Selasa, 22 Juli 2014

Sapu Lidi dan Sebuah Pelukan

Tidak ada komentar
Sampang. Januari 1996 ...

Masih terlalu pagi, ketika ibu membangunkanku untuk bersegera ke sekolah. Usiaku kini sepuluh tahun. Kelas 3 Sekolah Dasar.

"Ini sapu lidi yang dipesan ibu gurumu," kata Ibu sambil meletakkan sapu lidi itu di sampingku. Ibuku merautnya sendiri.

Kebetulan hari ini hari Jumat. Ada mata pelajaran Olahraga, Agama, dan PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Sapu lidi itu pesanan ibu guru Suhasni, ia guru mata pelajaran PMP.

Namaku Shadra Ghadir Khum, biasa dipanggil Saga. Entah kenapa ayah dan ibu menamaiku demikian. Aku berusaha mencari tahu. Tapi tak kunjung kutemukan di buku-buku perpustakaan sekolah apalagi di setiap mata pelajaran yang guru-guru ajarkan. Sebenarnya mudah, aku tinggal bertanya kepada ayah ataupun ibu, atau kepada guru-guru. Tapi terlalu mudah, tidak mendidikku untuk belajar mencari tahu. Pikirku begitu. Nantilah, pasti ada buku yang kutemukan dan bisa menjawabnya.

"Aku pamit dulu Bu," kuciumi punggung tangannya.

Ah, lagi-lagi olahraga. Senam. Lalu dilanjutkan dengan praktek lari maraton. Setelah fisik terasa lelah, tapi bugar seketika hadir saat selesai mandi. Hari Jumat, hari ini biasanya aku mandi hingga empat kali. Pagi tadi, selesai olahraga, pergi ke masjid untuk sholat Jumat, dan mandi lagi sore nanti.

Setelah pelajaran olahraga, kali ini ada mata pelajaran Agama. Setelah itu baru masuk pada jam mata pelajaran PMP.

Ibu Suhasni dengan wajah cerah masuk ke ruang kelas, "Ayo anak-anak, kumpulkan sapu lidi yang kemarin ibu pesan kepada kalian."

Setelah semua murid mengumpulkan sapu lidi. Ibu Suhasni mengambil satu sapu lidi yang berada di sudut ruangan kelas. Bukan di antara puluhan sapu lidi yang kami kumpulkan tadi. Sapu lidi itu warnanya kecoklatan. Warisan dari kakak-kakak kelas.

"Kali ini kita akan membahas soal Bhineka Tunggal Ika," kata Ibu Suhasni sambil mengambil sebatang lidi dari himpunan sapu lidi.

Ia mematahkannya. "Lihat anak-anak. Dengan mudahnya sebatang lidi ini bisa dipatahkan. Akan tetapi, jika kita mencoba mematahkan ratusan batang lidi yang disatukan, akan sulit nantinya."

Ia mengambil sapu lidi itu dan coba mematahkannya, "Coba kalian perhatikan."

Semakin kuat ia mencoba mematahkan sapu lidi itu. Himpunan batangan lidi itu makin merangkul satu dengan lainnya dengan erat.

Kejadian itu, kembali terbayang di benakku. Di tahun 2014. Ketika arti dari namaku sendiri yakni Shadra Ghadir Khum telah kuketahui. Di tahun sekarang ini rakyat Indonesia merayakan pesta demokrasi. Tanggal 9 Juli kemarin.

Ingatan ketika sebatang lidi yang ringkih dan kecoklatan itu, yang tampak telah biliun debu dibelainya dan yang diterbangkannya ke udara, coba kuhubungkan dengan Pemilu (Pemilihan Umum) sekarang ini. Siapa yang memiliki jumlah batangan lidi terbanyak, maka akan menjadi satu kekuatan yang tak akan terpatahkan.

Dari dua calon pemimpin. Aku memilih Jokowi. Bukan Prabowo si mantan jendral itu. Ayahku pun suka dengan sosok Jokowi. Kata ayah, mudah-mudahan Jokowi bisa memperhatikan pemeluk agama minoritas di Indonesia, khususnya di wilayah tempat kelahiran kami.

