Selasa, 03 Maret 2015

Kos Kolam

Tidak ada komentar
Di dalam kamar terang ini. Cahaya seperti mengawasiku terus menerus. Sedari tadi, aku terjaga dengan kelopak mata membusung terang. Malam-malam kemarin pun terasa sama. Tidur jadi serupa kekasih yang selalu ditunggu.
Pandanganku menyapu langit-langit kamar. Segala sudut kuterlusuri. Jadi ingat kamar hitamku di rumah.
Iya, ini bukan kamarku. Tapi kamar kos yang kusewa setelah diterima bekerja di salah satu perusahaan media. Kantornya hanya sepetak halaman jaraknya dari kos ini.
Kamar ini langit-langitnya tak seperti kamarku. Karya seni di langit-langit kamar hitamku tingkat tinggi. Ada petak-petak sawah kertas kusam dan pematang tali rafia. Karya warisan kakak perempuanku, yang kini nun jauh di Pulau Borneo.
Di langit-langit kamar kos ini. Satu per satu debu mencuri nyawaku. Debu itu turun dengan senyap disaat lelap. Tapi sudahlah, biarkan debu itu kuhirup sejuta. Jika ini takdir, aku tak ingin berikhtiar. Biarkan saja. Aku terlalu suka dengan kamar ini, pun suasana sekitar. Kami—penghuni kos— diitari gemericik kolam dan hijau persawahan. Tidur memang jadi mudah di sini, tapi tidak denganku. 
Perempuan usia 40-an di samping kamarku cukup riang. Ia membikinku cemburu, bahwa usiaku yang jauh lebih muda, kenapa tak seceria dia? Sesekali, perempuan itu bercengkerama denganku. Pernah kupinjami uang bensin. Ia ikhlas, tak perlu ditukar katanya. Ah, tetap kutukar jika kuberuang.
Ritme kerja di media kubeber saja di sini. Awalnya, terbit matahari tiga jam kemudian mataku benderang.
Tapi sebulan kemudian.... Segalanya bisa kuatur sesuka hati. Waktu telah kupilah, kupilih dan kupolakan. Terang, pekerjaan jadi mudah.
Kembali ke kamar ini. Ruang 4 x 4 meter yang segalanya ada. Aku bebas telanjang sana-sini. Gelas, piring, kertas bungkusan nasi, tas kresek, dan puntung rokok leluasa kutabur. Segalanya merdeka.
Di sudut ruang ada tumpukkan koran. Bukan koran langganan, tapi yang tercecer merdeka di kantor, lalu kubawa pulang. Lima meter di samping kamar, gemuruh percetakkan mengaum. Pukul empat pagi, ia reda. Tapi sesekali gaungnya terbawa hingga ke mimpi, jika lelap telah meneluhku.
Teriak lelah para pekerja sering kudengar, namun itu tak seberapa dengan lelah kami. Pikirku begitu. Teriak kami di relung, lelah kami dipendam, bahkan letih kami terbungkus bungkam. Yang namanya wartawan di media ini, ah, tukaran berita dihindari. Ada sih, satu dua berita yang ditimang dari media lain, kebanyakan yang dikais sendiri. Intinya tak bobol. Sebab bobol adalah borok wartawan. Kata mereka.
Ah, Bolmong... Negeriku yang beragam. Bahkan kamar kecil ini bisa kau rembesi ratusan perkara. Menumpuk di sudut kamar.

Sabtu, 31 Januari 2015

Tiga 'L' di Negeri Lonua'

