Jumat, 20 Mei 2022

Allisya

Tidak ada komentar
Tujuh tahun lalu, negeri kita pernah digegerkan dengan kasus mengerikan pembunuhan Engeline Megawe, di Kota Denpasar, Bali. 

Pada 6 Mei 2015, awalnya nama yang menebal di lini masa ialah Angeline. Anak perempuan berusia 8 tahun ini, sebelumnya dinyatakan hilang oleh keluarga angkatnya, melalui laman Facebook bertitel "Find Angeline-Bali's Missing Child". 

Setelah diselidiki polisi, akhirnya kasus hilangnya Engeline terungkap. Seumpama durian masak, di mana pun kita menyembunyikannya, baunya akan tetap terhidu. Pada 10 Juni 2015, bau menyengat dan gundukan tanah di halaman belakang rumah mereka di Jalan Sedap Malam, Denpasar, membuat polisi curiga lalu menggalinya. Jasad Engeline ditemukan terkubur di sana. 

Ibu angkatnya, Margriet Christina Megawe ditetapkan sebagai tersangka. Melalui persidangan yang panjang, akhirnya Margriet dihukum seumur hidup pada persidangan 29 Februari 2016. 

Pagi tadi, sejumlah media sosial riuh dengan unggahan dugaan penganiayaan yang menyebabkan tewasnya anak perempuan bernama Allisya. 

Dari hasil memindai unggahan di media sosial, Allisya baru berusia 5 tahun. Ia berasal dari kota saya pula: Kotamobagu. Allisya meninggal pada Rabu (18/5/2022), di tempat tinggal barunya di Kota Gorontalo bersama ayah kandung dan istri barunya. 

Awalnya, Allisya tinggal bersama neneknya di Kotamobagu. Kemudian ayahnya mengajak Allisya ke Gorontalo, karena akan disekolahkan di Taman Kanak-Kanak di sana. Pihak keluarga korban menduga Allisya meninggal secara tidak wajar, karena selain ditemukan lebam di tubuhnya, ada patahan gagang sapu di rumah tersebut. 

Belum banyak media yang memberitakan kasus ini secara jernih. Dari laporan Gopos.id, Kasat Reskrim Polres Gorontalo Kota, Iptu Mohamad Nauval Seno STK SIK, mengatakan laporan kasus tersebut sudah diterima. Saat ini masih dalam proses penyidikan lebih lanjut. Kasat sendiri belum menjelaskan detail dan kronologi kejadian tersebut. 

Saya pernah menonton film yang bahkan saking lamanya saya lupa judulnya. Di film itu, ada sejumlah pasangan yang setelah menikah memilih "childfree" atau memutuskan untuk tidak memiliki anak. Ada banyak faktor kenapa mereka memilih childfree misal alasan finansial, latar belakang keluarga, gaya hidup, dan lain sebagainya.

Tetapi dalam film itu, alasan salah satu pasangan ini cukup mencengangkan. Karena mereka berdua pecinta alam, mereka tidak ingin anak mereka tumbuh di kondisi lingkungan yang semakin rusak di masa depan.

Tentu itu bukan hanya terjadi dalam sebuah film. Karena childfree sudah banyak dilakoni sejumlah orang, termasuk di negara kita. Bayangkan saja, untuk memutuskan memiliki atau tidak memiliki anak saja mereka bisa mempertimbangkannya sedemikian rupa.

Maka, sungguh biadab orangtua yang tega menganiaya bocah semungil Allisya. Orang dewasa memang menyebalkan!

Duka sedalam-dalamnya untukmu, peri kecil ...

Al-Fatihah ...

Minggu, 17 April 2022

Selamat Jalan Om Oku

Tidak ada komentar
Polemik rencana pembangunan bandara di Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), mungkin sekitar 2013 atau 2014 silam, menyulam perkenalan saya dengan Herson Mayulu.

Kala itu, Herson Mayulu menjabat sebagai Bupati Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel). Bandara baru di Provinsi Sulawesi Utara, rencananya akan dibangun di Bolmong. Bolsel dan Bolmong induk sama-sama mempersiapkan kelengkapan pembangunan bandara perintis, untuk diajukan ke Kementerian Perhubungan.

