Getah Semesta

Tuesday, November 14, 2017

Amit Cirebon Jeh ...

Kota kecil ini tentu saja lebih ramai dari kotaku: Kotamobagu, di Sulawesi Utara. Di Kota Cirebon, semuanya ada. Termasuk rel kereta api yang tak kami miliki di Sulawesi.

Cirebon, kota yang begitu banyak menawarkan makanan enak. Jika kali pertama ke sini, kalian harus merasakan empal gentong. Rasanya, tak perlu ke surga.

Selain empal gentong, ada nasi jamblang, mi koclok, dan nasi lengko yang tak kalah enaknya. Dan masih banyak lagi makanan khas Cirebon lain, yang bisa kalian nikmati. Namun, sejauh cicipan lidah ini, empal gentong ialah yang terbaik. Ingin tahu lebih banyak soal kuliner di Cirebon? Gugling.

Menyoal objek wisata, baik budaya dan sejarah, Cirebon kaya akan itu. Peninggalan kolonial bertaburan di kota ini. Selain itu, di kota ini terdapat makam para syekh dan makam Sunan Gunung Jati. Karena itu kota ini disebut pula Kota Wali. Keraton juga ada. Mau lebih jelas, gugling.

Berada lebih dari dua pekan di kota ini, tentunya bukan tanpa alasan. Saya, membahasakan situasi ini: sebagai bentuk ikhtiar dari takdir perjalanan hidup saya. Sejenak menepi di sini, adalah hal paling berharga. Saya dikelilingi kebaikan-kebaikan yang tak satu pun sanggup saya balas.

Orang-orang di sini ramah. Saya sekejap bertambah teman. Dari mereka kalangan atas, menengah, hingga yang paling bawah. Ketiga lapisan ini tak terpisahkan, sebab saling berkelindan. Kebaikan dari yang di atas, akan bercucuran ke yang paling bawah. Tak semuanya begitu memang. Masih bisa ditemui sisi-sisi congkak, dari kota-kota kecil seperti ini, yang mulai merangkak menjadi keji.

Di Cirebon, saya menemukan antitesis dari kalimat: sakit pasti mahal. Tak semua dokter memungut biaya seenaknya kepada para pasien. Ada yang menerima seikhlasnya dan mematok harga sesuai kemampuan pasiennya. Selain itu, dokter-dokter ini rela membuka klinik yang jarak tempuhnya lumayan jauh dari rumah. Mereka mencari tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota, dan lebih mendekatkan diri kepada orang-orang desa.

Dokter-dokter ini suka menyebut diri mereka sebagai: dokter desa. Saya pernah bertanya, "Kenapa tidak membuka klinik di rumah atau di area perkotaan?" Jawaban yang saya dapat, "Di kota akan lebih ramai pasien."

Tentu saja jawaban itu mengherankan. Sebab yang namanya mencari duit, tentu saja ingin pelanggan yang banyak. Tapi dokter-dokter ini memilih membuka klinik jauh dari perkotaan, agar bisa lebih dekat dengan orang-orang yang terpinggirkan.

Klinik mereka berada di salah satu tepi lorong sebuah desa. Menuju desa ini, persawahan hijau akan dilewati. Memang kondisi di desa ini, tidak seperti desa kebanyakan yang kita kenal. Misal; sepi, akses jalan sedikit susah, dan fasilitas kurang memadai. Tapi di desa tempat klinik mereka berada, sudah jauh lebih maju. Penjual buah-buahan dan makanan berjejer sepanjang jalan. Beberapa kios berderet pula. Selain ontel dan becak, kendaraan roda dua dan empat pun cukup ramai. Sebab desa ini pusat kecamatan dari desa-desa kecil di sekitarnya.

Selama di sini, ada banyak hal yang saya pelajari. Dari seorang sopir, saya belajar tentang arti kesetiaan. Dari seorang mang becak, saya belajar soal kegigihan, dan percaya bahwa usia hanya deretan angka. Dari seorang pendatang nun jauh yang memilih menikah di sini, saya belajar bahwa kebaikan kerap menular. Dari seorang penjual makanan, saya belajar jikalau untung sudah lebih dari cukup, untuk apa lagi menambah jualan? Dan dari beberapa dokter di sini, saya belajar kalau hidup memiliki batas, dan jika itu sudah dicapai, mau apa lagi?

Menyoal kebaikan, banyak hal yang tak harus diutarakan. Sebab makna kebaikan akan berkurang, jika semuanya harus dituturkan satu per satu. Disimpan saja sebagai cermin, agar selalu teringat berbuat baik kepada orang lain.

Ah, terima kasih untuk segala kebaikan di kota ini; makanannya yang enak, keramahan, dan kotanya yang indah. Sampai berjumpa lagi tahun depan ... empal gentong!

