Jumat, 11 Desember 2015

Berani?

Tidak ada komentar
Saya sekilas terbayang tampang Sehan Landjar yang familiar dengan panggilan Eyang. Jelas saat ini dia sedang gembira. Menang dan kembali menjadi Bupati Boltim dua periode, memang bukan perkara mudah. Meskipun tadinya saya sempat kecewa menyimak tindak kekerasan, yang marak terjadi sebulan sebelum Pilkada Serentak dimulai 9 Desember 2015. Saling lapor, fitnah, penganiayaan, hingga penikaman terjadi. Tuding menuding jadi santapan yang tersaji hangat di pemberitaan media. Bahkan fitnah dan segala macam tetek bengek kisruh, terpapar begitu saja kepada publik.

Kita tentu sangat kenal dengan kondisi ini. De javu. Masyarakat Bolmong Raya (BMR) dan wilayah yang menjadi helat Pemilukada, Boltim dan Bolsel masih ingat; kondisi ini tak jauh beda dengan Pilpres 2014. Bentuk pesta demokrasi yang dengan gamblangnya menampakkan kebrutalan politik. Bahkan media memposisikan diri untuk calon presiden jadi hal yang biasa, dan tidak bisa tidak, rakyat Indonesia dibola-ping-pong-kan dengan karut-marut pemberitaan.

Boltim sendiri adalah miniatur dari perhelatan politik kala Pilpres 2014. Dibandingkan Bolsel yang juga mengusung calon bupati petahana, Boltim bertensi di rata-rata dua matahari. Untuk Bolsel, pembaca cukup tahu pula, bahwa Herson Mayulu melenggang tanpa sedikit pun hadang. Tekstur politiknya halus. Sama seperti Pilgub Sulut, Olly Dondokambey yang jauh-jauh hari berada di atas angin dan dipastikan menang. Sedangkan di Boltim, rakyatnyalah yang membuktikan berhasil melawan sebuah kekuatan besar.

Dari segi ragam berita baik cetak dan elektronik di Bolmong. Pembaca akan lebih mudah pula mengkategorikan media mana saja yang terafiliasi dengan partai politik atau pasangan calon. Pelahap berita dengan mudahnya mencicipi, yang mana media partisan di kubu A, B, atau C. Sama seperti Tv One kepada Prabowo dan Metro Tv kepada Jokowi, saat Pilpres tahun lalu.

Pada HUT AJI ke 20 tahun lalu, Watchdoc membuat film dokumenter 'Media dan Pemilu'. Diulas secara jelas, bahwa media yang terafiliasi dengan partai politik bukan hanya di zaman sekarang. Pada suatu masa di era kemerdekaan, beberapa media tak bisa dipisahkan dari partai politik. Seperti Pedoman dengan PSI, Bintang Timur dan Harian Rakjat dimiliki PKI, Duta Masjarakat punya NU, Harian Abadi milik Masyumi, dan masih ada beberapa media lainnya. Tapi mereka tetaplah koran; ditulis, dicetak, dengan sumber daya sendiri. Masyarakat diberi pilihan untuk membeli atau tidak membeli.

Lalu datanglah era televisi. Seperti TVRI yang menjadi mesin propaganda Golkar, yang tidak mau tidak menjadi satu-satunya pilihan penonton. Lalu diawal 90an, muncul benih-benih stasiun teve swasta yang disebar kroni keluarga Cendana. Semua memakai ranah publik berupa frekuensi. Lalu saham-sahamnya diperjual-belikan, sehingga seseorang bisa memiliki lebih dari satu stasiun teve.

Rakyat seharusnya berhak menuntut untuk disuguhi pelbagai siaran edukatif. Bukan sampah-sampah seperti sinetron, ritual memburu hantu, iklan-iklan politik, atau pernikahan selebriti dengan tayangan hampir di setiap stasiun teve. Meski tak bisa dipungkiri, teve swasta pun cukup punya andil di era reformasi.

Menyoal media yang terafiliasi dengan partai politik, di era kemerdekaan — Orde Lama — media-media tersebut memiliki sumber daya sendiri. Sedangkan untuk stasiun teve di era sekarang — atau pada rezim Orde Baru — mereka memakai sumber daya publik berupa gelombang radio atau frekuensi. Seperti disampaikan Roy Thaniago (Remotivi), bahwa sekarang adalah zaman dimana media menjadi tempat promosi seseorang atau ideologi partai, ketimbang berita yang benar secara kaidah jurnalistik.

Di BMR sendiri, jelang Pemilukada, dari kubu Eyang dan lawan politiknya Sahrul Mamonto, akrab disapa Alul, disuguhi rentetan pemberitaan yang cenderung memihak. Tentunya pemberitaan dalam bentuk berita dan opini berbeda. Dalam berita, kaidah jurnalistik yang harus cover both side dan fairness dipertaruhkan. Sedangkan opini dengan bebas-bebasnya penulis menyampaikan pandangan politiknya. Dan pada media-media di BMR, hampir seringkali ditemui, pemberitaan yang tidak bisa dibedakan lagi mana opini dan berita. Media yang dirangkul para politisi, menjadi hal yang biasa. Bahkan secara gamblang, awak media telah menjadi dua kutub magnet ketika mengawal politisi yang diusungnya.

