Sabtu, 22 Maret 2025
Ramadan
bulan ketika mala-
ikat bebas mengibas
sayap ke wajahwajah
lapar dan iblis lepas
pergi
merejah kerumunan
pemburu takjil
bisikkan: belilah lamunan
beri kepada jibril.
Passi, 2025
Sabtu, 08 Maret 2025
Amato
kangen suaramu yang seperti kicau cendrawasih jingga, saat melafalkan baitbait bujangga.
kangen suaramu ketika sesekali terhenti pada titik & koma, kemudian puisi kembali menggema.
kangen suaramu sebab sekarang orang-orang meracau, di atas retakan tanah kemarau.
Passi, 2025
Selasa, 18 Februari 2025
Cinta Bertepuk Sebelah Angan
mencintaimu, membuatku tak bisa membeda: mencintai orang yang salah atau yang benar. sebab kau bayang yang bergelimun abu-abu. datang seperti senyap kabut di pagi buta.
pernah aku menantimu hingga membatu di bangku taman sebuah danau. kau tiba dan melemparkanku ke bentang air—mengapung selama seribu hari. hanya satu bunyi detak janin menunggu dilahirkan yang akhirnya menenggelamkanku.
ketika tubuhku membentur dasar, terdengar suara cinta bertepuk. bertebaran lanau angan-angan: kapan ujung temali terjulur lalu menegang setelah tergenggam. tapi kau di atas sana sibuk mengisahkan saga kepada seorang bocah.
Passi, 2025
Kamis, 06 Februari 2025
Tampeleng
"Orang tua dan guru pernah menjadi anak-anak. Tapi anak-anak tidak pernah menjadi orang tua dan guru."
Saya mengutip kalimat itu dari status seorang kawan di FB. Terdengar familiar dan menurut saya inilah kalimat paling mewakili dalam kasus "tampeleng" (tampar), yang diduga dilakukan seorang guru kepada anak didiknya di salah satu SMA di Kotamobagu.
Dari video live FB yang dilakukan ayah si siswi, tampak ibu guru ini meminta maaf karena telah berbuat demikian. Ia mengaku hanya menempeleng dengan lembut, yang dibahasakan sebagai "tampeleng sayang".
Pertama, yang harus diperhatikan dalam kasus ini adalah apakah benar ibu guru ini menempeleng siswi ini dengan lembut? Menurut pengakuan ibu guru ia hanya menempeleng dengan lembut, tapi kenapa siswi ini menangis lantas pulang mengadu? Kita tidak bisa menghakimi siswi ini sebagai anak manja, lalu membanding-bandingkan pengalaman kita semasa sekolah yang penuh dengan cubitan dan cambukan. Adagium "di ujung cemeti ada emas" telah usang.
Sebuah tamparan, mau keras atau lembut, kepala adalah tempat bersemayamnya otak manusia. Otak dan kemampuan berpikir manusia inilah yang menjadikan kita makhluk superior, dibandingkan binatang, iblis, bahkan malaikat. Malaikat disetel sifatnya oleh Tuhan hanya untuk menjadi makhluk baik, begitupun sebaliknya iblis hanya jahat. Tapi manusia bisa menyerap kedua sifat itu: baik dan jahat. Betapa agungnya kita sebagai makhluk hanya karena otak (daya pikir) kita.
Mungkin karena saking terhormatnya kepala maka kenapa "tola kapala" (towel kepala) sangat dilarang dalam budaya kita. Ini bisa menjadi pangkal masalah. Bahkan kita dilarang untuk menduduki bantal tidur sebab itu adalah tempat kepala kita berlabuh. Entah kenapa juga ibu guru itu memutuskan untuk menempeleng, padahal cubitan lejen (bahkan ini pun sudah dilarang) bisa menjadi pilihan kalau memang tidak bisa menahan gemas.
