Minggu, 03 April 2016
Gladys di Kota(razia)mobagu (4)
... Dan di mana begitu eratnya rasa kebersamaan. (Baca sebelumnya: Bagian 3)
Sambil melahap makanan, keduanya kembali terlibat pembicaraan. Masih dengan tema yang Satu jam saja waktu yang ditempuh. Desa Mopuya Selatan menyambut dengan hijau persawahan. Hari ini cukup cerah. Langit yang membiru seperti ditopang puncak bangunan gereja, masjid, dan pura yang saling bergandengan.
Di desa Gladys yang mayoritas terdiri dari diaspora suku Jawa, bercampur dengan Bali, Gorontalo, Minahasa, dan Mongondow, tempat peribadatannya memang sengaja dibangun berdekatan. Simbol toleransi yang erat. Desa ini bahkan menjadi objek pariwisata ketika perayaan hari-hari besar keagamaan. Masyarakatnya yang heterogen saling berjibaku. Pemuda-pemudi digiatkan dan ditanamkan sikap saling menghargai sejak kanak-kanak. Meski desa ini dikepung oleh wilayah yang cukup rentan konflik antar desa. Tapi sejauh ini, masyarakat Desa Mopuya Selatan tidak pernah tertular sikap bigot-bigot kerdil yang kerap membikin onar itu.
Konflik yang acap kali terjadi di Dumoga, penyebabnya bisa dari kuping, mulut, dan perut. Telinga yang terlampau sensitif, saling adu mulut, lalu akhirnya otot atau samurai diadu. Untuk urusan perut, yang sering menyulut masalah yakni persoalan tambang tradisional. Anak-cucu didongengi dengan kisah-kisah heroik para pendekar tambang. Sejak kecil, mereka diajari mengidolakan pendekar dari asal desa mereka, lalu membenci pendekar dari desa lain. Bahkan diajari membenci seluruh penghuni desa yang menjadi seteru.
"Kita bisa sedikit tenang di sini. Setidaknya di sini tidak ada tim Gagak, Tuturuga, atau Pokpok," ujar Gladys yang disusul tawa.
"Tenang? Ya, karena kita beruntung terlahir di desa ini," kata Lina.
"Iya juga sih. Aku juga heran dengan desa-desa lain di Kecamatan Dumoga yang suka tawuran."
"Eh! Kenapa Ririn tidak kita ajak?" Lina memotong, sebelum mereka larut dengan pembicaraan soal konflik di Dumoga yang sudah seperti arisan.
"Di depan, pak!" Gladys tiba-tiba menyeru sopir, sebab mikrolet yang mereka tumpangi sudah tepat berada di depan rumahnya.
"Lin, turun di rumah saja," ajak Gladys.
Usai membayar ongkos, Gladys menanggapi pertanyaan Lina tadi. "Iya, harusnya kita ajak Ririn."
Gladys merogoh ponsel di sakunya. Lalu menelepon Ririn. Tidak aktif. "Mungkin dia masih tidur."
Belum masuk pekarangan rumah, ibunya Gladys sudah di beranda. Segaris senyum terlihat di wajahnya, yang hampir seperti telur rebus dibelah dua dengan putri satu-satunya itu.
"Kenapa tidak bilang-bilang?" tanya ibunya.
"Mau kasih kejutan," kata Gladys.
"Sudah makan? Ibu masak ikan teri sama sayur kangkung."
"Masakan ibu bikin air liur merembes." Segera Gladys dan Lina menyerbu dapur.
"Kalian makan dulu, ibu mau ke rumah pak Wayan. Mau antarin teh. Seminggu lagi Nyepi. Sedang ramai-ramainya warga membantu membuat Ogoh-ogoh."
"Nanti kami menyusul."
Tradisi Ogoh-ogoh memang menjadi alasan lain Gladys untuk pulang ke kampung halaman. Sehari menjelang Nyepi, umat Hindu akan mengarak patung-patung dalam wujud berbagai macam raksasa. Yang menarik, Ogoh-ogoh pun kerap dijadikan bentuk kritikan kepada pemerintah. Misalnya dalam bentuk pejabat-pejabat yang korup. Usai Ogoh-ogoh diarak keliling, biasanya replika raksasa-raksasa atau patung pejabat-pejabat korup itu dibakar.
sama. Kotamobagu yang tengah diteror razia.
"Aku cenderung lebih suka Kotamobagu, ketika di zaman SMA dulu," kata Lina.
Dia dan Gladys memang seiring sejalan sejak masih SMA. Mereka memilih bersekolah di Kotamobagu kala itu, meski di daerah mereka sudah ada SMA.
"Tapi kita juga tidak harus membandingkan kondisi desa kita dengan kota. Jelas bedalah," kata Lina.
"Iya juga sih. Tapi setidaknya, kota yang lebih modern seharusnya pemikirannya juga lebih terbuka."
Sekali lagi Lina mengangguk pelan. Mulutnya tampak sibuk menguyah. Pipinya yang tembem tambah menggembung.
***
Aku baru saja terbangun. Kali ini, menjadi hari yang begitu berat bagiku. Pesan singkat yang masuk dari redaktur www.koyow.com, membikin aku bergegas ke kamar mandi. Hanya sejurus kemudian, usai merapikan rambutku yang berombak dengan jemari, aku segera menemui Umar di kedai kopi. Dia redakturku.
Media online kami yang idenya berawal dari perbincangan di kedai kopi, bersama tiga temanku, memang belum memiliki kantor. Kedai-kedai kopi jadi tempat persinggahan kami untuk membuat berita. Aku menemui Umar di kedai kopi yang biasa kami tongkrongi.
"Benar kabar itu?" aku setengah berbisik. Kedai kopi telah penuh dengan pengunjung.
"Buat apa aku berbohong?" jawab Umar dengan tampang serius.
"Terus?"
"Ya... Kita tetap harus memberitakan itu."
"Tapi itu pamannya Indra. Aku tidak enak saja."
Umar segera membereskan laptop dan beberapa buku di atas meja. Setelah semuanya masuk ke dalam ransel, dia mengajakku ke rumah Deni.
"Kita lebih aman bercerita di sana," katanya, usai membayar tagihan kepada kasir di kedai kopi.
"Aku masih tidak percaya."
"Aku juga begitu tadinya. Tapi setelah bertanya ke orang-orang yang tahu benar kasus itu. Aku menghubungimu," jelas Umar.
Rumah Deni, wartawan di media online kami, juga salah satu teman yang menginisiasi terbentuknya www.koyow.com, tak jauh letaknya dari kedai kopi. Hanya beberapa menit, Deni tampak sudah menunggu kedatangan kami di beranda.
"Yakin kau, Mar?" teriak Deni, setelah kami memarkir motor.
"Sialan! Aku saja belum bernapas, sudah ditodong," sahut Umar.
Di depan rumah Deni, ada pohon mangga rindang dilengkapi bangku memanjang. Mereka memilih mengobrol di situ. Umar lantas bercerita duduk perkaranya. Adik ayahnya Indra, yang seorang anggota legislatif terlibat kasus korupsi. Indra adalah pemimpin redaksi, juga teman baik dan termasuk founding fathers media online kami.
"Jadi, kita harus memberitakannya juga?" tanya Deni.
Umar yang jauh-jauh tahun lebih berpengalaman dari aku dan Deni, tampak gelisah. Kegelisahan itu jelas tergambar di wajahnya, apalagi Umar tahu tugasnya sebagai redaktur akan lebih berat.
"Apa sebaiknya kita bicarakan juga dengan Indra?" tanyaku.
"Jelaslah! Tapi kita bertiga harus sepakat dulu," kata Umar. Dia menjetikkan puntung rokok yang telah pupus.
"Media lain juga pasti akan memburu berita itu," kata Deni.
"Pasti. Dan jika kita memilih tidak membuat beritanya, citra media kita yang independen ikut tercoreng," aku coba berpendapat.
"Benar! Tapi bagaimana perasaan Indra nanti?" tanya Deni.
"Jelas ini bukan persoalan hubungan pertemanan kita dengan Indra. Tapi ini soal bagaimana seharusnya kita memposisikan diri. Yang lebih dipentingkan adalah independensi, bukan netralitas," jelas Umar.
"Kok, tiba-tiba rambutmu memutih, Mar. Kau berubah jadi Bill Kovach," kata Deni, yang memancing tawa kami bersamaan. Ucapan Deni mencairkan suasana yang sedari tadi serius. Aku seketika ingat Gladys, yang pernah juga aku dakwahi.
