Rabu, 06 April 2016

Suara dari Dalam

Tidak ada komentar
Ilustrasi pernikahan (www.shutterstock.com)
LGBT di Lengan Pulau Sulawesi
MEREKA terpaksa sembunyikan jati diri. Bahkan ada yang terpaksa menikah secara “hetero”. Tak sedikit LGBT di Gorontalo dan Manado takut menunjukkan identitas seksual mereka karena penolakan masyarakat. Pilihannya, berpura-pura menjadi hetero dan menikahi lawan jenis.
Adalah Dody (nama samaran), pemilik salon di salah satu titik keramaian Kota Gorontalo. Dody adalah gay yang sukses membangun bisnis kecantikan. Ia kini mempekerjakan tiga karyawan, semuanya waria. Kendati sudah menjadi bos, ia sesekali tetap melayani pelanggan.
Dody tetap ingin disebut gay meski agak gemulai, bukan waria. Ia mengaku tidak pernah berpakaian layaknya perempuan (cross dresser), sejak ia mulai terbuka dengan orientasi seksualnya, sampai ia berusia 40 tahun kini. Penampilannya sehari-hari berkaos oblong dipadukan dengan celana jeans pendek. Rambutnya pun dipotong pendek. Tak banyak basa-basi, Dody segera bercerita tentang kehidupannya menjadi seorang gay.
“Saya tahu orientasi seksual saya berbeda saat kelas tiga SMP. Perasaan suka saya muncul pada laki-laki, tapi sebatas mencoba untuk memahami apa benar saya ini suka laki-laki. Setelah kelas satu SMA, baru saya merasakan puber. Saya mulai jatuh cinta pada laki-laki,” kisahnya.
Laki-laki yang humoris itu lahir dan tumbuh besar di salah satu desa di perbatasan Provinsi Gorontalo. Ia memilih hijrah ke kota, karena kerap kali merasa terdiskriminasi di desanya.
“Saya tertekan di desa, makanya datang ke kota. Saya juga ingin merasakan perbedaan antara desa dan kota. Di kota lebih terbuka dan pergaulannya juga menambah wawasan kita. Di desa saya merasa sangat terdiskriminasi. Selain itu, tidak bebas juga sebab saya masih tinggal dengan orang tua,” katanya.
Setelah menetap di Kota Gorontalo dan bekerja di salon, Dody belajar untuk bisa hidup mandiri. Dari hasil tabungannya selama bekerja dan juga merasa bahwa keahlian dalam bidang salon telah mumpuni, ia memutuskan untuk membuka salon sendiri tahun 1999. Kemudian ia terpikirkan untuk menikah. Tentu saja, dengan perempuan.
“Saya memutuskan menikah pada November 2013. Saya berpikir mungkin sudah sepantasnya saya menikah. Apakah hidup saya hanya terus seperti ini?” lanjutnya.
Meski berat, ia coba menjalani kehidupan itu. Menikah secara heteronormatif dengan perempuan, tentu saja melawan arus hasrat seksualnya yang notabene cenderung menyukai laki-laki.
“Saya pikir setelah membangun rumah tangga, saya bisa berubah. Tapi ternyata ada pertentangan dalam batin.”
Dody mengaku saat menikah, istrinya tahu bahwa  ia seorang penyuka sesama jenis. Tapi istrinya ikhlas menerima ia apa adanya.
“Saya sudah jujur kepadanya. Saya juga menjelaskan tentang kehidupan saya yang menyenangi dunia malam. Dan saya memiliki pacar laki-laki,” aku Dody.
Mendengar pengakuan Dody, istrinya tetap memilih mengarungi bahtera hidup dengannya dan tinggal bersamanya di salon. Dari pernikahan itu istrinya pun mengandung. Dody mengaku, sebelum menikah, istrinya pernah hamil tapi mengalami keguguran. Namun pernikahan itu hanya berusia tiga bulan. Saat istrinya masih dalam keadaan mengandung, biduk rumah tangga mereka goyah.
“Saya merasa tidak ada kecocokan. Mungkin karena saya sudah terbiasa hidup dengan laki-laki. Saya tidak bisa berbohong pada diri saya sendiri. Saya hanya mencintai laki-laki bukan perempuan. Itu tidak bisa saya pungkiri,” katanya.
Di Kota Gorontalo sendiri, tidak ada tempat konseling untuk masalah-masalah rumah tangga seperti yang Dody alami. Akhirnya ia memutuskan untuk bercerai. Namun meski telah bercerai, ia tetap memberi nafkah kepada istri dan anaknya. Hubungan mereka pun tetap seperti biasa, selayaknya teman. Bahkan di antara keluarga mereka pun tetap terjalin hubungan yang baik.
Meskipun memiliki anak, tapi itu tidak menjadi pertimbangan Dody untuk tetap mempertahankan rumah tangganya. Pertentangan batinnya selalu lebih besar, bahwa ia tidak mungkin bisa menjalani pernikahan tersebut, sebab hasrat seksualnya bukan kepada perempuan.
“Pertentangannya terlalu besar. Jadi selama berhubungan seksual dengan istri, saya tidak memiliki rasa suka atau mencintainya. Hanya rasa kasih-sayang yang ada, karena sebagai suami, saya harus memenuhi pula nafkah batinnya,” katanya.
Setelah bercerai, istrinya memilih tinggal di luar Kota Gorontalo. Dody pun kembali berhubungan dengan laki-laki. Meski ia mengaku belum memiliki pasangan hidup atau tinggal serumah dengan laki-laki. Namun tetap saja ada beberapa laki-laki yang terlibat hubungan seksual dengannya. Dan mereka adalah laki-laki heteroseksual.
“Mereka suka, mungkin karena pergaulan. Biasanya saat mereka melihat yang seperti kami ini, pasti pikirannya ingin duduk minum alkohol sama-sama. Ya, kebanyakan dari sisi finansial sih, kami belikan minuman akhirnya mereka menuruti apa saja yang kami minta. Pendekatannya seperti itu,” ungkapnya.
Hidup seorang diri, Dody mengaku lebih jujur kepada dirinya sendiri. Ia semakin nyaman dengan kehidupannya yang sekarang. Sebab untuk urusan seksual, ia tidak lagi memiliki beban batin kepada istrinya. Yang ia pikirkan sekarang adalah bagaimana untuk tetap fokus dengan usahanya. Sebab ada tiga karyawan yang harus ia gaji.
***
Berbeda dengan Dody, Riko di Manado memilih mempertahankan perkawinannya yang sudah berjalan dua puluh tahun lebih dengan istrinya, seorang perempuan. Ditemui di rumah kawan baiknya, pria gay yang sejak 1988 berkarier sebagai publik figur itu akhirnya berkenan diwawancarai. Untuk menjaga identitas istri dan keluarganya, ia minta namanya disamarkan.
“Saya menikah sejak masih menetap di kota kelahiran (salah satu kota di Sulawesi), tahun 1992. Menikahnya karena MBA (married by accident – istilah untuk menggambarkan perkawinan karena mempelai perempuan sudah mengandung lebih dulu). Biasalah, pergaulan di high school (SMA),” kenangnya.
Setelah puas melanglang buana ke Jakarta, Surabaya, Samarinda dan Batam, ia memutuskan pulang ke Manado. Kariernya lumayan gemilang. Ia berpenghasilan bagus dan hidup serba berkecukupan. Dari situ pula, ia sanggup menafkahi istri dan menyekolahkan ketiga anaknya.
Riko seorang perokok berat meski profesinya menuntutnya bergaya hidup sehat. Sepanjang perbincangan, ia berkali-kali menyulut rokok. “Sudah sejak SMP, saya merasakan orientasi seksual saya berbeda,” akunya.
Demi menghindari ejekan teman-teman, Riko memilih merahasiakan. Ia mencoba bergaya hidup layaknya remaja laki-laki pada umumnya di sekolah. Pria setengah baya itu melanjutkan, dulu ia biseksual, menyukai laki-laki dan perempuan. “Tapi cenderung ke laki-laki,” tegasnya.
Ada banyak alasan mengapa kalangan LGBT, termasuk dirinya, enggan membuka diri. Menurutnya, lantaran mereka khawatir akan mendapatkan perlakuan diskriminatif dalam pekerjaan atau kehidupan sosial. Riko berpendapat, orientasi seksual tidak perlu diumbar pada banyak orang. Setelah menikah dan punya anak, ia lebih memilih menyibukkan diri pada karir.
“Saya selalu berpikir apa yang terbaik yang bisa saya buat.”
Riko menuturkan, dalam keluarga besarnya, hanya ia yang memiliki kecenderungan orientasi  seksual berbeda. Orang tua dan saudara kandungnya mungkin tahu tetapi sampai saat ini ia memilih tidak berterus terang. “Kecuali jika saya tertekan atau punya masalah, mungkin saya akan mengaku. Tapi selama ini, saya merasa baik-baik saja,” katanya.
Hubungan dengan istrinya baik-baik saja. Meski demikian, saat perkawinannya diguncang pertengkaran hebat lima tahun lalu, ia sempat curiga sang istri mengetahui orientasi seksualnya. Penyebabnya, Riko pernah mengalami kesulitan berhubungan intim cukup lama dengan istrinya. “Biasanya perempuan lebih peka, mungkin dia merasakan ada sesuatu yang berbeda,” tuturnya.
Riko mengatakan pada istrinya, bahwa dirinya juga manusia biasa yang punya kekurangan dan kelebihan. “Ya, kekurangan saya seperti ini. Jadi ia boleh memilih meninggalkan saya atau bertahan,” lanjutnya sembari melonggarkan kerah kemejanya. Suaranya tambah berat. Ia kembali menyulut sebatang rokok. Dari nyala pemantik api, tampak matanya berair.
“Saya mengatakan padanya, kalau ia meninggalkan saya karena sebuah kekurangan, ia akan tetap menemui persoalan-persoalan baru saat menikah lagi dengan lelaki lain. Jadi apakah ia akan memulai hidup yang baru atau mencari solusi atas persoalan ini? Saya memberinya pilihan. Dan pertimbangan lainnya, kami sudah memiliki tiga anak dan semuanya sudah dewasa,” terangnya. Riko menunduk cukup lama.
Usai menghela napas panjang, Riko melanjutkan, “Saya juga harus berjuang mempertahankan bahtera rumah tangga ini, demi anak-anak. Walaupun pada akhirnya kadang-kadang tersiksa juga ketika hasrat seksual ini harus dilampiaskan, tapi kita tidak bisa. Akhirnya kita terpaksa memilih lagi, dalam tanda kutip, apa yang ada saja.”
Kehidupan rumah tangga sebelum dan sesudah istrinya tahu tentang orientasi seksualnya tetap berjalan seperti biasa. Menurut Riko, semua itu bergantung bagaimana cara mereka menyikapi persoalan yang muncul. Topik yang menjadi konflik bukan lagi topik yang harus dibahas setiap hari.
Bila kadang-kadang hasrat seksualnya pada laki-laki lain muncul dan ingin disalurkan, ia tidak pernah menyampaikan pada istrinya. Istrinya pun tidak pernah bertanya tentang itu. Hal itu tetap menjadi wilayah privasi masing-masing.
“Saya tetap menjaga, artinya kalaupun saya akan berhubungan seks dengan laki-laki, saya akan berusaha agar istri tidak mengetahui. Saya bukan takut, tapi lebih kepada saling menjaga perasaan, juga menjaga martabatnya di mata teman-temannya.”
Asbak di atas meja sudah penuh. Namun ia membakar sebatang rokok lagi. “Jika saya dilahirkan kembali, bukan saya tidak atau mau memilih untuk tetap begini. Tapi karena saya sudah dilahirkan seperti ini, jadi ibaratnya nasi sudah menjadi bubur, maka tugas saya adalah bagaimana agar bubur ini layak dimakan.”
Menjadi LGBT menurutnya sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Ia mengaku sulit untuk membedakan apakah ia normal atau tidak. Sebab sebutan normal dan tidak normal itu bagi Riko hanya berlaku pada masyarakat umum. Riko menambahkan, di Manado, tidak ada lembaga konseling yang khusus menangani masalah perkawinan semacam yang ia jalani. Ia juga tidak pernah mencoba untuk bertemu psikolog lalu menceritakan kehidupan rumah tangganya. Baginya, hidup seperti apapun, harus diterima dengan lapang dada.
