Getah Semesta

Monday, August 13, 2018

Braga: Indie sejak dalam pikiran

Gambar dicuri dari akun Instagramnya Vicky. Sekalian promosi kausnya.
Bagi pembaca karya Pramoedya Ananta Toer, sekelebat ingat tentangnya hadir ketika mengeja judul tulisan ini. Hal serupa ketika saya menukil judul itu dari pernyataan atau cenderung sebagai tagline, dari band indie Beranda Rumah Mangga (Braga) asal Kotamobagu.

Pram sendiri memilih Jean Marais, salah satu tokoh dalam novel Bumi Manusia sebagai pengutara kalimat: belajarlah berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan. Jean adalah pelukis asal Prancis, yang berkarib dengan Minke.

"Saya akan menulis lagu tentang Pram," kata Vicky Mokoagow, gitaris Braga, setahun lalu.

Kemudian lagu berjudul Bilur-Bilur, mengindik di malam hari ke pesan WhatsApp saya, sebulan yang lalu. Vicky mengirimkannya. Saya mendengarkannya, dan seketika mengenali suaranya. Braga memiliki vokalis bernama Yedi Mamonto. Tapi di lagu Braga kali ini, Vicky yang membawakannya.

Saya pikir, lagu ini yang berkisah tentang Pram. Tapi seperti yang disampaikan Vicky, Bilur-Bilur berkisah tentang Genosida 1965. Sebuah tragedi kemanusiaan yang terjadi di Sumatra, Jawa, dan Bali, ketika kulit cokelat membantai kulit cokelat, atau orang Indonesia membunuh orang Indonesia yang sama-sama pernah berjuang memutus rantai penjajahan.

Ketika mendengar Bilur-Bilur, saya segera dihantar ke deretan payung-payung hitam, yang digenggam beberapa orang beruban. Lagu ini akan semakin iba, ketika kita tengah berada di aksi Kamisan di depan Istana Negara. Berada di antara mereka para orangtua yang anak-anaknya hilang atau terbunuh tanpa proses hukum yang jelas. Mereka para kerabat dekat dari korban-korban kebiadaban Genosida 1965. Mereka sahabat dan aktivis yang kekal melawan lupa.

Dalam rentang karya, saya tidak tahu pasti Braga telah mencipta berapa lagu. Sebab mungkin saja, ada beberapa lirik-lirik lagu yang berakhir ke tong sampah. Tapi sejauh ini, Braga telah mencipta lima lagu seingat saya. Lagu pertama berjudul Di Kedai Ini, kemudian yang kedua Patah Menjadi Patah Air Mata. Saya pernah membuat dua puisi interpretasi, untuk kedua lagu itu.

Lagu ketiga, entah sudah dirilis atau belum, tapi sepanjang saya mengikuti gerak mereka di media sosial, lagu berjudul Kau belum dilempar ke Youtube. Lagu ini pernah dikirim Vicky ke email saya setahun lalu. Ketika mendengar lagu ini, saya kerap membayangkan Sigi. Lagunya memang tentang cinta dengan makna universal. Bisa kita lekatkan ke orangtua, kekasih, atau buah hati kita. Kemudian yang keempat Bilur-Bilur. 

Lagu kelima berjudul Jentayu, yang belum pernah saya dengar utuh. Kemarin kami hanya sempat mendiskusikan sepotong lirik lagu ini, ketika video demonya diunggah ke Youtube. Dan yang keenam sebuah lagu cover dari Sterio band asal Kendari, berjudul Tak Biasa Sendiri. Lagu yang terakhir ini, yang mampu mencacah hati mereka yang sedang ditinggal pergi kekasih.

Saya masih menanti lagu tentang sosok Pram, yang dijanjikan Vicky. Saya orang yang selalu percaya, sebuah karya akan diingat bukan ketika karya itu viral. Sebab viral hanyalah deretan angka yang gampang terlupakan. Tapi karya yang lahir dari rahim perenungan pasti kekal. Seperti Pram yang mengatakan karya-karyanya adalah anak-anak rohaninya.

Saat ini, saya kira Braga ikonis sebagai anak-anak muda di Kotamobagu yang total dalam berkarya. Tak hanya bermusik, tapi mereka berhimpun dalam komunitas baca Literasik. Di Tondok Project, mereka membuat film-film pendek yang menghibur dengan berbagai tema. Mereka, yang menghirukkan Kotamobagu, sebuah kota kecil yang mampu mencicil rindu ini setiap kali kembali.

Wednesday, August 8, 2018

Suara Papua

Di tanah ini luka tak pernah sembuh
Duka serupa penyakit yang sering kambuh
Di sini tempat kalian berlabuh
Tapi kalian balas seakan kami setengah lembu!

Kami teriak karena berkalang tindas
Ratusan kasus tak pernah tuntas
HAM hanya jadi jualan culas
Usai pesta demokrasi kalian kembali beringas!

Kami tak mau percaya lagi janji-janji
Anak-anak kami banyak telah mati
Mama-Mama menangis tanpa henti
Ratapi darah anaknya yang menetes di dahi!

Di tanah ini populasi kami menyusut
Nyawa bayi satu per satu terenggut
Biaya sehat dan sekolah bikin otak puput
Kalian di sana tertawa serupa badut!

Di Korowai penduduknya terpuruk
Di Asmat mereka terbunuh gizi buruk
Di Timika gunung suci kami dikeruk
Di mana pun kami berada rasisme mengutuk!

