Selasa, 15 Desember 2015
Pengadilan Negeri Kotamobagu
Diterima di Radar Bolmong (RB), Agustus 2014, saya mulai meliput namun masih dengan bimbingan trainer. Namanya Roslely Sondakh (Eling). Dia pemangku pos liputan Hukum dan Kriminal (Hukrim), dimana pos itu menjadi tempat untuk melatih wartawan baru.
Saya pun diajaknya berkeliling ke Markas Polisi Resort (Mapolres) Bolmong, Kantor Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Bolmong, Kodim 1303 Bolmong, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kotamobagu, Pengadilan Negeri (PN) Kotamobagu, sampai ke balik jeruji di Rumah Tahanan (Rutan) Kotamobagu. Kantor Polisi Sektor (Polsek) juga tak ketinggalan, dari yang sekitar Kotamobagu, sampai di beberapa wilayah Bolmong.
Pos Hukrim memang asyik dan kudu cermat, sebab kita dilatih untuk sedetail mungkin menguasai materi liputan. 5W 1H dituntut dalam isi berita. Misalnya ada kasus pembunuhan, harus detail kronologisnya; jam berapa, hari apa, motif, usia korban, senjata, sampai warna celana dalam korban. Setidaknya begitulah penjelasan Eling dengan mimik serius.
Lalu tibalah hari itu. Saya diajaknya ke PN Kotamobagu. Meski sebenarnya dia sendiri jarang ke sana, sebab tempat mangkalnya di Mapolres. Menurut Eling, liputan sidang terlalu lama nunggunya. Di samping itu, memang ada wartawan lain yang dikhususkan di pos pengadilan. Saya calonnya.
Setelah diperkenalkan dengan Humas PN, yang juga merangkap sebagai hakim, Erick Christoffel, saya pun resmi menduduki pos pengadilan. Sidang-sidang mulai saya ikuti, setelah sebelumnya mendapat arahan dari Eling. Seminggu saya sudah dilepasnya sendirian.
Pada suatu hari, ada sebuah kasus pemukulan seorang kepala desa (sangadi) terhadap seorang nenek. Tertarik, saya pun mengikuti sidang itu. Usai sidang berlangsung, saya mewawancarai si nenek dan keluarganya. Nenek itu menuturkan kasusnya sudah hampir setahun, tapi baru sekarang disidang. Saya yakin, tidak salah mendengar penuturan nenek itu. Namun hal itulah yang menjadi pangkal "seteru" saya dengan PN Kotamobagu.
Di sub judul, tertera pernyataan nenek itu, bahwa kasusnya sudah setahun baru disidang. Esoknya saya kembali mangkal di PN. Seorang penjaga kantor menghardik saya atas pemberitaan itu. Saya segera menghubungi Eling, yang kemudian menyusul saya di PN.
"Jangan marah-marah dulu, kami ingin ketemu Humas Pengadilan!" kata Eling kepada penjaga itu.
Namun karena Humas PN sedang keluar kota, kami bisa bertemu esoknya. Hakim Erick menyambut kami lalu mempersilakan duduk. Dia menyampaikan keberatan soal pemberitaan RB, mengenai persidangan Nenek Vs Sangadi. Untuk persidangan perkara penganiayaan memang durasi sidangnya, yang paling lama itu mungkin hanya dua bulan. Kami mengaku salah dan memutuskan meralat.
"Biasa itu, wartawan crime pasti banyak kejadian bagini," kata Eling memberi semangat.
Sejak pemberitaan ralat itu, PN Kotamobagu mulai membuka tangan. Saya masuk hampir ke semua ruangan. Membuat profil para panitera sampai staf biasa. Bahkan seorang panitera senior, Reny Kanal, yang sangat phobia mengenai profil, akhirnya bisa saya siasati. Saya melakukan wawancara secara diam-diam. Menanyai nama mendiang suaminya, latar belakangnya, dengan percakapan selama seminggu. Setelah profilnya dimuat, dia mengejar saya sembari berteriak.
"Antoooooo!!! brani nganaaaa!!!" teriaknya. Saya yang tengah memarkir motor segera kabur ke ruang sidang.
Di PN Kotamobagu, sosok ibu dan bapak cukup mudah ditemui dan diakrabi. Hari, minggu, bulan berjalan. Saya sudah dianggap seperti putra mereka sendiri. Terkadang tertidur di ruang sidang dan kerap terbangun dengan ketuk palu. Sidang menarik, para panitera sering mengabari saya. Ikatan emosional terbangun begitu saja, meski seharusnya sebagai seorang wartawan, hal-hal seperti itu harus dihindari. Tapi PN Kotamobagu, apa yang salah dengan lembaga negara ini. Selama saya meliput, tak ada kejanggalan yang saya temui. Persidangan berjalan sebagaimana mestinya. Pun dengan vonis. Ini sejauh saya mengenali PN Kotamobagu. Saya pernah mengikuti sidang, saat Ketua Majelis Hakim membentak seorang saksi polisi. Dia pun menyindir, untuk kasus judi togel, kenapa hanya selalu kurir yang dibawa ke ruang sidang. Bukan bandarnya.
Berbulan-bulan kemudian, saya sempat pindah pos liputan bisnis dan ekonomi. Namun acapkali mampir ke PN Kotamobagu. Setelah itu, tak berselang lama saya kembali ke liputan Hukrim. Lalu hakim-hakim baru berdatangan. Hakim-hakim lama seperti burung (kata Hakim Erick), terbang lagi dan hinggap membangun sarang-sarang di tempat baru. Seperti Hakim Nur Dewi Sundari dan Hakim I Dewa M.B. Watsara yang juga telah pindah. Dan menurut Hakim Erick, yang kerap menanyai keadaanku setelah resign dari RB, bahwa dia pun akan menyusul.
"Saya akan pindah ke Pengadilan Negeri Amurang," sampainya melalui WhatsApp.
Saya tiba-tiba ingat mereka yang, nama mereka tidak bisa saya jejer satu per satu. Saking banyaknya. Di PN Kotamobagu, hampir seluruh penghuninya adalah seperti keluarga besar saya. Pun sebagian pengacara dan jaksa-jaksa. Bahkan mereka yang pernah menjalani sidang, selalu hadir di sana rasa kemanusiaan yang terus tergelitik. Saya banyak menghabiskan waktu untuk berbincang dengan para tahanan dan keluarga mereka.
Entah kapan, saya bisa mampir lagi ke PN Kotamobagu, untuk sekadar menyapa mereka. Menyapa ibu-ibu dan bapak-bapak angkat saya. Pun kawan-kawan di sana yang selalu ramah.
PN Kotamobagu adalah rumah yang menjadi muara bagi semua perkara. Dan di sana pernah ada ilmu berserakan. Terima kasih sudah membagi banyak ilmu. Sehat selalu untuk kalian semua.
Saya pun diajaknya berkeliling ke Markas Polisi Resort (Mapolres) Bolmong, Kantor Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Bolmong, Kodim 1303 Bolmong, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kotamobagu, Pengadilan Negeri (PN) Kotamobagu, sampai ke balik jeruji di Rumah Tahanan (Rutan) Kotamobagu. Kantor Polisi Sektor (Polsek) juga tak ketinggalan, dari yang sekitar Kotamobagu, sampai di beberapa wilayah Bolmong.
Pos Hukrim memang asyik dan kudu cermat, sebab kita dilatih untuk sedetail mungkin menguasai materi liputan. 5W 1H dituntut dalam isi berita. Misalnya ada kasus pembunuhan, harus detail kronologisnya; jam berapa, hari apa, motif, usia korban, senjata, sampai warna celana dalam korban. Setidaknya begitulah penjelasan Eling dengan mimik serius.
Lalu tibalah hari itu. Saya diajaknya ke PN Kotamobagu. Meski sebenarnya dia sendiri jarang ke sana, sebab tempat mangkalnya di Mapolres. Menurut Eling, liputan sidang terlalu lama nunggunya. Di samping itu, memang ada wartawan lain yang dikhususkan di pos pengadilan. Saya calonnya.
Setelah diperkenalkan dengan Humas PN, yang juga merangkap sebagai hakim, Erick Christoffel, saya pun resmi menduduki pos pengadilan. Sidang-sidang mulai saya ikuti, setelah sebelumnya mendapat arahan dari Eling. Seminggu saya sudah dilepasnya sendirian.
Pada suatu hari, ada sebuah kasus pemukulan seorang kepala desa (sangadi) terhadap seorang nenek. Tertarik, saya pun mengikuti sidang itu. Usai sidang berlangsung, saya mewawancarai si nenek dan keluarganya. Nenek itu menuturkan kasusnya sudah hampir setahun, tapi baru sekarang disidang. Saya yakin, tidak salah mendengar penuturan nenek itu. Namun hal itulah yang menjadi pangkal "seteru" saya dengan PN Kotamobagu.
Di sub judul, tertera pernyataan nenek itu, bahwa kasusnya sudah setahun baru disidang. Esoknya saya kembali mangkal di PN. Seorang penjaga kantor menghardik saya atas pemberitaan itu. Saya segera menghubungi Eling, yang kemudian menyusul saya di PN.
"Jangan marah-marah dulu, kami ingin ketemu Humas Pengadilan!" kata Eling kepada penjaga itu.
Namun karena Humas PN sedang keluar kota, kami bisa bertemu esoknya. Hakim Erick menyambut kami lalu mempersilakan duduk. Dia menyampaikan keberatan soal pemberitaan RB, mengenai persidangan Nenek Vs Sangadi. Untuk persidangan perkara penganiayaan memang durasi sidangnya, yang paling lama itu mungkin hanya dua bulan. Kami mengaku salah dan memutuskan meralat.
"Biasa itu, wartawan crime pasti banyak kejadian bagini," kata Eling memberi semangat.
Sejak pemberitaan ralat itu, PN Kotamobagu mulai membuka tangan. Saya masuk hampir ke semua ruangan. Membuat profil para panitera sampai staf biasa. Bahkan seorang panitera senior, Reny Kanal, yang sangat phobia mengenai profil, akhirnya bisa saya siasati. Saya melakukan wawancara secara diam-diam. Menanyai nama mendiang suaminya, latar belakangnya, dengan percakapan selama seminggu. Setelah profilnya dimuat, dia mengejar saya sembari berteriak.
"Antoooooo!!! brani nganaaaa!!!" teriaknya. Saya yang tengah memarkir motor segera kabur ke ruang sidang.
Di PN Kotamobagu, sosok ibu dan bapak cukup mudah ditemui dan diakrabi. Hari, minggu, bulan berjalan. Saya sudah dianggap seperti putra mereka sendiri. Terkadang tertidur di ruang sidang dan kerap terbangun dengan ketuk palu. Sidang menarik, para panitera sering mengabari saya. Ikatan emosional terbangun begitu saja, meski seharusnya sebagai seorang wartawan, hal-hal seperti itu harus dihindari. Tapi PN Kotamobagu, apa yang salah dengan lembaga negara ini. Selama saya meliput, tak ada kejanggalan yang saya temui. Persidangan berjalan sebagaimana mestinya. Pun dengan vonis. Ini sejauh saya mengenali PN Kotamobagu. Saya pernah mengikuti sidang, saat Ketua Majelis Hakim membentak seorang saksi polisi. Dia pun menyindir, untuk kasus judi togel, kenapa hanya selalu kurir yang dibawa ke ruang sidang. Bukan bandarnya.
Berbulan-bulan kemudian, saya sempat pindah pos liputan bisnis dan ekonomi. Namun acapkali mampir ke PN Kotamobagu. Setelah itu, tak berselang lama saya kembali ke liputan Hukrim. Lalu hakim-hakim baru berdatangan. Hakim-hakim lama seperti burung (kata Hakim Erick), terbang lagi dan hinggap membangun sarang-sarang di tempat baru. Seperti Hakim Nur Dewi Sundari dan Hakim I Dewa M.B. Watsara yang juga telah pindah. Dan menurut Hakim Erick, yang kerap menanyai keadaanku setelah resign dari RB, bahwa dia pun akan menyusul.
"Saya akan pindah ke Pengadilan Negeri Amurang," sampainya melalui WhatsApp.
Saya tiba-tiba ingat mereka yang, nama mereka tidak bisa saya jejer satu per satu. Saking banyaknya. Di PN Kotamobagu, hampir seluruh penghuninya adalah seperti keluarga besar saya. Pun sebagian pengacara dan jaksa-jaksa. Bahkan mereka yang pernah menjalani sidang, selalu hadir di sana rasa kemanusiaan yang terus tergelitik. Saya banyak menghabiskan waktu untuk berbincang dengan para tahanan dan keluarga mereka.
Entah kapan, saya bisa mampir lagi ke PN Kotamobagu, untuk sekadar menyapa mereka. Menyapa ibu-ibu dan bapak-bapak angkat saya. Pun kawan-kawan di sana yang selalu ramah.
PN Kotamobagu adalah rumah yang menjadi muara bagi semua perkara. Dan di sana pernah ada ilmu berserakan. Terima kasih sudah membagi banyak ilmu. Sehat selalu untuk kalian semua.