“Saya dilahirkan seperti ini, saya harus menerima. Bukan pasrah ya, kalau pasrah, pasti mengurung diri dalam kamar lalu menyesalinya.”
Sejauh perjalanan hidup yang ditempuhnya, tidak pernah sedikitpun terbersit untuk membangun rumah tangga dengan pasangan laki-laki. Ia mengaku lebih senang menjalani hidup seperti yang dijalaninya sekarang. Bahkan ia merasa, hidup yang dijalaninya sekarang adalah sebuah dunia petualangan.
Untuk memenuhi kebutuhan seksualnya, Riko mengaku tetap sering melakukan hubungan seksual dengan laki-laki, biasanya ia memilih laki-laki hetero, bukan gay.
Perbincangan panjang itu, akhirnya ditutup dengan cerita ringan akan hobinya menonton film bertemakan kehidupan gay. Ia kerap menonton film-film itu untuk mengetahui bagaimana seseorang bisa tumbuh menjadi seorang gay dan cara mereka menjalani hidup.
Ilustrasi (DeGorontalo)
Kenapa LGBT Berkomunitas
Ketika kalangan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) berkumpul dan membuat komunitas, banyak yang marah dan  menuding jika mereka akan menghomokan semua orang. Padahal komunitas-komunitas itu didirikan sebagai wadah bersama, untuk saling menghibur dan menguatkan antar sesama mereka di tengah maraknya diskriminasi. Komunitas-komunitas LGBT juga menginisiasi konseling, menjadi tempat berdiskusi, dan mempelajari hak-hak yang seharusnya mereka peroleh sebagai warga negara. Selain itu mereka juga aktif mendata dan saling mengampanyekan antar satu sama lain, mengenai  bahaya HIV/AIDS.
Ada satu komunitas LGBT bernama Sanubari Sulawesi Utara (Salut) di Manado, Sulawesi Utara. Rajawali Coco (31) yang menjadi ketuanya. Ia seorang gay.
Saat ditemui di Rumah Kopi Sario, Manado, Coco bercerita mengenai kapan komunitas itu berdiri. Dari penuturannya, Salut berdiri sejak 7 Juli 2012. Ketika pertama kali dibentuk, Salut beranggotakan 200 sampai 300 orang se-Sulawesi Utara. Namun seiring waktu berjalan, makin banyak komunitas-komunitas LGBT lain yang terbentuk, khususnya di tiga Kabupaten dan Kota, yakni Bitung, Tomohon, dan Manado.
Kini anggota Salut hanya tinggal 40-an orang. Yang masih aktif pun hanya 10 orang. Itu terdiri dari 4 gender lengkap: lesbian, biseksual, gay, dan transgender. Meski demikian, upaya mereka untuk memperjuangkan hak-hak LGBT terus berjalan. Khususnya advokasi pada teman-teman mereka yang terdiskriminasi. Juga kampanye tentang bahaya HIV/AIDS.
“Sebenarnya kami bukan pecah komunitasnya. Tapi dengan dibentuknya beberapa komunitas baru, itu adalah jaringan-jaringan baru yang tetap melakukan pendataan seperti biasa,” cerita Coco, yang saat itu ditemani beberapa teman,transman dan waria.
Pada 2012, lanjut Coco, salah satu faktor penyebab berkurangnya LGBT yang terdata karena ada beberapa di antara mereka yang memilih menikah secara heteronormatif. Dan mereka terdiri dari berbagai kelas sosial dan ekonomi.
“Banyak gay dan lesbian yang memilih menikah. Mereka dari berbagai macam profesi. Mereka pun sangat menutup diri, bahkan pasangan mereka tidak mengetahui orientasi seksual mereka. Tapi untuk konsultasi tentang orientasi seksual, mereka tetap datang kepada kami,” terangnya. Coco juga menyatakan, sebagai teman, ia tidak pernah memberi masukan kepada mereka yang memilih menikah agar menjalani kehidupan mereka yang dulu.
“Itu adalah pilihan hidup mereka. Kami malah memberi support. Yang kami coba lakukan pula, agar bagaimana teman kami itu benar-benar yakin ingin menikah secara heteronormatif. Sebab akan banyak risiko yang harus dihadapi. Selain itu kami coba mengingatkan jika menikah nanti jangan sampai berbuat kekerasan. Kekerasan itu dalam arti, jangan sampai ada perselingkuhan dengan sesama jenis lagi. Setia dengan pasangannya, dengan pernikahannya, dan juga harus bertanggung-jawab,” sampainya.
Banyak di antara mereka yang menikah disebabkan pula oleh tekanan sosial, budaya, dan agama. Coco mengaku sangat prihatin, sebab tekanan orangtua pun menjadi faktor penyebab kenapa teman-temannya itu memilih menikah.
“Tekanan orangtua kami kategorikan dalam tekanan sosial. Teman-teman saya memilih jalur pernikahan itu karena merasa tertekan.” Namun menurut Coco, tidak sedikit pula dari mereka yang telah menikah yang tetap berhubungan seksual dengan sesama jenis lagi.
“Di belakang mereka tetap berhubungan dengan sesama jenis. Karena bagaimana pun, hasrat seksual mereka tetap kepada sesama jenis,” tutup Coco.
Jika di Manado keempat gender homoseksual terakomodir dalam satu komunitas, lain pula yang terjadi dengan provinsi tetangganya yakni Gorontalo. Satu-satunya komunitas waria dan gay di Kota Gorontalo yang diketuai Melky Hardy (35) diberi nama Binthe Pelangi Gorontalo (BPG). Ada satu alasan yang dikemukakannya bahwa kenapa ia dan teman-temannya memilih agar penyebutan gender kepada BPG diharuskan menyebut komunitas waria dan gay, bukan LGBT.
“Di sini stereotip masyarakat berbeda antara waria dan gay dengan LGBT. Jika disebut LGBT, pandangan masyarakat selalu negatif. Selain itu memang anggota kami juga baru terdiri dari dua kelompok ini,” jelasnya, saat ditemui di sekretariat BPG, di Kota Gorontalo.
Belum adanya gender biseksual dan lesbian yang bergabung di BPG disebabkan karena mereka belum mau terbuka. Awalnya pembentukan BPG dimaksudkan agar di antara mereka bisa tercipta keakraban. “Untuk lesbian dan biseksual mereka masih menutup diri. Dulu gay juga masih risih berkawan dengan waria. Begitupun sebaliknya,” terangnya.
Ketika direncanakan pada September 2013, lalu diresmikan bulan berikutnya Oktober, satu per satu wajah baru mulai bermunculan di BPG. Antara dua komunitas itupun, keakraban semakin terjalin.
“Setelah diadakan event Ratu Spesial 2013, akhirnya dua komunitas ini semakin akrab. Di awal pembentukan BPG anggotanya berkisar 50 orang. Anggota yang aktif  sekarang tinggal 8 orang karena banyak yang mulai sibuk dengan urusan masing-masing,” terangnya.
Di samping kegiatan-kegiatan internal komunitas, gerakan BPG sama seperti Salut. Mereka berusaha untuk mengampanyekan tentang bahayanya penyakit HIV/AIDS. Mereka juga fokus mengadvokasi anggota yang terdiskriminasi oleh lingkungan masyarakat dan orangtua.
Dituturkan Melky, di Kota Gorontalo yang dijuluki Kota Serambi Madinah, diskriminasi atas dasar norma agama kerap menimpa mereka. Meski begitu, waria jauh lebih bisa diterima masyarakat ketimbang gay.
“Mungkin waria lebih aktif dan turut berbaur menjalankan beberapa program kerja pemerintah seperti penanggulangan HIV/AIDS. Sebaliknya, kalau mendengar kata gay atau lesbian, orang-orang sepertinya merasa risih,” jelasnya.
Dari teman-teman dekatnya sendiri, Melky mengaku pernah beberapa kali merasakan kehilangan. Sudah beberapa temannya sesama komunitas yang meninggal karena positif  HIV/AIDS.
“Sudah tiga orang teman saya yang meninggal,” ungkapnya. Untuk itulah komunitas BPG semakin difokuskan pada kesehatan. Mereka banyak terlibat dengan kampanye penggunaan alat kontrasepsi.
Ditanya mengenai kaum homoseksual yang memilih menjalani pernikahan secara heteronormatif, Melky mengaku ada beberapa temannya yang memilih kehidupan seperti itu. Namun sukar sekali mengajak mereka yang telah menikah untuk bisa berbagi cerita. Bahkan dengan komunitas, mereka pun sangat menutup diri. Selain itu beberapa di antaranya dari kalangan menengah ke atas.
“Tapi mereka curhatnya secara personal. Bukan dalam kapasitas lembaga,” katanya.
Beberapa teman-temannya yang gay dan memilih menikah secara heteronormatif, mengaku kerap kali merasa kurang percaya diri saat menjalaninya. Terlebih saat berhubungan intim.
“Yang menjadi masalah utama saat malam pertama. Mereka suka bertanya, apakah mereka bisa atau tidak.”
Sejauh ini, Melky hanya berusaha untuk mendorong semangat mereka, juga untuk meningkatkan kepercayaan diri.
“Di tahun ini, ada juga teman gay yang akan menikah. Teman saya itu suka curhat tentang kehidupannya. Pilihannya untuk menikah sebab tekanan yang datang dari orangtuanya,” terang Melky.
Amato Assagaf (koleksi pribadi)
LGBT, Moral, Agama dan Negara
Menanggapi isu tentang lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) yang semakin ramai di Indonesia, salah satu tokoh intelektual asal Manado, Amato Assagaf, mencoba menyampaikan sudut pandangnya mengenai kaum LGBT. Amato adalah penulis buku Merenungkan Libertarianisme dan sekarang aktif sebagai Direktur AMAGI Indonesia. AMAGI adalah sebuah lembaga riset dan advokasi kebijakan publik berdasarkan prinsip kebebasan individu, pasar bebas, dan pemerintahan terbatas. AMAGI berasal dari bahasa Sumeria yang berarti kebebasan; sebuah prinsip yang mendasari peradaban umat manusia, yang diyakini dapat menjadi landasan konseptual dalam membangun bangsa Indonesia. 
Jurnalis DeGorontalo, Kristianto Galuwo berkesempatan mewancarai Amato  pada akhir Februari 2016 di kediamannya, Manado, Sulawesi Utara :
Apa pandangan Anda dalam menyikapi fenomena LGBT di Indonesia yang akhir-akhir ini cukup kontroversial?
Saya pikir permasalahan dengan LGBT akan tetap kontroversial selama masyarakat kita belum berada pada situasi berpikir dewasa, yaitu pikiran di mana kita bisa menerima otonomi moral di tingkat yang lebih individual. Persoalannya, perjuangan untuk menegakkan otonomi moral semacam ini tampaknya masih akan panjang sementara persoalan itu akan tetap muncul dengan “memakan korban”, terutama di kalangan LGBT. Dan jika tanggapan masyarakat belum bisa diharapkan sepenuhnya positif, maka harus ada upaya dari kaum LGBT sendiri untuk bersikap kreatif dengan keadaan masyarakatnya. Kenapa? Karena tidak ada pihak yang paling bisa mendidik masyarakat untuk menerima keberadaan kaum LGBT, selain kelompok mereka sendiri.
Akan tetapi, pada tingkat tertentu, keadaan saat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sekarang sudah ada kesadaran di beberapa tingkatan masyarakat yang bisa menerima keberadaan mereka, minimal di kalangan intelektual dan kelompok-kelompok terpelajar.
Apakah masyarakat yang menolak keterbukaan kaum LGBT yang menuntut persamaan hak, salah menurut Anda?