Mampus kami dikoyak-koyak senjata
Difitnah keji dengan sebutan kelompok kriminal bersenjata
Padahal topeng-topeng itu telah terbuka
Stop ko tipu-tipu kami sudah!

Wednesday, July 11, 2018

Nama Gorontalo dan Pengaruh Lidah Orang Belanda

Jika Aceh disebut Serambi Mekkah, maka Gorontalo kerap dijuluki Serambi Madinah. Sejak ditetapkan sebagai provinsi pada 5 Desember 2000, Gorontalo yang berada di wilayah utara pulau Sulawesi, yang bersemboyankan “Aadati hula-hula to Sara’, Sara’ hula-hula to Kuru’ani (Adat bersendikan Syara’, Syara’ bersendikan Al-Quran), memang sangat bernuansa Islami. Berpenduduk mayoritas muslim 96,82 persen, hampir setiap salat 5 waktu yang diwajibkan bagi penganut Islam, Kota Gorontalo bergemuruh oleh suara azan.

Mengenai awal mula nama Gorontalo sendiri, disampaikan Budayawan Gorontalo, Alim Niode, bahwa nama daerah itu sangat erat dengan kondisi geografisnya. Ada berbagai macam versi tentang asal usul nama Gorontalo, dari yang mengatakan berasal dari “Hulontalangio”, yakni nama salah satu kerajaan yang dipersingkat menjadi Hulontalo.

Kemudian dari “Hua lolontalengo” yang artinya orang-orang Gowa yang berjalan lalu lalang. Juga dari “Hulontalangi” yang artinya lembah mulia,  dari “Hulua lo tola” yang artinya tempat berkembangnya ikan gabus, “Pongolatalo” atau “Puhulatalo” yang artinya tempat menunggu, Gunung Telu yang artinya tiga buah gunung, dan dari kata “Hunto” yang mengidentifikasikan suatu tempat yang senantiasa digenangi air.

Untuk itulah, terkait penamaan di atas, ada beberapa yang memang cukup identik dengan kondisi geografis Gorontalo, yang mirip belanga raksasa, sebab dulunya Gorontalo masih berupa lautan. Hal itu diperkuat oleh banyaknya renik laut yang terkandung di perbukitan yang mengelilingi Gorontalo.

“Namun saya cenderung sepakat dengan tafsir milik S.R. Nur yang menyebutkan Gorontalo berasal dari kata Huntu dan Langi-langi (Gundukan/perbukitan yang tergenang). Lalu menjadi Hulonthalangi,” katanya belum lama ini.

Sebagai sebuah nama, kata Gorontalo tidak bisa dilacak lebih jauh oleh S.R. Nur, penulis buku Ikilale Lo Bate Walu (Ikrar Delapan Kepala Adat) Kerajaan-Kerajaan Gorontalo (Ujung Pandang, tanpa penerbit, 23 Januari 1992), saat melakukan penelitian tahun 1960.

Namun ada hal menarik menyoal penamaan Gorontalo itu sendiri. Dari banyak literatur sejarah tentang Gorontalo, telah terjadi perubahan ejaan dan pengucapan nama Gorontalo. Yang mula-mula adalah Hulontalo lalu berubah menjadi Horontalo, dan terjadi perubahan lagi menjadi Gorontalo hingga sekarang. Hal tersebut diakibatkan influence dialek dari kolonialis Belanda.

Dituturkan Alim, Belanda tiba di Gorontalo sekitar tahun 1750. Akan tetapi Belanda secara total menguasai Gorontalo pada tahun 1889. Dari literatur pula, diketahui pada tahun 1889, sistem pemerintahan kerajaan dialihkan ke pemerintahan langsung yang dikenal dengan istilah “Rechtatreeks Bestur”. 1911 terjadi lagi perubahan dalam struktur pemerintahan daerah Uduluwo Lo Ulimo Lo PohalaA, yakni lima kerajaan di Gorontalo yang menjadi satu ikatan kekeluargaan yang disebut PohalaA. Di antaranya PolahaA Hulontalo (Gorontalo), Limuttu (Limboto), Bone-Suwawa-Bintauna, Bolango (Boalemo), dan Andagile (Atinggola).

Semuanya disusutkan menjadi tiga Onder Afdeling oleh kolonial Belanda yakni Onder Afdeling Kwandang, Boalemo, dan Gorontalo. 1920 berubah lagi menjadi lima distrik, masing-masing Distrik Kwandang, Limboto, Bone, Gorontalo, dan Boalemo.

Baru pada tahun 1922, Gorontalo ditetapkan menjadi tiga Afdeling lagi, yakni Afdeling Gorontalo, Boalemo, dan Buol. Di rentang waktu itulah mulai terjadi influence nama Gorontalo oleh pengaruh lidah orang Belanda, pada masyarakat kala itu. Hingga pada akhirnya dipelopori Teme Djonu atau yang lebih dikenal Nani Wartabone, pada 23 Januari 1942 Gorontalo menyatakan merdeka atas penjajahan kolonial. Lebih dulu dari negara Indonesia yang baru diproklamirkan kemerdekaannya, pada 17 Agustus 1945. Namun hingga sekarang, nama Gorontalo secara administratif tetap digunakan.

