Getah Semesta

Sunday, February 3, 2019

Mari Torang Jaga Kebersihan Manado

No comments

Pixabay.com

Kumpul tu sampah, angka tu sampah, ondewei tampa sampah, kong buang di dalam...

Lagu Angka Tu Sampah (selanjutnya ditulis: ATS) sempat viral tahun lalu di Instagram. Ada Nyong Youtubers asal Manado, Renaldi Gilbert, yang kase top. Renaldi juga membuat versi video di kanal Youtube, lengkap dengan peragaan seiring lirik. Karena lagunya ala DJ Disko Tanah deng mirip lagu Anjing Kacili (yang ini paling viral), lagu ATS cepat akrab di telinga.

Warganet membuat video peragaan deng versi masing-masing. Saat di lirik kumpul tu sampah, mereka mengumpulkan sampah; masuk di lirik angka tu sampah, mereka memungutinya; di lirik ondewei tampa sampah, mereka menuju tempat atau tong sampah; lalu saat di lirik kong buang di dalam, mereka membuangnya ke tong.

Mar, karena memang Manado ini terkenal paling garap-garap (mengada-ada), di lirik terakhir kong buang di dalam, ada juga yang diperagakan dengan membuang sampah ke dalam celana. Akhirnya arti lagu ATS bergeser makna. Sampe judul lagu ATS saja berubah menjadi Buang di Dalam. Manado memang kota yang paling cepat kase keluar istilah.

Padahal, sebenarnya lagu ATS ini bagus sekali mo pake untuk mengampanyekan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Apalagi abege milenial so mulai terkonstruksi pola pikirnya dengan lagu ATS. Mar sayang, lagu itu akhirnya hanya menjadi bagian dari viral sesaat. Kemudian lagu Body Babadontot menindihnya sampe hilang di peredaran semesta viral.

Urusan sampah khususnya berbahan plastik di Manado memang nyandak gampang. Sapa yang nyandak kenal Taman Nasional Bunaken di Manado? Sekarang, Bunaken nyandak masuk 10 destinasi wisata unggulan di Indonesia karena kotor. Pasti samua orang nyandak mau saat menyelam ingin melihat keindahan taman laut, terumbu karang, deng ikan-ikan, kong tiba-tiba baku dapa deng pembalut, botol plastik, sampe popok.

Biar le Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara sering buat kegiatan bersih-bersih di Bunaken, tapi kalau tidak diiringi kampanye diet plastik, membuat aturan agar tidak membuang sampah di sungai dan laut, maka Manado tetap kotor. Sewaktu Hari Ulang Tahun ke-54 Provinsi Sulawesi Utara tahun 2018 lalu, saat lomba bersih-bersih di Bunaken, tuangala sampah yang takumpul sampe 1, 27 ton.

Jika kapan-kapan ngoni jalan-jalan ke Manado, coba batengo ka sungai atau tepi laut, tu sampah plastik sama deng da piara. Sebenarnya bukan hanya sektor pariwisata yang dirugikan, tapi warga kota juga. Banjir yang sering menerjang Kota Manado, tentu saja salah satu faktor penyebabnya karena tumpukan sampah di sungai-sungai atau di selokan.

Torang pasti nimau banjir terus menerjang Kota Manado. Seperti yang terparah 2014 lalu sampe belasan korban meninggal deng ribuan rumah rusak parah. Baru-baru ini banjir juga kembali membuat Kota Manado tergenang. Pesawat sampe bale, nyandak bisa mendarat karena landasan di Bandara Sam Ratulangi pol deng aer.

Dari data Badan SAR Nasional Kota Manado, sebanyak 2.523 orang terdampak banjir dan longsor, terhitung sejak Jumat, 1 Februari 2019. Kabar terakhir tiga korban meninggal, dua karena tertimbun longsor dan satunya lagi karena terseret arus. Turut berduka kepada keluarga yang ditinggalkan.

