Rabu, 13 Agustus 2014
Kopi Kotamobagu
Penulis: Kristianto Galuwo
Lumbung
16 Mei 2013 (artikel ini disesuaikan dengan tahun penulisannya)
Kotamobagu adalah salah satu kota di provinsi Sulawesi Utara. Dulunya wilayah ini menjadi ibukota kabupaten Bolaang-Mongondow. Setelah terjadi pemekaran wilayah, Kotamobagu menjadi masuk wilayah kotamadya dan ibukota kabupaten berpindah ke kota Lolak. Wilayah Kotamobagu dikelilingi pegunungan. Dari sekian gunung yang di sana terdapat satu gunung yang paling mencuat. Gunung Ambang namanya.
Dari tanah di sekitar gunung Ambang inilah dulu kopi Kotamobagu dihasilkan. Sama seperti wilayah lain di Nusantara, kopi menjadi tanaman yang wajib tanam penduduk pada jaman penjajahan Belanda di daerah ini. Tanaman kopi ditanam di lahan belakang rumah atau di lahan perkebunan. Sampai sekarang sebagian kecil penduduk desa masih mempertahankan untuk membudidayakan tanaman kopi.
Desa saya, desa Passi, terdapat di bagian puncak salah satu bukit di Kotamobagu. Dari desa ini jika kita naik ke puncak bukit yang disebut Tudu Passi, kita bisa menikmati kopi Kotamobagu sambil melihat pemandangan yang terhampar luas termasuk kerlap-kerlip Kotamobagu di malam hari.
Ada satu kisah yang menohok hati beredar kala kopi masih menjadi pundi gulden bagi kas kolonial Belanda. Kisahnya, di setiap dasar lesung yang terparkir di rumah-rumah penduduk diberi plakat dari tembaga yang berguna untuk memantau lesung itu digunakan untuk menumbuk padi atau biji kopi. Siapa yang ketahuan telah menumbuk kopi akan dihukum tembak. Bayangkan saja, untuk menikmati secangkir kopi nyawa menjadi taruhan. Di hitam cangkir kopi kita sekarang, selalu ada cerita kelam dan perjuangan di baliknya. Ada kisah penindasan juga kisah heroik yang tenggelam di hitam kopi. Karena dengan tindakan sewenang-wenang penjajah saat itu, bangkit jiwa untuk melawan dari rakyat. Kopi adalah revolusi. Hal ini memperkuat pendapat bahwa di setiap revolusi ada andil bercangkir-cangkir kopi yang menghadirkan buah-buah pikiran perlawanan.
Setelah masa kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945 hingga kini kopi Kotamobagu masih tetap bertahan dari segala perubahan jaman. Meski banyak juga yang telah menggantinya dengan tanaman yang lebih menjanjikan seperti tanaman vanilli dan cengkeh, karena mengejar harga vanilli dan cengkih yang sempat melambung tinggi. Tanaman kopi masih terus bertahan di daerah kaki gunung Ambang, tepatnya di kecamatan Modayag. Desa-desa di kecamatan ini sebagian kecil masih menjadi penghasil tanaman kopi. Dulu, sebagian dari penduduk desa ini datang dari pulau Jawa sebagai buruh di perkebunan kopi pada jaman penjajahan Belanda. Sampai masa kemerdekaan mereka beranak-pinak dan memilih tinggal. Sekarang, para penghasil kopi sudah tersebar di wilayah-wilayah lain di kabupaten ini.
Kopi Kotamobagu merupakan jenis arabica yang ditanam pada ketinggian 600-2200 mdpl di kaki dan punggung gunung Ambang. Kopi Kotamobagu sudah cukup terkenal kenikmatannya. Dalam gala dinner antara pemerintah Republik Ceko dan Kedutaaan Besar Indonesia kopi Kotamobagu turut dihadirkan. Kopi ini merupakan trade mark provinsi Sulawesi Utara, dan menjadi satu-satunya produk kopi berkualitas di sana yang tidak kalah dengan jenis kopi-kopi lainnya di Indonesia. Meski kita tahu bahwa soal citarasa mungkin lebih bersifat subjektif, tapi untuk bisa berkomentar lebih Anda harus mencoba kenikmatan kopi Kotamobagu ini.
Ada satu kedai kopi di Kotamobagu yang sekarang cukup populer meski tempatnya kecil layaknya kedai-kedai kopi biasanya. Tak sulit untuk menemukannya karena kota ini tak terlalu besar. Letaknya tepat di depan lapangan desa Sinindian yang tak jauh dari pusat kota Kotamobagu. Namanya mirip dengan nama tempat minum kopi di kota Manado yakni Jarod (jalan roda). Bedanya di sini bukanlah sederetan kedai-kedai kopi. Hanya ada satu kedai kopi. Saya lebih suka menamainya Kedai Kopi Aba' (sebutan di sini untuk orang tua yang artinya sama dengan sebutan ‘Abah’). Aba' pemilik sekaligus peramu kopi cukup familiar di seantero Kotamobagu.
Meski kedainya sederhana tempat ini dilengkapi fasilitas jaringan wi-fi, dengan pengunanya dipungut biaya Rp 5.000 setiap datang berkunjung. Aba' tak ketinggalan jaman meski usianya hampir menginjak 50 tahun (prediksi saya). Selain untuk menarik pelanggan, Aba' cukup tahu apa yang dibutuhkan orang-orang saat ini untuk bisa mengakses informasi selain tumpukan koran di meja rotannya. Itu yang membuat banyak mahasiswa dan wartawan sering mangkal di sini. Para pejabat kabupaten sesekali juga datang berkunjung, kemudian berbincang-bincang soal isu hangat perkembangan politik. Secangkir kopi dan roti bakarnya harganya cukup murah meriah. Uang limabelas ribuan tak akan tandas di kantongmu.
Sebenarnya selain di kedai kopinya Aba', ada beberapa tempat tongkrongan lain yang menyajikan minuman kopi di kota ini tapi tak sepopuler tempatnya Abak. Mungkin karena rasanya yang khas mampu meringkus hasrat orang-orang untuk selalu kembali ke sini. Kopi ini dibikin dari sejuta pengalaman hidup Aba' dengan cerek kopinya. Cara membuatnya pun sederhana. Cukup menjerang air dengan campuran kopi Kotamobagu dan gula yang hanya Aba' sendiri tahu takarannya. Kopi panas tersaji begitu cepat dan cekatan. Sempat saya berpikir, jika Aba' nanti mangkat, posisinya akan digantikan oleh siapa, karena tak pernah saya lihat ada orang lain di sana selain tubuh ringkih namun cekatan ini. Semoga saja Aba' selalu dianugerahi kesehatan dan umur panjang agar kami masih tetap bisa menjadi bala seruputnya. Satu yang Aba' tak bisa lakukan adalah menahan tidur dengan lebih lama, pukul 01.00 lewat tengah malam ia sudah dibuat menyerah oleh kantuk. Dan para pengunjungnya pun memaklumi.
Hingga hari ini saya cukup lega karena meski telah menetap di Bali, tapi masih saja sering dikirimi kopi Kotamobagu oleh keluarga. Pernah pula saya membaca buku Dewi Lestari, Filosofi Kopi. Dari sana saya bersama seorang teman tergerak hati ingin membuka rumah kopi sekaligus rumah baca di kota Lolak. Kami memilih kota itu, karena selain tak ingin bersaing dengan kedai kopinya Aba' atau lebih tepatnya khawatir kalah bersaing, lahan di sana adalah satu-satunya lahan yang tersedia dan milik teman saya. Kedai impian itu bakal diwujudkan sekembalinya kami dari perjalanan mengelilingi nusantara. Teman saya pun masih akan menyelesaikan studi di kota Makassar.
Secangkir kopi adalah mimpi. Hitamnya adalah warna pembuka kita saat bermimpi. Hari ini, mau pagi, siang, sore atau malam, saya masih menyempatkan diri beranjak untuk menjerang segelas air, dengan dua sendok kopi Kotamobagu, satu sendok gula pasir “Persia” diaduk melawan atau pun searah jarum jam hingga uapnya berfatamorgana. Kopi Kotamobagu siap diseruput. Tersesap begitu nikmat di dalam mulut. Lengkaplah sudah komposisi hari ini.