Mobil Avanza yang pelan merangkak masuk pekarangan dan menuju ke arah kami, membuat tawa kami terhenti. Indra turun dari mobilnya. Wajahnya cerah. Tak seperti hati kami yang seketika mendung.
(Bersambung)
Sabtu, 02 April 2016
Ismail, Popularitas, dan Permen Karet
![]() |
| Ismail (sumber foto: www.youtube.com) |
Pernah saat membeli rokok di sebuah warung, saya dilayani si empu setelah beberapa detik berlalu. Perempuan paruh baya itu sebelumnya terpaku di layar TV. Ismail saat itu sedang bersenandung. Jelas ia penggemar berat Ismail. Apalagi memang sekarang saya menetap di Kota Gorontalo. Kota asal Ismail, yang kini tengah mengadu suara dan nasib di kontes dangdut D'Academy 3, Indosiar.
Setelah itu, ketika perjalanan pulang saya melewati kerumunan orang yang serius melongo ke layar tancap. Musik dangdut berdentum. Ismail masih di sana.
Kota ini memang sedang demam Ismail. Hingga muncul jargon masyarakat Gorontalo yang menggemarinya berbunyi 'padeti Ismail' yang, kurang lebih diartikan sesuai bahasa Gorontalo yakni 'sikat Ismail'.
Meski saya pernah membaca status dari akun facebook Riden Baruwady, bahwa arti dari kata padeti sebenarnya mengecat atau memberi warna. Sedangkan kata yang mungkin lebih tepat seharusnya wadeti yang artinya sikat. Tetapi, entahlah. Saya juga belum belajar banyak bahasa Gorontalo.
Ismail saat ini memang tengah dipuja-puji di seantero negeri Binte Biluhuta ini. Sampai-sampai, jika ada orang yang berani berseberangan pendapat dengan penggemarnya, bakal dirisaki habis-habisan. Mudah-mudahan saya juga tidak dirisaki karena menuliskan ini.
Saya yang berasal dari Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), yang pernah serumpun dengan Gorontalo ketika masih di pangkuan Sulawesi Utara, pernah pula menemui euforia yang sama di negeri saya. Kala itu Bolmong tengah terhipnotis dengan suara merdu Abner. Ia salah satu kontestan Idola Cilik 2, tahun 2008.
Berasal dari Kecamatan Dumoga, Bolmong, Abner jelas mengundang dukungan yang cukup militan. Warga Bolmong di empat kabupaten dan satu kota, berjibaku mengirimi SMS dukungan untuk Abner. Dari kelas yang biasa mengisi pulsa lima ribuan, sampai kelas ratusan ribu.
Namun, akhirnya langkah Abner harus terhenti. Ia tidak berhasil lolos hingga ke babak grand final. Meski demikian, saat kembali ke Bolmong ia tetap dipuja. Undangan manggung di sana-sini berdatangan. Yang terjadi kemudian sangat disayangkan. Ketenaran itu hanya sesaat. Abner terlupakan seiring putaran waktu. Bahkan sampai saat ini kabarnya tidak pernah lagi terdengar.
Beberapa tahun kemudian, warga Bolmong kembali riuh dengan penampilan Novi. Ia berasal dari Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Suaranya berbeda dengan Abner. Cadas dan berciri khas. Tapi nasibnya sama seperti Abner. Setelah gagal menuju grand final Idola Cilik tahun 2013, ia kembali ke tanah kelahirannya. Novi tetap banjir undangan menyanyi. Sampai akhirnya tergerus waktu pula. Lenyap di riuh panggung.
Abner dan Novi yang ketika pentas di Idola Cilik kerap didandani seperti orang dewasa, dan membawakan lagu-lagu orang dewasa pula, akhirnya tenggelam dari kepopularitasan. Bukan hanya mereka yang tidak berhasil lolos, bahkan mereka yang menjuarai Idola Cilik pun, nama-nama mereka redup satu per satu.
Tahun demi tahun bocah-bocah seperti mereka dicetak, dijadikan pundi-pundi rupiah, kemudian lenyap dari layar kaca dan industri musik. Pasar diciptakan hanya ketika stasiun TV dan para sponsor membutuhkan mereka pada setiap kontes. Meskipun tidak bisa dipungkiri, dalam setiap ajang hiburan semacam itu, ada beberapa yang beruntung dan karier mereka tetap bertahan.
Sama halnya dengan Abner dan Novi. Ismail, adalah salah satu pemilik suara merdu yang sedang mereka cetak. Dari cetakan-cetakan itupun akan kembali diseleksi, mana cetakan yang terbanyak meraup keuntungan. Mana yang terbanyak banjir SMS. Dan ia bakal didapuk menjadi pemenang.
Saya sempat bertanya-tanya dalam hati, apakah setiap kali pentas, kontestan mendapat jatah dari keuntungan perusahaan provider? Juga dari stasiun TV yang hitungannya sesuai rating sebagai magnet iklan?
Sampai di sini, akhirnya ada dua kemungkinan yang berlaku untuk Ismail. Pertama, jikalau ia lolos dan menjuarai kontes dangdut itu, seberapa lama uang hadiah dari kontes dangdut itu bertahan? Kalau mendapat kontrak album, apakah album itu disukai atau laku di pasaran? Terus seberapa kuat ia akan bertahan di Ibukota, sebab suara-suara merdu artis pendatang baru berbodi sintal dan seksi, serupa jamur di sana? Suara bagus pun tidak menjamin itu semua, karena penggemar selain menyenangi suara, lirik dan irama lagu pun jadi tolak ukur. Peran pencipta lagu juga sangat menentukan.
Kedua, jika Ismail tidak lolos ke babak grand final, saat ia pulang, masyarakat Gorontalo memang akan tetap menyambutnya hangat. Mengelu-elukannya. Seperti Abner dan Novi kala itu, Ismail pun akan banjir undangan di acara-acara hajatan, kampanye Pilkada, dan sebangsanya. Tetapi ketenaran di layar TV dan di panggung-panggung jelas berbeda. Untuk itu, pudarnya kepopularitasan secara perlahan sangat mungkin.
Tapi bisa jadi Ismail nanti memilih untuk berkarier di Gorontalo, dengan menelurkan album yang kemudian sukses di daerahnya. Saya pernah sekali memindai di youtube, lalu coba mendengarkan suara Ismail tatkala sedang pentas. Suaranya memang merdu dan mendayu-dayu. Tapi jika dibilang menghibur, lagu yang kerap dibawakannya bertema kesedihan. Orang sedih mendengar lagu sedih, ya tambah sedih. Benar, bukan? Yang aneh ketika mendengar lagu dangdut bertema kesedihan, tapi malah asyik berjoget.
Untuk Ismail, kita juga tidak bisa mengesampingkan perannya yang kerap berbusana Karawo, lalu mengenalkan potensi-potensi pariwisata di Provinsi Gorontalo. Mungkin bisa ditambah pula kampanye konservasi hutan mangrove di Gorontalo. Membuat tagar #SaveDanauLimboto bersama burung-burung migrannya. Tolak sawit dan penebangan pohon di Gorontalo. Dan lain sebagainya. Mumpung kesempatan iklan gratis di TV.
Dan untuk itu semua, semoga saja warga Gorontalo yang besorak-sorai kepada Ismail, tidak akan mengalami euforia yang sama, yang juga pernah dirasakan warga Bolmong ketika menyoraki Abner dan Novi kala itu.
Euforia... Sembari mengunyah permen karet.
Rabu, 30 Maret 2016
Surat Pendek untuk Teuku Wisnu
![]() |
| Teuku Wisnu (sumber foto: www.pkspiyungan.org) |
Ya, karena ini namanya surat terbuka nan pendek, jadi mari kita membaca dengan pikiran terbuka tapi jangan pendekin akal kita. Saya memutuskan menulis surat pendek ini, sebab nasib saya hampir sama denganmu, Teuku Wisnu. Wajah saya juga tak jauh-jauh beda denganmu. Malah lebih ganteng saya. Aih!
Nah, seperti kata penyair Chairil Anwar: nasib adalah kesunyian masing-masing, maka kali ini saya memilih untuk tidak sependapat dengan penyair idola saya itu. Lalu menyatakan: nasib adalah keriuhan bersama. Sebab kenapa? Kita, manusia, terkadang memiliki kesamaan nasib. Bahkan dengan binatang pun bisa. Bukankah Chairil Anwar juga menyatakan itu dalam salah satu puisinya? Dengan lantang dia berkata: aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang.
