Kamis, 23 Februari 2017
Merawat Alam dengan Tradisi Tumpe
DI BIBIR dermaga malam itu, laut terhampar serupa karpet hitam. Tapi itu bukan sebagai tanda penyambutan, melainkan pertanda sebentar lagi kami harus segera mengarungi Teluk Tomini.
Pukul 9 malam, kapal feri yang kami tumpangi bertolak dari pelabuhan Gorontalo menuju Luwuk Banggai. Itu kali pertama saya berkunjung ke sana.
“Nanti kita berlabuh di Pelabuhan Pagimana,” kata salah satu teman.
Kami berangkat 8 Januari 2016. Perjalanan akan kami tempuh semalaman. Kapal feri biasanya berlabuh sekitar pukul 6 pagi di Pelabuhan Pagimana.
Saat itu, ada kami bertujuh yang berangkat dari Gorontalo. Saya, Jufri, Chris, Opan, Ivol, dan Andri. Mat berasal dari Batui. Ia yang mengajak kami. Batui adalah salah satu desa dan kecamatan di Kabupaten Banggai. Mat selama ini kuliah di Gorontalo, dan setelah tamat ia memilih bekerja pula di Gorontalo.
Alasan kami ke Batui, ingin menyaksikan salah satu prosesi adat yang sudah turun temurun di sana. Namanya tradisi Tumpe. Selain itu, ada sebuah niat tulus yang hendak kami utarakan kepada masyarakat di sana.
“Sebenarnya, ritual Tumpe ini diadakan setiap penghujung tahun. Akhir 2015 seharusnya semua prosesi telah dilaksanakan. Tapi kali ini ditunda dan dilaksanakan pada awal 2016. Itu karena kami kesulitan mengumpulkan telur maleo untuk ritual,” cerita Mat.
Percakapan kami jenak terhenti. Kami satu per satu pergi memesan kopi di kafetaria mungil di sudut buritan kapal.
Saat saya berjalan menuju kafetaria, saya menyaksikan kesenjangan sosial yang sangat tampak. Kami beruntung bisa mendapat kelas VIP, setelah sepakat urunan karena barang-barang kami kurang aman di luar. Sementara penumpang lain, harus berdesak-desakan tidur di buritan selebar setengah lapangan futsal. Selain dingin, keadaan di buritan sangat bising.
Di kapal memang terbagi berbagai kelas. Dari kelas kardus, kasur, sampai yang berbilik. Dan mereka yang tidur di buritan adalah kelas kardus.
Bau keringat dan logam menyatu, meruap dan menebal sepanjang jalan saya menuju kafetaria. Orang-orang dengan segala nasib berserakan di lantai, di antara kafetaria mungil dan deretan kursi seadanya yang juga harus berebutan. Orang-orang yang duduk berjejer, seperti sedang menonton pementasan nasib dari mereka yang rebah di atas kardus-kardus.
Setelah masing-masing memesan kopi, kami melanjutkan percakapan. Tapi tidak lama, saya memilih menuju kamar untuk istirah.
Saya dibangunkan pukul 5 pagi oleh Opan. Kami bergegas menuju buritan lagi, untuk mengabadikan matahari terbit. Deretan bukit-bukit di pulau seberang dan awan-awan seakan menyatu. Dan matahari dengan cantiknya menyembul perlahan dari balik bukit.
Pukul 9 malam, kapal feri yang kami tumpangi bertolak dari pelabuhan Gorontalo menuju Luwuk Banggai. Itu kali pertama saya berkunjung ke sana.
“Nanti kita berlabuh di Pelabuhan Pagimana,” kata salah satu teman.
Kami berangkat 8 Januari 2016. Perjalanan akan kami tempuh semalaman. Kapal feri biasanya berlabuh sekitar pukul 6 pagi di Pelabuhan Pagimana.
Saat itu, ada kami bertujuh yang berangkat dari Gorontalo. Saya, Jufri, Chris, Opan, Ivol, dan Andri. Mat berasal dari Batui. Ia yang mengajak kami. Batui adalah salah satu desa dan kecamatan di Kabupaten Banggai. Mat selama ini kuliah di Gorontalo, dan setelah tamat ia memilih bekerja pula di Gorontalo.
Alasan kami ke Batui, ingin menyaksikan salah satu prosesi adat yang sudah turun temurun di sana. Namanya tradisi Tumpe. Selain itu, ada sebuah niat tulus yang hendak kami utarakan kepada masyarakat di sana.
“Sebenarnya, ritual Tumpe ini diadakan setiap penghujung tahun. Akhir 2015 seharusnya semua prosesi telah dilaksanakan. Tapi kali ini ditunda dan dilaksanakan pada awal 2016. Itu karena kami kesulitan mengumpulkan telur maleo untuk ritual,” cerita Mat.
Percakapan kami jenak terhenti. Kami satu per satu pergi memesan kopi di kafetaria mungil di sudut buritan kapal.
Saat saya berjalan menuju kafetaria, saya menyaksikan kesenjangan sosial yang sangat tampak. Kami beruntung bisa mendapat kelas VIP, setelah sepakat urunan karena barang-barang kami kurang aman di luar. Sementara penumpang lain, harus berdesak-desakan tidur di buritan selebar setengah lapangan futsal. Selain dingin, keadaan di buritan sangat bising.
Di kapal memang terbagi berbagai kelas. Dari kelas kardus, kasur, sampai yang berbilik. Dan mereka yang tidur di buritan adalah kelas kardus.
Bau keringat dan logam menyatu, meruap dan menebal sepanjang jalan saya menuju kafetaria. Orang-orang dengan segala nasib berserakan di lantai, di antara kafetaria mungil dan deretan kursi seadanya yang juga harus berebutan. Orang-orang yang duduk berjejer, seperti sedang menonton pementasan nasib dari mereka yang rebah di atas kardus-kardus.
Setelah masing-masing memesan kopi, kami melanjutkan percakapan. Tapi tidak lama, saya memilih menuju kamar untuk istirah.
Saya dibangunkan pukul 5 pagi oleh Opan. Kami bergegas menuju buritan lagi, untuk mengabadikan matahari terbit. Deretan bukit-bukit di pulau seberang dan awan-awan seakan menyatu. Dan matahari dengan cantiknya menyembul perlahan dari balik bukit.
![]() |
| Matahari terbit saat mendekati pelabuhan Pagimana. Foto: Sigidad |
Akhirnya kami tiba juga di Pelabuhan Pagimana. Kami dijemput dua orang kawan asal Batui juga, Kadir dan Abdi. Perjalanan kami lanjutkan dengan mobil. Di perjalanan, kami menyempatkan singgah di air terjun Salodik.
Salodik sangat indah. Ada belasan atau mungkin puluhan air terjun setinggi satu sampai tiga meter yang bersusun-susun. Tapi saya sempat terenyuh dengan kondisi gazebo-gazebo yang telah reyot dimakan rayap. Beberapa di antaranya telah roboh. Seorang penjaga menjelaskan, bahwa pemerintah setempat memang kurang memperhatikan objek pariwisata Salodik. Sangat disayangkan memang. Padahal tarifnya cukup murah, hanya dua ribu per pengunjung dengan menawarkan keindahan alam yang begitu asri dan sejuk.
Kami tak berlama-lama, karena harus melanjutkan perjalanan ke Batui. Setelah dari Salodik, perjalanan terlewati dengan lelah dan lelap. Bahkan lanskap Kota Luwuk tidak sempat saya saksikan, sebab saya ketiduran di mobil.
Saya terbangun dan mobil kami masih terus melaju menuju Batui. Sejam kemudian, perusahaan Liquefied Natural Gas (LNG) dengan cerobong api besar seperti obor raksasa menyambut kami. LNG adalah blok minyak dan gas milik Medco Grup yang bekerja sama dengan Pertamina.
“Kita sudah di Kecamatan Batui,” kata Mat.
Hanya beberapa menit kemudian, kami tiba di Desa Batui. Rumah kerabatnya Mat, menjadi persinggahan selama kami berada di sana. Setelah saling bertukar nama dan saling kenal dengan pemilik rumah, kami diajak makan.
Saat makan, pembicaraan kami selain tentang perkenalan, dilanjutkan dengan percakapan serius tentang apa yang harus diperbuat masyarakat Batui, untuk mempertahankan tradisi Tumpe, yang mulai tergerus industri. Karena memang itulah tujuan kami.
Dari perbincangan itu, saya mulai mafhum apa itu tradisi Tumpe dan kenapa harus dipertahankan. Prosesi Molabot Tumpe sudah ada sejak tahun 1500-an. Dari catatan buku berwarna kusam yang hanya diketik dan dicetak seadanya, yang diperlihatkan Mat, diceritakan dulu ada seorang lelaki bernama Adi Cokro, dari kerajaan Jawa di Kediri, datang ke tanah Banggai. Kemudian orang Banggai mulai memanggilnya Adi Soko.
Di tanah Banggai, sejak 1200-an Islam sudah ada yang dibawa dan disiarkan oleh Syeh Djabar dari Hadramaut. Tujuan kedatangan Adi Soko di Banggai, hendak memperdalam agama Islam.
Orang-orang Banggai mulai menyukai Adi Soko, yang berperilaku arif dan bijak. Karena itu, Adi Soko diangkat menjadi Raja Banggai. Ia dinikahkan pula dengan putri Raja Motindok di Batui bernama Sitti Aminah. Setelah menikah, lahirlah putra mereka yang diberi nama Abu Kasim.
Saat Abu Kasim lahir, sang kakek, Raja Motindok, menghadiahi sepasang burung maleo. Tapi seiring waktu berjalan, Adi Soko yang juga sebagai Raja Banggai, berkeinginan untuk kembali ke tanah Jawa.
Ketika Adi Soko kembali ke tanah Jawa, sepasang maleo itu turut dibawanya, sementara istri dan anaknya ditinggal dan menetap di Gunung Tatandak.
Tampuk kerajaan saat itu kosong. Masyarakat Banggai ingin mencari raja baru, setelah ditinggal pergi Adi Soko. Kemudian pilihan jatuh kepada Abu Kasim.
Setelah diputuskan, para petinggi kerajaan pergi menjemput Abu Kasim, akan tetapi ia menolak menjadi raja karena teringat pesan ibunya. Isi pesan ibunya mengatakan: agar Abu Kasim jangan menjadi raja, sebab jika kelak menjadi raja, maka seumur hidup mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Sesuai pesan itulah, Abu Kasim memilih untuk menolak menjadi raja, lalu memutuskan pergi ke tanah Jawa untuk menemui ayahnya, Adi Soko. Setelah berhasil menemukan ayahnya, ia diamanahi agar segera pergi menemui saudaranya Mandapar di Ternate. Mandapar juga anak Adi Soko dari istrinya yang berdarah Portugis di Maluku Utara.
