Getah Semesta

Friday, September 8, 2017

Seorang Bapak di Pesawat


Dari Sentani Airport, saya bersua pandang dengan bapak itu. Dia duduk dua deret di depan saya. Setelah sampai di Sorong, tadinya saya berpikir ia akan turun. Tapi ia tak beranjak dari kursinya.

Pesawat yang saya tumpangi untuk pulang ke Gorontalo, selain transit di Sorong, selanjutnya menuju Manado. Uda Syof, salah seorang sesepuh di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, yang sederet kursi dengan saya, turun di Manado. Uda Syof berasal dari Padang. Sebelumnya Uda sama-sama dengan saya menghadiri undangan perayaan hari lahir Tabloid Jubi di Jayapura. Sementara saya masih melanjutkan perjalanan pulang ke Gorontalo.

Perjalanan menuju Gorontalo dari Manado itulah yang mempertemukan saya dengan bapak itu. Usianya hampir seperti usia ayah saya ketika saya SMA. Kira-kira 60an.

Ia mengenakan jaket wol abu-abu, dengan celana kain hitam yang tampak longgar. Sendal yang ia pakai, hampir sewarna dengan kulitnya. Rambut beruban di kepalanya tinggal sedikit. Ia tersenyum ketika saya duduk di sampingnya. Beberapa giginya telah tanggal. Karena senyumnya itu, saya seperti menemukan celah nyaman untuk bertanya.

"Bapak dari Jayapura tadi, ya?"

"Iya. Kamu?"

"Saya juga dari Jayapura. Satu pesawat terus sama bapak. Saya perhatikan, memang hanya saya dan bapak yang pergi ke Gorontalo."

"Oh, ya? Ngapain di Jayapura?"

"Mengunjungi keluarga di Hamadi." Saya memutuskan belum mau jujur bahwa saya seorang jurnalis.

"Sama. Saya juga mengunjungi anak saya di Abepura."

Kami mulai terlibat tanya jawab. Beruntung meski hanya empat hari di Jayapura, saya banyak bertanya soal nama tempat. Jadi alamat yang saya sebutkan, ialah alamat saudara saya di Hamadi yang kebetulan pantainya, sebelumnya jadi tempat piknik kru Tabloid Jubi.

Bapak itu mulai akrab dengan saya. Ia kemudian bercerita banyak tentang Papua, selama 25 tahun menetap di sana. Selama tinggal di Papua, ia bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hampir semua wilayah Papua bagian utara telah ia jelajahi. Kecuali bagian selatan, seperti Merauke dan Timika.

"Dulu orang-orang asli Papua itu tidak begitu. Orang-orangnya tidak mabuk-mabukan di jalan. Tapi pendatanglah yang mulai mengajari mereka minum alkohol," tuturnya.

Ia mengatakan hidup di Papua sekarang kurang nyaman. Sebab kasus demi kasus seperti penjambretan, pencurian, pemerkosaan, dan pembunuhan kerap terjadi. Bahkan anak-anak muda semakin tidak karuan. Mabuk-mabukan di jalanan, sampai menghirup lem di tempat umum.

"Saya tahu persis perkembangan di Papua. Dulu tidak begini. Kota semakin ramai dengan pendatang yang menularkan hal-hal negatif."

Sewaktu bekerja di BMKG, ia mengaku sering turun ke lapangan untuk keperluan pendataan. Dari situlah ia banyak menjaring pengalaman dengan orang asli Papua.

"Kalau kamu beli barang jualan, kamu bisa ambil barang itu lalu meletakkan uang di meja, jika pedagangnya tidak ada di tempat. Tak ada satu pun orang yang berani mengambil uang itu."

Ia juga sering melihat, ketika dagangan mama-mama Papua tidak laku, mama-mama itu akan membuang dagangan mereka di sungai.

"Dagangan mereka seperti sayur-sayuran akan dibuang. Besok baru cari lagi untuk dijual. Memang mereka belum paham konsep jual beli."

Orang-orang Papua, tidak khawatir dengan untung rugi berjualan kala itu. Sebab menurut bapak itu, orang-orang Papua tidak akan kelaparan. Ingin makan, tinggal pangkur sagu dan sisanya bisa disimpan berbulan-bulan. Hutan, sungai, danau, dan laut juga menyediakan lauk yang berlimpah. Buah-buahan dan sayur mayur tinggal main petik.

Mungkin sama halnya dengan suku Badui atau Kasepuhan Ciptagelar, mereka yang tak mengenal konsep jual beli. Beras dilarang diperjual-belikan. Sebab budaya gotong royong dan berbagi, masih begitu kental. Jika hasil alam melimpah, kenapa harus serakah?