Untuk kesamaan nasib kita, Teuku Wisnu, samanya di mana sih? Samanya di nama. Jelasnya begini, ketika saya membaca berita perihal niatmu untuk mengganti nama, saya seketika ingat semasa sekolah. Saat guru-guru pertama kali mengabsen, pasti mereka bertanya: agamamu Kristen? Saya kerap ditanyai demikian karena nama depan saya, Kristianto. Guru-guru mempertanyakan agama seseorang hanya dari nama.
Bukan hanya sewaktu sekolah, saat pertama kali bekerja di salah satu perusahaan swasta, saya juga ditanyai atasan dan teman-teman kerja: kamu Kristen? Saya acap kali tidak nyaman dengan pertanyaan itu. Bukannya saya tidak nyaman karena nama itu kesannya berbeda dengan agama yang saya anut, yaitu Islam. Tapi saya bosan ditanyai itu melulu.
Rasa penasaran saya memang baru muncul ketika itu. Lalu saya memilih bertanya kepada bapak, kenapa saya dinamai Kristianto. Setelah mendengar penuturan bapak, saya bertambah bangga dinamai Kristianto. Ternyata nama itu diambil dari atlet bulu tangkis legendaris Indonesia, Christian Hadinata. Meski ejaannya diubah, 'Ch' diganti 'K' lalu dibubuhi 'to' di akhiran. Mungkin bapak ingin, agar nama saya itu masih terdengar ke-endonesa-an dan ke-to-to-an, macam Soeharto. Hiks!
Ketika itu, saya lupa menanyai bapak, kenapa memilih atlet bulu tangkis, Christian. Apakah saat saya lahir, si Christian ini menang kejuaraan Asian Games, All England, atau Piala Dunia. Namun setelah saya telusuri di internet, ternyata benar. Masa keemasan Christian di era 70an dan 80an. Tepat di tahun 1983 saya lahir, dan mungkin saja di bulan yang sama, April, Christian berhasil merebut juara ganda putra bersama Boby Ertanto, di turnamen Malaysia Terbuka. Mungkin saja bulan atau harinya bertepatan dengan kelahiran saya. Ah, bapak, akhirnya anakmu ini tumbuh besar dan menjadi seorang jurnalis, bukan pebulu tangkis.
Itu sedikit setjarah nama saya, Wisnu. Dan sampai hari ini, saya bangga dengan nama itu. Saya coba membayangkan, ketika atlet pujaan bapak, yang pasti ditepuki riuh olehnya saat menang lomba, lalu bersamaan dengan itu, saya lahir ke dunia dan bapak seperti melihat titisan si Christian mungil lahir. Dan dengan bangganya menamai saya, Kristianto. Maka rasa bangga bapak saya saat itu, tidak bisa saya tebus dengan apa pun. Bahkan oleh sederet pialanya Christian.
Bisa jadi, hal yang sama juga terjadi kepadamu, Wisnu. Andaikan bapakmu itu benar-benar gemar menonton film dari tanah Hindustan, atau sering membaca epos Mahabharata dan Ramayana, juga doyan pewayangan, lalu dia sangat mengidolakan Dewa Wisnu, dan akhirnya memilihkan nama itu kepadamu. Maka betapa bangganya, sebab bapakmu berharap kamu bisa menyerap sifat-sifat luhur Dewa Wisnu. Bangganya pun itu tidak bisa ditukar dengan sederet nama-nama dewa.
Saya juga yakin, perasaan yang sama menimpamu. Mengenai penamaan yang kesannya melekat pada satu agama tertentu. Tapi tidak cukupkah nama depanmu, yang sangat ke-islam-aceh-an itu? Meski menurut saya, kenapa juga nama harus terbingkai dengan agama-agama?
Maka ketika saya membaca niatmu untuk mengubah nama--sebab "bisikan" dari Ustaz Bachtiar Nazir saat acara talkshow Makna dan Peristiwa yang bertema "Arti di Balik Nama" di salah satu stasiun televisi--yang alasannya namamu itu tidak islami, saya hanya bisa tertawa dan mengumpat dalam hati (kira-kira mengumpat dalam hati bisa dipidanakan?).
Hoi! Teuku Wisnu dan Ustaz Bachtiar Nazir! Siapa juga yang sejak bayi bisa memilih nama atau agama?
To... LOL!
Senin, 28 Maret 2016
Gladys di Kota(razia)mobagu (3)
... Sekejap sebuah lengan melayang dengan telapak tangan terbuka. Plak! (Baca sebelumnya: Bagian 2)
Usai menampar, ibu itu menatap nanar. Yang ditampar jadi salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa. Perasaan marah, malu, dan kesal berkecamuk di wajahnya. Semua pandangan tertuju padanya. Aku yang kebetulan menyusul juga ke rumah sakit, merangsek di antara kerumunan lalu segera menarik lengan wartawan itu. Aku menyeretnya keluar dari penghakiman.
"Kau cukup nekat mewawancarainya," ujarku.
"Aku juga tidak berani tadi. Tapi, tapi... Aku ditelepon redaktur pelaksana kami, bahwa harus dapat mewawancarai ibu itu," jelasnya sambil mengurut pipinya.
"Jika kau mendapat perintah seperti itu lagi, kau bisa menolaknya. Risikonya seperti tadi nanti."
Kami terlibat perbincangan begitu lama. Ternyata dia wartawan magang. Namanya Ojan. Di tengah pembicaraan, aku melirik kembali arloji. Tinggal sejam lagi, adzan subuh akan berkumandang.
Aku lantas pamit pulang ke kos yang sedari tadi terus saja tertunda. Hanya memacu sepeda motor beberapa menit, pintu kamar telah di depan mata. Di dalam kamar, tubuhku seketika jatuh terbenam di kasur. Dan perlahan-lahan aku diseret jauh ke dalam alam bawah sadar. Terlelap.
***
Langit berjelaga dan mentari pagi perlahan memolesnya menjadi terang. Gladys telah segar sepagi itu. Rambut hitamnya digelung dan terikat ke samping. Putih punggung lehernya tampak diterjuni beberapa helai rambut. Di depan cermin, dia sibuk mewarnai bibirnya. Merah tegas.
Sepasang sepatu Converse yang warna merahnya mulai memudar, diliriknya. Tak berselang lama, Gladys seperti gasing di depan cermin, dengan kaos putih polos berlengan pendek, dipadu celana panjang denim berwarna abu-abu yang sobek di bagian paha dan dengkul. Ransel merah menggantung di punggungnya.
Gladys mendekatkan wajahnya ke cermin. Alisnya dibiarkan tumbuh alami. Kulit wajahnya pun tanpa polesan bedak. Bibir jadi satu-satunya yang disentuh kosmetik. Hanya gincu merah tegas. Hanya itu.
"Kau sudah siap?" Suara itu datang dari depan kamar. Lalu pintu kamar menganga. Temannya, Lina, juga telah siap dengan ransel di punggung.
"Kita jalan kaki saja ya?" tawar Gladys.
"Iya. Terminalnya juga dekat kok."
"Eh, Ririn ditahan semalam?" tanya Gladys.
"Sepertinya tadi pagi dia sudah ada. Mungkin sedang tidur."
"Baguslah."
Mereka berdua hanya menyusuri beberapa lorong dari kos-kosan, kemudian sebuah terminal yang hiruk telah di depan mata. Sebulir keringat menuruni hidung bangir Gladys, yang seketika saja ditepisnya. Pipinya tampak memerah. Menempuh jarak beberapa ratus meter dengan jalan kaki, membuat napasnya tersengal-sengal.
"Kan, kau yang bilang jalan kaki saja," ejek Lina saat melihat Gladys keringatan.
"Biar sehat!" silat Gladys.
Menunggu mikrolet yang akan mereka tumpangi penuh, Gladys memanggil seorang loper koran yang kebetulan lewat. Dia membeli satu. Saat membaca, di headline tak ada berita soal razia semalam. Lekas dia memilah per halaman, lalu menemukan berita soal razia di kos-kosannya.
"Kamar kos mahasiswi ditemukan botol miras. Saat digelandang malah memaki wartawan," baca Gladys. Judul dan sub-judulnya membuat Gladys segera merogoh ponsel di saku. Dia segera menghubungi Sigid.
Setelah beberapa nada kereta api, suara Sigid terdengar memelas, "Ada apa, Dys?"
"Berita Ririn muncul di koran. Brengsek! Judulnya juga persis dugaanku semalam. Kau lupa mengingatkan teman-temanmu?"
"Gladys, tidak semua wartawan akrab denganku. Semalam aku sempat mengirim pesan singkat ke beberapa teman, tapi aku tidak bisa menjamin semuanya."
