Senin, 22 Juli 2019
Sopir
Sewaktu perjalanan dari Kotamobagu menuju Manado kemarin, sa ditemani sopir yang lucu. Bapak ini asli Mongondow. Sesekali ia berbahasa Mongondow. Usianya sekitar 50-an. Karena sa duduk paling depan, maka sa jadi teman bicaranya selama perjalanan.
Penumpang lain di kursi kedua semua ibu-ibu. Begitu juga di deret kursi ketiga. Belakangan diketahui mereka serombongan keluarga. Hendak ke Pelabuhan Bitung.
Saat melewati satu desa, sopir ini terus melirik seorang perempuan di tepi jalan.
"Bobay na'an undam bi'. (Perempuan ini sebenarnya obat)," celetuknya.
Pernyataannya itu ditanggapi ibu-ibu di belakang. Mereka jelas mengiyakan. Meski sebenarnya yang dimaksud si sopir, perempuan sintal yang tadi di tepi jalan.
"Biar tonga' indoyan. Moko piya kon gina. (Meski hanya dilihat. Bikin senang hati)," lanjutnya. Ucapannya kali ini, tetap menuai teriakan ibu-ibu.
Setelah perjalanan hampir dua jam, kami memasuki sebuah desa yang lalu lintasnya macet. Dari kejauhan, tampak ibu-ibu berbaris dengan seragam yang sama. Mereka kemudian dengan langkah tegap keluar dari lorong di tepi lapangan.
"Ooo, moikow bi' nomia kon kemacetan. (Ooo, kalian ternyata yang membuat kemacetan)," katanya.
Ibu-ibu di kursi belakang tertawa. Ternyata ada lomba gerak jalan.
"Gerak jalan, gerak jalan, otut! Momiag kon tongit. (Gerak jalan, gerak jalan, kentut! Memelihara bau ketiak)," katanya.
Kali ini sa ikut terbahak-bahak. Seisi mobil jadi riuh. Ketika ibu-ibu yang ikut lomba gerak jalan melewati kami, sopir ini menutup kaca mobil kemudian meneriakkan, "Bo' tongit! (Bau ketiak!)."
Sepanjang perjalanan, banyak kisah lucunya. Tapi hanya beberapa yang sempat sa ingat dengan saksama. Yang terakhir, ia berkisah tentang seorang penumpang yang memesan tempat duduk.
"Jadi dia suka di kursi muka. Kita bilang so ada yang isi, kalu suka di kursi kadua," ceritanya.
Tapi penumpang itu menolak. Ia bersikukuh ingin di kursi depan. Karena kesal, sopir ini kemudian menjawab, "No kalu bagitu, kita jo yang di kursi kadua, kong ngana yang bawa ni oto, supaya ngana di kursi muka!"
Ehuuuuuuuu!
Sabtu, 01 Juni 2019
Kampung
Apa arti sebuah kampung bagi kalian? Bagi saya, kampung adalah sebaik-baiknya tempat liburan.
Lebaran tahun lalu, saya tak sempat pulang kampung. Selain karena tiket yang mahal dari Jayapura ke Manado, saya tertantang ingin merasakan suasana lebaran jauh dari kampung. Tahun lalu, itu kali pertama. Tahun ini, saya pulang.
Apa yang membuat kalian merindukan kampung? Bagi perantauan yang masih memiliki sepasang orangtua, atau mungkin ibu, pasti akan menjawab: masakan ibu. Jawaban lain, mungkin bagi yang sudah berkeluarga pastinya merindukan keluarga. Atau sekadar rindu bersenda-gurau dengan kawan-kawan.
Saat pulang ke kampung, saya biasanya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Satu-satunya sangkar termewah yang, melebihi kenyamanan hotel berbintang lima. Hanya di rumah, kita dilayani dengan kasih sayang. Hanya di rumah, kita bebas makan tanpa ditodong tagihan. Hanya di rumah, kita merayakan tidur dan bangun dengan merdeka, tanpa cemas setiap kali gajian akan ditagih mama kos.
