Getah Semesta

Monday, October 22, 2018

Cepat Sembuh Ayah

Tiada satu pun yang mampu melukiskan Sigi dengan kata-kata yang begitu indah, selain lelaki ini. Aku berkali-kali membaca imajinasinya tentang Sigi dalam bentuk puisi, cerita pendek, atau novel yang masih belum selesai.

Banjir bandang menerjang Manado, 15 Januari 2014. Kampung Arab tempat tinggalnya, tiada luput dari seretan lumpur dingin. Bundelan berisi tulisan tentang Sigi, menjelma menjadi lumpur. Komputer jinjingnya pun beku. Tapi ia kembali menulis tentang Sigi.

"Cukup melihat foto Sigi, aku sudah bisa melanjutkan tulisan tentangnya," kata lelaki itu.

Aku takzim memanggilnya Ayah Amato. Ini serupa panggilan yang keluar dari mulut mungilnya Sigi. Seperti yang pernah ia utarakan: Sigi adalah putriku yang diculik takdir. Saat itu, aku tidak mengerti apa maksud kalimat Ayah itu. Ia dikaruniai dua orang putra. Abang dan Ateng. Tapi mungkinkah sesederhana itu, jika Ayah hanya ingin seorang anak perempuan, sampai menyebut Sigi ialah putrinya?

Sampai pada suatu malam, sebuah tulisan panjang tentang Sigi merayap ke keranjang pesanku. Aku menadaburkan. Lalu aku mafhum, setiap penulis membutuhkan suluh untuk menerangi jalan penanya. Sigi yang dalam artiannya pun suluh atau obor, adalah cahaya yang memilihnya. Bukan sebaliknya.

Jumat, 19 Oktober 2018, dua orang kawan di Padepokan Puisi Amato Assagaf di Manado mengabariku. Ayah masuk rumah sakit. Salah satu kawan menautkan foto di media sosial. Satu kawan lagi mengirimi pesan. Aku lama melihat foto itu. Salah satu tangannya meraba lambung. Tapi tak bisa kuterka, apakah itu sakit yang sedang ia khidmati. Sebab ia tersenyum.

Ayah baru saja merayakan hari raya usia padepokannya, Sabtu 22 September 2018. Aku melihatnya begitu bahagia, diitari anak-anak padepokan yang kerap setia menemaninya. Ada banyak orang yang mencintainya. Sebab ia selalu menebar pengetahuan yang menjunjung langit pikir.

Malam ini, aku tak sengaja melihat video dari akun Instagram padepokan. Video rekaman Insta Story itu melintas begitu saja, berdesak-desakan dengan ratusan akun. Apa yang ada di sana, hanya seperti versi gerak dari foto yang dikirim kawan lima hari yang lalu. Gesturnya pun serupa. Tangannya masih meraba lambung. Istrinya mengelus-elus telapak kakinya yang bersila tak sempurna. Tapi kali ini, Ayah sedang tidak tersenyum.

Tak ada yang bisa aku utarakan mengenai sakitmu. Sebab Ayah banyak mengajarkan kami anak-anak padepokan, bagaimana cara memuliakan setiap rasa sakit.

Aku yakin Ayah baik-baik saja...

Sunday, October 14, 2018

Anak-Anak /3-AN Eropassi

Kami tumbuh besar dengan lelucon dan kebiadaban di simpang tiga Desa Passi. Tak ada batas usia di sini. Tapi ketika bercanda, kami tahu batas-batas dan cara bergayung sambut candaan. Bukan apa-apa: karena kami pernah melewati batas-batas itu semua, dan akhirnya belajar.

Saling ejek wajib. Bertengkar sudah biasa. Saling tonjok, pastinya akan berakhir dengan erat jabat-tangan. Itu semua menganugerahi kami tiga makna; tenang, kenyang, dan senang. Iya, jangan lupakan tiga makna itu. Yang menjadi filosofi /3-AN.

