Senin, 21 September 2015
Wartawan atau Hartawan?
Di kantor Walikota Kotamobagu, dua tahun lalu. Saya (media online) dan teman wartawan (media cetak), Kano', yang dulunya pernah karib di masa-masa masih sering urunan lima ribuan buat beli tjap tikoes, terlibat pembicaraan. Saya wartawan www.lintasbmr.com kala itu. Usai menandaskan tinutuan di kantin Pemkot, saya yang hanya punya uang pas untuk bayar sepiring tinutuan dan satu tahu goreng, mendatangi Kano'. Ia sedang sibuk membolak-balik halaman koran di atas meja. Saya yang mengamini kalimat "jika usai makan lalu tak merokok itu, rasanya seperti ditabrak truk" menyapanya.
"Kano' punya rokok?"
Ia mendelik beberapa detik. "Ah, kamu ini wartawan tapi tidak punya uang."
"Aih, justru yang aneh itu jika wartawan terus punya banyak uang." silatku.
Masih dengan kedua alis yang saling merangkul, ia mengeluarkan sebungkus rokok. Aaahhh!! Merdeka!! Tak jadi disambar truk 100 bola. Ha-ha-ha.
Saya baru tiga bulan menjadi wartawan kala itu. Mengaku jurnalis saja saya enggan. Disebut wartawan saja itu sudah lebih dari cukup, meskipun sebenarnya memang tak ada bedanya wartawan sama jurnalis. Hanya istilah kerennya wartawan itu jurnalis yang dipungut dari bahasa inggrisnya journalist. Dan saya saat itu belum keren. Bahkan sampai sekarang, saya masih lebih suka disapa wartawan.
Nah, banyak lika-liku setelah terjun di dunia kewartawanan di BMR. Hampir dua tahun, setelah sempat mencecap bagaimana rasanya menjadi wartawan media cetak di Radar Bolmong. Saya merasa sepertinya epistemologi (bahasa kerennya ilmu pengetahuan) sebagai pewarta masih belum memadai. Perlu banyak lagi yang harus dipelajari. Meski pengetahuan sekarang terserak di dunia maya yang, memudahkan kita mencari-cari referensi atau bacaan yang bisa menambah wawasan. Akan tetapi itu tidak akan cukup jika tak pernah ada rembuk antar sesama pewarta. Mendiskusikan kekurangan-kekurangan, apa yang kekinian, dan masih banyak lagi tentunya terkait jurnalisme.
Saya sempat iri dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Gorontalo. Sangat iri malah. Teman saya yang mengajak untuk bergabung, si Yudin Gajah, acapkali meledek dengan rentetan chat, menyoal; diskusi buku, film, dan sebagainya yang dilaksanakan AJI. Seperti baru-baru ini, Dandhy Dwi Laksono si penulis buku Jurnalisme Investigasi dan videografer film dokumenter di Ekspedisi Indonesia Biru, berkesempatan mampir di sekretariat AJI. Tentu saja, jika kita sadar bahwa profesi kita adalah wartawan, apapun kegiatan mengenai dunia jurnalistik pastinya menarik. Bukan lebih tertarik dengan open house, acara pelantikan ini, atau peresmian itu.
Saya sadar, sebagai diri pribadi, bahwa tak ada apa-apa yang bisa dipelajari di BMR, selama menjadi pewarta. Di sini, sebagian besar wartawan-wartawan masih membincangkan masalah penulisan yang kelebihan atau kekurangan huruf. Preposisi 'di' untuk kata kerja dan tempat. Meski karena faktor buru-buru acapkali menjadi alasan. Tapi, di AJI Gorontalo, apa yang didiskusikan wartawan-wartawan di sana jauh berabad-abad melampaui BMR. Buku Elemen-elemen Jurnalisme yang berisi sembilan elemen, dibedah. Dari kesembilan elemen itu, perlu ditambahi ini dan itu. Yang akhirnya bincang diakhiri dengan bertambahnya pengetahuan. Maka saya pun sadar, istilah jurnalis pantas disematkan kepada mereka. Salah satu alasan 'jempol' saya makin membesar, mereka sangat alergi dengan yang namanya 'amplop'.
"Bro, kalau mau kaya jangan jadi wartawan, jadi pengusaha!" Disusul dengan tawa meledek-ledak di udara. Aih.
Berat. Iya, sebenarnya profesi wartawan itu berat. Yang paling memberatkan adalah bagaimana telapak tangan kita ini dibikin berat untuk menerima amplop. Bagaimana agar lengan jangan diringankan.
Selama menjadi wartawan, saya masih bisa menghitung dengan jari, berapa kali saya menerima amplop. Tapi tak satu pun dari amplop itu berisi kesepakatan bahwa diharamkan memuat berita terkait si A dan si B. Itu amplop uang bensin atau makan sebagai tanda terima kasih, sebab nama si narasumber bakal menghiasi berita dengan pernyataannya. Bukan pula berita servis, sebab apa yang disampaikan narasumber memang berdasarkan fakta informasi yang saya tanyakan. Meski sebenarnya itu pun tergolong najis ringan. Siapa yang pernah buru-buru merobek amplop lalu uang ikut sobek? Ha-ha-ha. Teman saya pernah mengajak '86' sebuah kasus. Meski enggan akhirnya terpaksa saya ikut. Apalagi konfirmasi sangat saya butuhkan pada narasumber yang bakal ditemui. Uang ratusan ribu dibagikan, tapi satu-satunya berita yang naik hanya berita saya. Saya ditelepon dan ditegur habis-habisan. Ha-ha-ha. Najis memang. Tapi setidaknya saya tetap memberitakan.
"Namun alangkah lebih najisnya jika dompet kamu kosong, motor habis bensin, lalu dalam keadaan lapar kamu terpaksa keringatan mendorong sepeda motormu. Maka jika perlu ambil." Kata seorang sesepuh dunia jurnalistik di BMR. Beberapa kali saya coba menolak sebab masih ada sisa gaji terselip di dompet. Namun jika lagi kosong, apa salahnya. Lagipula ini bukan uang kesepakatan atas kasus yang tak perlu diberitakan, yang jelas amplop semacam itu tebalnya minta ampun. Saking tebalnya transfer antar rekening dilakoni. Selama menjadi wartawan, yang telah melewati dua kali momen Idul Fitri. Tak pernah telapak tangan ini menengadah. Gaji sudah lebih dari cukup. Yang pantas memberi THR hanya perusahaan yang menaungi.
Hari demi hari, akhirnya saya sadar. Bahwa letak kemuliaan profesi wartawan itu ketika melebihkan kepentingan warga di atas segala-galanya, tanpa mengharapkan amplop. Satu-satunya loyalitas wartawan itu kepada warga, tulis Bill Kovach di buku Elemen-elemen Jurnalisme. Dan benar pula, sebab wartawan adalah penyambung lidah, menyoal apa-apa kendala warga yang kita temui di lapangan, lalu diverifikasi kebenarannya pada yang berkompeten. Di sinilah, momen kemuliaan profesi wartawan diuji. Sebab setelah dikonfirmasi dan disampaikan kendala apa yang dialami warga. Amplop tebal tergolek di atas meja. Jantung berdegup kencang. Wartawan atau hartawan? Silakan pilih kemuliaanmu. Hey, it's not so easy being a JOURNALIST!
"Kano' punya rokok?"
Ia mendelik beberapa detik. "Ah, kamu ini wartawan tapi tidak punya uang."
"Aih, justru yang aneh itu jika wartawan terus punya banyak uang." silatku.
Masih dengan kedua alis yang saling merangkul, ia mengeluarkan sebungkus rokok. Aaahhh!! Merdeka!! Tak jadi disambar truk 100 bola. Ha-ha-ha.
Saya baru tiga bulan menjadi wartawan kala itu. Mengaku jurnalis saja saya enggan. Disebut wartawan saja itu sudah lebih dari cukup, meskipun sebenarnya memang tak ada bedanya wartawan sama jurnalis. Hanya istilah kerennya wartawan itu jurnalis yang dipungut dari bahasa inggrisnya journalist. Dan saya saat itu belum keren. Bahkan sampai sekarang, saya masih lebih suka disapa wartawan.
Nah, banyak lika-liku setelah terjun di dunia kewartawanan di BMR. Hampir dua tahun, setelah sempat mencecap bagaimana rasanya menjadi wartawan media cetak di Radar Bolmong. Saya merasa sepertinya epistemologi (bahasa kerennya ilmu pengetahuan) sebagai pewarta masih belum memadai. Perlu banyak lagi yang harus dipelajari. Meski pengetahuan sekarang terserak di dunia maya yang, memudahkan kita mencari-cari referensi atau bacaan yang bisa menambah wawasan. Akan tetapi itu tidak akan cukup jika tak pernah ada rembuk antar sesama pewarta. Mendiskusikan kekurangan-kekurangan, apa yang kekinian, dan masih banyak lagi tentunya terkait jurnalisme.
Saya sempat iri dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Gorontalo. Sangat iri malah. Teman saya yang mengajak untuk bergabung, si Yudin Gajah, acapkali meledek dengan rentetan chat, menyoal; diskusi buku, film, dan sebagainya yang dilaksanakan AJI. Seperti baru-baru ini, Dandhy Dwi Laksono si penulis buku Jurnalisme Investigasi dan videografer film dokumenter di Ekspedisi Indonesia Biru, berkesempatan mampir di sekretariat AJI. Tentu saja, jika kita sadar bahwa profesi kita adalah wartawan, apapun kegiatan mengenai dunia jurnalistik pastinya menarik. Bukan lebih tertarik dengan open house, acara pelantikan ini, atau peresmian itu.
Saya sadar, sebagai diri pribadi, bahwa tak ada apa-apa yang bisa dipelajari di BMR, selama menjadi pewarta. Di sini, sebagian besar wartawan-wartawan masih membincangkan masalah penulisan yang kelebihan atau kekurangan huruf. Preposisi 'di' untuk kata kerja dan tempat. Meski karena faktor buru-buru acapkali menjadi alasan. Tapi, di AJI Gorontalo, apa yang didiskusikan wartawan-wartawan di sana jauh berabad-abad melampaui BMR. Buku Elemen-elemen Jurnalisme yang berisi sembilan elemen, dibedah. Dari kesembilan elemen itu, perlu ditambahi ini dan itu. Yang akhirnya bincang diakhiri dengan bertambahnya pengetahuan. Maka saya pun sadar, istilah jurnalis pantas disematkan kepada mereka. Salah satu alasan 'jempol' saya makin membesar, mereka sangat alergi dengan yang namanya 'amplop'.
"Bro, kalau mau kaya jangan jadi wartawan, jadi pengusaha!" Disusul dengan tawa meledek-ledak di udara. Aih.
Berat. Iya, sebenarnya profesi wartawan itu berat. Yang paling memberatkan adalah bagaimana telapak tangan kita ini dibikin berat untuk menerima amplop. Bagaimana agar lengan jangan diringankan.
Selama menjadi wartawan, saya masih bisa menghitung dengan jari, berapa kali saya menerima amplop. Tapi tak satu pun dari amplop itu berisi kesepakatan bahwa diharamkan memuat berita terkait si A dan si B. Itu amplop uang bensin atau makan sebagai tanda terima kasih, sebab nama si narasumber bakal menghiasi berita dengan pernyataannya. Bukan pula berita servis, sebab apa yang disampaikan narasumber memang berdasarkan fakta informasi yang saya tanyakan. Meski sebenarnya itu pun tergolong najis ringan. Siapa yang pernah buru-buru merobek amplop lalu uang ikut sobek? Ha-ha-ha. Teman saya pernah mengajak '86' sebuah kasus. Meski enggan akhirnya terpaksa saya ikut. Apalagi konfirmasi sangat saya butuhkan pada narasumber yang bakal ditemui. Uang ratusan ribu dibagikan, tapi satu-satunya berita yang naik hanya berita saya. Saya ditelepon dan ditegur habis-habisan. Ha-ha-ha. Najis memang. Tapi setidaknya saya tetap memberitakan.
"Namun alangkah lebih najisnya jika dompet kamu kosong, motor habis bensin, lalu dalam keadaan lapar kamu terpaksa keringatan mendorong sepeda motormu. Maka jika perlu ambil." Kata seorang sesepuh dunia jurnalistik di BMR. Beberapa kali saya coba menolak sebab masih ada sisa gaji terselip di dompet. Namun jika lagi kosong, apa salahnya. Lagipula ini bukan uang kesepakatan atas kasus yang tak perlu diberitakan, yang jelas amplop semacam itu tebalnya minta ampun. Saking tebalnya transfer antar rekening dilakoni. Selama menjadi wartawan, yang telah melewati dua kali momen Idul Fitri. Tak pernah telapak tangan ini menengadah. Gaji sudah lebih dari cukup. Yang pantas memberi THR hanya perusahaan yang menaungi.
Hari demi hari, akhirnya saya sadar. Bahwa letak kemuliaan profesi wartawan itu ketika melebihkan kepentingan warga di atas segala-galanya, tanpa mengharapkan amplop. Satu-satunya loyalitas wartawan itu kepada warga, tulis Bill Kovach di buku Elemen-elemen Jurnalisme. Dan benar pula, sebab wartawan adalah penyambung lidah, menyoal apa-apa kendala warga yang kita temui di lapangan, lalu diverifikasi kebenarannya pada yang berkompeten. Di sinilah, momen kemuliaan profesi wartawan diuji. Sebab setelah dikonfirmasi dan disampaikan kendala apa yang dialami warga. Amplop tebal tergolek di atas meja. Jantung berdegup kencang. Wartawan atau hartawan? Silakan pilih kemuliaanmu. Hey, it's not so easy being a JOURNALIST!
Minggu, 13 September 2015
Sipatuo, Kenakalan dan Kenangannya
Sipatuo. Nama toko ini entah dipungut dari bahasa apa. Tapi akhirnya internet sedikit menolong. Setelah berselancar beberapa detik, arti dan makna kata Sipatuo ditemukan di Yahoo Groups. Dan hasilnya, Sipatuo berasal dari bahasa Bugis, Sulsel, yang berarti membangun silaturahim, kerja sama, dan persaudaraan, agar tercipta harmonisasi dalam menjalani kehidupan. Aih, cakep. Apalagi yang menuturkan kalimat di atas adalah seorang ustad. Ha-ha-ha.
Nah, bagi saya dan para pembaca, yang pernah berkunjung ke Sipatuo di zaman baheula. Entah saat itu di tahun 2000 pembaca masih duduk di bangku SD, SMP, SMA, pasti akan melirik ke kiri atas untuk coba mengingat. Benar, Sipatuo adalah toko emas yang beralih fungsi menjadi sorga bagi para gamers.
Saya mula-mula ingat toko Sipatuo, saat sedang memindai beberapa game di aplikasi pencarian Android, setelah mulai agak bosan dengan CoC. Salah satu game pesawat tempur menarik perhatian. Star Fighters Strom Raid namanya. Cat kuning pintu toko Sipatuo di Jalan Kartini, Kotamobagu, tiba-tiba melintas. Senyum di wajah Mas si penjaga toko pun membayang. Meski Sipatuo toko orang Bugis, kami dulu terbiasa menyapanya Mas atau malah Pak Guru. Sipatuo telah menyita begitu banyak waktu kami, dibanding mata pelajaran.
Jam delapan pagi, remaja berseragam SMA sudah berbaris di depan Sipatuo. Saya salah satunya. Sedangkan yang SD dan SMP biasanya baru tiba saat jam istirahat.
"Pagi Pak Guru!" sapa kami sing a long, saat Mas membuka pintu toko.
Seperti Pak Guru yang terkesan ramah dan baik hati, Mas tersenyum dan membalas canda kami.
"Kemejanya dimasukin ke celana. Yang rapi anak-anak!" Mas memang memiliki selera humor di atas rata-rata.
