Selasa, 12 Januari 2016

Ekspedisi Gembira ke Batui

2 komentar


Saat kau menerima dirimu
dan berdamai dengan itu
kau menari dengan waktu
tanpa ragu yang membelenggu

Taifun dari Barasuara kusetel di pemutar musik di ponsel, usai kapal bertolak dari pelabuhan Gorontalo menuju Luwuk Banggai. Kami duduk bersantai di buritan saat itu, sembari menyesap kopi di cup plastik yang dipesan di kafetaria.

Pukul 9 malam, kami baru bisa berangkat, setelah menunggu dari pukul 5 sore. Ini adalah pengalaman pertama saya naik kapal laut. Sebelum berangkat tadi, kami bertujuh, saya, bang Jufri, Mat, Chris, Ivol, Arnold, dan Opan, yang menggenggam tiket kelas bisnis, merasa gerah. Setelah kami mendapati kelas bisnis adalah ranjang papan dua susun yang berjejer, tanpa kasur, dengan posisi kami berada paling bawah. Masing-masing dari kami hanya mendapat tempat seukuran sleeping bag, memanjang, dengan laci di atas kepala tempat menaruh barang. Kami macam di barak tentara.

Bang Jufri yang makin gerah, mengusulkan agar mencari tempat yang lebih nyaman di kelas VIP. Beruntung kami menemukan ada tempat kosong yang pemesannya tak kunjung datang. Deal. Kami diminta menambah uang tiket 30 ribu dari tiket sebelumnya yang harganya 95 ribu.

Di kelas VIP ada teve 24 inci. Difasilitasi pendingin ruangan pula. Meski berjejer di kasur, lumayan, asal tak segerah di kelas bisnis. Langit-langit kamar juga terlihat, bukan punggung dari ranjang susun. Di VIP pun tak bising sebab letaknya di haluan dan pintunya tertutup rapat. Seusai merapikan barang-barang itulah, kami menuju kafetaria di atas bagian buritan. Coba mencari udara segar.

Di kapal kesenjangan sosial sangat nampak memang. Dari kelas kardus, kasur, sampai yang berbilik. Bau keringat dan logam menyatu, meruap menebal di lorong-lorong dan tangga-tangga yang kami lewati. Orang-orang dengan segala nasib berserakan di lantai di antara kafetaria mungil dan deretan kursi. Orang-orang yang duduk berjejer, seperti sedang menonton pementasan nasib dari mereka yang rebah di kardus-kardus.

Kapal feri yang kami tumpangi ini kira-kira seluas dua kali lapangan futsal. Selama perjalanan itu, laut sangat berkawan. Tak ada ombak besar. Ketakutan saya untuk naik kapal hilang perlahan. Saya mulai menikmati perjalanan.

Setelah lama duduk berbincang di buritan, kami masuk menuju kamar lagi. Ada belasan orang di antara kasur-kasur lain, berjejer pulas. Saya mencoba rebah sejenak bersama Mat. Sedangkan yang lainnya memilih kembali ke buritan. Di saat itulah, beberapa kasur milik kami yang ditinggal kosong, tiba-tiba ditiduri tiga orang laki-laki. Yang satunya seorang marinir.

Opan yang baru saja dari buritan, mendapati tempatnya ditiduri seorang marinir berpostur Rambo. Ia hanya terus memelototi si marinir, dengan mata merah yang mengisyaratkan ia sudah sangat mengantuk. Sedangkan saya terus cekikikan melihat tingkah Opan yang serba salah. Saya sempat memotretnya. Ia lantas menuju buritan dan melaporkan hal itu ke Bang Jufri. Opan kembali ke kamar bersama Bang Jufri Cs. Dua orang laki-laki di samping saya dibangunkan. Sedangkan si marinir, masih tergolek diam, serupa singa tidur.

"Opan, kasih bangun jo!" kata Bang Jufri. Kami terus cekikikan, sampai seorang ABK datang dan coba membangunkan marinir itu.

"Oh, iya, maaf ya," kata si marinir. Ia lalu mengambil pistol yang diselipkannya di bawah kasur. Melihat tampang Opan saat itu, kami tambah cekikikan.

Setelah masalah si marinir beres, kami pun beristirahat. Dibuai ombak, kami tertidur dengan cepat dan pulas. Pukul 5 pagi, kami bangun menuju buritan lagi, untuk mengambil foto sunrise. Pemandangan indah terhampar. Deretan bukit-bukit di pulau seberang dan awan-awan seakan menyatu. Matahari dengan cantiknya menyembul perlahan.

Sunrise dari kapal feri, saat mendekati pelabuhan Pagimanan, Luwuk Banggai
Dua jam lagi kami akan tiba di Pelabuhan Pagimana, Luwuk Banggai. Selama itu, waktu banyak kami habiskan di buritan, dengan bercup-cup kopi, popmie, dan berbatang-batang rokok. Tak terasa, dari kejauhan dermaga telah nampak. Kapal bersandar dengan riuh para penumpang. Dari pelabuhan Gorontalo, perjalanan kami habiskan selama 12 jam. Sejak pukul 9 malam, tanggal 8 Januari, sampai tanggal 9 Januari, pukul 8 pagi.

Dua kawan kami Kadir dan Abdi yang bertugas menjemput belum tiba. Kami masih menyempatkan sarapan di warung makan di pelabuhan. Tak lama mereka berdua tiba. Usai makan, kami bergegas. Baru saja 30 menit perjalanan, kami dicegat puluhan mobil yang terparkir. Ternyata jalur yang kami lewati, sedang ada perbaikan jalan. Dan sialnya, kami tepat berada di waktu penutupan jalan. Pukul 12 siang, baru jalan itu dibuka lagi.

Banyak warung-warung makan yang berjejer di pinggir jalan. Bencana bagi kami, adalah anugerah bagi para penjajah makanan. Kami terpaksa menunggu di salah satu warung. Memesan es kelapa muda dan kopi. Empat orang anak punk yang sekapal dengan kami lewat. Mereka berempat adalah penumpang liar. Bang Jufri memanggil mereka dan menawari makan.

"Kami tidak punya uang, Om," kata salah satu dari mereka.

"Makan, sudah!" ujar Bang Jufri. Mata anak-anak punk itu berkaca-kaca. Lalu mereka berterimakasih.

Akhirnya pukul 12 siang. Jalan dibuka kembali. Sekitar 30 menit di perjalanan, kami mampir di tempat wisata air terjun Salodik. Pepohonan yang rimbun, dengan air terjun bersusun-susun menyapa sejuk. Momen ini kembali kami isi dengan sesi foto-foto. Air terjun Salodik sangat indah. Hanya setinggi empat, tiga, dua, bahkan satu meter, tapi bersusun-susun. Belasan orang pengunjung menyempatkan diri untuk mandi. Sedangkan kami hanya membasuh muka saja.

Air terjun Salodik
Setelah berkeliling, saya sempat terenyuh dengan kondisi gazebo-gazebo yang telah reyot dimakan rayap. Beberapa di antaranya telah roboh. Seorang penjaga menjelaskan, bahwa pemerintah setempat memang kurang memperhatikan objek pariwisata Salodik. Sangat disayangkan memang. Padahal tarifnya cukup murah, hanya 2 ribu per pengunjung, dengan keindahan alam yang begitu asri dan sejuk.

Kami tak berlama-lama, sebab masih akan melanjutkan perjalanan ke Kecamatan Batui. Setelah dari Salodik, perjalanan terlewati dengan lelah dan lelap. Bahkan kota Luwuk pun tidak sempat saya saksikan, sebab ketiduran.

Kami terus melaju ke Batui. Sejam kemudian, perusahaan gas bumi dengan cerobong api besar menyambut kami. Pertanda bahwa kami telah tiba Kecamatan Batui. Hanya beberapa menit kemudian, kami tiba di kelurahan Batui. Rumah saudara Mat menjadi persinggahan, selama kami berada di Batui. Tujuan kami, untuk menyaksikan prosesi adat Tumpe, pada malam harinya. Sebuah ritual keagamaan yang digelar setahun sekali.

