Rabu, 22 April 2015

Sistha Ghasyafani

Tidak ada komentar
Nama depannya kupikir dan yang belakang kuselancari internet. Sistha (kutambah H)
bagiku kata yang berkawan dan penuh persaudaraan, serupa lawan katanya
Brada. Kuanggap itu keren saat itu. Lalu kucari Ghasyafani di
internet, dari bahasa Arab yang seharusnya Kasyafani. Artinya murni
suci kebahagiaan. Sedikit lebay dan kelaki-lakian. Kuganti saja huruf
depannya. Kasyafani kedengarannya seperti kain kafan. Seram. Jika
kuganti, mungkin artinya pun berubah. Masa bodoh.
Berderetlah kata Sistha Ghasyafani, lalu kusingkat Sigi. Nama ini
satu-satunya di Desa Passi. Sigi yang berlesung pipit, jika besar
nanti lalu memperkenalkan diri, pastilah sumur mungil di pipinya itu
tergali. Coba kau menyebut Sigi, maka gigimu akan berderet rapi, dan
senyummu melebar mirip Joker.
28 April 2011, Sigi lahir di kamar hitamku di Passi. Saat itu aku
berada di Manado, tak sempat kudengar tangis pertamanya. Setelah
dikabari, aku begegas pulang, dengan uang gaji di kantong, untuk
membayar bidan yang membantu persalinan. Ibunya tak mau melahirkan di
klinik. Kamarku dipilihnya, tempat diciptakannya Sigi. Mungkin begitu
pikir ibunya.
Setiap hari lahir Sigi berikutnya, aku sering menulis. Saat di Bali
pun aku menulis. Juga di hari ulang tahunnya yang kemarin. Turut
merayakannya meski dengan enggan saat diberikan kue dan boneka, di
tengah tidur yang terganggu, Sigi sempat-sempatnya menendang kue.
Hampir saja.
Kali ini, Sigi empat tahun sudah. Namun nama depannya yang berkawan
dan penuh persaudaraan, tidak berlaku untukku. Tapi kali ini ada yang
baru darinya. Sejak ayahku berpulang Maret lalu, Sigi menjadi akrab
dengan neneknya. Anak yang dimanja memang selalu rindu. Di tanah
belakang rumah tempat ayah dimakamkan, buah-buahan sedang musim. Sigi
selalu minta diantar hanya untuk pergi memanen buah duku dan manggis.
Jika tas kreseknya kurang, ia menangis. Ayah berpulang, tapi Sigi
kembali. Pikirku.
Pernah sekali kudapati Sigi sedang mengunyah permen karet. Kuwanti
meski dengan nada tak keras, agar permennya dibuang. Sigi berlari ke
pelukan neneknya, dengan tangis yang meledak.
"Waktu kamu pergi ke kos, Sigi diberi permen, tapi malah menolak. Sigi
bilang nanti papa marah, gigi Sigi bisa rusak," terang ibuku keesokkan
harinya. Sialan, anak ini mulai bisa mengenali sosok ayah yang
pelarang.
Jika Sigi di rumah, rasa takutnya masih tersisa. Dengan segera Sigi
berlindung ke pelukan neneknya. Meski dengan senyum dan juluran lidah
mengarah padaku.
Sejenak, Sigi. Rambutmu serupa Medusa menggelung nasib ular berbisa.
Di kelopak mata bundarmu, ada kisah yang begitu hitam serupa warna bidang di angkasa. Penuh misteri yang dalam dan
jauh. Begitu rumit bukan? Namun sebenarnya Sigi selalu sederhana.
Bocah ini tak mau rumit dengan sekelumit gundah. Ia tertawa dan
berbicara dengan dialek kental, lalu berdengung dengan lagu yang entah
apa. Kau panggil Sigi, lalu ia menyahut.
Jika arti Kasyafani adalah murni suci kebahagiaan, mungkin setelah
kuganti huruf depannya menjadi Ghasyafani, artinya berubah. Tapi
pikirku, hitam kelopak matanya adalah warna suci. Kenapa harus putih?
atau cokelat seperti warna mata ibunya? Ah, masa bodoh.
Bagiku Sigi adalah hitamku yang dicipta dan dilahirkan di kamar
hitamku. Coba sekali lagi kau panggil, Sigi. Hitam bola matanya akan
berbinar.
Sigi hanya bisa kudekati kala tidur. Kuciumi lalu kubelai. Sayang
sekali, tentu saja kedua matanya terkatup. Pipinya datar tak
berlesung. Kala terlelap, aku menjaganya dari serbuan nyamuk.
Mengawasinya agar jangan terganggu lalu terbangun. Sebab, Sigi akan
mendapatiku di sampingnya. Lagi-lagi tangisnya akan menggelegar.
Matanya nanar seperti mata ibunya waktu bertengkar. Akhirnya, pelukan
nenek, di mana lari kecil berlabuh.
Hai Sigi. Tak banyak lagi yang bisa kutuliskan. Di masa remaja meski
seharusnya teruslah menjadi kanak-kanak, kelak tulisan-tulisan ini
bisa kau baca. Kuharap blog ini abadi hingga nanti. Mungkin ada yang
canggih kelak, tapi di sini Sigi bisa membuka tabung memori. Ada yang
perih dan sedih di sini, tapi suka pun jelas ada. Keduanya sering
bersanding.
Selamat ulang tahun yang ke empat Sigi. Tentu saja, jangan pernah
dewasa. Masa kanak-kanak adalah masa yang penuh keajaiban. Dewasa itu seperti permen karet.

