Jumat, 21 September 2018
Selamat Menikah Mitra
Waktu terus menggelinding, hingga membawanya ke bangku kuliah di Manado. Di sana, kami dari bocah berleleh ingus, menjelma menjadi bocah-bocah dewasa yang sedang mencari arah hidup. Hidup kami tersita banyak di jalanan berlanskap lampu-lampu kota yang riuh. Manado, di era 2000-an, seolah kuali yang dipenuhi air berbusa yang gelembungnya saja mampu menenggelamkan kami. Tapi anak-anak Passi selalu bertahan, dengan saling menjadi pelampung untuk satu sama lainnya.
Di Kampung Kodo, kami pernah tinggal bersama. Di Kleak, kami pernah serumah. Manado, bukan hanya sekadar kota yang mengisi penuh tabung kenangan kami: para begundal desa yang tengah mengadu nasib, yang jarak dari rumah hanya empat jam berkendara. Kami bocah-bocah yang masih sering dikirimi beras oleh orangtua. Tapi Manado adalah kota yang akhirnya mengasah kami, tentang bagaimana kerasnya hidup di kota. Kami belum berkelana sejauh ingin kala itu. Manado, masih merantai kaki.
Zaman tak hanya memoles tabiat kami. Tapi telah berkali-kali menanggalkan nama-nama akrab. Ia, dari yang bernama Sut Mamonto, berubah menjadi Sutha. Saya dari Yanto, berubah menjadi Ya'. Kemudian sekali lagi, panggilan Mitra melekat kepadanya. Dan saya berubah menjadi Sigidad, setelah Sigi merangkak dari gua garba ibunya. Nama-nama busuk kami pun ada. Tentu saja, nama-nama itu hanya terucap dari kami yang menamakan diri: anak-anak pertigaan. Itu spot berkumpul kami, di simpang tiga desa.
Ketika saya menjadi jurnalis di salah satu koran di Kotamobagu tahun 2015, ia pernah sekantor dengan saya sebagai fotografer. Sampai sekarang, ia bertahan di sana. Kemudian kemarin, saya mendengar kabar ia telah memilih seorang perempuan yang dicintainya, Amelia Adampe, untuk menjadi pendamping hidupnya.
Menikah adalah pilihan masing-masing. Tiada seorang pun yang bisa mengendap masuk ke dalam pikiran orang lain, lantas menyumpahinya karena masih hidup sendiri. Tapi bagi kami: anak-anak pertigaan, soal pasangan hidup tetap menjadi rempah-rempah lelucon, yang selalu merawat keakraban. Sutha, adalah kawan sepantar saya yang terakhir memilih jalan untuk menikah. Sebuah jalan panjang menuju rimba yang rimbun oleh berbagai cobaan.
Selamat menikah. Akur hingga uzur, Mitra...
Selasa, 04 September 2018
Dua Tahun, Boneng...
Pakowa menuju Kampus. Lorong-lorong dan jalan lurus yang pernah kita coreti tembok dan tiang listriknya. Kita kerap bersama usai senja, hingga pada lindap subuh yang sepi dari lalu-lalang kendaraan, tapi ramai dengan lampu-lampu kota dan bau comberan. Rokok kita beli batangan. Tapi rasanya sejuta. Setiap hari begitu. Kita jalan kaki menyusuri setapak menuju tempatmu bekerja, lalu kembali pulang ke rumah Abang.
Kau terbiasa mengeja huruf-huruf dan menjumlah angka-angka, demi rupiah yang akan kembali kosong di kantongmu. Katamu, hidup bukan untuk menabung. Tapi melekaskannya untuk jajan dan biaya sekolah adik dan keponakanmu.
Ah, Onang... Tubuhmu mungil, tapi tulang punggungmu logam.
Hampir semua kawan di 'pertigaan' punya kisah denganmu di Manado. Di Pakowa, Banjer (Tampa Potong), Kampung Arab, Kembang, Dolog, Kleak, Mapanget, Sario, dan Teling. Kau juga pernah menetap sementara di "sangkar", yang katamu melengkapi perjalanan hidupmu.
Lebaran adalah pertemuan terakhir denganmu. Di hari yang biasa kita riuhi bersama, akhirnya kau harus pasrah untuk terbaring memanjang di kursi tamu. Segelas air dan sepiring bubur menemanimu. Seperti biasa, kaus berlengan pendek selalu kau gulung hingga ke bahu. Lalu jabat tanganmu menyambut dengan senyum yang tampak lelah.