TENANG: Pegang batok kepalamu lalu katakan tenang. Iya, pikiran tenang akan membawa kita pada hal-hal positif. Bahkan ketika tengkar hadir, cobalah berpikir tenang. Karena ketika pertengkaran usai, dan ketika pikiran kita mulai tenang, hanya penyesalan yang hadir.

KENYANG: Pegang perutmu lalu katakan kenyang. Iya, asal kita kenyang, pikiran pasti tenang. Saling berkaitan. Di Desa Passi ini, bahkan sisa makanan yang dibuang dan berisi biji-biji cabai pasti akan tumbuh. Umbi-umbian, pisang, sagu, bebas menjalar dan meninggi di kebun-kebun belakang. Kita juga kerap berbagi. Bahkan di lindap subuh, kita pernah saling mengantar lauk atau nasi.

SENANG: Pegang anumu lalu katakan senang. Iya, senang. Dalam arti: silakan bersenang-senang dengan anumu. Itu urusanmu. Itu ruang privasimu. Tak ada urusannya dengan moral, agama, atau aturan apa pun. Silakan. Itu kesenanganmu.

Ketiga itu saling berkaitan. Saling menjahit satu sama lain. Dan semua itu telah kami lewati selama bertahun-tahun. Jadi, hanya orang bodoh yang terus memendam dendam.

Friday, September 21, 2018

Selamat Menikah Mitra

Kerabat yang satu ini akrab ketika kami bocah. Ia yang tumbuh besar di Kepulauan Sangihe Talaud, kala itu sesekali menjenguk langit pikir Mongondownya. Kami yang sebahasa tanah, saling bertukar cerita tentang tempat yang sama-sama asing. Ia berkisah tentang Tahuna, saya berkisah tentang tanah mama. Kisah kami tak putus, meski pada 1980-an, ponsel pintar masih barang yang berada dalam lingkar imajinasi. Kami kerap surat menyurat.

Waktu terus menggelinding, hingga membawanya ke bangku kuliah di Manado. Di sana, kami dari bocah berleleh ingus, menjelma menjadi bocah-bocah dewasa yang sedang mencari arah hidup. Hidup kami tersita banyak di jalanan berlanskap lampu-lampu kota yang riuh. Manado, di era 2000-an, seolah kuali yang dipenuhi air berbusa yang gelembungnya saja mampu menenggelamkan kami. Tapi anak-anak Passi selalu bertahan, dengan saling menjadi pelampung untuk satu sama lainnya.

Di Kampung Kodo, kami pernah tinggal bersama. Di Kleak, kami pernah serumah. Manado, bukan hanya sekadar kota yang mengisi penuh tabung kenangan kami: para begundal desa yang tengah mengadu nasib, yang jarak dari rumah hanya empat jam berkendara. Kami bocah-bocah yang masih sering dikirimi beras oleh orangtua. Tapi Manado adalah kota yang akhirnya mengasah kami, tentang bagaimana kerasnya hidup di kota. Kami belum berkelana sejauh ingin kala itu. Manado, masih merantai kaki.

Zaman tak hanya memoles tabiat kami. Tapi telah berkali-kali menanggalkan nama-nama akrab. Ia, dari yang bernama Sut Mamonto, berubah menjadi Sutha. Saya dari Yanto, berubah menjadi Ya'. Kemudian sekali lagi, panggilan Mitra melekat kepadanya. Dan saya berubah menjadi Sigidad, setelah Sigi merangkak dari gua garba ibunya. Nama-nama busuk kami pun ada. Tentu saja, nama-nama itu hanya terucap dari kami yang menamakan diri: anak-anak pertigaan. Itu spot berkumpul kami, di simpang tiga desa.

Ketika saya menjadi jurnalis di salah satu koran di Kotamobagu tahun 2015, ia pernah sekantor dengan saya sebagai fotografer. Sampai sekarang, ia bertahan di sana. Kemudian kemarin, saya mendengar kabar ia telah memilih seorang perempuan yang dicintainya, Amelia Adampe, untuk menjadi pendamping hidupnya.

