Senin, 08 Juli 2013
Seperempat Malam dengan Ayah Amato
Seperti suatu malam yang berlangsung belum lama ini. Ketika menerima SMS dari seorang kawan sekaligus saudara untuk bertemu di sebuah kedai kopi yang berada di Jalan Paloko Kinalang, tak hitung tiga, motor yang saya tunggangi meraung lurus mulus tanpa hambatan dan rasa bingung membelah malam Kotamobagu yang ketika itu menggigil.
Saya memang tak diberitahu merapat kesana dalam rangka apa, untuk apa, atau membicarakan apa. Instruksi yang saya terima cuma menandaskan kiranya saya merapat secepat mungkin. Tapi satu yang saya tahu (dan ini pasti) adalah, akan ada kopi, goroho dan sangkara di sana.
Saya kenal tempat ini. Sekali dua kali saya sudah pernah bertandang kemari sekembalinya dari "liburan panjang" di Makassar dan Bali. Mulanya saya memang sempat berpikir kalau kedai kopi di Kotamobagu baru ada di Jarod Sinindian. Diam-diam ternyata bisnis kopi plus WiFi di sini ramai pengunjung mengalahkan Foodcourt di lantai 3 Paris Super Store yang mulai ditinggalkan.
Suasana ramai nian malam itu. Banyak pengunjung datang. Saya masuk dan langsung bergabung di meja pertama yang berada di sebelah kiri. Di situ sudah ada Uwin Mokodongan (sahabat, saudara, juga ketua saya di sebuah perkumpulan tempat saya pernah belajar dan ditempa menjadi baja), juga ada (saya sapa dengan hormat) Kak Susi dan Om Rahmat, (Mama Naya dan Papa Naya/pasangan suami istri bagian dari keluarga kami juga di Kampung) yang baru pulang cuti kerja dari Papua. Pendek kata, ada 4 orang saudara dari Passi yang sama-sama melarutkan diri 1 meja di Kedai Kopi Korot Jalur Dua Kotobangon.
Baru sedetik bergabung, kawan Uwin menunjuk ke salah satu meja di pojok kanan lalu berkata kepada saya: "Pi bakudapa dulu deng ketua-ketua yang ada disanae", katanya sembari tersenyum. Saya menengok ke arah yang ditunjuk lalu menemukan para kuli media (pewarta) asyik berdiskusi sembari melahap mi goreng dan menyeruput kopi. Saya kenal satu dua sosok itu; Matt Jabrik, Buyung Algafari, juga yang kemudian saya kenal sebagai Endar dan Sis. Selanjutnya ada seorang lain juga di situ dengan penampilan khas; janggut hitam tebal yang disusupi satu dua helai yang berwarna putih saling sikut desak-desakkan seolah menolak didominasi, rambut cepak yang sisi kiri-kanannya mulai bersayap menandakan dua bulan kemarin terakhir kalinya dipangkas, kacamata tebal bertengger di sungut hidungnya yang cukup kuat memberi kesan si empuh kacamata adalah orang yang terlalu banyak menghabiskan waktunya dengan tumpukkan buku. Sedang dari segi berpakaian, tak banyak komentar saya kecuali, dia tergolong orang yang apa adanya atau yang seolah "nimau tau". Why so serious?
Akhirnya saya bertemu Amato Assagaf. Pertemuan yang mantap dan saya idam-idamkan setelah hari-hari kemarin perkenalan dan percakapan hanya berlangsung lewat BlackBerry Messenger (BBM). Ulur jabat tangan dari sayapun mengawali pertemuan malam itu bersama sebentuk kalimat perdana: "So dari tadi?"
Setelah saling bertegur-sapa sebentar, saya kembali ke kursi tempat saya berada sebelumnya. Melarutkan diri dalam cengkrama empat orang Passi yang baru bertemu setelah "perpisahan" yang cukup lama. Saya juga baru tahu kalau ternyata kawan Uwin, Mama Naya dan Papa Naya bertemu di kedai kopi ini secara kebetulan juga.
Beberapa selang berjalan, Amato dan Buyung (Wartawan kontraonline.com) tiba-tiba berdiri dari meja mereka di pojok kanan ruangan lalu berjalan melewati meja tempat kami berada. Saya bertanya hendak kemana? Rupanya pamit pulang ke tempat Buyung Indekos di Jalan Merdeka Matali, sekalian mampir di Apotik karena nyeri luka tusuk di kaki Bung Amato. Saya lantas berkata akan menyusul mereka kesana. Ucapan yang hampir bersamaan dengan Buyung yang juga meminta kami supaya menyusul segera.
@Kost Bali, Jalan Merdeka, Matali.
Saya ditemani kawan Uwin ketika merapat ke kosan. Saat tiba, kami menemukan bung Amato tengah lelap tidur. Sebuah keadaan yang sebenarnya saya sayangkan sebab semenjak di kedai tadi, saya memang ingin bercakap-cakap dengan dia setelah sekian lama belakangan ini cuma bercakap-cakap tipis di BBM.
Nyeri akibat luka tusuk di pangkal kaki Bung Amato ditambah pil pereda rasa sakit yang mungkin mengandung obat penenang, membuat ia enak melambung sehingga tak mempedulikan lagi ada suara saling membual di depan pintu kamar tempat ia tidur.
Duduk berbual-bual di lorong depan pintu kamar hingga
hampir satu jam lebih sembari menandaskan isi "wine" (istilah Buyung malam itu), membuat perut yang cuma di pasok Goroho dan Sangkara tak kuat bertahan. Alhasil lapar nasi mengerang. Pilihan selanjutnya adalah merapat ke warung nasi kuning di Kotobangon.
Saat hendak bergegas cari makan tengah malam inilah Bung Amato baru menyadari kehadiran kami setelah ia dibangunkan kawan Buyung. Kami berangkat ke TKP.