Manado bagi kita bukan hanya sebuah kota hiruk, yang keramaiannya dibangun di atas laut yang teruruk. Tapi kota ini banyak mengajarkan kita seperti apa arti pertemanan, solidaritas, deng kerja sama. Karena itu, mari torang jaga sama-sama kebersihan Kota Manado, dimulai dari hal yang paling sederhana: buang ngana pe sampah pa de pe tampa, (buanglah sampahmu pada tempatnya).

Lebe bagus le tambah deng diet plastik. Sampah plastik ini memang bekeng saki kapala. Ngana yang masih baingus kong makang permen saja, kong buang sembarangan pembungkusnya, kalau diandaikan dari ngana so mulai basar kong batunangan sampe kaweng, beranak-pinak, jadi opa-opa deng oma-oma, meninggal, dikubur, jadi tulang belulang, itu sampah plastik dari bungkus permen yang ngana buang tetap utuh, sementara ngana so jadi fosil.

Ada begitu banyak tips untuk berdiet plastik, kalau torang pindai di internet. Kebetulan sekarang di Manado ada banyak turis asal Tiongkok kang? Maka kita meminjam perkataan filsuf dari Tiongkok, Lao Tzu, “Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah.”

Mulai jo dari skarang!

Friday, January 25, 2019

Untuk Yang Ingin Menulis

No comments
Pixabay.com

"Bagaimana cara menulis yang bagus?" Isi sebuah pesan.

"Jadilah seperti anak-anak," balas saya.

Jika ada yang bertanya kepada saya tentang menulis, saya selalu menjawab begitu: jadilah seperti anak-anak. Apakah tulisan anak-anak bagus? Tidak. Tapi imajinasi mereka dahsyat.

Saya mulai menulis baru pada 2012 lalu. Itu pun didesak teman. Saya disuruh membuat blog, lalu saya menuruti. Tulisan pertama saya, hanya saya kirim ke dua teman. Refleksi saya tentang sebuah buku kumpulan cerpen. Komentar mereka menjadi suluh.

Tahun berikutnya saya menetap di Bali. Di sana, saya semakin produktif menulis. Ketika mengunjungi satu tempat, saya selalu coba menulis tentangnya. Bahkan saat hanya duduk di beranda, lalu melihat bunga kemboja jatuh, saya pasti menulis. Selama setahun di Bali, blog saya penuh dengan tulisan. Saat itu saya tak peduli dengan ejaan dan kata-kata baku. Saya menulis kata demi kata berdasarkan yang saya baca di buku. Pokoknya, tulis, tulis, dan tulis.

Saya jadi ingat sewaktu sekolah dasar. Ketika disuruh mengarang oleh guru. Temanya tentang liburan ke desa di rumah nenek, sesuai dengan contoh buku pelajaran Bahasa Indonesia. Tapi karena saya juga tinggal di desa dan serumah dengan nenek, saya heran lantas bertanya kepada guru, "Saya tinggal serumah dengan nenek. Jadi pasti saya tidak liburan ke rumah nenek." Pertanyaan saya ini, disepakati teman-teman. Kelas jadi riuh dengan pertanyaan yang sama.

"Bayangkan saja," kata guru.

Semakin ke sini, saya merasa guru itu berjasa karena jawabannya. Kita memang tak harus sering menyalahkan metode belajar di sekolah. Contohnya dari tugas mengarang itu. Akhirnya, kita diajari untuk berimajinasi, lewat isi buku pelajaran yang tak sesuai dengan lingkungan sekitar kita, memfantasikannya, lantas menuliskannya. Inilah yang kemudian kita temui dalam buku-buku bacaan sekarang. Kita semua berfantasi dengan isi buku yang ditulis dari pikiran seseorang.

Sekarang, jika saya kembali membaca tulisan-tulisan di blog, saya sering tersipu. Bahkan tertawa. Atau kagum. Iya, ada banyak sekali kalimat yang membuat saya malu ketika membacanya. Ada pula tulisan hancur yang membuat saya menertawakan diri sendiri. Dan ada sebagian kalimat yang membuat saya bertanya-tanya: kenapa saya bisa terpikirkan itu? Inilah sebuah proses.

