Minggu, 13 Maret 2016
Ayah, yang Kamu Lakukan ke Sigi itu, Jahat
Ulang tahunmu sebentar lagi. Bukan kau yang memilih tanggal lahirmu tepat 28 April. Tapi kejang tubuh ibumu dan letupan ketuban. Itu tanggal yang begitu spesial kali ini memang. Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC2) perdana tayang di tanggal itu. Iya. Tepat di hari ulang tahunmu. Kau memang spesial. Sampai-sampai Rangga rela membacakan puisi-puisi di hari ulang tahunmu, setelah 14 tahun dan ribuan purnama berlalu. Cinta pasti cemburu padamu.
Selasa, 01 Maret 2016
Logo Kopi Sufi Pilihan Barista Handi
Rabu, 24 Februari 2016
Misteri Trailer AADC2
![]() |
| Cinta dan Rangga di AADC2 (sumber www.mampoo.com) |
dipisah kata-kata
begitu pula rindu
jurang antara kebodohan dan keinginanku
memilikimu sekali lagi
Senin, 22 Februari 2016
Catatan Terakhir dari Ekspedisi Gembira ke Batui
![]() |
| Kusali, tempat prosesi adat digelar |
Setelah lelah berkeliling Kusali, saya rebah sejenak, di pondok keluarga kawan saya Rahmad Samadi. Ia warga Batui, yang menjadi karib saat reriungan di Kedai Kopi Maksoed. Ia pula yang mengajak kami melihat berlangsungnya prosesi adat yang digelar sekali dalam setahun ini.
Dan... kemudian saya pun terlelap.
![]() |
| Pondok yang ditempati keluarga kawan saya, Rahmad Samadi |
"Itu, yang keluar ambil wudhu, masih tontembang?"
![]() |
| Sebagian orang mulai dirasuki roh leluhur. Kain merah sebagai tanda bahwa orang-orang ini sudah dirasuki |
![]() |
| Sampai pagi, ritual masih berlangsung |
![]() |
| Jalan menuju Kusali, tempat ritual berlangsung. Ini foto saat kami kembali usai prosesi adat |
Senin, 15 Februari 2016
Kotamobagu, Sebuah Kerinduan akan yang Lampau
![]() |
| sumber foto: beritatotabuan.com |
Pada suatu ketika, di bawah tahun 2010, hampir di setiap tepi lapangan, berjejer komunitas mobil, motor, sampai bentor. Lagu-lagu hip-hop, punk, dan lagu-lagu melow disetel riuh-rendah, pada masing-masing pemutar musik di tiap kendaraan.
Senin, 08 Februari 2016
Inalillahi, Kucing
Sekembali ke rumah 5 hari lalu, aku mendapati kucing di rumah tubuhnya kurus. Bulu-bulunya banyak yang rontok. Mungkin karena sudah renta, pikirku. Aku pernah sekali membelainya, lalu membersihkan kotoran di matanya. Ia masih seperti biasanya. Di mana tempat aku duduk, makan atau tidur, pasti ia datang menghampiri. Bukan itu saja, jika aku kembali ke rumah, kata ibuku, kucing itu bakal lari menuju pintu. Hal yang sama kerap dilakoni kucing-kucing sebelumnya.
Dan entah seperti tongkat estafet. Seekor anak kucing yang coraknya mirip dengan kucingku, datang begitu saja di rumah. Warnanya didominasi abu-abu. Hanya beberapa garis putih dan kuning tergores di tubuhnya. Aku pikir, anak kucing itu, mungkin saja satu-satunya anaknya yang tersisa. Tapi sebelumnya kucing itu tidak ada. Aku pernah memberi makan dua kucing itu. Kucing rentaku membiarkan jatahnya diambil si anak kucing.
Kemudian, kabar itu datang dari ucap ibuku, di pagi ketika aku sedang sarapan.
"Kucingmu sudah mati."
Aku kaget sebab semalam masih sempat memberi jatah ikan kepadanya.
"Di mana?"
"Ia mati tepat di samping jendela kamarmu. Sudah ibu kubur tadi."
Usai makan, aku menuju jendela kamar yang masih tertutup. Pukul 7 pagi. Aku membuka jendela itu lebar-lebar. Pandanganku hanya menemui gundukan tanah.
"Ibu menguburnya di sini?"
"Iya!"
Aku tersenyum namun sedih ketika melihat gundukan tanah baru. Letak kucing itu mati dan jarak ibu memakamkannya hanya semeter. Tepat di bawah jendela.
Aku rebah sejenak, kemudian memutuskan menulis catatan ini. Sampai akhirnya aku ingat. Sesudah aku tiba di rumah, 5 hari yang lalu, aku sempat memotret kucingku.
Tanggal 6 Februari kemarin, aku sempat pula membuat status di BBM. Status yang kunukil dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Tepat di hari kelahiran sastrawan ini.
Jumat, 05 Februari 2016
Tak Ada Lagi
Nyaris tak ada, di segala sudut rumah ini yang tak mengingatkanku pada ayah; remote Tv yang lama terdiam di atas meja, asbak kosong, juga sendal yang terparkir tanpa derak langkah terseret. Nyaris tak ada. Di kamar, di bawah bantal coba kupastikan bungkusan rokok dan pemantik api di sana. Tak ada lagi. Kamar mandi tepat di samping kamar ayah, gerung dan seru pun hilang, bersama batuk ayah.
Tv coba kunyalakan, lalu menyetel siaran sinetron yang dengan terpaksa ayah gemari. Itu pilihan saat siaran sepak bola atau tinju sedang tak tayang. Tadinya, sinetron ini seru per episodenya, sebab selalu ada yang menunggu. Namun kali ini tak ada lagi teriak minta siaran diganti saat jeda iklan usai, karena ternyata remote dirampok cucu.
Tatkala hujan deras tiba-tiba mengguyur, tak ada lagi wajah cemas setiap kali menatap plafon dapur. Satu tetesan air selalu membuatnya gusar. Kursi pun ditariknya lalu dengan seketika plafon dilepas menganga. Deretan pipa dicopot lalu dipasang lagi. Cemasnya akan hilang jika tak ada lagi tetesan air hujan. Sisa genang air di lantai dengan segera ibu mengepelnya. Ayah pun tersenyum lalu kembali bersandar di sofa. Tetes hujan telah reda bersama gelisah.
Cangkir kopi kosong. Pun tak ada lagi asap membumbung. Kudapan apa lagi yang ingin ibu sajikan di meja? Kali ini ibu memilih menyapu pekarangan, setelah seisi rumah telah bersih dari debu dan kenangan.
Kemarin ibu tertunduk lama. Ia menemukan koleksi kacamata hitam milik ayah. Dan beberapa arloji antik yang seakan memutar kembali waktu. Ibu tersedu tapi ada senyum terselip di raut rentanya.
Pernah sehari, aku mengurung diri dalam rumah. Memerhatikan secara detail apa yang berubah. Hanya hening. Pinta dan suruh dari ibu pun luruh. Tak ada lagi kalimat; "Kalau ke kamar mandi jangan pergi sendiri." Meski jarak antara kasur dan kamar mandi hanya dua meter, ibu akan selalu cemas, sebab telah berkali-kali menemukan ayah terkapar di ubin dingin.
Ah, tak ada lagi suara berderak di pintu kamarku. Yang sesekali ayah coba melirik memastikan, apakah jendela-jendela kamarku terkunci rapat. Kini, biar pintu kenangan kubuka lebar-lebar. Agar rindu ini tak tertutup rapat.









