Jumat, 13 November 2015

Puncak Ka Ita Saleh

Tidak ada komentar
Ilustrasi okezone.com

LELAKI paruh baya berkulit legam itu duduk selonjoran di tanah. Ia bersandar pada batu yang dikelilingi rimbun dan julang pepohonan jati. Matanya cekung menatap kosong ke langit yang biru dan diam. Sudah tiga bulan desanya dipanggang kemarau.

Tak ada botol air yang ia bawa. Dahaga sudah menyiksa tenggorokannya sedari tadi. Untuk menghalau rasa haus, lelaki itu sibuk membersihkan goloknya dari sisa-sisa tebasan ilalang. Kaus putih warisan pesta demokrasi yang ia kenakan lusuh dan basah oleh keringat. Celana hitam selututnya pun mulai memudar dan penuh sobekan kecil di sana-sini. Ia telanjang kaki.

Sudah menjadi tugasnya menjaga lahan seluas dua hektar itu. Lahan yang dijejali pepohonan jati yang berada di areal perbukitan. Pemandangan dari puncak bukit sangat indah. Ada sekitar belasan bukit lain masih dipenuhi padang ilalang. Jika bukan musim kemarau, hijau padang ilalang bak permadani yang bergelombang tertiup angin. Seperti pinggul-pinggul bidadari.

Sadar hari sudah sore, lelaki itu bangkit. Ia seharusnya bisa disebut Pak Tani meski lahannya tak ada. Ia hanya disewa per bulan untuk menjaga dan mengurusi pepohonan jati. Membersihkan rerumputan di sekitar pohon dan harus selalu awas akan bahaya kebakaran.

Pemilik lahan itu adalah seorang Pak Bos, pimpinan di salah satu surat kabar harian nomor satu di provinsi itu. Pak Bos itu sangat kaya. Saking kayanya, ia sudah tiga kali berhaji dan umroh tak terhitung lagi. Ke negeri para nabi sudah seperti piknik.

Baru saja mau beranjak, dari kejauhan tampak sepeda motor menuju ke arahnya. Ada seorang lelaki muda yang mengendarainya, dengan tas di punggung dan kamera terkalung di lehernya. Lelaki itu kemudian berhenti, lalu bersegera turun dari atas motor. Pandangannya masih menyapu seluruh pepohonan, kemudian ia mendekat.

“Assalamualaikum... Bapak, penjaga di sini?”

Sapa dan tanya lelaki muda yang menenteng ransel dan kamera itu cukup sopan untuk tak digubris. Golok yang telah tersarung diikatkannya ke pinggang. Kemudian ia mendekati lelaki muda itu.

“Iya, kenapa, ya?” katanya usai menjawab salam.

“Oh, kenalan dulu, Pak. Saya Jassin, kebetulan lagi jalan-jalan.”

Uluran tangan disambutnya. “Saleh,” ucapnya sembari tersenyum.

“Enaknya saya panggil siapa, Pak?”

“Orang-orang sering panggil saya Ka Ita* Saleh, karena ini,” katanya seraya terkekeh, menuding kulit badannya sendiri yang hitam legam. Ka Ita Saleh meringis. Memamerkan giginya yang juga menghitam karena nikotin tembakau.

Jassin balas tersenyum sambil mengeluarkan sebungkus rokok. Menawarkannnya kepada Ka Ita Saleh. Lalu sekali lagi pandangannya menyapu sekeliling. Perbincangan pun mengalir begitu saja. Jassin bertanya seputar kepemilikan lahan dan rencana pembangunan jalan aspal, yang membelah bukit hingga ke sebuah vila di puncak. Ka Ita Saleh menjelaskan tanpa bertanya balik soal identitas Jassin. Mungkin ia terlalu serius menjawab. Seperti telah menemukan teman berbagi.

Menurut Ka Ita Saleh, ada sekitar 200 hektar lahan milik Pak Bos. Hampir seluruhnya ditanami kelapa. Sedangkan yang ia jaga dan urusi adalah lahan yang ditanami pepohonan jati saja.

Meski seluas dua hektar, tapi pekerja di lahan itu hanya ia dan seorang tetangganya lagi. Sebulan ia digaji Rp800 ribu. Ka Ita Saleh mengeluh, sebab pekerjaannya tak sebanding dengan upah yang diberi majikannya. Temannya pun suka mengeluhkan hal yang sama.

Pernah mereka berdua sepakat untuk pindah dan bekerja saja di perkebunan yang bersebelahan dengan lahan Pak Bos. Di lahan kebun itu berdiri sebuah vila dan sekelilingnya pun ditanami pohon jati. Upah per bulan setiap pekerja di atas sejuta. Tapi karena jumlah pekerja sudah cukup, permintaan mereka ditolak.

“Kami pernah mengadu ke Pak Bos untuk dinaikkan upah. Tapi tidak digubris. Ya, mau ke mana lagi. Terpaksa tetap bekerja di sini,” keluhnya, sembari kembali duduk selonjoran.

Jassin mengambil sebongkah batu sebesar buah kelapa. Lalu mendudukinya. Ia kembali bertanya tentang pembangunan jalan, yang membuka akses menuju vila di puncak.

Ka Ita Saleh kembali bercerita. Ternyata, pemilik vila itu adalah pejabat penting di provinsi itu. Sebuah papan proyek pun terpancang tak jauh dari tempat mereka berbincang. Jassin sempat berhenti di papan proyek itu tadi lalu memotretnya.

Kembali diceritakan Ka Ita Saleh, bahwa majikannya juga berencana akan membangun sebuah vila. Tapi masih menunggu waktu yang tepat. Sedangkan vila milik pejabat penting itu sudah berdiri megah. Di samping vila dibangun pula musala mungil.

Menurut Ka Ita, pekerja di sana hidupnya berkecukupan. Hampir sebagian pekerja adalah tetangga dan orang-orang di desanya. Tingkat kesejahteraan pekerja di kedua lahan perkebunan itu cukup jauh berbeda. Bukan hanya ia dan temannya yang merasakan kecilnya upah. Tapi para pekerja di lahan perkebunan kelapa pun suka mengeluhkan hal yang sama.

Meski demikian, Pak Bos dan pejabat penting itu dikenal berteman cukup akrab. Apalagi Pak Bos adalah seorang pimpinan sebuah koran lokal, yang kerap terafiliasi dengan pemerintah. Kantor media itu cukup megah, terletak di ibukota provinsi. Bahkan Ka Ita Saleh menaruh curiga, jangan-jangan memang kedua Big Boss itu telah janjian, untuk menguasai lahan-lahan di perbukitan nan indah itu. Tak heran pula, jika akses jalan beraspal menuju lokasi vila dan perkebunan, dikerjakan cepat dan licin.

“Lebaran lalu, kami hanya diberi THR (tunjangan hari raya) sekaleng biskuit.” Bola mata Ka Ita Saleh seperti dasar sumur yang mulai mengering.

Anak bungsunya yang berusia lima tahun, dituturkannya sangat girang saat membuka kaleng berisi biskuit empat rupa. Tapi tidak dengan Ka Ita dan istrinya. Ada lima orang anak yang harus dibelikan baju lebaran. Upah sebulan pun telah habis, sejak masih bulan Ramadan. Ka Ita terpaksa mengutang ke tetangganya yang berkecukupan.

“Kami mendapat jatah bibit pohon jati, dua sampai tiga pohon. Menunggunya lama. Punya kami umur 8 tahun baru bisa ditebang,” Ka Ita melanjutkan ceritanya. Kali ini, golok ia keluarkan dari sarung, lalu menebas pelan rerumputan di sampingnya.

“Hasilnya juga tak sebanding. Dijual untuk bayar utang, dan lainnya buat menambal dinding rumah.”

Jassin serius mendengarkan. Ia lalu meminta izin memotret Ka Ita Saleh yang dengan senang hati mengiyakan. Jassin mengabadikan tubuh legam lelaki paruh baya itu, ekspresi mukanya yang gagap menghadapi kamera, menimbulkan kesan nestapa. Wajah orang yang kalah.