Menikah adalah pilihan masing-masing. Tiada seorang pun yang bisa mengendap masuk ke dalam pikiran orang lain, lantas menyumpahinya karena masih hidup sendiri. Tapi bagi kami: anak-anak pertigaan, soal pasangan hidup tetap menjadi rempah-rempah lelucon, yang selalu merawat keakraban. Sutha, adalah kawan sepantar saya yang terakhir memilih jalan untuk menikah. Sebuah jalan panjang menuju rimba yang rimbun oleh berbagai cobaan.

Selamat menikah. Akur hingga uzur, Mitra...

Tuesday, September 4, 2018

Dua Tahun, Boneng...

Pakowa menuju Kampus. Lorong-lorong dan jalan lurus yang pernah kita coreti tembok dan tiang listriknya. Kita kerap bersama usai senja, hingga pada lindap subuh yang sepi dari lalu-lalang kendaraan, tapi ramai dengan lampu-lampu kota dan bau comberan. Rokok kita beli batangan. Tapi rasanya sejuta. Setiap hari begitu. Kita jalan kaki menyusuri setapak menuju tempatmu bekerja, lalu kembali pulang ke rumah Abang.

Kau terbiasa mengeja huruf-huruf dan menjumlah angka-angka, demi rupiah yang akan kembali kosong di kantongmu. Katamu, hidup bukan untuk menabung. Tapi melekaskannya untuk jajan dan biaya sekolah adik dan keponakanmu.

Ah, Onang... Tubuhmu mungil, tapi tulang punggungmu logam.

Hampir semua kawan di 'pertigaan' punya kisah denganmu di Manado. Di Pakowa, Banjer (Tampa Potong), Kampung Arab, Kembang, Dolog, Kleak, Mapanget, Sario, dan Teling. Kau juga pernah menetap sementara di "sangkar", yang katamu melengkapi perjalanan hidupmu.

Lebaran adalah pertemuan terakhir denganmu. Di hari yang biasa kita riuhi bersama, akhirnya kau harus pasrah untuk terbaring memanjang di kursi tamu. Segelas air dan sepiring bubur menemanimu. Seperti biasa, kaus berlengan pendek selalu kau gulung hingga ke bahu. Lalu jabat tanganmu menyambut dengan senyum yang tampak lelah.

"Kalo somo bae, kita somo ka Mnado ulang. Nanti mobawa pa Pei cari karja di sana, baru sama-sama di sana ulang torang."

Itu percakapan terakhir denganmu lewat telepon beberapa pekan lalu. Aku merasakan girangmu saat percakapan itu. Keinginanmu untuk sembuh, sangat kuat terasa. Kendati putaran nafasmu begitu pelan terdengar. Suaramu seperti direbut udara dari rongga dadamu. Kemudian kau pamit untuk istirah dari lelah.

Kota Manado diguyur hujan ketika kesedihan itu berserakan di Eropassi. Namamu di sana. Duka untukmu di sana-sini. Belum dada kami reda oleh gemuruh kehilangan dua sahabat. Kau sudah kembali mendebur.

Maaf kali ini tidak bisa hadir pada pemakamanmu. Pertemanan dan persaudaraan kita sudah melampaui batas, untuk tak lagi saling menyalahkan siapa yang hadir dalam sakitmu. Atau, siapa yang paling di depan memikul kerandamu. Tak ada siapa pun yang mampu menakar kesedihan ini.

"Mereka memikul kerandamu. Aku memikul kenanganmu."

Hanya kata-kata itu yang bisa aku curi dari puisi Ayah Amato, untuk mengutarakan kesedihan ini.

Selamat jalan Onal Mokodompit. Maafkan kami yang tidak sempat hadir pada pemakamanmu. Tempat terbaik untukmu. Titip salam untuk Bd Win dan Eza Yayank Marhaen.

Rest in Paradise, ma bro...