"Kasihan Ririn. Aku khawatir cepat atau lambat orangtuanya akan tahu."
"Aku juga turut prihatin. Tapi itu media milik mereka. Aku tidak bisa berbuat banyak."
"Baiklah. Lanjut tidur sana! Eh, aku dan Lina mau mudik nih! mungkin seminggu di kampung."
"Mendadak sekali?"
"Iya, tiba-tiba rindu kampung karena kejadian semalam."
"Hmm... Hati-hati di jalan ya. Salam buat bapak dan ibu."
"Iya, terima kasih. Nanti aku sampaikan."
Gladys mengulum bibir bawahnya setelah menyudahi percakapan. Dia kembali menyimak koran di pangkuannya. Di samping berita soal Kikan, ada juga berita kecelakaan tunggal. Korban meninggal.
Dia kembali sibuk membolak-balik setiap halaman. Berita-berita lainnya, hanya berisi sampah-sampah tentang laku luhur para pejabat. Yang lain, kritikan berisi sinyal-sinyal uang saku. Sedangkan di headline yang sempat dilewatkannya tadi, ada berita tentang koruptor yang katanya dikriminalisasi. Judulnya pun seperti tirai yang membikin laku bejat si koruptor jadi kian samar.
Terdengar teriak si sopir yang menyampaikan bahwa daftar penumpang telah penuh. Gladys meninggalkan koran itu di bangku terminal. Dia dan Lina segera masuk ke dalam mikrolet.
"Lin, menurutmu, aku cocok tidak jadi jurnalis?" tanya Gladys, setelah mikrolet mulai melaju.
"Memang kalau jadi jurnalis bisa menjamin masa depanmu?" Lina kembali serius dengan ponselnya.
"Yang kau maksudkan dengan masa depan?"
"Ya... soal karir dalam pekerjaanmu yang bisa memenuhi segala kebutuhan hidupmu."
"Aku kira bisa. Digaji secukupnya juga aku terima. Aku ingin belajar banyak soal jurnalistik."
"Tapi, tidak selamanya belajar, kan? Kau juga nanti akan menikah dan memiliki anak."
"Aku kira, itu ada pada tahap selanjutnya untuk dipikirkan."
"Dan jika kau telah ditahap itu?" Lina terus memburu. "Tahap ketika kau sudah menikah dan memiliki anak?"
"Saya mengerti maksudmu. Tapi, karier seorang jurnalis pun tak selamanya hanya menjadi pemburu berita. Selain itu, kalau mau kaya jangan jadi jurnalis. Tapi jadi pengusaha."
"Aku tidak berkata kalau menjadi jurnalis itu tidak bakal kaya."
"Lin, jika jurnalis itu digaji layak, aku kira masih bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka."
Rambut sebahu Lina diterpa angin yang leluasa masuk dari kaca mikrolet yang dibiarkannya terbuka. Dia mengangguk tanda sepakat dengan pernyataan Gladys. Kemudian pandangannya kembali terpaku pada ponsel.
"Di media online berita soal Ririn sudah ramai. Bahkan sudah menjadi viral di media sosial," kata Lina.
"Aku sudah membacanya sedari pagi. Tapi aku memilih untuk tidak mengabari Ririn."
"Sebaiknya memang begitu." Lina melempar pandangannya ke hijau persawahan.
Kendaraan yang mereka tumpangi terus melaju. Menuju satu desa di wilayah Kecamatan Dumoga Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow. Sebuah desa yang menjadi miniatur akan tingginya toleransi antar umat beragama. Dan di mana begitu eratnya rasa kebersamaan.
Usai menampar, ibu itu menatap nanar. Yang ditampar jadi salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa. Perasaan marah, malu, dan kesal berkecamuk di wajahnya. Semua pandangan tertuju padanya. Aku yang kebetulan menyusul juga ke rumah sakit, merangsek di antara kerumunan lalu segera menarik lengan wartawan itu. Aku menyeretnya keluar dari penghakiman.
"Kau cukup nekat mewawancarainya," ujarku.
"Aku juga tidak berani tadi. Tapi, tapi... Aku ditelepon redaktur pelaksana kami, bahwa harus dapat mewawancarai ibu itu," jelasnya sambil mengurut pipinya.
"Jika kau mendapat perintah seperti itu lagi, kau bisa menolaknya. Risikonya seperti tadi nanti."
Kami terlibat perbincangan begitu lama. Ternyata dia wartawan magang. Namanya Ojan. Di tengah pembicaraan, aku melirik kembali arloji. Tinggal sejam lagi, adzan subuh akan berkumandang.
Aku lantas pamit pulang ke kos yang sedari tadi terus saja tertunda. Hanya memacu sepeda motor beberapa menit, pintu kamar telah di depan mata. Di dalam kamar, tubuhku seketika jatuh terbenam di kasur. Dan perlahan-lahan aku diseret jauh ke dalam alam bawah sadar. Terlelap.
***
Langit berjelaga dan mentari pagi perlahan memolesnya menjadi terang. Gladys telah segar sepagi itu. Rambut hitamnya digelung dan terikat ke samping. Putih punggung lehernya tampak diterjuni beberapa helai rambut. Di depan cermin, dia sibuk mewarnai bibirnya. Merah tegas.
Sepasang sepatu Converse yang warna merahnya mulai memudar, diliriknya. Tak berselang lama, Gladys seperti gasing di depan cermin, dengan kaos putih polos berlengan pendek, dipadu celana panjang denim berwarna abu-abu yang sobek di bagian paha dan dengkul. Ransel merah menggantung di punggungnya.
Gladys mendekatkan wajahnya ke cermin. Alisnya dibiarkan tumbuh alami. Kulit wajahnya pun tanpa polesan bedak. Bibir jadi satu-satunya yang disentuh kosmetik. Hanya gincu merah tegas. Hanya itu.
"Kau sudah siap?" Suara itu datang dari depan kamar. Lalu pintu kamar menganga. Temannya, Lina, juga telah siap dengan ransel di punggung.
"Kita jalan kaki saja ya?" tawar Gladys.
"Iya. Terminalnya juga dekat kok."
"Eh, Ririn ditahan semalam?" tanya Gladys.
"Sepertinya tadi pagi dia sudah ada. Mungkin sedang tidur."
"Baguslah."
Mereka berdua hanya menyusuri beberapa lorong dari kos-kosan, kemudian sebuah terminal yang hiruk telah di depan mata. Sebulir keringat menuruni hidung bangir Gladys, yang seketika saja ditepisnya. Pipinya tampak memerah. Menempuh jarak beberapa ratus meter dengan jalan kaki, membuat napasnya tersengal-sengal.
"Kan, kau yang bilang jalan kaki saja," ejek Lina saat melihat Gladys keringatan.
"Biar sehat!" silat Gladys.
Menunggu mikrolet yang akan mereka tumpangi penuh, Gladys memanggil seorang loper koran yang kebetulan lewat. Dia membeli satu. Saat membaca, di headline tak ada berita soal razia semalam. Lekas dia memilah per halaman, lalu menemukan berita soal razia di kos-kosannya.
"Kamar kos mahasiswi ditemukan botol miras. Saat digelandang malah memaki wartawan," baca Gladys. Judul dan sub-judulnya membuat Gladys segera merogoh ponsel di saku. Dia segera menghubungi Sigid.
Setelah beberapa nada kereta api, suara Sigid terdengar memelas, "Ada apa, Dys?"
"Berita Ririn muncul di koran. Brengsek! Judulnya juga persis dugaanku semalam. Kau lupa mengingatkan teman-temanmu?"
"Gladys, tidak semua wartawan akrab denganku. Semalam aku sempat mengirim pesan singkat ke beberapa teman, tapi aku tidak bisa menjamin semuanya."
"Kasihan Ririn. Aku khawatir cepat atau lambat orangtuanya akan tahu."
"Aku juga turut prihatin. Tapi itu media milik mereka. Aku tidak bisa berbuat banyak."
"Baiklah. Lanjut tidur sana! Eh, aku dan Lina mau mudik nih! mungkin seminggu di kampung."
"Mendadak sekali?"
"Iya, tiba-tiba rindu kampung karena kejadian semalam."
"Hmm... Hati-hati di jalan ya. Salam buat bapak dan ibu."
"Iya, terima kasih. Nanti aku sampaikan."
Gladys mengulum bibir bawahnya setelah menyudahi percakapan. Dia kembali menyimak koran di pangkuannya. Di samping berita soal Kikan, ada juga berita kecelakaan tunggal. Korban meninggal.
