Jumat, 06 Mei 2016
Kelucuan Anak-anak SLAB adalah Suluh
![]() |
| Andi sedang berpuisi |
20 Mei 2014, saya dan Shandry Anugerah, sepakat menamai rumah belajar kami: Saung Layung Arus Balik (SLAB). Itu nama yang ditemukan di tepi kolam ikan. Sudah pernah saya tuliskan sebelumnya di sini.
Beberapa kali pertemuan, anggota SLAB bertambah. Banyak yang ikhlas menjadi relawan. Tentunya untuk mengajar di SLAB.
Namun seiring waktu, satu per satu pergi. Sebab SLAB terlelap untuk waktu yang panjang. Kami juga tak menyalahkan mereka yang memilih pergi. Tapi kami yang tersisa, coba tetap menjaga nyala SLAB. Sebab ia adalah suluh. SLAB menjadi semangat kami untuk terus memikirkan nasib manusia lainnya. Mereka yang tak seberuntung kami.
Dua tahun berjalan, ketika itu SLAB terlelap. Hanya sesekali ia bangun saat kami tengah berada di kedai kopi. Membicarakan hal-hal yang kembali memantik nyala itu.
Akhirnya, teman saya, Shandry, memiliki pekerjaan yang membuatnya mau tidak mau, harus menetap di desanya. Saya pun memutuskan kembali ke desa, sebab guna apa belajar jika pengetahuan yang terberi tidak kita bagi-bagi.
Shandry, dengan sisa nyala suluh itu, membakar semangat pemuda di sekelilingnya. Kemudian SLAB, pada Jumat 6 Mei 2016, terbangun dari tidur panjangnya. Bangun yang memancing dengus semangat kami seketika.
Saat melihat foto yang dipajang Shandry di BBM, ketika anak-anak melipat kaki di lantai, dan tengah sibuk menyimak kakak mereka Wanto Mongilong, membagi ilmu di kelas bahasa Inggris. Saya melihat suluh itu kian benderang.
Di Sini, Semesta adalah Guru.
Pukul 4 sore, saya dari Desa Passi menuju Desa Bilalang 1, yang hanya berbatasan perkebunan. Beberapa menit saja, saya sudah sampai di rumah belajar Saung Layung Arus Balik (SLAB). Shandry, sedang mengajar bahasa Inggris.
Ada sekitar belasan anak-anak di kelas yang, adalah gedung sekretariat pemuda Desa Bilalang 1. Anak-anak melantai di atas bentangan karpet yang serupa rumput hijau. Jika saja bukan musim penghujan, mereka memang akan diajak belajar di luar kelas. Berbaur dengan alam di bawah rindang pepohonan.
Buku-buku dan alat tulis-menulis anak-anak berserakan. Mereka tidak sedang terpaku di buku. Tapi sibuk menyimak teman mereka mengeja nama-nama binatang, dengan bahasa Inggris.
"Ular, senek!" kata salah satu bocah laki-laki, yang terang saja mengundang riuh seisi kelas.
Saya pun ikut tertawa. Anak-anak di luar kelas, yang juga hadir untuk menyaksikan teman-teman mereka belajar ikut tertawa. Mereka juga diajak untuk belajar. Tapi mereka lebih memilih bermain. Kami membebaskan siapa saja yang ingin ikut belajar. Baik anak-anak putus sekolah, pun mereka yang mengeyam pendidikan formal.
Anak-anak yang di luar kelas, sesekali hanya datang mengintip. Juga beberapa orangtua dari anak-anak SLAB. Di tengah-tengah kelas berlangsung, terus berdatangan orangtua yang mengantar anak-anak mereka. Sudah dua puluh lebih anak-anak yang ingin belajar.
Lalu tiba waktunya saya mengajar. Kelas sastra bagi anak-anak. Saya yang belajar sastra hanya dari alam raya, hari-hari sebelumnya terlebih dahulu memindai beberapa materi di internet. Kebetulan, internet saat ini memang sangat membantu. Ada berbagai macam metode belajar pengenalan sastra bagi anak-anak.
"Ada yang tahu sastra itu apa?" tanya saya.
"Puisi!" jawab satu dua anak serentak.
"Iya, puisi memang termasuk karya sastra," kata saya.
Kemudian saya menjelaskan pengertian sastra sesederhana mungkin. Setelah itu, coba kembali melemparkan pertanyaan.
"Apa saja yang tergolong dalam sastra?"
Jawaban-jawaban mereka sangat mencengangkan. Meski mereka mengaku di sekolah hanya pernah belajar mengarang dan berpuisi. Tapi seperti; pantun, cerita atau cerpen, novel, sandiwara atau drama, juga lukisan dan kaligrafi, satu per satu mereka jawab sendiri. Saya memang coba bertanya dengan menggiring imajinasi mereka.
"Anak-anak pasti pernah menonton film, kemudian coba meniru adegan-adegan dalam film di depan cermin ketika sedang sendirian. Hayo, siapa yang pernah begitu?" tanya saya.
Seisi kelas bergemuruh dengan tawa. Anak-anak saling menuding teman-teman mereka.
"Nadia! Nadia!"
"Santika! Santika!" Teriak anak-anak bergantian menyebut nama-nama teman mereka.
Kemudian saya kembali bertanya, "Nah, itu namanya sedang berakting. Selain dalam film dan sinetron, anak-anak bisa melihat orang-orang berakting seperti itu di mana?"
Kemudian mereka berpikir. Pandangan mereka menyapu langit-langit kelas, dinding, lantai, dan papan tulis. Hanya beberapa menit, mereka menjawab drama. Juga disusul dengan sandiwara.
Setelah itu, satu per satu poin coba dipelajari. Di mulai dari pantun. Di Bolaang Mongondow, pantun itu biasa disebut salamat. Saya coba bertanya siapa yang bisa membaca salamat. Tiga orang anak berdiri. Nama mereka bertiga, Rizki, Amri, dan Taufik.
"Dimulai dari Amri, ya," kata saya.
Amri dengan lantang ber-salamat, "Salamat kon manukku tulug. Sinogotku kon diug tolutug. Noi talib ki aki nobongkuyug. Sinomuku bo binongkug.(Salamat untuk ayam jantanku. Kuikat di dekat pancuran. Lewat seorang kakek sedang memikul. Kutemui lalu kupukul)"
Sekali lagi, kelas meriuh. Saya dan Shandry terpingkal-pingkal. Salamat itu sangat bagus. Namun makna yang terkandung di dalamnya, memang tidak baik untuk anak-anak. Kemudian saya coba merubah salamat di baris terakhir. Dengan kalimat: Sinomuku bo inogoian tulug.(Kutemui lalu kuberi ayam jantanku). Tanpa mengubah rima, dengan makna yang lebih positif.
Rizki lanjut membaca salamat-nya. Ketika tiba giliran Taufik. Anak itu menghilang. Ia memang anak yang terbilang unik. Dan yang paling lucu di kelas.
Pelajaran kemudian terus berlanjut. Puisi. Hanya beberapa menit saya menjelaskan apa itu puisi. Anak-anak cepat tanggap dan sudah siap diberi tugas. Berbagai macam puisi lahir di sore itu. Dari tokoh idola mereka seperti: guru, ibu, dan ayah. Juga tentang setangkai bunga, buah rambutan, kesedihan, dan kebahagiaan.
Mendengar semua puisi anak-anak, dada saya bergetar. Ada yang menceritakan tentang guru mereka yang dianggap sebagai sosok pahlawan. Metafora matahari, bulan, dan berbagai macam perumpaan semburat dari imajinasi anak-anak sekolah dasar. Juga dari anak-anak yang putus sekolah. Tentang perjuangan ayah mereka mencari nafkah. Kasih ibu. Bahkan tentang sebuah kebahagian. Pun tentang kematian. Dan yang terlucu, puisi buah rambutan dari Taufik.