(Catatan dua tahun lalu, ketika Onal berpulang)

Monday, August 13, 2018

Braga: Indie sejak dalam pikiran

Gambar dicuri dari akun Instagramnya Vicky. Sekalian promosi kausnya.
Bagi pembaca karya Pramoedya Ananta Toer, sekelebat ingat tentangnya hadir ketika mengeja judul tulisan ini. Hal serupa ketika saya menukil judul itu dari pernyataan atau cenderung sebagai tagline, dari band indie Beranda Rumah Mangga (Braga) asal Kotamobagu.

Pram sendiri memilih Jean Marais, salah satu tokoh dalam novel Bumi Manusia sebagai pengutara kalimat: belajarlah berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan. Jean adalah pelukis asal Prancis, yang berkarib dengan Minke.

"Saya akan menulis lagu tentang Pram," kata Vicky Mokoagow, gitaris Braga, setahun lalu.

Kemudian lagu berjudul Bilur-Bilur, mengindik di malam hari ke pesan WhatsApp saya, sebulan yang lalu. Vicky mengirimkannya. Saya mendengarkannya, dan seketika mengenali suaranya. Braga memiliki vokalis bernama Yedi Mamonto. Tapi di lagu Braga kali ini, Vicky yang membawakannya.

Saya pikir, lagu ini yang berkisah tentang Pram. Tapi seperti yang disampaikan Vicky, Bilur-Bilur berkisah tentang Genosida 1965. Sebuah tragedi kemanusiaan yang terjadi di Sumatra, Jawa, dan Bali, ketika kulit cokelat membantai kulit cokelat, atau orang Indonesia membunuh orang Indonesia yang sama-sama pernah berjuang memutus rantai penjajahan.

Ketika mendengar Bilur-Bilur, saya segera dihantar ke deretan payung-payung hitam, yang digenggam beberapa orang beruban. Lagu ini akan semakin iba, ketika kita tengah berada di aksi Kamisan di depan Istana Negara. Berada di antara mereka para orangtua yang anak-anaknya hilang atau terbunuh tanpa proses hukum yang jelas. Mereka para kerabat dekat dari korban-korban kebiadaban Genosida 1965. Mereka sahabat dan aktivis yang kekal melawan lupa.

Dalam rentang karya, saya tidak tahu pasti Braga telah mencipta berapa lagu. Sebab mungkin saja, ada beberapa lirik-lirik lagu yang berakhir ke tong sampah. Tapi sejauh ini, Braga telah mencipta lima lagu seingat saya. Lagu pertama berjudul Di Kedai Ini, kemudian yang kedua Patah Menjadi Patah Air Mata. Saya pernah membuat dua puisi interpretasi, untuk kedua lagu itu.

Lagu ketiga, entah sudah dirilis atau belum, tapi sepanjang saya mengikuti gerak mereka di media sosial, lagu berjudul Kau belum dilempar ke Youtube. Lagu ini pernah dikirim Vicky ke email saya setahun lalu. Ketika mendengar lagu ini, saya kerap membayangkan Sigi. Lagunya memang tentang cinta dengan makna universal. Bisa kita lekatkan ke orangtua, kekasih, atau buah hati kita. Kemudian yang keempat Bilur-Bilur. 

Lagu kelima berjudul Jentayu, yang belum pernah saya dengar utuh. Kemarin kami hanya sempat mendiskusikan sepotong lirik lagu ini, ketika video demonya diunggah ke Youtube. Dan yang keenam sebuah lagu cover dari Sterio band asal Kendari, berjudul Tak Biasa Sendiri. Lagu yang terakhir ini, yang mampu mencacah hati mereka yang sedang ditinggal pergi kekasih.

Saya masih menanti lagu tentang sosok Pram, yang dijanjikan Vicky. Saya orang yang selalu percaya, sebuah karya akan diingat bukan ketika karya itu viral. Sebab viral hanyalah deretan angka yang gampang terlupakan. Tapi karya yang lahir dari rahim perenungan pasti kekal. Seperti Pram yang mengatakan karya-karyanya adalah anak-anak rohaninya.