Kedua, jika benar siswi ini ditampar atas nama hukuman pendisplinan, maka apa yang telah diperbuatnya? Jika sering terlambat masuk sekolah, apakah teguran harus dengan kekerasan? Ajaklah siswi itu ke ruangan yang hanya ada guru dan dia. Kemudian tanyakan alasan kenapa ia sering terlambat. Bicaralah baik-baik seperti kausedang berbagi dengan teman baikmu. Apalagi kalian yang guru, yang mungkin pernah mengikuti tes psikotes pasti paling paham yang beginian. Yang sangat disayangkan, ketika para guru yang justru ikut menormalisasi kekerasan. Solidaritas memang perlu, tapi ingat ada pasal yang melarang kekerasan terhadap siswa. Lega ketika ada kawan pengajar yang malah melawan arus dan ikut menolak kekerasan terhadap siswa. Mereka yang percaya bahwa hanya ikan mati yang bisa terbawa arus.
Saya jadi ingat sebuah film pendek tentang pak guru yang kerap memukul telapak tangan seorang siswanya dengan mistar, karena anak ini sering terlambat. Sampai suatu hari, ia melihat alasan kenapa anak itu kerap terlambat ke sekolah. Ternyata setiap pagi bocah itu sering membantu dulu saudaranya yang cacat di kursi roda. Guru itu akhirnya menyesali perbuatannya dan menciumi tangan anak itu yang sering ia hantam dengan penggaris.
Saya tidak berharap ada alasan yang dramatis seperti itu dalam kasus siswi yang ditempeleng. Tapi setidaknya, itulah tugas pihak sekolah dan orang tua untuk mengungkap, kenapa anak itu sering terlambat kemudian mencari solusinya bersama-sama. Berbagai bentuk sanksi alternatif juga bisa diterapkan selain kekerasan. Hukuman yang mendidik dan tidak menyakiti fisik atau psikis siswa. Ada banyak metode seperti itu yang bisa dibaca di buku, digugling, atau yang telah dicontohkan oleh beberapa kawan misal mengulas buku dan lain sebagainya. Bukankan setiap sekolah punya Pojok Baca?
Ketiga, setelah pengaduan dari siswi kepada orang tuanya yang kabarnya karena geram sempat membuat laporan di kepolisian, kemudian selanjutnya ditempuh langkah mediasi, apakah mediator di sini ikut juga pihak kepolisian atau hanya antara pihak sekolah dan orang tua? Kenapa sebelum mediasi tidak ada kesepakatan untuk menyimpan ponsel, agar upaya mediasi bisa berjalan baik? Apakah langkah ini dilakukan tapi si ayah siswi ini yang menolak dan tetap mau merekam upaya mediasi? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang seharusnya ditanyakan oleh wartawan kemudian diberitakan, agar warga atau khalayak ramai yang dibuat gaduh oleh kasus ini bisa menerima informasi yang jelas.
Sejak kasus ini bergulir di medsos, saya menunggu berita yang bisa memperjelas kasus ini. Ada sejumlah laporan warga yang bisa masuk kategori citizen journalism (cj) pada kasus "tampeleng" ini. Bahan-bahan yang dirangkum dari live, status, dan sejumlah data ringkas dari postingan medsos. Keuntungan cj atau jurnalisme warga ini yakni kecepatan laporannya. Tapi tentu saja, ketidakakuratan dan biasanya bias informasi kerap ditemukan.
Nah, tugas wartawan untuk memperjelas informasi dari cj ini. Pertanyaannya, apakah ada satu media di BMR tersayang ini yang melaporkan kasus ini dengan berimbang? Memberi kesempatan kepada guru/pihak sekolah untuk menjelaskan kasus ini? Kemudian ada penjelasan dari orang tua/siswi? Serta sudut pandang dari pengamat yang benar-benar pengamat pendidikan?
Metode peace journalism atau jurnalisme damai juga bisa dipakai di sini. Untuk memberi laporan yang adem-adem atau narasi pemaafan, sehingga warga atau pembaca bisa menilai sendiri dengan bijaksana seperti apa kasus ini. Tapi sayang, hingga hari kedua tidak ada berita tentang kasus ini yang memenuhi standar kode etik jurnalistik. Jemaah pesbukiyah menjadi singa kelaparan yang memangsa apa saja informasi yang menyudutkan pihak si siswi apalagi ayahnya, padahal siswi inilah korbannya. Ia menjadi korban victim blaming (menyalahkan korban tindak kekerasan karena caranya berperilaku).