"Aku suka sekali makan rambutan. Rasanya manis," baca Taufik, dengan serius. Tapi wajah culunnya kerap mengundang tawa.
Seiring waktu, akhirnya dua jam pertemuan di kelas sastra usai. Kemudian saya memberikan tugas untuk mereka. Membaca puisi pendek, Saung Layung Arus Balik, tanpa teks.
Mereka antusias, bahkan sudah ada yang berhasil menghapal bait puisi yang berderet di papan tulis itu. Ketika saya memberi anak-anak pilihan ganjaran apa, bagi siapa yang tidak berhasil menghapal. Mereka menyepakati, yang tidak berhasil menghapal akan disuruh menyanyikan bait puisi itu.
Tak pernah terpikirkan oleh saya, anak-anak itu serentak menyanyikan bait puisi.
Saung Layung Arus Balik
Kami belajar dengan senang hati
Kakak-kakak yang lucu berbagi ilmu
Kata mereka, kami bisa belajar sesuka hati
Sebab di sini, semesta adalah guru
Pandangan saya tiba-tiba kabur oleh genangan air di bola mata. Saya terharu. Itu belum diringi petikan gitarnya Shandry.
Kelas usai. Anak-anak meninggalkan semangat mereka di kelas. Semangat yang akan mengekalkan SLAB.
Baru saja saya dan Shandry berbincang tentang kelas barusan. Taufik, si anak terbandelucu itu datang lagi. Padahal sebelumnya dia yang kerap bertanya: sudah bisa pulang?
Penasaran dengan salamat-nya yang tak terucap tadi, saya coba bertanya.
"Kenapa tadi tiba-tiba menghilang? Sekarang coba baca salamat-nya Taufik."
Sambil tiduran di karpet, dia ber-salamat. "Salamat kon manukku lengat. Nongayum kon pangkoi bolangat.(Salamat untuk ayam hutanku. Bertengger di pohon rambutan)"
"Selalu rambutan," kelakar Shandry.
Taufik kemudian melanjutkan. "Salamat kon manukku lengat. Nongayum kon pangkoi bolangat. Noi talib bobai ben lunat. Inoini'ku mokaan kon bolangat.(Salamat untuk ayam hutanku. Bertengger di pohon rambutan. Lewat gadis cantik. Kupanggil untuk makan rambutan)"
Ehuu! Kelucuan-kelucuan ini adalah SULUH!
![]() |
| Ini tu de pe nama Taufik |
Minggu, 01 Mei 2016
Kami yang Mendustai Pagi dan Mereka yang Mendustai Buruh
Laga sepak bola baru saja usai sore kemarin. Tim sepak bola Desa Passi berhasil mengoyak jala rivalnya, Desa Bintau, dengan jumlah gol yang tak sedikit. Empat saja. Meski sempat dibalas satu gol.
Pesta merampah bebek pun dimulai. Pesta yang kami daulat sebagai euforia kemenangan, pun sebagai bentuk protes sebab spoiler di sosmed mengenai AADC 2 yang baru saja ditonton kawan-kawan kami itu, termuntahkan dengan kekecewaan.
Terus terang kami pun, anak-anak Rumah Pemuda Merdeka (RPM) Desa Passi, merasa terpukul membacai status kawan-kawan yang telah menonton AADC 2, yang berserakan di sosmed. Sebab kami yang pernah unyu di masa Orde AADC, harus menelan serapah dari kawan-kawan yang juga hidup di masa yang sama.
Tapi debat kami yang membikin rica di rampah-rampah bebek bertambah pedas itu, akhirnya pelan redam. Saya, Uwin, dan Oxa, harus menuruni bukit Eropassi menuju Kota Kamunce (Kotamobagu), setelah kenyang dengan sepiring nasi dan lauk bebek.
Kami bergegas turun gunung, sebab di kampus UDK, tengah ada party reggae anak-anak Slank Bolmong Raya (Slabor) dan komunitas vespa. Dari Palu pun sempat hadir, dan yang membuat saya lebih merasa berdosa jika tidak hadir pada acara itu adalah, ketika kawan Temi yang sama-sama bernaung di AJI Kota Gorontalo, jauh-jauh dari Manado sudah tiba dan katanya ingin memuntahi Kotamobagu. Saya suka kalimat itu: ingin memuntahi Kotamobagu.
Kampus UDK sangat ramai malam itu. Setelah bertemu dengan Temi, kami turlan bersama orang-orang yang berpogo ria. Musik pantai menarik ubun-ubun ke depan dan ke belakang. Gelas-gelas, botol-botol, ubi rebus, dan ikan-ikan bakar bertebaran. Panggangan masih merah baranya. Unggun pun masih nyala. Sudah pukul 1 lewat tengah malam. Tapi puluhan orang masih berjejalan dengan vespa-vespa yang berserakan di lantai pogo.
Kemudian Pramoedya Ananta Toer berbisik: minumlah sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Kata-kata yang disesuaikan suasana. 30 April 2006, 10 tahun berpulangnya Pram. Meski telah lewat beberapa jam, kami menyempatkan bermonolog dan berpuisi. Setelah itu, kami memilih melingkar lalu lanjut pesta gelas dan tulang. Hingga kami kembali berniat mendustai pagi kali itu.
Di antara gelas-gelas, botol-botol, vespa-vespa, tulang-tulang ikan, dan bara api, kami menyanyi. Hingga langit hitam terlihat bergradasi menjadi abu-abu. Lalu matahari pecah di timur namun kami belum mau mendengkur.
Yang terdengar masih denting botol dan petikan gitar. Juga cerita-cerita dari masa yang akhirnya mengajak kami mengingat lagi. Pagi itu ternyata sudah 1 Mei. Dan itu adalah hari buruh! May Day!
Kami yang tersisa lima orang saja, memutuskan turun aksi pukul 7 pagi. Setelah gelas-gelas kosong dan botol-botol rebah. Tepat di bundaran depan kampus, bermodalkan kardus, kami menorehkan sederet kalimat: MAY DAY! Upah layak bagi buruh!
Kemudian teriak lantang mengundang perhatian para pengendara. Mereka heran, sepagi ini, dari mana genderuwo-genderuwo bertato ini muncul. Tiga genderuwo dan dua bidadari. Mata mereka tertuju kepada dua punk girls yang turut beraksi di jalanan.
Kami merasa pesan kami tersampaikan, ketika seorang sopir yang mengangkut bahan bangunan, di Minggu pagi itu berteriak, "Mantap!" Ia sepertinya sadar ketika berdetik-detik dicegat lampu merah, dan terus menyimak koar kami, bahwa apa yang kami suarakan adalah tentang "dia".
Meski hanya berlima, kami tetap semangat pagi itu. Sama seperti ratusan TKI di Victoria Park, Hongkong. Sama seperti ribuan buruh yang bergermuruh di GBK, Jakarta. Sama seperti jutaan buruh di Perancis dan negara-negara lainnya, yang hak-hak mereka masih belum terpenuhi.
Di negara kita, pun tak ketinggalan di kota kecil kita ini, Kotamobagu, masih banyak buruh-buruh yang ditindas dengan jam kerja yang berlebihan. Terlebih para jurnalis. Padahal itu telah diatur dalam pasal 77 sampai pasal 85 Undang-Undang Nomor 13, 2003, tentang Ketenagakerjaan.
Mengenai jam kerja, waktu istirahat kerja, dan waktu lembur tidak pernah diperhatikan. Sebenarnya masih banyak pula buruh yang tidak mengetahui hak-hak mereka itu. Padahal seharusnya di beberapa perusahaan, menyoal jam kerja, waktu istirahat, dan lembur harus sudah dicantumkan dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB).