Dia kembali sibuk membolak-balik setiap halaman. Berita-berita lainnya, hanya berisi sampah-sampah tentang laku luhur para pejabat. Yang lain, kritikan berisi sinyal-sinyal uang saku. Sedangkan di headline yang sempat dilewatkannya tadi, ada berita tentang koruptor yang katanya dikriminalisasi. Judulnya pun seperti tirai yang membikin laku bejat si koruptor jadi kian samar.
Terdengar teriak si sopir yang menyampaikan bahwa daftar penumpang telah penuh. Gladys meninggalkan koran itu di bangku terminal. Dia dan Lina segera masuk ke dalam mikrolet.
"Lin, menurutmu, aku cocok tidak jadi jurnalis?" tanya Gladys, setelah mikrolet mulai melaju.
"Memang kalau jadi jurnalis bisa menjamin masa depanmu?" Lina kembali serius dengan ponselnya.
"Yang kau maksudkan dengan masa depan?"
"Ya... soal karir dalam pekerjaanmu yang bisa memenuhi segala kebutuhan hidupmu."
"Aku kira bisa. Digaji secukupnya juga aku terima. Aku ingin belajar banyak soal jurnalistik."
"Tapi, tidak selamanya belajar, kan? Kau juga nanti akan menikah dan memiliki anak."
"Aku kira, itu ada pada tahap selanjutnya untuk dipikirkan."
"Dan jika kau telah ditahap itu?" Lina terus memburu. "Tahap ketika kau sudah menikah dan memiliki anak?"
"Saya mengerti maksudmu. Tapi, karier seorang jurnalis pun tak selamanya hanya menjadi pemburu berita. Selain itu, kalau mau kaya jangan jadi jurnalis. Tapi jadi pengusaha."
"Aku tidak berkata kalau menjadi jurnalis itu tidak bakal kaya."
"Lin, jika jurnalis itu digaji layak, aku kira masih bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka."
Rambut sebahu Lina diterpa angin yang leluasa masuk dari kaca mikrolet yang dibiarkannya terbuka. Dia mengangguk tanda sepakat dengan pernyataan Gladys. Kemudian pandangannya kembali terpaku pada ponsel.
"Di media online berita soal Ririn sudah ramai. Bahkan sudah menjadi viral di media sosial," kata Lina.
"Aku sudah membacanya sedari pagi. Tapi aku memilih untuk tidak mengabari Ririn."
"Sebaiknya memang begitu." Lina melempar pandangannya ke hijau persawahan.
Kendaraan yang mereka tumpangi terus melaju. Menuju satu desa di wilayah Kecamatan Dumoga Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow. Sebuah desa yang menjadi miniatur akan tingginya toleransi antar umat beragama. Dan di mana begitu eratnya rasa kebersamaan.
(Bersambung)
Kamis, 24 Maret 2016
Gladys di Kota(razia)mobagu (2)
"Kau pasti lapar. Aku kebetulan masak tadi. Ayo, temani aku makan," ajaknya sambil menuntunku masuk ke kamar kos dan menuju dapur mini.
Tak bisa menolak, aku pun menemaninya makan. Bincang berlanjut. Gladys kemudian menceritakan alasannya putus dengan pacarnya yang polisi.
"Namanya Faisal. Dia anggota tim Gagak juga. Tapi semalam dia tidak ikut razia."
Sebenarnya, sebelum hubungan mereka putus sebulan yang lalu, ketika datang giliran razia, kos-kosan mereka dipastikan aman. Gladys juga tidak berani menuding, bahwa setelah putus dengan Faisal kemudian kos-kosan mereka jadi target razia.
"Aneh ya. Di tempat umum dilarang. Setelah mengurung di dalam kamar kos, tetap saja digeruduk. Mau mereka apa sih!" gerutunya.
"Oh, ya, jika kau tidak suka ditelepon polisi tadi, kenapa memberinya nomor handphone?"
"Aku pikir mungkin dia bisa dimanfaatkan jika kami dirazia lagi."
"Tapi penolakanmu tadi, awal yang buruk untuk sebuah niat agar bisa memanfaatkannya."
Gladys bergumam. Kemudian paha ayam goreng dicabik-cabiknya dengan garpu. Sambil mengunyah, matanya seperti sedang menyusun kata demi kata. Ada segelembung pikir di atas kepalanya.
"Ah, gampang. Tinggal kirim emoticon senyum lewat pesan singkat, pasti direspon. Ya, pokoknya buat jaga-jaga saja."
"Kau nyaman tinggal di Kotamobagu?" aku melontarkan pertanyaan yang membuka celah untuknya. Dia sepertinya tengah tersudut.
"Nyaman apaan. Ruang seprivasi kamar kos saja diterobos. Bahkan isi kulkas pun digeledah. Sekalian saja lubang kloset diobok-obok pakai tangan."
Gladys mengaku sudah jemu tinggal di Kotamobagu. Pulang dari kampus sedang capek-capeknya, tiba-tiba didatangi dan ditodong dengan pertanyaan-pertanyaan. Penghuni kos-kosan lainnya adalah pekerja kantoran dan mereka juga acap kali mengeluh.
Beberapa tahun belakangan razia masih sepi. Tapi akhir-akhir ini jadi seperti sedang kedatangan rombongan jamaah tabligh di satu wilayah. Hampir setiap hari pintu diketuk. Urusan iman dan moral personal pun ingin mereka gagahi.
"Itu ada juga yang dari Satpol PP. Sok-sok jadi superhero kepagian!"
"Tim Tuturuga namanya. Bakal menyusul tim Pokpok." Seketika tawa kami lepas, yang sekejap mengundang teguran dari kamar sebelah.
"Gladys! Mau dirazia lagi?" teriak tetangga kamar.
Gladys melempar pandang ke arah jam dinding. Sudah pukul 11 malam. Melihat tingkahnya, aku lantas pamitan setelah berterima-kasih atas jamuan makan malamnya.
"Makasih juga ya. Kau semakin menebalkan dendamku. Atau, lebih tepat niatku untuk menjadi jurnalis," ucap Gladys.
"Tapi kalau mau jadi jurnalis, pasti bakal menetap di Kotamobagu. Katamu sudah tidak nyaman di sini?"
"Ah, rasa kesalku bukan untuk kota ini."
"Untuk siapa?"
"Untuk mereka yang juga kau benci!"
"Asal jangan dendam sama mantan." Kami tertawa lagi. Tapi setelah membekap mulut. Takut dibentak sama penghuni kamar sebelah.
Setelah pamit, aku ditemaninya sampai ke depan pagar kos-kosan. Senyum manisnya terakhir kali terekam di wajah. Kemudian suara motorku menderu, dengan hati yang menggebu-gebu.
Saat perjalanan pulang, aku masih berpas-pasan dengan beberapa anggota Satpol PP di sebuah taman kota. Wajah mereka tampak garang. Terlalu serius dengan pekerjaan mereka. Aku mampir lalu mengeluarkan kamera dari dalam ransel. Kilatan lampu kameraku mengundang perhatian mereka. Aku memang sedang memotret untuk mengundang perhatian mereka. Tahu aksi mereka sedang dipotret, tiba-tiba salah satu anggota Satpol PP dengan gesit melompat ke dalam taman. Seperti Batman yang sedang memergoki Joker. Kemudian terdengar bentakan.
"Bikin apa kalian di sini?" bentaknya kepada kerumunan remaja di taman.
Aku coba mendekati satu personil baret cokelat itu, "Maaf, aku wartawan. Bisa minta komentar tentang razia malam ini?"
"Oh, bisa, bisa."
"Sebenarnya fungsi taman kota ini apa?" aku melempar pertanyaan yang sebenarnya, aku pun tidak berniat membuat berita soal razia itu.
"Hmm... Untuk... Untuk kumpul-kumpul. Juga untuk bersantai."
"Bagaimana rasanya jika sedang asyik menikmati suasana malam Kotamobagu, terus dirazia?"
"Kalau tidak miras, ya, biasa saja. Pokoknya yang kedapatan miras di tempat umum, pasti diangkut,"
"Kalau mereka yang miras di kos-kosan?"
Dia seperti kura-kura yang, perlahan-lahan memasukkan kepala ke dalam cangkang. Saya lantas pergi meninggalkannya.