Setapak Langkah DB Menuju Sangadi
JAUH dari Eropassi (sebutan kami untuk Desa Passi), selain masakan Ibu dan Sigi, rindu senantiasa hadir merayapi setiap jengkal tanah desa tempat saya dilahirkan. Jejak-jejak kenakalan kami dari mencuri duren, matoa, rambutan, mangga, duku, jagung, pisang, ayam, (tapi syukurlah kami tidak pernah menyembelih kambing maupun sapi) semua adalah jejak-jejak yang orang tua pun pada akhirnya selalu mengamini betapa bandelnya kami.
Kenakalan itu semacam arisan dan warisan turun-temurun. Makanya perkara 'mencuri' milik 'kakek', yang dilakoni kami anak-anak bengal di kampung, hanya menjadi buah keprihatinan dan emosi yang meledak sesaat oleh setiap orang tua, dan tidak pernah diproses sebagai tindak pidana. Kecuali, jika apes dan kedapatan, maka bersiap malulah ketika dijejer di rumah salah satu tetua kampung lalu ditampar satu-satu oleh Bobato (Kepala Desa). Ingat, itu jika apes saja. Sebab seolah sudah umum, jika si empu selalu memendam rasa kehilangan, dengan ucapan antara geram dan ikhlas; "Ah, dulu lay torang waktu muda bagini. Akhirnya dapa balasan."
Begitulah Eropassi, desa yang dengan segenap rasa, akan selalu saya dan siapa saja yang telah berada nun jauh di sana, rindukan. Tempat di mana tabung memori kami tertanam. Dan tempat di mana kata pulang begitu sentimentil.
Saya hanya sedang berada di Gorontalo. Tapi rindu ini sungguh setara ketika tapak kaki memijaki tanah Anging Mamiri dan ketika berada di Pulau Dewata, Bali. Dua wilayah terjauh yang selama ini saya jejaki. Tapi menyoal rindu, ruang memang bukan menjadi ukuran, tetapi kesempatanlah yang menjadi satu-satunya kendala. Selain itu, tentu saja selalu klasik; Ompul! Alias Ongkos Pulang. Samantara mancari ini sup..
Dan tibalah hari ini. Selasa 15 Desember 2015. Setelah Pileg 2014, dengan jagoan yang akhirnya lolos, lalu Pilpres 2014 dan Pilkada Boltim barusan, yang paling mendebarkan buat saya adalah momen hari ini; Pemilihan Sangadi (Kepala Desa) di Eropassi. Pileg 2014, sanak-keluarga dan sahabat yang mencaleg dan tentu saya jagokan, berhasil meraih kursi. Beberapa bulan kemudian, pada momen Pilpres ketika Jokowi 'berkelahi' dengan Prabowo, saya yang akhirnya menolak Golput dan memilih berada di barisan mantan Walikota Solo ini, masih bisa mengingat bahkan merasakan bunyi degup jantung saat hari H.
Selanjutnya, Pilkada Boltim 9 Desember 2015 kemarin, kandidat petahana yang jauh-jauh hari sudah saya yakini menang, sempat meremas dan memainkan irama dalam dada yang naik turun. Tapi Pilsang di desa saya, khususnya Passi 1, selain calon petahana dan dua kandidat lagi yang usia paruh baya mereka tak jauh beda, dua kandidat muda, kakak-kakak saya di RPM (Rumah Pemuda Merdeka), yakni Delianto Bengga (disapa DB) dan Tito Sugeha (biasa saya sapa KT), ikut rembuk masuk arena suksesi Pilsang, dan tak hanya secara sentimentil melahirkan getaran-getaran Baper di pelataran hati saya. Tapi efek baper itu, berlipat ganda melahirkan bunyi degup jantung saya lebih kencang di banding Pileg, Pilpres, Pilgub, dan Pilbup Boltim.
Sebulan yang lalu, DB beberapa kali menghubungi saya. Dia suka bertanya-tanya; minta saran dan masukan dari saya dalam rangka suksesi Pilsang yang tengah dimasukinya. Pembaca, siapa yang tidak baper dan agak termehek-mehek lensek!! Seorang Kakak, yang umur bahkan pengalamannya jauh di atas saya, justru minta pendapat sang bocah ingusan. Siapa saya? Bukan konsultan lembaga survey, bukan ahli strategi yang melek pulitik. Tapi itulah DB. Ia selalu bertanya pada siapa saja yang menurutnya perlu ditanyai. Maka percayalah saya saat ini apa yang pernah disampaikan Uwin Mokodongan, pengelola media ini via chat BBM; "Anak-anak SD yang baru pulang sekolahpun dimintai pendapat oleh DB, bagaimana seharusnya menjadi Sangadi (Kepala Desa) yang layak diperjuangkan,".
Sekali lagi, itulah memang DB yang saya kenal. Saat ia beberapa kali megontak, sepintas lalu saya berpikir; Ah, dia mungkin cuma kesepian, atau berbasa-basi saja. Mungkin cuma hendak menanyai kabar saya di Gorontalo. Apalagi sebagai senior, DB lebih lihai dan paham soal strategi dan taktik dalam berpolitik. Dia suka berada di balik layar, dari pemilihan; Bupati, Legislatif, dan turut andil pula dalam Pilgub bahkan Pilpres. Tentu saja, apa yang dia tanyakan hanyalah basa-basi. Apalagi dia adalah pemain catur yang handal. Tapi toh, sekali lagi, inilah DB. "Semua orang itu guru," kata dia mengutip Pramoedya Ananta Toer. Saya kembali teringat saja. Suatu ketika saat reriungan di bawah dego-dego dibawah pohon Tome-tome.
Karena saya terus didesak, dimintai saran dan strategi, meski saya dalam keadaan yang terlalu santai jauh dari formal, akhirnya seenak perut saja saya menanggapinya via telpon. Tentu saja ini adalah gurauan nakal belaka; "Ya, nongkrong jo noh dengan anak-anak muda di leput. Bersulang sama-sama deng dorang,". Begitu saya merespon sembari berkelakar.
Tapi DB ternyata menanggapinya dengan serius. Bahkan tidak meralat soal saran bersulang sama-sama. Kata yang kita tahu begitu tabu bagi setiap calon. Tak usah calon Sangadi, untuk suksesi Ketua Kelas saja, sudah pasti setiap calon harus menghindari kata bersulang.
Setelah saling bersambut kata via ponsel yang selalu lebih dari 20 menit, DB akhirnya minta pamit menutup percakapan. Inilah salah satu yang membuat saya respect dengan DB. Dia sangat menghargai siapa saja. Bahkan seorang junior seperti saya pun didengarkan. Tapi sekali lagi, sudahlah saya, anak SD saja dimintai pendapat.
Waktu itu akhirnya tiba. Sejak pagi, facebook dan BBM saya awasi. Di grup facebook Passi Bersatu, satu demi satu status mulai diposting. Mulai dari dukungan terhadap pada calon Sangadi Eropassi 1 maupun Eropassi 2.
Untuk Eropassi 2 sendiri, saya tidak terlalu menyimak dan mencari tahu. Tapi sore hari, saya sudah dikabari bahwa salah satu figur muda yang tentu sangat saya kenal sekali, Mahdudat Mokodongan, Papa Eding, alias Dada', berhasil terpilih sebagai Sangadi mengalahkan kandidat lain. Selamat dan semoga memangku jabatan yang diamanahkan masyarakat Desa Eropassi 2 dengan adil.
Untuk Passi 1. Beberapa orang saya kirimi chat. Pun di grup BBM, Anak /3-AN (Anak Pertigaan). Jawaban mereka; perhitungan sedang berlangsung. Dusun 1, DB memimpin. Dusun 2 KT menang. Dalam hati saya, DB dan KT, keduanya seusia; muda, kreatif, dan inovatif. Beberapa kegiatan di kampung berupa perayaan-perayaan, mereka giati. Berjibaku meramu gagasan agar desa selalu ramai.
Nah, Desa Passi 1 memiliki 5 dusun. Perhitungan naik ke dusun 3. KT berhasil memimpin. Jempol saya seperti tukang ketik yang cemas dan terus mengejar informasi. Setelah masuk ke dusun 4, kolom chat saya sepi. Tak ada jawaban, grup pun demikian. Hanya lima menit, status-satus selamat ditujukan kepada DB. Dia berhasil memimpin secara akumulatif dari dusun 1 hingga 4. Dan tentu saja, dusun 5 adalah mahkota suaranya. Saya segera menghubungi dia, yang saya kira saking sibuknya, telepon saya bakal tak diindahkan. Tapi dia mengangkat, menjawab pertanyaan saya ketika saya berkata;
"Selamat!!" saya berteriak sebab keadaan di sana cukup riuh. Prasangka saya keliru. DB menyahut.
"Ah, blum, blum, tunggu sadiki le!" jawabnya dengan tenang.
Beberapa menit kemudian, kawan saya, Ewin, menelpon. Dia mengatakan kalau DB sudah memimpin dengan pautan sudah menyentuh 100 dibanding pesaingnya. Padahal dusun 5, yang adalah basis suaranya, belum dihitung. Keyakinan saya akhirnya mengental sudah. DB akan menang. Rasa haru sontak menggerayangi saya jauh di Gorontalo.
Untuk KT, terima kasih telah membuat suasana demokrasi di Eropassi semakin berarti. Sumbangsih yang selama ini sudah ada, teruslah dipelihara. Kalian berdua (DB dan KT) adalah dua kawan hebat yang ikut lomba balapan menuju finish, sehingga harus ada salah satu yang menyentuh finish.
Kepada petahana, Papa Lita, dan dua kandidat lain, Mama Jaya dan Papa Sari, yang tak lain adalah orang tua kami sendiri, terima kasih telah ikut melahirkan dan membentuk pemuda-pemuda tangguh di Eropassi. Kampung halaman kita yang kini menerima tongkat estafet dari kalian. Eropassi kini berkesempatan dipimpin seorang pemuda. Pemuda dari Rumah Pemuda Merdeka yang telah kalian didik dan ajarkan bagaimana harus mengambil peran dan keputusan. Kalian seperti Bung Karno mengatakan, kumpulkan 10 pemuda maka akan aku goncangkan dunia. Dan dalam konteks ini, kalian seolah-olah telah memberi arti dan makna; berikan kesempatan kepada 1 pemuda, maka Eropassi tercinta ini akan membuat sejarah.
Sekarang saya turutkan larik puisi yang dipentaskan saat hari ulang tahun DB, di tahun 2013 silam, ketika kami menggelar pesta ulang tahun di kediamannya. Puisi yang Uwin buat hanya 10 menit, ketika dapur di Mabespond disesaki aroma bumbu masak, dibacakan dengan getar bibir memerah karena pedasnya bebek bumbu RW hasil olahan penyair Eropassi .
Adakah suci terbentang di sepanjang waktu
Dalam rentang-rentang kisah yang berjalan menjadi lalu
Dalam batu
Helai daun yang diterkam angin
Pun di carik kertas yang usang bersama kerontang jalan muda yang terenggut
Adakah hitam menggelepar di lorong-lorong yang tergilas roda hidup
Membiru bersama kisah-kisah manis
Yang meriang bersama cerita-cerita elang
dan camar
mematuk tangkai rapuh di pantai
Putih
Hitam
Biru
Merah
Darah
Amarah
Dahaga
Suci
Di manakah langkah menempuh tujuan?
Yang gigir di antara keinginan paling sepi dan brutal
Hari berganti
Dunia terang
Kicau burung merentang di belantara hijau dan kilau cakrawala
Hari
Bulan
Tahun
Tik tik tak tak
Roda-roda berputar
Kita berada di mana napas menghitung langkah
Langkah-langkah gelisah
Langkah-langkah penuh harap
Langkah-langkah merah, biru, hitam, putih suci membilang
***
Saat ini, saya rasanya gatal untuk ingin sekali menambah langkah-langkah dalam puisi itu. Langkah-langkah itu adalah langkah menjadi Sangadi.
Selamat DB. Cheeerrrssss!!!
-Tulisan ini dimuat pula di
http://arusutara.com/2015/12/setapak-langkah-db-menuju-sangadi/
Kenakalan itu semacam arisan dan warisan turun-temurun. Makanya perkara 'mencuri' milik 'kakek', yang dilakoni kami anak-anak bengal di kampung, hanya menjadi buah keprihatinan dan emosi yang meledak sesaat oleh setiap orang tua, dan tidak pernah diproses sebagai tindak pidana. Kecuali, jika apes dan kedapatan, maka bersiap malulah ketika dijejer di rumah salah satu tetua kampung lalu ditampar satu-satu oleh Bobato (Kepala Desa). Ingat, itu jika apes saja. Sebab seolah sudah umum, jika si empu selalu memendam rasa kehilangan, dengan ucapan antara geram dan ikhlas; "Ah, dulu lay torang waktu muda bagini. Akhirnya dapa balasan."
Begitulah Eropassi, desa yang dengan segenap rasa, akan selalu saya dan siapa saja yang telah berada nun jauh di sana, rindukan. Tempat di mana tabung memori kami tertanam. Dan tempat di mana kata pulang begitu sentimentil.
