Rabu, 12 Agustus 2015
AKU
Kata penyair John Ashberry: “Ada saatnya kita sadar bahwa tak ada satupun laku manusia yang lebih dramatis dan meyakinkan ketimbang laku kita sendiri.”
Sendiri. Aku. Ketika kecil dan hendak berangkat ke sekolah, rambutku suka disisir ke samping oleh ibu. Diminyakinya pula dengan hijau tancho milik ayah yang, kala itu gemar menyisir rambut ikalnya sebelum berangkat ke kantor.
Langkahku gamang disinari matahari pagi yang hangat, saat berangkat ke sekolah sendiri dengan degup dan gugup. Seratus meter ke kiri dari pekarangan rumah, melewati hijau rerumputan tanah lapang, aku hanya bisa membayangkan seperti apa itu sekolah. Aku tidak merasai bangku taman kanak-kanak, sebab usia lima tahun buku-buku pelajaran kakakku sudah bisa kueja. Kawan-kawan seumurku yang sudah menamatkan pendidikan di taman kanak-kanak, kini sekelas denganku. Di SD Negeri I Passi.
Di sini, hanya kilat bola-bola mata bocah riang kutemui di halaman sekolah. Sebagiannya kukenal, yang lainnya entah siapa mereka. Ibu pernah mengatarkanku ke sekolah hanya saat mendaftar. Selanjutnya ibu melepas putra bungsunya ini dengan bekal, "Belajar yang tekun, dengarkan apa kata guru." Wajah ibu bersinar kala itu.
Lama berdiam diri di sekitar rumah; hanya tanaman pekarangan, kicau burung, dan anak kucing yang pernah kenal denganku. Sesekali berteman pula dengan beberapa lembar buku yang kupangku dengan rapal yang terbata-bata. Aku membaca dan bertutur, sebelum anak seusiaku masih dengan gestur dan ababa-bibu meminta ini-itu.
Setelah merasakan bangku sekolah, aku juara kelas. Setelah naik kelas dua, aku mengeluh pada ayah dan ibu, ingin pindah. Saat ditanyai ibu alasannya, aku hanya bilang tidak suka dengan sekolah itu. Setelah ditanyai terus, alasanku tetap sama aku tidak suka sekolah itu. Padahal alasannya lantaran seorang kakak kelas--anak laki-laki--dari desa tetangga melempariku dengan kerikil. Dia tidak suka sebab aku menjadi idola di sekolah. Aku kerap dikerubuti teman sekelas, bahkan kakak kelas satu tingkat, dua tingkat dan seterusnya. Mereka mungkin suka rambutku yang berbau tancho. Kakak kelasku yang itu mungkin tidak suka. Beruntung akhirnya ayah dan ibu mengerti dan aku pun dipindahkan ke SD Negeri III Passi, yang jaraknya pun persis sama dekatnya. Hanya di sekolah yang ini aku harus berjalan membelakangi matahari. Hangatnya kini di punggungku.
Di sini, aku mulai akrab dengan mereka; guru, murid, dan pemilik kantin. Aku tetap masih menjadi juara kelas dan idola para guru. Waktu bergulir, hingga pupus sudah masa seragam putih-merah. Hingga lulus, aku tetap juara bertahan meninggalkan piala dan piagam pada ajang lomba cerdas-cermat, mengarang, melukis, dan baca puisi.
Sedari kecil, aku kerap bermimpi terbang dengan sekujur tubuh menggigil geli. Mimpi yang bahkan setiap pekan, bulan, hadir begitu saja. Pernah kuceritakan ke ibu lalu katanya itu pertanda sebab aku istimewa. Mungkin ibu benar; rasa senang, geli saat di udara, dan geram sebab mimpi telah usai dengan goncangan lengan ibu, adalah pertanda aku bakal meraih sesuatu yang memang telah aku perjuangkan. Menang dan melayang.
Setelah lulus SD, aku didaftarkannya ke SMP Negeri II Passi yang letaknya di desa tetangga. Kakak kelas yang menjadi alasanku pindah sekolah dulu, tinggal di desa itu. Pikirku, bakalan ketemu dengannya lagi. Benar sudah, dia si remaja laki-laki dengan jabatan ketua OSIS yang penuh kuasa saat itu. Namun ada yang berubah sebab meski dia mengenaliku, perangainya tak seburuk kala di bangku SD. Dia si anak nakal yang pintar dan aku si anak penurut yang pintar.
Di sekolah ini, aku masih juara. Lomba demi lomba serupa kuikuti; cerdas-cermat, mengarang, dan baca puisi. Aku mengenal lebih dekat Chairil Anwar di bangku SMP. Saat di SD, meski perpustakaannya tidak begitu lengkap. Kemudian, aku mewakili sekolah di ajang lomba baca puisi yang seingatku berlangsung di halaman SMA Islam Kotamobagu. Di sana, seragam putih merah, putih biru, putih abu-abu berbaur. Puisi Charil, Aku, kubacai dengan lantang.
Kalau sampai waktuku/ 'Ku mau tak seorang kan merayu/ Tidak juga kau/ Tak perlu sedu sedan itu.
Aku juara satu untuk tingkat SMP.
Sebulan kemudian di lomba cerdas cermat tingkat SMP se-Bolmong, aku dan dua kakak kelasku sebagai pendamping kanan-kiri turut serta. Aku pembicara dengan materi lomba pelajaran umum. Kami mengalahkan perwakilan SMP Negeri I Kotamobagu di babak final. Sekolah elite kala itu setingkat SMP. Tuan rumah pun mereka. Kami bersorak saat dewan juri memutuskan kamilah pemenangnya. Kami mengalahkan anak si dokter ini, si pejabat itu, dan si polisi ini.
Kemudian kelas dua SMP teman-teman sekelas berubah. Untuk mereka yang tergolong pandai, disatukan ke kelas 2A. Aku menemukan saingan dan perebutan juara kelas menjadi sengit. Aku masih tetap juara kelas namun di caturwulan berikut aku peringkat kedua. Berikutnya aku kembali juara kelas. Hingga aku terpilih sebagai ketua OSIS.
Naik ke kelas tiga formasi kembali berubah. Aku tetap di kelas 3A bersama saingan-saingan semasa kelas satu dan dua. Hingga ujian akhir, NEM kami tertinggi se-Bolmong, aku dan dua teman sekelas. Guru-guru bangga dan melepas kami dengan tangis. Bukan aku lagi yang menjadi idola, tapi kami, angkatan kami, dan itu tercatat sebagai prestasi sepanjang masa. Nilai Ebtanas murni tertinggi se-Bolmong.
Lalu SMA Negeri III Kotamobagu jadi pilihan ibu, bukan pilihanku. Aku yang terlalu lama menghirup bau matahari pagi, pepohonan, dan udara murni, kini harus beradaptasi dengan hiruk pikuk perkotaan, semrawut rumah di lorong-lorong, ramai pasar, dan lalu lalang kendaraan yang kurasai menghimpit dada.
Aku ditempatkan di kelas 1A. Binsus istilahnya untuk kelas bimbingan khusus. Teman sekampungku yang kukenal baik, semuanya kelas tiga. Aku sendiri di bangku kelas paling belakang, sebab minder dengan gaya-gaya borjuis di sekitarku. Cerita mereka tentang musik, merek tas, sepatu, dan bolos.
Aku mulai bosan. Jam istirahat kuluangkan dengan berbaur bersama kakak-kakak kelas yang adalah dua kerabat dan satunya lagi tetangga. Aku berkawan dengan geng sekolah kala itu, sebab kedua kerabatku itu termasuk dalam daftar orang paling disegani di sekolah, bahkan di sekolah lainnya.
Kudapati dunia yang begitu liar, begal, dan penuh begundal. Aku terbawa arus dan juara kelas hanya jadi memori di bangku SD dan SMP. Nilaiku jatuh memacak di rapor yang kerap kusembunyikan dari ibu. Aku memilih pindah baru pada caturwulan II, sebab daftar hadirku pun hampa memutih.
Saat pindah ke SMA 4 Kotamobagu, aku diantarkan ayah dengan wajah muram. Tersisa murka di guratan dahi dan bola matanya. Aku hanya terus menunduk hingga kegagalan serupa mengulang. Sebab musababnya sepele, aku didaulat menjadi ketua kelas mengalahkan pesaing anak 'negeri' (Genggulang). Dia tidak suka, lalu menghasut puluhan temannya untuk mengejarku. Kemejaku dirobek kawat duri pagar sekolah setinggi dua meter. Aku melompat dikejar puluhan orang yang entah oleh sebab apa.
Kemudian, aku menjadi siswa berseragam putih abu-abu penghuni terminal yang pertama datang dan terakhir kali pulang. Ko' Cao', Sipatuo, WC umum pasar, jadi tempat tongkrongan rutin. Uang jajan kuhabiskan di sana. Ayah dan ibu, dari informasi tetangga akhirnya tahu aku bukan lagi si bocah berminyak rambut tancho, yang rambutnya tersisir rapi ke samping. Aku kini remaja berambut urak-urakan, dengan celana dan kemeja bergambar simbol peace, Slank, Sepultura, dan Guns 'n' Roses. Apa yang keren pasti dicoretkan ke seragam, dari bawah lutut hingga ke kerah kemeja.
Aku berubah dari bocah penurut yang selalu tepat waktu berangkat dan pulang sekolah, menjadi remaja yang jarang pulang ke rumah. Seragam sekolahku yang lain dikunci ibu di lemari. Hanya sepasang seragam yang penuh coretan membalut raga. Aku ini binatang jalang/ Dari kumpulannya terbuang.
Aku pindah sekolah lagi tanpa sepengetahuan ayah dan ibu, yang memang saat itu tak mau tahu lagi denganku. SMA Muhammadiyah menjadi pilihanku. Gokil, di bangku kelas dua hanya ada kami bertiga. Di ruang kelas ada tenis meja tempat si guru menunggui kami. Jika hanya seorang yang hadir, maka diajaknya untuk berkeringat ria dengan main tenis meja. Sialan.
Waktuku tersita jauh lebih banyak di terminal. Teman-teman seangkatanku telah kelas tiga. Aku yang kala bocah selalu unggul kini ketinggalan kelas. Mimpi melayang pun tak pernah hadir lagi sejak SMA. Aku tercenung, mungkin ibu benar. Aku tidak lagi istimewa.
Tak lama, aku pindah ke SMA Islam yang dijuluki SMA SLANK, akronim dari sekolah lawer asal naik kelas. Aku kelas dua di saat seragam teman seangkatan berwarna-warni. Saat pesta kelulusan mereka, aku berbaur dengan kebahagiaan namun ada sedih di sudut tawaku. Hingga akhirnya, aku putus sekolah. Aku hanya menikmati ijazah ujian persamaan yang dramatis dan penuh rahasia.
Kini, sekolahku alam raya. Aku menemukannya di desaku sendiri. Tak jauh dari tanah lapang yang kerap kulewati saat pertama kali melangkah dengan degup dan gugup. Setidaknya kini aku jauh lebih merdeka tanpa secuilpun rasa sesal, meski pernah sekali mengingat perkataan ayah, yang hendak menitipkanku ke perguruan tinggi di akademi gizi di Manado.
Ayah paham betul pelajaran kesukaanku itu; biologi, fisika, dan bahasa Indonesia. Nilai tertinggi sejak SD ialah pelajaran membelah dirinya amuba. Pada akhirnya ayah benar, aku terus membelah diri dari Kristianto yang dipungutinya dari nama pebulu tangkis legendaris Christian, menjadi Yanto, Anto', Kris, 83, Ya', Yakuza, Atol, lalu menjadi Sigidad.
Aku terus melangkah, menikah, bercerai, berpetualang, lalu kembali pulang. Rumah memang selalu menjadi alasanku untuk bisa mendekam nyaman.