Sinindian. Kos Kolam.
(23/4/2015)
5:06 am

Sabtu, 28 Maret 2015

Berpulang

Tidak ada komentar
Ayah duduk di tepi ranjang dengan nafas memburu berdahak. Ia coba bicara. Tak jelas apa katanya. Suaranya seakan retak.

Isyarat lambaian mengarah ke kamar kecil. Kupapah ayah lima kali langkah. Tiada yang beda, rengsa serupa kemarin.

Ayah menyudahi hajatnya. Setelah itu, raganya tiba-tiba lempai dan memberat. Seperti para malaikat mengelilingi ubun-ubunnya lalu menjatuhkan sepetak surga. Ia terbaring. Bola matanya terus mencoba mengejar apa yang ada di atas kepalanya. Kupanggil, namun malaikat-malaikat itu terus menggoda. Sebuah isyarat cepat kutangkap.

Kulit keriputnya membiru, dengan desah masih memburu. Kakakku berupaya menenangkannya. Setelah kalah dengan cemas, kakakku bergegas memapah ayah menuju mobil lalu menuruni bukit, menuju perkotaan. Meski ibu pernah diperingatkan ayah: tak perlu rumah sakit lagi, cukup di rumah saja.

Dua telepon dari kakakku terhubung. Ayah butuh oksigen yang, malam itu rumah bagi para orang sakit tak menyediakannya. Iya kakak, rumah itu tak senyaman rumah kita. Di sini udaranya gratis. Makanya ayah tak mau lagi ke sana.

Telepon ketiga menyusul. Ayah berpulang. Aku tak kaget, bahkan tak menyusul ke sana. Aku menunggu di rumah saja. Dengan debur dada retak di karang.

Berpulang. Entah siapa pengeja kata itu hingga bermula. Jika kita benar-benar berpulang, kenapa harus ada neraka untuk menakuti? Kita berpulang, ke tempat kita berasal, bukan? Tempat yang tak satu manusia pun tahu, setelah manusia itu benar-benar berpulang.

Ah, ayah... Terima kasih sudah membangun rumah dengan cinta, menganyamnya dari peluh dan kasih seluruh, agar kami tak cemas kala panas dan hujan, pun tahu ke mana arah pulang. Ayah bukan sekadar membikin rumah. Ayah membangun sepetak surga untuk kami. 

Pemilik Semesta. Jika benar ayahku berpulang, sediakan tempat yang layak untuknya. Sebab rumah-Mu memang untuk sesama-Mu. Tempat segalanya berulang.

