Senin, 21 Oktober 2019

Kontributor

Tidak ada komentar

Hampir tiga tahun menjadi kontributor di Beritagar.id, kemudian kabar itu datang: Beritagar.id akan bersulih nama menjadi Lokadata.id akhir tahun ini. Kawan-kawan redaktur yang selama ini menangani kami di daerah-daerah, mulai berpamitan di media sosial. Semuanya sudah tidak lagi di Beritagar.id. Artinya, saya juga tidak lagi menjadi kontributor di media ini. Surel resmi dari kantor telah kami terima hari ini.

Selama ini, selain Beritagar.id, hanya Tirto.id yang rajin saya ikuti berita-beritanya untuk media-media dari ibu kota. Apalagi Beritagar.id memiliki rubrik Laporan Khas, semesta bagi para penulis feature menuangkan kisahnya. Media ini juga punya Galeri yang menjadi ruang bagi para fotografer mengirim foto cerita.

Di media ini, saya belajar bahwa ilmu tak memilik atap. Ia akan terus menapak dari satu langit ke langit berikutnya. Di sini pula laporan-laporan kami disentuh lagi oleh kawan-kawan redaktur yang, juga menjadi mentor kami untuk terus belajar menjahit kata-kata.

Laporan saya memang tak banyak di media ini, karena harus berjajar dengan puluhan usulan kawan-kawan lain di daerah, kemudian dibahas dan disetujui oleh redaksi di Jakarta. Tapi kisah siapa pun yang terpilih tayang, itu adalah cerita terbaik tentang nestapa, bahagia, perjuangan, semangat, dan beragam parade laku manusia.

Pernah sekali laporan saya tak tuntas, karena objek laporan tentang grafiti-grafiti Free West Papua, dihapus oleh puluhan tentara keesokan harinya setelah saya memotretnya satu demi satu. Narasumber yang akan saya wawancarai dari aparat keamanan-guna memastikan data soal penangkapan demi penangkapan terhadap para aktivis yang membikin grafiti-memilih menutup keran informasi dan kerap menghindar meski tiga kali membuat janji bertemu.

Selama menjadi kontributor Beritagar.id, saya merasakan pula bagaimana kerja kami di lapangan begitu dihargai dengan upah yang layak, atau cukup untuk menukar lelah. Sangat sedikit media seperti ini di Indonesia, apalagi memberi ruang bagi penulisan feature, karena itu kami para kontributor di daerah saling bertukar kabar, dan, seperti kata seorang kawan: sedihnya berlipat ganda. 

Sukses selalu untuk semua kawan redaktur dan para kontributor se-Indonesia. Terima kasih Beritagar.id...

Jumat, 27 September 2019

#BebaskanDandhy

Tidak ada komentar

Dandhy Dwi Laksono bagi kami bukan hanya seorang teman, abang, atau sesama jurnalis yang pernah sama-sama bernaung di organisasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia. Ia melampaui itu. Bukan pula guru. Meski ia banyak mengajarkan kepada kami tanpa pamrih. Mungkin bila dipanggil guru, ia akan menepisnya. Dandhy memang terlalu rendah hati untuk kita tinggikan.

Dandhy, bagi saya, sudah memikirkan matang apa yang dikerjakannya selama ini. Terjun menjadi jurnalis yang kerap menyuarakan akar rumput, memang harus ikut menjadi rumput. Diinjak-injak, atau bahkan dikeringkan lalu dibakar. Risiko menjadi seperti Dandhy, memang ditanggung oleh setiap jurnalis. Sudah banyak jurnalis yang dibunuh karena berita. Dipukul, diintimidasi, diteror, dan segala rintang jika kita hendak menyuarakan kebenaran. Di negeri ini, orang benar memang kerap masuk daftar hitam para pembesar.

Kita telah belajar sejarah. Di belahan dunia, orang-orang yang memperjuangkan nasib rakyatnya dan kemanusiaan akan selalu berakhir di terungku. Bahkan bapak-bapak bangsa kita menjadikan penjara serupa kamar sewa. Hatta, sampai dibuang ke Boven Digoel. Dikelilingi nyamuk-nyamuk malaria pemangsa nyawa. Ia bertahan. Tapi tidak bagi Marco Kartodikromo, jurnalis yang dibuang Belanda ke Boven Digoel karena tulisan-tulisannya yang kritis. Mas Marco, panggilannya, meninggal di kamp pembuangannya itu pada 1932. Malaria menyesap ruhnya.

Seperti juga tokoh-tokoh itu, Dandhy telah sadar betul risiko profesinya. Memang, tak ada berita seharga nyawa. Tapi aral selalu ada. Baik ketika berbalut mantel profesi atau tidak. Bukan hanya kami, jurnalis. Tapi bagi siapa saja yang berdiri bersama orang-orang kecil, akan selalu dihardik oleh penguasa. Tengoklah tudingan kepada Dandhy. Dugaan sementara karena cuitannya soal Papua. Saya mencoba memindai beberapa unggahannya tentang kejadian di Papua baru-baru ini. Semua berdasarkan fakta yang telah diberitakan oleh media.

Dandhy, tak akan seceroboh itu membikin celah. Argumennya dan apa yang selalu ia utarakan berdiri kokoh. Saya tahu betul kehati-hatiannya. Apalagi setelah perangkap pasal-pasal karet telah diberlakukan. Saya sempat menulis status belum lama ini, tentang sebagian kawan yang memilih meninggalkan media sosial, karena semakin rentannya media sosial dijadikan perangkap oleh penguasa. Perisai kita hanyalah fakta. Itu saja.

Apa yang diunggah Dandhy soal Papua, mungkin hampir semuanya seragam dengan apa yang diunggah oleh sebagian banyak orang Papua, dan mereka yang memperhatikan Papua. Seandainya itu dipidanakan semua, maka penjara akan penuh oleh kasus yang sama. Sayangnya, pelapor Dandhy bernama Asep Sanusi ini, memang sudah menyasar baik siapa targetnya. Mungkin bagi pembenci Dandhy, Alpha yang ditaklukkan akan membuat lebih mudah meredam nyali kawanannya. Sama seperti penangkapan sejumlah aktivis pro-West Papua. Pun para aktivis KNPB yang ditangkapi satu demi satu. Mereka ini, bernyali sama dengan Dandhy. Mereka sangat tahu apa yang mereka hadapi.

