Minggu, 12 April 2020
Seandainya ...
Tepat di hari raya usia yang kebetulan seiring perayaan Paskah oleh kawan-kawan nasrani, saya terbangun dan menemukan berbagai bentuk ucapan. Saat membuka Instagram, WhatsApp, Facebook, dan Telegram, yang berserakan hanya kebahagiaan.
Saya seketika membayangkan, di tengah pandemi global ini, seandainya setiap orang yang positif Covid-19, mendapat ucapan serupa dengan narasi berbeda-beda yang terus menyemangati mereka? Mungkin, stigma kepada mereka akan pudar. Yang ada hanya kebahagiaan membedaki langit-langit kamar mereka atau ruang di mana mereka dirawat. Mereka yang masih bisa mengakses ponsel mungkin bisa membaca setiap dukungan kita. Mereka yang berventilator dengan mata yang masih terbuka, mungkin bisa ditunjukkan oleh perawatnya bahwa di luar sana ada banyak orang yang menyemangatinya.
Kemarin saya membaca berita yang menuliskan Ikatan Dokter Indonesia tak mempermasalahkan jika data pribadi para pasien dibuka. Beberapa hari sebelum berita ini saya baca, saya dan seorang kawan sempat berbincang tentang ini. Bisa jadi, stigma kepada mereka yang suspect, PDP, ODP, dan segala deret istilah yang dilekatkan pemerintah kepada mereka, berandil menciptakan stigma itu, atau ketika para pasien diubah menjadi angka. Saya dan kawan ini pun bersepakat, bahwa data pribadi mereka memang tak perlu disembunyikan.
Penolakan-penolakan terhadap jenazah yang meninggal akibat Covid-19, menyiratkan bahwa sebagian orang belum benar-benar memahami apa yang mereka hadapi. Ketika melihat video-video pemakaman, saya bersedih bukan karena tak ada orang atau keluarga yang hadir, tapi karena beberapa di antaranya dimakamkan di sudut tanah lapang, seolah-olah terkucilkan hingga mereka berpulang. Apa tidak sebaiknya pemerintah menganjurkan agar jenazah bisa dimakamkan di pemakaman umum atau pemakaman keluarga berdampingan dengan orang-orang yang mereka kasihi. Lahan khusus pemakaman jenazah Covid-19 mungkin bisa dipakai jika sehari atau sepekan jumlah kematian mencapai puluhan.
Beredar pula video ketika seorang perawat perempuan melangkah keluar dari tempat tinggalnya menuju mobil yang terparkir. Di punggung jaketnya tertulis: ambulance. Ia terkejut ketika tiba-tiba suasana menjadi riuh. Gelegar tepuk tangan dari tetangganya, mengiringi niatnya untuk bertugas di masa-masa wabah ini mengancam setiap yang bernyawa. Wajahnya seketika memerah. Ia menangis. Peran-peran kemanusiaan seperti ini layak menjalar dari setiap jemari kita.
Setiap akun media sosial adalah bayangan wajah kita dalam cermin. Kita bisa memindai kepribadian atau masalah seseorang hanya dari unggahan mereka. Di masa-masa sulit seperti ini, kita bisa membaca kawan-kawan kita yang harus mengemasi meja kerja mereka, bukan karena harus bekerja di rumah, tapi karena di-PHK perusahaan tempat ia bekerja. Sebagian orang mungkin bersedih ketika mata pencaharian hilang begitu saja, tapi jauh lebih dalam, ada orang-orang yang lebih bersedih sebab kantor itu adalah tempat ia bisa berkarya. Tempat ia selama berminggu-minggu menyiapkan apa saja dengan penuh semangat.
Sebelum pandemi ini terasa mengintai kita lebih dekat, saya dan seorang kawan di sela-sela pekerjaan, coba menyiapkan usulan-usulan liputan untuk media lain. Hampir sebulan kami menyiapkannya. Saya sampai melakukan detoks media sosial atau menon-aktifkan beberapa akun hampir sebulan, agar fokus dengan pekerjaan ini. Sebagai jurnalis lepas, beginilah cara kami menyiasati agar saku kami tak melulu kosong. Tapi ketika pandemi ini tiba, semuanya tertunda. Beruntung ada saja kawan yang rela membagi pekerjaan mereka untuk kami kerjakan dan diupah.
Bukan hanya pedagang kaki lima, mama-mama penjual pinang dan penganan lokal, warung-warung makan, atau kedai-kedai kopi yang merasakan dampak buruk dari pandemi ini. Segala jenis usaha diliputi awan kelabu. Setiap orang mengecek isi dompetnya, rekeningnya, atau bahkan terpaksa membanting celengan mereka.
