Wednesday, December 31, 2014

Salam Rantang!!

Dentang Rantang!! 
Tang!! Untuk para penantang!!
Penantang tenteng serantang belang 
Dikupas layak kentang 
Ah, ini tahun kambing siap disembelih melintang!! 
Tang!! Untuk para penantang!! 
Kata mereka menantang!! 
Dua nyali dibasuh utara-selatan lintang 
Ditambah timur barat merentang! 
Tang!! Untuk para penantang!! 
Mau kutambah seru berdentang!! 
Tiga bisa untuk dua dentang!! 
Ah, setang!! 
Tang!! Untuk para penantang!! 
Ini malam kita seimbang
Iya, kata si penambang
Karung itu sepadan setelah ditimbang!! 
Tang!! Tang!! Tang!! 
 Tanda seru kucukupi dua yang!! 
Biar tenang, kenyang, dan senang!! 
Hahahahaha... Tang!!
Salam Rantang!!

Tuesday, December 30, 2014

Gereja Tua

SEEKOR ayam jantan sebagai penanda arah mata angin bertengger di atas atap gereja yang mengerucut. Bangunan Gereja Masehi Injili Bolaang Mongondow (GMIBM), diklaim sebagai gereja GMIMB tertua di Bolmong.Sudah direnovasi sebelumnya, tapi tidak meninggalkan kesan "purba" yang masih melekat, di bangunan gereja. Hanya dilakukan pengecatan, perbaikan kaca-kaca jendela, juga atapnya yang telah diganti genteng. Tapi ornamen-ornamen lainnya tetap dipertahankan.
Pendeta Mawara Wawointana, yang dipercayakan menjadi pimpinan umat kristiani di gereja tersebut, bertutur tentang sedikit sejarahnya."Di penanda arah mata angin, yang berbentuk ayam jantan, tercantum tanggal peresmiannya. Tapi setahu saya, menurut sejarah, dua hari sesudah tanggal yang tercantum di situ, tanggal peresmiannya," cerita pendeta perempuan ini, saat ditemui di kediamannya, yang letaknya tak jauh dari bangunan gereja. Dari penuturannya, tanggal yang tercantum 23 Maret 1923, sedangkan menurut yang ia ketahui, peresmiannya tepat 25 Maret 1923.Pendeta Mawara juga menjelaskan soal perawatan gereja tersebut. Ada tiga orang yang menjadi kastor, bertugas menjaga kebersihan di lingkungan gereja."Ada yang namanya kastor. Mereka bertugas menjaga kebersihan. Untuk renovasi seperti pengecatan, jemaat-jemaat turut membantu pula. Terakhir direnovasi tahun lalu," sampainya.
Bangunan gereja tersebut, diperkokoh oleh susunan kayu cempaka yang terbilang cukup awet dan tahan dimakan jaman. 1923 hingga 2014, sejak tahun peresmiannya. Gereja ini telah 91 kali turut merayakan Natal."Pakai kayu cempaka, jadi memang tahan. Bisa dihitung hingga tahun ini, sejak peresmiannya, sudah berapa tahun gereja ini turut merayakan Natal," kata pendeta.Meski usianya yang hampir menyentuh seabad, gereja tersebut masih menjadi pilihan beberapa mempelai untuk melakukan prosesi pernikahan."Untuk liturgi atau peribadatan sudah menggunakan gereja yang di sampingnya. Kalau pernikahan, ada sebagian mempelai memilih menggelar prosesi pernikahan di situ, karena tertarik dengan sejarahnya," terangnya.
Mendekati perayaan Natal, Pendeta Mawara turut mengucapkan selamat merayakan Natal dan Tahun Baru 2015. Ia pun berharap kerukunan antar umat beragama di Bolmong terus terjaga. 