Di tahun 2014 teknologi makin pesat perkembangannya. Aku mulai mengenal internet selain buku-buku bacaan yang sudah lebih mudah didapatkan pula. Arti namaku pun kutemukan dari internet. Shadra, adalah nama filsuf atau pemikir islam asal Syiraz, sebuah kota yang paling terkenal di Iran. Filsuf pada abad 16 Masehi. Sedangkan Ghadir Khum, adalah lokasi yang terletak di antara Kota Makkah dan Kota Madinah, Saudi Arabia. Menurut penganut Syiah, di tempat inilah Ali bin Abu Thalib dinobatkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Wali dan Khalifah Ar-Rasyidin umat Islam. Aku makin mengenal dengan baik namaku sendiri, sama seperti aku mengenal baik Prabowo.

Aku dan keluargaku tidak tinggal lagi di Sampang, Madura. Sekarang kami menetap di Banjarmasin. Alasan kami pindah bukan karena direlokasi oleh pemerintah sejak konflik Sampang kemarin. Ayah memang dipindah-tugaskan ke sini sejak tahun 2000. Ayahku seorang PNS. Ketika ditanya kenapa tidak suka dengan Prabowo. Jawaban yang kudapati hanya sebait kalimat singkat, "Ini persoalan akidah, Nak."

Aku kembali teringat dengan kisah sapu lidi tadi. Waktu ke TPS kemarin untuk mencoblos. Alat yang digunakan untuk mencoblos adalah sebuah paku. Kali ini imajinasiku bukan lagi tentang sebatang lidi. Sebatang lidi tadi mungkin adalah pengandaian ketika aku masih bocah. Aku telah tumbuh menjadi sebuah logam besi. Aku kali ini sebuah paku yang berhimpun dengan jutaan paku lainnya dan menjelma menjadi palu besar. Palu yang siap menghantam bangunan kokoh yang bernama kekuasaan.

Dalam permenungan, aku melihat Prabowo serupa palu yang selalu melihat masalah adalah sebuah paku. Siap memukul dan menancapkan kami ke setiap tempat yang ia suka. Sementara Jokowi, adalah ia yang membangkitkan semangat perlawanan kami. Jokowi berhasil menghimpun kami menjadi satu kekuatan. Menjadi sebuah godam.

Lidi, paku, dan sebuah palu. Ketiganya adalah alat. Bukan berarti kita rakyat yang bisa diperalat. Keputusan ada pada kita. Kita tinggal memilih. Kita tidak ingin amnesia terus, lantas mencambuki tubuh kita dengan seikat lidi, menghujamkan paku ke kepala, dan menenggelamkannya ke dalam akal sehat kita dengan satu pukulan palu.

"Kamu telah sembuh, Nak!" teriak Jokowi dari podium kemenangan.

Aku melangkah ke halaman belakang. Mendapati ayah yang sedang mengurusi ayam jagonya. Ia menatapku. Kali ini ada bulir-bulir air matanya memberat jatuh. Mengundang satu-dua bulir air mata dari kelopak mataku.

"Ayah rindu kampung halaman, Nak!"

Aku lantas merangkulnya. Memeluk layaknya seorang kawan lama yang baru saja berjumpa.

"Ayah, kenapa kita bisa saling membenci?"

"Kita bisa saling membenci, tapi entah kenapa kita harus saling membunuh. Ayah tak pernah mengerti."

"Saga. Pergilah ke rumah Fatan, kalian lama tak saling tegur hanya karena beda pilihan calon pemimpin. Terlebih, Fatan satu sekolah denganmu di Sampang pula. Pelukanmu ini pantas untuk dia."

Kini, aku lebih termaknai akan arti dari Bhineka Tunggal Ika.