Tidak ada komentar
Pemimpinnya berkumis, dengan nama tenar Leluho' (Leluhur). Ia memimpin Negeri Lonua' sambil menggengam matahari timur. Namun saat condong ke barat, matahari itu lepas.
Rakyatnya pun tahu persis, siapa Leluho' di balik lelucon dan kecakapannya bertutur. Leluho' pun tahu persis, siapa rakyatnya dan apa yang harus dilakukannya. Konon, Leluho' memiliki ilmu pukau, turun temurun dari leluhurnya. Leluhur nun jauh di Negeri Sahara.
Bertahun-tahun ia memimpin rakyat Lonua', sebagian rakyatnya jenuh dan keruh. Sebagian besar. Isu miring terendus sesekali.
Sedangkan di bibir pantai, di lindap subuh saat matahari masih mengatupkan cahayanya. Percakapan antara Embun dan Angin Pantai, bermula....
"Saya mulai jenuh dengan Leluho'. Tapi kami adalah sahabat karib. Keakraban kami serupa embun yang memoles dedaunan pagi," Embun bermonolog.
"Namun, masih tersisa sedikit terang dariku untuknya, meski jenuh ini semakin mengeruh."
Sepintas, kilatan kecil menggaris di kulit daun bakau. Angin Pantai mendengar keluhan Embun. Hadir lalu tercipta dialog.
"Apa gerangan yang membuatmu jenuh dengan Leluho'?" tanya Angin Pantai, sembari meliuk-liuk dan menampar kecil dedaunan, membikin Embun bergetar.
"Sahabatku berubah!"
"Apa yang berubah darinya? Bukankah Leluho' dari gerak masa, tabiat bocahnya sudah menjadi penentu?"
"Entahlah, mungkin dia lelah!"
"Tak ada yang melelahkan menjadi seorang pemimpin. Telunjukmu pun bisa menjadi tongkat Musa." 
Perkataan Angin Pantai, membuat Embun seakan ingin menetes di lautan garam di bawahnya. Meninggalkan lembar daun dan Leluho'. 
"Kau tahu Angin. Tak mudah membagi kesetiaan dengannya. Aku lebih memilih terus mendekap dedaunan. Tapi, setiap pagi, sejak ia masih bocah yang lugu, telunjuknya itu mengelusku dengan lembut. Setiap pagi, Angin. Setiap pagi. Ia tak punya teman selain aku."
"Kala matahari tersenyum dari timur. Ia enggan beranjak meninggalkanku. Ia menggenggam matahari, menghalau cahaya, agar aku tak sirna."
Dua bulir embun lain, sekejap bergulir jatuh. Embun hanya menatap lalu meringis.
"Kenapa kau meringis Embun?"
"Saat embun-embun jatuh ke lautan nan asin. Memang mustahil untuk merubah rasa lautan. Ia akan tetap menjadi asin. Tapi pernah kaucecap? Seperti apa rasa embun itu? Ingatlah, kami embun di dedaunan bakau."
Angin Pantai sejenak berhenti meliuk-liuk.
"Kau pernah dengar Embun, tentang Leluho' yang suka mengulum lollipop?"
"Apa yang tak kuketahui tentangnya?"
"Tapi kali ini, lollipop itu milik orang lain," Angin Pantai memburu.
"Sejak ia bocah, kenakalan seperti itu wajar saja."
Angin Pantai menderu, "Tapi ini bukan bocah. Ini manusia yang ingin melangkah."
Angin Pantai memburu lagi, "Kau tahu Embun, sekarang ia senang merampas lollipop, lalampa, dan lapis legit. Orang-orang menggemparkannya dengan sebutan tiga 'L'. Ha-ha-ha....,"
"Benarkah?"
"Bahkan dengan mudah. Kalau yang pernah kudengar dari sebuah percakapan, di salah satu kapal negara Inggris yang sedang berlayar. Hmm... like taking candy from a baby. Itu idiom, bisa diartikan, yah, gampang. Lagipula ia sekarang seorang penguasa Negeri Lonua'."
Embun tiba-tiba merasa mendidih, meski sinar mentari pagi belum memanggangnya.
"Ah, itu hanya lelucon," sangkal Embun.
Angin Pantai mendengus pelan, "Huuuffff... Kau terlalu dekat dengannya. Tapi, ah, entahlah. Aku hanya menuturkan apa yang kuketahui."
Percakapan terhenti. Angin Pantai meninggi sembari menengok apakah kedua mata matahari masih terkatup. Terang tak lama lagi. Ia kembali merendah.
"Nah, apa yang membuat kau berpikir Leluho' telah berubah?"
Hingga matahari mengucek kantung matanya, jawaban dari Embun tak terdengar. Ia memilih jatuh ke lautan asin sebelum cahaya matahari mendidihkannya. Angin Pantai pun kembali bertiup, melanjutkan perjalanan. Satu tanya belum terjawab. Bukan tanya tentang perubahan Leluho', namun sebuah pertanyaan baru. Kenapa Embun tak memilih bersama dedaunan atau dengan Leluho'?
Embun hanya selalu memiliki satu pilihan, kembali menyatu bersama asinnya lautan, seasin keringat di ujung telunjuk Leluho'.

Selasa, 20 Januari 2015

Perempuan

Tidak ada komentar

Oksigen membentang di bumi. Lalu dihidu segala mahluk hidup dengan ketersediaan yang melimpah.
Namun di sudut sebuah ruang perawatan rumah sakit. Terbaring lelaki yang hanya ditemani perempuan dan tabung oksigen. Tubuh lelaki itu ringkih dengan rusuk menyembul dari daging yang kusut. Sekusut raut perempuan itu.
Sepasang pecinta ini telah dua dekade merajut rumah-tangga. Diberi sepasang anak dan satu cucu. Perempuan itu, kakak paling tua yang biasanya menjadi pilihanku, saat lauk di rumah tak sejiwa dengan liur.
Perempuan itu, mengelus-elus rambut kering lelaki di sampingnya. Di binar matanya ada harapan tentang esok yang serupa puluhan tahun lalu. Kala mereka memadu kasih di sebuah bangku gelap di bawah pohon rindang. Namun saat terbaring rengsa, lelaki di sampingnya ditatap penuh kekaguman yang tak kunjung pudar.
Wajah perempuan itu selalu cemas melirik jarum oksigen. Tanda merah, adalah puncak kegelisahan yang membuatnya selalu awas. Ia tak beruang, hanya kertas-kertas jaminan kesehatan ia letakkan di bawah bantal, sebagai pengumpul nyawa. Harapannya pun bersandar pada tabung oksigen.
Perempuan itu kembali tidur. Ia takut bermimpi sebab takut tak terbangun. Ia seharusnya terjaga, meski seharusnya ia istirahat. Cemas, bimbang, ketidakberdayaan setiap kali ditodong resep-resep obat. Membuat ia semakin kuat. Perempuan itu bukan lagi perempuan. Ia adalah seorang istri. Statusnya kali ini teruji setelah bertahun-tahun. Yah, perempuan itu adalah seorang istri.
Mungkin benar, perempuan adalah satu-satunya manifestasi citra Tuhan paling sempurna di muka bumi. Seorang perempuan menjadi istri, sekaligus menjadi ibu. Memiliki rahim sebagai pengingat Kemahapenciptaan-Nya.
Perempuan itu tak lagi bermuka sendu kemarin. Harapannya berubah menjadi keikhlasan. Seketika rautnya berubah menjadi wajah Tuhan. Perempuan itu sempurna menjadi Tuhan di bumi.
Namun, ia masih menunggu. Kilatan harapan itu masih ada. Di sudut kiri matanya. Bukan lagi pada tabung oksigen.