"Kalo somo bae, kita somo ka Mnado ulang. Nanti mobawa pa Pei cari karja di sana, baru sama-sama di sana ulang torang."
Itu percakapan terakhir denganmu lewat telepon beberapa pekan lalu. Aku merasakan girangmu saat percakapan itu. Keinginanmu untuk sembuh, sangat kuat terasa. Kendati putaran nafasmu begitu pelan terdengar. Suaramu seperti direbut udara dari rongga dadamu. Kemudian kau pamit untuk istirah dari lelah.
Kota Manado diguyur hujan ketika kesedihan itu berserakan di Eropassi. Namamu di sana. Duka untukmu di sana-sini. Belum dada kami reda oleh gemuruh kehilangan dua sahabat. Kau sudah kembali mendebur.
Maaf kali ini tidak bisa hadir pada pemakamanmu. Pertemanan dan persaudaraan kita sudah melampaui batas, untuk tak lagi saling menyalahkan siapa yang hadir dalam sakitmu. Atau, siapa yang paling di depan memikul kerandamu. Tak ada siapa pun yang mampu menakar kesedihan ini.
"Mereka memikul kerandamu. Aku memikul kenanganmu."
Hanya kata-kata itu yang bisa aku curi dari puisi Ayah Amato, untuk mengutarakan kesedihan ini.
Selamat jalan Onal Mokodompit. Maafkan kami yang tidak sempat hadir pada pemakamanmu. Tempat terbaik untukmu. Titip salam untuk Bd Win dan Eza Yayank Marhaen.
Rest in Paradise, ma bro...
(Catatan dua tahun lalu, ketika Onal berpulang)
Senin, 13 Agustus 2018
Braga: Indie sejak dalam pikiran
![]() |
| Gambar dicuri dari akun Instagramnya Vicky. Sekalian promosi kausnya. |
Pram sendiri memilih Jean Marais, salah satu tokoh dalam novel Bumi Manusia sebagai pengutara kalimat: belajarlah berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan. Jean adalah pelukis asal Prancis, yang berkarib dengan Minke.
"Saya akan menulis lagu tentang Pram," kata Vicky Mokoagow, gitaris Braga, setahun lalu.
Kemudian lagu berjudul Bilur-Bilur, mengindik di malam hari ke pesan WhatsApp saya, sebulan yang lalu. Vicky mengirimkannya. Saya mendengarkannya, dan seketika mengenali suaranya. Braga memiliki vokalis bernama Yedi Mamonto. Tapi di lagu Braga kali ini, Vicky yang membawakannya.
Saya pikir, lagu ini yang berkisah tentang Pram. Tapi seperti yang disampaikan Vicky, Bilur-Bilur berkisah tentang Genosida 1965. Sebuah tragedi kemanusiaan yang terjadi di Sumatra, Jawa, dan Bali, ketika kulit cokelat membantai kulit cokelat, atau orang Indonesia membunuh orang Indonesia yang sama-sama pernah berjuang memutus rantai penjajahan.
Ketika mendengar Bilur-Bilur, saya segera dihantar ke deretan payung-payung hitam, yang digenggam beberapa orang beruban. Lagu ini akan semakin iba, ketika kita tengah berada di aksi Kamisan di depan Istana Negara. Berada di antara mereka para orangtua yang anak-anaknya hilang atau terbunuh tanpa proses hukum yang jelas. Mereka para kerabat dekat dari korban-korban kebiadaban Genosida 1965. Mereka sahabat dan aktivis yang kekal melawan lupa.
Dalam rentang karya, saya tidak tahu pasti Braga telah mencipta berapa lagu. Sebab mungkin saja, ada beberapa lirik-lirik lagu yang berakhir ke tong sampah. Tapi sejauh ini, Braga telah mencipta lima lagu seingat saya. Lagu pertama berjudul Di Kedai Ini, kemudian yang kedua Patah Menjadi Air Mata. Saya pernah membuat dua puisi interpretasi, untuk kedua lagu itu.
Lagu ketiga, entah sudah dirilis atau belum, tapi sepanjang saya mengikuti gerak mereka di media sosial, lagu berjudul Kau belum dilempar ke Youtube. Lagu ini pernah dikirim Vicky ke email saya setahun lalu. Ketika mendengar lagu ini, saya kerap membayangkan Sigi. Lagunya memang tentang cinta dengan makna universal. Bisa kita lekatkan ke orangtua, kekasih, atau buah hati kita. Kemudian yang keempat Bilur-Bilur.