Namun, Dandhy tak pernah memilih menjadi Alpha. Ia tak punya kawanan. Tapi ia memiliki banyak kawan. Sama seperti para pembela Papua lainnya. Mereka ada dan berlipat ganda!

Selasa, 10 September 2019

Wajah Kemanusiaan

1 komentar
Siang itu, mungkin bagi Ramah, akan seperti hari-hari biasanya ketika ia hendak menjahit wawancara demi wawancara, menjadi sebuah berita. Ramah adalah jurnalis Jubi, sepayung kerja dengan saya, dan seorang pendatang dari Buton, Sulawesi Tenggara. Tapi tak ternyana, Kamis itu akan tragis. Demonstrasi kedua mengutuk rasisme terhadap mahasiswa Papua di luar sana, berujung amuk massa.

Ramah, seperti yang ia tuturkan dengan narasi menyentuh di grup kantor kami, berada tepat di antara segitiga bara. Aparat, massa Orang Asli Papua (OAP), dan massa pendatang yang mendaku sebagai masyarakat nusantara (selanjutnya disingkat manus). Kebanyakan dari massa manus itu dari BBM, kepanjangan dari Bugis, Buton, Makassar. Gelombang ketiga massa pendemo tak tahu, pada gelombang sebelumnya, terjadi amuk massa yang membakar sejumlah tempat usaha di sekitar Entrop. Massa OAP yang juga terdiri dari perempuan dan anak-anak ini, terjebak di antara aparat dan massa manus.

Jiwa kemanusiaan Ramah meronta, ketika melihat perempuan dan anak-anak itu panik dan ketakutan di atas tanah mereka sendiri. Seketika mereka menjadi asing di negeri sendiri. Menengok ke belakang, ada aparat yang represif. Di depan, ada manus yang marah karena tempat mereka mengais rezeki hangus. Sehitung detik, Ramah berusaha melindungi mama-mama dan anak-anak mereka, dari aparat dan manus yang mulai bertindak kasar. Ramah kemudian mengantar mereka dengan sepeda motor ke titik teraman di Skyland. Tempat sebelumnya yang sudah dilalui massa aksi. Berkali-kali ia bolak-balik.

Mama-mama itu mengaku berangkat dari Sentani, Expo, Kotaraja, dan Furia. Ketika mengamankan mereka dari aparat dan manus itu, Ramah menanggalkan profesi jurnalisnya. Ia tak mengaku seorang wartawan. Baginya, kali ini kemanusiaan harus paling depan. Hanya kepada mama-mama itulah ia bilang, ia seorang jurnalis.

"Melihat senyum mereka ketika aman, saya merasa ikut bahagia," kata Ramah.

Ramah, bisa jadi salah satu dari sebagian kecil pendatang yang mafhum, ia bukan sekadar mencari makan di tanah Papua. Ia yang sadar bahwa di mana bumi dipijak, di sana langit kemanusiaan dijunjung. Ia bahkan tak memikirkan keselamatannya. Pinta istrinya agar ia segera pulang, tak diindahkannya kali itu.

Kisah Ramah ini, direkam dengan wajah jurnalisme damai yang apik oleh kawan-kawan CNN Indonesia. Saya berada di kantor Jubi ketika potongan wawancara Ramah direkam. Dari durasi yang panjang, kawan-kawan CNN mengemasnya menjadi singkat, tapi begitu tebal narasi kemanusiaan di sana-sini. Beberapa bagian penting dijahit, dan yang paling mengharu-biru, ketika Ramah begitu sedih mengingat perca demi perca kejadian kala itu.

Kawan-kawan CNN membikin video berdurasi 6.50 menit itu, begitu seadanya. Saya segera ingat ketika banjir bandang yang menerjang Sentani belum lama ini, beberapa jurnalis foto dan video dari Jakarta berdatangan. Mereka mulai menemui para korban dan mendramatisir fakta. Para korban diatur sedemikan rupa, agar hasil foto dan video menjadi tragis. Meski sebenarnya para korban saat itu sedang berusaha tegar dari tangis.

Meski belum berselang lama kejadian banjir bandang di Sentani, demonstrasi yang sengaja digeser oleh beberapa massa siluman menjadi konflik antarsipil ini, sebenarnya adalah dua kutub yang begitu cepat saling bertolak. Di Sentani kemarin, kita bisa melihat bagaimana sirnanya sekat antara OAP dan non-OAP. Mereka saling bantu. Namun secepat itu, amukan Robhongholo tak bersisa pemaknaan. Bertahun-tahun merakit kebersamaan, sekali diterjang gelombang, rusak sudah sekali jalan.

Belum lama ini, saya pergi menemui kerabat dari kampung, salah satu anggota Brimob yang ditugaskan di Jayapura. Ketika pulang dari Tanah Hitam, titik penjagaan mereka, saya memilih menggunakan jasa ojek di sekitar situ. Sekalian sepanjang jalan saya hendak bertanya-tanya, tentang suasana genting beberapa lalu di sekitar Tanah Hitam.

Pengendara ojek itu dari Bugis. Ia bercerita tentang malam ketika mereka berjaga-jaga.

"Ada informasi massa dari arah Abe Pantai sana mau serang kami," kisahnya.

"Tapi tidak ada serangan, kan?" tanya saya.

"Iya, semalaman tidak tidur, ternyata aman-aman saja. Tidak tahu dari mana informasi itu," katanya.

Dari mana informasi itu? Ia mengatakan dari mulut ke mulut. Bagaimana agar informasi seperti itu bisa cepat ditangkal? Selain dari pemberitaan media, bisa dari media sosial yang saat ini jaringan internet masih diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Ketika banjir bandang di Sentani, kita bisa menyaksikan bagaimana internet sangat membantu. Ada beberapa hoaks tentang runtuhnya beberapa jembatan, bisa sekilat terang oleh masyarakat sendiri di lokasi. Meski yang ini adalah duka bencana, sementara bara di Jayapura adalah amuk massa, internet hanyalah alat yang bergantung kepada penggunanya. Pisau bisa digunakan membunuh, tapi bisa juga digunakan untuk melindungi diri atau sekadar mengiris bawang. Seandainya hoaks tersebar ketika rusuh di Jayapura, maka masyarakat bisa terlibat untuk menangkalnya lewat media sosial. Bahkan mungkin, narasi seperti yang Ramah tuturkan, akan bermunculan satu demi satu.