Jika ada yang membaca tulisanmu, jangan marah ketika mereka mencemoohnya. Sebab mereka telah meluangkan waktu untuk membaca tulisanmu. Kalau mereka mengkritik, terimalah. Jadikan poin-poin kritikan mereka sebagai pelajaran gratis. Bagian paling berbahaya sebenarnya saat kau mulai membaca pujian.

Cara mengetahui seperti apa orang-orang menghargai karya kita, perbanyaklah mengirim tulisan ke media-media yang menyediakan ruang bagi para penulis. Jangan pikirkan honor tulisannya. Jangan pikirkan ditayangkan atau tidak. Tapi pikirkan, bahwa kau telah berpikir lalu menulis.

Naskah saya banyak yang ditolak. Kendati tak sedikit pula yang tayang. Senang pastinya ketika bisa dibaca banyak orang. Kalau naskah tidak tayang, setidaknya blog pribadimu selalu menyediakan ruang. Itulah manfaat blog. Sebab ada beberapa naskah yang tidak tayang, tapi masih dibaca ketika kita mengunggahnya di blog. Jangan pedulikan angka pembaca. Satu pembaca saja, sudah lebih dari cukup.

Bagusnya, ketika naskah ditayangkan, kita sering menemukan pengetahuan baru dari hasil editan. Apa saja kekurangannya. Apa saja yang ditambal, dijahit, dibetulkan, dan diubah. Tugas editor memang tak mudah. Sebab seorang editor selalu coba beradaptasi dengan seorang penulis. Bayangkan ketika ia mengedit sepuluh naskah dari penulis berbeda? Ia harus membelah diri menjadi sepuluh. Karena tidak mungkin ia memakai langgamnya sendiri, ketika mengedit naskah. Ia harus tetap mempertahankan ciri khas masing-masing penulis naskah.

Selalu ingat, apa imajinasimu. Sebuah ide. Itulah yang paling penting. Lalu menulislah. Jika masih belum berani, ingatlah ketika kita masih kanak-kanak. Kita tak pernah merasa malu untuk memulai.

Thursday, January 24, 2019

Cap Tikus Legal, Ngana Tambah Nakal?

No comments

Sumber foto APINDO
"Ngana bawa Cap Tikus?" Kita pe saudara kage. Wajar saja, karena dia staf di maskapai penerbangan yang mo kase terbang kita dari Manado ke Jayapura.

Kita lantas cerita kalau sebotol Cap Tikus (selanjutnya ditulis cete) itu oleh-oleh. Kita isi di tumbler baru tutup rapat-rapat. Setelah dibujuk, dia akhirnya izinkan kita bawa itu cete. Karena jabatannya lumayan, dia bahkan pindahkan kita dari kelas ekonomi ke bisnis. Kursi nomor satu! Seumur terbang, baru kali ini kita nae kelas bisnis. Bawa cete!

Sebelum penerbangan itu, sebenarnya kita lagi sial atau orang Manado bilang: soe. Malam sebelumnya kita memang so minta tamang-tamang di Manado, sediakan cete bakar manyala. Karena tamang-tamang di Papua pesan itu cete, yang sebenarnya dorang cuma baku sedu tapi kita pukul srius. Karena kita pe tamang beli ada beberapa botol, torang tes-tes samua. Laste kita mabo. Padahal pagi-pagi jam enam kita pe jadwal penerbangan. Meski sempat sampe di Bandara Sam Ratulangi, kita pe usaha sia-sia. Kita dong nyandak kasih izin masuk pesawat karena mabo.

Kita pe perjalanan itu, awal 2018 lalu. Kali kedua mo berkunjung ke Papua. Karena gagal di penerbangan pertama, akhirnya kita cari tiket dengan maskapai penerbangan yang berbeda. Beruntung kita pe saudara itu bekerja di salah satu maskapai penerbangan. Sampai akhirnya cete itu lolos. Sebenarnya, boleh bawa cete di penerbangan tapi hanya sebotol. Banyak kita pe saudara kwa sering lolos bawa sampe ke Bali.

