Senin, 04 Oktober 2021
Selamat Merangkul Hidup Barumu
Harapan itu berbuah kerja. Keesokan harinya, aku sudah bisa meliput ke lapangan ditemani seorang perempuan. Dari kartu pers yang ia kenakan, tercantum nama Roslely Sondakh. Yang akrab menyapanya Eling.
Selayaknya tandem, Eling terus menunjuk ini dan itu. Sesekali tertawa. Menjelaskan begini dan begitu. Sesekali berdengus. Kantor Polres dan Pengadilan, jadi rumah singgah kami sepanjang pagi menjelang senja. Bahkan malam hingga pagi, kami harus mengawasi apa saja peristiwa yang terjadi.
Bagi wartawan pemula yang bekerja di surat kabar harian, liputan hukum dan kriminal adalah gerbang. Di situlah kami diajarkan untuk memverifikasi data.
"Bahkan warna celana dalam korban [pembunuhan] pun kau harus tahu!" kata Eling, dengan gaya khasnya bercekak pinggang.
Eling pernah tergelak-gelak, ketika melihat caraku menyusun berita berbasis data. Ia baru mengajariku setelah diteriaki redaktur senior.
Sepekan, kemudian, sebulan bergulir. Pertemanan kami mengalir. Hampir seisi kantor tentu saja menjalin pertemanan. Namun selalu ada dua, tiga atau empat orang yang berhimpun menjadi karib.
Rumah kontrakan Eling, jadi tempat kami menghamburkan berbagai perca ingatan. Kami seperti adik kakak yang, kadang bertengkar hanya karena terlambat membeli obat magnya.
Kemudian kami diutus ke kantor raksasa Manado Post, untuk dilatih menjadi wartawan liputan khusus. Semua anak media Manado Post Group bahkan dari Luwuk sampai Maluku diundang perwakilannya. Kendati kami yang paling bandel dan sering telat hadir mengikuti materi, hasil liputan kamilah yang terpilih dan dipajang di halaman satu koran Manado Post.
Sebenarnya, alasan kenapa kami sering telat, karena kami hanya menumpang tinggal di rumah salah satu mantan pimpinan Radar Bolmong. Jarak rumahnya cukup jauh. Peserta lainnya tinggal di penginapan yang berdekatan dengan kantor Manado Post.
Waktu, tanpa disadari menyeret kami begitu cepat. Satu per satu dari kami mulai ditugaskan di daerah terpisah. Setelah itu, pesanan advetorial dan target kontrak menyeleksi kami. Padahal, menurut Dahlan Iskan, kami wartawan liputan khusus dibebaskan dari target kontrak, advetorial, dan iklan-iklan. Satu demi satu melepas kemeja hitam kebanggaan bertuliskan Radar Bolmong.
Sebelum melepas diri, kami pernah sempat bergurau bahwa suatu saat akan berada di pucuk pimpinan, duduk di ruang kerja sendiri di kantor baru nan megah yang saat itu tengah dibangun, dan menua dengan menikmati hasil kerja kami di masa muda. Kawan-kawan seangkatan kami saat pelatihan, beberapa di antaranya sekarang sudah menjadi pemimpin redaksi di masing-masing perusahaan yang menaungi mereka kemarin.
Namun akhirnya aku sendiri sadar, harta adalah teman yang aneh. Ia hanya menyenangkanmu, ketika ia meninggalkanmu. Aku lebih memilih hendak menimbun pengetahuan.
Eling mendahuluiku pergi menginjakkan kaki ke Papua Barat. Di tanah di mana Injil kali pertama menjejak di Bumi Cenderawasih. Di Manokwari, media yang masih berpayung di grup yang sama--Jawa Post Group--rencananya akan merintis nasib di sana. Tetapi, hanya beberapa bulan mereka kembali ke Manado. Saat itu, aku sudah hijrah ke Gorontalo dan bergabung dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Gorontalo.
Kemudian, aku berpindah lokus liputan di Manado. Di sanalah kami dipertemukan lagi. Eling juga sudah di media yang baru dan menetap di Manado.
Di Manado inilah, hari-hari yang pernah kami lalui di masa-masa awal berkarir di media, kembali terulang. Kami bunuh diri karir. Merintis dengan nyawa yang baru lagi.