Saat perjalanan menuju kos, aku mampir ke warung untuk membeli sebungkus rokok. Tiba-tiba suara knalpot meraung di jalanan. Sebuah sepeda motor melaju kencang, oleng, dan menabrak pembatas jalan. Sepeda motornya terhempas dan menggaruki aspal jalan yang, menyebabkan kilatan serupa kembang api. Tubuh pengendara motor terhempas jauh, lalu mendarat di depan pelataran sebuah toko. Helm pengaman retak dan lepas dari kepalanya. Darah menggenang. Tubuhnya diam.
Orang-orang berlarian. Tampak sebagian dari mereka merogoh ponsel dari saku. Lalu siaga memotret. Mereka terlihat berlomba-lomba melakukan itu.
Wartawan-wartawan satu per satu berdatangan. Mereka memang berkelebat cepat kalau ada peristiwa seperti ini. Apa yang berdarah-darah dan berlendir, pasti disukai pembaca. Rating. Sedangkan aku sibuk mencari mobil di jalanan, untuk mengangkut korban menuju rumah sakit.
"Mati?"
Aku coba mengejar arah suara itu, yang ternyata semburat dari mulut seorang wartawan. Namanya Jeki. Dia tampak sibuk memotret.
Tubuh korban terlihat seperti lampu disko. Lampu-lampu kamera berkedap-kedip tanpa henti. Tak ada satu pun dari mereka yang berniat menolong korban. Atau barangkali mereka takut darah tapi bisa dengan cekatan memotret dan membaginya ke media sosial.
Berhasil mencegat mobil yang bersedia mengangkut korban, aku dibantu dua orang warga dan satu wartawan yang tergerak hatinya, segera mengangkat tubuh korban ke dalam mobil. Tubuhnya hangat dan bergerak. Napasnya seperti mendengkur. Tak lama, beberapa personil polisi berdatangan.
Dan tiba-tiba kami dikagetkan suara teriakan. Sumber suara dari perempuan beruban yang adalah ibu korban. Seseorang yang mengenali korban mengabari orangtuanya. Ternyata jarak rumah korban dan tempat kejadian tidak begitu jauh. Sekarang, giliran ibu korban yang bermandikan kilatan-kilatan lampu kamera.
"Kalian tidak punya otak? Anakku keadaannya sudah begini mau kalian foto-foto terus disebar? Coba kejadian ini menimpa saudara kalian? Dasaaarrr! Biadab!" Ibu itu berlumuran darah anaknya. Kemudian sopir mobil coba menenangkan ibu itu, lalu mengajaknya menemani anaknya ke rumah sakit terdekat.
Beberapa wartawan pergi mengejar korban ke rumah sakit. Unit gawat darurat telah dipenuhi wartawan dan keluarga korban. Kondisi ibu korban masih terlihat syok. Seorang wartawan memberanikan diri mendekati ibu korban. Berharap bisa mewawancarainya.
"Maaf ibu. Bisa tahu nama ibu?"
Sekejap sebuah lengan melayang dengan telapak tangan terbuka. Plak!
Tak bisa menolak, aku pun menemaninya makan. Bincang berlanjut. Gladys kemudian menceritakan alasannya putus dengan pacarnya yang polisi.
"Namanya Faisal. Dia anggota tim Gagak juga. Tapi semalam dia tidak ikut razia."
Sebenarnya, sebelum hubungan mereka putus sebulan yang lalu, ketika datang giliran razia, kos-kosan mereka dipastikan aman. Gladys juga tidak berani menuding, bahwa setelah putus dengan Faisal kemudian kos-kosan mereka jadi target razia.
"Aneh ya. Di tempat umum dilarang. Setelah mengurung di dalam kamar kos, tetap saja digeruduk. Mau mereka apa sih!" gerutunya.
"Oh, ya, jika kau tidak suka ditelepon polisi tadi, kenapa memberinya nomor handphone?"
"Aku pikir mungkin dia bisa dimanfaatkan jika kami dirazia lagi."
"Tapi penolakanmu tadi, awal yang buruk untuk sebuah niat agar bisa memanfaatkannya."
Gladys bergumam. Kemudian paha ayam goreng dicabik-cabiknya dengan garpu. Sambil mengunyah, matanya seperti sedang menyusun kata demi kata. Ada segelembung pikir di atas kepalanya.
"Ah, gampang. Tinggal kirim emoticon senyum lewat pesan singkat, pasti direspon. Ya, pokoknya buat jaga-jaga saja."
"Kau nyaman tinggal di Kotamobagu?" aku melontarkan pertanyaan yang membuka celah untuknya. Dia sepertinya tengah tersudut.
"Nyaman apaan. Ruang seprivasi kamar kos saja diterobos. Bahkan isi kulkas pun digeledah. Sekalian saja lubang kloset diobok-obok pakai tangan."
Gladys mengaku sudah jemu tinggal di Kotamobagu. Pulang dari kampus sedang capek-capeknya, tiba-tiba didatangi dan ditodong dengan pertanyaan-pertanyaan. Penghuni kos-kosan lainnya adalah pekerja kantoran dan mereka juga acap kali mengeluh.
Beberapa tahun belakangan razia masih sepi. Tapi akhir-akhir ini jadi seperti sedang kedatangan rombongan jamaah tabligh di satu wilayah. Hampir setiap hari pintu diketuk. Urusan iman dan moral personal pun ingin mereka gagahi.
"Itu ada juga yang dari Satpol PP. Sok-sok jadi superhero kepagian!"
"Tim Tuturuga namanya. Bakal menyusul tim Pokpok." Seketika tawa kami lepas, yang sekejap mengundang teguran dari kamar sebelah.
"Gladys! Mau dirazia lagi?" teriak tetangga kamar.
Gladys melempar pandang ke arah jam dinding. Sudah pukul 11 malam. Melihat tingkahnya, aku lantas pamitan setelah berterima-kasih atas jamuan makan malamnya.
"Makasih juga ya. Kau semakin menebalkan dendamku. Atau, lebih tepat niatku untuk menjadi jurnalis," ucap Gladys.
"Tapi kalau mau jadi jurnalis, pasti bakal menetap di Kotamobagu. Katamu sudah tidak nyaman di sini?"
"Ah, rasa kesalku bukan untuk kota ini."
"Untuk siapa?"
"Untuk mereka yang juga kau benci!"
"Asal jangan dendam sama mantan." Kami tertawa lagi. Tapi setelah membekap mulut. Takut dibentak sama penghuni kamar sebelah.
Setelah pamit, aku ditemaninya sampai ke depan pagar kos-kosan. Senyum manisnya terakhir kali terekam di wajah. Kemudian suara motorku menderu, dengan hati yang menggebu-gebu.
Saat perjalanan pulang, aku masih berpas-pasan dengan beberapa anggota Satpol PP di sebuah taman kota. Wajah mereka tampak garang. Terlalu serius dengan pekerjaan mereka. Aku mampir lalu mengeluarkan kamera dari dalam ransel. Kilatan lampu kameraku mengundang perhatian mereka. Aku memang sedang memotret untuk mengundang perhatian mereka. Tahu aksi mereka sedang dipotret, tiba-tiba salah satu anggota Satpol PP dengan gesit melompat ke dalam taman. Seperti Batman yang sedang memergoki Joker. Kemudian terdengar bentakan.
"Bikin apa kalian di sini?" bentaknya kepada kerumunan remaja di taman.
Aku coba mendekati satu personil baret cokelat itu, "Maaf, aku wartawan. Bisa minta komentar tentang razia malam ini?"
"Oh, bisa, bisa."
"Sebenarnya fungsi taman kota ini apa?" aku melempar pertanyaan yang sebenarnya, aku pun tidak berniat membuat berita soal razia itu.
"Hmm... Untuk... Untuk kumpul-kumpul. Juga untuk bersantai."
"Bagaimana rasanya jika sedang asyik menikmati suasana malam Kotamobagu, terus dirazia?"
"Kalau tidak miras, ya, biasa saja. Pokoknya yang kedapatan miras di tempat umum, pasti diangkut,"
"Kalau mereka yang miras di kos-kosan?"
Dia seperti kura-kura yang, perlahan-lahan memasukkan kepala ke dalam cangkang. Saya lantas pergi meninggalkannya.
Saat perjalanan menuju kos, aku mampir ke warung untuk membeli sebungkus rokok. Tiba-tiba suara knalpot meraung di jalanan. Sebuah sepeda motor melaju kencang, oleng, dan menabrak pembatas jalan. Sepeda motornya terhempas dan menggaruki aspal jalan yang, menyebabkan kilatan serupa kembang api. Tubuh pengendara motor terhempas jauh, lalu mendarat di depan pelataran sebuah toko. Helm pengaman retak dan lepas dari kepalanya. Darah menggenang. Tubuhnya diam.