Di Papua, minuman beralkohol (selanjutnya ditulis minol ala Papua) memang mahal. Apalagi cete. Boleh sampe ratusan ribu per botol. Tuangala, biasa kitorang mabo cete di Kotamobagu cuma modal lima puluh ribu, itu pun so deng satu bungkus rokok tambah campuran. Mar di Papua? Jang harap! Sedang dua ratus ribu blum mabo itu. Tapi sebenarnya, di Papua memang setahu kita banyak peraturan daerah yang larang minol. Rokok saja jarang sekali kita baku dapa dengan tamang Papua yang perokok. Dong pilih pinang sudah.

Sebenarnya ada beberapa daerah di Papua yang punya minol lokal namanya bobo. Kalau cete dari pohon aren atau nama lokalnya pohong seho, maka bobo ini juga dari pohon aren atau kelapa. Orang-orang Papua selain biasa sebut bobo, dong kasih nama juga sagero. Hampir mirip dengan orang Minahasa biasa sebut saguer.

Sagero dengan saguer ini sama saja. Hampir mirip susu. Karena saguer dibuat dari air nira segar atau mentah berasal dari pohon aren, kemudian dicampur air nira yang so lama, atau so difermentasi. Proses pembuatan itu yang biasa orang Minahasa sebut batifar. Rasa saguer manis tapi kalau diminum berlebihan, bisa memabukkan. Kalau air nira disuling lebih lama, maka kadar alkoholnya naik. Jadilah dia Cap Tikus. Kita yang penyembah air ini, sepakat ketika dong bilang cete adalah air kata-kata. Orang mabo kan jadi cerewet.

Tapi di Minahasa, dong paling terbiasa dengan cete. Meski tak melulu penolakan minol itu karena motif agama. Di Minahasa, ada banyak daerah yang berada di ketinggian, lalu mereka minum cete untuk menghangatkan tubuh. Mar memang banyak juga yang minum cete karena ingin mabuk-mabukkan. Apa pun itu, jika dikonsumsi berlebih, jelas tubuh akan bereaksi.

Menyoal minol di Papua, memang ada berbagai macam alasan penolakan. Kita pernah baca statusnya Dandhy Dwi Laksono soal itu. Dandhy mengutip pernyataan mantan tahanan politik di Papua, Filep Karma, yang bilang dia so stop minum bir. Tepatnya sejak 1998, ketika segar-segarnya reformasi. Alasan Karma, Amerika menindas warga Indian dengan alkohol. Begitu juga dengan Australia terhadap warga Aborigin. Jadi Karma tidak ingin hal yang sama terjadi di Papua.

Dandhy juga coba menceritakan pengalamannya di Merauke, soal kekhawatiran tokoh-tokoh gereja akan dampak minol. Bukan terkait dosa dan pahala ne, tapi dampaknya terhadap penguasaan tanah. Itu karena masyarakat yang sering mabuk, kehabisan uang, akhirnya jual-jual dong pu tanah.

Berbeda memang dengan di Manado. Ngana mabo nyandak mahal-mahal. Jadi jarang ada pamabo yang sampe jual-jual tanah. Paling yang tidor-tidor tapalaka di got atau leput itu yang banyak. Kita pernah baca status tamang Papua mengenai minol. Tamang ini bilang, "Ah, sa pernah juga lama tinggal di Manado dan terbiasa minum cete, tapi tra banya tingkah. Atau bawa motor laju-laju. Itu memang kitong pu diri sandiri saja yang kontrol."