Keempat, siapa yang meminta ibu guru ini bersujud dan meminta maaf kepada pihak keluarga korban dan ke seluruh penghuni sekolah? Atau memang ini inisiatif sendiri karena rasa bersalahnya? Ini harus jelas sebab narasi "bersujud" ini yang membuat ia semakin "dikultuskan", lantas mengesampingkan bahwa ada korban si siswi ini. Apalagi video ketika ibu guru memeluk ibu si siswi sembari meminta maaf, dibandingkan dengan sikap si siswi yang menyilangkan kakinya. Bagaimana jika itu cara ternyamannya duduk apalagi ia memakai rok pendek. Tentang rok pendek, jika ada aturan tertulis tentang tidak bolehnya siswi memakai rok pendek, kenapa juga ia masih memakai rok itu saat ke sekolah. Yang begini juga harus diperjelas, bukan malah menghakimi siswi ini karena cara berpakaiannya yang mengundang syahwat. Bahkan jika ia menjadi korban cat calling (bentuk pelecehan jalanan yang pada umumnya berupa komentar seksual yang tidak diinginkan, provokasi, dan klakson kendaraan atau suitsuit) pun, ia sepertinya tetap disalahkan karena cara berpakaiannya. Ya ampun, mau pakai daster setumit pun kalau penjahat otak mesum tak akan memilah-milah korban. Sungguh sangat disayangkan apalagi komentar victim blaming seperti ini keluar dari mulut seorang perempuan, bahkan sampai ada yang menyebut anak itu bodoh.
Di Papua, saya mengenal seorang ibu guru di pedalaman yang membaca novel-novel Paulo Coelho dan tentu saja Totto-Chan, serta Paulo Freire. Ini seharusnya bacaan wajib para pendidik. Ibu guru ini sudah terbiasa dengan rute Ninja Hatori: mendaki gunung lewati lembah. Mungkin sesampainya di sekolah terpencil itu, ia berpesan kepada muridnya dengan mengutip sabda Paulo Coelho, "Agar bisa menanjak di dunia ini, kau harus menjadi sarjana. Dan begitulah ceritanya sehingga dunia kehilangan banyak petani, pembuat roti, pedagang barang antik, pemahat, dan penulis hebat."
Tidak ada anak yang bodoh. Semua spesial dengan bakatnya masing-masing. Bahkan Albert Einstein pernah dianggap bodoh saat kecil. Ia diduga mengidap disleksia semacam gangguan belajar yang membuat seseorang kesulitan memproses bahasa. Lalu ia menjadi ilmuwan jenius yang ikut mengubah peradaban dunia. Film Aamir Khan tentang anak disleksia berjudul Taare Zameen Par (Seperti Bintang-bintang di Langit) juga mengajarkan bahwa setiap anak itu memiliki keistimewaan sendiri.
Terakhir, jika netizen tidak menyukai sikap ayahnya yang dinilai arogan, yang terus menyudutkan ibu guru meski ia sudah meminta maaf, maka tak harus ikut menghakimi anaknya. Apalagi ayah si siswi ini telah menghapus video dan meminta maaf dalam sebuah postingan. Tapi coba tengoklah tuntutan para netizen yang maha benar ini, bahwa si ayah ini harus membuat video secara langsung dan meminta maaf. Jika ini terjadi, barulah katanya para netizen merasa puas.