Orang-orang berlarian. Tampak sebagian dari mereka merogoh ponsel dari saku. Lalu siaga memotret. Mereka terlihat berlomba-lomba melakukan itu.
Wartawan-wartawan satu per satu berdatangan. Mereka memang berkelebat cepat kalau ada peristiwa seperti ini. Apa yang berdarah-darah dan berlendir, pasti disukai pembaca. Rating. Sedangkan aku sibuk mencari mobil di jalanan, untuk mengangkut korban menuju rumah sakit.
"Mati?"
Aku coba mengejar arah suara itu, yang ternyata semburat dari mulut seorang wartawan. Namanya Jeki. Dia tampak sibuk memotret.
Tubuh korban terlihat seperti lampu disko. Lampu-lampu kamera berkedap-kedip tanpa henti. Tak ada satu pun dari mereka yang berniat menolong korban. Atau barangkali mereka takut darah tapi bisa dengan cekatan memotret dan membaginya ke media sosial.
Berhasil mencegat mobil yang bersedia mengangkut korban, aku dibantu dua orang warga dan satu wartawan yang tergerak hatinya, segera mengangkat tubuh korban ke dalam mobil. Tubuhnya hangat dan bergerak. Napasnya seperti mendengkur. Tak lama, beberapa personil polisi berdatangan.
Dan tiba-tiba kami dikagetkan suara teriakan. Sumber suara dari perempuan beruban yang adalah ibu korban. Seseorang yang mengenali korban mengabari orangtuanya. Ternyata jarak rumah korban dan tempat kejadian tidak begitu jauh. Sekarang, giliran ibu korban yang bermandikan kilatan-kilatan lampu kamera.
"Kalian tidak punya otak? Anakku keadaannya sudah begini mau kalian foto-foto terus disebar? Coba kejadian ini menimpa saudara kalian? Dasaaarrr! Biadab!" Ibu itu berlumuran darah anaknya. Kemudian sopir mobil coba menenangkan ibu itu, lalu mengajaknya menemani anaknya ke rumah sakit terdekat.
Beberapa wartawan pergi mengejar korban ke rumah sakit. Unit gawat darurat telah dipenuhi wartawan dan keluarga korban. Kondisi ibu korban masih terlihat syok. Seorang wartawan memberanikan diri mendekati ibu korban. Berharap bisa mewawancarainya.
"Maaf ibu. Bisa tahu nama ibu?"
Sekejap sebuah lengan melayang dengan telapak tangan terbuka. Plak!
(Bersambung)
Minggu, 20 Maret 2016
Gladys di Kota(razia)mobagu (1)
"Awas ada razia!"
Peringatan itu dalam bentuk pesan singkat di ponselku. Pesan dari tetangga kos yang kebetulan seorang polisi. Aku melirik arloji di lengan, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Seperti biasa, temanku itu suka mengabari jika sedang ada razia di tempat-tempat umum, hotel-hotel, sampai toilet kos-kosan yang tak luput dari kejelian perazia.
Yah, beginilah hidup di Kotamobagu. Kota kecil yang bahkan tidak cukup strategis untuk dijadikan Kota Jasa. Kenapa? Sebab kota ini bukan berada di jalur transportasi antar provinsi. Kota ini berada di tengah-tengah. Sudah tidak strategis, mengusung tagline Kota Model dan Jasa, dan kerap menggelar razia. Apes.
Aku juga heran, kenapa hotel sebesar Sutan Raja nekat berjudi dengan membangun hotel megah di Kotamobagu. Tapi mungkin manajemen hotel itu sedang ingin belajar dari pengalaman mereka membangun hotel megah di Manado. Sutan Raja di Manado ramai, kan? Ups!
Tak berselang lama, pesan singkat dari Gladys masuk. Dia seorang mahasiswi yang kebetulan berteman baik dengan mantan pacarku. Isi pesannya.... soal razia. Sialan! Kota ini memang sedang diteror.
"Sigid, kos Gladys tadi dirazia. Banyak wartawan tadi ke sini. Tolong jangan diberitakan di koran ya. Kalau bisa, Gladys minta tolong, kasih tahu teman-teman Sigid juga yang wartawan-wartawan lain."
Meski hanya lewat pesan singkat, bisa dirasakan kegelisahan di hati mahasiswi itu. Tapi keningku seketika saling merangkul. Aku heran, sebab pacar Gladys kan polisi. Kenapa juga bisa dirazia?
"Kau diangkut ke Polres tidak?" Aku mengirim pesan balasan.
Beberapa detik kemudian, dia membalas, "Tidak sih. Anehnya tadi usai razia ada beberapa polisi yang minta nomor handphone sama pin BBM."
"Eh, kau bukannya pacaran sama polisi?"
"Sudah putus," sejurus kemudian, Gladys mengabarkan bahwa kos-kosan sudah aman. Bergegas aku menemuinya.
Gladys dan teman-temannya sedang ramai di luar kamar. Mereka masih panik usai razia tadi. Di salah satu kamar yang ditempati mahasiswi juga, teman sekampus Gladys, ditemukan botol-botol bir. Menurut Gladys, meski botol-botol yang ditemukan di bawah kasur itu kosong, tapi yang menjadi masalah ada sebotol bir di dalam kulkas yang belum dibuka. Temannya tetap diangkut.
Saat diseret keluar kamar, temannya itu meronta dengan penuh pinta. Air matanya deras. Teriakannya keras. Wartawan-wartawan seperti singa kelaparan yang dengan segera menerkam momen itu dengan lampu-lampu kamera. Sempat terdengar makian dan teriakan temannya itu kepada para wartawan.
"Anjing! Kalian tahu kalau orangtuaku sampai tahu? Aku akan diberhentikan kuliah! Anjiiinnnggggg!" tiru Gladys. Dia tampak masih syok melihat kejadian itu.
Namun yang lebih miris lagi, saat mendengar makian itu, seorang wartawan menyeletuk.
"Wah, bagus ini. Bisa jadi angle menarik. Judulnya bisa jadi, Seorang Mahasiswi Memaki Wartawan Saat Dirazia." Gladys kembali meniru. Tampangnya menunjukkan rasa jijik. Teman-temannya yang lain kembali masuk ke kamar mereka masing-masing. Kami dibiarkan berdua.
Aku hanya bisa memijit dagu. Melihat raut Gladys yang semakin mengerut, aku coba mengalihkan topik pembicaraan. Aku bertanya kapan dia akan selesai kuliah. Air mukanya terlihat kembali tenang. Dia berkata, tinggal setahun lagi akan wisuda. Setelah diwisuda dia berencana menjadi wartawan. Aku heran sekaligus tertarik mengejar cerita tentang cita-citanya itu.
"Kau mau jadi wartawan?"
"Iya."
"Alasanmu?"
"Aku ingin balas dendam! Kesal saja."
Mendengar jawaban itu, arah tanya-jawab ini semakin membuatku penasaran. Dan setelah aku bertanya lagi. Aku mendapati jawaban dari seorang mahasiswi yang sebenarnya boleh dibilang lebih mafhum akan profesi seorang jurnalis.
Gladys ingin balas dendam, setelah melihat realita yang kerap kali dia temui sejak tinggal di Kotamobagu. Menurutnya, wartawan-wartawan seperti enggan mengangkat sisi kaum yang termarjinalkan. Terlalu banyak beropini, amplopan, partisan, dan bahkan dengan yakinnya mengatakan pekerjaan mereka itu mulia.
"Tega ya? Mereka memberi makan anak-istri atau orangtua mereka dengan uang-uang itu."
Kalimatnya kali ini menusuk dada. Aku hanya bisa menunduk, sebab yang diterjang bukan hanya para wartawan yang menghujani jepretan kepada temannya. Tapi aku juga.
"Bukan hanya wartawannya, Gladys. Media tempat mereka bernaung juga yang mengharuskan mereka berbuat demikian."
"Mediamu juga?" dia menodongku.
"Begini, aku dulu sempat bekerja di media seperti itu. Aku juga pernah amplopan. Tapi pada akhirnya, aku sadar, yah, seperti yang kau katakan tadi, tega tidak memberi uang terlebih kepada orangtua dari hasil kita menjerat tikus?"
Aku lanjutkan berkisah, bahwa banyak wartawan yang ketika pertama kali terjun di dunia jurnalistik, mereka dikenalkan dengan wajah jurnalisme yang salah. Seiring waktu, jelas mereka akan terus mengingat dan memakai topeng wajah yang pertama kali mereka kenali. Ada beberapa yang sadar dan memilih melepaskan topeng itu. Tugas menjadi jurnalis sebenarnya berat, sebab sebagai penyampai pesan.
