami ukir di bagian bawah kemeja sekolah. Satu-satunya bagian paling aman, sebab jika hendak ke sekolah kami diwajibkan memasukkan bagian bawah kemeja serapi-rapinya ke dalam celana. 

Seiring waktu, di desa Passi (Eropassi), saya mulai mengenal seorang kerabat yang bernama Fidel Pranata Damopolii. Ayahnya bernama Syahrial Damopolii, salah satu politikus yang cukup dikenal. Nama Fidel mirip dengan nama tokoh revolusioner asal Kuba, Fidel Castro yang kerap disiarkan di televisi. Kebetulan, selain disapa Donna, ia juga memiliki a.k.a Fidel atau Castro.

Bahkan, di punggungnya bertengger tato bertuliskan Castro. Meski gaya hidupnya dikenal cukup hedonis kala itu sebab ayahnya menjadi Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Utara, Bro Donna tidak pernah berjarak dengan warga di desa kami. Bukan itu saja, pergaulannya dikenal hingga di pasar-pasar, lingkungan kumuh, bahkan di mana saja.

Sejak itulah, saya mulai tertarik dengan tokoh Fidel Castro yang menjadi panutannya. Kala itu, membaca buku-buku tentang Fidel Castro cukup sulit. Apalagi zaman itu belum ada internet masuk desa, apalagi gadget berfasilitas internet. Cara satu-satunya berkumpul dengan kerabat-kerabat yang lebih tua, dan yang sudah banyak tahu tentang Sang Comandante itu.

Dari cerita-cerita itulah, saya mulai mengenal Fidel Castro, Che Guevara, Mao Zedong, Pol Pot, Lenin, Ho Chi Minh, yang hampir tidak pernah saya temui dalam mata pelajaran sejarah di sekolah. 

Sampai suatu hari, saya berkesempatan duduk melingkar dengan beberapa senior di desa saya. Salah satunya Bro Donna. Ia ramah dan suka tertawa. Ia tidak mau dituakan atau dianggap lebih tinggi derajatnya dengan siapapun. Ia sangat egaliter.

Seiring waktu, Bro Donna akhirnya mengikuti langkah ayahnya di dunia politik. Ia terpilih menjadi salah satu anggota legislatif di DPRD Provinsi Sulawesi Utara. Meski begitu, jika sesekali ia pulang ke desa kami, ia tetap menyempatkan diri untuk duduk bercengkerama dengan warga, pun dengan teman-teman sebayanya.

Kemudian, sakit merenggut usianya yang masih terlalu muda, pada Selasa, 28 September 2010. Ia masih berstatus anggota legislatif ketika berpulang. Pada hari pemakamannya, saya belum pernah melihat pelayat sebanyak itu. Mobil-mobil berderet di tanah lapang di depan rumahnya, pun mengular di sepanjang jalan hingga ratusan meter.

Hari ini, Sang Comandante, Fidel Castro, juga berpulang. Antara Kuba dan Eropassi. Saya seketika ingat dengan Bro Donna. Ia salah satu yang menjadi inspirasi untuk mengukir tubuh saya dengan wajah Sigi, Donal Bebek, dan Nietzsche.

Selamat jalan Comandante, semoga kalian bertemu di sana, reriungan bersama teman-teman lainnya. Dan merayakan pertemuan itu sembari membakar cerutu...

Rabu, 16 November 2016

Gladys di Kota(razia)mobagu (10)

Tidak ada komentar

"Jika kau tidak sungguh-sungguh pada jalan itu. Kau akan luput membacai tanda-tanda." (Baca sebelumnya: Bagian 9)

Perkataan Lina lumayan menciptakan celah di jemari Gladys. Gundah yang sedari tadi di genggamannya, perlahan-lahan bercereran dari sela-sela jemarinya.

"Dys. Niatmu untuk menjadi jurnalis itu mulia. Bukan karena ingin uang. Apalagi profesi itu harus memiliki hati." Lina kali ini tiba-tiba menjadi begitu bijaksana.

