Getah Semesta

Friday, December 7, 2018

Praduga di Nduga

Saya selalu tertarik membaca komentar di setiap pemberitaan Jubi terkait Nduga. Sebagian banyak komentar mengutuk kejadian itu.

Sebagai media lokal di Tanah Papua, sejak kejadian Nduga, makin banyak orang di luar Papua tertarik membaca Jubi. Mungkin karena media-media Mama Kota-Jakarta-lebih sering memakai narasi tunggal dari Polri atau TNI. Sementara Jubi, selain tetap mewawancarai Polri dan TNI, masyarakat di Nduga pun turut diwawancarai.

Narasumber yang diwawancarai Jubi ada dari anggota DPRD Nduga, pihak gereja, bahkan pekerja yang selamat dan eks pekerja Trans Papua. Saya pernah membaca berita kesaksian pekerja yang selamat di salah satu media Jakarta, yang keterangannya kemudian dituturkan kembali pihak TNI.

“Tidak lama kemudian para KKB dalam suasana kegirangan menari-nari sambil meneriakkan suara hutan khas pedalaman Papua. Mereka kemudian secara sadis menembaki para pekerja. Sebagian pekerja tertembak mati di tempat dan sebagian lagi pura-pura mati terkapar di tanah,” ungkap Aidi, sebagaimana disampaikan Jimmi.

Nukilan di atas dari pemberitaan Kompas. Jimmy Aritonang adalah salah satu pekerja yang selamat. Sementara Muhamad Aidi adalah Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Jayapura, Papua.

Membaca itu saya segera teringat narasi yang sama, ketika para Gerwani menyiksa tujuh jenderal di Lubang Buaya. Para Gerwani menyanyikan Genjer-Genjer, sambil menyayat wajah si jenderal. Sayangnya, peristiwa itu terbukti mengada-ada. Bahkan dibuatkan film propaganda Pengkhianatan G30 S-PKI. Tak ada penyiksaan seperti dalam film yang dilakukan di Lubang Buaya. Kesaksian demi kesaksian sudah banyak terungkap. Bahkan dari dokter-dokter yang mengautopsi. Tapi, diorama di Lubang Buaya mengekalkan semuanya, lagi-lagi, versi propaganda.

Salah satu komentar yang menarik perhatian saya, mengenai kesaksian TPNPB, bahwa kejadian itu bukan ekseksusi, akan tetapi kontak senjata. Salah seorang yang berkomentar (bukan orang Papua), diawali frasa orang Papua "ko stop tipu-tipu", mengatakan salah satu korban meninggal adalah karibnya. Dan korban itu sangat peduli dengan orang Papua.

Komentarnya itu, hampir mirip dengan salah satu akun media sosial yang menceritakan dukanya, ketika mengetahui kawan baiknya meninggal. Ia merentang tentang jasa korban mendukung dan terlibat dalam banyak kegiatan, yang didedikasikan untuk Papua.

Membaca itu, saya hendak berkomentar. Tapi saya urung niat. Merasakan kepergian seorang sahabat memang sakit. Dan itu layak dihormati. Namun memahami Papua butuh kejernihan pikir. Amarah dan sedih karena kehilangan seorang sahabat, hanya menjadi kabut yang menghalangi kita memahami Papua.

Saya hampir setahun di Papua. Tapi waktu ini bahkan belum cukup untuk membangun kepercayaan orang-orang di sini. Kendati sering menyuarakan keberpihakan atas nasib-nasib orang Papua, itu tak menjamin kita bisa "dikenali". Apalagi oleh orang-orang Papua yang berada di pedalaman.

Kecurigaan dan ragu-ragu untuk menerima orang selain mereka, adalah sikap yang patut kita hormati pula. Itulah kenapa, membangun Papua adalah cara keliru untuk merebut hati mereka. Setulus apa pun itu, sikap yang mereka pilih sudah jelas. Yang mereka butuh ialah hak menentukan nasib sendiri.

Setelah kejadian ini, narasi tentang seperti apa kehidupan di pedalaman Papua, pun relasi antara Orang Asli Papua (OAP) dan non-OAP, banyak beredar. Baik dituturkan kawan-kawan OAP dan non-OAP. Dikatakan, telah berpuluh-puluh tahun sebuah kepercayaan dibangun antara OAP dan non-OAP di Nduga. Namun sejak pos-pos militer dan Trans Papua ini dikerjakan, praduga masyarakat OAP terhadap non-OAP kembali muncul.

Apalagi TPNPB, yang jelas-jelas menyatakan alergi dengan para pendatang. TPNPB menolak proyek jalan tersebut. Selain merusak hutan mereka, kata TPNPB, dalam zona perang jalan-jalan itu malah memudahkan militer ketika bertempur.

Terlepas dari perang, keterpencilan tak melulu buruk seperti yang digambarkan negara. Terisolasi bisa menjadi perisai. Orang-orang Papua tak kekurangan, karena hutan menyediakan segalanya. Justru modernisasilah yang mengubah pola hidup mereka, lantas membunuh mereka perlahan-lahan. Pola berburu dan meramu, berubah menjadi: belanja ke warung-warung.

Pernah seorang petugas kesehatan di Asmat bercerita, ia prihatin dengan mama-mama di sana. Mereka susah payah menanam kemudian memanen sayur-mayur, tapi setelah itu hanya dijual murah.

"Jadi yang memborong sayur sudah atur harga. Murah saja, bahkan ada sekarung hanya tiga puluh ribuan. Setelah laku, mama-mama pergi membeli satu nasi bungkus dan sisanya mi instan untuk anak-anaknya," katanya.

Mengingat ceritanya itu, saya sebagai anak kos merasa senasib dengan mama itu. Senasib karena sering membeli nasi bungkus dan mi instan.

Semalam saya sempat bercerita dengan kawan satu kos. Ia petugas kesehatan yang pernah bekerja di rumah sakit di Wamena. Sejak pemberitaan Nduga, ia aktif menyimak baik dari televisi dan media online.

"Saya heran, kenapa juga sudah mau 1 Desember, tapi mereka bertahan di sana. Harusnya mereka diperintahkan turun. Berita-berita juga hari ini bilang begini, besok lain lagi. Tidak tahu mana yang benar. Macam ada yang janggal," katanya.