Abu Kasim akhirnya sepakat dengan ayahnya. Dan ketika pulang, sepasang maleo yang pernah diberikan kakeknya, Raja Matindok, kepada Adi Soko, dibawa kembali ke Banggai. Sebab, di tempat Adi Soko, burung maleo tidak bisa beranak-pinak.
Selanjutnya, Abu Kasim pergi menemui Mandapar di Ternate. Setelah dibujuk, Mandapar akhirnya bersedia menjadi Raja Banggai.
Bagaimana nasib sepasang maleo yang dibawa Abu Kasim? Burung itu dibawa ke Batui dan dilepas di Bakiriang. Abu Kasim juga menitipkan pesan kepada sang kakek, agar telur pertama dari sepasang maleo itu, dibawa ke Kerajaan Banggai.
Proses pengantaran telur maleo pertama itulah yang disebut Tumpe. Hingga sekarang, amanah untuk mengantar telur dilaksanakan setiap tahunnya dengan prosesi adat.
“Tapi sekarang telur maleo susah didapat di Batui dan sekitarnya,” terang Mat.
Hal itu disebabkan ekspansi besar-besaran dari perusahaan-perusahaan. Di antaranya, LNG Donggi Senoro yang menguasai Suaka Margasatwa Bakiriang, juga perkebunan sawit PT. Kurnia Luwuk Sejati (KLS), yang telah menanam sawit di Bakiriang sejak 1999.
Akibat habitat maleo terganggu, masyarakat Batui harus pergi ke Kabupaten Morowali untuk membeli telur sebanyak 160-an butir, guna keperluan ritual.
“Kami harus membeli dengan harga lima puluh ribu per butir,” terang Mat.
Kendati dalam prosesi adat Tumpe mereka menggunakan telur maleo, masyarakat Batui turun temurun diajarkan untuk menjaga kelestarian habitatnya. Mereka mengambil telur maleo seperlunya saja. Tapi sejak perusahaan-perusahaan masuk di lokasi tanah adat dan merusak habitat burung maleo, akhirnya masyarakat Batui harus berpikir keras untuk menemukan telur maleo.
Sebenarnya, masyarakat adat Batui pernah melawan demi mempertahankan tanah adat. Tahun 2004, pepohonan di wilayah Kusali Bola Totonga, ditebang oleh perusahaan kayu. Marah dengan penebangan itu, masyarakat berbondong-bondong mengepung kantor polisi di kecamatan, untuk menuntut keadilan.
Akan tetapi, pihak kepolisian terkesan membela pihak perusahaan kala itu. Bahkan pelaku bebas berkeliaran. Merasa tuntutan mereka tidak dipenuhi, masyarakat mulai terpancing emosi dan melempari kantor polisi dengan batu. Keadaan ricuh.
"Bahkan ada yang membawa martil dan coba merobohkan kantor polisi. Kantor itu nyaris rata dengan tanah,” kenang Mat.
Beberapa hari kemudian, yang melakukan demo mulai diciduk satu per satu, termasuk Mat. Ada 28 orang ditangkap, salah satunya ketua lembaga adat. Mereka dituntut penjara 7 tahun dan dikenakan pasal perbuatan makar dan perusakan fasilitas umum.
“Kami menjalani hukuman penjara 6 bulan saja, termasuk saya karena dianggap provokator. Lainnya, penjara 4 bulan," tutur Mat, yang sewaktu memimpin demo, ia masih berstatus mahasiswa semester tiga di salah satu universitas di Gorontalo.
Pada Oktober 2010, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah menyurati Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), yang isinya menyebutkan: petugas BKSDA Sulteng menemukan perambahan Suaka Margasatwa Bakiriang menjadi perkebunan sawit milik PT. KLS seluas 562,08 hektar. Perambahan tersebut dilakukan sejak 2000. Padahal, Kawasan Suaka Margasatwa Bakiriang telah ditetapkan berdasarkan SK Menhut Nomor 394/kpts-II tahun 1998 tanggal 21 April 1998 dengan luas 12.500 hektar.
Sore pun tiba. Kami harus mengusai pembicaraan itu, lalu menyiapkan diri untuk menuju lokasi pelaksanaan ritual Monsawe.
SEPOTONG langit terlihat seperti terpanggang obor raksasa, sepanjang perjalanan kami menuju lokasi. Fenomena itu berasal dari cerobong api perusahaan LNG. Sepanjang tahun, langit di Batui selalu seperti itu. Berwarna tembaga pada malam hari.
Kami menggunakan mobil, menyusuri jalan berkerikil. Ritual Monsawe akan segera dilaksanakan, sebagai ucapan sukur atas selesainya pelaksanaan Tumpe.
Proses pengantaran telur sudah dilaksanakan sejak 24 Desember 2015. Dituturkan oleh Mat, pada prosesi itu, puluhan orang memakai baju adat merah, sembari memegang dua butir telur maleo yang terbungkus daun menyerupai lontar dan telah didoakan tetua adat.
Orang-orang itu beriringan menuju muara sungai, tempat perahu adat yang terpasang bendera bersandar. Perahu dilengkapi gong dan rebana, yang dibunyikan untuk menyambut mereka.
“Sekitar seratus lebih telur maleo dibawa ke Pulau Peling, lokasi Kerajaan Banggai. Perjalanan ini ditempuh sehari semalam dengan perahu,” kata Mat.
Asyik mendengarkan cerita Mat, tak sadar, kami sudah sampai di lokasi prosesi adat. Di lokasi yang jarak tempuhnya menggunakan mobil sekitar dua puluh menit, masyarakat Batui telah ramai memenuhi Kusali. Kusali adalah bangunan tempat pelaksanaan prosesi Monsawe. Tampak orang-orang tua, muda, dan anak-anak sibuk merapikan Kusali.
Ada empat Kusali yang letaknya saling berjauhan, di antaranya Kusali Loa, Kusali Kuop, Kusali Bola Totonga, serta Kusali Matindok. Malam itu, kami berada di Kusali Bola Totonga, yang menjadi tempat ketiga puncak perayaan Tumpe.
Kami meletakkan barang bawaan di pondok yang dibangun warga di sekeliling Kusali. Ada beberapa pondok yang dibangun permanen berbahan kayu beratap seng. Sementara bangunan lain, dibangun sederhana dengan bambu dan terpal. Yang muda, biasanya mendirikan tenda.
Selain umbul-umbul merah putih, ada pula tiang bendera memancang di depan Kusali. Di atasnya dikibarkan bendera merah putih. Padahal dulu, bendera yang digunakan harusnya berwarna merah. Bendera mulai diganti sejak terjadinya peristiwa 1965.
Salodik sangat indah. Ada belasan atau mungkin puluhan air terjun setinggi satu sampai tiga meter yang bersusun-susun. Tapi saya sempat terenyuh dengan kondisi gazebo-gazebo yang telah reyot dimakan rayap. Beberapa di antaranya telah roboh. Seorang penjaga menjelaskan, bahwa pemerintah setempat memang kurang memperhatikan objek pariwisata Salodik. Sangat disayangkan memang. Padahal tarifnya cukup murah, hanya dua ribu per pengunjung dengan menawarkan keindahan alam yang begitu asri dan sejuk.
![]() |
| Air terjun Salodik. Foto: Sigidad |
Kami tak berlama-lama, karena harus melanjutkan perjalanan ke Batui. Setelah dari Salodik, perjalanan terlewati dengan lelah dan lelap. Bahkan lanskap Kota Luwuk tidak sempat saya saksikan, sebab saya ketiduran di mobil.
Saya terbangun dan mobil kami masih terus melaju menuju Batui. Sejam kemudian, perusahaan Liquefied Natural Gas (LNG) dengan cerobong api besar seperti obor raksasa menyambut kami. LNG adalah blok minyak dan gas milik Medco Grup yang bekerja sama dengan Pertamina.
“Kita sudah di Kecamatan Batui,” kata Mat.
Hanya beberapa menit kemudian, kami tiba di Desa Batui. Rumah kerabatnya Mat, menjadi persinggahan selama kami berada di sana. Setelah saling bertukar nama dan saling kenal dengan pemilik rumah, kami diajak makan.
Saat makan, pembicaraan kami selain tentang perkenalan, dilanjutkan dengan percakapan serius tentang apa yang harus diperbuat masyarakat Batui, untuk mempertahankan tradisi Tumpe, yang mulai tergerus industri. Karena memang itulah tujuan kami.
Dari perbincangan itu, saya mulai mafhum apa itu tradisi Tumpe dan kenapa harus dipertahankan. Prosesi Molabot Tumpe sudah ada sejak tahun 1500-an. Dari catatan buku berwarna kusam yang hanya diketik dan dicetak seadanya, yang diperlihatkan Mat, diceritakan dulu ada seorang lelaki bernama Adi Cokro, dari kerajaan Jawa di Kediri, datang ke tanah Banggai. Kemudian orang Banggai mulai memanggilnya Adi Soko.
Di tanah Banggai, sejak 1200-an Islam sudah ada yang dibawa dan disiarkan oleh Syeh Djabar dari Hadramaut. Tujuan kedatangan Adi Soko di Banggai, hendak memperdalam agama Islam.
Orang-orang Banggai mulai menyukai Adi Soko, yang berperilaku arif dan bijak. Karena itu, Adi Soko diangkat menjadi Raja Banggai. Ia dinikahkan pula dengan putri Raja Motindok di Batui bernama Sitti Aminah. Setelah menikah, lahirlah putra mereka yang diberi nama Abu Kasim.
Saat Abu Kasim lahir, sang kakek, Raja Motindok, menghadiahi sepasang burung maleo. Tapi seiring waktu berjalan, Adi Soko yang juga sebagai Raja Banggai, berkeinginan untuk kembali ke tanah Jawa.
Ketika Adi Soko kembali ke tanah Jawa, sepasang maleo itu turut dibawanya, sementara istri dan anaknya ditinggal dan menetap di Gunung Tatandak.
Tampuk kerajaan saat itu kosong. Masyarakat Banggai ingin mencari raja baru, setelah ditinggal pergi Adi Soko. Kemudian pilihan jatuh kepada Abu Kasim.
Setelah diputuskan, para petinggi kerajaan pergi menjemput Abu Kasim, akan tetapi ia menolak menjadi raja karena teringat pesan ibunya. Isi pesan ibunya mengatakan: agar Abu Kasim jangan menjadi raja, sebab jika kelak menjadi raja, maka seumur hidup mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Sesuai pesan itulah, Abu Kasim memilih untuk menolak menjadi raja, lalu memutuskan pergi ke tanah Jawa untuk menemui ayahnya, Adi Soko. Setelah berhasil menemukan ayahnya, ia diamanahi agar segera pergi menemui saudaranya Mandapar di Ternate. Mandapar juga anak Adi Soko dari istrinya yang berdarah Portugis di Maluku Utara.
Abu Kasim akhirnya sepakat dengan ayahnya. Dan ketika pulang, sepasang maleo yang pernah diberikan kakeknya, Raja Matindok, kepada Adi Soko, dibawa kembali ke Banggai. Sebab, di tempat Adi Soko, burung maleo tidak bisa beranak-pinak.