Tentu saja salah untuk menolak realitas keragaman orientasi seksual dan pilihan-pilihan gaya hidup yang keluar dari “normalitas” umum. Tapi, persoalan kita sekarang bukan semata mengambil posisi salah-benar, karena pihak yang menolak LGBT itu masih akan dengan aman merasa bahwa mereka benar. Persoalan kita, setidaknya untuk saat ini, adalah memperjuangkan agar penolakan itu tidak berubah menjadi persekusi sosial bagi kaum LGBT, apalagi sampai melibatkan negara.
Kenapa ada masyarakat yang menolak dan ada juga yang mendukung?
Saya kira ada banyak jawaban yang bisa diberikan untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi inti dari semua jawaban itu akan mengungkapkan satu fakta menarik, keragaman. Dan akan selalu begitu. Makanya saya katakan lagi, persoalannya bukan menolak atau menerima tapi bagaimana penolakan dan, sekarang bisa saya tambahkan, penerimaan itu, tidak mendukung sikap mereka dengan kekerasan dalam bentuk apapun, termasuk tidak mengundang campur tangan negara (sebagai pemegang hak atas kekerasan) lebih dari yang diperlukan. Saya tambahkan, mengharapkan penerimaan dari seluruh pihak dalam masyarakat adalah utopia yang berbahaya. Tapi bukan utopia untuk berharap bahwa mereka yang menolak eksistensi kaum LGBT, bisa merasa nyaman dengan sikap mereka tanpa harus menghalangi hak kaum LGBT untuk juga merasa aman dengan pilihan mereka.
Kenapa masyarakat sulit menerima kaum LGBT?
Dalam konteks masyarakat kita, ada berbagai faktor yang menjadi dasar penolakan mereka. Tapi jika harus fokus pada satu jawaban tertentu, saya lebih suka menunjuk pada kaitan antara dua hal. Pertama, ketidakmampuan kita untuk menerima yang lain “yang menyimpang” dari tatanan “normal.” Dalam kerangka ini, LGBT adalah yang lain “yang menyimpang” dari pengetahuan kita akan tatanan “normal” relasi seksual. Kedua, moralisasi atas seks dan seksualitas. Bagaimanapun juga, kita tahu persoalan LGBT akan selalu – meski tidak semata – menjadi persoalan seks dan seksualitas.
Dengan melihat persoalan seks dan seksualitas sebagai persoalan moral maka persoalan LGBT akan dilihat sebagai persoalan moral. Artinya, “penyimpangan” kaum LGBT dari pakem “normal” itu adalah sebentuk penyimpangan moral. Maka, jika ditanya kenapa masyarakat sulit menerima kaum LGBT, itu karena kaum LGBT, dalam pandangan ini, adalah para pelaku penyimpangan moral. Yakni, orang-orang yang berbahaya bagi kelangsungan tatanan hidup masyarakat.
Seperti kita ketahui, ada sebagian kaum LGBT yang mengalami tekanan sosial, yang akhirnya mereka memilih untuk menjalani kehidupan berumah-tangga secara heteronormatif, apa pendapat Anda?
Harus dipahami bahwa di negeri kita tekanan itu sangat keras. Mereka terdesak dan pada akhirnya harus memilih untuk menyesuaikan diri dengan ketentuan masyarakat. Setidaknya di tingkat individu kita tidak bisa terlalu banyak bicara soal itu. Meskipun di tingkat sosial, ini jelas penyakit yang berbahaya. Karena efeknya bisa sangat jauh. Yakni, terjadinya perceraian, kehidupan rumah tangga yang kacau-balau, apalagi jika ada anak-anak yang lahir dari perkawinan itu. Semua itu bisa terjadi. Ini adalah persoalan normalisasi lagi yang berlangsung lewat pengetahuan kita mengenai “yang lain dan menyimpang” dan kebutuhan untuk melakukan normalisasi yang, dalam kasus pertanyaan ini, dieksekusi sendiri oleh si korban; tak peduli apakah itu hanya sebagai cara untuk tampak “normal” maupun benar-benar sebagai upaya untuk menjadi “normal.” Dengan demikian, tampak jelas bahwa fenomena LGBT kawin secara heteronormatif  hanya merupakan salah satu akibat dari sebab yang lebih mendasar, yaitu penolakan masyarakat terhadap eksistensi utuh kaum LGBT. Artinya jika persoalan ini hendak ditangani maka kita harus melakukannya pada tingkat yang jauh lebih mendasar itu.
Apakah menurut Anda itu tergolong “nikah paksa” karena budaya kita melarang?
Secara tidak langsung, iya. Tapi saya pikir, dengan risiko apapun, sebenarnya kaum LGBT harus terus memperjuangkan penerimaan masyarakat atas eksistensi mereka dengan strategi yang tepat. Mungkin salah satunya adalah, pada tingkat individu, menolak “nikah paksa” itu.
Apakah layak atau tidak, pernikahan semacam itu dipertahankan?
Sudah saya katakan bahwa, di negeri ini, tekanan itu sangat kuat dan datang dari berbagai arah. Jadi tidak ada jawaban sederhana yang bisa saya berikan. Tidak ada polarisasi jawaban “layak”  atau “tidak layak” begitu saja. Sekali lagi, masalah kaum LGBT adalah masalah yang sangat kompleks, manakala itu menyangkut akibat-akibat yang harus mereka terima saat berada di lingkungan masyarakat secara umum. Tapi saya optimis bahwa kita sedang menuju keadaan yang terus membaik bagi kaum LGBT, sepanjang mereka sendiri memperjuangkan hak dan eksistensi mereka. Ingat, perjuangan mereka dalam dua wilayah ini akan menjadi pelajaran yang berharga bagi masyarakat secara keseluruhan. 
Bagaimana nasib-nasib anak mereka menurut Anda, sebab tumbuh besar dari rumah tangga yang bisa dibilang dibangun tidak atas dasar suka dari satu pihak. Dan apa yang semestinya dilakukan?
Jika saya harus memberi jawaban mudah untuk pertanyaan ini, seperti dengan pertanyaan sebelumnya, maka perkawinan seperti itu mestinya tidak boleh terjadi karena akan mendatangkan lebih banyak mudharat dibanding manfaatnya. Tapi, sekali lagi, mengingat kerasnya tekanan kepada mereka, kita tidak bisa begitu saja menghapus kemungkinan bahwa “perkawinan pura-pura” seperti itu adalah bagian dari “taktik” mereka untuk melindungi diri dari persekusi. Diperlukan adanya perlindungan bagi kaum LGBT di Indonesia yang lebih terorganisir dalam suatu jaringan kerja, yang bersifat meluas di seluruh wilayah negeri ini jika kita ingin menghindari problem tekanan dan persekusi sosial atas mereka.
Anda memiliki anak, seperti apa pemahaman yang nantinya Anda sampaikan kepada anak-anak, mengenai keberadaan kaum LGBT?
Jika pertanyaan ini bersifat pribadi pada saya, maka jawabannya bukan lagi “nantinya” tapi saya kira “sudah” tersampaikan sejak awal. Saya mendidik anak-anak dengan pandangan, dan dalam satu cara hidup, yang saya kira, secara sosio-kultural, cukup liberal. Jadi penyampaian verbal berlangsung seiring dengan praktek. Sejauh yang saya ingat, saya lebih banyak mengajarkan anak-anak tentang penghormatan atas otonomi moral setiap individu daripada, misalnya, mengajarkan mereka mengenai moralitas normatif yang bersifat spesifik. Dan dalam setiap pandangan itu selalu ada praktek yang berjalan seiring. Dan itu tidak spesifik hanya berlaku dalam kasus LGBT tapi juga dalam berbagai hal menyangkut eksistensi orang-orang yang berbeda.
Dalam kasus LGBT, saya dan istri punya beberapa teman yang diketahui anak-anak adalah orang-orang LGBT dan mereka bisa dekat dengan teman-teman kami itu, sebagaimana mereka dekat dengan teman-teman kami yang “normal.” Tentu saja saya harus mengantisipasi kemungkinan sampainya gagasan anti LGBT kepada mereka dari orang lain – sebagaimana gagasan-gagasan anti perbedaan lainnya – karena itulah saya menganggap penting untuk menekankan pada mereka penghargaan atas pilihan individual masing-masing orang, terutama soal otonomi moral setiap individu.
Isu LGBT ini, kerap mendapat pertentangan dari agama. Menurut Anda apakah pantas isu LGBT, dibedah dari kacamata norma agama atau dari sudut pandang moral?
Sejauh menyangkut seks dan seksualitas, saya pikir tidak ada pandangan, keyakinan, agama, ideologi, dan ilmu pengetahuan, bahkan ilmu pengetahuan tentang seks itu sendiri, yang bisa dianggap pantas untuk membedah isu LGBT (juga isu-isu seksualitas lain, seperti open marriage life style atau prostitusi, misalnya) selama masih ada bias moralisme di dalamnya. Agama, dengan segala hormat kita pada institusi ini, dalam banyak hal justru sering menjadi sumber dari bias moralisme ini. Diperlukan kemauan dan kemampuan orang-orang terpelajar dari dalam lingkungan masing-masing agama, untuk bisa melahirkan penafsiran yang tidak bias dalam mengkaji masalah LGBT. Meskipun, secara pribadi, saya sangat meragukan kemungkinan itu.
Apa pendapat Anda, ketika pemerintah sendiri, seperti pemberitaan yang ramai kemarin, secara jelas menolak keberadaan kaum LGBT?
Inilah yang paling saya takutkan dalam isu LGBT, campur tangan pemerintah. Tapi, sejauh yang saya tahu, tidak ada penolakan pemerintah atas keberadaan LGBT. Yang ada juga hanya gagasan lucu-lucu dungu dari menristek dikti kemarin. Dan itupun telah memancing kritik dari banyak kalangan intelektual dan berbagai elemen masyarakat sadar, yang menunjukkan pada kita bahwa isu LGBT dan berbagai isu sejenis tidak boleh dimasuki oleh negara/pemerintah. Sebagaimana kita tidak ingin para penentang eksistensi menggunakan negara untuk memaksakan kehendak mereka, kita juga tidak boleh meminta negara terlibat dalam pengakuan atas eksistensi kaum LGBT. Apa yang harus dilakukan negara hanyalah melindungi hak setiap warga negara. Soal, seks, moral, keyakinan, dan lain-lain, adalah soal privat yang tidak boleh dicampuri negara, baik untuk afirmasi maupun sebagai negasi.
Catatan: ‘istilah lucu-lucu dungu’ dipinjam dari Rocky Gerung (filsuf politik Indonesia).
Banyak elemen masyarakat yang dengan jelas menolak kaum LGBT dan sering berstigma bahwa kaum ini pasti selalu urusan seksual. Apakah menurut Anda wilayah seksual seseorang pantas dicampuri orang lain?
Mereka tidak mengatakan bahwa ini urusan seksual tapi mereka selalu berasumsi bahwa setiap urusan seksual pasti melibatkan moral. Inilah yang saya sebut moralisme. Urusan LGBT, banyak sedikitnya, memang urusan seks dan seksualitas. Tapi itu mestinya tidak masalah sejauh seks dan seksualitas tidak dipandang dengan moralisme. Memandang seks dan seksualitas dengan moralisme itu ibarat memandang suatu obyek lewat cermin; segala yang di kanan akan tampak di kiri. Dan ini bukan hanya tidak tepat tapi juga berbahaya. Cermin moralisme adalah cermin yang tidak bening dan distortif.
Menurut Anda, sudah layakkah masyarakat Indonesia untuk menerima kehadiran kaum LGBT?
Saya termasuk orang yang sangat optimis dengan bangsa saya ini. Berbagai kritik yang harus saya lancarkan terhadap berbagai hal yang tengah kita hadapi, tidak mengurangi pandangan optimistis saya terhadap Indonesia dan masyarakatnya. Apalagi dalam masalah LGBT. Penerimaan terhadap hak dan eksistensi kaum LGBT di Indonesia hanyalah soal waktu dan, jika ingin mempercepat laju waktu, kreatifitas dari kaum LGBT sendiri untuk memperjuangkan penerimaan itu. (*)
Oleh: Kristianto Galuwo