Dan.... Malam harinya, kami menyaksikan prosesi adat yang memiliki daya magis begitu kuat. Kisahnya, akan saya tulis terpisah. Butuh kesadaran lebih untuk menuliskannya, sebab batas-batas rasionalitas diterabas oleh apa yang kami saksikan di depan mata. Sungguh, itu adalah momen yang tak akan pernah terlupakan, dalam Ekspedisi Gembira.

Kamis, 07 Januari 2016

Segulung Kalimat "Usang" Dalam Kepala

Tidak ada komentar
sumber foto www.republika.co.id

Haz Algebra. Saya mengenalmu dari seorang kawan. Nama kawan itu Cakra Buhang. Mungkin di tahun 2013, saya dikirimi sebuah link yang berisi cerpen oleh Cakra. Judulnya 'Segulung Cerita Tua Dalam Kepala', penulisnya adalah kamu.

Seingat saya, Cakra saat itu mengatakan cerpen-cerpenmu sudah dibukukan. Salut. Nah, titik mula membahas tentangmu, tatkala Musda Badko HMI Sulut-Gorontalo, 2013. Saat itu kamu sebagai salah satu kandidat Ketua Umum Badko Daerah Sulut-Gorontalo. Kaitannya dengan Bolmong, sebab ada pula kandidat asal Bolmong kala itu. Saya sempat mewawancaraimu sebagai narasumber lewat chating di BBM. Namun kini, kontakmu hilang setahun atau dua tahun lalu dari daftar pertemanan.

Hai, Haz, yang tersebut sebagai mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Samratulangi, Manado. Begitu seingat saya menurut penuturan Cakra. Mungkin pula sekarang kamu sudah menamatkan studimu dan bergelar dokter. Tak banyak memang, mahasiswa Fakultas Kedokteran yang bergelut pula di dunia sastra. Saya cukup kagum, setelah membaca cerpenmu. Diksi-diksi segar dan imajinasimu meloncat-loncat. Sebagai penulis muda, kamu berbakat. Apalagi yang menilai, maqomnya jauh di bawah darimu. Apes!

Namun saya seperti tersedak setelah di tengah-tengah cerita. Saya heran dengan ingatan saya, yang terkadang encer, tapi kadang-kadang malah beku. Tapi kali ini ingatan saya encer tiba-tiba. Sebab dalam plot cerpenmu, saya menemukan kalimat yang begitu familiar. Saya terus menajamkan pikir, hingga akhirnya saya putuskan mengetik beberapa potong kalimat itu di google, lalu menyematkan kata facebook. Syukurlah, mesin pencarian google, menambatkannya pada status saya.

Terpindai, saya pernah membuat status yang mirip dengan potongan kalimat di cerpen itu. Status itu pun saya kutip dari bait puisinya Goenawan Mohamad (GM), Gandari.

Mari kita pergi.
Ke sebuah kota di mana nujum tak dibaca.
Di mana anak-anak tak tumbuh.
Di mana masa lalu adalah masa kini.
Di mana "aku" hanya kata sebelum amnesia.

Mari kita pergi ke sebuah kota di mana kabar adalah tafsir yang terlambat.

Selengkapnya: (http://sastrawan.com/index.php/puisi/goenawan-mohamad,119/gandari,1447)

Pada bait puisi di atas, saya pun lupa mencantumkan nama penyair atau judul puisi di status tersebut. Saya hanya mengunggah sebuat foto kota Bikini Bottom bersamaan. Kota tempat Spongebob dan kawan-kawannya tinggal dalam dunia kartun. Pikiran iseng saya, bait puisi GM di atas sangat tepat disandingkan dengan kota Bikini Bottom dalam serial kartun SpongeBob SquarePants. Kota di mana nujum tak pernah dibaca. SpongeBob dan kawan-kawannya yang tak kunjung tumbuh menjadi lebih besar atau menua. Masa lalu dan masa kini yang sesekali bertukar. Tempat di mana "aku" hanya kata sebelum amnesia, saya segera ingat Patrick kala itu. Dan kota di mana kabar adalah sebuah tafsir yang terlambat, sebab di Bikini Bottom, kabar kerap ditafsirkan terlambat. Cocoklogiku tepat ya? Ha-ha-ha.

Sebelum-sebelumnya saya pernah membikin status di BBM. Saya hanya menyematkan judul puisi, Gandari. Itu sekitar 2011, sejak saya mulai tertarik membaca puisi-puisi GM. Di tahun-tahun sebelumnya, saya hanya tertarik membaca catatan pinggir atau artikel-artikel lepasnya. Saya terlambat mengenalnya sebagai penyair, atau malah terlalu cepat mengenalinya, sehingga sekarang saya mulai melupakannya.

Kembali, setelah membaca cerpenmu, Haz. Dimana saya sempat tersedak, sebab saya menemukan potongan kalimat yang begitu mirip dengan bait puisi Gandari.

"Kita harus bergegas menuju taman jalan setapak bercecabang -di sebuah
kota- di mana kabar-kabar adalah tafsir yang tertunda, di mana Dalang
hanya sebuah kata sebelum kita amnesia."

Selengkapnya: (http://sains.kompas.com/read/2011/04/28/03274622/segulung.cerita.tua.dalam.kepala)

Cerpen itu dimuat di Kompas. Saya bukan hendak menjadi seorang kritikus sastra di sini. Tapi sebagai penikmat puisi, cerpen, novel, dan apapun berbau sastra, saya merasa sedikit alergi untuk tidak menuliskan ini. Niat saya ini sudah sejak tahun 2013. Dan akhirnya baru bisa saya tuliskan sekarang. Silakan mendedahnya. Kesamaan itu bisa ditemukan pada larik ini:

GM: Mari kita pergi ke sebuah kota di mana kabar adalah tafsir yang terlambat.

Haz: Kita harus bergegas menuju taman jalan setapak bercecabang -di sebuah
kota- di mana kabar-kabar adalah tafsir yang tertunda.

GM: Di mana "aku" hanya kata sebelum amnesia.

Haz: di mana Dalang
hanya sebuah kata sebelum kita amnesia.


Memang Haz coba meminimalisir kesamaan, namun tetap saja aroma GM tercium. Saya mungkin bisa salah mengendus. Bisa jadi kamu, saking mengidolakan GM, terkagum-kagum dengan puisi Gandari, hingga muncul niatmu untuk mencongkel satu per satu kata dari bait puisi Gandari, kemudian menambalkannya secara utak-atik ke salah satu paragraf cerpenmu. Namun sidik jari GM masih membekas di sana. Atau saya bisa juga salah, jangan-jangan bait puisi itu, adalah isi dari epos Mahabharata, yang luput saya baca, dan sah-sah saja jika kalimat itu mau dinukil di tulisan manapun dan oleh siapapun.

Semoga saja saya salah. Sebab saya sangat kagum dengan cerpenmu. Meski di antara karya-karyamu, yang baru saya baca adalah satu-satunya cerpen itu. Segulung Cerita Tua Dalam Kepala. Ya, segulung kalimat dalam cerpen itu, meski telah "usang" di tahun-tahun kemarin, semakin tahun mengganggu isi kepala saya. Saya seperti menemukan sebuah kebenaran, yang terus saja saya simpan. Saya ingin memuntahkannya, dengan niat agar saya bisa membaca sanggahanmu, sebagai seorang penulis. Jangan tuntut saya telah mencemarkan nama baik. Ha-ha-ha.

Karyamu lainnya dalam bentuk video adalah satu puisi, yang pernah saya saksikan di youtube. Puisi saat pernikahan kawanmu, yang jika tidak salah dibacakan oleh Reiner Ointoe. Seorang budayawan dan penyair di Manado. Sangat disayangkan, suara tidak terlalu jelas, sebab video direkam secara manual menggunakan ponsel.