Saat ini, saya kira Braga ikonis sebagai anak-anak muda di Kotamobagu yang total dalam berkarya. Tak hanya bermusik, tapi mereka berhimpun dalam komunitas baca Literasik. Di Tondok Project, mereka membuat film-film pendek yang menghibur dengan berbagai tema. Mereka, yang menghirukkan Kotamobagu, sebuah kota kecil yang mampu mencicil rindu ini setiap kali kembali.

Wednesday, August 8, 2018

Suara Papua

Di tanah ini luka tak pernah sembuh
Duka serupa penyakit yang sering kambuh
Di sini tempat kalian berlabuh
Tapi kalian balas seakan kami setengah lembu!

Kami teriak karena berkalang tindas
Ratusan kasus tak pernah tuntas
HAM hanya jadi jualan culas
Usai pesta demokrasi kalian kembali beringas!

Kami tak mau percaya lagi janji-janji
Anak-anak kami banyak telah mati
Mama-Mama menangis tanpa henti
Ratapi darah anaknya yang menetes di dahi!

Di tanah ini populasi kami menyusut
Nyawa bayi satu per satu terenggut
Biaya sehat dan sekolah bikin otak puput
Kalian di sana tertawa serupa badut!

Di Korowai penduduknya terpuruk
Di Asmat mereka terbunuh gizi buruk
Di Timika gunung suci kami dikeruk
Di mana pun kami berada rasisme mengutuk!

Mampus kami dikoyak-koyak senjata
Difitnah keji dengan sebutan kelompok kriminal bersenjata
Padahal topeng-topeng itu telah terbuka
Stop ko tipu-tipu kami sudah!

Wednesday, July 11, 2018

Nama Gorontalo dan Pengaruh Lidah Orang Belanda

Jika Aceh disebut Serambi Mekkah, maka Gorontalo kerap dijuluki Serambi Madinah. Sejak ditetapkan sebagai provinsi pada 5 Desember 2000, Gorontalo yang berada di wilayah utara pulau Sulawesi, yang bersemboyankan “Aadati hula-hula to Sara’, Sara’ hula-hula to Kuru’ani (Adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan Al-Quran), memang sangat bernuansa Islami. Berpenduduk mayoritas muslim 96,82 persen, hampir setiap salat 5 waktu yang diwajibkan bagi penganut Islam, Kota Gorontalo bergemuruh oleh suara azan.

Mengenai awal mula nama Gorontalo sendiri, disampaikan Budayawan Gorontalo, Alim Niode, bahwa nama daerah itu sangat erat dengan kondisi geografisnya. Ada berbagai macam versi tentang asal usul nama Gorontalo, dari yang mengatakan berasal dari “Hulontalangio”, yakni nama salah satu kerajaan yang dipersingkat menjadi Hulontalo.

Kemudian dari “Hua lolontalengo” yang artinya orang-orang Gowa yang berjalan lalu lalang. Juga dari “Hulontalangi” yang artinya lembah mulia,  dari “Hulua lo tola” yang artinya tempat berkembangnya ikan gabus, “Pongolatalo” atau “Puhulatalo” yang artinya tempat menunggu, Gunung Telu yang artinya tiga buah gunung, dan dari kata “Hunto” yang mengidentifikasikan suatu tempat yang senantiasa digenangi air.

Untuk itulah, terkait penamaan di atas, ada beberapa yang memang cukup identik dengan kondisi geografis Gorontalo, yang mirip belanga raksasa, sebab dulunya Gorontalo masih berupa lautan. Hal itu diperkuat oleh banyaknya renik laut yang terkandung di perbukitan yang mengelilingi Gorontalo.

“Namun saya cenderung sepakat dengan tafsir milik S.R. Nur yang menyebutkan Gorontalo berasal dari kata Huntu dan Langi-langi (Gundukan/perbukitan yang tergenang). Lalu menjadi Hulonthalangi,” katanya belum lama ini.