Minggu, 08 Maret 2015

Geram Gagap yang Salah Sasar

Tidak ada komentar
Hari masih menyembulkan matahari dari balik gunung Ambang setiap paginya. Sama halnya dengan chat-chat yang terus menyembul dari kolom BBM, setiap, pagi, sore, malam, jam, menit, bahkan detik. Ada yang menarik, tulisan edisi kedua Kronik Mongondow, menyoal Akper Totabuan terpacak satu persatu-satu.
Si mahasiswi Nova Soputan yang konon asalnya dari Ratahan, Mitra, terus di-bully di media sosial. Bahkan para pem-bully rasa-rasanya ingin menumpahkan lahar dari muntahan letusan gunung Soputan, hanya untuk memuaskan nafsu tonteek-nya.
Mayoritas pem-bully memang, sebab Mongondow selalu nyaman dengan tonteek dan pololeke. Tapi, kenapa yang mayoritas selalu menjadi patokan, untuk kita menilai adab sosial?
Publik Mongondow, pada akhirnya tersesat di paradoks logika Kota Kreta si filsuf Epimenides (abad ke-6 SM). Ia berkata, "Semua orang Kreta pembohong!" yang jika pernyataan itu benar maka ia berbohong, sebaliknya jika itu salah maka ia benar. Kenapa saya korelasikan dengan si Mahasiswi Vs Publik Mongondow?
Publik Mongondow memeras otak untuk mem-bully Nova. Padahal yang mereka lakukan, secara tidak langsung membombardir keluhuran adab Mongondow itu sendiri. Atau sudahlah, ada berapa dari kalian yang pernah keluar kota, lalu pernah menjawab asal Manado saat ditanyai? Semoga alam bawah sadar, juga memori jangka panjang Anda masih mengingat (hayo ngaku). Selanjutnya, kenapa bully kalian tak nampak, saat anggota DPRD Kotamobagu, senang berleha-leha di Bali?. Yang lebih parahnya, Nova yang notabene dari suku lain, dipaksa untuk mengaku Mongondow. Salahkah? jelas ada paradoks logika meski berbeda konteks dengan Epimenides.
Pemirrrrsaaaa.... (Sambil meniru garau suara Karni Ilyas, presenter Indonesia Lawyers Club). Apa salahnya juga, jika ke-120 mahasiswa/mahasiswi Akper Totabuan itu, ingin berleha-leha di acara Dahsyat? Sesudah penat dengan tetek-bengek praktek? Atau bisa jadi, senyum Raffi di pagi hari bisa menambah semangat mereka.
Dikabarkan Radar Bolmong, mahasiswa-mahasiswi ini diberangkatkan 28 Februari 2015. Lalu praktek terhitung sejak 2 Maret hingga 15 April 2015 nanti.
Selain itu, mereka juga melakukan penelitian untuk karya tulis ilmiah. Sebab, itu menjadi salah satu syarat mereka untuk menamatkan studi mereka di Akper Totabuan.
Menyoal kejijikkan salah satu anggota DPRD Sulut. Saya mungkin lebih jijik dengan, keberangkatan enam anggota DPRD Kotamobagu yang tergabung dari fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), yang konon ke Bali dalam rangka menghadiri acara Musyawarah Nasional (Munas), namun diduga-menyaru-menggunakan dana APBD.
Kenapa bukan mereka yang di-bully? Geram ini salah sasar. Sepele. Atau mungkin publik tengah keasyikan berpesta di Sky Garden. Ha-ha-ha-ha....
Saya semalam mendengar rekaman gemuruh teriak mahasiswa/mahasiswi Akper Totabuan. Studio Dahsyat bergetar saat mereka meneriakkan, Akper Totabuan!!!!! Bukan Akper Manado.