Selanjutnya, Abu Kasim pergi menemui Mandapar di Ternate. Setelah dibujuk, Mandapar akhirnya bersedia menjadi Raja Banggai.
Bagaimana nasib sepasang maleo yang dibawa Abu Kasim? Burung itu dibawa ke Batui dan dilepas di Bakiriang. Abu Kasim juga menitipkan pesan kepada sang kakek, agar telur pertama dari sepasang maleo itu, dibawa ke Kerajaan Banggai.
Proses pengantaran telur maleo pertama itulah yang disebut Tumpe. Hingga sekarang, amanah untuk mengantar telur dilaksanakan setiap tahunnya dengan prosesi adat.
“Tapi sekarang telur maleo susah didapat di Batui dan sekitarnya,” terang Mat.
Hal itu disebabkan ekspansi besar-besaran dari perusahaan-perusahaan. Di antaranya, LNG Donggi Senoro yang menguasai Suaka Margasatwa Bakiriang, juga perkebunan sawit PT. Kurnia Luwuk Sejati (KLS), yang telah menanam sawit di Bakiriang sejak 1999.
![]() |
| Lokasi perusahaan LNG. Foto: Sigidad |
Akibat habitat maleo terganggu, masyarakat Batui harus pergi ke Kabupaten Morowali untuk membeli telur sebanyak 160-an butir, guna keperluan ritual.
“Kami harus membeli dengan harga lima puluh ribu per butir,” terang Mat.
Kendati dalam prosesi adat Tumpe mereka menggunakan telur maleo, masyarakat Batui turun temurun diajarkan untuk menjaga kelestarian habitatnya. Mereka mengambil telur maleo seperlunya saja. Tapi sejak perusahaan-perusahaan masuk di lokasi tanah adat dan merusak habitat burung maleo, akhirnya masyarakat Batui harus berpikir keras untuk menemukan telur maleo.
Sebenarnya, masyarakat adat Batui pernah melawan demi mempertahankan tanah adat. Tahun 2004, pepohonan di wilayah Kusali Bola Totonga, ditebang oleh perusahaan kayu. Marah dengan penebangan itu, masyarakat berbondong-bondong mengepung kantor polisi di kecamatan, untuk menuntut keadilan.
Akan tetapi, pihak kepolisian terkesan membela pihak perusahaan kala itu. Bahkan pelaku bebas berkeliaran. Merasa tuntutan mereka tidak dipenuhi, masyarakat mulai terpancing emosi dan melempari kantor polisi dengan batu. Keadaan ricuh.
"Bahkan ada yang membawa martil dan coba merobohkan kantor polisi. Kantor itu nyaris rata dengan tanah,” kenang Mat.
Beberapa hari kemudian, yang melakukan demo mulai diciduk satu per satu, termasuk Mat. Ada 28 orang ditangkap, salah satunya ketua lembaga adat. Mereka dituntut penjara 7 tahun dan dikenakan pasal perbuatan makar dan perusakan fasilitas umum.
“Kami menjalani hukuman penjara 6 bulan saja, termasuk saya karena dianggap provokator. Lainnya, penjara 4 bulan," tutur Mat, yang sewaktu memimpin demo, ia masih berstatus mahasiswa semester tiga di salah satu universitas di Gorontalo.
Pada Oktober 2010, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah menyurati Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), yang isinya menyebutkan: petugas BKSDA Sulteng menemukan perambahan Suaka Margasatwa Bakiriang menjadi perkebunan sawit milik PT. KLS seluas 562,08 hektar. Perambahan tersebut dilakukan sejak 2000. Padahal, Kawasan Suaka Margasatwa Bakiriang telah ditetapkan berdasarkan SK Menhut Nomor 394/kpts-II tahun 1998 tanggal 21 April 1998 dengan luas 12.500 hektar.
Sore pun tiba. Kami harus mengusai pembicaraan itu, lalu menyiapkan diri untuk menuju lokasi pelaksanaan ritual Monsawe.
SEPOTONG langit terlihat seperti terpanggang obor raksasa, sepanjang perjalanan kami menuju lokasi. Fenomena itu berasal dari cerobong api perusahaan LNG. Sepanjang tahun, langit di Batui selalu seperti itu. Berwarna tembaga pada malam hari.
Kami menggunakan mobil, menyusuri jalan berkerikil. Ritual Monsawe akan segera dilaksanakan, sebagai ucapan sukur atas selesainya pelaksanaan Tumpe.
Proses pengantaran telur sudah dilaksanakan sejak 24 Desember 2015. Dituturkan oleh Mat, pada prosesi itu, puluhan orang memakai baju adat merah, sembari memegang dua butir telur maleo yang terbungkus daun menyerupai lontar dan telah didoakan tetua adat.
Orang-orang itu beriringan menuju muara sungai, tempat perahu adat yang terpasang bendera bersandar. Perahu dilengkapi gong dan rebana, yang dibunyikan untuk menyambut mereka.
“Sekitar seratus lebih telur maleo dibawa ke Pulau Peling, lokasi Kerajaan Banggai. Perjalanan ini ditempuh sehari semalam dengan perahu,” kata Mat.
Asyik mendengarkan cerita Mat, tak sadar, kami sudah sampai di lokasi prosesi adat. Di lokasi yang jarak tempuhnya menggunakan mobil sekitar dua puluh menit, masyarakat Batui telah ramai memenuhi Kusali. Kusali adalah bangunan tempat pelaksanaan prosesi Monsawe. Tampak orang-orang tua, muda, dan anak-anak sibuk merapikan Kusali.
Ada empat Kusali yang letaknya saling berjauhan, di antaranya Kusali Loa, Kusali Kuop, Kusali Bola Totonga, serta Kusali Matindok. Malam itu, kami berada di Kusali Bola Totonga, yang menjadi tempat ketiga puncak perayaan Tumpe.
Kami meletakkan barang bawaan di pondok yang dibangun warga di sekeliling Kusali. Ada beberapa pondok yang dibangun permanen berbahan kayu beratap seng. Sementara bangunan lain, dibangun sederhana dengan bambu dan terpal. Yang muda, biasanya mendirikan tenda.
Selain umbul-umbul merah putih, ada pula tiang bendera memancang di depan Kusali. Di atasnya dikibarkan bendera merah putih. Padahal dulu, bendera yang digunakan harusnya berwarna merah. Bendera mulai diganti sejak terjadinya peristiwa 1965.
![]() |
| Kusali, tempat prosesi adat digelar. Foto: Sigidad |
Alasan diganti, menurut orang-orang Batui, dikarenakan mereka sempat dituduh bagian dari komunis oleh komando distrik militer setempat.
Malam itu, Kusali menjelma menjadi perayaan yang menyerupai malam pesta pernikahan. Dapur umum dibangun. Asap menebal. Suasana riuh oleh senda gurau masyarakat Batui.
Puluhan ibu-ibu di dapur umum, seperti hasil kloningan dari ibu saya sendiri. Mereka sangat ramah, penuh tawa, dan kerap mengajak makan setiap kali kami lewat.
Setelah lelah berkeliling Kusali dan pondok-pondok, saya rebah sejenak di pondok keluarganya Mat. Dan... kemudian saya pun terlelap.
Duuuunnnnggg … duuuunnnngggg ... duuuunnnngggg...
Suara mendengung itu terdengar sayup-sayup. Riuh orang lalu-lalang pun berdengung serupa sekumpulan lebah. Saya mungkin sedang bermimpi. Sampai ketika mata saya terbuka, ternyata suara yang masuk ke alam bawah sadar saya, berasal dari dalam Kusali.
"Sudah dimulai?" tanya saya kepada kakak perempuannya Mat.
"Iya, baru dimulai," jawabnya.
Saya melirik jam di ponsel. Sudah pukul 10 malam. Saya bergegas menuju tempat ritual, yang sebenarnya hanya berjarak seperlemparan gundu dari pondok. Saat masuk ke dalam, bunyi gong yang ditabuh, memenuhi seisi ruangan. Gemuruh dua kalimat syahadat selaras dengan ketukan-ketukan gong. Meski memakai jaket, dingin perlahan merangkul.
Di ritual ini, kabarnya nanti ada beberapa orang dari berbagai usia, yang akan dibuai oleh roh leluhur, yang mereka sebut Tontembang--bukan kemasukan yang lebih berkonotasi pada roh jahat.
Sepuluh menit kemudian, dua orang nenek di samping sebuah altar, tubuhnya mulai bergetar. Dalam posisi bersila, keduanya seperti sedang dibuai. Tubuh mereka bergoncang mengikuti irama gong dan syahadat.
"Itu sudah Tontembang?" tanya saya penasaran, pada seorang perempuan di samping saya.
"Iya, sudah."
"Apakah pernah ada anak-anak yang Tontembang?"
"Iya, ada. Biasanya yang anak-anak hanya bermain ketika Tontembang."
Jawabannya itu, membikin saya merinding. Tapi karena gemuruh syahadat, rinding perlahan berubah jadi rasa haru. Nuansa islami sangat terasa malam itu. Satu per satu, dari yang muda hingga renta, mulai tertarik masuk ke dalam pusaran syahadat.
Tubuh mereka satu per satu dirasuki roh-roh leluhur. Kain berwarna merah menutupi pundak, sebagai penanda bahwa lima panca indra mereka telah dikendalikan roh. Beberapa orang ibu yang Tontembang, sembari gemulai menari, berjalan keluar beriringan untuk mengambil air wudu.
"Itu, yang keluar ambil wudu, masih Tontembang?"
"Iya, nanti mereka masuk kembali," jawabnya. Tak tergurat sedikit pun kesal di wajahnya, saat meladeni setiap pertanyaan-pertanyaan saya.
"Terus, bagaimana jika yang masuk nanti roh jahat?"
"Ada yang bisa mengusir, nanti ‘kan ditanyai, kalau memang bukan roh leluhur, pasti diusir," jelasnya.
Tiba-tiba, di tempat para kaum laki-laki berjejer, ada seseorang yang dengan posisi bersila lantas tubuhnya terangkat ke udara. Seperti sebuah loncatan. Semua orang kaget. Meski hanya sekitar lima detik di udara, dengan tinggi loncatan satu meter, saya coba menalar, bagaimana bisa orang dalam posisi bersila, bisa meloncat setinggi itu?
Malam itu, Kusali menjelma menjadi perayaan yang menyerupai malam pesta pernikahan. Dapur umum dibangun. Asap menebal. Suasana riuh oleh senda gurau masyarakat Batui.
Puluhan ibu-ibu di dapur umum, seperti hasil kloningan dari ibu saya sendiri. Mereka sangat ramah, penuh tawa, dan kerap mengajak makan setiap kali kami lewat.
Setelah lelah berkeliling Kusali dan pondok-pondok, saya rebah sejenak di pondok keluarganya Mat. Dan... kemudian saya pun terlelap.