“Tapi penulis-penulis asal Belanda juga tetap menggunakan kata Hulontalo di buku-buku mereka. Seperti J.G.F. Riedel, Richard Tacco, dan Rosenberg. Gorontalo pada lidah orang Belanda sendiri dieja Horontalo, Listening-nya terdengar Hulontalo,” jelasnya.

Namun bisa ditemukan pula buku G.B.X. Rosenberg, contohnya yang berjudul Reistogten in de Afdeling Gorontalo (1865), yang masih menggunakan kata Gorontalo. Sama seperti karangan E.E.W.G Schroden yang berjudul Gorontalosche Woordenlijst (1908). Dalam karangan J. Breukink, Bijdragen tot eene Gorontalo’sche Spraakkunst, yang mengulas tentang fonologi, afiksasi, dan daftar-daftar kata Gorontalo, yang terbit di Den Haag, Belanda. Pun masih menggunakan kata Gorontalo. Menurut Alim, perlu pula membaca buku-buku, atau catatan-catatan itu.

Alim sendiri tidak bisa memastikan kenapa Horontalo akhirnya berubah menjadi Gorontalo secara administratif. Namun dikatakannya, Belanda menuliskan kata “Gorontalo” yang mereka eja menjadi Horontalo, lalu kembali dieja oleh orang Gorontalo sesuai kata “Gorontalo”. Itu yang dituturkan masyarakat lalu menjadi kebiasaan, yang selanjutnya bertahan hingga sekarang.

Adapun mengenai konsonan ‘h’ yang berubah menjadi ‘g’ pada kata Horontalo-Gorontalo, yang jika disepadankan dengan ejaan ‘gulden’ untuk mata uang bahasa Belanda berawalan ‘g’ diucap ‘kh’, yang nantinya secara artikulasi hampir terdengar seperti ‘hulden’. Mu’awal Panji Handoko, Fungsional Umum di Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo memiliki pendapat sendiri. Bahwa pengaruh lidah orang Belanda memang ada, sehingga terjadi perubahan konsonan.

“Contohnya marga Hubulo yang berubah menjadi Gobel,” katanya. Sedangkan mengenai dokumen tertulis soal perubahan konsonan ‘h’ ke ‘g’, Handoko tidak bisa memastikan bahwa dokumen itu ada.

Masyarakat Gorontalo minim historiografi tradisional, sebab masyarakatnya dikenal dengan folklore atau budaya tutur semacam tradisi Tanggomo; budaya tutur atau sastra lisannya orang Gorontalo. Meski di beberapa catatan diterangkan sebenarnya masyarakat Gorontalo mengenal sejarah tulisan, dan memiliki aksara Arab Pegon (Arab Gundul) lewat Catatan Buku Tua Gorontalo, karena afiliasi agama Islam yang mulai masuk ke Gorontalo pada tahun 1525. Tapi Gorontalo pun diketahui memiliki aksara lokal yakni aksara Suwawa-Gorontalo.

Namun pada akhirnya kebanyakan yang menulis tentang Gorontalo adalah para penulis asing, khususnya orang Belanda, atau yang lebih dikenal dengan historiografi kolonial.

Salah satu sejarawan dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Joni Apriyanto mengatakan, pada tahun 2000an saat melakukan wawancara dengan mendiang Prof. Dr. Mansoer Pateda, yang menerbitkan Kamus Bahasa Gorontalo, bahwa Mansoer sepakat menyoal perubahan konsonan dipengaruhi lafal orang Belanda.

“Waktu itu Mansoer masih hidup. Dikatakannya, soal perubahan konsonan ‘h’ menjadi ‘g’, dipengaruhi bahasa Belanda, hingga akhirnya ‘h’ berubah ‘g’ dalam ejaan Gorontalo yang awalnya Horontalo,” terangnya.

Peneliti di Kantor  Bahasa Provinsi Gorontalo, Sukardi Gau, pun sepakat bahwa memang hal itu biasa terjadi. Mengenai perubahan konsonan, karena adanya pengaruh dialek orang Belanda, hingga disesuaikan dengan ejaan.

“Itu hal yang biasa. Sering terjadi, apalagi dalam artikulasi. Di samping itu, mungkin pengaruh dialek. Tapi memang dalam catatan beberapa peneliti asing, sering ditulis berbeda,” sampainya.

Meski demikian, dalam buku Mengukuhkan Jati Diri, Dinamika Pembentukan Provinsi Gorontalo 1999-2001 (Yogyakarta, Penerbit Ombak, 2013), yang dikeroyok oleh tiga penulis yakni Basri Amin, Hasanuddin, dan Rustam, dijelaskan bahwa pada tahun 1980, saat Gorontalo masih menjadi bagian wilayah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Gubernur Sulut kala itu G.H. Mantik mencetuskan konsep kesatuan regional, bagi wilayah-wilayah Sulut dengan slogan “Bohusami”. Bohusami adalah akronim dari empat wilayah kabupaten di Sulut, yang terdiri dari Bolaang Mongondow, Hulontalo, Sangihe-Talaud, dan Minahasa. Dalam akronim itu sendiri, penamaan yang dipakai adalah Hulontalo, bukan Gorontalo. (*)

Dayango, agama leluhur orang Gorontalo


Beberapa warga Desa Bangga sedang menyiapkan bahan-bahan untuk ritual Dayango. - Sigidad