(Artikel ini pernah dimuat di www.minumkopi.com website punyanya Puthut Ea (penulis), tapi ada beberapa kesalahan editing, jadi di sini saya edit lagi) :D
Kopi Kotamobagu
Kotamobagu adalah salah satu kota di provinsi Sulawesi Utara. Dulunya wilayah ini menjadi ibukota kabupaten Bolaang-Mongondow. Setelah terjadi pemekaran wilayah, Kotamobagu menjadi masuk wilayah kotamadya dan ibukota kabupaten berpindah ke kota Lolak. Wilayah Kotamobagu dikelilingi pegunungan. Dari sekian gunung yang di sana terdapat satu gunung yang paling mencuat. Gunung Ambang namanya.
Dari tanah di sekitar gunung Ambang inilah dulu kopi Kotamobagu dihasilkan. Sama seperti wilayah lain di Nusantara, kopi menjadi tanaman yang wajib tanam penduduk pada jaman penjajahan Belanda di daerah ini. Tanaman kopi ditanam di lahan belakang rumah atau di lahan perkebunan. Sampai sekarang sebagian kecil penduduk desa masih mempertahankan untuk membudidayakan tanaman kopi.
Desa saya, desa Passi, terdapat di bagian puncak salah satu bukit di Kotamobagu. Dari desa ini jika kita naik ke puncak bukit yang disebut Tudu Passi, kita bisa menikmati kopi Kotamobagu sambil melihat pemandangan yang terhampar luas termasuk kerlap-kerlip Kotamobagu di malam hari.
Ada satu kisah yang menohok hati beredar kala kopi masih menjadi pundi gulden bagi kas kolonial Belanda. Kisahnya, di setiap dasar lesung yang terparkir di rumah-rumah penduduk diberi plakat dari tembaga yang berguna untuk memantau lesung itu digunakan untuk menumbuk padi atau biji kopi. Siapa yang ketahuan telah menumbuk kopi akan dihukum tembak. Bayangkan saja, untuk menikmati secangkir kopi nyawa menjadi taruhan. Di hitam cangkir kopi kita sekarang, selalu ada cerita kelam dan perjuangan di baliknya. Ada kisah penindasan juga kisah heroik yang tenggelam di hitam kopi. Karena dengan tindakan sewenang-wenang penjajah saat itu, bangkit jiwa untuk melawan dari rakyat. Kopi adalah revolusi. Hal ini memperkuat pendapat bahwa di setiap revolusi ada andil bercangkir-cangkir kopi yang menghadirkan buah-buah pikiran perlawanan.
Setelah masa kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945 hingga kini kopi Kotamobagu masih tetap bertahan dari segala perubahan jaman. Meski banyak juga yang telah menggantinya dengan tanaman yang lebih menjanjikan seperti tanaman vanilli dan cengkeh, karena mengejar harga vanilli dan cengkih yang sempat melambung tinggi. Tanaman kopi masih terus bertahan di daerah kaki gunung Ambang, tepatnya di kecamatan Modayag. Desa-desa di kecamatan ini sebagian kecil masih menjadi penghasil tanaman kopi. Dulu, sebagian dari penduduk desa ini datang dari pulau Jawa sebagai buruh di perkebunan kopi pada jaman penjajahan Belanda. Sampai masa kemerdekaan mereka beranak-pinak dan memilih tinggal. Sekarang, para penghasil kopi sudah tersebar di wilayah-wilayah lain di kabupaten ini.
Kopi Kotamobagu merupakan jenis arabica yang ditanam pada ketinggian 600-2200 mdpl di kaki dan punggung gunung Ambang. Kopi Kotamobagu sudah cukup terkenal kenikmatannya. Dalam gala dinner antara pemerintah Republik Ceko dan Kedutaaan Besar Indonesia kopi Kotamobagu turut dihadirkan. Kopi ini merupakan trade mark provinsi Sulawesi Utara, dan menjadi satu-satunya produk kopi berkualitas di sana yang tidak kalah dengan jenis kopi-kopi lainnya di Indonesia. Meski kita tahu bahwa soal citarasa mungkin lebih bersifat subjektif, tapi untuk bisa berkomentar lebih Anda harus mencoba kenikmatan kopi Kotamobagu ini.
Ada satu kedai kopi di Kotamobagu yang sekarang cukup populer meski tempatnya kecil layaknya kedai-kedai kopi biasanya. Tak sulit untuk menemukannya karena kota ini tak terlalu besar. Letaknya tepat di depan lapangan desa Sinindian yang tak jauh dari pusat kota Kotamobagu. Namanya mirip dengan nama tempat minum kopi di kota Manado yakni Jarod (jalan roda). Bedanya di sini bukanlah sederetan kedai-kedai kopi. Hanya ada satu kedai kopi. Saya lebih suka menamainya Kedai Kopi Aba' (sebutan di sini untuk orang tua yang artinya sama dengan sebutan ‘Abah’). Aba' pemilik sekaligus peramu kopi cukup familiar di seantero Kotamobagu.
Meski kedainya sederhana tempat ini dilengkapi fasilitas jaringan wi-fi, dengan pengunanya dipungut biaya Rp 5.000 setiap datang berkunjung. Aba' tak ketinggalan jaman meski usianya hampir menginjak 50 tahun (prediksi saya). Selain untuk menarik pelanggan, Aba' cukup tahu apa yang dibutuhkan orang-orang saat ini untuk bisa mengakses informasi selain tumpukan koran di meja rotannya. Itu yang membuat banyak mahasiswa dan wartawan sering mangkal di sini. Para pejabat kabupaten sesekali juga datang berkunjung, kemudian berbincang-bincang soal isu hangat perkembangan politik. Secangkir kopi dan roti bakarnya harganya cukup murah meriah. Uang limabelas ribuan tak akan tandas di kantongmu.
Sebenarnya selain di kedai kopinya Aba', ada beberapa tempat tongkrongan lain yang menyajikan minuman kopi di kota ini tapi tak sepopuler tempatnya Abak. Mungkin karena rasanya yang khas mampu meringkus hasrat orang-orang untuk selalu kembali ke sini. Kopi ini dibikin dari sejuta pengalaman hidup Aba' dengan cerek kopinya. Cara membuatnya pun sederhana. Cukup menjerang air dengan campuran kopi Kotamobagu dan gula yang hanya Aba' sendiri tahu takarannya. Kopi panas tersaji begitu cepat dan cekatan. Sempat saya berpikir, jika Aba' nanti mangkat, posisinya akan digantikan oleh siapa, karena tak pernah saya lihat ada orang lain di sana selain tubuh ringkih namun cekatan ini. Semoga saja Aba' selalu dianugerahi kesehatan dan umur panjang agar kami masih tetap bisa menjadi bala seruputnya. Satu yang Aba' tak bisa lakukan adalah menahan tidur dengan lebih lama, pukul 01.00 lewat tengah malam ia sudah dibuat menyerah oleh kantuk. Dan para pengunjungnya pun memaklumi.
Hingga hari ini saya cukup lega karena meski telah menetap di Bali, tapi masih saja sering dikirimi kopi Kotamobagu oleh keluarga. Pernah pula saya membaca buku Dewi Lestari, Filosofi Kopi. Dari sana saya bersama seorang teman tergerak hati ingin membuka rumah kopi sekaligus rumah baca di kota Lolak. Kami memilih kota itu, karena selain tak ingin bersaing dengan kedai kopinya Aba' atau lebih tepatnya khawatir kalah bersaing, lahan di sana adalah satu-satunya lahan yang tersedia dan milik teman saya. Kedai impian itu bakal diwujudkan sekembalinya kami dari perjalanan mengelilingi nusantara. Teman saya pun masih akan menyelesaikan studi di kota Makassar.
Secangkir kopi adalah mimpi. Hitamnya adalah warna pembuka kita saat bermimpi. Hari ini, mau pagi, siang, sore atau malam, saya masih menyempatkan diri beranjak untuk menjerang segelas air, dengan dua sendok kopi Kotamobagu, satu sendok gula pasir “Persia” diaduk melawan atau pun searah jarum jam hingga uapnya berfatamorgana. Kopi Kotamobagu siap diseruput. Tersesap begitu nikmat di dalam mulut. Lengkaplah sudah komposisi hari ini.
(Artikel ini pernah dimuat di www.minumkopi.com website punyanya Puthut Ea (penulis), tapi ada beberapa kesalahan editing, jadi di sini saya edit lagi) :D
Kamis, 07 Agustus 2014
Gelora Ambang, Riwayatmu Kini...
Penulis: Kristianto Galuwo
Gelora Ambang, stadion yang pernah menjadi
kebanggaan kita. Saya yakin, ada banyak kenangan, pengalaman, kisah, dan
prestasi yang pernah terukir di sini, oleh kita orang Bolaang Mongondow.