Selasa, 30 Desember 2014

Gereja Tua

Tidak ada komentar
SEEKOR ayam jantan sebagai penanda arah mata angin bertengger di atas atap gereja yang mengerucut. Bangunan Gereja Masehi Injili Bolaang Mongondow (GMIBM), diklaim sebagai gereja GMIMB tertua di Bolmong.Sudah direnovasi sebelumnya, tapi tidak meninggalkan kesan "purba" yang masih melekat, di bangunan gereja. Hanya dilakukan pengecatan, perbaikan kaca-kaca jendela, juga atapnya yang telah diganti genteng. Tapi ornamen-ornamen lainnya tetap dipertahankan.
Pendeta Mawara Wawointana, yang dipercayakan menjadi pimpinan umat kristiani di gereja tersebut, bertutur tentang sedikit sejarahnya."Di penanda arah mata angin, yang berbentuk ayam jantan, tercantum tanggal peresmiannya. Tapi setahu saya, menurut sejarah, dua hari sesudah tanggal yang tercantum di situ, tanggal peresmiannya," cerita pendeta perempuan ini, saat ditemui di kediamannya, yang letaknya tak jauh dari bangunan gereja. Dari penuturannya, tanggal yang tercantum 23 Maret 1923, sedangkan menurut yang ia ketahui, peresmiannya tepat 25 Maret 1923.Pendeta Mawara juga menjelaskan soal perawatan gereja tersebut. Ada tiga orang yang menjadi kastor, bertugas menjaga kebersihan di lingkungan gereja."Ada yang namanya kastor. Mereka bertugas menjaga kebersihan. Untuk renovasi seperti pengecatan, jemaat-jemaat turut membantu pula. Terakhir direnovasi tahun lalu," sampainya.
Bangunan gereja tersebut, diperkokoh oleh susunan kayu cempaka yang terbilang cukup awet dan tahan dimakan jaman. 1923 hingga 2014, sejak tahun peresmiannya. Gereja ini telah 91 kali turut merayakan Natal."Pakai kayu cempaka, jadi memang tahan. Bisa dihitung hingga tahun ini, sejak peresmiannya, sudah berapa tahun gereja ini turut merayakan Natal," kata pendeta.Meski usianya yang hampir menyentuh seabad, gereja tersebut masih menjadi pilihan beberapa mempelai untuk melakukan prosesi pernikahan."Untuk liturgi atau peribadatan sudah menggunakan gereja yang di sampingnya. Kalau pernikahan, ada sebagian mempelai memilih menggelar prosesi pernikahan di situ, karena tertarik dengan sejarahnya," terangnya.
Mendekati perayaan Natal, Pendeta Mawara turut mengucapkan selamat merayakan Natal dan Tahun Baru 2015. Ia pun berharap kerukunan antar umat beragama di Bolmong terus terjaga. 
Selain itu ada pula gereja tertua di salah satu desa di Bolmong. Seminggu yang lalu, keluarga Kolintama di Desa Otam Kecamatan Passi Barat, Bolmong, menemukan surat-surat tulisan tangan, yang menjawab tentang sejarah pembangunan Gereja Immanuel di desa mereka.78 tahun yang lalu, di hari perayaan Natal kedua 26 Desember 1936. Sekira 200 undangan menghadiri acara pentasbihan Gereja Immanuel di Desa Otam. Kala itu, seorang misionaris asal Belanda, Pendeta Kristen Protestan W Dunnebier yang diutus khusus di wilayah Passi dan sekitarnya, meresmikan sebuah gereja yang hingga kini masih berdiri kokoh.Seorang saksi sejarah, yang menjadi generasi penerus Gereja Immanuel Otam, Pendeta Matius Kolintama, di usianya yang ke-71, menarik ingat dan berkisah."Baru saja seminggu lalu, peti yang berisi buku-buku ayah saya, ditemukan surat-surat dengan tulisan tangan, yang dibungkus dengan kain. Surat-surat itu masih ditulis dengan pena yang memakai tinta celup. Jadi tebal dan tipis goresan tinta sangat kentara. Surat-surat itu menjawab pertanyaan-pertanyaan kami keluarga, selama puluhan tahun," kisah Opa Matius. Ingatannya masih segar meski di usia senjanya. Cara ia bertutur, seperti menarik penyimak kembali ke masa lalu."Kakek saya, Abraham Kolintama adalah penganut Kristen Protestan yang pertama di Desa ini. Di surat itu pula, dituliskan tahun pembaptisan mendiang ayah saya Justuf Kolintama dan adiknya Dortje Simbala," tuturnya. Di tahun 1910 keduanya dibaptis. 16 tahun sebelum peresmian gereja."Pendeta Dunnebier usai peresmian, kembali ke Belanda. Rumah pendeta dulu di Desa Passi. Di perbatasan Desa Passi dan Bilalang. Di Passi ada juga gereja, tapi sekarang sudah dijadikan gedung BPU. Saya tahun tujuh puluhan, sering memimpin kebaktian di Desa Passi. Jadi
dari Desa Otam jalan kaki. Pernah diguyur hujan, hanya berpayung daun talas yang dipetik di pinggir jalan," cerita Opa, dengan gestur tubuhnya. Jumlah penganut Kristen di Desa Otam hingga sekarang, tersisa tiga kepala keluarga (KK). "Ada juga dua duda. Total keseluruhan ada dua puluh dua orang. Di tengah ribuan muslim di Otam. Tapi kerukunan antar umat beragama di sini terus terjaga. Setiap hari Minggu masih rutin digelar kebaktian di gereja," sampainya, Senin (15/12) kemarin. Opa Matius menjadi pendeta dari 1968 hingga 2011. Untuk jabatan Ketua Jemaat Gereja Immanuel, sekarang generasi yang dipercayakan meneruskannya adalah Dra Astri Roeroe Kolintama, yang sekarang menetap di Kelurahan Kotobangon Kecamatan Kotamobagu Timur. "Setiap minggu, saya dan keluarga rutin ke Desa Otam. Menggelar kebaktian juga di Gereja Immanuel," terang Astri saat dihubungi lewat telepon. Setelah pamit kepada Opa, wartawan koran ini masih menyempatkan diri bertandang ke Gereja Immanuel. Lonceng tuanya menggantung diam. Hanya di hari Minggu, jemaatnya datang meramaikan gereja dengan kidung-kidung pujian. Lalu loncengnya pun menggema.