Stasiun Cirebon, Rabu, 15 November 2017.

Sunday, November 5, 2017

Selamat Menempuh Eges Baru


Pernikahan adalah fase terumit dari manusia. Kenapa saya mengatakan rumit? Sebab hidup sejalan dengan orang lain tentunya hal yang sulit. Kita harus berbagi makanan, uang, bahagia, sedih, dan malu. Saking rumitnya banyak yang gagal. Termasuk saya.

Tepat 4 November dua kawan baik saya memilih menapaki fase itu. Salah satunya Pasra Hidayat Mamonto atau Eges. Ia kawan wartawan, ketika di Radar Bolmong, periode 2015.

Satu hal yang paling lucu ialah saat mengingat nama depannya. Pasra. Konon saking inginnya anak perempuan, setiap kelahiran, orangtuanya kerap berharap, agar yang lahir bayi mungil nan cantik. Namun saat kelahiran ketiga atau keempat (saya lupa), bayi laki-laki ini terlahir.

Ayah dan ibunya memilih pasrah. Kemudian ia dinamai: Pasra (tanpa h) Hidayat. Hidayat mungkin diambil dari kata "hidayah", yang bisa jadi sebagai bentuk hormat atas ketetapan Tuhan, bahwa manusia memang memiliki keterbatasan. Tidak bisa memilih jenis kelamin.

Sewaktu menjadi wartawan, saya sering menemui Eges dengan ketekunannya di sudut kantor. Ia bisa membikin belasan berita selama beberapa jam, melebihi kami. Maklum, ia wartawan yang sedang naik daun dan disenangi para pejabat kala itu.

Karirnya cukup gemilang, ia bisa gonta-ganti ponsel pintar hanya selang dua atau tiga bulan. Mungkin itu semua bayaran setimpal, atas kerja kerasnya meringkus kata "sepakat", untuk setiap kontrak atau advetorial.

Ada tiga hal yang sama antara saya dan Eges. Kami memiliki banyak uban. Kendati punyanya lebih banyak. Itu pertanda pekerja keras, mungkin. Rambut sampai menua lebih awal. Berikut, kami sama-sama anak bungsu. Dan terakhir, saya dan Eges sama-sama anak yatim.

Eges cerewet. Apalagi ketika mabuk. Ia juga dikenal berdarah cecak--sebutan untuk orang yang cepat mabuk. Tapi seiring waktu, Eges mulai menempatkan diri. Ia telah mengurangi asupan alkohol dan memperbanyak minum susu. Sampai akhirnya, tabungannya telah penuh, dan Eges memilih menikah di bulan ini.

Mungkin benar, kawan, jika orangtuamu senang dengan anak perempuan, kenapa bukan kalian yang mewujudkan itu? Semoga dikaruniai bayi perempuan mungil nan cantik. Biar ayahmu yang telah lebih dulu berpulang tersenyum di sana, pun ibumu yang semoga diberi kesehatan, agar masih bisa menunggu dan memeluk cucunya.

Kalau yang lahir nanti laki-laki, jangan sekali-kali memikirkan nama: Terserah. Tidak lucu jika anakmu bernama panjang: Terserah Pasrah Pada Hidayah Tuhan.

Ah, selamat menikah, kawan ...

Saturday, November 4, 2017

Mang Kancil


Namanya Mang Kancil. Mungkin karena postur tubuhnya kecil. Sewaktu keluar homestay, Mamang kebetulan mangkal di depan sambil makan singkong goreng. Karena aplikasi gojek saya error, dan tahu kalau tujuan saya lumayan jauh, saya sebenarnya tidak tega makai becak. Apalagi pas tahu usia Mamang sudah 61 tahun.

Dia menawarkan jasa. Dan saya tidak bisa menolak. Sewaktu mau gowes, sandalnya sempat lepas. Maklum, berat badan saya di atas 70 kilo. Selama perjalanan saya nanya-nanya sejak kapan narik. Mamang ngaku sejak 1982. Setahun setelahnya baru saya netas di dunia yang fana(s) ini.

Malam ini purnama. Sebenarnya saya ingin main ke Gedung British American Tobacco (BAT). Dari tempat saya lumayanlah kalau naik becak. Sekitar tujuan kilo.

Gedung BAT dari hasil gugling, mulai digunakan pada 1924 dan dirancang F.D. Cuypers & Hulswit bergaya Art Deco, gaya yang bermula pada awal 1920-an dan digunakan sampai setelah Perang Dunia II.

Gaya atau struktur Art Deco berdasar pada bentuk geometris matematis yang terlihat elegan, glamor, fungsional dan modern. Dari foto-foto yang saya pindai di gugling memang gedungnya artistik.