Bukan sedikit cerita yang pernah saya dengar tentang Gelora Ambang dari mereka yang di era 80 hingga 90-an adalah remaja-remaja yang aktif dan penuh kenangan di stadion ini. Ada lomba renang, pertunjukan sandiwara, teater, pacuan kuda, ragam perlombaan seni budaya, kejuaran atletik, dan pameran. Bahkan arena konser artis-artis lawas seperti: Nike Ardila, Poppy Merkuri, Andy Liani, Power Metal, Andromeda Band, Nicky Astria, Gito Rollis, Ikang Fauzi, dan sederet artis ibukota lainnya termasuk yang paling jadul, Euis Darliah. Saya salah satu yang pernah menyaksikan langsung konser Power Metal, saat masih duduk di bangku sekolah dasar.
Waktu melaju cepat, kekuasaan berganti, stadion yang dibangun pada era kepemimpinan Bupati Drs Jambat Damopolii (alm) yang dahulunya dikunjungi ribuan manusia, kini sepi dari riuh kegiatan, bak bentangan belantara belukar yang mengubur ribuan kenangan pada masa keemasan di jaman 80 hingga 90-an.
Tapi stadiun ini, di awal millenium, seolah kembali menemukan roh-nya lewat aksi Persibom yang seolah hadir sebagai pengganti kuda-kuda pacu yang ‘mati’, pertunjukan seni budaya yang hilang, perlombaan ragam jenis olah raga atletik, entertain, serta pameran pembangunan yang dahulu biasa di gelar pemerintah kabupaten di tempat ini.
Saya mungkin adalah generasi penghabisan yang, masih sempat menyaksikan langsung kejayaan Persibom berlaga. Baru-baru ini, saat mencoba menengok kembali gambaran-gambaran yang pernah ada di stadion yang kini merana, sontak ada rasa sedih mengharu-biru dan menggulung dalam benak; dulu kami berdesak-desakan di sini, mengantri tiket masuk, menyoraki Persibom, dan pulang dengan rasa bangga meski seringkali juga dengan kepala tertunduk.
Tapi pekan kemarin, ketika memacu sepeda motor ke tempat ini, mulut saya ternganga melihat Gelora Ambang yang kini bak hutan belantara; tribun depan yang digulung semak-belukar, puluhan mess atlit yang raib entah kemana hingga menyisakan reruntuhan pondasi pondok yang berbentuk semacam batu kubur yang tak dikenali. Lapangan basket yang digagahi belukar, arena teater yang menyimpan bau pesing jaman ‘purba’, dan pemandangan lain menyerupai bangunan bangunan ‘mati’ di Chernobyl Ukraina.
Saya lantas berkendara ke area tribun sebelah barat yang dibangun
pada masa kejayaan klub sepakbola Fajar Bulawan era kepemimpinan Bupati
Marlina Moha Siahaan. Tribun yang dulu disesaki para Bom Mania kini lebih mirip gudang kayu yang jadi santapan rayap. Tinggal tunggu topan meniup maka bablaslah sudah. Belukar juga ganas menggerayangi onggokan kayu yang rapuh.
Saat sedang miris dengan pemandangan ini, telinga saya menangkap sayup suara anak-anak yang sepertinya datang dari arah kolam renang. Saya bahkan hampir tidak bisa menemukan jalan ke arah itu sebab belukar rimbun di mana-mana. Sejenak sempat usil berpikir, jangan-jangan itu suara penunggu Gelora Ambang. Maklum, suasana horror entah kenapa cepat menyergap tatkala berada di sini.
Bukan sedikit cerita yang pernah saya dengar tentang Gelora Ambang dari mereka yang di era 80 hingga 90-an adalah remaja-remaja yang aktif dan penuh kenangan di stadion ini. Ada lomba renang, pertunjukan sandiwara, teater, pacuan kuda, ragam perlombaan seni budaya, kejuaran atletik, dan pameran. Bahkan arena konser artis-artis lawas seperti: Nike Ardila, Poppy Merkuri, Andy Liani, Power Metal, Andromeda Band, Nicky Astria, Gito Rollis, Ikang Fauzi, dan sederet artis ibukota lainnya termasuk yang paling jadul, Euis Darliah. Saya salah satu yang pernah menyaksikan langsung konser Power Metal, saat masih duduk di bangku sekolah dasar.
Waktu melaju cepat, kekuasaan berganti, stadion yang dibangun pada era kepemimpinan Bupati Drs Jambat Damopolii (alm) yang dahulunya dikunjungi ribuan manusia, kini sepi dari riuh kegiatan, bak bentangan belantara belukar yang mengubur ribuan kenangan pada masa keemasan di jaman 80 hingga 90-an.
Tapi stadiun ini, di awal millenium, seolah kembali menemukan roh-nya lewat aksi Persibom yang seolah hadir sebagai pengganti kuda-kuda pacu yang ‘mati’, pertunjukan seni budaya yang hilang, perlombaan ragam jenis olah raga atletik, entertain, serta pameran pembangunan yang dahulu biasa di gelar pemerintah kabupaten di tempat ini.
Saya mungkin adalah generasi penghabisan yang, masih sempat menyaksikan langsung kejayaan Persibom berlaga. Baru-baru ini, saat mencoba menengok kembali gambaran-gambaran yang pernah ada di stadion yang kini merana, sontak ada rasa sedih mengharu-biru dan menggulung dalam benak; dulu kami berdesak-desakan di sini, mengantri tiket masuk, menyoraki Persibom, dan pulang dengan rasa bangga meski seringkali juga dengan kepala tertunduk.
Tapi pekan kemarin, ketika memacu sepeda motor ke tempat ini, mulut saya ternganga melihat Gelora Ambang yang kini bak hutan belantara; tribun depan yang digulung semak-belukar, puluhan mess atlit yang raib entah kemana hingga menyisakan reruntuhan pondasi pondok yang berbentuk semacam batu kubur yang tak dikenali. Lapangan basket yang digagahi belukar, arena teater yang menyimpan bau pesing jaman ‘purba’, dan pemandangan lain menyerupai bangunan bangunan ‘mati’ di Chernobyl Ukraina.
Saat sedang miris dengan pemandangan ini, telinga saya menangkap sayup suara anak-anak yang sepertinya datang dari arah kolam renang. Saya bahkan hampir tidak bisa menemukan jalan ke arah itu sebab belukar rimbun di mana-mana. Sejenak sempat usil berpikir, jangan-jangan itu suara penunggu Gelora Ambang. Maklum, suasana horror entah kenapa cepat menyergap tatkala berada di sini.
Saya bergerak mencari ringkih suara yang tersisa itu dan akhirnya menemu jalan tikus yang menuntun saya memasuki area kolam renang. Gerimis turun ketika itu. Ada empat orang bocah laki-laki dan dua perempuan yang sedang mandi. Ada dua fasilitas kolam renang di sini; yang berukuran besar tinggal menambah kemirisan tatkala pemandangan yang ditampilkan adalah ubin raksasa tempat berkubangnya rawa dan tetumbuhan yang akan cepat benakmu mengambil prasangka bahwa, jangan-jangan ada anakonda bersemayam di situ, atau mungkin buaya, soa-soa (biawak), patola (ular piton) dan binatang berbisa lainnya. Sedangkan kolam yang satunya lagi, di mana para bocah sedang latihan berenang, itu satu-satunya fasilitas yang dirawat seadanya oleh seorang perempuan berumur 50-an yang biasa disapa Tanta Ebi.
Usai bercakap-cakap sejenak dengan Tanta Ebi, saya pamit pulang dan menyempatkan diri bersinggah di Kantor Pemkot Kota Kotamobagu hendak menemui Asisten III, Dra Djumiati Makalalag, untuk bertanya seputar status Stadion Gelora Ambang yang masih terhitung sebagai aset Pemkab Bolmong.
“Memang baru-baru ini antara Pemkot dan Pemkab, ada rencana pembahasan untuk penyerahan aset secara resmi. Tapi waktunya belum disepakati kapan persisnya,” kata Makalalag melalui pesan singkat via handphone, Rabu 30/10/2013, lalu ia menyarankan saya selaku wartawan lintasbmr.com supaya bertemu langsung dengan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Kotamobagu Mustafa Limbalo, atau menemui Kepala Dinas PPKAD.