Namun saya tetap kagum denganmu, apalagi kamu adalah penulis dan penyair muda asal Manado. Beberapa bukumu sudah bertengger di rak-rak toko buku. Kamu seprovinsi dengan tempat lahir saya pula. Berkali-kali; semoga saja dugaan saya ini salah. Dan jika benar, saya pernah pada suatu waktu, menganggap memplagiat karya itu hanya supaya memicu giat menulis. Sebab dari sebait kalimat, kita bisa mengembangkannya menjadi sebuah cerita panjang. Pendapat itu ada, sebelum saya begitu mafhum, bahwa memplagiat adalah sikap tidak terpuji bagi para penulis.

Tapi untuk satu karyamu itu, kenapa juga kamu nekat menyelipkan sebait kalimat itu, yang pada akhirnya melebur orisinalitas karyamu? Padahal ribuan kata lainnya dalam isi cerpen, adalah buah pikirmu. Saya merasa kecewa, sebab cerpen bagus, malah dirusak oleh sepenggal kalimat.

Ah, selamat tahun baru 2016 dan sukses untukmu, Haz. Semoga kita bisa menjadi kawan. Ini mungkin cara saya agar kamu bisa berkawan dengan saya. Mencari perhatian. Sebab saya pun pernah mendapat karib, hanya dari cara ia menegur saya seperti ini. Oh, ya, kita berkawan di facebook. Silakan kabari saya, Kristianto Galuwo. Dan semoga juga saya segera dapat kiriman buku-buku karyamu. Gratis. Ha-ha-ha.

Sabtu, 02 Januari 2016

Cinta Harga Mati

Tidak ada komentar
Cinta adalah keputusasaan yang harus disimpul kembali. Atau mungkin, tidak sama sekali.

Kalimat itu mungkin cocok denganku. Dalam setahun, aku bisa bergonti-ganti pasangan hingga belasan kali. Dari pegawai negeri sipil, polisi, tentara, om-om berkumis, bahkan remaja belum berbulu. Sebagian ada yang kuputuskan, lalu kembali merajut kasih. Sebagian lagi hilang dan berganti. Aku sebenarnya sudah ingin menikah. Namun tak kunjung menemukan pasangan yang tepat. Entah kenapa, sebenarnya beberapa di antara mereka bersedia mengajakku menikah. Bahkan bela-belaan berjuang hingga ke titik nadir. Tapi, seperti itulah, hatiku belum tertambat. Aku memilih terus berlayar dan terlena dengan kebebasan. Lalu bagaimana aku bisa menikah, jika aku masih ingin bebas?

Aku bertato. Namaku July. Nama panjangku July Maryani. Ya, bisa ditebak aku dilahirkan bulan Juli. Usiaku memang sudah seharusnya bertengger di pelaminan. Genap 24 tahun pada Juli 2016 nanti.

Waktu aku memutuskan bertato, orang tuaku akhirnya bersikap biasa, setelah sebelumnya kerap cemberut. Aku anak perempuan satu-satunya. Kedua adik laki-lakiku masih di bangku sekolah dasar. Jarak usia kami terpaut jauh memang. Untuk itulah, aku yang bekerja di salah satu toko pakaian, menjadi tulang punggung keluarga. Ayahku sudah berpulang sejak aku berseragam putih-biru. Setelah tamat dengan segala tetek-bengek atribut sekolah, aku memutuskan bekerja.

Wajahku oval dan cantik. Tinggi badan dan bentuk tubuhku proposional, berpadu dengan rambut panjang yang dicat merah. Makanya, aku jelas lebih cepat memiliki pacar lagi meski baru saja putus cinta. Aku suka minuman berakohol dan itulah yang membuat pergaulanku tidak berbatas. Di lorong lorong, di pub, di taman kota, di rumah kosong teman, di kos-kosan, kerap menjadi tempat di mana aku memuaskan dunia malamku. Aku binal dan sintal. Dan aku seksi. Aku juga sangat jujur.

Aku sangat terbiasa membagi penggal-penggal kisah hidupku di sosial media. Terlebih di status blackberry messenger. Aku suka membikin status tentang apa saja yang baru kualami. Entah itu soal pacar, dikejar anjing, mencaci teman kerja, dan kisah-kisah putus cinta. Aku terbiasa dan merasa terhibur dengan semua itu. Aku seperti telah membagi gundah dalam hati. Ada beberapa teman yang akhirnya berinteraksi lewat pesan. Aku curhat dan imbalannya solusi. Kadang-kadang malah ada beberapa yang mendukung pilihanku.

"Apa yang kamu lakukan sudah benar!" tulis salah satu teman laki-laki mengomentari statusku. Ah, pesan itu modus. Laki-laki itu menyukaiku dan mencoba merayuku lewat upaya bentuk kepedulian. Bullshit!

Aku baru saja putus dengan pacar tentara. Tahu, kan, tentara itu negara kesatuan saja harga mati! Tapi apakah cinta mereka juga harga mati?

"Sayang, aku sangat mencintaimu, tolong balas pesanku," begitu rajuk pacar tentaraku di pesan. Aku sedikit mual membacanya. Bukan sekali ini aku berpacaran dengan tentara. Sudah berkali-kali. Polisi juga begitu.

Aku sebenarnya mencintainya. Tapi tentara yang namanya Rudi ini, terlalu nampak begitu mencintaiku. Padahal perempuan seperti saya, lebih suka dengan laki-laki yang agak cuek. Biar tak cepat jenuh dengan panggilan sayang. Ah, selain itu Rudi juga tidak terlalu tampan. Bukan tipeku juga. Aku suka pria bertato, seperti mantanku yang hampir sekujur tubuhnya dirajah. Aku mencintainya, tapi seperti itulah, mantan bertatoku itu juga nampak begitu menyukaiku. Aku jadi cepat bosan.

Pacarku yang tentara ini, beberapa hari sebelum kuakhiri kisah cinta kami, pernah mengirim pesan. Ia mengatakan sangat menyesal. Padahal yang harus menyesal itu aku. Sebab aku memutuskannya tanpa alasan yang tepat untuk standar sepasang sejoli.

Selain itu, aku juga sebenarnya takut bertemu orang tua setiap pasanganku. Bagaimana jika mereka mengetahui calon menantu mereka berlumuran tinta di tubuh. Aku kerap takut akan persoalan itu. Sebelum berpacaran dengan tentara ini, aku pernah berpacaran lama dengan seorang remaja manja. Aku mencintainya, tapi saat ia menawari agar aku ke rumahnya untuk bertemu dengan orang tuanya. Aku menolak. Pertengkaran kerap terjadi usai itu. Lalu kami putus. Kami pacaran selama setahun, itu adalah rekor terlama aku berhubungan dengan seorang laki-laki.

Sama seperti pacar tentaraku. Eh, mantan tentaraku. Ia pernah membujuk agar aku bertemu kedua orang tuanya. Sialan. Aku jelas menolak. Saat aku mabuk, aku mengatainya. Padahal minuman alkohol itu ia yang beli. Peduli setan. Aku tetap membentaknya. Kemudian aku meninggalkannya yang saat itu juga tengah mabuk. Ia mengejarku dengan motor berknalpot bising. Aku cuek dan terus menghindar memandanginya. Raungan knalpot mengisyaratkan kesedihannya. Pengemudi becak motor terheran-heran.

Tiba di rumah, pengemudi itu berkata, "Tadi saya sangat takut. Tentara itu berseragam."

Lampu ruang tamu aku padamkan. Aku rebah di sofa, lantas tertawa. Bagaimana itu bisa menakutkan? Seorang tentara berseragam mengejarku, merajuk, terus pengemudi becak motor menyaksikannya. Itu hal terkonyol yang pernah kualami. Aku terus tertawa. Apalagi setelah membaca isi pesan yang susul-menyusul di ponsel.

"Aku mencintaimu!"

"Kemarin saja, aku heran karena setelah aku keluar asrama, kamu sudah tidak ada. Apa salahku?"

"Aku tidak rela diputuskan seperti ini!"

"Tolonglah sayang, aku mengaku salah, aku mencintaimu dengan segenap hatiku. Dengan jiwa ragaku!"

"Kamu adalah cinta harga matiku!"