Daun woka atau yang lebih dikenal busung Sulawesi menggunung di lantai rumah. Lima ujung bambu, menjorok masuk melalui jendela. Pada setiap ujung bambu, berjumbai daun woka, kain putih dan merah, dan bermacam-macam dedaunan.
Sebagian warga Desa Bangga, Kecamatan Paguyaman Pantai, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, pada Kamis pagi (5/10/2017), berkumpul di salah satu rumah warga untuk menyiapkan bahan-bahan ritual.
"Kami akan mengadakan ritual Dayango. Ini sebenarnya seperti kepercayaan leluhur kami dulu," kata Riko Abjul (52), dengan bahasa Gorontalo kental. Hampir semua warga di Desa Bangga terbiasa menggunakan bahasa lokal.
Pria itu dipercayai mengkoordinir pelaksanaan ritual Dayango, Selain bahan-bahan di atas, di lantai telah tersedia hampir 50 lintingan rokok berbahan daun aren berisi tembakau, serta bahan-bahan keperluan lainnya.
Tampak, di genggaman salah seorang perempuan paruh baya, ada seekor ayam pipit berwarna putih. "Itu untuk keperluan ritual juga," kata Riko.
Menurutnya, semua perlengkapan ritual, disiapkan sehari sebelumnya. Sementara biaya membeli keperluan ritual atas swadaya warga. Jumlah biaya menurut Riko, sekitar Rp 500 ribu. Terbilang kecil, sebab ritual kali ini hanya digelar sehari.
Tujuan dilaksanakannya ritual kali ini, kata Riko, hanya untuk berkomunikasi dengan makhluk gaib di sekitar lahan berupa rawa yang baru saja diuruk. Lokasi yang ditimbun tersebut, diharapkan tidak mengakibatkan malapetaka bagi warga. Selain itu, warga yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan, meminta agar hasil tangkapan mereka melimpah. Alasan terakhir, juga untuk mengobati beberapa warga yang mengaku sakit.
Menjelang sore, Riko menyuruh beberapa orang pergi menancapkan empat ujung bambu dengan kain merah di laut, dan dua ujung bambu berbendera putih di darat. "Satu ujung bambu yang paling besar dan tinggi dengan bendera putih, sebagai tiang utama. Itu ditancapkan di lokasi ritual," jelas Riko.
Dalam ritual Dayango, pemimpin ritual disebut Wombuwa. Para Wombuwa diyakini memiliki kemampuan berkomunikasi dengan makhluk di alam gaib. Hari itu ada tiga Wombuwa yang akan memimpin ritual, di antaranya Deni Polutu (65) dan Rahim Makore (63) dari Desa Bangga, juga Kahudu Dama (62) dari desa tetangga, Desa Bubaa.
"Sudah sejak lima tahun lalu, tempat ini dipilih sebagai tiang utama. Dulu tempatnya di hutan bakau," kata Wombuwa Rahim.
Sebelum hari gelap, Wombuwa Deni, memantrai tiang utama. Warga mulai mengerumuni lokasi lubang galian di mana tiang utama akan ditancapkan. Setelah ditancapkan, semua perlengkapan ritual dihampar di sekeliling tiang.
Tak berselang lama, Wombuwa Kahudu, memantrai ayam pipit kemudian diletakkan di dalam tempurung bertangkup. Setelah itu, ayam pipitnya dikubur hidup-hidup.
"Jika kampung ini bermasalah, teriakan roh ayam pipit akan terdengar dari ujung tiang," katanya.
Ia mengatakan, mantra yang digunakan selama Dayango, menggunakan bahasa Gorontalo. Selain itu, mantra hanya dibaca dalam hati. Bait-bait mantra tidak boleh disebutkan artinya. Hanya para Wombuwa yang tahu bacaan mantra.
Sekitar pukul 7 malam, setelah salat Isya, warga semakin banyak berdatangan di lokasi ritual. Tampak purnama naik perlahan dari permukaan laut. Di lokasi ritual pun telah diberi lampu penerangan.
Tiga Wombuwa itu, kembali memimpin ritual. Dua orang pria lainnya, dengan ikat kepala merah dan putih, masuk ke tengah-tengah pelaksanaan ritual, dengan satu rumbai daun woka di masing-masing genggaman. Orang-orang yang mengitari lokasi, diminta agar tidak memunggungi lautan. Sebab itu jalan masuk makhluk gaib dari arah lautan.
Ritual Dayango sedang berlangsung. - Sigidad
Lengkingan nyanyian ibu-ibu terdengar. Bau kemenyan menyengat. Ketiga pria yang memegang daun woka, mulai menjerit dan menari-nari. Sesekali salah seorang pria mendekati para Wombuwa.
Selain kedua pria itu, Wombuwa Kahudu yang mengenakan pakaian dan ikat kepala merah, pun ikut menari. Selama berjam-jam mereka menari tanpa henti.
Sekitar pukul 10 malam, ritual dipindahkan ke rumah warga yang dipakai menyiapkan keperluan sejak sore. Satu per satu warga mulai bergantian dirasuki. Wombuwa menemani mereka yang kerasukan berjalan dari depan rumah, menuju tiang utama yang hanya berjarak 10 meter.
Di dalam rumah, pria-pria yang kerasukan tadi mulai diminta beberapa orang warga, untuk mengobati penyakit mereka. "Biasanya penyakit yang tak kunjung sembuh dengan perawatan medis, bisa sembuh ketika Dayango. Tapi bukan penyakit-penyakit berat seperti kanker atau tumor," jelas Wombuwa Rahim.
Salah seorang perempuan yang baru saja diobati, Neli Makore (27), mengaku mengalami sakit di bagian kaki. Setelah dipijat oleh salah seorang yang dirasuki, sakitnya per lahan hilang. "Biasanya ibu-ibu yang mengeluh sakit kaki, ada yang sudah berobat ke Puskesmas di Kecamatan, tapi masih saja sakit. Saya juga begitu. Tapi saat diobat tadi, sakitnya mulai hilang," akunya.
Di Desa Bangga memang tidak tersedia Puskesmas. Hanya ada dua orang bidan yang menetap di desa. Jika hendak berobat, warga harus menuju kecamatan.
Kepala Desa Bangga, atau biasa disebut Ayahanda, Mansur Dama (43), mengatakan ritual adat Dayango hampir setiap tahun dilaksanakan di desanya. Ia mengusulkan pula, agar Dayango diperhatikan pemerintah, sebab ritual ini bisa menarik kunjungan wisatawan.
"Desa Bangga ini, selain produksi ikan Rowa (sejenis ikan laut yang diasapi) yang cukup dikenal, juga memiliki kekayaan budaya seperti Dayango. Pemerintah harus memperhatikan ini agar bisa menjadi desa pariwisata," sampainya.
Ayahanda Mansur yang sudah memimpin Desa Bangga sejak 2013 ini, juga prihatin dengan kondisi akses jalan menuju desanya yang rusak parah.
"Di sini selain kesulitan air, jalannya juga rusak parah dan belum diaspal. Jadi akses ke sini susah. Anak-anak saja ada yang jalan kaki sejauh tiga kilometer menuju sekolah," katanya.
Desa Bangga yang berpantai pasir putih dan berpenduduk sekitar 360 jiwa ini, hanya memiliki satu sekolah dasar. Sementara sekolah menengah pertama dan atas, berada di desa tetangga, yang harus ditempuh dengan perahu, motor, atau jalan kaki.