Menurut kita, benar sudah kata tamang itu. Semua berangkat dari kontrol diri masing-masing. Karena di Manado saja, nyandak samua kuat minum. Kitorang yang dara cicak (cepat mabuk) juga banyak. Tapi ya, semua orang juga kalau sudah minum banyak, pasti hilang kesadaran. Akhirnya tidor di got, bawa motor laju-laju baru cilaka, sambar pal ato tiang listrik, bakuku, deng bakacau. Intinya, kontrol-kontrol diri saja.

Di Kepulauan Pasifik, ada juga minuman lokal bernama kava. Kita pe tamang Papua, yang pernah rasa itu barang bilang, kava termasuk minuman beralkohol sebenarnya. Meski kava lebih condong ke herbal, karena dari akar tumbuh-tumbuhan bernama latin Piper metysticum. Beberapa suku di Kepulauan Pasifik, kerap menelan sari dari akar kava yang dong kunyah, untuk tidur lebih cepat. Bahkan kava bisa menjadi alat pertukaran untuk ritual adat antara dua suku, selain babi hutan. Dong sampe ekspor ke luar negeri itu barang. Di New York, bahkan ada namanya kavatail, campuran antara kava dan cocktail. Banyak testimoni yang mengutarakan, kavatail bisa menjadi alternatif bagi mereka yang alkoholik. Dong bilang, orang yang minum kavatail masih bisa menulis, hilang stres, dan ketika bangun tidur tubuh terasa segar. Dulu di hutan Papua apalagi di Merauke, kava banyak tumbuh. Entah sekarang masih ada atau nyandak.

Di Manado ngoni pasti tahu pernah rame tagline yang diluncurkan kepolisian deng pemerintah. Tagline itu berbunyi: brenti jo bagate (berhenti miras). Para petani cete, banyak dibekuk karena pelarangan itu. Kita sering temui berita soal penggerebekan sabua-sabua di kobong tampa para petani batifar cete. Kasiang juga. Tapi, kabar yang merayap dari media sosial akhir Desember 2018 lalu, bekeng kita bangka dada. Kabarnya, cete mulai dilegalkan di Sulawesi Utara, tapi berawal atau khususnya di Kabupaten Minahasa Selatan. Kabupaten yang dipimpin seorang bupati perempuan, Christiany Eugenia Paruntu atau akrab dipanggil Tetty Paruntu. Ia penggagas agar cete bisa diproduksi dan dipasarkan legal.

Tetty memberi cete itu merek dagang: Cap Tikus 1978. So dipatenkan. Kendati menurutnya, berbagai kendala ia alami ketika Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan (Pemkab Minsel), hendak meluncurkan produk itu. Cap Tikus 1978 berkadar alkohol 45 persen. Jika diibaratkan, kalau ngana minum ini cete baru ngana muntah, nanti ngana pe muntah saja dipancing-pancing korek api, pasti tabakar manyala biru-biru. Kalah-kalah Tequila.

Melalui lobi ke pengusaha dan perjuangan izin ke Badan Pengawas Obat dan Makanan, akhirnya legalnya cete bakar manyala jadi kado akhir tahun yang begitu benderang kemarin. Dari informasi sejumlah media di Manado, nantinya Pemkab Minsel akan menfasilitasi PT. Cawan Mas untuk membangun pabriknya di Desa Kapitu, Kecamatan Amurang Barat. Rencananya luas pabrik itu sekitar lima hektare. Harapan Tetty, petani cete bisa sejahtera dan produknya bisa menjalar sampai ke luar negeri. Tentunya ini harus terus dipantau oleh media, jang sampe akhirnya penguasa deng pengusaha yang paling banya makang untung dibandingkan para petani.

Soal harga, awal 2018 sewaktu kita masih di Kotamobagu, harga cete kualitas bagus Rp 30 ribu per botol. Itu ukuran botol kemasan air mineral 600 mililiter. Tentu lebih banyak isinya dari botol Cap Tikus 1978 yang hanya 320 mililiter. Harga Cap Tikus 1978 per botol Rp 80 ribu, tersedia di Bandara Sam Ratulangi Manado. Harga itu so pas dengan kemasannya yang elok. Botolnya gelap, lalu diberi satu pegangan mungil yang serupa daun telinga tepat di samping leher botol. Ada pita bergambar wajah Tetty Paruntu terkalung. Dan tentu saja, ada gambar seekor tikus menyamping atau batengo sei.

