Selasa, 25 April 2023
Rindu
Di lebaran hari ketiga, ketika hendak makan sore, entah kenapa aku tiba-tiba rindu mendiang ibu. Tirai kamarnya kusingkap, dan hanya ada kesunyian tertangkap. Sore hari, ibu memang terbiasa memanggil untuk memutar posisi badannya. Tapi kali ini, suara itu tak terdengar.
Sejak kepergian ibu hampir seratus hari lebih lamanya, aku tak menulis obituari atau kisah panjang tentangnya. Hanya sepenggal cerita yang kubawa ketika mengunjungi Jogja baru-baru, yang kutulis karena ada sosok ibu kutemui di pameran lukisan.
Blogku ini sudah berdebu. Tak ada tulisan-tulisan lagi lahir di sini. Selain itu, aku tak tahu harus menulis apa tentang ibu. Selama tiga tahun bersamanya di rumah di kampung, sudah cukup mengalahkan ribuan kisah di buku-buku.
Terkadang, kita juga akan sampai pada titik, jenuh dengan media sosial, jarang mengunggah apa-apa, bahkan buku-buku bacaan pun terlantar. Waktuku kini lebih banyak berkutat dengan pekerjaan, menonton film, atau bermain game daring.
Orang-orang yang menjadi ruh tulisanku pun, satu demi satu pergi dan menjauh. Jalan buntu kerap kali kutemui ketika muncul keinginan untuk menulis lagi di blog. Seperti apa yang selama ini aku pelajari dari menulis, sirna seketika.
Kini, tinggal berita-berita kaku yang berulang-ulang aku hadapi setiap hari. Turun liputan pun jarang, karena aku sedang berada di kampung. Rasa-rasanya, insting menulis bahkan ide-ide liar seperti hilang dari gelembung-gelembung pikir.
Ketika selesai salat Id kemarin, aku langsung mengunjungi makam ibu dan bapak yang berdampingan. Makam ibu paling baru di antara makam-makam lainnya. Aku tercenung sejenak, dan merasakan angin pagi serupa jarum-jarum es yang menusuk. Doa kupanjatkan.
Ah, ibu, maaf jika masih ada salah dan keinginan ibu yang belum kupenuhi.
Al-Fatihah ...
Selasa, 18 Oktober 2022
Selamat Jalan Eca'
Medio dua ribu sebelasan, saya pernah terlibat dalam kepanitiaan event festival musik di Kotamobagu. Seingat saya, festival musik itu sekalender bulan dengan Pemilihan Putra dan Putri Kota Kotamobagu (P3KK).
Panitia P3KK sempat kewalahan, sebab peserta yang ikut cukup banyak. Karena sesama panitia festival musik dan P3KK beririsan circle pertemanan, maka beberapa panitia festival diperbantukan di kegiatan P3KK.
Para panitia dan peserta P3KK sempat dikarantina di salah satu hotel yang terbilang baru dan mungil di depan Lapangan Sinindian. Hotel ini mirip homestay, dan kamar-kamarnya melingkar saling berhadapan.
Reza Mamonto adalah salah satu panitia P3KK. Ketika itu, di kamar panitia, saya menyetel lagu Vindicated dari Dashboard Confessional. Genre musik yang ia sukai hampir mirip dengan saya. Karena itu, kami lekas akrab.
Seiring waktu, Eca'--nama kecilnya--kerap berjumpa di Gapura, Kelurahan Kotobangon. Rumahnya memang tak jauh dari sana.
Namun, kesibukan kami mulai menjauhkan lingkar sua. Saya menjadi jurnalis, dan ia lulus menjadi ASN. Setelah bertugas di Bolaang Mongondow Timur (Boltim), ia kembali melanjutkan studinya di Makassar. Di sana kami beberapa kali berjumpa.
Eca' termasuk salah satu kawan yang gemar vakansi. Ia telah mengelilingi sejumlah negara di Asia Tenggara.
"Lebih baik tidak usah ikut agen travel, jalan sendiri. Saya bahkan pernah bawa abon ikan sama mi instan sewaktu jalan-jalan," katanya, ketika kami berjumpa di Makassar beberapa tahun lalu.
Sewaktu saya pulang dari Papua dua tahun yang lalu, Eca' telah menyelesaikan studinya di Makassar. Kami sempat berjumpa di Kotamobagu dengan beberapa kawan lainnya di sebuah kafe. Ia mengabarkan, bahwa tak lama lagi ia akan menikah. Kami ikut gembira.
Belum lama ini ia menikah, mungkin sekitar tiga atau empat bulan yang lalu. Ia sempat mengirimi undangan tetapi karena bersamaan dengan jam kerja, saya akhirnya tidak bisa menghadirinya.
Kemudian, kabar itu datang. Tadi malam, seorang kawan ASN pula di Boltim, tiba-tiba menanyai saya.
"Reza sudah meninggal?"
"Hah!? Reza siapa?"
Lalu ia menyusulnya dengan kiriman foto Eca'.