BEASISWA WORKSHOP JURNALISTIK
Better Journalism for LGBT
AJI Indonesia dan UNDP
Jakarta, 23 – 24 Januari 2016 
Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
Laporan ini dimuat di DeGorontalo.co

Minggu, 03 April 2016

Gladys di Kota(razia)mobagu (4)

Tidak ada komentar

... Dan di mana begitu eratnya rasa kebersamaan. (Baca sebelumnya: Bagian 3)

Sambil melahap makanan, keduanya kembali terlibat pembicaraan. Masih dengan tema yang Satu jam saja waktu yang ditempuh. Desa Mopuya Selatan menyambut dengan hijau persawahan. Hari ini cukup cerah. Langit yang membiru seperti ditopang puncak bangunan gereja, masjid, dan pura yang saling bergandengan.

Di desa Gladys yang mayoritas terdiri dari diaspora suku Jawa, bercampur dengan Bali, Gorontalo, Minahasa, dan Mongondow, tempat peribadatannya memang sengaja dibangun berdekatan. Simbol toleransi yang erat. Desa ini bahkan menjadi objek pariwisata ketika perayaan hari-hari besar keagamaan. Masyarakatnya yang heterogen saling berjibaku. Pemuda-pemudi digiatkan dan ditanamkan sikap saling menghargai sejak kanak-kanak. Meski desa ini dikepung oleh wilayah yang cukup rentan konflik antar desa. Tapi sejauh ini, masyarakat Desa Mopuya Selatan tidak pernah tertular sikap bigot-bigot kerdil yang kerap membikin onar itu.

Konflik yang acap kali terjadi di Dumoga, penyebabnya bisa dari kuping, mulut, dan perut. Telinga yang terlampau sensitif, saling adu mulut, lalu akhirnya otot atau samurai diadu. Untuk urusan perut, yang sering menyulut masalah yakni persoalan tambang tradisional. Anak-cucu didongengi dengan kisah-kisah heroik para pendekar tambang. Sejak kecil, mereka diajari mengidolakan pendekar dari asal desa mereka, lalu membenci pendekar dari desa lain. Bahkan diajari membenci seluruh penghuni desa yang menjadi seteru.

"Kita bisa sedikit tenang di sini. Setidaknya di sini tidak ada tim Gagak, Tuturuga, atau Pokpok," ujar Gladys yang disusul tawa.

"Tenang? Ya, karena kita beruntung terlahir di desa ini," kata Lina.

"Iya juga sih. Aku juga heran dengan desa-desa lain di Kecamatan Dumoga yang suka tawuran."

"Eh! Kenapa Ririn tidak kita ajak?" Lina memotong, sebelum mereka larut dengan pembicaraan soal konflik di Dumoga yang sudah seperti arisan.

"Di depan, pak!" Gladys tiba-tiba menyeru sopir, sebab mikrolet yang mereka tumpangi sudah tepat berada di depan rumahnya.

"Lin, turun di rumah saja," ajak Gladys.

Usai membayar ongkos, Gladys menanggapi pertanyaan Lina tadi. "Iya, harusnya kita ajak Ririn."

Gladys merogoh ponsel di sakunya. Lalu menelepon Ririn. Tidak aktif. "Mungkin dia masih tidur."

Belum masuk pekarangan rumah, ibunya Gladys sudah di beranda. Segaris senyum terlihat di wajahnya, yang hampir seperti telur rebus dibelah dua dengan putri satu-satunya itu.

"Kenapa tidak bilang-bilang?" tanya ibunya.

"Mau kasih kejutan," kata Gladys.

"Sudah makan? Ibu masak ikan teri sama sayur kangkung."

"Masakan ibu bikin air liur merembes." Segera Gladys dan Lina menyerbu dapur.

"Kalian makan dulu, ibu mau ke rumah pak Wayan. Mau antarin teh. Seminggu lagi Nyepi. Sedang ramai-ramainya warga membantu membuat Ogoh-ogoh."

"Nanti kami menyusul."

Tradisi Ogoh-ogoh memang menjadi alasan lain Gladys untuk pulang ke kampung halaman. Sehari menjelang Nyepi, umat Hindu akan mengarak patung-patung dalam wujud berbagai macam raksasa. Yang menarik, Ogoh-ogoh pun kerap dijadikan bentuk kritikan kepada pemerintah. Misalnya dalam bentuk pejabat-pejabat yang korup. Usai Ogoh-ogoh diarak keliling, biasanya replika raksasa-raksasa atau patung pejabat-pejabat korup itu dibakar.

sama. Kotamobagu yang tengah diteror razia.

"Aku cenderung lebih suka Kotamobagu, ketika di zaman SMA dulu," kata Lina.

Dia dan Gladys memang seiring sejalan sejak masih SMA. Mereka memilih bersekolah di Kotamobagu kala itu, meski di daerah mereka sudah ada SMA.