Sebagai sebuah nama, kata Gorontalo tidak bisa dilacak lebih jauh oleh S.R. Nur, penulis buku Ikilale Lo Bate Walu (Ikrar Delapan Kepala Adat) Kerajaan-Kerajaan Gorontalo (Ujung Pandang, tanpa penerbit, 23 Januari 1992), saat melakukan penelitian tahun 1960.

Namun ada hal menarik menyoal penamaan Gorontalo itu sendiri. Dari banyak literatur sejarah tentang Gorontalo, telah terjadi perubahan ejaan dan pengucapan nama Gorontalo. Yang mula-mula adalah Hulontalo lalu berubah menjadi Horontalo, dan terjadi perubahan lagi menjadi Gorontalo hingga sekarang. Hal tersebut diakibatkan influence dialek dari kolonialis Belanda.

Dituturkan Alim, Belanda tiba di Gorontalo sekitar tahun 1750. Akan tetapi Belanda secara total menguasai Gorontalo pada tahun 1889. Dari literatur pula, diketahui pada tahun 1889, sistem pemerintahan kerajaan dialihkan ke pemerintahan langsung yang dikenal dengan istilah “Rechtatreeks Bestur”. 1911 terjadi lagi perubahan dalam struktur pemerintahan daerah Uduluwo Lo Ulimo Lo PohalaA, yakni lima kerajaan di Gorontalo yang menjadi satu ikatan kekeluargaan yang disebut PohalaA. Di antaranya PolahaA Hulontalo (Gorontalo), Limuttu (Limboto), Bone-Suwawa-Bintauna, Bolango (Boalemo), dan Andagile (Atinggola).

Semuanya disusutkan menjadi tiga Onder Afdeling oleh kolonial Belanda yakni Onder Afdeling Kwandang, Boalemo, dan Gorontalo. 1920 berubah lagi menjadi lima distrik, masing-masing Distrik Kwandang, Limboto, Bone, Gorontalo, dan Boalemo.

Baru pada tahun 1922, Gorontalo ditetapkan menjadi tiga Afdeling lagi, yakni Afdeling Gorontalo, Boalemo, dan Buol. Di rentang waktu itulah mulai terjadi influence nama Gorontalo oleh pengaruh lidah orang Belanda, pada masyarakat kala itu. Hingga pada akhirnya dipelopori Teme Djonu atau yang lebih dikenal Nani Wartabone, pada 23 Januari 1942 Gorontalo menyatakan merdeka atas penjajahan kolonial. Lebih dulu dari negara Indonesia yang baru diproklamirkan kemerdekaannya, pada 17 Agustus 1945. Namun hingga sekarang, nama Gorontalo secara administratif tetap digunakan.

“Tapi penulis-penulis asal Belanda juga tetap menggunakan kata Hulontalo di buku-buku mereka. Seperti J.G.F. Riedel, Richard Tacco, dan Rosenberg. Gorontalo pada lidah orang Belanda sendiri dieja Horontalo, Listening-nya terdengar Hulontalo,” jelasnya.

Namun bisa ditemukan pula buku G.B.X. Rosenberg, contohnya yang berjudul Reistogten in de Afdeling Gorontalo (1865), yang masih menggunakan kata Gorontalo. Sama seperti karangan E.E.W.G Schroden yang berjudul Gorontalosche Woordenlijst (1908). Dalam karangan J. Breukink, Bijdragen tot eene Gorontalo’sche Spraakkunst, yang mengulas tentang fonologi, afiksasi, dan daftar-daftar kata Gorontalo, yang terbit di Den Haag, Belanda. Pun masih menggunakan kata Gorontalo. Menurut Alim, perlu pula membaca buku-buku, atau catatan-catatan itu.