Kamis, 27 November 2014

Patung Bogani (Bagian 2 dan 3)

Tidak ada komentar
Liliyanti Mokodompit dan lukisan karya Pak Moko. Foto: Sigidad

KELUARGA SENIMAN PAK MOKO BICARA...

Sesuai penuturan pengiat budaya Chairun Mokoginta, seniman asli Bolmong, Tawakal Mokodompit yang merancang dan membuat patung Bogani. Dari hasil penelusuran, akhirnya keluarga mendiang Pak Moko--sapaan akrab Tawakal Mokodompit--berhasil ditemui lalu berkisah...

Liputan: Kristianto Galuwo

MENDUNG menggantung di langit Kotamobagu. Tidak lama kemudian hujan turun membasahi perjalanan pencarian keluarga mendiang Pak Moko. Tak jauh memang, ternyata hanya sekira 200an meter dari letak patung Bogani.

Seorang ibu di warung menunjukkan rumah adiknya Pak Moko, mendiang Harsono Mokodompit, yang ternyata adalah ayah dari Liliyanti Mokodompit, seorang staf di Sekretariat Dewan DPRD Bolmong. Lili sudah cukup akrab dengan para awak media.

Karena urusan mendadak, ia dan suaminya Soejarwo Kastur mengajak untuk ikut serta di mobil Avanza yang mereka kendarai.

"Ayo ikut, nanti di dalam mobil saya cerita tentang Tua' Moko. Kebetulan lagi hujan," ajak dia dan suaminya.

Di perjalanan menuju kantor cabang Bank Sulut yang terletak di Jalan Kartini Kotamobagu. Pembicaraan pun mengalir begitu saja.

"Tua' Moko memang yang membuat patung Bogani. Kakak beradik dua-duanya seniman. Ayah saya pun seorang pelukis sekaligus pematung. Patung di Gedung Bobakidan, sepasang laki-laki dan perempuan itu ayah saya yang membuat. Juga dengan patung di Taman Makam Pahlawan. Nah, kalau patung-patung karya Tua' Moko, nanti coba saya hubungi lewat telepon salah satu putranya di Jakarta," tutur Lili, putri ke lima dari mendiang Harsono Mokodompit.

Sesampainya di tujuan, suaminya turun lalu masuk ke dalam Bank. Lili pun mencoba menghubungi putranya Pak Moko. Saat berhasil dihubungi, lalu mereka bertegur sapa. Putranya yang bernama Dzikrullah Mokodompit pun menceritakan. Dari penuturan ayahnya (Pak Moko) semasa hidup, ada beberapa patung di Manado yang juga dibuat oleh ayahnya.