Setelah menukar lembaran seribu menjadi koin, kami duduk berjejer rapi di depan kotak-kotak game. Yang doyan Raiden (game pesawat tempur) posisinya paling berdekatan dengan tempat penukaran uang, paling ujung ruangan. Sedangkan yang gemar Tekken dan Mortal Combat (game tarung) posisinya di tengah, atau berada dekat pintu. Ada game lainnya tapi saya lupa. Seingat saya (yang kurang merawat ingatan), ada lima kotak game saling berhadapan. Jadi jumlah keseluruhan kotak game ada sepuluh, tapi yang paling mendominasi adalah Tekken, ada sekira enam kotak. Saya menyebut kotak game, sebab monitor game itu didesain di dalam kotak setinggi sekira 1 meter, dengan lebar hampir 40 cm.
Nah, seminggu dua minggu di Sipatuo sejak pertama kali berkunjung, biasanya saya merogoh kocek lima sampai sepuluh ribuan. Itu dari uang jajan yang kala itu hanya tersisa tiga ribu setelah dipakai membayar mikrolet. Sedangkan sisanya, saya dapat dari 'memalak' gadis-gadis di terminal, dengan air muka keruh seperti belum makan seharian. Ha-ha-ha.
Setiap kali main, tiga koin ratusan 'ditabung' di 'celengan'. Jangan berharap 'celengan' itu bisa kita buka semaunya, sebab hanya Mas juru kuncinya. Setiap kali koin masuk ke kotak game, wajah Mas tersenyum puas. Mas jadi seperti Paman Sam yang menunjuk ke arah kami sembari berucap, "I Want You!"
Seperti pemilik modal kebanyakan, Mas memang butuh kami agar roda usahanya terus berputar. Jika 10 orang rata-rata merogoh kocek Rp5 ribu per orang, sudah Rp50 ribu yang masuk ke karungnya Mas. Sementara, gamers di Sipatuo hampir ratusan datang silih berganti, sejak dibuka pagi hingga malam hari. Hampir setengah karung koin setiap kali Mas memanen per kotak game. Di penukaran uang, koin-koin membumbung layaknya gudang penyimpanan uang milik Paman Gober. Mas juga lumayan pelit seperti Paman Gober.
Aturan dalam setiap kotak game, tiga koin ratusan untuk tiga nyawa. Sekali kita kalah, tersisa dua nyawa. Setelah dua nyawa habis, kita harus kembali memasukkan tiga koin.
Remaja, orang dewasa, anak-anak, perempuan, laki-laki, bahkan orang-orang uzur hinggap di Sipatuo. Kala malam hari, Sipatuo begitu benderang dan bising. Beberapa kali ada perselisihan, tapi akhirnya bisa didamaikan oleh Mas.
Nah, bagi saya dan para pembaca, yang pernah berkunjung ke Sipatuo di zaman baheula. Entah saat itu di tahun 2000 pembaca masih duduk di bangku SD, SMP, SMA, pasti akan melirik ke kiri atas untuk coba mengingat. Benar, Sipatuo adalah toko emas yang beralih fungsi menjadi sorga bagi para gamers.
Saya mula-mula ingat toko Sipatuo, saat sedang memindai beberapa game di aplikasi pencarian Android, setelah mulai agak bosan dengan CoC. Salah satu game pesawat tempur menarik perhatian. Star Fighters Strom Raid namanya. Cat kuning pintu toko Sipatuo di Jalan Kartini, Kotamobagu, tiba-tiba melintas. Senyum di wajah Mas si penjaga toko pun membayang. Meski Sipatuo toko orang Bugis, kami dulu terbiasa menyapanya Mas atau malah Pak Guru. Sipatuo telah menyita begitu banyak waktu kami, dibanding mata pelajaran.
Jam delapan pagi, remaja berseragam SMA sudah berbaris di depan Sipatuo. Saya salah satunya. Sedangkan yang SD dan SMP biasanya baru tiba saat jam istirahat.
"Pagi Pak Guru!" sapa kami sing a long, saat Mas membuka pintu toko.
Seperti Pak Guru yang terkesan ramah dan baik hati, Mas tersenyum dan membalas canda kami.
"Kemejanya dimasukin ke celana. Yang rapi anak-anak!" Mas memang memiliki selera humor di atas rata-rata.
Setelah menukar lembaran seribu menjadi koin, kami duduk berjejer rapi di depan kotak-kotak game. Yang doyan Raiden (game pesawat tempur) posisinya paling berdekatan dengan tempat penukaran uang, paling ujung ruangan. Sedangkan yang gemar Tekken dan Mortal Combat (game tarung) posisinya di tengah, atau berada dekat pintu. Ada game lainnya tapi saya lupa. Seingat saya (yang kurang merawat ingatan), ada lima kotak game saling berhadapan. Jadi jumlah keseluruhan kotak game ada sepuluh, tapi yang paling mendominasi adalah Tekken, ada sekira enam kotak. Saya menyebut kotak game, sebab monitor game itu didesain di dalam kotak setinggi sekira 1 meter, dengan lebar hampir 40 cm.
Nah, seminggu dua minggu di Sipatuo sejak pertama kali berkunjung, biasanya saya merogoh kocek lima sampai sepuluh ribuan. Itu dari uang jajan yang kala itu hanya tersisa tiga ribu setelah dipakai membayar mikrolet. Sedangkan sisanya, saya dapat dari 'memalak' gadis-gadis di terminal, dengan air muka keruh seperti belum makan seharian. Ha-ha-ha.
Setiap kali main, tiga koin ratusan 'ditabung' di 'celengan'. Jangan berharap 'celengan' itu bisa kita buka semaunya, sebab hanya Mas juru kuncinya. Setiap kali koin masuk ke kotak game, wajah Mas tersenyum puas. Mas jadi seperti Paman Sam yang menunjuk ke arah kami sembari berucap, "I Want You!"
Seperti pemilik modal kebanyakan, Mas memang butuh kami agar roda usahanya terus berputar. Jika 10 orang rata-rata merogoh kocek Rp5 ribu per orang, sudah Rp50 ribu yang masuk ke karungnya Mas. Sementara, gamers di Sipatuo hampir ratusan datang silih berganti, sejak dibuka pagi hingga malam hari. Hampir setengah karung koin setiap kali Mas memanen per kotak game. Di penukaran uang, koin-koin membumbung layaknya gudang penyimpanan uang milik Paman Gober. Mas juga lumayan pelit seperti Paman Gober.
Aturan dalam setiap kotak game, tiga koin ratusan untuk tiga nyawa. Sekali kita kalah, tersisa dua nyawa. Setelah dua nyawa habis, kita harus kembali memasukkan tiga koin.
Remaja, orang dewasa, anak-anak, perempuan, laki-laki, bahkan orang-orang uzur hinggap di Sipatuo. Kala malam hari, Sipatuo begitu benderang dan bising. Beberapa kali ada perselisihan, tapi akhirnya bisa didamaikan oleh Mas.
Di Sipatuo, anak-anak SD atau SMP, biasanya harus antri untuk bisa main. Sebab seragam putih abu-abu adalah penguasa Sipatuo. Mereka pun terkadang jadi mangsa para pemalak. Merampas permen bocah-bocah ingusan memang terlalu mudah. Itu berlangsung di depan toko, sebab jika terjadi di dalam toko, Mas bakal menegur.
"Jangan lagi ke sini!"
Dilarang ke sorga memang jadi ancaman yang serius. Kala itu Sipatuo memang belum ada tandingannya.
Tapi seiring waktu, ternyata usaha ini malah bukan terus berkembang. Rasa jenuh menghinggapi gamers. Selain itu, keahlian para gamers terus meningkat dan terlatih. Dari yang biasanya butuh berpuluh-puluh koin untuk bisa mencapai level terakhir. Kini hanya butuh tiga koin, level terakhir dari Raiden, Tekken, atau Mortal Combat bisa terlewati dengan mudah. Siapa yang pernah memamerkan tendangan bayangannya Hwoarang? sampai lawan di akhir turnamen menelungkup.
Misalnya kalau dalam game Raiden, saya pun sudah bisa menebak di mana letak sasaran yang bisa memberi nyawa. Cukup disasar sebuah pohon, lalu nyawa-nyawa tambahan akan bermunculan.
Namun Mas sendiri akhirnya, jikalau melihat kami yang sudah master, suka menegur dan memberi kesempatan para newbie (pemula) untuk bermain. Dengan harapan bisa meraup untung yang lebih besar, dari para newbie yang kantongnya lebih dalam. Tapi seperti kami, newbie pun akhirnya seiring waktu akan menjadi master.
Dan.... Mas tertunduk. Ada awan gelap di luar sana, selain maraknya razia para guru dan orang tua murid, pun Playstation telah terpajang di toko-toko elektronik. Dua ribu untuk sewa per jam, dirasa lebih murah. Ko' Cao' dan Kansis jadi pilihan lain bagi para gamers. Apalagi VCD Player yang suka menyetel tontonan syur menjadi bonus. Meski begitu, Sipatuo menurut penuturan teman melalui chat BBM, saat ia di bangku SD sekira tahun 2004-2005 masih tetap eksis. Tapi akhirnya, saya menemukan toko Sipatuo kembali ke bentuk dekorasi semula, pada tahun 2009. Seingat saya, Sipatuo kembali menjadi toko emas. Sekarang, entah telah menjadi toko apa.
Tapi, benar sudah, bahwa ada begitu banyak pelajaran hidup di Sipatuo. Kebersamaan pernah berada di sana. Silaturahim antara remaja-remaja dari penjuru sekolah di Kotamobagu. Meski pernah ada tengkar antar kelompok pelajar, akhirnya damai selalu tercipta, berbaur dengan tawa, teriak, dan bising Sipatuo.
Maka beruntunglah mereka yang sempat mencecap Sipatuo.
"Masa kecil dan remaja Anda sangat bahagia."
"Jangan lagi ke sini!"
Dilarang ke sorga memang jadi ancaman yang serius. Kala itu Sipatuo memang belum ada tandingannya.
Tapi seiring waktu, ternyata usaha ini malah bukan terus berkembang. Rasa jenuh menghinggapi gamers. Selain itu, keahlian para gamers terus meningkat dan terlatih. Dari yang biasanya butuh berpuluh-puluh koin untuk bisa mencapai level terakhir. Kini hanya butuh tiga koin, level terakhir dari Raiden, Tekken, atau Mortal Combat bisa terlewati dengan mudah. Siapa yang pernah memamerkan tendangan bayangannya Hwoarang? sampai lawan di akhir turnamen menelungkup.
Misalnya kalau dalam game Raiden, saya pun sudah bisa menebak di mana letak sasaran yang bisa memberi nyawa. Cukup disasar sebuah pohon, lalu nyawa-nyawa tambahan akan bermunculan.
Namun Mas sendiri akhirnya, jikalau melihat kami yang sudah master, suka menegur dan memberi kesempatan para newbie (pemula) untuk bermain. Dengan harapan bisa meraup untung yang lebih besar, dari para newbie yang kantongnya lebih dalam. Tapi seperti kami, newbie pun akhirnya seiring waktu akan menjadi master.
Dan.... Mas tertunduk. Ada awan gelap di luar sana, selain maraknya razia para guru dan orang tua murid, pun Playstation telah terpajang di toko-toko elektronik. Dua ribu untuk sewa per jam, dirasa lebih murah. Ko' Cao' dan Kansis jadi pilihan lain bagi para gamers. Apalagi VCD Player yang suka menyetel tontonan syur menjadi bonus. Meski begitu, Sipatuo menurut penuturan teman melalui chat BBM, saat ia di bangku SD sekira tahun 2004-2005 masih tetap eksis. Tapi akhirnya, saya menemukan toko Sipatuo kembali ke bentuk dekorasi semula, pada tahun 2009. Seingat saya, Sipatuo kembali menjadi toko emas. Sekarang, entah telah menjadi toko apa.
Tapi, benar sudah, bahwa ada begitu banyak pelajaran hidup di Sipatuo. Kebersamaan pernah berada di sana. Silaturahim antara remaja-remaja dari penjuru sekolah di Kotamobagu. Meski pernah ada tengkar antar kelompok pelajar, akhirnya damai selalu tercipta, berbaur dengan tawa, teriak, dan bising Sipatuo.
Maka beruntunglah mereka yang sempat mencecap Sipatuo.
"Masa kecil dan remaja Anda sangat bahagia."
Jumat, 11 September 2015
Tuhan Yang Maha Mendengkur
Kerah kemeja seragam sekolah bersandi rumput kupelototi. Namaku Idra. Dan aku baru mau berangkat sekolah, tapi kemejaku bau dan kotor. Ini hari Senin.
"Maaaaaaak!!" raungku, "kenapa kemejaku tidak dicuci?"
Tak ada sahutan dari luar sana. Rumah ini setelah kepergian ayah setahun yang lalu, jadi serupa pemakaman. Peziarah hanya kakak perempuanku beserta keluarga andalannya. Yang lain, hanya ayam-ayam peliharaan Mamak.
Aku merayap ke luar, berharap ada mahluk melata lainnya yang bisa kuajak bicara. Tak ada siapapun. Aku kembali ke kamar lalu meraih kemeja tadi, bergegas menuju kamar mandi. Suara sikat seakan memenuhi seisi kotak ubin dingin.
"Ah, andai Tuhan bisa kumintai pembantu."
Gerutuku tak lantas meretakkan plafon kamar mandi, lalu turun seorang babu dari atas langit sembari bermandi cahaya. Slow motion. Kenapa setiap doa yang acapkali seperti menyuruh Tuhan, tak pernah dikabulkan meski hanya lewat kebetulan? Tuhan sedang tidur, mungkin. Aku bersolilokui.
Usai menyikat kerah kemeja, sandi rumput sirna tersihir gelembung deterjen. Yang kubutuhkan hanya mengeringkannya. Kulempar wajahku ke jam dinding, tersisa dua puluh menit agar aku tidak telat ke sekolah. Setrika kuambil di samping meja makan, lalu memanaskannya. Setrika menempel di kerah basah yang meringis berdesis dengan asap membumbung. Seperti bernyawa saja pikirku. Sejak tadi, keringat kembali mengucur deras meski aku sudah mandi.
"Indaaanggg!!" Suara Mamak menyihir rasa yang memadukan antara lega dan kesal. Nama itu panggilan rumahku. Ah, Indang. Asal jangan rendang atau kunang-kunang.
"Sedang apa?" tanya Mamak menggelembungkan rasa kesalku makin besar.
"Sedang menelepon," sembari membayangkan setrika ini kutempelkan ke kupingku, "sedang menyetrika, Mak. Kerah kemeja ini ditumbuhi rumput hitam seperti jarum pengukur gempa."
"Aduh, benar, Mak lupa mencucinya kemarin. Kakakmu menelepon minta meresep bebek panggang di rumahnya." Apologi dengan dalil yang begitu sakti tak bisa dibantahi. Diracik dengan wajah Mamak yang tiba-tiba bola matanya menghitam, berkaca-kaca, dan bergelembung di sudut mata. Mamak sedang berakting lagi. Untuk kesekian kalinya.
"Sudahlah, lain kali biar Indang yang mencucinya. Kalau Mak bilang, Indang tak berharap lagi. Tapi, memang seharusnya Indang tak berharap." Bersamaan dengan keringnya kerah, aku pun bergegas ke kamar.
Terlambat. Pintu kelas ditutup rapat. Aku mengetuk sekali, dua kali, dan....
"Masuk!"
Suara Pak Jun terdengar tak berkawan dengan alasan. Nadanya begitu keras. Kalau boleh, kerasnya tadi itu disusul deretan pagar tanda seru, dengan tanda kutip geram.
"Kamu terlambat lagi Idra Nadim!"
"Maaf Pak, tadi ban motorku bocor di tengah jalan." Alasan klasik yang terlampau hambar dilempar. Bahkan jika dilempar ke anjing sekalipun, pasti anjing enggan mengendus lagi, hanya menggigit sebab tahu yang dilempar itu tulang plastik. Tapi mau alasan apalagi, seribu alasan berbeda, tetap saja aku terlambat. Alasan seringkali tidak mampu merubah penilaian. Apalagi penilaian Pak Jun si guru pelajaran Agama Islam.
"Kamu dihukum, pergi ke musola lalu catat 99 Asmaul Husna di bukumu. Usai mata pelajaran akan kuperiksa!"