Setiap yang agamais juga diajak menepi. Barangkali, Tuhan memang ingin kita merenung, bahwa riuh doa di rumah-rumah ibadah kita yang berkilauan, atau di tanah lapang yang disesaki ribuan umat, tak sebanding ketika kita bersunyi-sunyi dengan-Nya dalam doa dan ibadah.
Seandainya kita bisa selamat dari pandemi ini, kita perlu sadar bahwa kita tak bisa hidup tanpa saling mendukung satu sama lain dalam kemanusiaan. Hal yang sebenarnya telah berkali-kali diajarkan orang-orang Papua kepada kita.
Jumat, 10 April 2020
Bocah
Apa yang kau inginkan jika di hari ulang tahunmu, kau diberi satu permintaan keajaiban?
Aku ingin kembali menjadi bocah dan tak pernah tumbuh dewasa.
Usia yang paling aku impikan adalah ketika menjadi balita. Mungkin empat tahun. Karena ketika lima tahun, aku sudah mulai berseragam dan dipaksa bangun lalu mandi pagi. Pergi ke sekolah dasar tanpa melewati masa taman kanak-kanak, karena di usia lima aku sudah bisa membaca dan berhitung.
Kanak-kanak adalah masa keajaiban yang terampas saat kita perlahan-lahan tumbuh. Masa yang belum memikirkan tentang cinta, segala keributan orang-orang dewasa, atau keharusan untuk pergi bersekolah. Kita hanya hidup dalam dunia bermain.
Sesekali aku mencuri dengar kakak-kakak perempuanku berkisah tentang cinta monyet mereka di sekolah, sambil aku sibuk menghabiskan permen. Aku tak terganggu dengan kisah mereka, sebab yang ada di kepalaku hanya: apa yang harus kumakan setelah permen ini habis?
Aku termasuk anak yang dimanjakan karena bungsu dari banyak kakak. Mereka akan bergantian mencubit pipiku, memangkuku, atau membawaku pergi ke tempat-tempat baru yang belum pernah kujangkau. Tentu saja, ketika mereka memiliki sisa jajan sekolah, aku kerap diberi jatah meski tak pernah meminta. Pemilik warung-warung akan selalu tersenyum kepadaku, ketika kakakku membawaku berbelanja apa yang aku suka.
Nenek dari sebelah ibuku yang tinggal di rumah kami adalah idolaku. Nenek sering menyelipkan uang pemberian kerabat di gulungan sarungnya. Ia tak pandai berbelanja dan membagi uangnya kepada kami cucu-cucunya. Jika nilai uangku banyak, kadang kakak-kakakku kerap menipuku. Mereka akan berbelanja makanan ringan atau kue, lalu uang kembalian berlembar-lembar atau koin yang lebih banyak meski nilainya sedikit, akan mereka kembalikan kepadaku.
"Ini, uangnya jadi banyak, kan?"
Aku senang dan tidak merasa tertipu. Betapa menyenangkan menjadi anak-anak, bukan? Seandainya aku tumbuh dewasa dan menjadi seperti mereka, rasa-rasanya aku akan berbuat hal serupa.
Tapi kakak-kakakku kerap mengalah jika menyoal makanan. Bagi mereka, mulut mungil dan usus pendekku tentu membuatku lebih dulu kenyang. Sisa-sisa kue atau buah yang tak habis aku makan, selalu menjadi rebutan mereka. Aku kadang memutuskan kepada siapa sisa makanan kuberikan.
Semua hal di atas, tentu tak akan terulang lagi. Fisik kita terus bertumbuh, lalu berhenti ketika dewasa. Selanjutnya yang menjalar adalah pikiran dan hati. Kita mulai dikenalkan dengan cinta, sampai akhirnya menikah, lalu memiliki anak. Terasa aneh saat kita masih mengingat kenangan masa kanak-kanak, lantas melihat masa-masa itu dalam wujud berbeda dan kali ini ialah anak kita.
Mengenai percintaan, aku memiliki seorang kerabat laki-laki yang meski ia jauh lebih muda dariku, kami sering berbincang tentang dunia cinta. Aku kagum kepadanya, meski pernah sekali aku menyelamatkan kisah cintanya yang nyaris berakhir. Sampai suatu hari, kami tiba pada percakapan yang aku anggap puncak dari segala riuh sebuah hubungan.
"Kau tahu, kenapa banyak kawan-kawanku iri kepadaku?" katanya.
