Getah Semesta

Tuesday, March 10, 2020

Bencana

No comments

Sesudah bencana, sebaiknya wartawan menghindari dulu mewawancarai keluarga korban yang meninggal. Apalagi bencananya baru kemarin, liputan soal kesedihan keluarga korban ditayangkan hari ini. Bayangkan perasaan keluarga korban ketika wartawan menggali-gali ingatan itu?

Saya jadi ingat ketika meliput bencana banjir bandang di Sentani tahun lalu. Korban jiwa ratusan dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal. Setelah hampir seminggu berada di Sentani, saya dan seorang kawan tidak sengaja bertemu seorang bapak, ketika menyusuri Kali Kemiri. Ini lokasi terparah. Bapak ini kebetulan berteman dengan kawan saya. Ia hendak melihat rumahnya yang telah hancur. Dan dia berkenan diwawancarai.

Saat bertanya tentang seekor anjing yang sering membuntutinya, saya sudah memikirkan angle liputan saya, tentang bagaimana ia dipertemukan kembali dengan anjing peliharaannya itu, yang terpisah selama beberapa hari. Tapi secara tidak sengaja lagi, pembicaraan kami yang mengalir begitu saja, bermuara pada kisah satu putri dan satu putranya yang terseret banjir. Putrinya meninggal. Putranya belum ditemukan kala itu. Meski angle dalam tulisan itu terhubung ke anjing miliknya, anjing pelacak, dan bangkai anjing yang ditemukan tim SAR, kisah tentang anak-anaknya juga terselip di sana.

Sejak ditayangkan, ada yang menelepon ke kantor menanyakan alamat bapak itu. Katanya mereka ingin memberi bantuan kepadanya. Namun selain memberikan bantuan, ternyata beberapa wartawan lain kembali mewawancarainya. Menggali-gali kembali lukanya. Saya jadi merasa bersalah.

Alangkah baiknya, jurnalis fokus kepada korban-korban yang membutuhkan bantuan, mencari tahu penyebab bencana, apakah lokasi atau kampung-kampung yang terdampak bencana punya sistem peringatan dini berbasis masyarakat, misal: memukul kentongan, meniup cangkang keong, dan lain sebagainya. Ini baik untuk mengedukasi masyarakat agar tanggap bencana di lain waktu.

Semoga kawan-kawan di Bolaang Mongondow dan Bolaang Mongondow Utara yang terdampak banjir bandang, bisa melewati dampak bencana ini dengan hati yang kuat.

Lekang

No comments
cinta berapi-api
lekas hilang
tak menua apalagi
bersanding liang

Saturday, January 18, 2020

Rahasia

No comments
paling rahasia
dari manusia
bukan diam
tapi binar mata
terpatah-patah
lalu padam

Wednesday, January 15, 2020

Gie

No comments
Aku tak pernah bersetuju dengan Soe Hok Gie ketika selarik puisinya berkata, "Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta."

Gie, ketika kau mencintai seseorang, apa yang ia rasakan akan berbeda dengan caramu mencintainya. Adalah sebuah kekhilafan jika kau menjadikannya: sama. Sebab perasaan, ialah kabut-kabut yang bertudung di bukit-bukit yang berbeda.

Wednesday, January 1, 2020

Las Vegas di Tanah Melayu

No comments
Perjalanan udara saya dari Jayapura - Jakarta - Kuala Lumpur - Bangkok - Singapura, lanjut berkendara bus menuju Melaka dan kembali ke Kuala Lumpur cukup melelahkan. Saya sempat demam ketika berada di Bangkok.

Ann yang sudah berkali-kali mengunjungi beberapa negara di Asia hanya menertawai saya, sambil berceletuk, "Bagaimana kalau keliling Eropa ya?"

Saya membalasnya, "Eropassi?"

Eropassi adalah penamaan kami untuk tanah lahir: Desa Passi. Karena cuacanya yang mirip Eropa. Kadang-kadang di desa kami bisa turun salju.

Saat kembali ke Kuala Lumpur dari Melaka, kami diajak mengunjungi Genting Highlands (selanjutnya ditulis: GH). Tempat ini adalah surga bagi para penjudi di Asia, kerap disebut pula sebagai Las Vegas di Tanah Melayu.