Pesan-pesan itu makin membuatku mual. Aku bergegas ke kamar mandi. Ponsel kuletakkan di atas meja ruang tamu. Setiap langkahku dikejar nada dering pesan. Sialan! Kenapa aku pernah menerimanya menjadi pacarku. Beruntung, aku baru dua kali berhubungan intim dengannya. Aku juga menyarankan ia memakai kondom. Aku tidak ingin hamil, yang kemudian itu menjadi alasan aku harus menikahinya.

Usai dari kamar mandi, aku menemukan ponselku dijejali 15 panggilan tak terjawab, 5 pesan singkat, dan 17 pesan blackberry. Aku menghapus semua tentangnya lalu mematikan ponselku. Aku mencoba tidur, tanpa merasa ada beban apa-apa. Tentunya tak seperti apa yang mantan tentara itu rasakan sekarang. Cinta harga mati. Sialan! Ia tak pernah tahu, kalau aku ingin merdeka dari semua yang telah dihargai dan dipenuhi kematian ini.

Rabu, 30 Desember 2015

Tujuh Elemen Tulisan Menarik

Tidak ada komentar

Setidaknya terdapat tujuh elemen yang harus diperhatikan penulis dalam membuat sebuah tulisan.

1. Informatif
Esensi sebuah tulisan adalah memberi informasi, bukan merangkai bahasa. Informasilah yang menjadi batu bata penyusun tulisan yang efektif. Untuk menulis efektif, penulis pertama-tama harus mengumpulkan kepingan informasi serta detail konkret yang spesifik dan akurat, bukan kecanggihan retorika atau pernak-pernik bahasa.

2. Signifikan
Tulisan yang baik memiliki dampak pada pembaca. Panjangnya tulisan dan ruwetnya persoalan jangan sampai penulisnya lupa untuk mengaitkan dengan kepetingan pembaca. Penulis harus meletakkan informasi itu dalam sebuah perspektif yang berdimensi: mengandung unsur apa yang telah, sedang, dan akan terjadi.

3. Fokus
Tulisan yang sukses adalah yang bisa secara jelas menyampaikan sebuah pesan. Tidak harus panjang lebar, tetapi justru efektif dan terfokus.

4. Konteks
Tulisan yang efektif mampu meletakkan informasi pada perspektif yang tepat sehingga pembaca tahu dari mana kisah berawal dan kemana mengalir.

5. Wajah
Manusia suka membaca tulisan tentang manusia lainnya. Tulisan akan efektif jika penulisanya mampu mengambil jarak dan membiarkan pembacanya menemui, berkenalan, serta mendengar sendiri gagasan/informasi/perasaan dari manusia-manusia di dalamnya.

6. Bentuk
Tulisan yang efektif mengandung cerita dan sekaligus mengungkapkan cerita. Umumnya tulisan ini berbentuk narasi, dan sebuah narasi bakal sukses jika terdapat pola kronologis aksi-reaksi. Penulis harus kreatif menyusun sebuah bentuk yang memungkinkan pembacanya memiliki kesan lengkap yang memuaskan.

7. Suara
Tulisan akan mudah diingat jika penulisnya mampu menciptakan ilusi bahwa dia sedang bertutur pada pembacanya.

Elemen tulisan bagus ini disusun oleh Farid Gaban. Dandhy Dwi Laksono dalam bukunya yang berjudul Jurnalisme Investigasi memaparkan elemen tersebut secara lengkap.

sumber: http://asep.wordpress.com/2010/08/10/tulisan-bagus-mengandung-tujuh-elemen/

Ave Maria

Tidak ada komentar
Cerpen ini ingin kuabadikan di blog. Susah nyari cerpen ini.
Selamat membaca.

Oleh: Idrus

Malam bulan purnama raya. Kami duduk di beranda depan. Ayah dan ibu bercakap sebentar sebentar. Tapi percakapan itu sudah lancarnya rupanya. Keindahan alam yang demikian, mengenangkan kami kepada suatu kejadian. Perpisahan dengan Zulbahri. Zulbahri yang dengan secara aneh berkenalan dengan kami. Bagaimana lekatnya hati kami kepada Zulbahri ternyata, waktu ibu berkata, "Kasihan Zulbahri. Entah di mana dia sekarang. Serasa anak sendiri."

Masih jelas teringat oleh kami, hari perkenalan kami dengan Zulbahri.

Aneh betul. Kami sedang duduk-duduk pula di beranda depan. Hari panas alang kepalang. Adik Usup mempermain-mainkan ujung kebaya ibu, sampai kebaya itu robek dibuatnya. Hampir-hampir ia menangis dimarahi ibu.

Tiba-tiba ia tertawa gelak-gelak, sambil menunjuk ke tengah jalan. Kami menoleh dan tampaklah kepada kami seorang laki-laki, sedang asyik membaca buku, sambil berjalan juga. Pakaian orang itulah yang menerbitkan tertawa adik Usup. Baju jasnya sudah robek-robek, di bagian belakang tinggal hanya benang-benang saja lagi, terkulai seperti ekor kuda. Mendengar tertawa adik Usup, ia tertegun, berhenti dan melihat kepada kami. Ia ikut tertawa. Sudah itu ia seperti orang berpikir dan tak lama kemudian, ia masuk ke dalam pekarangan kami. Ia memberi hormat kepada ayah dan ibu, lalu duduk di sebelah kursi dekat meja bundar di tengah beranda itu. Ibu sudah ketakutan saja. Tanya ayah, "Tuan mencari saya?"

Banyak lagi pertanyaan ayah, tapi semua dijawab dengan suara yang halus sekali, sehingga tak jelas kedengaran kepada kami. Segala perkakas rumah kami yang ada di beranda depan itu, diperhatikannya satu persatu. Sudah itu matanya tertambat kepada majalah-majalah yang disimpan ayah di bawah meja bundar itu.

Diusai-usainya majalah itu. Diambilnya sebuah, dimasukkannya ke dalam sakunya. Buku yang dibawanya ditinggalkannya di atas meja, lalu ia pergi pula.

"Gila", kata ibu.

Perlahan-lahan ayah pergi ke meja bundar, diambilnya buku orang laki-laki itu, dan sesudah beberapa lama diperhatikannya, katanya, "Hm, buku filsafat. Orang pintar juga barangkali."

Keesokan harinya ia datang pula kembali. Diambilnya pula majalah yang lain, yang lama diletakkannya kembali ke tempatnya. Setiap hari ia datang. Dan setiap kali ia datang, ada saja perubahan yang membaikkan tampak pada dirinya. Bajunya tak lagi sekotor yang dulu. Sudah keluar beberapa perkataan dari mulutnya. Begitulah kami mengetahui berturut-turut, bahwa ia dulu seorang pengarang. Sungguh pun belum kenal umum, tapi bukunya banyak juga yang diterbitkan. Keinginan kami hendak mengetahui lebih banyak lagi, tak dipenuhinya.

Pada suatu hari kata ibu, "Sudah lama Zulbahri tidak datang-datang. Sudah lebih seminggu canggung pula aku."

Dan tak berapa lama disambungnya, sambil menunjuk ke jalan, "Ha, itu dia."

Kami menoleh ke arah jalan. Memang Zulbahri itu. Seperti biasa ia tertawa masuk, lalu duduk. Segala perbuatan Zulbahri bagi orang yang baru mengenal dia, aneh. Tapi bagi kami sudah biasa pula.

Zulbahri menarik nafas panjang-panjang.

Tanya ibu, "Mengapa sudah lama tak datang-datang, Bahri?"

Sangat terkejut kami, waktu Zulbahri berkata terus menerus, tak berhenti-henti. Belum pernah kejadian yang demikian. Seakan-akan ceritanya itulah jawaban atas pertanyaan ibu.

Matahari sudah mulai condong ke Barat. Sebentar lagi ia akan hilang dari pandangan mata. Lampu di beranda depan sudah dipasang ibu. Zulbahri terus juga bercerita. Kami mendengar dengan sepenuh penuh perhatian.