"Astaga! Eca'?"
Saya segera beralih ke Instagram untuk memastikannya. Sebab di sana lebih banyak kawan-kawan yang mengenal Eca'. Benar sudah, beberapa kawan sudah berbelasungkawa.
Ah, Eca' ... akhirnya waktumu tiba sudah. Perjalananmu usai, setelah jutaan kali jejakmu tercetak di tanah-tanah asing yang kerap kau kunjungi.
Selamat jalan Ca' ...
Rabu, 28 September 2022
Ubasute
Ubasute. Legenda ini mungkin sudah pernah kalian bacai di buku, website, atau unggahan di media sosial. Ini adalah folklor atau cerita rakyat Jepang, mengenai tradisi membuang anggota keluarga yang telah renta ke gunung. Ubasute berarti: pembuangan.
Paragraf pengantar di atas, sudah cukup mendidihkan darah kita. Apalagi jika membaca novel Narayama Bushikō (The Ballad of Narayama) karya Shichirō Fukazawa. Pada 1958, Keisuke Kinoshita mengangkat kisah itu di film layar lebar.
Selanjutnya pada 1983, Shōhei Imamura juga ikut mengangkat kisah itu ke film layar lebar dan berhasil menang di Festival Film Cannes, dengan meraih penghargaan Golden Palm. Saya pernah menonton versi Imamura ini. Jika versi ini diceritakan, akan ada penyerapan berbeda dari masing-masing penonton dan pembaca tentang Ubasute.
Ada beberapa versi mengenai legenda Ubasute. Namun menurutku, sepotong versi "patahan ranting" ini yang paling menyayat:
Seorang anak laki-laki menggendong ibunya yang telah senja usianya, hendak dibawa ke gunung. Ia bermaksud meninggalkan ibunya di sana, dengan alasan untuk mengurangi beban hidup dan jatah mulut atau makan sehari-hari. Ini sudah tradisi dan setiap keluarga melakukannya. Tempat pembuangan yang akan dituju disebut Ubasuteyama yang berarti gunung tempat pembuangan.
Sepanjang perjalanan, tanpa disadari anak laki-laki itu, ibunya kerap mematahkan ranting lalu menjatuhkannya ke tanah yang telah mereka pijaki. Sesampainya di gunung, anak laki-laki itu menyandarkan ibunya di sebuah batu.
Ibunya kemudian berkata, "Nak, perhatikan ranting-ranting itu agar kau tidak tersesat ketika kembali ke desa."
Ucapan dari ibunya itu, hanyalah sepatah ranting perhatian dari sekian banyak perhatian yang telah ditabur seorang ibu sejak anak itu masih bayi. Mendengar apa yang dikatakan ibunya, anak laki-laki itu segera memeluk, lalu kembali menggendong ibunya untuk dibawa pulang.
Bayangkan jika orangtuamu yang telah rengsa dibiarkan di tengah hutan, sampai menemui ajalnya dengan cara kelaparan, kedinginan, atau bahkan disantap binatang buas dan dikelilingi burung gagak?
Meski hanya legenda, namun kisah serupa Ubasute kerap terjadi di sekitar kita dalam wujud yang lain. Masih ada anak-anak yang menelantarkan orangtua dan enggan menguras tenaganya yang, bahkan jika itu segunung pun, tak akan pernah sebanding dengan apa yang telah orangtua ikhlaskan untuk anak-anaknya sepanjang usia mereka.
Senin, 13 Juni 2022
Menjadi Bintang
Jumat, 20 Mei 2022
Allisya
Minggu, 17 April 2022
Selamat Jalan Om Oku
Senin, 27 Desember 2021
Desember
Pernah suatu hari, ayah terjatuh dari meja tempat ia berjinjit. Lantai basah menjadikan insiden itu bertambah parah. Tetapi begitulah ayah. Ia akan bangkit lagi, memperbaiki atap lagi, dan lagi, agar penghuni rumah bisa nyaman berjalan di dapur ketika hujan. Mungkin baginya, cukuplah ia yang terjungkal asal jangan sampai ibu atau anak-anak.
Tahun-tahun berlalu sepeninggalan ayah. Kini, berganti ibu yang kuyu di kasur. Sakitnya yang mengajak aku harus segera pulang. Menerobos wabah dari satu penerbangan ke penerbangan lainnya. Udara mungkin bukan jalan terbaik sebab kita diterungku di dalam tabung raksasa, bersama orang-orang yang mungkin luput dari tes sembari membawa virus di hela napas mereka. Tetapi akhirnya aku sampai di tanah lahir disambut wajah-wajah bahagia.
Aku tidak sepenuhnya membenci tahun ini. Sebab ia menyeretku untuk kembali ke kampung halaman. Berlama-lama dengan orang-orang terkasih, sebelum sesal datang menghampiri. Setidaknya aku bisa mengelabui atau berhasil menang dari penyesalan yang, kita tahu selalu datang belakangan.