Ada beberapa video beredar ketika si ayah berada di halaman sekolah. Ia menganggap pihak sekolah dalam upaya mediasi, malah menghimpun para guru dan siswa untuk mendukung si ibu guru. Ada juga video ketika si ayah berjalan keluar sekolah, sambil merangkul putrinya yang tengah terisak-isak. Tangisan itu dianggap drama oleh sejumlah netizen. Beberapa komentar mengerikan juga menghakimi anak ini seperti; dikeluarkan saja dari sekolah, komentar cabul, bahkan sampai mengunggah foto anak di bawah umur ini yang bisa digolongkan sebagai doxing (menyebarkan informasi pribadi seseorang tanpa izinnya). Ayahnya disalahkan karena menjadi sebab kenapa anaknya jadi bulan-bulanan netizen, seperti sebuah pemakluman bahwa anak ini bisa dibuli karena ulah ayahnya. Sungguh, netizen maha jeli dan paling maha benar inilah sebenarnya yang terus memanggang kasus ini, seperti membuat tangkapan layar diikuti narasi yang sangat subjektif atau berdasarkan penilaian sendiri, kemudian para pengikutnya yang gagap terus berlelehan iler. Minta tambah lagi konten-konten lainnya.
Para konten kreator ini lebih parah lagi. Memanfaatkan momen ini dengan terus memberi asupan konten yang semakin mengaburkan pangkal masalah. Siswi ini bahkan ketika ia sedang menangis, dijadikan konten untuk bahan lelucon. Kenapa yang begini terus lahir? Karena tak ada satu pun media yang memberikan informasi yang layak untuk menjadi bahan pertimbangan. Bahkan saat menulis ini pun, mungkin saya bisa salah tafsir dengan apa yang beredar di medsos. Sebab tak ada satu pun kabar yang valid tentang kasus ini.
Saya ingin mengulangi kalimat ini, "Orang tua dan guru pernah menjadi anak-anak. Tapi anak-anak tidak pernah menjadi orang tua dan guru." Maka yang menjadi prioritas perhatian adalah siswi itu. Ia adalah korban dan anak di bawah umur. Tolong jangan menghakimi dia.
Rabu, 22 Januari 2025
Botol Vodka Kedua
Botol vodka pertama membuatnya bertanya, "Kau kenapa?"
Dia selalu bisa membaca kesunyianku. Meski aku bersembunyi di balik lipatan tangan, wajah ceria, atau mulut yang terlalu banyak bicara.
Pandangannya terus bertanya. Disusul tendangan pelan yang mengajakku meraih tubuh botol. Setelah kusesap isinya, kini aku yang menjawab sekaligus bertanya, "Aku tidak apa-apa, hanya merasa kau sedang tidak di sini, 'kan?"
Masih botol vodka pertama, ia tiba-tiba berkata, "Aku tidak bahagia."
Dia sepertinya mulai mabuk. Aku juga menemukan kesunyian dalam getar suaranya. Kemudian satu demi satu jahitan di mulutnya terlepas, "Malam ini aku tak pulang. Aku ingin bersamamu."
Botol pertama sudah mau habis, ia memelukku, "Aku belum mabuk."
Mata bundarnya memicing. Bibirnya seperti embun yang disapa terang pagi.
Sebatang rokok di jepitan jemarinya, dibiarkan membakar sendiri. Sekumpulan abu yang menyelimuti bara membengkok lalu patah menimpa lantai lesi.
Dia menoleh ke arahku namun pandangannya ke sudut lain. Mungkin pada poster Nirvana yang kupunggungi. Jidatnya berminyak. Bayangan wajahku ada di sana.
Pada botol vodka kedua, terasa sepuluh tahun waktu yang singkat, tetapi sepuluh jam adalah waktu yang lama untuk aku dan dia. Larut bersama vodka dan setumpuk kisah. Membicarakan ledakan-ledakan pada setiap pertemuan dan lenguhan.
Botol kedua membuatnya lirih berkata, "Aku nyaman bersamamu."
Kini di sepasang bola matanya, aku menemukan matahari pagi dan purnama yang berjumpa di langit abu-abu. Jemariku menyisiri rambutnya. Menggaruk pelan kulit kepalanya seperti sepuluh tahun yang lalu.
Aku memeluknya kemudian berbisik di telinga kirinya, "Jangan tinggalkan dia."