"Soal pacaran?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Mereka merasa iri, karena sedahsyat apa pun masalahnya, sampai aku ketahuan dengan cewek lain, pacarku tetap memilih bersamaku."
Aku kemudian ingat dengan beberapa film yang pernah aku tonton. Aku memaknainya bahwa sebuah hubungan yang berkali-kali diterpa badai namun bertahan olehnya, kelak hubungan itu akan sekokoh gunung. Bahkan ketika gunung menghancurkan dirinya sendiri, ia masih bisa disebut sebuah gunung.
"Seperti itu. Aku pikir, ketika masalah-masalah ini telah kami lalui, masalah berikutnya yang akan kami temui ketika menikah, hanya akan menjadi receh. Karena semua yang terberat sekalipun, berhasil kami lewati," katanya.
Itulah yang membuat aku kagum kepadanya. Ada banyak pasangan di luar sana, bahkan hidup bersama selama bertahun-tahun, baru mereka memutuskan untuk menikah. Mereka melewati dulu segala badai bersama, karena pernikahan bagi mereka begitu sakral untuk diakhiri dengan sebuah perpisahan.
Aku ingin kembali menjadi bocah dan tak pernah tumbuh dewasa.
Usia yang paling aku impikan adalah ketika menjadi balita. Mungkin empat tahun. Karena ketika lima tahun, aku sudah mulai berseragam dan dipaksa bangun lalu mandi pagi. Pergi ke sekolah dasar tanpa melewati masa taman kanak-kanak, karena di usia lima aku sudah bisa membaca dan berhitung.
Kanak-kanak adalah masa keajaiban yang terampas saat kita perlahan-lahan tumbuh. Masa yang belum memikirkan tentang cinta, segala keributan orang-orang dewasa, atau keharusan untuk pergi bersekolah. Kita hanya hidup dalam dunia bermain.
Sesekali aku mencuri dengar kakak-kakak perempuanku berkisah tentang cinta monyet mereka di sekolah, sambil aku sibuk menghabiskan permen. Aku tak terganggu dengan kisah mereka, sebab yang ada di kepalaku hanya: apa yang harus kumakan setelah permen ini habis?
Aku termasuk anak yang dimanjakan karena bungsu dari banyak kakak. Mereka akan bergantian mencubit pipiku, memangkuku, atau membawaku pergi ke tempat-tempat baru yang belum pernah kujangkau. Tentu saja, ketika mereka memiliki sisa jajan sekolah, aku kerap diberi jatah meski tak pernah meminta. Pemilik warung-warung akan selalu tersenyum kepadaku, ketika kakakku membawaku berbelanja apa yang aku suka.
Nenek dari sebelah ibuku yang tinggal di rumah kami adalah idolaku. Nenek sering menyelipkan uang pemberian kerabat di gulungan sarungnya. Ia tak pandai berbelanja dan membagi uangnya kepada kami cucu-cucunya. Jika nilai uangku banyak, kadang kakak-kakakku kerap menipuku. Mereka akan berbelanja makanan ringan atau kue, lalu uang kembalian berlembar-lembar atau koin yang lebih banyak meski nilainya sedikit, akan mereka kembalikan kepadaku.
"Ini, uangnya jadi banyak, kan?"
Aku senang dan tidak merasa tertipu. Betapa menyenangkan menjadi anak-anak, bukan? Seandainya aku tumbuh dewasa dan menjadi seperti mereka, rasa-rasanya aku akan berbuat hal serupa.
Tapi kakak-kakakku kerap mengalah jika menyoal makanan. Bagi mereka, mulut mungil dan usus pendekku tentu membuatku lebih dulu kenyang. Sisa-sisa kue atau buah yang tak habis aku makan, selalu menjadi rebutan mereka. Aku kadang memutuskan kepada siapa sisa makanan kuberikan.
Semua hal di atas, tentu tak akan terulang lagi. Fisik kita terus bertumbuh, lalu berhenti ketika dewasa. Selanjutnya yang menjalar adalah pikiran dan hati. Kita mulai dikenalkan dengan cinta, sampai akhirnya menikah, lalu memiliki anak. Terasa aneh saat kita masih mengingat kenangan masa kanak-kanak, lantas melihat masa-masa itu dalam wujud berbeda dan kali ini ialah anak kita.
Mengenai percintaan, aku memiliki seorang kerabat laki-laki yang meski ia jauh lebih muda dariku, kami sering berbincang tentang dunia cinta. Aku kagum kepadanya, meski pernah sekali aku menyelamatkan kisah cintanya yang nyaris berakhir. Sampai suatu hari, kami tiba pada percakapan yang aku anggap puncak dari segala riuh sebuah hubungan.