Duuuunnnnggg … duuuunnnngggg ... duuuunnnngggg...
Suara mendengung itu terdengar sayup-sayup. Riuh orang lalu-lalang pun berdengung serupa sekumpulan lebah. Saya mungkin sedang bermimpi. Sampai ketika mata saya terbuka, ternyata suara yang masuk ke alam bawah sadar saya, berasal dari dalam Kusali.
"Sudah dimulai?" tanya saya kepada kakak perempuannya Mat.
"Iya, baru dimulai," jawabnya.
Saya melirik jam di ponsel. Sudah pukul 10 malam. Saya bergegas menuju tempat ritual, yang sebenarnya hanya berjarak seperlemparan gundu dari pondok. Saat masuk ke dalam, bunyi gong yang ditabuh, memenuhi seisi ruangan. Gemuruh dua kalimat syahadat selaras dengan ketukan-ketukan gong. Meski memakai jaket, dingin perlahan merangkul.
Di ritual ini, kabarnya nanti ada beberapa orang dari berbagai usia, yang akan dibuai oleh roh leluhur, yang mereka sebut Tontembang--bukan kemasukan yang lebih berkonotasi pada roh jahat.
Sepuluh menit kemudian, dua orang nenek di samping sebuah altar, tubuhnya mulai bergetar. Dalam posisi bersila, keduanya seperti sedang dibuai. Tubuh mereka bergoncang mengikuti irama gong dan syahadat.
"Itu sudah Tontembang?" tanya saya penasaran, pada seorang perempuan di samping saya.
"Iya, sudah."
"Apakah pernah ada anak-anak yang Tontembang?"
"Iya, ada. Biasanya yang anak-anak hanya bermain ketika Tontembang."
Jawabannya itu, membikin saya merinding. Tapi karena gemuruh syahadat, rinding perlahan berubah jadi rasa haru. Nuansa islami sangat terasa malam itu. Satu per satu, dari yang muda hingga renta, mulai tertarik masuk ke dalam pusaran syahadat.
Tubuh mereka satu per satu dirasuki roh-roh leluhur. Kain berwarna merah menutupi pundak, sebagai penanda bahwa lima panca indra mereka telah dikendalikan roh. Beberapa orang ibu yang Tontembang, sembari gemulai menari, berjalan keluar beriringan untuk mengambil air wudu.
"Itu, yang keluar ambil wudu, masih Tontembang?"
"Iya, nanti mereka masuk kembali," jawabnya. Tak tergurat sedikit pun kesal di wajahnya, saat meladeni setiap pertanyaan-pertanyaan saya.
"Terus, bagaimana jika yang masuk nanti roh jahat?"
"Ada yang bisa mengusir, nanti ‘kan ditanyai, kalau memang bukan roh leluhur, pasti diusir," jelasnya.
Tiba-tiba, di tempat para kaum laki-laki berjejer, ada seseorang yang dengan posisi bersila lantas tubuhnya terangkat ke udara. Seperti sebuah loncatan. Semua orang kaget. Meski hanya sekitar lima detik di udara, dengan tinggi loncatan satu meter, saya coba menalar, bagaimana bisa orang dalam posisi bersila, bisa meloncat setinggi itu?
![]() |
| Beberapa orang sudah Tontembang. Foto: Sigidad |
Sudah puluhan orang mulai dibuai roh leluhur. Kain merah sebagai tanda bahwa orang-orang ini sudah Tontembang. Yang unik, roh leluhur menguasai tubuh tidak harus sesuai gender. Ada roh leluhur perempuan, yang masuk ke dalam tubuh laki-laki. Ada pula sebaliknya, roh leluhur laki-laki, yang masuk ke raga perempuan.
Seorang perempuan, tampak memakai kopiah, merokok, dan duduk bersila dengan tegap layaknya seorang laki-laki. Perangainya berubah total menjadi laki-laki. Ia juga menyulut sebatang rokok kretek dan mengisapnya.
Prosesi itu berlangsung sepanjang malam. Tapi, orang-orang yang Tontembang tak sedikit pun terlihat lelah.
Pukul 4 pagi, kantuk kembali menyergap. Saya memilih kembali ke pondok. Dari dalam pondok, hampir setiap saat, saya melihat orang-orang tampak berlari mengerumuni tempat ritual. Mereka yang hanya di luar, bergelantungan di jendela.
Kemudian, terdengar kabar dari yang sempat menyaksikan, bahwa ada seekor burung maleo terbang masuk ke dalam Kusali. Padahal di sekitar situ, tidak bakalan lagi ditemui burung maleo.
Lantunan syahadat, tabuhan gong dan gendang, membikin mata saya cepat meredup...
Seorang perempuan, tampak memakai kopiah, merokok, dan duduk bersila dengan tegap layaknya seorang laki-laki. Perangainya berubah total menjadi laki-laki. Ia juga menyulut sebatang rokok kretek dan mengisapnya.
Prosesi itu berlangsung sepanjang malam. Tapi, orang-orang yang Tontembang tak sedikit pun terlihat lelah.
Pukul 4 pagi, kantuk kembali menyergap. Saya memilih kembali ke pondok. Dari dalam pondok, hampir setiap saat, saya melihat orang-orang tampak berlari mengerumuni tempat ritual. Mereka yang hanya di luar, bergelantungan di jendela.
Kemudian, terdengar kabar dari yang sempat menyaksikan, bahwa ada seekor burung maleo terbang masuk ke dalam Kusali. Padahal di sekitar situ, tidak bakalan lagi ditemui burung maleo.
Lantunan syahadat, tabuhan gong dan gendang, membikin mata saya cepat meredup...
![]() |
| Mereka yang Tontembang menari dan bersyahadat hingga pagi hari. Foto: Sigidad |
Pukul 7 pagi, mata saya menyala terang. Saya kembali masuk ke dalam tempat ritual. Semakin bertambah orang yang mengenakan kain merah. Mereka berdiri berpasang-pasangan, menari-nari. Saya hanya tidak habis pikir, sebab beberapa di antaranya usianya sudah renta. Tapi mereka tahan menari selama berjam-jam.
Dan, kawan saya, Mat, yang sedari malam ikut dalam pusaran ritual, tubuhnya tiba-tiba bergetar. Saya segera merogoh ponsel di kantong. Saya coba merekam momen itu. Ia tiba-tiba masuk ke dalam arena ritual, yang berada paling tengah. Setiap yang Tontembang, pasti akan menuju atau dibimbing ke tengah arena.
Hamparan karpet merah dibuat kusut oleh liuk tubuhnya. Gesturnya seperti orang bersilat, kemudian berganti menyerupai seorang panglima sambil berkacak pinggang. Kemudian kedua lengannnya terbentang dan berayun-ayun, seperti mengisyaratkan ajakan agar lafadz syahadat lebih dikeraskan.
Tak lama, tubuhnya lunglai bersujud. Ia dituntun untuk keluar arena. Ia lantas memilih keluar dari tempat ritual dan menuju pondok. Saya yang saat itu sudah kembali ke pondok, diajaknya untuk menjauh dari tempat ritual.
"Ayo, ikut saya."
"Mau ke mana?"
"Agak sedikit menjauh dari sini. Jika mendengar lantunan syahadat itu, saya seperti ditarik kembali ke alam lain," ceritanya, sembari terus melangkah menuju sebuah pondok berlantai dua, di dekat gerbang masuk Kusali.
Di belakang pondok, ia terus mengusap wajahnya yang masih pucat pasi. Dua orang laki-laki turut serta bersama kami saat itu. Salah satunya, ternyata adalah kerabat dekatnya.
"Bagaimana perasaanmu tadi? tanyaku.
"Aduh, saya tidak tahu lagi. Saya tidak dalam keadaan sadar." Ia coba mengingat.
Melihat raut wajahnya, saya coba mengalihkan pembicaraan. Saya bertanya kepada kerabatnya itu, apakah di wilayah sekitar Kusali, sudah ada perkebunan sawit. Saya mendapati jawaban yang membuat selengkung senyuman di wajah saya.
"Jaraknya tidak jauh dari sini, tapi saya sudah memagari batasnya. Saya mengingatkan kepada mereka, kalau sampai lewat batas tanah adat ini, maka nyawa saya jadi taruhan!"
Bangga saya dibuatnya. Di tengah gempuran perusahaan-perusahaan rakus, masih ada semangat-semangat melawan seperti itu, meski yang lainnya lebih memilih jatuh dalam pelukan korporasi. Nasib abadinya ritual ini ada di tangan orang-orang seperti mereka.
Mat memilih kembali ke pondok, setelah ritual berakhir, pukul 9 pagi. Saat melangkah menuju pondok, sebuah lantunan tembang terdengar begitu menyayat.
"Itu yang menyanyi laki-laki, tapi roh perempuan yang masuk," jelasnya.
Saya berlari menuju pengeras suara, untuk merekam tembang itu. Nyanyian itu melurut hati saya.
Bait-bait sabda dari alam yang transendental itu kira-kira mengartikan: kebersamaan harus dijaga, sebab prosesi adat ini hanya digelar sekali dalam setahun. Maka tradisi Tumpe diharapkan menjadi momen untuk tetap menjaga sikap gotong-royong, saling membantu, dan mempererat persaudaraan.
Selarik pesan moral yang datang menembus dari alam Mulk yang tidak terukur oleh indra jasad.
Dan, kawan saya, Mat, yang sedari malam ikut dalam pusaran ritual, tubuhnya tiba-tiba bergetar. Saya segera merogoh ponsel di kantong. Saya coba merekam momen itu. Ia tiba-tiba masuk ke dalam arena ritual, yang berada paling tengah. Setiap yang Tontembang, pasti akan menuju atau dibimbing ke tengah arena.
Hamparan karpet merah dibuat kusut oleh liuk tubuhnya. Gesturnya seperti orang bersilat, kemudian berganti menyerupai seorang panglima sambil berkacak pinggang. Kemudian kedua lengannnya terbentang dan berayun-ayun, seperti mengisyaratkan ajakan agar lafadz syahadat lebih dikeraskan.
Tak lama, tubuhnya lunglai bersujud. Ia dituntun untuk keluar arena. Ia lantas memilih keluar dari tempat ritual dan menuju pondok. Saya yang saat itu sudah kembali ke pondok, diajaknya untuk menjauh dari tempat ritual.
"Ayo, ikut saya."
"Mau ke mana?"
"Agak sedikit menjauh dari sini. Jika mendengar lantunan syahadat itu, saya seperti ditarik kembali ke alam lain," ceritanya, sembari terus melangkah menuju sebuah pondok berlantai dua, di dekat gerbang masuk Kusali.
Di belakang pondok, ia terus mengusap wajahnya yang masih pucat pasi. Dua orang laki-laki turut serta bersama kami saat itu. Salah satunya, ternyata adalah kerabat dekatnya.
"Bagaimana perasaanmu tadi? tanyaku.