Beberapa tahun lalu, Gedung BAT jadi pabrik rokok, PT Bentoel International Investama (BINI). Dan saat ini gedung itu sudah tidak digunakan lagi untuk membikin rokok. Sudah dijual. Kabarnya  miliaran.

Sewaktu gowes, sesekali Mamang mengetuk bagian logam becak dengan tangannya, sebagai klakson manual saat bertemu kendaraan atau pejalan kaki. Baru saja cerita-cerita dengan Mamang, soal istri ketiganya, kami sudah sampai di Alun-Alun Kejaksan. Salah satu titik keramaian di Kota Cirebon. 

Saya pilih ke Alun-Alun dulu biar Mamang tidak kecapean. Tepat di samping Alun-Alun berdiri megah Masjid At-Taqwa.

"Mamang sudah makan?"

"Belum, jalan terus dari jam 4 sore."

Saya mengajaknya makan tapi dia menolak. Alasannya masih kenyang makan singkong goreng tadi.

"Merokok?"

"Iya."

Saya membelikannya sebungkus rokok kretek sama korek kayu, yang ia tolak pula awalnya. Tapi setelah dipaksa, akhirnya ia terima.

"Ini buat Mamang nunggu."

Di Alun-Alun, saya hanya menikmati sepintas saja lalu pergi mencari makan. Sekalian nebeng ngecars hape. Setelah makan saya kembali ke parkiran becak.

Saya coba bertanya apakah Mamang sanggup dari Alun-Alun ke Gedung BAT. Ia menyatakan sanggup.

Mamang ini tinggalnya lumayan jauh dari pusat kota. Sampai 30an kilo. Dia harus naik angkot dan menitip becak ke tuannya. Ia hanya tukang narik aja. Setoran per lima hari Rp25 ribu. Harga becaknya kalau dibeli Rp500 ribu. Tapi ia mengaku tidak sanggup membeli becak, yang telah menemaninya selama tiga tahun. Ia pindah-pindah tuan selama narik.

Mamang narik dari pukul 4 sore sampai 5 pagi. Katanya, dia khusus narik malam. Jadi baru pagi hari dia pulang ke rumah. Menurut Mamang, kalau nabung 4 bulan, harga becak bisa ia lunasi. Tapi uang penghasilan buat makan aja. Apalagi cucunya sudah mau SMA.

Saat menuju Gedung BAT, ketika melewati kota tua, ia berbisik ...

"Hapenya jangan dipegang-pegang. Nanti ada yang ngawe."

Ia mengingatkan saya. Jika saja ada yang ngawe atau jambret. Apalagi becaknya tak sanggup mengejar jika jambretnya pakai motor. Tapi menurut Mamang, jambret atau copet masih jarang sih.

Beberapa menit kemudian kami sampai di Gedung BAT.

"Ini Gedung British American Tobacco. BAT," jelasnya dengan ejaan yang lumayan nginggris.

Sesampai di BAT, saya mulai memotret. Mamang memarkir becaknya tak jauh dari tempat jualan kopi. Ia tampak terkantuk-kantuk.

"Pesan kopi, Mang," kata saya sambil menyerahkan uang.

"Dua ya? Situ minum juga?"

"Iya."

Setelah itu ia memesan kopi di kedai dorong tepat di samping becak. Mamang kembali dengan dua gelas kopi, lalu kami melanjutkan cerita tentang istri ketiganya ...


(((Foto tra usah heran ee, bobot saya lumayan berat)))

CBN, 4 November 2017.

Thursday, November 2, 2017

Selamat Menyelam Lebih Dalam di Bumi Manusia



Episode Shandry ...

Jejaring semesta akan mempertautkan pikir serupa. Shandry Anugerah Hasanuddin, lima tahun silam hanyalah kawan dari frekuensi yang merambat di udara. Kami sedang genit-genitnya mencari Tuhan di pepohonan, langit, tanah, bebatuan, dan ponsel-ponsel pintar. Berbantah-bantahan ialah keharusan. Sebab pikir harus terus didesak dengan pertanyaan: siapa aku?

Kami dimantrai kata-kata, tentang manusia yang harus memikirkan dari mana asalnya. Jika tidak, laiknya seekor kelinci yang disihir dan keluar dari dalam topi pesulap, ia hanya diriuhi tepuk tangan penonton, tanpa pernah ingin mencari tahu dari mana asalnya. Manusia bukan kelinci. Bukan binatang.

Di Desa Bilalang, tempat Shandry kali pertama menyeret langkah, ada setumpuk kenangan yang kerap membisikkan kata pulang. Rumah yang dikitari bunga dan pepohonan, dialiri sungai dan diteduhi berumpun bambu. Rumah tempat neneknya sering ditemui menyirat rindu kepada cucu-cucunya di pojok yang kekal.