"Kau tahu, kenapa banyak kawan-kawanku iri kepadaku?" katanya.
"Soal pacaran?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Mereka merasa iri, karena sedahsyat apa pun masalahnya, sampai aku ketahuan dengan cewek lain, pacarku tetap memilih bersamaku."
Aku kemudian ingat dengan beberapa film yang pernah aku tonton. Aku memaknainya bahwa sebuah hubungan yang berkali-kali diterpa badai namun bertahan olehnya, kelak hubungan itu akan sekokoh gunung. Bahkan ketika gunung menghancurkan dirinya sendiri, ia masih bisa disebut sebuah gunung.
"Seperti itu. Aku pikir, ketika masalah-masalah ini telah kami lalui, masalah berikutnya yang akan kami temui ketika menikah, hanya akan menjadi receh. Karena semua yang terberat sekalipun, berhasil kami lewati," katanya.
Itulah yang membuat aku kagum kepadanya. Ada banyak pasangan di luar sana, bahkan hidup bersama selama bertahun-tahun, baru mereka memutuskan untuk menikah. Mereka melewati dulu segala badai bersama, karena pernikahan bagi mereka begitu sakral untuk diakhiri dengan sebuah perpisahan.
Pacarmu adalah kawan terbaikmu. Nietzsche bersabda, "It is not a lack of love, but a lack of friendship that makes unhappy marriages."
Selasa, 10 Maret 2020
Bencana
Sesudah bencana, sebaiknya wartawan menghindari dulu mewawancarai keluarga korban yang meninggal. Apalagi bencananya baru kemarin, liputan soal kesedihan keluarga korban ditayangkan hari ini. Bayangkan perasaan keluarga korban ketika wartawan menggali-gali ingatan itu?
Saya jadi ingat ketika meliput bencana banjir bandang di Sentani tahun lalu. Korban jiwa ratusan dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal. Setelah hampir seminggu berada di Sentani, saya dan seorang kawan tidak sengaja bertemu seorang bapak, ketika menyusuri Kali Kemiri. Ini lokasi terparah. Bapak ini kebetulan berteman dengan kawan saya. Ia hendak melihat rumahnya yang telah hancur. Dan dia berkenan diwawancarai.
Saat bertanya tentang seekor anjing yang sering membuntutinya, saya sudah memikirkan angle liputan saya, tentang bagaimana ia dipertemukan kembali dengan anjing peliharaannya itu, yang terpisah selama beberapa hari. Tapi secara tidak sengaja lagi, pembicaraan kami yang mengalir begitu saja, bermuara pada kisah satu putri dan satu putranya yang terseret banjir. Putrinya meninggal. Putranya belum ditemukan kala itu. Meski angle dalam tulisan itu terhubung ke anjing miliknya, anjing pelacak, dan bangkai anjing yang ditemukan tim SAR, kisah tentang anak-anaknya juga terselip di sana.
Sejak ditayangkan, ada yang menelepon ke kantor menanyakan alamat bapak itu. Katanya mereka ingin memberi bantuan kepadanya. Namun selain memberikan bantuan, ternyata beberapa wartawan lain kembali mewawancarainya. Menggali-gali kembali lukanya. Saya jadi merasa bersalah.
Alangkah baiknya, jurnalis fokus kepada korban-korban yang membutuhkan bantuan, mencari tahu penyebab bencana, apakah lokasi atau kampung-kampung yang terdampak bencana punya sistem peringatan dini berbasis masyarakat, misal: memukul kentongan, meniup cangkang keong, dan lain sebagainya. Ini baik untuk mengedukasi masyarakat agar tanggap bencana di lain waktu.
Semoga kawan-kawan di Bolaang Mongondow dan Bolaang Mongondow Utara yang terdampak banjir bandang, bisa melewati dampak bencana ini dengan hati yang kuat.
Rabu, 01 Januari 2020
Las Vegas di Tanah Melayu
Perjalanan udara saya dari Jayapura - Jakarta - Kuala Lumpur - Bangkok - Singapura, lanjut berkendara bus menuju Melaka dan kembali ke Kuala Lumpur cukup melelahkan. Saya sempat demam ketika berada di Bangkok.
Ann yang sudah berkali-kali mengunjungi beberapa negara di Asia hanya menertawai saya, sambil berceletuk, "Bagaimana kalau keliling Eropa ya?"
Saya membalasnya, "Eropassi?"