"Iya, Lin. Menjadi jurnalis tidak akan kaya harta. Tapi kaya ilmu. Lumayan, untuk kasih pesan yang benar ke anak-cucu kita nanti."

"Jadi, aku yang tidak bercita-cita jadi jurnalis, bakal kasih pesan yang salah ke anak-cucuku?"

"Aduh, kau ini mau jadi apa pun, pasti pesan-pesanmu ke anak-cucu yang tidak benar semua."

"Gila!" Kali ini guling mendarat tepat di wajah si empunya.


***


“Jadi, ada mantan wali kota yang terlibat?” tanyaku kepada Yudi. Dia seorang jaksa di Kejaksaan Negeri Kotamobagu.

“Iya. Aku sengaja membocorkan ini kepadamu. Hanya kau yang bisa kupercaya,” kata Yudi.

Sebundel dokumen ia serahkan. Di dalamnya, berisi data keterlibatan beberapa pejabat, juga upaya penghilangan bukti dari pihak Kejaksaan. Termasuk data keterlibatan mantan wali kota di Kotamobagu. Meski mantan wali kota itu sudah berakhir masa jabatannya, tapi di tahun ini, kasus korupsi itu terkuak dan satu per satu menyeret tersangka ke dalam jeruji. Salah satunya pamannya Indra, anggota dewan di DPRD Kotamobagu.

“Terima kasih, Yud. Kau sudah banyak membantu sejauh ini.”

Setelah beberapa jam mengobrol dengan Yudi, di salah satu jembatan yang terbilang cukup sepi itu, aku pamitan. Yudi pun bergegas pergi mengendarai mobilnya.

Tiba di kamar, aku segera membuka isi ransel. Laptop kukeluarkan, menyusul sebuah map berisi dokumen.

Aku duduk sejenak. Kemudian menghubungi Deni. "Den, kau di mana?"

"Baru mau ke kedai kopi, bikin berita. Kau?"

"Aku baru sampai di kos. Aku punya data baru soal kasus pamannya Indra. Tapi sebaiknya kita ke rumahku saja."

"Oke. Kau bisa duluan. Aku segera menyusul."

Usai menelepon Deni, aku tiba-tiba ingat Gladys. Terlalu sibuk dengan semua urusan ini, membuat kami seakan berjarak. Padahal hubungan kami baru saja sedang merangkak.

"Hei, di mana?" Aku putuskan menghubungi Gladys.

"Sigid. Senang mendengar suaramu. Aku lagi jalan dengan Lina. Kau?"

"Maaf, Dys. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk. Aku sedang bersama Deni. Rencana mau ke rumahku di Desa Passi. Ada urusan yang harus diselesaikan."

"Iya, aku mengerti. Pasti berat untuk persahabatan kalian." Gladys ternyata mengikuti setiap pemberitaan terkait kasus pamannya Indra. Juga mengenai perkelahian Umar dan Indra dari pemberitaan beberapa media online lokal.

“Iya, Dys. Terima kasih atas pengertiannya.”

“Kau sudah menghubungi aku, itu sudah lebih dari cukup. Hati-hati di jalan, ya. Kapan-kapan ajak aku ke desamu."

"Iya, pasti."

Aku kembali memasukkan laptop dan dokumen ke dalam ransel. Lampu sengaja kunyalakan, sebab hari sudah sore menjelang malam. Setelah mengunci pintu, aku menghidupkan sepeda motor.

Desa Passi, hanya sepuluh menit perjalanan dari kos. Meski jarak dari desaku ini menuju Kota Kotamobagu tak begitu jauh, tapi aku memilih menyewa kamar kos di kota. Aku terlalu sering pulang malam, dan udara dingin sepanjang perjalanan menuju rumah, bisa berakibat buruk bagi kesehatan. Bakal tipis dada ini diparut dingin.

