Selasa, 14 November 2017

Amit Cirebon Jeh ...

Tidak ada komentar

Kota kecil ini tentu saja lebih ramai dari kotaku: Kotamobagu, di Sulawesi Utara. Di Kota Cirebon, semuanya ada. Termasuk rel kereta api yang tak kami miliki di Sulawesi.

Cirebon, kota yang begitu banyak menawarkan makanan enak. Jika kali pertama ke sini, kalian harus merasakan empal gentong. Rasanya, tak perlu ke surga.

Selain empal gentong, ada nasi jamblang, mi koclok, dan nasi lengko yang tak kalah enaknya. Dan masih banyak lagi makanan khas Cirebon lain, yang bisa kalian nikmati. Namun, sejauh cicipan lidah ini, empal gentong ialah yang terbaik. Ingin tahu lebih banyak soal kuliner di Cirebon? Gugling.

Menyoal objek wisata, baik budaya dan sejarah, Cirebon kaya akan itu. Peninggalan kolonial bertaburan di kota ini. Selain itu, di kota ini terdapat makam para syekh dan makam Sunan Gunung Jati. Karena itu kota ini disebut pula Kota Wali. Keraton juga ada. Mau lebih jelas, gugling.

Berada lebih dari dua pekan di kota ini, tentunya bukan tanpa alasan. Saya, membahasakan situasi ini: sebagai bentuk ikhtiar dari takdir perjalanan hidup saya. Sejenak menepi di sini, adalah hal paling berharga. Saya dikelilingi kebaikan-kebaikan yang tak satu pun sanggup saya balas.

Orang-orang di sini ramah. Saya sekejap bertambah teman. Dari mereka kalangan atas, menengah, hingga yang paling bawah. Ketiga lapisan ini tak terpisahkan, sebab saling berkelindan. Kebaikan dari yang di atas, akan bercucuran ke yang paling bawah. Tak semuanya begitu memang. Masih bisa ditemui sisi-sisi congkak, dari kota-kota kecil seperti ini, yang mulai merangkak menjadi keji.

Di Cirebon, saya menemukan antitesis dari kalimat: sakit pasti mahal. Tak semua dokter memungut biaya seenaknya kepada para pasien. Ada yang menerima seikhlasnya dan mematok harga sesuai kemampuan pasiennya. Selain itu, dokter-dokter ini rela membuka klinik yang jarak tempuhnya lumayan jauh dari rumah. Mereka mencari tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota, dan lebih mendekatkan diri kepada orang-orang desa.

Dokter-dokter ini suka menyebut diri mereka sebagai: dokter desa. Saya pernah bertanya, "Kenapa tidak membuka klinik di rumah atau di area perkotaan?" Jawaban yang saya dapat, "Di kota akan lebih ramai pasien."

Tentu saja jawaban itu mengherankan. Sebab yang namanya mencari duit, tentu saja ingin pasien yang banyak. Tapi dokter-dokter ini memilih membuka klinik jauh dari perkotaan, agar bisa lebih dekat dengan orang-orang yang terpinggirkan.

Klinik mereka berada di salah satu tepi lorong sebuah desa. Menuju desa ini, persawahan hijau akan dilewati. Memang kondisi di desa ini, tidak seperti desa kebanyakan yang kita kenal. Misal; sepi, akses jalan sedikit susah, dan fasilitas kurang memadai. Tapi di desa tempat klinik mereka berada, sudah jauh lebih maju. Penjual buah-buahan dan makanan berjejer sepanjang jalan. Beberapa kios berderet pula. Selain ontel dan becak, kendaraan roda dua dan empat pun cukup ramai. Sebab desa ini pusat kecamatan dari desa-desa kecil di sekitarnya.

Selama di sini, ada banyak hal yang saya pelajari. Dari seorang sopir, saya belajar tentang arti kesetiaan. Dari seorang mang becak, saya belajar soal kegigihan, dan percaya bahwa usia hanya deretan angka. Dari seorang pendatang nun jauh yang memilih menikah di sini, saya belajar bahwa kebaikan kerap menular. Dari seorang penjual makanan, saya belajar jikalau untung sudah lebih dari cukup, untuk apa lagi menambah jualan? Dan dari beberapa dokter di sini, saya belajar kalau hidup memiliki batas, dan jika itu sudah dicapai, mau apa lagi?

Menyoal kebaikan, banyak hal yang tak harus diutarakan. Sebab makna kebaikan akan berkurang, jika semuanya harus dituturkan satu per satu. Disimpan saja sebagai cermin, agar selalu teringat berbuat baik kepada orang lain.

Ah, terima kasih untuk segala kebaikan di kota ini; makanannya yang enak, keramahan, dan kotanya yang indah. Sampai berjumpa lagi tahun depan ... empal gentong!


Stasiun Cirebon, Rabu, 15 November 2017.

Minggu, 05 November 2017

Selamat Menempuh Eges Baru

Tidak ada komentar

Pernikahan adalah fase terumit dari manusia. Kenapa saya mengatakan rumit? Sebab hidup sejalan dengan orang lain tentunya hal yang sulit. Kita harus berbagi makanan, uang, bahagia, sedih, dan malu. Saking rumitnya banyak yang gagal. Termasuk saya.