Saya mendengar saksama ketika Mel--guide kedua kami di Kuala Lumpur setelah Anwar--menjelaskan tentang GH. Mel adalah guide perempuan paling favorit. Ia humoris. Meski ia bertutur dengan bahasa Melayu, kami paham dan tertawa dengan leluconnya. Anwar sebenarnya juga ada sedikit lucu-lucunya yang malah tak disadarinya. Seperti ketika dia mengatakan kepada kami silakan beristirahat di bus selama perjalanan, nanti sampai tujuan akan dia kejutkan (bangunkan).

Dituturkan Mel, GH sebenarnya adalah proyek yang hampir tak mungkin. Bagaimana mungkin bisa membangun sebuah tempat yang bakal dikunjungi banyak orang, apalagi berada di pucuk-pucuk Pegunungan Titiwangsa.

Lokasi GH bisa ditempuh sejam lebih dari Kuala Lumpur. Tempat ini berada di perbatasan negara bagian Pahang dan Selangor. Saat kami menuju ke sana, hari sudah sore. Jadi, kata Mel, kabut sudah mulai meliputi pegunungan. Jika ingin melihat pemandangan dari puncak, memang sebaiknya berangkat pagi.

Saat bus mulai berkelok-kelok menanjak, Mel menunjuk hutan lebat yang sudah berusia ratusan tahun dan dilarang dirusak. Katanya, masih ada suku asli yang berdiam di sana, namanya suku Semang. Suku ini juga suka menghindar jika ada orang lain.

Menarik ketika Mel berkisah tentang Lim Goh Tong, pengusaha kaya raya dari Fujian, China, yang membangun GH pada awal 1960-an. Lim Goh Tong bertemu dengan Sultan Pahang kala itu, lalu menyampaikan niatnya untuk membeli lokasi itu. Sultah Pahang hanya tertawa dan bertanya-tanya apa yang bisa dibuat di atas gunung. Lalu sultan menjual lokasi itu kepada Lim Goh Tong.

Lim Goh Tong sempat berkongsi dengan dua menteri Malaysia. Namun saat proyek dimulai, berjatuhan korban tewas dari para pekerja, yang membuat dua menteri itu menarik modalnya. Lim Goh Tong tetap melanjutkan proyek itu. Usahanya berhasil. Ia menyulap lokasi yang berada di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut itu, menjadi Skytropolis. Sebuah pusat hiburan dan perbelanjaan yang ramai dikunjungi orang. 

Ada dua rute yang bisa ditempuh menuju ke GH. Darat dan udara. Kereta gantung atau Genting Skyway yang dinaiki menuju GH, saat ini merupakan yang tercepat di dunia dan terpanjang di Asia Tenggara.

Tak puas, Lim Goh Tong kembali memohon kepada Sultan Pahang agar bisa membangun kasino. Permintaannya ditolak. Judi dilarang. Tak kehabisan akal, ia membujuk sultan bahwa dijaminnya tak ada satu pun orang Malaysia bisa masuk ke kasino itu, hanya khusus untuk tamu-tamu dari luar Malaysia. Ia sekali lagi berhasil. Tempat itu menjadi Las Vegas-nya Malaysia. Kasino dioperasikan oleh Resorts World Bhd, anak perusahaan Genting Group atau Genting Bhd. 

Tak hanya itu, dijelaskan Mel, di GH dibangun pula sejumlah hotel di antaranya Hotel Genting, Hotel Highlands, Hotel Resort, Hotel Theme Park, Awana Genting, dan Hotel First World. Hotel yang terakhir disebut ini memiliki 6.118 kamar dan menjadi hotel kedua terbesar di dunia saat ini. Fasilitas lainnya ada theme park, lapangan golf, mal, simulator sky diving, hall konser dan masih banyak lagi.

Ratusan orang mengantre untuk naik kereta gantung menuju ke GH. Jika tiket premium, bisa lurus-lurus saja. Kami sepertinya hampir sejam berjalan mengular seperti game Snake di ponsel Nokia 3310.

Saat sampai di kereta gantung, kami bergegas masuk karena 'karpet terbang' ini hanya berhenti sekitar lima detik, lalu perlahan-lahan bergerak lagi. Tak ada yang bisa kami saksikan saat perjalanan itu. Hanya kabut dan gerimis. Sesekali ada lampu berkedip di tengah kabut pertanda kereta gantung berlawanan arah mendekat. Meski hanya kabut semata, saya menikmatinya. Seperti sedang melakukan perjalanan ke negeri dongeng.