Jalan menuju desaku menanjak sebab berada di puncak. Udaranya dingin. Aku sengaja memilih di desa, sebab dokumen yang aku dapatkan kali ini cukup rahasia. Setidaknya cemas bisa berkurang, ketika membahasnya bersama Deni di rumah, ketimbang di kamar kos.

Sudah hampir sebulan, aku tidak berkunjung ke rumah. Ayah dan ibu pasti bakal mengajakku berbincang lama. Aku lantas memilih menuju rumah kakak. Dia kakakku satu-satunya. Sebelumnya aku sempat menghubunginya. Rumahnya tengah kosong, sebab mereka sekeluarga berkunjung ke rumah mertuanya. Aku mengantongi kunci duplikat rumah kakakku. Sudah sejak SMA.

Aku coba kembali menghubungi Deni. Tak diangkat. Mungkin ia tengah di perjalanan. Aku segera masuk ke dalam rumah kakakku. Baru saja mau menutup pintu, sebuah sepeda motor terlihat masuk ke halaman rumah. Itu motor Deni. Ia memang tahu letak rumah kakakku. Kami dulu sering ke sini, merampah bebek. Umar dan Deni yang kerap jadi koki. Sementara aku dan Indra hanya bisa menyalakan api dan menghabiskan makanan.

“Den, dokumen yang aku dapatkan ini cukup penting,” bisikku di depan pintu.

“Soal kasus pamannya Indra?”

“Iya. Tapi ternyata kasusnya sampai merembet kepada para pejabat tinggi.”

“Wah!”

“Dan kau tahu, yang terlibat adalah mantan wali kota!”


Deni ternganga. Ia segera merebut dokumen itu. Membaca dengan saksama. Matanya membelalak sebab mantan wali kota itu cukup ia kenal. Salah satu putri wali kota itu pernah berpacaran dengan Deni.

(Bersambung)

Senin, 24 Oktober 2016

Saya Bukan Dubuk!

Tidak ada komentar
Ilustrasi NaturePhoto-CZ.com

Alamat email saya dua bulan lalu pernah saya bagikan di laman Facebook. Bukan apa-apa, hanya sepenggal pemberitahuan bagi siapa yang berkenan mengirimkan artikel, cerpen, atau puisi, di situs berita degorontalo.co yang saya asuh bersama teman-teman AJI Kota Gorontalo.

Sejak alamat email itu saya bagikan, satu per satu teman-teman mengirim karya. Ada yang layak tayang, ada pula yang tidak. Bukan sok selektif, tapi begitulah aturannya. Kalau bagus ya dimuat. Bahkan, status panjang teman-teman di Facebook, jika menarik akan kami minta untuk ditayangkan.

Kecuali bagi para blogger, kami menyediakan sindikasi Gorontalo Blogger yang kontennya kami beri nama: GoBlog!. Di situ wadah bagi para blogger yang baru belajar menulis. Tidak hanya pemula, beberapa penulis dan penyair andal di Gorontalo dan Manado, blog mereka juga sering kami sindikasi di GoBlog!. Semua tulisan jika memenuhi standar—asal orisinil—pasti tayang. Saya senang elan teman-teman yang turut memajukan dunia literasi. Saya bahkan banyak belajar dari mereka.

Tapi bukan itu masalahnya. Sejak alamat email saya bagikan kemarin, kemudian berdatangan pesan-pesan aneh. Lucu, sebab rata-rata menyinggung soal seteru antara Katamsi Ginano dan Audy Kerap. Pun sama kasus yang jalin-kelindan dengan satu-dua pewarta, termasuk dengan beberapa situs berita di Bolmong.