Hampir sejam aku di musola, pun runut 99 nama Allah di lembar kertas sedari tadi usai. Pekerjaan ini memang mudah, aku tinggal browsing di internet. Namun batang hidung Pak Jun yang pesek itu tak kunjung kelihatan.
Hingga lonceng berdentang, Pak Jun tak datang. Aku memang sengaja dilupakan. Itu adalah hukuman terberat. Sengaja dilupakan.
"Sialan!"
Di rumah Tuhan nan mungil yang hanya bisa menampung 40 jamaah, aku tercenung setelah mengumpat. Dalam hati aku bertanya, mungkinkah Tuhan menghukum hambanya yang kerap terlambat salat?
"Idra, ayo pulang!" Panggilan itu menyayat lamunanku. Gilang tiba tanpa derak suara sepatu, seperti hantu. Atau memang aku yang tenggelam di lamun terlalu dalam.
"Aku lihat, ban motormu tak kempes."
"Ah, Gilang, kamu memang benda mati di ruang kelas. Seperti mistar."
"Maksudmu?"
"Itu yang kumaksud."
"Aku tidak mengerti maksudmu?" Alis tebal Gilang saling merangkul.
"Benda mati!"
Kemudian kejar-kejaran seperti Tom and Jerry terjadi. Untuk ukuran remaja yang duduk di bangku kelas dua SMA, Gilang berhasil bertahan setelah angkatannya sekarang sudah ngampus. Tapi, hanya ia satu-satunya sahabat yang pernah menolongku saat dikerubuti kakak kelas. Tubuhnya tinggi besar dan berkumis. Gilang masih keturunan Arab. Warisan bulu di sekujur tubuhnya cukup menjelaskan.
"Oh yah, Pak Jun kemana tadi? Kenapa ia tak datang ke musola?" Tanyaku penasaran sembari mengelap sadel motor.
"Istrinya menelepon, anaknya sakit."
"Sialan. Aku berpikir yang bukan-bukan tadi. Meski Pak Jun terkadang kejam, tapi di balik itu, ia memang jahanam!"
Gigi Gilang berderet tak beraturan saat tertawa.
"Kamu yang jahanam!"
Setelah itu sepeda motor kami berpisah di depan gerbang. Aku tak bergegas pulang, lalu mampir di toko buku Papirus yang biasa kusinggahi. Di rumah, sudah puluhan buku yang kujajani.
"Eh, Idra," sapa Sandra, perempuan berhijab penjaga toko. Usianya di atas 30, tapi terlihat masih 20an. Mungkin karena kulitnya putih, dibumbuhi dengan komposisi senyum yang acapkali tersimpul dan lesung pipit bak sumur di belakang rumahku.
"Ada stok buku baru?"
"Tadi ada, judulnya Iblis Menggugat Tuhan, sama.... Mmm... Sejarah Tuhan."
"Waduh, yang tuhan-tuhan gitu sudah banyak kubacai. Apalagi tadi barusan mengeja 99 nama Tuhan. Capek. Novel-novel atau kumpulan cerpen ada?"
"Iblis Menggugat Tuhan itu novel, tapi dari resensi kelihatannya ringan. Untuk usia remaja sepertimu mungkin bisa. Penuh tanya." lantas Sandra terkekeh.
"Kayak jual miras aja."
"Tapi buku memang punya standar pengetahuan. Tidak boleh dipaksakan. Dan IMT itu mungkin cocok denganmu."
Aku menuju rak di mana novel itu dijejerkan setelah bibir Sandra menyungging. Mataku tertuju pada sampul kuning. Di pinggiran sedikit jelaga hitam dan cokelat terpoles. Pria plontos kekar memunggungi dengan dua lengan mengepal mengacung. Seperti menantang. Nama pengarang tertato di punggung hitam pria tersebut. Shawni. Tiga lembar mirip papirus saling menindih di sampul bawah. The Madness of God.
Aku tertarik seperti ada kutub magnet setelah membaca sepenggal kalimat. "Kau bilang Adam berdosa gara-gara hasutanku? Kalau begitu, atas hasutan siapa aku melakukan dosa?"
Aih, buku ini pasti keren. Bisa menjadi referensi untuk menghujani Pak Jun dengan pertanyaan-pertanyaan. Sebenarnya, di kelas, Pak Jun acapkali terdiam lalu marah saat pertanyaan-pertanyaanku terlontas seputar agama. Itulah satu dari dua alasan kenapa Pak Jun tidak menyukaiku. Terlambat dan terlalu banyak bertanya. Padahal siswa kan, seharusnya begitu. Seram jika mengingat tampang Pak Jun plus dahi hitamnya.
"Jadi diambil?" Tanya Sandra meletaskan gelembung lamunanku.
"Ngutang dulu yah. Celengan bawah kasurku belum membumbung."
"Hmm.... Okelah." Disusul bibirnya tertarik ke kiri.
Sesampai di pemakaman, eh rumah, hanya hening yang kutemui. Mamak seharusnya sudah pulang dari kantor. Kesempatan. Aku menyelinap ke kamar Mamak, lalu bagai ninja Hatori. Seluruh tempat penyimpanan uang dari; laci, gelantungan tas, bawah bantal dan kasur, sampai akhirnya dua lembar lima puluh ribu kutemukan terselip di bawah kain pembersih kacamata. Di dalam kotak mungil itu, aku pernah menemukan tiga lembar ratusan ribu. Tapi hanya seratus ribu yang kuambil. Sesuai kebutuhan, buat bayar buku. Ada kredo yang kuusung selama ini; 'Daripada nyuri buku, mending nyuri uang ibu'. Maaf bang Chairil Anwar, aku tak lihai mencuri buku, apalagi penjaga tokonya cantik dan baik hati.
"Indang kamu sudah pulang? Pintu rumah tidak ditutup kembali. Kalau maling masuk, gimana."
Berjinjit ringan bagai pipit aku berlari keluar kamar Mamak. Kusahuti setelah tiba di dapur.
"Iya, Indang lapar jadi langsung ke dapur Mak." Jurus itu yang kupelajari selama ini pada Mamak. Mengelak.
Masih berselempang tas sekolah, aku menemui Mamak.
"Dari mana saja Mak?"
"Biasa, arisan Senin. Ditambah belum gajian, eh apes, Mak Rojiun yang dapat. Besok kalau lapar, makan di rumah saja, uang Mak tinggal beli lauk esok. Beras juga habis."
Kotak kacamata melintas begitu saja di hadapanku. Mamak melangkah ke kamar tidur. Tak lama ia pun mendengkur.
Langit di luar sana memerah. Layung senja mulai diterkam jelaga. Lalu kemudian menghitam. Di bawah cahaya bohlam aku membacai malam. Di beranda posisi duduk melantai dan menekuri buku yang, tergolek di atas paha kiri adalah yang ternyaman. Tapi hasrat membaca tiba-tiba sirna, sebab hanya kotak kacamata kembali berkelebat. Mamak belum terbangun. Kesempatan jadi Hatori.
Masih serupa pipit tanpa cicit, aku menyelinap ke kamar Mamak. Masih gelap. Dengkuran masih bergema di seisi ruangan. Di atas meja rias jemariku merayap, merabai kotak kacamata. Sebuah botol kecil kaca yang entah apa jatuh pecah di lantai. Sialan.
"Indaanngg!!"
Siluet tubuh Mamak bergerak menuju sudut kamar. Lampu berpijar bersama tatap nanar.
"Mak."
Mata nanar itu merangkak tertuju ke dua lembar uang di genggamanku.
"Indang! Tak perlu begini. Kalau perlu minta! Selama ini Mamak tahu saat mulai kehilangan uang. Mak sebenarnya mau Indang jujur, minta Ndang, minta!"
Tak pernah kulihat muka Mamak merah pertanda marah sekaligus bulir-bulir air mata bergantung di sudut matanya. Tak terbendung, Mamak menangis. Ini bukan akting.
"Mak, Indang tak bermaksud.... Indang mau mengem...."
"Keluaaaarrrrr!!!" Teriak itu menggelegar. Tak pernah hatiku bergetar seperti ini. Aku lari keluar kamar setelah melemparkan uang kusut ke atas ranjang.
Motor kubiarkan terparkir, sama seperti buku yang menunggu di lantai beranda. Aku menuju kedai kopi yang tak jauh letaknya, hanya tiga kali menyudahi gang. Kantong kurabai, ponsel tak ada, uang pun nihil. Sebuah pipa besar di samping jembatan dekat kedai kopi, menjadi kursi ternyamanku sekarang. Sialan! Gara-gara buku itu aku nekat lagi mencuri uang.
Kerikil sebesar kelereng mengenai punggungku. Aku mencari-cari dari mana lemparan maha dahsyat yang mendebur punggungku. Aku memicingkan mata, di jejeran payung-payung kedai kopi, nampak sosok bertubuh besar melambaikan tangannya. Seketika sosok itu berubah menjadi peri mungil, bersayap, bertongkat, lalu mengabulkan dahagaku akan kopi. Gilang. Hampir empat puluh meter jauhnya, tapi kerikil itu sampai juga.
"Itu kerikil ketujuh," terangnya dengan raut muka heran, "ngapain kamu di sana?"
"Ah, tadi ada sedikit musibah di rumah."
"Namanya musibah itu tidak sedikit."
"Emang harus tsunami Aceh, gempa Jogja, gunung Krakatau meletus, baru dinamai musibah?" debat antara aku dan Gilang dimulai lagi, "berkawan denganmu saja itu adalah musibah!"
Bantah-bantahan terulang, meski akhirnya tawa menjulang. Kedua sahabat kental ini larut dalam buih-buih kopi susu dan cerita bersusun-susun. Tiba-tiba, Gilang menatapku seraya membenamkan pandang begitu dalam. Aku jelas mulai risih. Tapi Gilang terus terpaku. Baginya, aku seperti sebuah lukisan yang sedang tidak dimengerti lalu coba dimengertinya. Wajah kotakku, rambut cepak, dan tubuh yang agak gendutan, ditambah bola mata cokelatku jadi serupa lukisan pemandangan yang tak tepermanai. Aku jadi sahabat teruniknya.
"Gilang! Kamu kenapa?"
"Eh, nggak, aku pulang dulu ya."
Setelah membayar, Gilang pergi yang kali ini meninggalkan coretan kerut di dahiku. Aku pun melangkah pulang dengan harapan Mamak sudah kembali mendengkur. Sesampai di depan rumah, lampu dapur menyala. Aku berjalan ke samping kanan rumah menuju jendela dapur. Kudapati Mamak tengah merokok. Hampir sebulan Mamak berhenti merokok, setelah batuk hebat membikin bising di seisi rumah. Bising yang ia sendiri pun benci lalu memutuskan membuang dua bungkus rokok ke tong sampah. Mataku menemukan tong sampah non organik terbuka di samping pintu dapur. Beberapa sampah plastik berhamburan.
Aku berjalan menuju beranda untuk memastikan bukuku masih di lantai. Tak ada buku. Gagang pintu kuputar searah jarum jam, kubukai pelan-pelan agar Mamak tak menyadari kehadiranku. Bagaimana pun, gengsi sebagai seorang anak remaja yang diusir keluar rumah masih secuil ada. Bukuku kutemukan berada di atas kasur. Aku kemudian tertidur tanpa kuketahui apakah aku ini pendengkur.
"Indang bangun, kamu harus ke sekolah. Seragammu sudah Mak cuci dan setrika."
Suara itu terdengar begitu bijaksana. Mamak seperti balita yang terlalu cepat lupa dengan tangis.
"Iya Mak." Aku menyahut selembut mungkin. Aku memang yang salah meski telah berniat mengembalikan uang itu.
Berangkat ke sekolah, aku memutuskan ke toko buku dulu. Meski aku yakin telat, tapi niatku tetap ke toko buku untuk mengembalikan buku. Aku paling takut berhutang lebih dari sehari.
Beruntung Sandra memang pekerja yang rajin. Pagi adalah pusaran rejeki menurutnya, untuk itulah pukul tujuh ia sudah membuka lebar-lebar pintu toko.
"Hai."
"Hei!"
"Sepagi ini?"
"Iya, aku mau mengembalikan buku ini."
"Loh, kan, bisa dibayar kapan-kapan. Kamunya sih yang terlalu cepat bayar hutang."
"Nggak, memang aku jadi tidak berminat membacanya."
"Itu buku bagus loh."
"Biarlah."
Buku Iblis yang penuh pertanyaan kritis itu pun kembali ke rak. Sandra terus menatapku heran. Setelah pamit aku memacu motor ke sekolah. Sepanjang jalan, bayang-bayang iblis yang mempertanyakan statusnya di mata Tuhan terus menggangu. Tapi pikirku, sudahlah, nanti kalau punya uang aku akan membelinya. Atau mungkin mencurinya. Sekarang, bang Chairil benar, mending mencuri buku daripada mencuri uang.
Setelah membujuk Pak Idun si satpam yang meski tampangnya seram, namun ada hati ibu peri dari balik otot-ototnya, aku diizinkan masuk.
"Masuk sana!"
Aku berlari menuju kelas berharap mata pelajaran Bahasa Indonesia baru dimulai. Itu pelajaran kesukaanku.
"Braakk!!!"
Buku-buku berhamburan. Aku terpental dan pot-pot bunga kuseruduk. Sedangkan orang yang bertabrakan denganku.... Sialan! Pak Jun!
"Anak kurang ajar!"
Pak Jun sambil mengurut dengkul terus mengumpat.
"Maaf Pak."
Tiga hari aku berdiam diri di rumah. Aku diskors hanya karena tabrakan dengan guru. Mana ada aturan hanya karena tabrakan, terus tidak harus mengikuti pelajaran selama tiga hari. Jumat baru aku bisa masuk sekolah lagi. Selama diskors, tak ada buku yang bisa kubaca, maka kuhabiskan dengan menonton film di laptop. Gilang sesekali ke rumah menawarkan film-film di laptopnya yang didominasi film Bollywood.
Mamak sepulang kerja menuju kamar tidur usai memberiku sebungkus nasi goreng. Berminyak tapi enak. Sebelum Mamak masuk ke kamar, aku iseng bertanya.
"Mak, menurut Mak, manusia itu akan benar-benar bertemu Tuhan jika mati nanti?
"Iyalah."
"Jadi bapak sudah bertemu Tuhan?"
"Pasti sudah."
"Lalu jika seperti kita ini yang masih hidup, akan ketemu Tuhan?"
"Indang, memang kita nggak ketemu Tuhan kayak kamu tabrakan sama Pak Jun itu. Jika seperti dua sisi mata koin, Tuhan dan manusia itu satu, bersama tapi tak saling pandang. Tapi jika melebur bersama, tak ada lagi dua sisi itu. Seperti koin logam yang dilebur. Nyatu Ndang."
Mendengar itu, aku seperti menemukan beribu buku ditutur Mamak. Setelah mengusap rambutku, Mamak masuk ke kamar. Tak lama suara dengkuran terdengar. Mamak memang selalu cepat tertidur. Andai saja tidur Mamak bisa kubeli. Aku melangkah menuju pintu kamar. Kupandangi wajah lelah Mamak. Aku melihat Tuhan yang sedang tidur.
Jumat aku tidak telat. Lalu hari bergulir begitu cepat. Senin kembali lagi, Monday itu Monster Day. Ah, Sabtu dan Minggu, weekend yang hanya kuhabiskan di rumah saja. Kini saatnya menekuri pelajaran Agama Islam. Pak Jun. Dan.... Terlambat.
"Kamu setelah bersemedi selama tiga hari di rumah, plus ditambah libur dua hari bukannya merenungi perbuatanmu!"
"Sana ke musola, catat kembali 99 Asmaul Husna dan artinya!"
Secarik kertas diserahkan Pak Jun. Gontai aku melangkah ke musola. Semilir angin mengusap wajahku. Setelah menjelajahi internet lagi, 99 nama Allah kutulisi satu per satu hingga nama terakhir. Setelah angka 99 aku menggenapinya 100. Al-Mamak. Yang artinya Tuhan Yang Maha Mendengkur. Pak Jun menggugat Indang.