Pengendara ojek ini mengaku lahir dan besar di Tanah Hitam. Baginya, rusuh seperti itu sudah pernah ia lewati beberapa dekade. Sedang pendatang yang baru satu dua tahun datang, ada yang memilih pulang.

"Selama di sini kami aman-aman saja dengan orang Papua. Saya tiga puluh tahun lebih di sini. Teman-teman ojek juga ada orang Papua. Jadi kalau orang baru datang, ya pasti ketakutan lihat macam kemarin," katanya.

Sesampai di lingkaran Abepura, saya dihubungi lagi oleh saudara Brimob. Ia akan menyusul dengan temannya, untuk mengajak saya makan. Ketika ia datang, baru kali itu ia berjalan-jalan di keramaian Abepura, yang juga dipenuhi Brimob di beberapa titik. Sehabis makan, kami masih berkeliling di pusar Abepura. Ia hendak melihat-lihat noken. Saya menunjuk puluhan noken yang dijajar mama-mama di depan ruko-ruko yang sebagian kacanya hancur, sisa amuk massa kemarin.

Ia sempat heran, karena mama-mama itu berderet di sepanjang trotoar dan bermandi debu jalanan. Tanda herannya yang kedua, adalah harga-harga noken akar anggrek yang mencapai lima jutaan. Saya menjelaskan pencarian bahan dan proses pembuatannya, sampai kenapa harganya begitu. Ketidaktahuan tentang suatu daerah, budayanya, kebiasaannya, terkadang membawa seseorang pada penilaian yang keliru. Saya hendak mengenalkan sedikit demi sedikit tentang Papua kepada saudara saya. Setidaknya ia bisa memiliki gambaran sedikit demi sedikit.

Tak jarang, ketidaktahuan seperti itu yang membawa petaka. Sama seperti yang terjadi di Deiyai baru-baru. Kasus berdarah yang menambah daftar pelanggaran Hak Asasi Manusia di negeri ini. Kala itu, massa aksi tengah mengadakan waita, salah satu tradisi penyemangat yang ditandai dengan orang-orang membentuk pusaran sembari berteriak-teriak. Aparat menganggap mereka akan memulai kericuhan. Salah satu mobil menabrak para pendemo. Pengemudinya seorang aparat. Massa marah dan terjadilah kericuhan. Kemudian, satu demi satu nyawa luruh oleh peluru.

Betapa ketidaktahuan itu adalah satu-satunya musuh yang harus dimusnahkan di tanah Papua ini. Saya ingat seorang kawan kos dari Jawa Timur. Ia seorang sarjana lulusan Universitas Surabaya, yang setelah berhenti dari pekerjaannya di salah satu diler mobil, memilih menjadi sopir rental mobil untuk mengisi waktu luangnya. Ia membaca buku saya, Kisah Hidup Tokoh-tokoh Papua. Di situ ada nama Jesua Nehemia Jikwa. Orang yang sering memakai jasanya.

"Kalau saya tahu dia, saya tidak akan meminta uang untuk jasa saya mengantarnya. Hanya sewanya saja. Saya baca kisahnya, sedih. Pernah ia lapar dan hanya membakar jambu," katanya, setelah tahu siapa tokoh itu dan kisah perjalanan hidupnya.

Dalam buku itu, ada pula ditulis ujaran kebencian yang mendera Jikwa selama Sekolah Menengah Pertama di Ujung Pandang. Ia ikut ayahnya yang melanjutkan sekolah di sana kala itu. Menjadi satu-satunya orang Papua di sekolah, ia kerap dipanggil 'monyet', 'kanibal', 'kamu makan orang', dan lain sebagainya. Pada akhirnya, orang yang sering mereka ejek itu sekarang menjadi salah satu tokoh yang dihormati dan dikagumi di Papua, di antara deretan nama Amelia Jigibalom, Benny Giay, Willem Rumsawir, Obed Komba, Marjono Murib, Helena Mantuan, Octovianus Mote, Uma Markus Kilungga, Noakh Nawipa, Herman Arom, Nicholas Jouwe, dan masih banyak panutan-panutan lainnya.

Sesungguhnya, orang-orang Papua yang hingga saat ini tetap menuntut hak penentuan nasib sendiri, telah belajar sejarah dengan sebaik-baiknya, dan sehormat-hormatnya.

Ketika mengetahui tentang Papua, maka Anda akan segera beranjak dari kubangan ketidaktahuan. Berjalan dari satu tanda heran ke tanda heran lainnya, hingga menemui seperti apa wajah kemanusiaan itu.

Selasa, 03 September 2019

Selamat Hari Raya Usia Jubi

Tidak ada komentar

Indonesia dan Jubi sama-sama lahir Agustus. Indonesia telah 74 tahun. Sudah renta. Jubi 18 tahun. Baru mau beranjak dewasa.

Hampir tiga tahun sa bekerja di Koran Jubi dan media daringnya jubi.co.id. Tapi baru mau dua tahun sa tinggal di Papua, semenjak dipindahkan di redaksi koran.

Pada 31 Agustus 2019 kemarin, Jubi merayakan usianya yang ke-18. Namun kali ini tak seriuh biasanya. Kami hanya berdiam di rumah atau di kamar sewaan. Jayapura tengah membara. Kami merayakan hari ulang tahun dalam senyap.

Catatan ini sudah sa bikin sejak Sabtu menjelang pagi, 31 Agustus 2019. Di kamar kos, hampir semua penghuni tak bisa lelap. Kabar-kabar burung hinggap di ponsel yang telah mundur peradaban. Semua tentang suasana mencekam. Sejak internet diblokir Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 19 Agustus 2019, ponsel pintar kami hanya bisa untuk menelepon dan berkirim pesan singkat. Jika ada kejadian di satu tempat, kami terlambat tahu. Kami serupa katak dalam tempurung yang siap diinjak retak.

Saat menulis ini, sa sempat menunda meneruskannya akibat suara tembakan terdengar memecah pagi. Kami saling bertukar kabar, tentang situasi di masing-masing tempat. Ada yang di tempat tinggalnya listrik dipadamkan dan orang-orang mulai berjaga-jaga, ada yang mendengar suara teriakan bersahut-sahutan, ada juga yang baru mendapat kabar bahwa konflik sudah menjalar menjadi antar-orang Papua dan pendatang.