Kamis, 22 Mei 2014

Saung Layung Arus Balik

Tidak ada komentar
Aku pernah bermimpi, tinggal di sebuah desa terpencil dan menjadi seorang pengajar di tingkat sekolah dasar. Terlebih setelah beberapa kali membaca novel dan menonton film mengenai abdi seorang guru yang rela meringkuk di antara belantara hutan dan jauh dari ramai riuh perkotaan.
Begitu nikmatnya ketika kita membuka mata di kala pagi, dan disambut dengan kemuning cahaya mentari di punggung pegunungan dan hijau hamparan persawahan. Menghidu aroma sejuk yang menebal di udara, dan telinga yang dihibur kicau burung-burung mencicit di desir angin pagi. Maka nikmat Tuhan manalagi yang kamu dustakan di keadaan seperti itu?

Yah, sampai di suatu hari, seorang sahabat yang mempunyai cita-cita yang kurang lebih sama mengabariku lewat SMS. "Sigidad, kami berencana mendirikan rumah belajar di sana, lokasinya di desa Moyag, dan satunya lagi di desa Bakan. Nanti kita ketemuan untuk membicarakannya."
Mimpi itu terwujud sudah. Setelah perjumpaan yang singkat di rumahnya, rencana kami itu akan coba dirampungkan setelah segala urusan perkuliahannya selesai. Beberapa orang teman kuliahnya yang berasal dari Makassar melakukan riset di lingkar tambang di desa Bakan, dan akhirnya tugas mereka pun selesai dan waktunya untuk mereka kembali ke Makassar.

Setelah sebelumnya diajak keliling-keliling kota Manado hingga menyempatkan diri menyelam di keindahan taman laut dan terumbu karang pulau Bunaken, akhirnya bandara Samratulangi menunggu mereka untuk membawa mereka kembali pulang. Misi selesai sudah.

Setelah itu, di rumah saudaranya yang menjadi tempat kami menginap sementara, tepatnya di tepi kolam ikan yang letaknya di halaman belakang rumah, ide segar itupun tiba-tiba benderang di atas kepala kami. Satu kata telah ditemukan, Saung. Dan setelah itu kata kedua, Layung. Dan sisanya kami mencuri judul bukunya Pramoedya Ananta Toer, Arus Balik.

Jadilah sebuah nama untuk rumah belajar kami "Saung Layung Arus Balik". Dan tanpa disengaja, "Saung" itu mengidentikkan dengan tempat rumah belajar itu sendiri, yakni desa Bakan yang memang sebuah wilayah yang dikelilingi area persawahan dan terdapat beberapa saung di setiap hamparan persawahan. Dan kata "Layung" yang jika di desa Moyag, di kala sore hari, maka warna kuning kemerah-merahan di ufuk barat Kotamobagu akan terlihat begitu indah dari sana.

Apa sebenarnya yang menggerakkan hati kami untuk mencoba mendirikan rumah belajar yang orientasinya memang bukan hanya untuk anak-anak putus sekolah, pun dengan metode belajar yang berbeda dari sekolah formal?

Kami hanya ingin agar dada anak-anak ini tak berdebar takut kala malam hari, tersebab pekerjaan rumah mereka yang belum selesai, atau dengan mata pelajaran yang membuat mereka pusing keesokan harinya. Tapi kami ingin supaya dada mereka bergemuruh tak sabar menanti esok hari, karena pelajaran-pelajaran itu mereka sukai dan dinanti-nantikan. Keajaiban masa kanak-kanak tak boleh direbut oleh pekerjaan rumah yang menumpuk dan mata pelajaran yang memusingkan.

Nak, ambil penamu dan menulislah sesuka hatimu. Corat-coretlah lembaran putih itu, gambarlah apa saja yang terlintas di imajinasi kalian, lalu namai sesuka hati kalian. Dan tanyailah kami apa saja, sebab kami akan coba menjawab dengan bahasa yang kalian tahu.
***
Kemarin kami menyempatkan diri mengunjungi desa Bakan dan bertemu dengan kepala desa di kediamannya. Respon yang mulia itu tertutur haru dengan diijinkannya kami menempati salah satu ruangan di bangunan sekolah dasar. Karena waktu mengajar kami sore hari, maka tak menggangu aktivitas belajar mereka.