Malam itu, Mansur menemani warganya melaksanakan Dayango hingga larut malam. Sebelum azan Subuh, ia lantas pamit kepada para Wombuwa dan warga lain yang masih melanjutkan ritual hingga pagi hari.
Nanti pagi datang lagi, sebab itu adalah acara puncak,” katanya sebelum meninggalkan lokasi ritual.
Sekitar pukul 7 pagi, warga kembali mengerumuni lokasi ritual. Tari-tarian sudah berhenti. Pagi ini, selain melarung beberapa sesajen di laut, ada pula ritual membersihkan benda-benda berupa jimat milik Wombuwa. Ini menjadi puncak ritual Dayango.
Semua benda yang dibungkus menggunakan sapu tangan lusuh, dihamburkan di dalam ember air. Posisi jimat yang berserakan di dalam ember, mengisyaratkan gejala-gejala alam yang akan terjadi ke depan.
"Nanti air rendaman jimat bisa dibasuhkan dan diminum. Dengan memohon agar terhindar dari marabahaya, juga berbagai macam penyakit," kata Wombuwa Kahudu.
Teni Mahmud (35), salah seorang warga yang kerasukan sejak dimulainya Dayango, hingga pagi hari, masih terlihat bugar pagi itu. Ia mengaku sudah terbiasa mengikuti ritual. Selama kerasukan, ia juga bisa mengontrol agar kondisinya tetap sadar, kendati sesekali ia merasa tak mampu lagi mengontrol keadaan.
"Bagi yang belum biasa, paginya pasti lelah. Saya sejak remaja telah terbiasa dirasuki," katanya.
Teni pagi itu, juga bertugas melarung sesajen. Setelah sesajen berupa beras lima warna ditabur di beberapa sudut lautan, selesailah semua rangkaian ritual Dayango.
Wombuwa Rahim sedang mencuci jimat. - Sigidad
Setelah membasuh dan memantrai beberapa warga, Wombuwa Rahim menceritakan tentang nasib ritual Dayango kelak. Ia meski pesimis, masih berharap agar Dayango yang kebanyakan pelaksanaannya hanya di beberapa desa, termasuk Desa Bangga, bisa diwariskan ke generasi.
"Harus ada Wombuwa yang memimpin ritual ini. Tapi menjadi Wombuwa, harus orang yang lurus hatinya dan lemah lembut perangainya. Ini saja, kami yang sudah tua, belum memiliki pengganti," katanya.
Pagi itu, Jumat (6/10/2017), warga Desa Bangga kembali pergi melaut. Warga Desa Bubaa yang sempat hadir bersama Wombuwa Kahudu, juga pamit kembali ke desanya. Dari kejauhan, bendera putih di pucuk tiang utama tampak berkibar di langit pagi yang biru.
Ditemui di rumahnya di Jalan Rambutan, Dungingi, Kota Gorontalo, Minggu (3/12/2017), salah satu periset terkait tradisi Dayango, Ipong Niaga (36), mengatakan Dayango memang tergolong agama lokal orang Gorontalo kuno sejak ratusan tahun lalu, sebelum Islam masuk (1525 Masehi) di Gorontalo, kemudian disusul agama lainnya.
Jadi itu bukan animisme. Saya menyebut itu agama. Dayango berinteraksi juga dengan Tuhan, yang mereka sebut Sang Eya, lewat proses pemanggilan atau motiyango roh-roh yang diberi nama Latti, yang bertugas merawat alam semesta, memelihara tanaman, dan mengobati penyakit yang menyerang makhluk hidup. Dan Wombuwa ialah perantaranya,” kata pria Jawa yang lahir di Jakarta dan menjadi pengajar di Universitas Negeri Gorontalo (UNG) itu.
Menurutnya, Dayango termasuk agama lokal yang belum mengenal konsep moral, murni hubungan manusia dengan Tuhannya.
Asal penamaan Dayango pun, kata dia, diambil juga dari istilah motiyango, yaitu bermula dari kata daya-daya yang diartikan perjanjian, dan da yang berarti suatu tempat.
Daya-dayadamotiyango, berarti memanggil sesuatu dengan maksud untuk memenuhi janji di suatu tempat,” jelas Ipong, yang pada akhir 2014 lalu, diangkat sebagai Kepala Jurusan Pendidikan Sendratasik, Fakultas Sastra dan Budaya, UNG.
Selain itu, Ipong menilai pelaksanaan Dayango cukup rasional, sebab bagi mereka yang tidak mengerti ilmu perbintangan, maka pelaksanaan Dayango menjadi sia-sia.
Para Wombuwa pandai membaca rasi bintang. Gejala alam bisa mereka prediksi dari perbintangan. Jadi sebenarnya mereka paham kosmologi,” katanya.
Medio 1970an, kata Ipong, sempat ada pelarangan keras terhadap ritual ini, baik dari pemerintah dan aparat keamanan. Ia sempat bertanya kepada salah satu kepala desa dan camat di Kecamatan Bongomeme, Gorontalo, yang menceritakan pelarangan terjadi sebab Orde Baru saat itu anti terhadap hal-hal yang jauh dari ketentuan agama.
Dikait-kaitkan dengan kasus 1965. Padahal tidak ada relevansinya antara ideologi komunis dengan ritual Dayango. Saya pikir itu hanya bias saja,” katanya.
Setelah itu, pelarangan biasanya terjadi sebab ketika ritual Dayango yang diadakan begitu semarak semacam pasar malam, dan beberapa orang kerap mabuk lantas terjadi kericuhan.
Ipong mengaku, salah satu buku hasil risetnya tentang Dayango pada 2013 lalu, berjudul Masalah-Masalah Budaya, menjadi rujukan ketika pengajuan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, agar Dayango menjadi salah satu warisan budaya tak benda.
Saya juga bersama tiga orang teman, membuat film dokumenternya berjudul Ritual Dayango, 2013 lalu. Bisa dicari di youtube,” katanya.
Dilansir dari website resmi kemdikbud.go.id, pada rapat koordinasi I, 28-30 Maret 2016, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, menerima sebanyak 474 usulan karya budaya, untuk menjadi warisan budaya tak benda.
Semua hasil karya budaya tersebut, diseleksi lagi oleh tim ahli karya budaya, dengan beberapa persyaratan yang telah ditentukan, berupa kelengkapan data pendukung seperti adanya foto, video serta kajian akademis.
Melalui seleksi administrasi dan berlanjut pada rapat koordiansi ke II, 19-21 April 2016, hanya 270 karya budaya yang berhasil lolos. Selanjutnya, pada rapat koordinasi ke III, tersaring 150 karya budaya yang layak disidangkan pada penetapan warisan budaya tak benda Indonesia, tahun 2016.
Berada pada urutan ke-130, Dayango akhirnya ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya tak benda Indonesia, dari Provinsi Gorontalo, selain tradisi dan ekspresi lisan Lohidu pada urutan ke-128, Tahuli yang juga tradisi dan ekspresi lisan di urutan ke-129, berikut seni pertunjukan Langga di posisi ke-131, dan yang terakhir di posisi 132, Binte Biluhuta termasuk dalam kategori kemahiran dan kerajinan tradisional. (*)