Saya hanya sedang berada di Gorontalo. Tapi rindu ini sungguh setara ketika tapak kaki memijaki tanah Anging Mamiri dan ketika berada di Pulau Dewata, Bali. Dua wilayah terjauh yang selama ini saya jejaki. Tapi menyoal rindu, ruang memang bukan menjadi ukuran, tetapi kesempatanlah yang menjadi satu-satunya kendala. Selain itu, tentu saja selalu klasik; Ompul! Alias Ongkos Pulang. Samantara mancari ini sup..
Dan tibalah hari ini. Selasa 15 Desember 2015. Setelah Pileg 2014, dengan jagoan yang akhirnya lolos, lalu Pilpres 2014 dan Pilkada Boltim barusan, yang paling mendebarkan buat saya adalah momen hari ini; Pemilihan Sangadi (Kepala Desa) di Eropassi. Pileg 2014, sanak-keluarga dan sahabat yang mencaleg dan tentu saya jagokan, berhasil meraih kursi. Beberapa bulan kemudian, pada momen Pilpres ketika Jokowi 'berkelahi' dengan Prabowo, saya yang akhirnya menolak Golput dan memilih berada di barisan mantan Walikota Solo ini, masih bisa mengingat bahkan merasakan bunyi degup jantung saat hari H.
Selanjutnya, Pilkada Boltim 9 Desember 2015 kemarin, kandidat petahana yang jauh-jauh hari sudah saya yakini menang, sempat meremas dan memainkan irama dalam dada yang naik turun. Tapi Pilsang di desa saya, khususnya Passi 1, selain calon petahana dan dua kandidat lagi yang usia paruh baya mereka tak jauh beda, dua kandidat muda, kakak-kakak saya di RPM (Rumah Pemuda Merdeka), yakni Delianto Bengga (disapa DB) dan Tito Sugeha (biasa saya sapa KT), ikut rembuk masuk arena suksesi Pilsang, dan tak hanya secara sentimentil melahirkan getaran-getaran Baper di pelataran hati saya. Tapi efek baper itu, berlipat ganda melahirkan bunyi degup jantung saya lebih kencang di banding Pileg, Pilpres, Pilgub, dan Pilbup Boltim.
Sebulan yang lalu, DB beberapa kali menghubungi saya. Dia suka bertanya-tanya; minta saran dan masukan dari saya dalam rangka suksesi Pilsang yang tengah dimasukinya. Pembaca, siapa yang tidak baper dan agak termehek-mehek lensek!! Seorang Kakak, yang umur bahkan pengalamannya jauh di atas saya, justru minta pendapat sang bocah ingusan. Siapa saya? Bukan konsultan lembaga survey, bukan ahli strategi yang melek pulitik. Tapi itulah DB. Ia selalu bertanya pada siapa saja yang menurutnya perlu ditanyai. Maka percayalah saya saat ini apa yang pernah disampaikan Uwin Mokodongan, pengelola media ini via chat BBM; "Anak-anak SD yang baru pulang sekolahpun dimintai pendapat oleh DB, bagaimana seharusnya menjadi Sangadi (Kepala Desa) yang layak diperjuangkan,".
Sekali lagi, itulah memang DB yang saya kenal. Saat ia beberapa kali megontak, sepintas lalu saya berpikir; Ah, dia mungkin cuma kesepian, atau berbasa-basi saja. Mungkin cuma hendak menanyai kabar saya di Gorontalo. Apalagi sebagai senior, DB lebih lihai dan paham soal strategi dan taktik dalam berpolitik. Dia suka berada di balik layar, dari pemilihan; Bupati, Legislatif, dan turut andil pula dalam Pilgub bahkan Pilpres. Tentu saja, apa yang dia tanyakan hanyalah basa-basi. Apalagi dia adalah pemain catur yang handal. Tapi toh, sekali lagi, inilah DB. "Semua orang itu guru," kata dia mengutip Pramoedya Ananta Toer. Saya kembali teringat saja. Suatu ketika saat reriungan di bawah dego-dego dibawah pohon Tome-tome.
Karena saya terus didesak, dimintai saran dan strategi, meski saya dalam keadaan yang terlalu santai jauh dari formal, akhirnya seenak perut saja saya menanggapinya via telpon. Tentu saja ini adalah gurauan nakal belaka; "Ya, nongkrong jo noh dengan anak-anak muda di leput. Bersulang sama-sama deng dorang,". Begitu saya merespon sembari berkelakar.
Tapi DB ternyata menanggapinya dengan serius. Bahkan tidak meralat soal saran bersulang sama-sama. Kata yang kita tahu begitu tabu bagi setiap calon. Tak usah calon Sangadi, untuk suksesi Ketua Kelas saja, sudah pasti setiap calon harus menghindari kata bersulang.
Setelah saling bersambut kata via ponsel yang selalu lebih dari 20 menit, DB akhirnya minta pamit menutup percakapan. Inilah salah satu yang membuat saya respect dengan DB. Dia sangat menghargai siapa saja. Bahkan seorang junior seperti saya pun didengarkan. Tapi sekali lagi, sudahlah saya, anak SD saja dimintai pendapat.
Waktu itu akhirnya tiba. Sejak pagi, facebook dan BBM saya awasi. Di grup facebook Passi Bersatu, satu demi satu status mulai diposting. Mulai dari dukungan terhadap pada calon Sangadi Eropassi 1 maupun Eropassi 2.
Untuk Eropassi 2 sendiri, saya tidak terlalu menyimak dan mencari tahu. Tapi sore hari, saya sudah dikabari bahwa salah satu figur muda yang tentu sangat saya kenal sekali, Mahdudat Mokodongan, Papa Eding, alias Dada', berhasil terpilih sebagai Sangadi mengalahkan kandidat lain. Selamat dan semoga memangku jabatan yang diamanahkan masyarakat Desa Eropassi 2 dengan adil.
Untuk Passi 1. Beberapa orang saya kirimi chat. Pun di grup BBM, Anak /3-AN (Anak Pertigaan). Jawaban mereka; perhitungan sedang berlangsung. Dusun 1, DB memimpin. Dusun 2 KT menang. Dalam hati saya, DB dan KT, keduanya seusia; muda, kreatif, dan inovatif. Beberapa kegiatan di kampung berupa perayaan-perayaan, mereka giati. Berjibaku meramu gagasan agar desa selalu ramai.
Nah, Desa Passi 1 memiliki 5 dusun. Perhitungan naik ke dusun 3. KT berhasil memimpin. Jempol saya seperti tukang ketik yang cemas dan terus mengejar informasi. Setelah masuk ke dusun 4, kolom chat saya sepi. Tak ada jawaban, grup pun demikian. Hanya lima menit, status-satus selamat ditujukan kepada DB. Dia berhasil memimpin secara akumulatif dari dusun 1 hingga 4. Dan tentu saja, dusun 5 adalah mahkota suaranya. Saya segera menghubungi dia, yang saya kira saking sibuknya, telepon saya bakal tak diindahkan. Tapi dia mengangkat, menjawab pertanyaan saya ketika saya berkata;
"Selamat!!" saya berteriak sebab keadaan di sana cukup riuh. Prasangka saya keliru. DB menyahut.
"Ah, blum, blum, tunggu sadiki le!" jawabnya dengan tenang.
Beberapa menit kemudian, kawan saya, Ewin, menelpon. Dia mengatakan kalau DB sudah memimpin dengan pautan sudah menyentuh 100 dibanding pesaingnya. Padahal dusun 5, yang adalah basis suaranya, belum dihitung. Keyakinan saya akhirnya mengental sudah. DB akan menang. Rasa haru sontak menggerayangi saya jauh di Gorontalo.
Untuk KT, terima kasih telah membuat suasana demokrasi di Eropassi semakin berarti. Sumbangsih yang selama ini sudah ada, teruslah dipelihara. Kalian berdua (DB dan KT) adalah dua kawan hebat yang ikut lomba balapan menuju finish, sehingga harus ada salah satu yang menyentuh finish.
Kepada petahana, Papa Lita, dan dua kandidat lain, Mama Jaya dan Papa Sari, yang tak lain adalah orang tua kami sendiri, terima kasih telah ikut melahirkan dan membentuk pemuda-pemuda tangguh di Eropassi. Kampung halaman kita yang kini menerima tongkat estafet dari kalian. Eropassi kini berkesempatan dipimpin seorang pemuda. Pemuda dari Rumah Pemuda Merdeka yang telah kalian didik dan ajarkan bagaimana harus mengambil peran dan keputusan. Kalian seperti Bung Karno mengatakan, kumpulkan 10 pemuda maka akan aku goncangkan dunia. Dan dalam konteks ini, kalian seolah-olah telah memberi arti dan makna; berikan kesempatan kepada 1 pemuda, maka Eropassi tercinta ini akan membuat sejarah.
Sekarang saya turutkan larik puisi yang dipentaskan saat hari ulang tahun DB, di tahun 2013 silam, ketika kami menggelar pesta ulang tahun di kediamannya. Puisi yang Uwin buat hanya 10 menit, ketika dapur di Mabespond disesaki aroma bumbu masak, dibacakan dengan getar bibir memerah karena pedasnya bebek bumbu RW hasil olahan penyair Eropassi .
Adakah suci terbentang di sepanjang waktu
Dalam rentang-rentang kisah yang berjalan menjadi lalu
Dalam batu
Helai daun yang diterkam angin
Pun di carik kertas yang usang bersama kerontang jalan muda yang terenggut
Adakah hitam menggelepar di lorong-lorong yang tergilas roda hidup
Membiru bersama kisah-kisah manis
Yang meriang bersama cerita-cerita elang
dan camar
mematuk tangkai rapuh di pantai
Putih
Hitam
Biru
Merah
Darah
Amarah
Dahaga
Suci
Di manakah langkah menempuh tujuan?
Yang gigir di antara keinginan paling sepi dan brutal
Hari berganti
Dunia terang
Kicau burung merentang di belantara hijau dan kilau cakrawala
Hari
Bulan
Tahun
Tik tik tak tak
Roda-roda berputar
Kita berada di mana napas menghitung langkah
Langkah-langkah gelisah
Langkah-langkah penuh harap
Langkah-langkah merah, biru, hitam, putih suci membilang
***
Saat ini, saya rasanya gatal untuk ingin sekali menambah langkah-langkah dalam puisi itu. Langkah-langkah itu adalah langkah menjadi Sangadi.
Selamat DB. Cheeerrrssss!!!
-Tulisan ini dimuat pula di
http://arusutara.com/2015/12/setapak-langkah-db-menuju-sangadi/
Sabtu, 12 Desember 2015
Sebab di Endonesya, Ikan Mati Lebih Berharga dari Anak Papua
Saat subuh saya kerap terbangun. Bukan untuk salat, tapi ada agenda sunah; nyekrol layar ponsel dan baca berita. Dua kegiatan itu sebagai pengganti nyekrol butiran-butiran tasbih dan baca doa. Aih, ngapain juga bangun subuh buat baca berita? Tapi itulah gaya hidup baru saya yang terpolarisasi begitu saja, setelah menetap di Kota Gorontalo yang dijuluki Serambi Madinah. Di sini, pada setiap waktu salat, adzan bergemuruh ngalahin lagu Sepultura, Orgasmatron, yang saya setel jadi nada alarm.
Nah, sebelum saya dibuli para haters syariah, sebab terlalu banyak cocoklogi dan buat perbadingan sama agama, saya lebih baik serius lanjutin nulis ini, dan ronda ke syaraf-syaraf terpojok dalam otak, di mana bahan-bahan lelucon baru bisa saya temui, juga ide-ide bisa tergali.
Tiba-tiba saja saat nyekrol di Kompas.com, saya langsung ke salah satu konten 'Topik Pilihan'. Yang bertengger di sana, pertama jelas Pilkada Serentak 2015, jadi yang paling ngatap. Saya terus nyekrol lagi, sampai ke topik ke-enam, ada berita-berita nyoal 'Ikan Mati dan Terdampar di Pantai Ancol'.
Kemudian pikir saya terbang menuju Papua (eh, ikan mati di Pantai Ancol, bukan di Papua). Meski saat itu saya terus membacai berita-berita tentang ikan mati. Tapi sekali lagi, bukan ikan-ikan mati yang ada di hadapan saya. Tapi anak-anak Papua, yang tergeletak mati secara misterius. Kata 'misterius' juga saya copas dari Kompas.com, saat memberitakan soal itu, di akhir November.
Dan yang menjadi perusak suasana hati saya di subuh yang khusyuk ini, ragam media nasional di ibukota Jekardah (begitu anak-anak alay nyebutnya), ikan mati di Pantai Ancol saja, topik pilihannya bisa nangkring di posisi enam. Yah, memang jika ditelaah, peringkat itu sesuai banyak atau sedikitnya jumlah viewers yang mengunjungi topik tersebut. Namun ada yang membikin sedih di sini (fase menulis dengan tampang serius), saat membaca beberapa berita, dari yang berjudul 'Ancol Gandeng Berbagai Lembaga Terkait Kasus Ikan Mati', sampai hasil survei cepat dari LIPI yang mengatakan dan dijadikan judul 'Ledakan Populasi Fitoplankton Jadi Penyebab Matinya Ikan di Laut Ancol'. Pun komentar Ahok (sebab media di Jekardah, gak ada nama Ahok, gak nohok), hingga yang terbaru 'Hasil Uji Lab Keluar, Ini Penyebab Matinya Ribuan Ikan di Pantai Ancol'.