Eropassi adalah penamaan kami untuk tanah lahir: Desa Passi. Karena cuacanya yang mirip Eropa. Kadang-kadang di desa kami bisa turun salju.
Saat kembali ke Kuala Lumpur dari Melaka, kami diajak mengunjungi Genting Highlands (selanjutnya ditulis: GH). Tempat ini adalah surga bagi para penjudi di Asia, kerap disebut pula sebagai Las Vegas di Tanah Melayu.
Saya mendengar saksama ketika Mel--guide kedua kami di Kuala Lumpur setelah Anwar--menjelaskan tentang GH. Mel adalah guide perempuan paling favorit. Ia humoris. Meski ia bertutur dengan bahasa Melayu, kami paham dan tertawa dengan leluconnya. Anwar sebenarnya juga ada sedikit lucu-lucunya yang malah tak disadarinya. Seperti ketika dia mengatakan kepada kami silakan beristirahat di bus selama perjalanan, nanti sampai tujuan akan dia kejutkan (bangunkan).
Dituturkan Mel, GH sebenarnya adalah proyek yang hampir tak mungkin. Bagaimana mungkin bisa membangun sebuah tempat yang bakal dikunjungi banyak orang, apalagi berada di pucuk-pucuk Pegunungan Titiwangsa.
Lokasi GH bisa ditempuh sejam lebih dari Kuala Lumpur. Tempat ini berada di perbatasan negara bagian Pahang dan Selangor. Saat kami menuju ke sana, hari sudah sore. Jadi, kata Mel, kabut sudah mulai meliputi pegunungan. Jika ingin melihat pemandangan dari puncak, memang sebaiknya berangkat pagi.
Saat bus mulai berkelok-kelok menanjak, Mel menunjuk hutan lebat yang sudah berusia ratusan tahun dan dilarang dirusak. Katanya, masih ada suku asli yang berdiam di sana, namanya suku Semang. Suku ini juga suka menghindar jika ada orang lain.
Menarik ketika Mel berkisah tentang Lim Goh Tong, pengusaha kaya raya dari Fujian, China, yang membangun GH pada awal 1960-an. Lim Goh Tong bertemu dengan Sultan Pahang kala itu, lalu menyampaikan niatnya untuk membeli lokasi itu. Sultah Pahang hanya tertawa dan bertanya-tanya apa yang bisa dibuat di atas gunung. Lalu sultan menjual lokasi itu kepada Lim Goh Tong.
Lim Goh Tong sempat berkongsi dengan dua menteri Malaysia. Namun saat proyek dimulai, berjatuhan korban tewas dari para pekerja, yang membuat dua menteri itu menarik modalnya. Lim Goh Tong tetap melanjutkan proyek itu. Usahanya berhasil. Ia menyulap lokasi yang berada di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut itu, menjadi Skytropolis. Sebuah pusat hiburan dan perbelanjaan yang ramai dikunjungi orang.
Ada dua rute yang bisa ditempuh menuju ke GH. Darat dan udara. Kereta gantung atau Genting Skyway yang dinaiki menuju GH, saat ini merupakan yang tercepat di dunia dan terpanjang di Asia Tenggara.
Tak puas, Lim Goh Tong kembali memohon kepada Sultan Pahang agar bisa membangun kasino. Permintaannya ditolak. Judi dilarang. Tak kehabisan akal, ia membujuk sultan bahwa dijaminnya tak ada satu pun orang Malaysia bisa masuk ke kasino itu, hanya khusus untuk tamu-tamu dari luar Malaysia. Ia sekali lagi berhasil. Tempat itu menjadi Las Vegas-nya Malaysia. Kasino dioperasikan oleh Resorts World Bhd, anak perusahaan Genting Group atau Genting Bhd.
Tak hanya itu, dijelaskan Mel, di GH dibangun pula sejumlah hotel di antaranya Hotel Genting, Hotel Highlands, Hotel Resort, Hotel Theme Park, Awana Genting, dan Hotel First World. Hotel yang terakhir disebut ini memiliki 6.118 kamar dan menjadi hotel kedua terbesar di dunia saat ini. Fasilitas lainnya ada theme park, lapangan golf, mal, simulator sky diving, hall konser dan masih banyak lagi.
Ratusan orang mengantre untuk naik kereta gantung menuju ke GH. Jika tiket premium, bisa lurus-lurus saja. Kami sepertinya hampir sejam berjalan mengular seperti game Snake di ponsel Nokia 3310.