Terima kasih pak kepala desa...

Sedangkan untuk lokasi di desa Moyag. Kebetulan akses di sana pun cukup merangkul kami.
Ah, tak sabar menunggu saat mulai mengajar itu tiba. Apapun yang menyoal kemanusiaan, terlebih itu mengenai pendidikan, seperti kata Pram, "Pendidikan untuk mengagungkan kemanusiaan."
Setelah ini, mungkin aku berniat ingin membukukan pengalaman-pengalaman mengajar kami nantinya. Dan untuk teman-teman yang tergerak hatinya ingin turut berpartisipasi dengan kami. Ringankan langkah kalian demi mencerdaskan generasi Nusantara.

Saung Layung Arus Balik. Tuhan tahu apa yang ada di benak kami. Dengan niat yang tulus, maka setelah itu yang ada hanyalah kata, "Mari berbuat!"













Sabtu, 03 Mei 2014

Dumoga, Negeri Para Shinobi

Tidak ada komentar
Yang akrab dengan manga (komik Jepang) apalagi yang berlatar Ninja, pasti familiar dengan sebutan Shinobi. Shinobi atau Ninja, yang ingin saya hubungkan dengan suatu wilayah rentan rusuh, Dumoga.

Saya mendengar seorang kawan pernah melontarkan kalimat itu, "Dumoga, negeri para Shinobi," Sebulan yang lalu, jauh sebelum Doloduo dan Ikhwan saling terkam dalam rusuh tarkam pekan lalu. Pun disusul bentrok antara desa Imandi dan Tambun, dan kini dilanjutkan pula seteru yang melibatkan tiga desa. Ibolian, Tonom, dan Mogoyunggung.

Memang warga Dumoga identik dengan perangai yang keras sebab terbiasa hidup keras. Hampir sebagian penduduk Dumoga yang bermata pencaharian sebagai penambang tradisional, liar, dan seringkali tak segan mengorbankan nyawa untuk berebutan lokasi tambang, hingga terbisiklah istilah "Baninja" dari kuping ke kuping, mereka yang rela mati demi suap nasi untuk bini dan anak mereka. Terlepas dari persoalan sengketa wilayah tambang, kini betrok mulai disebabkan oleh hal-hal sepeleh, yakni pemuda-pemuda yang mabuk.

Bicara soal ninja, tak banyak memang dari para ninja-ninja Dumoga ini memiliki ninjutsu, keahlian seni beladiri di atas rata-rata, bahkan santer terdengar ilmu beladiri mereka yang tak bisa dilogiskan pun sempat menjadi ketakutan di antara para ninja-ninja lainnya. Selain kelihaian mereka memainkan samurai tentunya.

Saya ingin mendedah sedikit soal rusuh tarkam antara Doloduo dan Ikhwan. Soal penembakan aparat kepada enam orang warga yang di antaranya ada dua orang ibu rumah tangga. Sungguh tragis. Peluru yang menembus payudara ibu. Payudara yang menyusui putra-putri Dumoga. Meski dengan alasan prosedural, kenapa moncong senapan tak kalian arahkan ke kaki duluan? Melumpuhkan.

Ibu-ibu yang melahirkan putra dan putri Dumoga tak pernah ingin keturunan mereka meliar seperti sekawanan serigala. Tapi alam dan keadaan yang mendidik mereka. Air susu dari puting payudara dua ibu yang terluka oleh terjangan peluru dari aparat, tak pernah berharap otak anak-anak mereka terganggu oleh sebab gizi yang mereka asup dan membaur di air susu membikin otak anak-anak mereka bebal. Dan tentu saja, dua ibu itu tak pernah menyadari, akan diterjang oleh peluru-peluru nyasar. Sebab apapun yang nyasar, pasti selalu tentang ketidaktelitian.