Desakan perut terpenuhi. Di kos kami duduk melantai. Penggal-penggal tanya dari kami dijawab dengan penjelasan kuat dan padat dari mulut Bung Amato. Begitupun sepenggal kisah perjalanan singkat hidupnya yang dituturkan secara pendek, lewat potongan-potongan kisah yang juga mengandung banyak guyon dan sarat pengalaman penuh bobot.
Bercakap-cakap di subuh parak pagi itu, saya sedikit banyak memahami isme-isme yang diperbincangkan Bung Amato: Marxisme, Komunisme, Kapitalisme, Libertarianisme, Liberalisme, dan isme-isme lainnya termasuk Marhaenisme yang sempat terlambung dari kawan Uwin meski agaknya payah.
Saya juga menangkap "kepayahan" kawan Uwin (dengan segala maaf ketua KPA ha..ha..ha) soal teori Nilai yang katanya di curi Kelas Majikan terhadap Kelas Pekerja/Buruh. Namun demikian tersirat juga "ketidak-habis pikiran" saya sebab tahu bagaimanapun juga Bung Amato pernah menjadi seorang Marxis (bahkan pengajar Marxisme) yang kini berbalik "menyerang" teori, ide-ide, pendapat, dan "kebenaran" di dalam Marxisme tempat ia pernah menggantungkan "iman" dan menjadi jamaah di situ termasuk kepercayaan dia terhadap teori Nilai Kerja yang luruh dan keruntuhan itu ia tandaskan secara kuat, padat, dan kritis versi Bung Amato ke kepala kawan Uwin malam itu.
Ah, berbicara isme-isme (terlebih Marxisme) di Mongondow, bagi beberapa orang mungkin tak penting dan sia-sia. Tapi tidak bagi saya selaku anak Mongondow yang suka bertanya dan mencari tahu. Ini adalah "bual-membual" yang padat. Seperempat malam saja bersama Bung Amato membuat saya nekat mengukur, alangkah dalam dan luas cakrawala berpikir orang ini (bukan maksud memuji sebab saya yakin orang macam Bung Amato bukan orang yang suka dan mempan untuk dipuji).
Akan sangat memakan banyak ruang dan tempat untuk membagi di sini soal apa saja yang kami bincangkan hingga pagi pecah tepat pukul 07:00 (saya memperhatikan jarum jam tangan di lengan kiri saya). Saya sangat menikmati percakapan kami malam itu. Satu hal yang membuatku merenung sekembalinya ke rumah setelah kami bersempat diri melahap bubur ayam pagi itu adalah; untuk orang dengan cakrawala berpikir seperti Bung Amato dan apa yang terkandung di dalam tulisan-tulisannya, saya yakin orang ini menulis―seperti tulisannya yang pernah dimuat Radar Totabuan―bukan untuk cari proyek semata sebagaimana yang pernah disangkakan.
Jumat, 05 Juli 2013
Why So Serious? Transgresi dalam Imajinasi Politik Sigidad
Saya pernah berpikir, jika ruang-ruang praktis bagi para politisi dalam menjalani proses mengada telah menyempit menjadi daftar tabel statistik dan aljabar tambah-kurang, maka penyelamatan bagi makna politik dalam hidup hanya akan menemukan Golgotanya lewat penciptaan ruang-ruang imajinasi politik. Proyek besar para perenung politik seperti ini adalah, pertama-tama, mengubah matematika politik menjadi puisi dan, selanjutnya, menggubah satu atau lebih puisi bagi politik kita hari ini.
Selama sekira lima tahun berada dan mencoba mengikuti perkembangan sosial-budaya di (provinsi) Bolaang Mongondow Raya, terutama Bolaang Mongondow Timur dan Kotamobagu, saya selalu menunggu terciptanya puisi-puisi seperti itu. Masalahnya, media di, setidaknya, dua kawasan itu tampaknya kurang tertarik memberikan ruang bagi penciptaan puisi-puisi politik sejenis. Termasuk juga bagi perenungan imajinasi politis seperti yang saya maksudkan.
Setelah kita diberondong dengan tulisan-tulisan Katamsi Ginano yang memiliki kecanggihan penulisan tingkat dewa tapi tetap saja masih tanpa puisi-puisi, kita kemudian menyaksikan munculnya banyak penulis politik muda. Lepas dari problem bahwa politik tak jarang lebih merupakan konteks bagi tulisan mereka dibandingkan sebagai tema renungan untuk ditulis, mereka tetap saja telah menulis tentang politik. Sedemikian riuhnya, hingga saya memiliki cukup banyak kesempatan untuk memamah begitu banyak tulisan dengan harapan menemukan puisi; menemukan sebuah – meski hanya sebuah saja – tulisan yang menghadapi politik kita hari ini dengan imajinasi politis.
Sejauh pembacaan saya, meski itu tidak bisa dibilang lengkap dan melulu tepat, saya tidak menemukan puisi-puisi itu. Tampaknya kebanyakan penulis politik di (provinsi) Bolmong Raya menghadapi politik sebagai dunia yang terlalu serius, terlalu hitam putih, terlalu matematis, terlalu melibatkan banyak kepentingan sejenis. Dalam tulisan mereka, lepas dari masalah mereka menulis dengan baik atau tidak, saya tidak menemukan puisi, pertanyaan, rasa ragu, kecemasan, kegugupan, dunia manusia nyata yang tidak melulu benar-salah, baik-buruk, dunia yang penuh dengan kemungkinan, kekanak-kanakan yang melegakan, permainan yang cerdas, dugaan yang mengejutkan dan pertimbangan yang tak diperhitungkan namun begitu problematis. Tulisan yang memberi ruang bagi imajinasi dalam politik.