Tak berselang lama, Ka Ita mengajaknya keliling perkebunan. Sampai di batas lahan milik pejabat penting itu. Sebuah vila megah tampak dari kejauhan. Jassin kembali mengarahkan kameranya. Dari dua lahan itu, tampak ada sekitar seribuan pohon jati seukuran keranjang basket. Daun-daunnya telah mengering karena kemarau. Tapi pepohonan jati itu tetap tahan meski ukurannya jauh lebih kecil dari usianya. Itu dipengaruhi jarak tanam yang hanya dua meter. Terlalu padat menurut Ka Ita Saleh.

Lama berbincang, waktu tak terasa bergulir cepat. Layung senja berwarna tembaga, mengundang lensa kamera Jassin mengabadikan momen. Ka Ita berpamitan pulang. Jassin lantas menawarkan jasa untuk mengantarkannya. Apalagi jarak dari perkebunan ke rumahnya cukup jauh. Hampir empat kilometer. Ka Ita biasanya mengambil jalan pintas melewati perkebunan. Tapi kali ini, bantuan yang ditawarkan Jassin tak bisa ditolaknya.

Sesampainya di rumah, Ka Ita mengajak Jassin. “Masuk dulu. Minum teh atau kopi?”

“Terima kasih, Ka Ita. Aku buru-buru.”

Setelah menjelaskan pekerjaannya, Jassin pamitan lalu menancap gas, sebab ia sudah terlambat mengirim berita. Deadline sejak pukul 4 sore. Sedangkan azan Magrib sudah terdengar di beberapa masjid desa yang ia lewati.

Di kamar indekos, Jassin segera menyalakan laptop. Lima berita yang satu per satu diketiknya di ponsel tinggal disalin, lalu dikirim ke email redaksi. Beserta foto-foto. Seusai mengirim berita, Jassin melanjutkan dengan menulis feature untuk liputannya tadi.

Nama Ka Ita Saleh, istri dan anak-anaknya, juga data-data lain dirasainya lengkap sudah. Selain itu, nama pejabat penting itu, juga nama Pak Bos yang cukup dikenalnya telah ia catat.

Ia tinggal menelepon dinas terkait di daerah setempat, untuk menanyakan tentang pembangunan jalan, melengkapi liputannya. Sebenarnya ia tak sengaja menemukan kisah ini. Awalnya maksud Jassin menuju puncak, hanya ingin melepaskan penat setelah seharian mencari berita. Sampai akhirnya bertemu dengan Ka Ita Saleh.

Jassin kembali teringat Pak Bos itu, yang tak lain adalah atasannya sendiri. Direktur utama di koran tempat ia bekerja. Hampir setiap pekan, Pak Bos itu rajin menulis feature tentang perjalanannya mengeliling dunia. Minggu ini Thailand, selanjutnya di New York, kemudian dilaporkannya lagi ia sudah berada di London.

Bahkan perjalanan dramatis saat umroh pun diterbitkannya. Mungkin Pak Bos itu berharap pembaca berlinang air mata, terharu, dan bangga dengan perjalanan hidupnya. Jassin sendiri acap kali terpingkal-pingkal dan merasa jijik, lalu dengan segera meremas koran berisi tulisan-tulisan Pak Bos itu, usai membacanya. Bisa dibayangkan, setahun sekali, Pak Bos itu hanya memberi sekaleng biskuit, sebagai THR pada para pekerjanya. Dibandingkan dengan tiket keliling dunia dan uang jajannya, jumlah uang yang ia habiskan itu bisa membeli sebukit beras.

Hanya sejam, tulisannya telah rampung. Tapi tulisan itu akan menentukan jalan hidup yang dipilihnya. Pertemuannya dengan Ka Ita Saleh telah mengubah cara pandangnya tentang hidup seorang jurnalis. Sebenarnya itu adalah kejadian akumulatif, dari keseluruhan pengalaman yang ia renungi selama setahun bekerja menjadi wartawan. Puncaknya adalah kisah Ka Ita Saleh.

Jassin beranjak begitu tulisan itu terkirim di email redaksi. Ia meraih handuk lalu melangkah ke kamar mandi. Jassin tampak senang sekali. Ia merasa menang. Meski ia tahu betul, sangat tidak mungkin cerita itu dimuat. Jassin menggosok badan sembari bersiul. Siulan orang merdeka.

*Panggilan lazim ala orang Gorontalo yang merujuk pada kulit hitam seseorang. (Ita, Hitam), ada juga pangilan kuni, khusus buat seseorang yang berkulit terang/kuning.

Cerpen ini sebelumnya dimuat di DeGorontalo.co dengan judul yang sama.

Kamis, 12 November 2015

Alternatif Cacian

Tidak ada komentar
Akhir-akhir ini, saya suka gatal-gatal dengan hestek #BelaNegara sama
#HateSpeech. Tentunya dua hestek itu bukanlah bakteri atau
jamur-jamur. Tapi itu dua keharusan yang ditetapkan negara yang
tercinta ini. Yang seharusnya ada hal terpenting seperti, mengumumkan
nama-nama perusahaan pembakar lahan dan hutan, yang menyebabkan masker
laku keras. Mungkin jika hutan di Aceh yang terbakar, bakal mabok
se-Indonesia Raya (seperti meme-meme yang beredar ramai sekarang ini).

Menyoal #BelaNegara yang akhir-akhir ini jamaah sosmediyah dari
berbagai mazhab, seperti; pesbuk, twitter, path, instagram, line, dan
mazhab-mazhab lainnya yang masih kurang jamaahnya. Saya kira, program
#BelaNegara ada benarnya juga. Misalnya kita harus bela negara, dengan
cara usir perusahaan-perusahaan pembakar lahan dan hutan. Pun
perusahaan-perusahaan tambang yang menggaruk-garuki ibu pertiwi,
padahal mereka sendiri yang membuat Sang Ibu panuan, kudisan, sampai
kulitnya tak lagi hijau subur. Biar tak digajipun (kan diiming-imingi
gaji), saya pasti akan berada di garda terdepan.

Yang paling membikin gatal-gatal ini, soal #HateSpeech. Yang kalau
tidak di-inggriskan malah kesannya jadi ke-malaysiaan. Ujaran
kebencian. Nah, baru saja saya baca berita di salah satu media online nasional.
Menurut Surat Edaran (SE) Kapolri Nomor SE/06/X/2015 mengenai
#HateSpeech, sejak ditanda-tangani 8 Oktober, bahwa Netizen harus
waspada sebab ada sekitar 180.000 akun para jamaah medsos sedang
diburu Polri (jadi kayak teroris nih).

Di pemberitaan itu pula, diingatkan semoga akun-akun itu di antaranya
bukan akun milik Anda. Iya sih, semoga saja akun milik bigot-bigot
kerdil yang suka kafirin Syiah, Ahmadiyah, dan berbagai macam mazhab
minoritas lain. Karena jika mereka nanti dipidanakan, bakal over
kapasitas seluruh lapas se-Indonesia.

Saya yang akun pesbuknya lumayan berisi sumpah serapah khususnya untuk
para bigot-bigot itu, akhirnya mencari alternatif cacian. Misalnya
mengganti kata-kata cacian dengan nama-nama buah atau kue.
Enak juga sih, pas lagi ingin komen status-status hujatan pada Syiah
dan Ahmadiyah, atau pas ada polisi yang nilang, terus bentak-bentak di
depan secara langsung atau karena takut memilih status di sosmed saja.
"Dasar RAMBUTAN!" atau "MANGGA lu!", bisa juga "APEM lu!", "Dasar
LAPIS LEGIT!", atau kelokal-lokalan, "LALAMPA ngana!", ha-ha-ha.

Jadi saya sarankan, agar para jamaah sosmed, untuk mulai
meinventarisir cacian-cacian alternatif. Bisa nama buah, nama kue,
nama mantan, nama-nama binatang endemik (karena anjing dan babi sudah
mainsteram), dan lain sebagainya.
Yah, karena dua hestek #BelaNegara dan #HateSpeech itu kesannya
seperti lelucon. Yah, ngiritiknya juga pakai lelucon. Melawan dengan
gembira.

Selasa, 10 November 2015

Pak Tani itu Bernama Robi

Tidak ada komentar
"Aku pikir manusia yang terbagus dan paling bernilai dewasa ini, adalah seorang petani yang sehat, kasar, cerdik, bengal, awet, itulah jenis paling bangsawan kini." sabda Nietzsche, di buku Sabda Zarathustra.