Semua kabar yang datang dikemas dalam cemas. Nyala pagi, jadi satu-satunya yang dinanti agar bisa bebas dari keterjagaan. Lonceng gereja saja kerap membuat kaget, karena dianggap dentang tiang listrik. Tinggal berdekatan dengan rumah sakit, kami juga sering terkejut oleh sirene ambulans. Jalanan begitu sunyi, sudah sejak langit mulai gelap.

Di kosan sa yang baru, ada berbagai macam latar belakang daerah yang berdiam. Ada dari Jawa, Toraja, Bima, Wamena, Batak, dan kamar-kamar lainnya yang penghuninya belum saling mengenal. Bahkan para penghuni di kosan sa sebelumnya, sering bertukar tanya.

Para pendatang yang memiliki paguyuban, saling berkirim kabar agar berhimpun dan mengungsi ke tempat-tempat aman. Sa seketika menjadi asing di sini. Meski warga Bolaang Mongondow ada juga paguyubannya di Jayapura, sa tak pernah membangun silaturahmi dengan mereka. Karena sa kerap berpikir, untuk apa jauh-jauh ke Papua hanya untuk berkumpul dengan orang sedaerah? Tapi ketika ada kejadian ini, sa jadi sadar, penting juga untuk mengenal orang-orang sedaerah di sini.

Meski tinggal di salah satu sudut Kota Jayapura, kami tidak tahu pasti apa yang terjadi di Abepura, Kotaraja, Entrop, dan Kota Jayapura, yang hanya berjarak beberapa kilo dari kos. Bukan hanya jaringan internet di ponsel yang diblokir, tapi Wi-Fi ikut mati. Jika ingin mengakses informasi lewat internet, kami harus memberanikan diri ke hotel-hotel yang menyediakan jaringan internet satelit. Sa sudah pernah merasakan sebulan lebih tak bisa mengakses internet di Jayapura, karena fiber optik bawah laut putus tahun lalu. Tapi saat itu kondisi kota aman-aman saja. Sekarang? Bahkan keluar mencari warung yang buka saja susahnya minta ampun.

Setiap kali terkoneksi dengan internet, sa berkesempatan mengunduh beberapa informasi di grup kantor, Youtube, dan media sosial. Semua sebagai bekal ketika pulang ke kos agar informasi masih bisa terserap. Semua kabar yang pernah sa terima, beberapa di antaranya mulai terang. Ada yang benar. Ada yang keliru. Tapi ketika membaca bahwa ada korban berjatuhan, sa makin tambah khawatir. Sempat terpikir, untuk jenak pergi dari Jayapura sampai kondisi kondusif.

Koran terpaksa terhenti produksi. Hanya media daring yang tetap jalan, meski dengan terbatasnya jaringan internet. Berita masih bisa diunggah. Sebelum aksi kedua yang rusuh tempo hari, kami masih berjuang agar koran tetap terbit. Melompat dari hotel ke hotel, hanya agar bisa mengakses berita-berita. Tapi sejak rusuh, jadi berisiko bagi kami yang terbiasa keluyuran mencari jaringan internet. Banyak humor yang terlontar saat itu, seperti bagaimana cara mengakses internet di kafe hotel dengan hanya memesan air hangat. Sampai sa sempat berujar, "Kegilaan-kegilaan kecil ini, kelak akan tercatat di buku sejarah pers Papua."

Tiga hari setelah kerusuhan di Kota Jayapura dan sekitarnya, baru sa bisa menyaksikan di media sosial seperti apa letupan demi letupan amarah kala itu. Banyak ruko dan tempat usaha terbakar. Kaca-kaca kantor berguguran. Beberapa kantor tersisa puing.

Beruntung, saat aksi kedua sa tidak turun ke jalan untuk liputan seperti saat aksi pertama. Salah satu alasan sa, saat itu kamera yang biasa sa pinjam ke kawan sekantor, sedang dipakainya untuk liputan di Jakarta dan Surabaya bersama gubernur Papua. Kedua, ketika diajak kawan wartawan Jubi yang orang Papua, sa sudah diingatkan agar tidak turun liputan oleh beberapa teman.

Seorang kawan di Entrop berkisah, ia terjebak dengan massa aksi ketika pulang dari pasar membeli ikan. Ia merogoh saku untuk mengambil ponsel bermaksud menelepon, tapi disangka hendak memotret. Ia ditampar. Ponselnya mau direbut untuk dibanting. Parang sempat mengikis kepalanya. Ia selamat dari amuk itu. Kaca distronya bertebaran dilempari batu. Distro yang di dalamnya ada Bintang Kejora terpampang. Orang tuanya pendatang dari Sulawesi Selatan. Ia lahir dan besar di Jayapura.

Mendengar kisahnya, sa sadar, membela hak-hak orang Papua atau setia berdiri di samping mereka, tak menjamin kita tak akan disakiti. Ada ribuan orang Papua di luar sana yang tak tahu sepak terjang kita. Tapi apakah dengan begitu, kita lantas segera beralih membenci mereka? Jawabannya ada ketika kawan ini menceritakan kisahnya lewat pesan singkat, tapi diselingi "ha-ha-ha". Mungkin, di saat-saat seperti itulah, kukuh kita bersama mereka benar-benar diuji.

Sampai saat ini, Jubi adalah media di Papua yang tetap bersetia dengan orang Papua. Isinya bukan hanya orang Papua, meski didirikan dan dipimpin oleh orang-orang Papua. Di Jubi-lah sa banyak belajar bagaimana susahnya menjadi jurnalis di Papua. Sebagai redaktur, kau mungkin bisa memberi kuliah berjam-jam kepada wartawan orang Papua, tentang bagaimana caranya menembus narasumber. Tapi ketika kita turun sendiri ke lapangan, baru kita akan merasakan betapa segala kanuragan yang pernah kita bagi, tiba-tiba menguap begitu saja.