Saya tidak menemukan (lebih tepat saya "belum" menemukan) satupun tulisan seperti itu justru di negeri yang telah melahirkan penulis esai sebesar Katamsi Ginano. Termasuk saya tidak /belum menemukannya dalam tulisan Katamsi sendiri. Saya tidak/belum menemukannya hingga saya membaca sebuah tulisan dalam blog bernama "Getah Semesta" berjudul Kesaktian Abunti di Pilwako Kamunce. Sebuah tulisan, yang jika dinilai dengan standar penulisan yang baku, jelas masih terhitung lemah dengan sekian kekurangan teknis yang tidak perlu. Tapi jika dipasangkan pada kotak pencarian saya yang sederhana akan sebuah perenungan yang membuka kemungkinan bagi imajinasi untuk membingkai setiap bagian dari "peristiwa" politik kita hari ini, maka inilah tulisan yang saya cari.
Perlu dicatat, saya tidak mengatakan bahwa tulisan yang tidak membuka ruang bahasan bagi imajinasi politik itu buruk. Sejak awal saya dengan sengaja telah mencatut nama Katamsi untuk menunjukkan hal ini. Saya ulangi, Katamsi adalah penulis yang baik. Hampir tidak ada satupun tulisannya yang buruk (meski tidak selalu harus diterima sebagai benar) tapi saya tidak/belum menemukan tulisan Katamsi yang memberi kemungkinan bagi imajinasi politik kita. Begitu juga dengan sekian tulisan lain dari penulis lain yang juga baik dan, bahkan, benar. Artinya, saya tidak sedang berpretensi menjadi hakim atau juri bagi begitu banyak tulisan tentang politik kita hari ini di (provinsi) Bolmong Raya.
Saya hanya sedang mencari, secara teoritis, sebuah tulisan yang memberi kesempatan bagi transgresi (the process of overstepping the limit). Saya hanya sedang mencoba menemukan "penyimpangan" dari sifat kaku matematika politik kita hari ini. Sebuah pembalikan (inversion) yang memungkinkan penyingkapan (disclosure). Sebentuk model penulisan yang, dalam catatan sejarah Michel Foucault, ditemukan dalam tulisan-tulisan Sade, Holderlin, Flaubert dan Nietzsche. Yang dalam catatan pencarian saya, dimunculkan secara gagap lewat tulisan Sigidad tersebut di atas.
Saya tidak akan bicara lagi soal kenapa kita membutuhkan imajinasi dalam politik dan kenapa kita membutuhkan itu dalam tulisan atawa dalam cara kita menyusun pikiran. Secara sederhana, saya telah menuliskan itu dalam beberapa tulisan saya di rubrik opini kontraonline.com, terutama dalam tulisan Imajinasi: Puisi bagi Politik Kita Hari Ini. Tapi saya ingin menambahkan di sini bahwa imajinasi politik, setidaknya dalam sebuah tulisan, mampu menjadi kritik yang memutar-balik realitas politik praktis dan mengungkap apa yang ada di halaman belakang "peristiwa" politik bersangkutan.
Saya menuliskan peristiwa dalam tanda kutip untuk menunjukkan posisi peristiwa sebagaimana hal itu dipahami oleh filsuf Alain Badiou. Politik dalam "peristiwa" Badiou bisa menjadi yang-politik dalam pemahaman kita mengenai urusan publik. Di sini, manusia (para politisi) tidak pernah menjadi satu-satunya faktor. Dan di sini pula, dalam model "peristiwa" ini kita menemukan politik sebagai "cara membuat mungkin apa yang hanya nyata" dan, sebaliknya, "membuat nyata apa yang hanya mungkin."
Kembali ke Sigidad, apa yang membuat cerpen post-cerpen tentang Komkomci, Kamunce, dan Abunti yang ditulisnya sebagai esai itu telah membuka kemungkinan bagi transgresi dan pembalikan yang memungkinkan penyingkapan? Pertama, sadar atau tidak, dia terlebih dahulu telah melakukan inversi (pembalikan) atas kenyataan menjadi kemungkinan. Kita tidak perlu percaya bahwa ada daerah Komkomci, pilwako di Kamunce dan dukun bernama Abunti. Kita bahkan tidak membutuhkan rasionalitas Cartesian sederhana untuk menemukan eksistensi cerita itu sendiri. Tapi kita, lewat tuturan Sigidad dalam tulisan itu, telah dijebak ke dalam sebentuk kecurigaan bahwa mungkin ada konteks nyata bagi dongeng yang telah dia tuliskan itu.
Kedua, tulisan yang dituturkan dengan cara berbahasa yang masih kurang canggih itu justru secara canggih telah membuat pembedaan yang signifikan antara politik sebagai peristiwa kalkulatif dengan politik sebagai peristiwa imajinatif. Dengan cara itu, Sigidad telah mendorong tulisannya melewati batas kenyataan dan menjadi sebuah upaya transgresi. Tidak ada satupun manusia di muka bumi Bolaang Mongondow ini yang akan mengelak dari kenyataan bahwa politik selalu bersifat kalkulatif dan, demi Tuhan yang selalu mungkin, tidak ada satupun dari mereka yang akan mengabaikan hitungan dalam politik. Tapi Sigidad, sengaja atau tidak, telah melewati batas hitung menghitung politik dan menawarkan sebuah dunia yang berbeda yang, sayangnya, selalu mungkin bagi laku politik kita hari ini; sebuah imajinasi.
Ketiga, manakala kita selalu berbicara tentang apa yang dilakukan para politisi, tim sukses mereka, kampanye-kampanye (pidato, poster, pamflet, stiker dan kaos) sebagai realitas berlanjut, Sigidad membicarakan sebagai sebuah diskontinyuitas. Dia hanya mengungkapkan satu contoh saja, yang dituturkannya sebagai sebuah cerita pendek, dengan plot sederhana dan tema yang terhitung kecil (tidak ada elaborasi dalam tulisan itu) tapi dengan cara yang begitu membebaskan bagi menyebarnya tafsiran dan upaya untuk membuka kemungkinan. Tentu ada cara penafsiran yang berbeda-beda bagi setiap pembaca. Namun setiap penafsiran yang mungkin bisa mengusir kenyataan dari apa yang dituliskan Sigidad dan menggantinya dengan apa yang hanya merupakan kemungkinan semata.