Menjadi petani itu memang keren; petani yang sehat akal budinya, tentu kasar dan pekerja keras, cerdik memilih bibit-bibit tak berlabel yang dijual sepaket dengan pupuk dan pestisida, bengal dan berani jika diperlakukan tak adil, dan tetap awet dan segar dengan inovasi. Jenis petani seperti ini yang diperlukan bangsa Indonesia. Dan merekalah yang layak disebut BANGSAWAN.

Namun, petani-petani seperti itu malah dimusuhi bangsa ini. Kita bisa lihat petani-petani sekarang yang lahannya dicaplok penguasa dan pengusaha. Bahkan yang paling tragis, pembunuhan kerap terjadi. Centeng-centeng peliharaan penguasa dan pengusaha menjadi mimpi buruk. Tentara dan polisi bukan lagi mengayomi malah memerangi. Tapi seperti kata Wiji Tukul. Lawan!

Di Indonesia sendiri, perlawanan dari segi musik mulai bermunculan. Apalagi sebelum dan sesudah rezim Orde Baru tumbang. Salah satu band grunge yang dibentuk 1996 dan tetap eksis pasca Orba dan getol memperjuangkan hak-hak kemanusiaan adalah Navicula. Lirik-lirik lagu mereka membait kritik-kritik sosial dan isu ekologi.

Vokalisnya, Robi Navicula, berkesempatan bertemu pada kegiatan yang digagas Forum Komunitas Hijau (FKH) Gorontalo, berbagi cerita cukup banyak. Dan ia adalah seorang petani.

Selama tiga hari Robi yang ditemani fotografernya, Gusti, main ke Gorontalo. Seabrek kegiatan mengisi waktu selama tiga hari. Dari membikin mural di Taman Kota Gorontalo, mengunjungi Danau Limboto yang kondisinya sangat memprihatinkan, pun berlumpur-lumpuran saat menyemai benih padi di persawahan.

"Menjadi petani itu keren. Seperti kawan-kawan saya petani-petani di luar negeri, mereka sering datang ke Bali. Ya, karena pemerintah sangat memperhatikan nasib mereka di negara asalnya," jelas Robi yang juga mengaku petani kopi.


Balada Pak Tani, menjadi salah satu lagu yang membuat penonton merenung, tatkala Robi membawakannya pada malam puncak kegiatan FKH. Lirik-liriknya kritis dibawakan akustik, diringi gitar A Fat Lady-nya. Ia memang dikenal aktif berkecimpung di LSM lingkungan di Bali. Selain itu ia pun mengajar Pertanian di Bali International School. "Saya pernah usulkan agar bisa kerjasama dengan sekolah-sekolah di Bali. Tapi kepala sekolah mereka menolak. Eh, malah yang mau belajar itu anak-anak bule," kata pemilik nama lengkap, Gede Robi Supriyanto ini.

Saat berdiskusi santai di Kedai Kopi Maksoed, Sekretariat AJI dan kantor DeGorontalo.co, ia bertutur banyak. "Setiap apa yang diberi oleh alam, maka kita harus mengembalikannya ke alam. Mengambil secukupnya, juga harus ikut melestarikannya," sampai Robi.

Di setiap lagu-lagu Navicula yang hampir semuanya ditulis Robi, berisi kritikan pada penguasa juga pengusaha dan keprihatinannya pada petani, orang miskin, pembunuhan aktivis, pepohonan, binatang, sampai masalah-masalah sampah. Keprihatinan mereka akan ketidak-adilan pada manusia dan alam, kerap menjadi inspirasi lagu mereka. Tak ayal, band Navicula diundang pentas di festival seni bergengsi di Sydney Festival 2013. Mereka pun menang kompetisi International Rode Rockers di Amerika Serikat. Menyingkirkan 500 band dari 43 negara.

Terima kasih Pak Tani, Bli Rob. Telah berkunjung ke Gorontalo dan berbagi dengan kami. Salut untuk lagu-lagu kalian. Tetap sehat, kasar, cerdik, bengal, dan awet. Cheeerrsss!!! Yuuuurrrwoookk!!! \m/

*Balada Pak Tani*

Lirik & Musik: Gede Robi Supriyanto

Katanya tanah negeri kita kaya raya/ kaya hasil bumi hadiah Ibu
Pertiwi/ katanya negeri kita negeri agraris/ tapi ada wabah kelaparan
oh, ironis/ anakmu nangis

Petani duka rindukan tanah moyangnya/ yang dulu pernah ditukar dosa/
lahan yang hijau, bermandi sinar mentari/ yang kini mulai hiasi mimpi/
mimpi tiap malam/ anak negeri

Petani kita kini sudah jadi junkie/ tergantung bibit hibrida dan pupuk
kimia/ harga produksi gila, panen laba nggak ada/ kebijakan pangan ada
di tangan mafia/ kebutuhan hidup tak bisa lagi ditunda

Lahan desa terjual, orang kota membelinya/ uang ternyata tak bisa
bertahan lama/ petak sawah terakhir, menunggu gilirannya/ ahh! terjual
juga

Petani duka rindukan tanah moyangnya/ yang dulu pernah ditukar dosa/
lahan yang hijau, bermandi sinar mentari/ yang kini mulai hiasi mimpi/
mimpi tiap malam/ anak negeri