Dari sana, tekadnya untuk menata semangat anak-anak muda di desa semakin teguh. Desa adalah tempat yang membuat rasa khawatirnya terus ada, dibandingkan kejamnya mama kota di negeri seberang dan bising jalanan yang penuh sesak dengan orang-orang berdasi kupu-kupu, tapi tak pernah merasa terbang bebas.

Shandry memilih menemui para petani berpeluh, dan mendengar cerita tentang berapa lama lagi panen tiba. Atau para penambang dengan kisah-kisah mereka tentang seberapa dalam galian, dan anak-istri yang menanti di rumah selama berbulan-bulan.

Di desa itu pula, beberapa bocah riang diajak berpesta dengan kata-kata di rumah belajar Saung Layung Arus Balik. Di sini, semesta adalah guru, katanya. Tempat bocah-bocah itu diberi kebebasan menggambar dan menulis apa saja yang terlintas di imajinasi mereka, lalu menamainya sesuka hati.

Mungkin desa, ialah genta, agar kelak ia mendengar seperti apa kuasa yang mampu menggerakkan orang-orang terpinggirkan, yang membuat mereka bisa reriungan dengan tawa lepas, dan tak ada lagi kecemasan akan seberapa tebal kepul asap di dapur nanti.

Suatu sore, tepat di bebatuan sungai yang berada di tepi kandang ayamnya, Shandry membasuh dan melarung selembar kenangan. Ia ingin lembar kisah baru.


Episode Gita ...


Perempuan berambut sepundak itu, barangkali luput mengenaliku ketika beberapa kali singgah di rumahnya, pada sisa-sisa malam di Kotamobagu. Aku kenali dia dari sosok ayahnya yang begitu akrab dengan kami, yang nokturnal ini. Ayahnya sering disapa Om Nus. Meja biliar di sudut rumahnya dulu, jadi persinggahan kami ketika kota tak lagi menawarkan kesenangan apa-apa.

Brigitha Kartika Mokoginta namanya. Gita, begitu nama kecilnya, beranjak tumbuh di antara landskap kota berdebu. Patung Bogani tegar berdiri tak jauh dari rumahnya, tepat di tepi sungai yang mengalir pula di belakang rumahnya. Patung yang tampak jenuh, karena penduduk kota mungil itu tak pernah mengajaknya selfie.

Rutinitas kantor, tak menjeratnya begitu saja, untuk terpaku pada pekerjaan. Sering, larik demi larik puisi pendeknya bertaburan di sela-sela penat kantor, dan di jeda postingan foto-fotonya bersama teman sejawat. Puisi, menurutnya mampu mendalami kejujuran, sebab puisi tak bisa berbohong.

Gita berwajah ibu, namun terlalu dekat dengan ayahnya. Karena itu, pundaknya tampak lebih tegar. Ia seperti siap menjunjung apa saja beban hidup di punggungnya.

Senyum manisnya selalu terkembang. Gita tak banyak berkata-kata. Mungkin baginya, senyum sudah lebih dari cukup untuk menjawab setiap tanya.

Pernah suatu hari, Gita membenamkan wajahnya di bantal. Ia berteriak sekencang-kencangnya, setelah mendengar kabar salah satu teman sekantornya, Bedewin, terlalu belia berpulang.

Persahabatan, mungkin ialah satu-satunya hal yang paling menghiburnya saat bekerja. Tapi ketika itu hilang, bukan berarti langit akan selalu bertudung halimun. Ada yang akan datang melebihi pertemanan, yang gemar menggaruk-garuk gitarnya. Dan orang itu setia menyikap satu demi satu awan mendung dengan kidung cinta.


Episode Bersama ...

Mokoginta, marga yang jadi isyarat jikalau Shandry dan Gita memiliki pertalian klan. Ibunya Shandry bermarga Mokoginta. Marga yang sesekali ia rekatkan di ekor namanya. Namun hal itu bukan berarti cinta mereka dipertemukan kekerabatan.

Entah kapan Shandry mengenali Gita lebih dekat. Mungkin dengan mengajak Gita jauh lebih dalam mengenali dunia literasi. Lebih dalam mengeja puisi demi puisi.

Jodoh benar adanya saling melengkapi. Shandry berperangai sanguin, dan tentu saja terlalu banyak berbicara, lantas dipertemukam dengan Gita yang tak banyak bicara.

Namun, bukankah itulah keagungan suatu hubungan? Shandry harus menyesap kemuliaan diam. Dan Gita belajar, dalam hidup banyak hal yang harus diutarakan. Meski itu penderitaan.

Kini, fase hidup mereka berpindah. Menikah. Apa yang diharapkan dari sebuah pernikahan? Tentu saja kebahagiaan. Tapi kebahagiaan muskil sempurna, ketika tak ada cobaan yang menguatkan cinta.