Tepat 4 November dua kawan baik saya memilih menapaki fase itu. Salah satunya Pasra Hidayat Mamonto atau Eges. Ia kawan wartawan, ketika di Radar Bolmong, periode 2015.

Satu hal yang paling lucu ialah saat mengingat nama depannya. Pasra. Konon saking inginnya anak perempuan, setiap kelahiran, orangtuanya kerap berharap, agar yang lahir bayi mungil nan cantik. Namun saat kelahiran ketiga atau keempat (saya lupa), bayi laki-laki ini terlahir.

Ayah dan ibunya memilih pasrah. Kemudian ia dinamai: Pasra (tanpa h) Hidayat. Hidayat mungkin diambil dari kata "hidayah", yang bisa jadi sebagai bentuk hormat atas ketetapan Tuhan, bahwa manusia memang memiliki keterbatasan. Tidak bisa memilih jenis kelamin.

Sewaktu menjadi wartawan, saya sering menemui Eges dengan ketekunannya di sudut kantor. Ia bisa membikin belasan berita selama beberapa jam, melebihi kami. Maklum, ia wartawan yang sedang naik daun dan disenangi para pejabat kala itu.

Karirnya cukup gemilang, ia bisa gonta-ganti ponsel pintar hanya selang dua atau tiga bulan. Mungkin itu semua bayaran setimpal, atas kerja kerasnya meringkus kata "sepakat", untuk setiap kontrak atau advetorial.

Ada tiga hal yang sama antara saya dan Eges. Kami memiliki banyak uban. Kendati punyanya lebih banyak. Itu pertanda pekerja keras, mungkin. Rambut sampai menua lebih awal. Berikut, kami sama-sama anak bungsu. Dan terakhir, saya dan Eges sama-sama anak yatim.

Eges cerewet. Apalagi ketika mabuk. Ia juga dikenal berdarah cecak--sebutan untuk orang yang cepat mabuk. Tapi seiring waktu, Eges mulai menempatkan diri. Ia telah mengurangi asupan alkohol dan memperbanyak minum susu. Sampai akhirnya, tabungannya telah penuh, dan Eges memilih menikah di bulan ini.

Mungkin benar, kawan, jika orangtuamu senang dengan anak perempuan, kenapa bukan kalian yang mewujudkan itu? Semoga dikaruniai bayi perempuan mungil nan cantik. Biar ayahmu yang telah lebih dulu berpulang tersenyum di sana, pun ibumu yang semoga diberi kesehatan, agar masih bisa menunggu dan memeluk cucunya.

Kalau yang lahir nanti laki-laki, jangan sekali-kali memikirkan nama: Terserah. Tidak lucu jika anakmu bernama panjang: Terserah Pasrah Pada Hidayah Tuhan.

Ah, selamat menikah, kawan ...

Sabtu, 04 November 2017

Mang Kancil

Tidak ada komentar

Namanya Mang Kancil. Mungkin karena postur tubuhnya kecil. Sewaktu keluar homestay, Mamang kebetulan mangkal di depan sambil makan singkong goreng. Karena aplikasi gojek saya error, dan tahu kalau tujuan saya lumayan jauh, saya sebenarnya tidak tega makai becak. Apalagi pas tahu usia Mamang sudah 61 tahun.

Dia menawarkan jasa. Dan saya tidak bisa menolak. Sewaktu mau gowes, sandalnya sempat lepas. Maklum, berat badan saya di atas 70 kilo. Selama perjalanan saya nanya-nanya sejak kapan narik. Mamang ngaku sejak 1982. Setahun setelahnya baru saya netas di dunia yang fana(s) ini.

Malam ini purnama. Sebenarnya saya ingin main ke Gedung British American Tobacco (BAT). Dari tempat saya lumayanlah kalau naik becak. Sekitar tujuan kilo.

Gedung BAT dari hasil gugling, mulai digunakan pada 1924 dan dirancang F.D. Cuypers & Hulswit bergaya Art Deco, gaya yang bermula pada awal 1920-an dan digunakan sampai setelah Perang Dunia II.

Gaya atau struktur Art Deco berdasar pada bentuk geometris matematis yang terlihat elegan, glamor, fungsional dan modern. Dari foto-foto yang saya pindai di gugel memang gedungnya artistik.

Beberapa tahun lalu, Gedung BAT jadi pabrik rokok, PT Bentoel International Investama (BINI). Dan saat ini gedung itu sudah tidak digunakan lagi untuk membikin rokok. Sudah dijual. Kabarnya  miliaran.

Sewaktu gowes, sesekali Mamang mengetuk bagian logam becak dengan tangannya, sebagai klakson manual saat bertemu kendaraan atau pejalan kaki. Baru saja cerita-cerita dengan Mamang, soal istri ketiganya, kami sudah sampai di Alun-Alun Kejaksan. Salah satu titik keramaian di Kota Cirebon. 

Saya pilih ke Alun-Alun dulu biar Mamang tidak kecapean. Tepat di samping Alun-Alun berdiri megah Masjid At-Taqwa.