Aku tak berhenti, meski puluhan pekerjaan berganti rupa.
Biar peluru menembus kulitku/ Aku tetap meradang menerjang/ Luka dan bisa kubawa berlari/ Berlari/ Hingga hilang pedih peri/ Dan aku akan lebih tidak perduli/ Aku mau hidup seribu tahun lagi.
Sebenarnya aku tidak ingin menjadi dewasa, biar ibu masih menyisiri rambutku dan meminyakinya dengan tancho milik ayah. Aku ingin rasai hangat matahari di punggungku lagi.
Sendiri. Aku. Ketika kecil dan hendak berangkat ke sekolah, rambutku suka disisir ke samping oleh ibu. Diminyakinya pula dengan hijau tancho milik ayah yang, kala itu gemar menyisir rambut ikalnya sebelum berangkat ke kantor.
Langkahku gamang disinari matahari pagi yang hangat, saat berangkat ke sekolah sendiri dengan degup dan gugup. Seratus meter ke kiri dari pekarangan rumah, melewati hijau rerumputan tanah lapang, aku hanya bisa membayangkan seperti apa itu sekolah. Aku tidak merasai bangku taman kanak-kanak, sebab usia lima tahun buku-buku pelajaran kakakku sudah bisa kueja. Kawan-kawan seumurku yang sudah menamatkan pendidikan di taman kanak-kanak, kini sekelas denganku. Di SD Negeri I Passi.
Di sini, hanya kilat bola-bola mata bocah riang kutemui di halaman sekolah. Sebagiannya kukenal, yang lainnya entah siapa mereka. Ibu pernah mengatarkanku ke sekolah hanya saat mendaftar. Selanjutnya ibu melepas putra bungsunya ini dengan bekal, "Belajar yang tekun, dengarkan apa kata guru." Wajah ibu bersinar kala itu.
Lama berdiam diri di sekitar rumah; hanya tanaman pekarangan, kicau burung, dan anak kucing yang pernah kenal denganku. Sesekali berteman pula dengan beberapa lembar buku yang kupangku dengan rapal yang terbata-bata. Aku membaca dan bertutur, sebelum anak seusiaku masih dengan gestur dan ababa-bibu meminta ini-itu.
Setelah merasakan bangku sekolah, aku juara kelas. Setelah naik kelas dua, aku mengeluh pada ayah dan ibu, ingin pindah. Saat ditanyai ibu alasannya, aku hanya bilang tidak suka dengan sekolah itu. Setelah ditanyai terus, alasanku tetap sama aku tidak suka sekolah itu. Padahal alasannya lantaran seorang kakak kelas--anak laki-laki--dari desa tetangga melempariku dengan kerikil. Dia tidak suka sebab aku menjadi idola di sekolah. Aku kerap dikerubuti teman sekelas, bahkan kakak kelas satu tingkat, dua tingkat dan seterusnya. Mereka mungkin suka rambutku yang berbau tancho. Kakak kelasku yang itu mungkin tidak suka. Beruntung akhirnya ayah dan ibu mengerti dan aku pun dipindahkan ke SD Negeri III Passi, yang jaraknya pun persis sama dekatnya. Hanya di sekolah yang ini aku harus berjalan membelakangi matahari. Hangatnya kini di punggungku.
Di sini, aku mulai akrab dengan mereka; guru, murid, dan pemilik kantin. Aku tetap masih menjadi juara kelas dan idola para guru. Waktu bergulir, hingga pupus sudah masa seragam putih-merah. Hingga lulus, aku tetap juara bertahan meninggalkan piala dan piagam pada ajang lomba cerdas-cermat, mengarang, melukis, dan baca puisi.
Sedari kecil, aku kerap bermimpi terbang dengan sekujur tubuh menggigil geli. Mimpi yang bahkan setiap pekan, bulan, hadir begitu saja. Pernah kuceritakan ke ibu lalu katanya itu pertanda sebab aku istimewa. Mungkin ibu benar; rasa senang, geli saat di udara, dan geram sebab mimpi telah usai dengan goncangan lengan ibu, adalah pertanda aku bakal meraih sesuatu yang memang telah aku perjuangkan. Menang dan melayang.
Setelah lulus SD, aku didaftarkannya ke SMP Negeri II Passi yang letaknya di desa tetangga. Kakak kelas yang menjadi alasanku pindah sekolah dulu, tinggal di desa itu. Pikirku, bakalan ketemu dengannya lagi. Benar sudah, dia si remaja laki-laki dengan jabatan ketua OSIS yang penuh kuasa saat itu. Namun ada yang berubah sebab meski dia mengenaliku, perangainya tak seburuk kala di bangku SD. Dia si anak nakal yang pintar dan aku si anak penurut yang pintar.
Di sekolah ini, aku masih juara. Lomba demi lomba serupa kuikuti; cerdas-cermat, mengarang, dan baca puisi. Aku mengenal lebih dekat Chairil Anwar di bangku SMP. Saat di SD, meski perpustakaannya tidak begitu lengkap. Kemudian, aku mewakili sekolah di ajang lomba baca puisi yang seingatku berlangsung di halaman SMA Islam Kotamobagu. Di sana, seragam putih merah, putih biru, putih abu-abu berbaur. Puisi Charil, Aku, kubacai dengan lantang.
Kalau sampai waktuku/ 'Ku mau tak seorang kan merayu/ Tidak juga kau/ Tak perlu sedu sedan itu.
Aku juara satu untuk tingkat SMP.
Sebulan kemudian di lomba cerdas cermat tingkat SMP se-Bolmong, aku dan dua kakak kelasku sebagai pendamping kanan-kiri turut serta. Aku pembicara dengan materi lomba pelajaran umum. Kami mengalahkan perwakilan SMP Negeri I Kotamobagu di babak final. Sekolah elite kala itu setingkat SMP. Tuan rumah pun mereka. Kami bersorak saat dewan juri memutuskan kamilah pemenangnya. Kami mengalahkan anak si dokter ini, si pejabat itu, dan si polisi ini.
Kemudian kelas dua SMP teman-teman sekelas berubah. Untuk mereka yang tergolong pandai, disatukan ke kelas 2A. Aku menemukan saingan dan perebutan juara kelas menjadi sengit. Aku masih tetap juara kelas namun di caturwulan berikut aku peringkat kedua. Berikutnya aku kembali juara kelas. Hingga aku terpilih sebagai ketua OSIS.
Naik ke kelas tiga formasi kembali berubah. Aku tetap di kelas 3A bersama saingan-saingan semasa kelas satu dan dua. Hingga ujian akhir, NEM kami tertinggi se-Bolmong, aku dan dua teman sekelas. Guru-guru bangga dan melepas kami dengan tangis. Bukan aku lagi yang menjadi idola, tapi kami, angkatan kami, dan itu tercatat sebagai prestasi sepanjang masa. Nilai Ebtanas murni tertinggi se-Bolmong.
Lalu SMA Negeri III Kotamobagu jadi pilihan ibu, bukan pilihanku. Aku yang terlalu lama menghirup bau matahari pagi, pepohonan, dan udara murni, kini harus beradaptasi dengan hiruk pikuk perkotaan, semrawut rumah di lorong-lorong, ramai pasar, dan lalu lalang kendaraan yang kurasai menghimpit dada.
Aku ditempatkan di kelas 1A. Binsus istilahnya untuk kelas bimbingan khusus. Teman sekampungku yang kukenal baik, semuanya kelas tiga. Aku sendiri di bangku kelas paling belakang, sebab minder dengan gaya-gaya borjuis di sekitarku. Cerita mereka tentang musik, merek tas, sepatu, dan bolos.
Aku mulai bosan. Jam istirahat kuluangkan dengan berbaur bersama kakak-kakak kelas yang adalah dua kerabat dan satunya lagi tetangga. Aku berkawan dengan geng sekolah kala itu, sebab kedua kerabatku itu termasuk dalam daftar orang paling disegani di sekolah, bahkan di sekolah lainnya.
Kudapati dunia yang begitu liar, begal, dan penuh begundal. Aku terbawa arus dan juara kelas hanya jadi memori di bangku SD dan SMP. Nilaiku jatuh memacak di rapor yang kerap kusembunyikan dari ibu. Aku memilih pindah baru pada caturwulan II, sebab daftar hadirku pun hampa memutih.
Saat pindah ke SMA 4 Kotamobagu, aku diantarkan ayah dengan wajah muram. Tersisa murka di guratan dahi dan bola matanya. Aku hanya terus menunduk hingga kegagalan serupa mengulang. Sebab musababnya sepele, aku didaulat menjadi ketua kelas mengalahkan pesaing anak 'negeri' (Genggulang). Dia tidak suka, lalu menghasut puluhan temannya untuk mengejarku. Kemejaku dirobek kawat duri pagar sekolah setinggi dua meter. Aku melompat dikejar puluhan orang yang entah oleh sebab apa.
Kemudian, aku menjadi siswa berseragam putih abu-abu penghuni terminal yang pertama datang dan terakhir kali pulang. Ko' Cao', Sipatuo, WC umum pasar, jadi tempat tongkrongan rutin. Uang jajan kuhabiskan di sana. Ayah dan ibu, dari informasi tetangga akhirnya tahu aku bukan lagi si bocah berminyak rambut tancho, yang rambutnya tersisir rapi ke samping. Aku kini remaja berambut urak-urakan, dengan celana dan kemeja bergambar simbol peace, Slank, Sepultura, dan Guns 'n' Roses. Apa yang keren pasti dicoretkan ke seragam, dari bawah lutut hingga ke kerah kemeja.
Aku berubah dari bocah penurut yang selalu tepat waktu berangkat dan pulang sekolah, menjadi remaja yang jarang pulang ke rumah. Seragam sekolahku yang lain dikunci ibu di lemari. Hanya sepasang seragam yang penuh coretan membalut raga. Aku ini binatang jalang/ Dari kumpulannya terbuang.
Aku pindah sekolah lagi tanpa sepengetahuan ayah dan ibu, yang memang saat itu tak mau tahu lagi denganku. SMA Muhammadiyah menjadi pilihanku. Gokil, di bangku kelas dua hanya ada kami bertiga. Di ruang kelas ada tenis meja tempat si guru menunggui kami. Jika hanya seorang yang hadir, maka diajaknya untuk berkeringat ria dengan main tenis meja. Sialan.
Waktuku tersita jauh lebih banyak di terminal. Teman-teman seangkatanku telah kelas tiga. Aku yang kala bocah selalu unggul kini ketinggalan kelas. Mimpi melayang pun tak pernah hadir lagi sejak SMA. Aku tercenung, mungkin ibu benar. Aku tidak lagi istimewa.
Tak lama, aku pindah ke SMA Islam yang dijuluki SMA SLANK, akronim dari sekolah lawer asal naik kelas. Aku kelas dua di saat seragam teman seangkatan berwarna-warni. Saat pesta kelulusan mereka, aku berbaur dengan kebahagiaan namun ada sedih di sudut tawaku. Hingga akhirnya, aku putus sekolah. Aku hanya menikmati ijazah ujian persamaan yang dramatis dan penuh rahasia.
Kini, sekolahku alam raya. Aku menemukannya di desaku sendiri. Tak jauh dari tanah lapang yang kerap kulewati saat pertama kali melangkah dengan degup dan gugup. Setidaknya kini aku jauh lebih merdeka tanpa secuilpun rasa sesal, meski pernah sekali mengingat perkataan ayah, yang hendak menitipkanku ke perguruan tinggi di akademi gizi di Manado.
Ayah paham betul pelajaran kesukaanku itu; biologi, fisika, dan bahasa Indonesia. Nilai tertinggi sejak SD ialah pelajaran membelah dirinya amuba. Pada akhirnya ayah benar, aku terus membelah diri dari Kristianto yang dipungutinya dari nama pebulu tangkis legendaris Christian, menjadi Yanto, Anto', Kris, 83, Ya', Yakuza, Atol, lalu menjadi Sigidad.