Peraturan untuk buruh yang bekerja selama 5 hari kerja dalam seminggu, maka kewajiban bekerja adalah 8 jam dalam 1 hari dan 40 jam dalam seminggu. Sedangkan untuk 6 hari dalam seminggu, jam kerjanya adalah 7 jam dalam 1 hari dan 40 jam dalam seminggu.
Sekarang ini, hak buruh mengenai lembur banyak yang diabaikan. Sebab beberapa pekerja, termasuk jurnalis adalah mereka yang melakukan pekerjaan di atas 8 jam sehari. Tapi hak-hak lembur mereka tidak pernah dibayarkan. Ditambah dengan upah yang belum layak atau tidak sesuai dengan standar UMP, yang menyebabkan para jurnalis rentan dengan "uang saku".
Bukan hanya para jurnalis, tim redaksi yang sama berjibaku di balik meja kerja hingga larut malam, demi desain grafis, ilustrasi, dan agar tampilan koran apik. Mereka harus rela kerja melewati batas keharusan, tanpa terhitung lemburnya. Bahkan waktu dengan keluarga pun tersita.
Jangan sampai nanti, kita - kaum buruh - tidak sadar anak-anak kita telah tumbuh besar, karena saking jarangnya bersama-sama.
Atau... Itu sudah terjadi?
Rabu, 27 April 2016
Percakapan Sigi
"Aku bukan ayah. Aku adalah semesta."
Begitu seorang ayah coba membujuk putri semata wayangnya, yang tengah merajuk. Dibelainya pundak putrinya yang ia panggil dengan sangat pelan... Sigi.
Namun baru saja ujung jemari hendak menyentuh, Sigi menghindarinya.
"Kau tahu, Sigi. Ayah adalah semesta. Silakan kau membenci sedahsyat mungkin. Ayah akan tetap ada. Entah itu di langit atau di bumi. Sekali lagi, ayah adalah semesta."
Sigi menoleh. Rambutnya yang bergulung-gulung bergetar. Ia memandang wajah ayahnya itu. Penuh amarah. Bola matanya hitam namun begitu benderang.
"Aku tidak peduli dengan semesta. Aku hanya ingin ayah."
Langit kembali segelap lelap. Tak ada apa-apa. Bintang-gemintang menyelam kembali ke dasar langit.
"Ayah tahu... Kau marah. Tapi untuk apa marah? Bahkan kau sendiri belum cukup dewasa untuk mengerti."
Wajah Sigi yang jenak pergi itu kembali. Ia kali ini hanya mengintip dari sela bulu-bulu matanya yang lentik. Masih dengan tatapan yang sama.
"Bukankah, kata ayah, aku jangan pernah dewasa?"
Setiap hari ulang tahun Sigi, memang kalimat itu yang kerap terucap dari mulut ayahnya: jangan pernah dewasa.
"Bukankah, kata ayah, aku harus tetap menjadi bocah agar bisa terus bertanya-tanya lalu memahami?"
Ayahnya terdiam. Sigi bersiap dengan tanya yang ketiga. Tanya yang terakhir.
"Bukankah, kata ayah, menjadi dewasa itu membosankan?"
Bidang hitam sejauh mata memandang masih terhampar. Ayahnya coba menyusuri itu lalu perlahan mendekati Sigi lagi. Kali itu Sigi tak bergeming.
"Kau benar, Sigi. Tiga pertanyaanmu itu, adalah apa yang selama ini ayah ajarkan. Kau belajar dengan sangat baik."
Sigi menggerak-gerakkan kedua pipinya secara bergantian. Kiri menggembung. Kanan mengempis. Liang di kedua pipinya pun saling bergantian tergali.
"Ayah hanya ingin mengelak. Sekarang, apa yang belum aku pahami?"
Dari dalam sorot mata ayahnya tiba-tiba merangkak seekor bintang. Mengerlap-kerlip lalu terbang. Seluruh bintang dari dasar langit ikut menyembul. Langit seketika bukan bidang hitam lagi. Sangat ramai.
"Kau tahu, Sigi. Kau sebenarnya telah memahami."
Ah, jangan terlalu serius, mari dengarkan ini, Sigi...
28 April, penulis novel To Kill Mockingbird, Harper Lee, lahir. Juga penyair Chairil Anwar, berpulang. Di tahun-tahun yang berbeda tentunya, namun di tanggal dan bulan yang sama dengan hari lahirmu. 28 April, juga pertemuan Rangga dan Cinta, setelah 14 tahun lamanya terpisah. Iya, Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2) dirilis di tanggal lahirmu yang memang istimewa.
Sigi, ini tulisan keempat setiap tahunnya. Untuk tahun pertama ayah luput. Tentu saja tahun berikutnya, ayah tidak akan pernah lupa menulis untukmu. Sebab ruh dalam setiap tulisan ayah, adalah Sigi.
Oh, ya... Di tahun ini, kenapa ibumu jarang sekali mengunggah foto-foto terbarumu di media sosial? Juga video-video kenakalanmu. Mungkin kini, jempol ibumu sedang lelah, sebab katanya ibumu sedang mengandung adikmu. Wah, Sigi bakal punya adik. Meski dari ayah yang berbeda, curahkan kasih kakak dan sayang seorang saudara kepada adikmu. Sebesar-besarnya.
Sekarang, kau sudah tahu menghitung? Sudah tahu membaca?
Ah, lupakan itu semua. Bermainlah sesuka hatimu. Susupi setiap kolong meja, kursi, lalu menyelinaplah ke dalam lemari. Atau coreti tembok-tembok dengan lipstik ibumu. Buatlah negerimu sendiri. Sebab bala tentara Endonesa tak berhak melarang laku bocah sepertimu. Bahkan ketika kamu dengan tidak sengaja memurali tembok dengan simbol palu-arit. Mereka memang tak berhak melarang sebab sejarah telah retak.
Kau tahu, Sigi. Jika kau sudah bisa membaca, bacalah buku sejarah tempat lahirmu, sejarah negaramu, juga sejarah dunia. Kau tentu bisa. Bahkan, segala semesta tak sebanding dengan akalmu. Akal mampu menyimpan apa saja. Begitu kata Imam Ali.
Belajarlah tajamkan pendengaranmu. Agar bisikan angin bisa kau dengar. Buka matamu yang indah itu besar-besar, agar kau bisa melihat keragaman mahluk hidup di muka bumi. Sayangi mereka seperti kau menyayangi adikmu. Kata Pramoedya Ananta Toer yang juga berpulang 30 April itu: berterimakasihlah kepada segala yang memberi kehidupan, meski itu hanya seekor kuda.
Iya, Sigi. Kasihi pula binatang, sebab dengan mengasihi semua mahluk, kau akan belajar untuk tidak sombong menjadi manusia. Dewi Lestari pernah berpesan seperti itu pula di Supernova: Partikel.
Sila cerewet dengan mulutmu. Tapi hendaklah kau pikir dulu apa yang ingin kau katakan. Sukar meralat sepatah kata yang telah terucap, tinimbang ratusan kalimat yang masih dalam pikiran. Sekali lagi, ayah pernah membaca pesan Imam Ali itu. Kau tentu akan mengenal Imam Ali. Iya, Ali bin Thalib.
Kau sudah memberi nama boneka-bonekamu?
Jika belum, berilah mereka nama. Meski tak bernyawa, mereka bisa mendengarkan suara hatimu, ketika tak seorang pun yang mampu mendengar. Meski cara boneka-boneka itu mendengar tentu berbeda dengan manusia. Mereka memberi tanda, bahwa mereka bisa mendengarmu, dengan cara mereka diam.