Saat sampai di kereta gantung, kami bergegas masuk karena 'karpet terbang' ini hanya berhenti sekitar lima detik, lalu perlahan-lahan bergerak lagi. Tak ada yang bisa kami saksikan saat perjalanan itu. Hanya kabut dan gerimis. Sesekali ada lampu berkedip di tengah kabut pertanda kereta gantung berlawanan arah mendekat. Meski hanya kabut semata, saya menikmatinya. Seperti sedang melakukan perjalanan ke negeri dongeng.
Pada perhentian pertama kami diinstruksikan tidak turun. Di sana ada Kuil Chin Swee dan Masjid Yayasan Mohammad Noah. Jika ingin beribadah bisa turun. Kalau cerah, biasanya lokasi ini bisa disinggahi untuk berfoto-foto.
Semenit, kereta gantung kembali bergerak. Hanya sekejap, kami sudah di perhentian kedua sekaligus yang terakhir. Saya hanya bisa terkesima. Lim Goh Tong memang gila.
Wahana indoor yang semarak lampu berwarna-warni bertebaran. Langit-langit gedung dipenuhi efek pencahayaan yang mempesona. Seolah-olah gedung itu tak bertembok karena dipenuhi layar LED raksasa beragam rupa. Beberapa di antaranya bertema Natal dan Tahun Baru. Kabarnya, wahana outdoor juga sedang dirancang versi terkini.
Jika ingin ke kasino, harus naik lift lagi. Kasino Genting Highlands menjadi World's Leading Casino Resort in Nov 2005 oleh World Travel Awards. Di pusat perbelanjaannya yang beratap langit, berbagai macam brand fashion ternama berjajar. Namun harganya lebih miring. Karena itu banyak yang datang berbelanja di sini. Orang-orang lalu-lalang di tengah kabut tipis yang turun.
Mel mengatakan Lim Goh Tong berpulang 23 Oktober 2007 pada usia 89. Makam pengusaha yang mengawali kesuksesannya dari tukang kayu itu, berada di kaki bukit yang bisa dilewati saat memasuki area GH. Sampai sekarang hartanya masih diperebutkan anak-anaknya.
"Jadi orang susah pelik, jadi orang kaya pun pelik," kata Mel yang disusul tawa menebal di dalam bus.
Selasa, 24 Desember 2019
Malique
Masa putih abu-abu kami dibuai oleh berbagai genre musik medio 2000-an. Salah satunya Too Phat, duo MC dari Negeri Jiran, Malique dan Joe Flizzow. Karir bermusik Too Phat melambung sekitar 1998 sampai 2007. Kemudian bubar.
Sewaktu berkeliling Genting Highlands, saat sedang kebelet merokok, saya berjumpa orang Malaysia yang ternyata penggemar Too Phat.
Saya iseng bertanya meski sudah menerka jawabannya, "Malique sekarang tinggal di kota mana?"
Ia menjawab tidak tahu.
Malique memang memilih mengasingkan diri setelah Too Phat bubar, tapi ia tak berhenti berkarya. Setiap kali lagunya dirilis, selalu langganan meraih award di blantika musik Malaysia. Joe, yang juga bersolo karir, lagunya sering bersikut-sikutan dengan lagu Malique di tangga lagu, atau dari jumlah viewers Youtube. Tapi Joe memang bukan kelasnya Malique soal bikin lirik. Malique punya lirik dan rima yang apik. Tentu saja, dengan irama Melayu yang kental.
Seperti liriknya di lagu Mantera Beradu: "lu bikin dosa ku bikin prosa" atau "ijazah terbaik datangnya dari pengalaman".
"Joe orangnya high. Malique low profile," kata kawan Malaysia itu.
Berkali-kali Joe satire dalam lirik lagunya. Memancing agar Malique keluar dari persembunyiannya. Sejak menikah di Bali dengan Melissa Maureen Rizal--pemeran film Hoopers--pada 2008 silam dan memiliki tiga cahaya hati, Malique memang memilih menjauh dari media.
Bahkan ketika lagu-lagunya meraih Music Industry Awards, ia tak pernah hadir. Selalu diwakilkan. Video klip lagu-lagunya pun tak pernah menampilkan wajahnya tapi memakai model. Hanya suaranya. Malique benar-benar menjadi misterius. Malique hanya muncul sekali di video klip Cerita Kedai Kopi versi satunya lagi.
November kemarin, foto Malique bersama keluarganya saat berada di bandara menjadi viral. Akun yang mengunggah foto itu seolah-olah hendak mengobati kerinduan para penggemarnya. Tapi banyak pula penggemarnya yang menyayangkan foto itu bisa beredar.