Ia masih jernih dalam mendaras kejadian di Nduga. Meski sedih sebab korban kebanyakan anak Tator, sama seperti dia.

Wednesday, November 21, 2018

Senjata Itu Bernama Mikrofon

ilustrasi pixabay.com
Belum hanyut seteru antara Jerinx SID dan Via Vallen yang, merambat menjadi debat antara Jerinx dengan para anarko dan pengkhidmat anarkisme, kini jagat musik Indonesia dilindu masalah lagi di genre hip hop.

Sebagai pendatang di Negeri Bintang Kejora, Papua, saat ini telinga saya lebih akrab dengan hip hop dibandingkan punk atau dangdut koplo. Karena itu, saya ingin mengutarakan pendapat, terkait masalah antara rapper Gerry Konaedi a.k.a Xaqhala dan Ben Utomo. Selanjutnya, nama Saykoji pun masuk dalam lingkaran seteru itu.

Saya ingin mengurai pangkal masalah di antara mereka. Sejauh saya memindai pemberitaan dan postingan instastory mereka, masalah bermula dari kritikan Gerry terhadap acara Beef Rap Battle, yang diprakarsai Ben dan All Day Music. Saykoji, adalah salah satu juri acara tersebut. Dua juri lainnya ada Iwa K dan Laze.

Gerry menulis sebuah artikel di Hell Magz, berjudul Ketika Battle Rap Keseleo. Bagi yang mengikuti masalah ini, jelas harus membaca dulu artikel itu. Setelah mencari-cari, saya menemukan artikel itu di bio akun instagram @hellmagz.

Saat membaca artikel sepanjang kereta api dan ditulis dengan bahasa seenaknya itu, saya menyimpulkan Gerry memang bukan ingin mengulas soal sejarah freestyle rap battle. Meski porsi soal sejarah itu ia ulas begitu panjang, ujung-ujungnya, artikel itu berisi sindiran terhadap acara Beef Rap Battle. Dalam artikel Gerry, kritikannya tak berisi gagasan. Ia membicarakan tentang kue yang tak enak, tapi ia tak menawarkan bagaimana agar kue itu bisa enak.

Saya bukan anak hip hop, dan sejarah yang Gerry ulas, konon dari bocoran seorang kawan baik saya yang, lumayan tahu soal sejarah freestyle rap battle di Amerika, apa yang diulas Gerry keliru. Tapi saya tidak ingin membahas kekeliruan itu. Karena bagi para penikmat hip hop, pasti tahu apa saja celah yang bisa menggerus semua argumennya Gerry. Biarlah itu menjadi bahasan dalam majelis takzim hip hop Indonesia.

Setelah membaca artikel Gerry, saya cenderung bersepakat dengan Saykoji, bahwa Gerry sebenarnya iri dengan acara Beef Rap Battle. Tapi alih-alih membalas tulisan dengan tulisan, Ben memilih membuat diss track berjudul Basian. Mungkin Ben berpikir: saya rapper bukan penulis. Kemudian Gerry membalasnya dengan Phone Call From Hell. Saykoji kemudian ikut membuat diss track untuk Gerry dengan judul Melempem.

Saling diss ini menjalar. Seorang rapper Lilyo, membuat lagu yang menyasar Saykoji berjudul Bagi-Bagi. Disusul lagu Humblebrag dari rapper Explicit Verbal, yang juga ditujukan kepada Saykoji. Secepat kilat Saykoji membalas kedua rapper itu dengan lagu Gue Kasih.

Mabuk juga ya, kepoin mereka. Tapi baik dari kubu Ben atau Gerry, sama-sama masih berkutat pada tataran drama. Lirik-liriknya pun hujat-hujatan standar, menyinggung status sosial, fisik, karir, bahkan menjadikan orientasi seksual LGBT sebagai hujatan, dan sebagainya.

Kemudian, saya menemukan satu lagu yang menurut beberapa orang yang membagikannya, lagu itu untuk menyerang kubu Ben atau Saykoji. Apalagi memang garis para rapper ini beririsan dengan yang sedang berseteru. Namun lagu kali ini berbeda. Para rapper ini berasal dari Timur. Katanya mereka dari Ambon dan kini menetap di Bali. Lagu itu berjudul Cut the cRap dari Rendy O X Blvkindo. Dibandingkan jejer lagu diss terkait seteru Ben Vs Gerry, saya kira lagu Cut the cRap berbeda. Lirik-liriknya tidak frontal. Bertaburan metafora dan bermakna luas. Diss track semacam ini, tiada lekang oleh waktu dan bisa relevan kapan pun dan untuk siapa pun.

Saya jadi ingat seteru antara Malique dan Joe Flizzow. Dua eks Too Phat yang sampai sekarang masih saling memunggung. Belum lama ini, saya sempat membahas soal Malique dan Joe, sebelum saya tahu konflik Ben Vs Gerry.

Kalau menyoal kawan yang berubah jadi lawan, paling asyik dijadikan pelajaran ialah seteru antara Malique dan Joe. Malique, yang memilih mengasingkan diri setelah Too Phat bubar, masih terus berkarya. Setiap lagunya dirilis, kerap langganan awards di blantika musik Malaysia.

Joe, yang juga bersolo karir, lagu-lagunya sering bersikut-sikutan dengan lagu Malique di tangga lagu, atau dari jumlah viewers Youtube. Tapi Joe memang bukan kelasnya Malique soal bikin lirik. Malique punya lirik dan rima yang apik. Tentu saja, dengan irama khas Melayu yang kental.

Mungkin karena itu, Joe sering satire dalam lirik lagunya. Memancing agar Malique keluar dari persembunyiannya.

Sejak menikah dan memiliki anak, Malique memang memilih menjauh dari media. Bahkan ketika lagu-lagunya meraih Music Industry Awards, ia tak pernah hadir. Video klip lagu-lagunya pun jarang menampilkan wajahnya. Hanya suara dan diperankan orang lain. Malique benar-benar menjadi misterius.

Ada sih, satu lagu yang menghadirkan Malique dalam video klip. Lagunya berjudul Cerita Kedai Kopi. Diunggah pada 9 Maret 2017 di Youtube. Tapi setahu saya hanya itu saja.