"Mamang sudah makan?"

"Belum, jalan terus dari jam 4 sore."

Saya mengajaknya makan tapi dia menolak. Alasannya masih kenyang makan singkong goreng tadi.

"Merokok?"

"Iya."

Saya membelikannya sebungkus rokok kretek sama korek kayu, yang ia tolak pula awalnya. Tapi setelah dipaksa, akhirnya ia terima.

"Ini buat Mamang nunggu."

Di Alun-Alun, saya hanya menikmati sepintas saja lalu pergi mencari makan. Sekalian nebeng ngecars hape. Setelah makan saya kembali ke parkiran becak.

Saya coba bertanya apakah Mamang sanggup dari Alun-Alun ke Gedung BAT. Ia menyatakan sanggup.

Mamang ini tinggalnya lumayan jauh dari pusat kota. Sampai 30an kilo. Dia harus naik angkot dan menitip becak ke tuannya. Ia hanya tukang narik aja. Setoran per lima hari Rp25 ribu. Harga becaknya kalau dibeli Rp500 ribu. Tapi ia mengaku tidak sanggup membeli becak, yang telah menemaninya selama tiga tahun. Ia pindah-pindah tuan selama narik.

Mamang narik dari pukul 4 sore sampai 5 pagi. Katanya, dia khusus narik malam. Jadi baru pagi hari dia pulang ke rumah. Menurut Mamang, kalau nabung 4 bulan, harga becak bisa ia lunasi. Tapi uang penghasilan buat makan aja. Apalagi cucunya sudah mau SMA.

Saat menuju Gedung BAT, ketika melewati kota tua, ia berbisik ...

"Hapenya jangan dipegang-pegang. Nanti ada yang ngawe."

Ia mengingatkan saya. Jika saja ada yang ngawe atau jambret. Apalagi becaknya tak sanggup mengejar jika jambretnya pakai motor. Tapi menurut Mamang, jambret atau copet masih jarang sih.

Beberapa menit kemudian kami sampai di Gedung BAT.

"Ini Gedung British American Tobacco. BAT," jelasnya dengan ejaan yang lumayan nginggris.

Sesampai di BAT, saya mulai memotret. Mamang memarkir becaknya tak jauh dari tempat jualan kopi. Ia tampak terkantuk-kantuk.

"Pesan kopi, Mang," kata saya sambil menyerahkan uang.

"Dua ya? Situ minum juga?"

"Iya."

Setelah itu ia memesan kopi di kedai dorong tepat di samping becak. Mamang kembali dengan dua gelas kopi, lalu kami melanjutkan cerita tentang istri ketiganya ...


(((Foto tra usah heran ee, bobot saya lumayan berat)))

CBN, 4 November 2017.

Kamis, 02 November 2017

Selamat Menyelam Lebih Dalam di Bumi Manusia

Tidak ada komentar


Episode Shandry ...

Jejaring semesta akan mempertautkan pikir serupa. Shandry Anugerah Hasanuddin, lima tahun silam hanyalah kawan dari frekuensi yang merambat di udara. Kami sedang genit-genitnya mencari Tuhan di pepohonan, langit, tanah, bebatuan, dan ponsel-ponsel pintar. Berbantah-bantahan ialah keharusan. Sebab pikir harus terus didesak dengan pertanyaan: siapa aku?

Kami dimantrai kata-kata, tentang manusia yang harus memikirkan dari mana asalnya. Jika tidak, laiknya seekor kelinci yang disihir dan keluar dari dalam topi pesulap, ia hanya diriuhi tepuk tangan penonton, tanpa pernah ingin mencari tahu dari mana asalnya. Manusia bukan kelinci.

Di Desa Bilalang, tempat Shandry kali pertama menyeret langkah, ada setumpuk kenangan yang kerap membisikkan kata pulang. Rumah yang dikitari bunga dan pepohonan, dialiri sungai dan diteduhi berumpun bambu. Rumah tempat neneknya sering ditemui menyirat rindu kepada cucu-cucunya di pojok yang kekal.

Dari sana, tekadnya untuk menata semangat anak-anak muda di desa semakin teguh. Desa adalah tempat yang membuat rasa khawatirnya terus ada, dibandingkan kejamnya mama kota di negeri seberang dan bising jalanan yang penuh sesak dengan orang-orang berdasi kupu-kupu, tapi tak pernah merasa terbang bebas.

Shandry memilih menemui para petani berpeluh, dan mendengar cerita tentang berapa lama lagi panen tiba. Atau para penambang dengan kisah-kisah mereka tentang seberapa dalam galian, dan anak-istri yang menanti di rumah selama berbulan-bulan.

Di desa itu pula, beberapa bocah riang diajak berpesta dengan kata-kata di rumah belajar Saung Layung Arus Balik. Di sini, semesta adalah guru, katanya. Tempat bocah-bocah itu diberi kebebasan menggambar dan menulis apa saja yang terlintas di imajinasi mereka, lalu menamainya sesuka hati.