Mengenai sejarah kenapa cete identik dengan tikus, dulu kita pernah baca soal itu. Nama cete sebelumnya adalah sopi. Karena di pohon aren terdapat banyak tikus, akhirnya mereka mengubah nama minuman itu menjadi Cap Tikus. Versi lainnya, medio 1900-an tentara Belanda yang kehabisan stok miras, katanya mendapat cete dari para pedagang Cina-Manado yang menjualnya dalam botol bergambar tikus. Kemudian mereka menamakan minuman itu Cap Tikus. Tapi seperti apa pun asal usul yang pasti soal penamaan itu, jelas minuman ini nyandak campur deng tikus. Biasanya, cete ini ada juga yang direndam pakai akar-akaran. Malah kita pernah lihat ada yang rendam janin rusa, sampe kontol buaya di dalam botol. Katanya, itu untuk kejantanan pria kalau sedang baku nae.

Seorang tamang yang jauh lebih dulu menikmati cete pernah memberi petuah ke kitorang: Eh, ngoni kalo minum (alkohol) cukup jadi peminum, jang jadi pamabo. Kita kemudian coba memahami perkataannya. Benar sudah, ketika kita telah sibuk dengan pekerjaan, maka waktu untuk miras, biasanya hanya ketika weekend tiba. Miras dikonsumsi situasional saja. Karena jika kita miras setiap hari ditambah kerja, itu baru namanya: pamabo. Laste, kerja terbengkalai.

Tapi, setiap orang berhak memilih caranya menghidupi hidup to? Yang jelas, cete legal nyandak bekeng ngana tambah nakal. Deng kitorang akhirnya so boleh bawa-bawa for oleh-oleh. Jadi, angka jo ngana pe glas kase tinggi-tinggi! Sampe pesawat kase tinggal pa ngana.



Artikel ini sebelumnya dimuat di locita.co

Wednesday, January 23, 2019

Isyarat atau Berkat?

No comments
Pixabay.com

Akhir tahun 2018, sebuah pesan menyelinap di akun media sosial saya. Pengirimnya adalah orang yang tidak pernah saya duga-duga. Karena sudah bertahun-tahun sejak ia berkeluarga, saya tidak pernah berinteraksi dengannya di media sosial. Kecuali bertegur sapa di desa.

Namanya Cici. Ia mantan pacar saya ketika kami masih muda. Ia berandil besar mengubah nama panggilan saya, dari Yanto menjadi Ya'. Nama panggilan sayang-sayangnya itu menempel kepada saya sampai sekarang. Hampir semua kawan memanggil saya: Ya'. Di Desa Passi, nama Yanto cukup banyak. Makanya di belakang nama selalu diikuti tanda pengenal lain, misal: Yanto Panjang yang sekarang adalah Kepala Desa Passi, Yanto Ape', Yanto Waseng, Yanto Sudar, dan masih banyak Yanto lainnya.

Pesan berawal dari basa-basi. Anehnya, ketika pesannya itu masuk, sebuah pesan lain di nomor ponsel saya ikut masuk. Hanya berbeda sepersekian detik. Yang mengirim pesan adalah tetangga saya. Kebetulan, namanya juga Cici atau Mama Kiran. Pesan dari Mama Kiran mengatakan ibu saya menanyakan kabar. Meminta saya menghubunginya.

Saya lanjut membaca pesan di media sosial dari Cici. Setelah basa-basi, ia masuk ke teka-teki mimpi. Saya sebut demikian, karena ia meminta maaf jika ada kesalahan. Saya heran dan terus mengejar kata-katanya. Ia enggan menceritakan isi mimpinya. Setelah dibujuk berkali-kali, akhirnya ia menceritakan mimpinya.