Saat di rumah, orangtua akan menghargai tidurmu. Mereka sadar, kamar kita adalah surga yang ditinggalkan sekian tahun. Apalagi, ketika kita tak perlu khawatir dengan pekerjaan karena cuti. Dipan jadi buaian.
Tapi selalu ada kisah sentimental dalam setiap kepulangan. Kawan-kawan yang telah bernisan. Kerabat yang mangkat. Sesekali ada keakraban yang terasa hilang direbut ingatan. Saya orang yang payah untuk menahan sedih ketika mengingat mereka. Lebih-lebih mereka yang berpulang, sedangkan saya tak pulang.
Memang, media sosial bisa menjadi penawar rindu sesaat. Atau malah sebaliknya, hanya membuat kita semakin dilecut rindu. Pasti di antara kalian, ada yang pernah coba menyusuri kampung dengan Google Street View, setiap kali perasaan rindu merundung. Saya sering. Coba memindai aspal jalan yang pernah beradu dengan tempurung lutut kita, tanah lapang hijau yang kerap riuh dengan perayaan, deretan rumah yang kita kenali, dan pojok-pojok yang tertanam tabung kenangan.
Beruntunglah kita yang masih bisa pulang ke kampung ketika lebaran. Sebab saya pernah merasakan sedih sesedih-sedihnya sedih, ketika lampu-lampu botol berjajar di halaman rumah, kemudian takbir menggema di mana-mana. Di saat itulah kita seolah-seolah percaya, bahwa bacaan komik atau tontonan kartun Doraemon, bisa benar-benar ada.
Terhormatlah mereka ketika lebaran, atau mereka yang setiap kali hari raya keagamaan berhalang pulang. Sungguh, kerinduan kalian akan kampung halaman, adalah tabungan kebahagiaan yang tak ternilai. Pelukan kalian dengan orangtua dan kerabat, kelak menjadi teramat istimewa.
Minal Aidin wal Faizin. Selamat menyambut Idulfitri 1440 hijriah. 🙏🏾
Selasa, 30 April 2019
Buku Kita
Kita berjumpa beberapa kali dalam hening. Lalu membicarakan hal-hal yang mungkin saja penting. Tapi aku melupakan waktu yang seperti api, di setiap hari ketika kita telah berpisah. Meski jarak pernah kita lipat rapi di lemari, aromanya masih menyeret rindu ke ujung kunci.
Di Passi, mungkin cerita akan berbeda. Sebab kenangan di desa ini, seperti Gunung Ambang yang setiap hari menyapa di kiri rumahku. Sementara jauh nun di Pantura, kita berjanji meninggalkan apa saja yang pernah berisik. Mungkin pergi menatap Gunung Kelud, yang ketika bocah sering kulihat di punggung kertas bergambar.
Kita sama-sama tahu seperti apa istimewanya kertas buku. Sekalipun itu buku-buku usang yang lama berdiam di gudang. Ia pernah terbang jauh lalu bermukim di Saung Layung Arus Balik di Bilalang, sebagai tanda uluk salam. Kemungkinan selanjutnya ialah deretan gerbong berisi kata-kata yang kupungut dari semesta.
Seperti apa hidup ketika kita mulai tahu cara menghidupinya? Mungkin seperti seorang kakek pengayuh becak, yang pernah membawaku ke gedung peninggalan kolonial tak jauh dari rumahmu. Ia banyak tertawa dan giginya tinggal dua. Tapi karena kekurangannya itulah, ia melafalkan: Gedung British American Tobacco, dengan sempurna.
Bahagia tak akan hadir kecuali masing-masing kekurangan menemukan lawannya. Aku tak bisa memakai sumpit dan kau akan mengajarkannya. Lalu aku menulis dan kau membacanya. Mungkin sesekali kita akan berdebat tentang jalan cerita, hingga kita renta.
Lalu siapa yang akan membaca buku-buku itu? Aku melihat tiga bocah sedang tertawa di Karbala...
Sabtu, 27 April 2019
Delapan
Sigi sudah 2.920 hari di semesta. Pernahkah bertanya di mana Ayah? Ketika pulang, Ibumu mungkin bercerita. Sebelum kalian kembali berpisah.