Setelah Joe yang gemar menyindir Malique, giliran Altimet-kawan baik Joe-yang satire lewat lagu Mambang. Ia mengandaikan Malique bersembunyi di gua. Tak lama kemudian, lagu Mambang dibalas oleh Kmy Kmo ft Luca Sickta lewat lagu Gong Nekara. Liriknya terasa sekali ruhnya Malique. Menampar-nampar Altimet tapi dengan begitu puitis.

Kemudian, album Malique terbaru Malique TKO: Pejamkan Mata, yang sampulnya bergambar wajah yang memiliki mata di dahi, difitnah bersimbol Dajjal. Dikatakan pula itu simbol Illuminati. Padahal Dajjal dan Illuminati saja berbeda jauh artinya. Malique terpaksa meluruskan kekisruhan itu, bahwa gambar itu artinya mata hati.

Tapi, Malique memang sosok yang tetap menjadi idola di Negeri Jiran. Bukan hanya karena kerendahan hatinya, tapi cara ia meroketkan rapper baru, salah satunya rapper muda seperti Ben Ladin yang baru berusia 17.

Lagu Ben Ladin berjudul Hikayat Benladin, telah ditonton sebanyak 17 juta di Youtube. Lewat lagu ini, ia menitipkan "salam" kepada para "pembenci", termasuk Altimet dan Joe. Sebuah lagu sederhana, yang membuktikan Malique mampu mengubah kebencian orang, menjadi lagu yang enak didengar dan sarat makna.

Saya kira, lagu Cut the cRap, hampir mirip dengan cara Malique menulis lirik. Kebencian bisa puitis. Rapper pun adalah penyair. Apalagi mereka begitu akrab dengan rima.

Tapi, bukan soal siapa yang paling pintar membuat lirik atau rima. Namun apa gagasan dalam sebuah lagu. Sama seperti sebuah tulisan, bukan cara menulis yang baik dan benar yang terpenting, tapi apa isi gagasan dalam tulisan itu.

Dari semua musisi atau pengkhidmat hip hop di Indonesia yang pernah saya telusuri, hanya segelintir saja yang lagu-lagunya berisi gagasan. Saya bisa kenyang gagasan hanya ketika mendengar lagu-lagunya Homicide, Maderodog, Senartogok, Doyz, Rand Slam, Pangalo, Joe Million, Altarlogika, dan mereka yang namanya pun belum terlalu akrab dengan telinga-telinga kami di negeri paling timur ini. Saya yakin masih ada banyak lagi musisi hip hop serupa deretan musisi yang saya akrabi itu.

Saya belum lama ini membaca artikelnya Holy Rafika di Remotivi, yang membicarakan tentang konflik antara Jerinx SID dan Via Vallen. Benar, apa yang tak boleh hilang dari konflik itu, ialah status selebriti Via Vallen yang dipermasalahkan Jerinx.

Sederhananya, Jerinx tak mempermasalahkan lagunya, jika saja ketika dinyanyikan kembali, Via Vallen mungkin bisa menyelipkan pesan-pesan mengenai makna lagu Sunset di Tanah Anarki. Via Vallen kini punya basis penggemar melimpah. Atribut selebritinya bersinar. Mungkin sedikit saja pesan tentang masalah-masalah sosial yang keluar dari mulutnya, mampu mengetuk nurani sebagian orang. Karena di hari-hari penuh dusta ini, keterlibatan orang-orang yang memiliki basis penggemar memang diperlukan. Cukup sudah frekuensi publik dikuasai pengusaha dan penguasa. Mereka yang terus memproduksi tontonan nirfaedah dan tidak bergizi. Sudah waktunya para idola turut andil mengedukasi masyarakat.

Dari debat di Twitter antara Jerinx dengan beberapa anarko dan musisi menyoal pemahaman anarkisme, saya kira mereka yang berdebat ini sebenarnya sejalan. Setidaknya, Jerinx pun sama dan turun melawan untuk rakyat Bali terkait reklamasi Teluk Benoa. Sama seperti beberapa musisi di Jawa yang ikut menyuarakan Kendeng, Kulon Progo, kasus 1965, para aktivis yang terbunuh, dan lain-lain. Atau, sama seperti para rapper yang berani bersuara tentang pelanggaran Hak Asasi Manusia di Papua, yang bahkan beberapa di antaranya menetap di Papua, ada juga anak asli Papua.

Tapi apakah semua musisi mampu menembus batas-batas atribut selebriti mereka? Tentu tidak. Banyak yang terlalu nyaman dengan hip hip hura hura, meski diitari segala ketimpangan. Yang terakhir ini, sebenarnya erat berkelindan dengan dunia hip hop di Indonesia. Lihatlah, mereka pandai saling menghujat, tapi pandir ketika berhadapan dengan apa yang sebenarnya lebih pantas dihujat.

Saya menaruh hormat, kepada para musisi yang bahkan baru memulai karir, tapi tiada mempedulikan deretan angka viral, tapi pada apa yang pantas disuarakan. Sebab ketika kau bungkam melihat ketidakadilan di sekitarmu, maka kau hanyalah sperma yang menjelma menjadi manusia percuma.

Mikrofon bisa menjadi senjata. Tapi pilihlah siapa yang layak untuk dimuntahkan peluru.

Monday, November 12, 2018

Genjer

Berbeda dengan malam hari, kalau siang, pilihan makanan terbatas. Tapi ketika Waena gelap, ada banyak tenda makanan di depan lorong. Ada penjual lalapan, nasi kuning, dan penjual nasi goreng yang porsinya segunung. Seharusnya, porsi nasi goreng ini bisa untuk dua orang.

Sejak bude langganan saya menghilang setelah lebaran, saya mencari rumah makan lain di sekitar kos, hanya untuk makan siang. Ada satu rumah makan Padang yang menunya variatif. Harganya pun terjangkau kantong anak kos. Saya mulai berlangganan.

Tadi ketika pergi membeli makanan, saya melihat ada menu sayuran baru. Selama berbulan-bulan, saya jarang melihat sayur ini.

"Ini sayur apa?"

"Genjer. Pernah makan?" kata ibu pemilik warung makan.

Mendengar nama sayur itu, ingatan saya langsung diseret ke masa-masa pembantaian 1965 terkait Partai Komunis Indonesia.

Karena penasaran, saya coba bertanya lagi ke ibu itu, "Ibu bukan dari Padang?"

"Suami saya orang Padang. Saya orang Banyuwangi."