Kami bahagia. Aku dengan istriku. Sudah delapan bulan kami kawin. Wartini belum juga mempunyai tanda-tanda, ia akan segera mendapat anak.

Sungguhpun begitu cinta kami sedikit pun tak berkurang. Karanganku bertambah lama bertambah mendapat perhatian umum dan ahli-ahli. Tapi aku selalu dalam ketakutan saja. Terasa kepadaku, bahwa kebahagiaan yang demikian takkan selama-lamanya. Nanti tentu akan datang masanya, bahagia itu bertukar dengan kesusahan dan sengsara. Tapi dari mana datangnya kesusahan itu, itulah yang menjadi pertanyaan besar bagiku.

Sungguhpun begitu aku yakin, bahwa kebahagiaan itu takkan lekas betul meninggalkan kami. Kami baru delapan bulan saja kawin. Setiap hari kucoba menghilangkan perasaan takut itu. Hampir-hampir berhasil, hampir-hampir aku berpendapat, bahwa bahagia itu takkan meninggalkan kami buat selama-lamanya. Hampir-hampir tak masuk ke dalam akalku, aku, aku nanti akan menderita kesengsaraan. Tapi pada waktu itu pulalah mulai pertukaran bahagia kami dengan sengsara yang akan datang. Aku menerima surat dari Syamsu, adikku, dari Shonanto. Dua hari dua malam suratnya itu kusimpan dalam sakuku, kubawa ke mana-mana. Surat yang menjadikan pikiranku kacau balau, pekerjaanku terbengkalai.

Matahari sudah lama terbenam. Bulan purnama mulai naik perlahan-lahan, memancarkan sinarnya, melalui daun-daun jarak di pekarangan, menerangi pekarangan itu. Zulbahri terus juga bercerita, kadang-kadang lambat-lambat, kadang-kadang cepat-cepat.

Dua hari dua malam surat itu kubawa ke mana-mana. Pada malam ketiganya kami sedang duduk di ruang dalam rumah. Maksudku tetap sudah hendak membicarakan isi surat itu dengan Wartini. Tapi lidahku kaku. Kalimat-kalimat yang sudah kuapal-apalkan untuk dikatakan kepada Wartini, hilang dari ingatanku. Aku berjalan ke jendela. Mataku memandang ke langit bertaburan bintang. Hatiku mulai terbuka kembali, waktu melihat keindahan alam itu.

Wartini, indah betul malam ini. Seperti pada malam pertemuan kita benar. Lihatlah ke bintang yang berderet tiga buah itu.

Entah karena apa, perkataanku itu menimbulkan syak wasangka dalam hati Wartini.

Adakah yang hendak kubicarakan dengan daku, Zul? Ceritakanlah.

Perkataan Wartini menambah semangatku untuk menguraikan segala-galanya kepadanya. Begitulah kami termenung keduanya, setelah kuceritakan bahwa Syamsu, adikku hendak pindah dari Shananto ke Jakarta dan hendak tinggal bersama kami. Kuterangkan pula, bahwa aku tak dapat menolak. Jika kutolak, aku dipandang rendah oleh orang kampungku. Wartini pun mengerti tentang hal itu. Dengan tentang bahayanya Syamsu tinggal bersama kami, terus terang pula kuuraikan kepada Wartini.

Takutmu berlebih-lebihan, Zul. Aku cinta kepadamu. Syamsu hanya teman mainku di waktu kecil. Cinta demikian tak masuk ke dalam hati. Cinta monyet, kata orang.

Perlu pula kuterangkan, bahwa selama aku kawin dengan Wartini, sekali-sekali adi timbul perasaan kepadaku, bahwa perbuatanku kepada Syamsu salah adanya. Syamsulah yang sebenarnya berhak mendapat Wartini. Anehnya, sungguhpun Wartini menerangkan, bahwa ia hanya menyintai aku sendiri, tapi hatiku terus berkata, bahwa Wartini lebih dekat kepada Syamsu. Aku merasa diriku sebagai seorang perampok.

Syamsu datang dari Shonanto. Katanya ia kurang senang sekolah di sana. Pernah ia berkelahi dengan seorang guru besar. Sebab itu ia akan mencoba untungnya di Sekolah Tabib Tinggi di Jakarta.

Mintakan saja aku dapat lulus di sini. Nah, sudah itu orang akan memanggil aku "dokter Syamsu".

Tak ada yang dapat dicela tentang pergaulan Syamsu dengan Wartini. Keduanya hormat menghormati. Hatiku jugalah yang berkata-kata, bahwa aku adalah seorang perampok. Hatiku berkata, aku berdosa terhadap Syamsu. Dan kata hatiku, cinta Wartini tak lama lagi akan timbul kembali terhadap Syamsu.

Perasaan-perasaan yang demikian menjadikan daku menjadi sangat curiga. Segala percakapan Wartini dengan Syamsu kupikir-pikirkan, kalau-kalau ada mempunyai arti yang lain. Dengan sering pula kudengarkan percakapan orang itu dari balik dinding. Tapi sekalipun belum pernah aku mendengar perkataan Syamsu yang melewati batas. Syamsu tetap menjaga kesopanan.

Bulan semakin terang juga. Dari jauh kedengaran bunyi seruling, sayup-sayup sampai. Daun-daun jarak berdesir-desir ditiup angin malam.

Mereka, Wartini dan Syamsu sering bermain music bersama. Wartini bermain piano dan Syamsu bermain biola. Sejak datang Syamsulah, Wartini mulai bermain piano kembali. Sekali, malam malam, Wartini dan Syamsu memainkan lagu Ave Maria, karangan Gounod. Aku waktu itu sedang sakit kepala sedikit dan tidur saja dalam kamar.

Asyik betul mereka bermain, bunyi biola Syamsu sangat mengharukan hati. Pertengahan lagu itu mengenangkan kepasa seseorang yang hampir putus asa, memekik ke arah langit, meminta pertolongan dari yang Maha Kuasa. Mereka bermain penuh perasaan… Dan sesudah habis lagu itu, kedengaran olehku sedu orang menangis. Terdengar pula Syamsu lekas-lekas meletakkan biolanya di atas piano.

"Mengapa menangis, Tini? Engkau bersedih?"

"Aku terkenang kepada masa silam. Pernah kita memainkan lagu ini dulu bersama-sama."

Ya, waktu itu takkan dapat kulupakan selama-lamanya, Tini. Waktu itu aku sedang penuh dengan cita-cita yang sangat tinggi."

"Dan semua cita-cita itu kandas, bukan Syam? Engkau tak meneruskan pelajaran biolamu."

"Ya… dan gadis yang kucintai hilang darin pelupuk mataku. Hatiku berdebar-debar." Kedengaran sedu Wartini bertambah-tambah.

"Tapi, mengapa engkau, menangis, Wartini."

Pertanyaan Syamsu itu kuulangi pula sendiri perlahan-lahan dan telingaku kupasang baik-baik. Halus sekali kedengaran suara Wartini.

"Syam, dapatkah seorang perempuan mencintai dua orang laki-laki sekali?"

"Tidak, Tini. Hanya seorang ibu kepada anak-anaknya dapat. Engkau sehat, Wartini. Hanya aku…"

Perkataan Syamsu tak diteruskan. Tapi aku mengerti sudah. Mataku berkunang-kunang. Pikiranku kacau.

Zulbahri melihat ke bulan purnama yang bertambah lama bertambah terang juga. Kami menahan nafas kami sejurus. Cerita Zulbahri sangat mengharukan hati kami. Di jalan tak ada orang lagi hilir mudik. Di sekeliling rumah sepi hening. Bunyi seruling masih kedengaran dari jauh, lagu bersedih. Tinggi sekali bunyi seruling itu, seakan-akan pemainnya hendak mencari penghibur sedih jauh dari dunia ini.

Kukenakan pyamaku. Kuberanikan hati. Perlahan-lahan aku ke luar mendapatkan Syamsu dan Wartini. Melihat aku, Wartini terkejut, gugup katanya, "Kukira engkau sudah tidur, Zul."