Perbincangan kami sempat terhenti saat pramugari mulai membagikan dus kue. Kemudian berlanjut dan kian merambat ke persoalan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Ia bercerita, ketika hendak mendata di salah satu wilayah terpencil, ia dan seorang temannya harus berjalan kaki selama dua hari.

"Saya bawa kopi, gula, rokok, pinang, dan kapur sirih. Ketika sampai di kampung, kami menyampaikan maksud, bahwa hendak mencari data apakah di tempat itu pernah terjadi gempa. Selama berbincang saya menawarkan apa saja yang saya bawa tadi."

Setelah dipertemukan dengan ketua adat, mereka duduk berbincang sambil minum kopi. Maksud kedatangan mereka pun mendapat respons baik, sebab di wilayah tersebut pernah dilanda gempa besar.

Pada malam berikutnya, ia dipertemukan dengan seorang pria berjanggut putih dan rambut keritingnya sebahu. Pria paruh baya itu mengajaknya masuk hutan. Hanya sekilo saja jaraknya dari kampung, dan sudah tampak seberkas cahaya obor.

"Teman saya memilih tidur karena lelah mendata seharian. Di tempat yang kami tuju, sudah berbaris sekitar seribu orang anggota OPM," tuturnya dengan suara setengah berbisik.

Selanjutnya ia diajak duduk di salah satu pondok. Ia mengeluarkan bungkusan kopi dan gula. Dua bungkus rokok diletakkan di lantai kayu. Tak berselang lama, tawa menebal di hutan malam itu.

"Saya baru tahu kalau pria berjanggut itu ternyata ketuanya. Mereka baik. Bahkan ketika kami mau pulang, barang bawaan kami semua dipikul oleh mereka. Saya menolak barang kami dipikul, takut merepotkan, tapi kami dipaksa. Padahal sebenarnya berat juga ransel dan alat-alat yang kami bawa," kenangnya sambil tertawa.

Pesawat sebentar lagi mendarat di Gorontalo. Bapak itu izin ke toilet. Sebelum pesawat benar-benar pada posisi landing, ia sudah kembali ke kursi lalu coba mengenakan sabuk pengaman. Setelah tiga kali mencoba karena mungkin faktor usia, akhirnya ia bisa mengenakan sabuk itu.

Setelah pesawat mendarat di Jalaluddin Airport, saya pamitan dengan bapak itu. Ia dijemput mobil avanza sewarna dengan jaketnya. Dari jendela mobil, ia melambaikan tangan yang segera saya balas pula dengan beberapa kali lambaian, hingga mobil itu mengecil dan hilang di ujung pintu keluar bandara.

Dan ... saya baru sadar, kami tidak saling bertukar nama dan alamat.

Wednesday, September 6, 2017

Opa Pe Nama Marlon, Tapi Biasa Dipanggil Maria

Ilustrasi Mojok.co

Opa Marlon dan Oma Maria pasutri yang tinggal dan menua di Dumoga. Dumoga adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara.

Mereka berdua hingga usia senja dikenal paling suka bercanda oleh warga sekitar. Meski banyak masalah, rumah tangga mereka awet. Pasutri ini memegang teguh tagline tandingan Pegadaian: mengatasi masalah dengan bercanda.

Ada banyak cerita yang beredar tentang perjalanan hidup Opa Marlon dan Oma Maria, hingga salah seorang dari mereka berpulang lebih dulu menghadap Yang Maha Kuasa. Semuanya akan dirangkum dalam enam mop berikut.

Opa Nae Kalapa

Opa meski sudah 70 tahun, raganya sehat dan jiwanya sentosa. Suatu hari Oma ingin sekali minum air kelapa muda. Oma lalu meminta Opa memanjat pohon kelapa setinggi tiang listrik di samping rumah. Tentu saja Opa tidak bisa menolak. Tidak ada anak atau cucu pula di rumah yang bisa disuruh, semuanya telah hidup masing-masing.

“Hati-hati mo ciri,” kata Oma.

“Jangan pandang enteng, biar tua bagini mar Opa masih kuat bapanjat. Apalagi bapanjat pa Oma,” canda Opa.

Oma tertawa mendengar pernyataan bodoh Opa barusan meski dalam hatinya tetap khawatir. Apalagi melihat celana Opa kedodoran saat memanjat.

“Eh, Opa! Ngana pe calana somo ta lucur. Ngana pe bolpoin so mo kaluar!” teriak Oma.

“Bekeng kage jo ngana ini. Ndak lama kita turung kong coret-coret pa ngana deng ni bolpoin!” sahut Opa.

Oma yang merasa diserang balik, membalas, “Stel le ngana. Tinta so kering le!”

Opa Minta Susu

Karena ada urusan mendadak, Opa harus berangkat ke Kota Kotamobagu. Opa ketika itu naik mikrolet.