Deretan gigi atas dan bawah saling menggerus di mulut yang belum sikat gigi ini. Saya geram. Bukan karena matinya ikan-ikan—yang memang juga membikin hati saya sedih—tapi satu-satunya alasan manusiawi yang membuat saya geram; kenapa pemberitaan tentang puluhan anak-anak Papua yang meninggal, dan sebabnya dikatakan misterius itu tidak di blow-up media-media? Kondisi rakyat Papua memang kerap ditenggelamkan dari pemberitaan. Kecuali riuh-tinggi berita tentang kisruh kontrak Freeport atau anggota TNI yang mati, maka apapun tentang rakyat Papua seperti di-misterius-kan.
Coba Anda gugling dengan tagline 'Anak Papua Mati Misterius', maka berderet pemberitaan dengan judul yang sama, namun hanya heboh sehari-duahari. Membagi angle dan follow-up di setiap media sangat minim. Dibandingkan dengan berita ikan-ikan mati, yang dari sesumbar Ahok sampai hasil lab diulas (bahkan dari kepala ikan, ekor, sampai sirip dan sisik-sisik dibahas). Kata 'misterius' hampir seluruhnya menghiasi judul berita, yang saya pun mengira-ngira beberapa media hanya nyopas.
Penjudulan 'misterius', seakan-akan, anak-anak Papua itu baru saja ditemui Alien yang kemudian menyebarkan virus dari Planet Sumeleketek, yang jauhnya kayak keliling bumi 1 triliun kali. Satu-satunya yang beda adalah jumlah angka korban yang meninggal. Sungguh etos verifikasi dijunjung tinggi di sini (tepok jidat), hingga angka-angka bisa berbeda-beda. Saya pun kesulitan memilah berita mana yang layak dijadikan acuan, soal jumlah korban. Yah, maklum, mungkin kontributor juga minim di sana. Jadi informasinya hanya dari sistem noken per kepala suku. Padahal dari Kota Gorontalo sini, saya siap diterbangkan ke Papua, jika dijadikan kontributor seumur-hidup di sana! (ngancung lengan dengan kepal tangan kiri, sekalian promosi).
Dan yang paling membikin saya menyeringai pula, saat membaca berita di Kompas.com, Jumat 27 November, dengan judul, yah, sudah bisa ketebak pasti ada kata 'misterius'. Di situ dituliskan bahwa Yan Hubi, petugas Puskesmas Kota Wamena, tadinya mengira itu disebabkan malaria, sama seperti yang pernah terjadi di tahun 1998. Ciri-ciri atau gejala-gejala penyakit misterius sama persis saat itu kata Yan, awalnya demam tinggi, disertai buang-buang air (mencret). Namun dari hasil pemeriksaan darah di Laboratorium Dinas Kesehatan di Wamena, hasilnya negatif malaria. Lalu sebenarnya itu penyakit apa? Mustahil kan, jika petugas medis tidak bisa mendeteksi jenis penyakit apalagi itu hasil tes laboratorium. Kan, bisa dikirim lagi sampelnya ke Jekardah, tempat di mana lab tercanggih ada. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nduga, Mesak Kogoya, juga menyampaikan, korban tidak menderita mencret, hanya mengalami demam tinggi, lalu kejang-kejang dan akhirnya meninggal dunia.
Nah, lebih menyedihkan lagi, bahkan ada pernyataan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Aloysius Giay, bahwa kasus kematian puluhan anak di Kabupaten Nduga, baru diketahuinya tiga hari sesudah kejadian tragis itu muncul ke permukaan. Kemana saja Pak Aloysius, sibuk mendata penambahan alat kesehatan? Hmm.... Sudah kuduga.
Sungguh, dibandingkan ikan-ikan mati di Pantai Ancol, pemerintah Endonesya lebih gesit menangani ikan-ikan tersebut ketimbang kejadian tragis yang menimpa anak-anak Papua. Selain minim tenaga medis, kondisi geografis kerap menjadi kendala, sebab kedua distrik yakni Distrik Mbua dan Distrik Mbulmu Yalma tempat dimana jatuhnya korban, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Namun coba bayangkan, keseriusan pemerintah menyoal ikan-ikan mati, sampai-sampai LIPI turun tangan, hasil tes lab yang tentu saja dari laboratorium termutakhir sehingga ikan yang kekurangan oksigen bisa terdeteksi, pun berbagai lembaga dilibatkan pengelola Ancol dan pemerintah. Sehingga 'kemisteriusan' ikan-ikan mati bisa dengan cepat terkuak. Sementara anak-anak di Papua? Keroyokan kalian neliti, kayak neliti ikan-ikan mati?
Pemberitaan pun sepertinya hanya mengejar rating. Setelah itu, kelanjutan pemberitaan tenggelam begitu saja. Padahal kita sudah muak dengan sirkus perpanjangan kontrak Freeport yang nantinya, ujung-ujungnya juga sampai rahim hutan Papua puas diaborsi berkali-kali, kontrak tetap akan berlanjut. Tanah kandung Papua tetap menjadi tempat digelarnya lembaran-lembaran dolar. Oh, Presiden Jokowi. Kaos Barisan Relawan tahun kemarin, sudah lama saya bakar. Meski ada beberapa kebijakanmu yang lumayan terterima.
Beruntung, kita masih sedikit terhibur dengan pemberitaan bebasnya Filep Karma (salam merdeka dan damai, Bapa). Setelah itu, matahari Papua kembali terbenam. Sederet kasus pelanggaran HAM oleh militer masih tetap terkubur. Berita tentang rakyat Papua yang dipaksa untuk merubah pangan dari sagu ke beras, dilupakan. Sepertinya pola pikir 'nasi' di Jekardah pengen disama-ratakan hingga ke Papua. Kaka, apa yang disebut pangan itu cuma nasi, kah?
Kemudian menyoal berjuta hektar sawah dan ribuan hektar sawit yang dipaksa dicetak di tanah Papua, terabai diberitakan. Hutan-hutan sagu dan pepohonan diratakan tanah, tak pula diberitakan. Beruntung ada Ekspedisi Indonesia Biru, yang film dokumenternya The Mahuze's, membuka mata batin tentang bagaimana kondisi sebenar-benarnya rakyat Papua dan bisa ditonton gratis di yucub (makasih banyak Mas Dandhy dan Ucok, yang juga sempat mampir di Gorontalo).
Sementara media nasional sendiri, hanya sibuk mengangkat berita kunjungan Paduka-paduka dari tanah Jawa ke Papua. Seremonial. Sungguh di sini sekilas saya teringat Mohammad Hatta (sesegukan dengan mata berkaca-kaca). Subuh ini jadi perenungan bagi saya. Meski rambut saya tidak keriting dan saya berkulit putih. Saya Papua. Dan saya manusia. Saya juga merasakan duka dan juang rakyat Papua. Duka yang sama, yang mendidih dan terus dipendam rakyat Papua.
Ah, dan pada akhirnya, rakyat Papua seperti "dipaksa" untuk menjadi Endonesya.
Nah, sebelum saya dibuli para haters syariah, sebab terlalu banyak cocoklogi dan buat perbadingan sama agama, saya lebih baik serius lanjutin nulis ini, dan ronda ke syaraf-syaraf terpojok dalam otak, di mana bahan-bahan lelucon baru bisa saya temui, juga ide-ide bisa tergali.
Tiba-tiba saja saat nyekrol di Kompas.com, saya langsung ke salah satu konten 'Topik Pilihan'. Yang bertengger di sana, pertama jelas Pilkada Serentak 2015, jadi yang paling ngatap. Saya terus nyekrol lagi, sampai ke topik ke-enam, ada berita-berita nyoal 'Ikan Mati dan Terdampar di Pantai Ancol'.
Kemudian pikir saya terbang menuju Papua (eh, ikan mati di Pantai Ancol, bukan di Papua). Meski saat itu saya terus membacai berita-berita tentang ikan mati. Tapi sekali lagi, bukan ikan-ikan mati yang ada di hadapan saya. Tapi anak-anak Papua, yang tergeletak mati secara misterius. Kata 'misterius' juga saya copas dari Kompas.com, saat memberitakan soal itu, di akhir November.
Dan yang menjadi perusak suasana hati saya di subuh yang khusyuk ini, ragam media nasional di ibukota Jekardah (begitu anak-anak alay nyebutnya), ikan mati di Pantai Ancol saja, topik pilihannya bisa nangkring di posisi enam. Yah, memang jika ditelaah, peringkat itu sesuai banyak atau sedikitnya jumlah viewers yang mengunjungi topik tersebut. Namun ada yang membikin sedih di sini (fase menulis dengan tampang serius), saat membaca beberapa berita, dari yang berjudul 'Ancol Gandeng Berbagai Lembaga Terkait Kasus Ikan Mati', sampai hasil survei cepat dari LIPI yang mengatakan dan dijadikan judul 'Ledakan Populasi Fitoplankton Jadi Penyebab Matinya Ikan di Laut Ancol'. Pun komentar Ahok (sebab media di Jekardah, gak ada nama Ahok, gak nohok), hingga yang terbaru 'Hasil Uji Lab Keluar, Ini Penyebab Matinya Ribuan Ikan di Pantai Ancol'.
Deretan gigi atas dan bawah saling menggerus di mulut yang belum sikat gigi ini. Saya geram. Bukan karena matinya ikan-ikan—yang memang juga membikin hati saya sedih—tapi satu-satunya alasan manusiawi yang membuat saya geram; kenapa pemberitaan tentang puluhan anak-anak Papua yang meninggal, dan sebabnya dikatakan misterius itu tidak di blow-up media-media? Kondisi rakyat Papua memang kerap ditenggelamkan dari pemberitaan. Kecuali riuh-tinggi berita tentang kisruh kontrak Freeport atau anggota TNI yang mati, maka apapun tentang rakyat Papua seperti di-misterius-kan.
Coba Anda gugling dengan tagline 'Anak Papua Mati Misterius', maka berderet pemberitaan dengan judul yang sama, namun hanya heboh sehari-duahari. Membagi angle dan follow-up di setiap media sangat minim. Dibandingkan dengan berita ikan-ikan mati, yang dari sesumbar Ahok sampai hasil lab diulas (bahkan dari kepala ikan, ekor, sampai sirip dan sisik-sisik dibahas). Kata 'misterius' hampir seluruhnya menghiasi judul berita, yang saya pun mengira-ngira beberapa media hanya nyopas.
Penjudulan 'misterius', seakan-akan, anak-anak Papua itu baru saja ditemui Alien yang kemudian menyebarkan virus dari Planet Sumeleketek, yang jauhnya kayak keliling bumi 1 triliun kali. Satu-satunya yang beda adalah jumlah angka korban yang meninggal. Sungguh etos verifikasi dijunjung tinggi di sini (tepok jidat), hingga angka-angka bisa berbeda-beda. Saya pun kesulitan memilah berita mana yang layak dijadikan acuan, soal jumlah korban. Yah, maklum, mungkin kontributor juga minim di sana. Jadi informasinya hanya dari sistem noken per kepala suku. Padahal dari Kota Gorontalo sini, saya siap diterbangkan ke Papua, jika dijadikan kontributor seumur-hidup di sana! (ngancung lengan dengan kepal tangan kiri, sekalian promosi).
Dan yang paling membikin saya menyeringai pula, saat membaca berita di Kompas.com, Jumat 27 November, dengan judul, yah, sudah bisa ketebak pasti ada kata 'misterius'. Di situ dituliskan bahwa Yan Hubi, petugas Puskesmas Kota Wamena, tadinya mengira itu disebabkan malaria, sama seperti yang pernah terjadi di tahun 1998. Ciri-ciri atau gejala-gejala penyakit misterius sama persis saat itu kata Yan, awalnya demam tinggi, disertai buang-buang air (mencret). Namun dari hasil pemeriksaan darah di Laboratorium Dinas Kesehatan di Wamena, hasilnya negatif malaria. Lalu sebenarnya itu penyakit apa? Mustahil kan, jika petugas medis tidak bisa mendeteksi jenis penyakit apalagi itu hasil tes laboratorium. Kan, bisa dikirim lagi sampelnya ke Jekardah, tempat di mana lab tercanggih ada. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nduga, Mesak Kogoya, juga menyampaikan, korban tidak menderita mencret, hanya mengalami demam tinggi, lalu kejang-kejang dan akhirnya meninggal dunia.
Nah, lebih menyedihkan lagi, bahkan ada pernyataan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Aloysius Giay, bahwa kasus kematian puluhan anak di Kabupaten Nduga, baru diketahuinya tiga hari sesudah kejadian tragis itu muncul ke permukaan. Kemana saja Pak Aloysius, sibuk mendata penambahan alat kesehatan? Hmm.... Sudah kuduga.