Dalam hati saya, pantas saja sayur genjer ini ada. Saya kemudian meminta ibu itu menaruh genjer di nasi yang saya pesan.

"Bisa Bahasa Osing?" tanya saya.

"Bisa. Mas dari Jawa?"

"Bukan, saya Manado."

Ia coba menyelidiki saya balik, karena sepertinya dia sadar saya sedang menyelidiknya. Tapi saya tidak melanjutkan percakapan. Saya segera pamit. Sepanjang jalan pulang, saya tersenyum, karena saya iseng saja membayangkan: saya orang Mongondow, tinggal di Papua, beli makanan di rumah makan Padang, yang masak orang Banyuwangi.

Sebenarnya, di kolam ikan di belakang rumah saya di desa, biasanya genjer ini banyak tumbuh berdampingan dengan eceng gondok. Tapi kami tidak terbiasa memasaknya menjadi sayur. Karena itu, saya ingin mencobanya. Saya penasaran dengan rasanya, yang katanya sayuran orang miskin.

Genjer kerap dikaitkan dengan PKI karena lagu Genjer-Genjer ciptaan Muhammad Arief, pada 1942. Ia seniman asal Banyuwangi, yang aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Ini organisasi kebudayaan sayap kiri di Indonesia, yang inisiatornya di antaranya Nyoto, D.N. Aidit, M.S. Ashar, dan A.S. Dharta.

M. Arief menciptakan lagu Genjer-Genjer, sebagai protes karena di masa penjajahan Jepang, banyak rakyat kelaparan lantas memilih memakan genjer. Padahal awalnya genjer ini hanya untuk makanan ternak.

Lagu itu semakin populer ketika dinyanyikan Bing Slamet dan Lilis Suryani medio 1960-an. Karena menyuarakan penderitaan rakyat dan menyentuh akar rumput, PKI sering memakai lagu ini saat kampanye.

Mengidentikkan Genjer-Genjer dengan PKI adalah kesalahpahaman. Lagu itu bukan lagu PKI. Seandainya salah satu lagu Iwan Fals dipakai kampanye sebuah partai, apakah lagu itu otomatis jadi milik partai? Kemudian ketika para tokoh partai itu difitnah membantai para jenderal, lantas Iwan Fals harus dihukum?

Iya, nasib M. Arief sungguh malang. Setelah peristiwa 30 September 1965, penangkapan dan pembantaian terhadap mereka yang dituduh PKI semakin gencar. M. Arief ikut ditangkap dan dipenjarakan di Lowokwaru, Malang. Hampir empat bulan ia ditahan, kemudian hilang tak berbekas.

Jika pernah menonton film G30S/PKI--salah satu film terbaik Indonesia karena sinematografinya yang keren, dan mampu menghantui kita sampai sekarang meski tidak ada dedemit di film itu--, ada bagian ketika para Gerwani menyanyikan Genjer-Genjer sambil menyayat wajah seorang jenderal. Padahal itu distorsi sejarah atau hoaks paling akbar, yang masih dipercayai oleh sebagian banyak orang Indonesia, hingga sekarang. Hasil autopsi dari tim forensik, salah satunya Liem Joe Thay melaporkan, tidak ada penyiksaan semacam itu.

Begitulah nasib Genjer-Genjer. Bahkan sebuah lagu telah dibungkus hoaks teramat lama. Artis mana yang berani menyanyikannya sekarang, meski Orba tumbang?

Saya membuka nasi bungkus berisi sayur genjer dengan takzim. Lagu Genjer-Genjer versi Lilis Suryani saya setel di Youtube. Lalu mencicipinya. Rasanya tidak pahit. Hanya kenangan di balik lagu ini yang teramat pahit.

Emake jebeng padha tuku nggawa welasah (Ibu si gadis membeli genjer sembari membawa wadah-anyaman-bambu)/ Genjer-genjer saiki wis arep diolah (Genjer-genjer sekarang akan dimasak)/ Genjer-genjer mlebu kendhil wedang gemulak (Genjer-genjer masuk periuk air mendidih)/ Setengah mateng dientas ya dienggo iwak (Setengah matang ditiriskan untuk lauk)/ Sego sak piring sambel jeruk ring pelanca (Nasi sepiring sambal jeruk di dipan)/ Genjer-genjer dipangan musuhe sega (Genjer-genjer dimakan bersama nasi).

Ah, seandainya lagu itu akhirnya bisa dinyanyikan Via Vallen versi dangdut koplo....

Wednesday, November 7, 2018

Kembalikan Mimpiku

Aku terbangun dengan terheran-heran. Kenapa aku berada di ruangan 3 x 3 meter ini? Tadinya aku tengah berada di sebuah ngarai yang indah. Kemudian aku sadar, ngarai itu hanyalah mimpi, sementara kamar ini nyata.

Ponsel di sebelah bantal segera kuraih. Penanda tanggal kuperhatikan, Rabu 7 November 2018, menjelang peralihan hari. Aku lekas mencatat mimpi ini sebelum lupa. Sembari terus mengingat perca demi perca.

*

Suasana desa menyergap. Ada masjid yang di sampingnya bermenara tinggi. Aku berada di belakang masjid. Tapi aku bukan mau sembahyang. Malah di tanganku ada senjata laras panjang. Tiba-tiba desingan peluru terdengar. Dua orang yang tampaknya kawan namun mereka tak kukenali, memberi aba-aba agar aku merunduk sambil mengikuti mereka.

Kami dengan gaya senyap-senyap menuju menara masjid. Suara tembakan datang dari berbagai arah. Seorang kawan tertembus peluru. Aku dan kawan satunya lagi, coba menolongnya. Tapi nafasnya berhenti. Dadanya mekar berdarah.

Segera kami melompati pagar masjid, melewati halaman sebuah rumah yang cukup aku kenali. Ini rumahnya Bedewin, kawan baikku yang telah berpulang.

Aku masih terheran-heran dan sempat membatin: kenapa di desaku terjadi perang?

Di seberang rumah, ada lagi tiga orang bersenjata yang juga sepertinya kawan, terus menembaki tentara di tanah lapang. Aku samar mengenali para tentara dari seragamnya. Mereka banyak. Tiga orang itu kemudian berlarian ke arah kebun belakang. Aku dan lelaki yang masih belum kukenali itu, segera mengikuti mereka. Puluhan tentara menyusul kami dengan rentetan peluru.