Di tengah polemik itulah, seorang kawan menyarankan saya menulis tentang Herson Mayulu, yang saat itu bersikukuh agar bandara dibangun di Bolsel.

"Nama akrabnya Om Oku," kata kawan saya.

Setelah memindai beberapa pemberitaan terkait itu, saya menulis artikel berjudul "Om Oku Ini Jo tu Loku".

Ponsel terpintar saat itu adalah BlackBerry yang, pada 4 Januari 2022 tinggal menjadi fosil karena sistem operasinya resmi ditutup. Artikel itu kemudian di-broadcast sejumlah kawan, lalu sampai di layar ponsel Om Oku.

Kawan Nev Setiawan yang lumayan dekat dengan Om Oku mengirimkan "PING!!!" di BBM. Disusul dengan pesan bahwa tulisan saya dibaca Om Oku.

Pesan susulan berisi, "Saya kasih PIN BBM-mu kepadanya [Om Oku]."

Sejam kemudian, undangan baru pertemanan masuk. Seorang bupati dari Negeri Selatan. Dan saya hanya seorang wartawan baru, yang bahkan berjumpa dengan pejabat saja masih gugup.

Artikel yang saya tulis dikirimkannya kembali. Lalu kami terlibat percakapan panjang tentang isi artikel. Saya menulis di artikel tersebut, daripada gaduh soal bandara perintis dibangun di Bolsel atau Bolmong, alangkah baiknya Bolsel menarik diri, membiarkan bandara tersebut dibangun di Bolmong. Selain lokasi di Lolak, Bolmong, cukup strategis dan berada di tengah-tengah, lalu lintas kendaraan antarprovinsi lebih banyak melewati Bolmong ketimbang Bolsel.

Bolsel menghadap langsung dengan Teluk Tomini, teluk terbesar di Indonesia. Mungkin Bolsel bisa membangun pelabuhan yang nantinya bisa menjadi pintu masuk jalur laut, jika kelak kita menjadi Provinsi Bolmong Raya. Kalau Bolmong punya bandara, maka Bolsel punya pelabuhan. Seperti Manado dan Bitung. Apalagi, potensi wisata bahari Bolsel sangat menjanjikan. Judul artikel "Om Oku Ini Jo tu Loku" (Om Oku Ini Saja yang Ditangkap) bermaksud demikian. Yang "ditangkap" ide pembangunan pelabuhan saja daripada bandara.

"Betul juga apa yang kamu sampaikan, tetapi saya akan berusaha agar bandara dibangun di Bolsel." Isi pesan Om Oku, sekuat ingatan saya.

Setelah itu, kami masih terlibat percakapan panjang. Dari situlah, saya tahu bahwa Om Oku adalah orang yang sangat teguh dengan pilihannya. Ia tetap bersikeras agar bandara dibangun di Bolsel.

Beberapa tahun kemudian, saya tinggal di Gorontalo--tanah kelahiran Om Oku. Suatu hari, saya pulang ke kampung hanya beberapa hari saja. Nev yang hendak ke Gorontalo, menawarkan untuk berangkat bersama dengan mobilnya, tetapi melewati jalur selatan. Di saat itulah, pertemuan tatap muka dengan Om Oku terkabul. Ia sedang berkampanye untuk periode keduanya sebagai bupati. Nev mempertemukan kami meski hanya sebentar, karena akan melanjutkan perjalanan ke Gorontalo.

Tahun-tahun menggelinding dengan cepat. Saya lebih banyak berada di luar daerah. Tetapi informasi di tanah kelahiran tetap terpindai. Bupati Bolsel dua periode ini, menanggalkan jabatannya karena maju sebagai caleg DPR RI. Pilihan tepat karena Om Oku terpilih menjadi anggota DPR RI pada 2019, menunggangi banteng PDI Perjuangan untuk daerah pemilihan Sulawesi Utara.

Tahun lalu, garis bibir saya melengkung, ketika membaca berita tentang perjuangannya untuk bandara di Lolak, Bolmong. Bandara Lolak menjadi salah satu dari sepuluh bandara, yang ditargetkan pembangunannya selesai pada 2024, sesuai instruksi Ditjen Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan. Hal itu disampaikan langsung Staf Ahli Anggota DPR RI Herson Mayulu. 