Aku terus melangkah, menikah, bercerai, berpetualang, lalu kembali pulang. Rumah memang selalu menjadi alasanku untuk bisa mendekam nyaman.
Aku tak berhenti, meski puluhan pekerjaan berganti rupa.
Biar peluru menembus kulitku/ Aku tetap meradang menerjang/ Luka dan bisa kubawa berlari/ Berlari/ Hingga hilang pedih peri/ Dan aku akan lebih tidak perduli/ Aku mau hidup seribu tahun lagi.
Sebenarnya aku tidak ingin menjadi dewasa, biar ibu masih menyisiri rambutku dan meminyakinya dengan tancho milik ayah. Aku ingin rasai hangat matahari di punggungku lagi.
Selasa, 11 Agustus 2015
Selamat Ulang Tahun, Kats!
"Dapa lia pa Uwin (lihat Uwin)?" teriak Kak Tince (Titin Mokodongan, kakak perempuan Uwin).
"Tadi di sini Kak!"
"Burein (sialan), Kak pe kous ketat karamba dia dapake (kaos ketat belang-belang milik kakak dipakainya). Ugat bi' tumon Slank (maunya seperti Slank). Pe mahal tu kous eh! (Mahal kaos itu)."
Ha-ha-ha-ha.
Uwin memang sejak tahun 1998 berambut gondrong. Tubuhnya ceking dibalut celana jeans ketat, robek, belel agak kumal, dan tentu saja, kaos-kaos yang sebagian hasil curian dari lemari kakak perempuannya (fakta di atas). Sepatu converse-nya pun kumal. Di Villa Putih Kleak Generasi 98, oleh kawan-kawan di situ, ia disapa Slank. Meski di tembok kamar, ada Sepultura terlukis di dinding.
Kampus Samratulangi Manado adalah markasnya. Tentu di Mapala Avestaria. Usai turun gunung dan susuri lembah, sepenggal-sepenggal waktunya ia seretkan ke Lorong Hitam (Scene Punk 'n' Skin Manado belakang Gedung Joeang). Puisinya juga menggelegar di Balai Wartawan Indonesia dalam Gigs (music party) Punk 'n' Skinhead, depan Gedung Joeang. Pun di Gedung Pingkan Matindas. Ia adalah Anarko tanpa fashion yang melekat pada Punker; Mohawk, Boots, dan puluhan Emblem. Sebab memang ada pameo yang mengatakan; Setiap Anarko belum tentu Punk, tetapi setiap Punker pastilah Anarko. Pernah sekali dua saya diajaknya ke Lorong Hitam, belakang BRI, SMA Panca' dan Pingkan Matindas. Debat pernah hebat-hebatnya di sana.
Saya sempat bertanya, "Ada apa dengan Slank?" Ia menjawab, "Mereka sudah mengaku khilaf dan taubat." Karena jawabnya begitu, maka debat nan hebat (terkadang melelahkan) cepat tersulut.
Ya. Seperti itulah adanya Kats (Ketua). Kats adalah julukan yang melekat usai gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York dihantam pesawat yang katanya dibajak teroris. Sebab pada Selasa 11 September 2001, melalui Musyawarah Anggota, Komunitas Pecinta Alam Bolaang Mongondow Lestari (KPA Bomlest) dibentuk. Dan sesuai kesepakatan bersama, Uwin didaulat sebagai Ketua. Ter-mintahang-lah sapaan Kats padanya.
KPA mulai mati suri beberapa tahun lalu semenjak anggotanya bertambah umur, mulai 'dewasa' dan sibuk dengan urusan rumah tangga dan pekerjaan.
Ah, seharusnya memang jangan pernah dewasa, lalu hidup seperti Spongebob di dasar laut, yang tak mengenal tua dan tetap bahagia. Biarlah masa lalu dan masa depan, hanya bagian dari petualangan angan. Imaaaajiiiiinaaaasiiii (ucap Spongebob sembari melukis pelangi dengan jemarinya).
Usai menamatkan kuliah ia mengarungi laut menuju Gangga, sebuah pulau nan indah beberapa mil dari Bunaken. Uwin kala itu gemar berbahasa asing; mercy, danke, grazie, va bene, katanya kepada turis-turis bermata kucing. Di sebuah resort milik orang Itali Sisillia, ia bekerja di Diving Center, sebagai guide snorkling and diving. Terkadang disuruh memboyong tamu-tamu mata kucing ke luar pulau menyeberangi lautan menuju pasar dan puncak Mahawu.
Sebagai anak di Diving Center, itulah mungkin salah satu alasannya di kemudian hari memilih lumba-lumba (dolphin) sebagai tato. Tiap pulang cuti, lagi-lagi saya diajaknya ke Lorong Hitam. Lalu kulit coklat kegosong-gosongan karena terbakar matahari, yang pernah ia bangga-banggakan itu, tak bertahan lama. Ia memilih pulang.
Uwin, mungkin baginya, kebersamaan adalah kekekalan abadi meski kita telah menjadi fosil. Untuk itulah di punggung kanannya bertengger tato belulang Garuda yang, tengah mencekeram tulang (seolah pita) bersemboyan 'Bersama Tinggal Iga'.
Kebebasan pun tersirat dari tato dolphin bermata kosong dengan benjolan sastra di kepala, yang menyembul dari kulit lengan atas kirinya. Dolphin yang selalu ingin memenuhi mata kosong dengan segalanya. Garuda dan dolphin, dua tato itu terajah di tubuhnya. Bersama dan bebas merdeka. Slank, telah bertransformasi menjadi Skinhead (Ia mengaku Skinhead Anarko).
Meninggalkan Sepultura ketika Max Cavalera hengkang sejak 98. Ia lalu memakai Boots, celana yang tetap Stapress, memangkas rambutnya hingga plontos, lalu teriak riuh rendah chaosnya Gigs. Oi..Oi..!!
Di lorong-lorong hitam Gedung Joeang, kami pernah berkejar-kejaran dengan polisi dan anjing.
Hingga kemudian hari ia memutuskan untuk menikah dan lahirlah Chaskin. Putri lucunya. Silih berganti hari, bulan, dan kenangan. Ia menjual habis dua gudang berisi kendaraan lalu menolak ke Lombok oleh sebuah promosi atas kinerjanya. Ia memilih masuk arena politik. Satu-dua teman di komunitas menentangnya. Tapi Kats tetap maju. Selanjutnya ia rutin menulis.
Segalanya berubah. Garuda dan Dolphin dijeruji. Tapi apa artinya kebebasan jika tak pernah merasai terkerangkeng? Kemudian ia memutuskan kembali melompati samudera, lalu berkejaran dengan bayang-bayang.
Tahun berjalan membawa kisah kembali ke rumah kopi di sudut jalan dan pelukan siluet pepohonan Kotamobagu. Baginya, di mana ada kopi, alkohol, dan cerita, di situlah persinggahan. Hingga perjalanan membawanya kini menjejak di Pulau Dewata, Bali.
Jika sanak-saudara, handai taulan, berlomba-lomba melirik jarum jam berdentang di angka dua belas (meski yang lainnya lupa karena sibuk dengan 'kedewasaan' masing-masing), saya memilih hari ini untuk mengucapkan selamat hari ulang tahun, Kats (8 Agustus). Tak banyak yang harus saya tulis.
Sulang!! Untuk kebersamaan dan kebebasan!!
"Tadi di sini Kak!"
"Burein (sialan), Kak pe kous ketat karamba dia dapake (kaos ketat belang-belang milik kakak dipakainya). Ugat bi' tumon Slank (maunya seperti Slank). Pe mahal tu kous eh! (Mahal kaos itu)."
Ha-ha-ha-ha.
Uwin memang sejak tahun 1998 berambut gondrong. Tubuhnya ceking dibalut celana jeans ketat, robek, belel agak kumal, dan tentu saja, kaos-kaos yang sebagian hasil curian dari lemari kakak perempuannya (fakta di atas). Sepatu converse-nya pun kumal. Di Villa Putih Kleak Generasi 98, oleh kawan-kawan di situ, ia disapa Slank. Meski di tembok kamar, ada Sepultura terlukis di dinding.
Kampus Samratulangi Manado adalah markasnya. Tentu di Mapala Avestaria. Usai turun gunung dan susuri lembah, sepenggal-sepenggal waktunya ia seretkan ke Lorong Hitam (Scene Punk 'n' Skin Manado belakang Gedung Joeang). Puisinya juga menggelegar di Balai Wartawan Indonesia dalam Gigs (music party) Punk 'n' Skinhead, depan Gedung Joeang. Pun di Gedung Pingkan Matindas. Ia adalah Anarko tanpa fashion yang melekat pada Punker; Mohawk, Boots, dan puluhan Emblem. Sebab memang ada pameo yang mengatakan; Setiap Anarko belum tentu Punk, tetapi setiap Punker pastilah Anarko. Pernah sekali dua saya diajaknya ke Lorong Hitam, belakang BRI, SMA Panca' dan Pingkan Matindas. Debat pernah hebat-hebatnya di sana.
Saya sempat bertanya, "Ada apa dengan Slank?" Ia menjawab, "Mereka sudah mengaku khilaf dan taubat." Karena jawabnya begitu, maka debat nan hebat (terkadang melelahkan) cepat tersulut.
Ya. Seperti itulah adanya Kats (Ketua). Kats adalah julukan yang melekat usai gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York dihantam pesawat yang katanya dibajak teroris. Sebab pada Selasa 11 September 2001, melalui Musyawarah Anggota, Komunitas Pecinta Alam Bolaang Mongondow Lestari (KPA Bomlest) dibentuk. Dan sesuai kesepakatan bersama, Uwin didaulat sebagai Ketua. Ter-mintahang-lah sapaan Kats padanya.
KPA mulai mati suri beberapa tahun lalu semenjak anggotanya bertambah umur, mulai 'dewasa' dan sibuk dengan urusan rumah tangga dan pekerjaan.
Ah, seharusnya memang jangan pernah dewasa, lalu hidup seperti Spongebob di dasar laut, yang tak mengenal tua dan tetap bahagia. Biarlah masa lalu dan masa depan, hanya bagian dari petualangan angan. Imaaaajiiiiinaaaasiiii (ucap Spongebob sembari melukis pelangi dengan jemarinya).
Usai menamatkan kuliah ia mengarungi laut menuju Gangga, sebuah pulau nan indah beberapa mil dari Bunaken. Uwin kala itu gemar berbahasa asing; mercy, danke, grazie, va bene, katanya kepada turis-turis bermata kucing. Di sebuah resort milik orang Itali Sisillia, ia bekerja di Diving Center, sebagai guide snorkling and diving. Terkadang disuruh memboyong tamu-tamu mata kucing ke luar pulau menyeberangi lautan menuju pasar dan puncak Mahawu.
Sebagai anak di Diving Center, itulah mungkin salah satu alasannya di kemudian hari memilih lumba-lumba (dolphin) sebagai tato. Tiap pulang cuti, lagi-lagi saya diajaknya ke Lorong Hitam. Lalu kulit coklat kegosong-gosongan karena terbakar matahari, yang pernah ia bangga-banggakan itu, tak bertahan lama. Ia memilih pulang.
Uwin, mungkin baginya, kebersamaan adalah kekekalan abadi meski kita telah menjadi fosil. Untuk itulah di punggung kanannya bertengger tato belulang Garuda yang, tengah mencekeram tulang (seolah pita) bersemboyan 'Bersama Tinggal Iga'.