Selasa, 21 Januari 2025
Dan dan "&"
Aku terbiasa berkirim pesan denganmu menggunakan: e ye de. Kau sering bilang aku orang yang suka repot: ca pe de.
Ada tingkahmu yang kerap membikin kedua alisku saling merangkul. Tak pernah ada satu pun kata "dan" dalam pesan singkatmu. Semuanya terganti dengan simbol "&".
Aku bertanya lalu katamu bentuk "&" seperti orang yang sedang duduk membaca, karena itu kau lebih menyukainya. Baru setelah kau berkata begitu, aku mulai memperhatikannya saksama. Bentuknya memang mirip orang yang sedang membaca; entah buku; entah ponsel pintar; atau malah seperti seseorang yang sedang berdoa; atau mungkin seperti seekor ular.
Aku makin menyukaimu karena caramu melihat sesuatu dengan berbeda. Sejak saat itu, setiap kali berkirim pesan singkat denganmu aku mulai belajar menggunakan "&".
Suatu hari aku mengirim pesan singkat kepadamu, "Osney & Molet sudah kauberi makan?"
Sebaris pesan balasan darimu menyembul, "Sdh."
"Cobalah kau belajar menulis dengan EYD. Aku saja mulai belajar memakai simbol mirip orang berdoa itu," balasku.
"Knp dinmkn psn sngkt? Byr cpt!" jawabmu.
Aku lantas menghitung berapa langkah jemari untuk mengetik "&", ternyata butuh tiga ketukan jempol di layar ponsel sampai kembali ke tombol QWERTY. Jumlah langkah yang sama ketika mengetik "dan". Ah, aku dan kamu memang seperti "dan" dan "&". Kau ampersand yang selalu memunggungiku.
"Dn!" tulisku.
"Apa itu?" tanyamu dengan ketikan sempurna.
"The end!" balasku.
Kamis, 19 Desember 2024
Braga Jangan Dulu Dewasa
Hampir pukul 1 malam, aplikasi pesan FB berdenting. Dua pesan mengindik masuk. Yang pertama sapa, selanjutnya selebaran undangan berharap jumpa.
Pesan itu datang dari kawan Vicky Mokoagow. Dia gitaris Beranda Rumah Mangga (Braga), sebuah band indie di Tanah Mongondow, yang akan segera merilis album kedua mereka. Band ini terdiri dari Vicky (gitaris/vokalis latar), Yedi (vokalis), Vicro (gitaris/vokalis latar), Christy (bassist), dan Rian (drummer).
Rencananya album "Kembara Jiwa" akan dilepasliarkan pada 27 Desember 2024 mendatang. Pada Rabu malam, 18 Desember 2024, mereka mengajak karib dan para pendengar setia Braga untuk hadir dalam sesi dengar dan ngobrol. Selain tamu yang diundang khusus, ada 25 kursi yang disediakan bagi para penggemar Braga terpilih.
Kabarnya, ada banyak yang mendaftar lewat Google Form, tapi hanya 25 orang ini yang beruntung diundang pada sesi dengar dan ngobrol. Lokasinya pun bahkan dirahasiakan. Bukan bermaksud apa-apa, acara ini memang sengaja dibuat intim untuk menghindari riuh.
Bayangkan jika followers Yedi Mamonto—vokalis Braga—yang hampir menyentuh angka 100 ribu orang itu berkonvoi datang. Jumlah pengikut yang bisa membuatnya pasti duduk di tahta bupati (tinggal pilih mau bupati di mana se-Bolmong Raya). Jadi sabar-sabar ya, nanti pada Januari 2025, rencananya akan ada showcase album kedua mereka yang spesial diadakan untuk para penggemar.
Kembali ke pesan tengah malam itu, saya belum memastikan datang atau menyanggupi undangan tersebut. Di hari yang sama, saya bekerja di jam piket bersamaan dengan waktu acara. Vicky memberikan dua pilihan: datang atau dikirimi file preview. Untuk berjaga-jaga, saya meminta ia mengirimkan file preview album "Kembara Jiwa" yang bisa saya dengarkan lebih dulu, kemudian membikin ulasannya.