Selain tak ingin lagi diburu-buru media, Malique juga terus disasar Joe and the gank. Sempat Altimet--kawan baik Joe--menyindir Malique lewat lagu Mambang. Ia mengandaikan Malique bersembunyi di gua. Tak lama kemudian, lagu Mambang dibalas oleh Kmy Kmo ft Luca Sickta lewat lagu Gong Nekara. Liriknya terasa sekali ruhnya Malique. Menampar-nampar Altimet.
Kemudian, album Malique terbaru Malique TKO: Pejamkan Mata, yang covernya bergambar wajah dengan sebuah mata di dahi, difitnah bahwa itu simbol Dajjal. Dikatakan pula itu simbol Illuminati. Padahal Dajjal dan Illuminati saja berbeda jauh artinya. Malique terpaksa meluruskan kekisruhan itu lewat kawan baiknya, bahwa gambar itu artinya mata hati.
Tapi, sosok Malique tetap menjadi idola Tanah Melayu dan bagi penggemarnya di Indonesia. Bukan hanya karena kerendahan hatinya, tapi cara ia meroketkan rapper muda seperti Ben Ladin yang baru berusia 17. Lewat lagu ini, ia menitipkan "salam" kepada para "pembenci", termasuk Altimet dan Joe.
Lagu Ben Ladin berjudul Hikayat Ben Ladin, telah ditonton sebanyak 17 juta di Youtube, saat pertama kali dirilis. Sekarang sudah 25 juta. Sebuah lagu sederhana, yang membuktikan Malique mampu mengubah kebencian orang, menjadi lagu yang enak didengar dan sarat makna.
Lirik-liriknya pun bisa untuk siapa saja. Bahkan mungkin bisa untuk Maha Pencipta ...
Minggu, 22 Desember 2019
Kota Tanpa Rumah Pribadi
Sepanjang jalan dari Bandara KLIA 2, tak satu pun rumah pribadi yang saya temukan. Rumah pribadi yang saya maksud, rumah yang berdiri sendiri baik berpekarangan atau tidak.
Saat memasuki Kuala Lumpur yang jarak tempuhnya sekitar 30 menit dari resting area, di kiri dan kanan hanya ada gedung-gedung jangkung. Jalan layang dan jalur KL Monorail saling mengiris. Tak ada tiang listrik dengan kabel-kabel saling rajut. Rumah-rumah susun juga tak banyak.
Menurut Anwar, orang-orang di sini lebih memilih tinggal di luar pusat kota. Karena hanya memindai dari bus, saya mengira-ngira barangkali ada rumah-rumah terselip di antara gedung-gedung.
Bukan hanya tak ada rumah pribadi, sepeda motor pun jarang ditemui. Rata-rata memakai mobil. Meski demikian, di tol disediakan jalur khusus sepeda motor yang gratis. Pemerintah di sini sengaja membuat aturan itu, agar pengendara motor bisa bergegas tanpa membikin macet jalanan.
Kotanya juga bersih. Di lokasi riuh manusia, nyaris tak ada sampah tercecer. Tong-tong sampah bertebaran. Kami singgah di Jalan Masjid India, setelah hampir 30-an menit berkeliling kota. Orang-orang di sepanjang jalan ini, sepertinya sadar akan sampah. Sebuah taman yang biasa digunakan untuk merokok pun nyaris tak ada puntung rokok berserakan. Tapi, akhirnya saya menemukan di taman lainnya, dua gelas plastik diletakkan begitu saja. Semoga bukan milik turis.
Rombongan lain menyempatkan diri salat di Masjid India, yang seperti kue bronis jumbo karena berwarna cokelat. Lezat sekali dipandang. Masjid ini sudah ada sejak 1863. Diresmikan 30 Ogos 1974. Ogos = Agustus, diserap dari August. Bahasa Melayu Malaysia memang banyak menyerap bahasa Inggris, karena negara ini jajahan Inggris. Beda dengan kita, yang banyak menyerap bahasa Belanda.
Sepanjang Jalan Masjid India, saya coba menyisir lorong-lorongnya. Rumah-rumah pribadi juga tak ada. Mungkin ada, tapi sudah disihir menjadi toko-toko karena kompleks ini juga menjadi pusat perbelanjaan. Di atas toko-toko inilah dibangun beberapa rumah susun.
Setelah semua rombongan selesai mengqada salat, masing-masing mulai mengabadikan momen di masjid itu.
Menjadi udik di negeri asing, sepertinya sebuah keharusan.