Artinya, Sigidad tidak berupaya untuk tampak logis. Dia bahkan tidak melakukan strukturasi atas rasionalitas tulisannya dan, tentu saja, cara berpikirnya. Tidak melakukan analisa namun juga tidak berupaya menemukan sintesa. Dia hanya menuturkan "fakta" dengan cara yang begitu telanjang untuk membalikkannya. Dia mengungkapkan "fakta" dengan cara menyingkirkan "kenyataan" dari fakta tersebut. Sebuah kekurangajaran yang cukup cerdas untuk mengkritik pemahaman kita mengenai batas faktual dari sebuah peristiwa nyata. Sebuah cara yang mestinya hanya ada dalam cara berpikir Sigi bukan pikiran bapaknya.
Keempat, saya terkejut nyaris dengan keterkejutan yang sama jika saya membaca catatan pinggir Gunawan Mohammad, saat membaca paragraf terakhir dalam tulisan Sigidad tersebut. Secara lengkap saya kutipkan di sini, "Di kejauhan, seseorang tegak berdiri di bawah pohon Kandasuli dengan tatapan kosong. Sepertinya sarat beban. Entah siapa orang ini. Bibirnya yang kering sekonyong-konyong merekah dan terbata hendak mengucapkan sesuatu. Sepertinya; "Adakah tumbal dari semua ini … ""
Orang itu, yang sebelumnya tidak pernah muncul dalam seluruh bangun tulisan tersebut, tiba-tiba hadir untuk mewakili pikiran terakhir penulis, kesimpulan non-tautologis, yang hendak disampaikannya. Dan orang itu, yang jelas tidak penting siapa (…Entah siapa orang ini) telah mengungkapkan dengan cara yang mulai penting bagaimana (tatapan kosong, sarat beban, bibir kering, dan terbata) dan jelas penting kenapa karena dia hanya "hendak" mengungkapkan sesuatu. Dia mungkin tidak pernah mengungkapkan itu atau dia telah mengungkapkannya dengan cara yang sebegitu samar: …Adakah tumbal dari semua ini? Lalu kenapa penulis tahu apa yang diungkapkan orang itu? Dan menuliskannya sebagai pertanyaan yang begitu meyakinkan?
Sigidad, sadar atau tidak, telah mempermainkan kita dan, sekaligus juga, mempermainkan seluruh pengetahuan dan pemahaman kita akan peristiwa politik menjadi sebuah "peristiwa" dari yang-politik. Sigidad, mungkin sadar, bahwa dia sedang melemparkan kritik tapi mungkin tidak cukup sadar bahwa dia sedang melakukan transgresi; mengajak kita melakukan revolusi dalam cara kita memaknai setiap peristiwa politik agar menjadi "peristiwa" dari yang-politik. Jika dibandingkan dengan penulis yang ditemukan Foucault, maka apa yang dilakukan Sigidad bisa dibandingkan dengan apa yang dilakukan Marquis de Sade yang menuliskan transgresi; mengajak kita memahami peristiwa seks sebagai "peristiwa" dari yang-seksual.
Terakhir, kenapa saya selalu menggunakan kata "sadar atau tidak" seakan saya meragukan niat yang mungkin telah ada dalam benak Sigidad ketika menekan (bukan menindis) keyboard Blackberry atau komputernya? Jawabannya sederhana, saya tidak pernah menutup kemungkinan bahwa Sigidad dalam tulisan ini tidak akan pernah muncul lagi dalam tulisan-tulisannya yang lain. Sigidad mungkin akan mulai berpikir dengan cara yang sama yang dilakukan kebanyakan kawan-kawannya; melihat peristiwa politik sebagai peristiwa matematis dan mulai menghitung-hitung kenyataan sesuai tabel statistik seolah hendak menjadi pengamat politik tingkat daerah. Membutakan mata kanak-kanaknya untuk melakukan transgresi dan menemukan imajinasi dalam yang-politik. Membunuh Sigi dalam dirinya agar menjadi orang dewasa yang menjemukan itu.
Dengan selalu menuliskan "sadar atau tidak" saya sedang berupaya untuk menunjukkan bahwa tulisan saya tentang tulisan Sigidad tersebut tidak lebih dari sebuah cara penafsiran dalam berbagai model penafsiran lain yang keabsahannya hanya bisa ditemukan atau dalam kerangka pikiran saya sendiri atau dalam tulisan Sigidad tersebut. Saya hanya sedang menuliskan satu tulisan Sigidad dan bukan seluruh tulisannya karena mungkin setelah tulisan ini, saya tidak akan pernah lagi menemukan transgresi dalam tulisan Sigidad dan imajinasi dalam cara dia merenungkan politik.
Namun saya sedikit terhibur dengan penemuan saya atas dua tulisan lain Sigidad yang berjudul "Ronin Ababil" Pembunuh Ayu dan, terutama, puisi Cinderella di Pelabuhan dalam blog yang sama. Saya menangkap kembali cercah-cercah transgresi itu; kemampuan untuk mengajukan imajinasi sebagai alternatif bagi keseriusan perhitungan kita yang, dalam beberapa tulisan kawan-kawan, telah menjadi semenjemukan sikap Ismail Dahab saat sedang berkonsentrasi memenangkan calon yang dia dukung atau semenjemukan sikap Nayodo Kurniawan saat mengamankan pilwako dalam kapasitasnya sebagai ketua KPU Kotamobagu.
