Selasa, 27 April 2021

Sepuluh

Tidak ada komentar

Sigiku ...
Manusia selalu tabah
sebab mereka tak tahu
tercipta dari apa


Nenekmu pernah berkata, "Walaupun ayah dan ibumu gemar bertualang dan jarang sekali berada di sisimu, akhirnya kamu tumbuh dengan pintar." 

Nenekmu menjadikan standar penilaian pintarnya dirimu dari caramu mengeja sampai melantunkan ayat-ayat suci. Iqro hingga Quran. Ayah masih ingat ketika 2019 lalu sempat pulang ke kampung, kemudian mengajakmu membeli seragam sekolah. Ayah bertanya apa lagi yang mau Sigi beli. Lalu kau menunjuk deretan kitab suci di balik lemari kaca toko.

Ulang tahunmu kali ini tepat Ramadan. Bulan suci yang kerap kali dirindukan umat Islam sebumi bahkan mungkin oleh astronot muslim di angkasa sana. Namun Ramadan tak melulu tentang rasa bahagia. Di bulan ini, sebagian orang masih kehilangan satu per satu kerabat dan sahabat karena wabah.

Tak hanya wabah, Sigi. Pekan kemarin negeri ini berduka, KRI Nanggala 402 remuk karena renta. Media berlomba-lomba menyisir hati-hati yang tengah berduka. Merekam setiap air mata keluarga yang meruah. Padahal mungkin, duka mereka terlalu dalam untuk digali-gali.

Di Papua, kontak senjata terus berlangsung di Ilaga. Saat ini, peluru terus berdesing. Baling-baling helikopter menderu di langit yang telah merah dengan darah yang menguap. Perang yang tak pernah usai, menyasar semua nyawa hingga tumpur di medan tempur. Nyawa guru, pelajar, ojek, tentara, jenderal, brimob, warga sipil, dan anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) terenggut. Dua kubu yang berperang saling klaim kebenaran ketika ada korban tewas. Saling mencurigai bahwa warga yang pantas dibunuh adalah mata-mata.

Setelah negara melabeli TPNPB-OPM sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), kini bersulih nama lagi menjadi Kelompok Separatis dan Teroris. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komisaris Jenderal Boy Rafli Amar, juga sempat mengatakan bahwa tengah mengkaji opsi untuk memasukkan KKB sebagai organisasi teroris. TPNPB-OPM bukan kelompok kriminal, separatis atau teroris. Masing-masing memiliki definisi yang berbeda-beda. Jika memperjuangkan hak kemerdekaan bangsanya sendiri dicap teroris, maka leluhur dan para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan kita dari Belanda disebut apa?

Sementara presiden kita yang mulia, tetap memerintahkan untuk menumpas TPNPB-OPM meski di bulan suci. Bulan bagi kita menahan segala nafsu. Mungkin presiden kita hendak meniru perang-perang di zaman Nabi Muhammad yang pernah terjadi saat Ramadan, seperti Perang Badar dan Khandaq. 

Pada akhirnya, masyarakatlah yang terus menerus menjadi korban dari konflik bersenjata ini. Papua, ialah pakus emas yang telah menghasilkan kekayaan bagi negeri ini. Meski mereka hanya menerima reja-reja. Ditimpa kemalangan lagi dengan raga mereka yang terus berjatuhan. Merekalah manusia paling tabah yang pernah ayah temui, Sigi.

Ramadan. Bulan di atas nisan makam-makam korban wabah dan konflik bersenjata di Papua. Pun cahayanya menaungi makam-makam tak bernisan di laut terdalam. Tuhan mengerangkeng setan. Sedang maut tetap menjadi tuan. 

Ah, sudah sepuluh tahun, Sigi. Lesung pipitmu semakin dalam terlihat. Selamat hari raya usia. Jangan pernah dewasa. Kelak, jika waktu mulai merampas keping demi keping masa kanak-kanakmu, ingatlah bahwa di masa kecilmu perang hanyalah perang-perangan. Tiada nyawa yang tiada.

Sabtu, 17 April 2021

Don't Grow Up

Tidak ada komentar
Sebuah perayaan kerap kali dengan bersuka ria. Syukurlah aku pernah diajari menjadi orang Bali ketika menetap di sana setahun lebih. Di Bali ada Hari Raya Nyepi. Perayaannya justru dilakukan dalam hening. Kita diajak untuk banyak-banyak merenung. Seperti pada momen hari raya usiaku ini yang berada di gerbang bulan suci Ramadan, saat ini, mungkin menunduk akan lebih baik ketimbang menengadah dan mengangkat gelas.