Perokok
Kuala Lumpur. Dari nama kotanya, saya sudah tergelitik. Dalam bahasa lokal Manado, "kuala" artinya: sungai atau kali. Disusul "lumpur". Bisa diartikan sendiri apa yang membikin saya merasa lucu.
Kuala Lumpur punya dua bandara atau biasa disebut KLIA akronim dari Kuala Lumpur International Airport. Bandara KLIA 1 adalah bandara lama, sedangkan KLIA 2 yang baru. Setelah hampir dua jam lebih terbang, tengah hari kami mendarat di KLIA 2 yang diitari perkebunan sawit. Perbezaan, eh, perbedaan waktu antara Jakarta dan Kuala Lumpur hanya satu jam. Lebih awal Kuala Lumpur.
Setelah mendarat, mata saya memindai segala informasi yang tertulis di sekitar bandara. Lagi-lagi, karena perbedaan bahasa, saya sering tersenyum lalu memotret satu demi satu sebagai keping-keping ingatan. Saya memotret dengan ponsel milik Ann. Ponsel saya tiba-tiba mati total sewaktu di Bandara Soetta. Kutukan Donal Bebek.
Karena didesain ala mal, di dalam bandara ini semua kebutuhan tersedia. Jika di Indonesia ada Alfamart dan Indomaret, maka di Malaysia ada 7-Eleven. Di sanalah kami berburu air mineral dan beberapa kue pengganjal perut, karena maskapai penerbangan yang kami tumpangi terlalu pelit berbagi.
Selain itu, barang yang paling saya cari ada di sana. Korek api. Saya membawa dua bungkus rokok dari Jakarta. Tapi di kota ini, yang harga sebungkus rokoknya bisa membeli dua bungkus di negara kita, fasilitas untuk merokoknya minim.
Setelah rombongan lainnya berhimpun karena kami mengikuti paket tur, akhirnya kami beranjak keluar dari bandara menggunakan bus pariwisata. Dalam bahasa Melayu: bas persiaran.
Sepanjang jalan, sawit melambai. Perkebunannya tertata rapi. Tak ada sedikit pun ilalang di bawahnya. Tanaman yang paling rakus air ini, seolah-olah dibuat untuk saling berebut air dan segala nutrisi tanah, hanya dengan sesama pohon sawit lainnya.
Hanya sekitar 30 menit berlalu, kami singgah di resting area. Bus-bus dan truk-truk raksasa terparkir. Di resting area ini difasilitasi tandas awam maha luas. Tandas = toilet. Awam = umum. Tandas awam = toilet umum.
Puluhan orang bisa berjajar sekali pipis. Untuk yang mau buang air besar, puluhan jamban juga berjajar. Di toilet inilah dahi saya berkerut. Di samping tisu toilet tertulis: jimatkan tisu tandas. "Jimat" dalam bahasa Melayu artinya: cermat (tentang uang atau penggunaan sesuatu), hemat, atau tidak boros. Kalau dalam bahasa Indonesia artinya: azimat atau benda bertuah. Ada yang mau jimat untuk ikut tes CPNS?
Di resting area ada juga musala. Seperti toilet, musala laki-laki dan perempuan juga terpisah. Untuk tempat makan, ada puluhan warung berjejer yang di depannya terhampar rapi meja dan kursi makan. Saya melirik-lirik apakah ada tulisan yang menginformasikan di tempat itu bisa merokok. Tak ada. Padahal tempatnya terbuka.
"Kalau merokok di mana?" tanya saya kepada guide kami, Anwar.
"Jalan di depan sana. Di parkir," katanya sambil menunjuk pepohonan rindang di parkiran. Saya bertanya dulu sebelum kami makan, karena jika setelah makan lalu tidak merokok, rasa-rasanya seperti dihajar truk dari belakang.
Kami memesan makanan di warung makan yang telah ditunjuk. Lauknya beragam. Ikan goreng, ayam goreng, udang, cumi-cumi, tempe, telur dan sebagainya. Sayurnya juga tak jauh beda, ada buncis dan taoge, kangkung, dan lain-lain. Rasanya nusantara.
Saya memesan nasi lemak, kalau di Indonesia namanya: nasi uduk. Nasi itu terbungkus daun pisang. Setelah cepat-cepat makan, saya segera menuju parkiran untuk merokok. Jaraknya hampir 20 meter dari tempat makan. Di sana sudah ada tong sampah plastik, yang di atasnya bisa untuk meletakkan puntung rokok.
Akhirnya, tak jadi disambar truk. Malah bertemu sopir bas persiaran yang meminta rokok.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