"Tapi kita juga tidak harus membandingkan kondisi desa kita dengan kota. Jelas bedalah," kata Lina.

"Iya juga sih. Tapi setidaknya, kota yang lebih modern seharusnya pemikirannya juga lebih terbuka."

Sekali lagi Lina mengangguk pelan. Mulutnya tampak sibuk menguyah. Pipinya yang tembem tambah menggembung.

***

Aku baru saja terbangun. Kali ini, menjadi hari yang begitu berat bagiku. Pesan singkat yang masuk dari redaktur www.koyow.com, membikin aku bergegas ke kamar mandi. Hanya sejurus kemudian, usai merapikan rambutku yang berombak dengan jemari, aku segera menemui Umar di kedai kopi. Dia redakturku.

Media online kami yang idenya berawal dari perbincangan di kedai kopi, bersama tiga temanku, memang belum memiliki kantor. Kedai-kedai kopi jadi tempat persinggahan kami untuk membuat berita. Aku menemui Umar di kedai kopi yang biasa kami tongkrongi.

"Benar kabar itu?" aku setengah berbisik. Kedai kopi telah penuh dengan pengunjung.

"Buat apa aku berbohong?" jawab Umar dengan tampang serius.

"Terus?"

"Ya... Kita tetap harus memberitakan itu."

"Tapi itu pamannya Indra. Aku tidak enak saja."

Umar segera membereskan laptop dan beberapa buku di atas meja. Setelah semuanya masuk ke dalam ransel, dia mengajakku ke rumah Deni.

"Kita lebih aman bercerita di sana," katanya, usai membayar tagihan kepada kasir di kedai kopi.

"Aku masih tidak percaya."

"Aku juga begitu tadinya. Tapi setelah bertanya ke orang-orang yang tahu benar kasus itu. Aku menghubungimu," jelas Umar.

Rumah Deni, wartawan di media online kami, juga salah satu teman yang menginisiasi terbentuknya www.koyow.com, tak jauh letaknya dari kedai kopi. Hanya beberapa menit, Deni tampak sudah menunggu kedatangan kami di beranda.

"Yakin kau, Mar?" teriak Deni, setelah kami memarkir motor.

"Sialan! Aku saja belum bernapas, sudah ditodong," sahut Umar.

Di depan rumah Deni, ada pohon mangga rindang dilengkapi bangku memanjang. Mereka memilih mengobrol di situ. Umar lantas bercerita duduk perkaranya. Adik ayahnya Indra, yang seorang anggota legislatif terlibat kasus korupsi. Indra adalah pemimpin redaksi, juga teman baik dan termasuk founding fathers media online kami.

"Jadi, kita harus memberitakannya juga?" tanya Deni.

Umar yang jauh-jauh tahun lebih berpengalaman dari aku dan Deni, tampak gelisah. Kegelisahan itu jelas tergambar di wajahnya, apalagi Umar tahu tugasnya sebagai redaktur akan lebih berat.

"Apa sebaiknya kita bicarakan juga dengan Indra?" tanyaku.

"Jelaslah! Tapi kita bertiga harus sepakat dulu," kata Umar. Dia menjetikkan puntung rokok yang telah pupus.

"Media lain juga pasti akan memburu berita itu," kata Deni.

"Pasti. Dan jika kita memilih tidak membuat beritanya, citra media kita yang independen ikut tercoreng," aku coba berpendapat.

"Benar! Tapi bagaimana perasaan Indra nanti?" tanya Deni.

"Jelas ini bukan persoalan hubungan pertemanan kita dengan Indra. Tapi ini soal bagaimana seharusnya kita memposisikan diri. Yang lebih dipentingkan adalah independensi, bukan netralitas," jelas Umar.

"Kok, tiba-tiba rambutmu memutih, Mar. Kau berubah jadi Bill Kovach," kata Deni, yang memancing tawa kami bersamaan. Ucapan Deni mencairkan suasana yang sedari tadi serius. Aku seketika ingat Gladys, yang pernah juga aku dakwahi.

Mobil Avanza yang pelan merangkak masuk pekarangan dan menuju ke arah kami, membuat tawa kami terhenti. Indra turun dari mobilnya. Wajahnya cerah. Tak seperti hati kami yang seketika mendung.

(Bersambung)

Sabtu, 02 April 2016

Ismail, Popularitas, dan Permen Karet

Tidak ada komentar
Ismail (sumber foto: www.youtube.com)
Pernah saat membeli rokok di sebuah warung, saya dilayani si empu setelah beberapa detik berlalu. Perempuan paruh baya itu sebelumnya terpaku di layar TV. Ismail saat itu sedang bersenandung. Jelas ia penggemar berat Ismail. Apalagi memang sekarang saya menetap di Kota Gorontalo. Kota asal Ismail, yang kini tengah mengadu suara dan nasib di kontes dangdut D'Academy 3, Indosiar. 

Setelah itu, ketika perjalanan pulang saya melewati kerumunan orang yang serius melongo ke layar tancap. Musik dangdut berdentum. Ismail masih di sana.

Kota ini memang sedang demam Ismail. Hingga muncul jargon masyarakat Gorontalo yang menggemarinya berbunyi 'padeti Ismail' yang, kurang lebih diartikan sesuai bahasa Gorontalo yakni 'sikat Ismail'.

Meski saya pernah membaca status dari akun facebook Riden Baruwady, bahwa arti dari kata padeti sebenarnya mengecat atau memberi warna. Sedangkan kata yang mungkin lebih tepat seharusnya wadeti yang artinya sikat. Tetapi, entahlah. Saya juga belum belajar banyak bahasa Gorontalo.

Ismail saat ini memang tengah dipuja-puji di seantero negeri Binte Biluhuta ini. Sampai-sampai, jika ada orang yang berani berseberangan pendapat dengan penggemarnya, bakal dirisaki habis-habisan. Mudah-mudahan saya juga tidak dirisaki karena menuliskan ini.

Saya yang berasal dari Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), yang pernah serumpun dengan Gorontalo ketika masih di pangkuan Sulawesi Utara, pernah pula menemui euforia yang sama di negeri saya. Kala itu Bolmong tengah terhipnotis dengan suara merdu Abner. Ia salah satu kontestan Idola Cilik 2, tahun 2008.

Berasal dari Kecamatan Dumoga, Bolmong, Abner jelas mengundang dukungan yang cukup militan. Warga Bolmong di empat kabupaten dan satu kota, berjibaku mengirimi SMS dukungan untuk Abner. Dari kelas yang biasa mengisi pulsa lima ribuan, sampai kelas ratusan ribu.

Namun, akhirnya langkah Abner harus terhenti. Ia tidak berhasil lolos hingga ke babak grand final. Meski demikian, saat kembali ke Bolmong ia tetap dipuja. Undangan manggung di sana-sini berdatangan. Yang terjadi kemudian sangat disayangkan. Ketenaran itu hanya sesaat. Abner terlupakan seiring putaran waktu. Bahkan sampai saat ini kabarnya tidak pernah lagi terdengar.

Beberapa tahun kemudian, warga Bolmong kembali riuh dengan penampilan Novi. Ia berasal dari Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Suaranya berbeda dengan Abner. Cadas dan berciri khas. Tapi nasibnya sama seperti Abner. Setelah gagal menuju grand final Idola Cilik tahun 2013, ia kembali ke tanah kelahirannya. Novi tetap banjir undangan menyanyi. Sampai akhirnya tergerus waktu pula. Lenyap di riuh panggung.

Abner dan Novi yang ketika pentas di Idola Cilik kerap didandani seperti orang dewasa, dan membawakan lagu-lagu orang dewasa pula, akhirnya tenggelam dari kepopularitasan. Bukan hanya mereka yang tidak berhasil lolos, bahkan mereka yang menjuarai Idola Cilik pun, nama-nama mereka redup satu per satu.

Tahun demi tahun bocah-bocah seperti mereka dicetak, dijadikan pundi-pundi rupiah, kemudian lenyap dari layar kaca dan industri musik. Pasar diciptakan hanya ketika stasiun TV dan para sponsor membutuhkan mereka pada setiap kontes. Meskipun tidak bisa dipungkiri, dalam setiap ajang hiburan semacam itu, ada beberapa yang beruntung dan karier mereka tetap bertahan.

Sama halnya dengan Abner dan Novi. Ismail, adalah salah satu pemilik suara merdu yang sedang mereka cetak. Dari cetakan-cetakan itupun akan kembali diseleksi, mana cetakan yang terbanyak meraup keuntungan. Mana yang terbanyak banjir SMS. Dan ia bakal didapuk menjadi pemenang.

Saya sempat bertanya-tanya dalam hati, apakah setiap kali pentas, kontestan mendapat jatah dari keuntungan perusahaan provider? Juga dari stasiun TV yang hitungannya sesuai rating sebagai magnet iklan?

Sampai di sini, akhirnya ada dua kemungkinan yang berlaku untuk Ismail. Pertama, jikalau ia lolos dan menjuarai kontes dangdut itu, seberapa lama uang hadiah dari kontes dangdut itu bertahan? Kalau mendapat kontrak album, apakah album itu disukai atau laku di pasaran? Terus seberapa kuat ia akan bertahan di Ibukota, sebab suara-suara merdu artis pendatang baru berbodi sintal dan seksi, serupa jamur di sana? Suara bagus pun tidak menjamin itu semua, karena penggemar selain menyenangi suara, lirik dan irama lagu pun jadi tolak ukur. Peran pencipta lagu juga sangat menentukan.

Kedua, jika Ismail tidak lolos ke babak grand final, saat ia pulang, masyarakat Gorontalo memang akan tetap menyambutnya hangat. Mengelu-elukannya. Seperti Abner dan Novi kala itu, Ismail pun akan banjir undangan di acara-acara hajatan, kampanye Pilkada, dan sebangsanya. Tetapi ketenaran di layar TV dan di panggung-panggung jelas berbeda. Untuk itu, pudarnya kepopularitasan secara perlahan sangat mungkin.

Tapi bisa jadi Ismail nanti memilih untuk berkarier di Gorontalo, dengan menelurkan album yang kemudian sukses di daerahnya. Saya pernah sekali memindai di youtube, lalu coba mendengarkan suara Ismail tatkala sedang pentas. Suaranya memang merdu dan mendayu-dayu. Tapi jika dibilang menghibur, lagu yang kerap dibawakannya bertema kesedihan. Orang sedih mendengar lagu sedih, ya tambah sedih. Benar, bukan? Yang aneh ketika mendengar lagu dangdut bertema kesedihan, tapi malah asyik berjoget.