Di kebun belakang itu kami terpisah. Aku terus berlari di antara semak belukar. Peluru-peluru merobek dedaunan. Terasa pahaku seperti baru saja dilewati satu dua peluru. Jauh berlari, masih terdengar derap sepatu para tentara. Aku kelelahan dan pasrah. Tiba-tiba, dari semak-semak muncul seorang lelaki berkulit gelap. Tubuhnya setengah telanjang penuh coretan putih. Ia orang Papua.

Tak berlama-lama, lelaki itu menarik tanganku. Ia seperti menguasai medan kebun belakang itu, yang tiba-tiba saja berubah menjadi hutan belantara. Suara-suara tentara tak lagi terdengar. Kami sampai di sebuah ngarai yang dipenuhi pepohonan rindang menjulang di bawahnya. Ia mengajakku menuruni jalan setapak di balik rimbun dedaunan.

Cahaya matahari tiada mampu menembus lebatnya dedaunan. Sepertinya dedaunan itu dari cecabang pepohonan di bawah sana. Aku dituntunnya, sampai ke ujung setapak. Ketika ia menyibak dedaunan, apa yang ada di depan mataku adalah pemandangan yang tiada pernah aku saksikan seumur hidup.

Seorang mama tengah mencuci sayur mayur di anak sungai, ditemani dua bocah lelaki. Mereka tersenyum. Jemari mama itu menunjuk apa yang ada di belakangku. Aku terperangah. Di depanku ada air terjun tengah menjulurkan lidahnya yang membuih. Air terjun itu kira-kira setinggi pohon kelapa.

Ketakjubanku terhenti ketika lelaki itu memberi isyarat agar mengikutiku. Aku beranjak sambil melempar senyum kepada mama dan dua bocah itu. Hanya berjalan sekian meter, telah nampak beberapa honai. Sebuah pohon besar, berada di tengah-tengah kampung itu. Di atas pohon ada sebuah gubuk bertengger. Anak-anak tangga dari akar berjuntai dari gubuk ke tanah.

Aku sempat bertanya kepada lelaki itu, "Kalian tinggal di sini sudah lama?"

Anggukannya menandakan ia paham dengan perkataanku.

"Ada berapa orang kalian di sini?" Aku ingin memastikan apakah ia bisa berbahasa yang sama denganku, dengan melemparkan pertanyaan yang tak harus dijawabnya dengan anggukan atau gelengan kepala.

"Sekitar dua ratus orang," katanya.

Aku lega, sebab kami bisa berkomunikasi lebih banyak lagi.

"Apa nama kampung kalian?"

Ia menyebut nama yang terdiri dari dua suku kata, tapi aku sukar mengingatnya. Sepintas itu dari bahasa daerah. Menurutnya, kampungnya ini tidak diketahui orang-orang luar. Selanjutnya aku tak bertanya lagi. Aku kembali mengagumi kampung ini. Anehnya, kampung ini ternyata hanya berada tepat di kebun belakang di desaku.

Aku berlari-larian memasuki honai demi honai. Tapi orang-orangnya tak ada. Aku singgah di sebuah honai tepat di atas bukit mungil. Di sampingnya ada pohon rindang tapi rendah. Cecabangnya bahkan bisa diduduki. Dari sini, tampak kampung ini berada di tepian ngarai. Di bawahnya aku bisa menyaksikan bentangan perbukitan hijau. Sesekali kabut menebal dan bergeser bergantian menutupi puncak-puncak bukit.

Setelah menuruni jalan setapak, aku bersua dengan bangunan serupa honai tapi berukuran besar. Bangunan itu tak berdinding. Di sana, ada banyak orang lelaki dan perempuan tengah berbincang dan sesekali tertawa. Ketika melihatku, mereka serentak terdiam. Aku canggung dan berbalik arah. Di saat itulah, aku kembali bertemu lelaki itu. Ia mengarahkanku menuju ke pohon besar. Kali ini ada puluhan bocah lelaki dan perempuan di sana. Ia lanjut berjalan menuju ke bangunan honai yang besar tadi. Sepertinya ia hendak memberitahukan tentang keberadaanku kepada mereka.

Di bawah pohon besar, anak-anak itu menyambutku dengan riang. Mereka terus tertawa. Ada satu dua anak meluncur turun dari rumah pohon. Aku menoleh ke atas dan terlintas untuk menaiki anak tangganya. Tapi seorang anak menarik lenganku. Ia mengantarku ke sebuah taman di tepi ngarai. Aku duduk di sana, sambil menikmati keindahan kampung.

Tapi, tiba-tiba seorang lelaki menyapaku. Aku mengenalinya.

"Kenapa kau bisa di sini?" katanya.

"Kenapa kau juga bisa di sini?" tanyaku.

Kami berdua terheran-heran. Kemudian menyusul muncul satu per satu orang yang semuanya aku kenal. Mereka semua satu desa denganku. Desa Passi.

"Kenapa kalian semua ada di sini?"

Mereka hanya tertawa. Seseorang menghampiriku dan menunjukkan sebuah peta di ponselnya.

"Kami telah menandai kampung ini di map. Kami namai Kampung Pohon," katanya.

"Hei! Kenapa kalian menandai kampung ini. Nanti banyak orang yang tahu kampung ini!" teriakku.

Mereka hanya tertawa dan berlalu. Mereka sekitar belasan. Aku membuntuti mereka. Langkah mereka akhirnya berujung di sebuah jalan setapak yang menurun.

"Kami bekerja di sana," kata seseorang, sambil menunjuk ke arah lembah. Menurutnya, ada banyak lagi orang yang aku kenali berada di sana. Termasuk salah satunya kakak laki-lakiku.

Dahiku mengernyit. Jika tadi kata lelaki Papua di kampung ini tak ada orang lain yang tahu, kenapa ada banyak orang yang aku kenali berada di sekitar sini. Yang sepertinya mereka telah lama tahu tempat ini. Aku menyapu pandangan ke seisi kampung. Ke mana orang-orang kampung dan bocah-bocah tadi?

Aku panik. Meski berada di negeri yang begitu indah, aku ingin hanya aku saja yang tahu kampung ini. Tapi ternyata ada orang lain yang tahu tempat ini. Dan orang-orang itu semuanya penambang. Termasuk satu kakak laki-lakiku, meski aku belum berjumpa dengannya.