"Why so serious?" kata Joker dalam salah satu adegan film The Dark Knight.
Oleh: Amato Assagaf
Dimuat di www.kontraonline.com
http://m.kontraonline.com/13009/why-so-serious-transgresi-dalam-imajinasi-politik-sigidad/
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Senin, 01 Juli 2013
“Ronin Ababil” Pembunuh Ayu
Sempat kemarin subur spekulasi pun demikian segala duga dan sangka yang menggosipkan bahwa kasus pembunuhan Ayu erat kaitannya dengan kasus pemukulan yang menimpanya.
Namun, toh akhirnya, segala duga dan sangka yang telah menjadi gosip publik itu, dalam sekejap mentah begitu saja, ketika kedua pelaku sebenarnya tertangkap.
Seantero Mongondow akhirnya tahu, dari hasil kerja pihak kepolisian telah ditetapkan dua tersangka pembunuhan yang usianya masih belasan tahun, yakni RZ (18) dan AA (17).
Saya mengistilahkan kedua pelaku pembunuhan―juga perampok―ini dengan sebutan "Ronin Ababil". Di Jepang, sebutan Ronin tak lagi hanya sekadar mengisahkan para Samurai yang kehilangan tuan/majikannya sehingga mereka hidup dalam pengembaraan, kegalauan, dan perampokan demi kehidupan. Sebutan Ronin di Jepang saat ini juga mengambarkan suatu keadaan dimana lulusan sekolah menengah umum yang gagal lulus tes masuk sekolah lain yang lebih tinggi. Yah, kita tahu kedua pelaku ini baru saja lulus sekolah menengah umum. Sedangkan Ababil adalah istilah yang populer dikalangan remaja kita yang berarti; Anak Baru Gede Labil.
Nah, kedua pelaku pembunuhan ini saya sebut sebagai Ronin Ababil yang menjadi "musuh" pengeksekusi Ayu. Motif (sementara) adalah perampokan yang berujung pada pembunuhan. Sial pula bagi gadis ababil berinisial KM (19) yang turut dijadikan tersangka lantaran ia menyimpan barang bukti hasil jarahan.
Saya tak habis pikir, kawan-kawan yang sempat saling bertukar cerita juga tak menyangka dua ababil ini bisa menghabisi korban dengan keji.
Ah, musuh Ayu ternyata tak lebih dari para pengutil nekat. Entah kenekatan ini juga dipicu hasrat "mo ba pumpun" karena tak lama laginya Lebaran, cuma mereka dan Tuhan yang tahu. Sukur-sukur jika penyidik diberitahu.
***
Bukan hendak mengaitkan kasus ini dengan Pilwako KK, namun dari kejadian ini (terbunuhnya Ayu) tak dapat kita bantah cukup mempengaruhi kontestan Pilwako yakni Muhamad Salim Lanjar - Ishak Sugeha (pasangan Laris-Manis), dimana Eyang (Bupati Boltim) selain sebagai Adik kandung kontestan (MSL) juga berdiri sebagai Juru Kampanye dan tim pemenangan. Sayangnya ketika Ayu terbunuh, meruyak spekulasi, gosip, duga dan sangka publik yang dialamatkan padanya. (Siapa saja aktor dibalik gosip ini punya hutang maaf pada Eyang).
Sekarang yang menjadi penting di sini, pembunuh Ayu Basalamah telah terkuak (semoga arwahmu menjadi tenang di alam barzakhi).
Ini sebuah kasus yang oleh Kapolres (mengutip di media)menjadi pertaruhan harga diri. Salut memang buat jajaran Polres Bolmong yang mampu membekuk para tersangka hanya dalam waktu 11 hari.
Sekedar catatan, masih ada harga diri lain yang wajib dipertaruhkan. Di Mongondow, masih ada sederet kasus menunggu harga diri itu menang. Bukan berada ditumpukan berkas dengan kode; "case is closed".
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Rabu, 26 Juni 2013
Kesaktian Abunti di Pilwako Kamunce
Persaingan antarkandidat yang ketat, membuat Tim Sukses masing-masing kandidat harus memutar otak beradu strategi dan tak-tik. Beragam siasat ditempuh. Dari yang menggunakan akal sehat, hingga yang berbau mistik.
Ya, kota Kamunce sedang menjadi "gila" dengan momen ini. Tak-tik, siasat, strategi, dan cara apa pun bakal ditempuh asalkan kandidat yang mereka dukung menang.
***
Kondo yang semasa kuliah dikenal rajin ditambah punya hobi baca buku terutama yang, bertema politik dianggap cukup menjadi bagian dari tim pemenangan. Lantaran Kondo sendiri memang telah memiliki pengalaman menjadi Tim Sukses yang berhasil mengantarkan kandidat yang didukung ke kursi kekuasaan. Kredibilitasnya dalam urusan pemilihan pemimpin kepala daerah semacam bupati dan wali kota sudah teruji. Memang bukan berarti di kota Kamunce tak ada pawang politik. Bahkan dengan level lebih di atas Kondo banyak. Namun satu yang membedakan Kondo dengan pawang politik yang dimiliki kota Kamunce adalah, Kondo mempercayai hal-hal gaib atau yang berbau klenik alias perdukunan. Sedangkan pawang politik lain tidak mempercayai hal-hal yang demikian.
Selidik punya selidik Kondo ternyata memiliki pertemanan dengan seorang dukun sekaligus tukang ramal yang, tiba-tiba saja namanya cukup tersohor di khalayak yang mempercayai praktik perdukunan. Tempat sang dukun tinggal ini tak begitu jauh dari kota Kamunce. Ketatnya persaingan antarkandidat membuat Kondo mengusulkan kepada pasangan kandidat yang didukungnya, untuk pergi mengunjungi rumah sang dukun agar diramal sekalian minta petunjuk, petuah dan sebagainya yang pendek kata demi tujuan kemenangan.