"Ayah pernah cerita, kalau patung Bogani itu dia yang membuat. Tahun tepatnya saya tidak ingat lagi. Ada beberapa patung juga yang dibangunnya di Manado dan Gorontalo. Kalau di Manado itu patung Worang di Pasar 45. Terus patung Kuda. Juga patung di lapangan Tikala, ada yang pegang-pegang obor itu. Ada yang di Gorontalo, patung Nani Wartabone," kenang putra kedua Pak Moko, dari tujuh bersaudara ini.

Pak Moko berpulang 4 Desember 2010 silam karena stroke. Ketujuh putra dan putrinya pun menetap di Jakarta dan Manado. Dzikrullah menuturkan, saat di Jakarta, ayahnya pernah beberapa kali menggelar pameran lukisan semasa hidup.

"Ayah beberapa kali menggelar pameran lukisan, di Blok M Square, Ancol, juga di Pasar Seni Jakarta," terangnya, Kamis (27/11).

Ia sekeluarga berencana akan mempertanyakan kembali ke pemerintah setempat, mengenai klaim dari beberapa hasil karya mediang ayahnya. Juga meminta pemerintah agar mencantumkan nama pembuat di setiap patung hasil karya ayahnya.

Pembicaraan pun berakhir. Lili dan suaminya mengajak kembali ke rumah, untuk melihat lukisan hasil karya Pak Moko, yang terpampang di ruang tamu rumahnya. Sesampainya di rumah, sebuah lukisan ukuran 1.30 x 1.30 meter menyambut kami. Terlukis empat orang perempuan cantik berhijab dan seorang bocah perempuan berhijab pula, dengan raut wajah berbeda-beda

"Lukisan ini saya ambil di rumah Tua' di Manado. Beruntung lukisan ini masih ada. Jadi bukti kalau Tua' memang seorang pelukis," katanya. Sambil mengusap-usap lukisan tersebut.

Kemudian ibunya Lili, Ramlah Manoarfa menujukkan foto Pak Moko yang menghiasi dinding ruang tamu.

"Ini foto mendiang Pak Moko, kakak dari suami saya. Rambutnya panjang tapi dikuncir. Istrinya Linawaty Talot, juga sudah meninggal dunia," tutur Ramlah.

Ia juga menunjuk sebuah mural di tembok rumah, karya mendiang suaminya. Sepintas melihat foto Pak Moko, jika rambutnya digerai sambil mengenakan ikat kepala, juga dengan janggut lebatnya semasa ia muda, Pak Moko mirip dengan patung Bogani hasil karyanya. Hal itupun dikatakan Lili, sebab Pak Moko memang sangat mirip dengan wajah patung Bogani.

Tak berlama-lama lagi, wartawan koran ini pamitan. Sesudah itu, Chairun Mokoginta mengabari, ia baru saja bertemu dengan H.D Makalalag, mantan Ketua KPU, yang pada saat patung Bogani dibangun, ia adalah kepala urusan rumah tangga di masa kepemimpinan Bupati O.N Mokoagow.

"Saya baru saja bertemu dengan H.D Makalalag. Ia juga mengatakan patung Bogani di Kotobangon dibangun saat pemerintahan Bupati O.N. Mokoagow dan yang membuatnya adalah Tawakal Mokodompit," terang Chairun.

Terang sudah, siapa yang berjasa dengan karya hebat patung Bogani. Simbol patriotisme di Kabupaten Bolmong. Sejarah harus diluruskan. Sejarah patut dikenang. Agar generasi kita tahu, negeri Totabuan memiliki seniman-seniman hebat.


Patung Bogani (Bagian 3)


Bogani menjadi maskot KPU Kota Kotamobagu. Gambar: KPU Kota Kotamobagu

BOGANI DIJADIKAN MASKOT DAN DIHORMATI

Berbagai cara menjadi bentuk sanjungan mereka kepada tokoh Bogani. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Kotamobagu menjadikan maskot Pemilihan Wali Kota Kotamobagu (Pilwako) 24 Juni 2013 silam, hingga Anggota Dewan Perkawilan Daerah (DPD) RI Benny Ramdhani (BRANI) yang melakukan “ritual” pembasuhan Patung Bogani.

SAAT ditelepon, Ketua KPU Kotamobagu, Nayodo Kurniawan mengatakan sedang berada di acara duka keluarga.

“30 menit lagi yah, kalau sudah di rumah nanti saya hubungi lagi,” katanya. Setelah menunggu, tidak sampai 30 menit lamanya, telepon berdering dan ternyata dari Nayodo yang biasa disapa Kak Nanang.

“Saya sudah di rumah, kesini saja,” ajaknya, disusul dengan sedikit petunjuk letak rumahnya yang berada di Kelurahan Gogagoman, Kecamatan Kotamobagu Barat.