Pada perhentian pertama kami diinstruksikan tidak turun. Di sana ada Kuil Chin Swee dan Masjid Yayasan Mohammad Noah. Jika ingin beribadah bisa turun. Kalau cerah, biasanya lokasi ini bisa disinggahi untuk berfoto-foto. 

Semenit, kereta gantung kembali bergerak. Hanya sekejap, kami sudah di perhentian kedua sekaligus yang terakhir. Saya hanya bisa terkesima. Lim Goh Tong memang gila.

Wahana indoor yang semarak lampu berwarna-warni bertebaran. Langit-langit gedung dipenuhi efek pencahayaan yang mempesona. Seolah-olah gedung itu tak bertembok karena dipenuhi layar LED raksasa beragam rupa. Beberapa di antaranya bertema Natal dan Tahun Baru. Kabarnya, wahana outdoor juga sedang dirancang versi terkini.

Jika ingin ke kasino, harus naik lift lagi. Kasino Genting Highlands menjadi World's Leading Casino Resort in Nov 2005  oleh World Travel Awards. Di pusat perbelanjaannya yang beratap langit, berbagai macam brand fashion ternama berjajar. Namun harganya lebih miring. Karena itu banyak yang datang berbelanja di sini. Orang-orang lalu-lalang di tengah kabut tipis yang turun.

Mel mengatakan Lim Goh Tong berpulang 23 Oktober 2007 pada usia 89. Makam pengusaha yang mengawali kesuksesannya dari tukang kayu itu, berada di kaki bukit yang bisa dilewati saat memasuki area GH. Sampai sekarang hartanya masih diperebutkan anak-anaknya. 

"Jadi orang susah pelik, jadi orang kaya pun pelik," kata Mel yang disusul tawa menebal di dalam bus.

Tuesday, December 24, 2019

Malique

No comments
Masa putih abu-abu kami dibuai oleh berbagai genre musik medio 2000-an. Salah satunya Too Phat, duo MC dari Negeri Jiran, Malique dan Joe Flizzow. Karir bermusik Too Phat melambung sekitar 1998 sampai 2007. Kemudian bubar.

Sewaktu berkeliling Genting Highlands, saat sedang kebelet merokok, saya berjumpa orang Malaysia yang ternyata penggemar Too Phat. 

Saya iseng bertanya meski sudah menerka jawabannya, "Malique sekarang tinggal di kota mana?"

Ia menjawab tidak tahu.

Malique memang memilih mengasingkan diri setelah Too Phat bubar, tapi ia tak berhenti berkarya. Setiap kali lagunya dirilis, selalu langganan meraih award di blantika musik Malaysia. Joe, yang juga bersolo karir, lagunya sering bersikut-sikutan dengan lagu Malique di tangga lagu, atau dari jumlah viewers Youtube. Tapi Joe memang bukan kelasnya Malique soal bikin lirik. Malique punya lirik dan rima yang apik. Tentu saja, dengan irama Melayu yang kental.

Seperti liriknya di lagu Mantera Beradu: "lu bikin dosa ku bikin prosa" atau "ijazah terbaik datangnya dari pengalaman".

"Joe orangnya high. Malique low profile," kata kawan Malaysia itu.

Berkali-kali Joe satire dalam lirik lagunya. Memancing agar Malique keluar dari persembunyiannya. Sejak menikah di Bali dengan Melissa Maureen Rizal--pemeran film Hoopers--pada 2008 silam dan memiliki tiga cahaya hati, Malique memang memilih menjauh dari media. 

Bahkan ketika lagu-lagunya meraih Music Industry Awards, ia tak pernah hadir. Selalu diwakilkan. Video klip lagu-lagunya pun tak pernah menampilkan wajahnya tapi memakai model. Hanya suaranya. Malique benar-benar menjadi misterius. Malique hanya muncul sekali di video klip Cerita Kedai Kopi versi satunya lagi.

November kemarin, foto Malique bersama keluarganya saat berada di bandara menjadi viral. Akun yang mengunggah foto itu seolah-olah hendak mengobati kerinduan para penggemarnya. Tapi banyak pula penggemarnya yang menyayangkan foto itu bisa beredar.