Saat gejolak konflik ini merembet ke desa-desa lainnya yang juga sudah cukup mainstream kita dengar seperti bentrok antar Imandi dan Tambun, juga Ibolian dan Tonom berlanjut. Sikap pihak keamanan yang dengan sigap berjibaku menentramkan konflik, mulai awas dengan kejadian penembakan sebelumnya. Semua memang tak ingin "perang", dan kala api temu bensin, yang harus menyiapkan setimba air itu siapa?

Dalam kasus ini, saya bukan menyalahkan aparat kepolisian yang mengamankan rusuh tarkam. Siapa pun tak setuju dengan perbuatan tak memanusiakan manusia lainnya. Tapi mampukah para pihak keamanan ini bersikap netral? jika kita telaah lebih cerlang, bahwa bentrok yang terjadi selalu antara dua penganut agama yang berbeda.

Tentunya kita tak ingin di negeri Totabuan ini, sampai pecah konflik yang dilatarbelakangi oleh konflik antar agama. Solusi yang terbaik, kenapa tak menggiatkan kegiatan-kegiatan yang mempersatukan tali persaudaraan? semisal membiasakan setiap hari-hari besar masing-masing agama, agar saling turut membantu keamanan di hari-hari perayaan itu. Mari kita ciptakan kembali budaya gotong-royong. Anak-anak sedari usia dini dididik agar saling menghargai desa tetangga, dan tentunya penganut agama yang berbeda.

Sekejam-kejamnya para Shinobi, di saat sebelum membunuh, coba ditatap kembali dengan seksama lagi binar mata korban. Rasakan kehidupan di sana dan maknai bahwa kita adalah sesama manusia yang, untuk apa saling tengkar. Apalagi sebab yang selalu didasari hal sepeleh: karena alasan mabuk, teriak, dan raungan bising knalpot racing.

Saya sungguh prihatin dengan konflik yang terjadi di Dumoga. Dan jika benar kalian para Shinobi sejati, kenapa tak kalian gunakan keahlian kalian dengan sebuah prestasi? Atau kenapa tak banyak merekrut calon polisi ataupun TNI dari warga Dumoga?
Ah, ini bumi jika terbelah dua dan yang di antaranya hanya langit. Manusia akan tetap menyeberanginya untuk berperang. Kalian di Dumoga bukan bodoh, tapi tak mau belajar untuk membuka diri dengan perbedaan.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Minggu, 27 April 2014

Sigi, Selamat Ultah yang ke-3 Tahun

Tidak ada komentar

Dulu ia pernah menjadi aib, tapi sekarang ia adalah segala iba. Aku menamainya Sigi, akronim dari nama panjangnya, Sistha Ghasyafani.

Tiga tahun sudah Sigi meliar di lorong-lorong dekat rumahnya. Digendong, dibiarkan berlari, terjatuh dan tersungkur di kerikil-kerikil yang tega. Sigi selalu bangkit meski dengan jerit tangis, tapi satu bujukan permen selalu membikinnya kembali tersenyum.

Setahun aku tinggalkan, membuatnya semakin berjarak denganku. Hanya disaat Sigi pulas, aku bisa memeluknya, menciuminya dengan leluasa. Sigi sangat "mahal" sekarang, mungkin itu sebuah harga yang pantas kubayar, sebab aku tak pernah ada disaat ia ingin mengenali wajah seorang ayah.

Sigi memiliki dua wajah. Mirip wajah ibunya saat keduanya sedang foto bersama. Dan mirip wajahku disaat ia berfoto denganku. Anak ini lihai berpose. Itu bakat dari ibunya. Kukira iya.

Sigi tak mau tahu dengan sekelilingnya tadi. Ia hanya ingin menangis saat mimpinya direnggut, karena dibangunkan hanya untuk meniupi lilin di kue ulang tahun. Kalau soal tidur yang tak mau diganggu, mungkin ini bakat dari ayahnya. Iya.