Ketika menjadi Bupati Bolsel, Om Oku ingin melakukan apa yang terbaik untuk masyarakat Bolsel. Lalu ketika menjadi anggota DPR RI, Om Oku ingin yang terbaik pula untuk semua masyarakat Bolmong Raya.

Tahun lalu juga, dalam Rapat Dengar Pendapat antara Komisi V DPR RI dengan Dirjen Perhubungan Laut dan Dirjen Perhubungan Udara, di Jakarta, Om Oku sempat membahas terkait operasional Pelabuhan Torosik, di Kecamatan Pinolosian Tengah, Bolsel. Ia mengunjungi pelabuhan tersebut, dan sangat prihatin dengan kondisinya. Bahkan menurutnya pelabuhan itu tak lagi memiliki pegawai.

Saya teringat kembali percakapan tentang pelabuhan dan bandara kala itu ...

Kemudian ... Minggu kemarin, pukul 09.05 WIB, Om Oku dikabarkan berpulang di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat. Kabar itu tersiar begitu cepat di media sosial. Beranda Facebook saya bersikut-sikutan ucapan belasungkawa untuk Om Oku.

Ahh umur ... hanya berisi angka-angka. Namun di setiap angka itu ada hal-hal baik yang kita lakukan, itu sudah lebih dari cukup sebagai bekal kita. Mungkin seperti itu pemaknaan Om Oku ...

Selamat jalan Om Oku. Sukur moanto (terima kasih) untuk kebaikan-kebaikan yang Om Oku tinggalkan untuk Tanah Totabuan.

Al-Fatihah ...

Senin, 27 Desember 2021

Desember

Tidak ada komentar
Setiap tahun disimpul oleh Desember. Bulan ketika rumah-rumah beratap bocor harus menyediakan ember. Aku selalu ingat mendiang ayah di saat musim penghujan. Ia yang kerap sabar menata kembali pipa-pipa air, menambal atap berlubang, dan memberi jalan bagi air agar mengalir ke tempat yang semestinya.

Pernah suatu hari, ayah terjatuh dari meja tempat ia berjinjit. Lantai basah menjadikan insiden itu bertambah parah. Tetapi begitulah ayah. Ia akan bangkit lagi, memperbaiki atap lagi, dan lagi, agar penghuni rumah bisa nyaman berjalan di dapur ketika hujan. Mungkin baginya, cukuplah ia yang terjungkal asal jangan sampai ibu atau anak-anak.

Tahun-tahun berlalu sepeninggalan ayah. Kini, berganti ibu yang kuyu di kasur. Sakitnya yang mengajak aku harus segera pulang. Menerobos wabah dari satu penerbangan ke penerbangan lainnya. Udara mungkin bukan jalan terbaik sebab kita diterungku di dalam tabung raksasa, bersama orang-orang yang mungkin luput dari tes sembari membawa virus di hela napas mereka. Tetapi akhirnya aku sampai di tanah lahir disambut wajah-wajah bahagia.

Aku tidak sepenuhnya membenci tahun ini. Sebab ia menyeretku untuk kembali ke kampung halaman. Berlama-lama dengan orang-orang terkasih, sebelum sesal datang menghampiri. Setidaknya aku bisa mengelabui atau berhasil menang dari penyesalan yang, kita tahu selalu datang belakangan.

Senin, 22 November 2021

Mana Kepalmu?

Tidak ada komentar
Kerusakan tanah leluhurmu bukanlah masalah rumah tangga yang, harus kau diamkan. Bukan pula cinta rahasia yang tak boleh kau ungkapkan. Ini adalah tabungan bencana yang akan kau tumpahkan ke anak-cucumu.

Dari etalase wisata yang tampak seperti travesti itu, ada jerit seorang petani yang gagal panen karena parit-parit sawah mengering. Ada ikan-ikan di sungai yang tak lagi mengandung protein, tapi secuil limbah di dagingnya yang tak akan terasa oleh lidahmu.

Bibir-bibir pantai dan hutan bakau yang diuruk, dimanterai sekejap lalu bersulih menjadi lokasi swafoto. Hutan-hutan yang kulitnya penuh gelegata, pohon-pohon membungkuk, dan bukit-bukit yang terus didinamit hingga dedemit pun enyah.