Kita lupa, bahwa sejarah pers di Indonesia tak melulu tentang bisnis dan afiliasi politiknya. Ignatius Hariyanto, salah satu dosen Sejarah Pers, masih dalam film dokumenter itu mengatakan, banyak tokoh-tokoh pers pada zaman dulu, seperti Tirto Adhi Soerjo di koran Medan Prijaji, yang oleh sebab mengkritik bupati-bupati korup dan pemerintah Belanda, ia bolak-balik masuk penjara. Juga tokoh pers pendiri koran Doenia Bergerak, Marco Kartodikromo, yang dibuang pemeritah kolonial dan meninggal di Boven-Digoel, Papua. Yang mereka perjuangkan jelas, terarah, dan berdarah-darah. Sebagaimana jurnalistik seharusnya berada pada relnya.

Masih banyak lagi kisah juang para tokoh pers di Indonesia, yang bisa menjadi panutan para jurnalis — jika memang mengaku jurnalis atau mungkin hanya sebatas sebagai penulis berita — untuk dijadikan bahan renungan. Konteks yang segaris dengan Pilkada Boltim, bahwa media di BMR atau Sulut yang terafiliasi secara politik, seharusnya tunduk dan malu dengan pemberitaan akhir-akhir ini, pada jelang Pilkada. Saling serang kerap menjadi tontonan masyarakat akhir-akhir ini. Lalu yang mana lagi media yang layak dibaca, ditonton, atau didengar nanti oleh masyarakat?

Pada akhirnya, seperti apa yang diingatkan Marco Kartodikromo; berani membela yang benar. Jelas yang dimaksudkan pula oleh Marco; bukan semata membela yang bayar. Dan satu-satunya yang dibela adalah rakyat Boltim itu sendiri. Mereka yang telah berani melawan politik uang, yang telah menulang dan bernadi pada segelintir orang. Mereka rakyat yang nasibnya nanti, bisa ditentukan oleh garis pena para jurnalis. Namun, jika politik uang telah berhasil dilawan, apakah antara Wartawan dan Bupati, bisa dihilangkan pula sikap partisannya?

Jika Eyang berkuasa lagi. Berani?

Selasa, 08 Desember 2015

Qiya

Tidak ada komentar
Seperti bulan, kelahiran seorang bayi adalah cahaya di kegelapan malam. Dan seperti pula bulan, bayi adalah penyempurna dalam sebuah landscape langit. Meski bagi sebagian orang, langit pun tetap indah bergemintang tanpa kehadiran bulan di sana. Yang terpenting, seberapa luas kita mampu memaknai semesta.

Lalu tersebutlah, Qiya. Namanya singkat dan sebaris gigi putih akan terukir kala menyebutkan nama itu. Nama ayahnya, Dito Buntuan. Seorang lelaki yang lahir dan tumbuh dari kepastian. Ia pun akhirnya bisa memastikan yang mana yang pantas hidup dengannya. Hingga ia menikahi Sindy Binol.

Qiya adalah putri pertama mereka. Atau lebih tepat, adalah ujian pertama bahwa hidup harus; dilahirkan, diasuh, dibesarkan, dan diarahkan. Lalu Qiya bisa memilih kelak. Tentunya tak harus menjadi seperti ayah dan ibunya. Qiya bisa terbang tinggi bersama layang-layang. Dan segulung benang jadi satu-satunya penghubung yang menjadi teguran.

Qiya, saat lahirmu, Kamis 26 November, tentunya ruang dan waktu hanya berisi kecemasan. Bahwa satu-satunya yang menghuni semesta hanyalah kau. Ayahmu menjengkal lekuk jalanan Bolmut-Kotamobagu setiap Minggu. Sama seperti ibumu yang kerap mengelusmu dari balik daster. Keduanya cemas. Dan kecemasan itu pun akan kau rasakan kelak. Saat mereka berdua menua dan kau telah menemukan kecemasan-kecemasan barumu. Semuanya berbaur. Menjadikanmu matang akan persoalan hidup.

Dari dalam rahim, mungkin kau pernah menendang perut ibumu. Kenapa? Tak sabar ingin menghirup udara di luar sana. Lalu ibumu penasaran ingin melihat kelaminmu. Ditemani ayahmu, dokter mengatakan kau perempuan. Mereka bahagia. Teknologi memang hadir sebagai penolong, meski sebenarnya rasa penasaran begitu tak ternilainya.

Sekarang Qiya bisa menangis,. Tersenyum pun hanya sekali-kali dan paling ditunggu. Mungkin kamera ponsel ibumu telah siaga di depanmu. Siap merekam atau memotret setiap momen. Waktu seperti berbalik dibuatmu. Siang jadi malam, malam jadi siang. Atau malah selamanya hari tetaplah siang dan penuh aktifitas. Sebab setiap dua jam atau lebih, kau harus menyesap ASI. Meski lelah, wajahmu selalu bisa menghibur, kata ibumu.

Ayahmu juga tak akan letih memacu mobil dari Bolmut. Tempat dimana segala kebiasaan ditanggalkan agar susumu terbeli, popokmu terganti, dan boneka-bonekamu memanjang di almari dan kasur. Jangan pikir ayahmu akan lelah dibuatnya. Itu tak seberapa dengan perjalanannya di Makassar atau selama di pulau Jawa. Pun tak sejauh Kuta ke Kintamani. Dan hanya demi putrinya, semua jarak bisa ia lipat. Hingga senyummu mengunci celah lelah.