Pada sebuah kesempatan saat Dialog Publik yang dilangsungkan HMI Bolmong pada, Sabtu 16/11/2013, di Restoran Lembah Bening Sinindian, saya sempat bertemu Sekda Kota Kotamobagu Mustafa Limbalo dan menanyakan soal status Gelora Ambang. Dikatakan oleh Limbalo bahwa, Gelora Ambang memang terhitung sebagai salah satu aset di antara 39 aset milik Pemkab Bolmong yang masih berada di wilayah Kotamobagu. Ia mengatakan, persoalan aset ini akan segera diselesaikan dalam waktu dekat ini.
Untuk diketahui, persoalan aset milik Pemkab Bolmong yang berada di wilayah pemerintahan Kotamobagu, hingga kini masih terkatung-katung pengelolaanya semenjak Ibukota Kabupaten Bolaang Mongondow pindah ke Lolak tahun 2010 silam. Mengemuka wacana agar aset yang tertinggal, diserahkan saja pihak Pemkab Bolmong ke Pemkot Kotamobagu. Para pemangku kebijakan antara kedua belah pihak telah ada kata sepakat. Akan tetapi realisasi penyerahan aset tersebut hingga saat ini urung dilakukan. Alhasil, banyak aset terbengkalai, termasuk bekas Kantor Pemkab Bolmong dan sejumlah kantor SKPD, termasuk Rumah Jabatan Bupati di Bukit Ilongkow yang santer dijadikan lokasi judi sabung ayam oleh masyarakat.
Akan halnya dengan Stadion Gelora Ambang, aset yang satu ini memang sudah lama terbengkalai melewati hitungan 1 dekade bahkan sebelum pemekaran terjadi dan jauh hari sebelum pemerintah kabupaten Bolaang Mongondow pindah alamat ke Lolak, kondisi stadion Gelora Ambang memang sudah ‘sakit’ kronis.
Ah, Gelora Ambang. Riwayatmu kini....
(Tulisan ini pernah dimuat di media elektronik www.lintasbmr.com, waktu saya masih sebagai reporter di media itu. Saya bermaksud ingin mengabadikan tulisan ini di blog pribadi saya.)
Selasa, 22 Juli 2014
Sapu Lidi dan Sebuah Pelukan
Sampang. Januari 1996 ...
Masih terlalu pagi, ketika ibu membangunkanku untuk bersegera ke sekolah. Usiaku kini sepuluh tahun. Kelas 3 Sekolah Dasar.
"Ini sapu lidi yang dipesan ibu gurumu," kata Ibu sambil meletakkan sapu lidi itu di sampingku. Ibuku merautnya sendiri.
Kebetulan hari ini hari Jumat. Ada mata pelajaran Olahraga, Agama, dan PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Sapu lidi itu pesanan ibu guru Suhasni, ia guru mata pelajaran PMP.
Namaku Shadra Ghadir Khum, biasa dipanggil Saga. Entah kenapa ayah dan ibu menamaiku demikian. Aku berusaha mencari tahu. Tapi tak kunjung kutemukan di buku-buku perpustakaan sekolah apalagi di setiap mata pelajaran yang guru-guru ajarkan. Sebenarnya mudah, aku tinggal bertanya kepada ayah ataupun ibu, atau kepada guru-guru. Tapi terlalu mudah, tidak mendidikku untuk belajar mencari tahu. Pikirku begitu. Nantilah, pasti ada buku yang kutemukan dan bisa menjawabnya.
"Aku pamit dulu Bu," kuciumi punggung tangannya.
Ah, lagi-lagi olahraga. Senam. Lalu dilanjutkan dengan praktek lari maraton. Setelah fisik terasa lelah, tapi bugar seketika hadir saat selesai mandi. Hari Jumat, hari ini biasanya aku mandi hingga empat kali. Pagi tadi, selesai olahraga, pergi ke masjid untuk sholat Jumat, dan mandi lagi sore nanti.
Setelah pelajaran olahraga, kali ini ada mata pelajaran Agama. Setelah itu baru masuk pada jam mata pelajaran PMP.
Ibu Suhasni dengan wajah cerah masuk ke ruang kelas, "Ayo anak-anak, kumpulkan sapu lidi yang kemarin ibu pesan kepada kalian."
Setelah semua murid mengumpulkan sapu lidi. Ibu Suhasni mengambil satu sapu lidi yang berada di sudut ruangan kelas. Bukan di antara puluhan sapu lidi yang kami kumpulkan tadi. Sapu lidi itu warnanya kecoklatan. Warisan dari kakak-kakak kelas.
"Kali ini kita akan membahas soal Bhineka Tunggal Ika," kata Ibu Suhasni sambil mengambil sebatang lidi dari himpunan sapu lidi.
Ia mematahkannya. "Lihat anak-anak. Dengan mudahnya sebatang lidi ini bisa dipatahkan. Akan tetapi, jika kita mencoba mematahkan ratusan batang lidi yang disatukan, akan sulit nantinya."
Ia mengambil sapu lidi itu dan coba mematahkannya, "Coba kalian perhatikan."
Semakin kuat ia mencoba mematahkan sapu lidi itu. Himpunan batangan lidi itu makin merangkul satu dengan lainnya dengan erat.
Kejadian itu, kembali terbayang di benakku. Di tahun 2014. Ketika arti dari namaku sendiri yakni Shadra Ghadir Khum telah kuketahui. Di tahun sekarang ini rakyat Indonesia merayakan pesta demokrasi. Tanggal 9 Juli kemarin.
Ingatan ketika sebatang lidi yang ringkih dan kecoklatan itu, yang tampak telah biliun debu dibelainya dan yang diterbangkannya ke udara, coba kuhubungkan dengan Pemilu (Pemilihan Umum) sekarang ini. Siapa yang memiliki jumlah batangan lidi terbanyak, maka akan menjadi satu kekuatan yang tak akan terpatahkan.
Dari dua calon pemimpin. Aku memilih Jokowi. Bukan Prabowo si mantan jendral itu. Ayahku pun suka dengan sosok Jokowi. Kata ayah, mudah-mudahan Jokowi bisa memperhatikan pemeluk agama minoritas di Indonesia, khususnya di wilayah tempat kelahiran kami.
Di tahun 2014 teknologi makin pesat perkembangannya. Aku mulai mengenal internet selain buku-buku bacaan yang sudah lebih mudah didapatkan pula. Arti namaku pun kutemukan dari internet. Shadra, adalah nama filsuf atau pemikir islam asal Syiraz, sebuah kota yang paling terkenal di Iran. Filsuf pada abad 16 Masehi. Sedangkan Ghadir Khum, adalah lokasi yang terletak di antara Kota Makkah dan Kota Madinah, Saudi Arabia. Menurut penganut Syiah, di tempat inilah Ali bin Abu Thalib dinobatkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Wali dan Khalifah Ar-Rasyidin umat Islam. Aku makin mengenal dengan baik namaku sendiri, sama seperti aku mengenal baik Prabowo.
Aku dan keluargaku tidak tinggal lagi di Sampang, Madura. Sekarang kami menetap di Banjarmasin. Alasan kami pindah bukan karena direlokasi oleh pemerintah sejak konflik Sampang kemarin. Ayah memang dipindah-tugaskan ke sini sejak tahun 2000. Ayahku seorang PNS. Ketika ditanya kenapa tidak suka dengan Prabowo. Jawaban yang kudapati hanya sebait kalimat singkat, "Ini persoalan akidah, Nak."
Aku kembali teringat dengan kisah sapu lidi tadi. Waktu ke TPS kemarin untuk mencoblos. Alat yang digunakan untuk mencoblos adalah sebuah paku. Kali ini imajinasiku bukan lagi tentang sebatang lidi. Sebatang lidi tadi mungkin adalah pengandaian ketika aku masih bocah. Aku telah tumbuh menjadi sebuah logam besi. Aku kali ini sebuah paku yang berhimpun dengan jutaan paku lainnya dan menjelma menjadi palu besar. Palu yang siap menghantam bangunan kokoh yang bernama kekuasaan.
Dalam permenungan, aku melihat Prabowo serupa palu yang selalu melihat masalah adalah sebuah paku. Siap memukul dan menancapkan kami ke setiap tempat yang ia suka. Sementara Jokowi, adalah ia yang membangkitkan semangat perlawanan kami. Jokowi berhasil menghimpun kami menjadi satu kekuatan. Menjadi sebuah godam.