Selain Jubi dan suarapapua.com, tak ada lagi media lain di Papua yang mampu menjahit perca-perca yang hilang tentang Papua secara utuh. Berharap kepada media di Jakarta, mungkin hanya ada satu atau dua media saja yang masih menyediakan ruang khusus untuk Papua. Selebihnya, hanyalah media-media yang penuh parade para jenderal dan penguasa.

Selama di sini, sa bersyukur mulai mengenal Papua keping demi keping, meski memang masih begitu luas dan dalam lagi yang siap untuk kita arungi dan selami. Tapi setidaknya sa mengerti, merekalah yang mengajari sa bagaimana caranya memuliakan harga diri dan menghargai sebuah nyawa.

Menghormati hak mereka untuk menentukan nasib sendiri, bukanlah jalan untuk memanusiakan mereka. Tapi itu adalah jalan untuk memanusiakan kita.

Terima kasih Jubi untuk kesempatan yang tak ternilai ini. Selamat hari raya usia. Tetap menjadi bintang sebagai penunjuk arah, agar orang-orang tak tersesat mencari kebenaran di Tanah Mama ini.

Kamis, 22 Agustus 2019

Selamat Mengarungi 'Samudra Ingatan'

2 komentar
Personel Beranda Rumah Mangga, dari kanan Yedi, Vicky, Vicro, Christy, dan Rian.
Sepekan setelah film Bumi Manusia merayap ke seluruh bioskop di Indonesia, Beranda Rumah Mangga (Braga), salah satu band indie di Kotamobagu-kota kelahiran saya-merilis album perdana mereka, pada 22 Agustus 2019, yang dengan takzim mereka tajuki Samudra Ingatan.

Dari kelima lagu dalam album itu, ada lagu berjudul Adil Sejak Dalam Pikiran. Judul lagu tersebut tak asing bagi pembaca karya Pramoedya Ananta Toer. Dari lembaran novel Bumi Manusia-lah, 'adil sejak dalam pikiran' ditimang-timang lalu dijadikan sebuah lagu oleh Braga.

Selain Adil Sejak Dalam Pikiran, ada empat lagu lain berjudul Samudra Ingatan, Sepasang Senja, Bilur-bilur, dan Patah Menjadi Air Mata. Empat lagu di antaranya sudah pernah saya dengar. Hanya lagu Sepasang Senja yang belum. Karena itu, saya memulai mendengarnya dari lagu itu.

Papua, khususnya Jayapura, kota di mana saya berdiam, sedang bergejolak akibat sikap rasisme yang mendera para mahasiswa Papua di Kota Malang, Surabaya, dan Makassar. Jaringan internet lamur karena dibatasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Sungguh perbuatan yang menghalangi kami mengakses atau menyebarkan informasi. Karena itu, saya lebih dulu mengunduh lagu-lagu Braga yang baru di kanal Youtube, ketika internet bisa diakses sebisanya dengan Wi-Fi kantor, agar bisa didengarkan offline di kamar kos nanti.

Setelah Sepasang Senja yang melebur penat saya karena bekerja seharian, dan rintihannya menyeretku ke kampung halaman, Bilur-bilur menjadi lagu kedua yang menepuk pundak dengan versi yang baru kali ini saya dengar. Sebelumnya, demo lagu itu dibawakan Vicky. Tapi kali ini dinyanyikan oleh Yedi. Baik Vicky atau Yedi, keduanya memiliki warna suara yang saya suka.

Entah kenapa, lagu-lagu Braga menurut saya seperti memiliki separuh nyawa saya. Ada bait-bait lagu yang penaka merangkul, mengiris, dan menebalkan ingatan, bahwa kisah setiap orang memang selalu istimewa. Bahkan dalam lagu-lagu asing yang entah datang menyapa dengan sengaja atau kita cari, ada saja lirik yang mewakili perjalanan hidup kita.

Bagi siapa saja yang gigih melawan lupa, atas kejahatan negara yang tak pernah berniat meminta maaf kepada para korban kekerasan Hak Asasi Manusia (HAM), maka lagu Bilur-bilur ialah pelarungan yang begitu lembut namun tegas.

Biar waktu berlalu takkan hentikan ingatan pilu/ kebenaran bertumbuh senandungkan dosa-dosa yang bisu/ biar kau bungkam ragaku takkan hentikan suara pikiranku/ kebenaran takkan lumpuh bertumbuh menyembilu di nadimu/ sembilu di nadimu...

Ya, kebenaran berpinak dan tak bisa jinak. Ia tak luruh meski berputar waktu. Ia berdetak di nadi yang tak henti menagih janji.

Saya menghantar lagu Bilur-bilur di altar berisi tumpukan daftar kekerasan HAM. Lalu saya menyingkap lembar demi lembar. Di sana ada kekerasan HAM terhadap orang Papua, pengungsi Nduga yang dituding hanya sedang bermigrasi meski sudah ratusan yang meninggal, para petani yang direbut lahannya atas nama pembangunan, hutan-hutan rindang yang lindang, laut yang diuruk, orang-orang diterungku karena memperjuangkan haknya, dan segala rupa dosa paling bedebah para penguasa kepada jelata.

Repihan lagu Samudra Ingatan yang dulu hanya diunggah di media sosial ketika Braga tampil di kedai-kedai kopi di Kotamobagu, pun kini bisa saya dengar seluruh. Mungkin lagu ini bisa menjadi perayaan atas segala kegelisahan yang akhirnya mewujud. Liriknya tak segembira iramanya. Tapi dari situlah pesannya lahir: melawanlah dengan gembira.

Patah Menjadi Air Mata pernah saya buatkan puisi setelah mendengarnya, meski lagu ini bagi saya sudah sebuah puisi. Ketika mendengar lagu itu, kata-kata ini melantas ke jemari: barangkali, seorang resi ditakdirkan sendiri/ agar bisa ruah berbagi/ pada tanah yang menumbuhkan rerumputan dan cendawan/ atau pada telinga-telinga yang mampu menangkap sunyi.

Lagu Adil Sejak Dalam Pikiran jauh bulan telah dikirim Vicky ke saya, tepat di malam hari raya usia saya, 12 April 2019. Saat itu saya tengah mengutuk nyala pelita Jakarta, dari jendela bening gedung jangkung. Lagu itu semacam hadiah pengingat, bahwa tetaplah adil sejak dalam pikiran. Lekas pikiran saya hendak menuliskan rasa terima kasih atas lagu itu. Tapi niat itu saya tahan. Bukankah sebaiknya sebuah hadiah tidak kembali memuji pemberinya?