Untuk Ismail, kita juga tidak bisa mengesampingkan perannya yang kerap berbusana Karawo, lalu mengenalkan potensi-potensi pariwisata di Provinsi Gorontalo. Mungkin bisa ditambah pula kampanye konservasi hutan mangrove di Gorontalo. Membuat tagar #SaveDanauLimboto bersama burung-burung migrannya. Tolak sawit dan penebangan pohon di Gorontalo. Dan lain sebagainya. Mumpung kesempatan iklan gratis di TV.

Dan untuk itu semua, semoga saja warga Gorontalo yang besorak-sorai kepada Ismail, tidak akan mengalami euforia yang sama, yang juga pernah dirasakan warga Bolmong ketika menyoraki Abner dan Novi kala itu.

Euforia... Sembari mengunyah permen karet.

Rabu, 30 Maret 2016

Surat Pendek untuk Teuku Wisnu

Tidak ada komentar
Teuku Wisnu (sumber foto: www.pkspiyungan.org)
Ya, karena ini namanya surat terbuka nan pendek, jadi mari kita membaca dengan pikiran terbuka tapi jangan pendekin akal kita. Saya memutuskan menulis surat pendek ini, sebab nasib saya hampir sama denganmu, Teuku Wisnu. Wajah saya juga tak jauh-jauh beda denganmu. Malah lebih ganteng saya. Aih!

Nah, seperti kata penyair Chairil Anwar: nasib adalah kesunyian masing-masing, maka kali ini saya memilih untuk tidak sependapat dengan penyair idola saya itu. Lalu menyatakan: nasib adalah keriuhan bersama. Sebab kenapa? Kita, manusia, terkadang memiliki kesamaan nasib. Bahkan dengan binatang pun bisa. Bukankah Chairil Anwar juga menyatakan itu dalam salah satu puisinya? Dengan lantang dia berkata: aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang.

Untuk kesamaan nasib kita, Teuku Wisnu, samanya di mana sih? Samanya di nama. Jelasnya begini, ketika saya membaca berita perihal niatmu untuk mengganti nama, saya seketika ingat semasa sekolah. Saat guru-guru pertama kali mengabsen, pasti mereka bertanya: agamamu Kristen? Saya kerap ditanyai demikian karena nama depan saya, Kristianto. Guru-guru mempertanyakan agama seseorang hanya dari nama.

Bukan hanya sewaktu sekolah, saat pertama kali bekerja di salah satu perusahaan swasta, saya juga ditanyai atasan dan teman-teman kerja: kamu Kristen? Saya acap kali tidak nyaman dengan pertanyaan itu. Bukannya saya tidak nyaman karena nama itu kesannya berbeda dengan agama yang saya anut, yaitu Islam. Tapi saya bosan ditanyai itu melulu.

Rasa penasaran saya memang baru muncul ketika itu. Lalu saya memilih bertanya kepada bapak, kenapa saya dinamai Kristianto. Setelah mendengar penuturan bapak, saya bertambah bangga dinamai Kristianto. Ternyata nama itu diambil dari atlet bulu tangkis legendaris Indonesia, Christian Hadinata. Meski ejaannya diubah, 'Ch' diganti 'K' lalu dibubuhi 'to' di akhiran. Mungkin bapak ingin, agar nama saya itu masih terdengar ke-endonesa-an dan ke-to-to-an, macam Soeharto. Hiks!

Ketika itu, saya lupa menanyai bapak, kenapa memilih atlet bulu tangkis, Christian. Apakah saat saya lahir, si Christian ini menang kejuaraan Asian Games, All England, atau Piala Dunia. Namun setelah saya telusuri di internet, ternyata benar. Masa keemasan Christian di era 70an dan 80an. Tepat di tahun 1983 saya lahir, dan mungkin saja di bulan yang sama, April, Christian berhasil merebut juara ganda putra bersama Boby Ertanto, di turnamen Malaysia Terbuka. Mungkin saja bulan atau harinya bertepatan dengan kelahiran saya. Ah, bapak, akhirnya anakmu ini tumbuh besar dan menjadi seorang jurnalis, bukan pebulu tangkis.

Itu sedikit setjarah nama saya, Wisnu. Dan sampai hari ini, saya bangga dengan nama itu. Saya coba membayangkan, ketika atlet pujaan bapak, yang pasti ditepuki riuh olehnya saat menang lomba, lalu bersamaan dengan itu, saya lahir ke dunia dan bapak seperti melihat titisan si Christian mungil lahir. Dan dengan bangganya menamai saya, Kristianto. Maka rasa bangga bapak saya saat itu, tidak bisa saya tebus dengan apa pun. Bahkan oleh sederet pialanya Christian.

Bisa jadi, hal yang sama juga terjadi kepadamu, Wisnu. Andaikan bapakmu itu benar-benar gemar menonton film dari tanah Hindustan, atau sering membaca epos Mahabharata dan Ramayana, juga doyan pewayangan, lalu dia sangat mengidolakan Dewa Wisnu, dan akhirnya memilihkan nama itu kepadamu. Maka betapa bangganya, sebab bapakmu berharap kamu bisa menyerap sifat-sifat luhur Dewa Wisnu. Bangganya pun itu tidak bisa ditukar dengan sederet nama-nama dewa.

Saya juga yakin, perasaan yang sama menimpamu. Mengenai penamaan yang kesannya melekat pada satu agama tertentu. Tapi tidak cukupkah nama depanmu, yang sangat ke-islam-aceh-an itu? Meski menurut saya, kenapa juga nama harus terbingkai dengan agama-agama?

Maka ketika saya membaca niatmu untuk mengubah nama--sebab "bisikan" dari Ustaz Bachtiar Nazir saat acara talkshow Makna dan Peristiwa yang bertema "Arti di Balik Nama" di salah satu stasiun televisi--yang alasannya namamu itu tidak islami, saya hanya bisa tertawa dan mengumpat dalam hati (kira-kira mengumpat dalam hati bisa dipidanakan?).

Hoi! Teuku Wisnu dan Ustaz Bachtiar Nazir! Siapa juga yang sejak bayi bisa memilih nama atau agama?

To... LOL!

Senin, 28 Maret 2016

Gladys di Kota(razia)mobagu (3)

Tidak ada komentar

... Sekejap sebuah lengan melayang dengan telapak tangan terbuka. Plak! (Baca sebelumnya: Bagian 2)

Usai menampar, ibu itu menatap nanar. Yang ditampar jadi salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa. Perasaan marah, malu, dan kesal berkecamuk di wajahnya. Semua pandangan tertuju padanya. Aku yang kebetulan menyusul juga ke rumah sakit, merangsek di antara kerumunan lalu segera menarik lengan wartawan itu. Aku menyeretnya keluar dari penghakiman.

"Kau cukup nekat mewawancarainya," ujarku.

"Aku juga tidak berani tadi. Tapi, tapi... Aku ditelepon redaktur pelaksana kami, bahwa harus dapat mewawancarai ibu itu," jelasnya sambil mengurut pipinya.

"Jika kau mendapat perintah seperti itu lagi, kau bisa menolaknya. Risikonya seperti tadi nanti."

Kami terlibat perbincangan begitu lama. Ternyata dia wartawan magang. Namanya Ojan. Di tengah pembicaraan, aku melirik kembali arloji. Tinggal sejam lagi, adzan subuh akan berkumandang.

Aku lantas pamit pulang ke kos yang sedari tadi terus saja tertunda. Hanya memacu sepeda motor beberapa menit, pintu kamar telah di depan mata. Di dalam kamar, tubuhku seketika jatuh terbenam di kasur. Dan perlahan-lahan aku diseret jauh ke dalam alam bawah sadar. Terlelap.

***

Langit berjelaga dan mentari pagi perlahan memolesnya menjadi terang. Gladys telah segar sepagi itu. Rambut hitamnya digelung dan terikat ke samping. Putih punggung lehernya tampak diterjuni beberapa helai rambut. Di depan cermin, dia sibuk mewarnai bibirnya. Merah tegas.

Sepasang sepatu Converse yang warna merahnya mulai memudar, diliriknya. Tak berselang lama, Gladys seperti gasing di depan cermin, dengan kaos putih polos berlengan pendek, dipadu celana panjang denim berwarna abu-abu yang sobek di bagian paha dan dengkul. Ransel merah menggantung di punggungnya.

Gladys mendekatkan wajahnya ke cermin. Alisnya dibiarkan tumbuh alami. Kulit wajahnya pun tanpa polesan bedak. Bibir jadi satu-satunya yang disentuh kosmetik. Hanya gincu merah tegas. Hanya itu.

"Kau sudah siap?" Suara itu datang dari depan kamar. Lalu pintu kamar menganga. Temannya, Lina, juga telah siap dengan ransel di punggung.

"Kita jalan kaki saja ya?" tawar Gladys.

"Iya. Terminalnya juga dekat kok."

"Eh, Ririn ditahan semalam?" tanya Gladys.

"Sepertinya tadi pagi dia sudah ada. Mungkin sedang tidur."

"Baguslah."

Mereka berdua hanya menyusuri beberapa lorong dari kos-kosan, kemudian sebuah terminal yang hiruk telah di depan mata. Sebulir keringat menuruni hidung bangir Gladys, yang seketika saja ditepisnya. Pipinya tampak memerah. Menempuh jarak beberapa ratus meter dengan jalan kaki, membuat napasnya tersengal-sengal.

"Kan, kau yang bilang jalan kaki saja," ejek Lina saat melihat Gladys keringatan.

"Biar sehat!" silat Gladys.

Menunggu mikrolet yang akan mereka tumpangi penuh, Gladys memanggil seorang loper koran yang kebetulan lewat. Dia membeli satu. Saat membaca, di headline tak ada berita soal razia semalam. Lekas dia memilah per halaman, lalu menemukan berita soal razia di kos-kosannya.

"Kamar kos mahasiswi ditemukan botol miras. Saat digelandang malah memaki wartawan," baca Gladys. Judul dan sub-judulnya membuat Gladys segera merogoh ponsel di saku. Dia segera menghubungi Sigid.