Sigi, wajahmu begitu kusut tadi. Aku ingin mengungkai rautmu, menyulamkan kembali menjadi senyum indah. Aku ingin mengacak-ngacak keriting rambutmu dan ingin mendengar tawamu. Meski hanya sekali, tawamu selalu terngiang abadi.

Tadi, saat menciuminya. Napasnya memburu seakan ingin mengejar kembali mimpinya. Ah, Sigi, tidur lagi saja. Yang Maha Tak Tidur masih mau memberi kita usia untuk bersua lagi.

Terima kasih untuk satu kecupan engganmu tadi. Itu sudah lebih dari cukup. Tidurlah lagi. Dan selamat ulang tahun yang ke-3. Jangan pernah dewasa...

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 12 Maret 2014

Hibah Nyawa dari Timur Bolmong Raya

Tidak ada komentar
M Fahri Damopolii
"Optimism," said Cacambo, "What is that?" "Alas!" replied Candide, "It is the obstinacy of maintaining that everything is best when it is worst."

Penggalan dialog itu dikutip dari novel "Candide", karya termasyhur Voltaire, yang ditulis pada tahun 1751 di tengah zaman yang penuh optimisme. Yang menarik dari novel ini adalah cara Voltaire menyajikan itu. Bahwa ruang optimisme yang pada akhirnya muncul ke permukaan, diraih dengan sederet rasa pesimis. Bahwa pelita adalah omong kosong ketika tak pernah ada ruang gelap. Dan orang-orang mungkin benar; dalam setiap optimisme, ada se-titik keraguan.

Kita mungkin tak pernah tahu dalam batas apa ketika optimisme harus mekar, dan di titik mana ketika keraguan datang meredup. Tapi broadcast BBM yang saya terima Sabtu siang pekan lalu, dari Buyung Algiffari Potabuga, seorang sahabat di ujung Timur Bolmong Raya, cukup menggugah rasa, pun menohok harapan sekaligus ilusi; "Jika Bukan Provinsi BMR Maka Kami Negara BMR". Di dalamnya ada pengumuman terbuka—untuk tak menyebut radikal—dari para pemuda yang menuntut pembentukan Provinsi Bolmong Raya, hingga batas menghibahkan nyawa. Singkatnya; jika Provinsi Bolmong Raya tidak direstui Pemerintah Pusat, elemen pemuda ini akan memperjuangkan BMR menjadi Negara sendiri, meski nyawa adalah taruhan.

Gaung provinsi Bolmong Raya memang sedang menggema, merasuk, mencumbu tiap insan Mongondow—tak terkecuali kaum muda, yang telah butuh waktu cukup panjang menggantung asa di atas langit ketidakpastian. Saya, yang hampir 13 tahun lalu, pernah menuliskan pemekaran wilayah Bolmong Raya, pun ketika itu tak bisa mangkir dari rasa itu; bercengkrama dengan ketidakpastian, sekaligus ilusi. Sebuah ketidakpastian memang mengandung optimisme dan keraguan, termasuk ilusi.
Tapi perjuangan panjang untuk membentuk Provinsi Bolmong Raya; dari wacana, konsepsi serta aksi, terutama dari Panitia Pemekaran Provinsi Bolmong Raya yang mendapat dukungan penuh dari seluruh komponen masyarakat, telah cukup membungkam ilusi. Yang tersisa kemudian adalah rasa optimis, meski keraguan masih saja tak bisa ditelungkup. Dan kita tahu setiap perjuangan adalah perhelatan, dan tiap perhelatan menghadirkan panggung bagi siapa saja untuk menggelar eksistensi.