Thursday, July 5, 2018

Ecko Show, Kok Jadi Rapper Homophobia?

Saya suka semua genre musik. Asal jangan lagu-lagu di albumnya Pak Esbeye itu. Pokoknya selama lagunya nyaman di kuping, saya akan memasukkannya ke playlist.

Selama tinggal di Jayapura, Papua, beberapa bulan belakangan, kuping saya makin terbiasa dengan dua genre musik. Yang pertama reggae, dan yang kedua hip hop. Kebanyakan lagu-lagu itu karya dari anak-anak lokal. Mungkin karena mereka Melanesia, jadi arus minat musik mereka pun mengarah ke genre yang, para musisi terkenalnya kebanyakan Afro-Amerika.

Dari sinilah, saya pun mulai mengenal grup-grup atau penyanyi hip-hop di tanah Papua, misal DXH Crew, Waena Finest, Phapin MC, dll. Karena biasanya mereka saling kenal, penyanyi hip-hop di luar Papua lainnya seperti Ecko Show asal Gorontalo, yang pernah viral dengan lagu "Kids Jaman Now", pun akhirnya coba saya ikuti di Instagram.

Ecko Show ini sempat saya sukai, karena dia termasuk salah satu rapper yang ikut men-diss Young Lex ketika merendahkan Iwa K, Saykoji, dan beberapa rapper Indonesia lainnya. Bisa dipindai di Youtube, soal seteru mereka ini.