Di dalam mikrolet, di sebelah Opa ada seorang ibu yang sedang menyusui anaknya.

“Capat jo basusu. Kalo ndak Mama’ mo kase pa Opa di sabalah,” bujuk ibu itu.

Tapi anak itu tetap enggan menyusu.

“Oh, kase biar, Mama’ so mo kase pa Opa jo,” ancam ibu itu.

Wajah Opa memerah. Rambut peraknya seakan ikut tersemir menjadi merah. Jantung Opa deg-degan, sebab sebentar lagi mikrolet akan memasuki kota, tapi ibu dan anak itu masih terlibat adu tolak-bujuk.

Saking tidak tahannya, akhirnya Opa bersuara, “Maaf, Ibu, coba cepat ambil keputusan ne. Soalnya Opa so mo turung ini.”

Lubang Buaya

Suatu hari Opa ketahuan selingkuh. Di hape Opa ada beberapa SMS dari selingkuhannya yang luput dihapus. Oma membacanya saat Opa terlelap.

Oma akhirnya memutuskan pisah ranjang dengan Opa. Oma mengungsi ke rumah anaknya.

Saat berada di rumah anaknya, Oma mengirim SMS berisi pantun kepada Opa.

“Buah matoa jatuh di kebaya. Biar so tua mar buaya.”

Opa menerima SMS tersebut, “Oh, mo baku balas pantun dang.”

Opa membalas SMS-nya Oma dengan pantun juga.

“Keladi tua rasa pepaya. Biar so tua, mar kita le so bosan deng lubang buaya.”

Oma naik pitam setelah membaca SMS dari Opa. Ia segera membalas SMS dari Opa.

“So ini lubang buaya ini yang makang korban jendral-jendral. Satu kali deng ngana pe kopral kacili itu.”

Nama Sapa?

Setelah rujuk dan tinggal bersama lagi, Opa dan Oma kembali merajut benang-benang kasih sayang.

Suatu malam, baru saja mereka berdua melangkah menuju kamar, tetiba mereka dicegat oleh dua pria bertopeng di depan pintu. Ternyata kedua perampok itu sudah lebih dulu masuk kamar dengan mencungkil jendela.

“Dudu situ ngoni dua!” bentak salah satu perampok, sambil menunjuk kasur dengan sebilah parang.

Dengkul Opa dan Oma bergetar seirama ketika melangkah menuju kasur.

“Ngana pe nama sapa?” tanya perampok kepada Oma.

“Maria,” jawab Oma.

Tetiba perampok yang ternyata kakak beradik itu berkata, “Adoh, Oma pe nama sama deng torang dua pe Mama’ pe nama. Oma kaluar jo sana.”

Kedua perampok itu lanjut bertanya kepada Opa, “Kong ngana pe nama sapa?”

Opa dengan pelan dan gemetar menjawab, “Marlon … mar anak kompleks biasa pangge Maria.”

Nama Sayang-Sayang

Setelah selamat dari perampokan malam itu, Opa dan Oma dikunjungi semua anak dan cucunya. Rumah jadi ramai.

Setiap kali ada anak atau cucu berkunjung, Opa pasti memanggil Oma dengan sebutan darling, honey, dan my love. Itu untuk menunjukkan aura kasih sayang dalam rumah tangga mereka.

Salah seorang cucu perempuan berusia 18 tahun mendekati Opa lalu bertanya, “Opa, kiapa Opa jaga pangge pa Oma dengan nama darling, honey, deng my love? Romantis skali Opa ini. Apa de pe rahasia dang?”

Opa lalu mengajak cucunya itu mendekat.

“Badiam ne … Jaga ni rahasia. Sebenarnya … Opa so lupa Oma pe nama sapa,” kata Opa Marlon yang sudah mulai pikun.

Pinjam Hape

Tahun demi tahun berlalu. Opa mulai sakit-sakitan, begitu juga Oma. Tapi ternyata fisik Oma masih jauh lebih kuat tinimbang Opa.

Sore. Hujan mewarnai lanskap desa menjadi abu-abu. Oma kala itu sedang berteduh di salah satu rumah anaknya, tak jauh dari rumahnya. Oma baru saja dari apotek, membeli obat untuk Opa. Ia menitipkan Opa kepada salah seorang cucu laki-lakinya.

Saat menunggu hujan reda, dari kejauhan Oma melihat cucu laki-lakinya berlari di tengah deras hujan. Ada yang janggal di hati Oma.

“Omaaaaaa! Opa so ndak bangon-bangon. Birman so banya di rumah. Dorang bilang Opa so meninggal!”

Bungkusan obat di genggaman Oma terlepas. Anak dan cucu lainnya di rumah itu segera memeluk Oma.