Aksi hibah nyawa yang digagas teman-teman dari wilayah Bolaang Mongondow Timur, bagi saya juga adalah sebuah panggung dengan segala rupa eksistensi yang hendak dipertontonkan. Rasa optimis dan pesimis sering membuka ruang bagi orang-orang untuk melahirkan laku, bahkan nekat. Dan keduanya sering saling mendesak diantara panggung-panggung yang tersedia. Tak kala sebagian besar orang optimis atas kunjungan tim DPOD ke Kota Kotamobagu untuk memantau kesiapan calon ibu kota provinsi, lengkap dengan gegap gempitanya panggung yang tersaji, di timur Bolmong Raya pesimisme hadir dengan panggung yang cukup menghentak, menuntut, mengancam—juga menggugah, yang dicetus kaum muda. Dari ujung timur itu mereka berteriak tentang ketidakpastian. Di sana mereka menggagas sebuah cita-cita. Di sana mereka menghibah nyawa sambil menggelegar; Merdeka atau Mati!

Hibah nyawa tentu bukan perkara sembarang. Kita tahu nyawa tak pernah dipajang di etalase pertokoan atau dijual ecer di lapak pedagang. Sebagaimana kita tahu juga anak-anak muda memang penuh dengan letupan jiwa, bahkan misteri ketika mereka hendak menghentak sebuah panggung. Mungkin untuk itu Chairil Anwar lantang berteriak; "Sekali berarti sudah itu mati". Bisa jadi karena itu pula Voltaire mengatakan; "anak-anak muda itu belum diajar oleh usia menua, dan belum mau berbagi keinsafan tentang kelemahan manusia". Tapi bukankah setiap panggung yang tersaji harus tetap dihargai? Termasuk panggung yang digelar seorang Buyung Algiffari Potabuga; "Di jalan ini tiada tempat berhenti, sikap lamban berarti mati. Siapa bergerak dialah yang di depan, yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas. Kami tak perlu mengemis mata orang lain untuk melihat, kami melihat dunia dengan mata kami sendiri. Itulah semboyan perjuangan kami".

Panggung ketidakpastian memang sering mengguncang, bahkan jika nyawa menjadi syarat utama suksesnya sebuah pentas. Yang belum—dan mungkin sering lalai—kita sadari adalah; apakah dengan taruhan nyawa dan "Abrakadabra" optimisme seketika menjulang tinggi? Ataukah kematian bisa jadi peretas jalan menghilangkan keraguan. Bukankah dunia ini hanya sementara? Termasuk manusia-manusia didalamnya dengan pemikiran maupun tindakan yang juga sementara. Dan kesementaraan ini pula yang sering kali menyebabkan sebuah panggung yang menghentak bisa tiba-tiba bisu, tanpa suara, tanpa gerak, tapi membekas jejak—bertahan atau ditinggalkan.

Tak kala wartawan Colombia, Eduardo Santos diusir dari negerinya di penghujung tahun 1955, Albert Camus menuliskan sebuah kalimat; "Di hari-hari ini kemerdekaan tak punya banyak sekutu". Namun ikhtiar harus terus dikedepankan; "You can't cross the sea merely by standing and staring at the water", kata Rabindranath Tagore. Dan mengutip penyair Edgar Allan Poe; "Hari ini aku memakai rantai ini, dan aku di sini. Besok aku akan lepas—tapi di mana?". Semoga masih di sini, di Indonesia.

Oleh : M. Fahri Damopolii

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Minggu, 22 Desember 2013

The Godfather

Tidak ada komentar

Jauh sebelum aku dan kakak-kakakku dilahirkan, entah masih berada di mana jiwa kami saat itu. Pertanyaan itu selalu hadir setiap memandangi kedua orang-tuaku. Mereka media agar kami bisa meneriaki dunia. Malam ini, pertanyaan itu kembali hadir, sesaat setelah ayah tiba-tiba saja rengsa dengan teriak yang hampir hilang. Di rumah ini, tinggal aku satu-satunya anak yang tersisa. Memapahnya ke kamar mandi, dan dengan telinga yang terus siaga kala tidur.

Tadi saat di kamar mandi, seekor cicak memangsa serangga di dinding samping bohlam. Nyawa begitu saja terlahap, oleh detik, menit, jam, bahkan tahun pun akan terasa sangat singkat. Hidup selama ini, kami yang masih muda dan gagah, pun tak ketinggalan kerap merasakan maut mengecup kening dengan hening. Tapi hingga kini, kami masih berdiri gagah.