Sungguh, dibandingkan ikan-ikan mati di Pantai Ancol, pemerintah Endonesya lebih gesit menangani ikan-ikan tersebut ketimbang kejadian tragis yang menimpa anak-anak Papua. Selain minim tenaga medis, kondisi geografis kerap menjadi kendala, sebab kedua distrik yakni Distrik Mbua dan Distrik Mbulmu Yalma tempat dimana jatuhnya korban, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Namun coba bayangkan, keseriusan pemerintah menyoal ikan-ikan mati, sampai-sampai LIPI turun tangan, hasil tes lab yang tentu saja dari laboratorium termutakhir sehingga ikan yang kekurangan oksigen bisa terdeteksi, pun berbagai lembaga dilibatkan pengelola Ancol dan pemerintah. Sehingga 'kemisteriusan' ikan-ikan mati bisa dengan cepat terkuak. Sementara anak-anak di Papua? Keroyokan kalian neliti, kayak neliti ikan-ikan mati?
Pemberitaan pun sepertinya hanya mengejar rating. Setelah itu, kelanjutan pemberitaan tenggelam begitu saja. Padahal kita sudah muak dengan sirkus perpanjangan kontrak Freeport yang nantinya, ujung-ujungnya juga sampai rahim hutan Papua puas diaborsi berkali-kali, kontrak tetap akan berlanjut. Tanah kandung Papua tetap menjadi tempat digelarnya lembaran-lembaran dolar. Oh, Presiden Jokowi. Kaos Barisan Relawan tahun kemarin, sudah lama saya bakar. Meski ada beberapa kebijakanmu yang lumayan terterima.
Beruntung, kita masih sedikit terhibur dengan pemberitaan bebasnya Filep Karma (salam merdeka dan damai, Bapa). Setelah itu, matahari Papua kembali terbenam. Sederet kasus pelanggaran HAM oleh militer masih tetap terkubur. Berita tentang rakyat Papua yang dipaksa untuk merubah pangan dari sagu ke beras, dilupakan. Sepertinya pola pikir 'nasi' di Jekardah pengen disama-ratakan hingga ke Papua. Kaka, apa yang disebut pangan itu cuma nasi, kah?
Kemudian menyoal berjuta hektar sawah dan ribuan hektar sawit yang dipaksa dicetak di tanah Papua, terabai diberitakan. Hutan-hutan sagu dan pepohonan diratakan tanah, tak pula diberitakan. Beruntung ada Ekspedisi Indonesia Biru, yang film dokumenternya The Mahuze's, membuka mata batin tentang bagaimana kondisi sebenar-benarnya rakyat Papua dan bisa ditonton gratis di yucub (makasih banyak Mas Dandhy dan Ucok, yang juga sempat mampir di Gorontalo).
Sementara media nasional sendiri, hanya sibuk mengangkat berita kunjungan Paduka-paduka dari tanah Jawa ke Papua. Seremonial. Sungguh di sini sekilas saya teringat Mohammad Hatta (sesegukan dengan mata berkaca-kaca). Subuh ini jadi perenungan bagi saya. Meski rambut saya tidak keriting dan saya berkulit putih. Saya Papua. Dan saya manusia. Saya juga merasakan duka dan juang rakyat Papua. Duka yang sama, yang mendidih dan terus dipendam rakyat Papua.
Ah, dan pada akhirnya, rakyat Papua seperti "dipaksa" untuk menjadi Endonesya.
Jumat, 11 Desember 2015
Berani?
Saya sekilas terbayang tampang Sehan Landjar yang familiar dengan panggilan Eyang. Jelas saat ini dia sedang gembira. Menang dan kembali menjadi Bupati Boltim dua periode, memang bukan perkara mudah. Meskipun tadinya saya sempat kecewa menyimak tindak kekerasan, yang marak terjadi sebulan sebelum Pilkada Serentak dimulai 9 Desember 2015. Saling lapor, fitnah, penganiayaan, hingga penikaman terjadi. Tuding menuding jadi santapan yang tersaji hangat di pemberitaan media. Bahkan fitnah dan segala macam tetek bengek kisruh, terpapar begitu saja kepada publik.
Kita tentu sangat kenal dengan kondisi ini. De javu. Masyarakat Bolmong Raya (BMR) dan wilayah yang menjadi helat Pemilukada, Boltim dan Bolsel masih ingat; kondisi ini tak jauh beda dengan Pilpres 2014. Bentuk pesta demokrasi yang dengan gamblangnya menampakkan kebrutalan politik. Bahkan media memposisikan diri untuk calon presiden jadi hal yang biasa, dan tidak bisa tidak, rakyat Indonesia dibola-ping-pong-kan dengan karut-marut pemberitaan.
Boltim sendiri adalah miniatur dari perhelatan politik kala Pilpres 2014. Dibandingkan Bolsel yang juga mengusung calon bupati petahana, Boltim bertensi di rata-rata dua matahari. Untuk Bolsel, pembaca cukup tahu pula, bahwa Herson Mayulu melenggang tanpa sedikit pun hadang. Tekstur politiknya halus. Sama seperti Pilgub Sulut, Olly Dondokambey yang jauh-jauh hari berada di atas angin dan dipastikan menang. Sedangkan di Boltim, rakyatnyalah yang membuktikan berhasil melawan sebuah kekuatan besar.
Dari segi ragam berita baik cetak dan elektronik di Bolmong. Pembaca akan lebih mudah pula mengkategorikan media mana saja yang terafiliasi dengan partai politik atau pasangan calon. Pelahap berita dengan mudahnya mencicipi, yang mana media partisan di kubu A, B, atau C. Sama seperti Tv One kepada Prabowo dan Metro Tv kepada Jokowi, saat Pilpres tahun lalu.
Pada HUT AJI ke 20 tahun lalu, Watchdoc membuat film dokumenter 'Media dan Pemilu'. Diulas secara jelas, bahwa media yang terafiliasi dengan partai politik bukan hanya di zaman sekarang. Pada suatu masa di era kemerdekaan, beberapa media tak bisa dipisahkan dari partai politik. Seperti Pedoman dengan PSI, Bintang Timur dan Harian Rakjat dimiliki PKI, Duta Masjarakat punya NU, Harian Abadi milik Masyumi, dan masih ada beberapa media lainnya. Tapi mereka tetaplah koran; ditulis, dicetak, dengan sumber daya sendiri. Masyarakat diberi pilihan untuk membeli atau tidak membeli.
Lalu datanglah era televisi. Seperti TVRI yang menjadi mesin propaganda Golkar, yang tidak mau tidak menjadi satu-satunya pilihan penonton. Lalu diawal 90an, muncul benih-benih stasiun teve swasta yang disebar kroni keluarga Cendana. Semua memakai ranah publik berupa frekuensi. Lalu saham-sahamnya diperjual-belikan, sehingga seseorang bisa memiliki lebih dari satu stasiun teve.
Rakyat seharusnya berhak menuntut untuk disuguhi pelbagai siaran edukatif. Bukan sampah-sampah seperti sinetron, ritual memburu hantu, iklan-iklan politik, atau pernikahan selebriti dengan tayangan hampir di setiap stasiun teve. Meski tak bisa dipungkiri, teve swasta pun cukup punya andil di era reformasi.
Menyoal media yang terafiliasi dengan partai politik, di era kemerdekaan — Orde Lama — media-media tersebut memiliki sumber daya sendiri. Sedangkan untuk stasiun teve di era sekarang — atau pada rezim Orde Baru — mereka memakai sumber daya publik berupa gelombang radio atau frekuensi. Seperti disampaikan Roy Thaniago (Remotivi), bahwa sekarang adalah zaman dimana media menjadi tempat promosi seseorang atau ideologi partai, ketimbang berita yang benar secara kaidah jurnalistik.
Di BMR sendiri, jelang Pemilukada, dari kubu Eyang dan lawan politiknya Sahrul Mamonto, akrab disapa Alul, disuguhi rentetan pemberitaan yang cenderung memihak. Tentunya pemberitaan dalam bentuk berita dan opini berbeda. Dalam berita, kaidah jurnalistik yang harus cover both side dan fairness dipertaruhkan. Sedangkan opini dengan bebas-bebasnya penulis menyampaikan pandangan politiknya. Dan pada media-media di BMR, hampir seringkali ditemui, pemberitaan yang tidak bisa dibedakan lagi mana opini dan berita. Media yang dirangkul para politisi, menjadi hal yang biasa. Bahkan secara gamblang, awak media telah menjadi dua kutub magnet ketika mengawal politisi yang diusungnya.
Kita lupa, bahwa sejarah pers di Indonesia tak melulu tentang bisnis dan afiliasi politiknya. Ignatius Hariyanto, salah satu dosen Sejarah Pers, masih dalam film dokumenter itu mengatakan, banyak tokoh-tokoh pers pada zaman dulu, seperti Tirto Adhi Soerjo di koran Medan Prijaji, yang oleh sebab mengkritik bupati-bupati korup dan pemerintah Belanda, ia bolak-balik masuk penjara. Juga tokoh pers pendiri koran Doenia Bergerak, Marco Kartodikromo, yang dibuang pemeritah kolonial dan meninggal di Boven-Digoel, Papua. Yang mereka perjuangkan jelas, terarah, dan berdarah-darah. Sebagaimana jurnalistik seharusnya berada pada relnya.
Masih banyak lagi kisah juang para tokoh pers di Indonesia, yang bisa menjadi panutan para jurnalis — jika memang mengaku jurnalis atau mungkin hanya sebatas sebagai penulis berita — untuk dijadikan bahan renungan. Konteks yang segaris dengan Pilkada Boltim, bahwa media di BMR atau Sulut yang terafiliasi secara politik, seharusnya tunduk dan malu dengan pemberitaan akhir-akhir ini, pada jelang Pilkada. Saling serang kerap menjadi tontonan masyarakat akhir-akhir ini. Lalu yang mana lagi media yang layak dibaca, ditonton, atau didengar nanti oleh masyarakat?
Pada akhirnya, seperti apa yang diingatkan Marco Kartodikromo; berani membela yang benar. Jelas yang dimaksudkan pula oleh Marco; bukan semata membela yang bayar. Dan satu-satunya yang dibela adalah rakyat Boltim itu sendiri. Mereka yang telah berani melawan politik uang, yang telah menulang dan bernadi pada segelintir orang. Mereka rakyat yang nasibnya nanti, bisa ditentukan oleh garis pena para jurnalis. Namun, jika politik uang telah berhasil dilawan, apakah antara Wartawan dan Bupati, bisa dihilangkan pula sikap partisannya?
Jika Eyang berkuasa lagi. Berani?
Kita tentu sangat kenal dengan kondisi ini. De javu. Masyarakat Bolmong Raya (BMR) dan wilayah yang menjadi helat Pemilukada, Boltim dan Bolsel masih ingat; kondisi ini tak jauh beda dengan Pilpres 2014. Bentuk pesta demokrasi yang dengan gamblangnya menampakkan kebrutalan politik. Bahkan media memposisikan diri untuk calon presiden jadi hal yang biasa, dan tidak bisa tidak, rakyat Indonesia dibola-ping-pong-kan dengan karut-marut pemberitaan.
Boltim sendiri adalah miniatur dari perhelatan politik kala Pilpres 2014. Dibandingkan Bolsel yang juga mengusung calon bupati petahana, Boltim bertensi di rata-rata dua matahari. Untuk Bolsel, pembaca cukup tahu pula, bahwa Herson Mayulu melenggang tanpa sedikit pun hadang. Tekstur politiknya halus. Sama seperti Pilgub Sulut, Olly Dondokambey yang jauh-jauh hari berada di atas angin dan dipastikan menang. Sedangkan di Boltim, rakyatnyalah yang membuktikan berhasil melawan sebuah kekuatan besar.
Dari segi ragam berita baik cetak dan elektronik di Bolmong. Pembaca akan lebih mudah pula mengkategorikan media mana saja yang terafiliasi dengan partai politik atau pasangan calon. Pelahap berita dengan mudahnya mencicipi, yang mana media partisan di kubu A, B, atau C. Sama seperti Tv One kepada Prabowo dan Metro Tv kepada Jokowi, saat Pilpres tahun lalu.
Pada HUT AJI ke 20 tahun lalu, Watchdoc membuat film dokumenter 'Media dan Pemilu'. Diulas secara jelas, bahwa media yang terafiliasi dengan partai politik bukan hanya di zaman sekarang. Pada suatu masa di era kemerdekaan, beberapa media tak bisa dipisahkan dari partai politik. Seperti Pedoman dengan PSI, Bintang Timur dan Harian Rakjat dimiliki PKI, Duta Masjarakat punya NU, Harian Abadi milik Masyumi, dan masih ada beberapa media lainnya. Tapi mereka tetaplah koran; ditulis, dicetak, dengan sumber daya sendiri. Masyarakat diberi pilihan untuk membeli atau tidak membeli.
Lalu datanglah era televisi. Seperti TVRI yang menjadi mesin propaganda Golkar, yang tidak mau tidak menjadi satu-satunya pilihan penonton. Lalu diawal 90an, muncul benih-benih stasiun teve swasta yang disebar kroni keluarga Cendana. Semua memakai ranah publik berupa frekuensi. Lalu saham-sahamnya diperjual-belikan, sehingga seseorang bisa memiliki lebih dari satu stasiun teve.