Kebebasan pun tersirat dari tato dolphin bermata kosong dengan benjolan sastra di kepala, yang menyembul dari kulit lengan atas kirinya. Dolphin yang selalu ingin memenuhi mata kosong dengan segalanya. Garuda dan dolphin, dua tato itu terajah di tubuhnya. Bersama dan bebas merdeka. Slank, telah bertransformasi menjadi Skinhead (Ia mengaku Skinhead Anarko).
Meninggalkan Sepultura ketika Max Cavalera hengkang sejak 98. Ia lalu memakai Boots, celana yang tetap Stapress, memangkas rambutnya hingga plontos, lalu teriak riuh rendah chaosnya Gigs. Oi..Oi..!!
Di lorong-lorong hitam Gedung Joeang, kami pernah berkejar-kejaran dengan polisi dan anjing.
Hingga kemudian hari ia memutuskan untuk menikah dan lahirlah Chaskin. Putri lucunya. Silih berganti hari, bulan, dan kenangan. Ia menjual habis dua gudang berisi kendaraan lalu menolak ke Lombok oleh sebuah promosi atas kinerjanya. Ia memilih masuk arena politik. Satu-dua teman di komunitas menentangnya. Tapi Kats tetap maju. Selanjutnya ia rutin menulis.
Segalanya berubah. Garuda dan Dolphin dijeruji. Tapi apa artinya kebebasan jika tak pernah merasai terkerangkeng? Kemudian ia memutuskan kembali melompati samudera, lalu berkejaran dengan bayang-bayang.
Tahun berjalan membawa kisah kembali ke rumah kopi di sudut jalan dan pelukan siluet pepohonan Kotamobagu. Baginya, di mana ada kopi, alkohol, dan cerita, di situlah persinggahan. Hingga perjalanan membawanya kini menjejak di Pulau Dewata, Bali.
Jika sanak-saudara, handai taulan, berlomba-lomba melirik jarum jam berdentang di angka dua belas (meski yang lainnya lupa karena sibuk dengan 'kedewasaan' masing-masing), saya memilih hari ini untuk mengucapkan selamat hari ulang tahun, Kats (8 Agustus). Tak banyak yang harus saya tulis.
Sulang!! Untuk kebersamaan dan kebebasan!!
Rabu, 05 Agustus 2015
Menu7u Graha Pena
"Saya hanya lulusan SMA."
Ucap itu yang berdenging di telinga, terus dan menerus. SMA, akronim dari Sekolah Menengah Atas yang, kalau standarisasi menjadi wartawan di Jawa Post Group (JPG), SMA memiliki nilai 7-lah. Lumayan tidak aman. Sebab di sini harus sarjana. Bahkan bukan hanya di sini (JPG), Kompas Group, Tempo, lebih harus begitu. Sarjana.
Ingat saya, saat di-interview Fauzi Permata yang sebagai Pemred Radar Bolmong (RB), setahun lalu.
"Di sini memang harus sarjana."
Saya hanya berusaha tetap tegap, namun datang rasa kecil melahap.
Lalu kenapa saya bisa di RB? Jawabannya karena saya bisa menulis. Itu saja. Semua orang memang bisa menulis (lihat daun jatuh, tulis!), Fauzi lantas bertanya apa nama blog di mana tempat saya mencurahkan tinta pena. Saya mengeja Ge-tah Se-mes-ta kala itu. Dicarinya dan dibacai. Pikir saya dalam hati, "Awas kena getah." He-he-he.
Ah, akhirnya saya diterima. Wapemred Firman Toboleu mengangguk pula. Lega saya. Tanya dari Fauzi yang terakhir terdengar tegas.
"Anto' (pakai koma) apakah kamu bisa dan siap menerima sistem yang ada di Radar Bolmong?"
Sepuluh jemari saya saling merangkul di atas paha kanan, lalu kugoyang-goyangkan sedikit untuk menghilangkan gugup. Iya, jawaban saya bakal merubah Sigidad dari wartawan media elektronik di www.lintasbmr.com kemudian ber-nomaden ke www.pilarsulut.com, lalu menjadi wartawan koran harian RB. Terbesar di Bolmong Raya loh. Ini pohon besar, sudah banyak diterpa angin kencang pula. Tapi nyatanya tetap kokoh. Tegar! (sembari mengacung).
Lalu, pelan dan pasti saya menjawab dengan segaris tanya, "Bagaimana saya bisa siap dan menerima sistem yang ada, jika saya belum menjalaninya? Maka saya harus menjalaninya terlebih dahulu!"
Ada seru di situ. Seru itu pertanda semangat yang keras dari Sigidad yang dikenal pemalas.
Saya tercacat sebagai wartawan magang, tepat hari ulang tahun ke-6 RB. Wuih, momen tercatat dengan tepat Sigidad.
Sambil menenteng kamera merek Harry Tri Atmojo (Mas, red), saya mulai jepret sana, jepret sini. Foto-foto lepas jelas Mas. Eh, tersaring dan nangkring di halaman. Bangga saya kala itu, apalagi tercatut nama Anto Radar Bolmong di sana. Akhirnya impian bisa di koran besar tercapai. Impian saya untuk melangkah menjadi JURNALIS.
*
Dalam setiap perusahaan media, jelas ada banyak wartawan. Tapi, mungkin hanya RB yang memiliki satu wartawan perempuan yang aneh bin ajaib. (ukuran dalam jangkau pergaulan dan wilayah perjalanan hidup saya). Namanya Roslely Sondakh. Biasa dipanggil Eling. Kalau di Eropassi (Desa Passi tempat asalku), Eling itu seorang laki-laki. Ha-ha-ha-ha! Padahal Eling ini cantik loh, tole' le.
Terus Sondakh-nya dari mana ya? Tanya yang kerap membikin seteru antara Sondakh Vs Mamonto di dapur redaksi. Pasra Hidayat Mamonto atau si gembul Eges pernah digampar hanya gara-gara ejek-ejekkan marga. Saya memilih lari meski pernah satu dua kali terpaksa meladeni mulut bawelnya Eling. Namun Eling meski sendiri, tak mau kalah dikerubuti Mamonto Cs. Ada Pasrah Hidayat Mamonto, Rusmin Mamonto, Gufran Mamonto, sama Radar Mamonto.
Di kantor, jika Anda mendengar cekikikan seperti kuntilanak beranak, maka itu pertanda Eling telah datang dari berburu berita berdarah-darah. Liputan apa coba? Penjahat, rusuh, cabul, tilang, tikam, bunuh. Ha-ha-ha-ha.... Eling tak mau luput atau bobol berita crime. Jika data kurang; kepalanya tegap, cemas, mata liar, lalu mengisap rokok dengan ritme cepat (wuitttss sensor). "Pemar le!" ketusnya.
Eges pun demikian, tak kalah cemas. Pernah kutanyai, "Eges sudah berapa beritamu?"
Kilat kulit wajahnya yang disapa temaram layar laptop, lusuh menjawab, "Sudah sepuluh." Ha-ha-ha-ha-ha.... Halaman dalam, penugasan, dan berita tambahan. Aih, di dapur redaksi itu kejam bro! Jangan berharap tugasmu selesai, lalu menghilang seperti gaya senyap-senyap mafioso-nya si Muri. Setiap mata, telinga, mulut, menjadi awas. Ada informasi apa saja, Ruuuunnnn Craaabbbbb!! Ruuuunnnn!!
Oh, ya, kita tinggalkan dulu hingar di dapur redaksi. Ngomong soal pendidikan saya yang hanya SMA, Eges dan Eling ini anak kuliahan di Universitas Dumoga Kotamobagu (UDK). Eling sudah diwisuda lalu menyandang sarjana pertanian. Hmmm.... Mau bertani di mana Eling? Bakatmu itu jadi wartawan. Cerewet dan cermat.
Sementara Eges memilih tetap fokus dengan pekerjaan yang, menurutnya bisa mencerahkan masa depannya. Secerah layar ponsel yang kerap digonta-gantinya itu. Android Oppo miliknya malah kini jadi ponsel 'kesombongan' saya saat ini, untuk ber-CoC dengan TH 9 cacat! (nyombong kok pake Oppo, boleh, boleh, Ha-ha-ha-ha). Eges pun akhirnya mengaku ia hanya lulusan SMA, sebab kuliah tak berujung. Sudahlah Eges, terus latih menulis. Pramoedya Ananta Toer saja hanya berakhir di bangku SMP kelas 2 tapi malah dapat gelar doktor.
Terlalu banyak ketawa, sampai lupa saya sudah setahun di RB. 6 Agustus 2008-2015, 7 tahun sudah kiprah RB di bumi Totabuan. Kemudian rindu ini tiba-tiba hadir di kenang dapur redaksi. Rindu kepada mereka yang telah datang dan pergi. Ada Sandi Mokoagow (yang ngajarin Eges menulis berita), Fredi Saripi, Eling dan Ale (cocok disandingkan namanya di undangan nikah), Abdul Melangi Mewangi Sepanjang Hari, Rusmin Mamonto, Aping Manangin. Ada Renal anak iklan yang bercita-cita menjadi wartawan, namun setelah berkesempatan menjadi wartawan, bulat memilih melanjutkan kuliah (sangat konsisten).
Oh, ya, ada Mul Pontororing yang juga suka tertawa bersama di dapur redaksi, rebutan colokan, yang akhirnya ikhlas mengalah karena dia bukan anak negeri, ha-ha-ha, padahal tak perlulah kalimat itu meng-ada, sebab kita semua anak Indonesia (ini cerita fiksi, karangan saya). Jadi ingat lagi Pramoedya Ananta Toer yang paling alergi dengan ego kewilayahan. "Aku bukan Jawa dan ogah berbahasa Jawa. Aku orang Indonesia!"
Jika saya gembungkan ke skala bumi, yah, saya ini anak bumi, jadi tidak ada kata yang mengklaim atau meringkus saya ini sebagai anak pribumi ini dan itu.
Saya (kita) kan, lahir di bumi, bukan? Jadi tidak ada yang namanya penduduk pribumi Aceh atau penduduk pribumi Papua. Kita semua penduduk BUMI MANUSIA.
Oke, terlalu serius, kita teruskan ke CoC, eh, ke Egesnya. Iya, saya dan Mul terkena dampak agitasi propagandanya Eges, yang menyolokkan flash disk ke laptop kami. Akhirnya game CoC menghijau di layar laptop lewat aplikasi android bluestacks. Dengan koneksi internet yang super cepat, saya dan Mul berlomba-lomba siapa yang duluan mentok base, TH, troops, dan lain sebagainya. Kebayang main CoC pakai satu telunjuk atau mouse? Ehu!
Game menjalar ke segala sudut ruang meski hanya di waktu luang. Namanya kerja, harus kerja dulu. Berita selesai, baru bisa main game. Siap Bos! berita usai sudah (tangkis). Kerja keras demi ponsel android, demi main CoC. Ha-ha-ha-ha.
Tak berselang lama, kabar itu datang. Mendebur dada kami saat mendengar, JPG diharuskan memiliki maksimal tiga pewarta yang pure news. Tidak harus ditargetkan ini dan itu. Hanya berita.
Tiga terbaik itu akhirnya diputuskan, Eling, Eges, dan Anto' (Aih, saya euy, saya, Sigidad euy, bangga).
Tes, tes, dan tes, dilakukan Pemred Fauzi dan Wapemred Firman. Pertanyaan demi pertanyaan dilempar. Ha-ha-ha-ha... Sialan! Eling membikin kacau ruang saat 'diinterogasi'. Gelak tawa, muka merah, kepul asap, dan segalanya menebal di ruangan. Tak ada yang tersisa. Hanya kekeluargaan. RB memang telah menjadi keluarga besar kami, seiring dengan tawa-tawa renyah dan geram meledak. Mana berita!! Deadline!! Cepat rapat proyeksi!! Kami sudah terbiasa.