Ayahmu suka sekali membaca buku. Tapi akhir-akhir ini ia terlalu sibuk denganmu. Mungkin saja buku-bukunya berserakan di mobil, rumah, lantai, kamar, dan kantor. Ia hanya ingin membacaimu kini. Putri yang akan selalu ia banggakan.

Selamat datang di dunia yang tak sesempit rahim ibumu. Dunia ini bakal penuh dengan tawa, namun sedih kerap bersanding pula nanti. Segalanya tersedia seperti sederet gelas, sendok, piring, dan belanga di dapur. Tinggal kau pilih, Qiya. Tinggal kau pilih, kau hendak memasak apa. Untuk ayah dan ibumu cicipi. Bisa saja nanti kau menumis tangis atau memanggang senang. Lalu menyajikannya di meja makan. Dimana satu-satunya tempat kau bisa berbagi. Dan tempat dimana kisah selalu tersaji.

Jumat, 04 Desember 2015

Takhayul Tuyul itu Betul

2 komentar
Jumat malam, seharian di sekretariat AJI Gorontalo, kami akhirnya merasa bosan. Lalu ide untuk pergi melihat tuyul terlontar begitu saja dari mulut Geril dan Andri. Kebetulan saat itu Arnold melintas menuju kamar mandi. Konon, ia bisa membuka mata batin, agar kita bisa melihat penampakan tuyul. Saya, Ivol, dan Opan, yang penasaran ingin melihat tuyul, seketika bangkit dari lantai ubin. Kami sepakat ingin melihat tuyul. Arnold pun bersedia mengantar kami ke tempat di mana tuyul-tuyul itu biasa bermain.

Lewat tengah malam. Saya, Geril, Andri, Arnold, Ivol, dan Opan mengendarai motor, berboncengan mencari tempat di mana tuyul-tuyul itu mangkal. Bayangan tempat gelap, rumah tua, pohon besar, menari-nari di atas kepala saya, selama perjalanan. Meski rasa takut ada, tapi rasa penasaran saya lebih besar. Saya ingin melihat tuyul. Harus.

Beberapa menit membelah malam kota Gorontalo, tiba-tiba Geril, Andri, dan Arnold, berhenti di titik pertama. Keadaan jalan gelap gulita. Ada lorong di samping kiri kami. Rimbun pepohonan di pinggir jalan, bak siluet raksasa. Imajinasi saya semakin horor, apalagi cahaya yang ada saat itu, hanya berasal dari tiga lampu motor yang kami kendarai. Malam itu, hanya kami berenam yang berada di jalanan itu. Tak ada kendaraan yang lalu lalang atau pejalan kaki. Namun entah kenapa, titik itu ditinggalkan. Menurut mereka bertiga, Geril, Andri, dan Arnold, tak ada tuyul di situ.

Perjalanan kami lanjutkan. Tanpa jaket, udara dingin merangkul leluasa. Menambah suasana horor malam itu. Hanya beberapa menit, kami berhenti lagi di titik kedua. Pencahayaan di lokasi itu tak terlalu gelap. Ada beberapa lampu jalan, namun tertutup rimbun pepohonan. Sekitar 20 meter dari posisi kami, ada seorang perempuan paruh baya sedang sibuk mengemasi jualannya. Ia pedagang kaki lima yang sering mangkal di situ. Sekali lagi, titik itu ditinggalkan. Alasan yang sama, kata mereka sedang tak ada tuyul yang berkeliaran. Saya mulai mengira-ngira, mungkin di sekitar situ, adalah tuyul-tuyul peliharaan. Tak sama dengan tuyul-tuyul yang kami buru malam itu. Para tuyul
terlantar. Tak bertuan.

Agak jauh dari titik kedua, akhirnya kami berhenti di pusat kota. Lokasi itu tak jauh dari persimpangan jalan. Beberapa kendaraan lalu lalang. Lampu-lampu jalan benderang. Bangunan ruko berjejer. Dalam hati saya, tempat ini cukup terang, sehingga perasaan takut saya yang sedari tadi hampir menyetuh 100 persen, berkurang menjadi 70 persen saja.

"Di sini?" saya bertanya.

"Iya, di sini ada," jawab Arnold, sambil mengeluarkan sebotol air
mineral di kantong celananya. Air itu sengaja dibawa dari sekretariat.

Andri menyeberangi jalan, menuju halte. Tak jauh dari halte, ada rumah kosong, yang menurut penuturan mereka, sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Pandangan saya menyapu sekitar lokasi. Tiga meter dari saya, Opan berjongkok sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Sesekali ia meniupnya. Kemudian ia membekap mulut dengan kedua telapak tangan, seperti orang kedinginan. Matanya liar. Yang kemudian terpaku lama pada rumah kosong di seberang jalan.

Saya mengira, ritual melihat tuyul akan segera dimulai. Ivol sibuk dengan ponselnya. Ia berencana akan merekam video atau mungkin memotret penampakan tuyul. Kemudian kami bertiga dikumpulkan Arnold. Bibirnya komat-kamit, merapal mantra pada botol air. Lalu ia menyuruh kami bertiga membasuh mata dengan air yang telah dimantrai.

"Kalian bertiga saling berpegangan tangan atau pegang pundak saja,"
terang Arnold. Meski dalam keadaan terang benderang, ketakutan saya kali ini memuncak.

"Ingat, bentuknya hitam, kepala bulat, tak berwajah, dan melayang-layang," jelas Arnold.