Rakyat seharusnya berhak menuntut untuk disuguhi pelbagai siaran edukatif. Bukan sampah-sampah seperti sinetron, ritual memburu hantu, iklan-iklan politik, atau pernikahan selebriti dengan tayangan hampir di setiap stasiun teve. Meski tak bisa dipungkiri, teve swasta pun cukup punya andil di era reformasi.
Menyoal media yang terafiliasi dengan partai politik, di era kemerdekaan — Orde Lama — media-media tersebut memiliki sumber daya sendiri. Sedangkan untuk stasiun teve di era sekarang — atau pada rezim Orde Baru — mereka memakai sumber daya publik berupa gelombang radio atau frekuensi. Seperti disampaikan Roy Thaniago (Remotivi), bahwa sekarang adalah zaman dimana media menjadi tempat promosi seseorang atau ideologi partai, ketimbang berita yang benar secara kaidah jurnalistik.
Di BMR sendiri, jelang Pemilukada, dari kubu Eyang dan lawan politiknya Sahrul Mamonto, akrab disapa Alul, disuguhi rentetan pemberitaan yang cenderung memihak. Tentunya pemberitaan dalam bentuk berita dan opini berbeda. Dalam berita, kaidah jurnalistik yang harus cover both side dan fairness dipertaruhkan. Sedangkan opini dengan bebas-bebasnya penulis menyampaikan pandangan politiknya. Dan pada media-media di BMR, hampir seringkali ditemui, pemberitaan yang tidak bisa dibedakan lagi mana opini dan berita. Media yang dirangkul para politisi, menjadi hal yang biasa. Bahkan secara gamblang, awak media telah menjadi dua kutub magnet ketika mengawal politisi yang diusungnya.
Kita lupa, bahwa sejarah pers di Indonesia tak melulu tentang bisnis dan afiliasi politiknya. Ignatius Hariyanto, salah satu dosen Sejarah Pers, masih dalam film dokumenter itu mengatakan, banyak tokoh-tokoh pers pada zaman dulu, seperti Tirto Adhi Soerjo di koran Medan Prijaji, yang oleh sebab mengkritik bupati-bupati korup dan pemerintah Belanda, ia bolak-balik masuk penjara. Juga tokoh pers pendiri koran Doenia Bergerak, Marco Kartodikromo, yang dibuang pemeritah kolonial dan meninggal di Boven-Digoel, Papua. Yang mereka perjuangkan jelas, terarah, dan berdarah-darah. Sebagaimana jurnalistik seharusnya berada pada relnya.
Masih banyak lagi kisah juang para tokoh pers di Indonesia, yang bisa menjadi panutan para jurnalis — jika memang mengaku jurnalis atau mungkin hanya sebatas sebagai penulis berita — untuk dijadikan bahan renungan. Konteks yang segaris dengan Pilkada Boltim, bahwa media di BMR atau Sulut yang terafiliasi secara politik, seharusnya tunduk dan malu dengan pemberitaan akhir-akhir ini, pada jelang Pilkada. Saling serang kerap menjadi tontonan masyarakat akhir-akhir ini. Lalu yang mana lagi media yang layak dibaca, ditonton, atau didengar nanti oleh masyarakat?
Pada akhirnya, seperti apa yang diingatkan Marco Kartodikromo; berani membela yang benar. Jelas yang dimaksudkan pula oleh Marco; bukan semata membela yang bayar. Dan satu-satunya yang dibela adalah rakyat Boltim itu sendiri. Mereka yang telah berani melawan politik uang, yang telah menulang dan bernadi pada segelintir orang. Mereka rakyat yang nasibnya nanti, bisa ditentukan oleh garis pena para jurnalis. Namun, jika politik uang telah berhasil dilawan, apakah antara Wartawan dan Bupati, bisa dihilangkan pula sikap partisannya?
Jika Eyang berkuasa lagi. Berani?
Selasa, 08 Desember 2015
Qiya
Seperti bulan, kelahiran seorang bayi adalah cahaya di kegelapan malam. Dan seperti pula bulan, bayi adalah penyempurna dalam sebuah landscape langit. Meski bagi sebagian orang, langit pun tetap indah bergemintang tanpa kehadiran bulan di sana. Yang terpenting, seberapa luas kita mampu memaknai semesta.
Lalu tersebutlah, Qiya. Namanya singkat dan sebaris gigi putih akan terukir kala menyebutkan nama itu. Nama ayahnya, Dito Buntuan. Seorang lelaki yang lahir dan tumbuh dari kepastian. Ia pun akhirnya bisa memastikan yang mana yang pantas hidup dengannya. Hingga ia menikahi Sindy Binol.
Qiya adalah putri pertama mereka. Atau lebih tepat, adalah ujian pertama bahwa hidup harus; dilahirkan, diasuh, dibesarkan, dan diarahkan. Lalu Qiya bisa memilih kelak. Tentunya tak harus menjadi seperti ayah dan ibunya. Qiya bisa terbang tinggi bersama layang-layang. Dan segulung benang jadi satu-satunya penghubung yang menjadi teguran.
Qiya, saat lahirmu, Kamis 26 November, tentunya ruang dan waktu hanya berisi kecemasan. Bahwa satu-satunya yang menghuni semesta hanyalah kau. Ayahmu menjengkal lekuk jalanan Bolmut-Kotamobagu setiap Minggu. Sama seperti ibumu yang kerap mengelusmu dari balik daster. Keduanya cemas. Dan kecemasan itu pun akan kau rasakan kelak. Saat mereka berdua menua dan kau telah menemukan kecemasan-kecemasan barumu. Semuanya berbaur. Menjadikanmu matang akan persoalan hidup.
Dari dalam rahim, mungkin kau pernah menendang perut ibumu. Kenapa? Tak sabar ingin menghirup udara di luar sana. Lalu ibumu penasaran ingin melihat kelaminmu. Ditemani ayahmu, dokter mengatakan kau perempuan. Mereka bahagia. Teknologi memang hadir sebagai penolong, meski sebenarnya rasa penasaran begitu tak ternilainya.
Sekarang Qiya bisa menangis,. Tersenyum pun hanya sekali-kali dan paling ditunggu. Mungkin kamera ponsel ibumu telah siaga di depanmu. Siap merekam atau memotret setiap momen. Waktu seperti berbalik dibuatmu. Siang jadi malam, malam jadi siang. Atau malah selamanya hari tetaplah siang dan penuh aktifitas. Sebab setiap dua jam atau lebih, kau harus menyesap ASI. Meski lelah, wajahmu selalu bisa menghibur, kata ibumu.
Ayahmu juga tak akan letih memacu mobil dari Bolmut. Tempat dimana segala kebiasaan ditanggalkan agar susumu terbeli, popokmu terganti, dan boneka-bonekamu memanjang di almari dan kasur. Jangan pikir ayahmu akan lelah dibuatnya. Itu tak seberapa dengan perjalanannya di Makassar atau selama di pulau Jawa. Pun tak sejauh Kuta ke Kintamani. Dan hanya demi putrinya, semua jarak bisa ia lipat. Hingga senyummu mengunci celah lelah.
Ayahmu suka sekali membaca buku. Tapi akhir-akhir ini ia terlalu sibuk denganmu. Mungkin saja buku-bukunya berserakan di mobil, rumah, lantai, kamar, dan kantor. Ia hanya ingin membacaimu kini. Putri yang akan selalu ia banggakan.
Selamat datang di dunia yang tak sesempit rahim ibumu. Dunia ini bakal penuh dengan tawa, namun sedih kerap bersanding pula nanti. Segalanya tersedia seperti sederet gelas, sendok, piring, dan belanga di dapur. Tinggal kau pilih, Qiya. Tinggal kau pilih, kau hendak memasak apa. Untuk ayah dan ibumu cicipi. Bisa saja nanti kau menumis tangis atau memanggang senang. Lalu menyajikannya di meja makan. Dimana satu-satunya tempat kau bisa berbagi. Dan tempat dimana kisah selalu tersaji.
Lalu tersebutlah, Qiya. Namanya singkat dan sebaris gigi putih akan terukir kala menyebutkan nama itu. Nama ayahnya, Dito Buntuan. Seorang lelaki yang lahir dan tumbuh dari kepastian. Ia pun akhirnya bisa memastikan yang mana yang pantas hidup dengannya. Hingga ia menikahi Sindy Binol.
Qiya adalah putri pertama mereka. Atau lebih tepat, adalah ujian pertama bahwa hidup harus; dilahirkan, diasuh, dibesarkan, dan diarahkan. Lalu Qiya bisa memilih kelak. Tentunya tak harus menjadi seperti ayah dan ibunya. Qiya bisa terbang tinggi bersama layang-layang. Dan segulung benang jadi satu-satunya penghubung yang menjadi teguran.
Qiya, saat lahirmu, Kamis 26 November, tentunya ruang dan waktu hanya berisi kecemasan. Bahwa satu-satunya yang menghuni semesta hanyalah kau. Ayahmu menjengkal lekuk jalanan Bolmut-Kotamobagu setiap Minggu. Sama seperti ibumu yang kerap mengelusmu dari balik daster. Keduanya cemas. Dan kecemasan itu pun akan kau rasakan kelak. Saat mereka berdua menua dan kau telah menemukan kecemasan-kecemasan barumu. Semuanya berbaur. Menjadikanmu matang akan persoalan hidup.
Dari dalam rahim, mungkin kau pernah menendang perut ibumu. Kenapa? Tak sabar ingin menghirup udara di luar sana. Lalu ibumu penasaran ingin melihat kelaminmu. Ditemani ayahmu, dokter mengatakan kau perempuan. Mereka bahagia. Teknologi memang hadir sebagai penolong, meski sebenarnya rasa penasaran begitu tak ternilainya.
Sekarang Qiya bisa menangis,. Tersenyum pun hanya sekali-kali dan paling ditunggu. Mungkin kamera ponsel ibumu telah siaga di depanmu. Siap merekam atau memotret setiap momen. Waktu seperti berbalik dibuatmu. Siang jadi malam, malam jadi siang. Atau malah selamanya hari tetaplah siang dan penuh aktifitas. Sebab setiap dua jam atau lebih, kau harus menyesap ASI. Meski lelah, wajahmu selalu bisa menghibur, kata ibumu.
Ayahmu juga tak akan letih memacu mobil dari Bolmut. Tempat dimana segala kebiasaan ditanggalkan agar susumu terbeli, popokmu terganti, dan boneka-bonekamu memanjang di almari dan kasur. Jangan pikir ayahmu akan lelah dibuatnya. Itu tak seberapa dengan perjalanannya di Makassar atau selama di pulau Jawa. Pun tak sejauh Kuta ke Kintamani. Dan hanya demi putrinya, semua jarak bisa ia lipat. Hingga senyummu mengunci celah lelah.
Ayahmu suka sekali membaca buku. Tapi akhir-akhir ini ia terlalu sibuk denganmu. Mungkin saja buku-bukunya berserakan di mobil, rumah, lantai, kamar, dan kantor. Ia hanya ingin membacaimu kini. Putri yang akan selalu ia banggakan.
Selamat datang di dunia yang tak sesempit rahim ibumu. Dunia ini bakal penuh dengan tawa, namun sedih kerap bersanding pula nanti. Segalanya tersedia seperti sederet gelas, sendok, piring, dan belanga di dapur. Tinggal kau pilih, Qiya. Tinggal kau pilih, kau hendak memasak apa. Untuk ayah dan ibumu cicipi. Bisa saja nanti kau menumis tangis atau memanggang senang. Lalu menyajikannya di meja makan. Dimana satu-satunya tempat kau bisa berbagi. Dan tempat dimana kisah selalu tersaji.
Jumat, 04 Desember 2015
Takhayul Tuyul itu Betul
Jumat malam, seharian di sekretariat AJI Gorontalo, kami akhirnya merasa bosan. Lalu ide untuk pergi melihat tuyul terlontar begitu saja dari mulut Geril dan Andri. Kebetulan saat itu Arnold melintas menuju kamar mandi. Konon, ia bisa membuka mata batin, agar kita bisa melihat penampakan tuyul. Saya, Ivol, dan Opan, yang penasaran ingin melihat tuyul, seketika bangkit dari lantai ubin. Kami sepakat ingin melihat tuyul. Arnold pun bersedia mengantar kami ke tempat di mana tuyul-tuyul itu biasa bermain.
Lewat tengah malam. Saya, Geril, Andri, Arnold, Ivol, dan Opan mengendarai motor, berboncengan mencari tempat di mana tuyul-tuyul itu mangkal. Bayangan tempat gelap, rumah tua, pohon besar, menari-nari di atas kepala saya, selama perjalanan. Meski rasa takut ada, tapi rasa penasaran saya lebih besar. Saya ingin melihat tuyul. Harus.