"Boleh, tapi jangan bocor, ha ha ha," tulisnya, mengekspresikan keikhlasan sekaligus ancaman dan canda.
Link Google Drive membungkuk masuk mungkin saking beratnya memikul 10 lagu, yang pastinya digarap dengan penuh bilur. Saya mulai mengunduhnya satu demi satu. Beranjak dari ranjang, menerjang penyuara jemala di sudut lemari, dan menancapkannya ke telinga.
Braga, dalam sejumlah karya kerap mengultuskan "Mongondow". Lagu pembuka berjudul "Tolatan" yang berarti Angin Selatan, sayup mendesir di kuping. Petikan gitar, menyatu bersama imajinasi para sepuh dan leluhur Tanah Mongondow. Silir angin pelan menggiring mantra Tolatan. Seolah-olah ada yang meniup kuduk. Kepak sayap burung, menambah nuansa magis lagu ini.
Beruntung, di saat-saat ekstase itu, saya luput membayangkan wajah Yedi yang meniup tengkuk saya. Seandainya terjadi, maka luluh lantak momen gigir malam itu. Yedi, dengan tingkah konyol di setiap kontennya, seperti lekas bersulih karakter ketika menjadi Braga. Sangat profesional. Jadi ingat film "Split" yang disutradarai M. Night Shyamalan. James McAvoy yang berperan sebagai Kevin Wendell Crumb, memiliki 24 kepribadian di film tersebut. Mudah-mudahan, Yedi hanya cukup sampai 4 kepribadian saja sebagai vokalis Braga, Lengkebong, guru, dan konten kreator.
"Senandung Pembuka Jalan" menyusul setelah "Tolatan". Lagu dengan petikan gitar dan ketukan derap kuda ini, menghantar sebuah pengembaraan. Selanjutnya "Jalan Hidup" berkisah tentang segala iklim kehidupan. Bagaimana kita menghalau setiap aral, menembusnya, menyusurinya, sembari bernaung di bawah petuah Ayah dan Ibu.
Dalam setiap perjalanan kehidupan, "Nasib dan Takdir" melekat. Lagu keempat ini, tentang sebuah gerak ikhtiar menjemput takdir dan hasilnya: nasib. Atau seperti apa laku kita, yang kelak memapah kita pada takdir. Lagu ini juga menyelipkan seperti apa lingkar persahabatan, hasil dari upaya atau pilihan-pilihan kita sendiri. Eh, so mulai kasana-kasana ini ngana! (momen pasca-pilkada). Cha ca ca ca!
Mari kita segera beralih dari kajian Qada dan Qadar. Meski lagu kelima "Kembar Jiwa" ini juga masih bertautan dengan konsep di lagu-lagu sebelumnya, namun ini lebih kepada seseorang yang menjadi "Kembar Jiwa" atau twin flame. Kembar jiwa (twin flame) ini berbeda dengan belahan jiwa (soulmate). Jika twin flame memiliki jiwa yang sama atau mirror soul, maka soulmate mempunyai jiwa berbeda. Mungkin seperti itu yang dijelaskan Vicky tentang lagu tersebut. Ada selarik lirik yang juga meminjam kalimat Pramoedya Ananta Toer, "Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan."
Peringatan Darurat! Lagu "Kembar Jiwa" bisa dipakai untuk merayu. Ba bue'-bue' skali pa ade'-ade'. Setelah berhasil memikat, menjalin hubungan, kemudian putus, maka segera tekan tombol next ke lagu keenam "Sedih Akan Pergi". Lagu ini tentang sebuah kerelaan. Cuaca hati akan selalu berganti. Jangan mengumpat mendung, setelahnya akan ada pelangi. Jangan mengutuk kegelapan, tapi nyalakan api. Dan hidup bukan tentang menggapai tujuan, tapi pemaknaan ketika kita menjalaninya.