Setelah itu, kami bertiga menunggu. Menunggu. Cemas. Ingin jadi wartawan liputan khusus. Jadi? saling tanya. Kapan? Hingga....
Seminggu kemudian pagi berkabut. Dengan mata merah saya dan Eges terbangun. Ponsel berdering, kami harus berangkat sekarang juga ke Graha Pena Manado. Seluruh anak media Manado Post Group (MPG) sudah datang dari pelosok. Gorontalo Post, Radar Gorontalo, Luwuk Post, Maluku Utara Post sudah tiba. Radar Bolmong masih tidur. Ha-ha-ha. Cusssss!!! Dimodalin Bos!!!
Terlambat!
Radar Bolmong sudah rapor merah, terlambat pula. Namun langkah kece tegap memasuki Graha Pena. Eling jadi penunjuk jalan, sebab ia pernah "divaksin anti rabies" di tempat ini.
Memasuki ruangan di lantai 5, kami tinggal mendengar lentingan materi penghujung. Hingga esok hari materi lanjutan diajarkan, lalu pada hari ketiga kami ditugaskan ke lapangan. Panjang ceritanya. Bisa sebuku.
Tapi begitu leganya, saat liputan Radar Bolmong yang akhirnya terpilih terbaik dan dicetak di Manado Post. Halaman satu coy! Itu bukan tulisan saya, tapi tulisan dari hasil kerja team work kami. Saling tanya antara saya, Eges, Eling, dan kawan-kawan lainnya. Hasil liputan dari tim yang kami namai MaLuBoGo (Maluku Utara Post, Posko Manado, Luwuk Post, Radar Bolmong, dan Gorontalo Post), iya Manado Post, Radar Manado, dan Radar Gorontalo tak ada yang mewakili pelatihan. Ada kredo dari MaLuBoGo yang kurangkai sendiri, akronim pula dari MaLuBoGo, yaitu "Malu bertanya jadi bogo-bogo (bodoh)" Ha-ha-ha.
Usai pelatihan, kami pun dijuluki Kopasus. Pulang dan bertugas sebagai Kopasus memang berat. Liputan kami apa saja asal harus yang meng-etalase.
Setelah itu, bulan, pos liputan, dan tawa silih berganti. Ah, RB. 7 tahun sudah, 1 tahun usai. Kami dibentuk agar bisa saling mengerti, membantu, dan kerjasama. Kini mereka yang datang dan pergi itu meninggalkan kenang. Yang tersisa (capek nyebut satu-satu, banyak nama akun CoC-nya, ha-ha-ha-ha) akan 'Menu7u Graha Pena'.
Happy Anniversary!!
Ah, rindu digebukin Eling dan ditawari ponsel terbaru Eges.
Arah bisa beda, tapi tuju tetap sama. Biarkan pena menuntun kemana tujuan kita. Berbeda ruang, tapi kita masih bisa saling sapa dan ajak, bukan?
"Ayo, kita makan jagung rebus lagi!"
Minggu, 12 Juli 2015
Berbagi Kasih
Saya tak sedang bertutur laku luhur. Bukan pula menebar amal yang, seharusnya lebih terasa ikhlas jika tak disebar. Namun di sini, saya ingin membagi, apa yang menggelinjang dalam dada, setelah kunjung Berbagi Kasih Radar Bolmong, Kepala Unit BRI Boroko Jefri Abbas, bersama komunitas pengajian One Week One Juz (OWOJ) yang dinakhodai Sakti.
Ini keping demi keping kisah yang, sepatutnya menjadi cermin, bahwa beterima-kasihlah kepada mereka yang tak berpunya. Sebab jika hidup ini dipenuhi orang berpunya, apalagi arti berbagi.
Kisah bermula dari gubuk yang didiami seorang Babay (bahasa lokal Bolmut, sebutan untuk nenek), yang pertama kali kami kunjungi. Sesuai deretan daftar penerima sembako, rata-rata memang mereka yang uzur. Kakay (kakek) telah di pusara.
Dari sebagian penerima yang terdiri dari 15 orang. Beberapa di antaranya, cukup memprihatinkan. Yang melekat di relung, yakni Babay Mitu di Desa Kuala Utara Kecamatan Kaidipang, Bolmut. Babay ini penderita tunarungu. Meski renta, kepulan asap masih me-rajawali di atas kepala berubannya, di tengah temaram bohlam. Setelah sadar ia kedatangan tamu, kursi-kursi ia rapikan. Rokok di jemari keriputnya bergegas direbahkannya ke asbak. Tak jelas apa yang dikatakannya saat menyambut. Kami pun diberitahu salah satu anggota komunitas OWOJ. Babay ini tak bisa mendengar. Bicaranya pun terganggu.
Kemudian gestur dan suara tetap berusaha kami nyaringkan, mengisyaratkan paket sembako ini untuk Babay. Bungkusan ia rengkuh dengan rengsa. Dipaksa dibuka. Kami hanya terus mengawasi. Setelah dibantu membuka simpul lapis pertama bungkusan. Ia memaksa merobek lapisan kedua. Kami heran, entah apa yang akan dilakukan Babay.
Setelah sobek menganga, Babay menyentuh isi bungkusan. Hanya menyentuh. Lalu lengan hitam legam berkerut itu menengadah dengan kedua telapak tangan terbuka. Babay berdoa. Rapal yang entah. Saya baru sadar, ia hanya ingin menyentuh isi bungkusan untuk melanjutkan puja ke Yang Kuasa. Jauh menembus langit-langit rumahnya yang reyot. Kemudian menggetarkan semesta.
Jabat tangannya mengusai sudah pertemuan. Di dalam mobil, Pak Jefri hanya singkat berujar.
"Doanya itu yang membuat meteor-meteor jatuh ke bumi."
Kalimat itu terlontar begitu saja. Selanjutnya, kunjung bergulir ke Babay dan Kakay lainnya. Di dalam mobil, saya hanya bisa tercenung. Mungkin itulah ucap Bung Karno; Tuhan bersemayam di gubuknya orang miskin. Tapi saya tidak mendengar ada suara Tuhan di gubuk Babay Mitu.
Di gubuk berikutnya, satu lagi, kami dipertemukan dengan Babay yang namanya lupa kutanyai kepada Sakti. Babay ini penderita tunanetra. Ia memohon maaf sebab tak bisa mengenali kami. Ada nada sesal merangkul tutur katanya. Kemudian sebait doa ia rapalkan. Di gubuk ini, saya pun tak melihat Tuhan yang, katanya sedang bersemayam di sini.
Pamit untuk melanjutkan kunjungan, Babay terus berterima-kasih, sampai langkah kami melewati pekarangannya.
Kembali di dalam mobil saya termenung. Di gubuk tunarungu saya tak mendengar suara Tuhan di sana. Di gubuk tunanetra pun saya tidak melihat Tuhan. Bukan keimanan dalam diri saya, yang sedang saya pertanyakan. Tapi iman yang bersemayam dalam diri kedua Babay itu.
Babay Mitu bukan hanya tak pernah mendengar kabar tentang keberadaan Tuhan, agar imannya teguh. Ia tak pernah bisa mendengar sabda. Sama seperti Babay penderita tunanetra, yang tak pernah bisa menyaksikan alam semesta, apalagi keberadaan Tuhan agar imannya kokoh.
Cinta itu... cinta tanpa pernah mendengar keindahan sabda dan ayat-ayat suci. Cinta tanpa pernah melihat rupa. Cinta mulia Babay kepada Tuhan.
Tuhan memang sedang bersemayam dalam lapuk tiang kayu gubuk kalian.
Tidak dalam megah bangunan masjid bermarmer italia.
Terima-kasih telah berbagi kasih dan cinta Babay. Kepada Tuhan.
Ini keping demi keping kisah yang, sepatutnya menjadi cermin, bahwa beterima-kasihlah kepada mereka yang tak berpunya. Sebab jika hidup ini dipenuhi orang berpunya, apalagi arti berbagi.
Kisah bermula dari gubuk yang didiami seorang Babay (bahasa lokal Bolmut, sebutan untuk nenek), yang pertama kali kami kunjungi. Sesuai deretan daftar penerima sembako, rata-rata memang mereka yang uzur. Kakay (kakek) telah di pusara.
Dari sebagian penerima yang terdiri dari 15 orang. Beberapa di antaranya, cukup memprihatinkan. Yang melekat di relung, yakni Babay Mitu di Desa Kuala Utara Kecamatan Kaidipang, Bolmut. Babay ini penderita tunarungu. Meski renta, kepulan asap masih me-rajawali di atas kepala berubannya, di tengah temaram bohlam. Setelah sadar ia kedatangan tamu, kursi-kursi ia rapikan. Rokok di jemari keriputnya bergegas direbahkannya ke asbak. Tak jelas apa yang dikatakannya saat menyambut. Kami pun diberitahu salah satu anggota komunitas OWOJ. Babay ini tak bisa mendengar. Bicaranya pun terganggu.
Kemudian gestur dan suara tetap berusaha kami nyaringkan, mengisyaratkan paket sembako ini untuk Babay. Bungkusan ia rengkuh dengan rengsa. Dipaksa dibuka. Kami hanya terus mengawasi. Setelah dibantu membuka simpul lapis pertama bungkusan. Ia memaksa merobek lapisan kedua. Kami heran, entah apa yang akan dilakukan Babay.
Setelah sobek menganga, Babay menyentuh isi bungkusan. Hanya menyentuh. Lalu lengan hitam legam berkerut itu menengadah dengan kedua telapak tangan terbuka. Babay berdoa. Rapal yang entah. Saya baru sadar, ia hanya ingin menyentuh isi bungkusan untuk melanjutkan puja ke Yang Kuasa. Jauh menembus langit-langit rumahnya yang reyot. Kemudian menggetarkan semesta.
Jabat tangannya mengusai sudah pertemuan. Di dalam mobil, Pak Jefri hanya singkat berujar.
"Doanya itu yang membuat meteor-meteor jatuh ke bumi."
Kalimat itu terlontar begitu saja. Selanjutnya, kunjung bergulir ke Babay dan Kakay lainnya. Di dalam mobil, saya hanya bisa tercenung. Mungkin itulah ucap Bung Karno; Tuhan bersemayam di gubuknya orang miskin. Tapi saya tidak mendengar ada suara Tuhan di gubuk Babay Mitu.
Di gubuk berikutnya, satu lagi, kami dipertemukan dengan Babay yang namanya lupa kutanyai kepada Sakti. Babay ini penderita tunanetra. Ia memohon maaf sebab tak bisa mengenali kami. Ada nada sesal merangkul tutur katanya. Kemudian sebait doa ia rapalkan. Di gubuk ini, saya pun tak melihat Tuhan yang, katanya sedang bersemayam di sini.
Pamit untuk melanjutkan kunjungan, Babay terus berterima-kasih, sampai langkah kami melewati pekarangannya.
Kembali di dalam mobil saya termenung. Di gubuk tunarungu saya tak mendengar suara Tuhan di sana. Di gubuk tunanetra pun saya tidak melihat Tuhan. Bukan keimanan dalam diri saya, yang sedang saya pertanyakan. Tapi iman yang bersemayam dalam diri kedua Babay itu.
Babay Mitu bukan hanya tak pernah mendengar kabar tentang keberadaan Tuhan, agar imannya teguh. Ia tak pernah bisa mendengar sabda. Sama seperti Babay penderita tunanetra, yang tak pernah bisa menyaksikan alam semesta, apalagi keberadaan Tuhan agar imannya kokoh.
Cinta itu... cinta tanpa pernah mendengar keindahan sabda dan ayat-ayat suci. Cinta tanpa pernah melihat rupa. Cinta mulia Babay kepada Tuhan.
Tuhan memang sedang bersemayam dalam lapuk tiang kayu gubuk kalian.