Anak-anak lain bahagia bersama kedua orangtua. Sigi jangan berkecil hati. Sebab nanti, Sigi punya kisah sendiri. Kisah yang tak melulu soal petuah.
Usia delapan, masih sangat belia. Tapi waktu cepat sekali merebutnya. Padahal Ayah ingin Sigi jangan dulu dewasa. Tetap ceria, lucu, dan banyak bertanya.
Selamat hari raya usia, Sigi. Ayah kali ini hanya menitip puisi. Sebab kata-kata sengaja Ayah kemas di hati. Kita pasti berjumpa nanti.
Jumat, 19 April 2019
Mama Kota
Pernahkah kamu membenci sebuah kota, lalu tiba-tiba beberapa hal istimewa terjadi di kota itu?
Saya membenci Jakarta dan sekitarnya yang berisi gedung-gedung jangkung benderang, pengemudi lalu lalang beraut poker face, dan orang-orang bergegas seperti setiap detik ialah uang.
Meski baru terhitung jari saya mendatangi kota ini, saya segera memutuskan membencinya ketika kali pertama berkunjung, lima tahun yang lalu. Tapi jika pengetahuan menunggumu di kota ini, maka meluangkan waktu untuknya jadi keharusan.
Penerbangan dari Jayapura menuju Jakarta adalah perjalanan paling melelahkan, karena melewati tiga zona waktu. Semakin dekat dengan tujuan, jarum jammu berubah. Dua tahun lalu, saya pernah mengalaminya. Ketika orang-orang sedang merayakan Iduladha, saya sibuk berpindah-pindah dari satu bandara ke bandara lain, untuk melanjutkan perjalanan panjang dari Jakarta ke Papua.
Tapi kali ini, bukan hanya pengetahuan yang saya kejar di 'mama kota'. Ada kerinduan yang telah lama berdiam di masing-masing titik, lalu memiliki kesempatan untuk bersua. Ini tentang menemukan jawaban dari segala pertanyaan yang kerap mendarat di ubun-ubun. Bertahun-tahun. Bonusnya, saya berjumpa kawan-kawan lama.
Tepat di kota ini, saya merayakan hari raya usia. Senang, karena dijabati erat seorang datuk dari Padang tepat pukul 12 malam, esoknya diberi kejutan dan riuh ucapan kawan-kawan di tengah kegiatan, dikirimi lagu "Adil Sejak Dalam Pikiran" dari salah satu personel Beranda Rumah Mangga (Braga) sebelum mereka merilisnya, bertemu Wenri Wanhar dan dipesani novel terbarunya "Lelaki di Tengah Hujan", menonton premier Game of Thrones seri terakhir yang sudah ditunggu-tunggu selama setahun, film dokumenter Sexy Killers akhirnya dirilis di Youtube, dan bertemu kawan lama sewaktu di AJI Gorontalo dulu.
Yang teristimewa, berjumpa dengan yang saya sebutkan tadi di atas: menemukan jawaban.
Hal-hal istimewa di atas, mengada di kota yang paling saya benci. Sepertinya, kota ini memang sengaja ingin meluruskan jalan pikir saya, bahwa untuk membenci sesuatu kita harus berkecupan dengan hal-hal baiknya juga.
Namun, sudah kodratnya Donal Bebek, pasti ada kesialan yang terjadi. Kendati kesialan itu hanya menyapa laptop saya. Ia meminta beberapa lembar rupiah, untuk membuatnya kembali berfungsi seperti sedia kala. Ada juga seorang kawan dari Aceh yang ketinggalan pesawat. Tapi saya yakin, itu bukan dikarenakan sinyal sial dari saya. Meski sesekali terlintas kata: mungkin.
Sekarang, apakah saya masih membenci kota itu? Masih. Kenapa? Karena kota itu membuat saya terpaksa harus merindukannya.
Selamat Jalan Ocien
![]() |
| Mendiang Ocien kedua dari kiri. |