Sesuai instruksi Arnold, tangan kanan kami saling memegangi pundak. Jangan sampai lepas. Berjejer, kami disuruh menyeberangi jalan. Satu dua motor melintas. Kami disuruh mundur. Selanjutnya kami diperintahkan berjalan ke samping kanan menuju satu pohon. Sekitar lima meter kami berjalan, tiba-tiba Arnold menyuruh kami mundur beberapa langkah. Kami seperti domba yang sedang digembala. Untuk menghalau rasa takut, dengan ritme cepat saya mengisap rokok yang sudah saya nyalakan sebelum ritual dimulai.

Pohon yang kami dekati itu tak terlalu besar. Seukuran paha orang dewasa. Ada satu tiang rambu-rambu lalu lintas di samping pohon. Salah satu dari kami diminta memegangi tiang itu. Ivol yang berada paling depan, merebut tiang dengan cepat.

"Tangan kalian harus terhubung dengan tanah. Tiang itu jadi media
penghubung. Jangan sampai lepas!" teriak Arnold, yang berada 10 meter jauhnya dari posisi kami.

Selanjutnya kami diteriaki untuk berjalan lagi, masih dengan posisi saling memegangi pundak. Saya yang berada paling belakang, mendapat giliran memegangi tiang. Lengan kanan saya lingkarkan pada tiang, sambil bersandar. Sedangkan tangan kiri berada di pundak Opan.

"Di atas kepala kalian!" Arnold mengarahkan.

Dengan degup jantung tak beraturan, bersamaan kepala kami mendongak. Hanya ada rimbun dedaunan. Kami mendengar teriakan Arnold lagi. Mata kami awas, terus mencari. Tiba-tiba, degup jantung serasa berhenti. Sebuah siluet seukuran bayi yang baru lahir sehari, terbang di atas kepala kami. Wajahnya polos hitam. Siluet seperti berenang di udara. Tangan dan kakinya utuh berbentuk manusia. Siluet itu lalu melayang turun dan tepat berada di belakang kami. Hanya berjarak semeter. Tiba-tiba ia menjauh sembari mengeluarkan suara, seperti jangkrik yang dicekik.

Opan tak tahan menyaksikan apa yang ada di depan matanya. Ia limbung, tapi masih berhasil mengontrol keseimbangan tubuhnya. Ia tersimpuh di aspal jalan, dengan telapak tangan menutupi wajahnya. Ivol terpaku. Ponsel yang tadinya direncanakan untuk merekam, hanya digenggamnya. Kemudian ia lari menuju pagar di depan ruko. Kami bertiga tercerai-berai.

"Allahu Akbar! Allahu Akbar!" saya memilih lari menuju tiang lampu jalan. Entah kenapa, suasana jalan seketika sepi. Tak ada lagi kendaraan lalu lalang saat itu.

Tuyul itu terbang menuju rumah kosong. Siluet itu bersinar, saat melintas di bawah lampu jalan. Saya berlari menuju salah satu ruko. Di sana saya dapati Ivol dan Opan masih gemetaran. Andri dan Arnold berada di halte, 20 meter jauhnya dari posisi kami. Dan kami baru sadar, ternyata Geril dengan ponsel ditangannya, berhasil merekam kejadian itu. Tuyul itu lalu hilang di halaman rumah kosong yang gelap gulita. Suasana mencekam makin terdramatisir sebab listrik sekota tiba-tiba padam. Ternyata sedang ada pemadaman bergilir PLN.

Ivol berteriak memanggil Arnold. Meminta agar mata batin kami segera ditutup. Andri dan Arnold beranjak dari halte. Bergegas menghampiri kami. Air kembali diusapkan ke mata. Napas saya masih memburu. Saya bahkan lupa, di mana rokok yang tengah saya isap tadi. Arnold sibuk mengusap pundak Opan. Sampai kondisinya membaik.

Kami bertiga masih tidak percaya dengan apa yang baru saja kami saksikan. Ternyata, tuyul yang selama ini saya tonton di film, berbeda bentuknya. Memang ia berkepala botak atau lebih tepat bulat, tapi tidak pucat, atau bercawat. Hanya seperti siluet. Dan setelah menyaksikan penampakan tuyul itu, bangun logika yang selama ini menuntunku untuk berpikir yang rasional, akhirnya luluh lantak. Saya tidak percaya takhayul. Tapi keberadaan tuyul itu ternyata betul.

Beruntung, dari semua ritual untuk melihat tuyul, momen kami terekam jelas oleh Geril. Saking fokusnya kami, Geril terus membututi kami lalu merekam, tanpa kami sadari. Selanjutnya kami memutuskan segera kembali ke sekretariat, untuk menonton video rekaman itu. Hasilnya, tuyul itu terekam jelas. Geril saat merekam memang tidak bisa melihat tuyul itu, sebab mata batinnya tertutup. Tapi kamera yang ia arahkan, berhasil menyorot penampakan tuyul. Hanya satu tuyul memang. Tapi seramnya minta ampun.

Lalu kami memutuskan, suatu saat video itu akan diunggah di youtube. Tapi setelah semua teman teman yang kerap mangkal di sekretariat, keseluruhannya sudah pernah melihat tuyul. Tanpa tersisa. Dan jika video itu diunggah nanti, maka dari Gorontalo, bukan hanya video Norman Kamaru atau Bona Paputungan, yang berhasil menyita jutaan pemirsa. Bahkan bisa jadi, kami akan diundang Deddy Corbuzier di acara Hitam Putih. Ini bukan acara Dunia Lain, yang jika dinalari, hanya berisi tayangan sampah-sampah yang dibalut kisah mistik.