Tidak dalam megah bangunan masjid bermarmer italia.
Terima-kasih telah berbagi kasih dan cinta Babay. Kepada Tuhan.
Sabtu, 11 Juli 2015
Congkak Dipilin Kumi(s)
SIAPA yang tak kenal congkak? Saya sendiri baru sadar dan kerap salah sangka, ejaan kata congkak (jenis permainan tradisional) ternyata ‘bukan congklak’.
Jadi ada dua kata sama tapi beda arti. Congkak yang satu adalah sifat dan kelakuan orang; merasa dan bertindak dengan memperlihatkan diri sangat mulia. Atau sikap pongah dan angkuh. Sedangkan congkak yang satunya lagi; adalah permainan dari kulit lokan. Bentuknya seperti perahu dan berlubang-lubang. Di masa ketika saya adalah bocah berleleh ingus, gemar melantak tanah pekarangan, dilubangi satu persatu, lalu dijejali kerikil.
Apa hubungan permainan ini dengan sikap congkak (pongah)? Jelas ada. Seringkali kita menjadi congkak, saat meraup kerikil atau biji dengan jumlah yang banyak secara simultan. Sedangkan lawan yang dianggap kurang beruntung, harus pasrah dengan kerikilnya yang jatuh ke lubang kosong. Atau berakhir di nganga lubang lawan.
Sekadar menarik ingatan, saya pernah bersikap congkak—ketika main congkak—di depan lawan. Bahkan sembari memberi ledekan ketika seluruh kerikil yang menggunung di lubang, kuraup dengan pongah. Tentu berharap agar lawan panas.
Permainan berjalan, terus jalan..terus…terus… jalan terus, lalu keadaan berbalik. Saya kalah. Satu pelajaran yang saya tarik; tak perlu congkak saat bermain congkak.
Nah, pengalaman masa kecil ini hendak saya tarik ke nuansa politik terkini di Boltim. Ya, sudah pada tahu bukan? Tentang Eyang (Sehan Landjar) dan Alul (Sam Sachrul Mamonto). Ada apa dengan mereka? Jelas kita tahu, apa yang tengah menjadi isu hangat dan memanas sepekan ini.
Alul yang sebelumnya telah menggenggam puluhan kerikil, harus berakhir di lubang kosong. Penyebabnya adalah surat nomor 136 Tertanggal 6 Juni 2015, yang ditanda-tangani Asman Absur. Isinya apa? Adalah kandasnya impian Alul berpasangan dengan Medi Lensun sebagai pasangan Calon Bupati – Wakil Bupati Boltim.
Dalam berpolitik, sikap congkak kadang merepotkan. Selain melahirkan blunder, terkadang kita tidak pernah tahu, nasib apa yang akan membawa kita ke lubang yang sama, meski dengan keadaan berbeda; lubang berisi atau lubang kosong.
Dedy Dolot (Dedol) Wasekjen DPP PAN, tak mungkin tak panas oleh pernyataan Alul di Harian Komentar, Rabu 1 Juli 2015, Kolom Totabuan (Hanya nama Sachrul Diusulkan ke DPP, PAN Boltim Dituding Bohongi Kandidat). Di situ Dedol membenarkan. “Hanya nama Sachrul yang diusulkan ke DPP,” kata Dedol sebagaimana dilansir Harian Komentar.
Setelah sebelumnya berkacak pinggang, sebab posisinya sebagai Wasekjen itu, eh, pasti panas ketika jabatan strategisnya dienteng-pandang lewat pernyataan Alul di Komentar.
“Jadi ada sepuluh nama yang mendaftar sebagai bakal calon. Lima di antaranya adalah lima calon bupati dan sisanya calon wakil bupati. Kesemuanya kita pleno dan diserahkan ke tim penjaringan Pilkada DPD hingga DPP PAN,” kata Alul sebagaimana kepada Komentar.
Masih menurut Alul dalam pemberitaan itu, Dedol sendiri tidak memiliki kapasitas memberikan penjelasan terkait rekom, siapa yang akan didorong PAN.
“Karena kapasitas Dedi sendiri bukan bagian dari tim pemenangan pilkada DPP PAN. Yang pasti persetujuan calon bupati usulan partai sudah ada. Tidak perlu dipolemikkan,” kata Alul.
Nah, bagaimana rasa dan suasana hati Dedol selaku Wasekjen DPP PAN dikatai begitu? Ah, entahlah.
Selanjutnya, saya membaca kabar media, terkait pernyataan Dedol; keputusan Tim Pilkada DPP PAN (merekomendasikan Eyang dan Rusdi) karena ingin menang di Pilkada. Maka peluang yang manalagi yang hendak didustakan? Setelah seteru politik di partai atau se-partai di ibukota, berimbas pada lubang-lubang kecil. Akan selalu begitu.
Eyang sendiri sebagai petahana, sembari memilin kumi(s), harus tertawa lebar. Syaraf dan insting politiknya, terus digelitik. Baginya ini bukan konflik, tapi inilah politik. Eyang mungkin tak sedang menggenggam buku Machiavelli sebagai hand book (buku pegangan). Namun di sini, jelas terpatri, Eyang memang seorang politikus handal yang melumat habis ‘lembar demi lembar buku berisi teori Machiavelli’. Dalam berpolitik, bagi sebagian orang sikap licik itu halal. Tak ada ‘moral’ di sana. Tak ada pula sikap ‘belas kasih’. Setiap peluang adalah celah di mana seberkas cahaya menyelinap. “Seorang penguasa yang ingin tetap berkuasa dan memperkuat kekuasaannya, haruslah menggunakan tipu muslihat, licik dan dusta, digabung dengan penggunaan kekejaman dan kekuatan," demikian sabda Machiavelli.
Di sini saya hendak menegaskan, bukan Eyang yang sedang bersikap licik, namun politik itulah yang licik. Atau harus dengan pertimbangan moral, merampas kerikil-kerikil dalam lubang lawannya itu salah. Politik itu serupa permainan congkak. Silakan Anda meraup. Sebab begitulah aturannya. Tapi di sini, ada yang sedang bersikap congkak rupanya.
Alurnya secara simultan bisa digambarkan seperti ini; Aljufri Mamonto protes soal penjaringan bakal calon Bupati Boltim oleh DPD PAN Boltim. Kenapa? Karena menurutnya, hasil yang dikirim (rekom) mengesampingkan mekanisme. Hanya nama Alul yang dikirim ke DPP PAN. Nah, dalam satu partai pun, harus seperti main congkak. Kita harus punya, setidaknya sanding yang lain.
Tentu Dedol heran, kenapa hanya nama itu yang dikirim. Padahal, saat penjaringan sejumlah nama calon terjaring, termasuk penulis ‘Nalar Bengkok’. Tapi kenapa nama Medi Lensun (bukan PAN) yang terekom? Lalu dari PAN hanya Alul? Tak ada nama lain. Dedol mempertanyakan itu. Alul malah nekat ‘menganggap remeh’ Dedol selaku Wasekjen DPP PAN yang katanya tak punya kapasitas soal urusan siapa direkom DPP PAN untuk bertarung dalam Pilkada Boltim.
Sikap congkak mulai nampak di sini. Apa ada informasi Dedol adalah Wasekjen DPP PAN yang bukan bagian dari tim Pilkada PAN? Dedol selaku anak Mongondow yang berhasil menduduki posisi strategis di DPP, dengan tenang, tetap mengikuti ritme permainan. Yang akhirnya bulat menilai sebulat palung congkak. Alul adalah sosok arogan yang tak punya etika organisasi. Belakangan Dedol dan Tim Pilkada DPP PAN akhirnya memutuskan, Alul tak pantas. Entah karena congkak atau apalah, tak tahu.
Maka dicarilah orang yang pantas ‘dijual’. Tapi siapa? nama Ahmad Alheid si penulis ‘Nalar Bengkok’ sempat dikocok. Tapi entah kenapa gugur.
Eyang yang lagi menahan haus puasa, sembari membaca koran nasional; kring, kring, kring... ponsel berdering. Rupanya dari DPP PAN: Siap maju di PAN? Eyang yang tak lain adalah politisi dengan berbagai predikat tertanam untuknya, sembari memilin kumi(s) dengan cepat bergumam; hmm sudah kuduga.
Empat buah kerikil di tangan Alul, jauh melewati lubang inti, menuju lubang Eyang. Mati.
Eyang meraup kerikil ‘estafet’. Pada akhirnya, politik PAN, memang seperti permainan congkak.
Jadi ada dua kata sama tapi beda arti. Congkak yang satu adalah sifat dan kelakuan orang; merasa dan bertindak dengan memperlihatkan diri sangat mulia. Atau sikap pongah dan angkuh. Sedangkan congkak yang satunya lagi; adalah permainan dari kulit lokan. Bentuknya seperti perahu dan berlubang-lubang. Di masa ketika saya adalah bocah berleleh ingus, gemar melantak tanah pekarangan, dilubangi satu persatu, lalu dijejali kerikil.
Apa hubungan permainan ini dengan sikap congkak (pongah)? Jelas ada. Seringkali kita menjadi congkak, saat meraup kerikil atau biji dengan jumlah yang banyak secara simultan. Sedangkan lawan yang dianggap kurang beruntung, harus pasrah dengan kerikilnya yang jatuh ke lubang kosong. Atau berakhir di nganga lubang lawan.
Sekadar menarik ingatan, saya pernah bersikap congkak—ketika main congkak—di depan lawan. Bahkan sembari memberi ledekan ketika seluruh kerikil yang menggunung di lubang, kuraup dengan pongah. Tentu berharap agar lawan panas.
Permainan berjalan, terus jalan..terus…terus… jalan terus, lalu keadaan berbalik. Saya kalah. Satu pelajaran yang saya tarik; tak perlu congkak saat bermain congkak.
Nah, pengalaman masa kecil ini hendak saya tarik ke nuansa politik terkini di Boltim. Ya, sudah pada tahu bukan? Tentang Eyang (Sehan Landjar) dan Alul (Sam Sachrul Mamonto). Ada apa dengan mereka? Jelas kita tahu, apa yang tengah menjadi isu hangat dan memanas sepekan ini.
Alul yang sebelumnya telah menggenggam puluhan kerikil, harus berakhir di lubang kosong. Penyebabnya adalah surat nomor 136 Tertanggal 6 Juni 2015, yang ditanda-tangani Asman Absur. Isinya apa? Adalah kandasnya impian Alul berpasangan dengan Medi Lensun sebagai pasangan Calon Bupati – Wakil Bupati Boltim.
Dalam berpolitik, sikap congkak kadang merepotkan. Selain melahirkan blunder, terkadang kita tidak pernah tahu, nasib apa yang akan membawa kita ke lubang yang sama, meski dengan keadaan berbeda; lubang berisi atau lubang kosong.
Dedy Dolot (Dedol) Wasekjen DPP PAN, tak mungkin tak panas oleh pernyataan Alul di Harian Komentar, Rabu 1 Juli 2015, Kolom Totabuan (Hanya nama Sachrul Diusulkan ke DPP, PAN Boltim Dituding Bohongi Kandidat). Di situ Dedol membenarkan. “Hanya nama Sachrul yang diusulkan ke DPP,” kata Dedol sebagaimana dilansir Harian Komentar.
Setelah sebelumnya berkacak pinggang, sebab posisinya sebagai Wasekjen itu, eh, pasti panas ketika jabatan strategisnya dienteng-pandang lewat pernyataan Alul di Komentar.
“Jadi ada sepuluh nama yang mendaftar sebagai bakal calon. Lima di antaranya adalah lima calon bupati dan sisanya calon wakil bupati. Kesemuanya kita pleno dan diserahkan ke tim penjaringan Pilkada DPD hingga DPP PAN,” kata Alul sebagaimana kepada Komentar.