Lidi, paku, dan sebuah palu. Ketiganya adalah alat. Bukan berarti kita rakyat yang bisa diperalat. Keputusan ada pada kita. Kita tinggal memilih. Kita tidak ingin amnesia terus, lantas mencambuki tubuh kita dengan seikat lidi, menghujamkan paku ke kepala, dan menenggelamkannya ke dalam akal sehat kita dengan satu pukulan palu.
"Kamu telah sembuh, Nak!" teriak Jokowi dari podium kemenangan.
Aku melangkah ke halaman belakang. Mendapati ayah yang sedang mengurusi ayam jagonya. Ia menatapku. Kali ini ada bulir-bulir air matanya memberat jatuh. Mengundang satu-dua bulir air mata dari kelopak mataku.
"Ayah rindu kampung halaman, Nak!"
Aku lantas merangkulnya. Memeluk layaknya seorang kawan lama yang baru saja berjumpa.
"Ayah, kenapa kita bisa saling membenci?"
"Kita bisa saling membenci, tapi entah kenapa kita harus saling membunuh. Ayah tak pernah mengerti."
"Saga. Pergilah ke rumah Fatan, kalian lama tak saling tegur hanya karena beda pilihan calon pemimpin. Terlebih, Fatan satu sekolah denganmu di Sampang pula. Pelukanmu ini pantas untuk dia."
Kini, aku lebih termaknai akan arti dari Bhineka Tunggal Ika.
Masih terlalu pagi, ketika ibu membangunkanku untuk bersegera ke sekolah. Usiaku kini sepuluh tahun. Kelas 3 Sekolah Dasar.
"Ini sapu lidi yang dipesan ibu gurumu," kata Ibu sambil meletakkan sapu lidi itu di sampingku. Ibuku merautnya sendiri.
Kebetulan hari ini hari Jumat. Ada mata pelajaran Olahraga, Agama, dan PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Sapu lidi itu pesanan ibu guru Suhasni, ia guru mata pelajaran PMP.
Namaku Shadra Ghadir Khum, biasa dipanggil Saga. Entah kenapa ayah dan ibu menamaiku demikian. Aku berusaha mencari tahu. Tapi tak kunjung kutemukan di buku-buku perpustakaan sekolah apalagi di setiap mata pelajaran yang guru-guru ajarkan. Sebenarnya mudah, aku tinggal bertanya kepada ayah ataupun ibu, atau kepada guru-guru. Tapi terlalu mudah, tidak mendidikku untuk belajar mencari tahu. Pikirku begitu. Nantilah, pasti ada buku yang kutemukan dan bisa menjawabnya.
"Aku pamit dulu Bu," kuciumi punggung tangannya.
Ah, lagi-lagi olahraga. Senam. Lalu dilanjutkan dengan praktek lari maraton. Setelah fisik terasa lelah, tapi bugar seketika hadir saat selesai mandi. Hari Jumat, hari ini biasanya aku mandi hingga empat kali. Pagi tadi, selesai olahraga, pergi ke masjid untuk sholat Jumat, dan mandi lagi sore nanti.
Setelah pelajaran olahraga, kali ini ada mata pelajaran Agama. Setelah itu baru masuk pada jam mata pelajaran PMP.
Ibu Suhasni dengan wajah cerah masuk ke ruang kelas, "Ayo anak-anak, kumpulkan sapu lidi yang kemarin ibu pesan kepada kalian."
Setelah semua murid mengumpulkan sapu lidi. Ibu Suhasni mengambil satu sapu lidi yang berada di sudut ruangan kelas. Bukan di antara puluhan sapu lidi yang kami kumpulkan tadi. Sapu lidi itu warnanya kecoklatan. Warisan dari kakak-kakak kelas.
"Kali ini kita akan membahas soal Bhineka Tunggal Ika," kata Ibu Suhasni sambil mengambil sebatang lidi dari himpunan sapu lidi.
Ia mematahkannya. "Lihat anak-anak. Dengan mudahnya sebatang lidi ini bisa dipatahkan. Akan tetapi, jika kita mencoba mematahkan ratusan batang lidi yang disatukan, akan sulit nantinya."
Ia mengambil sapu lidi itu dan coba mematahkannya, "Coba kalian perhatikan."
Semakin kuat ia mencoba mematahkan sapu lidi itu. Himpunan batangan lidi itu makin merangkul satu dengan lainnya dengan erat.
Kejadian itu, kembali terbayang di benakku. Di tahun 2014. Ketika arti dari namaku sendiri yakni Shadra Ghadir Khum telah kuketahui. Di tahun sekarang ini rakyat Indonesia merayakan pesta demokrasi. Tanggal 9 Juli kemarin.
Ingatan ketika sebatang lidi yang ringkih dan kecoklatan itu, yang tampak telah biliun debu dibelainya dan yang diterbangkannya ke udara, coba kuhubungkan dengan Pemilu (Pemilihan Umum) sekarang ini. Siapa yang memiliki jumlah batangan lidi terbanyak, maka akan menjadi satu kekuatan yang tak akan terpatahkan.
Dari dua calon pemimpin. Aku memilih Jokowi. Bukan Prabowo si mantan jendral itu. Ayahku pun suka dengan sosok Jokowi. Kata ayah, mudah-mudahan Jokowi bisa memperhatikan pemeluk agama minoritas di Indonesia, khususnya di wilayah tempat kelahiran kami.
Di tahun 2014 teknologi makin pesat perkembangannya. Aku mulai mengenal internet selain buku-buku bacaan yang sudah lebih mudah didapatkan pula. Arti namaku pun kutemukan dari internet. Shadra, adalah nama filsuf atau pemikir islam asal Syiraz, sebuah kota yang paling terkenal di Iran. Filsuf pada abad 16 Masehi. Sedangkan Ghadir Khum, adalah lokasi yang terletak di antara Kota Makkah dan Kota Madinah, Saudi Arabia. Menurut penganut Syiah, di tempat inilah Ali bin Abu Thalib dinobatkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Wali dan Khalifah Ar-Rasyidin umat Islam. Aku makin mengenal dengan baik namaku sendiri, sama seperti aku mengenal baik Prabowo.
Aku dan keluargaku tidak tinggal lagi di Sampang, Madura. Sekarang kami menetap di Banjarmasin. Alasan kami pindah bukan karena direlokasi oleh pemerintah sejak konflik Sampang kemarin. Ayah memang dipindah-tugaskan ke sini sejak tahun 2000. Ayahku seorang PNS. Ketika ditanya kenapa tidak suka dengan Prabowo. Jawaban yang kudapati hanya sebait kalimat singkat, "Ini persoalan akidah, Nak."
Aku kembali teringat dengan kisah sapu lidi tadi. Waktu ke TPS kemarin untuk mencoblos. Alat yang digunakan untuk mencoblos adalah sebuah paku. Kali ini imajinasiku bukan lagi tentang sebatang lidi. Sebatang lidi tadi mungkin adalah pengandaian ketika aku masih bocah. Aku telah tumbuh menjadi sebuah logam besi. Aku kali ini sebuah paku yang berhimpun dengan jutaan paku lainnya dan menjelma menjadi palu besar. Palu yang siap menghantam bangunan kokoh yang bernama kekuasaan.
Dalam permenungan, aku melihat Prabowo serupa palu yang selalu melihat masalah adalah sebuah paku. Siap memukul dan menancapkan kami ke setiap tempat yang ia suka. Sementara Jokowi, adalah ia yang membangkitkan semangat perlawanan kami. Jokowi berhasil menghimpun kami menjadi satu kekuatan. Menjadi sebuah godam.
Lidi, paku, dan sebuah palu. Ketiganya adalah alat. Bukan berarti kita rakyat yang bisa diperalat. Keputusan ada pada kita. Kita tinggal memilih. Kita tidak ingin amnesia terus, lantas mencambuki tubuh kita dengan seikat lidi, menghujamkan paku ke kepala, dan menenggelamkannya ke dalam akal sehat kita dengan satu pukulan palu.
"Kamu telah sembuh, Nak!" teriak Jokowi dari podium kemenangan.
Aku melangkah ke halaman belakang. Mendapati ayah yang sedang mengurusi ayam jagonya. Ia menatapku. Kali ini ada bulir-bulir air matanya memberat jatuh. Mengundang satu-dua bulir air mata dari kelopak mataku.
"Ayah rindu kampung halaman, Nak!"
Aku lantas merangkulnya. Memeluk layaknya seorang kawan lama yang baru saja berjumpa.
"Ayah, kenapa kita bisa saling membenci?"