Selain tak ingin lagi diburu-buru media, Malique juga terus disasar Joe and the gank. Sempat Altimet--kawan baik Joe--menyindir Malique lewat lagu Mambang. Ia mengandaikan Malique bersembunyi di gua. Tak lama kemudian, lagu Mambang dibalas oleh Kmy Kmo ft Luca Sickta lewat lagu Gong Nekara. Liriknya terasa sekali ruhnya Malique. Menampar-nampar Altimet.

Kemudian, album Malique terbaru Malique TKO: Pejamkan Mata, yang covernya bergambar wajah dengan sebuah mata di dahi, difitnah bahwa itu simbol Dajjal. Dikatakan pula itu simbol Illuminati. Padahal Dajjal dan Illuminati saja berbeda jauh artinya. Malique terpaksa meluruskan kekisruhan itu lewat kawan baiknya, bahwa gambar itu artinya mata hati.

Tapi, sosok Malique tetap menjadi idola Tanah Melayu dan bagi penggemarnya di Indonesia. Bukan hanya karena kerendahan hatinya, tapi cara ia meroketkan rapper muda seperti Ben Ladin yang baru berusia 17. Lewat lagu ini, ia menitipkan "salam" kepada para "pembenci", termasuk Altimet dan Joe.

Lagu Ben Ladin berjudul Hikayat Ben Ladin, telah ditonton sebanyak 17 juta di Youtube, saat pertama kali dirilis. Sekarang sudah 25 juta. Sebuah lagu sederhana, yang membuktikan Malique mampu mengubah kebencian orang, menjadi lagu yang enak didengar dan sarat makna.

Lirik-liriknya pun bisa untuk siapa saja. Bahkan mungkin bisa untuk Maha Pencipta ...

Sunday, December 22, 2019

Kota Tanpa Rumah Pribadi

1 comment
Sepanjang jalan dari Bandara KLIA 2, tak satu pun rumah pribadi yang saya temukan. Rumah pribadi yang saya maksud, rumah yang berdiri sendiri baik berpekarangan atau tidak.

Saat memasuki Kuala Lumpur yang jarak tempuhnya sekitar 30 menit dari resting area, di kiri dan kanan hanya ada gedung-gedung jangkung. Jalan layang dan jalur KL Monorail saling mengiris. Tak ada tiang listrik dengan kabel-kabel saling rajut. Rumah-rumah susun juga tak banyak.

Menurut Anwar, orang-orang di sini lebih memilih tinggal di luar pusat kota. Karena hanya memindai dari bus, saya mengira-ngira barangkali ada rumah-rumah terselip di antara gedung-gedung.

Bukan hanya tak ada rumah pribadi, sepeda motor pun jarang ditemui. Rata-rata memakai mobil. Meski demikian, di tol disediakan jalur khusus sepeda motor yang gratis. Pemerintah di sini sengaja membuat aturan itu, agar pengendara motor bisa bergegas tanpa membikin macet jalanan.

Kotanya juga bersih. Di lokasi riuh manusia, nyaris tak ada sampah tercecer. Tong-tong sampah bertebaran. Kami singgah di Jalan Masjid India, setelah hampir 30-an menit berkeliling kota. Orang-orang di sepanjang jalan ini, sepertinya sadar akan sampah. Sebuah taman yang biasa digunakan untuk merokok pun nyaris tak ada puntung rokok berserakan. Tapi, akhirnya saya menemukan di taman lainnya, dua gelas plastik diletakkan begitu saja. Semoga bukan milik turis.

Rombongan lain menyempatkan diri salat di Masjid India, yang seperti kue bronis jumbo karena berwarna cokelat. Lezat sekali dipandang. Masjid ini sudah ada sejak 1863. Diresmikan 30 Ogos 1974. Ogos = Agustus, diserap dari August. Bahasa Melayu Malaysia memang banyak menyerap bahasa Inggris, karena negara ini jajahan Inggris. Beda dengan kita, yang banyak menyerap bahasa Belanda.

Sepanjang Jalan Masjid India, saya coba menyisir lorong-lorongnya. Rumah-rumah pribadi juga tak ada. Mungkin ada, tapi sudah disihir menjadi toko-toko karena kompleks ini juga menjadi pusat perbelanjaan. Di atas toko-toko inilah dibangun beberapa rumah susun.

Setelah semua rombongan selesai mengqada salat, masing-masing mulai mengabadikan momen di masjid itu. 

Menjadi udik di negeri asing, sepertinya sebuah keharusan.