Masih menurut Alul dalam pemberitaan itu, Dedol sendiri tidak memiliki kapasitas memberikan penjelasan terkait rekom, siapa yang akan didorong PAN.
“Karena kapasitas Dedi sendiri bukan bagian dari tim pemenangan pilkada DPP PAN. Yang pasti persetujuan calon bupati usulan partai sudah ada. Tidak perlu dipolemikkan,” kata Alul.
Nah, bagaimana rasa dan suasana hati Dedol selaku Wasekjen DPP PAN dikatai begitu? Ah, entahlah.
Selanjutnya, saya membaca kabar media, terkait pernyataan Dedol; keputusan Tim Pilkada DPP PAN (merekomendasikan Eyang dan Rusdi) karena ingin menang di Pilkada. Maka peluang yang manalagi yang hendak didustakan? Setelah seteru politik di partai atau se-partai di ibukota, berimbas pada lubang-lubang kecil. Akan selalu begitu.
Eyang sendiri sebagai petahana, sembari memilin kumi(s), harus tertawa lebar. Syaraf dan insting politiknya, terus digelitik. Baginya ini bukan konflik, tapi inilah politik. Eyang mungkin tak sedang menggenggam buku Machiavelli sebagai hand book (buku pegangan). Namun di sini, jelas terpatri, Eyang memang seorang politikus handal yang melumat habis ‘lembar demi lembar buku berisi teori Machiavelli’. Dalam berpolitik, bagi sebagian orang sikap licik itu halal. Tak ada ‘moral’ di sana. Tak ada pula sikap ‘belas kasih’. Setiap peluang adalah celah di mana seberkas cahaya menyelinap. “Seorang penguasa yang ingin tetap berkuasa dan memperkuat kekuasaannya, haruslah menggunakan tipu muslihat, licik dan dusta, digabung dengan penggunaan kekejaman dan kekuatan," demikian sabda Machiavelli.
Di sini saya hendak menegaskan, bukan Eyang yang sedang bersikap licik, namun politik itulah yang licik. Atau harus dengan pertimbangan moral, merampas kerikil-kerikil dalam lubang lawannya itu salah. Politik itu serupa permainan congkak. Silakan Anda meraup. Sebab begitulah aturannya. Tapi di sini, ada yang sedang bersikap congkak rupanya.
Alurnya secara simultan bisa digambarkan seperti ini; Aljufri Mamonto protes soal penjaringan bakal calon Bupati Boltim oleh DPD PAN Boltim. Kenapa? Karena menurutnya, hasil yang dikirim (rekom) mengesampingkan mekanisme. Hanya nama Alul yang dikirim ke DPP PAN. Nah, dalam satu partai pun, harus seperti main congkak. Kita harus punya, setidaknya sanding yang lain.
Tentu Dedol heran, kenapa hanya nama itu yang dikirim. Padahal, saat penjaringan sejumlah nama calon terjaring, termasuk penulis ‘Nalar Bengkok’. Tapi kenapa nama Medi Lensun (bukan PAN) yang terekom? Lalu dari PAN hanya Alul? Tak ada nama lain. Dedol mempertanyakan itu. Alul malah nekat ‘menganggap remeh’ Dedol selaku Wasekjen DPP PAN yang katanya tak punya kapasitas soal urusan siapa direkom DPP PAN untuk bertarung dalam Pilkada Boltim.
Sikap congkak mulai nampak di sini. Apa ada informasi Dedol adalah Wasekjen DPP PAN yang bukan bagian dari tim Pilkada PAN? Dedol selaku anak Mongondow yang berhasil menduduki posisi strategis di DPP, dengan tenang, tetap mengikuti ritme permainan. Yang akhirnya bulat menilai sebulat palung congkak. Alul adalah sosok arogan yang tak punya etika organisasi. Belakangan Dedol dan Tim Pilkada DPP PAN akhirnya memutuskan, Alul tak pantas. Entah karena congkak atau apalah, tak tahu.
Maka dicarilah orang yang pantas ‘dijual’. Tapi siapa? nama Ahmad Alheid si penulis ‘Nalar Bengkok’ sempat dikocok. Tapi entah kenapa gugur.
Eyang yang lagi menahan haus puasa, sembari membaca koran nasional; kring, kring, kring... ponsel berdering. Rupanya dari DPP PAN: Siap maju di PAN? Eyang yang tak lain adalah politisi dengan berbagai predikat tertanam untuknya, sembari memilin kumi(s) dengan cepat bergumam; hmm sudah kuduga.
Empat buah kerikil di tangan Alul, jauh melewati lubang inti, menuju lubang Eyang. Mati.
Eyang meraup kerikil ‘estafet’. Pada akhirnya, politik PAN, memang seperti permainan congkak.
Jumat, 26 Juni 2015
Ramadhan dan Kenakalan
Masa kanak-kanak memang berharga, penuh keajaiban yang nantinya akan terkikis kala kita beranjak remaja, dewasa, kemudian menjadi kepala rumah tangga, lalu menua.
Masa childhood (kanak-kanak) penuh kenang. Apalagi di momen bulan suci Ramadhan kali ini, meme-meme kreatif seliweran. Di antaranya, mungkin sebagai penghubung ingat, bahwa masa childhood kita, kerap memiliki kenangan yang serupa.
Di sosial media (sosmed) seperti Facebook, Twitter, Path, juga di BBM, seringkali meme lucu itu muncul bergiliran mengundang tawa. Kenakalan di bulan Ramadhan, memang patut dikekalkan di ingatan.
Siapa yang pernah begini saat bulan Ramadhan?
Membeli sendal jepit Yeye lalu diukirlah nama, biar usai sholat tarawih tidak tertukar. Atau membeli paku payung, lalu menancapkanya di sekeliling sendal, sebagai penanda kita ini anak metal.
Siapa juga yang pernah seperti ini?
Membawa gembok kecil, lalu menggembok sepasang sendal milik teman. Atau menyembunyikan sendal di semak belukar, dijepitkan di pagar, dan yang paling ampuh diletakkan tepat di bawah sajadah, untuk menjaga dari sepak ratusan pasang kaki jemaat usai tarawih. Bahkan, lubang menganga di beduk, jadi tempat persembunyian paling aman. Saat ruku', peci kita jatuh, lalu saat sujud, kepala ditancapkan tepat di nganga peci. Ha-ha-ha-ha....
Masa childhood (kanak-kanak) penuh kenang. Apalagi di momen bulan suci Ramadhan kali ini, meme-meme kreatif seliweran. Di antaranya, mungkin sebagai penghubung ingat, bahwa masa childhood kita, kerap memiliki kenangan yang serupa.
Di sosial media (sosmed) seperti Facebook, Twitter, Path, juga di BBM, seringkali meme lucu itu muncul bergiliran mengundang tawa. Kenakalan di bulan Ramadhan, memang patut dikekalkan di ingatan.
Siapa yang pernah begini saat bulan Ramadhan?
Membeli sendal jepit Yeye lalu diukirlah nama, biar usai sholat tarawih tidak tertukar. Atau membeli paku payung, lalu menancapkanya di sekeliling sendal, sebagai penanda kita ini anak metal.
Siapa juga yang pernah seperti ini?
Membawa gembok kecil, lalu menggembok sepasang sendal milik teman. Atau menyembunyikan sendal di semak belukar, dijepitkan di pagar, dan yang paling ampuh diletakkan tepat di bawah sajadah, untuk menjaga dari sepak ratusan pasang kaki jemaat usai tarawih. Bahkan, lubang menganga di beduk, jadi tempat persembunyian paling aman. Saat ruku', peci kita jatuh, lalu saat sujud, kepala ditancapkan tepat di nganga peci. Ha-ha-ha-ha....
Di Masjid Ar-Rahman Desa Passi, tempat di mana masa kecil nan sholeh saya tertoreh, keusilan tingkat ekstrem saat sholat tarawih, menjadi kegirangan tersendiri, namun seringkali menjadi pangkal tengkar. Misalnya, saat sujud, pantat nungging teman jadi sasaran empuk tangan jahil. Dua telapak tangan disatukan seperti Buddha tengah merapal tutur kebajikan. Bentuk telapak tangan serupa piramida dihunuskan tepat di lubang pantat. Aiiihhh!!! Ingat Naruto?
Ini jurus melarikan diri paling ampuh, saat semua jemaat sujud, waktunya untuk bergegas pergi. Kabur! Ha-ha-ha....
Mungkin teman-teman di Eropassi (Passi) masih ingat pula. Salah satu teman kakak saya, memiliki trik-trik unik untuk membikin kelucuan. Sengaja dikantonginya kacang rebus, lalu ditaburkannya tepat di depan kerumunan bocah yang tengah bersedekap sholat. Rebutan. Tawa pun menggema.
Trik lainnya, foto Mandra di bungkus penyedap masakan Ajinomoto, saat jemaat tengah menyempurnakan ruku', diletakkannya tepat di atas sajadah. Astagfirullah!!! Tawa lepas!!!
Ramadhan dan kenakalan memang erat. Bahkan usai sholat tarawih, masih saja keusilan itu hadir.
Siapa yang pernah?
Menggelung ujung sajadah, kemudian melecutkannya ke arah teman. Atau origami sajadah, dengan lipatan membikin perahu, lalu dijadikan topi. Ada pula ujung sajadah teman saling dikaitkan dengan sajadah lainnya.
Saat sholat subuh pun, kenakalan masih di sana. Mukena milik perempuan dipinjam, lalu dipakai. Eh, dengan modus bisa menggandeng teman perempuan yang ditaksir. Ha-ha-ha.... Modus dosis tinggi!
Masih banyak lagi kenakalan yang bisa digali!!
Ah, masa kanak-kanak memang penuh keajaiban. Bulan suci Ramadhan menjadi pengekal keajaiban-keajaiban itu. Kenakalan-kenakalan polos, yang akhirnya mendidik kita, menjadi manusia merdeka!
Jangan pernah dewasa!!!
Trik lainnya, foto Mandra di bungkus penyedap masakan Ajinomoto, saat jemaat tengah menyempurnakan ruku', diletakkannya tepat di atas sajadah. Astagfirullah!!! Tawa lepas!!!
Ramadhan dan kenakalan memang erat. Bahkan usai sholat tarawih, masih saja keusilan itu hadir.
Siapa yang pernah?
Menggelung ujung sajadah, kemudian melecutkannya ke arah teman. Atau origami sajadah, dengan lipatan membikin perahu, lalu dijadikan topi. Ada pula ujung sajadah teman saling dikaitkan dengan sajadah lainnya.
Saat sholat subuh pun, kenakalan masih di sana. Mukena milik perempuan dipinjam, lalu dipakai. Eh, dengan modus bisa menggandeng teman perempuan yang ditaksir. Ha-ha-ha.... Modus dosis tinggi!
Masih banyak lagi kenakalan yang bisa digali!!
Ah, masa kanak-kanak memang penuh keajaiban. Bulan suci Ramadhan menjadi pengekal keajaiban-keajaiban itu. Kenakalan-kenakalan polos, yang akhirnya mendidik kita, menjadi manusia merdeka!
Jangan pernah dewasa!!!
Kamis, 04 Juni 2015
Maling Kolam Ikan
Kolam ikan membentang luas di pekarangan belakang rumahku. Tampak sesekali mulut ikan mas ukuran besar, menguap di kulit air. Gelembung-gelembung pecah serupa balon di pesta ulang tahun. Lalu ikan itu kembali menyelam.
Kugetarkan senar pancing, jatuh menembus air keruh. Tak lama, senar menegang kencang, lantas kutarik galah pancing yang terbuat dari bambu, sekuat tenaga. Ikan mujair dengan piercing mata kail di ujung bibir—menembus bola mata—melayang di udara. Sirip punggungnya mengencang. Jadilah ikan itu serupa anak punk dengan rambut mohawk. Sangar.