Sunyi bukan berarti kosong. Dalam perjalanan hidup, aku dipertemukan dengan orang-orang hebat yang memilih mengambil jalan sunyi dalam perjuangannya. Mereka yang tak pernah mau menepuk dada sebagai "aku" ketika sesuatu yang diperjuangkan berhasil. Aku juga bersua dengan banyak orang separuh abad yang tak peduli dengan usia, sebab yang terpenting ialah jalan pikiran tak ikut kaku dan menua.

Karena itu, di hari ini tetap dengan doa yang sama: jangan pernah dewasa, karena menjadi dewasa itu membosankan. Seorang bocah bisa berkali-kali menatap langit malam lalu terkagum-kagum dengan bintang gemintang dan bulan menggantung di atas sana. Tetapi banyak orang dewasa tak akan terhibur dengan hal itu lagi. Mereka butuh sesuatu untuk bisa mengagumi angkasa. Tak akan pernah sesederhana cara seorang bocah lugu, hanya perlu lengan untuk menyangga dagu.

So, don't grow up, it's a trap!

Kamis, 16 Juli 2020

Pulang Kampung

Tidak ada komentar

Tiga puluh ribu kaki meninggi. Empat ribu kilometer mengudara. Hanya untuk satu kata: Ibu.

Apa jadinya ketika hal yang ikut kau tentang, akhirnya terpaksa harus kau jalani? Pulang kampung. Saya harus melintasi setengah langit Indonesia dari Timur menuju Barat. Kemudian melanjutkan lagi setengah perjalanan udara dari Selatan ke Utara.

Selama masa pandemi Covid-19, perjalanan pulang kampung memang cukup berbahaya. Apalagi ketika kita dari dan akan memijak wilayah-wilayah yang virusnya tengah mengganas. Seandainya Ibu tidak sakit, saya memilih untuk tetap mengurung diri di kamar kos. Bahkan lebaran kemarin, saya memutuskan tak pulang karena tahun baru kemarin saya baru dari kampung.

Perjalanan ke luar Papua cukup menguras energi dan saku. Tenaga bisa pulih, uang bisa dicari, tapi kesempatan merawat orang tua yang sakit tak ternilai. Saya yang bekerja di Jayapura dan tidak mengantongi Kartu Tanda Pengenal (KTP) Papua, harus mengikuti aturan yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua.

Syarat pertama bagi non-KTP Papua, saya harus membuat surat pernyataan untuk tidak kembali ke Papua selama setahun. Surat ini bisa dibikin sendiri, tapi ditanda-tangani di atas materai 6.000. Ini alternatif atau pilihan tercepat, daripada mengurus Surat Persetujuan Keluar Masuk (SPKM) yang harus melewati ruangan Sekretaris Daerah Pemprov Papua lalu Dinas Perhubungan Pemprov Papua. Jika mengurus SPKM butuh berhari-hari dan biasanya ini bagi yang ber-KTP Papua atau yang melakukan perjalanan dinas.

Saya yang berniat kembali Papua, memang bisa mengurus SPKM dengan menyertakan surat keterangan dari kantor. Tentu saja saya tidak akan sempat mengurusnya, sebab tiket pesawat sangat sulit mendapatkannya dan kebetulan tiga hari berikutnya, dengan dibantu seorang kerabat saya, kami berhasil mendapatkan tiket karena ada yang menunda perjalanannya. Saya dan dia yang tinggal di Boven Digoel, yang juga hendak pulang ke kampung yang sama, sempat berniat melalui jalur laut dan mengunjungi kantor Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Jayapura, namun antrean panjang dan tiket cepat habis.

Kedua, saya harus melakukan tes cepat atau rapid test. Pukul 9 pagi, saya sudah berada di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) di Rumah Sakit (RS) Dok II Jayapura. Tapi pagi itu antrean seperti orang-orang ini sudah berdatangan sejak matahari baru saja semburat. Penuh. Biaya tes cepat di sini, berkisar antara Rp 150 ribu. Saya memutuskan melakukan tes di RS Provita. Di RS ini antrean tidak seular di Labkesda. Hanya beberapa orang saja. Setelah mengisi formulir, saya ditanyai tiket pesawat. Sebaiknya sebelum melakukan tes cepat, kita sudah memesan tiket pesawat atau kapal laut.