"Masakan aku dapat tidur, mendengarkan music yang semerdu itu."

"Tapi mengapa engkau menangis, Tini? Karena music barangkali? Dalam roman sering kubaca, orang menangis karena music. Baru sekarang aku tahu, hal itu mungkin juga kejadian dalam kehidupan sehari-hari."

Sejurus lamanya kami berpandang-pandangan. Sekali lagi kuberanikan diriku dan tegas kataku, "Semua kuketahui, Tini…"

"Tidak, Syam, bukan maksudku hendak mengatakan, kelakuanmu kurang senonoh. Tapi aku hanya hendak mengatakan bahwa perasaan hatiku benar adanya Wartini adalah hakmu."

Sudah itu aku meninggalkan kota Jakarta. Tiba aku di malang. Di sana kucoba menghilangkan ingatan kepada Wartini. Tapi tak dapat. Badanku bertambah lama bertambah kurus juga. Bajuku tak kuhiraukan lagi. Bercakap pun sedapat-dapatnya kuhindari. Tetangga-tetangga menyangka pikiranku sudah bertukar. Aku masuk ke dalam rumah sakit. Tiga bulan aku di rumah sakit. Aku keluar kembali. Kata dokter aku tak boleh pergi ke Jakarta. Sedapat-dapatnya harus meninggalkan pulau jawa. Tapi perkataan dokter tak kudengar. Seminggu sudah itu aku sudah ada di Jakarta. Maksudku hendak meminta Wartini kembali kepada Syamsu. Di tengah jalan sering betul pikiranku bolak-balik. Sekali-sekali ada pula timbul putusan hendak membunuh Wartini dan Syamsu dan aku sendiri sekali.

Di sini Zulbahri berhenti sebentar. Tak seorang juga dari pada kami, yang berani menyela cerita Zulbahri. Dikeluarkannya sapu tangannya, dihapusnya air matanya yang mengenai pipinya. Kedengarannya susah ia hendak meneruskan perkataannya.

Tiba di Jakarta aku terus menuju rumah Syamsu dan Wartini. Dari jauh sudah kudengar bunyi piano dan biola,… lagu Ave Maria. Aku tahu mereka sedang mengenang zaman silam, kebahagiaan mereka. Piano berbunyi cepat sekali, sedang biola mendengarkan Andante yang sesempurna sempurnanya. Seperti pencuri kudekati rumah itu. Dari jendela kaca kumenengok ke dalam rumah. Pandanganku tertambat kepada Wartini semata. Kelihatannya mukanya berseri, badannya agak gemuk sedikit… Wartini sedang hamil. Sungguh berbahagia engkau Wartini. Tidak, tidak, aku takkan mengganggumu. Teruskanlah lagu Ave Maria itu, lagu bahagiamu berdua.

Kami terharu dan kasihan mendengarkan cerita Zulbahri itu. Ia menengadah ke langit bertaburan bintang itu. Air matanya tergenang.

Aku lari kembali dari rumah yang sedang diliputi bahagia itu. Tiba di hotel aku menangis, ya, menangis aku… keadaan keuangan tak mengizinkan lagi untuk tinggal di hotel lama-lama. Aku pergi tinggal di sebelah rumah di sebelah gang kecil. Yang menjadi hiburan bagiku tinggal hanya buku-buku lagi. Aku selalu mencari, mencari tempat jiwaku dapat bergantung. Sekian lama aku mencari, tapi sia-sia belaka. Aku menjadi tak acuh kembali kepada diriku. Pakaianku tak kuhiraukan pula. Kadang-kadang pakai sepatu, kadang-kadang tidak. Surat-surat kabar tak pernah kubaca lagi. Karangan-karangan tentang berkurban untuk tanah air kuejekkan saja. Kurbanku lebih besar lagi dari mereka yang berjibaku.

Angin malam mulai meresapkan pengaruhnya. Badan berasa dingin. Bulu-bulu tangan berdiri tegak karena dingin.

Begitulah keadaanku sampai waktu kita berkenalan buat pertama kalinya. Aku heran sekali. Waktu itu aku melihat majalah-majalah di bawah meja bundar ini, entah dari mana timbul keinginanku hendak membaca cerita pendek yang selalu ada dalam tiap-tiap majalah itu. Kuakui, sangatlah besar pengaruhnya cerita-cerita pendek itu kepada jiwaku. Baru aku insaf, bahwa kehidupanku yang dulu dulu itu semata-mata berdasarkan kepentingan diri sendiri belaka. Aku sangat menyesal.

Angin malam mendesir-desirkan daun-daun jarak. Bulan semakin terang. Zulbahri berhenti bicara. Dari kantongnya dikeluarkannya sehelai kertas, diberikan kepada ayah. Air teh yang disediakan ibu dia tak disinggung-singgungnya. Ia berdiri, lalu meninggalkan kami

Lipatan kertas dibuka oleh ayah. Dibacanya. Dan perlahan-lahan katanya, "Ia telah masuk barisan jibaku."

Kami ketiga-tiganya termenung sebentar. Tanya ibu. "Karena affair percintaan itu?"

Lekas ayah menggelengkan kepalanya, dan tegas katanya, "Tidak, Lastri. Bacalah sendiri suratnya ini. Semua terasa keluar dari hati yang tulus ikhlas hendak berkurban untuk nusa dan bangsa. Bacalah pada penghabisan suratnya: ini adalah sebagai pembayar utangku kepada tanah air yang sudah sekian lama kulupakan karena mengingat kepentingan diri sendiri."

Pada malam seperti ini pula Zulbahri berpisah dengan kami buat selama-lamanya. Siapa yang takkan terkenang kepada kejadian itu. Kami melihat ke bulan purnama raya, dengan segala kenang-kenangan kepada Zulbahri yang telah dapat memperbaharui jiwanya. Dari radio umum kedengaran lagu Menuetto in G dari Beethoven. ***


Sumber: http://goesprih.blogspot.com/2009/08/ave-maria-cerpen-idrus.html?m=1

Senin, 28 Desember 2015

Empat Tawaran Untuk Lima Sangadi

Tidak ada komentar

"Sekedar info…khusus warga otam. kalo s lat jang iko wangga, sin totok lunta'on intau bulud. napa ni malam so 2 org korban dorg bage kong pukul. dorang ja bagate dipinggir jalan. jd menghindar, iko wangga. kalo nekat iko bulud, usahakan bawa batu !"

Pesan di atas, di-broadcast seorang kawan via BBM (BlackBerry Messenger). Dia tinggal di Desa Otam Kecamatan Passi Barat Kabupaten Bolaang Mongondow. Karena saat itu saya sedang diskusi dengan teman-teman di AJI Gorontalo, pesan nanti saya baca usai adzan Subuh berkumandang. Berdasarkan rekaman waktu, pesan itu disiarkan sekitar tengah malam. Pengirimnya adalah Non Widi, demikian perempuan ini kerap disapa.

Setelah menyimak isi pesan, saya coba bertanya sebab ada kalimat rancu saya temukan di situ. Pembaca mungkin bisa menyimak kekeliruaan isi pesan dalam menyebutkan letak desa. Setelah saya menanyainya, dia membalas kalau yang dia maksud, agar warga Desa Otam berhati-hati lewat di Desa Bulud. Dan alangkah lebih baiknya mengambil jalur di Desa Wangga.

Saya hendak menjelaskan sedikit, soal posisi geografis desa-desa di sekitar kampung saya, Passi. Desa saya, Passi, dan empat desa lainnya, ibarat lingkar gelang. Setelah Desa Passi, jika mengambil jalur kanan, maka desa yang pertama kali akan ditemui adalah Desa Bintau, sesudah itu Bulud, Otam, dan terakhir Wangga yang nantinya akan menembus lagi di Passi. Sebaliknya jika mengambil jalur kiri, maka posisi desa hanya berputar dari Desa Wangga dan seterusnya, hingga menemu Desa Bintau lagi dan kembali ke Desa Passi.