Saya masih menanti lagu tentang sosok Pram, yang dijanjikan Vicky. Saya orang yang selalu percaya, sebuah karya akan diingat bukan ketika karya itu viral. Sebab viral hanyalah deretan angka yang gampang terlupakan. Tapi karya yang lahir dari rahim perenungan pasti kekal. Seperti Pram yang mengatakan karya-karyanya adalah anak-anak rohaninya.
Saat ini, saya kira Braga ikonis sebagai anak-anak muda di Kotamobagu yang total dalam berkarya. Tak hanya bermusik, tapi mereka berhimpun dalam komunitas baca Literasik. Di Tondok Project, mereka membuat film-film pendek yang menghibur dengan berbagai tema. Mereka, yang menghirukkan Kotamobagu, sebuah kota kecil yang mampu mencicil rindu ini setiap kali kembali.
Rabu, 11 Juli 2018
Nama Gorontalo dan Pengaruh Lidah Orang Belanda
Jika Aceh disebut Serambi Mekkah, maka Gorontalo kerap dijuluki Serambi Madinah. Sejak ditetapkan sebagai provinsi pada 5 Desember 2000, Gorontalo yang berada di wilayah utara pulau Sulawesi, yang bersemboyankan “Aadati hula-hula to Sara’, Sara’ hula-hula to Kuru’ani (Adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan Al-Quran), memang sangat bernuansa Islami. Berpenduduk mayoritas muslim 96,82 persen, hampir setiap salat 5 waktu yang diwajibkan bagi penganut Islam, Kota Gorontalo bergemuruh oleh suara azan.
Mengenai awal mula nama Gorontalo sendiri, disampaikan Budayawan Gorontalo, Alim Niode, bahwa nama daerah itu sangat erat dengan kondisi geografisnya. Ada berbagai macam versi tentang asal usul nama Gorontalo, dari yang mengatakan berasal dari “Hulontalangio”, yakni nama salah satu kerajaan yang dipersingkat menjadi Hulontalo.
Kemudian dari “Hua lolontalengo” yang artinya orang-orang Gowa yang berjalan lalu lalang. Juga dari “Hulontalangi” yang artinya lembah mulia, dari “Hulua lo tola” yang artinya tempat berkembangnya ikan gabus, “Pongolatalo” atau “Puhulatalo” yang artinya tempat menunggu, Gunung Telu yang artinya tiga buah gunung, dan dari kata “Hunto” yang mengidentifikasikan suatu tempat yang senantiasa digenangi air.
Untuk itulah, terkait penamaan di atas, ada beberapa yang memang cukup identik dengan kondisi geografis Gorontalo, yang mirip belanga raksasa, sebab dulunya Gorontalo masih berupa lautan. Hal itu diperkuat oleh banyaknya renik laut yang terkandung di perbukitan yang mengelilingi Gorontalo.
“Namun saya cenderung sepakat dengan tafsir milik S.R. Nur yang menyebutkan Gorontalo berasal dari kata Huntu dan Langi-langi (Gundukan/perbukitan yang tergenang). Lalu menjadi Hulonthalangi,” katanya belum lama ini.
Sebagai sebuah nama, kata Gorontalo tidak bisa dilacak lebih jauh oleh S.R. Nur, penulis buku Ikilale Lo Bate Walu (Ikrar Delapan Kepala Adat) Kerajaan-Kerajaan Gorontalo (Ujung Pandang, tanpa penerbit, 23 Januari 1992), saat melakukan penelitian tahun 1960.
Namun ada hal menarik menyoal penamaan Gorontalo itu sendiri. Dari banyak literatur sejarah tentang Gorontalo, telah terjadi perubahan ejaan dan pengucapan nama Gorontalo. Yang mula-mula adalah Hulontalo lalu berubah menjadi Horontalo, dan terjadi perubahan lagi menjadi Gorontalo hingga sekarang. Hal tersebut diakibatkan influence dialek dari kolonialis Belanda.