“Sapa yang ada hape? Oma mo pinjam dulu,” pinta Oma terisak-isak.

“Mo bekeng apa so Oma? Pake hape ini jo,” kata salah seorang cucunya sambil menyodorkan hape android.

“Oma mo buka pesbuk. Mo ganti status dari menikah jadi lajang.”


(Tulisan ini sebelumnya dimuat di Mojok.co)

Kalau Adam dan Hawa Orang Minahasa, Kita Pasti Masih Tinggal di Surga

Ilustrasi Mojok.co

Akhir Juli dan awal Agustus jadi pekan yang menyibukkan bagi saya. Baru saja kembali dari Kota Manado yang berada di lengan Pulau Sulawesi pada pertengahan Juli, saya harus melanjutkan perjalanan ke kaki Sulawesi, tepatnya ke Kota Makassar. Mudah-mudahan tidak lanjut ke selangkangan, eh!

Ada beberapa agenda pertemuan yang tak perlu dibentang di sini. Dari pertemuan-pertemuan itu, telinga saya kerap kali menangkap mop yang dituturkan kengkawan-kengkawan dari pelosok negeri. Berikut kisah-kisahnya.

Untung Adam dan Hawa Bukang Orang Minahasa

Pagi itu kami bergegas ke Pasar Beriman di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, yang juga dijuluki Pasar Ekstrem.

Dari Kota Manado, jaraknya hanya 30-an menit. Di pasar tersebut di-display berbagai macam daging binatang. Bagi pengunjung yang belum terbiasa, harus kuat imannya. Mungkin itu alasannya pasar itu dinamakan Pasar Beriman.

Di sana kita bisa temui daging kelelawar, tikus hutan, anjing, kucing, babi hutan, hingga ular sanca yang nama lokalnya ular patola.

Saat perjalanan menuju pasar itulah, di dalam mobil, salah seorang kawan saya menceritakan mop yang terkait dengan kunjungan kami kali ini. Sebut saja nama kawan itu Fay.

“Ngoni so pernah dengar ini mop tentang ular patola?” tanya Fay. Saya sendiri sudah berkali-kali, tapi kengkawan semobil lainnya yang berasal dari Jambi, Bantaeng, Lembata, dan Maluku belum pernah mendengarnya.

“Oke, lanjut cirita saja!” kata saya.

“Begini, torang manusia kan punya nenek moyang itu Adam dan Hawa, dorang dua tinggal di surga to?”

“Ya, ya, ya,” kata kawan dari Maluku.

“Kenapa mereka berdua dibuang ke bumi? Lantaran iblis yang berubah jadi ular goda to?”

“Iya, baru dorang dua makang buah apel di pohong terlarang,” sambung kawan dari Lembata.

Gayung bersambut, Fay segera menuntaskan mopnya, “Nah, coba kalu Adam dan Hawa itu orang Minahasa. Pasti yang ada makang bukang apel, tapi ularnya! Dan kitorang manusia masih tinggal di surga.”

Sontak seisi mobil riuh dengan tawa. Saya yang sudah pernah mendengar mop itu pun masih tergelitik dan ikut tertawa.

Pancasila Ada Berapa Sila?

Mop kali ini diceritakan kawan dari Larantuka. Kawan ini menceritakannya ketika kami sudah berada di Kota Makassar.

Sebut saja nama kawan ini, Om Bin. Ketika itu, ada sesi tanya jawab pada acara bertema lingkungan hidup. Om Bin menyisipkan satu mop sebelum mulai bertanya. Ice breaking, katanya.

“Ada teman saya pergi bertemu Pak Camat,” Om Bin mulai bercerita.

“Kemudian, saat bertemu Pak Camat, teman saya ini ditanyai, ada berapa sila di Pancasila?”

“Teman saya itu menjawab tiga. Ia kemudian ditampar Pak Camat,” lanjut Om Bin.

“Setelah itu teman saya pulang, lalu bertemu dengan saya. Ia kemudian bercerita, Pak Camat baru saja menamparnya.”

“Itu kenapa? Saya bertanya. Lalu kata teman saya, Pak Camat bertanya berapa sila di Pancasila. Ternyata teman saya menjawab tiga. Karena itulah dia ditampar,” kata Om Bin.

“Saya kemudian bilang, kenapa tidak dijawab lima. Lalu teman saya menyahut, tiga saja sudah ditempeleng, apalagi dijawab lima!”

Om Bin sukses membikin seisi ruang pertemuan membahana oleh tawa peserta.

Kuda Muntah

Kali ini mop datang dari teman saya asal Palu. Saya ganti namanya jadi Mawar saja, eh, kerna dia laki-laki, sebut saja Mukmun.