Selamat menyelam lebih dalam di Bumi Manusia ...

Akurlah hingga uzur, sampai rambut kalian dipenuhi awan berlajur.



CBN, 3 November 2017

Tuesday, October 24, 2017

Braga dan Jeda yang Terlalu Lama

Kotamobagu, kota mungil sekali kitar, pasti kelar. Jika pulang ke Desa Passi, malam-malam panjang lebih banyak saya habiskan di kota yang hanya berjarak sebatang rokok pupus, dari desa saya.

Beberapa bulan lalu, saya dikabari seorang karib, ada acara literasi dan musik di Kedai Kampung Bogani, di Kotamobagu. Kami diminta tampil di acara bertajuk Literasik itu.

Setelah latihan selama beberapa jam saja, kami bersiap menuju kedai. Saat memasuki pelataran kedai, saya ditemui seorang pria dengan logat kental dari dataran tinggi Kecamatan Modayag.

"Sigidad, kang?"

"Oh, iyo, ini Vicky to?"

"Iyo."

Pria bernama Vicky itu lantas menganjurkan saya untuk segera mendaftarkan nama band ke panitia. Saya memberitahunya, jika nama band kami yang inalillahi kerennya itu, sudah terdaftar. Siapa yang tidak kenal Saung Layung Arus Balik (SLAB), band indie teraneh di Bolaang Mongondow, yang hanya terbentur, eh, terbentuk, dan tampil setahun sekali, lalu bubar lagi itu?

Literasik malam itu berlangsung syahdu. Kami tampil dengan segala kekurangan dan kelebihan, yang sebetulnya lebih banyak kelebihannya daripada kekurangannya. Maksud saya, kelebihan gugup.

SLAB membawakan musikalisasi Derai-Derai Cemara dari versi Banda Neira, yang kami improvisasi menjadi persembahan yang tiada tara jeleknya.

"Eh, bagus ngoni tadi no," kata salah satu kawan.

Testimoninya, kendati sudah sering kami dengar setiap tampil, malam itu cukup membuat dada saya mekar seketika, sebelum terkatup dan layu setelah menyaksikan hasil rekaman video. Bangsat! Kaki saya terlalu banyak gerak, pertanda gugup, dan beberapa kali suara saya sumbang.

Siapa yang tak malu, sebab malam itu, ada band indie lokal yang benar-benar band, sedang mengisi jeda acara. Namanya mengingatkan saya ketika masa krisis pangan, selama tinggal di sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Gorontalo. Saking sekaratnya, kami terpaksa hanya makan mangga seharian yang pohonnya tumbuh lebat tepat di depan sekretariat. Nama band itu, Beranda Rumah Mangga, atau disusutkan menjadi Braga.

Suara vokalisnya teduh. Iringan musiknya merdu. Ditambah suara dua yang mendayu-dayu. Dibandingkan SLAB, tentu Braga adalah Ungu, dan kami Pasha, eh, maksudnya payah.

Saya yang baru sekali melihat penampilan mereka, segera gugling di yucup. Benar sudah, ada klip video mereka dengan lagu berjudul "Di Kedai Ini". Saya mendengarkannya. Apik.

Lagu "Di Kedai Ini", berlatar kedai yang sedang kami tempati saat itu. Berkisah tentang seorang gadis yang menanti kekasihnya, yang bedebahnya tak kunjung datang.

Vicky, gitaris sekaligus pencipta lagu, sebelumnya memang saya kenal dari pertemanan pesbuk. Saya malah penggemar film-film pendeknya. Belakangan, saya baru tahu kalau mereka juga punya band. Jelas saja SLAB merasa tersaingi.

Selanjutnya, setelah malam itu, lagu "Di Kedai Ini" saya donlot dari yucup. Berkali-kali saya dengarkan jelang tidur. Sayangnya lagu itu tidak bisa menjadi lullaby atau pengantar tidur. Soalnya saya sering kepikiran kopi. Iya, saya jika minum kopi pada malam hari, bawaannya jadi susah tidur.

Setelah beberapa bulan kemudian, saya kembali ke Gorontalo. Pekan lalu, Braga kembali merilis single kedua berjudul "Patah Menjadi Air Mata". Saya menontonnya di yucup, dan seketika suka dengan lagu itu. Liriknya puitis dan sarat makna mistis, eh, filosofis.

Lagu itu seperti diceritakan Vicky, terinspirasi dari sebatang pohon di sekitar Danau Tondok. Pohon kering itu, diibaratkannya sebagai petapa tua. Kira-kira begitu yang saya bacai dari hasil curhatannya, sepanjang tiga edisi di Tribun Manado online.