Jika saya rangkum, akan menjadi satu pertanyaan: kenapa berdiri di pihak Kronik Mongondow? Maaf, sejak beberapa tahun lalu saya akrab dengan Bang KG (sapa saya kepada Katamsi Ginano). Kami akrab karena saya ingin belajar menulis. Papa Attar (Ahmad Alheid) yang pertama mengenalkan kami. Selain dengan Bang KG, Papa Attar juga memberi petunjuk agar saya belajar kepada Ayah Abang (Amato Assagaf).

Saya bukan bagian dari orang-orang yang suka mendikotomikan hitam-putih. Bahkan saya tidak sedang berdiri di atas cacian malaikat, atau berdiri di atas lantunan ayat-ayat suci dari setan.

Alam raya sekolah saya. Dan segala isinya adalah guru. Bahkan semut pun mengajarkan: ketika bertemu salinglah bertegur sapa. Tidak sedikit fabel yang mengajarkan baik-buruk perilaku dengan mengibaratkan binatang.

Kali pertama saya menjadi wartawan, saya tidak pernah memilih berteman. Saya juga bukan apa-apa, kenapa harus memilih? Bukan hanya di Kotamobagu, di Bolmut pun cara saya bergaul begitu. Silakan tanya wartawan-wartawan di sana. Di Gorontalo juga sama, atau di Jakarta ketika bertemu 19 jurnalis se-Indonesia penerima beasiswa liputan. Mereka sampai hari ini menganggap saya lucu, unyu, dan target empuk untuk diolok. Makanya mereka kerap kangen merisak saya. Dan saya hanya pasrah.

Di Manado apalagi; tempat saya pernah mengamen, menjadi binatang di jalanan, dan menumpang sana-sini. Tapi saya bukan dubuk! Yang suka memakan bangkai sisa buruan dan santapan singa.

Bukankah begitu yang kalian maksudkan? Tiga tulisan saya; Menjadi Wartawan Tak Semudah Mengupil, Untuk Neno, dan Kualitas Buruk Media Online di Bolmong di blog pribadi, kalian anggap memihak Kronik Mongondow. Baca lagi dengan saksama tiga tulisan itu. Tentunya setelah otak kalian direbus dulu biar berguguran bakteri-bakteri. Atau usai kedua bola mata kalian direndam deterjen seharian, gahar sampai terang.

Di artikel Menjadi Wartawan Tak Semudah Mengupil saya menyinggung tentang wartawan-wartawan karbitan. Yang tersinggung berarti mereka karbitan. Di artikel Untuk Neno bahkan si Neno bersepakat dengan apa yang saya tulis. Semerunduk padi, saya coba membalas tulisan Neno yang, memang bukan dimaksudkan kepada saya. Tapi saya hanya hendak berbagi dengannya. Di artikel Kualitas Buruk Media Online di Bolmong saya mengajak untuk mari belajar sama-sama. Jika sekerdil itu pemahaman kalian, wahai para anonymous, maka tebaslah bambu lalu buatlah tangga. Biar tinggi sudah akal kalian. Biar ketika makan, kalian tahu memilah mana beras, mana pasir.

Sekali lagi, saya tidak sedang menyantap sisa buruan singa; mengambil untung, menempel tenar, atau hendak mendompleng popularitas. Saya ini dilingkari "kutukan donal bebek". Bagaimana mau cari untung? Paling-paling tetap sial juga. Kalian terlalu kemaruk menilai saya yang unyu ini.

Jika saya ikut terpingkal-pingkal dengan artikel di Kronik Mongondow, lalu membagikannya, itu karena saya sepakat bahwa orang-orang yang dirisak adalah mereka yang dakar. Apa repotnya sih mengaku salah? Tentu saja sedari awal, bukan nanti ketika perkara telah dihampar. Jangan pernah menunda maaf, itu saja.

Purbasangka negatif hanya akan berakhir di sumur bekas. Tilik lagi tulisan saya, tulisan Bang KG, terkait permasalahan Olden—yang bahkan sudah berjabat erat dengan orang-orang sadar sikap. Baca sesudah salat juga bisa biar dapat hidayah. Saya bahkan tidak menyelungkur perkara Olden, tapi soal perangai buruk wartawan.