Mungkin desa, ialah genta, agar kelak ia mendengar seperti apa kuasa yang mampu menggerakkan orang-orang terpinggirkan, yang membuat mereka bisa reriungan dengan tawa lepas, dan tak ada lagi kecemasan akan seberapa tebal kepul asap di dapur nanti.

Suatu sore, tepat di bebatuan sungai yang berada di tepi kandang ayamnya, Shandry membasuh dan melarung selembar kenangan. Ia ingin lembar kisah baru.


Episode Gita ...


Perempuan berambut sepundak itu, barangkali luput mengenaliku ketika beberapa kali singgah di rumahnya, pada sisa-sisa malam di Kotamobagu. Aku kenali dia dari sosok ayahnya yang begitu akrab dengan kami, yang nokturnal ini. Ayahnya sering disapa Om Nus. Meja biliar di sudut rumahnya dulu, jadi persinggahan kami ketika kota tak lagi menawarkan kesenangan apa-apa.

Brigitha Kartika Mokoginta namanya. Gita, begitu nama kecilnya, beranjak tumbuh di antara landskap kota berdebu. Patung Bogani tegar berdiri tak jauh dari rumahnya, tepat di tepi sungai yang mengalir pula di belakang rumahnya. Patung yang tampak jenuh, karena penduduk kota mungil itu tak pernah mengajaknya selfie.

Rutinitas kantor, tak menjeratnya begitu saja, untuk terpaku pada pekerjaan. Sering, larik demi larik puisi pendeknya bertaburan di sela-sela penat kantor, dan di jeda postingan foto-fotonya bersama teman sejawat. Puisi, menurutnya mampu mendalami kejujuran, sebab puisi tak bisa berbohong.

Gita berwajah ibu, namun terlalu dekat dengan ayahnya. Karena itu, pundaknya tampak lebih tegar. Ia seperti siap menjunjung apa saja beban hidup di punggungnya.

Senyum manisnya selalu terkembang. Gita tak banyak berkata-kata. Mungkin baginya, senyum sudah lebih dari cukup untuk menjawab setiap tanya.

Pernah suatu hari, Gita membenamkan wajahnya di bantal. Ia berteriak sekencang-kencangnya, setelah mendengar kabar salah satu teman sekantornya, Bedewin, terlalu belia berpulang.

Persahabatan, mungkin ialah satu-satunya hal yang paling menghiburnya saat bekerja. Tapi ketika itu hilang, bukan berarti langit akan selalu bertudung halimun. Ada yang akan datang melebihi pertemanan, yang gemar menggaruk-garuk gitarnya. Dan orang itu setia menyikap satu demi satu awan mendung dengan kidung cinta.


Episode Bersama ...

Mokoginta, marga yang jadi isyarat jikalau Shandry dan Gita memiliki pertalian klan. Ibunya Shandry bermarga Mokoginta. Marga yang sesekali ia rekatkan di ekor namanya. Namun hal itu bukan berarti cinta mereka dipertemukan kekerabatan.

Entah kapan Shandry mengenali Gita lebih dekat. Mungkin dengan mengajak Gita jauh lebih dalam mengenali dunia literasi. Lebih dalam mengeja puisi demi puisi.

Jodoh benar adanya saling melengkapi. Shandry berperangai sanguin, dan tentu saja terlalu banyak berbicara, lantas dipertemukan dengan Gita yang tak banyak bicara.

Namun, bukankah itulah keagungan suatu hubungan? Shandry harus menyesap kemuliaan diam. Dan Gita belajar, dalam hidup banyak hal yang harus diutarakan. Meski itu penderitaan.

Kini, fase hidup mereka berpindah. Menikah. Apa yang diharapkan dari sebuah pernikahan? Tentu saja kebahagiaan. Tapi kebahagiaan muskil sempurna, ketika tak ada cobaan yang menguatkan cinta.

Selamat menyelam lebih dalam di Bumi Manusia ...

Akurlah hingga uzur, sampai rambut kalian dipenuhi awan berlajur.



CBN, 3 November 2017

Selasa, 24 Oktober 2017

Braga dan Jeda yang Terlalu Lama

Tidak ada komentar

Kotamobagu, kota mungil sekali kitar, pasti kelar. Jika pulang ke Desa Passi, malam-malam panjang lebih banyak saya habiskan di kota yang hanya berjarak sebatang rokok pupus, dari desa saya.

Beberapa bulan lalu, saya dikabari seorang karib, ada acara literasi dan musik di Kedai Kampung Bogani, di Kotamobagu. Kami diminta tampil di acara bertajuk Literasik itu.

Setelah latihan selama beberapa jam saja, kami bersiap menuju kedai. Saat memasuki pelataran kedai, saya ditemui seorang pria dengan logat kental dari dataran tinggi Kecamatan Modayag.

"Sigidad, kang?"

"Oh, iyo, ini Vicky to?"

"Iyo."

Pria bernama Vicky itu lantas menganjurkan saya untuk segera mendaftarkan nama band ke panitia. Saya memberitahunya, jika nama band kami yang inalillahi kerennya itu, sudah terdaftar. Siapa yang tidak kenal Saung Layung Arus Balik (SLAB), band indie teraneh di Bolaang Mongondow, yang hanya terbentur, eh, terbentuk, dan tampil setahun sekali, lalu bubar lagi itu?