Gayung bersambut. Kandidat mengiyakan. Jelang sebulan waktu pencoblosan mereka berangkat ke suatu wilayah di Komkomci bernama Kumpa, tempat sang dukun tinggal.
Perjalanan ditempuh cukup satu jam mengendarai kereta kuda. Sesampainya mereka di sana, Kondo terlebih dahulu masuk ke kediaman sang dukun―yang ternyata diklaim juga sebagai gurunya―dengan berlagak begitu segan dan sopan. Sang dukun yang ditemui ini bernama Abunti.
Rombongan kandidat dipersilakan masuk. Setelah perkenalan, sudah bisa ditebak apa saja yang akan terjadi selanjutnya; kemenyan dibakar, bibir komat-kamit, nama dituliskan di atas secarik kertas, lalu dukun bernama Abunti ini mulai menerawang. Apa hasilnya? Abunti meminta kepada Kulutuk (kandidat wali kota) sepulangnya dari kunjungan ini―setelah memberi mahar tentunya―agar melakukan semua yang disyaratkan. Salah satunya adalah menempelkan nama sang dukun (Abunti), ke kereta kuda yang dipakai setiap Tim Sukses dari Kulutuk di bagian depan. Nama (Abunti) ini terlebih dahulu dicetak di sebuah media lalu ditempelkan di bagian depan kereta. Syarat ini harus dipenuhi. Jaminannya adalah kemenangan. Tak ayal, Kulutuk yang meskipun sebelumnya tak mempercayai praktik-praktik perdukunan karena agama yang dianutnya melarang, akhirnya mematuhi semua apa yang disyaratkan sang dukun bernama Abunti. Semua demi kemenangan.
***
Seminggu menjelang hari pemilihan, Kulutuk yang tentunya ditemani Kondo dan beberapa sahabat Tim Sukses kembali mengunjungi rumah Abunti. Kebetulan hari itu Jumat. Seperti biasa, Kulutuk menerima wejangan dari Abunti dan ramalan-ramalannya. Ada satu yang menarik dari dukun ini, yang mana tangan kirinya senantiasa memegang sebuah alat penghitung semacam swipoa. Entah apa yang ia hitung. Namun bisik-bisik mengatakan kalau jumlah huruf dari kandidat, tanggal lahir dan tahun beserta bilangan-bilangan lain termasuk jumlah hari dan sebagainya, senantiasa dikomparasikan sang dukun untuk kepentingan penerawangan. Sepintas orang akan mengira kalau dukun ini ahli juga dalam ilmu hitung menghitung.
***
Di kejauhan, seseorang tegak berdiri di bawah pohon Kandasuli dengan tatapan kosong. Sepertinya sarat beban. Entah siapa orang ini. Bibirnya yang kering sekonyong-konyong merekah dan terbata hendak mengucapkan sesuatu. Sepertinya, "Adakah tumbal dari semua ini...?"
Kamis, 23 Mei 2013
Selamat Tinggal Bali
Selama di sini, lumayan dapat tambahan list teman, jalan-jalan bersama, melancong sana-sini di terik matahari, dan melancung di suasana malam "Bali After Dark".
Sesekali ada beberapa teman dari Kotamobagu yang sempat bertandang ke sini. Bahkan kemarin teman sekampung yang juga sekadar berlibur kemari. Mencundangi rutinitas monoton mereka, lalu terbang menuju sorga dunia. Menghamburkan penat di udara dari ketinggian pesawat, mendarat di pulau ini dengan senyuman segar.
Sekali kau menginjakkan kaki di bandara Ngurah Ray, maka aroma dupa yang kau hidu adalah aroma yang dipenuhi mantra dan kau akan terus merasa untuk kembali lagi ke sini. Itu baru aroma dupanya, setelah kau menyaksikan panorama alamnya. Entah mungkin yang ada dalam benakmu hanya... ingin punya sebidang tanah dan rumah di atas sorga ini. Beranak-pinak dan selamanya memupus usia di sini.
Balinesia, ini negeri sorga. Jika sorga yang kelak dijanjikan untuk kita adalah serupa ini saja. Aku sudah cukup puas. Ini sepertinya negeri Tuhan. Melihat mereka, penduduk di sini dengan kearifan lokalnya yang terus terjaga. Pusaran doa yang tak pernah berhenti bergumam dari bibir-bibir mereka. Keseragaman warna pakaian sembahyang mereka dengan udeng terbungkus melingkar di kepala, tak ketinggalan sekuntum bunga kamboja terjepit di daun telinga. Jalanan yang selalu dipenuhi sesajen, dan rumah-rumah dengan bale tempat mereka bertukar cerita sehari-hari. Pemandangan seperti ini hampir setiap hari menggantung di pelupuk matamu. Mereka adalah pemuja dan penyembah Tuhan yang paling taat dan teratur. Aku pikir, Hindu adalah agama yang paling mempunyai estetika budaya.
Meski kota-kota lainnya di sini sudah tak purba lagi, seperti dalam catatan-catatanku kemarin. Tapi itu tak meninggalkan kesan akan budayanya yang begitu kental. Modernitas di sini selalu diimbangi dengan tetap menjaga kelestarian budayanya. Bali akan tetap purba meski jaman menggerusnya dengan lancang.
Aku berharap, bisa pulang dengan sebuah senyuman pula, seperti sewaktu pertama kali tiba di sini. Kisah-kisah yang terserak, dari mulai yang nakal, binal, dan jenaka. Ah, Bali.
Tak banyak yang ingin kubagi malam ini. Pulang, adalah kata yang selalu bisa menggerus sebuah petualangan. Rumah adalah sorga yang tak akan pernah bisa tergantikan. Dan kembali---pulang---ke rumah, menyongsong bulan suci Ramadhan bersama-sama dengan kedua orang tua kita, adalah rasa yang tak akan pernah tertebus oleh apapun itu.