"Kita bisa saling membenci, tapi entah kenapa kita harus saling membunuh. Ayah tak pernah mengerti."
"Saga. Pergilah ke rumah Fatan, kalian lama tak saling tegur hanya karena beda pilihan calon pemimpin. Terlebih, Fatan satu sekolah denganmu di Sampang pula. Pelukanmu ini pantas untuk dia."
Kini, aku lebih termaknai akan arti dari Bhineka Tunggal Ika.
Kamis, 22 Mei 2014
Saung Layung Arus Balik
Begitu nikmatnya ketika kita membuka mata di kala pagi, dan disambut dengan kemuning cahaya mentari di punggung pegunungan dan hijau hamparan persawahan. Menghidu aroma sejuk yang menebal di udara, dan telinga yang dihibur kicau burung-burung mencicit di desir angin pagi. Maka nikmat Tuhan manalagi yang kamu dustakan di keadaan seperti itu?
Yah, sampai di suatu hari, seorang sahabat yang mempunyai cita-cita yang kurang lebih sama mengabariku lewat SMS. "Sigidad, kami berencana mendirikan rumah belajar di sana, lokasinya di desa Moyag, dan satunya lagi di desa Bakan. Nanti kita ketemuan untuk membicarakannya."
Mimpi itu terwujud sudah. Setelah perjumpaan yang singkat di rumahnya, rencana kami itu akan coba dirampungkan setelah segala urusan perkuliahannya selesai. Beberapa orang teman kuliahnya yang berasal dari Makassar melakukan riset di lingkar tambang di desa Bakan, dan akhirnya tugas mereka pun selesai dan waktunya untuk mereka kembali ke Makassar.
Setelah sebelumnya diajak keliling-keliling kota Manado hingga menyempatkan diri menyelam di keindahan taman laut dan terumbu karang pulau Bunaken, akhirnya bandara Samratulangi menunggu mereka untuk membawa mereka kembali pulang. Misi selesai sudah.
Setelah itu, di rumah saudaranya yang menjadi tempat kami menginap sementara, tepatnya di tepi kolam ikan yang letaknya di halaman belakang rumah, ide segar itupun tiba-tiba benderang di atas kepala kami. Satu kata telah ditemukan, Saung. Dan setelah itu kata kedua, Layung. Dan sisanya kami mencuri judul bukunya Pramoedya Ananta Toer, Arus Balik.
Jadilah sebuah nama untuk rumah belajar kami "Saung Layung Arus Balik". Dan tanpa disengaja, "Saung" itu mengidentikkan dengan tempat rumah belajar itu sendiri, yakni desa Bakan yang memang sebuah wilayah yang dikelilingi area persawahan dan terdapat beberapa saung di setiap hamparan persawahan. Dan kata "Layung" yang jika di desa Moyag, di kala sore hari, maka warna kuning kemerah-merahan di ufuk barat Kotamobagu akan terlihat begitu indah dari sana.
Apa sebenarnya yang menggerakkan hati kami untuk mencoba mendirikan rumah belajar yang orientasinya memang bukan hanya untuk anak-anak putus sekolah, pun dengan metode belajar yang berbeda dari sekolah formal?
Kami hanya ingin agar dada anak-anak ini tak berdebar takut kala malam hari, tersebab pekerjaan rumah mereka yang belum selesai, atau dengan mata pelajaran yang membuat mereka pusing keesokan harinya. Tapi kami ingin supaya dada mereka bergemuruh tak sabar menanti esok hari, karena pelajaran-pelajaran itu mereka sukai dan dinanti-nantikan. Keajaiban masa kanak-kanak tak boleh direbut oleh pekerjaan rumah yang menumpuk dan mata pelajaran yang memusingkan.
Nak, ambil penamu dan menulislah sesuka hatimu. Corat-coretlah lembaran putih itu, gambarlah apa saja yang terlintas di imajinasi kalian, lalu namai sesuka hati kalian. Dan tanyailah kami apa saja, sebab kami akan coba menjawab dengan bahasa yang kalian tahu.
***
Kemarin kami menyempatkan diri mengunjungi desa Bakan dan bertemu dengan kepala desa di kediamannya. Respon yang mulia itu tertutur haru dengan diijinkannya kami menempati salah satu ruangan di bangunan sekolah dasar. Karena waktu mengajar kami sore hari, maka tak menggangu aktivitas belajar mereka.
Terima kasih pak kepala desa...
Sedangkan untuk lokasi di desa Moyag. Kebetulan akses di sana pun cukup merangkul kami.
Ah, tak sabar menunggu saat mulai mengajar itu tiba. Apapun yang menyoal kemanusiaan, terlebih itu mengenai pendidikan, seperti kata Pram, "Pendidikan untuk mengagungkan kemanusiaan."
Setelah ini, mungkin aku berniat ingin membukukan pengalaman-pengalaman mengajar kami nantinya. Dan untuk teman-teman yang tergerak hatinya ingin turut berpartisipasi dengan kami. Ringankan langkah kalian demi mencerdaskan generasi Nusantara.
Saung Layung Arus Balik. Tuhan tahu apa yang ada di benak kami. Dengan niat yang tulus, maka setelah itu yang ada hanyalah kata, "Mari berbuat!"
Sabtu, 03 Mei 2014
Dumoga, Negeri Para Shinobi
Yang akrab dengan manga (komik Jepang) apalagi yang berlatar Ninja, pasti familiar dengan sebutan Shinobi. Shinobi atau Ninja, yang ingin saya hubungkan dengan suatu wilayah rentan rusuh, Dumoga.
Saya mendengar seorang kawan pernah melontarkan kalimat itu, "Dumoga, negeri para Shinobi," Sebulan yang lalu, jauh sebelum Doloduo dan Ikhwan saling terkam dalam rusuh tarkam pekan lalu. Pun disusul bentrok antara desa Imandi dan Tambun, dan kini dilanjutkan pula seteru yang melibatkan tiga desa. Ibolian, Tonom, dan Mogoyunggung.
Memang warga Dumoga identik dengan perangai yang keras sebab terbiasa hidup keras. Hampir sebagian penduduk Dumoga yang bermata pencaharian sebagai penambang tradisional, liar, dan seringkali tak segan mengorbankan nyawa untuk berebutan lokasi tambang, hingga terbisiklah istilah "Baninja" dari kuping ke kuping, mereka yang rela mati demi suap nasi untuk bini dan anak mereka. Terlepas dari persoalan sengketa wilayah tambang, kini betrok mulai disebabkan oleh hal-hal sepeleh, yakni pemuda-pemuda yang mabuk.
Bicara soal ninja, tak banyak memang dari para ninja-ninja Dumoga ini memiliki ninjutsu, keahlian seni beladiri di atas rata-rata, bahkan santer terdengar ilmu beladiri mereka yang tak bisa dilogiskan pun sempat menjadi ketakutan di antara para ninja-ninja lainnya. Selain kelihaian mereka memainkan samurai tentunya.
Saya ingin mendedah sedikit soal rusuh tarkam antara Doloduo dan Ikhwan. Soal penembakan aparat kepada enam orang warga yang di antaranya ada dua orang ibu rumah tangga. Sungguh tragis. Peluru yang menembus payudara ibu. Payudara yang menyusui putra-putri Dumoga. Meski dengan alasan prosedural, kenapa moncong senapan tak kalian arahkan ke kaki duluan? Melumpuhkan.
Ibu-ibu yang melahirkan putra dan putri Dumoga tak pernah ingin keturunan mereka meliar seperti sekawanan serigala. Tapi alam dan keadaan yang mendidik mereka. Air susu dari puting payudara dua ibu yang terluka oleh terjangan peluru dari aparat, tak pernah berharap otak anak-anak mereka terganggu oleh sebab gizi yang mereka asup dan membaur di air susu membikin otak anak-anak mereka bebal. Dan tentu saja, dua ibu itu tak pernah menyadari, akan diterjang oleh peluru-peluru nyasar. Sebab apapun yang nyasar, pasti selalu tentang ketidaktelitian.
Saat gejolak konflik ini merembet ke desa-desa lainnya yang juga sudah cukup mainstream kita dengar seperti bentrok antar Imandi dan Tambun, juga Ibolian dan Tonom berlanjut. Sikap pihak keamanan yang dengan sigap berjibaku menentramkan konflik, mulai awas dengan kejadian penembakan sebelumnya. Semua memang tak ingin "perang", dan kala api temu bensin, yang harus menyiapkan setimba air itu siapa?