Literasik malam itu berlangsung syahdu. Kami tampil dengan segala kekurangan dan kelebihan, yang sebetulnya lebih banyak kelebihannya daripada kekurangannya. Maksud saya, kelebihan gugup.

SLAB membawakan musikalisasi Derai-Derai Cemara dari versi Banda Neira, yang kami improvisasi menjadi persembahan yang tiada tara jeleknya.

"Eh, bagus ngoni tadi no," kata salah satu kawan.

Testimoninya, kendati sudah sering kami dengar setiap tampil, malam itu cukup membuat dada saya mekar seketika, sebelum terkatup dan layu setelah menyaksikan hasil rekaman video. Bangsat! Kaki saya terlalu banyak gerak, pertanda gugup, dan beberapa kali suara saya sumbang.

Siapa yang tak malu, sebab malam itu, ada band indie lokal yang benar-benar band, sedang mengisi jeda acara. Namanya mengingatkan saya ketika masa krisis pangan, selama tinggal di sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Gorontalo. Saking sekaratnya, kami terpaksa hanya makan mangga seharian yang pohonnya tumbuh lebat tepat di depan sekretariat. Nama band itu, Beranda Rumah Mangga, atau disusutkan menjadi Braga.

Suara vokalisnya teduh. Iringan musiknya merdu. Ditambah suara dua yang mendayu-dayu. Dibandingkan SLAB, tentu Braga adalah Ungu, dan kami Pasha, eh, maksudnya payah.

Saya yang baru sekali melihat penampilan mereka, segera gugling di yucup. Benar sudah, ada klip video mereka dengan lagu berjudul "Di Kedai Ini". Saya mendengarkannya. Apik.

Lagu "Di Kedai Ini", berlatar kedai yang sedang kami tempati saat itu. Berkisah tentang seorang gadis yang menanti kekasihnya, yang bedebahnya tak kunjung datang.

Vicky, gitaris sekaligus pencipta lagu, sebelumnya memang saya kenal dari pertemanan pesbuk. Saya malah penggemar film-film pendeknya. Belakangan, saya baru tahu kalau mereka juga punya band. Jelas saja SLAB merasa tersaingi.

Selanjutnya, setelah malam itu, lagu "Di Kedai Ini" saya donlot dari yucup. Berkali-kali saya dengarkan jelang tidur. Sayangnya lagu itu tidak bisa menjadi lullaby atau pengantar tidur. Soalnya saya sering kepikiran kopi. Iya, saya jika minum kopi pada malam hari, bawaannya jadi susah tidur.

Setelah beberapa bulan kemudian, saya kembali ke Gorontalo. Pekan lalu, Braga kembali merilis single kedua berjudul "Patah Menjadi Air Mata". Saya menontonnya di yucup, dan seketika suka dengan lagu itu. Liriknya puitis dan sarat makna mistis, eh, filosofis.

Lagu itu seperti diceritakan Vicky, terinspirasi dari sebatang pohon di sekitar Danau Tondok. Pohon kering itu, diibaratkannya sebagai petapa tua. Kira-kira begitu yang saya bacai dari hasil curhatannya, sepanjang tiga edisi di Tribun Manado online.

Saya sebenarnya merasa kesal kali pertama membaca curhatannya itu. Kesal sebab tulisan itu menggantung, dan harus menunggu edisi lanjutan. Seperti sedang menunggu apdetan Game of Thrones saja.

Saya pikir, ada jeda terlalu lama dalam tulisan yang superkeren itu. Padahal seharusnya bisa dijadikan satu tulisan utuh, sebab catatannya juga tidak panjang-panjang amat. Payah betul Tribunnya. Mau ngejar klik?

Dari tulisan yang berjeda itu, saya membacai ada jarak cipta yang terlalu jauh dari lagu satu ke lagu berikutnya. Tahun bukan waktu yang pendek. Saya kira, Braga, kendati di tengah kesibukan pekerjaan masing-masing personel, harus banyak meluangkan waktu, agar satu album bisa tercipta. Sialan, masak hanya dua lagu saja. Tambah dong!

Namun, laiknya sebuah karya memang butuh proses. Saya lebih menghargai karya yang memakan waktu lama, sebab tentu saja karya tersebut dibalut kontemplasi yang dalam. Itu mungkin jadi alasan kenapa saya menyukai lagu dari Braga.

Saya, juga tidak terlalu suka dengan karya yang instan. Semisal puisi, yang bisa diproduksi puluhan dalam sepekan. Atau, puisi-puisi yang diminta dibuatkan. Bagi saya, puisi lahir dari salah satu sudut ruang imajinasi, yang mana butuh kedalaman renung untuk bisa menemuinya. Begitu pun lirik lagu.

Entahlah, masing-masing orang punya penilaian, bukan?

Saya tunggu lagu berikutnya dari Braga. Mungkin tahun depan, tak mengapa. Asal jangan ada lagi mangga di antara kita.