Saya sebenarnya merasa kesal kali pertama membaca curhatannya itu. Kesal sebab tulisan itu menggantung, dan harus menunggu edisi lanjutan. Seperti sedang menunggu apdetan Game of Thrones saja.

Saya pikir, ada jeda terlalu lama dalam tulisan yang superkeren itu. Padahal seharusnya bisa dijadikan satu tulisan utuh, sebab catatannya juga tidak panjang-panjang amat. Payah betul Tribunnya. Mau ngejar klik?

Dari tulisan yang berjeda itu, saya membacai ada jarak cipta yang terlalu jauh dari lagu satu ke lagu berikutnya. Tahun bukan waktu yang pendek. Saya kira, Braga, kendati di tengah kesibukan pekerjaan masing-masing personel, harus banyak meluangkan waktu, agar satu album bisa tercipta. Sialan, masak hanya dua lagu saja. Tambah dong!

Namun, laiknya sebuah karya memang butuh proses. Saya lebih menghargai karya yang memakan waktu lama, sebab tentu saja karya tersebut dibalut kontemplasi yang dalam. Itu mungkin jadi alasan kenapa saya menyukai lagu dari Braga.

Saya, juga tidak terlalu suka dengan karya yang instan. Semisal puisi, yang bisa diproduksi puluhan dalam sepekan. Atau, puisi-puisi yang diminta dibuatkan. Bagi saya, puisi lahir dari salah satu sudut ruang imajinasi, yang mana butuh kedalaman renung untuk bisa menemuinya. Begitu pun lirik lagu.

Entahlah, masing-masing orang punya penilaian, bukan?

Saya tunggu lagu berikutnya dari Braga. Mungkin tahun depan, tak mengapa. Asal jangan ada lagi mangga di antara kita.

Monday, October 16, 2017

Pulitzer

Suatu hari di tahun 1868, hanya sehari setelah diterima sebagai wartawan di koran Westliche Post, Joseph Pulitzer membuat heboh warga St. Louis, Missouri. Setengah kolom berita kasus pencurian di toko buku Roslein yang ditulisnya di koran itu,  berbeda dengan berita-berita tentang kasus yang sama yang dimuat oleh koran-koran lain. Para redakturnya memarahinya. Mereka menganggap Pulitzer merusak reputasi Westliche Post.

Di koran-koran lain, para wartawan menulis, pencuri di toko Roslein adalah sesosok laki-laki berpostur jangkung, rambut pirang, dan di pelipisnya ada tanda cacat. Berita itu ditulis berdasarkan keterangan dari Peters, koordinator wartawan di kepolisian, yang dipercaya oleh polisi dan para wartawan, untuk menyampaikan semua keterangan polisi.

Lewat beberapa jam setelah kasus pencurian itu diselidiki oleh polisi, seorang opsir memang telah berbicara kepada Peters: Pencuri di toko Roslein, berdasarkan keterangan saksi-saksi, adalah seorang laki-laki yang pada tengah malam terlihat mondar-mandir di depan toko dengan ciri-ciri tinggi, rambut blondi dan ada codet di pelipisnya. Peters lalu menyampaikan semua keterangan polisi itu kepada rekan-rekannya, para wartawan yang tidak punya atau tidak bisa mengakses keterangan polisi. Dan keesokannya, keterangan Peters yang mengutip keterangan polisi, menjadi berita di seluruh koran yang terbit St. Louis kecuali di Westliche Post.

Di koran itu, Pulitzer menulis dengan yakin dan terang: Pencurinya adalah asisten toko bernama John Eggers yang sudah meninggalkan St. Louis dengan menumpang kereta api pagi. Orang itulah yang bertugas membuka dan mengunci pintu toko, dan juga tahu nomor kode lemari besi tempat uang hasil penjualan buku disimpan. Tapi gara-gara beritanya berbeda dengan berita-berita dari koran lain, para redaktur Pulitzer marah besar. Mereka menuding Pulitzer telah menghancurkan nama besar Westliche Post. “Pembaca menertawakan koran kita,” kata seorang redaktur, “Karena berita yang kamu tulis berbeda dengan berita-berita di koran lain.”

Dia mengadukan Pulitzer ke redaktur pelaksana, dan sama dengan redaktur yang marah kepada Puliutzer, redatur pelaksana  itu juga menganggap Pulitzer telah membuat kesalahan fatal. “Kenapa bisa sampai begini?” dia bertanya kepada Pulitzer.

Pulitzer berusaha menjawab tapi seseorang kemudian menyela. Orang itu menjelaskan kepada redaktur dan redaktur pelaksana yang memarahi Pulitzer bahwa yang ditulis oleh Pulitzer adalah berita yang benar. “Baru saja saya bertemu dengan Pak Roslein. Dia menceritakan, polisi telah menangkap pencuri di tokonya dan pencurinya juga sudah mengaku. Namanya John Eggers, asisten dan kasir di toko Pak Roslein.”