Hingga rumput pun sirna/ sapi makan temannya/ dan sapi-sapi pun jadi gila

Senin, 02 November 2015

Emarau dan Ujan

Tidak ada komentar
Di sebuah desa bernama Goron, hiduplah keluarga kecilnya Emarau. Di desa itu, matahari sesuka hati bersinar sepanjang tahun. Emarau dan keluarganya kerap dibuat kesulitan air, hal serupa yang dirasakan masyarakat di desa itu. Sawah yang coba digarap ayahnya saat sesekali hujan mengguyur, kini telah kering kerontang dan sekarat. Terkadang panen berhasil, namun gagal yang sering dialami.
Pada suatu siang hari yang terik, tanpa sengaja Emarau melihat dan mendengar ayah dan ibunya sibuk bercakap-cakap di teras rumah. Keduanya mengeluhkan hujan yang tak kunjung datang. Sebenarnya keluhan yang sama, yang acapkali terdengar di seantero desa. Tapi kalimat-kalimat yang diutarakan ibunya kali ini, membikin Emarau gelisah.
"Sebaiknya kita antar Emarau ke Desa Talo. Anak itu semakin hari kulitnya terus menghitam. Aku cemas anak itu akan dijauhi jodoh," Sang ibu mengeluh.
Memang, Emarau pun sadar, sebab beberapa teman-temannya, telah lebih dulu diungsikan ke Desa Talo. Kulit halus nan bening menjadi alasan mengirim anak-anak gadis mereka ke sana. Panas terik matahari di desa ini memang sudah terlalu.
Tapi rencana itu membuat Emarau gelisah. Karena dia tak ingin berpisah dengan kedua orang tuanya. Apalagi tinggal dengan bibinya, yang selama ini hanya dia kenal dari penuturan ibunya. Emarau cemas, sampai tak bisa tidur semalaman. Hingga keesokkan harinya, ibunya menyampaikan maksud itu padanya. Bahwa selang tiga hari, dia akan dititipkan ke rumah bibinya di Desa Talo.
"Emarau, ibu dan ayah sudah sepakat, kamu akan dititipkan pada bibimu,"
"Untuk apa?" tanya Emarau seperti dia sebelumnya tak pernah mendengar percakapan ayah dan ibunya.
"Usia kamu sudah 19 tahun."
"Lalu apa hubungannya dengan kepindahan Emarau, Bu?"
"Sudah waktunya kamu dilirik lelaki. Yang nantinya akan menjadi ayah bagi anak-anakmu kelak."
"Apa hubungannya dengan lelaki?"
"Emarau, jika terus di sini, kamu tidak bakalan dilirik lelaki. Lihat saja kondisimu, kulit menghitam, sampai rambut memerah."
"Kan, ibu juga begitu dulu. Tapi ayah tetap menikahi ibu." Ibunya terdiam. Tradisi untuk menikahkan anak di usia 20 tahun ke atas, memang sudah lama menjadi adat istiadat.
Di wilayah ini dan sekitarnya, anak-anak bersekolah hanya setingkat sekolah dasar. Mereka yang ingin melanjutkan sekolah, memilih keluar dari Desa Goron, lalu hijrah ke wilayah-wilayah lain, dimana bangunan-bangunan sekolah lanjutan didirikan. Jaraknya memang lumayan jauh. Butuh berjalan kaki sejauh 100 kilo meter. Sedangkan mereka yang tumbuh dewasa di desa, di usia 20 tahun, diharuskan menikah. Hidup menyendiri dan membangun rumah tangga.
Tak berselang lama, ibunya melanjutkan bujuk rayu itu. Ibunya menjelaskan bahwa semua itu demi masa depannya kelak. Ibunya juga mengisahkan pertemuan dengan ayahnya, yang kala itu telah terjalin sejak masa kanak-kanak. Cinta mereka bersemi dari persahabatan. Namun Emarau tetap memilih tinggal. Dia tak tega meninggalkan kedua orang tuanya.
"Tidak!" tegas Emarau. Ibunya menyerah.
Di desa mereka memang banyak anak lelaki, yang sibuk bekerja di kebun, meski harus berjuang mati-matian, sebab musim tak pernah adil dengan desa itu. Pohon-pohon kemiri menjadi satu-satunya tempat bergantung harapan. Meski tanaman itu tidak terlalu mencukupkan. Apalagi sekilo biji kemiri hanya dihargai lima ribuan oleh tengkulak. Nasib para petani bergantung pada komoditi itu saja. Uang hasil penjualan biji kemiri, dipakai untuk keperluan makan dan lauk-pauk sehari-hari. Dan untuk berladang atau menanam tanaman lain, cukup sulit karena kemarau yang berkepanjangan. Untuk setahun saja, desa itu hanya diguyur hujan dengan hitungan jari. Banyak yang mencoba menggarap sawah, jika sesekali hujan turun. Ada yang berhasil memanen, namun dengan hasil yang sedikit. Sebab terkadang hujan bisa berbulan-bulan tak turun. Beruntung untuk sumber mata air, satu sumur tua di sebuah kaki bukit, masih tetap mengucurkan air meski tak sederas kala hujan. Sumur itu menjadi satu-satunya sumber kehidupan masyarakat Desa Goron. Untuk mencuci pakaian, mandi, dan memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Di Desa Goron, Emarau hanyalah satu dari beberapa gadis yang memilih tetap bertahan di desa. Rambut para gadis di desa ini memerah terpanggang terik matahari. Kulit mereka pun menjadi hitam legam, sebab tak mungkin hanya berkurung diri di rumah seharian. Mereka juga harus membantu orang tua memanen buah kemiri dan menjemurnya. Terkadang, sinar matahari memang sangat dibutuhkan.
Di desa inipulah, lelaki-lelaki yang ingin menikah, terpaksa mencari jodoh ke luar desa. Bagi mereka yang mengharapkan gadis-gadis cantik berkulit putih bersih. Ada beberapa yang tetap memilih menikahi gadis-gadis di desa. Sebab memang telah lebih dulu akrab dari masa kanak-kanak. Cinta seperti itu memang lebih lekat dan kekal. Seperti cinta kedua orang tua Emarau.
Sampai di suatu pagi, Emarau memutuskan ikut dengan ibunya, mengunjungi bibi mereka di Desa Talo. Emarau sebenarnya enggan, sebab bisa jadi itu hanya jebakan ibunya. Sampai akhirnya dia diyakinkan, bahwa hanya sebatas mengobati kerinduan ibu kepada adik satu-satunya. Ibunya berjanji mereka hanya sehari di rumah bibinya, lalu esoknya segera pulang.
Tatkala gerobak yang mereka naiki memasuki Desa Talo, yang berjarak 20 kilo meter dari desa mereka, mata Emarau terbelalak. Sawah terhampar menghijau dibentengi bukit-bukit biru. Anak-anak sungai mengalir bening dan tampak beberapa bocah berloncatan, memercikkan air, riang, dan basah.
Gadis-gadis berkulit putih bersih, berambut lurus dan hitam, sesekali lewat sembari memanggul keranjang berisi buah rambutan, mangga, dan pisang. Di Desa Talo memang sedang musim buah-buahan. Emarau terngagah sampai ibunya tersenyum lalu menimpuk pundaknya.
"Kamu benar tak ingin tinggal di sini?"
Kusir gerobak melirik Emarau, lalu ikut tersenyum. Kemudian kusir itu melecut bokong lembu yang menarik gerobak. Langit telah mendung.