"Aduh, saya tidak tahu lagi. Saya tidak dalam keadaan sadar." Ia coba mengingat.
Melihat raut wajahnya, saya coba mengalihkan pembicaraan. Saya bertanya kepada kerabatnya itu, apakah di wilayah sekitar Kusali, sudah ada perkebunan sawit. Saya mendapati jawaban yang membuat selengkung senyuman di wajah saya.
"Jaraknya tidak jauh dari sini, tapi saya sudah memagari batasnya. Saya mengingatkan kepada mereka, kalau sampai lewat batas tanah adat ini, maka nyawa saya jadi taruhan!"
Bangga saya dibuatnya. Di tengah gempuran perusahaan-perusahaan rakus, masih ada semangat-semangat melawan seperti itu, meski yang lainnya lebih memilih jatuh dalam pelukan korporasi. Nasib abadinya ritual ini ada di tangan orang-orang seperti mereka.
Mat memilih kembali ke pondok, setelah ritual berakhir, pukul 9 pagi. Saat melangkah menuju pondok, sebuah lantunan tembang terdengar begitu menyayat.
"Itu yang menyanyi laki-laki, tapi roh perempuan yang masuk," jelasnya.
Saya berlari menuju pengeras suara, untuk merekam tembang itu. Nyanyian itu melurut hati saya.
Bait-bait sabda dari alam yang transendental itu kira-kira mengartikan: kebersamaan harus dijaga, sebab prosesi adat ini hanya digelar sekali dalam setahun. Maka tradisi Tumpe diharapkan menjadi momen untuk tetap menjaga sikap gotong-royong, saling membantu, dan mempererat persaudaraan.
Selarik pesan moral yang datang menembus dari alam Mulk yang tidak terukur oleh indra jasad.
![]() |
| Telur-telur maleo yang direbus, dihidangkan setelah melewati proses ritual dan dibacai doa para tetua adat. Foto: Christopel Paino. |
Pukul 9 pagi, prosesi ditutup dengan makan bersama. Jamuan makanan ditebar di meja panjang. Ada beberapa butir telur maleo yang direbus menghiasi meja makan. Setelah didoakan tetua adat, warga dijatahi potongan-potongan telur maleo itu.
Setelah acara makan bersama selesai, orang-orang mulai berjibaku merapikan Kusali. Pekan depan mereka akan melanjutkan prosesi adat itu, di Kusali Matindok. Itu Kusali tempat prosesi adat terakhir.
Kami semua kembali ke rumah kerabatnya Mat. Dan malam harinya kami mengadakan diskusi bersama tokoh pemuda dan tokoh-tokoh adat. Dalam diskusi, kawan-kawan saya yang sudah berpengalaman dalam advokasi masyarakat adat, bertukar pendapat dengan mereka mengenai hak tanah adat bagi masyarakat adat.
Sejak Keputusan Mahkamah Konstitusi No. 35 Tahun 2012 tentang Pengakuan Hak Ulayat sebagai Milik Masyarakat Adat, masyarakat adat bisa bernafas lega. Tokoh adat dan masyarakat bisa mulai membuat peta tanah adat. Hal itu sebagai penyelesaian konflik yang kerap terjadi antara masyarakat adat dengan pemerintah maupun perusahaan.
Malam itu mereka sepakat untuk mulai membentuk tim dan akan menandai di mana saja batas tanah adat, yang mulai dikepung bahkan diambil alih oleh perusahaan. Diskusi diringkus dengan kesepakatan itu.
Tujuan perjalanan kami ke Batui, sesungguhnya bukan hanya ingin menyaksikan prosesi adat Tumpe. Akan tetapi, niat terbesar kami adalah membantu masyarakat adat di sana, untuk merebut kembali hak mereka.
Akhirnya, ekspedisi yang kami namai: Ekspedisi Gembira, berakhir. Kami harus segera kembali ke Gorontalo esok harinya. Perjalanan kami hanya dari 8 sampai 10 Januari.
Setelah kami pulang, ritual Tumpe hingga sekarang tetap terjaga. Kabar terakhir, masyarakat adat sudah mulai membuat peta di mana saja lokasi tanah adat. Perjuangan mereka untuk merebut tanah adat terus berkobar, mengalahkan nyala cerobong api raksasa LNG.
JAUH dari Luwuk Banggai, di kota tempat kami berada, Gorontalo, pada suatu malam dua orang kawan yang juga bersama-sama ke Batui tempo hari, Mat dan Ivol, mengalami kejadian aneh. Tubuh mereka bergetar dan salah seorang tiba-tiba bersuara serak, sembari mengucapkan bahasa yang kami tidak mengerti.
Ia mengajak kami semua mendekat dengan isyarat tangan. Kami segera mendekat dengan posisi melingkarinya. Ia kembali mengucapkan beberapa patah kata. Seketika bola mata saya basah. Saya seolah-olah paham dengan perkataannya.
“Terima kasih banyak telah membantu kami,” katanya melalui mulut Mat, yang diutarakan dengan bahasa daerah Banggai atau Silingan Banggai.
Dan Mat setelah sadar mengaku, ia tidak begitu fasih berbahasa Banggai, apalagi Silingan Banggai yang diutarakannya barusan ada kata-kata yang begitu "purba". Hanya orang-orang lanjut usia yang bisa memahami dengan saksama.
Ah, terima kasih kembali masyarakat Batui. Kami banyak belajar tentang bagaimana mencintai alam dari kalian. Semoga bisa berkunjung lagi ke sana.
Catatan: Sebagian data saya kutip dari liputan kawan Christopel Paino di mongabay.co.id, yang saat itu turut bersama kami ke Batui.
Setelah acara makan bersama selesai, orang-orang mulai berjibaku merapikan Kusali. Pekan depan mereka akan melanjutkan prosesi adat itu, di Kusali Matindok. Itu Kusali tempat prosesi adat terakhir.
Kami semua kembali ke rumah kerabatnya Mat. Dan malam harinya kami mengadakan diskusi bersama tokoh pemuda dan tokoh-tokoh adat. Dalam diskusi, kawan-kawan saya yang sudah berpengalaman dalam advokasi masyarakat adat, bertukar pendapat dengan mereka mengenai hak tanah adat bagi masyarakat adat.
Sejak Keputusan Mahkamah Konstitusi No. 35 Tahun 2012 tentang Pengakuan Hak Ulayat sebagai Milik Masyarakat Adat, masyarakat adat bisa bernafas lega. Tokoh adat dan masyarakat bisa mulai membuat peta tanah adat. Hal itu sebagai penyelesaian konflik yang kerap terjadi antara masyarakat adat dengan pemerintah maupun perusahaan.
Malam itu mereka sepakat untuk mulai membentuk tim dan akan menandai di mana saja batas tanah adat, yang mulai dikepung bahkan diambil alih oleh perusahaan. Diskusi diringkus dengan kesepakatan itu.
Tujuan perjalanan kami ke Batui, sesungguhnya bukan hanya ingin menyaksikan prosesi adat Tumpe. Akan tetapi, niat terbesar kami adalah membantu masyarakat adat di sana, untuk merebut kembali hak mereka.
Akhirnya, ekspedisi yang kami namai: Ekspedisi Gembira, berakhir. Kami harus segera kembali ke Gorontalo esok harinya. Perjalanan kami hanya dari 8 sampai 10 Januari.
Setelah kami pulang, ritual Tumpe hingga sekarang tetap terjaga. Kabar terakhir, masyarakat adat sudah mulai membuat peta di mana saja lokasi tanah adat. Perjuangan mereka untuk merebut tanah adat terus berkobar, mengalahkan nyala cerobong api raksasa LNG.
JAUH dari Luwuk Banggai, di kota tempat kami berada, Gorontalo, pada suatu malam dua orang kawan yang juga bersama-sama ke Batui tempo hari, Mat dan Ivol, mengalami kejadian aneh. Tubuh mereka bergetar dan salah seorang tiba-tiba bersuara serak, sembari mengucapkan bahasa yang kami tidak mengerti.
Ia mengajak kami semua mendekat dengan isyarat tangan. Kami segera mendekat dengan posisi melingkarinya. Ia kembali mengucapkan beberapa patah kata. Seketika bola mata saya basah. Saya seolah-olah paham dengan perkataannya.
“Terima kasih banyak telah membantu kami,” katanya melalui mulut Mat, yang diutarakan dengan bahasa daerah Banggai atau Silingan Banggai.
Dan Mat setelah sadar mengaku, ia tidak begitu fasih berbahasa Banggai, apalagi Silingan Banggai yang diutarakannya barusan ada kata-kata yang begitu "purba". Hanya orang-orang lanjut usia yang bisa memahami dengan saksama.
Ah, terima kasih kembali masyarakat Batui. Kami banyak belajar tentang bagaimana mencintai alam dari kalian. Semoga bisa berkunjung lagi ke sana.
Catatan: Sebagian data saya kutip dari liputan kawan Christopel Paino di mongabay.co.id, yang saat itu turut bersama kami ke Batui.
Selasa, 31 Januari 2017
Cocoklogi di Balik Pamali dan Tradisi
Beberapa hari lalu, setiap bohlam di rumah kami dikerumuni laron. Cara terampuh mengatasi itu ialah dengan mematikan lampu di dalam rumah. Sedangkan yang di luar dibiarkan menyala agar laron-laron beralih ke luar rumah.
Seperti kata orang tua zaman dulu, jika laron-laron muncul maka itu pertanda musim hujan akan segera tiba. Saya coba memastikannya dengan menelusurinya di internet, dan benar saja, ada beberapa artikel yang mengulas jelas tentang itu.
Yang aneh dari serangga hasil mutasi rayap itu, jika mereka sangat menyukai cahaya, kenapa mereka tidak keluar pada siang hari? Ah, mungkin matahari terlalu tinggi untuk mereka raih.
Tapi, artikel ini tidak sedang mengulas detail soal laron, melainkan soal pertanda tibanya musim hujan. Iya, setelah laron-laron itu muncul beberapa hari lalu, hanya selang satu hari hujan mulai turun. Parahnya, siang kemarin disertai hujan deras, angin kencang, dan petir. Di stasiun-stasiun tv, ramalan cuaca ekstrem juga sudah disiarkan. Sulawesi Utara termasuk di dalamnya.
Nah, ada fenomena yang unik ketika badai datang kemarin. Di desa kami, Desa Passi, yang terletak di Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara, ada cara unik untuk menangkal badai. Sebenarnya itu kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang kami. Yaitu meletakkan alat pencukur kelapa tradisional beserta sebilah parang di pekarangan rumah.
Aneh, bukan? Saat hujan deras, angin kencang, dan petir, eh, malah orang-orang tua mengeluarkan dua benda itu lalu menaruhnya di pekarangan rumah.
Saya iseng juga memikirkan maksud dari kebiasaan itu. Apakah dua benda itu merupakan alat ukur canggih di masa itu tentang seberapa besar badai bisa diketahui? Yakni dengan hanya melihat apakah parang yang ditancapkan bakal roboh atau pencukur kelapa itu terempas diterpa angin.