Disambut di teras rumah panggungnya, Kak Nanang segera mengulas tentang penulisan sejarah pembuat Patung Bogani, yang dipublikasikan koran Radar Bolmong, edisi Rabu (26/11) dan Kamis (27/11).

“Iya saya baca, memang seharusnya hal-hal seperti ini digali, agar generasi muda tahu,” katanya, sambil memantik korek apinya. Sebatang rokok tersulut, lalu cerita berlanjut.

Wartawan koran ini menanyakan alasan, kenapa saat Pilwako 24 Juni 2013 silam, KPU Kotamobagu menjadikan Bogani sebagai maskot.

“Bogani adalah sosok kesatria, jujur, amanah dan memiliki keselarasan antara perkataan dan perbuatan. Sehingga KPU Kotamobagu menjadikan Bogani sebagai maskot, dengan maksud agar masyarakat melihat, sosok seperti Bogani yang pantas menjadi pemimpin dalam membawa Kotamobagu ke depan,” jelas Kak Nanang.

Ia pun meminta kepada pemerintah agar terus menjadikan Bogani sebagai maskot Bolmong sepanjang masa.

“Harus jadi maskot sepanjang masa. Insya Allah, jika ada Pilwako selanjutnya, Bogani akan tetap menjadi maskot KPU,” harapnya.

Bukan hanya itu, ia meminta pemerintah agar bisa menganggarkan di Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD), terkhusus untuk dinas terkait melakukan riset sejarah.

“Pemerintah harus ada anggaran untuk itu. Bahkan bisa membuat buku sejarah Bolmong, yang dirangkum dari catatan atau keterangan para sejarahwan. Buku-bukunya bisa dibagi di sekolah-sekolah, biar jadi referensi para generasi muda,” terang Nayodo dengan nada serius.

Tak lama kemudian datang Aditya Tagela, salah satu komisioner devisi hukum dan pengawasan KPU Kotamobagu.

Ditanyai soal ide pencatutan Bogani sebagai maskot. Nayodo dan Aditya sepakat, itu adalah ide bersama.

“Itu ide bersama, ada plenonya juga saat itu,” terang Nayodo yang disepakati Aditya.

Setelah bercerita panjang lebar, ia mengambil sebuah kaos yang bergambar tokoh kartun Bogani-yang menjadi maskot-lalu menghadiahkan kaos itu kepada wartawan koran ini.

Berpamitan pulang, wawancara pun berlanjut kepada salah satu anggota DPD RI perwakilan Bolmong, Benny Ramdhani. Sedang berada di Ibukota Jakarta, Benny diwawancarai melalui sambungan telepon. Salah satu momen penting yang dilakoninya saat Pesta Demokrasi 9 April 2014. Ia yang mencalonkan diri sebagai perwakilan Bolmong untuk merebut kursi di DPD RI, berhasil menarik simpatik masyarakat dengan aksinya yang melakukan “ritual” pembasuhan patung Bogani.

Bogani adalah simbol heroisme dan patriotisme. Patung Bogani itu seolah-olah dilupakan. Momennya pada saat itu, tatkala suara calon perwakilan Bolmong terancam dicuri, maka itu sebagai bentuk permintaan restu kepada Bogani, untuk siap melakukan perjuangan jika nanti ada kecurangan,” terang Benny dengan nada suara penuh semangat

Selain itu, ditambahkannya, pembasuhan patung Bogani adalah bentuk kritik kepada semua pihak, yang mengabaikan dan bertindak seasalnya terhadap patung Bogani.

“Kita lihat saat ramai pesta demokrasi, ada beberapa stiker partai yang ditempelkan di tubuh patung Bogani. Selain itu di ujung tombaknya diikatkan bendera partai, harusnya itu dilarang,” sampai Benny, Jumat (28/11).

Benny juga mengeluhkan kurangnya perhatian pemerintah untuk melakukan perawatan patung-patung dan monumen-monumen bersejarah di Bolmong. Juga kepada generasi muda, ia menyampaikan agar terus menjaga dan membuka mata hati, supaya bisa meneladani tokoh Bogani, sebagai simbol perjuangan.

Besar harapan Benny, agar seluruh elemen masyarakat di Bolmong, bisa mengenal lebih jauh ke dalam, menggali sejarah dan budaya daerah yang mulai terlupakan.

Benny Ramdhani saat aksinya membasuh patung Bogani. Foto: Koleksi pribadi

Catatan: Ketiga liputan bersambung Patung Bogani, dimuat di koran Radar Bolmong, sewaktu saya masih sebagai wartawan di sana. Sengaja saya sadur di blog, untuk kepentingan dokumentasi pribadi.

Rabu, 26 November 2014

Patung Bogani (Bagian 1)

1 komentar
Patung Bogani di simpang tiga Kotobangon. Foto: Sutha

PATUNG BOGANI YANG TERLUPAKAN

Tak banyak yang memperhatikan lalu prihatin dengan sebuah patung, yang berdiri tegar di simpang tiga Kelurahan Kotobangon. Patung Bogani, sekujur warna cokelat tubuhnya memudar dan berlumut, seakan waktu memakannya perlahan dan membuat kita melupakannya.