Beberapa menit membelah malam kota Gorontalo, tiba-tiba Geril, Andri, dan Arnold, berhenti di titik pertama. Keadaan jalan gelap gulita. Ada lorong di samping kiri kami. Rimbun pepohonan di pinggir jalan, bak siluet raksasa. Imajinasi saya semakin horor, apalagi cahaya yang ada saat itu, hanya berasal dari tiga lampu motor yang kami kendarai. Malam itu, hanya kami berenam yang berada di jalanan itu. Tak ada kendaraan yang lalu lalang atau pejalan kaki. Namun entah kenapa, titik itu ditinggalkan. Menurut mereka bertiga, Geril, Andri, dan Arnold, tak ada tuyul di situ.
Perjalanan kami lanjutkan. Tanpa jaket, udara dingin merangkul leluasa. Menambah suasana horor malam itu. Hanya beberapa menit, kami berhenti lagi di titik kedua. Pencahayaan di lokasi itu tak terlalu gelap. Ada beberapa lampu jalan, namun tertutup rimbun pepohonan. Sekitar 20 meter dari posisi kami, ada seorang perempuan paruh baya sedang sibuk mengemasi jualannya. Ia pedagang kaki lima yang sering mangkal di situ. Sekali lagi, titik itu ditinggalkan. Alasan yang sama, kata mereka sedang tak ada tuyul yang berkeliaran. Saya mulai mengira-ngira, mungkin di sekitar situ, adalah tuyul-tuyul peliharaan. Tak sama dengan tuyul-tuyul yang kami buru malam itu. Para tuyul
terlantar. Tak bertuan.
Agak jauh dari titik kedua, akhirnya kami berhenti di pusat kota. Lokasi itu tak jauh dari persimpangan jalan. Beberapa kendaraan lalu lalang. Lampu-lampu jalan benderang. Bangunan ruko berjejer. Dalam hati saya, tempat ini cukup terang, sehingga perasaan takut saya yang sedari tadi hampir menyetuh 100 persen, berkurang menjadi 70 persen saja.
"Di sini?" saya bertanya.
"Iya, di sini ada," jawab Arnold, sambil mengeluarkan sebotol air
mineral di kantong celananya. Air itu sengaja dibawa dari sekretariat.
Andri menyeberangi jalan, menuju halte. Tak jauh dari halte, ada rumah kosong, yang menurut penuturan mereka, sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Pandangan saya menyapu sekitar lokasi. Tiga meter dari saya, Opan berjongkok sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Sesekali ia meniupnya. Kemudian ia membekap mulut dengan kedua telapak tangan, seperti orang kedinginan. Matanya liar. Yang kemudian terpaku lama pada rumah kosong di seberang jalan.
Saya mengira, ritual melihat tuyul akan segera dimulai. Ivol sibuk dengan ponselnya. Ia berencana akan merekam video atau mungkin memotret penampakan tuyul. Kemudian kami bertiga dikumpulkan Arnold. Bibirnya komat-kamit, merapal mantra pada botol air. Lalu ia menyuruh kami bertiga membasuh mata dengan air yang telah dimantrai.
"Kalian bertiga saling berpegangan tangan atau pegang pundak saja,"
terang Arnold. Meski dalam keadaan terang benderang, ketakutan saya kali ini memuncak.
"Ingat, bentuknya hitam, kepala bulat, tak berwajah, dan melayang-layang," jelas Arnold.
Sesuai instruksi Arnold, tangan kanan kami saling memegangi pundak. Jangan sampai lepas. Berjejer, kami disuruh menyeberangi jalan. Satu dua motor melintas. Kami disuruh mundur. Selanjutnya kami diperintahkan berjalan ke samping kanan menuju satu pohon. Sekitar lima meter kami berjalan, tiba-tiba Arnold menyuruh kami mundur beberapa langkah. Kami seperti domba yang sedang digembala. Untuk menghalau rasa takut, dengan ritme cepat saya mengisap rokok yang sudah saya nyalakan sebelum ritual dimulai.
Pohon yang kami dekati itu tak terlalu besar. Seukuran paha orang dewasa. Ada satu tiang rambu-rambu lalu lintas di samping pohon. Salah satu dari kami diminta memegangi tiang itu. Ivol yang berada paling depan, merebut tiang dengan cepat.
"Tangan kalian harus terhubung dengan tanah. Tiang itu jadi media
penghubung. Jangan sampai lepas!" teriak Arnold, yang berada 10 meter jauhnya dari posisi kami.
Selanjutnya kami diteriaki untuk berjalan lagi, masih dengan posisi saling memegangi pundak. Saya yang berada paling belakang, mendapat giliran memegangi tiang. Lengan kanan saya lingkarkan pada tiang, sambil bersandar. Sedangkan tangan kiri berada di pundak Opan.
"Di atas kepala kalian!" Arnold mengarahkan.
Dengan degup jantung tak beraturan, bersamaan kepala kami mendongak. Hanya ada rimbun dedaunan. Kami mendengar teriakan Arnold lagi. Mata kami awas, terus mencari. Tiba-tiba, degup jantung serasa berhenti. Sebuah siluet seukuran bayi yang baru lahir sehari, terbang di atas kepala kami. Wajahnya polos hitam. Siluet seperti berenang di udara. Tangan dan kakinya utuh berbentuk manusia. Siluet itu lalu melayang turun dan tepat berada di belakang kami. Hanya berjarak semeter. Tiba-tiba ia menjauh sembari mengeluarkan suara, seperti jangkrik yang dicekik.
Opan tak tahan menyaksikan apa yang ada di depan matanya. Ia limbung, tapi masih berhasil mengontrol keseimbangan tubuhnya. Ia tersimpuh di aspal jalan, dengan telapak tangan menutupi wajahnya. Ivol terpaku. Ponsel yang tadinya direncanakan untuk merekam, hanya digenggamnya. Kemudian ia lari menuju pagar di depan ruko. Kami bertiga tercerai-berai.
"Allahu Akbar! Allahu Akbar!" saya memilih lari menuju tiang lampu jalan. Entah kenapa, suasana jalan seketika sepi. Tak ada lagi kendaraan lalu lalang saat itu.
Tuyul itu terbang menuju rumah kosong. Siluet itu bersinar, saat melintas di bawah lampu jalan. Saya berlari menuju salah satu ruko. Di sana saya dapati Ivol dan Opan masih gemetaran. Andri dan Arnold berada di halte, 20 meter jauhnya dari posisi kami. Dan kami baru sadar, ternyata Geril dengan ponsel ditangannya, berhasil merekam kejadian itu. Tuyul itu lalu hilang di halaman rumah kosong yang gelap gulita. Suasana mencekam makin terdramatisir sebab listrik sekota tiba-tiba padam. Ternyata sedang ada pemadaman bergilir PLN.
Ivol berteriak memanggil Arnold. Meminta agar mata batin kami segera ditutup. Andri dan Arnold beranjak dari halte. Bergegas menghampiri kami. Air kembali diusapkan ke mata. Napas saya masih memburu. Saya bahkan lupa, di mana rokok yang tengah saya isap tadi. Arnold sibuk mengusap pundak Opan. Sampai kondisinya membaik.
Kami bertiga masih tidak percaya dengan apa yang baru saja kami saksikan. Ternyata, tuyul yang selama ini saya tonton di film, berbeda bentuknya. Memang ia berkepala botak atau lebih tepat bulat, tapi tidak pucat, atau bercawat. Hanya seperti siluet. Dan setelah menyaksikan penampakan tuyul itu, bangun logika yang selama ini menuntunku untuk berpikir yang rasional, akhirnya luluh lantak. Saya tidak percaya takhayul. Tapi keberadaan tuyul itu ternyata betul.
Beruntung, dari semua ritual untuk melihat tuyul, momen kami terekam jelas oleh Geril. Saking fokusnya kami, Geril terus membututi kami lalu merekam, tanpa kami sadari. Selanjutnya kami memutuskan segera kembali ke sekretariat, untuk menonton video rekaman itu. Hasilnya, tuyul itu terekam jelas. Geril saat merekam memang tidak bisa melihat tuyul itu, sebab mata batinnya tertutup. Tapi kamera yang ia arahkan, berhasil menyorot penampakan tuyul. Hanya satu tuyul memang. Tapi seramnya minta ampun.
Lalu kami memutuskan, suatu saat video itu akan diunggah di youtube. Tapi setelah semua teman teman yang kerap mangkal di sekretariat, keseluruhannya sudah pernah melihat tuyul. Tanpa tersisa. Dan jika video itu diunggah nanti, maka dari Gorontalo, bukan hanya video Norman Kamaru atau Bona Paputungan, yang berhasil menyita jutaan pemirsa. Bahkan bisa jadi, kami akan diundang Deddy Corbuzier di acara Hitam Putih. Ini bukan acara Dunia Lain, yang jika dinalari, hanya berisi tayangan sampah-sampah yang dibalut kisah mistik.
Tapi, sampai sekarang ketakutan itu terus ada. Saya sempat mimpi buruk. Di kamar, malam hingga menjelang pagi, lampu tak pernah dipadamkan lagi. Seperti ada yang terus mengawasi, meski kamar dalam keadaan terang benderang. Namun jauh di dalam hati, ada kepuasan sebab rasa penasaran itu akhirnya terobati. Meski harus dibayar mahal dengan gigir ketakutan. Saya takut sekaligus puas. Dan kepuasan itu akan terus ada. Bahkan jika nanti pada akhirnya kami memutuskan untuk menghapus video itu. Yakinlah, mereka ada.
Lewat tengah malam. Saya, Geril, Andri, Arnold, Ivol, dan Opan mengendarai motor, berboncengan mencari tempat di mana tuyul-tuyul itu mangkal. Bayangan tempat gelap, rumah tua, pohon besar, menari-nari di atas kepala saya, selama perjalanan. Meski rasa takut ada, tapi rasa penasaran saya lebih besar. Saya ingin melihat tuyul. Harus.
Beberapa menit membelah malam kota Gorontalo, tiba-tiba Geril, Andri, dan Arnold, berhenti di titik pertama. Keadaan jalan gelap gulita. Ada lorong di samping kiri kami. Rimbun pepohonan di pinggir jalan, bak siluet raksasa. Imajinasi saya semakin horor, apalagi cahaya yang ada saat itu, hanya berasal dari tiga lampu motor yang kami kendarai. Malam itu, hanya kami berenam yang berada di jalanan itu. Tak ada kendaraan yang lalu lalang atau pejalan kaki. Namun entah kenapa, titik itu ditinggalkan. Menurut mereka bertiga, Geril, Andri, dan Arnold, tak ada tuyul di situ.
Perjalanan kami lanjutkan. Tanpa jaket, udara dingin merangkul leluasa. Menambah suasana horor malam itu. Hanya beberapa menit, kami berhenti lagi di titik kedua. Pencahayaan di lokasi itu tak terlalu gelap. Ada beberapa lampu jalan, namun tertutup rimbun pepohonan. Sekitar 20 meter dari posisi kami, ada seorang perempuan paruh baya sedang sibuk mengemasi jualannya. Ia pedagang kaki lima yang sering mangkal di situ. Sekali lagi, titik itu ditinggalkan. Alasan yang sama, kata mereka sedang tak ada tuyul yang berkeliaran. Saya mulai mengira-ngira, mungkin di sekitar situ, adalah tuyul-tuyul peliharaan. Tak sama dengan tuyul-tuyul yang kami buru malam itu. Para tuyul
terlantar. Tak bertuan.
Agak jauh dari titik kedua, akhirnya kami berhenti di pusat kota. Lokasi itu tak jauh dari persimpangan jalan. Beberapa kendaraan lalu lalang. Lampu-lampu jalan benderang. Bangunan ruko berjejer. Dalam hati saya, tempat ini cukup terang, sehingga perasaan takut saya yang sedari tadi hampir menyetuh 100 persen, berkurang menjadi 70 persen saja.
"Di sini?" saya bertanya.
"Iya, di sini ada," jawab Arnold, sambil mengeluarkan sebotol air
mineral di kantong celananya. Air itu sengaja dibawa dari sekretariat.
Andri menyeberangi jalan, menuju halte. Tak jauh dari halte, ada rumah kosong, yang menurut penuturan mereka, sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Pandangan saya menyapu sekitar lokasi. Tiga meter dari saya, Opan berjongkok sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Sesekali ia meniupnya. Kemudian ia membekap mulut dengan kedua telapak tangan, seperti orang kedinginan. Matanya liar. Yang kemudian terpaku lama pada rumah kosong di seberang jalan.
Saya mengira, ritual melihat tuyul akan segera dimulai. Ivol sibuk dengan ponselnya. Ia berencana akan merekam video atau mungkin memotret penampakan tuyul. Kemudian kami bertiga dikumpulkan Arnold. Bibirnya komat-kamit, merapal mantra pada botol air. Lalu ia menyuruh kami bertiga membasuh mata dengan air yang telah dimantrai.
"Kalian bertiga saling berpegangan tangan atau pegang pundak saja,"
terang Arnold. Meski dalam keadaan terang benderang, ketakutan saya kali ini memuncak.
"Ingat, bentuknya hitam, kepala bulat, tak berwajah, dan melayang-layang," jelas Arnold.