Mukmun mengisahkannya saat perjalanan menuju kawasan karts di Rammang-Rammang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Dari Kota Makassar jaraknya hanya sejam naik bus. Mukmun teringat mop ini kerna melihat tugu jagung yang kami lewati.

Di dalam bus, Mukmun bercerita, suatu hari ada orang Manado bertemu orang Makassar bertemu di perjalanan dalam sebuah mobil.

“Orang Makassar bertanya kepada orang Manado … kalu di Manado apa nama makanan favorit di sana?” tutur Mukmun.

“Orang Manado menjawab, kalau di tempat asalnya ada namanya Tinutuan dan itu ada campuran jagung.”

Mukmun serius bercerita, kendati bising lalu-lalang kendaraan sedikit meredam volume suaranya.

“Kase kuat sadiki bacirita!” teriak seorang teman di deretan kursi sebelah.

Mukmun mengeraskan suaranya, “Nah, orang Manado itu bilang, jagung juga makanan andalan di Manado. Tapi, orang Makassar itu bilang, kalau di Makassar, jagung itu buat makanan kuda.”

Ada beberapa kawan di dalam bus yang cekikikan.

“Orang Manado diam saja. Kemudian di tengah perjalanan ini orang Makassar mulai mabuk jalan. Kemudian ia muntah dan isinya jagung semua,” lanjut Mukmun.

“Orang Manado lalu teriak ke sopir, agar mobilnya disetop dulu. Sopir lantas bertanya, ada apa gerangan? Lalu kata orang Manado … ini ada kuda so muntah!”

Mukmun juga sukses membuat bus berguncang.

Malam Pertama

Dua kisah berikut, meski bukan panenan mop dari perjalanan Manado—Makassar tadi, hendaknya bisa menjadi pamungkas mop kita kali ini. Keduanya tentang Alo’ dan Mince.

Setelah lama berpacaran, akhirnya Alo’ dan Mince memutuskan menikah. Pernikahan mereka dihelat begitu sederhana.

Usai prosesi pernikahan, malam harinya Alo’ dan Mince akan menikmati malam pertama. Itu malam yang ditunggu-tunggu. Maklum, mereka berdua selama pacaran memang berkomitmen untuk tidak berhubungan intim jika belum sah menikah.

Malam itu Alo’ tanpa sengaja memakai celana dalam yang dijahit dari karung tepung terigu. Alo’ memang hidup kekurangan, bahkan untuk menikah saja ia harus menabung selama tujuh tahun.

Setelah mereka berdua berada di dalam kamar, Alo’ mulai mencumbu Mince. Satu per satu pakaian tanggal dan berserakan di lantai.

“Ooo … Tuhan!” Tiba-tiba Mince teriak kemudian jatuh pingsan. Alo’ kebingungan.

Sampai akhirnya Alo’ sadar, Mince ternyata kaget melihat celana dalamnya yang tertulis: BERAT BERSIH 25 KG.

Behel

Setelah lama menikah dan memiliki putri satu-satunya berusia 5 tahun, Alo’ dan Mince mulai dibanjiri rezeki.

Warung kecil-kecilan mereka laris manis. Sampai akhirnya mereka bisa membeli dua buah ruko. Kehidupan mereka pun akhirnya sejahtera.

Pada suatu malam Alo’ mengajak Mince masuk ke kamar.

“Mince sayang, manjo kwa ka kamar.”

“Sabar kwa, sadiki le,” jawab Mince.

Raut wajah Alo’seperti menuntut, “Sayang, mari jo kwa!”

Akhirnya Mince tidak bisa menolak bujukan suaminya itu, “Manjo dang, sayang.”

Mereka berdua bergegas menuju kamar. Kebetulan anak mereka sudah pulas.

“Sayang, coba kase mati tu lampu,” pinta Alo’.

Mince beranjak lalu memadamkan lampu.

Setelah lampu padam, terdengar suara Alo’, “Mince sayang, coba ngana lia ne kita pe behel … glow in the dark.”

“Ku**cu** deng ngana, Alo’. Jadi cuma mo kase tunjung akang ngana pe behel dang?”

Tinju Mince melesat ke “biji” Alo’.


(Tulisan ini sebelumnya dimuat di Mojok.co)

Wednesday, August 2, 2017

Kota yang Beranjak Congkak

Sebuah kota menjadi persinggahan sombong. Gedung-gedung berlomba-lomba menjadi galah pencongkel langit. Ketika langit runtuh, orang-orang panik berlarian mencari lantai terendah. Manusia memang gemar tempat yang tinggi, tapi terlalu takut untuk tak kembali ke bawah.