Liputan: Kristianto Galuwo

SEJARAH memang untuk diingat. Mereka yang tidak mengenal masa lalunya, akan dikutuk untuk mengulanginya. Begitu kata George Santayana, filsuf asal Spanyol (1863-1952). Begitu pun dengan masyarakat Bolmong, mungkin harus diingatkan kembali dengan sejarah Bogani. Tidak banyak generasi muda yang mengenal dan tahu siapa Bogani, bahkan hanya untuk seonggok patungnya pun, mungkin sebagian masyarakat Bolmong tidak atau belum mengetahui sejarahnya.

Menurut sejarah, Alex B. Wetik yang merupakan salah satu pendiri Jurusan Seni Rupa di Lembaga IKIP Manado atau UNIMA, ia adalah pelukis sekaligus pematung yang mendesain Patung Bogani. Ia pun dikenal membuat patung-patung di Sulawesi Utara di antaranya: patung Sam Ratulangi di Manado, Yesus di Gereja Katolik St. Ignasius Manado, relief di Gedung Bukit Inspirasi Tomohon, patung Sam Ratulangi di Tondano, patung Sarapung dan Korengkeng di Tondano, dan patung Bogani di Kotamobagu, pun masih banyak karya-karya lainnya.

Akan tetapi, sumber lain yang merupakan budayawan Bolmong, Chairun Mokoginta mengatakan, dari hasil penelusurannya, pelukis dan pematung yang membuat patung Bogani adalah Tawakal Mokodompit.

"Menurut sepengetahuan saya, Tawakal Mokodompit yang membuat patung Bogani. Kiprahnya dalam seni lukis pun hingga ke ibukota Jakarta. Dia bersama Pak Tino pernah mengisi program acara 'Mari Menggambar' di stasiun TVRI dulu. Adiknya pun Harsono Mokodompit adalah seorang pelukis. Tapi saya pernah menelusuri keberadaan mereka, hingga diketahui keduanya sudah meninggal dunia. Yang saya kenal, keduanya adalah budayawan sekaligus pematung di Bolmong," tutur Chairun saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Genggulang Kecamatan Kotamobagu Utara, Rabu (26/11).

Kedua kakak beradik itu menurut Chairun, sangat memperhatikan kebudayaan Bolmong dari segi adat istiadat, semboyan-semboyan budaya, juga simbol-simbol.

"Setahu saya juga keduanya itu di masa muda mulai eksis di dunia seni. Seingat saya saat kepempimpinan Bupati O.N Mokoagow, mungkin di periode tahun 1966-1976, patung Bogani dibuat," tutur Chairun, sambil mengingat-ingat.

Diceritakannya, tokoh Bogani yang menjadi model patung adalah Bogani Paloko. Sebab yang bermukim di sekitar aliran sungai dan wilayah Kotobangon sampai ke puncak Ilongkow adalah bogani Paloko.

"Ada begitu banyak Bogani di Bolmong, seperti Bogani Ki Bagat, Inde Indou, Inde Dikit, Dugian, Paloko, Ponamboian, Dondo, Pongayow, Lingkit, Mogedag dan masih banyak lagi. Tapi menurut saya, yang menjadi tokoh patung Bogani adalah Bogani Paloko. Sebab dulu yang berdiam di sekitar aliran sungai adalah Bogani Paloko dan masyarakat yang dipimpinnya," urainya, sambil mempersilakan wartawan koran ini, untuk minum teh yang dihidangkan istrinya.

Diketahui ada dua sebutan untuk simbol patriotisme di Bolmong itu. Bogani untuk laki-laki dan Bigani untuk perempuan. Dari bahasa 'purba' Mongondow, diartikan Bogani adalah manusia yang bisa menghilang.

"Artinya Bogani itu manusia yang bisa menghilang. mereka pun dipilih karena sifat dan sikap mokodotol atau patriotisme yang dimilikinya," terangnya.

Menurut Chairun ada satu semboyan yang menjadi sebuah prinsip bagi para Bogani.

"Prinsipnya yakni tampangan dodot atau artinya pemimpin dulu yang harus mati baru sesudah itu rakyat," dituturkan Chairun dengan gestur tubuhnya yang mengisyaratkan seorang Bogani menaungi rakyatnya di antara kaki kiri dan kanannya.

Ada empat kriteria menurut Chairun agar bisa menjadi Bogani. Yang pertama Mokodotol atau sikap patriotisme. Yang kedua adalah Mokorakup yang artinya bisa mengayomi masyarakat yang dipimpinnya, baik itu dari kecukupan sandang dan pangan. Ketiga Mokodia yang diartikan mampu mengemban amanah, paham dengan budaya dan adat istiadat, juga mampu menerapkan keadilan tidak terkecuali anggota keluarga. Yang keempat Mokoanga' yang diartikan harus simpatik perilakunya.