Setelah diayunkan menuju ember penampung. Ikan mujair itu menggelepar, tak pasrah. Ikan itu mencoba melompati dinding ember, namun tak berdaya. Ember itu memenjara.
Umpan kembali kulemparkan. Sekali lagi, ikan mas itu bermain dengan udara di atas kulit air. Ujung mata kail yang mengait umpan cacing, kudekatkan ke mulutnya. Namun ikan mas itu hanya mengerling, lalu menyelam lagi, ada sisa kilatan cahaya di punggung kuningnya berpendar. Aku pikir, kenapa hanya ikan-ikan kecil di bawah air keruh, yang berhasil kukail. Ikan mas itu sudah terlalu akrab dengan mata kail. Mungkin.
"Sigid, sudah berapa ikanmu?" tanya suara serak dari arah belakang. Kaget, saat suara itu pertama kali menyebut namaku. Kutengok, ternyata Ifien datang bersama Siman. Ifien meski perempuan, namun suaranya berat. Mungkin karena Ifien perokok berat.
"Lima ekor mujair Yen," sahutku, dengan sapa Yen, nama akrabnya Ifien. Nama kereta apinya Ivana Fienringli Mubara. Setelah disusutkan menjadi Ifien, tapi lebih renyah dipanggil Yen.
"Kail saja ikan mas berpunggung kuning itu," saran Siman.
"Ah, ikan itu sudah terbiasa Sim. Sulit dikail, tapi bisanya dijala," kataku kepada Siman, yang juga punya nama tersusut, Sim. Nama panjangnya, Simanwil Rianda.
Cacing kembali kukaitkan, lalu terjun bebas ke dalam kolam.
"Harus punya umpan khusus kalau ikan mas Gid," saran kedua Siman. Ikan mas ini tak suka cacing, kata Siman. Lebih doyan roti atau semacam adonan tepung. Yang jelas, umpannya punya standar kekhususan.
Siman lantas mengeluarkan sebungkus roti dari kantong celananya.
Blup. Umpan roti menyelam. Senar mengencang. Kulit air sobek sana-sini. Tangkapan besar, pikirku.
"Tarik Sim, tarik!" teriak Ifien senada denganku.
Siman berujar menggurui, "Sabar! Harus dibikin lelah dulu, biarkan ikannya jalan kesana-kemari sampai capek."
Sepuluh menit, ikan berpunggung kuning menyembul ke permukaan. Senyum Siman mengembang.
"Tuh! Kan, apa kataku!" Siman bangga.
Setelah sempat melayang beberapa detik di udara, ikan mas itu mendarat di dalam ember. Ifien bergegas lalu menarik perlahan mata kail yang, tersangkut di bagian mulut, hampir menembus ujung kulit kepala.
"Lepas lagi Sim," pinta Ifien. Sayang juga ia sama ikan mas itu.
"Tapi sayang juga kalau dilepas nanti, mata kailnya hampir menembus kulit kepala. Ini ikan bisa radang otak nanti," canda Ifien sedikit bimbang, yang digagapi Siman dengan tawa.
"Ah, macam penyakit ala pejabat korup saja," tukasku.
"Dilepas saja, kasihan," pinta ifien. Sedangkan Siman, hanya terpaku.
Sejurus kemudian, Siman berkata, "Sebenarnya, saya juga tidak doyan makan ikan mas."
"Emang kamu sodaraan sama ni ikan. Harus banyak makan ikan ginian Sim. Ah, pantas badanmu tak gemuk-gemuk," ejek Ifien, sambil mengangkat kaos lalu memperlihatkan perut buncitnya. Tingkah Ifien serupa lelaki. Tomboi.
Aku sedari tadi, asyik menyimak dialog antara Ifien dan Siman. Dalam hati, dua kawanku ini, sebenarnya doyan ikan mas atau tidak.
"Eh, kalian berdua ini suka makan ikan mas?"
"Saya doyan sih, tapi kalau lagi dapat tangkapan saja," ujar Ifien.
Suara Siman tiba-tiba mengeras, "Saya No!"
"Yah, sudah, dilepas saja. Mudah-mudahan tak sampai radang otak," pasrahku.
Hari mulai petang. Kami bergegas meninggalkan pematang kolam. Siman dan Ifien, setelah pamit ke ayah dan ibu, keduanya berboncengan pulang.
Bau amis di telapak tangan, masih kubaui. Amis ikan mas dan mujair hampir sama. Meski setiap saat ikan-ikan itu mandi.
Usai mandi, aku masih melangkah ke pekarangan belakang. Matahari memucuk di batas desa. Langit layung, cicit burung, dan dengung serangga, menghantar senja menuju malam.
Ajak ibu untuk makan menggema di rumah yang, berpenghuni tiga manusia. Makan malam terhidang di atas meja. Lima ekor ikan mujair terbujur di atas piring, berselimut potongan tomat, cabai, dan bawah merah. Lauknya cukup untuk aku, ayah, dan ibu. Keluarga sederhana memang. Ayahku seorang kepala desa, ibuku guru, dan aku anak kuliahan.
"Sehabis makan, bawaannya ngantuk," kemudian aku pamit menuju kamar. Terlelap dalam hitungan menit.
"Maliiiiiinnnnggggg!!!!!"
Teriak itu menghentakkanku dari atas kasur. Kupikir, tidurku baru sepersekian detik. Bergegas kudatangi asal suara. Ibu, ayah, beberapa orang tetangga berdatangan menggenggam obor. Ada maling yang membobol kolam ikan. Anehnya, ikan mas berpunggung kuning, tersisa menjadi bangkai di atas lumpur. Kutengok arloji di lengan. Pukul tiga pagi. Dosa apa yang kau perbuat wahai ikan? Bahkan, maling pun enggan.
Kugetarkan senar pancing, jatuh menembus air keruh. Tak lama, senar menegang kencang, lantas kutarik galah pancing yang terbuat dari bambu, sekuat tenaga. Ikan mujair dengan piercing mata kail di ujung bibir—menembus bola mata—melayang di udara. Sirip punggungnya mengencang. Jadilah ikan itu serupa anak punk dengan rambut mohawk. Sangar.
Setelah diayunkan menuju ember penampung. Ikan mujair itu menggelepar, tak pasrah. Ikan itu mencoba melompati dinding ember, namun tak berdaya. Ember itu memenjara.
Umpan kembali kulemparkan. Sekali lagi, ikan mas itu bermain dengan udara di atas kulit air. Ujung mata kail yang mengait umpan cacing, kudekatkan ke mulutnya. Namun ikan mas itu hanya mengerling, lalu menyelam lagi, ada sisa kilatan cahaya di punggung kuningnya berpendar. Aku pikir, kenapa hanya ikan-ikan kecil di bawah air keruh, yang berhasil kukail. Ikan mas itu sudah terlalu akrab dengan mata kail. Mungkin.
"Sigid, sudah berapa ikanmu?" tanya suara serak dari arah belakang. Kaget, saat suara itu pertama kali menyebut namaku. Kutengok, ternyata Ifien datang bersama Siman. Ifien meski perempuan, namun suaranya berat. Mungkin karena Ifien perokok berat.
"Lima ekor mujair Yen," sahutku, dengan sapa Yen, nama akrabnya Ifien. Nama kereta apinya Ivana Fienringli Mubara. Setelah disusutkan menjadi Ifien, tapi lebih renyah dipanggil Yen.
"Kail saja ikan mas berpunggung kuning itu," saran Siman.
"Ah, ikan itu sudah terbiasa Sim. Sulit dikail, tapi bisanya dijala," kataku kepada Siman, yang juga punya nama tersusut, Sim. Nama panjangnya, Simanwil Rianda.
Cacing kembali kukaitkan, lalu terjun bebas ke dalam kolam.
"Harus punya umpan khusus kalau ikan mas Gid," saran kedua Siman. Ikan mas ini tak suka cacing, kata Siman. Lebih doyan roti atau semacam adonan tepung. Yang jelas, umpannya punya standar kekhususan.
Siman lantas mengeluarkan sebungkus roti dari kantong celananya.
Blup. Umpan roti menyelam. Senar mengencang. Kulit air sobek sana-sini. Tangkapan besar, pikirku.
"Tarik Sim, tarik!" teriak Ifien senada denganku.
Siman berujar menggurui, "Sabar! Harus dibikin lelah dulu, biarkan ikannya jalan kesana-kemari sampai capek."
Sepuluh menit, ikan berpunggung kuning menyembul ke permukaan. Senyum Siman mengembang.
"Tuh! Kan, apa kataku!" Siman bangga.
Setelah sempat melayang beberapa detik di udara, ikan mas itu mendarat di dalam ember. Ifien bergegas lalu menarik perlahan mata kail yang, tersangkut di bagian mulut, hampir menembus ujung kulit kepala.
"Lepas lagi Sim," pinta Ifien. Sayang juga ia sama ikan mas itu.
"Tapi sayang juga kalau dilepas nanti, mata kailnya hampir menembus kulit kepala. Ini ikan bisa radang otak nanti," canda Ifien sedikit bimbang, yang digagapi Siman dengan tawa.
"Ah, macam penyakit ala pejabat korup saja," tukasku.
"Dilepas saja, kasihan," pinta ifien. Sedangkan Siman, hanya terpaku.
Sejurus kemudian, Siman berkata, "Sebenarnya, saya juga tidak doyan makan ikan mas."
"Emang kamu sodaraan sama ni ikan. Harus banyak makan ikan ginian Sim. Ah, pantas badanmu tak gemuk-gemuk," ejek Ifien, sambil mengangkat kaos lalu memperlihatkan perut buncitnya. Tingkah Ifien serupa lelaki. Tomboi.
Aku sedari tadi, asyik menyimak dialog antara Ifien dan Siman. Dalam hati, dua kawanku ini, sebenarnya doyan ikan mas atau tidak.
"Eh, kalian berdua ini suka makan ikan mas?"
"Saya doyan sih, tapi kalau lagi dapat tangkapan saja," ujar Ifien.
Suara Siman tiba-tiba mengeras, "Saya No!"
"Yah, sudah, dilepas saja. Mudah-mudahan tak sampai radang otak," pasrahku.
Hari mulai petang. Kami bergegas meninggalkan pematang kolam. Siman dan Ifien, setelah pamit ke ayah dan ibu, keduanya berboncengan pulang.
Bau amis di telapak tangan, masih kubaui. Amis ikan mas dan mujair hampir sama. Meski setiap saat ikan-ikan itu mandi.
Usai mandi, aku masih melangkah ke pekarangan belakang. Matahari memucuk di batas desa. Langit layung, cicit burung, dan dengung serangga, menghantar senja menuju malam.
Ajak ibu untuk makan menggema di rumah yang, berpenghuni tiga manusia. Makan malam terhidang di atas meja. Lima ekor ikan mujair terbujur di atas piring, berselimut potongan tomat, cabai, dan bawah merah. Lauknya cukup untuk aku, ayah, dan ibu. Keluarga sederhana memang. Ayahku seorang kepala desa, ibuku guru, dan aku anak kuliahan.
"Sehabis makan, bawaannya ngantuk," kemudian aku pamit menuju kamar. Terlelap dalam hitungan menit.
"Maliiiiiinnnnggggg!!!!!"
Teriak itu menghentakkanku dari atas kasur. Kupikir, tidurku baru sepersekian detik. Bergegas kudatangi asal suara. Ibu, ayah, beberapa orang tetangga berdatangan menggenggam obor. Ada maling yang membobol kolam ikan. Anehnya, ikan mas berpunggung kuning, tersisa menjadi bangkai di atas lumpur. Kutengok arloji di lengan. Pukul tiga pagi. Dosa apa yang kau perbuat wahai ikan? Bahkan, maling pun enggan.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