Tapi, bukankah atap-atap rumah yang beterbangan dan robek serupa kertas sudah lebih dari cukup? Atau pepohonan yang tumbang di sana-sini. Atau bendera-bendera partai jelang pilkada serentak yang terbawa angin dan hujan serupa anai-anai di hari kiamat. (Untuk yang terakhir ini saya malah bersyukur. Bendera-bendera partai itu jadi polusi visual di desa kami.)
Dari percakapan-percakapan orang-orang tua dulu, katanya nenek moyang kami sengaja meletakkan dua benda itu di pekarangan rumah dengan maksud sebagai penangkal atau lebih tepatnya perangkap petir. Pencukur kelapa bergerigi terbuat dari logam besi, sama halnya dengan parang. Bisa jadi, ketika petir turun menyambar, maka lecutan petir akan terarahkan ke kedua benda itu. Betapa rasionalnya nenek moyang kita, bukan?
Saat badai menerpa kemarin, foto-foto dua benda itu menjadi viral di beberapa sosial media, khususnya teman-teman sewilayah. Anehnya, banyak yang berkomentar bahwa itu kebiasaan bodoh. Padahal mereka tidak pernah coba mencari tahu apa maksud dari kebiasaan itu.
Sama halnya seperti ketika orang tua melarang kita menyapu rumah di malam hari. Pamali. Setelah mendengar alasan mereka, ternyata di zaman dulu, rumah-rumah warga semuanya terdiri dari rumah-rumah panggung. Jika menyapu malam, debu-debu akan berterbangan lalu mengenai orang-orang yang sedang berjalan di depan atau samping bawah rumah. Kebiasaan itu terus terbawa hingga rumah-rumah modern tak berkaki dibangun.
Juga larangan untuk jangan menjahit di malam hari. Itu berkaitan dengan penerangan di rumah zaman dulu, yang hanya menggunakan lampu minyak atau lampu botol. Jika menjahit dengan cahaya yang minim, tentu saja jejari kita rentan tertusuk jarum. Larangan itu juga menjadi kebiasaan hingga sekarang—di zaman yang begitu terang benderang.
Tak sedikit larangan-larangan seperti itu dibalut dengan alasan-alasan mistis. Atau hal-hal yang tak masuk akal. Tapi, tampaknya maksudnya sebenarnya baik.
Misalnya, larangan untuk jangan memotong kuku atau rambut di malam hari, yang katanya nanti akan berusia pendek atau ditemui dedemit. Padahal alasan masuk akal dari larangan itu persis seperti larangan jangan menjahit malam. Karena penerangan yang minim kala itu. Jika memotong rambut malam hari di zaman dulu, bersiap-siaplah telinga kita juga ikut terpotong. Atau alih-alih memotong kuku, malah jejari kita yang habis terpangkas.
Juga soal larangan agar jangan menduduki bantal tidur karena pantat kita nantinya bakal bisulan. Padahal sebenarnya larangan itu bermaksud baik. Bantal adalah tempat kepala kita berlabuh ketika tidur. Kepala manusia begitu dihormati karena tempat otak berdiam. Sangat tidak sopan jika kita menduduki bantal yang dipakai orang untuk tidur. Apalagi ketika kita duduk, bantal itu kita kentuti.
Selain deretan larangan di atas, yang cukup membuat kedua alis saya saling merangkul itu, soal larangan untuk jangan coba-coba duduk di depan pintu depan rumah, jika ada perempuan yang sedang hamil di dalam rumah tersebut. Jika hal itu terjadi, si perempuan hamil itu bakal kesulitan saat melahirkan.
Tapi, sebenarnya satu-satunya alasan rasional, yakni ketika kita duduk di depan pintu rumah, sebenarnya kita menghalangi arus lalu lintas di rumah tersebut. Otomatis, si perempuan hamil itu bakal kesulitan untuk melewati pintu rumah, jika kita duduk di sana. Dan itulah sebenarnya alasan kenapa larangan itu dibuat.
Ada juga satu larangan yang saya masih ingat jelas. Kejadiannya saat itu saya masih duduk di sekolah dasar. Sepulang sekolah, saya dan dua orang teman lainnya bermain gundu di pekarangan rumah. Seperti biasa, kami menumbuk-numbuk tanah dengan batu untuk membuat lubang. Hanya beberapa detik kemudian, nenek keluar dari rumah lalu meneriaki kami.
“Hoiii! Jangan menumbuk-numbuk tanah dengan batu. Nanti ayamnya mati semua.”
Kami yang saat itu baru berusia sekitar tujuh tahun saling berpandangan. Heran. Apa hubungannya tanah yang ditumbuk-tumbuki dengan ayam yang bakal mati bergelimpangan?
Bertahun-tahun kemudian, saya coba menemukan korelasi atau sekadar cocoklogi yang tepat untuk kedua kasus itu. Semuanya terjawab, saat saya hendak tidur siang, kemudian terdengar dari pekarangan suara tanah yang ditumbuk-tumbuki batu. Dentuman batu yang bertemu tanah itu terdengar sangat mengganggu. Seperti bunyi detak jantung seorang jomblo yang tengah menunggu pesan singkat dari seseorang pada Sabtu malam.
Dan ternyata … anak kakak saya dan teman-temannya yang baru pulang sekolah, rupanya hendak bermain gundu. Asu!
Artikel ini sebelumnya dimuat di Mojok
Minggu, 15 Januari 2017
Selamat Ultah Bedew
Sebelum berangkat ke Gorontalo, saya menziarahi makam Boneng (Onang) dan makammu, Bedew. Saya meminta Ucil, adik laki-lakinya Boneng untuk menemani saya. Saya tahu, tidak lama lagi hari kelahiranmu tiba. Tepat hari ini, 15 Januari.
Ibumu membukakan pintu dapur yang mengarah ke makammu. Ia berusaha tersenyum, tapi kesedihan terlalu berkabut di wajahnya.
Di makammu, masih ada karangan bunga yang telah hancur diremas panas matahari dan air hujan. Ada juga potongan demi potongan kenangan, ketika kami menemanimu selama tujuh malam di pondok samping makammu.
Beberapa batang rokok kami habiskan di pondokmu. Kerabatmu, Adit, juga datang menyusul. Dan seperti biasa, kesedihan itu berulang seperti kamu baru saja berpulang.
"Torang so mo pigi ne, Bedew."
Di depan, ibumu mencegat kami. Kali ini, raut wajahnya tak lagi berkabut kesedihan. Namun diliputi mendung yang dengan segera menjatuhkan bulir demi bulir air mata. Ia terisak-isak. Dan tanpa disadari, air mata kami juga telah ikut mengalir begitu saja.
"Tanggal 15 ini dia pe ulang tahun. Kong mo bekeng apa? Saki skali ini hati... Da pa inga skali." Tangis ibumu pecah. Saya jadi merasa bersalah telah mengundang kesedihan itu lagi di wajah ibumu.
Kemudian ibumu bercerita, kalau ia dan ayahmu telah bersepakat untuk menjual mobilmu. Ada satu niat mulia di balik itu. Selain itu, ibu dan ayahmu merasa tersiksa terus menerus ketika setiap terbangun di pagi hari, kerap kali mendapati mobilmu terpakir di garasi.
Tak ingin berlama-lama memupuk kesedihan ibumu, kami pun pamitan. Ia mengucapkan terima kasih. Punggung tangannya masih terus mengusap air mata, ketika kami beranjak pergi.
Ah, Bedew, maaf sudah membuat ibumu bersedih lagi.
Selamat hari ulang tahun, Bedew. Cheeerrsss!
Banggalah karena kamu menjemput kematian tanpa pernah menjadi orang dewasa.
Kamis, 12 Januari 2017
Pergi
Mamak baru saja sembuh. Saya juga. Tapi sepertinya rapat tahunan AJI Gorontalo 2017, yang kali ini rencananya dibikin di pesisir pantai, membuat liur ini tak berhenti menetes. Apalagi di grup WhatsApp, teman-teman mulai membagikan foto-foto lokasi rapat tahunan itu. Tahun kemarin, lokasi rapat dipilih di daerah puncak Dulomayo. Kali ini di pantai Kurenai. Keduanya tempat yang indah.
Jika komunitas atau organisasi lain bersemangat untuk menggelar rapat tahunan di hotel, kami lebih memilih menggelarnya di alam terbuka. Kemping dengan logistik yang dibawa masing-masing anggota, kemudian dimakan bersama-sama. Malam harinya, api unggun ikut menghangatkan kisah-kisah tentang apa saja yang terjadi di rentang tahun sebelumnya.
Saya akhirnya memutuskan berangkat ke Gorontalo, pagi tadi, tanpa memberitahukan dulu kepada teman-teman saya di AJI Gorontalo (setelah sampai di sekretariat AJI Gorontalo dan kantor Degorontalo.co baru rencananya catatan ini saya posting). Yang mereka tahu, saya tidak jadi hadir karena kesehatan saya menurun akibat terus memikirkan apakah bumi ini datar, bulat, kotak, atau seperti bentuk Marshmallow.
Tapi ada hal lain yang terus mengganggu pikiran saya dalam perjalanan ini. Ketika Mamak sakit, yang kerap kali terjaga hingga pagi tiba itu hanya saya. Pernah dengan suara rengsanya, Mamak coba membangunkan siapa saja yang berada di dalam rumah, dengan memanggil nama. Di rumah kami, setelah Papak berpulang, sebenarnya hanya tersisa Mamak, saya, kakak laki-laki, dan satu anak perempuan dari kakak laki-laki saya yang satunya lagi, yang ikut tinggal di rumah karena ia masih bersekolah di SMP Negeri 2 Passi. Sebab jarak sekolahnya lebih dekat dari rumah kami, ketimbang dari rumah ayahnya.
Selain itu, di rumah, kadang-kadang anak perempuan dari kakak perempuan saya yang saat ini tinggal bersama saudara kami di Bali, juga sering menginap bersama putranya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Dan dari semua daftar orang di atas, setiap paginya hanya saya yang bisa terjaga siaga menangkap panggilan Mamak. Kecuali jika ada yang tidur di sebelahnya.
Sewaktu saya beritahu, bahwa saya hendak ke Gorontalo lagi, karena ada rapat tahunan, dan hanya tinggal menunggu kabar mengenai proposal kami untuk sebuah program di kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, Mamak malah senang. Di wajahnya tak ada guratan yang hendak menahan kepergian saya. Mamak malah bertanya apa-apa yang mau dibawa nanti? Mamak pula yang bersemangat menyediakan pisang goroho untuk dibawa.
Dan seperti biasa, Mamak akan bertanya-tanya apa lagi yang mau saya bawa: seperti sabun mandi, sikat gigi, air mineral, nasi bungkus, telur rebus, biskuit, dan lain sebagainya. Walau di perjalanan sebelumnya, saya kerap menolak membawa bekal itu.