Setelah membayar Rp 400 ribu di loket, saya disuruh ke ruang lab untuk mengambil darah. Saya pikir, tes cepat hanya meneteskan darah di alat rapid dan hasilnya segera diketahui. Tapi di sini, saya diambil darah hampir setabung jarum suntik ukuran sedang. Tiga jam kemudian hasilnya diketahui. Saya sempat cemas, karena kondisi tubuh saya sedang dalam masa pemulihan karena sakit. Beberapa hari sebelumnya saya dirawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Dian Harapan, karena asam lambung naik. Awalnya saya mengira akan serangan jantung karena dada sakit dan sulit bernapas. Kata dokter, selain karena pola makan dan tidur tidak teratur, asam lambung naik juga dipicu stres. Berkurung diri di kamar selama berbulan-bulan dan dikabari orang tua sakit keras memang menambah beban pikiran. Beruntung, hasil tes cepat menyatakan saya nonreaktif.

Ketiga, syarat ini sudah jauh-jauh hari saya urus. Surat keterangan yang menyatakan Ibu sedang sakit, dari Kepala Desa Passi, tempat asal saya. Tapi karena pembatasan akses terus diperpanjang, surat ini baru bisa terpakai sekarang. Ibu juga memang kembali dirawat cukup lama hingga berminggu-minggu di RS.

Keempat, saya tinggal memfotokopi KTP yang ikut dilampirkan di surat pernyataan tidak kembali ke Papua. Bisa juga tiket ikut dicetak agar semua berkas menyatu. Tapi saya tidak mencetak tiket, nanti hanya menunjukkannya lewat email kepada petugas bandara.

Saat hari keberangkatan tiba, sebaiknya kita tiga jam sebelum berangkat sudah berada di bandara. Ini sebenarnya mungkin hanya berlaku di Papua. Karena penerbangan antardaerah Papua ikut dibuka, maka antrean memanjang. Saya direkomendasikan nomor seorang petugas di Bandara Sentani, oleh kerabat saya yang lebih dulu pulang sehari sebelum keberangkatan saya. Petugas bandara yang orang Papua ini, membantu saya membawa berkas-berkas untuk diparaf. Surat pernyataan harus ada paraf dari Dinas Perhubungan yang sudah menyediakan petugasnya di bandara.

Selanjutnya, kita harus bersabar untuk mengantre, karena ada sekitar 50-an orang berjajar untuk menunjukkan berkas mereka ke petugas Dinas Kesehatan. Semua dokumen kelengkapan akan diparaf dan dicap lagi. Serasa seperti sedang ke luar negeri lalu melewati pintu-pintu imigrasi. Sambil menunggu antrean, saya mengisi data di aplikasi eHAC Kementerian Kesehatan. Nanti barcode-nya akan di-scan di setiap bandara karena itu wajib diisi. Usai berlama-lama mengantre dan urusan selesai, suhu tubuh kita diukur dengan thermal scanner. Kemudian kita bisa melenggang bebas ke dalam bandara.

Saat mengurus boarding pass, kelengkapan berkas akan diperiksa lagi. Jika lengkap, maka kita bisa menuju ruang tunggu dan bernapas lega. Saat pesawat akan berangkat, saya kira semua urusan selesai. Ternyata masih ada satu formulir yang dibagikan petugas maskapai Garuda Indonesia yang saya tumpangi, untuk diisi. Penjelasan dalam formulir, tentang kelengkapan berkas saja selain kita kembali mengisi data pribadi. Kalau ada yang tidak lengkap kita harus menanggung semua risikonya, termasuk pembatalan penerbangan.

Bagian tengah kursi di pesawat sengaja dikosongkan untuk menjaga jarak antarpenumpang. Di sandaran kursi tertulis tagar #BecauseYouMatter. Karena penerbangan sore dan diperkirakan saya tiba di Makassar pukul 5 sore, saya tidak bisa mendapatkan tiket langsung ke Manado di hari yang sama. Tidak ada penerbangan malam. Penerbangan dari Jayapura ke Manado juga tidak ada, karena itu banyak yang harus ke Makassar dulu, lalu melanjutkan penerbangan ke daerah tujuan selanjutnya.