Setelah beberapa nada kereta api, suara Sigid terdengar memelas, "Ada apa, Dys?"

"Berita Ririn muncul di koran. Brengsek! Judulnya juga persis dugaanku semalam. Kau lupa mengingatkan teman-temanmu?"

"Gladys, tidak semua wartawan akrab denganku. Semalam aku sempat mengirim pesan singkat ke beberapa teman, tapi aku tidak bisa menjamin semuanya."

"Kasihan Ririn. Aku khawatir cepat atau lambat orangtuanya akan tahu."

"Aku juga turut prihatin. Tapi itu media milik mereka. Aku tidak bisa berbuat banyak."

"Baiklah. Lanjut tidur sana! Eh, aku dan Lina mau mudik nih! mungkin seminggu di kampung."

"Mendadak sekali?"

"Iya, tiba-tiba rindu kampung karena kejadian semalam."

"Hmm... Hati-hati di jalan ya. Salam buat bapak dan ibu."

"Iya, terima kasih. Nanti aku sampaikan."

Gladys mengulum bibir bawahnya setelah menyudahi percakapan. Dia kembali menyimak koran di pangkuannya. Di samping berita soal Kikan, ada juga berita kecelakaan tunggal. Korban meninggal.

Dia kembali sibuk membolak-balik setiap halaman. Berita-berita lainnya, hanya berisi sampah-sampah tentang laku luhur para pejabat. Yang lain, kritikan berisi sinyal-sinyal uang saku. Sedangkan di headline yang sempat dilewatkannya tadi, ada berita tentang koruptor yang katanya dikriminalisasi. Judulnya pun seperti tirai yang membikin laku bejat si koruptor jadi kian samar.

Terdengar teriak si sopir yang menyampaikan bahwa daftar penumpang telah penuh. Gladys meninggalkan koran itu di bangku terminal. Dia dan Lina segera masuk ke dalam mikrolet.

"Lin, menurutmu, aku cocok tidak jadi jurnalis?" tanya Gladys, setelah mikrolet mulai melaju.

"Memang kalau jadi jurnalis bisa menjamin masa depanmu?" Lina kembali serius dengan ponselnya.

"Yang kau maksudkan dengan masa depan?"

"Ya... soal karir dalam pekerjaanmu yang bisa memenuhi segala kebutuhan hidupmu."

"Aku kira bisa. Digaji secukupnya juga aku terima. Aku ingin belajar banyak soal jurnalistik."

"Tapi, tidak selamanya belajar, kan? Kau juga nanti akan menikah dan memiliki anak."

"Aku kira, itu ada pada tahap selanjutnya untuk dipikirkan."

"Dan jika kau telah ditahap itu?" Lina terus memburu. "Tahap ketika kau sudah menikah dan memiliki anak?"

"Saya mengerti maksudmu. Tapi, karier seorang jurnalis pun tak selamanya hanya menjadi pemburu berita. Selain itu, kalau mau kaya jangan jadi jurnalis. Tapi jadi pengusaha."

"Aku tidak berkata kalau menjadi jurnalis itu tidak bakal kaya."

"Lin, jika jurnalis itu digaji layak, aku kira masih bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka."

Rambut sebahu Lina diterpa angin yang leluasa masuk dari kaca mikrolet yang dibiarkannya terbuka. Dia mengangguk tanda sepakat dengan pernyataan Gladys. Kemudian pandangannya kembali terpaku pada ponsel.

"Di media online berita soal Ririn sudah ramai. Bahkan sudah menjadi viral di media sosial," kata Lina.

"Aku sudah membacanya sedari pagi. Tapi aku memilih untuk tidak mengabari Ririn."

"Sebaiknya memang begitu." Lina melempar pandangannya ke hijau persawahan.

Kendaraan yang mereka tumpangi terus melaju. Menuju satu desa di wilayah Kecamatan Dumoga Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow. Sebuah desa yang menjadi miniatur akan tingginya toleransi antar umat beragama. Dan di mana begitu eratnya rasa kebersamaan.


(Bersambung)

Kamis, 24 Maret 2016

Gladys di Kota(razia)mobagu (2)

Tidak ada komentar
... lalu mengajakku makan. (Baca sebelumnya: Bagian 1)

"Kau pasti lapar. Aku kebetulan masak tadi. Ayo, temani aku makan," ajaknya sambil menuntunku masuk ke kamar kos dan menuju dapur mini.

Tak bisa menolak, aku pun menemaninya makan. Bincang berlanjut. Gladys kemudian menceritakan alasannya putus dengan pacarnya yang polisi.

"Namanya Faisal. Dia anggota tim Gagak juga. Tapi semalam dia tidak ikut razia."

Sebenarnya, sebelum hubungan mereka putus sebulan yang lalu, ketika datang giliran razia, kos-kosan mereka dipastikan aman. Gladys juga tidak berani menuding, bahwa setelah putus dengan Faisal kemudian kos-kosan mereka jadi target razia.

"Aneh ya. Di tempat umum dilarang. Setelah mengurung di dalam kamar kos, tetap saja digeruduk. Mau mereka apa sih!" gerutunya.

"Oh, ya, jika kau tidak suka ditelepon polisi tadi, kenapa memberinya nomor handphone?"

"Aku pikir mungkin dia bisa dimanfaatkan jika kami dirazia lagi."

"Tapi penolakanmu tadi, awal yang buruk untuk sebuah niat agar bisa memanfaatkannya."

Gladys bergumam. Kemudian paha ayam goreng dicabik-cabiknya dengan garpu. Sambil mengunyah, matanya seperti sedang menyusun kata demi kata. Ada segelembung pikir di atas kepalanya.

"Ah, gampang. Tinggal kirim emoticon senyum lewat pesan singkat, pasti direspon. Ya, pokoknya buat jaga-jaga saja."

"Kau nyaman tinggal di Kotamobagu?" aku melontarkan pertanyaan yang membuka celah untuknya. Dia sepertinya tengah tersudut.

"Nyaman apaan. Ruang seprivasi kamar kos saja diterobos. Bahkan isi kulkas pun digeledah. Sekalian saja lubang kloset diobok-obok pakai tangan."

Gladys mengaku sudah jemu tinggal di Kotamobagu. Pulang dari kampus sedang capek-capeknya, tiba-tiba didatangi dan ditodong dengan pertanyaan-pertanyaan. Penghuni kos-kosan lainnya adalah pekerja kantoran dan mereka juga acap kali mengeluh.

Beberapa tahun belakangan razia masih sepi. Tapi akhir-akhir ini jadi seperti sedang kedatangan rombongan jamaah tabligh di satu wilayah. Hampir setiap hari pintu diketuk. Urusan iman dan moral personal pun ingin mereka gagahi.

"Itu ada juga yang dari Satpol PP. Sok-sok jadi superhero kepagian!"

"Tim Tuturuga namanya. Bakal menyusul tim Pokpok." Seketika tawa kami lepas, yang sekejap mengundang teguran dari kamar sebelah.

"Gladys! Mau dirazia lagi?" teriak tetangga kamar.

Gladys melempar pandang ke arah jam dinding. Sudah pukul 11 malam. Melihat tingkahnya, aku lantas pamitan setelah berterima-kasih atas jamuan makan malamnya.

"Makasih juga ya. Kau semakin menebalkan dendamku. Atau, lebih tepat niatku untuk menjadi jurnalis," ucap Gladys.

"Tapi kalau mau jadi jurnalis, pasti bakal menetap di Kotamobagu. Katamu sudah tidak nyaman di sini?"

"Ah, rasa kesalku bukan untuk kota ini."

"Untuk siapa?"

"Untuk mereka yang juga kau benci!"

"Asal jangan dendam sama mantan." Kami tertawa lagi. Tapi setelah membekap mulut. Takut dibentak sama penghuni kamar sebelah.

Setelah pamit, aku ditemaninya sampai ke depan pagar kos-kosan. Senyum manisnya terakhir kali terekam di wajah. Kemudian suara motorku menderu, dengan hati yang menggebu-gebu.

Saat perjalanan pulang, aku masih berpas-pasan dengan beberapa anggota Satpol PP di sebuah taman kota. Wajah mereka tampak garang. Terlalu serius dengan pekerjaan mereka. Aku mampir lalu mengeluarkan kamera dari dalam ransel. Kilatan lampu kameraku mengundang perhatian mereka. Aku memang sedang memotret untuk mengundang perhatian mereka. Tahu aksi mereka sedang dipotret, tiba-tiba salah satu anggota Satpol PP dengan gesit melompat ke dalam taman. Seperti Batman yang sedang memergoki Joker. Kemudian terdengar bentakan.

"Bikin apa kalian di sini?" bentaknya kepada kerumunan remaja di taman.

Aku coba mendekati satu personil baret cokelat itu, "Maaf, aku wartawan. Bisa minta komentar tentang razia malam ini?"

"Oh, bisa, bisa."

"Sebenarnya fungsi taman kota ini apa?" aku melempar pertanyaan yang sebenarnya, aku pun tidak berniat membuat berita soal razia itu.

"Hmm... Untuk... Untuk kumpul-kumpul. Juga untuk bersantai."

"Bagaimana rasanya jika sedang asyik menikmati suasana malam Kotamobagu, terus dirazia?"

"Kalau tidak miras, ya, biasa saja. Pokoknya yang kedapatan miras di tempat umum, pasti diangkut,"

"Kalau mereka yang miras di kos-kosan?"

Dia seperti kura-kura yang, perlahan-lahan memasukkan kepala ke dalam cangkang. Saya lantas pergi meninggalkannya.

Saat perjalanan menuju kos, aku mampir ke warung untuk membeli sebungkus rokok. Tiba-tiba suara knalpot meraung di jalanan. Sebuah sepeda motor melaju kencang, oleng, dan menabrak pembatas jalan. Sepeda motornya terhempas dan menggaruki aspal jalan yang, menyebabkan kilatan serupa kembang api. Tubuh pengendara motor terhempas jauh, lalu mendarat di depan pelataran sebuah toko. Helm pengaman retak dan lepas dari kepalanya. Darah menggenang. Tubuhnya diam.

Orang-orang berlarian. Tampak sebagian dari mereka merogoh ponsel dari saku. Lalu siaga memotret. Mereka terlihat berlomba-lomba melakukan itu.