Dituturkan Alim, Belanda tiba di Gorontalo sekitar tahun 1750. Akan tetapi Belanda secara total menguasai Gorontalo pada tahun 1889. Dari literatur pula, diketahui pada tahun 1889, sistem pemerintahan kerajaan dialihkan ke pemerintahan langsung yang dikenal dengan istilah “Rechtatreeks Bestur”. 1911 terjadi lagi perubahan dalam struktur pemerintahan daerah Uduluwo Lo Ulimo Lo PohalaA, yakni lima kerajaan di Gorontalo yang menjadi satu ikatan kekeluargaan yang disebut PohalaA. Di antaranya PolahaA Hulontalo (Gorontalo), Limuttu (Limboto), Bone-Suwawa-Bintauna, Bolango (Boalemo), dan Andagile (Atinggola).
Semuanya disusutkan menjadi tiga Onder Afdeling oleh kolonial Belanda yakni Onder Afdeling Kwandang, Boalemo, dan Gorontalo. 1920 berubah lagi menjadi lima distrik, masing-masing Distrik Kwandang, Limboto, Bone, Gorontalo, dan Boalemo.
Baru pada tahun 1922, Gorontalo ditetapkan menjadi tiga Afdeling lagi, yakni Afdeling Gorontalo, Boalemo, dan Buol. Di rentang waktu itulah mulai terjadi influence nama Gorontalo oleh pengaruh lidah orang Belanda, pada masyarakat kala itu. Hingga pada akhirnya dipelopori Teme Djonu atau yang lebih dikenal Nani Wartabone, pada 23 Januari 1942 Gorontalo menyatakan merdeka atas penjajahan kolonial. Lebih dulu dari negara Indonesia yang baru diproklamirkan kemerdekaannya, pada 17 Agustus 1945. Namun hingga sekarang, nama Gorontalo secara administratif tetap digunakan.
“Tapi penulis-penulis asal Belanda juga tetap menggunakan kata Hulontalo di buku-buku mereka. Seperti J.G.F. Riedel, Richard Tacco, dan Rosenberg. Gorontalo pada lidah orang Belanda sendiri dieja Horontalo, Listening-nya terdengar Hulontalo,” jelasnya.
Namun bisa ditemukan pula buku G.B.X. Rosenberg, contohnya yang berjudul Reistogten in de Afdeling Gorontalo (1865), yang masih menggunakan kata Gorontalo. Sama seperti karangan E.E.W.G Schroden yang berjudul Gorontalosche Woordenlijst (1908). Dalam karangan J. Breukink, Bijdragen tot eene Gorontalo’sche Spraakkunst, yang mengulas tentang fonologi, afiksasi, dan daftar-daftar kata Gorontalo, yang terbit di Den Haag, Belanda. Pun masih menggunakan kata Gorontalo. Menurut Alim, perlu pula membaca buku-buku, atau catatan-catatan itu.
Alim sendiri tidak bisa memastikan kenapa Horontalo akhirnya berubah menjadi Gorontalo secara administratif. Namun dikatakannya, Belanda menuliskan kata “Gorontalo” yang mereka eja menjadi Horontalo, lalu kembali dieja oleh orang Gorontalo sesuai kata “Gorontalo”. Itu yang dituturkan masyarakat lalu menjadi kebiasaan, yang selanjutnya bertahan hingga sekarang.
Adapun mengenai konsonan ‘h’ yang berubah menjadi ‘g’ pada kata Horontalo-Gorontalo, yang jika disepadankan dengan ejaan ‘gulden’ untuk mata uang bahasa Belanda berawalan ‘g’ diucap ‘kh’, yang nantinya secara artikulasi hampir terdengar seperti ‘hulden’. Mu’awal Panji Handoko, Fungsional Umum di Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo memiliki pendapat sendiri. Bahwa pengaruh lidah orang Belanda memang ada, sehingga terjadi perubahan konsonan.
“Contohnya marga Hubulo yang berubah menjadi Gobel,” katanya. Sedangkan mengenai dokumen tertulis soal perubahan konsonan ‘h’ ke ‘g’, Handoko tidak bisa memastikan bahwa dokumen itu ada.
Masyarakat Gorontalo minim historiografi tradisional, sebab masyarakatnya dikenal dengan folklore atau budaya tutur semacam tradisi Tanggomo; budaya tutur atau sastra lisannya orang Gorontalo. Meski di beberapa catatan diterangkan sebenarnya masyarakat Gorontalo mengenal sejarah tulisan, dan memiliki aksara Arab Pegon (Arab Gundul) lewat Catatan Buku Tua Gorontalo, karena afiliasi agama Islam yang mulai masuk ke Gorontalo pada tahun 1525. Tapi Gorontalo pun diketahui memiliki aksara lokal yakni aksara Suwawa-Gorontalo.