Dalam kasus ini, saya bukan menyalahkan aparat kepolisian yang mengamankan rusuh tarkam. Siapa pun tak setuju dengan perbuatan tak memanusiakan manusia lainnya. Tapi mampukah para pihak keamanan ini bersikap netral? jika kita telaah lebih cerlang, bahwa bentrok yang terjadi selalu antara dua penganut agama yang berbeda.
Tentunya kita tak ingin di negeri Totabuan ini, sampai pecah konflik yang dilatarbelakangi oleh konflik antar agama. Solusi yang terbaik, kenapa tak menggiatkan kegiatan-kegiatan yang mempersatukan tali persaudaraan? semisal membiasakan setiap hari-hari besar masing-masing agama, agar saling turut membantu keamanan di hari-hari perayaan itu. Mari kita ciptakan kembali budaya gotong-royong. Anak-anak sedari usia dini dididik agar saling menghargai desa tetangga, dan tentunya penganut agama yang berbeda.
Sekejam-kejamnya para Shinobi, di saat sebelum membunuh, coba ditatap kembali dengan seksama lagi binar mata korban. Rasakan kehidupan di sana dan maknai bahwa kita adalah sesama manusia yang, untuk apa saling tengkar. Apalagi sebab yang selalu didasari hal sepeleh: karena alasan mabuk, teriak, dan raungan bising knalpot racing.
Saya sungguh prihatin dengan konflik yang terjadi di Dumoga. Dan jika benar kalian para Shinobi sejati, kenapa tak kalian gunakan keahlian kalian dengan sebuah prestasi? Atau kenapa tak banyak merekrut calon polisi ataupun TNI dari warga Dumoga?
Ah, ini bumi jika terbelah dua dan yang di antaranya hanya langit. Manusia akan tetap menyeberanginya untuk berperang. Kalian di Dumoga bukan bodoh, tapi tak mau belajar untuk membuka diri dengan perbedaan.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Saya mendengar seorang kawan pernah melontarkan kalimat itu, "Dumoga, negeri para Shinobi," Sebulan yang lalu, jauh sebelum Doloduo dan Ikhwan saling terkam dalam rusuh tarkam pekan lalu. Pun disusul bentrok antara desa Imandi dan Tambun, dan kini dilanjutkan pula seteru yang melibatkan tiga desa. Ibolian, Tonom, dan Mogoyunggung.
Memang warga Dumoga identik dengan perangai yang keras sebab terbiasa hidup keras. Hampir sebagian penduduk Dumoga yang bermata pencaharian sebagai penambang tradisional, liar, dan seringkali tak segan mengorbankan nyawa untuk berebutan lokasi tambang, hingga terbisiklah istilah "Baninja" dari kuping ke kuping, mereka yang rela mati demi suap nasi untuk bini dan anak mereka. Terlepas dari persoalan sengketa wilayah tambang, kini betrok mulai disebabkan oleh hal-hal sepeleh, yakni pemuda-pemuda yang mabuk.
Bicara soal ninja, tak banyak memang dari para ninja-ninja Dumoga ini memiliki ninjutsu, keahlian seni beladiri di atas rata-rata, bahkan santer terdengar ilmu beladiri mereka yang tak bisa dilogiskan pun sempat menjadi ketakutan di antara para ninja-ninja lainnya. Selain kelihaian mereka memainkan samurai tentunya.
Saya ingin mendedah sedikit soal rusuh tarkam antara Doloduo dan Ikhwan. Soal penembakan aparat kepada enam orang warga yang di antaranya ada dua orang ibu rumah tangga. Sungguh tragis. Peluru yang menembus payudara ibu. Payudara yang menyusui putra-putri Dumoga. Meski dengan alasan prosedural, kenapa moncong senapan tak kalian arahkan ke kaki duluan? Melumpuhkan.
Ibu-ibu yang melahirkan putra dan putri Dumoga tak pernah ingin keturunan mereka meliar seperti sekawanan serigala. Tapi alam dan keadaan yang mendidik mereka. Air susu dari puting payudara dua ibu yang terluka oleh terjangan peluru dari aparat, tak pernah berharap otak anak-anak mereka terganggu oleh sebab gizi yang mereka asup dan membaur di air susu membikin otak anak-anak mereka bebal. Dan tentu saja, dua ibu itu tak pernah menyadari, akan diterjang oleh peluru-peluru nyasar. Sebab apapun yang nyasar, pasti selalu tentang ketidaktelitian.
Saat gejolak konflik ini merembet ke desa-desa lainnya yang juga sudah cukup mainstream kita dengar seperti bentrok antar Imandi dan Tambun, juga Ibolian dan Tonom berlanjut. Sikap pihak keamanan yang dengan sigap berjibaku menentramkan konflik, mulai awas dengan kejadian penembakan sebelumnya. Semua memang tak ingin "perang", dan kala api temu bensin, yang harus menyiapkan setimba air itu siapa?
Dalam kasus ini, saya bukan menyalahkan aparat kepolisian yang mengamankan rusuh tarkam. Siapa pun tak setuju dengan perbuatan tak memanusiakan manusia lainnya. Tapi mampukah para pihak keamanan ini bersikap netral? jika kita telaah lebih cerlang, bahwa bentrok yang terjadi selalu antara dua penganut agama yang berbeda.
Tentunya kita tak ingin di negeri Totabuan ini, sampai pecah konflik yang dilatarbelakangi oleh konflik antar agama. Solusi yang terbaik, kenapa tak menggiatkan kegiatan-kegiatan yang mempersatukan tali persaudaraan? semisal membiasakan setiap hari-hari besar masing-masing agama, agar saling turut membantu keamanan di hari-hari perayaan itu. Mari kita ciptakan kembali budaya gotong-royong. Anak-anak sedari usia dini dididik agar saling menghargai desa tetangga, dan tentunya penganut agama yang berbeda.
Sekejam-kejamnya para Shinobi, di saat sebelum membunuh, coba ditatap kembali dengan seksama lagi binar mata korban. Rasakan kehidupan di sana dan maknai bahwa kita adalah sesama manusia yang, untuk apa saling tengkar. Apalagi sebab yang selalu didasari hal sepeleh: karena alasan mabuk, teriak, dan raungan bising knalpot racing.
Saya sungguh prihatin dengan konflik yang terjadi di Dumoga. Dan jika benar kalian para Shinobi sejati, kenapa tak kalian gunakan keahlian kalian dengan sebuah prestasi? Atau kenapa tak banyak merekrut calon polisi ataupun TNI dari warga Dumoga?
Ah, ini bumi jika terbelah dua dan yang di antaranya hanya langit. Manusia akan tetap menyeberanginya untuk berperang. Kalian di Dumoga bukan bodoh, tapi tak mau belajar untuk membuka diri dengan perbedaan.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Minggu, 27 April 2014
Sigi, Selamat Ultah yang ke-3 Tahun
Dulu ia pernah menjadi aib, tapi sekarang ia adalah segala iba. Aku menamainya Sigi, akronim dari nama panjangnya, Sistha Ghasyafani.
Tiga tahun sudah Sigi meliar di lorong-lorong dekat rumahnya. Digendong, dibiarkan berlari, terjatuh dan tersungkur di kerikil-kerikil yang tega. Sigi selalu bangkit meski dengan jerit tangis, tapi satu bujukan permen selalu membikinnya kembali tersenyum.
Setahun aku tinggalkan, membuatnya semakin berjarak denganku. Hanya disaat Sigi pulas, aku bisa memeluknya, menciuminya dengan leluasa. Sigi sangat "mahal" sekarang, mungkin itu sebuah harga yang pantas kubayar, sebab aku tak pernah ada disaat ia ingin mengenali wajah seorang ayah.
Sigi memiliki dua wajah. Mirip wajah ibunya saat keduanya sedang foto bersama. Dan mirip wajahku disaat ia berfoto denganku. Anak ini lihai berpose. Itu bakat dari ibunya. Kukira iya.
Sigi tak mau tahu dengan sekelilingnya tadi. Ia hanya ingin menangis saat mimpinya direnggut, karena dibangunkan hanya untuk meniupi lilin di kue ulang tahun. Kalau soal tidur yang tak mau diganggu, mungkin ini bakat dari ayahnya. Iya.
Sigi, wajahmu begitu kusut tadi. Aku ingin mengungkai rautmu, menyulamkan kembali menjadi senyum indah. Aku ingin mengacak-ngacak keriting rambutmu dan ingin mendengar tawamu. Meski hanya sekali, tawamu selalu terngiang abadi.