Tapi, sampai sekarang ketakutan itu terus ada. Saya sempat mimpi buruk. Di kamar, malam hingga menjelang pagi, lampu tak pernah dipadamkan lagi. Seperti ada yang terus mengawasi, meski kamar dalam keadaan terang benderang. Namun jauh di dalam hati, ada kepuasan sebab rasa penasaran itu akhirnya terobati. Meski harus dibayar mahal dengan gigir ketakutan. Saya takut sekaligus puas. Dan kepuasan itu akan terus ada. Bahkan jika nanti pada akhirnya kami memutuskan untuk menghapus video itu. Yakinlah, mereka ada.

Selasa, 01 Desember 2015

Hai Sigi

Tidak ada komentar

Sigi. Kamu itu suluh, obor, kata kamus. Kamu penerang jalanku. Kilat bola mata bundarmu sepakat. Dan kamu masih selalu menjadi ruhku dalam menulis apa saja tentang hidup. Sebab kamu hidup. Terbenam dalam nadiku.

Ibumu tahu aku rindu padamu. Setiap saat. Meski kita hanya sedetik pernah terkurung bersama. Kala itu tengkar acapkali ada. Kamu masih takut menatapku. Bahkan dalam tidur lelapmu.

Kamu tahu, Sigi. Sama sepertimu, ibumu kukenali dari kilat bola mata. Meski bola mata ibumu cokelat, tak seperti warna bola matamu yang hitam. Namun malam itu kilatannya menyilaukan. Jauh ke dalam, sekali lagi, nadi. Aku pikir, semesta pun cemburu, dengan cara kami saling bertatapan kala itu.

Aku pernah coba melupakanmu, saat kita tak serumah lagi. Meski kutinggalkan beberapa helai pakaianku, untuk kamu baui saat bayi. Kata orang tua, itu agar kamu tak rewel. Tapi aku tetap merinduimu. Kamu kerap menangis dibuatnya. Rindu memang selalu bercumbu dengan air mata.

Kamu masih ingat? Tatkala usiamu dua tahun. Kamu sangat lincah berlari. Aku tengah duduk di sofa kamar. Tiba-tiba kamu berlari dan meringkuk di antara pahaku. Kamu ingin berlindung dari apa, Sigi? Takut dengan apa? Oh, ternyata nenekmu sedang menyuapimu nasi. Kamu bukan takut, tapi kenyang ternyata. Baguslah, kamu kenali apa itu kenyang, agar tak serakah jika dewasa nanti. Benar, Sigi, menjadi dewasa itu rentan serakah. Kakekmu sangat benci dengan orang tamak.

Setiap 28 April, aku menulis tentangmu. Itu tanggal lahirmu. Tapi ini bukan April. Iya, Sigi, kita berdua terlahir di bulan yang sama. Aku tanggal 12. Tuhan seperti ingin agar bulan itu menjadi spesial bagi kita berdua. Mungkin itu satu-satunya cara Tuhan menghiburku. Memberiku porsi bahwa aku patut diberi momen. Sebab ibumu terlalu banyak momen denganmu. Bahkan setiap ibu di dunia, selalu lebih spesial, bukan?

Akhir November 2015, aku terkejut. Kamu meneleponku.
"Hallo Aba, ada ba apa?"
Aku pikir ibumu yang menelepon. Aku ingat, asap mengepung Kalimantan, dan kamu berada di Banjarmasin, aku begitu cemas. Ternyata kamu sudah kembali ke Passi. Desa dimana kamu dicipta dan dilahirkan. Aku senang sekali kala itu. Apalagi kamu menyusulku dengan SMS. Aku tidak tahu persis, kamu yang menekan tombol huruf atau ibumu. Tapi itu membikinku senang.

Sesudah itu, setiap hari kamu mengirim pesan. Bertanya aku di mana, sedang apa, dan pertanyaan pertanyaan pasangan remaja yang kasmaran. Aku tahu saat itu kamu mendengar instruksi ibumu. Kamu terlalu kecil untuk tahu 5W 1H. Tapi aku anggap itu sepenuhnya kamu. Lalu aku menegurmu, jangan terlalu lama main ponsel. Eh, sesaat kemudian ibumu mengirim pesan suara. Kamu menangis. Kenapa Sigi? Kamu takut dengan sosok ayah yang pelarang? Aku bukan ayah seperti itu. Aku hanya takut kamu menjadi anak yang tidak interaktif. Kamu akan nyaman dengan ponsel itu, sedangkan ada semesta tempatmu bermain. Kamu bisa berkejar-kejaran dengan anak tetangga. Mandi hujan lalu melompat-lompat di genangan air. Atau mencuri tomat nenekmu di kulkas. Kamu masih doyan makan tomat?