Hampir tiga jam mengudara dengan cuaca buruk, saya tiba di Makassar. Di Bandara Sultan Hasanuddin, kita disuruh mengisi formulir berwarna kuning atau biasa mereka sebut kartu kuning yang sudah disiapkan petugas, baru bisa ke luar bandara. Sebenarnya ini kalau sudah mengisi data di aplikasi eHAC, tinggal di-scan saja barcode-nya. Tentunya dengan menunjukkan kembali kelengkapan berkas termasuk hasil rapid test.

Saya segera mencari loket penjualan tiket di bandara, tapi semuanya tutup sore hari. Saat memesan hotel transit di bandara, untuk bermalam di Makassar, petugasnya membantu menghubungi kenalannya yang biasa menjual tiket. Saya mendapat tiket Citilink pukul 4 sore esok hari. Lion Air siang hari pelit jatah bagasi. Harganya juga hanya selisih 200-an ribu rupiah. Setelah memesan tiket, saya akhirnya bisa rebah di hotel transit yang harganya terjangkau, hanya 300 ribu rupiah semalam kita sudah dijemput dan diantar lagi ke bandara esoknya.

Pukul 1 siang keesokan harinya, saya sudah ke bandara. Di Bandara Sultan Hasanuddin ternyata ada pemeriksaan mirip di Papua. Meski antrean tidak panjang. Berkas kita harus diparaf lagi oleh Dinas Perhubungan dan Dinas Kesehatan setempat. Suhu tubuh diukur. Barcode eHAC di-scan. Lalu bisa masuk bandara.

Penerbangan dari Makassar ke Manado hanya sejam lebih. Saat tiba di Bandara Sam Ratulangi, bagi yang tidak mengisi eHAC harus mengisi data di formulir mirip kartu kuning di Bandara Sultan Hasanuddin. Barcode eHAC di-scan. Suhu tubuh diukur. Baru kita bisa keluar. Alangkah bahagianya ketika melihat lambaian tangan kawan dan kerabat saya yang datang menjemput. Akhirnya bisa tiba di Manado.

Namun perjalanan panjang belum berakhir. Sebab dari Manado menuju Kabupaten Bolaang Mongondow atau ke desa saya, masih menjalari daratan selama empat jam. Kami istirahat sejenak di rumah kerabat di Manado. Dua jam kemudian, kami pulang ke kampung.

Pukul 3 pagi, cuaca Eropassi yang berkabut menyambut ... 

Rabu, 01 Juli 2020

Terima Kasih

Tidak ada komentar

Sa bersua dengan Hari Suroto ketika Festival Makan Papeda di Sempe, di Kampung Abar, Sentani, Kabupaten Jayapura. Kami mendaki punuk-punuk bukit di tepi Danau Sentani, untuk melihat lokasi di mana warga Abar biasa mengambil tanah liat untuk dibuat gerabah. Kampung Abar memang dikenal dengan kerajinan tangan dari tanah liat.

Hari bekerja di Balai Arkeologi Papua. Ia banyak tahu tentang apa yang purba di Papua. Sebelum bertemu kami memang saling bertukar nomor kontak dan email lewat rekomendasi teman. Ia kerap mengirim artikel untuk Jubi.

Kemarin, Hari mengirimi kami buku Ufuk Timur. Sa menduga ia sedang berada di Gorontalo, karena seingat sa ia berdomisili di sana. Tiga buku untuk teman-teman Jubi yang biasa berinteraksi dengan dia. Penulis buku Ufuk Timur, Christofel Paino, juga kawan sewaktu sa masih di AJI Kota Gorontalo. Chris memang pernah setahun di Papua, mengelilingi hutan Papua karena ia jurnalis lingkungan di Mongabay. Sampul kerennya dilukis kawan AJI Kota Gorontalo juga, Syam Terrajana, yang juga sesama editor dengan sa di Jubi. Jika buku dibentang tampak utuh Pulau Papua.

Buku ini bisa menjadi hiburan di masa penyembuhan, karena sa baru saja terbaring sakit. Pola makan dan tidur yang buruk, ditambah pikiran karena tak bisa pulang sedangkan ibu di kampung dirawat di rumah sakit, memicu Gastroesophageal reflux disease (GERD), penyakit kronik pada sistem pencernaan. GERD terjadi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan. Cukup menyiksa. Sa sempat masuk IGD RS Dian Harapan karena sa pikir gejala-gejala serangan jantung. Dada seperti ditindih segalon air. Susah bernapas. Setelahnya demam, pun sakit tenggorokan ketika menelan makanan.