Lalu roh-roh leluhur yang mana lagi, yang ingin kau panggil untuk membakar kepalmu?

Minggu, 14 November 2021

Selamat Jalan Jijah

Tidak ada komentar

Lima tahun lalu, saya pernah serumah bahkan sekamar dengan Rio, di Teling, Manado. Sama-sama mengadu nasib di sana. 

Kala itu, Rio bekerja di bengkel yang tak jauh dari rumah kontrakan. Rumah ini ditempati Kiki, jatah dari kantornya. Anak-anak pertigaan Desa Passi, bukan sekali ini tinggal bersama jika sedang berada di Manado. Ini yang kesekian kalinya. 

Rio pintar memasak. Dapur adalah urusannya. 

"Ya' [nama panggilan saya], sana ada ikang putih kita da masa, hobimu," katanya. 

Sedetik, saya berlari menuju dapur, lalu menyantap masakannya di balkon belakang rumah yang menghadap Gunung Klabat. Ini tempat favorit kami. 

Selama berbulan-bulan rumah di Teling ini, jadi tempat berteduh yang menyenangkan bagi kami. Siapa yang gajian, giliran mentraktir. Kulkas pasti penuh dengan apa yang membuat cerita dan tawa kami pecah. 

Di rumah ini pula, kami sempat mengurus Rio yang terbaring sakit. Ia sering lumpuh beberapa hari karena menderita hipokalemia. Kadar kaliumnya sering rendah. Jika sang koki sakit, maka gantian kami yang merawatnya, seperti ia kerap merawat perut lapar kami. 

Saat ia rengsa, kami memapahnya ke kamar mandi, membedaki dan menggaruk punggungnya, memberi makan dan obat, bahkan Opan kakaknya Kiki terkadang harus mengurus lebih, ketika ia tak bisa lagi dipapah ke kamar mandi. 

Jangan heran dengan sakitnya ini, tiga atau empat hari kemudian, ia sudah bisa berdiri tegak dan melangkah, meski masih seperti balita sedang belajar jalan. 

"Eh, Jijah [panggilan akrabnya] so lincah ulang eee," gurau kami, saat melihatnya berangsur pulih. 

Nama Rio memang kurang akrab di telinga anak-anak kompleks. Jijah lebih melekat kepadanya. Sebenarnya, awal penamaan Jijah dari panggilan: Aisyah. Kemudian berubah menjadi Ajijah. Akhirnya memendek menjadi hanya Jijah. Saya lupa kisah di balik julukannya ini. Kakak-kakak kompleks yang merekatkan nama itu. 

Ada satu tingkahnya yang kerap membuat kami kesal. Jika kami sedang duduk mengobrol, ia terlalu sering menggamit. Tingkahnya ini bahkan menjadi istilah lagi: ki kamber (si tukang menggamit). 

Tapi ... sekarang, kami mengakui bahwa kami akan rindu dengan tingkahnya itu. Siang tadi, Jijah berpulang. 

Anak-anak kompleks terkejut mendengar berita dukanya. Tak ada yang menyangka, sebab ada yang masih sempat bersamanya beberapa hari lalu. Namun, ia memang telah terbaring sakit selama dua hari. Sama seperti kami, keluarga yang merawatnya pasti berpikir, kalau ia akan baik-baik saja. Sakitnya memang sudah begitu. Tiga atau empat hari lagi, pasti ia sembuh dari lumpuh. 

Pada akhirnya, Jijah pasrah dengan sakitnya. Maut diam-diam datang, mencuri kejenakaannya. 

Usai memandikan jenazahnya tadi sore, Kaka Oxa bertanya berkali-kali, "Hai asli ini? Jijah so nda ada? Bukang mimpi ini?" 

Padahal, Kaka Oxa tepat berada di telapak kakinya yang memucat, saat jenazahnya sedang dimandikan. 

Ah, Jijah, selamat jalan. Al-fatihah ...

Senin, 04 Oktober 2021

Selamat Merangkul Hidup Barumu

Tidak ada komentar

Di sebuah kantor yang mungil, sepotong harapan kubawa di dalam lipatan map dokumen. Di dalamnya tersusun 'bujuk rayu' agar perusahaan media Radar Bolmong menerimaku.