Jikalau di Makassar ada kawan-kawan Kapal Udara dan Ruangbaca, maka di Bolaang Mongondow ada Beranda Rumah Mangga. Anak-anak muda yang senantiasa bersetia dengan karya. Sudah seharusnya, setiap daerah memiliki arus seperti mereka. Harus ada yang mendirus jiwa-jiwa lelap, yang terlalu lama terbuai oleh band-band ibu kota. Bukan soal kita di pelosok bisa. Tapi tentang keberanian untuk memulai. Sekarang band-band indie sedang melarung saya dengan se-samudra karya, maka Braga adalah lungkang yang membikin perahu saya jenak tenang.

Adil Sejak Dalam Pikiran sebenarnya adalah janji yang pernah saya tagih kepada Braga. Beberapa tahun lalu, Vicky mengutarakan rencananya untuk membikin lagu tentang sosok Pram. Saya menuguri dan sempat menulis semacam 'tagihan' atas janji itu. Tulisan itu hanya sebagai pengingat agar lagu itu bisa mengada. Tak perlu buru-buru memang. Karena saya adalah orang yang selalu percaya: dalam berkarya tak usah tergesa-gesa. Sebab karya yang melalui permenungan, akan memiliki ruh lalu hidup selamanya di hati para pengkhidmatnya.

Kini, langsai sudah...

Uluk salam untuk Vicky, Yedi, Rian, Vicro, Christy, dan semua handai yang turut menyemai benih-benih, hingga akhirnya bertumbuh menjadi sebuah karya yang genah untuk disebut indah.

Selamat mengarungi Samudra Ingatan. Kelima lagu yang bertalun dalam album ini adalah seruan, agar kita tetap ingat untuk menepi di dermaga lalu meniti rampa. Pergi menengok ingatan. Atau menyapa kawan-kawan sekepal tinju, yang terus ada dan berlipat ganda.

Selasa, 20 Agustus 2019

Ketika 'Monyet' Menjadi 'Kingkong'

1 komentar

"Saat melihat Kota Jayapura diduduki massa aksi, sa baru merasa tinggal di Papua."

Kalimat di atas, sa utarakan kepada kawan-kawan jurnalis orang Papua. Mereka tertawa. Sesekali mereka juga menertawai sa yang kerap ternganga melihat massa aksi sebanyak itu.

Kalau melihat massa saat kampanye mungkin biasa. Tapi ini, kamu satu-satunya orang yang bukan ras Melanesia, yang berada di tengah-tengah massa, yang sesekali bisa saja terjadi bentrok. Pandangan mata sa beberapa kali bertumbuk dengan demonstran. Sa selalu tersenyum. Ada yang membalas, ada pula yang tidak.

Meski sa ditemani kawan-kawan jurnalis Papua, sa masih merasa khawatir. Tak ada berita seharga nyawa. Apalagi saat tahu, di Manokwari massa sudah membakar sejumlah gedung. Tapi sa berusaha menyakinkan dalam hati, niat sa baik, Tuhan akan jaga sa.

Ada seorang polisi berpakaian preman, berjalan dari mobil patroli lalu mendekati sa. Ia lalu bertanya sa wartawan dari mana. Sa menjawab dari Beritagar.id. Sa saat itu memang membawa dua ID card, Jubi dan Beritagar.id. Keduanya sa gantungkan di leher secara bergantian. Ketika berada di antara massa Papua, sa mengalungkan ID card Jubi.

Saat coba mengambil gambar dari atas jembatan penyeberangan di depan kampus Uncen di Abepura, kami sempat dihardik.

"Jangan foto-foto! Kami tidak perlu wartawan!" teriak seorang demonstran, saat naik ke atas jembatan.

Tetapi karena kawan-kawan lain orang Papua juga, mereka segera menegur orang itu. Ia turun dari jembatan. Sa segera dibayang-bayangi kejadian Abepura Berdarah, 2000 lalu. Namun bayangan itu segera sa tepis.

Sa lantas bertanya kepada kawan mengenai pendapatnya, apakah aksi ini akan ricuh.

"Kemungkinan kecil, iya," katanya.

Sa berharap banyak, semoga tidak akan ricuh. Sa semakin yakin, saat melihat bagaimana koordinator aksi dan mahasiswa-mahasiswa Uncen mengontrol massa. Tali rafia dibentang melingkari ribuan pedemo. Sepanjang jalan, mahasiswa yang beralmamater coba memastikan agar provokator tidak ikut bergabung.

Sa berboncengan dengan kawan, lalu menyusuri jalan memutar agar lebih dulu sampai ke kantor Majelis Rakyat Papua (MRP) di Kotaraja. Semua lorong macet. Mobil, motor, taksi (angkot), bahkan truk berimpitan. Semua memilih menghindar dari jalan raya. Di jalan raya, ketika sa melirik ke kiri dan kanan, tak ada satu pun warga pendatang. Semua toko ditutup. Bahkan saat kehausan, kami baru mendapati warung yang dibuka, jauh ke dalam lorong. Meski dibuka, hampir semua warung di Jayapura dipakai terali besi, lalu diberi celah untuk bertukar uang dan barang.

Di jalan raya, hanya ada warga orang Papua yang berani berjajar di tepi jalan. Massa menyanyikan lagu "kami bukan merah putih, kami bintang kejora" di bawah terik matahari. Ratusan pengendara sepeda motor memimpin massa. Dari bocah sampai yang renta, terpanggil ikut aksi. Bahkan ada anak-anak sekolah yang masih berseragam.

Sa merinding, ketika massa melewati seorang nenek yang berdiri di depan rumah. Ia menyambut teriakan "Papua merdeka". Seorang kakek di deretan rumah berikutnya pun demikian. Mungkin mereka dulu pernah pula turun ke jalan, lalu ingatan menyeret mereka ketika melihat ribuan manusia mengular di atas aspal mendidih.

Saat massa sampai di depan kantor MRP, orasi lima menitan terkoar. Mereka mengajak agar lembaga kultural orang Papua itu, ikut bergabung dengan massa. Sa belum banyak mengenali para anggota MRP, tapi menurut kawan, ada beberapa yang ikut bergabung dengan massa.