Para redaktur Pulitzer terperangah. Mereka tak bisa lagi membantah berita yang ditulis oleh Pulitzer. Berita kasus pencurian di toko Roselin yang isinya berbeda dengan berita-berita di koran-koran lain pada hari itu, dan oleh mereka telanjur dianggap merusak reputasi Westliche Post, ternyata adalah berita yang memang “berbeda”. Dari mana Pulitzer mendapat bahan-bahan berita itu?

Hanya beberapa jam pada hari Pulitzer diterima sebagai wartawan di Westliche Post, redakturnya yang belakangan memarahinya, memberinya penugasan. Dia ingin menguji Pulitzer, anak muda berusia 21 tahun, kurus, jangkung, yang dinilainya kaku dan bodoh; untuk mencari berita dan berita itu adalah kasus pencurian di toko buku Roslein yang terjadi pada malam sebelumnya. Dia berpesan kepada Pulitzer: “Kamu pergi ke toko itu tapi tak usah cari berita sendiri. Kamu tidak akan bisa. Hubungi saja Peters. Dia yang akan memberikan keterangan padamu.”

Pulitzer mendatangi toko Roslein, dan di luar toko itu, dia mendapati semua wartawan telah menunggu Peters yang terlihat sedang berbicara dengan opsir di dalam toko. Saat Peters keluar dari toko, para wartawan lantas mengerubunginya. Dari mulut Peters kemudian meluncur keterangan tentang ciri-ciri pencuri di toko buku Roslein berdasarkan keterangan polisi.

Konon lagi bertanya alasan polisi mencurigai lelaki dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh Peters, para wartawan itu malah menelan semua keterangan Peters, dan hal itu membuat Pulitzer terheran-heran. Mereka para wartawan, tapi hanya mencatat semua keterangan tanpa bertanya satu patah pun kendati keterangan Peters banyak yang belum jelas dan memang tidak jelas.

Pulitzer karena itu memberanikan untuk bertanya kepada Peters: Mengapa polisi mencurigai orang dengan ciri-ciri yang disebutkan itu? Dan Peters yang baru kali pertama melihat Pulitzer malah kebingungan menjawab. “Iya ya, mengapa... Tapi kamu pergilah ke opsir itu senyampang dia masih berada di toko. Tanyakanlah sendiri.”

Pulitzer, wartawan baru itu, bergerak masuk ke toko Roslein. Dia mengenalkan diri dan menerangkan identitasnya tapi polisi yang menyelidiki pencurian itu menghardiknya. “Semua keterangan sudah ada pada Peters. Tanya sama dia. Jelas? Sekarang kamu keluar.”

Roslein yang juga berada di dalam toko segera tertarik dengan keberanian Pulitzer. Dia meminta kepada opsir agar memberi kesempatan Pulitzer untuk bertanya, dan polisi itu tak punya pilihan. Sinis dia bertanya kepada Pulitzer tentang yang hendak ditanyakan. Pulitzer tak membuang kesempatan. Dia bertanya dengan pertanyaan menohok: Siapa yang bertugas membuka dan mengunci pintu toko setiap hari?

Polisi tak bisa menjawab tapi Pak Roslein membantunya. Dia menjelaskan, yang membuka dan mengunci pintu toko adalah John Eggers, pembantu di tokonya.

“Tuan Roslein, kenapa Anda tidak menjelaskan bahwa Anda punya asisten?” tanya polisi.
“Maaf opsir, saya kira keterangan tentang John tidak penting,” jawab Roslein, ”Lagi pula, hari ini dia meminta izin tak masuk kerja karena sakit.”
“Tidak. Seharusnya Anda menjelaskan tentang John. Ini fakta yang hilang. Dan apakah John tahu nomor kode peti besi toko Anda?”
“Saya memberitahunya. Dia merangkap kasir di toko ini. Orangnya jujur.”

Polisi terkejut mendengar penjelasan Pak Roslein. Dia lantas menjelaskan, sebelum datang ke toko Roslein, telah melihat John naik kereta api pagi ke arah barat. Dia yakin pencuri di toko Roslein adalah John. Tidak salah lagi.

Pulitzer menyimak semua percakapan polisi dan Roslein. Tapi sementara keduanya terus terlibat tanya-jawab, dia segera keluar dari toko dan bergegas menuju stasiun. Di sana Pulitzer menanyai sejumlah orang tentang John. “Barangkali Anda melihatnya tadi. Orangnya seperti ini, seperti itu.”