Kalau masih tidak suka, sila terang-terangan lewat tulisan. Saya heran kenapa negeri para Bogani dan Bigani ini, akhirnya hanya berisi orang-orang pecundang seperti kalian. Di luar pemilik blog Buruh Kata yang tulisannya meski ia memilih menjadi anonim, tapi sarat pesan positif. Menjadi ghost writer tidak apa-apa, asalkan tulisannya bernas.

Itu bukan alibi, sebab berkali-kali orang mengira Buruh Kata itu saya. Dan saya malah menduga itu Bang KG, yang sedang iseng lantas pura-pura menurunkan maqam. Tapi Bang KG saja heran lantas mengaku itu bukan dia. Masing-masing penulis memang memiliki langgam. Dari situlah sidik jari membekas. Siapapun pemilik akun Buruh Kata, tetaplah menulis; sesadis-sadisnya sadis, sepedis-pedisnya pedis.

Saya juga tidak akan repot-repot menekan pilihan capture atau screenshot, untuk mengabadikan isi email kalian. Kalau mau mengetahui siapa kalian, mudah saja. Saya punya teman peretas sakti, yang bisa menelusuri bahkan sampai ke akun medsos kalian. Ia pernah membuktikan ketika blogger haters Jokowi di Pilpres, diretasnya hingga ke juntai akar terdalam.

Tapi isi email kalian, nasibnya sudah di logo tong sampah. Tempat yang sama, yang cocok untuk kalian. Sebab cukup sudah, orang-orang dijejali istilah baru: kita mokapcur pa ngana!

Minggu, 23 Oktober 2016

Kualitas Buruk Media Online di Bolmong

Tidak ada komentar
picture solopos.com

Tahun kemarin, dunia jurnalistik di Indonesia meriuh dengan polemik senjakala media cetak. Wartawan Kompas, Bre Redana, menuliskan: kami wartawan media cetak, seperti penumpang kapal yang kian dekat menuju akhir hayat, di artikel "Inikah Senjakala Kami..." Kompas edisi 28 Desember 2015. Bre juga menyentil media-media online, yang kerap menyajikan berita-berita kurang bermutu.

Di akhir tahun 2015, ada beberapa media cetak yang akhirnya mengembus nafas terakhir. Seperti: The Jakarta Globe, Medio Desember, Sinar Harapan, Harian Bola, lalu disusul Koran Tempo Minggu yang berhenti cetak.

Media-media cetak di Amerika, sudah jauh-jauh tahun berjatuhan. Sejak 2009 sudah 40 koran di Amerika bangkrut di antaranya: Tribune Co, The New York Times, Majalah Newsweek, Majalah Reader's Digest, dan Rocky Mountain News. 2013 lalu, Washington Post, menambah daftar panjang itu. Jurnalisme digital membabat habis media-media cetak di sana. Di negeri Uncle Sam itu, mereka sudah lebih dulu membaca tanda-tanda zaman.

Tidak bisa dipungkiri, pesatnya perkembangan teknologi membuat orang semakin mudah mengakses berita-berita lewat gadget. Namun yang disayangkan, ada saja berita-berita tidak bermutu, hoax, judul eye catching, kejar klik, dan tidak mendidik, yang beredar di media online.

Untuk memagari stigma buruk media online, maka bermunculanlah media-media online yang mengedepankan mutu jurnalistik. Seperti pindai.org, historia.id, tirto.id, dan ada beberapa lagi. Media-media online itu mengandalkan indepth reporting. Bukan kecepatan. Seperti kecepatan yang jadi jualan utama media-media online lain yang mengandalkan breaking news, reporting the news as it happens.