Usiamu baru 4 tahun 8 bulan. Memang Tak lama lagi kamu masuk taman kanak-kanak. Aku sempat bertanya apakah kamu sudah bisa berhitung dan mengeja huruf. Di ujung telepon sayup-sayup ibumu bilang.
"Sigi, baru ada tunjung kalamaring!"
Tapi aku ingatkan ibumu, jangan dulu diajari berhitung dan membaca. Di usiamu sekarang, biarkan saja kamu bermain sepuasnya. Menggambari tembok dan mendengarkan dongeng ibumu. Kenali dunia sekitar hingga tempat tidurmu. Tak lama, aku bertanya apakah kamu sudah bisa menyanyi. Kamu menyanyikan lagu 'Kasih Ibu'. Kamu anak pintar.

Aku juga meneleponmu waktu itu. Hingga kamu capek menggenggam telepon. Benar Sigi, menjadi orang dewasa itu capek. Terpaku pada gadget sampai lupa waktu. Makanya, lepaskan ponsel lalu bermain lagilah. Aku rela. Lalu kita bersalam pisah. Kamu mengecup di ujung sana. Terdengar rekat.

Oh, ya, kamu sudah ketemu nenek di rumahku? Jawabmu sudah. Katamu nenek memberimu uang puluhan ribu. Iya, nenek selalu begitu. Apalagi ia terlalu rindu denganmu. Sejak kamu ke Banjarmasin, nenekmu acapkali bersedih, sebab kamu tidak pamitan. Tapi baguslah kamu telah pulang. Lalu bertemu nenek lagi. Pasti kamu dibuatnya kenyang lagi.

Aku tanyai lagi, sudah ke makam kakek? Katamu belum, nanti akan ke rumah nenek lagi, terus ke makam kakek. Iya, kakek juga pasti rindu kamu. Saat kakek berpulang, kamu masih di Passi. Momen duka itu menjadi suka bagiku. Sebab kamu selalu takut bertemu denganku. Dan akhirnya di hari pemakaman kakek, kamu akhirnya mau kupeluk. Biasanya momen seperti itu, hanya bisa kucuri saat kamu tertidur pulas.

Hai Sigi. Kamu bidadari yang hanya bisa kutulisi, entah sampai kapan. Getah Semesta ini, tabung memori untukmu. Akan kupenuhi dengan segala semesta hidupmu dan hidupku. Mereka yang ada di sini pun adalah jejak-jejak hidup kita berdua. Sebab sebenarnya setiap mahluk itu saling terhubung. Ada getah yang merekatkan kita.

Ok, Sigi. Jangan nakal ya, sama ibu. Bilang sama ibumu, rambut keritingmu jangan digunting. Jangan lupa selalu tersenyum dan puas-puaslah bermain. Sayangi kakek dan nenekmu di rumah ibu. Sayangi pula nenek di rumah ayah. Sayangi keluargamu. Sayangi tetangga-tetanggamu. Sayangi boneka-bonekamu. Sayangi teman-temanmu. Sayangi semua manusia. Sayangi pula binatang binatang yang kamu temui. Jika mereka tidak menggangu, jangan usik mereka. Sayangi semua mahluk.

Sudah dulu ya, Sigi. Berulang kali ayah berpesan: Jangan pernah dewasa!! Muaaachhh!!

Senin, 30 November 2015

Boneka Si Unyil

Tidak ada komentar
Beruntung saya lahir dan tumbuh di era 80-90an. Tapi harus pula bersedih. Sedih ini kusandarkan pada film anak-anak, Boneka Si Unyil, yang pada 5 April 1981 ditayangkan pertama kali di TVRI. Waktu itu saya belum lahir. Saya lahir 12 April 1983. 1993, film itu tak tayang lagi. Namun di masa kanak-kanak, dada saya masih sempat bergemuruh menunggu. Dan takut saat tokoh orang gila tiba tiba muncul di adegan film. Saya lupa nama orang gila itu.

30 tahun berlalu, sampai juga pada kesedihan yang sama. Kehilangan tokoh Unyil dan kawan kawannya, pun kehilangan yang terbesar adalah berpulangnya Pak Raden. Nama aslinya Drs. Suyadi. Ia yang lahir 28 November 1932, harus pergi Jumat 30 Oktober 2015. Saya merasa kehilangan. Kami merasa kehilangan. Kami yang tumbuh besar dengan tokoh-tokoh rekaan Pak Raden.

Di memori jangka panjang, saya masih mengingat jelas salah satu seri dalam Boneka Si Unyil. Unyil, Usro, Ucrit, Meilani, dan Cuplis menjadi pahlawan. Mereka bisa terbang. Lalu melawan para penjahat di hutan. Dalam seri itu, diceritakan Unyil hanya bermimpi. Saya ingat jelas adegan-adegan dalam film itu. Masih hidup dalam ingatan. Saat itu, mungkin saya berusia 6 tahun.

Nama Unyil sengaja dipilih Pak Raden yang dikenal suka mendongeng, sebab nama itu tidak identik dengan kesukuan atau agama. Sangat plural. Sangat banyak pelajaran berharga dalam film itu. Tokoh-tokohnya yang digambarkan beragam. Dari Unyil yang tampil dengan peci dan kain sarungnya. Ada pula Meilan yang digambarkan sebagai Tionghoa. Pak Raden yang berkumis tebal dan suka memakai blangkon. Pak Raden adalah tokoh pensiunan, yang kikir dan pemarah. Apalagi buah jambunya yang kerap dicuri anak-anak.