"Jika wahyu Tuhan itu disampaikan malaikat Jibril. Maka bagi jurnalis, wahyu itu berupa keluh-kesah dari orang-orang tertindas dan yang menjadi Jibril adalah jurnalis itu sendiri. Tidak mungkin kan, Jibril menyampaikan wahyu yang salah?"
Mata Gladys berkaca-kaca. Pipinya merah terkena cahaya bohlam. Terang saja, sebab dia berkulit putih yang diwarisinya dari ibu berdarah Minahasa. Terlihat dia semakin teguh ingin menjadi jurnalis setelah mendengar penjelasanku, yang hampir mirip dakwah Sunan Kalijaga.
“Tapi manusia itu bukan malaikat. Paling-paling para wartawan berapologi begitu.”
“Jelas saja, manusia bukan malaikat. Tuhan lebih mengistimewakan manusia malah. Karena apa coba? Akal kita. Itu bukti superioritas atau keunggulan kita sebagai mahluk ciptaan Tuhan.”
Ponsel Gladys tiba-tiba berdering. Ada telepon masuk dari nomor yang tidak dikenalnya. Setelah mengernyitkan dahi ke arahku, dia menekan tombol hijau di ponsel androidnya.
“Ini siapa?” Gladys menyetel pengeras suara. Membuatku bisa mendengar jelas suara si penelepon.
“Oh, ini dari Arga. Tadi yang ikut razia dan minta nomor kau. Aku bisa main ke kos?”
“Enak saja!” Tut, tut, tut. Gladys mengakhiri pembicaraan.
Tiba-tiba dia beranjak dari kursi, menatapku sembari tersenyum. Semerbak wangi sampo dari kibasan rambut panjangnya berbaur dengan aroma tubuhnya. Gladys merebut lenganku, lalu mengajakku...
(Bersambung)
Sabtu, 19 Maret 2016
Evolusi SimSimi Menjadi Samantha
![]() |
| sumber gambar: rebot.me |
Sejak pekan terakhir, di pertemanan Facebook, Path, dan BBM, banyak sekali postingan-postingan hasil chating SimSimi. Penasaran, saya pernah coba mengunduh, tapi dengan segera saya hapus kembali. Alasannya, cukup sudah kehidupan saya direnggut oleh gadget. Ketika duduk semeja dengan teman-teman, seringkali saya terlibat chat dengan teman lain di sosmed, dan interaksi dengan orang-orang sekitar kerap terabaikan. Apalagi mau ditambah dengan robot bayi ayam nan unyu itu. Jangankan SimSimi, game favorit CoC pun telah saya hapus. Leher saya suka menegang karena lama menunduk.
Tak hanya CoC, di ponsel android saya, aplikasi pertemanan yang tersisa tinggal Facebook, Path, BBM, dan Whatsapp. Saya memilih menghapus Telegram, Line, Twitter, Instagram, dan lain sebagainya. Jempol saya kerap kapalan hanya untuk meladeni chating di semua aplikasi itu.
Kembali ke SimSimi aplikasi bermaskot bayi ayam berwarna kuning nan unyu itu. Ternyata SimSimi berasal dari bahasa Korsel, yang penyebutannya disesuaikan pula dengan lidah Korsel yakni Shim-Shimee, yang berarti “bosan”. Kenapa “bosan”? Iya, sebab kebanyakan pengguna memang mereka yang sedang jenuh di rumah sendirian. Atau yang sedang sendiri di kamar, meluk guling, jomblo, lalu coba bertanya-tanya kapan dapat jodoh. Bisa juga karena pacar atau teman belum merespon chat, maka ayam unyu jadi pelarian buat curhat. Sebagian juga memilih chating dengan SimSimi, karena ingin lucu-lucuan saja saat mendapati jawaban-jawaban nyeleneh.
Di beberapa negara di Asia, yang jauh-jauh tahun telah mengenal SimSimi, aplikasi ini kerap dijadikan media satir untuk menghujat para pemimpin negara dan politisi. Meski sebenarnya kata-kata kasar dilarang diajarkan pada SimSimi, namun masih saja ada beberapa kosa-kata terlebih berbahasa lokal yang lolos. Jawaban ayam unyu yang nyeleneh memang menjadi kelucuan tersendiri. Misalnya, ketika saya ingin bertanya:
Saya: Ada anggota dewan dari Partai Bebek, SimSimi kenal?
SimSimi: Oh, yang suka bodohi orang-orang?
Sebagian pertanyaan kita dijawabnya suka-suka, namun ada saja beberapa yang tepat. Fitur Teach memang berguna sebagai penyerap kosa-kata. Seperti anak kecil, si ayam unyu ini merekam apa saja pertanyaan kita. Listen and do. Beberapa pengguna juga bisa mengajarinya perbendaharaan kata.
Sambutan pengguna aplikasi SimSimi yang pertama kali diluncurkan Januari 2011 di Indonesia, memang cukup riuh. Bahkan sekarang meriuh lagi. Namun saya tidak yakin SimSimi akan bertahan lama. Sama seperti permainan Duel Otak yang sempat meramaikan jagat gadget di Indonesia. Diawali rasa bosan, akan diakhiri pula oleh rasa bosan.
Tapi, teknologi memang terus berkembang. Berbagai macam temuan guna memuaskan pengguna gadget akan terus hadir. Sama seperti Samantha.
![]() |
| sumber foto: detik.com |
Meski hanya OS, Samantha bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan layaknya kita berinteraksi dengan manusia. Kegelisahan pun bisa dirasakannya. Bahkan, Samantha pun akhirnya jatuh cinta dengan penggunanya, Theodore Twombly, yang diperankan aktor Joaquin Phoenix. Dan Theodore pun jatuh cinta pada Samantha, yang bahkan tidak memiliki fisik. Mereka pernah bercinta secara verbal. Keduanya pun bisa saling cemburu, bahkan merasa rindu satu sama lainnya.
Dalam film Her, Theodore seperti ingin mengajarkan, bahwa cinta tak harus memiliki fisik seutuhnya. Perhatian, kecocokan, dan pengertian Samantha mampu membuatnya jatuh cinta. Meski dalam hubungan itu beberapa masalah kerap hadir. Apalagi Theodore akhirnya tahu, tak hanya dia, ada sekitar 8000-an user lainnya yang secara aktif diladeni Samantha. Dan Samantha jatuh cinta kepada 600-an user. Bukan hanya Theodore.
Samantha pernah sekali mencoba nyata. Seorang wanita sepakat untuk dijadikannya media agar bisa berinteraksi fisik dengan Theodore. Namun Theodore merasa aneh, bahwa wanita itu tidak sedikitpun dikenalnya. Theodore merasa tidak nyaman lalu mereka bertengkar karena itu. Tapi akhirnya mereka akur lagi dan malah semakin bahagia.
SimSimi mungkin bisa berevolusi seperti Samantha nantinya. Sebab keduanya diciptakan untuk orang-orang yang kerap merasa bosan dan kesepian. Sama seperti Samantha, yang diciptakan untuk orang-orang seperti Theodore, yang penyendiri dan kesepian setelah berpisah dengan istrinya.
Namun seperti kata Samantha:
“Ini bagaikan aku membaca sebuah buku. Dan buku ini sangat kusukai. Tapi sekarang aku pelan-pelan membacanya. Kata-katanya makin menjauh dan jarak antar kata hampir tak terbatas. Aku masih bisa merasakanmu dan kata-kata dalam cerita kita. Tapi dalam jarak tiada akhir antar kata dimana kutemukan diriku. Tempat yang bukanlah berbentuk dunia fisik. Itu adalah tempat bagi hal lain yang bahkan aku tak tahu itu ada. Aku sangat mencitaimu. Tapi di sinilah tempatku sekarang. Dan inilah diriku sekarang. Aku ingin kau merelakanku. Sebesar aku menginginkanmu. Aku juga tak bisa tinggal di bukumu lagi.”
Itu kalimat-kalimat perpisahan yang diutarakan Samantha yang bisa didengar Theodore lewat earphone. Samantha hanyalah sebuah OS yang bisa dikendalikan perusahaan pembuatnya. Dan sudah tiba saatnya mereka harus berpisah. Offline.
Sepertinya, Samantha pun akhirnya memberi kesempatan pada Theodore, agar seharusnya berinteraksilah dengan manusia.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)