Saat ayahnya dirawat di rumah sakit di Manado, aku dan Nanang sering menemaninya. Koridor rumah sakit kadang menjadi tempat di mana kami rebah, bercanda, dan mengenang apa saja yang bisa membuat kami menertawai hidup. Pun sekadar untuk menghibur hatinya yang, kami tahu berharap besar agar ayahnya segera pulih. Pada akhirnya, Eling ikut pasrah ketika ayahnya menyerah pada sakitnya. Ayahnya berpulang.
Tak lama kemudian, kami terpisah lagi. Aku kembali ke Gorontalo. Lalu bertambah jauh lagi karena harus pindah ke Papua. Eling kembali ke Kotamobagu.
Dua tahun yang lalu, kali pertama aku kembali dari Papua saat liburan lebaran, Eling mengendarai mobil barunya saat menjemputku di rumah. Ia mengajakku jalan-jalan. Senyumku merekah. Setidaknya, apa yang telah ia bunuh dulu, telah berbuah hasil dengan nyawa baru itu.
Hari ini, perempuan yang gemar menendang, melantak, dan menyumpahi kami dengan suara kalengnya akan memupus masa lajangnya.
Sewaktu malam peminangannya beberapa pekan lalu, ia mungkin menyumpahiku lagi meski jauh nun dari rumahnya di Bolaang Mongondow Selatan. Aku tak bisa hadir karena urusan pekerjaan yang lumayan menguras energi.
Calon suaminya, Razak, ternyata dulu pernah juga bekerja di Radar Bolmong. Sempat bersua denganku belum lama ini. Sepertinya, lelaki ini mampu meredam segala apa yang bergemuruh dari dalam diri Eling.
Selamat menikah sahabat terbaik. Akur hingga uzur.
Rabu, 07 Juli 2021
Obituari Kaka Cece
Pertanyaan itu terlontar di dalam mobil.
"Nyerah?" tanya Defaw kepada kami. Tebak-tebakan itu darinya.
"Kalau sarung itu bisa kotak-kotak, kalau kotak tidak bisa sarung-sarung."
Tawa kemudian menebal di dalam mobil. Malam itu, seingat saya, ada Ann, Kaka Cece, Sandi, Fawaz a.k. a Defaw (Dede Fawaz). Kami pergi mencari makan. Dalam perjalanan, akhirnya kami bertarung tebak-tebakan dan terus tertawa terbahak-bahak.
Lalu Kaka Cece tiba-tiba berujar, "Saya mampir di rumah dulu ya?" Sambil menunjuk sebuah rumah bergerbang raksasa. Jelas saja kami semua tertawa. Kaka Cece memang sering kali bergurau seperti itu. Beberapa kali ia menunjuk perumahan elite, kemudian seolah-olah ingin memutar kemudi mengarah ke pintu masuk.
Kaka Cece adalah satu-satunya saudara laki-lakinya Ann. Mereka empat bersaudara. Tiga lainnya perempuan. Jelas sekali, Kaka Cece pasti anak yang begitu dimanja sejak kecil. Gurauannya tentang rumah-rumah gedongan itu, sebenarnya ialah apa yang pernah dirasakannya. Kaka Cece beruntung terlahir dari keluarga yang mapan. Kakak tertua mereka di Makassar, Kaka Ida, punya rumah lebih dari satu dan sebesar rumah-rumah yang kerap kali dijadikannya gurauan.
Kaka Cece menetap di Tangerang. Namun ia sering kali berkunjung ke Cirebon. Karena sering ke Cirebon, saya dan Kaka Cece cukup akrab. Kami beberapa kali keluar pagi-pagi hanya untuk mencari nasi jamblang, makanan khas Cirebon. Nasi ini berwadah daun jati, kemudian lauknya bisa diambil sesukanya, ada udang goreng, telur, perkedel, hati ayam, dan masih banyak lagi. Saya sempat berujar heran, karena harganya hanya sepuluh ribu.
Pernah ketika Kaka Cece esoknya hendak kembali ke Tangerang, dan kebetulan saya juga tidak lama lagi akan kembali ke Papua, kami pergi mencari tempat makan yang terletak di puncak. Cirebon memang dekat dengan daerah puncak, lokasinya di jalan menanjak menuju Kuningan. Dokter Sukma, teman praktik Ann, datang bersama istri dan anaknya. Kami melahap hidangan di Restoran Salt dengan suguhan pemandangan malam hari Kota Cirebon yang indah, sembari bertukar cerita.
Lama tak bersua dengan Kaka Cece. Sejak wabah ini mengganas tahun lalu, saya memberanikan diri pulang dari Papua menuju kampung halaman karena ibu sakit. Itu pun dengan hati berdebar-debar karena tak ada pesawat langsung menuju Manado. Saya harus pulang lewat Makassar, sedangkan saat itu kota ini masuk zona merah Covid-19.