Sesuai instruksi Arnold, tangan kanan kami saling memegangi pundak. Jangan sampai lepas. Berjejer, kami disuruh menyeberangi jalan. Satu dua motor melintas. Kami disuruh mundur. Selanjutnya kami diperintahkan berjalan ke samping kanan menuju satu pohon. Sekitar lima meter kami berjalan, tiba-tiba Arnold menyuruh kami mundur beberapa langkah. Kami seperti domba yang sedang digembala. Untuk menghalau rasa takut, dengan ritme cepat saya mengisap rokok yang sudah saya nyalakan sebelum ritual dimulai.
Pohon yang kami dekati itu tak terlalu besar. Seukuran paha orang dewasa. Ada satu tiang rambu-rambu lalu lintas di samping pohon. Salah satu dari kami diminta memegangi tiang itu. Ivol yang berada paling depan, merebut tiang dengan cepat.
"Tangan kalian harus terhubung dengan tanah. Tiang itu jadi media
penghubung. Jangan sampai lepas!" teriak Arnold, yang berada 10 meter jauhnya dari posisi kami.
Selanjutnya kami diteriaki untuk berjalan lagi, masih dengan posisi saling memegangi pundak. Saya yang berada paling belakang, mendapat giliran memegangi tiang. Lengan kanan saya lingkarkan pada tiang, sambil bersandar. Sedangkan tangan kiri berada di pundak Opan.
"Di atas kepala kalian!" Arnold mengarahkan.
Dengan degup jantung tak beraturan, bersamaan kepala kami mendongak. Hanya ada rimbun dedaunan. Kami mendengar teriakan Arnold lagi. Mata kami awas, terus mencari. Tiba-tiba, degup jantung serasa berhenti. Sebuah siluet seukuran bayi yang baru lahir sehari, terbang di atas kepala kami. Wajahnya polos hitam. Siluet seperti berenang di udara. Tangan dan kakinya utuh berbentuk manusia. Siluet itu lalu melayang turun dan tepat berada di belakang kami. Hanya berjarak semeter. Tiba-tiba ia menjauh sembari mengeluarkan suara, seperti jangkrik yang dicekik.
Opan tak tahan menyaksikan apa yang ada di depan matanya. Ia limbung, tapi masih berhasil mengontrol keseimbangan tubuhnya. Ia tersimpuh di aspal jalan, dengan telapak tangan menutupi wajahnya. Ivol terpaku. Ponsel yang tadinya direncanakan untuk merekam, hanya digenggamnya. Kemudian ia lari menuju pagar di depan ruko. Kami bertiga tercerai-berai.
"Allahu Akbar! Allahu Akbar!" saya memilih lari menuju tiang lampu jalan. Entah kenapa, suasana jalan seketika sepi. Tak ada lagi kendaraan lalu lalang saat itu.
Tuyul itu terbang menuju rumah kosong. Siluet itu bersinar, saat melintas di bawah lampu jalan. Saya berlari menuju salah satu ruko. Di sana saya dapati Ivol dan Opan masih gemetaran. Andri dan Arnold berada di halte, 20 meter jauhnya dari posisi kami. Dan kami baru sadar, ternyata Geril dengan ponsel ditangannya, berhasil merekam kejadian itu. Tuyul itu lalu hilang di halaman rumah kosong yang gelap gulita. Suasana mencekam makin terdramatisir sebab listrik sekota tiba-tiba padam. Ternyata sedang ada pemadaman bergilir PLN.
Ivol berteriak memanggil Arnold. Meminta agar mata batin kami segera ditutup. Andri dan Arnold beranjak dari halte. Bergegas menghampiri kami. Air kembali diusapkan ke mata. Napas saya masih memburu. Saya bahkan lupa, di mana rokok yang tengah saya isap tadi. Arnold sibuk mengusap pundak Opan. Sampai kondisinya membaik.
Kami bertiga masih tidak percaya dengan apa yang baru saja kami saksikan. Ternyata, tuyul yang selama ini saya tonton di film, berbeda bentuknya. Memang ia berkepala botak atau lebih tepat bulat, tapi tidak pucat, atau bercawat. Hanya seperti siluet. Dan setelah menyaksikan penampakan tuyul itu, bangun logika yang selama ini menuntunku untuk berpikir yang rasional, akhirnya luluh lantak. Saya tidak percaya takhayul. Tapi keberadaan tuyul itu ternyata betul.
Beruntung, dari semua ritual untuk melihat tuyul, momen kami terekam jelas oleh Geril. Saking fokusnya kami, Geril terus membututi kami lalu merekam, tanpa kami sadari. Selanjutnya kami memutuskan segera kembali ke sekretariat, untuk menonton video rekaman itu. Hasilnya, tuyul itu terekam jelas. Geril saat merekam memang tidak bisa melihat tuyul itu, sebab mata batinnya tertutup. Tapi kamera yang ia arahkan, berhasil menyorot penampakan tuyul. Hanya satu tuyul memang. Tapi seramnya minta ampun.
Lalu kami memutuskan, suatu saat video itu akan diunggah di youtube. Tapi setelah semua teman teman yang kerap mangkal di sekretariat, keseluruhannya sudah pernah melihat tuyul. Tanpa tersisa. Dan jika video itu diunggah nanti, maka dari Gorontalo, bukan hanya video Norman Kamaru atau Bona Paputungan, yang berhasil menyita jutaan pemirsa. Bahkan bisa jadi, kami akan diundang Deddy Corbuzier di acara Hitam Putih. Ini bukan acara Dunia Lain, yang jika dinalari, hanya berisi tayangan sampah-sampah yang dibalut kisah mistik.
Tapi, sampai sekarang ketakutan itu terus ada. Saya sempat mimpi buruk. Di kamar, malam hingga menjelang pagi, lampu tak pernah dipadamkan lagi. Seperti ada yang terus mengawasi, meski kamar dalam keadaan terang benderang. Namun jauh di dalam hati, ada kepuasan sebab rasa penasaran itu akhirnya terobati. Meski harus dibayar mahal dengan gigir ketakutan. Saya takut sekaligus puas. Dan kepuasan itu akan terus ada. Bahkan jika nanti pada akhirnya kami memutuskan untuk menghapus video itu. Yakinlah, mereka ada.
Selasa, 01 Desember 2015
Hai Sigi
Sigi. Kamu itu suluh, obor, kata kamus. Kamu penerang jalanku. Kilat bola mata bundarmu sepakat. Dan kamu masih selalu menjadi ruhku dalam menulis apa saja tentang hidup. Sebab kamu hidup. Terbenam dalam nadiku.
Ibumu tahu aku rindu padamu. Setiap saat. Meski kita hanya sedetik pernah terkurung bersama. Kala itu tengkar acapkali ada. Kamu masih takut menatapku. Bahkan dalam tidur lelapmu.
Kamu tahu, Sigi. Sama sepertimu, ibumu kukenali dari kilat bola mata. Meski bola mata ibumu cokelat, tak seperti warna bola matamu yang hitam. Namun malam itu kilatannya menyilaukan. Jauh ke dalam, sekali lagi, nadi. Aku pikir, semesta pun cemburu, dengan cara kami saling bertatapan kala itu.
Aku pernah coba melupakanmu, saat kita tak serumah lagi. Meski kutinggalkan beberapa helai pakaianku, untuk kamu baui saat bayi. Kata orang tua, itu agar kamu tak rewel. Tapi aku tetap merinduimu. Kamu kerap menangis dibuatnya. Rindu memang selalu bercumbu dengan air mata.
Kamu masih ingat? Tatkala usiamu dua tahun. Kamu sangat lincah berlari. Aku tengah duduk di sofa kamar. Tiba-tiba kamu berlari dan meringkuk di antara pahaku. Kamu ingin berlindung dari apa, Sigi? Takut dengan apa? Oh, ternyata nenekmu sedang menyuapimu nasi. Kamu bukan takut, tapi kenyang ternyata. Baguslah, kamu kenali apa itu kenyang, agar tak serakah jika dewasa nanti. Benar, Sigi, menjadi dewasa itu rentan serakah. Kakekmu sangat benci dengan orang tamak.
Setiap 28 April, aku menulis tentangmu. Itu tanggal lahirmu. Tapi ini bukan April. Iya, Sigi, kita berdua terlahir di bulan yang sama. Aku tanggal 12. Tuhan seperti ingin agar bulan itu menjadi spesial bagi kita berdua. Mungkin itu satu-satunya cara Tuhan menghiburku. Memberiku porsi bahwa aku patut diberi momen. Sebab ibumu terlalu banyak momen denganmu. Bahkan setiap ibu di dunia, selalu lebih spesial, bukan?
Akhir November 2015, aku terkejut. Kamu meneleponku.
"Hallo Aba, ada ba apa?"
Aku pikir ibumu yang menelepon. Aku ingat, asap mengepung Kalimantan, dan kamu berada di Banjarmasin, aku begitu cemas. Ternyata kamu sudah kembali ke Passi. Desa dimana kamu dicipta dan dilahirkan. Aku senang sekali kala itu. Apalagi kamu menyusulku dengan SMS. Aku tidak tahu persis, kamu yang menekan tombol huruf atau ibumu. Tapi itu membikinku senang.
Sesudah itu, setiap hari kamu mengirim pesan. Bertanya aku di mana, sedang apa, dan pertanyaan pertanyaan pasangan remaja yang kasmaran. Aku tahu saat itu kamu mendengar instruksi ibumu. Kamu terlalu kecil untuk tahu 5W 1H. Tapi aku anggap itu sepenuhnya kamu. Lalu aku menegurmu, jangan terlalu lama main ponsel. Eh, sesaat kemudian ibumu mengirim pesan suara. Kamu menangis. Kenapa Sigi? Kamu takut dengan sosok ayah yang pelarang? Aku bukan ayah seperti itu. Aku hanya takut kamu menjadi anak yang tidak interaktif. Kamu akan nyaman dengan ponsel itu, sedangkan ada semesta tempatmu bermain. Kamu bisa berkejar-kejaran dengan anak tetangga. Mandi hujan lalu melompat-lompat di genangan air. Atau mencuri tomat nenekmu di kulkas. Kamu masih doyan makan tomat?
Usiamu baru 4 tahun 8 bulan. Memang Tak lama lagi kamu masuk taman kanak-kanak. Aku sempat bertanya apakah kamu sudah bisa berhitung dan mengeja huruf. Di ujung telepon sayup-sayup ibumu bilang.
"Sigi, baru ada tunjung kalamaring!"
Tapi aku ingatkan ibumu, jangan dulu diajari berhitung dan membaca. Di usiamu sekarang, biarkan saja kamu bermain sepuasnya. Menggambari tembok dan mendengarkan dongeng ibumu. Kenali dunia sekitar hingga tempat tidurmu. Tak lama, aku bertanya apakah kamu sudah bisa menyanyi. Kamu menyanyikan lagu 'Kasih Ibu'. Kamu anak pintar.
Aku juga meneleponmu waktu itu. Hingga kamu capek menggenggam telepon. Benar Sigi, menjadi orang dewasa itu capek. Terpaku pada gadget sampai lupa waktu. Makanya, lepaskan ponsel lalu bermain lagilah. Aku rela. Lalu kita bersalam pisah. Kamu mengecup di ujung sana. Terdengar rekat.
Oh, ya, kamu sudah ketemu nenek di rumahku? Jawabmu sudah. Katamu nenek memberimu uang puluhan ribu. Iya, nenek selalu begitu. Apalagi ia terlalu rindu denganmu. Sejak kamu ke Banjarmasin, nenekmu acapkali bersedih, sebab kamu tidak pamitan. Tapi baguslah kamu telah pulang. Lalu bertemu nenek lagi. Pasti kamu dibuatnya kenyang lagi.
Aku tanyai lagi, sudah ke makam kakek? Katamu belum, nanti akan ke rumah nenek lagi, terus ke makam kakek. Iya, kakek juga pasti rindu kamu. Saat kakek berpulang, kamu masih di Passi. Momen duka itu menjadi suka bagiku. Sebab kamu selalu takut bertemu denganku. Dan akhirnya di hari pemakaman kakek, kamu akhirnya mau kupeluk. Biasanya momen seperti itu, hanya bisa kucuri saat kamu tertidur pulas.
Hai Sigi. Kamu bidadari yang hanya bisa kutulisi, entah sampai kapan. Getah Semesta ini, tabung memori untukmu. Akan kupenuhi dengan segala semesta hidupmu dan hidupku. Mereka yang ada di sini pun adalah jejak-jejak hidup kita berdua. Sebab sebenarnya setiap mahluk itu saling terhubung. Ada getah yang merekatkan kita.
Ok, Sigi. Jangan nakal ya, sama ibu. Bilang sama ibumu, rambut keritingmu jangan digunting. Jangan lupa selalu tersenyum dan puas-puaslah bermain. Sayangi kakek dan nenekmu di rumah ibu. Sayangi pula nenek di rumah ayah. Sayangi keluargamu. Sayangi tetangga-tetanggamu. Sayangi boneka-bonekamu. Sayangi teman-temanmu. Sayangi semua manusia. Sayangi pula binatang binatang yang kamu temui. Jika mereka tidak menggangu, jangan usik mereka. Sayangi semua mahluk.
Sudah dulu ya, Sigi. Berulang kali ayah berpesan: Jangan pernah dewasa!! Muaaachhh!!
Langganan:
Postingan
(
Atom
)