Desa Bintau sendiri, ada jalur yang bisa menembus ke Desa Bilalang. Sama seperti Desa Wangga, ada jalan yang tembus di jalur AKD di Desa Lobong. Nah, posisi Non Widi sendiri, si penyiar pesan, adalah warga Desa Otam. Melalui broadcast, dia mengingatkan, agar warga sesama Otam atau yang mau ke Otam, sebaiknya mengambil jalur kiri dari Passi, yakni melewati Desa Wangga, supaya aman. Sebab jika melewati Desa Bulud, sudah ada dua korban yang diduga dianiaya.

Isi pesan memang harus saya verifikasi dulu, sebelum menulis apa yang sedang Anda baca ini. Saya juga hendak menginformasikan kalau konflik antara dua desa ini (Bulud dan Otam) memang acap kali terjadi. Bukan hanya dua desa ini, tapi lima desa termasuk desa saya, pernah terlibat tarkam di zaman ketika saya masih kanak. Desa Bintau vs Passi; Desa Passi vs Wangga; Desa Wangga vs Otam; Desa Otam vs Bulud; Desa Bulud vs Bintau; dan terkadang acak.

Jika dilihat dari letak desa dan jalur menuju Kotamobagu—meski Desa Bintau dan Wangga memiliki jalur tembus menuju Kotamobagu —apalagi jika terjadi konflik, maka desa kami diuntungkan sebab jika keempat desa ini mau menuju Kotamobagu, mau tidak mau harus melewati desa Passi. Cari masalah dengan orang Passi berarti sama halnya dengan mematikan akses menuju ke kota.

Untuk itulah, Desa kami seringkali menjadi wilayah teraman jika konflik terjadi. Sedangkan Desa Otam, yang diapit 2 desa yakni Desa Bulud sebelah kanannya dan Desa Wangga sebelah kirinya, selalu sial secara georafis. Tak ada jalur alternatif tembus ke Kota kecuali harus melewati jalur "Gaza" yang panas jika terjadi konflik. Sebab tidak mungikin mereka mengambil jalur Moinit sebab tembusannya adalah Poigar. Dan hanya orang Otam sinting yang harus bersusah payah menembus belukar dan rimba raya sejauh kira-kira 40 kilometer, untuk sampai ke wilayah Poigar, kemudian menuju Kotamobagu lagi.

Tapi tujuan saya menulis ini, sebenarnya hanya ingin bertanya; mengapa masih saja terjadi konflik antar desa? Apalagi antara Desa Otam dan Bulud.

Tahun 2012 dan 2013 silam, pernah terjadi "perang" antara kedua desa ini. Perbatasan Desa bahkan dipagari warga secara ketat, membuat sekompi personil kepolisian siap tempur di Polres Bolmong, turun tangan mengamankan. Meski berhasil diredam, rupanya masih saja tersisa dendam. Apalagi remaja galau yang hilang tujuan, mulai bertindak sewenang-wenang dengan aksi duduk di jalanan dan mencegat siapa saja yang sedang bernasib sial.

Sebagai desa yang bakal lebih dahulu dilewati warga Otam, posisi Bulud memang di atas angin. Namun jika perang batu terjadi, posisi Otam yang berada di ketinggian, betapa seenak-perutnya melepas peluru-peluru bisu, sebagaimana yang pernah mereka lakukan 2 tahun silam.

Tulisan ini sebenarnya adalah sebuah keprihatinan atas kecintaan saya, tidak kepada kampung atau desa saya sendiri, melainkan 4 desa tetangga. Sejak saya kanak hingga sudah berbulu ini, masih ada saja pertikaian terjadi. Seperti warisan dari generasi sebelumnya ke generasi setelahnya. Sebuah warisan yang banal dan terkutuk.

Tiap kali 5 Desa ini punya hajat kegiatan perayaan (Hari Raya atau 17-an misalnya), dimana sepak bola masih selalu menjadi kegiatan terfavorit dan mudah dilaksanakan, selalu saja muncul rasa gundah. Sebab hajatan yang mendapat sisipan isu dan cita-cita untuk mempersatukan pemuda di 5 desa, malam semacam menjadi bumerang yang acap kali membuat galau pihak panitia. Alasannya, ya itu tadi, kekhawatiran atas konflik. Bukannya persatuan atau persaudaraan yang terjalin, malah permusuhan. Dendam seolah masih selalu bersemayam, dan turun temurun. Sepak bola masih selalu gagal menjadi pemersatu. Sebab bukan sekali-dua isu persaudaran didulang dan diulang-ulang dalam setiap hajatan itu. Tapi toh, tetap saja gatot (gagal total).

Munculah tawaran gagasan dari saya kepada para pemimpin desa, yakni Sangadi di lima desa ini. Meski ada beberapa desa telah terbagi menjadi dua desa, sebab seperti Desa Passi bersatu yang telah menjadi dua desa, sama halnya dengan Desa Otam Bersatu dan Wangga Bersatu, yang juga menjadi dua desa. Jadi yang awalnya lima desa ini, sekarang menjadi delapan Sangadi.

Gagasan ini sederhana dan menurut saya bisa dipertimbangkan. Semoga saja bisa meredam konflik yang bakal tumbuh subur, atau malah memusnahkan benih-benih konflik dan menumbuhkan rasa solidaritas yang tinggi antar sesama warga desa.

Pertama, bagaimana jika para Sangadi melakukan pertemuan rutin, minimal dua kali sebulan. Pertemuan itu untuk membahas program-program apa saja yang bisa diterapkan nantinya, yang melibatkan warga 5 desa ini. Misalnya gotong-royong mengerjakan saluran air untuk kolam ikan dan persawahan. Atau menyediakan lahan di masing-masing desa, sebagai percontohan dan tempat saling bertukar ilmu berkebun.

Kedua, bentuk ronda lima desa yang dinamakan Kamdesat (Keamanan Desa Bersatu). Jadi kelima desa ini memilih beberapa penjaga kampung dari masing-masing desa, yang nantinya akan digabung dalam satu kelompok bernama Kamdesat. Mereka ini secara bergiliran akan bertugas berpatroli di setiap kampung difasilitasi sepeda motor. Tentunya di masing-masing desa ada pos-pos penjagaan. Dengan ini, para pembuat onar bisa diminimalisir, dan setiap desa memiliki perwakilannya. Mereka pun bakal dilibatkan di setiap acara muda-mudi yang rentan onar.

Ketiga, tiga bulan sekali, diadakan Kemah Bersama yang melibatkan pemuda-pemudi lima desa. Kegiatan perkemahan ini dibuat selama tiga hari, atau boleh juga selama satu minggu. Agar tidak menggangu jadwal sekolah dan pekerjaan, kegiatan Kemah diaktifkan mulai sore hingga malam hari. Perkemahan diadakan bergilir. Di isi ragam acara yang mendidik tetapi harus mengutamakan hiburan. Selain baca puisi, dangdutan juga boleh. Atau bermain kartu Remi dan Domino. Pokoknya terserah, asal menghibur, menggairahkan, dan membuat hubungan semakin mesra.

Keempat, nah, ini soal olahraga yang paling rentan onar yakni sepak bola. Selama ini, kegiatan sepak bola antar desa, acapkali menyulut kekacauan. Maka, bagaimana jika dibuat liga? Tapi bukan liga biasa. Liga ini saya beri nama Limdesat alias Liga Lima Desa Bersatu. Dalam liga ini, dibentuklah tim kesebelasan yang pemainnya terdiri dari gabungan pemain dari lima desa yang ada. Di kocok atau diacak. Misalnya satu tim dari Desa Bulud bernama Perkasa, harus terdiri dari pemain asal Desa Otam, Passi, Wangga, dan Bintau. Begitu pun tim-tim di desa lainnya. Tujuannya adalah, penonton tidak lagi terkubu-kubu pada 'desa kami', tapi 'tim kami'.

Masih banyak lagi gagasan-gagasan lain yang bisa ditambahkan. Dan saya rasa para Sangadi yang terpilih pada Pilsang serentak 15 Desember kemarin, sudah punya konsep-konsep cemerlang, demi ketentraman dan keamanan desa.