Mamak selalu memperlakukan kami seperti kami ini masih kanak-kanak. Itu juga ia berlakukan kepada kakak laki-laki saya, jika kakak saya hendak pergi menengok kebun kami di Desa Toruakat.
Tadi malam, sebelum paginya saya berangkat, Mamak masuk ke kamar saya. Mamak menyodorkan secarik kertas yang bertuliskan nama dokter dan sebaris nomor telepon. Tangannya bergetar. Mamak meminta saya untuk menghubungi nomor itu, karena tiba-tiba saja keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuhnya.
"Mungkin gula darah Mamak turun atau naik lagi. Atau malah tekanan darah Mamak yang naik," katanya begitu pelan. Iya, hanya dua penyakit itu yang paling merepotkannya: diabetes mellitus dan hipertensi.
Saya kala itu sedang terlibat pembicaraan dengan teman di telepon. Setelah teman saya selesai berbicara lalu menutup telepon, saya mengambil secarik kertas itu yang diletakkannya di atas kasur. Karena tidak punya pulsa, saya bilang kepadanya, saya pergi dulu mengisi pulsa. Tapi ternyata Mamak baru saja menghubungi dokter itu, lewat ponsel sepupu saya. Mamak malah tengah asyik duduk di depan tv, menonton acara jodoh-jodohan, sambil menyesap teh manis hangatnya.
Paginya, berat hati saya untuk melangkah pergi dari rumah. Tapi pakaian saya semuanya telah di-packing. Buku-buku, koleksi majalah dan koran telah saya masukkan ke dalam lemari agar tidak berdebu. Pisang goroho sudah di kardus. Mobil sudah dipesan. Dan saya harus pamit kepada Mamak.
Rumah adalah tempat paling nyaman dan mengenyangkan. Berat badan saya akan naik beberapa kilo hanya dalam sepekan, jika saya berada di rumah. Mamak pintar memasak dan tahu memanjakan lidah kami. Dan kali ini, saya harus puasa dengan masakannya. Ah, hitung-hitung sebagai diet lagi.
Sehat selalu Mamak...
Senin, 09 Januari 2017
Motayok, Tarian Pengobatan di Bolmong yang Terancam Punah
![]() |
| Chairun dan putranya, sedang memainkan alat musik Gimbal (Gendang) dan Golantong (Gong). |
Jika kita mendengar nama tarian Motayok, mungkin begitu asing di telinga. Tapi tarian itu adalah salah satu tarian warisan leluhur di Bolaang Mongondow (Bolmong) yang sangat jarang lagi kita dengar bahkan saksikan.
Tarian itu menurut Chairun, adalah peninggalan para leluhur sejak ratusan tahun lalu. Tarian itu juga berfungsi sebagai tarian ritual pengobatan. Tarian tersebut diiringi dengan alat musik Gimbal dan Golantong yang baru saja ia dan putranya mainkan tadi.
“Motayok adalah sebuah upacara ritual untuk mengobati orang sakit. Ritual itu sudah dilakukan oleh leluhur kita, sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan, kebiasaan Mokitayok adalah upacara ritual pengobatan tertua di Bolaang Mongondow,” cerita Chairun.
Tidak setiap orang bisa melaksanakam ritual tarian Motayok. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi menurut Chairun.
“Motayok atau Mokitayok tidak serta merta dilakukan oleh setiap orang. Sebelum upacara ritual, terlebih dahulu dilakukan Moki bondit. Pada upacara Mobondit inilah akan diketahui jenis penyakit yang diderita oleh seseorang, sekaligus ritual apa saja yang harus dilakukan pada saat Motayok,” terangnya.
Di dalam pelaksanaan Motayok, berbagai jenis sesaji disediakan seperti ayam, beras, ketan dan koito’ (sagu hutan). Beras dan sagu itu dimasak di dalam bambu, dengan ukuran bervariasi.
“Dari mulai bambu seukuran ibu jari kaki, hingga ukuran betis orang dewasa. Semua masakan memang harus dimasak di dalam bambu. Dari nasi bail dan binarundak (nasi yang dimasak dalam bambu). Setelah semua tersedia, maka ritual dimulai,” urai Chairun.
Jumlah penari atau biasa disebut Bolian, tidak ditentukan banyaknya. Bisa satu orang atau lebih.
“Tergantung, bisa lebih dari satu orang. Waktu pelaksanaan juga ikut kesepakatan Bolian. Tapi biasanya waktu yang tepat itu, dimulai pada sore hari,” jelasnya.
Pembicaraan makin terasa aura mistisnya, sebab para penari dikatakan oleh Chairun, bisa menari hingga keesokkan harinya bahkan lebih, karena kerasukan roh leluhur.
“Bahkan bisa lebih lama, tergantung keinginan roh leluhur yang disampaikannya pada saat Nobondit. Biasanya bertahap dan bahkan bisa sampai empat belas hari, atau lebih,” kata Chairun dengan nada serius.
Namun sayang, tarian itu terancam punah kata Chairun. Di wilayah Bolmong, upacara ritual Motayok bisa kita temukan hanya di desa Bilalang Bersatu dan desa Tudu Aog.
“Tidak ada lagi generasi penerus, bahkan penarinya sekarang usianya sudah cukup tua,” sesalnya.
Ritual tarian Motayok di Bolmong hampir hilang ditelan bumi. Memang tarian itu menyuguhkan fenomena di luar akal sehat kita. Kendati demikian, tarian warisan nenek moyang itu patut dilestarikan, sebab bisa menarik wisatawan datang berkunjung ke tanah Totabuan.
Dengan sisa sebatang rokok di jepitan jemarinya, Chairun Mokoginta kembali melanjutkan cerita. Menurutnya, penari Motayok biasanya adalah perempuan. Mereka mengenakan busana kebaya putih polos, juga biasanya bermotif bunga. Mereka akan terus menari tanpa henti dan tidak merasa lelah.
“Mereka kerasukan, jadi fisik ditumpangi roh leluhur, sehingga rasa lelah yang dimiliki manusia tidak terasa lagi,” terangnya.
Katanya lagi, hanya yang bertugas sebagai pemain musik yang bergantian mengiringi. Sedangkan di sekitar tempat pelaksanaan ritual, dibangun pondok kecil dari anyaman bambu, yang disebut Sibi’ sebagai tempat diletakkannya sesajen.
“Itu diyakini juga sebagai tempat bersemayamnya roh leluhur. Biasanya dalam waktu tertentu, terutama saat meletakkan makanan di Sibi’. Seseorang yang dianggap menguasai prosesi Motayok, meletakkan sesajen sambil merapalkan mantra. Lalu meminta roh leluhur agar setelah selesai menyantap sesajen, segera kembali ke tempat asalnya,” kata Chairun, sambil membuang puntung rokok yang baru saja dihisapnya.
Tingkat keampuhan pengobatan Motayok, sangat tergantung keyakinan orang yang diobati. Menurut Chairun, terkadang sekali diobati pasien bisa sembuh, asalkan yakin dan percaya.
“Tapi ada juga penyakitnya yang tidak sembuh. Pasien yang ragu-ragu dan kurang yakin biasanya yang tidak sembuh,” jelasnya.
Para Bolian dalam keadaan intrans memilki kesaktian. Mereka mampu menghadirkan benda secara gaib, sesuai permintaan orang yang hadir dalam acara Motayok.
“Namun sering kali benda berbeda yang muncul. Misalnya kita minta buah cengkih, terkadang bukan cengkih yang muncul. Tapi ada juga benda yang tepat sesuai dengan permintaan. Para Bolian sanggup mengadakannya dengan cara mengibaskan sapu tangan. Sekejap buah cengkih mentah, bahkan masih bercampur dengan daun cengkih, berhamburan keluar dari kibasan sapu tangan,” cerita Chairun.
Buah cengkih itu menjadi bahan obat untuk dikonsumsi pasien. Selain cengkih, ada jahe dan masih banyak lagi benda yang hadir secara gaib, sebagai obat penyembuh. Disampaikan pula oleh Chairun, meski di luar akal sehat, akan tetapi tarian Motayok harus terus dijaga dan dilestarikan. Hal-hal yang irasional, pasti menarik perhatian para wisatawan. Sama halnya dengan kekuatan supranatural yang dipertunjukkan para Bolian saat menari.
Hangat teh dan pisang goreng yang disuguhkan putri Chairun Mokoginta, membikin cerita semakin hangat pula di tengah cuaca Kotamobagu yang diguyur hujan. Chairun mengisahkan kembali, tentang tarian Motayok dan kesaktian-kesaktian para Bolian.
“Saat ritual, ada Bolian yang dapat mengambil barang antik dalam tanah dengan tangan telanjang tanpa menggunakan alat bantu. Kebanyakan roh halus yang merasuki para Bolian selain roh leluhur, juga adalah para Bogani. Sebab itu, ketika mereka dalam keadaan tidak sadar, kesaktian mereka cukup tinggi menyerupai kesaktian Bogani yang merasuki mereka,” tutur Chairun, sambil asyik menikmati kudapan pisang goreng yang tersedia di atas meja.
Selain cengkih dan jahe yang dihadirkan secara gaib oleh para Bolian, ada pula ritual saat para Bolian memberi minum air kelapa muda, juga saat memandikan para pasien. Beberapa pantangan pun berlaku bagi mereka yang menyaksikan tarian Motayok.
“Bagi yang belum pernah menyaksikan upacara ritual Motayok, harus mengetahui dulu beberapa pantangan yang harus dipatuhi,” terangnya.
Pantangan-pantangan tersebut di antaranya, dilarang Monogu’olit atau berucap Pali’ atau Wali’. Bila ada yang mengucapkan kata-kata tersebut, maka yang bersangkutan dianggap mengajak Bolian untuk beradu fisik.
“Jadi itu seperti ucapan menantang. Mendengar dua kata itu, Bolian akan marah dan mengeluarkan berbagai kesaktiannya. Kadang kala bisa berakibat fatal dan orang yang mengucapkan itu bisa lumpuh saat itu juga. Bahkan tidak bisa melihat atau jatuh sakit secara tiba-tiba,” wanti-wanti Chairun.
Selain itu, ada pula pantangan agar tidak menginjak Dodal (sebatang kayu tempat para Bolian memijak) saat sedang menari.
“Biasanya Dodal ini akan diletakkan pada areal tempat menari. Bila ada yang menginjakkan kakinya di tempat terlarang itu, maka dianggap oleh para Bolian melecehkan keberadaan mereka,” terangnya.
Saat kondisi marah, kondisi Bolian akan Motokiman (badan para Bolian menjadi kaku). Di keadaan itu, para pembantu Bolian berusaha menyadarkan mereka, dengan Logantodan (gendang ditabu secara cepat), sambil seseorang pembantu merapal mantra dengan bahasa Mongondow kuno, hingga Bolian kembali sadar.