Sigi, sewaktu ayah pulang kali ini, nenekmu bercerita. Kau pernah ke rumah nenek untuk memanen buah di kebun belakang. Baru beberapa pekan yang lalu. Itu memang sudah jadi kebiasaanmu. Setiap musim buah, maka itu menjadi musim kedatanganmu di rumah nenek.
Kau memang jarang sekali ke rumah. Beruntung ada buah-buahan. Kakekmu yang terbaring di kebun belakang yang menanamnya. Mungkin kakek membaca tanda-tanda itu. Cucu-cucu akan berkumpul di rumah jika sedang musim buah-buahan.
Eh, sudah seberapa tinggimu? Kau sudah bisa bercermin di meja rias ibumu? Sesekali, saat bercermin, kagumilah rambut keritingmu sedari kecil. Tak usah hiraukan iklan-iklan sampo di TV nanti, bahwa wanita cantik itu rambutnya lurus. Pikiranmu saja yang diluruskan.
Sigi, jika kau sebuah perumpamaan, maka kau adalah sebuah rumah. Tempat di mana ingin untuk pulang kerap mengulang. Namun sebuah rumah pun bisa kehilangan kunci. Ayah kehilangan kunci itu, lalu dibiarkan tetap asing di luar rumah sembari berharap pintu itu terbuka.
Rumah tak selalu seperti dalam pikiran kita. Rumah bisa berubah menjadi sebuah kecemasan seketika. Seperti yang sedang ayah rasakan sekarang. Ayah masih tetap asing di matamu. Ayah belum menemukan kunci itu. Sigi, bisa membantu ayah menemukannya?
Hingga hari ini, kita berdua belum terlalu akrab. Kau tahu, Sigi. Meski begitu, ayah tetap menulis di blog ini setiap saat. Agar semakin banyak yang bisa kau baca nanti. Anggap saja ayah sedang mendongeng untukmu. Sebab ayah memang sedang membayangkan itu ketika sedang menulis.
Mungkin sampai kau mampu memahami nanti, sudah akan ada ribuan catatan di sini. Semuanya ayah tulis; tentang pekerjaan ayah, ketika kakek sakit, saat kakek berpulang, nenek sedang menyapu, puisi, cerpen, dongeng, bahkan kisah tentang tikus terperangkap dan kucing mati pun ada di sini. Semoga kau tak bosan membaca.
Jika kau tumbuh besar kelak, mungkin zamanmu akan sangat berbeda dari sekarang. Mobil-mobil sudah berterbangan, kalian berkomunikasi secara hologram, robot-robot suruhan seliweran, dan pelbagai kecanggihan lainnya.
Manusia akan semakin malas untuk beraktivitas. Sama seperti di film animasi Wall-E. Di zamanmu yang serba canggih, kau harus men-download dan menonton film itu. Nonton film lawas itu asyik. Kau bisa dibawa terlempar jauh ke yang purba. Kau bisa mengerti asal dan mengenal itu sesal.
Maka ketika masa-masa itu tiba, tetap rajinlah membaca. Semoga blog ini pun awet seiring waktu. Jika minatmu untuk menulis muncul kelak, maka mulailah menulis. Berimajinasilah sebanyak-banyaknya. Peradaban dimulai dari imajinasi.
Selamat hari ulang tahun, Sigi. Sudah yang kelima? Ups! Kau tumbuh begitu cepat!
Jumat, 22 April 2016
Gladys di Kota(razia)mobagu (6)
... "Apa?" (Baca sebelumnya: Bagian 5)
"Sigid."
Jeritan Lina mengagetkan seisi mikrolet. Cubitan Gladys tepat mendarat di pipi tembemnya. Kemudian, mikrolet itu disesaki nama Sigid. Sepanjang perjalanan.
***
Pertama kali memberitakan soal kasus korupsi yang, ternyata melibatkan beberapa pejabat penting di Kotamobagu, termasuk pamannya Indra. Media online kami dibanjiri ribuan pembaca. Sedangkan pertemanan di antara kami dan Indra, kini semakin kemarau. Retakan pertama, Indra menghapus aku, Umar, dan Deni dari pertemanan di semua media sosial.
Umar juga telah meniadakan nama paman Indra dari daftar donatur. Atau lebih tepat, nama samaran pamannya. Mereka memang terkecoh, sebab Indra berbohong bahwa donatur itu adalah kerabatnya di Bali. Jika saja Indra jujur bahwa pamannya yang menjadi donatur selama ini, sebenarnya tidak ada alasan untuk menolak. Hanya saja, jabatan pamannya itu memang cukup rentan. Apalagi beberapa orang teman pamannya, pernah terjerat kasus korupsi. Umar sendiri pernah mengutarakan kecurigaannya kepadaku. Bahwa paman Indra berada dalam lingkaran itu. Pada akhirnya, lingkaran itu mencipta liang yang cukup besar pada persahabatan kami.
Lamunanku buyar karena ponsel yang bergetar. Deni menelepon.
"Di mana?" tanya Deni.
"Kos. Kenapa?"
"Aku ke situ!" Deni menyudahi panggilan.
Aku penasaran, sebab belum mendapati penjelasan apa maksud Deni. Aku menyalakan laptop. Nyala layar membuat mataku memicing. Sedari pagi, tirai jendela kubiarkan tertutup. Dan ini sudah pukul 11 siang.
Hanya sela beberapa menit, pintu digedor. Aku bergegas membuka pintu.
"Gladys!" aku salah menduga.
"Maaf, aku terlalu keras mengetuk pintu," kata Gladys disusul senyuman.
"Tidak apa-apa. Kapan kembali?"
"Baru dua jam yang lalu."
"Masuk. Maaf berantakan."
Aku segera menyibak tirai lalu membuka jendela. Buku-buku yang berserakan di atas kasur kurapikan. Gladys mengelilingi seisi kamar dengan pandangan. Dia tampak memindai poster-poster yang menempel tak beraturan di tiga sisi dinding. Ada enam poster yang terbagi di tiap sisi dinding berbeda. Dicetak besar seukuran kulkas dua pintu.
Poster hitam-putih penyair Chairil Anwar, tepat berada di atas TV dengan posisi miring. Di sekelilingnya lembaran kertas buku menempel, juga tak beraturan. Gladys mendekat. Bait-bait puisi tampak tertera di tiap lembaran. Dengan tulisan tangan.
"Ini puisi-puisimu?" tanya Gladys.
"Ah, cuma coretan-coretan. Sebagian puisi-puisi Chairil."
Aku kembali sibuk merapikan kamar. Empat kaleng bir di lantai, segera meluncur ke keranjang sampah. Tentu saja, kaleng-kaleng itu kosong. Siapa yang tega menyisakan bir, yang bahkan buihnya mampu mendidihkan imajinasi.
Pandangan Gladys kembali merangkaki dinding. Poster kedua dicetak berwarna. Senyuman Mohammad Hatta mengukir di wajah teduhnya. Lembaran kertas di sekeliling poster, berisi kutipan-kutipan. Masih dengan tulisan tangan. Poster ketiga, karikatur hitam-putih Gus Dur. Tawa yang khas. Lembaran kertas yang sama berisi kutipan-kutipan mengelilingnya.
"Mau minum apa?" tanyaku.
"Ada bir?"
"Bir dingin?"
"Ah, aku bercanda. Ini masih terlalu siang untuk sekaleng bir. Kopi saja," kata Gladys.
"Barista beraksi! Aku menjerang air dulu." Aku berlari secepat Naruto dengan membungkuk dan kedua lengan lurus ke belakang, menuju dapur mini.
Yang tampak di depan Gladys kali ini, poster Munir. Posisinya tepat di atas poster Gus Dur, di satu sisi dinding yang sama. Warnanya didominasi merah. Di sisi dinding yang ketiga, senyum Joker memanjang hingga ke cuping telinga. Sedangkan poster terakhir, tampak Pramoedya Ananta Toer duduk menyamping. Jemarinya menari di atas mesin ketik antik.