"Ibu, Emarau tak ingin hidup senang di sini, sementara ayah dan ibu sekarat."
"Kami sudah terbiasa. Maksud ayah dan ibu hanya ingin agar kamu hidup bahagia," jelas ibunya sambil mengelus pundaknya.
Tepat pukul 10 siang, hujan mulai turun. Emarau memandangi langit, yang berisi himpunan awan hitam berarak-arak pelan. Disusul bulir-bulir hujan jatuh, sesaat setelah mereka tiba di rumah bibinya. Telapak tangan Emarau menyambut hujan. Semakin deras.
"Mari masuk. Waduh, hujan di sini selalu datang tiba-tiba. Padahal Bibi baru saja menjemur pakaian," kata perempuan paruh baya itu, menyambut kedatangan kakaknya.
Emarau bermonolog dalam hati. Hujan yang acapkali dirindukan di desanya, malah dikeluhkan di desa ini. Desa yang sepanjang tahun, panas mataharinya hanya bisa terhitung dengan jari. Beruntungnya, pagi atau sore hari hujan reda dengan sendirinya. Lalu matahari bersinar lagi. Sehingga tanaman-tanaman di Desa Talo tetap terjaga dari pembusukan buah, karena hujan yang berlebih. Namun, itu tadi, jemuran dan segala yang ketergantungan akan sinar matahari, menjadikan hujan adalah bencana. Tapi sesekali, hujan di desa ini bisa berhari-hari.
"Jika hujan reda, Emarau bisa keliling desa sendiri, Bu, Bi?"
"Bisa, tapi alangkah lebih baik jika ditemani putri bibi, Jirani," jawab bibinya.
"Emarau ingin sendiri saja," pintanya. Yang akhirnya membuat ibu dan bibinya mengalah. Apalagi, Jirani juga belum kembali, sampai hujan reda beberapa jam kemudian.
Berbekal payung yang diberikan bibinya, untuk berjaga-jaga jika hujan turun lagi, Emarau mengelilingi Desa Talo. Pohon-pohon rindang yang mengkilat basah, dan gemericik suara selokan, menghibur langkah-langkahnya. Dalam hati, dia membayangkan, andai saja desanya bisa seperti ini. Kenapa Tuhan disebut Maha Adil, jika desanya terus-terusan kemarau. Sedangkan desa ini selalu bermandikan air hujan. Tanya Emarau dalam hati.
"Toolllooooonnggg!!! Tooolllooooonnngg!!!"
Emarau dikagetkan suara seorang ibu, yang tiba-tiba menyembul dari semak-semak dan rimbun hutan bambu. Baju ibu itu penuh lumpur dan sekujur tubuhnya basah. Keringat, air mata, dan hujan menyatu. Di rautnya bergelayut kesedihan yang begitu dalam. Beberapa warga berkerumun lalu bertanya-tanya. Ibu itu hanya terus menangis, dan terbata-bata berkata-kata. Dengan sisa kekuatan, akhirnya ibu itu berkata, putranya hanyut di sungai. Kerumunan warga tadi merangsek ke dalam hutan bambu. Emarau seperti disihir, juga ikut berlari mengekori para warga. Hanya beberapa puluh meter, sungai selebar 10 meter, yang deras airnya berwarna cokelat, menandaskan tapak kakinya. Di sana beberapa orang lelaki, dengan seutas temali dan potongan bambu terus berteriak. Nama anak itu dipanggil-panggil. Tak ada sahutan, hanya deras air semakin menderu. Ibu anak itu pingsan setelah menyumpahi hujan. Bencana itu merengut nyawa anak satu-satunya.
Ibu, bibi, dan Jirani datang menyusul Emarau. Setelah berita hanyutnya bocah itu menghebohkah warga. Tiga jam pencarian berlangsung. Akhirnya mayat bocah itu ditemukan di tepi sungai, tersangkut pada akar pohon.
Emarau memeluk ibunya dengan tangis. "Emarau sedih melihat ibu anak yang hanyut itu. Ibu itu terus memaki hujan. Emarau tak ingin meninggalkan ibu, Emarau ingin pulang!"
Kejadian itu membikin Emarau syok. Ditambah sayup-sayup dari kamar bibinya, dia mendengar percakapan bibi dan ibunya. Bahwa kejadian itu sudah berulang kali. Meski alam di desa ini begitu asri, namun ibu-ibu di desa ini acapkali kehilangan anak-anak mereka, jika hujan datang tiba-tiba. Bukan hanya anak lelaki, tapi anak perempuan pun kerap menjadi korban. Meski telah dilarang bermain di sungai, bocah-bocah yang menjadi korban itu lolos dari kontrol orang tua mereka. Apalagi hujan suka datang tanpa diundang. Sungai yang meluap, longsor, dan banjir menghantui Desa Talo.
Ibunya mengetuk pintu kamar. Emarau bangkit lalu membuka pintu.
"Kamu sudah baikan?"
"Emarau ingin pulang."
Esok paginya, ayam berkokok dan pipit mencicit. Suara sapu lidi yang menggaruki tanah terdengar. Emarau bangkit lalu mengintip dari balik jendela, dan mendapati bibinya tengah sibuk menyapu pekarangan. Masih ada sisa-sisa becek di tanah. Sesaat, terdengar suara ibunya memanggil. Setelah menyahut, Emarau keluar menemui ibunya yang telah berkemas. Tinggal menunggu jemputan gerobak yang akan mengantar mereka pulang.
"Ayo mandi. Kita pulang sekarang." suruh ibunya dengan nada pelan.
Di pekarangan, tampak bibinya sibuk bercakap-cakap dengan beberapa orang ibu dengan wajah serius. Tak berselang lama bibinya masuk ke rumah.
"Waduh, jembatan di ujung desa putus!"
Tak ada jalur lain untuk pulang ke Desa Goron. Hanya itu satu-satunya jembatan penghubung. Kabar itu membikin Emarau lebih cemas. Tidak mau tidak, kepulangan mereka tertunda. Meski pagi itu matahari bersinar terang, namun hati Emarau mendung. Dia masih trauma dengan kejadian kemarin. Ibu bocah malang itu menggaruk-garuki tanah berlumpur. Dengan sisa-sisa tenaga, ibu itu memuntahkan sumpah serapah pada hujan.
"Emarau ingin jalan-jalan dulu sebentar."
"Ditemani ya?" kata Jirani.
"Terima kasih. Emarau sudah lebih tenang sekarang." Meski dalam hati, gemuruh sumpah serapah itu masih menggetarkan lubuk hatinya.
"Kamu yakin, Emarau?" Ibunya ragu.
"Iya, tidak apa-apa Bu."
Setelah kembali meyakinkan ibu dan bibinya, dia melangkah keluar. Tak ada lagi payung di genggamannya. Sebab payung yang kemarin, entah tercecer di mana. Kejadian kemarin membuat dia lupa akan segalanya, bahkan dirinya sendiri.
Setelah lelah berjalan, di bawah pohon mangga yang rindang, Emarau duduk memandangi hijau persawahan yang membentang. Dia lalu merenung, dan kembali bertanya-tanya dalam hati, bahwa Tuhan Yang Maha Adil, menjawab pertanyaannya kemarin. Tapi kenapa jawaban itu berupa tragedi. Desanya disinari matahari yang berlebih, malah menjadi impian desa ini. Doa-doa dari orang-orang yang mendambakan hujan, dan mereka yang berharap agar matahari bisa bersinar terang, sebelum mencapai langit, pasti doa-doa itu berseteru di atas sana. Keinginan yang saling bertolak belakang.