“Bila kita menyaksikan upacara ritual Motayok, maka kita bisa menyaksikan berbagai keanehan yang kadang kala di luar akal sehat kita. Tetapi hal itu bisa kita saksikan dengan mata telanjang. Tentu semuanya bisa terjadi karena kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Bila kita melihat dari sudut pandang agama pasti banyak bertentangan dengan syariat agama yang kita yakini. Tapi secara pribadi saya melihat keberadaan Motayok sebagai sebuah karya seni peninggalan leluhur kita,” kata Chairun.
Para Bolian menurut Chairun, sangat memegang teguh tata krama, terutama yang berkaitan dengan pantangan dan larangan untuk menjaga kewibawaan profesi mereka.
Besar harapan Chairun, agar tarian Motayok tetap dijaga dan dilestarikan.
“Saya sangat setuju dengan penyampaian Wali Kota Tatong Bara mengenai penetapan Kecamatan Kotamobagu Utara sebagai pusat kebudayaan nantinya. Tapi kapan itu direalisasikan? Semoga dalam waktu dekat ini. Jika saya dilibatkan, saya akan sangat bersyukur bisa membantu kebudayaan Bolmong kembali jaya seperti di era kepemimpinan Bupati U.N Mokoagow,” harapnya.
Sebelumnya hasil liputan ini dimuat di www.radarbolmongonline.com.
Rabu, 28 Desember 2016
Catatan Singkat Akhir Tahun...
2016 akan segera berlalu. Tahun yang merampas begitu banyak kawan terbaikku. Yayang, Bedew, dan Boneng. Tiga kawan yang serupa seribu.
Sebelum mereka masing-masing berpulang, ada ucap pamit yang tak pernah terbacai.
Yayang sempat bergurau denganku, tentang masa lalu yang selalu menjadi kenangan terbaik, setelah usia semakin menua lalu anak-anak terlahir sebagai boneka manja yang, harus ditemani setiap saat melebihi apa pun.
Juga istri yang selalu cemas dan bertanya-tanya: ke mana suamiku? Padahal untuk tidur di ranjang yang sama, adalah satu-satunya jalan pulang yang ada di benaknya. Waktu telah menjadi hanya tiga saja baginya: untuk dia sendiri, anak, dan istrinya. Bahkan orangtua dan teman-teman tak lagi mendapat jatah yang banyak untuk itu.
Bedew dengan kenangan apa saja yang selalu ingin ia putar kembali. Ia bisa membawa kami ke masa lalu dengan segera. Makan di rumah makan yang dulu kerap kali kami singgahi, lalu memilih menu yang sama. Mendengarkan lagu yang telah lama terhapus dari memori ponsel. Mengelabui pagi dengan cerita yang berulang-ulang. Seolah-olah waktu tidak pernah beranjak.
Ia selalu punya banyak cara untuk membuat kami kaget, tertawa, dan berulang kali memuja masa lalu. Sebab baginya di masa lalu ada bagian-bagian terbaik yang tak boleh dilupakan.
Boneng akan selalu cerewet dengan kisahnya yang tak pernah lepas dari makanan. Ia pintar memasak tapi tak banyak makan. Baginya melihat teman bercucur keringat ketika melahap hasil masakannya, adalah sebuah kebahagiaan yang kekal.
Jangan pernah mengemis makanan kepadanya. Sebab wajah lapar sudah sangat dikenalinya. Bahkan sebelum lapar itu hadir, ia akan mendahuluinya dengan tanya, "So makang?"
2016 akan segera berlalu. Di tahun ini, lebih banyak hari yang kuhabiskan di desa kelahiran. Ingin untuk berlama-lama di sini sudah bulat. Tapi sepertinya berada lama di sini, hanya membuat tanya itu semakin menebal setiap hari. Sebuah pertanyaan yang hadir berulang-ulang kali: ke mana kalian pergi, kenapa begitu lama kembali?
Sabtu, 26 November 2016
Seandainya Sigi Ngomong Gini...
Papa, sekarang Sigi sudah TK lho. Di TK Al-Quran. Kata Mama, sekolah itu mahal. Tapi kualitasnya bagus.
Sigi lantas bertanya, "Kualitas itu apa?"
Mama menjawab, "Kualitas itu mutu. Biar lebih sederhana, kata Mama, 'itu TK terbaik, yang bagus, nyaman, yang terbaik pokoknya'."
Suatu hari, Sigi bermain dengan Amel. Dia anak yang rumahnya hanya berdekatan dengan rumah Sigi. Amel juga sedang sekolah. Dia di TK tapi yang hanya jalan kaki. Sementara Sigi harus naik bentor atau diantar dengan motor oleh Mama.
Sigi baru tahu beberapa hari kemudian, ternyata Amel di TK yang jaraknya cuma dekat dengan rumah Sigi. Makanya dia suka jalan kaki.
Sigi lalu bertanya lagi kepada Mama, "Kenapa Sigi tidak sekolah di tempatnya Amel?"
"Sigi kan di TK Al-Quran, biar cepat tahu membaca Al-Quran." kata Mama.
Sewaktu Sigi pulang dari TK, Sigi melihat Amel berjalan dengan teman-temannya menuju rumahnya. Teman-teman Amel, teman-teman Sigi juga. Ada Bonbon, Siti, Ayu, Lesi, dan Jiko. Mereka terlihat senang sekali pulang sekolah bersama-sama sambil jalan kaki.
"Ma, Sigi mau jalan kaki ke sekolah seperti Amel dan teman-teman lainnya."
"Kan sekolahnya Sigi di kota, bukan di desa."
"Tapi Sigi kalau pulang sekolah, dijemput pakai bentor atau motor. Tidak jalan kaki seperti Amel."
"Jauh jaraknya dari kota ke desa, Sigi. Lagipula harus hati-hati biar tidak ditabrak motor, bentor, atau mobil."
"Tapi, sekolah Amel kan dekat. Mereka juga jalannya ikut halaman belakang sekolah."
"Nanti saja kalau Sigi sudah lanjut ke SD. Kan, SD-nya dekat dari rumah."
Nah, suatu hari lagi, Pa, Amel mengajak Sigi bermain. Sewaktu sedang bermain, Amel suka melantunkan doa makan. Dia lancar mengucapkannya.
Sigi lalu bertanya, "Mel, kok bisa membaca doa?"
"Iyalah, kan diajarkan guru di TK."
"Kata Mama, cuma di sekolahnya Sigi di TK Al-Quran yang bisa cepat membaca Al-Quran."
"Di TK kami juga diajarkan, Sigi."
"Waduh, Mama bohong berarti."
Setelah bermain dengan Amel, Sigi segera menemui Mama. Tahu tidak, Pa, Sigi masih saja dibohongin Mama.
"Iya, tapi di TK-nya Amel, tidak selengkap TK-nya Sigi."
"Buktinya, Amel juga bisa doa-doa lainnya. Sama seperti doa-doa yang Sigi hafal lho, Ma."
Mama kemudian terdiam lama, Pa. Sebenarnya Sigi suka gerah ketika harus ke sekolah kemudian memakai penutup kepala.
"Apa itu harus, Pa?"
"Pakai jilbab?"
"Iya."
"Tidak haruslah, apalagi buat anak-anak tidak wajib."
"Iya, Sigi lihat Amel dan teman-teman lain juga ke TK tidak pakai gituan. Tapi mereka lancar membaca doa-doa."
"Iya, tapi di sekolah Sigi kan aturannya begitu. Jadi ikut dulu aturannya."
Seminggu kemudian, Sigi baru berani bilang sama Mama, kalau Sigi gerah memakai penutup kepala. Tahu apa reaksinya, Pa?
"Kalau begitu, tidak usah sekolah. Mau dibikin bagus, tidak mau."
Begitu jawaban Mama, Pa. Mama marah-marah sambil benerin jilbabnya. Oh ya, Pa, Mama sekarang sudah pakai jilbab.
"Iya, Papa tahu. Itu pilihan Mama. Jika Sigi besar nanti, Sigi juga berhak memilih. Tentu saja tidak boleh dipaksakan."
"Pa, Sigi boleh nanya sama Papa?"
"Nanya apaan?"
"Kok, Papa sama Mama tidak tinggal serumah seperti Kakek dan Nenek?"
"Hmm... Tunggu ya, Papa mikir dulu apa jawaban sederhananya."
"Jangan lama-lama, Pa."
"Iya, tidak lama... Hmm..."
Setelah beberapa menit kemudian...
"Begini, Papa dan Mama sudah bercerai. Cerai itu, kalau misalnya Papa sama Mama sudah tidak sejalan lagi."
"Sejalan?"
"Iya, maksudnya Papa punya pilihan jalan lain. Begitu juga Mama."
"Terus Sigi harus milih jalan mana?"
"Ya, Sigi tidak harus memilih jalan mana. Papa ada untuk Sigi. Begitu juga Mama ada untuk Sigi."
"Kalau Sigi butuh Papa dan Mama?"
"Kan, bisa sewaktu-waktu Papa dan Mama sama-sama dengan Sigi."
"Tapi tidak sering."
"Iya, Sigi... Cerai itu karena agama juga sudah melarang Papa dan Mama sama-sama serumah."
"Kenapa agama melarang?"
"Ya, karena sudah begitu aturannya. Nanti Sigi dari TK terus lanjut sekolah, maka Sigi akan paham soal itu."
"Padahal sekolah Sigi, kata Mama sekolah agama. Tapi Sigi belum dapat pelajaran itu selain membaca, menulis, menggambar, dan baca Al-Quran."
"Iya, karena Sigi belum cukup umur. Nanti Sigi juga akan lebih banyak belajar soal agama. Semua agama. Di TK hanya sebagai dasarnya saja."
"Papa agamanya sama kan dengan Mama?"
"Iya, papa juga punya agama yang sama dengan Mama. Nanti kalau besar, Sigi juga berhak memilih agama apa yang Sigi mau."
"Kata guru di sekolah, tidak boleh ikutan agama lain. Harus tetap dengan agama Islam."
"Itu kata guru. Kalau kata Papa, nanti Sigi berhak memilih mana yang baik untuk Sigi."
"Agama yang baik itu apa sih, Pa?"
"Semua agama baik. Karena semua mengajarkan kebaikan."
"Kalau Sigi memilih semua agama itu?"
"Memahaminya saja. Tidak harus memilih semuanya."
"Memahami itu seperti apa?"
"Sigi mengerti. Sigi tahu apa yang baik dari semua agama. Kemudian Sigi yang menentukan. Seperti Sigi hendak memilih pensil berwarna, yang sesuai dengan yang Sigi mau pakai untuk mewarnai gambar Sigi."
"Sigi suka warna merah."
"Semua warna itu indah. Mau merah, biru, hitam, putih, kuning, dan lain sebagainya. Biar mereka berbeda-beda, mereka tetap disebut warna, kan?"
*Kemudian Sigi dijemput kakeknya*
Langganan:
Postingan
(
Atom
)