"Dan alangkah indah kehidupan tanpa merangkak-rangkak..."
"... Di hadapan orang lain." Aku melanjutkan ucapan Gladys, yang tengah membaca kutipan dari Pramoedya Ananta Toer.
"Bagiku, kutipan itu sarat makna bagi seorang jurnalis. Oh, ya, ini kopinya." Aku menyodorkan secangkir kopi yang di atasnya masih berarak-arak sekumpulan awan.
"Kita melantai saja," ajakku.
Gladys segera menyambut cangkir kemudian selonjoran di lantai. Dia lantas mengejar perkataanku. "Kalimat itu, untuk seorang jurnalis hubungannya apa?"
"Aku pernah bercerita kepadamu, soal media yang sudah aku tinggalkan."
"Iya. Aku ingat,” kata Gladys. Dia lalu menyeruput kopi.
"Aku ingin bertanya sekali lagi. Sebenarnya alasanmu ingin menjadi seorang jurnalis itu apa? Alasan terbesarmu."
Terdengar hela napas Gladys. Dia hanya diam memelototi cangkir kopi.
Melihat Gladys hanya diam, aku melanjutkan, “Gladys, jika alasanmu balas dendam, maka yang ada dalam pikiranmu hanyalah kebencian.”
“Apakah, ketika aku ingin menjadi jurnalis, itu terlalu sulit bagimu?”
“Bukan begitu. Sebenarnya menjadi seorang jurnalis itu sederhana. Miliki nurani. Itu saja.”
Gladys memandangi aku begitu lama. Kedua bola matanya seakan meloncat masuk ke dalam mataku.
“Jika aku beralasan… Karena seseorang?”
“Maka ketika seseorang itu hilang, keinginanmu pun akan ikut pudar perlahan.”
“Dia tidak mungkin hilang. Aku baru saja menemukannya. Orang itu sekarang ada di depanku,” kata Gladys.
Kali ini, aku yang dibuatnya terdiam. Seperti ada bongkahan es yang tiba-tiba mengurut ulu hatiku.
Gladys lantas menggeser posisi duduknya. Kami seperti sebungkus rokok dan korek api. Begitu dekat. Pelan diraihnya kedua tanganku. Lalu dia menuntun dan melabuhkan tepat di pundaknya. Wajahnya semakin mendekat.
(Bersambung)
Sabtu, 16 April 2016
Surat Kegelisahan untuk Kompasdotkom
![]() |
| Sumber gambar: Iklan Aqua www.youtube.com |
To the point saja! (Aih, jadi ingat masa-masa SMA) Kegelisahan saya ini soal berita kompasdotkom, Sabtu 16 April. Judulnya saya nukil, Terkait Aksi "Kartini Kendeng", Ini Kata Dian Sastro.
Yaa... Dewa Mabuk. Seguci sudah nama Dian Sastro habis saya teguk dari pelbagai media. Kompasdotkom ngasih seguci lagi. Berita yang di judulnya tertera nama Mbak Dian itu di-tag Mbak Debby Mano. Dia Ketua AJI Kota Gorontalo yang lucu dan buncit. Dan ketika berita itu di-tag, dia nyinyir pula.
Begini katanya, "Petani modalnya air. Selebriti modalnya air mata. Pantas aja gak nyambung mbak ini. Bagi para pemuja dian sastro monggo dibaca, apa mo lanjut fans atau balik kanan hahahahahha."
Ketika saya iqro' beritanya...
Sungguh tega kalian kompasdotkom! Kenapa kalian tega mewawancarai Mbak Dian dan minta tanggapan atas aksi Mamak-mamak SuperSamin yang ngecor kaki mereka tempo hari?
Saat wartawan kalian mewawancarai, Mbak Dian ngomong (atau malah ngelantur), bahwa ada tanda tanya besar menyoal peran Papak-papak Samin. Dengan sangat dewasanya, Mbak Dian mempertanyakan apakah polemik itu terlalu politis bagi laki-laki. Kenapa menurutnya yang harus bicara malah perempuan?
Dan sekali lagi dengan sangat dewasanya Mbak Dian kasih komentar lagi. Bahwa Mamak-mamak Samin harus terlepas dari politik lalu kembali ke urusan domestik.
Huft! Debur di dada meretak karang. Tega sekali kompasdotkom mewawancarai Mbak Dian. Puas, kan? Baca tuh! Semakin ngelantur, kan?
Ehu! Tidak salah lagi!
Kompasdotkom, kalian sudah mewawancarai artis yang memiliki jadwal padat syuting iklan, film, pemotretan, dan lain sebagainya. Yang jarang nonton berita di TV. Yang jarang baca berita di koran atau media online. Yang nggak nonton dokumenter Samin Vs Semen padahal gratis di youtube. Yang luput membaca mojok.co.
Dan... Artis yang sudah beranjak dewasa.
Saya tidak ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan Mbak Dian. Cukup nonton Samin Vs Semen. Mbak Dian pasti melongo seperti di ending iklan Aqua.
Lalu biarkan saja para pembaca yang menakar, seberapa dewasanya Mbak Dian itu tumbuh. Seberapa tebal alis Mbak Dian. Dan seberapa kencang jogingnya. Puas, kompasdotkom? Itu, kan, yang kalian mau?
Kenapa juga, kalian kompasdotkom memilih mewawancarai Mbak Dian dari sekian banyak artis perempuan lainnya? Saya yakin alasannya bukan karena Mbak Dian bakal meranin Kartini. Dalam tubuh berita, juga tidak disinggung soal film Kartini.
Ini tentu ada kaitannya dengan demam Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2) yang tengah mewabah. Terus biar ngejar rating, tiba-tiba kepikiran mewawancarai Mbak Dian. Meski film AADC 2 juga tidak disebut dalam berita. Saya yakin dengan semua dugaan ini. Pasti soal rating. Sebab wabah AADC 2 telah dihirup lebih dahulu se-Endonesia. Lihat kan, beritanya sudah ribuan pembaca. Hiks. Sebagian besar pembaca pasti para penggemar AADC. Luluh-lantak sudah.
Kompasdotkom, yang kamu lakukan ke para penggemar itu, jahat!
Tapi, saya sebagai remaja yang unyu di tahun 80an, meski kesal dengan kompasdotkom, akhirnya bisa sedikit lega. Sebab saya sebenarnya bukan menggemari Mbak Dian dalam realita. Tapi menggemarinya dalam dunia fiksi. Jika AADC 2 nanti jelek, saya tetap masih punya Cinta yang belum dewasa di AADC 1. Yang alisnya masih sejumput.
Kompasdotkom, meski kalian jahat, tapi kalian telah membuka mata batin saya untuk bisa memilah. Yang mana Mbak Dian dan yang mana Cinta.
Jangan pernah dewasa, Cinta.
Jangan pernah joging di hutan karena ada pabrik semen.
Jangan pernah belok ke pantai karena ada reklamasi.
Kamis, 14 April 2016
Penambang dan Pohon-pohon Tumbang
Perjalanan pulang dari Kota Gorontalo menuju Kota Kotamobagu tempo hari, terasa begitu panjang. Penumpang lainnya yang terdiri dari para penambang tradisional, yang mengadu palu mereka di Desa Dongi-dongi, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, mengisi ruang-waktu dengan perbincangan mengenai 'seteru' yang terjadi di sana. Antara penambang dan aparat keamanan.
Ada sekira 8 mobil beserta kami, yang digunakan para penambang untuk pulang. Mereka semua berasal dari berbagai desa di Bolaang Mongondow. Keluh-kesah tumpah-ruah. Mereka mengaku kesal, sebab keputusan pemerintah dan aparat keamanan untuk menutup areal tambang itu, membuat sebagian dari mereka pulang dengan tangan hampa.