Sekarang, sa memasuki Era Rebus. Semua makanan dianjurkan yang direbus. Jagung, kentang, pisang, dll. Sa juga baru tahu, ketika makan kita tak boleh banyak meminum air karena membuat lambung susah mencerna makanan. Makanan harus dikunyah sampai hancur baru ditelan, apalagi jeroan. Makan dengan porsi banyak juga menyiksa lambung, alangkah baiknya makan dengan porsi sedikit tapi beberapa jam kemudian makan lagi. Berkali-kali asal porsi sedikit lebih baik daripada sekali makan dengan porsi banyak. Buah-buahan yang mengandung asam juga tidak dianjurkan seperti jeruk.

Alhamdulillah, sakit berangsur pulih. Terima kasih untuk keluarga dan teman-teman atas doanya. Juga kawan-kawan Jubi yang terus menyemangati sa. 

Terima kasih Hari atas bukunya. Semoga kita berjumpa lagi ....

Senin, 18 Mei 2020

Maaf

Tidak ada komentar

Seorang gadis jangkung berkulit gelap berjalan penuh keyakinan ke halaman sekolahnya. Sekumpulan anak laki-laki berkulit putih mengitarinya dengan menunjuk, tertawa, dan menjulurkan lidah. Ia terlihat tegar sampai ke ruang kelas yang menebal dengan kebiadaban. Udara di sana seolah-olah hanya berpusar di atas rambut keritingnya.

Sepotong kisah di atas, ada dalam montase film dokumenter "I Am Not Your Negro" yang saya tonton tahun lalu. Saya mengingat perca demi perca dalam film itu, sebaik ingatan James Baldwin—sang penulis naskah berkebangsaan Amerika Serikat—kala mengenang peluru-peluru menyasar dada-dada hitam sepertinya. Film ini berasal dari naskah asli berjudul "Remember This House" dan disutradarai Raoul Peck. Rilis di Amerika Serikat pada 3 Februari 2017.

James tak hanya berkisah tentang intimidasi dan kekerasan yang menimpa warga kulit hitam di Amerika, atau di kota kelahirannya di New York. Tapi ia menuliskan dengan sangat kelabu tentang pembunuhan tiga karibnya: Medgar Evers, Malcolm X, dan Martin Luther King, Jr. Tripel M ini ialah para revolusioner yang memperjuangkan hak-hak warga kulit gelap di Amerika Serikat. Mereka yang merelakan napasnya demi perjuangan kemanusiaan.

Berpulang pada 1987, di Saint-Paul, Prancis, kota yang kerap ia sebut sebagai tempat menepi agar ketika menulis tak lagi diitari rasa khawatir terus menerus, James Baldwin meninggalkan 30 halaman naskah "Remember This House". Sutradara Raoul Peck mengatakan buku James Baldwin ini tak pernah selesai. Bahkan ketika belum selesai, naskah ini sudah mampu menghancurkan hati siapa saja yang menontonnya, serupa cermin yang jatuh ke lantai.

Berpuluh-puluh tahun kemudian, ras kulit hitam mulai mendapat tempat di Amerika Serikat. Mantan Presiden Barack Obama menjadi bukti. Meski sampai sekarang, masih ada kasus kekerasan terhadap warga kulit hitam, namun tak ditemui lagi mayat-mayat yang terbakar atau bergelantungan di pepohonan.

Kendati dirundung duka berkali-kali, James Baldwin selalu mengusap dadanya, ketika ada permintaan maaf dari para pejabat publik, tentang kekerasan yang telah menimpa sesamanya. Raoul Peck cukup apik menghadirkan montase dari permintaan maaf para tokoh-tokoh ternama di Amerika Serikat. Dalam sebuah narasi, James Baldwin mengatakan apa pun yang berbicara tentang Amerika, ia tak akan pernah lepas dari mereka yang berkulit hitam. Barangkali, itulah makna dari judul naskah "Remember This House".

Jauh menjalar dari Amerika Serikat, viral sebuah video kasus bullying atau perisakan yang menimpa anak laki-laki bernama Rizal. Momo, sapaan karibnya ini, terjengkang dari sepeda tuanya, setelah seorang remaja laki-laki mengganggunya. Wadah dagangan kuenya ikut rebah di tanah lapang dengan sepedanya. Momo mencium rerumputan. Kabarnya ini terjadi di Pangkep, Sulawesi Selatan.