Kemudian ... kemarin, Rabu 7 Juli 2021, sebaris pesan dari Ann menyelinap di gerbang pagi, seusai Spanyol bertekuk lutut kepada Italia lewat adu penalti.
Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah adik kami M. Jusri Hidajat Tahir. Mohon dimaafkan segala salah dan khilafnya. Mohon doanya Kris ...
Saya sempat memastikan bertanya lagi apakah ini Kaka Cece, meski sudah mengira karena Ann menyebut 'adik kami' bersama marga. Pertanyaan saya itu seperti sebuah sanggahan. Itu bukan Kaka Cece. Berulang kali dalam hati saya coba meyakinkan bahwa itu bukan Kaka Cece.
"Ya Allah, sakit apa?"
"Covid."
Ann kemudian menyumpahi virus itu. Kejam. Iya, virus ini memang kejam. Virus ini terasa berada di depan mata karena mulai merenggut orang-orang di lingkaran terdekat. Kaka Cece sempat dirawat di ICU dua malam. Sempat membaik karena saturasi naik 90. Namun pukul 3 pagi kembali drop.
Jakarta dan sekitarnya sekarang zona hitam. PPKM Darurat sudah diberlakukan. Sayangnya, Kaka Cece belum sempat ikut vaksinasi dan memiliki komorbid atau penyakit penyerta. Bahkan ketika jatuh sakit, cukup sulit mencari rumah sakit. Hampir semua penuh. Ada yang menolak karena tabung oksigen semuanya terpakai di ICU. Sebagian pasien ada yang dirawat di tenda-tenda darurat. Selain itu, perjalanan ambulans juga memakan waktu lebih lama, karena sebagian jalan diblokade.
Saat menghubungi Ann lewat video call, saya terus menangis tak percaya. Ann juga terisak-isak. Air matanya seperti sudah mengering. Yang teramat biadab ketika virus ini menjemput keluarga terdekat, kita tidak tahu lagi bagaimana caranya berduka. Tidak ada pelukan terakhir. Bahkan untuk sekadar mengunjungi makam saja tak bisa dilakukan saat ini. Jakarta telah menjadi tuan rumah dari virus varian Delta. Varian terkuat.
Ketika varian Delta ini mulai menjalar di India, Ancol dibuka saat liburan lebaran. Muncul meme yang membandingkan tumpukan orang di Ancol dengan orang-orang di Sungai Gangga. Selain itu, sejumlah WNA asal India sempat masuk lewat Bandara Soetta, April 2021 lalu. Peringatan pakar-pakar epidemiologi diabaikan.
Namun, kabar Ann bahwa sejumlah rumah sakit beralasan kekurangan tabung oksigen, menandakan bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Ada banyak nyawa di luar sana yang bergantung pada tabung oksigen. Tabung yang menyimpan apa yang sedang kita hirup gratis saat ini.
Selamat jalan Kaka Cece. Al-Fatihah ...
Selasa, 27 April 2021
Sepuluh
Sabtu, 17 April 2021
Don't Grow Up
Kamis, 16 Juli 2020
Pulang Kampung
Tiga puluh ribu kaki meninggi. Empat ribu kilometer mengudara. Hanya untuk satu kata: Ibu.
Apa jadinya ketika hal yang ikut kau tentang, akhirnya terpaksa harus kau jalani? Pulang kampung. Saya harus melintasi setengah langit Indonesia dari Timur menuju Barat. Kemudian melanjutkan lagi setengah perjalanan udara dari Selatan ke Utara.
Selama masa pandemi Covid-19, perjalanan pulang kampung memang cukup berbahaya. Apalagi ketika kita dari dan akan memijak wilayah-wilayah yang virusnya tengah mengganas. Seandainya Ibu tidak sakit, saya memilih untuk tetap mengurung diri di kamar kos. Bahkan lebaran kemarin, saya memutuskan tak pulang karena tahun baru kemarin saya baru dari kampung.
Perjalanan ke luar Papua cukup menguras energi dan saku. Tenaga bisa pulih, uang bisa dicari, tapi kesempatan merawat orang tua yang sakit tak ternilai. Saya yang bekerja di Jayapura dan tidak mengantongi Kartu Tanda Pengenal (KTP) Papua, harus mengikuti aturan yang dikeluarkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua.