"Jika sampai di Kotamobagu, terus dikabarkan tambang itu kembali dibuka, maka kami akan segera kembali ke sana," celetuk salah satu penambang, di tengah perjalanan yang belum seperempat tempuh.
Saya yang sedari tadi penasaran coba melempar pertanyaan-pertanyaan. Sebab dari desa asal saya, Desa Passi Bersatu, hampir sebagian pemuda dan orang-orang tua, juga pergi mengadu nasib di sana. Termasuk kakak saya.
"Yang kemarin beredar videonya, itu peluru karet?"
"Iya, peluru karet. Tapi banyak yang luka-luka. Coba inga jo, waktu kacili torang baramain prang-prang pake pluru dari tali kursi, saki to? (Coba diingat saja, sewaktu kecil kita bermain perang-perangan menggunakan peluru dari tali kursi, sakit kan?)" kata penambang yang satunya lagi.
Mengenai pungli yang dilakukan aparat pun mereka benarkan. Bahwa ketika hendak mengangkut material menuju tempat pengolahan, mereka kerap dimintai uang.
"Pokoknya lumayan kalau ditabung. Bisa beli motor jika puluhan penambang yang dimintai," kata seorang penambang yang duduk di kursi paling belakang.
"Yang 'dua bunga' saja suka mangkal di sana," terangnya lagi. Tanda pangkat seorang aparat pun diutarakannya.
Areal tambang di Desa Dongi-dongi yang tengah ramai itu, memang terletak di Taman Nasional Lore Lindu (TNLL). Hal itu yang menjadi alasan pemerintah daerah dan aparat keamanan untuk menutup pertambangan. Namun yang sangat disayangkan, jika niat untuk menutup areal pertambangan baru mencuat, ketika mereka sebagai penegak hukum telah puas menikmati hasilnya.
Para penambang yang terdiri dari masyarakat lokal dan pendatang, merasa diperas. Mereka yang menggaruk tanah, memalu, mengangkut, dan mengolah. Dan ketika mereka ingin menikmat, ternyata hasilnya harus dibagi lagi dengan aparat. Lalu tiba-tiba tambang ditutup.
Beberapa lembaga pemerhati lingkungan di Sulawesi Tengah, menyatakan pertambangan di Dongi-dongi bisa meningkat dengan cepat, sebab adanya sokongan aparat, baik TNI maupun POLRI. Tapi saya sendiri juga sedikit menyangsikan, sebab lembaga-lembaga pemerhati lingkungan seperti itu pun, terkadang lengan mereka juga ikut berlumpur.
Namun tidak bisa pula dipungkiri, bahwa jika aparat benar-benar turut mengamankan, maka keberadaan tambang ilegal di Dongi-dongi sejatinya tidak akan semenjamur itu. Dampak bagi rusaknya lingkungan, apalagi wilayah pertambangan yang terletak di TNLL, memang sangat mengancam.
Selain bencana banjir dan longsor sebab adanya pembukaan lahan dan penebangan pohon, potensi tercemarnya aliran sungai pun sangat mungkin. Apalagi di Dongi-dongi, terdapat sungai Sopu.
"Memang di areal tambang telah banyak pohon tumbang," kata sopir yang ternyata, sudah beberapa kali ke Dongi-dongi, untuk menjemput para penambang. Ia mengaku pernah menuju lokasi pertambangan di wilayah TNLL.
"Itu juga yang sebenarnya salah, tapi mau apalagi, kita-kita juga butuh makan," kata seorang penambang lagi.
Sudah hampir setengah perjalanan, seiring waktu ke enam orang penambang itu akhirnya diam. Mungkin mereka lelah. Saya pun akhirnya tertidur pulas. Saya dibangunkan sopir, yang memberitahu bahwa kami sedang mampir di sebuah rumah makan. Tepat di Desa Bintauna, Bolaang Mongondow Utara.
Hampir seisi rumah makan dipenuhi para penambang. Mobil-mobil yang mereka pakai beriringan tadi, juga memilih singgah di rumah makan yang sama.
Usai menandaskan makanan, kami melanjutkan perjalanan. Karena kekenyangan, saya kembali tertidur. Saya terbangun ketika kami sudah berada di Desa Lolak. Sepanjang perjalanan, pepohonan rindang saling merangkul, menjadi peneduh jalan. Sepanjang Lolak hingga beberapa desa berikutnya, hampir setiap jalan dipenuhi pohon. Saya mengabadikan momen itu, lewat foto dan video dari ponsel.
Beberapa puluh menit kemudian, Kota Kotamobagu telah di depan mata. Sopir menanyakan di mana saja para penumpang hendak turun. Saya memilih turun di terminal tempat bentor-bentor Passi berkumpul.
Sopir mengambil jalur kiri, saat berpas-pasan dengan simpang empat di Kelurahan Mogolaing. Mobil yang kami tumpangi menuju ke arah kantor Dinas Pendidikan Kota Kotamobagu.
Kemudian... Pemandangan di depan kami sangat miris. Pohon-pohon yang sengaja ditanam di sepanjang jalan, tak lagi saling merangkul, seperti saat menemu Desa Lolak. Di samping kanan, pohon-pohon bertumbangan. Tepat di depan kantor Dinas Pendidikan.
"Nah, di sana (Dongi-dongi), pemerintah dan aparat melarang menebang pohon. Ini, malah pemerintah yang menebang pohon," kata seorang penambang.
Saya segera menyalakan perekam video di ponsel. Sepanjang jalan, pohon-pohon rebah. Gerimis yang sedari tadi menyambut kami ketika sampai di gerbang Kotamobagu, mendramatisir keadaan yang kami temui.
Ucapan penambang tadi, meski jauh di lubuk hatinya, saya bisa memahami bahwa ia seakan ingin mencari pembelaan, atas apa yang telah mereka lakukan di areal pertambangan. Ketika pemerintah menyalahkan mereka, ternyata pemerintah sendiri pun kerap berbuat hal yang sama.
Kamis, 07 April 2016
Gladys di Kota(razia)mobagu (5)
... Tak seperti hati kami yang seketika mendung. (Baca sebelumnya: Bagian 4)
***
Sore mulai menguning. Tapi suasana desa masih begitu ramai. Rumah-rumah warga penganut Hindu bising oleh tawa. Beberapa Ogoh-ogoh telah berbentuk raksasa. Mereka tinggal mewarnai dan memberi atribut-atribut pelengkap.
Gladys dan Lina tampak sibuk membantu merapikan gelas-gelas dan piring-piring yang bertebaran.
"Ayo, kita pamit pulang," ajak ibu Gladys. "Ayahmu nanti menyusul."
Perempuan-perempuan selalu lebih dulu pulang. Tugas mereka akan berlanjut di rumah. Tepat di persimpangan jalan, Lina pamit kepada Gladys dan ibunya.
"Aku ke rumah dulu," kata Lina. Dia sudah seharian bersama Gladys dan belum mengabari orangtuanya.
"Sampaikan maaf kepada orangtuamu, Lin. Seharian aku memaksamu menjadi pengawal," kelakar Gladys itu, mengundang tinju pelan dari Lina.
Di perjalanan pulang, ibunya menemukan kegelisahan di mata Gladys. Ibunya coba menggali dengan basa-basi.
"Bagaimana kuliahmu?"
"Berharap cepat selesai."
"Selama ini, kau belum pernah menyatakan pilihan pekerjaan jika nanti tamat kuliah."
Kegelisahan Gladys, seperti terbaca dan diberi retakan oleh ibunya. Dari retakan itu, ibunya berharap kegelisahan Gladys bisa mengalir keluar. Perempuan memang lihai dalam soal kepekaan. Terlebih itu adalah anaknya sendiri.