Di kota yang beranjak congkak ini, aku pernah menjala tawa dan bala sekaligus. Meletakkan kedua nasib itu ke dalam guci retak. Sembari lengan kiri kubiarkan bergelantungan pada lorong cahaya. Aku lalu memilih melepaskan genggaman itu, hingga jatuh menimpa tiada.

Sekali kulihat kota ini dari atas langit. Hamparan awan seperti kasur dan selimut hotel bintang lima. Ada sebuah liang biru menganga di sana. Sebagai celah sinar matahari 'tuk menikam binasa siapa saja yang lemah.

Mungkin benar, kota adalah yang sebenar-benarnya kehidupan. Sebab kematian hanya jadi biasa. Nyawa jadi serupa nyamuk-nyamuk yang meletup pada jala raket listrik. Setelah itu, mencari lagi dengung ruh yang siap untuk dibunuh.

Tak ada yang kurindukan dari kedua kota tempat aku sejenak tinggal. Yang satunya mengusir pergi dan yang satunya lagi meminta kembali. Dari asing kembali ke asing. Tempat yang sama ketika cuaca hanya kata yang sia-sia dari mulut seorang peramal tua.

Makassar, Juli menjelang Agustus, 2017.

Wednesday, July 19, 2017

Kelebat di Gunung Klabat

Aku genggam sepotong es krim di tengah kabut dan kelebat Gunung Klabat. Serupai anak, aku jilati dari kaki hingga ke puncak. Aku mabuk gila kala itu. Udara dingin aku tantang telanjang.

Aku habiskan es krim tanpa gigil. Meski hujan menyusul setelah dipanggil halilintar. Dingin tetap aku cumbu dengan diam. Dan waktu semakin singkat di lidah jalan bercabang dua.

Aku kembali membuka satu bungkus es krim yang mengeras. Lelehan empat garis turun perlahan. Bungkus demi bungkus berserakan di lantai. Aku kelelahan.

Aku rebah di kaki gunung besar yang terlihat samar dan kecil. Suara empat atau tiga jenis burung bergantian terdengar. Ditambah suara pepohonan bambu yang bergesekan. Merdu sekali sebagai selimut tidur.

Aku masih dengan kelebat itu ...

Sunday, June 25, 2017

Tragedi Azan Subuh

Ilustrasi: Mojok.co

Tak hanya di Papua dan Maluku, mop sebenarnya juga bertebaran di Sulawesi Utara, terutama di kalangan Suku Minahasa, Sanger, dan Mongondow. Cerita-cerita lucu itu rata-rata mirip satu sama lain, bahkan ada yang mirip betul dengan mop Papua, dengan nama yang berbeda saja. Mop orang Minahasa misalnya, akan menggunakan nama-nama tokoh seperti Tole, Waseng, Mince, Nyong, atau Noni. Sementara di Sanger, ada nama-nama Ungke, Utu, Wawu, dan Alo’. Sedangkan Uyo’, Anu’, dan Lengkebong beredar dalam cerita-cerita Mongondow.

Saya berasal dari Mongondow, dan berikut kisah-kisah lucu daerah saya tersebut.

Lagu Garuda Pancasila

Lengkebong duduk di bangku SD kelas 4. Usianya baru 10 tahun. Pada suatu Jumat, Ibu Titing si wali kelas mengumpulkan semua siswa, termasuk Lengkebong.

“Sebelum torang libur, Ibu mau kasi tau. Senin nanti, torang pe kelas dapa pilih jadi kelompok penyanyi pas upacara,” kata Wali Kelas.

“Horeeeeee!” anak-anak berteriak girang, sementara Lengkebong hanya menguap.

“Jadi, hari ini, sebelum pulang, torang latihan manyanyi dulu,” ajak Wali Kelas.

Setelah beberapa kali latihan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, tiba saatnya untuk lagu bebas.

“Ngoni samua hapal lagu ‘Garuda Pancasila’?” tanya Wali Kelas.

Anak-anak kompak menjawab, “Iyooo!”

Lengkebong kembali menguap.

Ibu Titing kemudian menyuruh anak-anak bernyanyi, tentu saja dengan aba-aba kedua tangannya.

“Garuda Pancasilaaa … silaaa ….”

Ibu Titing mengernyitkan dahi. Ia seperti mendengar ada suara yang serupa gema. Ia kembali memberi isyarat dengan tangan.

“Garuda Pancasilaaa … silaaa ….”

Hal serupa kembali terjadi, Ibu Titing makin heran.

“Kenapa ada suara macam gema bagitu e?”

Anak-anak hanya bertukar pandang. Sekali lagi, Ibu Titing menyuruh anak-anak bernyanyi, dan gema itu terdengar lagi. Bagian sila itu selalu telat.

Penasaran, Ibu Titing kemudian menyuruh satu per satu anak menyanyi di depan kelas. Ia bermaksud menyeleksi.