Selasa, 03 Oktober 2017

Kalau Cacingan Mesti Minum Bir Banyak-Banyak

Tidak ada komentar
Foto Mojok.co
Praktik IPA

Satu hari Ibu Guru kasih praktik pelajaran IPA di kelas Timo. Ibu guru yang manis itu bernama Enci’ Yulia. Timo dan teman-teman sekelas yang sedang mekar masa remajanya dikasih praktik dampak mengonsumsi alkohol.

“Anak-anak, kalian sudah kelas dua SMP, jadi praktik ini cukup jadi pelajaran buat kalian saja, jangan dicoba di rumah!” teriak Enci’ Yulia.

Anak-anak manggut-manggut saja mendengar penjelasan Enci’ yang saat itu sedang menyiapkan bahan-bahan praktik.

“Ini ada dua botol. Botol yang satu diisi air mineral, sementara yang satu diisi alkohol,” jelas Enci’.

Setelah itu Enci’ memperlihatkan dua ekor cacing tanah yang masih hidup dari dalam toples kecil transparan.

Timo dan teman-temannya kali ini lebih serius menatap Enci’. Kelas jadi sesunyi pemakaman.

“Sekarang Enci’ kasih masuk cacing yang satu ke botol air mineral. Yang satunya lagi ke botol bir,” kata Enci’ sambil mencemplungkan kedua ekor cacing itu ke masing-masing mulut botol.

Beberapa saat kemudian cacing yang berada di botol air mineral bergerak-gerak, sementara cacing di botol bir hanya sepersekian detik setelah masuk, mati.

“Nah, sudah lihat to? Coba anak-anak ambil kesimpulan dari percobaan ini.”

Semuanya diam mendengar pertanyaam Enci’.

“Ayo jawab. Jangan malu-malu, kalian,” kata Enci’ memberi semangat.

Timo akhirnya memberanikan diri maju ke depan kelas. Seisi kelas tetiba riuh dengan tepuk tangan.

“Apa kesimpulannya, Timo?” tanya Enci’.

Timo menjawab, “Bagini Enci’ … tadi kita lihat cacing di dalam botol air putih hidup to. 

Sedang di botol bir mati. Berarti kesimpulannya, kalau kitorang cacingan, musti minum bir banyak-banyak.”

Kompetisi Kangkung

Suatu hari, sepulang sekolah Timo dan dua orang temannya mampir di pinggir telaga lalu asyik bercerita.

Salah satu teman Timo bernama Hengky, setelah melihat tanaman kangkong (kangkung) di telaga, membuka pembicaraan dengan mengatakan kangkong di kampungnya tumbuh subur.

“Eee, kalau di kampung kami, makan batang kangkung dua buah sudah kenyang!” kata Hengky.

Teman yang satu lagi, Aguz, tak mau kalah lalu menimpali, “Ah, itu ndak ada apa-apanya, di kampung kami, dalamnya batang kangkung jadi jalan tikus!”

Timo yang sedari tadi belum menanggapi cerita soal kangkong akhirnya terpancing.

“Eee, kampung kalian semua masih biasa. Di kampung kami tikus ndak bisa lewat dalam batang kangkung.”

Mendengar itu, Aguz bertanya, “Ooo, berarti di kampung ngana kangkongnya kecil-kecil to?”

Sambil mencibir Timo menjawab, “Eh, itu tikus ndak bisa lewat karena ada kucing di dalam.”

Megawati & Jokowi

Timi, adik perempuan Timo yang baru kelas 3 SD suatu hari sepulang sekolah bertanya kepada kakaknya.

“Kakak, Ibu Megawati itu, Pak Jokowi punya mantankah?” tanya Timi polos.

“Eh, ngana masih kecil sudah cerita-cerita begitu. Ndak betul itu,” Timo menyanggah.

“Hiii, tadi Ibu Guru yang bilang begitu no,” Timi berusaha meyakinkan kakaknya.

“Presiden Jokowi punya istri itu Ibu Iriana. Bukang Ibu Megawati,” jelas Timo.

Timi yang masih kurang yakin dengan kakaknya kemudian berkata, “Berarti salah Ibu Guru yang bilang Ibu Megawati itu mantan presiden.”

Perampokan

Pukul 7 pagi Timo berangkat ke sekolah. Di depan gerbang sekolah Hengky dan Aguz menunggunya.

“Eh, Timo, ngana sudah bikin PR?” tanya Hengky.

“Adoh! Saya lupa, Teman!” kata Timo sambil menepuk jidatnya.

“Enci’ bakal cubit kita bertiga ini,” kata Aguz.

Timo memelintir ujung rambut keritingnya berkali-kali. Tak lama kemudian ia bersuara, 

“Tenang, kita ada alasan. Nanti kalian dua iya-iya saja di kelas.”

Sesampainya di kelas Enci’ Yulia menanyakan PR pelajaran IPA kepada para siswa.

“Anak-anak semua ada bikin PR to?”

Serentak kelas diriuhi suara: iya. Hanya Timo, Hengky, dan Aguz yang diam. Enci’ lantas bertanya kepada mereka bertiga, “Kalian bertiga ada bikin PR tidak?”