Dahsyatnya Tonteek dan Pololeke

2 komentar
Puluhan hujatan saling jejal di recent updates BBM. Bersikut-sikutan, gonta-ganti display picture, dengan meme hujatan dan sindiran dilengkapi kepopuleran "di situ kadang saya merasa sedih."
Sindiran itu ditujukan kepada segenap insan mahasiswa/mahasiswi Akademi Keperawatan Totabuan Kotamobagu, yang berkesempatan nongol di acara Dahsyat RCTI, Minggu 8 Maret 2015.
Saat salah satu mahasiswi mengaku asal Manado saat ditanya presenter acara, sontak membikin geram penulis kawakan asal Bolmong, Katamsi Ginano. Pun disusul dengan kalimat-kalimat satire di blog Kronik Mongondow.
Usai di-broadcast, puluhan kontak lain bergegas gagap. Kolom chat saya penuh dengan pesan berantai. Bukan hanya itu, même di BBM mengalahkan même seteru Haji Lulung Vs Ahok. Ini ramai, enggan menyebut asal Mongondow atau mungkin faktor kebiasaan menyebut Manado sebagai Ibukota Provinsi, membuat mahasiswi itu jadi bulan-bulanan.
Ke-Mongondow-an kita, tonteek dan pololeke yang, telah menjadi ciri khas Mongondow, terkadang perilaku itu menempa kita menjadi orang yang gemar meng-hiperbola-kan suatu kesalahan. Pada akhirnya, kita tumbuh dan besar menjadi pribadi pengolok-olok. Apapun itu, mengolok-olok lebih kejam dari tak sengaja - mengaku - asal Mongondow. Siapa bisa menjamin? Jika mahasiswi itu benar-benar tak ingin menyebutkan asalnya dari Mongondow? Bisa jadi ia gugup saat pria seganteng Raffi Ahmad bertengger di hadapannya. Atau sebab lebih familiarnya kota Manado, membuat alasannya menyebut Manado agar terawang Raffi lebih mudah, tak sibuk menerka dengan dahi mengernyit, di durasi waktu yang begitu sempit. Lagipula Akper Totabuan mahasiswa dan mahasiswinya beragam suku. Bukan hanya Mongondow.
Nah, kembali ke hujat menghujat. Saat tonteek dan pololeke itu dilakoni, seolah debur dada kita bahagia dengan ketertindasan si manusia yang di-tonteek. Tak bisa dipungkiri, saya pun sering terlibat dengan tonteek dan pololeke, namun sebatas celoteh persekawanan yang bahkan berusaha tak memeloroti luhur etika berbahasa Mongondow. Konon, saat kakek saya menjabat sebagai Sangadi di Desa Passi yang masih kuno, kata kotor dan sindiran bisa membuat alasan seseorang itu disidang adat. Namun kala menilik Mongondow di era serba canggih ini, saya sulit membeda mana yang lebih beradab era sekarang atau era kuno Mongondow.
Hujatan yang tak lagi berbau humor-positif, atau menjurus ke penghinaan total malah menjadi suatu kebanggaan.
Saya ingin mencotohkan kalimat tonteek atau pololeke , kepada orang yang pesek hidungnya, dengan mengatakan, "Na 'polapa' inandol ngiungnya," terdengar lucu, berusaha disarukan, namun tetap saja mampu membuat si yang dimaksud jengkel. Ini kategori yang bisa disidang adat, meski berusaha disarukan dengan kalimat perumpamaan tingkat tinggi, namun berbau negatif.
Contoh kalimat tonteek yang semburat dari kawan-kawan, "bukang maen ngana pe motor e, depe pece so bole tanam akan bawang Modoinding," Satu kalimat tonteek dan pololeke yang dimaksudkan agar si pemilik motor, memerhatikan kebersihan. Ini kategori humor-positif.
Bukan seperti tonteek dan pololeke yang seliweran di BBM, ditujukan kepada mahasiswa/mahasiswi Akper Totabuan.
- "Olat monimuo aka mobui, brenbo (burein boke ') monimu."
- "Soe skali, padahal jaga makang yondog. "
- "Mangaku dari Manado kata supaya gaul."
- "Tutu mosoe-soe moikow, bagu natua doi 'don mangaku Mongondow."
Dan masih banyak lagi dahsyatnya tonteek dan pololeke di sana-sini. Padahal bukan tidak mungkin, di suatu kelak, saat kita sakit lalu dirawat di Rumah Sakit, ada si yang dihujat-hujat ini sedang merawat kita. Hahaha ....
Nah, jika mengaku orang Mongondow, ASLI, yo tonteek bo pololeke monimu nion tutu bidon moaid.
Saya pikir, standar penilaian ke-Mongondow-an pun bukan ditilik dari sepotong kejadian yang mungkin - tak disengaja - di acara Dahsyat itu .
Bahkan jika soal penghinaan ke-Mongondow-an, di saat kita menghujat berlebihan, adat dan kebiasaan Mototabian, Motompiaan bo Mototanoban, sirna sekejap.
Maka, intaw Mongondow so ikow?
(sambil mendengarkan rekaman gemuruh teriak Akper Totabuan di acara Dahsyat, yang dikirim salah satu teman)