“Coba ngana, Anu’,” katanya kepada seorang anak perempuan.

Anu’ kemudian maju ke depan kelas dan bernyanyi.

“Garuda Pancasilaaa. Akulah pendukungmuuu ….”

Anu’ berhenti setelah diberi aba-aba oleh Ibu Titing.

“So bole. Coba ngana, Uyo’.”

Kali ini seorang bocah laki-laki maju. Dan seperti Anu’, Uyo’ lancar-lancar saja. Demikian pula anak-anak lainnya. Hingga tiba giliran Lengkebong.

“Sekarang ngana, Lengkebong.”

Gontai Lengkebong maju ke depan kelas. Setelah mendapat aba-aba dari Ibu Titing, Lengkebong mulai menyanyi.

“Burung Garuda Pancasilaaa ….”

Sontak saja tawa menebal di ruang kelas.

Anak TK

Anu’ girang karena ia mulai masuk TK. Selama sepekan, ibunya kerap mengantar Anu’ ke TK Siti Masita yang hanya berjarak sepelempar bola kasti. Selain diberi bekal makanan dan kue, Anu’ juga sering diberi jajan seribu rupiah. Uang itu bisa dipakai Anu’ untuk membeli makanan ringan yang ia suka.

Setelah yakin Anu’ bisa pergi sekolah sendiri, ibunya dengan lembut bertanya, “Anu’ so bole pigi sekola sandiri?”

Anu’ yang mungil dan berlesung pipit itu tersenyum sembari mengangguk.

“Betul, so brani?” Ibunya mengulang kembali pertanyaan. Sebenarnya ibunya tidak khawatir jika Anu’ berangkat ke TK sendirian. Sebab dari rumah menuju TK, Anu’ hanya menyeberangi tanah lapang, bukan jalan raya.

“Iyo, co boye (so bole),” jawab Anu’.

Mendengar jawaban Anu’, ibunya kemudian hanya mengantar putrinya itu sampai di beranda. Anu’ diberi jajan seribu rupiah, yang dimasukkan ibunya ke saku seragam. Pandangan ibunya terus membuntuti Anu’, sampai anak itu selamat mencapai gerbang TK.

Hari berikutnya, seperti biasa ibunya memberi jajan kepada Anu’. Masih dengan jumlah yang sama: seribu rupiah. Kali ini ibunya tidak lagi mengekori langkah Anu’.

Di tengah perjalanan, tanpa disadari Anu’, uang jajannya terjatuh. Sesampainya di TK, ia segera masuk ke kelas. Pelajaran menghitung dimulai.

“Anak-anak, kalu tiga ditambah tiga, berapa?”

“Enaaammm!” kompak anak-anak menjawab termasuk Anu’.

Setelah puas dengan berhitung, Ibu Guru itu coba menaikkan level ke perhitungan uang. Ia mengambil beberapa koin dan uang kertas seribuan.

Anak-anak cepat tanggap dengan maksudnya. Hampir semua pertanyaan sederhana terjawab, seputar penambahan koin ratusan dan uang kertas seribuan. Ibu guru sengaja memakai alat peraga koin dan seribuan, sesuai kemampuan berhitung anak-anak.

Tiba-tiba terdengar suara tangisan. Dan anak yang menangis itu … Anu’.

“Kiapa sayang?” Ibu Guru mendekat lalu mengelus-elus rambut Anu’.

“Anu’ pe jajan calibu (seribu) ilang.”

Ibu guru kemudian mengambil selembar uang seribu yang dijadikannya alat peraga barusan.

“Napa, ibu tukar jo?” tawar Ibu Guru kepada Anu’.

Anu’ dengan malu-malu, mengambil uang pemberian ibu guru. Tapi … Anu’ masih menangis.

Ibu Guru tampak heran. “Kiapa manangis ulang, Anu’ sayang?” Tapi Anu’ terus menangis.

“Anu’ sayang, kan ibu guru so tukar tu doi yang ilang? Kiapa masih manangis, sayang?”

Sesenggukan Anu’ menjawab.

“Bagini … co dua libu (so dua ribu).”

Ramadan dan Durian

Di kampung saya, Desa Passi di Kabupaten Bolaang Mongondow yang masih bermimpi talak tiga dari Sulawesi Utara itu, musim durian selalu datang bersamaan dengan Ramadan. Tapi itu dulu, ketika saya masih dikejar Ibu dengan lelehan bubur pisang. Ketika musim durian sudah tak tentu seperti sekarang, masih terkenang sejumlah cerita lucu tentang Ramadan dan musim durian. Cerita berikut setiap tahun menjadi bahan bualan kami ketika nongkrong di posko Ramadan desa.

