Di sela-sela pekerjaan yang lumayan menguras energi dan pikiran, menuntaskan film dokumenter "17 Surat Cinta" bukanlah perkara mudah. Film ini berdurasi hampir satu setengah jam, atau rata-rata durasi film Hollywood di bioskop atau Netflix. Tapi itu tak menyurutkan niat saya untuk menuntaskan film dokumenter ini, sama seperti ketika saya kerap kali menantikan dan menonton tuntas karya-karya WatchdoC lainnya, sejak Ekspedisi Indonesia Biru sampai Ekspedisi Indonesia Baru.
Film ini bisa dibilang tontonan mahal di penghujung tahun. Saya tahu persis bagaimana susahnya, ketika mengambil rekaman video atau foto satwa-satwa liar dilindungi bahkan yang nyaris punah. Saya pernah ikut beberapa kegiatan Burung Indonesia dulu. Ini adalah Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (BirdLife Indonesia Association), yang berdiri pada 15 Juli 2002, bertujuan melestarikan burung-burung liar di Indonesia dan habitatnya. Mendapatkan gambar-gambar seperti itu, butuh upaya keras, menguras tenaga, butuh kecermatan, dan kesabaran. Dan kita, bisa menikmatinya hanya bermodalkan kuota internet.
Selain itu, nyaris di sepanjang film setiap potongan gambar diambil dengan cermat dan sejumlah momen yang harus ditunggu dengan penuh kesabaran. Belum lagi berbagai upaya investigasi, pengumpulan data, pemetaan, dan bahkan sampai rela "membakar" sejumlah uang yang tak sedikit, demi menjaga Kawasan Suaka Margasatwa Rawa Singkil di Aceh, surga bagi populasi orang utan terbanyak di dunia dan tempat satwa dilindungi lainnya bernaung, yang tengah terancam deforestasi.
Kondisi masyarakat di Boven Digoel, Papua Selatan, sesekali melintas sepanjang film. Mereka yang berupaya melawan deforestasi dengan cara-cara adat hingga memancangkan "Salib Merah". Pejuang lingkungan dan pemimpin Marga Woro, Hendrikus Franky Woro, dikutip dari laporan Jubi.id mengatakan sebanyak 1.400 lebih tanda sasi "Salib Merah" telah ditancapkan di wilayah tanah adat masyarakat suku Awyu, sejak September 2016 sampai dengan Desember 2024.
Bagi masyarakat adat Papua, hutan adalah tempat mereka meramu dan berburu untuk mencari makan, dan mengambil secukupnya apa saja di dalamnya demi menopang penghidupan. Ingin sagu, tinggal tebang dan pangkur. Ingin ikan, tinggal pancing atau jubi. Ingin hewan buruan, tinggal panah atau jerat. Hutan bagi masyarakat adat di Papua adalah "toko besar" tempat berbelanja, tanpa perlu merogoh uang.
Saya tercenung dengan salah satu potongan dalam film, tepat di bagian sejumlah orang Papua berada di hutan Boven Digoel, saat mereka tengah bercerita tentang khasiat kulit kayu yang bisa menjadi obat penyembuh sakit perut. Seseorang mengatakan sambil memperagakan bagaimana kulit kayu itu diisap vitaminnya (sari patinya), lalu setelah itu dibuang.
Kemudian salah seorangnya lagi menimpali dari belakang sembari bercanda. "Jangan, vitaminnya [yang] dibuang, kulitnya [yang] ditelan."
Orang itu, membalikkan narasi tentang khasiat dari kulit kayu itu yang bisa menyembuhkan sakit perut. Dan apa yang ia narasikan meski dengan candaan—menjadi sarkastis—memiliki arti yang mirip sekali dengan yang dilakukan pemerintah Indonesia saat ini terhadap hutan-hutan di Papua, atau di seluruh wilayah Indonesia. Hutannya "dibuang" (dirusak), dan sawitnya yang "ditelan" (ditanam). Orang ini tanpa sengaja mencela apa yang tengah dilakukan penguasa dan pengusaha (pengpeng) terhadap hutan adat mereka, dan kawasan hutan lainnya termasuk di Sumatra dan Kalimantan.
Perut, sejak manusia bisa berdiri tegak memang kerap menjadi biang masalah. Siapa yang paling diuntungkan dengan maraknya deforestasi? Tentu saja perut para pengpeng. Mereka yang kami lawan selama bertahun-tahun, karena terus merusak paru-paru dunia demi keserakahan. Jokowi berkuasa selama 10 tahun namun daya rusaknya terhadap hutan-hutan di Indonesia, bisa dirasakan hingga 1.000 tahun. Kurang lebih seperti itu maksud kalimat, yang saya kutip dari komentar salah satu penonton, di kolom komentar film "17 Surat Cinta" di kanal Youtube Indonesia Baru. Dan daya rusak ini akan terus berlanjut, setelah sebagian besar masyarakat Indonesia sambil berjoget memilih penerusnya.
Awal November lalu, perjuangan masyarakat adat Awyu dan Moi juga pupus. Mahkamah Agung menolak permohonan kasasi mereka. Ini adalah kabar duka bagi upaya mempertahankan hutan, dari ekspansi korporasi sawit di Boven Digoel. Bahkan meski tiga juta lebih pengguna media sosial mendukung kampanye “All Eyes on Papua” dan viral beberapa waktu lalu, Mahkamah Agung tetap bergeming. Kesedihan masyarakat adat Awyu dan Moi turut pula dirasakan oleh mereka yang berjuang melawan deforestasi di Rawa Singkil. Surat-surat "cinta" tak berbalas hingga sekarang.
Ada bagian dalam film yang membuat bola mata kita berkabut dan berembun, serupa lanskap hutan Boven Digoel di pagi hari. Ketika melihat hutan-hutan digunduli di Sorong, gundukan tanahnya serupa kepang rambut seorang gadis timur, serta pohon-pohon rebah tak berdaya diterjang alat-alat berat.
Film akhir tahun ini, bisa menjadi bahan renung bahwa negeri dan bumi ini sedang terancam, dan di tahun-tahun mendatang kepal kita akan semakin keras untuk melawan.
Terima kasih untuk tim Ekspedisi Indonesia Baru, Auriga Nusantara, Forest Watch Indonesia, Yayasan HAkA, Greenpeace Indonesia, dan Pusaka Bentala Rakyat, dan semua yang terlibat dalam pembuatan film ini. Hormat!
#Review17SuratCinta
Tidak ada komentar :
Posting Komentar