Menyusul gambar kedua dalam video, ia dihempaskan sekali lagi ke tepian beton di tanah lapang, oleh seorang remaja laki-laki. Apa yang menimpa Momo, diakui sudah sering terjadi meski ia kerap diam setelah sampai di rumah. Yang ingin ia kabarkan hanya soal jalangkote buatan ibunya laku terjual. Momo hanya ingin melihat ibunya tersenyum, sembari memendam apa saja perlakuan buruk terhadapnya.

Melihat videonya dibagikan beberapa kawan di media sosial, siapa saja yang berempati pasti ingin segera berada di samping Momo, untuk membelanya. Saya, kamu, kalian memang harus ada di sana. Kekerasan, apa pun wujudnya, harus ditentang agar kita tak terus berada di dalam lingkarannya. Kita harus memutus garis yang mengitarinya lalu keluar dari sana. Saya bertambah sedih setelah membaca tulisan orang Pangkep, kalau Momo juga menderita down syndrome.

Setelah melihat kejadian yang menimpa Momo, saya kembali membayangkan apa yang sering menimpa orang Papua. Mereka yang paling tertindas di negeri ini. Tapi apakah akan sama, empati kita kepada Momo dan kepada orang-orang Papua?

Maaf hanyalah sepatah kata. Namun ada semesta rasa yang bisa terungkap oleh kata itu. Bangsa kita, tak akan pernah lepas dari sejarah kekerasan sepanjang negara tak meminta maaf, serupa tontonan permintaan maaf pelaku yang merisak Momo, atau Youtubers yang menzalimi transpuan di Bandung. Di negeri yang saya cintai ini, terlalu banyak sejarah kelam yang butuh kata: maaf.

"Sejarah tak pernah berada di masa lalu. Sejarah ada saat ini. Ia terus mengikuti kita. Karena kita adalah sejarah itu sendiri." 

Kalimat dari James Baldwin itu terus terngiang-ngiang ...

Selasa, 12 Mei 2020

Corona

Tidak ada komentar
Melewati masa pandemi virus corona ini tidaklah mudah. Apalagi ketika kita harus berpura-pura sedang baik-baik saja.

Kami di Kota Jayapura sudah sejak awal Maret 2020 dianjurkan tak keluar rumah atau kos-kosan. Sebagian orang terutama kami yang bermukim sementara di sini karena pekerjaan, yang rindu berjumpa dengan sanak saudara di kampung dan berharap sehat-sehat saja, tentu mau tidak mau harus mengurung diri. Sebagian orang-orang tetap beraktivitas seperti biasa.

Pekerjaan saya sebagai editor di Jubi.co.id. Sisa waktu dipergunakan menjadi kontributor di media apa saja, yang membuka peluang untuk proposal liputan. Sebelum wabah ini menjalar dari jarak ribuan kilometer lalu tiba-tiba hanya beberapa meter dari kita tanpa terlihat, saya dan seorang kawan coba mengirim proposal liputan untuk media luar negeri. Ada tiga proposal yang kami kerjakan dan menunggu disetujui. Tapi setelah wabah ini mendunia, terpaksa kami hanya bisa saling menjaga diri masing-masing. Liputan ditunda sampai ruang gerak benar-benar bisa leluasa.

Hampir setiap perusahaan termasuk yang bergelut di media, terpukul akibat wabah ini. Kami mulai merasakan dampaknya. Masalah-masalah mulai berdatangan. Gaji tertunda. Kami harus memikirkan bagaimana cara mencari uang, selain berharap pada bantuan teman-teman. Beruntung, ada beberapa kawan yang berbagi pekerjaan dan mengupah saya meski lembar rupiahnya hanya bertahan sehari dua hari di saku.

Pada akhir April, saat memasuki Ramadan, puasa dimanfaatkan untuk berhemat sehemat-hematnya hemat. Menu makanan bersulih rupa menjadi tempe, tahu, telur ayam, ikan kaleng, dan ikan asin. Sesekali ada daging ayam dan sayuran segar, hasil sumbangan beberapa kawan. Mi instan berbungkus-bungkus sebagai pengganjal perut diupayakan ada, begitu juga stok pangan lokal seperti ubi kayu. Alat-alat mandi dan kebutuhan ruang belakang lainnya harus tersedia. Kebersihan menjadi utama ketika yang kita lawan adalah karib dari yang jorok. Bahkan pakaian kotor tak boleh bertumpuk karena setelah dipakai harus segera dicuci. Saya benar-benar kembali merasakan arti sesungguhnya menjadi anak kos.