Massa mulai dinaungi rindang pepohonan ketika menanjak di Skyland, tempat terindah untuk menikmati es kelapa muda dan hamparan Teluk Youtefa. Tapi jalan yang menanjak tak menyurutkan semangat mereka. Sebagian demonstran diberikan air mineral oleh mama-mama Papua yang berjualan di sana. Dari Skyland, massa kembali bergerak menuju Entrop, selanjutnya hendak menuju ke Taman Imbi, tepat di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP).

Ketika bersama massa aksi, ada banyak teriakan yang kerap membuat sa tersenyum. Misal, "Kami monyet, keluarkan kami dari NKRI", "Kami monyet kalian usir, kami usir Indonesia dari tanah monyet", "Kami monyet, tapi kami tidak merusak alam seperti kalian", "Kalian manusia suka mencuri kekayaan monyet", "Kami monyet pergi menuntut ilmu ke negeri manusia, tapi manusia datang cari makan ke negeri kami, lebih terhormat siapa?", dan masih banyak teriakan lainnya lagi. Mereka melawan rasisme dengan sarkasme cerdas dan balik meninju keras.

Setelah menyerah karena berada di belakang massa aksi di jalan menanjak, kami memilih melewati jalan belakang, agar lebih dulu sampai di Taman Imbi, tepat di jantung Kota Jayapura. Di sana, ratusan orang juga telah turun ke jalan.

Di Kota Jayapura, semua toko tutup. Di atap-atap gedung tampak beberapa karyawan memegang ponsel dan mengabadikan momen langka itu. Ketika massa aksi dari Waena tadi sampai, beberapa polisi sempat dikejar dengan balok kayu. Namun tak ada yang terluka. Demonstran lain mengamankan situasi, sembari mengatakan ini adalah aksi damai.

Di saat berkejar-kejaran dengan polisi itu, sa segera merapat ke kawan wartawan Papua. Sa dilewati oleh massa yang memegang balok. Tapi ada seorang demonstran mendekati sa lalu bertanya dari media mana. Ketika menyebut Jubi, ia segera berlalu sambil tersenyum.

Sekitar pukul 3 sore. Massa sudah menempuh jarak sejauh kira-kira 16 kilometer. Ada di antara mereka bahkan tak beralas kaki. Mereka berjalan sudah sekitar enam jam lamanya. Di depan kantor DPRP, mereka berorasi selama lima menit. Kemudian melanjutkan perjalanan ke kantor gubernur.

Di halaman kantor gubernur, massa disambut oleh Gubernur Papua, Lukas Enembe. Dari belakang panggung orasi, pandangan sa menyapu ribuan orang. Ketika mereka meneriakkan kata "merdeka", gemuruh suara mereka menjadi serupa auman Kingkong.

Benar sudah, sesuai orasi Juru Bicara Internasional KNPB, Victor Yeimo, rasisme yang menimpa orang Papua bukanlah satu-satunya alasan mereka berhimpun, lalu turun ke jalan. Itu adalah akumulasi amarah yang sekian lama mereka pendam. Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), nasib para pengungsi Nduga yang bahkan lainnya masih kedinginan di dalam hutan, dan pengrusakan alam Papua, adalah kegelisahan yang selama ini diabaikan pemerintah.

Salah seorang mama juga tak ketinggalan menyampaikan amarahnya di depan gubernur dan massa, atas sikap rasisme yang menimpa mahasiswa Papua di Jawa.

"Saya ini ibu. Saya mengandung dan melahirkan. Dan saya tidak pernah melahirkan anak monyet!" teriaknya, yang disambut gemuruh dukungan massa.

Mama itu mengatakan, Tanah Papua adalah tanah yang diberkati, maka ketika penghinaan ras mendera orang Papua, itu sudah menyangkut harga diri orang Papua.

"Manusia tidak melahirkan monyet. Manusia tidak melahirkan singa. Karena itu, mari orang Papua dari pesisir pantai sampai pedalaman pegunungan, kita bersatu menuntut kemerdekaan untuk menentukan nasib sendiri. Referendum adalah solusinya!" pekiknya.

Gubenur Papua, Lukas Enembe, menitikkan air mata. Ia mengatakan, orang Papua sangat mencintai mendiang Gus Dur begitu pun sebaliknya. Karena itu, ia menyampaikan permintaan agar Gubernur Jawa Timur bisa menjamin nasib para mahasiswa Papua di sana.

"Kita bukan kera. Saya juga heran, Indonesia sudah merdeka selama 74 tahun, tetapi masih ada orang-orang berpikiran picik seperti itu," kata gubernur.

Sampai pukul 6 sore, massa mulai berangsur pulang. Namun, selanjutnya, ternyata drama rasial ini belum berhenti. Dari Malang kini menjalar sampai ke Makassar.

Sa lantas ingat percakapan seorang kawan jurnalis Papua dan seorang pendatang asal Makassar di Taman Imbi, Kota Jayapura. Ceritanya, orang Makassar itu bertanya kepadanya mengenai situasi demonstrasi kali ini. Ia menjawab bahwa mahasiswa Papua di Surabaya diserang lalu disebut monyet, karena itu aksi besar-besaran ini terjadi.

Lalu, orang Makassar itu menjawab, "Saya juga kalau dipanggil monyet, ya, marah!"

Minggu, 11 Agustus 2019

Yang Tiada di Festival Lembah Balim

Tidak ada komentar

Wamena adalah kota ketiga yang sa pijaki di Papua. Jayapura dan Timika sebelumnya. Kota-kota lain, masih dalam impian.

Ketika kali pertama melihat Wamena yang serupa pusar Lembah Balim, sa tersenyum. Tak sabar rasanya ingin segera mendarat, lalu merayap di atasnya. Perasaan ini berkebalikan ketika sa melihat Timika dari udara. Kota ini seperti nyaris disapu limbah raksasa dari PT. Freeport Indonesia.

Kawan-kawan jurnalis di Wamena yang sehati seperjuangan, pertama-tama mengajak sa ke gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jayawijaya. Kebetulan ada rapat tahunan antara legislatif dan eksekutif. Di sanalah sa dikenalkan dengan beberapa orang pejabat di sana. Salah satunya Kepala Dinas Pariwisata Pemerintah Kabupaten Jayawijaya.