“Begini ceritanya, Enci’. Tadi pas mau kemari, kami bertiga kena rampok,” kata Timo.
Mendengar itu Enci’ balik khawatir, “Tapi kalian bertiga ndak apa-apa to?”

“Iya, Enci’, ndak apa-apa,” jawab mereka bertiga serentak.

“Terus PR kalian mana?” tanya Enci’.

“Itulah, Enci’ … perampok bawa kami punya isi tas sekalian dengan buku PR-nya,” jawab Timo.

Dari Sabang sampai Sorong

Setelah disuruh membeli beras di warung, Timo yang baru saja mau pulang ke rumah dikagetkan dua orang pria yang beradu mulut di depan gang.

Setelah mendengar adu mulut, Timo akhirnya tahu ternyata kedua pria itu, yang satunya berasal dari Sorong, satunya lagi dari Merauke.

“Eh, ko orang Merauke, awas kalau ko pergi ke Jakarta, ko jangan berani lewat Sorong eee!” ancam pria Sorong. Maksudnya ketika orang Merauke hendak ke Jakarta naik 
pesawat, tidak boleh lewat atau transit di Sorong.

Tak mau kalah, pria yang berasal dari Merauke berkata, “Eh, ko orang Sorong, awas ko kalau upacara, jangan ko berani menyanyi lagu ‘Dari Sabang sampai Merauke’, ko stop saja di Sorong eee.”

Artikel ini sebelumnya dimuat di Mojok.co

Surat Sakit Puitis untuk Ibu Guru

Tidak ada komentar
Once upon a time … seorang bocah SD bernama Ungke lahir dan tumbuh di Kota Manado. Nama bocah ini sebenarnya keren: Stefanus Corneles. Cuma lantaran ini anak keturunan Suku Sangir (dari Sangihe, satu kabupaten di Sulawesi Utara), nama Ungke yang merupakan panggilan akrab untuk laki-laki Suku Sangir melekat kepadanya.

Ada beberapa mop tentang Ungke yang kerap kali dituturkan orang Manado dan sekitarnya. Ungke melegenda di kawasan Indonesia timur, dari ia kanak-kanak hingga kakek-kakek. Berikut beberapa mop tentang Ungke ketika dia bocah.

Pelajaran Sejarah

Ungke baru saja naik kelas 4 SD. Suatu pagi ia berangkat ke sekolah dan ketika sampai, semua siswa sedang apel di lapangan. Baru setelah itu satu per satu mereka dikandangin, eh, masuk kelas maksudnya.

Di kelas Enci’ (ibu guru) sudah menunggu mereka. Enci’ ini dikenal paling rajin serajin-rajinnya rajin di antara semua guru. Karena itu dia selalu lebih dulu berada di kelas, mendahului para siswa.

Pelajaran dimulai dengan pertanyaan.

“Anak-anak masi inga to pelajaran di kelas-kelas sebelumnya soal pahlawan nasional. So talalu le kalo so lupa (terlalu kalau sampai lupa). Enci’ mo tes tanya ulang sekarang.”

Pandangan Enci’ menyapu seisi kelas, kemudian berhenti di bangku Ungke.

“Ungke kenal Wolter Mongisidi?” tanya Enci’.

“Nyandak no,” jawab Ungke polos.

“Kalo Sam Ratulangi?”

“Kita nintau le.”

“Bagimana lei ngana ini? Samua ngana nintau. Ndak ja blajar ngana kang?”

Mendengar perkataan Enci’, Ungke balik bertanya.

“Enci’ kenal Eges Pinontoan, Mul Rumengan, deng Eling Sondakh?”

“Nyandak no Ungke … Sapa dorang itu?” tanya Enci’ dengan kedua alis yang tampak saling merangkul saking herannya.

“So itu no Enci’. Kita le ndak kenal nama-nama yang Enci’ tanya-tanya tadi. Samua kan ada kenalan masing-masing to?”

Benua Australia

Bukan hanya soal pahlawan nasional yang jadi masalah di kelas. Enci’ yang mengajar IPS tadi pun menemui masalah lain. Kayaknya memang itu Enci’ sedang sial.

Masalah itu diceritakan kembali oleh Ungke kepada bapaknya sepulang sekolah.

“Enci’ marah-marah pa Ungke tadi,” lapor Ungke.

“Kiapa le?” tanya bapaknya, yang sudah tidak heran lagi dengan laporan semacam itu.

“Enci’ tanya … ‘Di mana letaknya Benua Australia?’ Kong Ungke nintau,” cerita Ungke.

Bapaknya mendengus lalu berkata, “So itu ngana. Kalo bataru barang inga-inga (kalau taruh barang ingat-ingat).”

Surat Sakit

Setelah kejadian itu, Ungke tidak masuk sekolah selama tiga hari. Ia akhirnya mau sekolah setelah dibujuk bapaknya.

Sesampainya di sekolah Ungke ditanyai wali kelasnya.

“Kiapa Ungke ndak maso-maso?”

“Ungke ada saki … uhuk! Uhuk!” jawab Ungke sambil pura-pura batuk.

“Kalo saki kirim surat izin ne,” kata wali kelas.

“Percuma le mo kirim surat. Ibu guru le ndak mo balas.”