Selamat tinggal Bali. Kembali lagi jika sebidang tanah sorgamu bisa kubeli.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Jumat, 17 Mei 2013
Hari Spesial
Setelah sebelumnya diprediksi akan terlahir normal mungkin tepat pada gerhana matahari cincin kemarin. Atau juga tepat pada pemilihan Gubernur Bali yang baru, tanggal 15 Mei kemarin biar momennya lebih terasa spesial. Akhirnya tanggal 16 Mei tepat pukul 15:30, bayi ini lahir dengan operasi caesar. Tak ada pilihan lain karena itu jalan yang terbaik. Tapi, untuk memprediksi bahwa kelahiran bayi ini jatuh pada momen gerhana atau pun pemilihan Gubernur, bagiku tak tepat. Karena sebenarnya kapanpun waktunya, harinya, bulannya, atau tahun kelahirannya, itu yang menjadi hal yang begitu spesial bagi kedua orang tua sang bayi. Detik itu tak akan pernah terbayarkan oleh kehadiran purnama, gerhana, bahkan oleh riang keramaian jutaan para pendukung kandidat Gubernur. Spesial selalu subjektif.
Sebuah proses kelahiran yang akhirnya dengan sehat walafiat kedua ibu dan bayi ini sekarang bisa menghirup oksigen gratis lagi dari Yang Maha Esa. Oksigen yang selama ini tak pernah kita sadari bahwa begitu besar nilai kasih Tuhan yang terkandung di antara udara yang melebur besama kehidupan kita. Dan setelah 9 bulan lebih dikandung, bayi ini akhirnya bisa menghidu aroma dunia. Datang ke kefanaan dengan telanjang dan tanpa berdosa. Hadir dengan kekosongan semacam lembaran kertas putih tanpa setitikpun noda. Satu keajaiban yang dianugerahi Tuhan kepada kita manusia. Keajaiban yang tiada tara.
Bayi mungil, coba kalau bisa kau lihat malam ini bulan di langit melengkung membentuk senyuman. Menyabit langit dan menyambutmu dengan keindahan malamnya. Meski bintang tak bertaburan pada malam ini. Bintang-bintang itu hanya menunggu untuk kau temukan nanti. Menunggu kau menggeledah langit, kemudian menemukan bintangmu. Jangan takut dengan dunia ini, karena miliyaran manusia telah membuktikan mampu berpijak di atas bumi ini. Kamu akan menjadi ksatria kelak.
Kemarin itu, aku menyaksikan pelukan-pelukan yang penuh arti. Melihat buliran air mata yang jatuh oleh kebahagian. Air mata oleh tantenya, oleh nenek, ayah dan ibundanya. Aku menyaksikannya dengan mata buram, karena mataku pun penuh tertutup air mata. Tak ada kalimat yang terlisan selain puji dan syukur kepada Yang Maha Kuasa.
Selamat datang keponakan baruku. Pamanmu ini yang mungkin tak akan sempat melihatmu tumbuh besar dan bermain dengan riang, meninggalkan satu hadiah mainan berupa miniatur motor kecil Ayahmu, untukmu.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Senin, 13 Mei 2013
Pondok Patah Hati
Tiga bulan sebelum ia merangsek beranjak dari ranjang itu. Ia terbaring karena musibah yang entah kenapa tak henti-hentinya menggerogoti jasadnya dan karena kesialannya itu, julukan si Donal Bebek dilekatkan kakak perempuannya sejak mereka mempunyai hobby yang sama membaca komik-komik Paman Gober. Hampir semua koleksi komik Paman Gober milik kakak perempuannya dilahap dengan ketawa. Jelas saja, si Komikus pencipta bebek-bebek lucu itu berhasil menyusupkan rentetan cerita-cerita yang hingga sekarang masih tersimpan di memori jangka panjang mereka.
Lanjut... ke perjalanannya yang diawali dengan menunggangi beratus-ratus potongan besi yang membentuk seekor burung dan terbang mengalahkan teori gravitasi bumi. Seperti berat hanyalah sesuatu yang bisa dimodifikasi hingga bisa saling bersedekap dengan udara. Di atas sana, pemandangan yang ia lihat dari ketinggian sungguh indah. Awan-awan perak yang berarak-arak di hamparan benteng biru lazuardi langit. Pun samudera tenang serupa ubin biru mengkilat yang siap menanti jika saja potongan-potongan besi ini dilepaskan seketika oleh udara dari dekapannya. Jatuh lalu diketawai Newton. Terbang tanpa sayap kita sendiri itu... seperti baru saja menyetorkan nyawa kita dengan bayaran sejuta pula.
Sejam lebih saja, daratan tanah Daeng sudah terlihat datar di bawah sana, tampak seperti kita membuka google map di ponsel. Berpetak-petak, terkotak-kotak, semrawut, dan diiris meliuk-liuk oleh jalanan dan belataran sungai-sungai yang seperti irisan pisau seorang anak kecil di atas kue tart, anak kecil yang baru saja belajar memegangi pisau.
Burung besi ini pun mendarat empuk di atasnya. Sempurna.
Panas meruap seketika, ini kota yang bermatahari lebih dari satu, pikirnya. Jemputan dari saudaranya datang juga, seperti biasanya jika seseorang baru saja menyambangi sebuah kota baru. Kepalanya pasti menempel di kaca mobil dengan pandangan menyapu habis jalanan yang dilewati.
Tak selang berapa lama, tiba juga ia di satu areal perumahan. Hanya dua hari ia di sana, kemudian pamit dan berterima kasih atas kebaikan hati saudaranya yang berkenan menjemputnya di bandara, dan mau menampungnya selama dua hari.
Lalu ia segera mengabari teman-temannya, mereka yang menjadi tujuannya ke kota Daeng ini.