Aku kembali ke honai di atas bukit. Di sana, aku bisa menikmati kampung yang begitu sepi. Aku bersandar di pohon. Angin menyapa dan menenangkanku. Kini tak ada lagi orang-orang di sekitarku. Aku merasa damai. Aku sendiri...

Thursday, November 1, 2018

Merantau dalam Risau



Jika sebagian orang merantau karena berburu rezeki, saya memilih merantau karena ingin mewujudkan sebuah mimpi.

Semua orang tentu punya mimpi. Bahkan ketika bocah, kita selalu ditanyai guru tentang mimpi. Apa cita-cita kita? Tapi apakah mimpi kita ketika masa kanak-kanak sering terwujud?

Ada banyak yang ketika tumbuh dewasa, malah menjauh dari impiannya. Sama seperti saya, menjadi jurnalis bukanlah cita-cita masa kanak-kanak. Dan profesi ini akhirnya mengharuskan saya pergi dan tinggal berlama-lama di Tanah Papua. Negeri yang paling pertama menjamu matahari. Negeri yang paling sukar saya ingkari keindahannya.

Saat penerbangan ke Papua pada Februari lalu, lagu Merantau dari Kapal Udara saya dengarkan dari ketinggian 38 ribu kaki. Sama seperti lagu Kapal Udara lainnya berjudul Melaut, Menyambut, Menari, dan Menanam, lagu Merantau menyapa telinga dengan ceria. Tapi ketika memasuki lirik, saya dibuat tercenung.

Suatu hari sebelum menua/ Kau pergi/ Pergi/ Dalam hati kau menghibur diri/ Bernyanyi...

Hari itu, segala apa yang saya cintai di desa harus saya tinggalkan. Seorang ibu, putri mungilku Sigi, dan kawan-kawan yang kerap bersetia dalam duka dan tawa. Tapi benar, sebelum menua kita harus berani menyusuri negeri-negeri asing. Bukan berarti berdiam di tanah kelahiran sebagai bentuk ketidakberanian. Namun masing-masing memiliki alasan untuk pergi, atau memilih bertahan.

Mimpi apa yang ingin saya wujudkan dalam perantauan di Papua? Ini bukan mimpi tentang saya. Tapi mimpi orang-orang Papua yang selama ini tertindas di atas tanah mereka. Saya merantau dalam risau. Terlalu banyak yang rebah di tanah ini, dengan kepal tangan yang menggengam mimpi. Mereka menitipkan mimpi-mimpi itu kepada siapa saja yang berani bersuara.

Mimpi-mimpi itu dari Petrus Ayamiseba dan Leo Wandagau, buruh Freeport yang berunjuk rasa menuntut kesejahteraan, pada 10 Oktober 2011. Mereka tewas diterjang peluru. Jika sekarang buruh Freeport merasakan upah lebih dari cukup, maka dua nyawa itulah tumbalnya. Kendati hari ini, masih disaksikan PHK sepihak menimpa buruh Freeport.

Mimpi-mimpi itu dari Yulianus Pigai. Ia bersama warga Desa Oneibo, Deiyai, hendak meminjam mobil sebuah perusahaan, untuk mengantar salah satu warga yang nyaris tenggelam ke rumah sakit. Pihak perusahaan menolak membantu. Nyawa warga itu akhirnya tak tertolong, lantas mengundang kemarahan penduduk desa. Perusahaan memakai aparat sebagai perisai. Mereka yang protes diberondong peluru. Perut dan paha Pigai dirobek timah panas. Tubuhnya lempai ke tanah. Ia akhirnya meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.

Mimpi-mimpi itu dari Sabusek Kabak, Yenias Wanimbo, dan Demy Kepno. Ketiganya terbunuh pada kerusuhan 2 Juli 2014. Seorang polisi tewas ketika hendak mengamankan perjudian di Pasar Youtefa, Abepura. Tapi sorenya, saat penggerebekan para terduga pelaku, aksi "balas dendam" terjadi. Menyusul ditemukannya tiga jenazah orang Papua itu. Kabak hanyalah seorang mahasiswa yang terjebak saat kerusuhan terjadi.

Mimpi-mimpi itu dari Irwan Wenda. Ia ditembak polisi 8 Agustus 2013 di Wamena. Kaki kiri, perut, dan kepalanya ditembak dari jarak dua meter. Padahal Wenda yang menderita keterbelakangan mental, hanya memukul si polisi dengan batang tebu. Apakah berhak mengatakan Wenda tak memiliki mimpi karena dia gila, dan seenaknya menjabal nyawanya?

Mimpi-mimpi itu dari Yulinus Okoare dan Imanuel Mailmur. Keduanya terbunuh oleh senapan dua tentara di Mimika. Padahal kedua korban hanya ikut berpesta di rumah seorang warga asli Papua, yang menggelar syukuran karena berhasil meraih gelar doktor. Kedua tentara itu mabuk dan ingin membubarkan pesta. Sampai kerusuhan dan penembakan terjadi.

Mimpi-mimpi itu dari Emerikus Konakaimu, yang terkapar bersimbah darah pada 30 Oktober 2015 di Merauke. Pahanya ditembus peluru seorang polisi. Ia dan temannya dituduh mencuri motor. Polisi itu tidak tahu, kalau motor itu telah dikembalikan Emerikus dan temannya. Emerikus baru 19 tahun.

Mimpi-mimpi itu dari Mako Tabuni dan Hubertus Mabel. Tabuni adalah Wakil Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Pada 14 Juni 2012, polisi tak berseragam menembaknya. Ia dituding melakukan serangkaian penembakan terhadap warga non-Papua, termasuk salah seorang turis Jerman. Mabel pun dituduh serupa. Ia tewas pada 16 Desember 2012 di Jayawijaya. Tuduhan kepada mereka berdua tentu saja tidak pernah terbukti. Tidak ada penyelidikan imparsial atau independen terhadap dua kasus pembunuhan itu.

Ada banyak lagi deretan mimpi dari mereka yang melegenda seperti Arnold Ap, Theys Hiyo Eluay, dan Kelly Kwalik. Mereka yang nyawanya lingkap di tangan aparat. Setelah mereka ini, masih ada ratusan daftar kematian yang tak pernah diusut tuntas.