"Siapa tahu ko butuh wawancara," kata teman sa.

"Sebenarnya laporan sa ini hanya narasi perjalanan saja. Tak butuh wawancara narasumber. Tapi tak apalah," kata sa.

Di halaman gedung itu, kepala dinas tadi mengatakan akan ada pemecahan rekor MURI saat Festival Budaya Lembah Baliem, kategori noken terbesar. Nanti ada dua kampung yang membuat nokennya. Satu noken berbahan benang pabrikan, sedangkan satunya lagi berbahan alam biasanya dari kulit kayu atau akar anggrek.

"Sebenarnya Baliem itu ditulis Balim," kata teman sa, yang sudah bertahun-tahun meliput di Wamena.

Sorenya, kami beranjak ke salah satu puncak, tempat melihat Kota Wamena dari ketinggian. Kami harus melewati satu pos tentara. Setelah meminta izin, kami berhasil melewati pos itu. Sebelumnya kami juga melewati lokasi belajar anak-anak pengungsi yang sudah tak terpakai. Beberapa sekolah darurat sudah dibongkar.

"Di pos tadi, Jakub Fabian Skrzypzki warga negara Polandia ditangkap," kata teman sa.

"Sayang ee... Bayangkan, ketika kita sedang asyik melancong ke negeri orang, lalu tiba-tiba ditangkap begitu?" kata sa.

Skrzypzki, menurut pengakuannya, hanyalah "wisatawan ekstrem" yang suka mempelajari budaya, bahasa, dan masalah kemanusiaan. Ia mengunjungi beberapa negara konflik dan terpencil. Tapi di Wamena, ia ditangkap karena dituduh sebagai pengedar senjata. Ia akhirnya divonis lima tahun penjara. Saat ini, ia sedang banding.

Keesokan harinya, kami berangkat ke kampung pertama yang mama-mamanya sedang merajut noken berbahan benang pabrikan. Perjalanan ke sana melalui jalan yang kondisinya mulus tapi terkadang berlubang-lubang. Yang paling parah, di daerah longsoran yang katanya sudah bertahun-tahun tak pernah diperbaiki.

Sesampainya di kampung itu, mama-mama membawa noken rajutan mereka. Sudah sejak Maret dikerjakan oleh sepuluh mama. Per mama merajut bagian-bagian terpisah sepanjang tiga meter. Nanti tinggal disatukan. Tapi mereka mengeluhkan soal biaya. Mereka ingin per orang dibayar sepuluh juta rupiah, karena pengerjaannya terbilang rumit.

Saat kembali dari kampung itu, kami berkesempatan singgah di rumahnya Pastor John Djonga. Ia pernah dianugerahi Yap Thiam Hien Award, pada 10 Desember 2009 di Jakarta. Rumahnya asri dan berada di tepi Sungai Balim.

Ketika memperkenalkan diri, pastor ternyata sudah diberitahu salah seorang teman sa. "Oh, Kris. Iya, ini dikirim teman nomormu," katanya.

Pastor orangnya humoris. Kaus yang dipakainya bercorak A.C.A.B. Sesekali kisahnya penuh canda. Tapi ketika ia berkisah tentang pengungsi dan konflik Nduga, sa nyaris meneteskan air mata. Orang sakit yang dibakar dalam honai, mama-mama yang melahirkan dalam hutan, mereka yang melihat keluarga dibunuh, dan kisah-kisah pilu lainnya. Yang ini sudah diberitakan Jubi dan BBC. 

Keasyikan berbincang, pembahasan kami sampai ke soal film The Mahuzes. Lalu sa menawarkan semua film dokumenter Ekspedisi Indonesia Biru kepada pastor. Ia masuk ke kamar mengambil harddisk dan sebungkus kacang.

"Ini kacang kulit dari Manado," katanya. Menyusul bergelas-gelas kopi.

"Ini kacang Kawangkoan. Kebetulan sa orang Sulawesi Utara," kata sa.

Pastor sempat menyentil soal jalan yang terkena longsor, yang sempat kami lewati. Ia meminta untuk diberitakan lagi karena tidak pernah ada perhatian pemerintah. Padahal itu menjadi akses sehari-hari masyarakat.

Kami lanjut mengunjungi siswa-siswi SMA Negeri 1 Wamena, yang sedang berlatih tarian kolosal untuk festival. Saat sedang memotret, sa terus mencari siswa-siswi yang orang asli Papua. Tapi jumlahnya tak banyak. Sa bertanya-tanya dalam hati, apakah di Wamena, bahkan penduduknya sudah lebih banyak pendatang layaknya Kota Jayapura, dan daerah lainnya?

Setelah kembali dari perjalanan, kawan sa membuat berita soal noken, mengenai keluhan mama-mama dan rencana mereka untuk tidak menyerahkan noken itu jika pembayarannya tidak sesuai permintaan mereka. Rekor bakal batal. Besoknya, berita itu dibantah pihak pemerintah daerah. Menurut mereka, noken yang dibuat mama-mama itu tak masuk rekor MURI. Yang masuk hanya berbahan alami buatan mama-mama di kampung lain. Namun, tak apalah soal tak masuk rekor MURI itu. Asal karyanya telah kami saksikan dan mendengar tawa mama-mama di tengah lelah mereka, itulah hal-hal yang lebih berharga dibandingkan rekor-rekoran.

Sebelumnya, sa sungguh tertarik ingin melihat festival. Tapi belakangan niat sa itu sa tepiskan. Sa menduga, festivalnya juga nanti mirip dengan festival lainnya. Padahal yang terpenting apa hasil festival yang kerap terabaikan, seperti pemberdayaan kampung-kampung wisata, dan lain sebagainya. Agar tak hanya setahun sekali orang-orang menemui rupa budaya satu daerah.

Sa lalu memilih pulang setelah lima hari di sana. Liputan sa memang hanya untuk persiapan festival. Sudah terlalu banyak media yang memberitakan festival itu, apalagi tentang keelokan Balim. Sa sudah sedikit puas, karena yang menjadi tujuan lain sa berangkat sudah tercapai: melihat pengungsi Nduga dan menemui orang-orang yang ikhlas membantu mereka. Duka mereka yang tak "difestivalkan" beritanya oleh media-media Jakarta.

Wa Wa Wa Wa...