"Ngana di mimpi pa kita, macam nae oto bagitu baru pigi. (kamu di mimpi saya, seperti naik mobil lalu pergi)," kisahnya.

Ia sempat bertanya-tanya kepada orang yang lebih tua mengenai arti mimpi itu. Menurut tafsiran mereka, itu pertanda saya akan meninggal. Setelah ia bercerita, saya mengirim emoji tertawa meski hati saya gusar. Saya coba tenang dengan menafsirkan mimpi secara terbalik, seperti kebanyakan orangtua menghibur kami dulu: kalau mimpi meninggal maka berkatnya umur panjang.

Beberapa hari setelah ia mengirim pesan itu, dada saya sakit. Seperti ada bongkahan batu diletakkan di atasnya. Karena ingat mimpinya Cici, saya memberanikan diri ke dokter. Dari hasil pemeriksaan, saya menderita angina pektoris. Namanya keren, tapi sakit. Orang-orang biasa menyebutnya: angin duduk.

Saya diberi resep obat oleh dokter dan diminta beristirahat, mengatur pola tidur dan makan, rajin berolahraga, serta berhenti merokok. Ia juga meminta saya rutin berkonsultasi. Semua larangan dan saran itu sempat saya turuti, meski hanya sebulan. Melarang saya menyantap makanan berlemak tinggi, saya jadi ingat Rumah Makan Padang langganan. Apalagi merokok. Sehabis makan, kalau tidak merokok seperti disambar truk dari belakang. Ditambah berolahraga pagi dan sore. Waktu terbaik untuk pulas.

Waktu berjalan, kemudian hari-hari kembali seperti biasa. Meski sesekali saya masih merasa nyeri dada. Saya khawatir saja, jika sedang berada di kamar kos, lalu terjadi apa-apa. Meski tentunya mayat saya tak akan ditemukan membusuk, karena kawan-kawan sekantor pasti akan datang mengecek saya. Seharian saya tidak ada kabar soal pekerjaan, mereka akan curiga telah terjadi sesuatu.

Kemudian kemarin malam, sebuah pesan di media sosial berbeda masuk. Ini dari mantan juga. Tapi mantan istri. Mamanya Sigi. Isi pesannya terkait mimpi buruk.

"Ngana meninggal baru karna kita ndak percaya, kita ndak pigi melayat. Ndak brani le baku dapa deng Baai. (Kamu meninggal kemudian karena saya tidak percaya, saya tidak pergi melayat. Tidak berani juga menemui ibumu)."

Setelah membaca itu, saya bercanda. Saya bilang menjadi wartawan di Papua memang berisiko. Paling-paling diculik lalu digelitik. Dia khawatir dan menyuruh saya kembali ke desa. Saya kemudian menenangkannya. Lalu menceritakan soal angina kemarin. Ia lantas menyarankan saya berolahraga. Saya seketika ingat dokter.

Setelah berbalas pesan dengannya, saya beranjak dari kamar menuju toilet. Saat keluar dari pintu kamar, seekor kupu-kupu hitam hinggap di kepala saya. Isyarat apa lagi ini. Setelah dari toilet, saya iseng memindai di internet, mengenai tafsir mimpi dan kejadian seperti dihinggapi kupu-kupu hitam. Saya sedikit lega, karena di sana tertulis: jika dihinggapi kupu-kupu hitam di kepala, pertanda akan mendapat rezeki.

Isyarat dari mimpi atau alam memang misterius. Dan terkadang, saya percaya...

Sunday, January 20, 2019

Ibu

No comments

garis rambut galuh
berpijar sekali waktu
dari lelehan peluh
tak kudengar gerutu

Saturday, January 19, 2019

Usia

No comments

rupa warna di wajahmu
entah redup atau cerlang
biar aku berterus terang
mataku sudi tiada jemu

Thursday, January 17, 2019

Handai

No comments

langit laut karib 
tak bertangkap peluk
berbagi nasib
tak bertukar kutuk