Tapi setelah mengikuti akunnya di Instagram pada Rabu pagi, 4 Juli 2018, ada yang janggal di postingan Instastory-nya Ecko Show. Dia menuliskan kalimat "Lagu sindiran untuk kaum LGBT" di baris atas, dan di bawahnya menyuruh viewers agar menggeser ke atas atau swipe up.

Nah, setelah saya geser dengan jempol yang gatal penasaran, saya langsung dihantar ke laman Youtube. Jadi si rapper ini baru saja merilis lagu bersama Vita Alvia, berjudul Aisyah Jatuh Cinta Pada Jamilah. Ya, lagu yang populer karena aplikasi Tik Tok yang baru saja diblokir Kominfo ini, di-remake lagi dengan versinya.

Saya bisa langsung menebak, alasan kenapa ia menyebut lagu ini untuk menyindir kaum LGBT, dari judulnya: Aisyah Jatuh Cinta Pada Jamilah. Karena sebulan yang lalu, sebelum tahu lagu Ecko Show ini, saya pernah membuat status begini, "Suka berteriak anti-LGBT tapi main Tik Tok pakai lagu Aisyah Jatuh Cinta Pada Jamilah."

Status saya itu sebenarnya untuk menyasar orang-orang yang homophobia, tapi tanpa sadar bermain Tik Tok dengan lagu itu. Kendati sebenarnya di lirik asli lagu tersebut, di antara Aisyah dan Jamilah, ada kata: Bojoku, yang memang nyaris tak terdengar.

Jadi, sebenarnya lirik lagunya itu begini: Aisyah, bojoku jatuh cinta pada Jamilah. Seperti ada seorang perempuan yang tengah curhat kepada Aisyah, dan memberitahu bahwa pacarnya ketahuan jatuh cinta kepada Jamilah. Ribet juga sih. Meski ada juga versi lagu yang tanpa menyebut kata: Bojoku, mirip lagunya Ecko Show ini.

Tapi bukan itu saja yang membuat saya segera meng-unfollow akun Instagramnya di hari yang sama saya mem-follownya, tapi karena beberapa bait lirik dalam lagu itu, yang saya anggap diskriminatif.

Misalnya dalam bait berikut ini:

A a a a a a Aisyah
Ku jatuh cinta
Pa pa pa pada Jamilah
Loh kok sama wanita

Kau memang menawan
Tapi kau menipu lawan (Yeah)
Tak habis pikiran
Kau suka sesama kawan (Yeah)

Perilaku menyimpang
Anti kawin silang (Yeah)
Dulu dan sekarang
Tak kunjung menghilang

Semakin maju teknologi
Semua bisa di akali
Kelamin bisa di operasi
Anak pun tinggal di adopsi

Pelaku tak dipenjara
Alasan bukan pidana
Malunya taru dimana
Seolah ini budaya

Bayangkan ketika komunitas LGBT di Indonesia tengah menghadapi diskriminasi di mana-mana, lantas orang-orang seperti Ecko Show ini, yang jelas saja memiliki basis penggemar, ikut membikin arus besar untuk memarginalkan mereka?

Jika Ecko terinspirasi dengan beberapa rapper Afro-Amerika yang pernah atau masih homophobia, tentu saja Ecko salah besar. Ecko mungkin tidak tahu, bahwa empati terhadap LGBT di luar sana semakin tinggi.

Contohnya belum lama ini, rapper terkenal asal Amerika, Offset, dalam lagunya bersama YFN Lucci berjudul "Boss Life", meminta maaf karena liriknya dianggap menyinggung LGBTQ. Seperti ini liriknya: "Pinky ring crystal clear, 40k spent on a private Lear/ 60k solitaire/ I cannot vibe with queers." Offset mengaku tidak bermaksud menyinggung, karena Queer juga bisa berarti aneh.

Queer ialah istilah yang merujuk kepada lesbian, gay, biseksual, dan kadang-kadang juga transgender. Istilah ini menjadi kontroversial, dan sebagian LGBT menolak penggunaannya. Sebab kata Queer, sejak abad ke-16 mulai digunakan di Inggris untuk menggambarkan orang-orang aneh. Queer lantas menjadi gay slur atau cercaan terhadap mereka yang LGBT, pada abad ke-20 di Amerika.

Seiring waktu, karena semakin gencarnya kampanye soal hak-hak hidup LGBT, penggunaan Queer yang berkonotasi negatif mulai hilang. Queer berganti menjadi istilah yang positif, yang bahkan ikut mengkategorikan orang-orang yang berpendapat bahwa orientasi seksual, seks, dan gender tak perlu pengkotak-kotakan, sebagai Queer.

Daripada cari urusan seperti rapper itu, mending pantengin saja Kendrick Lamar, satu-satunya rapper yang meraih Pulitzer Prize kategori musik periode 2018, atas debut album DAMN (2017). Kendrick cukup cerdas menggambarkan kompleksitas kehidupan masyarakat Afrika-Amerika.

Urusan Ecko Show, saya jadi menyesal tahu cara berpikirnya masih bengkok begitu. Sebenarnya saya yang berasal dari Manado, dan pernah tinggal lama di Gorontalo, ingin agar musisi dari Timur seperti kalian bisa tenar. Ingin agar lagu-lagu hip-hop kalian sarat makna dan bergizi, tak berisi caci maki terhadap minoritas.