Selasa, 03 Maret 2015

Kos Kolam

Tidak ada komentar
Di dalam kamar terang ini. Cahaya seperti mengawasiku terus menerus. Sedari tadi, aku terjaga dengan kelopak mata membusung terang. Malam-malam kemarin pun terasa sama. Tidur jadi serupa kekasih yang selalu ditunggu.
Pandanganku menyapu langit-langit kamar. Segala sudut kuterlusuri. Jadi ingat kamar hitamku di rumah.
Iya, ini bukan kamarku. Tapi kamar kos yang kusewa setelah diterima bekerja di salah satu perusahaan media. Kantornya hanya sepetak halaman jaraknya dari kos ini.
Kamar ini langit-langitnya tak seperti kamarku. Karya seni di langit-langit kamar hitamku tingkat tinggi. Ada petak-petak sawah kertas kusam dan pematang tali rafia. Karya warisan kakak perempuanku, yang kini nun jauh di Pulau Borneo.
Di langit-langit kamar kos ini. Satu per satu debu mencuri nyawaku. Debu itu turun dengan senyap disaat lelap. Tapi sudahlah, biarkan debu itu kuhirup sejuta. Jika ini takdir, aku tak ingin berikhtiar. Biarkan saja. Aku terlalu suka dengan kamar ini, pun suasana sekitar. Kami—penghuni kos— diitari gemericik kolam dan hijau persawahan. Tidur memang jadi mudah di sini, tapi tidak denganku. 
Perempuan usia 40-an di samping kamarku cukup riang. Ia membikinku cemburu, bahwa usiaku yang jauh lebih muda, kenapa tak seceria dia? Sesekali, perempuan itu bercengkerama denganku. Pernah kupinjami uang bensin. Ia ikhlas, tak perlu ditukar katanya. Ah, tetap kutukar jika kuberuang.
Ritme kerja di media kubeber saja di sini. Awalnya, terbit matahari tiga jam kemudian mataku benderang.
Tapi sebulan kemudian.... Segalanya bisa kuatur sesuka hati. Waktu telah kupilah, kupilih dan kupolakan. Terang, pekerjaan jadi mudah.
Kembali ke kamar ini. Ruang 4 x 4 meter yang segalanya ada. Aku bebas telanjang sana-sini. Gelas, piring, kertas bungkusan nasi, tas kresek, dan puntung rokok leluasa kutabur. Segalanya merdeka.
Di sudut ruang ada tumpukkan koran. Bukan koran langganan, tapi yang tercecer merdeka di kantor, lalu kubawa pulang. Lima meter di samping kamar, gemuruh percetakkan mengaum. Pukul empat pagi, ia reda. Tapi sesekali gaungnya terbawa hingga ke mimpi, jika lelap telah meneluhku.
Teriak lelah para pekerja sering kudengar, namun itu tak seberapa dengan lelah kami. Pikirku begitu. Teriak kami di relung, lelah kami dipendam, bahkan letih kami terbungkus bungkam. Yang namanya wartawan di media ini, ah, tukaran berita dihindari. Ada sih, satu dua berita yang ditimang dari media lain, kebanyakan yang dikais sendiri. Intinya tak bobol. Sebab bobol adalah borok wartawan. Kata mereka.
Ah, Bolmong... Negeriku yang beragam. Bahkan kamar kecil ini bisa kau rembesi ratusan perkara. Menumpuk di sudut kamar.