Menukil perkataan Gabriel García Márquez (a.k.a Gabo), “Mereka digerakkan oleh semangat bahwa cerita terbaik adalah yang pertama kali dimuat, bukan oleh cerita yang paling bagus dituturkan.” Media online memang seharusnya tidak boleh kalah dari media cetak, berkenaan dengan cara penyajian beritanya. Ignatius Haryanto, Remotivi.or.id, mengatakan media online di luar negeri, seperti Pro Publica pernah menerima penghargaan Pulitzer, beberapa tahun yang lalu.

Keunggulan jurnalisme digital, selain bisa menampung big data, pun menyuguhkan realitas yang lebih utuh. Misalnya video bisa dalam satu tubuh berita selain foto. Tapi saya tidak ingin bicara panjang lebar terkait senjakala media cetak dan kebangkitan jurnalisme digital, yang sudah sering didebat oleh beberapa wartawan kawakan.

Saya, sebagai jurnalis yang kini kembali menetap di tanah leluhur, Desa Passi, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), sadar diri bahwa kualitas media-media cetak maupun online di sini masih memprihatinkan. Sudahlah media cetak yang ketika mendirikannya harus bermodalkan ratusan juta. Maka dengan sendirinya, perkembangan media cetak khususnya se-raya Bolmong seperti 'jalan siput'. Sedangkan media online, seperti amuba yang dengan cepat membelah diri.

Dari puluhan media online di Bolmong, coba pindai apakah pernah melakukan liputan indepth reporting? Saya pernah membuat status di sosmed ketika tahu salah satu bahasa daerah--bahasa Lolak--sudah merangkak menuju punah. Tapi tidak ada satu pun media di Bolmong yang meliput tentang itu secara mendalam. Baik media cetak ataupun online. Yang bisa disimak di sini, hanya berita-berita rilis dari humas yang terang saja membikin mata merah dengan judul-judulnya.

Saya pikir, dosa-dosa media online di Bolmong sudah terlalu banyak. Penyajian berita yang mengandalkan kecepatan sering berbuah cibiran. Penjudulan yang salah, isi berita yang membingungkan, dan abai kaidah jurnalistik. Kata Bill Kovach: kualitas jurnalisme menentukan kualitas masyarakatnya.

Pedoman Media Siber yang dipajang di website, hanya seperti pajangan pot-pot bunga plastik. Tidak pernah terlintas untuk saksama membacanya. Selain itu, rekrutmen wartawan baru yang sering mengedepankan asas pertemanan, akhirnya mengabaikan mutu.

Siapa saja bisa menjadi wartawan atau mendirikan media online. Tidak ada yang berhak melarang itu. Tapi ketika semangat itu didorong oleh hal-hal yang tidak baik semisal; tidak patuh UU Pers, Kode Etik Jurnalistik, dan Pedoman Media Siber, maka yang dipermalukan ialah wartawan atau media itu sendiri.

Jurnalis adalah profesi yang sangat dihargai di dunia. Tidak sedikit karya-karya liputan para jurnalis, yang akhirnya dibukukan dan difilmkan. Seperti hasil liputan Truman Capote dalam bentuk buku berjudul In Cold Blood, yang akhirnya difilmkan dengan judul Capote. Capote menyumbang satu pengertian baru yang sangat penting dalam bahasa Inggris. Cold blood yang berarti "sangat kejam" didefinisikan setelah tulisan itu. Ada juga film Spotlight yang kemarin berhasil meraih penghargaan Oscar sebagai film terbaik. Kill the Messengger, All the President's Men, A Thousand Time Good Night, The Bang Bang Club, dan masih banyak lagi.

Bagi yang malas membaca dan memiliki hobi menonton, alternatif belajar bisa dengan menyimak film-film di atas. Di situ ada: cara peliputan investigasi, indepth reporting, bagaimana mengakses data, memburu sumber-sumber, memotret, peace journalisme, buruknya jadi reporter imajiner, journalistic truth, skeptical, self cencorship, embedded journalism, dan masih banyak lagi.