Namun pada akhirnya kebanyakan yang menulis tentang Gorontalo adalah para penulis asing, khususnya orang Belanda, atau yang lebih dikenal dengan historiografi kolonial.
Salah satu sejarawan dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Joni Apriyanto mengatakan, pada tahun 2000an saat melakukan wawancara dengan mendiang Prof. Dr. Mansoer Pateda, yang menerbitkan Kamus Bahasa Gorontalo, bahwa Mansoer sepakat menyoal perubahan konsonan dipengaruhi lafal orang Belanda.
“Waktu itu Mansoer masih hidup. Dikatakannya, soal perubahan konsonan ‘h’ menjadi ‘g’, dipengaruhi bahasa Belanda, hingga akhirnya ‘h’ berubah ‘g’ dalam ejaan Gorontalo yang awalnya Horontalo,” terangnya.
Peneliti di Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo, Sukardi Gau, pun sepakat bahwa memang hal itu biasa terjadi. Mengenai perubahan konsonan, karena adanya pengaruh dialek orang Belanda, hingga disesuaikan dengan ejaan.
“Itu hal yang biasa. Sering terjadi, apalagi dalam artikulasi. Di samping itu, mungkin pengaruh dialek. Tapi memang dalam catatan beberapa peneliti asing, sering ditulis berbeda,” sampainya.
Meski demikian, dalam buku Mengukuhkan Jati Diri, Dinamika Pembentukan Provinsi Gorontalo 1999-2001 (Yogyakarta, Penerbit Ombak, 2013), yang dikeroyok oleh tiga penulis yakni Basri Amin, Hasanuddin, dan Rustam, dijelaskan bahwa pada tahun 1980, saat Gorontalo masih menjadi bagian wilayah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Gubernur Sulut kala itu G.H. Mantik mencetuskan konsep kesatuan regional, bagi wilayah-wilayah Sulut dengan slogan “Bohusami”. Bohusami adalah akronim dari empat wilayah kabupaten di Sulut, yang terdiri dari Bolaang Mongondow, Hulontalo, Sangihe-Talaud, dan Minahasa. Dalam akronim itu sendiri, penamaan yang dipakai adalah Hulontalo, bukan Gorontalo. (*)
Dayango, agama leluhur orang Gorontalo
| Beberapa warga Desa Bangga sedang menyiapkan bahan-bahan untuk ritual Dayango. - Sigidad |
| Ritual Dayango sedang berlangsung. - Sigidad |
| Wombuwa Rahim sedang mencuci jimat. - Sigidad |
Kamis, 05 Juli 2018
Ecko Show, Kok Jadi Rapper Homophobia?
Saya suka semua genre musik. Asal jangan lagu-lagu di albumnya Pak Esbeye itu. Pokoknya selama lagunya nyaman di kuping, saya akan memasukkannya ke playlist.
Selama tinggal di Jayapura, Papua, beberapa bulan belakangan, kuping saya makin terbiasa dengan dua genre musik. Yang pertama reggae, dan yang kedua hip hop. Kebanyakan lagu-lagu itu karya dari anak-anak lokal. Mungkin karena mereka Melanesia, jadi arus minat musik mereka pun mengarah ke genre yang, para musisi terkenalnya kebanyakan Afro-Amerika.
Dari sinilah, saya pun mulai mengenal grup-grup atau penyanyi hip-hop di tanah Papua, misal DXH Crew, Waena Finest, Phapin MC, dll. Karena biasanya mereka saling kenal, penyanyi hip-hop di luar Papua lainnya seperti Ecko Show asal Gorontalo, yang pernah viral dengan lagu "Kids Jaman Now", pun akhirnya coba saya ikuti di Instagram.
Ecko Show ini sempat saya sukai, karena dia termasuk salah satu rapper yang ikut men-diss Young Lex ketika merendahkan Iwa K, Saykoji, dan beberapa rapper Indonesia lainnya. Bisa dipindai di Youtube, soal seteru mereka ini.
Tapi setelah mengikuti akunnya di Instagram pada Rabu pagi, 4 Juli 2018, ada yang janggal di postingan Instastory-nya Ecko Show. Dia menuliskan kalimat "Lagu sindiran untuk kaum LGBT" di baris atas, dan di bawahnya menyuruh viewers agar menggeser ke atas atau swipe up.