Bagi saya yang perokok, merasakan sepekan tanpanya menjadi keharusan. Pulsa data wajib karena pekerjaan mengedit berita harus mengakses internet, sekaligus sebagai hiburan berselancar di rimba digital selama terkurung. Beberapa teman dan kerabat sempat beberapa kali membantu untuk ini. Selebihnya, uang-uang honor dari menulis artikel disisihkan untuk pulsa internet, setelah uang listrik, beras, sembako, dan sebagainya terpenuhi.

Sewaktu gelombang protes Agustus 2019 kemarin, buntut dari rasisme kepada mahasiswa Papua di Surabaya, kami memang harus berdiam di tempat tinggal masing-masing. Jalanan sepi sejak aksi-aksi protes di beberapa kota di Papua berubah menjadi api. Akses internet diputus. Hampir sebulan lebih. Tapi saat itu keuangan baik-baik saja, karena banyak sekali bahan untuk menulis laporan. Kantor-kantor perusahaan pun tak bermasalah. Satu-satunya kendala yakni akses internet untuk mengirim atau mengedit berita. Kami harus bergerilya mencari tempat untuk mengakses internet seperti hotel atau kafe. Paling sering dan lancar adalah di hotel-hotel, sebab jaringan internet mereka terkoneksi langsung dengan 'langit'.

Saat ini, setelah dua bulan berlalu dan tak ada tanda-tanda wabah ini mereda, saya benar-benar belajar bagaimana caranya mengikat perut. Sesekali melihat unggahan makanan orang-orang di medsos dengan air liur tertelan. Terutama unggahan orang-orang di kampung. Mereka tampaknya baik-baik saja, sedang kita yang berada jauh dari rumah hanya bisa menahan diri. Pulang, menjadi kata yang berbahaya. Bandara dan pelabuhan ditutup, dan kiriman barang tak akan pernah sampai ke sini. Saya harus memotong lidah untuk mencicipi masakan ibu dari kampung, karena pengiriman barang tak ada.

Untuk sekarang, medsos memang sangat menghibur, tapi sesekali menyiksa. Kita dilecut oleh hal-hal yang tak bisa kita tepis. Kita diracuni kepanikan oleh deretan angka-angka kematian di mana-mana. Sampai-sampai ketika melangkah ke toko atau warung, seolah-olah maut telah berada di ubun-ubun. Pengobat kekhawatiran berlebih ini hanyalah berusaha serajin mungkin memindai konten-konten lucu. Kita harus tertawa meski sedang menghadapi tragedi. Jika tidak, mungkin kegilaan sudah terdorong semakin dalam. Bahkan mimpi-mimpi buruk semakin sering hadir dan untungnya ingatan seperti itu cepat sirna.

Catatan-catatan kecil seperti ini mungkin penting kelak, sebagai pengingat jika kita selamat, bahwa ada bencana besar yang pernah kita lewati.

Sekarang sudah pertengahan Mei. Tinggal menghitung jemari menyambut Idulfitri. Tapi masih berapa lama lagi kita harus berjuang? Tentunya, tanpa berharap pada negara apalagi kebaikan bapak dan ibu kos.

Minggu, 12 April 2020

Seandainya ...

Tidak ada komentar
Tepat di hari raya usia yang kebetulan seiring perayaan Paskah oleh kawan-kawan nasrani, saya terbangun dan menemukan berbagai bentuk ucapan. Saat membuka Instagram, WhatsApp, Facebook, dan Telegram, yang berserakan hanya kebahagiaan. 

Saya seketika membayangkan, di tengah pandemi global ini, seandainya setiap orang yang positif Covid-19, mendapat ucapan serupa dengan narasi berbeda-beda yang terus menyemangati mereka? Mungkin, stigma kepada mereka akan pudar. Yang ada hanya kebahagiaan membedaki langit-langit kamar mereka atau ruang di mana mereka dirawat. Mereka yang masih bisa mengakses ponsel mungkin bisa membaca setiap dukungan kita. Mereka yang berventilator dengan mata yang masih terbuka, mungkin bisa ditunjukkan oleh perawatnya bahwa di luar sana ada banyak orang yang menyemangatinya.