Atau para balita di Korowai dan Asmat yang baru mau mulai bermimpi, tapi akhirnya harus menyerah dilindas rasa lapar. Atau bocah-bocah berseragam lusuh yang merindukan guru. Atau impian mama-mama Papua yang setiap hari disengat matahari, saat berjualan di trotoar jalan. Atau mimpi suku-suku yang tanah adat mereka direbut korporasi.

Hampir setahun di Papua, saya merasa belum satu pun dari titipan mimpi-mimpi itu yang mampu saya wujudkan. Tapi saya percaya, ada banyak kawan-kawan sejalan pena dan sedarah juang di luar sana. Mereka yang bertafakur dengan mimpi orang-orang Papua. Mereka yang percaya ini akan menjadi mimpi besar yang menggetarkan.

Hingga kini separuh usia/ Pulang tak lagi menjadi mimpi/ Tak lagi menjadi mimpi...

Dengan lagu Merantau, saya merayakan kerisauan. Seandainya separuh usia saya lewati di Bumi Cenderawasih ini, benar sudah, pulang tak lagi menjadi mimpi. Sebab mimpi itu masih tertahan di sini.

Ketika kau pergi merantau ke negeri orang tanpa rakus dengan mimpi sendiri, mungkin itulah sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya... Merantau, Nak!





Catatan: Tulisan ini hasil interpretasi saya atas lagu Merantau dari Kapal Udara.

Monday, October 29, 2018

Terbang

Seorang kerabat mengantar saya ke Bandara Sam Ratulangi Manado, enam tahun silam. Ia menjelaskan langkah-langkah apa saja ketika berada di bandara.

"Nanti, setelah kau menunjukkan KTP dan tiket, masuk dan lewati pemeriksaan barang," kata Donni.

Selanjutnya ia menunjuk, tempat saya harus kembali menunjukkan KTP dan tiket, untuk mencetak boarding pass.

"Baru naik ke lantai dua, di sana tunggu panggilan sesuai nomor pesawat."

Saya berpamitan. Kemudian melambaikan tangan ketika memasuki ruang keberangkatan. Ia tampak masih mengawasi saya dari kejauhan. Memastikan apakah saya mendengar instruksinya. Setelah mencetak boarding pass, saya menoleh ke belakang dan masih menemukannya di sana.

Sampai di ruang tunggu, saya tak menemui kendala. Tak lama kemudian para penumpang dipanggil. Setelah memastikan itu nomor pesawatnya, saya mengekori orang-orang. Tiba di dalam pesawat, saya segera mencari kursi sesuai nomor, yang kebetulan tepat berada di samping jendela.

Sabuk pengaman saya pasang. Ponsel Blackberry saya matikan. Semua instruksi pramugari saya ikuti. Kemudian pesawat tinggal landas. Dada saya seperti ditekan sebongkah batu.

Saya bukan seorang high phobia atau takut ketinggian. Tapi sebelum saya terbang kali pertama itu menuju Makassar, saya hampir lima bulan hanya berdiam di kamar. Saya jatuh dari lantai dua gedung MCC Manado. Tulang pinggul dan paha saya retak. Dari kejadian itu, terbang perdana ini tentu membutuhkan keberanian.

Tapi, semua kecemasan itu sirna, ketika hamparan Kota Manado terlihat di bawah sana. Gedung-gedung, pepohonan, dan jalan-jalan mengecil. Gumpalan awan seperti perbukitan salju yang seolah-olah bisa dipijaki. Laut begitu biru dan menyatu dengan langit. Dari dalam, hanya deru pesawat terdengar. Tapi saya bisa merasakan ketenangan di luar sana.

Namun saya kembali cemas karena mengingat perkataan kerabat saya...

"Terbang dengan pesawat, seperti kita telah menyerahkan nyawa, dan kita pun diminta membayar."

Saya coba merenungkan kalimat itu. Ia benar, karena dari semua jenis kendaraan yang bisa membuat kita berpindah tempat, pesawat satu-satunya yang memiliki risiko paling tinggi. Kendaraan roda dua dan empat, atau kereta api, semuanya masih berpijak di daratan. Tapi pesawat, ia di udara. Satu-satunya tempat paling tidak aman, bagi makhluk yang tidak memiliki sayap seperti manusia. Mungkin itu pula kenapa ada ucapan: safe flight.

Baru-baru ini, Minggu, 28 Oktober 2018, saya terbang dari Makassar menuju Jayapura. Sebelumnya, siangnya saya sempat bercakap-cakap dengan kawan-kawan di Asrama Bogani. Kami membicarakan tentang: terbang.

Masing-masing dari kami menceritakan pengalaman ketika naik pesawat. Hampir semuanya sama. Perjalanan dari Manado ke Makassar atau sebaliknya, pasti pesawat akan melewati bagian udara Celebes yang tak bersahabat. Ada satu rute ketika melewati kawasan udara Sulawesi Barat dan Tengah, yang kerap membuat pesawat berguncang.

Konon, di lokasi itulah pesawat Adam Air DHI 574 hilang pada 1 Januari 2007 silam. Pesawat itu tinggal landas dari Bandara Juanda Surabaya, hendak menuju Bandara Sam Ratulangi Manado. Tapi pesawat itu putus kontak dengan pengatur lalu-lintas udara Bandara Hasanuddin Makassar. Baru setelah delapan bulan kemudian, pesawat itu diduga jatuh di Perairan Majene, Sulawesi Barat, berdasarkan penemuan kotak hitam di Perairan Majene pada 27 Agustus 2007.

Saya pernah mengalami penerbangan yang tak mulus itu ketika pulang menuju Manado dari Bali. Pesawat kami transit di Makassar. Setelah bertolak menuju Manado, tepat di rute yang sama itu, pesawat harus menembus awan tebal nan gelap. Pesawat berguncang hebat. Lampu di dalam pesawat dipadamkan dan jendela harus dibiarkan terbuka. Dari jendela yang buram oleh hujan, saya melihat petir berkali-kali. Beberapa penumpang merapal doa.

Hampir dua puluh menit jantung kami copot. Jantung berhasil kembali ke tempat semula setelah kami melihat sinar matahari. Tapi hanya belasan menit, kami kembali menemui cuaca buruk. Sekali lagi, doa-doa terdengar.