Media-media online di Bolmong, jarang sekali ditemukan konten-konten bermanfaat selain berita tentang pejabat. Cobalah liputan-liputan objek pariwisata, kuliner, sejarah, dan hal-hal sederhana lainnya yang melibatkan masyarakat. Untuk liputan investigasi, sila menuduh lalu buktikan. Tentunya investigasi dalam arti kasus yang belum pernah dimuat media lain, lalu disajikan mendalam.

Laporan investigasi, tidak harus beranjak dari hal-hal besar. Bahkan soal temuan tahu isi berformalin juga termasuk investigasi. Tentunya dengan riset mendalam dan disajikan layaknya makanan lezat. Atau gigi palsu yang ternyata dibuat dari bahan yang berbahaya bagi kesehatan. Praktik pungli juga bisa menjadi bahan investigasi. Apalagi sedang gencar-gencarnya diserukan oleh Presiden Jokowi.

Di Bolmong banyak pemula yang masih segar dan berpotensi. Sayangnya, ketika mereka terjun ke dunia jurnalistik, mereka terpaksa harus terbawa arus. Kuncinya terus belajar, jika memang lurus bercita-cita menjadi jurnalis. Kami selalu menunggu karya-karya terbaik tercipta dari kalian. Dan di saat itulah, kami akan mengangkat pena dan menghormati kalian.

Selalu ingat pula, "Technology is easy, but journalism is hard."

Sabtu, 22 Oktober 2016

Untuk Neno

Tidak ada komentar
picture http://gambar-foto-wallpaper.blogspot.co.id/

Salam kenal, Neno Karlina Paputungan. Entah bagaimana, ternyata kita sudah berteman di Facebook. Hanya saja kamu memakai nama Calsita Catelyna Soekarno di akun Facebook. Saya juga baru tahu, setelah kamu mengomentari tulisan saya lalu membagikannya. Biar sok akrab, saya panggil Neno saja. Namanya lucu ya? Seperti film animasi Finding Nemo.

Kemarin, saya sempatkan membaca dua tulisanmu di detotabuan.com karena dibagikan teman-teman di sosmed. Saya juga baru tahu, kalau posisimu sebagai koordinator liputan (korlip) merangkap wartawan biro Bolmong, setelah saya intip di susunan redaksi.

Bagus ya, di Bolmong semakin banyak perempuan yang tertarik dengan dunia jurnalistik. Selain teman-teman baik saya; Eling, Yuyun, Dinda, dan Eby.

Begini, saya cuma ingin menyampaikan (dengan berusaha sehalus mungkin karena kamu perempuan) kalau dua tulisanmu itu masih banyak kekurangan. Tinggal banyak belajar dan terus asah kemampuan, pasti akan jadi bagus. Dan alangkah lebih bagus lagi jika typo dalam dua tulisanmu itu diperbaiki. Tukang kritik itu konsultan gratis lho. Daripada mereka yang suka memuji dan membiarkan kesalahan. Itu seperti mendorong kita ke dalam semak berduri.

Nah, apalagi kalau tidak salah Neno mengaku masih bau pelatihan jurnalistik. Jika masih bau pelatihan, tentu ada yang melatih bukan? Atau sedang melatih diri sendiri?

Sebenarnya sederhana. Menulis itu hanya butuh kemauan dan kecermatan. Saya juga kerap kali salah. Bahkan saat menulis ini, saya juga mungkin ada beberapa kesalahan. Tipsnya, usai menulis baca lagi tulisannya. Perbaiki mana ejaan yang salah dan penggunaan kata baku sesuai EYD, baru diunggah. Kan, sayang, capek-capek menulis terus cepat-cepat diposting dan ternyata banyak kesalahan.