Saya juga suka tokoh Pak Ogah. Meski ia pemalas dan doyan minta cepek, Pak Ogah bersama Pak Ableh tinggal di Pos Siskamling, dan setia menjaga keamanan desa. Ada Usro, Ucrit, juga Cuplis berkepala plontos yang memiliki adik-adik berkepala plontos pula. Mbok Bariah juga tak ketinggalan dengan dialek kental Maduranya. Ta' Iye. Sembari menawarkan dagangan rujak petisnya.

Unyil sendiri memiliki adik bernama Kinoy yang lucu. Tak banyak lagi yang bisa diingat. Jika saja film Boneka Si Unyil bisa di download gratis. Seluruh episodenya akan saya tonton non stop. Dan satu-satunya adegan yang menjadi mimpi buruk adalah.... Orang gila itu. Sialan.

Ada yang ingat namanya?
margeraye.blogdetik.com

Kota Gorontalo

Tidak ada komentar
di pinggiran Kota Gorontalo
di antara himpitan gemuruh adzan
kita berpelukan tanpa lengan
hanya saling merasa tanpa raba
dari kejauhan

pagi kita selalu penuh duka
sebab pisah jadi jumpa yang bisu
benamkan cerita di akar-akar pohon
di tumpukan kerikil dan gigil

dan siang berubah jadi sandaran
berkisah tentang nyamuk dan tikus
juga pejam yang melekaskan mimpi
lalu kita saling berbisik, bangun, bangun

kemudian sore tiba bersama hujan
turun dengan garis-garis bening
hantarkan sekeranjang cerita
bahwa hari akan berulang terik, atau hujan

lalu malam pun lekas mengulum
bibirnya bergincu ampas kopi
kemudian satu per satu orang datang
pergi lagi diusir pagi
kita kembali saling mengingat

di pinggiran Kota Gorontalo
kita masih berpelukan
tanpa lengan
tanpa raba
pun hilang rasa
tersisa hanya....
cinta

Rabu, 25 November 2015

Istirahat Dululah Bos

2 komentar
Saya menulis 'Menu7u Graha Pena' (http://sigidad.blogspot.co.id/2015/08/menu7u-graha-pena.html) beberapa bulan lalu, tulisan yang sebenarnya hanya sebagian yang mafhum, kalau saya saat itu sudah berada di batas kesabaran, untuk bisa bertahan dengan rekan-rekan di Radar Bolmong (RB). Dan akhirnya saya memilih mundur sejak tiga bulan lalu.

Dalam tulisan itu, sengaja saya tidak menyentil satu sosok yakni Budi Siswanto. Sebabnya apa? Karena Bos Budi, begitu kami yang bawahan biasa menyapa — berlaku untuk semua Bos di Manado Post Group — adalah sosok yang suatu saat, ada masa dimana saya akan mengabadikan namanya di blog Getah Semesta ini.

Bos Budi, pertama kali namanya saya tahu dari tulisannya Bang KG — begitu saya kerap menyapa Katamsi Ginano — empu dari blog Kronik Mongondow. Ada beberapa edisi tulisan Bang KG, yang gencar mengais dan menebar kekeliruan RB, yang kala itu tak sesuai kaidah jurnalistik dalam memberitakan satu kasus. RB saat itu masih dipimpin Bos Budi. Kemudian berlanjut dengan seteru secara personal antara keduanya, yang akhirnya seiring waktu, seteru itu tergeser oleh jarum jam secara perlahan. Hilang dan diam.

Dalam tulisan 'Menu7u Graha Pena', saya juga sengaja tidak mencatut nama Bang KG. Padahal saya bisa diterima di Radar Bolmong, di bawah pimpinan Bos Ozi' (Fauzi Permata), Bang KG memiliki andil di sana. Tapi secara pemaknaan saya sendiri, seperti yang saya jelaskan sebelumnya dalam tulisan itu. Terlepas dari rekomendasi Bang KG, Bos Ozi' memang yakin bahwa saya bisa menulis, setelah membaca blog saya, Getah Semesta, yang sebenarnya hanya berisi sampah-sampah pikiran, yang entah mau saya kemanakan, dan akhirnya menjadi TPA (Tempat Pembuangan Angan) saya.

Dalam tulisan itu pula, saya menebar keping-keping perjalanan kami saat ikut pelatihan wartawan liputan khusus, di Graha Pena Manado Post. Saat berada di Manado selama beberapa hari, kami berencana menginap di rumahnya Bos Budi yang, ia pun menawarkannya pada kami. Di situlah awal saya mengenal secara dekat sosoknya. Meski sebelumnya, sudah pernah bertemu pada acara HUT RB yang ke-6.

Saat menyetir mobil menuju rumahnya, kekocakkan Bos Budi mulai nampak. Selera humornya membikin saya terbahak-bahak di mobil. Dari membuli Eling dan Eges (kedua teman saya yang sama-sama ikut pelatihan), dengan kisah-kisah lucu saat keduanya masih menjadi bawahannya di RB. Ini asyik, sebab karakter Bos Budi, sangat jauh dari bos-bos kebanyakan, dari semua perusahaan yang pernah saya singgahi. Sense of humor. Ya.

Sesampai di rumahnya, kami disambut istri dan putrinya (saat itu si bungsu masih dalam kandungan), juga ayah mertuanya. Kami dipersilakan menguasai lantai dua. Rumah itu sangat nyaman dan ideal bagi sepasang suami-istri yang tengah menanti anak kedua, yang nantinya bakal sepasang pula. Pernah lihat iklan Keluarga Berencana (KB)? Nah, cukup ideal bukan? Istri satu, anak dua. Apalagi anaknya sepasang. Sempurna.