"Hai!" Suara seorang lelaki tiba-tiba membuyarkan lamunannya.
Setelah mendongak ke arah datangnya suara, Emarau yang berlesung pipit, memaksa tersenyum lalu membalas sapaan lelaki itu. Masih seumurannya, tapi sungguh apa yang tampak di depannya, sosok lelaki yang jauh dari ciri-ciri para lelaki di desanya. Mata lelaki ini hitam dan begitu teduh, dengan rambut ikal kecokelatan yang sesekali bergelombang dibelai angin. Kulit lengannya putih, saat terjulur menyalami.
"Ujan."
"E, eee, Emarau."
"Apa? Kemarau?"
"Namamu juga aneh. Hujan!"
Kemudian Ujan membuat rumput-rumput merunduk didudukinya. Emarau yang gugup, karena baru kali ini dia duduk bersanding dan berpasangan dengan teman lelaki sebaya, lalu memetik batang rumput dan memainkannya di jemari. Ujan hanya terus menatapi wajah hitam manis Emarau. Rambut merah yang melambai-lambai menambah kesan eksotik. Hidung mancung, lesung pipit, dan bibir tipis Emarau yang sesekali tergaris senyum itu, terus dipandangi Ujan. Bola mata Emarau yang kecokelatan dipayungi alis hitam, terus berlari-lari ke segala arah.
"Kamu dari Desa Goron ya?" Ujan mencoba mencairkan suasana beku itu.
"Karena kulitku yang hitam?"
"Ah, kamu manis menurutku. Kecantikan itu tak harus identik dengan rambut hitam lurus, halus, dan berkulit putih. Beda orang, beda penilaian, juga beda selera,"
"Kalau begitu, aku juga salah jika menilai lelaki tampan itu seperti kamu."
"Memangnya aku tampan menurutmu?"
Emarau makin mengecil. Saat ini, dia hanya ingin sembunyi di balik semak belukar. Dia keceplosan. Selain itu, pikirannya berkelana ke desanya, membayangkan para lelaki di sana, yang berkulit hitam, berambut merah, dan sangat jauh dari sosok yang sekarang tengah duduk bersanding dengannya. Ah, cinta pada pandangan pertama, pada percakapan ini, dan pada sosok ini seketika hadir. Emarau tak bisa mengelak. Untuk saat ini, dia telah di tahap suka pada lelaki ini.
"Kamu melamun terus," ucap Ujan dibarengi sundulan jemari telunjuk di lengan hitam Emarau.
"Kamu tadi bilang aku cantik, lalu gadis-gadis di desa ini, yang jauh lebih cantik dariku?" Emarau coba memastikan. Dia sebenarnya hanya ingin sekali lagi mendengar pernyataan lelaki itu tentangnya.
"Kan, tadi aku bilang, soal penilaian."
"Bukan selera?"
Setelah terlibat percakapan yang akhirnya mengundang tawa dan menambah keakraban, keduanya berpisah. Hujan datang tiba-tiba. Hujan memang bencana, yang meredam keriuhan dan perasaan gembira yang berloncatan di hati Emarau.
Setibanya di rumah, wajahnya yang penuh senyum, mengundang tanya pada ibunya. Tanpa malu-malu, dia menuturkan pertemuannya dengan Ujan. Dan secara tiba-tiba, dia menyampaikan keinginannya untuk tinggal bersama bibinya. Seminggu setelah jembatan putus berhasil diperbaiki, ibunya pulang ke Desa Goron. Sedangkan Emarau bertahan di Desa Talo, dengan benih-benih cintanya yang mulai tumbuh perlahan.
Emarau dan Ujan acapkali bertemu di pohon mangga yang rindang itu. Ujan lalu mengajaknya ke sungai, ke pematang sawah, ke puncak bukit, sampai mandi bersama di lebatnya hujan. Sebulan, dua bulan, dan waktu itu tiba. Ujan melamar Emarau. Mereka menikah. Tapi, pilihan mereka yang membuat orang tua kedua belah pihak terheran-heran.
"Kami ingin tinggal dan membangun rumah, yang lokasinya tidak di Desa Goron dan Desa Talo. Lokasinya di perbatasan," tutur Ujan, pada orang tuanya dan orang tua Emarau. Juga pada pemimpin desa, lembaga adat, dan masyarakat yang hadir saat pesta pernikahan digelar.
"Lalu, tepatnya kalian akan tinggal di mana?" ayah Ujan penasaran.
"Kami menamai tempat itu Gorontalo. Gabungan dari dua nama desa asalku dan Emarau. Letaknya tepat di perbatasan perkebunan."
"Kenapa kalian ingin hidup di sana?" tanya pemimpin desa.
"Kami ingin merasakan dua musim, yang selama ini kerap menjadi bencana, atau malah anugerah yang didambakan masing-masing desa." Emarau angkat bicara.
Setelah disetujui, usai pernikahan berlangsung, mereka pun pergi membangun rumah mungil nan sederhana di salah satu wilayah perbatasan, antara lahan perkebunan kedua desa. Berbulan-bulan kemudian, akhirnya sejoli ini dikaruniai seorang putra. Hidup mereka sangat bahagia. Meskipun tak selalu luput dari cobaan-cobaan yang menerpa rumah tangga mereka.
Tahun demi tahun berlalu. Berikutnya, beberapa lelaki Desa Goron menikahi gadis-gadis Desa Talo. Begitupun lelaki-lelaki Desa Talo, menikahi gadis-gadis Desa Goron. Tak banyak memang, yang mengikuti jejak dan kisah cinta Emarau dan Ujan. Tapi satu per satu, tahun demi tahun, pasangan-pasangan itu pun memilih membangun rumah, yang berdampingan dengan rumah Emarau dan Ujan. Hingga akhirnya deretan rumah terus bertambah. Dan Gorontalo pun ditetapkan menjadi sebuah desa. Di sana, pasangan-pasangan itu terus beranak-pinak sampai Gorontalo menjadi satu wilayah di mana keadilan Tuhan itu begitu nyata hadir. Kemarau dan hujan, menjadi dua gejala alam yang memiliki porsi sebanding di wilayah itu. Masyarakatnya hidup damai dan bahagia. Subur dan sentosa.
Tapi, Tuhan tampaknya tak berlama-lama dengan kata 'adil' itu. Wilayah Gorontalo bisa sekali-kali menjadi sosok Emarau begitu lama. Dan sekali-kali berwujud Ujan hingga berbulan-bulan. Sebab semakin bertambahnya penduduk, doa-doa pun beragam. Ada yang meminta hujan, bersamaan pula dengan pinta akan terik matahari. Namun Tuhan tak pernah memberi cobaan melampaui kemampuan umatnya. Bukan?
***
Di atas sebuah bukit, di gundukan tanah basah bernisan, seorang perempuan renta bersimpuh. Kedua tangannya meremas segumpal tanah. Pipinya masih diderasi air mata. Pusara itu tidak baru tapi masih penuh haru.
"Emarau, sudahlah, ikhlaskan kepergian anak kita. Itu sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu."
"Kenapa harus dia. Bencana itu. Dan kenapa Tuhan tak pernah mengirim penggantinya?" Perempuan itu semakin mengepal erat gumpalan tanah. Suaranya berat. Dan entah dia harus menyumpahi apa dan siapa.