Harapan itu berbuah kerja. Keesokan harinya, aku sudah bisa meliput ke lapangan ditemani seorang perempuan. Dari kartu pers yang ia kenakan, tercantum nama Roslely Sondakh. Yang akrab menyapanya Eling.

Selayaknya tandem, Eling terus menunjuk ini dan itu. Sesekali tertawa. Menjelaskan begini dan begitu. Sesekali berdengus. Kantor Polres dan Pengadilan, jadi rumah singgah kami sepanjang pagi menjelang senja. Bahkan malam hingga pagi, kami harus mengawasi apa saja peristiwa yang terjadi.

Bagi wartawan pemula yang bekerja di surat kabar harian, liputan hukum dan kriminal adalah gerbang. Di situlah kami diajarkan untuk memverifikasi data.

"Bahkan warna celana dalam korban [pembunuhan] pun kau harus tahu!" kata Eling, dengan gaya khasnya bercekak pinggang.

Eling pernah tergelak-gelak, ketika melihat caraku menyusun berita berbasis data. Ia baru mengajariku setelah diteriaki redaktur senior.

Sepekan, kemudian, sebulan bergulir. Pertemanan kami mengalir. Hampir seisi kantor tentu saja menjalin pertemanan. Namun selalu ada dua, tiga atau empat orang yang berhimpun menjadi karib.

Rumah kontrakan Eling, jadi tempat kami menghamburkan berbagai perca ingatan. Kami seperti adik kakak yang, kadang bertengkar hanya karena terlambat membeli obat magnya.

Kemudian kami diutus ke kantor raksasa Manado Post, untuk dilatih menjadi wartawan liputan khusus. Semua anak media Manado Post Group bahkan dari Luwuk sampai Maluku diundang perwakilannya. Kendati kami yang paling bandel dan sering telat hadir mengikuti materi, hasil liputan kamilah yang terpilih dan dipajang di halaman satu koran Manado Post.

Sebenarnya, alasan kenapa kami sering telat, karena kami hanya menumpang tinggal di rumah salah satu mantan pimpinan Radar Bolmong. Jarak rumahnya cukup jauh. Peserta lainnya tinggal di penginapan yang berdekatan dengan kantor Manado Post.

Waktu, tanpa disadari menyeret kami begitu cepat. Satu per satu dari kami mulai ditugaskan di daerah terpisah. Setelah itu, pesanan advetorial dan target kontrak menyeleksi kami. Padahal, menurut Dahlan Iskan, kami wartawan liputan khusus dibebaskan dari target kontrak, advetorial, dan iklan-iklan. Satu demi satu melepas kemeja hitam kebanggaan bertuliskan Radar Bolmong.

Sebelum melepas diri, kami pernah sempat bergurau bahwa suatu saat akan berada di pucuk pimpinan, duduk di ruang kerja sendiri di kantor baru nan megah yang saat itu tengah dibangun, dan menua dengan menikmati hasil kerja kami di masa muda. Kawan-kawan seangkatan kami saat pelatihan, beberapa di antaranya sekarang sudah menjadi pemimpin redaksi di masing-masing perusahaan yang menaungi mereka kemarin.

Namun akhirnya aku sendiri sadar, harta adalah teman yang aneh. Ia hanya menyenangkanmu, ketika ia meninggalkanmu. Aku lebih memilih hendak menimbun pengetahuan.

Eling mendahuluiku pergi menginjakkan kaki ke Papua Barat. Di tanah di mana Injil kali pertama menjejak di Bumi Cenderawasih. Di Manokwari, media yang masih berpayung di grup yang sama--Jawa Post Group--rencananya akan merintis nasib di sana. Tetapi, hanya beberapa bulan mereka kembali ke Manado. Saat itu, aku sudah hijrah ke Gorontalo dan bergabung dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Gorontalo.

Kemudian, aku berpindah lokus liputan di Manado. Di sanalah kami dipertemukan lagi. Eling juga sudah di media yang baru dan menetap di Manado.

Di Manado inilah, hari-hari yang pernah kami lalui di masa-masa awal berkarir di media, kembali terulang. Kami bunuh diri karir. Merintis dengan nyawa yang baru lagi.