"Maaaaaaak!!" raungku, "kenapa kemejaku tidak dicuci?"
Tak ada sahutan dari luar sana. Rumah ini setelah kepergian ayah setahun yang lalu, jadi serupa pemakaman. Peziarah hanya kakak perempuanku beserta keluarga andalannya. Yang lain, hanya ayam-ayam peliharaan Mamak.
Aku merayap ke luar, berharap ada mahluk melata lainnya yang bisa kuajak bicara. Tak ada siapapun. Aku kembali ke kamar lalu meraih kemeja tadi, bergegas menuju kamar mandi. Suara sikat seakan memenuhi seisi kotak ubin dingin.
"Ah, andai Tuhan bisa kumintai pembantu."
Gerutuku tak lantas meretakkan plafon kamar mandi, lalu turun seorang babu dari atas langit sembari bermandi cahaya. Slow motion. Kenapa setiap doa yang acapkali seperti menyuruh Tuhan, tak pernah dikabulkan meski hanya lewat kebetulan? Tuhan sedang tidur, mungkin. Aku bersolilokui.
Usai menyikat kerah kemeja, sandi rumput sirna tersihir gelembung deterjen. Yang kubutuhkan hanya mengeringkannya. Kulempar wajahku ke jam dinding, tersisa dua puluh menit agar aku tidak telat ke sekolah. Setrika kuambil di samping meja makan, lalu memanaskannya. Setrika menempel di kerah basah yang meringis berdesis dengan asap membumbung. Seperti bernyawa saja pikirku. Sejak tadi, keringat kembali mengucur deras meski aku sudah mandi.
"Indaaanggg!!" Suara Mamak menyihir rasa yang memadukan antara lega dan kesal. Nama itu panggilan rumahku. Ah, Indang. Asal jangan rendang atau kunang-kunang.
"Sedang apa?" tanya Mamak menggelembungkan rasa kesalku makin besar.
"Sedang menelepon," sembari membayangkan setrika ini kutempelkan ke kupingku, "sedang menyetrika, Mak. Kerah kemeja ini ditumbuhi rumput hitam seperti jarum pengukur gempa."
"Aduh, benar, Mak lupa mencucinya kemarin. Kakakmu menelepon minta meresep bebek panggang di rumahnya." Apologi dengan dalil yang begitu sakti tak bisa dibantahi. Diracik dengan wajah Mamak yang tiba-tiba bola matanya menghitam, berkaca-kaca, dan bergelembung di sudut mata. Mamak sedang berakting lagi. Untuk kesekian kalinya.
"Sudahlah, lain kali biar Indang yang mencucinya. Kalau Mak bilang, Indang tak berharap lagi. Tapi, memang seharusnya Indang tak berharap." Bersamaan dengan keringnya kerah, aku pun bergegas ke kamar.
Terlambat. Pintu kelas ditutup rapat. Aku mengetuk sekali, dua kali, dan....
"Masuk!"
Suara Pak Jun terdengar tak berkawan dengan alasan. Nadanya begitu keras. Kalau boleh, kerasnya tadi itu disusul deretan pagar tanda seru, dengan tanda kutip geram.
"Kamu terlambat lagi Idra Nadim!"
"Maaf Pak, tadi ban motorku bocor di tengah jalan." Alasan klasik yang terlampau hambar dilempar. Bahkan jika dilempar ke anjing sekalipun, pasti anjing enggan mengendus lagi, hanya menggigit sebab tahu yang dilempar itu tulang plastik. Tapi mau alasan apalagi, seribu alasan berbeda, tetap saja aku terlambat. Alasan seringkali tidak mampu merubah penilaian. Apalagi penilaian Pak Jun si guru pelajaran Agama Islam.
"Kamu dihukum, pergi ke musola lalu catat 99 Asmaul Husna di bukumu. Usai mata pelajaran akan kuperiksa!"
Hampir sejam aku di musola, pun runut 99 nama Allah di lembar kertas sedari tadi usai. Pekerjaan ini memang mudah, aku tinggal browsing di internet. Namun batang hidung Pak Jun yang pesek itu tak kunjung kelihatan.
Hingga lonceng berdentang, Pak Jun tak datang. Aku memang sengaja dilupakan. Itu adalah hukuman terberat. Sengaja dilupakan.
"Sialan!"
Di rumah Tuhan nan mungil yang hanya bisa menampung 40 jamaah, aku tercenung setelah mengumpat. Dalam hati aku bertanya, mungkinkah Tuhan menghukum hambanya yang kerap terlambat salat?
"Idra, ayo pulang!" Panggilan itu menyayat lamunanku. Gilang tiba tanpa derak suara sepatu, seperti hantu. Atau memang aku yang tenggelam di lamun terlalu dalam.
"Aku lihat, ban motormu tak kempes."
"Ah, Gilang, kamu memang benda mati di ruang kelas. Seperti mistar."
"Maksudmu?"
"Itu yang kumaksud."
"Aku tidak mengerti maksudmu?" Alis tebal Gilang saling merangkul.
"Benda mati!"
Kemudian kejar-kejaran seperti Tom and Jerry terjadi. Untuk ukuran remaja yang duduk di bangku kelas dua SMA, Gilang berhasil bertahan setelah angkatannya sekarang sudah ngampus. Tapi, hanya ia satu-satunya sahabat yang pernah menolongku saat dikerubuti kakak kelas. Tubuhnya tinggi besar dan berkumis. Gilang masih keturunan Arab. Warisan bulu di sekujur tubuhnya cukup menjelaskan.
"Oh yah, Pak Jun kemana tadi? Kenapa ia tak datang ke musola?" Tanyaku penasaran sembari mengelap sadel motor.
"Istrinya menelepon, anaknya sakit."
"Sialan. Aku berpikir yang bukan-bukan tadi. Meski Pak Jun terkadang kejam, tapi di balik itu, ia memang jahanam!"
Gigi Gilang berderet tak beraturan saat tertawa.
"Kamu yang jahanam!"
Setelah itu sepeda motor kami berpisah di depan gerbang. Aku tak bergegas pulang, lalu mampir di toko buku Papirus yang biasa kusinggahi. Di rumah, sudah puluhan buku yang kujajani.
"Eh, Idra," sapa Sandra, perempuan berhijab penjaga toko. Usianya di atas 30, tapi terlihat masih 20an. Mungkin karena kulitnya putih, dibumbuhi dengan komposisi senyum yang acapkali tersimpul dan lesung pipit bak sumur di belakang rumahku.
"Ada stok buku baru?"
"Tadi ada, judulnya Iblis Menggugat Tuhan, sama.... Mmm... Sejarah Tuhan."
"Waduh, yang tuhan-tuhan gitu sudah banyak kubacai. Apalagi tadi barusan mengeja 99 nama Tuhan. Capek. Novel-novel atau kumpulan cerpen ada?"
"Iblis Menggugat Tuhan itu novel, tapi dari resensi kelihatannya ringan. Untuk usia remaja sepertimu mungkin bisa. Penuh tanya." lantas Sandra terkekeh.
"Kayak jual miras aja."
"Tapi buku memang punya standar pengetahuan. Tidak boleh dipaksakan. Dan IMT itu mungkin cocok denganmu."
Aku menuju rak di mana novel itu dijejerkan setelah bibir Sandra menyungging. Mataku tertuju pada sampul kuning. Di pinggiran sedikit jelaga hitam dan cokelat terpoles. Pria plontos kekar memunggungi dengan dua lengan mengepal mengacung. Seperti menantang. Nama pengarang tertato di punggung hitam pria tersebut. Shawni. Tiga lembar mirip papirus saling menindih di sampul bawah. The Madness of God.
Aku tertarik seperti ada kutub magnet setelah membaca sepenggal kalimat. "Kau bilang Adam berdosa gara-gara hasutanku? Kalau begitu, atas hasutan siapa aku melakukan dosa?"
Aih, buku ini pasti keren. Bisa menjadi referensi untuk menghujani Pak Jun dengan pertanyaan-pertanyaan. Sebenarnya, di kelas, Pak Jun acapkali terdiam lalu marah saat pertanyaan-pertanyaanku terlontas seputar agama. Itulah satu dari dua alasan kenapa Pak Jun tidak menyukaiku. Terlambat dan terlalu banyak bertanya. Padahal siswa kan, seharusnya begitu. Seram jika mengingat tampang Pak Jun plus dahi hitamnya.
"Jadi diambil?" Tanya Sandra meletaskan gelembung lamunanku.
"Ngutang dulu yah. Celengan bawah kasurku belum membumbung."
"Hmm.... Okelah." Disusul bibirnya tertarik ke kiri.
Sesampai di pemakaman, eh rumah, hanya hening yang kutemui. Mamak seharusnya sudah pulang dari kantor. Kesempatan. Aku menyelinap ke kamar Mamak, lalu bagai ninja Hatori. Seluruh tempat penyimpanan uang dari; laci, gelantungan tas, bawah bantal dan kasur, sampai akhirnya dua lembar lima puluh ribu kutemukan terselip di bawah kain pembersih kacamata. Di dalam kotak mungil itu, aku pernah menemukan tiga lembar ratusan ribu. Tapi hanya seratus ribu yang kuambil. Sesuai kebutuhan, buat bayar buku. Ada kredo yang kuusung selama ini; 'Daripada nyuri buku, mending nyuri uang ibu'. Maaf bang Chairil Anwar, aku tak lihai mencuri buku, apalagi penjaga tokonya cantik dan baik hati.
"Indang kamu sudah pulang? Pintu rumah tidak ditutup kembali. Kalau maling masuk, gimana."
Berjinjit ringan bagai pipit aku berlari keluar kamar Mamak. Kusahuti setelah tiba di dapur.
"Iya, Indang lapar jadi langsung ke dapur Mak." Jurus itu yang kupelajari selama ini pada Mamak. Mengelak.
Masih berselempang tas sekolah, aku menemui Mamak.
"Dari mana saja Mak?"
"Biasa, arisan Senin. Ditambah belum gajian, eh apes, Mak Rojiun yang dapat. Besok kalau lapar, makan di rumah saja, uang Mak tinggal beli lauk esok. Beras juga habis."
Kotak kacamata melintas begitu saja di hadapanku. Mamak melangkah ke kamar tidur. Tak lama ia pun mendengkur.
Langit di luar sana memerah. Layung senja mulai diterkam jelaga. Lalu kemudian menghitam. Di bawah cahaya bohlam aku membacai malam. Di beranda posisi duduk melantai dan menekuri buku yang, tergolek di atas paha kiri adalah yang ternyaman. Tapi hasrat membaca tiba-tiba sirna, sebab hanya kotak kacamata kembali berkelebat. Mamak belum terbangun. Kesempatan jadi Hatori.
Masih serupa pipit tanpa cicit, aku menyelinap ke kamar Mamak. Masih gelap. Dengkuran masih bergema di seisi ruangan. Di atas meja rias jemariku merayap, merabai kotak kacamata. Sebuah botol kecil kaca yang entah apa jatuh pecah di lantai. Sialan.
"Indaanngg!!"
Siluet tubuh Mamak bergerak menuju sudut kamar. Lampu berpijar bersama tatap nanar.
"Mak."
Mata nanar itu merangkak tertuju ke dua lembar uang di genggamanku.
"Indang! Tak perlu begini. Kalau perlu minta! Selama ini Mamak tahu saat mulai kehilangan uang. Mak sebenarnya mau Indang jujur, minta Ndang, minta!"
Tak pernah kulihat muka Mamak merah pertanda marah sekaligus bulir-bulir air mata bergantung di sudut matanya. Tak terbendung, Mamak menangis. Ini bukan akting.
"Mak, Indang tak bermaksud.... Indang mau mengem...."
"Keluaaaarrrrr!!!" Teriak itu menggelegar. Tak pernah hatiku bergetar seperti ini. Aku lari keluar kamar setelah melemparkan uang kusut ke atas ranjang.
Motor kubiarkan terparkir, sama seperti buku yang menunggu di lantai beranda. Aku menuju kedai kopi yang tak jauh letaknya, hanya tiga kali menyudahi gang. Kantong kurabai, ponsel tak ada, uang pun nihil. Sebuah pipa besar di samping jembatan dekat kedai kopi, menjadi kursi ternyamanku sekarang. Sialan! Gara-gara buku itu aku nekat lagi mencuri uang.
Kerikil sebesar kelereng mengenai punggungku. Aku mencari-cari dari mana lemparan maha dahsyat yang mendebur punggungku. Aku memicingkan mata, di jejeran payung-payung kedai kopi, nampak sosok bertubuh besar melambaikan tangannya. Seketika sosok itu berubah menjadi peri mungil, bersayap, bertongkat, lalu mengabulkan dahagaku akan kopi. Gilang. Hampir empat puluh meter jauhnya, tapi kerikil itu sampai juga.
"Itu kerikil ketujuh," terangnya dengan raut muka heran, "ngapain kamu di sana?"
"Ah, tadi ada sedikit musibah di rumah."
"Namanya musibah itu tidak sedikit."
"Emang harus tsunami Aceh, gempa Jogja, gunung Krakatau meletus, baru dinamai musibah?" debat antara aku dan Gilang dimulai lagi, "berkawan denganmu saja itu adalah musibah!"
Bantah-bantahan terulang, meski akhirnya tawa menjulang. Kedua sahabat kental ini larut dalam buih-buih kopi susu dan cerita bersusun-susun. Tiba-tiba, Gilang menatapku seraya membenamkan pandang begitu dalam. Aku jelas mulai risih. Tapi Gilang terus terpaku. Baginya, aku seperti sebuah lukisan yang sedang tidak dimengerti lalu coba dimengertinya. Wajah kotakku, rambut cepak, dan tubuh yang agak gendutan, ditambah bola mata cokelatku jadi serupa lukisan pemandangan yang tak tepermanai. Aku jadi sahabat teruniknya.
"Gilang! Kamu kenapa?"
"Eh, nggak, aku pulang dulu ya."
Setelah membayar, Gilang pergi yang kali ini meninggalkan coretan kerut di dahiku. Aku pun melangkah pulang dengan harapan Mamak sudah kembali mendengkur. Sesampai di depan rumah, lampu dapur menyala. Aku berjalan ke samping kanan rumah menuju jendela dapur. Kudapati Mamak tengah merokok. Hampir sebulan Mamak berhenti merokok, setelah batuk hebat membikin bising di seisi rumah. Bising yang ia sendiri pun benci lalu memutuskan membuang dua bungkus rokok ke tong sampah. Mataku menemukan tong sampah non organik terbuka di samping pintu dapur. Beberapa sampah plastik berhamburan.
Aku berjalan menuju beranda untuk memastikan bukuku masih di lantai. Tak ada buku. Gagang pintu kuputar searah jarum jam, kubukai pelan-pelan agar Mamak tak menyadari kehadiranku. Bagaimana pun, gengsi sebagai seorang anak remaja yang diusir keluar rumah masih secuil ada. Bukuku kutemukan berada di atas kasur. Aku kemudian tertidur tanpa kuketahui apakah aku ini pendengkur.
"Indang bangun, kamu harus ke sekolah. Seragammu sudah Mak cuci dan setrika."
Suara itu terdengar begitu bijaksana. Mamak seperti balita yang terlalu cepat lupa dengan tangis.
"Iya Mak." Aku menyahut selembut mungkin. Aku memang yang salah meski telah berniat mengembalikan uang itu.
Berangkat ke sekolah, aku memutuskan ke toko buku dulu. Meski aku yakin telat, tapi niatku tetap ke toko buku untuk mengembalikan buku. Aku paling takut berhutang lebih dari sehari.
Beruntung Sandra memang pekerja yang rajin. Pagi adalah pusaran rejeki menurutnya, untuk itulah pukul tujuh ia sudah membuka lebar-lebar pintu toko.
"Hai."
"Hei!"
"Sepagi ini?"
"Iya, aku mau mengembalikan buku ini."
"Loh, kan, bisa dibayar kapan-kapan. Kamunya sih yang terlalu cepat bayar hutang."
"Nggak, memang aku jadi tidak berminat membacanya."