Ayah pernah segagah kami di kemarin yang lampau. Sepulang kantor mengurusi kolam di belakang rumah, pulang dengan memikul seikat kayu bakar dan lima hingga enam sisir pisang, juga beberapa ekor ikan yang mulutnya telah terjahit seutas temali dari rautan pelepah pohon pisang. Ayah terlihat sangat gagah saat itu. Tak seperti yang sedang aku saksikan saat ini.

Puluhan tahun lalu, aku hanya bocah yang selalu merasa nyaman berada di antara kain sarungnya yang serupa ayunan, sembari menonton TV di rumah tetangga. Puluhan tahun lalu hingga sekarang, tak pernah ada tamparan mendarat di pipi, layaknya yang sering aku terima dari para guru-guru di sekolah. Hanya beberapa kali gertak cambuk ikat pinggang yang tak pernah terlecut.

Ada satu kebiasaan yang hingga sekarang, tidak bisa dihilangkan darinya. Merokok. Pernah sekali-duakali aku ingatkan, tapi jawaban darinya yang klasik dan berulang-kali terucap, "Kita meninggal bukan karena ini (rokok), tapi disebabkan oleh maut." Itu jawaban yang singkat dan meringkus segalanya. Dan karena jawaban itu pula, hingga sekarang, jika aku kehabisan rokok di tengah malam buta, tak perlu jauh-jauh ke warung, menembus gigil malam, sebab di bawah bantal tidurnya, selalu terselip sebungkus rokok di sana. Itu sebungkus rokok yang terlampau istimewa. Apapun mereknya.

Kini raga itu menggigir, rengsa dengan sekujur tubuh penuh peluh. Tapi candaan dari kedua pasutri termulia di muka bumi ini masih sempat-sempatnya terlontar. "Besok pake pampers jo ne," tanya ibu, dan singkat dijawab olehnya, "Jadi sama deng Sigi."

Cepat sembuh ayah. Bukan hanya di tahun ini harap dan doaku untuk kesehatan ayah, juga ibu. Selalu. Bahkan meski harus kutukar dengan kesehatanku.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Jumat, 20 Desember 2013

IBU

Tidak ada komentar

Hampir cerlang hari ini, yang seketika merengut tirai embun pagi. Tampak dua lengan itu sedang membasuh kantuk dengan percikan-percikan air di wajah rentanya. Di sudut kamar mandi berdindingkan lempeng tipis besi berkarat, ada ember penuh oleh air dengan setumpuk pakaian siap dibilas. Ada laron-laron mati di kulit air bergelembung sabun itu, yang diramaikan pula oleh puluhan sayap-sayap terputus dari jasad alit yang mengambang. Hembusan nafas lelahnya tampak melukis udara dingin. Tapi perempuan itu tetap jongkok membilas nasib.

Matahari belum menengadah. Dan sederet jemuran terkulai basah menggilas semut-semut yang berjejeran di atas temali. Banyak semut yang terkulum basah, sementara lainnya ringan jatuh dan mendarat enteng di permukaan tanah, bersamaan dengan peluh perempuan itu, dan tetesan air dari deretan pakaian. Kini, setelah selesai dengan seember air, ia masih melanjutkannya dengan menjerang sepanci air lagi, membikin segelas teh untuknya, dan segelas kopi untuk suaminya, kemudian setelah itu, dilanjutkannya menanak bubur untuk sarapan anaknya. Urusannya dengan air belum selesai, karena ia masih akan memandikan anaknya yang mau berangkat ke taman kanak-kanak.

Rasanya... Apa yang tentang dia, tentang ibu, selalu terlalu banyak, memoriku penuh untuk mengingat, dan selalu ― hanya Ibu. Kita punya bejibun kisah tentang dia, tapi coba ceritakan satu? Maka yang akan kamu tulis hanya ― IBU.

(Aku terlalu mabuk untuk melanjutkannya!)

Powered by Telkomsel BlackBerry®