Saat ayahnya dirawat di rumah sakit di Manado, aku dan Nanang sering menemaninya. Koridor rumah sakit kadang menjadi tempat di mana kami rebah, bercanda, dan mengenang apa saja yang bisa membuat kami menertawai hidup. Pun sekadar untuk menghibur hatinya yang, kami tahu berharap besar agar ayahnya segera pulih. Pada akhirnya, Eling ikut pasrah ketika ayahnya menyerah pada sakitnya. Ayahnya berpulang.

Tak lama kemudian, kami terpisah lagi. Aku kembali ke Gorontalo. Lalu bertambah jauh lagi karena harus pindah ke Papua. Eling kembali ke Kotamobagu.

Dua tahun yang lalu, kali pertama aku kembali dari Papua saat liburan lebaran, Eling mengendarai mobil barunya saat menjemputku di rumah. Ia mengajakku jalan-jalan. Senyumku merekah. Setidaknya, apa yang telah ia bunuh dulu, telah berbuah hasil dengan nyawa baru itu.

Hari ini, perempuan yang gemar menendang, melantak, dan menyumpahi kami dengan suara kalengnya akan memupus masa lajangnya.

Sewaktu malam peminangannya beberapa pekan lalu, ia mungkin menyumpahiku lagi meski jauh nun dari rumahnya di Bolaang Mongondow Selatan. Aku tak bisa hadir karena urusan pekerjaan yang lumayan menguras energi.

Calon suaminya, Razak, ternyata dulu pernah juga bekerja di Radar Bolmong. Sempat bersua denganku belum lama ini. Sepertinya, lelaki ini mampu meredam segala apa yang bergemuruh dari dalam diri Eling.

Selamat menikah sahabat terbaik. Akur hingga uzur.

Rabu, 07 Juli 2021

Obituari Kaka Cece

Tidak ada komentar

"Apa bedanya sarung dan kotak?"

Pertanyaan itu terlontar di dalam mobil.

"Nyerah?" tanya Defaw kepada kami. Tebak-tebakan itu darinya.

"Kalau sarung itu bisa kotak-kotak, kalau kotak tidak bisa sarung-sarung."

Tawa kemudian menebal di dalam mobil. Malam itu, seingat saya, ada Ann, Kaka Cece, Sandi, Fawaz a.k. a Defaw (Dede Fawaz). Kami pergi mencari makan. Dalam perjalanan, akhirnya kami bertarung tebak-tebakan dan terus tertawa terbahak-bahak.

Lalu Kaka Cece tiba-tiba berujar, "Saya mampir di rumah dulu ya?" Sambil menunjuk sebuah rumah bergerbang raksasa. Jelas saja kami semua tertawa. Kaka Cece memang sering kali bergurau seperti itu. Beberapa kali ia menunjuk perumahan elite, kemudian seolah-olah ingin memutar kemudi mengarah ke pintu masuk.

Kaka Cece adalah satu-satunya saudara laki-lakinya Ann. Mereka empat bersaudara. Tiga lainnya perempuan. Jelas sekali, Kaka Cece pasti anak yang begitu dimanja sejak kecil. Gurauannya tentang rumah-rumah gedongan itu, sebenarnya ialah apa yang pernah dirasakannya. Kaka Cece beruntung terlahir dari keluarga yang mapan. Kakak tertua mereka di Makassar, Kaka Ida, punya rumah lebih dari satu dan sebesar rumah-rumah yang kerap kali dijadikannya gurauan.

Kaka Cece menetap di Tangerang. Namun ia sering kali berkunjung ke Cirebon. Karena sering ke Cirebon, saya dan Kaka Cece cukup akrab. Kami beberapa kali keluar pagi-pagi hanya untuk mencari nasi jamblang, makanan khas Cirebon. Nasi ini berwadah daun jati, kemudian lauknya bisa diambil sesukanya, ada udang goreng, telur, perkedel, hati ayam, dan masih banyak lagi. Saya sempat berujar heran, karena harganya hanya sepuluh ribu.

Pernah ketika Kaka Cece esoknya hendak kembali ke Tangerang, dan kebetulan saya juga tidak lama lagi akan kembali ke Papua, kami pergi mencari tempat makan yang terletak di puncak. Cirebon memang dekat dengan daerah puncak, lokasinya di jalan menanjak menuju Kuningan. Dokter Sukma, teman praktik Ann, datang bersama istri dan anaknya. Kami melahap hidangan di Restoran Salt dengan suguhan pemandangan malam hari Kota Cirebon yang indah, sembari bertukar cerita.