"Itu buku bagus loh."
"Biarlah."
Buku Iblis yang penuh pertanyaan kritis itu pun kembali ke rak. Sandra terus menatapku heran. Setelah pamit aku memacu motor ke sekolah. Sepanjang jalan, bayang-bayang iblis yang mempertanyakan statusnya di mata Tuhan terus menggangu. Tapi pikirku, sudahlah, nanti kalau punya uang aku akan membelinya. Atau mungkin mencurinya. Sekarang, bang Chairil benar, mending mencuri buku daripada mencuri uang.
Setelah membujuk Pak Idun si satpam yang meski tampangnya seram, namun ada hati ibu peri dari balik otot-ototnya, aku diizinkan masuk.
"Masuk sana!"
Aku berlari menuju kelas berharap mata pelajaran Bahasa Indonesia baru dimulai. Itu pelajaran kesukaanku.
"Braakk!!!"
Buku-buku berhamburan. Aku terpental dan pot-pot bunga kuseruduk. Sedangkan orang yang bertabrakan denganku.... Sialan! Pak Jun!
"Anak kurang ajar!"
Pak Jun sambil mengurut dengkul terus mengumpat.
"Maaf Pak."
Tiga hari aku berdiam diri di rumah. Aku diskors hanya karena tabrakan dengan guru. Mana ada aturan hanya karena tabrakan, terus tidak harus mengikuti pelajaran selama tiga hari. Jumat baru aku bisa masuk sekolah lagi. Selama diskors, tak ada buku yang bisa kubaca, maka kuhabiskan dengan menonton film di laptop. Gilang sesekali ke rumah menawarkan film-film di laptopnya yang didominasi film Bollywood.
Mamak sepulang kerja menuju kamar tidur usai memberiku sebungkus nasi goreng. Berminyak tapi enak. Sebelum Mamak masuk ke kamar, aku iseng bertanya.
"Mak, menurut Mak, manusia itu akan benar-benar bertemu Tuhan jika mati nanti?
"Iyalah."
"Jadi bapak sudah bertemu Tuhan?"
"Pasti sudah."
"Lalu jika seperti kita ini yang masih hidup, akan ketemu Tuhan?"
"Indang, memang kita nggak ketemu Tuhan kayak kamu tabrakan sama Pak Jun itu. Jika seperti dua sisi mata koin, Tuhan dan manusia itu satu, bersama tapi tak saling pandang. Tapi jika melebur bersama, tak ada lagi dua sisi itu. Seperti koin logam yang dilebur. Nyatu Ndang."
Mendengar itu, aku seperti menemukan beribu buku ditutur Mamak. Setelah mengusap rambutku, Mamak masuk ke kamar. Tak lama suara dengkuran terdengar. Mamak memang selalu cepat tertidur. Andai saja tidur Mamak bisa kubeli. Aku melangkah menuju pintu kamar. Kupandangi wajah lelah Mamak. Aku melihat Tuhan yang sedang tidur.
Jumat aku tidak telat. Lalu hari bergulir begitu cepat. Senin kembali lagi, Monday itu Monster Day. Ah, Sabtu dan Minggu, weekend yang hanya kuhabiskan di rumah saja. Kini saatnya menekuri pelajaran Agama Islam. Pak Jun. Dan.... Terlambat.
"Kamu setelah bersemedi selama tiga hari di rumah, plus ditambah libur dua hari bukannya merenungi perbuatanmu!"
"Sana ke musola, catat kembali 99 Asmaul Husna dan artinya!"
Secarik kertas diserahkan Pak Jun. Gontai aku melangkah ke musola. Semilir angin mengusap wajahku. Setelah menjelajahi internet lagi, 99 nama Allah kutulisi satu per satu hingga nama terakhir. Setelah angka 99 aku menggenapinya 100. Al-Mamak. Yang artinya Tuhan Yang Maha Mendengkur. Pak Jun menggugat Indang.
Selasa, 08 September 2015
Osney
Namanya Osney, baru saja saya namai tadi. Saya sebenarnya jarang menamai hewan peliharaan atau ternak, sama seperti kucing, anjing, bebek, dan kambing yang pernah hidup di pekarangan dan rumah.
Osney ini jenis ayam yang ternyata setelah saya telusuri di wikipedia, tergolong endemik. Osney adalah ayam ketawa yang mulanya berkembang biak di kabupaten Sindrap, Sulawesi Selatan.
Lewat chat BBM, seorang kawan bernama Sandri berkata, "Sudah tepat kamu memelihara ayam itu." Usai ia memindai foto dan status saya di recent updates.
Saya tanyai balik, "Kenapa?"
"Coba kamu tengok, ayam itu menertawakan segala kegilaan di sekitarnya," balasnya.
"Ha-ha-ha. Nietzsche!" sambut saya.
"Ayam ini menertawai nasibnya yang bermula dari peliharaan para bangsawan Bugis, lalu berakhir di pogutatan," saya berseloroh.
Ah, nasib memang lucu, maka silakan tertawai sepuasnya.
Di wikipedia memang dijelaskan, ayam ketawa dikategorikan sebagai unggas endemik. Untuk itulah, ayam seperti Osney ini konon dulu hanya keliaran di lingkungan para bangsawan Bugis.
Benar sudah, Osney menertawai nasibnya yang sebagai simbol status sosial para darah biru di Bugis, kini harus berakhir di pekarangan belakang rumah saya.
Kisah Osney pun cukup dramatis, setelah saya tanyai ibu.
"Nenek Esa' (kakak kandung ibu) yang membawa ayam itu saat pogutatan tiga malam. Menurut ibu ayam itu dengan terpaksa dijual empunya, sebab sedang kesulitan uang. Si empu juga berpesan, kalau bisa jangan disembelih, tapi dipelihara saja," jelas ibu. Osney dibawa saat kenduri tiga malam berpulangnya ayah saya, Maret lalu.
Namun tanpa mendengar pesan empunya yang memang dianggap angin lalu oleh Nenek Esa', saya sudah menduga ayam ini spesial waktu ibu menyampaikan Osney jenis ayam ketawa.
"Jangan disembelih. Pelihara saja," pesan saya.
Tiba-tiba, seberkas cahaya dari langit menyoroti kandang Osney.
Ha-ha-ha. Nasib Osney terselamatkan, meski setelah itu saya tidak banyak menghabiskan waktu dengannya. Ibu yang sehari-hari memberi makan, sebab saya tidak lagi menetap di rumah.
Osney baru dibiasakan dilepas, setelah sempat dipelihara di perkebunan Desa Otam, desa yang letaknya tak jauh dari rumah saya di Desa Passi. Osney dititipkan kepada suami sepupu saya, sebab di rumah nasib Osney hanya terus meringkuk di kandang. Ibu takut melepasnya, dengan dugaan keras bahwa Osney bakal kabur dan tak pernah kembali lagi.
Hanya beberapa pekan Osney kembali diantarkan ke rumah, sebab hampir seluruh ayam peliharaan di kebun menjadi jajahannya. Osney dengan tajinya suka mengejar ayam-ayam lain, lalu menghajar dan menertawai mereka.
Setelah kembali ke rumah, karena sudah terbiasa dilepas, Osney pun merasa telah memiliki rumah dan keinginan untuk pulangnya perlahan-lahan muncul. Sehari-hari Osney dilepas pagi, lalu petang menggiringnya kembali ke kandang.
Namun naluri mengejar, menghajar, dan menertawai ayam-ayam tetap tak kunjung hilang. Osney masih diwaspadai di sekitar rumah meski oleh jenis ayam jago sekalipun, sebab taji Osney yang dibiarkan meruncing, mampu menyurutkan niat ayam jago untuk sekadar mengadu nasib dengannya.
Bagi Osney, nasib sudah terlalu kejam, jadi untuk mati pun sebenarnya Osney lebih rela berakhir di pertarungan, bukan di balik kandang para bangsawan Bugis atau sayatan pisau. Sekarang, Osney sedang menertawai keterkandangan sekaligus kebebasannya.
Barusan, setelah lama memindai dan mencocokkan dengan apa yang tertulis di wikipedia, ternyata Osney ini jenis ayam ketawa jantan yang biasa disebut Lai. Dari nada ketawanya pun Osney termasuk jenis Garetek yang kokoknya beritme cepat. Setelah dicocokkan lagi dari warna bulu hitam dengan goresan merah hati, Osney tergolong Lapping.
Dari bahasa Bugis, Lapping artinya menampung harta, sehingga dipercaya Osney dapat menampung harta. Hmm, penjelasan ini terbunuh dengan sendirinya sebab si empunya Osney terpaksa menjual Osney sebab sedang kesulitan uang. Satu alasan lagi yang membikin Osney tertawa. Ha-ha-ha.
Soal penamaan, Osney adalah kata yang berarti: iya, OK, siap, yang saya cipta sendiri. Banyak chat kawan di BBM, acap kali saya balasi Osney. Asal saja.
Setelah lama memandangi Osney saya hanya bisa tarcenung, sebab tidak seperti saya — manusia —yang bisa menentukan nasib, bisa berikhtiar, dan apapun hasil dari ikhtiar kita itulah takdir, sedangkan Osney sendiri hanya bergantung pada apa yang kita ikhtiarkan; mungkin Osney bisa dijual lagi, disembelih, dicuri, atau malah ditakdirkan tergilas mobil di jalanan.
Namun di sisi lain, Osney beruntung sebab bisa terus menertawai nasib. Nasib kita. Manusia.
Osney ini jenis ayam yang ternyata setelah saya telusuri di wikipedia, tergolong endemik. Osney adalah ayam ketawa yang mulanya berkembang biak di kabupaten Sindrap, Sulawesi Selatan.
Lewat chat BBM, seorang kawan bernama Sandri berkata, "Sudah tepat kamu memelihara ayam itu." Usai ia memindai foto dan status saya di recent updates.
Saya tanyai balik, "Kenapa?"
"Coba kamu tengok, ayam itu menertawakan segala kegilaan di sekitarnya," balasnya.
"Ha-ha-ha. Nietzsche!" sambut saya.
"Ayam ini menertawai nasibnya yang bermula dari peliharaan para bangsawan Bugis, lalu berakhir di pogutatan," saya berseloroh.
Ah, nasib memang lucu, maka silakan tertawai sepuasnya.
Di wikipedia memang dijelaskan, ayam ketawa dikategorikan sebagai unggas endemik. Untuk itulah, ayam seperti Osney ini konon dulu hanya keliaran di lingkungan para bangsawan Bugis.
Benar sudah, Osney menertawai nasibnya yang sebagai simbol status sosial para darah biru di Bugis, kini harus berakhir di pekarangan belakang rumah saya.
Kisah Osney pun cukup dramatis, setelah saya tanyai ibu.
"Nenek Esa' (kakak kandung ibu) yang membawa ayam itu saat pogutatan tiga malam. Menurut ibu ayam itu dengan terpaksa dijual empunya, sebab sedang kesulitan uang. Si empu juga berpesan, kalau bisa jangan disembelih, tapi dipelihara saja," jelas ibu. Osney dibawa saat kenduri tiga malam berpulangnya ayah saya, Maret lalu.
Namun tanpa mendengar pesan empunya yang memang dianggap angin lalu oleh Nenek Esa', saya sudah menduga ayam ini spesial waktu ibu menyampaikan Osney jenis ayam ketawa.
"Jangan disembelih. Pelihara saja," pesan saya.
Tiba-tiba, seberkas cahaya dari langit menyoroti kandang Osney.
Ha-ha-ha. Nasib Osney terselamatkan, meski setelah itu saya tidak banyak menghabiskan waktu dengannya. Ibu yang sehari-hari memberi makan, sebab saya tidak lagi menetap di rumah.
Osney baru dibiasakan dilepas, setelah sempat dipelihara di perkebunan Desa Otam, desa yang letaknya tak jauh dari rumah saya di Desa Passi. Osney dititipkan kepada suami sepupu saya, sebab di rumah nasib Osney hanya terus meringkuk di kandang. Ibu takut melepasnya, dengan dugaan keras bahwa Osney bakal kabur dan tak pernah kembali lagi.
Hanya beberapa pekan Osney kembali diantarkan ke rumah, sebab hampir seluruh ayam peliharaan di kebun menjadi jajahannya. Osney dengan tajinya suka mengejar ayam-ayam lain, lalu menghajar dan menertawai mereka.
Setelah kembali ke rumah, karena sudah terbiasa dilepas, Osney pun merasa telah memiliki rumah dan keinginan untuk pulangnya perlahan-lahan muncul. Sehari-hari Osney dilepas pagi, lalu petang menggiringnya kembali ke kandang.
Namun naluri mengejar, menghajar, dan menertawai ayam-ayam tetap tak kunjung hilang. Osney masih diwaspadai di sekitar rumah meski oleh jenis ayam jago sekalipun, sebab taji Osney yang dibiarkan meruncing, mampu menyurutkan niat ayam jago untuk sekadar mengadu nasib dengannya.
Bagi Osney, nasib sudah terlalu kejam, jadi untuk mati pun sebenarnya Osney lebih rela berakhir di pertarungan, bukan di balik kandang para bangsawan Bugis atau sayatan pisau. Sekarang, Osney sedang menertawai keterkandangan sekaligus kebebasannya.
Barusan, setelah lama memindai dan mencocokkan dengan apa yang tertulis di wikipedia, ternyata Osney ini jenis ayam ketawa jantan yang biasa disebut Lai. Dari nada ketawanya pun Osney termasuk jenis Garetek yang kokoknya beritme cepat. Setelah dicocokkan lagi dari warna bulu hitam dengan goresan merah hati, Osney tergolong Lapping.
Dari bahasa Bugis, Lapping artinya menampung harta, sehingga dipercaya Osney dapat menampung harta. Hmm, penjelasan ini terbunuh dengan sendirinya sebab si empunya Osney terpaksa menjual Osney sebab sedang kesulitan uang. Satu alasan lagi yang membikin Osney tertawa. Ha-ha-ha.
Soal penamaan, Osney adalah kata yang berarti: iya, OK, siap, yang saya cipta sendiri. Banyak chat kawan di BBM, acap kali saya balasi Osney. Asal saja.
Setelah lama memandangi Osney saya hanya bisa tarcenung, sebab tidak seperti saya — manusia —yang bisa menentukan nasib, bisa berikhtiar, dan apapun hasil dari ikhtiar kita itulah takdir, sedangkan Osney sendiri hanya bergantung pada apa yang kita ikhtiarkan; mungkin Osney bisa dijual lagi, disembelih, dicuri, atau malah ditakdirkan tergilas mobil di jalanan.
Namun di sisi lain, Osney beruntung sebab bisa terus menertawai nasib. Nasib kita. Manusia.
Rabu, 12 Agustus 2015
AKU
Kata penyair John Ashberry: “Ada saatnya kita sadar bahwa tak ada satupun laku manusia yang lebih dramatis dan meyakinkan ketimbang laku kita sendiri.”
Sendiri. Aku. Ketika kecil dan hendak berangkat ke sekolah, rambutku suka disisir ke samping oleh ibu. Diminyakinya pula dengan hijau tancho milik ayah yang, kala itu gemar menyisir rambut ikalnya sebelum berangkat ke kantor.
Langkahku gamang disinari matahari pagi yang hangat, saat berangkat ke sekolah sendiri dengan degup dan gugup. Seratus meter ke kiri dari pekarangan rumah, melewati hijau rerumputan tanah lapang, aku hanya bisa membayangkan seperti apa itu sekolah. Aku tidak merasai bangku taman kanak-kanak, sebab usia lima tahun buku-buku pelajaran kakakku sudah bisa kueja. Kawan-kawan seumurku yang sudah menamatkan pendidikan di taman kanak-kanak, kini sekelas denganku. Di SD Negeri I Passi.
Di sini, hanya kilat bola-bola mata bocah riang kutemui di halaman sekolah. Sebagiannya kukenal, yang lainnya entah siapa mereka. Ibu pernah mengatarkanku ke sekolah hanya saat mendaftar. Selanjutnya ibu melepas putra bungsunya ini dengan bekal, "Belajar yang tekun, dengarkan apa kata guru." Wajah ibu bersinar kala itu.