"Aku ingin jadi wartawan," ucapannya begitu pelan namun tegas. Langkah ibunya tertahan.
"Alasanmu?" Dari sorot mata ibunya, Gladys menemu sorot yang sama di mata Lina, ketika mereka membicarakan soal keputusannya untuk menjadi wartawan.
"Aku suka menulis. Lagipula fakultas yang aku ambil tidak bakal menyulitkan nanti." Gladys coba meyakinkan ibunya.
"Kau kan, kuliahnya di fakultas hukum?" tanya ibunya.
"Wartawan dengan basis ilmu hukum, malah lebih paham dengan aturan-aturan," jawab Gladys.
"Ibu tidak mempermasalahkan pilihanmu. Tapi bagaimana caramu meyakinkan ayahmu?" Langkah ibunya kembali menjejaki jalan. Gladys mengikutinya.
"Ibu mungkin bisa membantu Gladys."
Ucapan Gladys, ditanggapi ibunya dengan diam. Selama perjalanan menuju rumah, hanya terdengar suara kerikil yang tergilas sendal. Ibunya memang berharap lebih dari sekadar menjadi seorang wartawan. Impian setiap orangtua pasti selalu yang terbaik untuk anaknya. Dengan berharap agar Gladys kelak bisa menjadi jaksa, pengacara, atau hakim. Gladys adalah putri satu-satunya. Dan untuk melanjutkan pendidikan, bukanlah suatu kesulitan bagi orangtuanya.
***
Berbotol-botol bir yang telah kosong menghuni kardus. Masih ada tiga botol yang tertutup rapat, dan satu botol setengah isi di atas meja. Sementara gelas penuh di genggaman Indra, buihnya meluncur di dinding gelas. Mata Indra merah. Ada amarah di sana.
"Jadi, kalian tetap ingin memuat beritanya?" suara Indra meninggi.
Rumah Deni kebetulan sepi. Orangtuanya sedang ke rumah kakaknya di luar kota. Rumah-rumah tetangga juga jaraknya berpuluh-puluh meter. Kediaman Deni memang serupa vila yang menyendiri.
"Indra, kami menemanimu minum, karena ingin membicarakan persoalan ini dengan lebih jujur," kata Umar coba menenangkan.
"Kalian tahu! Media kita ini... Pamanku juga donaturnya!"
Ucapan Indra kali ini membikin hening. Langit yang mulai gelap, mengubah deretan botol di atas meja menjadi siluet. Mereka masih terdiam dipayungi rindang dedaunan yang berdesir tertiup angin.
"Aku menyalakan lampu di rumah dulu. Hari mulai gelap," sela Deni.
Hanya sekejap, Deni kembali sambil membawa laptop. Aku memandangnya heran. Entah apa maksudnya membawa laptop kemari. Deni meletakkan laptop di atas meja lalu menyalakannya. Botol-botol bir tampak berkilauan disinari nyala layar. Sebatang modem dicolok. Seketika, tubuh www.koyow.com berdiri di sana. Tepat ke arah Indra.
"Indra. Ketika kita rembuk mendirikan media ini, satu hal yang pernah kita sepakati dulu masih berlaku. Untuk membenci pertengkaran karena uang," ucap Deni pelan.
"Dan kali ini... Meski masalah yang menjadi tengkar kita berbeda. Tapi ini juga soal uang." Deni semakin serius dengan perkataannya.
"Den, aku hanya coba..." Indra menyela.
Belum usai Indra dengan kalimatnya, Deni menyela, "Kenapa kau tidak jujur?"
"Aku hanya ingin agar media kita bisa menjadi besar. Kantor saja kita belum punya. Aku berharap uang dari donatur-donatur kita, bisa dipakai menyewa tempat untuk dijadikan kantor," jelas Indra.
"Aku menerima maksud baikmu. Tapi ketidakjujuranmu itu!"
"Den, berapa orang sih, yang mau mendanai media kita ini? Dan pamanku satu dari lima orang yang dengan sukarela melakukan itu!"
"Sebenarnya masalahnya sederhana. Kita hanya mencoret nama pamanmu dari daftar donatur. Itu saja," Umar tiba-tiba menyela.
"Lalu tetap memberitakan kasusnya?" ucapan Indra kembali meninggi.
"Kesepakatan kita membuat media ini, adalah memberitakan tanpa memandang siapapun. Tagline itu terpampang jelas!" Deni kali ini menunjuk sebaris slogan di layar laptop.
Saya yang sedari tadi diam, akhirnya memilih mencebur ke dalam arus yang semakin deras itu.
"Indra, kasus pamanmu itu adalah soal uang rakyat. Dan satu-satunya bos kita adalah warga. Jalan pesan yang independen," saya menukil slogan media kami di akhir kalimat. Slogan yang bermakna bahwa jurnalis adalah tempat warga menitip pesan untuk mengawasi penguasa. Koyow yang kami pilih menjadi nama media, sesuai dengan bahasa daerah kami yang artinya... Pesan.
Indra menutup matanya. Kemudian, sekali teguk, gelas yang sedari tadi di genggamannya menyisa buih. Dia beranjak dari duduk.
"Aku mundur dari media ini!"
Langkahnya begitu cepat. Meninggalkan kami yang saling bertukar pandang. Lama baru terdengar suara mobil dihidupkan. Selang beberapa menit, lampu mobil menyala. Sorot lampunya tepat mengarah pada kami. Indra seperti ingin memastikan, adakah sesal di wajah kami. Mobil memutar, lalu pergi menembus malam.
***
Seminggu sudah Gladys menghabiskan waktu di desanya. Ogoh-ogoh telah diarak keliling. Sepi juga telah membungkam seisi desa. Sekaligus melarung gelisah di hatinya.
Di punggung Gladys telah menggantung ransel. Lina yang lebih dahulu menunggu di dalam mikrolet, menyambut Gladys dengan senyuman.
"Tumben, wajahmu kelihatan bahagia meninggalkan desa ini?" tanya Lina.
"Ah, desa ini hanya sejengkal saja dari kota. Kenapa harus sedih?"
"Iya, tapi biasanya kau sedih."
"Ada hal yang membuatku bahagia," kata Gladys. Senyum melengkung di wajahnya.
"Memangnya kenapa?"
"Ayah, akhirnya mengalah. Dia tidak mempermasalahkan impianku untuk menjadi... Seorang jurnalis!"
"Kau sudah bilang ke ayah dan ibumu?"
"Selain teror di Kota... Razia... Mobagu... Dan juga Ogoh-ogoh. Niat aku pulang, ingin menyampaikan hal itu pada ayah dan ibu." Senyum Gladys bertambah lebar. Menjadi seorang jurnalis, sepertinya dia sudah tidak sabar.
"Aku sepertinya menjaring alasan yang satunya lagi, kenapa kau kelihatan begitu bahagia," perkataan Lina, seketika merubah senyum Gladys menjadi jungur.
"Apa?"
Sore mulai menguning. Tapi suasana desa masih begitu ramai. Rumah-rumah warga penganut Hindu bising oleh tawa. Beberapa Ogoh-ogoh telah berbentuk raksasa. Mereka tinggal mewarnai dan memberi atribut-atribut pelengkap.
Gladys dan Lina tampak sibuk membantu merapikan gelas-gelas dan piring-piring yang bertebaran.
"Ayo, kita pamit pulang," ajak ibu Gladys. "Ayahmu nanti menyusul."
Perempuan-perempuan selalu lebih dulu pulang. Tugas mereka akan berlanjut di rumah. Tepat di persimpangan jalan, Lina pamit kepada Gladys dan ibunya.
"Aku ke rumah dulu," kata Lina. Dia sudah seharian bersama Gladys dan belum mengabari orangtuanya.