Nah, setelah saya geser dengan jempol yang gatal penasaran, saya langsung dihantar ke laman Youtube. Jadi si rapper ini baru saja merilis lagu bersama Vita Alvia, berjudul Aisyah Jatuh Cinta Pada Jamilah. Ya, lagu yang populer karena aplikasi Tik Tok yang baru saja diblokir Kominfo ini, di-remake lagi dengan versinya.
Saya bisa langsung menebak, alasan kenapa ia menyebut lagu ini untuk menyindir kaum LGBT, dari judulnya: Aisyah Jatuh Cinta Pada Jamilah. Karena sebulan yang lalu, sebelum tahu lagu Ecko Show ini, saya pernah membuat status begini, "Suka berteriak anti-LGBT tapi main Tik Tok pakai lagu Aisyah Jatuh Cinta Pada Jamilah."
Status saya itu sebenarnya untuk menyasar orang-orang yang homophobia, tapi tanpa sadar bermain Tik Tok dengan lagu itu. Kendati sebenarnya di lirik asli lagu tersebut, di antara Aisyah dan Jamilah, ada kata: Bojoku, yang memang nyaris tak terdengar.
Jadi, sebenarnya lirik lagunya itu begini: Aisyah, bojoku jatuh cinta pada Jamilah. Seperti ada seorang perempuan yang tengah curhat kepada Aisyah, dan memberitahu bahwa pacarnya ketahuan jatuh cinta kepada Jamilah. Ribet juga sih. Meski ada juga versi lagu yang tanpa menyebut kata: Bojoku, mirip lagunya Ecko Show ini.
Tapi bukan itu saja yang membuat saya segera meng-unfollow akun Instagramnya di hari yang sama saya mem-follownya, tapi karena beberapa bait lirik dalam lagu itu, yang saya anggap diskriminatif.
Misalnya dalam bait berikut ini:
A a a a a a Aisyah
Ku jatuh cinta
Pa pa pa pada Jamilah
Loh kok sama wanita
Kau memang menawan
Tapi kau menipu lawan (Yeah)
Tak habis pikiran
Kau suka sesama kawan (Yeah)
Perilaku menyimpang
Anti kawin silang (Yeah)
Dulu dan sekarang
Tak kunjung menghilang
Semakin maju teknologi
Semua bisa di akali
Kelamin bisa di operasi
Anak pun tinggal di adopsi
Pelaku tak dipenjara
Alasan bukan pidana
Malunya taru dimana
Seolah ini budaya
Bayangkan ketika komunitas LGBT di Indonesia tengah menghadapi diskriminasi di mana-mana, lantas orang-orang seperti Ecko Show ini, yang jelas saja memiliki basis penggemar, ikut membikin arus besar untuk memarginalkan mereka?
Jika Ecko terinspirasi dengan beberapa rapper Afro-Amerika yang pernah atau masih homophobia, tentu saja Ecko salah besar. Ecko mungkin tidak tahu, bahwa empati terhadap LGBT di luar sana semakin tinggi.
Contohnya belum lama ini, rapper terkenal asal Amerika, Offset, dalam lagunya bersama YFN Lucci berjudul "Boss Life", meminta maaf karena liriknya dianggap menyinggung LGBTQ. Seperti ini liriknya: "Pinky ring crystal clear, 40k spent on a private Lear/ 60k solitaire/ I cannot vibe with queers." Offset mengaku tidak bermaksud menyinggung, karena Queer juga bisa berarti aneh.
Queer ialah istilah yang merujuk kepada lesbian, gay, biseksual, dan kadang-kadang juga transgender. Istilah ini menjadi kontroversial, dan sebagian LGBT menolak penggunaannya. Sebab kata Queer, sejak abad ke-16 mulai digunakan di Inggris untuk menggambarkan orang-orang aneh. Queer lantas menjadi gay slur atau cercaan terhadap mereka yang LGBT, pada abad ke-20 di Amerika.
Seiring waktu, karena semakin gencarnya kampanye soal hak-hak hidup LGBT, penggunaan Queer yang berkonotasi negatif mulai hilang. Queer berganti menjadi istilah yang positif, yang bahkan ikut mengkategorikan orang-orang yang berpendapat bahwa orientasi seksual, seks, dan gender tak perlu pengkotak-kotakan, sebagai Queer.