Senandung ketujuh "Kelana", menyeret saya berkelana ke puncak gunung, tepi pantai, atau "leput-leput" di kampung tempat kami kerap duduk dan bernyanyi bersama. Ingat bagaimana berpuluh-puluh lagu kami nyanyikan sepanjang malam, hanya bermodalkan Cap Tikus dan kunci C, Am, F, G kembali ke C. Bubar ketika orang-orang dengan sajadah terkulai di pundak melintas.
"Subuh" jadi lagu kedelapan di album ini. Lirik "Kabut menebal, menelan jalanku" menarik ingatan tentang Atoga, Katulidan, Tutung, dan tentang jalur-jalur pergi dan pulang. Ada ketukan gendang dan ilusi para penari Kabela, menyambut tiba. Sepertinya, ini sebuah jalan berlangit abu-abu menuju Ibu.
Ibu menunggu di lagu "Pulang Yang Paling Pulang". Di mana pun bertualang, jangan lupa pulang. Ke mana pun kau mengembara, jangan lupa kembali bersimpuh di depan gua garba. Rahim Ibu.
Lagu ini, mengoyak kantong mata saya malam itu. Tali batinnya begitu erat menyimpul. Menggambarkan kesulitan perjalanan pulang saya dari Jayapura ke kampung halaman di Passi, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, ketika Ibu dikabarkan sakit parah. Kala itu sedang diberlakukan karantina wilayah akibat wabah Covid-19 pada 2020. Pilihan pulang meski sungguh melelahkan dan mengkhawatirkan karena bisa-bisa saya yang membawa virus ke kampung, terpaksa ditempuh. Kisah perjalanan pulang itu pernah saya tulis di sini: "Pulang Kampung".
Tyo Mokoagow yang membantu menulis lirik, juga berangkat dari kegelisahan yang sama. Ketika acara berlangsung, saya dan dia sempat berbincang tentang itu, sebelum "Pulang Yang Paling Pulang" ditayangkan di layar proyektor. Ia juga mengkhawatirkan Ibu di kampung, ketika Virus Corona senyap-senyap di udara dan mulai menjangkau pedesaan. Tyo dan Vicro intens berkutat dengan materi lagu ini. Apalagi, ibunda Vicro juga baru berpulang, pun personel lainnya menyerap aura serupa.
Semua kembara dan perjalanan
mencari arti pulang yang paling pulang
kini kau tahu, rumah dan rindu
adalah senyum ibumu yang menunggu.
Ada pekik melengking di penghujung "Pulang Yang Paling Pulang". Rasa yang setara ketika kau pulang, kemudian tepat berada di simpang tiga Jembatan Kaiya. Atau melihat tonggak pertanda kau telah berhasil melipat jarak. Pintu rumah sebentar lagi kaujamah.
Minggu, 29 Desember 2024 nanti, tepat dua tahun mendiang Ibu saya berpulang. Dua hari setelah album "Kembara Jiwa" dirilis di aplikasi layanan streaming musik.
Dalam novel "Amba" karya Laksmi Pamuntjak, pembaca dipeluk sebaris kalimat pembuka, "Di Pulau Buru, laut seperti seorang Ibu: dalam dan menunggu." Sosok Ibu dalam "Pulang Yang Paling Pulang" mungkin bisa menjadi siapa dan apa saja bagi setiap orang. Ia bisa menjadi laut di Pulau Buru, harapan antara kampung halaman dan tempat pengasingan; menjadi orang terkasih yang menantimu di rumah; menjadi pusara tempatmu mengadu lara; atau tetap menjadikan lagu itu teristimewa untuk Ibu.
Karna hidup adalah sebuah perayaan, maka lagu pemungkas "Rayakan" meringkus semua perjalanan di album ini. "Bukan Braga yang menemukan Kembara Jiwa, tapi Kembara Jiwa yang menemukan Braga," kata Vicky.
Tetap seperti ini, Braga. Jangan dulu dewasa. Selamat mengembara "Kembara Jiwa", temukan setiap jiwa yang ingin kausapa. Jangan lupa pulang dan bersulang.