Lama tak bersua dengan Kaka Cece. Sejak wabah ini mengganas tahun lalu, saya memberanikan diri pulang dari Papua menuju kampung halaman karena ibu sakit. Itu pun dengan hati berdebar-debar karena tak ada pesawat langsung menuju Manado. Saya harus pulang lewat Makassar, sedangkan saat itu kota ini masuk zona merah Covid-19.

Kemudian ... kemarin, Rabu 7 Juli 2021, sebaris pesan dari Ann menyelinap di gerbang pagi, seusai Spanyol bertekuk lutut kepada Italia lewat adu penalti.

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah adik kami M. Jusri Hidajat Tahir. Mohon dimaafkan segala salah dan khilafnya. Mohon doanya Kris ...

Saya sempat memastikan bertanya lagi apakah ini Kaka Cece, meski sudah mengira karena Ann menyebut 'adik kami' bersama marga. Pertanyaan saya itu seperti sebuah sanggahan. Itu bukan Kaka Cece. Berulang kali dalam hati saya coba meyakinkan bahwa itu bukan Kaka Cece.

"Ya Allah, sakit apa?"

"Covid."

Ann kemudian menyumpahi virus itu. Kejam. Iya, virus ini memang kejam. Virus ini terasa berada di depan mata karena mulai merenggut orang-orang di lingkaran terdekat. Kaka Cece sempat dirawat di ICU dua malam. Sempat membaik karena saturasi naik 90. Namun pukul 3 pagi kembali drop.

Jakarta dan sekitarnya sekarang zona hitam. PPKM Darurat sudah diberlakukan. Sayangnya, Kaka Cece belum sempat ikut vaksinasi dan memiliki komorbid atau penyakit penyerta. Bahkan ketika jatuh sakit, cukup sulit mencari rumah sakit. Hampir semua penuh. Ada yang menolak karena tabung oksigen semuanya terpakai di ICU. Sebagian pasien ada yang dirawat di tenda-tenda darurat. Selain itu, perjalanan ambulans juga memakan waktu lebih lama, karena sebagian jalan diblokade.

Kaka Cece bisa dirawat di salah satu rumah sakit pun akhirnya karena privilese. Kaka Ida menghubungi kenalan di Jakarta yang segera menghubungi direktur rumah sakit tersebut. Meski ada rasa penyesalan, karena terlambat bertindak seperti itu.

Saat menghubungi Ann lewat video call, saya terus menangis tak percaya. Ann juga terisak-isak. Air matanya seperti sudah mengering. Yang teramat biadab ketika virus ini menjemput keluarga terdekat, kita tidak tahu lagi bagaimana caranya berduka. Tidak ada pelukan terakhir. Bahkan untuk sekadar mengunjungi makam saja tak bisa dilakukan saat ini. Jakarta telah menjadi tuan rumah dari virus varian Delta. Varian terkuat.

Ketika varian Delta ini mulai menjalar di India, Ancol dibuka saat liburan lebaran. Muncul meme yang membandingkan tumpukan orang di Ancol dengan orang-orang di Sungai Gangga. Selain itu, sejumlah WNA asal India sempat masuk lewat Bandara Soetta, April 2021 lalu. Peringatan pakar-pakar epidemiologi diabaikan.

Di tengah lonjakan kasus, pemerintah mengirimkan 1.400 tabung oksigen ke India. Sekarang, banyak rumah sakit yang mengalami kelangkaan tabung oksigen. Pemerintah terkesan baru mulai awas dan menerima impor tabung oksigen dari sejumlah negara, setelah gempar kabar meninggalnya puluhan pasien di RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, diduga karena krisis tabung oksigen. Publik mengutuk kejadian itu, meski bantahan dari pihak rumah sakit menyusul belakangan.

Namun, kabar Ann bahwa sejumlah rumah sakit beralasan kekurangan tabung oksigen, menandakan bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Ada banyak nyawa di luar sana yang bergantung pada tabung oksigen. Tabung yang menyimpan apa yang sedang kita hirup gratis saat ini.

Selamat jalan Kaka Cece. Al-Fatihah ...