Sabtu, 31 Januari 2015

Tiga 'L' di Negeri Lonua'

Tidak ada komentar
Pemimpinnya berkumis, dengan nama tenar Leluho' (Leluhur). Ia memimpin Negeri Lonua' sambil menggengam matahari timur. Namun saat condong ke barat, matahari itu lepas.
Rakyatnya pun tahu persis, siapa Leluho' di balik lelucon dan kecakapannya bertutur. Leluho' pun tahu persis, siapa rakyatnya dan apa yang harus dilakukannya. Konon, Leluho' memiliki ilmu pukau, turun temurun dari leluhurnya. Leluhur nun jauh di Negeri Sahara.
Bertahun-tahun ia memimpin rakyat Lonua', sebagian rakyatnya jenuh dan keruh. Sebagian besar. Isu miring terendus sesekali.
Sedangkan di bibir pantai, di lindap subuh saat matahari masih mengatupkan cahayanya. Percakapan antara Embun dan Angin Pantai, bermula....
"Saya mulai jenuh dengan Leluho'. Tapi kami adalah sahabat karib. Keakraban kami serupa embun yang memoles dedaunan pagi," Embun bermonolog.
"Namun, masih tersisa sedikit terang dariku untuknya, meski jenuh ini semakin mengeruh."
Sepintas, kilatan kecil menggaris di kulit daun bakau. Angin Pantai mendengar keluhan Embun. Hadir lalu tercipta dialog.
"Apa gerangan yang membuatmu jenuh dengan Leluho'?" tanya Angin Pantai, sembari meliuk-liuk dan menampar kecil dedaunan, membikin Embun bergetar.
"Sahabatku berubah!"
"Apa yang berubah darinya? Bukankah Leluho' dari gerak masa, tabiat bocahnya sudah menjadi penentu?"
"Entahlah, mungkin dia lelah!"
"Tak ada yang melelahkan menjadi seorang pemimpin. Telunjukmu pun bisa menjadi tongkat Musa." 
Perkataan Angin Pantai, membuat Embun seakan ingin menetes di lautan garam di bawahnya. Meninggalkan lembar daun dan Leluho'. 
"Kau tahu Angin. Tak mudah membagi kesetiaan dengannya. Aku lebih memilih terus mendekap dedaunan. Tapi, setiap pagi, sejak ia masih bocah yang lugu, telunjuknya itu mengelusku dengan lembut. Setiap pagi, Angin. Setiap pagi. Ia tak punya teman selain aku."
"Kala matahari tersenyum dari timur. Ia enggan beranjak meninggalkanku. Ia menggenggam matahari, menghalau cahaya, agar aku tak sirna."
Dua bulir embun lain, sekejap bergulir jatuh. Embun hanya menatap lalu meringis.
"Kenapa kau meringis Embun?"
"Saat embun-embun jatuh ke lautan nan asin. Memang mustahil untuk merubah rasa lautan. Ia akan tetap menjadi asin. Tapi pernah kaucecap? Seperti apa rasa embun itu? Ingatlah, kami embun di dedaunan bakau."
Angin Pantai sejenak berhenti meliuk-liuk.
"Kau pernah dengar Embun, tentang Leluho' yang suka mengulum lollipop?"
"Apa yang tak kuketahui tentangnya?"
"Tapi kali ini, lollipop itu milik orang lain," Angin Pantai memburu.
"Sejak ia bocah, kenakalan seperti itu wajar saja."
Angin Pantai menderu, "Tapi ini bukan bocah. Ini manusia yang ingin melangkah."
Angin Pantai memburu lagi, "Kau tahu Embun, sekarang ia senang merampas lollipop, lalampa, dan lapis legit. Orang-orang menggemparkannya dengan sebutan tiga 'L'. Ha-ha-ha....,"
"Benarkah?"
"Bahkan dengan mudah. Kalau yang pernah kudengar dari sebuah percakapan, di salah satu kapal negara Inggris yang sedang berlayar. Hmm... like taking candy from a baby. Itu idiom, bisa diartikan, yah, gampang. Lagipula ia sekarang seorang penguasa Negeri Lonua'."
Embun tiba-tiba merasa mendidih, meski sinar mentari pagi belum memanggangnya.
"Ah, itu hanya lelucon," sangkal Embun.
Angin Pantai mendengus pelan, "Huuuffff... Kau terlalu dekat dengannya. Tapi, ah, entahlah. Aku hanya menuturkan apa yang kuketahui."
Percakapan terhenti. Angin Pantai meninggi sembari menengok apakah kedua mata matahari masih terkatup. Terang tak lama lagi. Ia kembali merendah.
"Nah, apa yang membuat kau berpikir Leluho' telah berubah?"
Hingga matahari mengucek kantung matanya, jawaban dari Embun tak terdengar. Ia memilih jatuh ke lautan asin sebelum cahaya matahari mendidihkannya. Angin Pantai pun kembali bertiup, melanjutkan perjalanan. Satu tanya belum terjawab. Bukan tanya tentang perubahan Leluho', namun sebuah pertanyaan baru. Kenapa Embun tak memilih bersama dedaunan atau dengan Leluho'?
Embun hanya selalu memiliki satu pilihan, kembali menyatu bersama asinnya lautan, seasin keringat di ujung telunjuk Leluho'.