Ikut Les

Lantaran Ungke ketinggalan beberapa mata pelajaran, Enci’ memberikan les khusus untuk siswa yang ketinggalan mata pelajaran. Selain Ungke, ada Utu, Alo, dan Tole. Les diberikan di sekolah pada sore hari.

Pertama kali hadir Alo dan Utu. Sementara Ungke dan Tole sudah hampir setengah jam tak kunjung datang.

“Ngoni dua ndak dapa lia pa Ungke deng Tole (kalian berdua nggak lihat Ungke dan Tole)?” tanya Enci’.

“Tadi pulang sekolah, dorang dua baramain palinggir (layang-layang),” kata Alo.

“Memang nakal laeng itu anak dua itu,” Enci’ menggerutu.

Setelah sepuluh menit lagi menunggu, akhirnya yang disebut-sebut datang.

“Kiapa ngoni dua terlambat?” tanya Enci’ kesal.

“Tadi kita baku dapa deng ibu pendeta. Trus ibu pendeta minta tolong suruh ambe kunci gereja dapa tinggal di rumah,” kata Tole.

“Kong ngana dang, Ungke?”

“Pas Tole mo ambe kunci gereja, dia pangge le pa kita.”

Mendengar alasan kedua bocah tengil itu, Enci’ tak bisa berbuat apa-apa selain segera memulai les.

Bersiul

Meski telah mengikuti les beberapa kali, Ungke masih sering membikin kesal Enci’. Beberapa soal yang ditanya Enci’ dijawab salah oleh Ungke.

“Ngana ini biongo (bodoh) memang!” teriak Enci’ di kelas.

Ungke ditertawai teman sekelasnya.

Sepulangnya dari sekolah Ungke kembali melapor kepada bapaknya.

“Pa’, tadi Ungke, Enci’ kase bataria (berteriak) akang biongo,” tuturnya.

“Mar Enci’ nyandak pukul to?” selidik bapaknya yang merasa khawatir.

“Ndak pukul. Cuma dapa kase bataria bagitu.”

“Biar ndak pukul, mar nimbole Enci’ kase bataria bagitu. Papa’ nyandak terima! Besok Papa’ ka sekolah!”

Esoknya, Ungke ditemani bapaknya ke sekolah. Bapaknya pergi mencari Enci’ yang mengatai anak kesayangannya itu.

Setelah bertemu Enci’ yang dimaksud bapak Ungke segera melemparkan pertanyaan.

“Kiapa Enci’ bilang biongo kita pe anak?”

Enci’ itu tampak pucat. Seluruh guru di sekolah dan siswa-siswi berkerumun.

“Kalo memang Enci’ pande, sekarang kita tes pa Enci’!” kata bapaknya.

“Mo … mooo … tes apa?” tanya Enci’ itu gugup.

“Coba Enci’ tulis ini!” Bapak Ungke lalu bersiul.

Semua orang menggaruk kepala secara berjamaah.

Like father, like son ….

Surat Sakit Bagian II

Setelah berkali-kali beralasan sakit, akhirnya Ungke asli sakit.

“Pa’ …,” panggil Ungke dari kamar.

Bapaknya segera menuju kamar, “Kiapa le?”

“Ungke barasa demam.”

Telapak tangan kanan bapaknya segera mendarat di jidat anak satu-satunya itu.

“Keode’, saki butul ngana ini.”

“Tulis akang surat izin saki pa ibu guru. Supaya ndak mo dapa marah ulang,” pinta Ungke.

Bapaknya yang lihai merayu ibunya ketika masih pacaran dengan surat-surat cinta puitis lantas menulis surat izin sakit versi puisi.

Di pagi yang cerah
mentari menyembul dari punggung bukit
kembang-kembang mekar di taman
tapi ada satu kembang yang layu …
Ungke yang layu.

Barang Kotor

Libur sekolah akhirnya tiba. Ungke bersama bapak dan ibunya berlibur ke kampung halaman di Sangihe. Mereka berkunjung ke rumah oma dan opa dari sebelah bapaknya.

“Ado, so basar Oma pe cucu ini e,” kata Oma saat kali pertama melihat Ungke. Oma juga mencubit pipinya Ungke.

“Makang dulu sana. Ada ubi rubus deng ikang bakar,” kata Oma.

Ungke segera berlari menuju dapur. Saat makan, tetiba bagian kepala ikan bakar yang sedang diemut-emut Ungke jatuh. Ungke baru saja mau memungut, tapi teriakan Oma mengagetkannya.

“Ndak usah punggu. Kalo barang so ciri (jatuh) so kotor itu,” kata Oma.

Ungke menuruti perintah Omanya.

Setelah makan, Ungke menuju halaman belakang, melihat-lihat pantai. Tetiba Oma yang sedang membawa piring kotor ke tempat cucian piring terpeleset dan jatuh.

Opa yang melihat kekasihnya itu terjatuh segera menolong mengangkat Oma.

Melihat itu Ungke segera berteriak, “Opa, kalo barang so ciri ndak usah punggu. So kotor!”

Artikel ini sebelumnya dimuat di Mojok.co