Di rumah itu, ayah mertua Bos Budi memperlakukan kami seperti anaknya sendiri. Mengajak makan saja, jika kami belum turun dari lantai dua, akan terus disusulnya berkali-kali sampai kami tidak bisa menolak. Tak tega pula melihat seorang kakek naik-turun tangga. Meski sebenarnya di usia senjanya, ayah mertua Bos Budi dengan rambut peraknya, masih terlihat cukup gesit untuk digolongkan kakek. I Miss You Ayah (saya anggap ayah saya sendiri dah!).

Usai mandi dan beberes, kami bercengkarama di beranda. Tentunya dengan Bos Budi yang mulutnya tak henti-hentinya mengepulkan asap. Ia perokok berat. Gudang Garam Filter atau Surya, dua merek rokok yang ia gemari (rokok bas-bas kata). Menurut saya, ia memang bas (tukang bangunan), sebab jika salah satu anak perusahaan Manado Post Group (MPG) pondasinya mulai rapuh, maka ia akan diutus untuk memperbaikinya. Dan selalu berhasil.

Di malam itu, tanya jawab pengalaman dan sebagainya saling bertukar. Akhirnya kami dipaksa tidur menjelang subuh. Dan dipaksa bangun pukul 7 pagi. Saat mata kami bermekaran meski tubuh kami masih layu, telah ada sosok hitam manis (klaim Bos Budi) di depan kami yang menendang nendangkan kakinya.

"Bangon jo!"

Mandi, sarapan, lalu kami berangkat ke Graha Pena. Tapi sebelumnya kami diajak keliling kota Manado dulu, sebab Bos Budi ingin mengecek loper-lopernya di jalanan. Aih, saat kami temui, anak buahnya senang dengan kedatangan Bos Budi. Sembari mengabarkan bahwa sudah berpuluh-puluh eksemplar yang laku. Mereka merasa diperhatikan, bukan diawasi.

Setelah itu, kami menuju Graha Pena lalu bergegas ke ruangan pelatihan untuk menerima materi. Kami acapkali terlambat beberapa menit. Namun kami bangga karena dari seluruh peserta perwakilan MPG, hasil liputan RB yang terpilih (nyombong dikit kenapa). Bahkan kami dijanjikan hadiah yang sampai hengkang pun, hadiah itu tidak pernah kami terima.

Kala itu, setiap usai pemaparan materi, malam harinya kami kembali ke rumahnya. Masih dengan kelakarnya, kami dibuat terpingkal-pingkal di mobil.

"Nae di oto ini musti baroko, kalo ndak baroko kaluar!"

Eling itu cewek loh, yang di tulisan 'Menu7u Graha Pena', ia menjadi salah satu tokoh cerita (saya berhasil membuatnya menangis saat ia membaca tulisan itu. Ha-ha-ha). Dan ia itu per*k*k berat #sensor.

Setiap malam, waktu kami habiskan di rumah. Mendengarkan kisah Bos Budi dan humor-humor segarnya yang menggiling perut. Kisah bagaimana preman-preman yang diajaknya insaf berjamaah, lalu memilih bekerja dengannya. Juga kisah haru salah satu office boy yang karena sangat rajin dan jujur, diajaknya bekerja di redaksi Posko. Akhirnya, jelang subuh kami mengalah.

Dan sebelum tidur sempat saya tercenung. Apa yang membuat sebagian karyawan RB di masa kepemimpinannya, eksodus? Apa yang salah dengan Bos Budi? Kebijakannya? Target cash in yang ia bebankan? Santer beredar kabar, memang masalahnya seperti itu. Ditambah masalah-masalah
lain yang bersifat personal yang entah apa. Pendeknya, yang memilih eksodus, mereka yang merasa tidak puas dengan kepemimpinan Bos Budi. Tapi mereka yang bertahan dan pernah bertutur pada saya, Bos Budi adalah sosok pemimpin yang sangat memperhatikan karyawan. Saya menyaksikannya sendiri. Dan ini bukan koprol, masing-masing orang punya penilaian sendiri, bukan?

Sampai akhirnya kabar itu tiba. Bos Budi yang dengan segudang prestasi di MPG, memilih mundur. Kabar itu seliweran di status BBM teman-teman di MPG. Pun di status BBM Bos Budi, yang bernada satir. Saya tidak berani bertanya, sebab ia sangat saya hormati. Biarlah itu jadi urusan internal MPG.

Tapi akhirnya saya memilih mencermati, dugaan saya bahwa ada satu kebijakan atasan yang dilawannya. Ada hak dari karyawan yang diserakahi. Dan ia memperjuangkan itu dengan memilih mundur. Pilihan yang makin menabalkan pikir saya. Bahwa ia adalah Bos yang menghamba. Ini pikirku, dan terserah dengan yang berpikir berbeda tentangnya.

Jika alasan Bos Budi untuk mundur karena sakit, maka sehat selalu Bos! Beserta keluarga berencananya, juga ayah mertua yang sudah saya anggap sebagai ayah saya sendiri. Menukil sepenggal pesan di Supernova:

"Bahwa dengan sakit, kita akan dikenalkan dengan lebih banyak pengetahuan. Membuka mata bahwa penyakit bukan sekadar gangguan. Tapi kode. Kode dari tubuh bahwa ada hal dalam hidup kita yang harus dibereskan."