Alim sendiri tidak bisa memastikan kenapa Horontalo akhirnya berubah menjadi Gorontalo secara administratif. Namun dikatakannya, Belanda menuliskan kata “Gorontalo” yang mereka eja menjadi Horontalo, lalu kembali dieja oleh orang Gorontalo sesuai kata “Gorontalo”. Itu yang dituturkan masyarakat lalu menjadi kebiasaan, yang selanjutnya bertahan hingga sekarang.

Adapun mengenai konsonan ‘h’ yang berubah menjadi ‘g’ pada kata Horontalo-Gorontalo, yang jika disepadankan dengan ejaan ‘gulden’ untuk mata uang bahasa Belanda berawalan ‘g’ diucap ‘kh’, yang nantinya secara artikulasi hampir terdengar seperti ‘hulden’. Mu’awal Panji Handoko, Fungsional Umum di Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo memiliki pendapat sendiri. Bahwa pengaruh lidah orang Belanda memang ada, sehingga terjadi perubahan konsonan.

“Contohnya marga Hubulo yang berubah menjadi Gobel,” katanya. Sedangkan mengenai dokumen tertulis soal perubahan konsonan ‘h’ ke ‘g’, Handoko tidak bisa memastikan bahwa dokumen itu ada.

Masyarakat Gorontalo minim historiografi tradisional, sebab masyarakatnya dikenal dengan folklore atau budaya tutur semacam tradisi Tanggomo; budaya tutur atau sastra lisannya orang Gorontalo. Meski di beberapa catatan diterangkan sebenarnya masyarakat Gorontalo mengenal sejarah tulisan, dan memiliki aksara Arab Pegon (Arab Gundul) lewat Catatan Buku Tua Gorontalo, karena afiliasi agama Islam yang mulai masuk ke Gorontalo pada tahun 1525. Tapi Gorontalo pun diketahui memiliki aksara lokal yakni aksara Suwawa-Gorontalo.

Namun pada akhirnya kebanyakan yang menulis tentang Gorontalo adalah para penulis asing, khususnya orang Belanda, atau yang lebih dikenal dengan historiografi kolonial.

Salah satu sejarawan dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Joni Apriyanto mengatakan, pada tahun 2000an saat melakukan wawancara dengan mendiang Prof. Dr. Mansoer Pateda, yang menerbitkan Kamus Bahasa Gorontalo, bahwa Mansoer sepakat menyoal perubahan konsonan dipengaruhi lafal orang Belanda.

“Waktu itu Mansoer masih hidup. Dikatakannya, soal perubahan konsonan ‘h’ menjadi ‘g’, dipengaruhi bahasa Belanda, hingga akhirnya ‘h’ berubah ‘g’ dalam ejaan Gorontalo yang awalnya Horontalo,” terangnya.

Peneliti di Kantor  Bahasa Provinsi Gorontalo, Sukardi Gau, pun sepakat bahwa memang hal itu biasa terjadi. Mengenai perubahan konsonan, karena adanya pengaruh dialek orang Belanda, hingga disesuaikan dengan ejaan.

“Itu hal yang biasa. Sering terjadi, apalagi dalam artikulasi. Di samping itu, mungkin pengaruh dialek. Tapi memang dalam catatan beberapa peneliti asing, sering ditulis berbeda,” sampainya.

Meski demikian, dalam buku Mengukuhkan Jati Diri, Dinamika Pembentukan Provinsi Gorontalo 1999-2001 (Yogyakarta, Penerbit Ombak, 2013), yang dikeroyok oleh tiga penulis yakni Basri Amin, Hasanuddin, dan Rustam, dijelaskan bahwa pada tahun 1980, saat Gorontalo masih menjadi bagian wilayah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Gubernur Sulut kala itu G.H. Mantik mencetuskan konsep kesatuan regional, bagi wilayah-wilayah Sulut dengan slogan “Bohusami”. Bohusami adalah akronim dari empat wilayah kabupaten di Sulut, yang terdiri dari Bolaang Mongondow, Hulontalo, Sangihe-Talaud, dan Minahasa. Dalam akronim itu sendiri, penamaan yang dipakai adalah Hulontalo, bukan Gorontalo. (*)