Pesawat akhirnya berhasil sampai di Manado. Meski di Manado pun pesawat itu harus mengitari langit kota beberapa kali, sebab bandara tertutup awan. Tapi pesawat akhirnya bisa mendarat dengan selamat. Ketika roda pesawat membentur daratan, dosa-dosa yang membayang selama di udara, sekejap sirna.

Di wilayah Papua, bagi yang sering menuju Timika pasti sering menemui cuaca buruk ketika akan mendarat. Saya dua kali hinggap di Bandara Mozes Kilangin Timika, dengan dada berdebar-debar. Tapi bagi kawan-kawan Papua, pengalaman seperti itu tak sebanding ketika naik pesawat perintis. Dan silakan memindai di internet, akan kita temui banyak kasus kecelakaan pesawat perintis di Papua.

Kemarin, satu lagi kasus kecelakaan pesawat. Kali ini menimpa maskapai penerbangan yang paling saya hindari. Lion Air memang maskapai yang memiliki rekam jejak penerbangan yang buruk. Baik dari keamanan dan pelayanan. Apalagi ketika buku-buku di dalam keril saya, pernah basah gara-gara maskapai ini.

Ketika berada di udara, saya pernah terbayang pesawat yang saya tumpangi jatuh ke samudra. Bayangan seperti itu tidak begitu saja hadir. Tapi ia berasal dari kecemasan. Meski saya coba membayangkan bahwa air bisa menyelamatkan. Dan ternyata tidak. Sebab ketika pesawat kehilangan kontrol kemudian jatuh ke lautan, maka tak ada bedanya lagi antara daratan dan lautan.

Turut berduka cita bagi para korban. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan.

Jalan pulang memang seringkali berbeda...

Sunday, October 28, 2018

Makassar


Enam tahun lalu, Makassar jadi kota terjauh pertama yang saya jejaki. Di kota ini saya merasakan atmosfer pengetahuan begitu berbeda. Di Pondok Patah Hati (PPH), ada banyak kawan-kawan baru asal Kotamobagu, yang tengah menempuh pendidikan di kota ini. Pada mereka saya banyak belajar. Yang teristimewa, blog Getah Semesta lahir di sana setelah dibidani beberapa kawan baik.

Setelah lama berlalu, kota ini beberapa kali menjadi tempat bertengger sementara, sebab ia adalah kota terbesar di Celebes yang menjadi titik transit pesawat. Tahun 2016, saya sekali transit di kota ini. Tahun 2017, saya diberi kesempatan untuk berkeliling kota ini untuk yang kedua kalinya. Kunjungan kali ini saya sial, karena sempat ketinggalan pesawat dan terpaksa kembali lagi untuk menginap semalam di PPH, yang telah bersalin tempat. Meski sial itu berujung pada pertemuan saya dengan penyair M. Aan Mansyur, yang memberikan saya buku puisinya Sebelum Sendiri, ketika berkunjung ke Kata Kerja.

Hanya berselang beberapa bulan masih di tahun 2017, saya kembali transit di Makassar hampir empat jam. Tapi saya hanya berdiam di bandara. Bayangan akan ketinggalan pesawat lagi, membikin saya tiada berani mengitari kotanya.

Akhirnya, tahun ini saya kembali berkunjung ke kota ini. Meski markas PPH tidak ada lagi, dan kawan-kawan telah tersebar di beberapa rumah kos, tapi pertemuan dengan mereka selalu berkesan. Ada beberapa yang telah melanjutkan pendidikan ke kota-kota besar di Jawa. Sebagian ada yang bertahan melanjutkan pendidikan di kota ini, dan sebagian lagi adalah generasi penerus PPH.

Tapi saya merasakan ada yang berubah. Tinggal sedikit yang tersisa dari generasi PPH. Mereka ini yang masih setia dengan buku-buku, dan kerap memancing diskusi ketika bertemu. Mereka selalu banyak tanya. Beruntung, masih ada Keluarga Pelajar Mahasiswa Indonesia Bolaang Mongondow (KPMIBM) cabang Makassar di Asrama Bogani, yang menjadi wadah mereka belajar bersama.

Di asrama ini, saya sempat bertukar pikiran dengan mereka soal jurnalistik. Film Di Balik Frekuensi, mereka takzimi hingga selesai. Terus terang, film itu berdurasi hampir dua jam, tapi beberapa dari mereka bertahan. Mereka inilah yang sadar, ilmu pengetahuan akan melayani orang-orang yang meluangkan waktu untuknya. Semangat itulah, yang pernah membuat PPH riuh.

Makassar berkembang cukup pesat. Di kota ini, buku-buku dengan mudah ditemukan. Ruang-ruang belajar tersebar di mana-mana. Jujut menjujut acara bergizi digelar. Tapi itu semua menjadi pilihan, sebab kota besar akan selalu menawarkan hal-hal berkebalikan.

Saya selalu bangga pernah berlama-lama di kota ini, enam tahun lalu. Kendati hanya hampir empat bulan. Tentu tiada sebanding dengan kawan-kawan lain yang bertahun-tahun. Tapi dalam waktu yang singkat itu, saya membuka seluas-luasnya pikiran, untuk bisa menerima apa saja yang akhirnya menuntun saya hingga menjadi seperti sekarang ini.

Di kota ini pula, saya kali pertama membaca syair Imam Ali bin Ali Thalib yang tak akan pernah saya lupakan...

Kau pikir dirimu adalah sebuah tubuh yang kecil/ Namun tidak/ di dalam dirimu ada segala semesta.

Imam Ali benar, manusia bukan hanya seonggok daging alit bernyawa. Manusia dikaruniai akal yang bisa menampung pengetahuan sebanyak mungkin di dalamnya.

Kalimat itulah yang mengilhami saya untuk menamai blog saya dengan: Getah Semesta. Di blog inilah saya terus belajar dan mengasah bagaimana cara menulis. Kemudian serius terjun ke dunia jurnalistik.

Pada akhirnya, menulis, bagi saya hanyalah sebuah kerinduan akan kenangan masa kanak-kanak. Kerinduan ketika setiap kali disuruh menulis karangan bebas oleh guru. Makassarlah yang telah membuka kembali tabung kenangan itu.

Jangan pernah lupakan masa kanak-kanak, karena di masa itulah kita tiada hentinya bertanya-tanya dan belajar.

Jangan pernah dewasa...