Lama berdiam diri di sekitar rumah; hanya tanaman pekarangan, kicau burung, dan anak kucing yang pernah kenal denganku. Sesekali berteman pula dengan beberapa lembar buku yang kupangku dengan rapal yang terbata-bata. Aku membaca dan bertutur, sebelum anak seusiaku masih dengan gestur dan ababa-bibu meminta ini-itu.
Setelah merasakan bangku sekolah, aku juara kelas. Setelah naik kelas dua, aku mengeluh pada ayah dan ibu, ingin pindah. Saat ditanyai ibu alasannya, aku hanya bilang tidak suka dengan sekolah itu. Setelah ditanyai terus, alasanku tetap sama aku tidak suka sekolah itu. Padahal alasannya lantaran seorang kakak kelas--anak laki-laki--dari desa tetangga melempariku dengan kerikil. Dia tidak suka sebab aku menjadi idola di sekolah. Aku kerap dikerubuti teman sekelas, bahkan kakak kelas satu tingkat, dua tingkat dan seterusnya. Mereka mungkin suka rambutku yang berbau tancho. Kakak kelasku yang itu mungkin tidak suka. Beruntung akhirnya ayah dan ibu mengerti dan aku pun dipindahkan ke SD Negeri III Passi, yang jaraknya pun persis sama dekatnya. Hanya di sekolah yang ini aku harus berjalan membelakangi matahari. Hangatnya kini di punggungku.
Di sini, aku mulai akrab dengan mereka; guru, murid, dan pemilik kantin. Aku tetap masih menjadi juara kelas dan idola para guru. Waktu bergulir, hingga pupus sudah masa seragam putih-merah. Hingga lulus, aku tetap juara bertahan meninggalkan piala dan piagam pada ajang lomba cerdas-cermat, mengarang, melukis, dan baca puisi.
Sedari kecil, aku kerap bermimpi terbang dengan sekujur tubuh menggigil geli. Mimpi yang bahkan setiap pekan, bulan, hadir begitu saja. Pernah kuceritakan ke ibu lalu katanya itu pertanda sebab aku istimewa. Mungkin ibu benar; rasa senang, geli saat di udara, dan geram sebab mimpi telah usai dengan goncangan lengan ibu, adalah pertanda aku bakal meraih sesuatu yang memang telah aku perjuangkan. Menang dan melayang.
Setelah lulus SD, aku didaftarkannya ke SMP Negeri II Passi yang letaknya di desa tetangga. Kakak kelas yang menjadi alasanku pindah sekolah dulu, tinggal di desa itu. Pikirku, bakalan ketemu dengannya lagi. Benar sudah, dia si remaja laki-laki dengan jabatan ketua OSIS yang penuh kuasa saat itu. Namun ada yang berubah sebab meski dia mengenaliku, perangainya tak seburuk kala di bangku SD. Dia si anak nakal yang pintar dan aku si anak penurut yang pintar.
Di sekolah ini, aku masih juara. Lomba demi lomba serupa kuikuti; cerdas-cermat, mengarang, dan baca puisi. Aku mengenal lebih dekat Chairil Anwar di bangku SMP. Saat di SD, meski perpustakaannya tidak begitu lengkap. Kemudian, aku mewakili sekolah di ajang lomba baca puisi yang seingatku berlangsung di halaman SMA Islam Kotamobagu. Di sana, seragam putih merah, putih biru, putih abu-abu berbaur. Puisi Charil, Aku, kubacai dengan lantang.
Kalau sampai waktuku/ 'Ku mau tak seorang kan merayu/ Tidak juga kau/ Tak perlu sedu sedan itu.
Aku juara satu untuk tingkat SMP.
Sebulan kemudian di lomba cerdas cermat tingkat SMP se-Bolmong, aku dan dua kakak kelasku sebagai pendamping kanan-kiri turut serta. Aku pembicara dengan materi lomba pelajaran umum. Kami mengalahkan perwakilan SMP Negeri I Kotamobagu di babak final. Sekolah elite kala itu setingkat SMP. Tuan rumah pun mereka. Kami bersorak saat dewan juri memutuskan kamilah pemenangnya. Kami mengalahkan anak si dokter ini, si pejabat itu, dan si polisi ini.
Kemudian kelas dua SMP teman-teman sekelas berubah. Untuk mereka yang tergolong pandai, disatukan ke kelas 2A. Aku menemukan saingan dan perebutan juara kelas menjadi sengit. Aku masih tetap juara kelas namun di caturwulan berikut aku peringkat kedua. Berikutnya aku kembali juara kelas. Hingga aku terpilih sebagai ketua OSIS.
Naik ke kelas tiga formasi kembali berubah. Aku tetap di kelas 3A bersama saingan-saingan semasa kelas satu dan dua. Hingga ujian akhir, NEM kami tertinggi se-Bolmong, aku dan dua teman sekelas. Guru-guru bangga dan melepas kami dengan tangis. Bukan aku lagi yang menjadi idola, tapi kami, angkatan kami, dan itu tercatat sebagai prestasi sepanjang masa. Nilai Ebtanas murni tertinggi se-Bolmong.
Lalu SMA Negeri III Kotamobagu jadi pilihan ibu, bukan pilihanku. Aku yang terlalu lama menghirup bau matahari pagi, pepohonan, dan udara murni, kini harus beradaptasi dengan hiruk pikuk perkotaan, semrawut rumah di lorong-lorong, ramai pasar, dan lalu lalang kendaraan yang kurasai menghimpit dada.
Aku ditempatkan di kelas 1A. Binsus istilahnya untuk kelas bimbingan khusus. Teman sekampungku yang kukenal baik, semuanya kelas tiga. Aku sendiri di bangku kelas paling belakang, sebab minder dengan gaya-gaya borjuis di sekitarku. Cerita mereka tentang musik, merek tas, sepatu, dan bolos.
Aku mulai bosan. Jam istirahat kuluangkan dengan berbaur bersama kakak-kakak kelas yang adalah dua kerabat dan satunya lagi tetangga. Aku berkawan dengan geng sekolah kala itu, sebab kedua kerabatku itu termasuk dalam daftar orang paling disegani di sekolah, bahkan di sekolah lainnya.
Kudapati dunia yang begitu liar, begal, dan penuh begundal. Aku terbawa arus dan juara kelas hanya jadi memori di bangku SD dan SMP. Nilaiku jatuh memacak di rapor yang kerap kusembunyikan dari ibu. Aku memilih pindah baru pada caturwulan II, sebab daftar hadirku pun hampa memutih.
Saat pindah ke SMA 4 Kotamobagu, aku diantarkan ayah dengan wajah muram. Tersisa murka di guratan dahi dan bola matanya. Aku hanya terus menunduk hingga kegagalan serupa mengulang. Sebab musababnya sepele, aku didaulat menjadi ketua kelas mengalahkan pesaing anak 'negeri' (Genggulang). Dia tidak suka, lalu menghasut puluhan temannya untuk mengejarku. Kemejaku dirobek kawat duri pagar sekolah setinggi dua meter. Aku melompat dikejar puluhan orang yang entah oleh sebab apa.
Kemudian, aku menjadi siswa berseragam putih abu-abu penghuni terminal yang pertama datang dan terakhir kali pulang. Ko' Cao', Sipatuo, WC umum pasar, jadi tempat tongkrongan rutin. Uang jajan kuhabiskan di sana. Ayah dan ibu, dari informasi tetangga akhirnya tahu aku bukan lagi si bocah berminyak rambut tancho, yang rambutnya tersisir rapi ke samping. Aku kini remaja berambut urak-urakan, dengan celana dan kemeja bergambar simbol peace, Slank, Sepultura, dan Guns 'n' Roses. Apa yang keren pasti dicoretkan ke seragam, dari bawah lutut hingga ke kerah kemeja.
Aku berubah dari bocah penurut yang selalu tepat waktu berangkat dan pulang sekolah, menjadi remaja yang jarang pulang ke rumah. Seragam sekolahku yang lain dikunci ibu di lemari. Hanya sepasang seragam yang penuh coretan membalut raga. Aku ini binatang jalang/ Dari kumpulannya terbuang.
Aku pindah sekolah lagi tanpa sepengetahuan ayah dan ibu, yang memang saat itu tak mau tahu lagi denganku. SMA Muhammadiyah menjadi pilihanku. Gokil, di bangku kelas dua hanya ada kami bertiga. Di ruang kelas ada tenis meja tempat si guru menunggui kami. Jika hanya seorang yang hadir, maka diajaknya untuk berkeringat ria dengan main tenis meja. Sialan.
Waktuku tersita jauh lebih banyak di terminal. Teman-teman seangkatanku telah kelas tiga. Aku yang kala bocah selalu unggul kini ketinggalan kelas. Mimpi melayang pun tak pernah hadir lagi sejak SMA. Aku tercenung, mungkin ibu benar. Aku tidak lagi istimewa.
Tak lama, aku pindah ke SMA Islam yang dijuluki SMA SLANK, akronim dari sekolah lawer asal naik kelas. Aku kelas dua di saat seragam teman seangkatan berwarna-warni. Saat pesta kelulusan mereka, aku berbaur dengan kebahagiaan namun ada sedih di sudut tawaku. Hingga akhirnya, aku putus sekolah. Aku hanya menikmati ijazah ujian persamaan yang dramatis dan penuh rahasia.
Kini, sekolahku alam raya. Aku menemukannya di desaku sendiri. Tak jauh dari tanah lapang yang kerap kulewati saat pertama kali melangkah dengan degup dan gugup. Setidaknya kini aku jauh lebih merdeka tanpa secuilpun rasa sesal, meski pernah sekali mengingat perkataan ayah, yang hendak menitipkanku ke perguruan tinggi di akademi gizi di Manado.
Ayah paham betul pelajaran kesukaanku itu; biologi, fisika, dan bahasa Indonesia. Nilai tertinggi sejak SD ialah pelajaran membelah dirinya amuba. Pada akhirnya ayah benar, aku terus membelah diri dari Kristianto yang dipungutinya dari nama pebulu tangkis legendaris Christian, menjadi Yanto, Anto', Kris, 83, Ya', Yakuza, Atol, lalu menjadi Sigidad.
Aku terus melangkah, menikah, bercerai, berpetualang, lalu kembali pulang. Rumah memang selalu menjadi alasanku untuk bisa mendekam nyaman.
Aku tak berhenti, meski puluhan pekerjaan berganti rupa.
Biar peluru menembus kulitku/ Aku tetap meradang menerjang/ Luka dan bisa kubawa berlari/ Berlari/ Hingga hilang pedih peri/ Dan aku akan lebih tidak perduli/ Aku mau hidup seribu tahun lagi.
Sebenarnya aku tidak ingin menjadi dewasa, biar ibu masih menyisiri rambutku dan meminyakinya dengan tancho milik ayah. Aku ingin rasai hangat matahari di punggungku lagi.
Sendiri. Aku. Ketika kecil dan hendak berangkat ke sekolah, rambutku suka disisir ke samping oleh ibu. Diminyakinya pula dengan hijau tancho milik ayah yang, kala itu gemar menyisir rambut ikalnya sebelum berangkat ke kantor.
Langkahku gamang disinari matahari pagi yang hangat, saat berangkat ke sekolah sendiri dengan degup dan gugup. Seratus meter ke kiri dari pekarangan rumah, melewati hijau rerumputan tanah lapang, aku hanya bisa membayangkan seperti apa itu sekolah. Aku tidak merasai bangku taman kanak-kanak, sebab usia lima tahun buku-buku pelajaran kakakku sudah bisa kueja. Kawan-kawan seumurku yang sudah menamatkan pendidikan di taman kanak-kanak, kini sekelas denganku. Di SD Negeri I Passi.
Di sini, hanya kilat bola-bola mata bocah riang kutemui di halaman sekolah. Sebagiannya kukenal, yang lainnya entah siapa mereka. Ibu pernah mengatarkanku ke sekolah hanya saat mendaftar. Selanjutnya ibu melepas putra bungsunya ini dengan bekal, "Belajar yang tekun, dengarkan apa kata guru." Wajah ibu bersinar kala itu.
Lama berdiam diri di sekitar rumah; hanya tanaman pekarangan, kicau burung, dan anak kucing yang pernah kenal denganku. Sesekali berteman pula dengan beberapa lembar buku yang kupangku dengan rapal yang terbata-bata. Aku membaca dan bertutur, sebelum anak seusiaku masih dengan gestur dan ababa-bibu meminta ini-itu.
Setelah merasakan bangku sekolah, aku juara kelas. Setelah naik kelas dua, aku mengeluh pada ayah dan ibu, ingin pindah. Saat ditanyai ibu alasannya, aku hanya bilang tidak suka dengan sekolah itu. Setelah ditanyai terus, alasanku tetap sama aku tidak suka sekolah itu. Padahal alasannya lantaran seorang kakak kelas--anak laki-laki--dari desa tetangga melempariku dengan kerikil. Dia tidak suka sebab aku menjadi idola di sekolah. Aku kerap dikerubuti teman sekelas, bahkan kakak kelas satu tingkat, dua tingkat dan seterusnya. Mereka mungkin suka rambutku yang berbau tancho. Kakak kelasku yang itu mungkin tidak suka. Beruntung akhirnya ayah dan ibu mengerti dan aku pun dipindahkan ke SD Negeri III Passi, yang jaraknya pun persis sama dekatnya. Hanya di sekolah yang ini aku harus berjalan membelakangi matahari. Hangatnya kini di punggungku.
Di sini, aku mulai akrab dengan mereka; guru, murid, dan pemilik kantin. Aku tetap masih menjadi juara kelas dan idola para guru. Waktu bergulir, hingga pupus sudah masa seragam putih-merah. Hingga lulus, aku tetap juara bertahan meninggalkan piala dan piagam pada ajang lomba cerdas-cermat, mengarang, melukis, dan baca puisi.
Sedari kecil, aku kerap bermimpi terbang dengan sekujur tubuh menggigil geli. Mimpi yang bahkan setiap pekan, bulan, hadir begitu saja. Pernah kuceritakan ke ibu lalu katanya itu pertanda sebab aku istimewa. Mungkin ibu benar; rasa senang, geli saat di udara, dan geram sebab mimpi telah usai dengan goncangan lengan ibu, adalah pertanda aku bakal meraih sesuatu yang memang telah aku perjuangkan. Menang dan melayang.
Setelah lulus SD, aku didaftarkannya ke SMP Negeri II Passi yang letaknya di desa tetangga. Kakak kelas yang menjadi alasanku pindah sekolah dulu, tinggal di desa itu. Pikirku, bakalan ketemu dengannya lagi. Benar sudah, dia si remaja laki-laki dengan jabatan ketua OSIS yang penuh kuasa saat itu. Namun ada yang berubah sebab meski dia mengenaliku, perangainya tak seburuk kala di bangku SD. Dia si anak nakal yang pintar dan aku si anak penurut yang pintar.
Di sekolah ini, aku masih juara. Lomba demi lomba serupa kuikuti; cerdas-cermat, mengarang, dan baca puisi. Aku mengenal lebih dekat Chairil Anwar di bangku SMP. Saat di SD, meski perpustakaannya tidak begitu lengkap. Kemudian, aku mewakili sekolah di ajang lomba baca puisi yang seingatku berlangsung di halaman SMA Islam Kotamobagu. Di sana, seragam putih merah, putih biru, putih abu-abu berbaur. Puisi Charil, Aku, kubacai dengan lantang.
Kalau sampai waktuku/ 'Ku mau tak seorang kan merayu/ Tidak juga kau/ Tak perlu sedu sedan itu.
Aku juara satu untuk tingkat SMP.
Sebulan kemudian di lomba cerdas cermat tingkat SMP se-Bolmong, aku dan dua kakak kelasku sebagai pendamping kanan-kiri turut serta. Aku pembicara dengan materi lomba pelajaran umum. Kami mengalahkan perwakilan SMP Negeri I Kotamobagu di babak final. Sekolah elite kala itu setingkat SMP. Tuan rumah pun mereka. Kami bersorak saat dewan juri memutuskan kamilah pemenangnya. Kami mengalahkan anak si dokter ini, si pejabat itu, dan si polisi ini.