Jemputan kedua berlangsung di anjungan pantai Losari. Rama nama si penjemput itu. Baru kali ini ia bertemu dengan Rama, setelah sebelumnya mereka berdua sering komunikasi di BBM.
Dua jam, setelah mereka mampir dulu di Asrama Bogani, sebuah asrama yang dikhususkan untuk para pelajar dari Bolaang-Mongondow. Akhirnya mereka berdua sampai juga di kos-kosan anak-anak Kotamobagu. Kosan ini diberi nama PPH, akronim dari Pondok Patah Hati. Dari namanya bisa kita tebak, ada yang sedang patah hati lantas dengan segera melekatkan nama itu di kosan ini. Mungkin saja si pemberi nama sedang patah hati karena masalah-masalah kompleks dari sekumpulan mahasiswa yang hidup jauh dari rumah dan kampung halaman. Masalah belum dapat kiriman uang, masalah perkuliahan, atau mungkin masalah percintaan. Entahlah, tapi PPH adalah destinasinya, dan sekarang ia sudah berada di sana.
Hanya ada beberapa anak-anak kos di sini yang ia kenal dan sudah sering ketemu di Kotamobagu. Ada Galing, Ipay, Rizqi, Abol, dan Aan. Yang lainnya sudah berteman di BBM tapi baru sekarang berkesempatan bersua secara langsung. Si Sandry, Rian, Eky, Wawan, dan Oi. Ada juga Dito yang meluangkan waktunya dari Jakarta untuk bisa ke sini, juga Ipan yang karena terdorong fanatisme berlebihnya atas aliran musik yang diusung sebuah band ibukota bernama Noah yang dimotori Ariel dkk. Ia sempat diajak Ipan untuk menonton konser band Noah ini, menyaksikan euforia berlebihnya si Ipan ketika screaming melihat band pujaannya itu konser adalah pemandangan yang paling absurd di muka bumi (ini fitnah yang menyehatkan, ketawa).
Mereka ramah, humoris, interaktif, dan begitu cepat berbaur. Sehari dua hari saja, mereka sudah seperti kawan lama. Meski ada beberapa dari mereka yang masih butuh waktu untuk bisa saling mengenal lebih jauh. Mereka-mereka yang kosannya berbeda, tapi seringkali meluangkan waktu untuk berkumpul di PPH. Ada Andry yang diberi julukan Cecunguk karena seringkali kalah cepat menghitung jika sedang bermain 24 (permainan kartu dengan menjumlahkan secara cepat angka-angka di kartu hingga berjumlah 24), yang ini bukan fitnah. Juga ada Oky, Afra, Tessar, Regi, Tri, Iwan, dan Tiing.
Yang perempuan-perempuannya hanya Viny dan Puput yang sempat akrab dengannya, yang lainnya terlalu jarang mampir ke PPH. Hanya sesekali menongkrong sama-sama di Asrama Bogani, Mall, atau Pantai Losari. Indah, Ika, Ea, Rizi, Iga, dan Tirsa, tak terlalu akrab tapi jika sebuah senyum terlempar sudah dari paras-paras cantik mereka, itu sudah lebih dari cukup. Dan jika kita sedang berada di luar kota, bertemu dengan orang yang sedaerah, dengan sendirinya tali persaudaraan itu akan terjalin. Dan saling tegur sapa.
Soal pertanyaan yang membawanya ke sini. Jawaban dari sebuah pertanyaan yang ia cari itu hanya butuh waktu. Pertanyaan mengenai, siapa kita?
Dan di sini, ia mulai mempelajari awal mula kenapa pertanyaan itu ada. Filsafat bisa menjawabnya, atau mungkin sekadar membantu kita untuk bisa memahami. Kajian filsafat pun di mulai. Hanya butuh waktu 2 bulan untuk ia belajar di sini, karena itu dasar-dasar pengenalan filsafat saja yang ia pelajari, dilanjutkan dengan kajian tauhid, membaca buku, pula berdiskusi. Interval waktu yang sempit, juga diselang-selingi padat kesibukan mereka sebagai pelajar sekaligus pengajar, tapi toh akhirnya kajian itu tuntas juga. Dan menumbuhkan tunas-tunas pertanyaan baru lagi setelah itu. Tapi setidaknya, untuk sebuah jawaban atas pertanyaan, secawan gelas terisi air sudah, diteguk dan kembali kosongkan gelas untuk disiapkan menampung air lagi. Pertanyaan-pertanyaan di benak kita tak terhingga banyaknya. Terlalu banyak.
Seiring waktu yang begitu singkat ini, tiba saatnya untuk sebuah perpisahan lagi. Di suatu subuh yang senyap, ditemani Wawan yang bersedia mengantarnya ke bandara. Ia meninggalkan PPH dengan sedikit lega. Ada yang terjawab sudah di sini. Meski tak banyak tapi cukup membekalinya untuk melanjutkan perjalanan yang masih begitu panjang. Sebenarnya ia tak berpikiran untuk mencari kebenaran. Tapi ia sedang membenarkan cara berpikirnya.
Setelah bersalaman dan pamitan dengan Wawan, ia menitipkan salamnya juga buat teman-teman lainnya yang masih terlelap dibuai sepoi-sepoi belaian kipas angin. Makassar mataharinya memang lebih dari satu.
Pesawat mengudara, tapi bukan kembali, tapi ke Bali. Menjenguk pulau yang katanya sorga. Di negeri ini, adakah sorga itu? Batinnya...
Dengan wajah menempel di tebalnya jendela kaca pesawat, sebuah senyum terukir sudah di wajahnya.
Pertanyaan itu, siapa kita?
Kita makhluk berpikir, karena itu kita bertanya... Siapa kita?
Di Pondok Patah Hati, ia datang dan pergi tanpa sedikit pun patah hati.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