Apalagi, tulisan Neno diposting di portal berita detotabuan.com dan mungkin dibaca ratusan atau mungkin ribuan orang. Menjadi penulis itu, kita juga harus belajar menjadi pembaca. Penempatan titik, koma, dan tanda baca lainnya juga diperhatikan. Tidak mau kan, Neno membaca kalimat panjang tanpa tanda koma dan titik? Hosa au' a.

Tapi sebenarnya yang terpenting ketika menulis itu sih, ide tulisan. Setelah menemukan ide, maka mulailah menulis. Jangan dulu takut salah. Tapi kalau baru belajar, cobalah membuat blog. Gratis pula. Saya juga suka tertawa sendiri saat membaca tulisan-tulisan lama di blog.

Nah, untuk pemborosan kata dalam kalimat juga bisa dipelajari di internet. Google sudah menyediakan apa yang kita butuhkan. Tinggal kemauan untuk belajar yang terus dikomporin.

Saya beri contoh untuk menghemat kata dalam kalimat di bawah ini:

Neno menulis dan mengirim surat kepada Ebi.

Jika kalimat itu disingkat, biar tidak boros, maka jadinya seperti di bawah ini:

Neno menyurati Ebi.

Menyurati itu sudah termasuk menulis dan mengirim surat, kan?

Terus penggunaan kata baku sesuai KBBI. Jika tidak ada kamus, di ponsel bisa diunduh aplikasi KBBI. Seperti kata 'risiko' yang selalu dieja salah menjadi 'resiko'. Atau 'sekedar' padahal yang benar 'sekadar'. 'Silakan' yang masih sering kelebihan vitamin 'h' menjadi 'silahkan' padahal kata dasarnya 'sila'. Ada juga 'merubah' padahal yang benar itu 'mengubah' karena kata dasarnya 'ubah'. Masih banyak lagi. Apalagi soal preposisi. Semuanya tersedia di internet. Sila cari di Wikipedia. Asal jangan malas saja.

Soal tulisan di Kronik Mongondow, waduh, itu mah biasa. Sudah pernah jadi wartawan media cetak yang hampir setiap hari dibentak? Keuntungan di media cetak hampir semua wartawan diwajibkan menulis berita di kantor. Ada ruang redaksinya. Sebenarnya media online juga punya dapur redaksi. Jadi ketika redaktur sedang mengedit berita — untuk wartawan baru — wajib duduk di samping redaktur. Perhatikan ketika pengeditan. Belum pernah mengalami: kata yang typo terus dibesarkan redaktur? Setelah itu dibentak!

Kata-kata seperti: kodok, idiot, tolol, tumpul, setang, bodok, dega' gulapung bi' kon bonu ulu, dan lain sebagainya, sudah biasa di telinga. Bukan apa-apa, tujuannya biar kita terus belajar dari kesalahan. Jadi wartawan juga jangan cengeng. Nah, karena Neno perempuan, biar ingin bermental logam, coba berteman dengan yang nama Eling. Dijamin, Neno akan banyak belajar menjadi wartawati tangguh. Apalagi sama Yuyun. Bisa juga berteman dengan Dinda dan Eby. Setidaknya mereka sudah lebih dulu terjun di dunia jurnalistik dan sudah banyak mencicipi garam.

Ngomong soal yang lebih dulu terjun menjadi buruh tinta, saya salah satu yang sepakat dengan pendapat: wartawan itu tidak ada senior dan junior. Ngana yang dianggap baru, kalau bisa menulis lebih baik dari mereka yang mengaku lebih dulu jadi wartawan, maka yang dianggap berbakat itu ngana. Tuhan memang adil, karena membagi masing-masing manusia dengan bakat tersendiri. Dan bukan hal yang tidak mungkin, jika suatu saat Neno akan lebih bagus menulisnya.

Akhir kata, tulisan ini tidak perlu dibalas lalu diposting di detotabuan.com. Jika hendak membalas, bikinlah blog ne. Saya juga bukan bermaksud menggurui. Tapi hanya ingin berbagi. Deng inga, inga, inga, jangan amplopan, ting!