Syarat pertama bagi non-KTP Papua, saya harus membuat surat pernyataan untuk tidak kembali ke Papua selama setahun. Surat ini bisa dibikin sendiri, tapi ditanda-tangani di atas materai 6.000. Ini alternatif atau pilihan tercepat, daripada mengurus Surat Persetujuan Keluar Masuk (SPKM) yang harus melewati ruangan Sekretaris Daerah Pemprov Papua lalu Dinas Perhubungan Pemprov Papua. Jika mengurus SPKM butuh berhari-hari dan biasanya ini bagi yang ber-KTP Papua atau yang melakukan perjalanan dinas.
Saya yang berniat kembali Papua, memang bisa mengurus SPKM dengan menyertakan surat keterangan dari kantor. Tentu saja saya tidak akan sempat mengurusnya, sebab tiket pesawat sangat sulit mendapatkannya dan kebetulan tiga hari berikutnya, dengan dibantu seorang kerabat saya, kami berhasil mendapatkan tiket karena ada yang menunda perjalanannya. Saya dan dia yang tinggal di Boven Digoel, yang juga hendak pulang ke kampung yang sama, sempat berniat melalui jalur laut dan mengunjungi kantor Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Jayapura, namun antrean panjang dan tiket cepat habis.
Kedua, saya harus melakukan tes cepat atau rapid test. Pukul 9 pagi, saya sudah berada di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) di Rumah Sakit (RS) Dok II Jayapura. Tapi pagi itu antrean seperti orang-orang ini sudah berdatangan sejak matahari baru saja semburat. Penuh. Biaya tes cepat di sini, berkisar antara Rp 150 ribu. Saya memutuskan melakukan tes di RS Provita. Di RS ini antrean tidak seular di Labkesda. Hanya beberapa orang saja. Setelah mengisi formulir, saya ditanyai tiket pesawat. Sebaiknya sebelum melakukan tes cepat, kita sudah memesan tiket pesawat atau kapal laut.
Setelah membayar Rp 400 ribu di loket, saya disuruh ke ruang lab untuk mengambil darah. Saya pikir, tes cepat hanya meneteskan darah di alat rapid dan hasilnya segera diketahui. Tapi di sini, saya diambil darah hampir setabung jarum suntik ukuran sedang. Tiga jam kemudian hasilnya diketahui. Saya sempat cemas, karena kondisi tubuh saya sedang dalam masa pemulihan karena sakit. Beberapa hari sebelumnya saya dirawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Dian Harapan, karena asam lambung naik. Awalnya saya mengira akan serangan jantung karena dada sakit dan sulit bernapas. Kata dokter, selain karena pola makan dan tidur tidak teratur, asam lambung naik juga dipicu stres. Berkurung diri di kamar selama berbulan-bulan dan dikabari orang tua sakit keras memang menambah beban pikiran. Beruntung, hasil tes cepat menyatakan saya nonreaktif.
Ketiga, syarat ini sudah jauh-jauh hari saya urus. Surat keterangan yang menyatakan Ibu sedang sakit, dari Kepala Desa Passi, tempat asal saya. Tapi karena pembatasan akses terus diperpanjang, surat ini baru bisa terpakai sekarang. Ibu juga memang kembali dirawat cukup lama hingga berminggu-minggu di RS.
Keempat, saya tinggal memfotokopi KTP yang ikut dilampirkan di surat pernyataan tidak kembali ke Papua. Bisa juga tiket ikut dicetak agar semua berkas menyatu. Tapi saya tidak mencetak tiket, nanti hanya menunjukkannya lewat email kepada petugas bandara.
Saat hari keberangkatan tiba, sebaiknya kita tiga jam sebelum berangkat sudah berada di bandara. Ini sebenarnya mungkin hanya berlaku di Papua. Karena penerbangan antardaerah Papua ikut dibuka, maka antrean memanjang. Saya direkomendasikan nomor seorang petugas di Bandara Sentani, oleh kerabat saya yang lebih dulu pulang sehari sebelum keberangkatan saya. Petugas bandara yang orang Papua ini, membantu saya membawa berkas-berkas untuk diparaf. Surat pernyataan harus ada paraf dari Dinas Perhubungan yang sudah menyediakan petugasnya di bandara.