Selasa, 20 Januari 2015

Perempuan

Tidak ada komentar

Oksigen membentang di bumi. Lalu dihidu segala mahluk hidup dengan ketersediaan yang melimpah.
Namun di sudut sebuah ruang perawatan rumah sakit. Terbaring lelaki yang hanya ditemani perempuan dan tabung oksigen. Tubuh lelaki itu ringkih dengan rusuk menyembul dari daging yang kusut. Sekusut raut perempuan itu.
Sepasang pecinta ini telah dua dekade merajut rumah-tangga. Diberi sepasang anak dan satu cucu. Perempuan itu, kakak paling tua yang biasanya menjadi pilihanku, saat lauk di rumah tak sejiwa dengan liur.
Perempuan itu, mengelus-elus rambut kering lelaki di sampingnya. Di binar matanya ada harapan tentang esok yang serupa puluhan tahun lalu. Kala mereka memadu kasih di sebuah bangku gelap di bawah pohon rindang. Namun saat terbaring rengsa, lelaki di sampingnya ditatap penuh kekaguman yang tak kunjung pudar.
Wajah perempuan itu selalu cemas melirik jarum oksigen. Tanda merah, adalah puncak kegelisahan yang membuatnya selalu awas. Ia tak beruang, hanya kertas-kertas jaminan kesehatan ia letakkan di bawah bantal, sebagai pengumpul nyawa. Harapannya pun bersandar pada tabung oksigen.
Perempuan itu kembali tidur. Ia takut bermimpi sebab takut tak terbangun. Ia seharusnya terjaga, meski seharusnya ia istirahat. Cemas, bimbang, ketidakberdayaan setiap kali ditodong resep-resep obat. Membuat ia semakin kuat. Perempuan itu bukan lagi perempuan. Ia adalah seorang istri. Statusnya kali ini teruji setelah bertahun-tahun. Yah, perempuan itu adalah seorang istri.
Mungkin benar, perempuan adalah satu-satunya manifestasi citra Tuhan paling sempurna di muka bumi. Seorang perempuan menjadi istri, sekaligus menjadi ibu. Memiliki rahim sebagai pengingat Kemahapenciptaan-Nya.
Perempuan itu tak lagi bermuka sendu kemarin. Harapannya berubah menjadi keikhlasan. Seketika rautnya berubah menjadi wajah Tuhan. Perempuan itu sempurna menjadi Tuhan di bumi.
Namun, ia masih menunggu. Kilatan harapan itu masih ada. Di sudut kiri matanya. Bukan lagi pada tabung oksigen.