Daripada cari urusan seperti rapper itu, mending pantengin saja Kendrick Lamar, satu-satunya rapper yang meraih Pulitzer Prize kategori musik periode 2018, atas debut album DAMN (2017). Kendrick cukup cerdas menggambarkan kompleksitas kehidupan masyarakat Afrika-Amerika.
Urusan Ecko Show, saya jadi menyesal tahu cara berpikirnya masih bengkok begitu. Sebenarnya saya yang berasal dari Manado, dan pernah tinggal lama di Gorontalo, ingin agar musisi dari Timur seperti kalian bisa tenar. Ingin agar lagu-lagu hip-hop kalian sarat makna dan bergizi, tak berisi caci maki terhadap minoritas.
Mungkin, Ecko harus mendengar lagu-lagu hip-hop dari Rand Slam di album Rimajinasi. Ia rapper asal Jayapura yang sekarang menetap di Bandung. Ada juga Joe Million asal Waena Kampung, Jayapura, yang kini juga berkarir di ibu kota. Dengarkan lagu mereka, yang kaya rima apik, tanpa perlu memarginalkan kelompok tertentu. Atau lagu-lagunya Pangalo! Di album HURJE! Maka Merapallah Zarathustra, MC dari Tanah Batak. Atau Maderodog, dan yang paling legend itu ada Homicide. Mereka menulis lirik-lirik yang ajaib dan menginspirasi perlawanan. Lagu-lagu hip-hop seperti itu akan menjadi legenda.
Jadi, buat Ecko Show yang super-rapper-gaul dan kids-jaman-now, jika kali ini mungkin kau salah melangkah, kau harus belajar lagi: how homophobia destroyed a rap legend's career.
Senin, 11 Juni 2018
Nyaris Mati
Subuh ini, ketika orang-orang di rumah mungkin baru saja terlelap setelah sibuk merapikan rumah untuk menyambut lebaran, saya yang berjarak 2.117 kilometer jauhnya dari rumah, tiba-tiba ingat ibu yang melahirkan saya dengan susah payah dan nyaris meregang nyawa. Saya bungsu dari total sembilan anak, dan satu-satunya anak yang meninggalkan jejak luka di perut ibu.
Subuh ini pula, saya berpikir, mungkin karena susah payahnya ibu melahirkan saya, kematian sepertinya beberapa kali luput dari saya.
Saat kelas 5 SD, saya nyaris mati karena kelalaian dua kakak perempuan saya. Ketika itu menjelang lebaran. Mereka berdua yang sedang membikin kue, membiarkan kabel terkelupas dari colokan tape menjuntai di tembok dapur. Saya yang baru saja pulang dari sekolah, tanpa sengaja menyentuh kabel itu. Saya masih mengingat jelas ketika aliran listrik membekukan darah, dan melelehkan kuku ibu jari kanan saya.
Setelah saya duduk di bangku SMP, ketika sedang berada di kebun karena musim durian, patahan kayu yang digunakan kakak laki-laki saya untuk melempar durian, jatuh tepat di kepala saya. Darah mengucur deras. Tapi saya masih selamat.
Beberapa tahun kemudian, saya hampir saja dibunuh keroyokan di desa tetangga, jika saja seseorang yang mengendarai motor tidak lewat malam itu, dan membentak para pelaku sambil mengaku dia polisi. Lagi-lagi, kepala saya terluka tapi yang ini akibat pukulan botol.
Seperti kesialan tak pernah mau pupus, 2012 lalu, saya jatuh dari lantai dua sebuah gedung dengan ketinggian 7-8 meter. Tulang panggul dan paha saya retak, yang membuat saya harus berdiam di kamar selama setengah tahun. Untung bukan kepala yang lebih dulu membentur ubin.
Masih ada beberapa kejadian yang nyaris menelan nyawa saya. Seperti kecelakaan motor dan mobil yang biasa-biasa tapi hampir saja membuat saya terluka parah, atau akibat serangan penyakit yang pernah membuat saya pingsan selama 5 jam di kamar, dan saya siuman sendiri. Saya juga pernah overdosis. Tapi selamat. Mungkin ada beberapa kejadian lagi yang saya lupa.
Setelah banyak kejadian itu, malam ini saya pun baru sadar, ternyata saya sukar sekali mati. Mungkin karena itu, kematian menawarkan hal-hal lain, seperti kesialan yang tak kunjung berakhir. Misal, kali ini saya tak bisa mencium ibu dan Sigi di hari lebaran nanti.