Wartawan-wartawan satu per satu berdatangan. Mereka memang berkelebat cepat kalau ada peristiwa seperti ini. Apa yang berdarah-darah dan berlendir, pasti disukai pembaca. Rating. Sedangkan aku sibuk mencari mobil di jalanan, untuk mengangkut korban menuju rumah sakit.

"Mati?"

Aku coba mengejar arah suara itu, yang ternyata semburat dari mulut seorang wartawan. Namanya Jeki. Dia tampak sibuk memotret.

Tubuh korban terlihat seperti lampu disko. Lampu-lampu kamera berkedap-kedip tanpa henti. Tak ada satu pun dari mereka yang berniat menolong korban.  Atau barangkali mereka takut darah tapi bisa dengan cekatan memotret dan membaginya ke media sosial.

Berhasil mencegat mobil yang bersedia mengangkut korban, aku dibantu dua orang warga dan satu wartawan yang tergerak hatinya, segera mengangkat tubuh korban ke dalam mobil. Tubuhnya hangat dan bergerak. Napasnya seperti mendengkur. Tak lama, beberapa personil polisi berdatangan.

Dan tiba-tiba kami dikagetkan suara teriakan. Sumber suara dari perempuan beruban yang adalah ibu korban. Seseorang yang mengenali korban mengabari orangtuanya. Ternyata jarak rumah korban dan tempat kejadian tidak begitu jauh. Sekarang, giliran ibu korban yang bermandikan kilatan-kilatan lampu kamera.

"Kalian tidak punya otak? Anakku keadaannya sudah begini mau kalian foto-foto terus disebar? Coba kejadian ini menimpa saudara kalian? Dasaaarrr! Biadab!" Ibu itu berlumuran darah anaknya. Kemudian sopir mobil coba menenangkan ibu itu, lalu mengajaknya menemani anaknya ke rumah sakit terdekat.

Beberapa wartawan pergi mengejar korban ke rumah sakit. Unit gawat darurat telah dipenuhi wartawan dan keluarga korban. Kondisi ibu korban masih terlihat syok. Seorang wartawan memberanikan diri mendekati ibu korban. Berharap bisa mewawancarainya.

"Maaf ibu. Bisa tahu nama ibu?"

Sekejap sebuah lengan melayang dengan telapak tangan terbuka. Plak!


(Bersambung)

Minggu, 20 Maret 2016

Gladys di Kota(razia)mobagu (1)

Tidak ada komentar

"Awas ada razia!"

Peringatan itu dalam bentuk pesan singkat di ponselku. Pesan dari tetangga kos yang kebetulan seorang polisi. Aku melirik arloji di lengan, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Seperti biasa, temanku itu suka mengabari jika sedang ada razia di tempat-tempat umum, hotel-hotel, sampai toilet kos-kosan yang tak luput dari kejelian perazia.

Yah, beginilah hidup di Kotamobagu. Kota kecil yang bahkan tidak cukup strategis untuk dijadikan Kota Jasa. Kenapa? Sebab kota ini bukan berada di jalur transportasi antar provinsi. Kota ini berada di tengah-tengah. Sudah tidak strategis, mengusung tagline Kota Model dan Jasa, dan kerap menggelar razia. Apes.

Aku juga heran, kenapa hotel sebesar Sutan Raja nekat berjudi dengan membangun hotel megah di Kotamobagu. Tapi mungkin manajemen hotel itu sedang ingin belajar dari pengalaman mereka membangun hotel megah di Manado. Sutan Raja di Manado ramai, kan? Ups!

Tak berselang lama, pesan singkat dari Gladys masuk. Dia seorang mahasiswi yang kebetulan berteman baik dengan mantan pacarku. Isi pesannya.... soal razia. Sialan! Kota ini memang sedang diteror.

"Sigid, kos Gladys tadi dirazia. Banyak wartawan tadi ke sini. Tolong jangan diberitakan di koran ya. Kalau bisa, Gladys minta tolong, kasih tahu teman-teman Sigid juga yang wartawan-wartawan lain."

Meski hanya lewat pesan singkat, bisa dirasakan kegelisahan di hati mahasiswi itu. Tapi keningku seketika saling merangkul. Aku heran, sebab pacar Gladys kan polisi. Kenapa juga bisa dirazia?

"Kau diangkut ke Polres tidak?" Aku mengirim pesan balasan.

Beberapa detik kemudian, dia membalas, "Tidak sih. Anehnya tadi usai razia ada beberapa polisi yang minta nomor handphone sama pin BBM."

"Eh, kau bukannya pacaran sama polisi?"

"Sudah putus," sejurus kemudian, Gladys mengabarkan bahwa kos-kosan sudah aman. Bergegas aku menemuinya.

Gladys dan teman-temannya sedang ramai di luar kamar. Mereka masih panik usai razia tadi. Di salah satu kamar yang ditempati mahasiswi juga, teman sekampus Gladys, ditemukan botol-botol bir. Menurut Gladys, meski botol-botol yang ditemukan di bawah kasur itu kosong, tapi yang menjadi masalah ada sebotol bir di dalam kulkas yang belum dibuka. Temannya tetap diangkut.

Saat diseret keluar kamar, temannya itu meronta dengan penuh pinta. Air matanya deras. Teriakannya keras. Wartawan-wartawan seperti singa kelaparan yang dengan segera menerkam momen itu dengan lampu-lampu kamera. Sempat terdengar makian dan teriakan temannya itu kepada para wartawan.

"Anjing! Kalian tahu kalau orangtuaku sampai tahu? Aku akan diberhentikan kuliah! Anjiiinnnggggg!" tiru Gladys. Dia tampak masih syok melihat kejadian itu.

Namun yang lebih miris lagi, saat mendengar makian itu, seorang wartawan menyeletuk.

"Wah, bagus ini. Bisa jadi angle menarik. Judulnya bisa jadi, Seorang Mahasiswi Memaki Wartawan Saat Dirazia." Gladys kembali meniru. Tampangnya menunjukkan rasa jijik. Teman-temannya yang lain kembali masuk ke kamar mereka masing-masing. Kami dibiarkan berdua.

Aku hanya bisa memijit dagu. Melihat raut Gladys yang semakin mengerut, aku coba mengalihkan topik pembicaraan. Aku bertanya kapan dia akan selesai kuliah. Air mukanya terlihat kembali tenang. Dia berkata, tinggal setahun lagi akan wisuda. Setelah diwisuda dia berencana menjadi wartawan. Aku heran sekaligus tertarik mengejar cerita tentang cita-citanya itu.

"Kau mau jadi wartawan?"

"Iya."

"Alasanmu?"

"Aku ingin balas dendam! Kesal saja."

Mendengar jawaban itu, arah tanya-jawab ini semakin membuatku penasaran. Dan setelah aku bertanya lagi. Aku mendapati jawaban dari seorang mahasiswi yang sebenarnya boleh dibilang lebih mafhum akan profesi seorang jurnalis.

Gladys ingin balas dendam, setelah melihat realita yang kerap kali dia temui sejak tinggal di Kotamobagu. Menurutnya, wartawan-wartawan seperti enggan mengangkat sisi kaum yang termarjinalkan. Terlalu banyak beropini, amplopan, partisan, dan bahkan dengan yakinnya mengatakan pekerjaan mereka itu mulia.

"Tega ya? Mereka memberi makan anak-istri atau orangtua mereka dengan uang-uang itu."

Kalimatnya kali ini menusuk dada. Aku hanya bisa menunduk, sebab yang diterjang bukan hanya para wartawan yang menghujani jepretan kepada temannya. Tapi aku juga.

"Bukan hanya wartawannya, Gladys. Media tempat mereka bernaung juga yang mengharuskan mereka berbuat demikian."

"Mediamu juga?" dia menodongku.

"Begini, aku dulu sempat bekerja di media seperti itu. Aku juga pernah amplopan. Tapi pada akhirnya, aku sadar, yah, seperti yang kau katakan tadi, tega tidak memberi uang terlebih kepada orangtua dari hasil kita menjerat tikus?"

Aku lanjutkan berkisah, bahwa banyak wartawan yang ketika pertama kali terjun di dunia jurnalistik, mereka dikenalkan dengan wajah jurnalisme yang salah. Seiring waktu, jelas mereka akan terus mengingat dan memakai topeng wajah yang pertama kali mereka kenali. Ada beberapa yang sadar dan memilih melepaskan topeng itu. Tugas menjadi jurnalis sebenarnya berat, sebab sebagai penyampai pesan.

"Jika wahyu Tuhan itu disampaikan malaikat Jibril. Maka bagi jurnalis, wahyu itu berupa keluh-kesah dari orang-orang tertindas dan yang menjadi Jibril adalah jurnalis itu sendiri. Tidak mungkin kan, Jibril menyampaikan wahyu yang salah?"

Mata Gladys berkaca-kaca. Pipinya merah terkena cahaya bohlam. Terang saja, sebab dia berkulit putih yang diwarisinya dari ibu berdarah Minahasa. Terlihat dia semakin teguh ingin menjadi jurnalis setelah mendengar penjelasanku, yang hampir mirip dakwah Sunan Kalijaga.

“Tapi manusia itu bukan malaikat. Paling-paling para wartawan berapologi begitu.”

“Jelas saja, manusia bukan malaikat. Tuhan lebih mengistimewakan manusia malah. Karena apa coba? Akal kita. Itu bukti superioritas atau keunggulan kita sebagai mahluk ciptaan Tuhan.”

Ponsel Gladys tiba-tiba berdering. Ada telepon masuk dari nomor yang tidak dikenalnya. Setelah mengernyitkan dahi ke arahku, dia menekan tombol hijau di ponsel androidnya.

“Ini siapa?” Gladys menyetel pengeras suara. Membuatku bisa mendengar jelas suara si penelepon.

“Oh, ini dari Arga. Tadi yang ikut razia dan minta nomor kau. Aku bisa main ke kos?”

“Enak saja!” Tut, tut, tut. Gladys mengakhiri pembicaraan.

Tiba-tiba dia beranjak dari kursi, menatapku sembari tersenyum. Semerbak wangi sampo dari kibasan rambut panjangnya berbaur dengan aroma tubuhnya. Gladys merebut lenganku, lalu mengajakku...

(Bersambung)