Kemarin saya membaca berita yang menuliskan Ikatan Dokter Indonesia tak mempermasalahkan jika data pribadi para pasien dibuka. Beberapa hari sebelum berita ini saya baca, saya dan seorang kawan sempat berbincang tentang ini. Bisa jadi, stigma kepada mereka yang suspect, PDP, ODP, dan segala deret istilah yang dilekatkan pemerintah kepada mereka, berandil menciptakan stigma itu, atau ketika para pasien diubah menjadi angka. Saya dan kawan ini pun bersepakat, bahwa data pribadi mereka memang tak perlu disembunyikan.

Penolakan-penolakan terhadap jenazah yang meninggal akibat Covid-19, menyiratkan bahwa sebagian orang belum benar-benar memahami apa yang mereka hadapi. Ketika melihat video-video pemakaman, saya bersedih bukan karena tak ada orang atau keluarga yang hadir, tapi karena beberapa di antaranya dimakamkan di sudut tanah lapang, seolah-olah terkucilkan hingga mereka berpulang. Apa tidak sebaiknya pemerintah menganjurkan agar jenazah bisa dimakamkan di pemakaman umum atau pemakaman keluarga berdampingan dengan orang-orang yang mereka kasihi. Lahan khusus pemakaman jenazah Covid-19 mungkin bisa dipakai jika sehari atau sepekan jumlah kematian mencapai puluhan.

Beredar pula video ketika seorang perawat perempuan melangkah keluar dari tempat tinggalnya menuju mobil yang terparkir. Di punggung jaketnya tertulis: ambulance. Ia terkejut ketika tiba-tiba suasana menjadi riuh. Gelegar tepuk tangan dari tetangganya, mengiringi niatnya untuk bertugas di masa-masa wabah ini mengancam setiap yang bernyawa. Wajahnya seketika memerah. Ia menangis. Peran-peran kemanusiaan seperti ini layak menjalar dari setiap jemari kita.

Setiap akun media sosial adalah bayangan wajah kita dalam cermin. Kita bisa memindai kepribadian atau masalah seseorang hanya dari unggahan mereka. Di masa-masa sulit seperti ini, kita bisa membaca kawan-kawan kita yang harus mengemasi meja kerja mereka, bukan karena harus bekerja di rumah, tapi karena di-PHK perusahaan tempat ia bekerja. Sebagian orang mungkin bersedih ketika mata pencaharian hilang begitu saja, tapi jauh lebih dalam, ada orang-orang yang lebih bersedih sebab kantor itu adalah tempat ia bisa berkarya. Tempat ia selama berminggu-minggu menyiapkan apa saja dengan penuh semangat.

Sebelum pandemi ini terasa mengintai kita lebih dekat, saya dan seorang kawan di sela-sela pekerjaan, coba menyiapkan usulan-usulan liputan untuk media lain. Hampir sebulan kami menyiapkannya. Saya sampai melakukan detoks media sosial atau menon-aktifkan beberapa akun hampir sebulan, agar fokus dengan pekerjaan ini. Sebagai jurnalis lepas, beginilah cara kami menyiasati agar saku kami tak melulu kosong. Tapi ketika pandemi ini tiba, semuanya tertunda. Beruntung ada saja kawan yang rela membagi pekerjaan mereka untuk kami kerjakan dan diupah.

Bukan hanya pedagang kaki lima, mama-mama penjual pinang dan penganan lokal, warung-warung makan, atau kedai-kedai kopi yang merasakan dampak buruk dari pandemi ini. Segala jenis usaha diliputi awan kelabu. Setiap orang mengecek isi dompetnya, rekeningnya, atau bahkan terpaksa membanting celengan mereka.

Setiap yang agamais juga diajak menepi. Barangkali, Tuhan memang ingin kita merenung, bahwa riuh doa di rumah-rumah ibadah kita yang berkilauan, atau di tanah lapang yang disesaki ribuan umat, tak sebanding ketika kita bersunyi-sunyi dengan-Nya dalam doa dan ibadah.

Seandainya kita bisa selamat dari pandemi ini, kita perlu sadar bahwa kita tak bisa hidup tanpa saling mendukung satu sama lain dalam kemanusiaan. Hal yang sebenarnya telah berkali-kali diajarkan orang-orang Papua kepada kita.