Kemudian kelas dua SMP teman-teman sekelas berubah. Untuk mereka yang tergolong pandai, disatukan ke kelas 2A. Aku menemukan saingan dan perebutan juara kelas menjadi sengit. Aku masih tetap juara kelas namun di caturwulan berikut aku peringkat kedua. Berikutnya aku kembali juara kelas. Hingga aku terpilih sebagai ketua OSIS.
Naik ke kelas tiga formasi kembali berubah. Aku tetap di kelas 3A bersama saingan-saingan semasa kelas satu dan dua. Hingga ujian akhir, NEM kami tertinggi se-Bolmong, aku dan dua teman sekelas. Guru-guru bangga dan melepas kami dengan tangis. Bukan aku lagi yang menjadi idola, tapi kami, angkatan kami, dan itu tercatat sebagai prestasi sepanjang masa. Nilai Ebtanas murni tertinggi se-Bolmong.
Lalu SMA Negeri III Kotamobagu jadi pilihan ibu, bukan pilihanku. Aku yang terlalu lama menghirup bau matahari pagi, pepohonan, dan udara murni, kini harus beradaptasi dengan hiruk pikuk perkotaan, semrawut rumah di lorong-lorong, ramai pasar, dan lalu lalang kendaraan yang kurasai menghimpit dada.
Aku ditempatkan di kelas 1A. Binsus istilahnya untuk kelas bimbingan khusus. Teman sekampungku yang kukenal baik, semuanya kelas tiga. Aku sendiri di bangku kelas paling belakang, sebab minder dengan gaya-gaya borjuis di sekitarku. Cerita mereka tentang musik, merek tas, sepatu, dan bolos.
Aku mulai bosan. Jam istirahat kuluangkan dengan berbaur bersama kakak-kakak kelas yang adalah dua kerabat dan satunya lagi tetangga. Aku berkawan dengan geng sekolah kala itu, sebab kedua kerabatku itu termasuk dalam daftar orang paling disegani di sekolah, bahkan di sekolah lainnya.
Kudapati dunia yang begitu liar, begal, dan penuh begundal. Aku terbawa arus dan juara kelas hanya jadi memori di bangku SD dan SMP. Nilaiku jatuh memacak di rapor yang kerap kusembunyikan dari ibu. Aku memilih pindah baru pada caturwulan II, sebab daftar hadirku pun hampa memutih.
Saat pindah ke SMA 4 Kotamobagu, aku diantarkan ayah dengan wajah muram. Tersisa murka di guratan dahi dan bola matanya. Aku hanya terus menunduk hingga kegagalan serupa mengulang. Sebab musababnya sepele, aku didaulat menjadi ketua kelas mengalahkan pesaing anak 'negeri' (Genggulang). Dia tidak suka, lalu menghasut puluhan temannya untuk mengejarku. Kemejaku dirobek kawat duri pagar sekolah setinggi dua meter. Aku melompat dikejar puluhan orang yang entah oleh sebab apa.
Kemudian, aku menjadi siswa berseragam putih abu-abu penghuni terminal yang pertama datang dan terakhir kali pulang. Ko' Cao', Sipatuo, WC umum pasar, jadi tempat tongkrongan rutin. Uang jajan kuhabiskan di sana. Ayah dan ibu, dari informasi tetangga akhirnya tahu aku bukan lagi si bocah berminyak rambut tancho, yang rambutnya tersisir rapi ke samping. Aku kini remaja berambut urak-urakan, dengan celana dan kemeja bergambar simbol peace, Slank, Sepultura, dan Guns 'n' Roses. Apa yang keren pasti dicoretkan ke seragam, dari bawah lutut hingga ke kerah kemeja.
Aku berubah dari bocah penurut yang selalu tepat waktu berangkat dan pulang sekolah, menjadi remaja yang jarang pulang ke rumah. Seragam sekolahku yang lain dikunci ibu di lemari. Hanya sepasang seragam yang penuh coretan membalut raga. Aku ini binatang jalang/ Dari kumpulannya terbuang.
Aku pindah sekolah lagi tanpa sepengetahuan ayah dan ibu, yang memang saat itu tak mau tahu lagi denganku. SMA Muhammadiyah menjadi pilihanku. Gokil, di bangku kelas dua hanya ada kami bertiga. Di ruang kelas ada tenis meja tempat si guru menunggui kami. Jika hanya seorang yang hadir, maka diajaknya untuk berkeringat ria dengan main tenis meja. Sialan.
Waktuku tersita jauh lebih banyak di terminal. Teman-teman seangkatanku telah kelas tiga. Aku yang kala bocah selalu unggul kini ketinggalan kelas. Mimpi melayang pun tak pernah hadir lagi sejak SMA. Aku tercenung, mungkin ibu benar. Aku tidak lagi istimewa.
Tak lama, aku pindah ke SMA Islam yang dijuluki SMA SLANK, akronim dari sekolah lawer asal naik kelas. Aku kelas dua di saat seragam teman seangkatan berwarna-warni. Saat pesta kelulusan mereka, aku berbaur dengan kebahagiaan namun ada sedih di sudut tawaku. Hingga akhirnya, aku putus sekolah. Aku hanya menikmati ijazah ujian persamaan yang dramatis dan penuh rahasia.
Kini, sekolahku alam raya. Aku menemukannya di desaku sendiri. Tak jauh dari tanah lapang yang kerap kulewati saat pertama kali melangkah dengan degup dan gugup. Setidaknya kini aku jauh lebih merdeka tanpa secuilpun rasa sesal, meski pernah sekali mengingat perkataan ayah, yang hendak menitipkanku ke perguruan tinggi di akademi gizi di Manado.
Ayah paham betul pelajaran kesukaanku itu; biologi, fisika, dan bahasa Indonesia. Nilai tertinggi sejak SD ialah pelajaran membelah dirinya amuba. Pada akhirnya ayah benar, aku terus membelah diri dari Kristianto yang dipungutinya dari nama pebulu tangkis legendaris Christian, menjadi Yanto, Anto', Kris, 83, Ya', Yakuza, Atol, lalu menjadi Sigidad.
Aku terus melangkah, menikah, bercerai, berpetualang, lalu kembali pulang. Rumah memang selalu menjadi alasanku untuk bisa mendekam nyaman.
Aku tak berhenti, meski puluhan pekerjaan berganti rupa.
Biar peluru menembus kulitku/ Aku tetap meradang menerjang/ Luka dan bisa kubawa berlari/ Berlari/ Hingga hilang pedih peri/ Dan aku akan lebih tidak perduli/ Aku mau hidup seribu tahun lagi.
Sebenarnya aku tidak ingin menjadi dewasa, biar ibu masih menyisiri rambutku dan meminyakinya dengan tancho milik ayah. Aku ingin rasai hangat matahari di punggungku lagi.
Selasa, 11 Agustus 2015
Selamat Ulang Tahun, Kats!
"Dapa lia pa Uwin (lihat Uwin)?" teriak Kak Tince (Titin Mokodongan, kakak perempuan Uwin).
"Tadi di sini Kak!"
"Burein (sialan), Kak pe kous ketat karamba dia dapake (kaos ketat belang-belang milik kakak dipakainya). Ugat bi' tumon Slank (maunya seperti Slank). Pe mahal tu kous eh! (Mahal kaos itu)."
Ha-ha-ha-ha.
Uwin memang sejak tahun 1998 berambut gondrong. Tubuhnya ceking dibalut celana jeans ketat, robek, belel agak kumal, dan tentu saja, kaos-kaos yang sebagian hasil curian dari lemari kakak perempuannya (fakta di atas). Sepatu converse-nya pun kumal. Di Villa Putih Kleak Generasi 98, oleh kawan-kawan di situ, ia disapa Slank. Meski di tembok kamar, ada Sepultura terlukis di dinding.
Kampus Samratulangi Manado adalah markasnya. Tentu di Mapala Avestaria. Usai turun gunung dan susuri lembah, sepenggal-sepenggal waktunya ia seretkan ke Lorong Hitam (Scene Punk 'n' Skin Manado belakang Gedung Joeang). Puisinya juga menggelegar di Balai Wartawan Indonesia dalam Gigs (music party) Punk 'n' Skinhead, depan Gedung Joeang. Pun di Gedung Pingkan Matindas. Ia adalah Anarko tanpa fashion yang melekat pada Punker; Mohawk, Boots, dan puluhan Emblem. Sebab memang ada pameo yang mengatakan; Setiap Anarko belum tentu Punk, tetapi setiap Punker pastilah Anarko. Pernah sekali dua saya diajaknya ke Lorong Hitam, belakang BRI, SMA Panca' dan Pingkan Matindas. Debat pernah hebat-hebatnya di sana.
Saya sempat bertanya, "Ada apa dengan Slank?" Ia menjawab, "Mereka sudah mengaku khilaf dan taubat." Karena jawabnya begitu, maka debat nan hebat (terkadang melelahkan) cepat tersulut.
Ya. Seperti itulah adanya Kats (Ketua). Kats adalah julukan yang melekat usai gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York dihantam pesawat yang katanya dibajak teroris. Sebab pada Selasa 11 September 2001, melalui Musyawarah Anggota, Komunitas Pecinta Alam Bolaang Mongondow Lestari (KPA Bomlest) dibentuk. Dan sesuai kesepakatan bersama, Uwin didaulat sebagai Ketua. Ter-mintahang-lah sapaan Kats padanya.
KPA mulai mati suri beberapa tahun lalu semenjak anggotanya bertambah umur, mulai 'dewasa' dan sibuk dengan urusan rumah tangga dan pekerjaan.
Ah, seharusnya memang jangan pernah dewasa, lalu hidup seperti Spongebob di dasar laut, yang tak mengenal tua dan tetap bahagia. Biarlah masa lalu dan masa depan, hanya bagian dari petualangan angan. Imaaaajiiiiinaaaasiiii (ucap Spongebob sembari melukis pelangi dengan jemarinya).
Usai menamatkan kuliah ia mengarungi laut menuju Gangga, sebuah pulau nan indah beberapa mil dari Bunaken. Uwin kala itu gemar berbahasa asing; mercy, danke, grazie, va bene, katanya kepada turis-turis bermata kucing. Di sebuah resort milik orang Itali Sisillia, ia bekerja di Diving Center, sebagai guide snorkling and diving. Terkadang disuruh memboyong tamu-tamu mata kucing ke luar pulau menyeberangi lautan menuju pasar dan puncak Mahawu.
Sebagai anak di Diving Center, itulah mungkin salah satu alasannya di kemudian hari memilih lumba-lumba (dolphin) sebagai tato. Tiap pulang cuti, lagi-lagi saya diajaknya ke Lorong Hitam. Lalu kulit coklat kegosong-gosongan karena terbakar matahari, yang pernah ia bangga-banggakan itu, tak bertahan lama. Ia memilih pulang.
Uwin, mungkin baginya, kebersamaan adalah kekekalan abadi meski kita telah menjadi fosil. Untuk itulah di punggung kanannya bertengger tato belulang Garuda yang, tengah mencekeram tulang (seolah pita) bersemboyan 'Bersama Tinggal Iga'.
Kebebasan pun tersirat dari tato dolphin bermata kosong dengan benjolan sastra di kepala, yang menyembul dari kulit lengan atas kirinya. Dolphin yang selalu ingin memenuhi mata kosong dengan segalanya. Garuda dan dolphin, dua tato itu terajah di tubuhnya. Bersama dan bebas merdeka. Slank, telah bertransformasi menjadi Skinhead (Ia mengaku Skinhead Anarko).
Meninggalkan Sepultura ketika Max Cavalera hengkang sejak 98. Ia lalu memakai Boots, celana yang tetap Stapress, memangkas rambutnya hingga plontos, lalu teriak riuh rendah chaosnya Gigs. Oi..Oi..!!
Di lorong-lorong hitam Gedung Joeang, kami pernah berkejar-kejaran dengan polisi dan anjing.
Hingga kemudian hari ia memutuskan untuk menikah dan lahirlah Chaskin. Putri lucunya. Silih berganti hari, bulan, dan kenangan. Ia menjual habis dua gudang berisi kendaraan lalu menolak ke Lombok oleh sebuah promosi atas kinerjanya. Ia memilih masuk arena politik. Satu-dua teman di komunitas menentangnya. Tapi Kats tetap maju. Selanjutnya ia rutin menulis.
Segalanya berubah. Garuda dan Dolphin dijeruji. Tapi apa artinya kebebasan jika tak pernah merasai terkerangkeng? Kemudian ia memutuskan kembali melompati samudera, lalu berkejaran dengan bayang-bayang.
Tahun berjalan membawa kisah kembali ke rumah kopi di sudut jalan dan pelukan siluet pepohonan Kotamobagu. Baginya, di mana ada kopi, alkohol, dan cerita, di situlah persinggahan. Hingga perjalanan membawanya kini menjejak di Pulau Dewata, Bali.
Jika sanak-saudara, handai taulan, berlomba-lomba melirik jarum jam berdentang di angka dua belas (meski yang lainnya lupa karena sibuk dengan 'kedewasaan' masing-masing), saya memilih hari ini untuk mengucapkan selamat hari ulang tahun, Kats (8 Agustus). Tak banyak yang harus saya tulis.
Sulang!! Untuk kebersamaan dan kebebasan!!
"Tadi di sini Kak!"
"Burein (sialan), Kak pe kous ketat karamba dia dapake (kaos ketat belang-belang milik kakak dipakainya). Ugat bi' tumon Slank (maunya seperti Slank). Pe mahal tu kous eh! (Mahal kaos itu)."
Ha-ha-ha-ha.
Uwin memang sejak tahun 1998 berambut gondrong. Tubuhnya ceking dibalut celana jeans ketat, robek, belel agak kumal, dan tentu saja, kaos-kaos yang sebagian hasil curian dari lemari kakak perempuannya (fakta di atas). Sepatu converse-nya pun kumal. Di Villa Putih Kleak Generasi 98, oleh kawan-kawan di situ, ia disapa Slank. Meski di tembok kamar, ada Sepultura terlukis di dinding.
Kampus Samratulangi Manado adalah markasnya. Tentu di Mapala Avestaria. Usai turun gunung dan susuri lembah, sepenggal-sepenggal waktunya ia seretkan ke Lorong Hitam (Scene Punk 'n' Skin Manado belakang Gedung Joeang). Puisinya juga menggelegar di Balai Wartawan Indonesia dalam Gigs (music party) Punk 'n' Skinhead, depan Gedung Joeang. Pun di Gedung Pingkan Matindas. Ia adalah Anarko tanpa fashion yang melekat pada Punker; Mohawk, Boots, dan puluhan Emblem. Sebab memang ada pameo yang mengatakan; Setiap Anarko belum tentu Punk, tetapi setiap Punker pastilah Anarko. Pernah sekali dua saya diajaknya ke Lorong Hitam, belakang BRI, SMA Panca' dan Pingkan Matindas. Debat pernah hebat-hebatnya di sana.
Saya sempat bertanya, "Ada apa dengan Slank?" Ia menjawab, "Mereka sudah mengaku khilaf dan taubat." Karena jawabnya begitu, maka debat nan hebat (terkadang melelahkan) cepat tersulut.
Ya. Seperti itulah adanya Kats (Ketua). Kats adalah julukan yang melekat usai gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York dihantam pesawat yang katanya dibajak teroris. Sebab pada Selasa 11 September 2001, melalui Musyawarah Anggota, Komunitas Pecinta Alam Bolaang Mongondow Lestari (KPA Bomlest) dibentuk. Dan sesuai kesepakatan bersama, Uwin didaulat sebagai Ketua. Ter-mintahang-lah sapaan Kats padanya.
KPA mulai mati suri beberapa tahun lalu semenjak anggotanya bertambah umur, mulai 'dewasa' dan sibuk dengan urusan rumah tangga dan pekerjaan.