Alkisah, ada pohon durian yang menjulang tinggi dan berdampingan dengan masjid desa. Pohon itu berbuah lebat dan matang tepat di pertengahan bulan puasa.

Ada seorang bapak yang dipercayakan menjadi imam masjid kala itu. Ia sering dipanggil Papa Midi.

Pada suatu subuh, setelah bersantap sahur, Papa Midi segera menuju masjid. Sang imam ini sama halnya dengan penduduk lainnya, doyan makan durian.

Sesampainya di masjid, yang selalu sepi di pertengahan Ramadan, sang imam memilih menghabiskan selinting rokok kreteknya dulu sebelum masuk ke masjid. Menurut cerita, peristiwa ini terjadi medio ’70-an, dan satu-satunya penerangan berasal dari lampu minyak.

Saat asyik merokok, Papa Midi tergoda menuju pohon durian di samping masjid. Setiap siang, ia memang suka mengecek kalau ada buah jatuh. Subuh itu, berbekal cahaya korek api, ia tidak menemukan apa-apa.

Setelah dongkol dan rokok di jepitan jemari pupus, Papa Midi melangkah masuk ke masjid. Ia merapat ke jam tua seukuran piring yang menempel di dinding papan. Masjid kala itu masih dibangun dari papan. Bahkan jendela lebarnya tanpa daun jendela. Hanya sekali lompat, seketika posisi kita sudah berada di luar masjid.

Sudah waktu untuk mengumandangkan azan, gumamnya setelah melirik jam. Papa Midi kemudian berteriak mengumandangkan azan, sebab masjid kala itu belum difasilitasi pengeras suara.

“Allaaahu akbar allaaaaaahu akbar!” Baru saja ia memulai azan ketika … kraaaak! Terdengar bunyi durian jatuh.

Sang muazin kaget. Tak ingin ada yang mendahuluinya, ia segera mengakhiri azan, “Laa ilaaha illallaah!”

Setelah itu, sang muazin melompati jendela.


Artikel ini sebelumnya dimuat di Mojok.co

Sunday, May 7, 2017

Selamat Jalan Didi


Waktu memang bangsat! Ketika semua hal telah lewat, tak ada satu pun ilmu teluh yang bisa menyeretnya kembali. Saya berharap, cukup sudah tahun kemarin yang tega merenggut kawan-kawan karib. Setelahnya, biarkan dulu mereka menua. Sebab kami masih ingin bersua.

Tapi tahun ini, ternyata sama biadabnya. Baru saja kemarin saya dikabari Themmy kalau Didi masuk rumah sakit. Ia dioperasi karena luka dalam. Ada orang yang entah alasannya apa, dan tak pernah tahu kalau Didi satu dari sebagian kecil orang yang rela berjuang untuk nelayan-nelayan tradisional di Manado, lalu orang itu tega menancapkan belati di hatinya.

Orang itu mungkin juga tak pernah tahu... Didi seorang ayah.

Didi satu dari banyak teman saya di komunitas punk di Manado. Saya memang tidak seliar mereka kini, yang tetap gemar memburu panggung-panggung gig, berpogo ria, dan menikmati hidup seperti waktu tak pernah sedikit pun beranjak.

Di Daseng, saung sederhana bagi para nelayan-nelayan menambatkan perahu mereka, Didi adalah teman yang tahu bagaimana caranya menghibur kami. Dari pesta gelas, dansa botol, ikan-ikan bakar berselimut dabu-dabu, hingga nada-nada tinggi yang mengutuk pengurukan laut.

Daseng memang satu-satunya saung yang gagah menantang gedung-gedung congkak, yang berderet di atas lahan reklamasi sepanjang boulevard.

Saya ingat tahun kemarin, ketika Themmy dan kawan-kawan Daseng, mengaransemen lagu "Nenek Moyangku Seorang Pelaut" dan merekamnya untuk Didi. Itu untuk persiapan gig yang tinggal beberapa hari lagi. Lagu itu memang diciptakan spesial untuk orang-orang seperti Didi.

Ah, Didi... Februari kemarin kau masih menjemput saya di sekretariat AJI Kota Gorontalo. Dengan vespa pink kesayanganmu, kita mengelilingi kota lalu menjebak malam ke dalam botol, agar malam tak akan pernah ke mana-mana.

Waktu meski terkadang biadab, ia memiliki caranya sendiri agar kita bisa berdamai dengannya. Ia mempertemukan kita untuk terakhir kalinya. Itu seperti kata pamit darimu.

Selamat jalan Didi. Kau hanya istirah dari lelah. Dan tanah begitu bahagia memeluk orang-orang sepertimu.

Titip duka ini untuk istri dan putra gagahmu.

Sulang untukmu!