Mengenai dua senjata yang digenggam patung Bogani, diberi nama Tungkudon untuk tongkat yang juga sekaligus sebuah tombak, di genggaman tangan kanannya. Sedangkan tameng di tangan kiri diberi nama Kaleaw. Dari posisi Patung, diutarakan Chairun adalah apa yang disebut dengan opat noponulukan atau empat penjuru angin.

"Ini dari perspektif budaya yah, kiblatnya orang Mongondow itu menghadap utara. Jadi Tungkudon-nya menghadap utara atau Tombaian artinya kebahagiaan atau kesenangan. Kalau ke barat itu disebut Toyopan yang artinya tidak baik, karena itu patungnya agak condong ke selatan. Sedangkan timur itu disebut Silangan, makanya harus dibelakangi karena tidak baik menantang arah terbitnya matahari. Untuk ke selatan itu Tontongan artinya apa yang nampak dalam pandangan," urai Chairun. Ia kembali memantik api dan menyulut rokoknya, kemudian melanjutnya cerita.

"Tidak pernah para Bogani dulu berselisih. Ada sejarah soal Mokodoludut, pemimpin dari Dumoga. Versinya ada dua menurut hikayat, Mokodoludut itu berasal dari telur. Sementar versi logisnya, ia bayi yang ditemukan Bogani Amalie dan Inalie. Saat ditemukan katanya ada suara gemuruh dan angin yang bertiup kencang. Semua Bogani berkumpul dan kemudian disepakati bayi tersebut diasuh dan dibesarkan. Sebab akan menjadi pemimpin nantinya," tuturnya.

Chairun pun mengakhiri perbincangan panjang dengan penyampaian, bahwa budaya-budaya Bolmong beraneka ragam. Tokoh-tokoh dan para pelaku sejarah pun harus diingat. Agar generasi bisa memahami, betapa Bolmong ini begitu kaya kebudayaannya dan memiliki sejarah patriotisme yang patut dikenang.

Minggu, 19 Oktober 2014

Anuar

Tidak ada komentar
Novel-novel karya Anuar Syukur
Nama depanmu, menarik ingatku pada Chairil Anwar, meski dengan ejaan berbeda. Tapi sekali berarti, sudah itu mati kata Charil Anwar, lalu kalimat itu merangkul kalian.

Kau, Anuar. Tak pernah kita bersua, karyamu tak pernah kubacai, suaramu tak pernah kudengar. Hingga corong pada pagi pemakamanmu, mengisyaratkan duka yang seharusnya tertunda. Sebab mungkin, di suatu kala, kita bisa duduk sembari menyesap segelas kopi bersama, di pojok saung yang tengah kau raut dengan keringat. Kita bicara tentang bibit tanaman apa yang sedang kau semai. Pun kisah cinta apa lagi yang mau kau sampulkan.

Anuar, aku mau menyapamu penulis dan marhaenis. Itu jauh lebih merdeka. Semerdeka buku-buku novel berdebu yang bertumpuk di rak lemarimu. Tadi adik perempuanmu menyeka debu-debu itu. Seketika kenangan yang menebal di sampulnya terbang.

Anuar, ada belasan novelmu. Mau kupinjam tapi pemiliknya sedang istirah. Mau kubaca tapi penulisnya sudah berpulang. Tapi kata adikmu, sekali-kali datanglah ke rumah. Ada dinangoi, secangkir kopi, dan buku-bukumu menunggu.

Apa kabar grup Pinotaba di Facebook? 2012 silam, pernah aku mengirim pesan ke admin grup, agar aku bisa diterima membaur. Tapi kau tolak, kau kurang yakin kalau aku anak asli Mongondow. Iya, Pinotaba itu Perhimpunan Putra Totabuan. Mungkin marga Galuwo-ku begitu purba bagimu. Aku mengirimimu pesan lagi, "Mungkin Dinangoi sudah dilabeli seperti Pizza, jadi hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mencicipinya. He-he-he...."

Lalu kau sapa aku, utat. Segera pula kau terima permintaanku untuk bergabung dengan grup Pinotaba. Ah, lucu kala mengingatnya. Padahal itu hanya canda. Hingga dua tahun kemudian, tiga bulan yang lalu, aku meminta nomor ponselmu lewat pesan Facebook. Cukup lama kau balas. Mungkin karena kesibukanmu berkebun. Tak sempat pula kuhubungi. Sampai di sini, ada sesalku yang tersisa.

Berita pemakamanmu, sedang dicetak. Aku yang meliputnya tadi. Sempat kunukil status di akun Facebook-mu, "sibuk dgn alam nyata, hp tinggal satu2nya membuat malas gonta-ganti kartu. Mau beli hp tapi tak beruang. Akhirnya dunianya si maya sering kutinggalkan, hehe... Konsentrasi mononggoba' (berkebun)."

Iya, Anuar, menulis dan berkebun, keduanya giat yang mencipta sesuatu, jauh melampaui usia kita. Di antara nyata dan maya, ada keabadian. Semoga damai di sana. Di saung tak berujung.

Sukur moanto' utat, Anuar Syukur.