Ah, seharusnya memang jangan pernah dewasa, lalu hidup seperti Spongebob di dasar laut, yang tak mengenal tua dan tetap bahagia. Biarlah masa lalu dan masa depan, hanya bagian dari petualangan angan. Imaaaajiiiiinaaaasiiii (ucap Spongebob sembari melukis pelangi dengan jemarinya).
Usai menamatkan kuliah ia mengarungi laut menuju Gangga, sebuah pulau nan indah beberapa mil dari Bunaken. Uwin kala itu gemar berbahasa asing; mercy, danke, grazie, va bene, katanya kepada turis-turis bermata kucing. Di sebuah resort milik orang Itali Sisillia, ia bekerja di Diving Center, sebagai guide snorkling and diving. Terkadang disuruh memboyong tamu-tamu mata kucing ke luar pulau menyeberangi lautan menuju pasar dan puncak Mahawu.
Sebagai anak di Diving Center, itulah mungkin salah satu alasannya di kemudian hari memilih lumba-lumba (dolphin) sebagai tato. Tiap pulang cuti, lagi-lagi saya diajaknya ke Lorong Hitam. Lalu kulit coklat kegosong-gosongan karena terbakar matahari, yang pernah ia bangga-banggakan itu, tak bertahan lama. Ia memilih pulang.
Uwin, mungkin baginya, kebersamaan adalah kekekalan abadi meski kita telah menjadi fosil. Untuk itulah di punggung kanannya bertengger tato belulang Garuda yang, tengah mencekeram tulang (seolah pita) bersemboyan 'Bersama Tinggal Iga'.
Kebebasan pun tersirat dari tato dolphin bermata kosong dengan benjolan sastra di kepala, yang menyembul dari kulit lengan atas kirinya. Dolphin yang selalu ingin memenuhi mata kosong dengan segalanya. Garuda dan dolphin, dua tato itu terajah di tubuhnya. Bersama dan bebas merdeka. Slank, telah bertransformasi menjadi Skinhead (Ia mengaku Skinhead Anarko).
Meninggalkan Sepultura ketika Max Cavalera hengkang sejak 98. Ia lalu memakai Boots, celana yang tetap Stapress, memangkas rambutnya hingga plontos, lalu teriak riuh rendah chaosnya Gigs. Oi..Oi..!!
Di lorong-lorong hitam Gedung Joeang, kami pernah berkejar-kejaran dengan polisi dan anjing.
Hingga kemudian hari ia memutuskan untuk menikah dan lahirlah Chaskin. Putri lucunya. Silih berganti hari, bulan, dan kenangan. Ia menjual habis dua gudang berisi kendaraan lalu menolak ke Lombok oleh sebuah promosi atas kinerjanya. Ia memilih masuk arena politik. Satu-dua teman di komunitas menentangnya. Tapi Kats tetap maju. Selanjutnya ia rutin menulis.
Segalanya berubah. Garuda dan Dolphin dijeruji. Tapi apa artinya kebebasan jika tak pernah merasai terkerangkeng? Kemudian ia memutuskan kembali melompati samudera, lalu berkejaran dengan bayang-bayang.
Tahun berjalan membawa kisah kembali ke rumah kopi di sudut jalan dan pelukan siluet pepohonan Kotamobagu. Baginya, di mana ada kopi, alkohol, dan cerita, di situlah persinggahan. Hingga perjalanan membawanya kini menjejak di Pulau Dewata, Bali.
Jika sanak-saudara, handai taulan, berlomba-lomba melirik jarum jam berdentang di angka dua belas (meski yang lainnya lupa karena sibuk dengan 'kedewasaan' masing-masing), saya memilih hari ini untuk mengucapkan selamat hari ulang tahun, Kats (8 Agustus). Tak banyak yang harus saya tulis.
Sulang!! Untuk kebersamaan dan kebebasan!!
Rabu, 05 Agustus 2015
Menu7u Graha Pena
"Saya hanya lulusan SMA."
Ucap itu yang berdenging di telinga, terus dan menerus. SMA, akronim dari Sekolah Menengah Atas yang, kalau standarisasi menjadi wartawan di Jawa Post Group (JPG), SMA memiliki nilai 7-lah. Lumayan tidak aman. Sebab di sini harus sarjana. Bahkan bukan hanya di sini (JPG), Kompas Group, Tempo, lebih harus begitu. Sarjana.
Ingat saya, saat di-interview Fauzi Permata yang sebagai Pemred Radar Bolmong (RB), setahun lalu.
"Di sini memang harus sarjana."
Saya hanya berusaha tetap tegap, namun datang rasa kecil melahap.
Lalu kenapa saya bisa di RB? Jawabannya karena saya bisa menulis. Itu saja. Semua orang memang bisa menulis (lihat daun jatuh, tulis!), Fauzi lantas bertanya apa nama blog di mana tempat saya mencurahkan tinta pena. Saya mengeja Ge-tah Se-mes-ta kala itu. Dicarinya dan dibacai. Pikir saya dalam hati, "Awas kena getah." He-he-he.
Ah, akhirnya saya diterima. Wapemred Firman Toboleu mengangguk pula. Lega saya. Tanya dari Fauzi yang terakhir terdengar tegas.
"Anto' (pakai koma) apakah kamu bisa dan siap menerima sistem yang ada di Radar Bolmong?"
Sepuluh jemari saya saling merangkul di atas paha kanan, lalu kugoyang-goyangkan sedikit untuk menghilangkan gugup. Iya, jawaban saya bakal merubah Sigidad dari wartawan media elektronik di www.lintasbmr.com kemudian ber-nomaden ke www.pilarsulut.com, lalu menjadi wartawan koran harian RB. Terbesar di Bolmong Raya loh. Ini pohon besar, sudah banyak diterpa angin kencang pula. Tapi nyatanya tetap kokoh. Tegar! (sembari mengacung).
Lalu, pelan dan pasti saya menjawab dengan segaris tanya, "Bagaimana saya bisa siap dan menerima sistem yang ada, jika saya belum menjalaninya? Maka saya harus menjalaninya terlebih dahulu!"
Ada seru di situ. Seru itu pertanda semangat yang keras dari Sigidad yang dikenal pemalas.
Saya tercacat sebagai wartawan magang, tepat hari ulang tahun ke-6 RB. Wuih, momen tercatat dengan tepat Sigidad.
Sambil menenteng kamera merek Harry Tri Atmojo (Mas, red), saya mulai jepret sana, jepret sini. Foto-foto lepas jelas Mas. Eh, tersaring dan nangkring di halaman. Bangga saya kala itu, apalagi tercatut nama Anto Radar Bolmong di sana. Akhirnya impian bisa di koran besar tercapai. Impian saya untuk melangkah menjadi JURNALIS.
*
Dalam setiap perusahaan media, jelas ada banyak wartawan. Tapi, mungkin hanya RB yang memiliki satu wartawan perempuan yang aneh bin ajaib. (ukuran dalam jangkau pergaulan dan wilayah perjalanan hidup saya). Namanya Roslely Sondakh. Biasa dipanggil Eling. Kalau di Eropassi (Desa Passi tempat asalku), Eling itu seorang laki-laki. Ha-ha-ha-ha! Padahal Eling ini cantik loh, tole' le.
Terus Sondakh-nya dari mana ya? Tanya yang kerap membikin seteru antara Sondakh Vs Mamonto di dapur redaksi. Pasra Hidayat Mamonto atau si gembul Eges pernah digampar hanya gara-gara ejek-ejekkan marga. Saya memilih lari meski pernah satu dua kali terpaksa meladeni mulut bawelnya Eling. Namun Eling meski sendiri, tak mau kalah dikerubuti Mamonto Cs. Ada Pasrah Hidayat Mamonto, Rusmin Mamonto, Gufran Mamonto, sama Radar Mamonto.
Di kantor, jika Anda mendengar cekikikan seperti kuntilanak beranak, maka itu pertanda Eling telah datang dari berburu berita berdarah-darah. Liputan apa coba? Penjahat, rusuh, cabul, tilang, tikam, bunuh. Ha-ha-ha-ha.... Eling tak mau luput atau bobol berita crime. Jika data kurang; kepalanya tegap, cemas, mata liar, lalu mengisap rokok dengan ritme cepat (wuitttss sensor). "Pemar le!" ketusnya.
Eges pun demikian, tak kalah cemas. Pernah kutanyai, "Eges sudah berapa beritamu?"
Kilat kulit wajahnya yang disapa temaram layar laptop, lusuh menjawab, "Sudah sepuluh." Ha-ha-ha-ha-ha.... Halaman dalam, penugasan, dan berita tambahan. Aih, di dapur redaksi itu kejam bro! Jangan berharap tugasmu selesai, lalu menghilang seperti gaya senyap-senyap mafioso-nya si Muri. Setiap mata, telinga, mulut, menjadi awas. Ada informasi apa saja, Ruuuunnnn Craaabbbbb!! Ruuuunnnn!!
Oh, ya, kita tinggalkan dulu hingar di dapur redaksi. Ngomong soal pendidikan saya yang hanya SMA, Eges dan Eling ini anak kuliahan di Universitas Dumoga Kotamobagu (UDK). Eling sudah diwisuda lalu menyandang sarjana pertanian. Hmmm.... Mau bertani di mana Eling? Bakatmu itu jadi wartawan. Cerewet dan cermat.
Sementara Eges memilih tetap fokus dengan pekerjaan yang, menurutnya bisa mencerahkan masa depannya. Secerah layar ponsel yang kerap digonta-gantinya itu. Android Oppo miliknya malah kini jadi ponsel 'kesombongan' saya saat ini, untuk ber-CoC dengan TH 9 cacat! (nyombong kok pake Oppo, boleh, boleh, Ha-ha-ha-ha). Eges pun akhirnya mengaku ia hanya lulusan SMA, sebab kuliah tak berujung. Sudahlah Eges, terus latih menulis. Pramoedya Ananta Toer saja hanya berakhir di bangku SMP kelas 2 tapi malah dapat gelar doktor.
Terlalu banyak ketawa, sampai lupa saya sudah setahun di RB. 6 Agustus 2008-2015, 7 tahun sudah kiprah RB di bumi Totabuan. Kemudian rindu ini tiba-tiba hadir di kenang dapur redaksi. Rindu kepada mereka yang telah datang dan pergi. Ada Sandi Mokoagow (yang ngajarin Eges menulis berita), Fredi Saripi, Eling dan Ale (cocok disandingkan namanya di undangan nikah), Abdul Melangi Mewangi Sepanjang Hari, Rusmin Mamonto, Aping Manangin. Ada Renal anak iklan yang bercita-cita menjadi wartawan, namun setelah berkesempatan menjadi wartawan, bulat memilih melanjutkan kuliah (sangat konsisten).
Oh, ya, ada Mul Pontororing yang juga suka tertawa bersama di dapur redaksi, rebutan colokan, yang akhirnya ikhlas mengalah karena dia bukan anak negeri, ha-ha-ha, padahal tak perlulah kalimat itu meng-ada, sebab kita semua anak Indonesia (ini cerita fiksi, karangan saya). Jadi ingat lagi Pramoedya Ananta Toer yang paling alergi dengan ego kewilayahan. "Aku bukan Jawa dan ogah berbahasa Jawa. Aku orang Indonesia!"
Jika saya gembungkan ke skala bumi, yah, saya ini anak bumi, jadi tidak ada kata yang mengklaim atau meringkus saya ini sebagai anak pribumi ini dan itu.
Saya (kita) kan, lahir di bumi, bukan? Jadi tidak ada yang namanya penduduk pribumi Aceh atau penduduk pribumi Papua. Kita semua penduduk BUMI MANUSIA.
Oke, terlalu serius, kita teruskan ke CoC, eh, ke Egesnya. Iya, saya dan Mul terkena dampak agitasi propagandanya Eges, yang menyolokkan flash disk ke laptop kami. Akhirnya game CoC menghijau di layar laptop lewat aplikasi android bluestacks. Dengan koneksi internet yang super cepat, saya dan Mul berlomba-lomba siapa yang duluan mentok base, TH, troops, dan lain sebagainya. Kebayang main CoC pakai satu telunjuk atau mouse? Ehu!
Game menjalar ke segala sudut ruang meski hanya di waktu luang. Namanya kerja, harus kerja dulu. Berita selesai, baru bisa main game. Siap Bos! berita usai sudah (tangkis). Kerja keras demi ponsel android, demi main CoC. Ha-ha-ha-ha.
Tak berselang lama, kabar itu datang. Mendebur dada kami saat mendengar, JPG diharuskan memiliki maksimal tiga pewarta yang pure news. Tidak harus ditargetkan ini dan itu. Hanya berita.
Tiga terbaik itu akhirnya diputuskan, Eling, Eges, dan Anto' (Aih, saya euy, saya, Sigidad euy, bangga).
Tes, tes, dan tes, dilakukan Pemred Fauzi dan Wapemred Firman. Pertanyaan demi pertanyaan dilempar. Ha-ha-ha-ha... Sialan! Eling membikin kacau ruang saat 'diinterogasi'. Gelak tawa, muka merah, kepul asap, dan segalanya menebal di ruangan. Tak ada yang tersisa. Hanya kekeluargaan. RB memang telah menjadi keluarga besar kami, seiring dengan tawa-tawa renyah dan geram meledak. Mana berita!! Deadline!! Cepat rapat proyeksi!! Kami sudah terbiasa.
Setelah itu, kami bertiga menunggu. Menunggu. Cemas. Ingin jadi wartawan liputan khusus. Jadi? saling tanya. Kapan? Hingga....
Seminggu kemudian pagi berkabut. Dengan mata merah saya dan Eges terbangun. Ponsel berdering, kami harus berangkat sekarang juga ke Graha Pena Manado. Seluruh anak media Manado Post Group (MPG) sudah datang dari pelosok. Gorontalo Post, Radar Gorontalo, Luwuk Post, Maluku Utara Post sudah tiba. Radar Bolmong masih tidur. Ha-ha-ha. Cusssss!!! Dimodalin Bos!!!
Terlambat!
Radar Bolmong sudah rapor merah, terlambat pula. Namun langkah kece tegap memasuki Graha Pena. Eling jadi penunjuk jalan, sebab ia pernah "divaksin anti rabies" di tempat ini.
Memasuki ruangan di lantai 5, kami tinggal mendengar lentingan materi penghujung. Hingga esok hari materi lanjutan diajarkan, lalu pada hari ketiga kami ditugaskan ke lapangan. Panjang ceritanya. Bisa sebuku.
Tapi begitu leganya, saat liputan Radar Bolmong yang akhirnya terpilih terbaik dan dicetak di Manado Post. Halaman satu coy! Itu bukan tulisan saya, tapi tulisan dari hasil kerja team work kami. Saling tanya antara saya, Eges, Eling, dan kawan-kawan lainnya. Hasil liputan dari tim yang kami namai MaLuBoGo (Maluku Utara Post, Posko Manado, Luwuk Post, Radar Bolmong, dan Gorontalo Post), iya Manado Post, Radar Manado, dan Radar Gorontalo tak ada yang mewakili pelatihan. Ada kredo dari MaLuBoGo yang kurangkai sendiri, akronim pula dari MaLuBoGo, yaitu "Malu bertanya jadi bogo-bogo (bodoh)" Ha-ha-ha.
Usai pelatihan, kami pun dijuluki Kopasus. Pulang dan bertugas sebagai Kopasus memang berat. Liputan kami apa saja asal harus yang meng-etalase.
Setelah itu, bulan, pos liputan, dan tawa silih berganti. Ah, RB. 7 tahun sudah, 1 tahun usai. Kami dibentuk agar bisa saling mengerti, membantu, dan kerjasama. Kini mereka yang datang dan pergi itu meninggalkan kenang. Yang tersisa (capek nyebut satu-satu, banyak nama akun CoC-nya, ha-ha-ha-ha) akan 'Menu7u Graha Pena'.
Happy Anniversary!!
Ah, rindu digebukin Eling dan ditawari ponsel terbaru Eges.
Arah bisa beda, tapi tuju tetap sama. Biarkan pena menuntun kemana tujuan kita. Berbeda ruang, tapi kita masih bisa saling sapa dan ajak, bukan?
"Ayo, kita makan jagung rebus lagi!"
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