Selanjutnya, kita harus bersabar untuk mengantre, karena ada sekitar 50-an orang berjajar untuk menunjukkan berkas mereka ke petugas Dinas Kesehatan. Semua dokumen kelengkapan akan diparaf dan dicap lagi. Serasa seperti sedang ke luar negeri lalu melewati pintu-pintu imigrasi. Sambil menunggu antrean, saya mengisi data di aplikasi eHAC Kementerian Kesehatan. Nanti barcode-nya akan di-scan di setiap bandara karena itu wajib diisi. Usai berlama-lama mengantre dan urusan selesai, suhu tubuh kita diukur dengan thermal scanner. Kemudian kita bisa melenggang bebas ke dalam bandara.
Saat mengurus boarding pass, kelengkapan berkas akan diperiksa lagi. Jika lengkap, maka kita bisa menuju ruang tunggu dan bernapas lega. Saat pesawat akan berangkat, saya kira semua urusan selesai. Ternyata masih ada satu formulir yang dibagikan petugas maskapai Garuda Indonesia yang saya tumpangi, untuk diisi. Penjelasan dalam formulir, tentang kelengkapan berkas saja selain kita kembali mengisi data pribadi. Kalau ada yang tidak lengkap kita harus menanggung semua risikonya, termasuk pembatalan penerbangan.
Bagian tengah kursi di pesawat sengaja dikosongkan untuk menjaga jarak antarpenumpang. Di sandaran kursi tertulis tagar #BecauseYouMatter. Karena penerbangan sore dan diperkirakan saya tiba di Makassar pukul 5 sore, saya tidak bisa mendapatkan tiket langsung ke Manado di hari yang sama. Tidak ada penerbangan malam. Penerbangan dari Jayapura ke Manado juga tidak ada, karena itu banyak yang harus ke Makassar dulu, lalu melanjutkan penerbangan ke daerah tujuan selanjutnya.
Hampir tiga jam mengudara dengan cuaca buruk, saya tiba di Makassar. Di Bandara Sultan Hasanuddin, kita disuruh mengisi formulir berwarna kuning atau biasa mereka sebut kartu kuning yang sudah disiapkan petugas, baru bisa ke luar bandara. Sebenarnya ini kalau sudah mengisi data di aplikasi eHAC, tinggal di-scan saja barcode-nya. Tentunya dengan menunjukkan kembali kelengkapan berkas termasuk hasil rapid test.
Saya segera mencari loket penjualan tiket di bandara, tapi semuanya tutup sore hari. Saat memesan hotel transit di bandara, untuk bermalam di Makassar, petugasnya membantu menghubungi kenalannya yang biasa menjual tiket. Saya mendapat tiket Citilink pukul 4 sore esok hari. Lion Air siang hari pelit jatah bagasi. Harganya juga hanya selisih 200-an ribu rupiah. Setelah memesan tiket, saya akhirnya bisa rebah di hotel transit yang harganya terjangkau, hanya 300 ribu rupiah semalam kita sudah dijemput dan diantar lagi ke bandara esoknya.
Pukul 1 siang keesokan harinya, saya sudah ke bandara. Di Bandara Sultan Hasanuddin ternyata ada pemeriksaan mirip di Papua. Meski antrean tidak panjang. Berkas kita harus diparaf lagi oleh Dinas Perhubungan dan Dinas Kesehatan setempat. Suhu tubuh diukur. Barcode eHAC di-scan. Lalu bisa masuk bandara.
Penerbangan dari Makassar ke Manado hanya sejam lebih. Saat tiba di Bandara Sam Ratulangi, bagi yang tidak mengisi eHAC harus mengisi data di formulir mirip kartu kuning di Bandara Sultan Hasanuddin. Barcode eHAC di-scan. Suhu tubuh diukur. Baru kita bisa keluar. Alangkah bahagianya ketika melihat lambaian tangan kawan dan kerabat saya yang datang menjemput. Akhirnya bisa tiba di Manado.
Namun perjalanan panjang belum berakhir. Sebab dari Manado menuju Kabupaten Bolaang Mongondow atau ke desa saya, masih menjalari daratan selama empat jam. Kami istirahat sejenak di rumah kerabat di Manado. Dua jam kemudian, kami pulang ke kampung.
Pukul 3 pagi, cuaca Eropassi yang berkabut menyambut ...
Rabu, 01 Juli 2020
Terima Kasih
Senin, 18 Mei 2020
Maaf
Seorang gadis jangkung berkulit gelap berjalan penuh keyakinan ke halaman sekolahnya. Sekumpulan anak laki-laki berkulit putih mengitarinya dengan menunjuk, tertawa, dan menjulurkan lidah. Ia terlihat tegar sampai ke ruang kelas yang menebal dengan kebiadaban. Udara di sana seolah-olah hanya berpusar di atas rambut keritingnya.