Rabu, 14 Oktober 2015

Di Atas Langit PNS Ada Langit AJI

Tidak ada komentar
Tanah lapang membentang. Selapang hati mereka yang berjabat tangan. Tak perlu karpet merah tergelar untuk menyambut tamu di sini. Yang ada hanya gelas-gelas kopi terhampar.
Ya, akhirnya saya tiba di sekretariat AJI sekaligus kantor DeGorontalo.co, Sabtu (10/8), pukul 8 malam. Kantor kontrakan ini berada di pojok lapangan. Penat saya hilang seketika dilebur oleh kata-kata. Yang tersisa hanya; kenalan, tanya, lalu keakraban. Pengunjung Warkop Maksoed yang sepekarangan dengan kantor pun ringan mengulur tangan. Daftar pertemanan bertambah.
Saya bisa tiba di sini atas jasa ikhlas Nev Setiawan dan keretanya. Setelah menempuh perjalanan selama dua hari dari Kotamobagu, Bolmong Raya.
Perjalanan dari Kotamobagu ke Gorontalo melalui jalur selatan seharusnya cuma sekitar 5 jam. Tapi karena Nev memiliki agenda tersendiri dan ia adalah kusir sekaligus pemilik kereta, akhirnya kami mampir dulu bermalam di tanah lahirnya. Rumahnya di Desa Mamalia, Kecamatan Posigadan, Bolsel. Desa yang pernah pula diderapi kuda-kuda bernopol B 6955 KB0 dan B 36697 EP. Penunggangnya Nabi-nabi Jurnalisme saat ini. Adalah Dandhy Dwi Laksono dan Suparta Arz, dua nabi yang melakukan perjalanan spiritual jurnalisme mengeliling nusantara. Demi membela kaum yang termarjinalkan.
Ekspedisi Indonesia Biru (EIB), cukup ketik itu di Google dan mesin pencari akan memindai segalanya tentang mereka berdua. Pun film-film dokumenter yang tersaji gratis di Youtube. Yang telah rampung ada; Baduy, Kala Benoa, Lewa di Lembata, The Mahuzes, Samin Vs Semen, dan 70 Tahun Merdeka. Masih ada lagi film-film yang tengah diproduksi dan akan rampung akhir tahun nanti. Keduanya tinggal melanjutkan perjalanan dari Kalimatan-Sumatera. Lalu kembali ke Jakarta.
Saat menyusuri jalur selatan yang pernah mereka lewati, saya acapkali membayangkan setiap jengkal aspal yang kami lalui. Jejak-jejak mereka masih bisa terendus. Itu sudah lebih dari cukup meski akhirnya saya tidak beruntung untuk bisa bertatap muka. Ha-ha-ha. Tak apalah, lagipula di AJI Gorontalo nanti ada lebih banyak jejak ilmu dari mereka berdua.
"Betul. Ngeri-ngeri sedap," balas Dandhy di Twitter. Setelah saya bertanya apakah mereka sudah tiba di Gorontalo, beberapa hari sebelum saya ke Gorontalo. Jika lewat selatan view pantainya memang keren. Mereka telah bertolak ke Palu, Sulteng untuk melanjutkan perjalanan ke Kalimantan.
Usai menonton karya-karya mereka yang, dengan gratis berpindah begitu saja ke laptop saya-hanya dengan colok dan klik-saat tiba di AJI Gorontalo. Di tempat yang pernah mereka betahi ini, saya menonton, memercayai, meyakini, juga mengimani mereka. Agama saya adalah Jurnalisme. Dan mereka adalah nabi-nabi di antara nabi-nabi lainnya yang masih mempertahankan ajaran spiritual jurnalisme.
Selanjutnya tentang rute selatan di atas, aih! Ternyata jauh lebih sedap dan ngeri jalur yang pernah mereka tempuh selama ini. Sabda mereka; ini bukan touring. Ha-ha-ha. Anda-anda wajib nonton!
Di AJI Gorontalo inilah, saya akhirnya bertemu kawan lama, Yudin Buddha (yang merekom saya masuk AJI), juga kawan-kawan baru yang keakrabannya seketika mirip kloningan Te Yudin.
Ada Te Syam, Ti Debby, Te Chris, Te Handi, Te Wawan, Te Febri, Te Geril, Te Imal, Te Andri, Te, Ti, Te, dan Te lainnya lagi. Mereka ada dan berlipat ganda. Mereka hadir dengan keunikan masing-masing. Menukil istilah "Reklamasi Hati" yang spontan Te Yudin ucapkan. Nah, mereka di sini hatinya tak berbatas. Jadi tak perlu direklamasi. Ha-ha-ha.
Saya tak ingin panjang lebar menuturkan satu per satu tentang mereka. Sebab setiap satu keunikan direntang, esoknya akan ada keunikan baru lagi. Dan itu butuh riset yang cukup lama untuk bisa menjabarkan segalanya tentang mereka. Bisa jadi novel seribulogi.
Kemudian.... Saya berkenalan dengan Te Arnold, si keriting urak-urakan dengan kumis dan janggut lebat, yang katanya di situ bergelantungan para bidadari. Ha-ha-ha. Sepintas ia mirip Albert Einstein tanpa uban.
"Sigidad. Selamat ulang tahun!" Saya memperkenalkan diri. Sehari sebelum saya tiba, adalah tanggal dan bulan kejadian mahluk yang satu ini. Di AJI Gorontalo, yang lainnya terlahir dengan keunikan tersendiri. Tapi yang ini, adalah mahluk yang, yang, yang.... Aih! Unik dari segala yang unik. ENDEMIK!
Ia PNS. Tapi segala yang Anda-anda bayangkan tentang PNS, bakal luluh-lantak setelah bertemu dengannya. Bahkan, saya pun akhirnya terpingkal-pingkal dan tak bisa menyangkal, apa sebab kedua nabi jurnalisme yang sempat mampir ke AJI Gorontalo, betahan.
***
Arnold Risman Ahmad mengenang.
"Saya dibangunkan ibu, yang memberitahu bahwa saya sudah jadi PNS."
Apa jadinya, jika terbangun dan tiba-tiba berubah jadi PNS?
Singkat tentang proses evolusi Te Arnold menjadi PNS. Tahun 2003 ia lulus SMA. Setelah itu di tahun 2004 ia memutuskan merantau, lalu bertolak ke Manado yang selanjutnya mengelilingi Pulau Sulawesi. Ia tercegat di Mamuju, Sulsel (dulunya).
"Saya minta ijazah saya dikirim, buat lamaran kerja. Tapi malah disuruh ambil sendiri."
Ia pun yakin itu hanya jebakan agar segera pulang ke Gorontalo. Apalagi neneknya mengaku sangat rindu padanya. Ia memutuskan kembali di tahun 2005, dengan niat mengambil ijazah. Bukan untuk mengobati kerinduan neneknya. Namun nasib berkata lain, sebab ayahnya menyarankan agar ia kerja di Gorontalo saja. Ayahnya yang seorang guru SD, meminta ia menjadi tenaga honorer di sekolah. Te Arnold mengajar. Meski terlahir dari pasangan pengajar, saya tak bisa membayangkan apa yang ia ajarkan ke anak-anak SD kala itu. Jelas bukan rapal mantra bim salabim buat sulap koin. Ha-ha-ha.
Hari, minggu, bulan, dan tahun berganti. Ibunya yang juga pengajar di TK, diam-diam mengurus tetek-bengek persyaratan putranya untuk bisa diangkat jadi PNS. Kala itu ijazah SMA sangat sakti untuk melamar jadi PNS.
Dua tahun berjalan dan di tahun 2007 itulah nasibnya berubah. Goncangan ibunya tatkala membangunkannya adalah sebuah hentakan sejarah hidupnya.
"Ini, kamu sudah sah jadi PNS!" kata ibunya sambil melemparkan SK pengangkatan PNS.
Lalu menjelmalah Te Arnold menjadi PNS. Jabatan yang tidak pernah ia cita-citakan. Ia bahkan rela melepas ke-PNS-annya demi masuk AJI. Saat ini, sedang sibuk-sibuknya para PNS meregistrasi PUPNS secara elektronik. Siapa yang enggan, dianggap mengundurkan diri. Ia cuek-cuek saja. Meski telah menyandang Anggota Kehormatan (diberi kehormatan bersih-bersih sekretariat, ha-ha-ha), ia bersikeras untuk keluar PNS demi masuk AJI. Tekadnya itu yang kerap menginclongkan kantor dan pekarangan.
"Orang lain itu keluar AJI lalu masuk PNS. Yang ini malah keluar dari PNS terus pengen masuk AJI," kata Te Syam. Lalu kami terbahak-bahak.
Adapula kisah tentang akting Te Arnold yang berlagak jadi Dandhy, tatkala diundang salah satu kampus pada Seminar Kreatif dan pemutaran salah film dokumenter EIB produksi Watchdoc.
"Gorontalo panas ya?" kata Te Arnold di dalam mobil jemputan.
"Bangeeettttt," balas dosen cewek dengan dialek seolah-olah baru turun tangga pesawat dari Jakarta. Ini di-stand-up-comedy-kannya sendiri. Ia berhasil merebus katak di dalam mobil dan kampus dengan panas matahari Gorontalo.
"Ekspedisi Indonesia Biru hampir gagal karena ulah Te Arnold!" celetuk Te Syam, usai kisah tentang perpisahan dengan Dandhy dan Ucok, Te Arnold yang sengaja tidak dibangunin, foto bareng, dan kunci motor Dandhy yang tiba-tiba raib. Bukan tuyul yang nyolong tapi Te Arnold dengan skill kejahilan tingkat dewa. Tawa kami lepas mendengar kisah itu. Bahkan mereka yang telah berulang kali mendengar dan menuturkan.
Redaktur Koran Tempo Makassar, Imhe Mawar, yang sempat bertandang ke kantor pun terpingkal-pingkal. Bahkan Imhe dilayaninya bak ratu, agar nanti merekomnya menjadi fotografer Tempo, jika dipecat dari PNS.
Ah, novel sejutalogi tak bakal habis membentang kisah tentang PNS nyentrik yang asyik ini. PNS yang tidak pernah mengurus kenaikan pangkat. PNS yang tidak pernah mengantongi SPPD. PNS yang setiap tahun merubah gaya rambut dan tak takut ditegur atasan. PNS yang tidak pernah naik pesawat. PNS yang.... Ehu! Gilakkkk!!! Foto-foto di FB-nya. Mamaaakkkk!!!
Namun semalam akhirnya ia terpojok. Satu hal yang sangat dibanggakannya adalah tidak pernah naik pesawat. Tapi tidak untuk percakapan yang satu ini. Tak tega sih, melihat Te Arnold ter-huk-kan.
"Kalau misalnya kami (AJI) rencana ke Jakarta?" tanya Te Syam.
"Oh, saya tidak mau pergi," silatnya.
"Tapi ini agendanya ketemu Dandhy dan Ucok loh?" susulku.
"Oh, saya naik kapal laut," ia berkelit.
"Agendanya esok!" Te Syam dan saya koor.
"Waduuuhhhh!!!" Untuk kedua nama itu Te Arnold menyerah.
Di suatu malam, kekaguman saya atas sosok PNS yang satu ini semakin besar. "Kalau ada orang yang menggantungkan cita-citanya di langit untuk menjadi PNS. Lalu, kenapa saya tidak bisa menggantung cita-cita di langit berikutnya? Bukankah langit itu berlapis-lapis?" bijaknya. Pada akhirnya saya mengerti. Apa yang membuat mendiang neneknya merindui mahluk yang satu ini. Mahluk yang meriuhkan semesta AJI Gorontalo. Tempat di mana segalanya ada dan nyata. Mau lihat tuyul?