Mungkin, Ecko harus mendengar lagu-lagu hip-hop dari Rand Slam di album Rimajinasi. Ia rapper asal Jayapura yang sekarang menetap di Bandung. Ada juga Joe Million asal Waena Kampung, Jayapura, yang kini juga berkarir di ibu kota. Dengarkan lagu mereka, yang kaya rima apik, tanpa perlu memarginalkan kelompok tertentu. Atau lagu-lagunya Pangalo! Di album HURJE! Maka Merapallah Zarathustra, MC dari Tanah Batak. Atau Maderodog, dan yang paling legend itu ada Homicide. Mereka menulis lirik-lirik yang ajaib dan menginspirasi perlawanan. Lagu-lagu hip-hop seperti itu akan menjadi legenda.

Jadi, buat Ecko Show yang super-rapper-gaul dan kids-jaman-now, jika kali ini mungkin kau salah melangkah, kau harus belajar lagi: how homophobia destroyed a rap legend's career.

Thursday, June 14, 2018

Rindu

Ada anak bertanya pada bapaknya: buat apa menimbun rindu?

Bapaknya kemudian menjawab: kau harus belajar merindu, bahkan ibadah paripurna seseorang itu, karena rindunya akan Sang Maha Pencipta.

Hari ini, ketika umat muslim merayakan kerinduan hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa, ada sebagian dari mereka yang berhasil menebus rindu akan kampung halaman. Namun, tak sedikit pula yang masih menjalani ibadah rindu, dan berada jauh dari kampung halaman.

Siapa yang pernah merasakan, duduk di halaman depan rumah, setelah berlama-lama pergi meninggalkannya? Itu ialah perasaan maha dahsyat, yang tak bisa ditebus dengan apa pun. Bahkan udara yang kau hidu, terurai dari murninya sekumpulan kenangan.

Dan kali ini, ada segunung rindu yang berhasil masuk ke dalam hati yang melebihi luas semesta. Tak bisa dibayangkan, seperti apa rasanya ketika kaki ini menjejak lagi rerumputan hijau di halaman rumah nanti.

Selama hidup, kita harus mencoba hal-hal yang belum pernah sekali pun kita rasakan. Menikmati suasana lebaran di negeri orang, baru kali pertama ini saya rasakan. Dan ini sebuah lompatan baru.

Semoga suatu hari, jarak kerinduan tak hanya antara Papua dan Desa Passi. Tapi lebih jauh lagi. Sebab hidup, seakan sia-sia jika hanya berputar-putar pada siklus yang itu-itu saja.

Selamat Idulfitri. Selamat menikmati pesta pora pemaafan.

Monday, June 11, 2018

Nyaris Mati

Subuh ini, ketika orang-orang di rumah mungkin baru saja terlelap setelah sibuk merapikan rumah untuk menyambut lebaran, saya yang berjarak 2.117 kilometer jauhnya dari rumah, tiba-tiba ingat ibu yang melahirkan saya dengan susah payah dan nyaris meregang nyawa. Saya bungsu dari total sembilan anak, dan satu-satunya anak yang meninggalkan jejak luka di perut ibu.

Subuh ini pula, saya berpikir, mungkin karena susah payahnya ibu melahirkan saya, kematian sepertinya beberapa kali luput dari saya.

Saat kelas 5 SD, saya nyaris mati karena kelalaian dua kakak perempuan saya. Ketika itu menjelang lebaran. Mereka berdua yang sedang membikin kue, membiarkan kabel terkelupas dari colokan tape menjuntai di tembok dapur. Saya yang baru saja pulang dari sekolah, tanpa sengaja menyentuh kabel itu. Saya masih mengingat jelas ketika aliran listrik membekukan darah, dan melelehkan kuku ibu jari kanan saya.

Setelah saya duduk di bangku SMP, ketika sedang berada di kebun karena musim durian, patahan kayu yang digunakan kakak laki-laki saya untuk melempar durian, jatuh tepat di kepala saya. Darah mengucur deras. Tapi saya masih selamat.

Beberapa tahun kemudian, saya hampir saja dibunuh keroyokan di desa tetangga, jika saja seseorang yang mengendarai motor tidak lewat malam itu, dan membentak para pelaku sambil mengaku dia polisi. Lagi-lagi, kepala saya terluka tapi yang ini akibat pukulan botol.

Seperti kesialan tak pernah mau pupus, 2012 lalu, saya jatuh dari lantai dua sebuah gedung dengan ketinggian 7-8 meter. Tulang panggul dan paha saya retak, yang membuat saya harus berdiam di kamar selama setengah tahun. Untung bukan kepala yang lebih dulu membentur ubin.

Masih ada beberapa kejadian yang nyaris menelan nyawa saya. Seperti kecelakaan motor dan mobil yang biasa-biasa tapi hampir saja membuat saya terluka parah, atau akibat serangan penyakit yang pernah membuat saya pingsan selama 5 jam di kamar, dan saya siuman sendiri. Saya juga pernah overdosis. Tapi selamat. Mungkin ada beberapa kejadian lagi yang saya lupa.

Setelah banyak kejadian itu, malam ini saya pun baru sadar, ternyata saya sukar sekali mati. Mungkin karena itu, kematian menawarkan hal-hal lain, seperti kesialan yang tak kunjung berakhir. Misal, kali ini saya tak bisa mencium ibu dan Sigi di hari lebaran nanti.