Kepada Pulitzer, beberapa orang mengaku memang melihat John berdasarkan ciri-ciri yang disebut oleh Pulitzer, telah naik kereta api pagi. Pulitzer mencatat semua kesaksian mereka, dan setiba di kantornya, dia segera menulis semua temuannya menjadi berita setengah kolom. Berita itulah yang keesokannya membuat heboh warga St. Louis karena isinya berbeda dengan isi berita koran-koran lain.

Mengapa Pulitzer menulis berita berbeda?  Kepada redakturnya dia menjelaskan, dia tidak puas dengan keterangan Petters dan keterangan polisi, yang banyak tidak jelas, dan dia benar.

Bagi wartawan, keterangan sumber seharusnya memang tak hanya disikapi dengan hati-hati, melainkan harus pula disikapi dengan kritis dan skepstis. Tidak dipercaya. Hanya dengan sikap semacam itulah, berita yang ditulis oleh wartawan akan punya nilai meskipun berita itu mungkin akan berbeda dengan yang ditulis oleh wartawan lain.

Anda tahu bukan siapa Pulitzer itu?

Benar, dia wartawan. Bukan juru propaganda pemilu. Bukan humas aparat dan para politisi. Bukan corong suara kekuasaan dan kepentingan. Hanya seorang wartawan, yang reputasi dan keterkenalan namanya tentu saja melampaui nama Anda dan nama saya.

Oleh Rusdi Mathari (Cak Rusdi)

[Cuplikan bebas dari “Joseph Pulitzer Front Page Pioneer”, salah satu bahan cerita untuk kelas menulis Mojok di Yogyakarta]

*Dari dinding Facebook Cak Rusdi, 1 Oktober 2016*

Sunday, October 15, 2017

Pembatas Buku

Aku meloncat halaman demi halaman. Dalam gelap buku terkatup. Kedua sisi menindih, atau mungkin merangkul. Aku hanya meraba dalam pengap.

Pada halaman sebelas. Aku membacai cerita penuh galuh. Berserakan di lantai licin berbusa bir, dalam kamar bising dan bingkai jendela bau pesing. Ada tawa dan lenguhan.

Dan nama-nama yang tak kukenal itu, berbicara tentang bahagia. Tapi bukan bahagia akan cinta. Mereka menyebut cinta hanyalah kelakar. Lalu menertawainya.

Aku melihat cahaya dan berpindah lagi ke halaman empat puluh satu. Gulita. Ada nama baru lagi. Nama seorang dula, yang kerap menyesali hidup.

Hidupnya tak pernah berpinar. Ia berkata bahagia hal yang muskil. Orang-orang dula seperti dia, dan orang-orang yang duduk di geta, sedang tidak benar-benar hidup. Hanya berjalan menuju redup.

Aku lama di halaman itu. Hampir sepekan, dengan umpatan. Sampai pendar cahaya memisahkan aku, dengan halaman yang penuh senandika. Kata terakhir yang kubacai: biarkan dunia ini hubar-habir.

Halaman sembilan puluh. Salah satu nama kukenali, dari halaman sebelas. Gadis yang telah dewasa. Menikah dan bahagia, tanpa cinta.

Ia sedang menggendong bayi. Matanya penuh kasih menatap bayi, yang sesekali memuntahkan susu. Tapi ia membayangkan wajah lain. Wajah yang pernah dikecupnya, lalu dimuntahi.

Sebulan aku dengan halaman ini. Membacai berulang kali kisahnya, dan tak pernah tahu untuk siapa cintanya. Laki-laki itu tak ada di halaman sebelas. Perempuan itu kembali berbicara dengan bayi, yang tak pernah mengerti bahasanya.

Udara pantai menyergapku, sebelum aku dijepitkan ke halaman seratus dua puluh tiga. Aku bertemu seorang kakek. Ia pedofilia dan baru saja ditangkap.

Kakek itu mencumbu seorang bocah perempuan. Di bui, penisnya disundut rokok seorang sipir. Tapi kakek itu hanya tertawa. Ia berkata: aku cinta anak itu, dan aku tetap mencintainya sampai membusuk di sini.

Kakek itu kembali berkata: cinta itu bukan seperti pembatas buku, yang hanya singgah dan melompati halaman demi halaman tak berurut. Sipir itu menamparnya. Kakek itu kembali berujar: cinta juga bukan seperti tamparan ini. Dan aku seperti ditampar.

Setelah dari pantai, aku kembali berpindah di halaman seratus tujuh puluh satu. Aku hanya menemu sisi lembar kosong, dan gambar jalan bercabang di sebelahnya. Aku lama berdiam di halaman ini, sebab pembatas buku tak pernah terselip di akhir cerita. Aku tak pernah mengerti seisi buku, seperti kata kakek itu.

Mungkin, seperti itukah cinta?