"Sampaikan maaf kepada orangtuamu, Lin. Seharian aku memaksamu menjadi pengawal," kelakar Gladys itu, mengundang tinju pelan dari Lina.
Di perjalanan pulang, ibunya menemukan kegelisahan di mata Gladys. Ibunya coba menggali dengan basa-basi.
"Bagaimana kuliahmu?"
"Berharap cepat selesai."
"Selama ini, kau belum pernah menyatakan pilihan pekerjaan jika nanti tamat kuliah."
Kegelisahan Gladys, seperti terbaca dan diberi retakan oleh ibunya. Dari retakan itu, ibunya berharap kegelisahan Gladys bisa mengalir keluar. Perempuan memang lihai dalam soal kepekaan. Terlebih itu adalah anaknya sendiri.
"Aku ingin jadi wartawan," ucapannya begitu pelan namun tegas. Langkah ibunya tertahan.
"Alasanmu?" Dari sorot mata ibunya, Gladys menemu sorot yang sama di mata Lina, ketika mereka membicarakan soal keputusannya untuk menjadi wartawan.
"Aku suka menulis. Lagipula fakultas yang aku ambil tidak bakal menyulitkan nanti." Gladys coba meyakinkan ibunya.
"Kau kan, kuliahnya di fakultas hukum?" tanya ibunya.
"Wartawan dengan basis ilmu hukum, malah lebih paham dengan aturan-aturan," jawab Gladys.
"Ibu tidak mempermasalahkan pilihanmu. Tapi bagaimana caramu meyakinkan ayahmu?" Langkah ibunya kembali menjejaki jalan. Gladys mengikutinya.
"Ibu mungkin bisa membantu Gladys."
Ucapan Gladys, ditanggapi ibunya dengan diam. Selama perjalanan menuju rumah, hanya terdengar suara kerikil yang tergilas sendal. Ibunya memang berharap lebih dari sekadar menjadi seorang wartawan. Impian setiap orangtua pasti selalu yang terbaik untuk anaknya. Dengan berharap agar Gladys kelak bisa menjadi jaksa, pengacara, atau hakim. Gladys adalah putri satu-satunya. Dan untuk melanjutkan pendidikan, bukanlah suatu kesulitan bagi orangtuanya.
***
Berbotol-botol bir yang telah kosong menghuni kardus. Masih ada tiga botol yang tertutup rapat, dan satu botol setengah isi di atas meja. Sementara gelas penuh di genggaman Indra, buihnya meluncur di dinding gelas. Mata Indra merah. Ada amarah di sana.
"Jadi, kalian tetap ingin memuat beritanya?" suara Indra meninggi.
Rumah Deni kebetulan sepi. Orangtuanya sedang ke rumah kakaknya di luar kota. Rumah-rumah tetangga juga jaraknya berpuluh-puluh meter. Kediaman Deni memang serupa vila yang menyendiri.
"Indra, kami menemanimu minum, karena ingin membicarakan persoalan ini dengan lebih jujur," kata Umar coba menenangkan.
"Kalian tahu! Media kita ini... Pamanku juga donaturnya!"
Ucapan Indra kali ini membikin hening. Langit yang mulai gelap, mengubah deretan botol di atas meja menjadi siluet. Mereka masih terdiam dipayungi rindang dedaunan yang berdesir tertiup angin.
"Aku menyalakan lampu di rumah dulu. Hari mulai gelap," sela Deni.
Hanya sekejap, Deni kembali sambil membawa laptop. Aku memandangnya heran. Entah apa maksudnya membawa laptop kemari. Deni meletakkan laptop di atas meja lalu menyalakannya. Botol-botol bir tampak berkilauan disinari nyala layar. Sebatang modem dicolok. Seketika, tubuh www.koyow.com berdiri di sana. Tepat ke arah Indra.
"Indra. Ketika kita rembuk mendirikan media ini, satu hal yang pernah kita sepakati dulu masih berlaku. Untuk membenci pertengkaran karena uang," ucap Deni pelan.
"Dan kali ini... Meski masalah yang menjadi tengkar kita berbeda. Tapi ini juga soal uang." Deni semakin serius dengan perkataannya.
"Den, aku hanya coba..." Indra menyela.
Belum usai Indra dengan kalimatnya, Deni menyela, "Kenapa kau tidak jujur?"
"Aku hanya ingin agar media kita bisa menjadi besar. Kantor saja kita belum punya. Aku berharap uang dari donatur-donatur kita, bisa dipakai menyewa tempat untuk dijadikan kantor," jelas Indra.
"Aku menerima maksud baikmu. Tapi ketidakjujuranmu itu!"
"Den, berapa orang sih, yang mau mendanai media kita ini? Dan pamanku satu dari lima orang yang dengan sukarela melakukan itu!"
"Sebenarnya masalahnya sederhana. Kita hanya mencoret nama pamanmu dari daftar donatur. Itu saja," Umar tiba-tiba menyela.
"Lalu tetap memberitakan kasusnya?" ucapan Indra kembali meninggi.
"Kesepakatan kita membuat media ini, adalah memberitakan tanpa memandang siapapun. Tagline itu terpampang jelas!" Deni kali ini menunjuk sebaris slogan di layar laptop.
Saya yang sedari tadi diam, akhirnya memilih mencebur ke dalam arus yang semakin deras itu.
"Indra, kasus pamanmu itu adalah soal uang rakyat. Dan satu-satunya bos kita adalah warga. Jalan pesan yang independen," saya menukil slogan media kami di akhir kalimat. Slogan yang bermakna bahwa jurnalis adalah tempat warga menitip pesan untuk mengawasi penguasa. Koyow yang kami pilih menjadi nama media, sesuai dengan bahasa daerah kami yang artinya... Pesan.
Indra menutup matanya. Kemudian, sekali teguk, gelas yang sedari tadi di genggamannya menyisa buih. Dia beranjak dari duduk.
"Aku mundur dari media ini!"
Langkahnya begitu cepat. Meninggalkan kami yang saling bertukar pandang. Lama baru terdengar suara mobil dihidupkan. Selang beberapa menit, lampu mobil menyala. Sorot lampunya tepat mengarah pada kami. Indra seperti ingin memastikan, adakah sesal di wajah kami. Mobil memutar, lalu pergi menembus malam.
***
Seminggu sudah Gladys menghabiskan waktu di desanya. Ogoh-ogoh telah diarak keliling. Sepi juga telah membungkam seisi desa. Sekaligus melarung gelisah di hatinya.
Di punggung Gladys telah menggantung ransel. Lina yang lebih dahulu menunggu di dalam mikrolet, menyambut Gladys dengan senyuman.
"Tumben, wajahmu kelihatan bahagia meninggalkan desa ini?" tanya Lina.
"Ah, desa ini hanya sejengkal saja dari kota. Kenapa harus sedih?"
"Iya, tapi biasanya kau sedih."
"Ada hal yang membuatku bahagia," kata Gladys. Senyum melengkung di wajahnya.
"Memangnya kenapa?"
"Ayah, akhirnya mengalah. Dia tidak mempermasalahkan impianku untuk menjadi... Seorang jurnalis!"
"Kau sudah bilang ke ayah dan ibumu?"
"Selain teror di Kota... Razia... Mobagu... Dan juga Ogoh-ogoh. Niat aku pulang, ingin menyampaikan hal itu pada ayah dan ibu." Senyum Gladys bertambah lebar. Menjadi seorang jurnalis, sepertinya dia sudah tidak sabar.
"Aku sepertinya menjaring alasan yang satunya lagi, kenapa kau kelihatan begitu bahagia," perkataan Lina, seketika merubah senyum Gladys menjadi jungur.
"Apa?"
Langganan:
Postingan
(
Atom
)