Tadi, saat menciuminya. Napasnya memburu seakan ingin mengejar kembali mimpinya. Ah, Sigi, tidur lagi saja. Yang Maha Tak Tidur masih mau memberi kita usia untuk bersua lagi.
Terima kasih untuk satu kecupan engganmu tadi. Itu sudah lebih dari cukup. Tidurlah lagi. Dan selamat ulang tahun yang ke-3. Jangan pernah dewasa...
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Tiga tahun sudah Sigi meliar di lorong-lorong dekat rumahnya. Digendong, dibiarkan berlari, terjatuh dan tersungkur di kerikil-kerikil yang tega. Sigi selalu bangkit meski dengan jerit tangis, tapi satu bujukan permen selalu membikinnya kembali tersenyum.
Setahun aku tinggalkan, membuatnya semakin berjarak denganku. Hanya disaat Sigi pulas, aku bisa memeluknya, menciuminya dengan leluasa. Sigi sangat "mahal" sekarang, mungkin itu sebuah harga yang pantas kubayar, sebab aku tak pernah ada disaat ia ingin mengenali wajah seorang ayah.
Sigi memiliki dua wajah. Mirip wajah ibunya saat keduanya sedang foto bersama. Dan mirip wajahku disaat ia berfoto denganku. Anak ini lihai berpose. Itu bakat dari ibunya. Kukira iya.
Sigi tak mau tahu dengan sekelilingnya tadi. Ia hanya ingin menangis saat mimpinya direnggut, karena dibangunkan hanya untuk meniupi lilin di kue ulang tahun. Kalau soal tidur yang tak mau diganggu, mungkin ini bakat dari ayahnya. Iya.
Sigi, wajahmu begitu kusut tadi. Aku ingin mengungkai rautmu, menyulamkan kembali menjadi senyum indah. Aku ingin mengacak-ngacak keriting rambutmu dan ingin mendengar tawamu. Meski hanya sekali, tawamu selalu terngiang abadi.
Tadi, saat menciuminya. Napasnya memburu seakan ingin mengejar kembali mimpinya. Ah, Sigi, tidur lagi saja. Yang Maha Tak Tidur masih mau memberi kita usia untuk bersua lagi.
Terima kasih untuk satu kecupan engganmu tadi. Itu sudah lebih dari cukup. Tidurlah lagi. Dan selamat ulang tahun yang ke-3. Jangan pernah dewasa...
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Rabu, 12 Maret 2014
Hibah Nyawa dari Timur Bolmong Raya
![]() |
| M Fahri Damopolii |
Penggalan dialog itu dikutip dari novel "Candide", karya termasyhur Voltaire, yang ditulis pada tahun 1751 di tengah zaman yang penuh optimisme. Yang menarik dari novel ini adalah cara Voltaire menyajikan itu. Bahwa ruang optimisme yang pada akhirnya muncul ke permukaan, diraih dengan sederet rasa pesimis. Bahwa pelita adalah omong kosong ketika tak pernah ada ruang gelap. Dan orang-orang mungkin benar; dalam setiap optimisme, ada se-titik keraguan.
Kita mungkin tak pernah tahu dalam batas apa ketika optimisme harus mekar, dan di titik mana ketika keraguan datang meredup. Tapi broadcast BBM yang saya terima Sabtu siang pekan lalu, dari Buyung Algiffari Potabuga, seorang sahabat di ujung Timur Bolmong Raya, cukup menggugah rasa, pun menohok harapan sekaligus ilusi; "Jika Bukan Provinsi BMR Maka Kami Negara BMR". Di dalamnya ada pengumuman terbuka—untuk tak menyebut radikal—dari para pemuda yang menuntut pembentukan Provinsi Bolmong Raya, hingga batas menghibahkan nyawa. Singkatnya; jika Provinsi Bolmong Raya tidak direstui Pemerintah Pusat, elemen pemuda ini akan memperjuangkan BMR menjadi Negara sendiri, meski nyawa adalah taruhan.
Gaung provinsi Bolmong Raya memang sedang menggema, merasuk, mencumbu tiap insan Mongondow—tak terkecuali kaum muda, yang telah butuh waktu cukup panjang menggantung asa di atas langit ketidakpastian. Saya, yang hampir 13 tahun lalu, pernah menuliskan pemekaran wilayah Bolmong Raya, pun ketika itu tak bisa mangkir dari rasa itu; bercengkrama dengan ketidakpastian, sekaligus ilusi. Sebuah ketidakpastian memang mengandung optimisme dan keraguan, termasuk ilusi.
Tapi perjuangan panjang untuk membentuk Provinsi Bolmong Raya; dari wacana, konsepsi serta aksi, terutama dari Panitia Pemekaran Provinsi Bolmong Raya yang mendapat dukungan penuh dari seluruh komponen masyarakat, telah cukup membungkam ilusi. Yang tersisa kemudian adalah rasa optimis, meski keraguan masih saja tak bisa ditelungkup. Dan kita tahu setiap perjuangan adalah perhelatan, dan tiap perhelatan menghadirkan panggung bagi siapa saja untuk menggelar eksistensi.
Aksi hibah nyawa yang digagas teman-teman dari wilayah Bolaang Mongondow Timur, bagi saya juga adalah sebuah panggung dengan segala rupa eksistensi yang hendak dipertontonkan. Rasa optimis dan pesimis sering membuka ruang bagi orang-orang untuk melahirkan laku, bahkan nekat. Dan keduanya sering saling mendesak diantara panggung-panggung yang tersedia. Tak kala sebagian besar orang optimis atas kunjungan tim DPOD ke Kota Kotamobagu untuk memantau kesiapan calon ibu kota provinsi, lengkap dengan gegap gempitanya panggung yang tersaji, di timur Bolmong Raya pesimisme hadir dengan panggung yang cukup menghentak, menuntut, mengancam—juga menggugah, yang dicetus kaum muda. Dari ujung timur itu mereka berteriak tentang ketidakpastian. Di sana mereka menggagas sebuah cita-cita. Di sana mereka menghibah nyawa sambil menggelegar; Merdeka atau Mati!
Hibah nyawa tentu bukan perkara sembarang. Kita tahu nyawa tak pernah dipajang di etalase pertokoan atau dijual ecer di lapak pedagang. Sebagaimana kita tahu juga anak-anak muda memang penuh dengan letupan jiwa, bahkan misteri ketika mereka hendak menghentak sebuah panggung. Mungkin untuk itu Chairil Anwar lantang berteriak; "Sekali berarti sudah itu mati". Bisa jadi karena itu pula Voltaire mengatakan; "anak-anak muda itu belum diajar oleh usia menua, dan belum mau berbagi keinsafan tentang kelemahan manusia". Tapi bukankah setiap panggung yang tersaji harus tetap dihargai? Termasuk panggung yang digelar seorang Buyung Algiffari Potabuga; "Di jalan ini tiada tempat berhenti, sikap lamban berarti mati. Siapa bergerak dialah yang di depan, yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas. Kami tak perlu mengemis mata orang lain untuk melihat, kami melihat dunia dengan mata kami sendiri. Itulah semboyan perjuangan kami".
Panggung ketidakpastian memang sering mengguncang, bahkan jika nyawa menjadi syarat utama suksesnya sebuah pentas. Yang belum—dan mungkin sering lalai—kita sadari adalah; apakah dengan taruhan nyawa dan "Abrakadabra" optimisme seketika menjulang tinggi? Ataukah kematian bisa jadi peretas jalan menghilangkan keraguan. Bukankah dunia ini hanya sementara? Termasuk manusia-manusia didalamnya dengan pemikiran maupun tindakan yang juga sementara. Dan kesementaraan ini pula yang sering kali menyebabkan sebuah panggung yang menghentak bisa tiba-tiba bisu, tanpa suara, tanpa gerak, tapi membekas jejak—bertahan atau ditinggalkan.
Tak kala wartawan Colombia, Eduardo Santos diusir dari negerinya di penghujung tahun 1955, Albert Camus menuliskan sebuah kalimat; "Di hari-hari ini kemerdekaan tak punya banyak sekutu". Namun ikhtiar harus terus dikedepankan; "You can't cross the sea merely by standing and staring at the water", kata Rabindranath Tagore. Dan mengutip penyair Edgar Allan Poe; "Hari ini aku memakai rantai ini, dan aku di sini. Besok aku akan lepas—tapi di mana?". Semoga masih di sini, di Indonesia.
Oleh : M. Fahri Damopolii
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