Semoga saja, kelima desa ini bisa hidup damai, apalagi jika ditarik silsilah ke leluhur kita, maka kita semua adalah saudara sekandung, sedarah, bahkan semarga, yang hanya dibatasi dan dilabeli sebuah nama desa. Jauh di balik itu, kita semua adalah sama; manusia. Bertengkar hanya menguras banyak energi dan membuang umur. Kenapa energi itu tidak digunakan untuk hal-hal yang bermanfaaat? Semacam membaca tulisan ini misalnya.

Tulisan ini dimuat di: http://arusutara.com/2015/12/4-tawaran-untuk-5-sangadi/

Rabu, 16 Desember 2015

Uyang dan Gelang Tali Kutang

1 komentar
Hampir pukul 4 pagi, Uyang masih terjaga. Sinar matanya menjengkal setiap dinding kamar. Entah apa yang ia cari. Meski tak lama lagi hari akan benderang. Ia enggan bangkit dari tikar lusuh di kamar kosnya. Sedari pukul 9 malam. Ia tak beranjak.

Di pegelangan tangan kanannya, ada dua utas gelang membebat erat. Uyang memacak pandangnya agak lama ke gelang itu. Gelang dari tali kutang berwarna hitam. Lantas ia menghidu aroma gelang dengan mata terpejam. Seakan sebuah galaksi dihirupnya. Aroma sabun mandi masih tersisa di sana. Ia membuka mata. Tetap saja, jejak-jejak per jengkal sorot matanya masih membekas di dinding. Jejak-jejak yang hampa. Lalu aroma gelang itu, tiba-tiba mengibas seperti aroma susu. Harum dan khas. Lega seketika hatinya.

Uyang meraih ponsel di sampingnya. Kemudian menekan *888#. Dan sedetik saja di layar berderet kalimat yang diakhiri angka 0. Ia tak bisa menghubungi siapa-siapa. Gelang kembali ditatapnya. Dihirupnya. Aroma susu itu ada kembali. Dan ia sontak dikagetkan oleh lafadz Allah di masjid sebelah. Seumpat caci, yang pelan, tanpa tenaga, terucap begitu saja. Uyang memaki jantungnya yang acapkali sensitif dengan suara apa saja. Bahkan suara perutnya sendiri bisa membikinnya terkejut.

"Dasar jantung ayam daging!"

Umpatannya kali ini salah. Imajinasi akan paha dan dada ayam berpusar di atas ubun-ubunnya. Ayam bakar, santan, goreng, bahkan ayam jemur pun pasti diterkamnya. Uyang belum makan sejak pagi. Malam kemarin, ia hanya makan tiga buah pisang goreng. Tubuhnya gemetar dan seperti ada lempengan besi di atas dada dan perutnya. Ia terlalu lemah untuk bangkit. Pukul 7 malam, ia sempat berhasil ke dapur mini di kosan. Tapi yang ditemukannya hanya air putih. Ia habiskan tiga gelas lalu merangkak kembali ke kasur. Tak ada siapa-siapa. Hanya ada sunyi.

Di kosan Uyang, ada enam kamar berderet di samping kamarnya. Semuanya mudik untuk merayakan tahun baru di masing-masing kota kelahiran. Ia memilih bertahan, sebab gaji dari kantor tempat ia bekerja belum dicairkan. Hanya sejuta pula. Sedangkan untuk sewa kos sebulan, ia harus merogoh kantong, setengah dari gajinya. Tak ada pilihan, sebab cuma itu kos yang tersisa di sekitar tempat kerjanya. Tadinya Uyang ingin tinggal bersama temannya, akan tetapi rasa nyaman untuk hidup sendiri, menyingkirkan niatnya. Uyang sangat individualis.

Semua yang tinggal di kosan adalah wartawan. Seprofesi dengannya. Jika mereka ada, Uyang memang lebih jarang merasa kelaparan. Meski sama-sama menjadi kontributor pada media nasional. Gajinya hanya bergantung dari hitungan per berita. Teman-temannya sudah punya mobil. Sementara ia masih dengan motor bebek butut. Tiba-tiba ingat motor, Uyang dengan sisa kekuatan bangkit keluar kamar.

"Kugadaikan saja motor ini." ucapnya sembari menepuk sadel motor.

Paling hanya dua ratus ribu bisa untuk dipakai mudik, pikir Uyang. Nanti rencananya ia pulang naik bus. Tarifnya hanya seratus ribu. Menunggu sampai pukul 7 pagi, ia lantas mendorong motornya menuju seberang. Pak Toyo, pemilik warung makan menjadi target pertamanya. Beruntung Pak Toyo ada. Ia segera menawarkan motornya itu.

"Waduh, Dek. Bapak juga sedang kesulitan uang. Beberapa hari ini jualan sepi."

Uyang tak memaksa. Raut Pak Toyo yang berkeriput sendu, ditambah dengan peci kumal yang hitamnya telah pudar, membuat Uyang beranjak ke warung sebelah. Tapi sekali lagi penolakan terjadi. Ia menatap motor bututnya. Lama. Tatapannya bergeser ke gelang itu lagi. Ia kembali mencium gelang beraroma susu itu.

Pukul 12 siang. Uyang tak kunjung menemukan orang untuk bisa digadaikan motor bututnya itu. Energinya yang tersisa, terkuras kering dan membuatnya rebah pada sebuah bangku taman kota. Ia memejamkan mata. Tiba-tiba sekumpulan tali kutang mengibas lalu seutas melilit lehernya. Tenggorokannya panas dan kering. Sampai tiba-tiba suara berat menegurnya.

"Tidak apa-apa, Mas?"

Sorot matanya coba menembus katup mata. Tapi kedua katup matanya seperti terjahit. Seketika tukang bakso tampak di depan matanya lengkap dengan gerobak. Tukang bakso itu memberinya segelas air. Ditolaknya dengan mata terpejam dan hanya terus mendengar kecemasan si tukang bakso. Kepala Uyang seperti memberi tanda, agar tukang bakso itu segera meninggalkannya. Ia hanya ingin rebah sejenak.

Setelah tukang bakso itu pergi, Uyang membuka mata. Di ujung jalan ia melihat seorang bocah perempuan kumal berkelopak mata kerucut, menengadahkan telapak tangan ke kaca mobil. Di dalam mobil seorang ibu ber-make-up tebal hanya menatap sinis. Setelah lampu menghijau, mobil itu berlalu. Bocah-bocah sebaya berlarian ke arahnya, menunjukkan beberapa lembar rupiah. Mereka lalu duduk di trotoar jalan, lalu menghitung.

Uyang bangkit dengan sisa kekuatan. Ia menatap langit senja tak berwarna. Pun tak ada apa-apa di sana. Hanya matahari yang berkali-kali begitu. Setiap hari, minggu, bulan, tahun. Uyang memilih kembali ke kosan dengan mendorong motor, seakan-akan mereka adalah kawan karib yang baru saja bertemu setelah seabad. Sepanjang jalan, pandangannya seperti termagnetkan dengan kondisi-kondisi miris. Sudah puluhan orang-orang dari, bocah, gadis, ibu-ibu, kakek dan nenek, yang bermuka hampa. Uyang seperti menemukan pembanding.

Sesampainya di kos, motor diparkirnya di depan kamar. Ia membuka pintu yang seketika meruapkan bau tahu, tempe, dan ampas kehidupan. Ia rebah di lantai. Tapi bayangan tali kutang mencekik leher terus bertengger. Uyang memeluk guling. Rasa lapar seketika menjalarinya dari tumit hingga ubun-ubun. Rambut-rambutnya terasa kering. Ia mulai dehidrasi, sebab seharian tadi mendorong motor.

Gelang tali kutang yang membebat ia lepaskan. Nadinya serasa tak berdetak lagi dibuatnya. Kemudian, wajah ibunya seketika hadir. Uyang menatap lama pada gelang tali kutang itu. Tali kutang milik ibunya.