Senin, 12 Oktober 2015

Terima Kasih AJI

Tidak ada komentar
Pagi kerap membawa berkah. Baik bagi mereka yang bangun pagi, pun untuk mereka yang menahan tidur hingga langit bergradasi dari hitam ke abu-abu, kemudian datang terang benderang. Berkah itu saya rasakan berupa perenungan. Ini jalan hidup saya. Nasib yang saya ikhtiari agar bisa terhindar dari takdir yang satunya lagi. Takdir yang tetap menjadikan saya sebagai wartawan yang tidak sebagaimana mestinya.
Setelah lintang-pungkang di dunia kewartawanan (saya malu menyebut jurnalistik) di Bolmong Raya (BMR). Akhirnya saya sadar bahwa tugas kami tak mudah. Kami adalah guardian-nya warga. Proses kesadaran itu berlangsung selama kurun waktu tiga tahun.
Saya mula-mula saling merangkul dengan sahabat di media online www.lintasbmr.com yang website-nya sudah tidak aktif, setelah eksodus besar-besaran (Ha-ha-ha. Padahal hanya kami berempat). Saya yang pertama kali hengkang dengan alasan, semangat yang tak sejalan lagi dengan Pak Pemred. Hanya setahun di www.lintasbmr.com (meskipun sebenarnya saya rindu dengan keakraban kami, tatkala masih sejalan). Kemudian saya seperti bangsa Nomaden, hidup berpindah-pindah mencari wilayah yang nyaman sesuai cuaca hati saya. Di www.pilarsulut.com (milik kawan pula) saya mendirikan tenda baru. Namun musim berganti hanya selang tiga bulan. Tenda saya terhempas badai. Saya memutuskan kembali ke comfort zone. Yaitu kamar yang diwarnai hitam dengan graffiti di beberapa bagian tembok. Kamar yang sesak dengan poster-poster; Nirvana, Valentino Rossi, Blink-182, dan beberapa foto alay saya dengan gambar jari Victory (Peace yang dimaksudkan), Metal, dan F*ck You. Ah, alay yang acapkali membikin saya rindu dengan kamar hitam, yang saya namai Rancid Room itu.
Sampai di Agustus 2014, saya melamar di media cetak Radar Bolmong (Jawa Post Group). Entah kenapa, saya melebur begitu saja dengan Radar Bolmong (yang lebih diperjelas link ini http://sigidad.blogspot.com/2015/08/menu7u-graha-pena.html). Akhirnya saya memutuskan resign, setelah tepat setahun di Radar Bolmong. Saya merasa tidak lagi berprofesi sebagaimana mestinya wartawan. Sebab ditargeti cash in, tagih sana-sini, kliping koran untuk kelengkapan berkas pencairan kontrak dengan Pemda. Aih, brengseknya. (Saya tak ingin panjang lebar dan menghabiskan energi, tentang hal yang sudah jadi rahasia umum ini).
Selanjutnya.... Pagi. Iya, pagi yang saya maksudkan di atas adalah pagi di mana saya telah berada di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Gorontalo. Sekretariat yang kesini pun harus di-guide Yudin, sebab berada di antara labirin Kota Gorontalo. Nama wilayahnya pun harus saya tanyai beberapa kali.
"Apa depe nama Yudin.... Tomolutao, Tomubotao, eh, apae?"
"Tomulobutao!" jelasnya dengan bersungut-sungut, sembari menunjuk baliho Fespinkon di tembok, sesampainya kami di Sekretariat. Di situ tertera jelas alamatnya. Itu pertanyaan kesepuluh. Jelas ia jengkel.
Saya akhirnya berada di sini. Ah, kesempatan yang selama ini saya idam-idamkan. Yudin Gajah, sahabat saya itu, akhirnya berbaik hati menyampaikan maksud saya pada kawan-kawannya di AJI. Saya disambut bak kawan lama, Sabtu (10/8), tiga hari yang lalu. Sambutan hangat yang membuat saya merasa seperti bertemu kloningan (keakraban) Yudin sendiri. Semuanya interaktif dengan senyum yang selalu terumbar dan tanya ramah, pun kegembiraan yang tidak dibuat-buat.
Di sini, seperti sebuah kanvas putih yang diwarnai dengan beraneka corak. Saya tak ingin mendedah masing-masing karakter mereka itu. Apalagi baru sepekan saya bersama mereka. Namun keunikan tumbuh satu persatu dan semakin banyak. Terlalu banyak.
Saya seperti berada di dalam kamar saya sendiri. Begitu nyamannya. Begitu banyaknya pengetahuan terserak di sini. Seperti cangkir kopi di Kedai Kopi Maksoed, saya kosongkan cangkir itu, untuk siap menerima pahit kopi, manis gula pasir, dan tawarnya air putih.
Terima kasih AJI Gorontalo.
Ini berkah terindah.

Selasa, 29 September 2015

Selamat Jalan Mak Dar

Tidak ada komentar
Panas terik Kotamobagu menyengat. Kemarau panjang yang melanda, mampu mengeringkan segala mata air. Tapi tidak untuk kabar duka yang bersusun di RU BBM hari ini. Kabar duka itu tak mampu membendung air mata. Inalillahi, ibunda dari kawan saya, Dar dan Eka berpulang.
Apa yang bisa dikisahkan dari sepiring kudapan pisang goroho stick (dipotong kecil-kecil), yang ditaburi bumbu penyedap Royco, dan sepiring tinutuan yang acapkali disajikan dengan senyum riang dan sekali-kali jenaka itu? Terlalu banyak.
Mak Dar, panggilan familiarnya, pertama kali saya singgahi dengan kerumunan kawan, di tahun 2007. Tatkala merasai pisang goroho stick, tinutuan, mi ojo, atau mi instan yang dihidangkannya, saya mencecap ada yang istimewa, yang bukan berasal dari semua sajian makanan itu. Dibandingkan dengan kantin-kantin lainnya, rasanya tak jauh beda.
Pisang goroho gurih dan kental tinutuan sama akrabnya dengan kantin-kantin di desa saya. Tapi ternyata, yang dirindui pengunjung
pun pelanggan adalah dabu-dabu (sambal) kepala ikannya. Itu yang begitu istimewa. Kepala ikan cakalang digoreng, lalu diolah bersama cabe, bawang merah, dan tomat yang digoreng pula. Setelah ditumbuk, warna kecoklatan dabu-dabu, dengan lelehan minyak goreng menambah kilatan yang membangkitkan selera. Ah, nikmatnya tak perlu ke sorga. Dabu-dabu Mak Dar, SAKTI!
Waktu itu kantin Mak Dar masih terletak di samping masjid Kelurahan Sinindian, Kotamobagu. Berada di pinggiran jalan raya, kantin itu begitu strategis. Pengujung bisa bebas memarkir kendaraannya di sayap
jalan. Bangunannya terdiri dari susunan papan kayu sederhana. Beberapa set meja kursi di dalam kantin hanya mampu menampung belasan orang. Ditambah dua buah meja yang dikelilingi bangku yang terbuat dari bambu, terletak di luar kantin. Pohon ceri memayungi pengunjung. Alangkah nikmat dan sejuknya.
Di zaman itu, rumah Kopi Korot tak ada apa-apanya. Kantin Mak Dar menjadi pusaran segala jenis pergaulan di Kotamobagu. Yang tua, muda, PNS, anak sekolah, kuliahan, begal, narapidana, pengangguran, dan sebagainya mengepung kantin Mak Dar. Saking terkenalnya, logo McDonald's yakni Mc'D, dijadikan logo M'Dar, yang tersebar begitu saja tatkala ponsel Blackberry makin menjamur. Tak ada Wi-Fi menjadi satu
keunggulan tersendiri di kantin ini. Pengunjung yang semula janjian,
bisa bercakap-cakap lama tanpa perlu terpaku lama ke gadget. Cerita saling bertukar, terurai, dan canda lepas meriuh.
Jikalau kita tengah dahaga dan lapar, usai menghabiskan malam yang begitu brengseknya, Mak Dar selalu sedia melayani dengan canda.
"Paling mabo le tadi malam." Lalu bongkahan es batu yang membeku di dalam botol aqua tersuguh; bersama nutrisari dingin, atau teh panas, pun kopi sesuai selera pemesan. Menu andalan adalah pisang goroho dan
tinutuan tentunya.
Usai sajian ditandaskan, tanpa sadar dari arah dapur, Mak Dar datang membawa sepiring lagi pisang goroho, kemudian ditambahkannya begitu saja di piring yang hanya tersisa butiran Royco dan keping-keping sisa.
"Gratis itu, makang jo."
Ah, Mak Dar bukan sekadar ibundanya Dar dan Eka. Ia adalah ibunda bagi mereka yang pernah merasakan garam pergaulan di Kotamobagu. Yang paling berkesan, Mak Dar selalu sedia menerima cek undur (ngutang). Ia adalah ibu kami saat perut mengerang. Ia selalu berbagi.
Sejak berpindah kantin, tepatnya di lorong depan masjid. Meski terselip, kantin Mak Dar masih ramai. Ada beberapa pelanggan yang
mungkin telah bertahun-tahun tak singgah, menyempatkan datang untuk sekadar bernostalgia. Ini membuktikan bahwa bukan tempatnya yang dirindui. Tapi dabu-dabu yang istimewa itu, yang mampu menggali ingatan ke masa lalu.
Akhir Agustus, saya dan seorang kawan terakhir kali mampir ke kantin Mak Dar. Senyum itu masih di sana. Sampai tiba kabar bahwa Mak Dar telah berpulang. Mak Dar seakan terlalu rindu dengan suaminya, Pak Dar
yang telah lebih dulu berpulang beberap tahun yang lalu. Lalu pergi membawa semua kenangannya.
Selamat jalan Mak Dar. Terima kasih untuk kenyang yang selama ini kaubagi.