Selain itu ada pula gereja tertua di salah satu desa di Bolmong. Seminggu yang lalu, keluarga Kolintama di Desa Otam Kecamatan Passi Barat, Bolmong, menemukan surat-surat tulisan tangan, yang menjawab tentang sejarah pembangunan Gereja Immanuel di desa mereka.78 tahun yang lalu, di hari perayaan Natal kedua 26 Desember 1936. Sekira 200 undangan menghadiri acara pentasbihan Gereja Immanuel di Desa Otam. Kala itu, seorang misionaris asal Belanda, Pendeta Kristen Protestan W Dunnebier yang diutus khusus di wilayah Passi dan sekitarnya, meresmikan sebuah gereja yang hingga kini masih berdiri kokoh.Seorang saksi sejarah, yang menjadi generasi penerus Gereja Immanuel Otam, Pendeta Matius Kolintama, di usianya yang ke-71, menarik ingat dan berkisah."Baru saja seminggu lalu, peti yang berisi buku-buku ayah saya, ditemukan surat-surat dengan tulisan tangan, yang dibungkus dengan kain. Surat-surat itu masih ditulis dengan pena yang memakai tinta celup. Jadi tebal dan tipis goresan tinta sangat kentara. Surat-surat itu menjawab pertanyaan-pertanyaan kami keluarga, selama puluhan tahun," kisah Opa Matius. Ingatannya masih segar meski di usia senjanya. Cara ia bertutur, seperti menarik penyimak kembali ke masa lalu."Kakek saya, Abraham Kolintama adalah penganut Kristen Protestan yang pertama di Desa ini. Di surat itu pula, dituliskan tahun pembaptisan mendiang ayah saya Justuf Kolintama dan adiknya Dortje Simbala," tuturnya. Di tahun 1910 keduanya dibaptis. 16 tahun sebelum peresmian gereja."Pendeta Dunnebier usai peresmian, kembali ke Belanda. Rumah pendeta dulu di Desa Passi. Di perbatasan Desa Passi dan Bilalang. Di Passi ada juga gereja, tapi sekarang sudah dijadikan gedung BPU. Saya tahun tujuh puluhan, sering memimpin kebaktian di Desa Passi. Jadi
dari Desa Otam jalan kaki. Pernah diguyur hujan, hanya berpayung daun talas yang dipetik di pinggir jalan," cerita Opa, dengan gestur tubuhnya. Jumlah penganut Kristen di Desa Otam hingga sekarang, tersisa tiga kepala keluarga (KK). "Ada juga dua duda. Total keseluruhan ada dua puluh dua orang. Di tengah ribuan muslim di Otam. Tapi kerukunan antar umat beragama di sini terus terjaga. Setiap hari Minggu masih rutin digelar kebaktian di gereja," sampainya, Senin (15/12) kemarin. Opa Matius menjadi pendeta dari 1968 hingga 2011. Untuk jabatan Ketua Jemaat Gereja Immanuel, sekarang generasi yang dipercayakan meneruskannya adalah Dra Astri Roeroe Kolintama, yang sekarang menetap di Kelurahan Kotobangon Kecamatan Kotamobagu Timur. "Setiap minggu, saya dan keluarga rutin ke Desa Otam. Menggelar kebaktian juga di Gereja Immanuel," terang Astri saat dihubungi lewat telepon. Setelah pamit kepada Opa, wartawan koran ini masih menyempatkan diri bertandang ke Gereja Immanuel. Lonceng tuanya menggantung diam. Hanya di hari Minggu, jemaatnya datang meramaikan gereja dengan kidung-kidung pujian. Lalu loncengnya pun menggema.

Thursday, November 27, 2014

Patung Bogani (Bagian 2 dan 3)

Liliyanti Mokodompit dan lukisan karya Pak Moko. Foto: Sigidad

KELUARGA SENIMAN PAK MOKO BICARA...

Sesuai penuturan pengiat budaya Chairun Mokoginta, seniman asli Bolmong, Tawakal Mokodompit yang merancang dan membuat patung Bogani. Dari hasil penelusuran, akhirnya keluarga mendiang Pak Moko--sapaan akrab Tawakal Mokodompit--berhasil ditemui lalu berkisah...

Liputan: Kristianto Galuwo

MENDUNG menggantung di langit Kotamobagu. Tidak lama kemudian hujan turun membasahi perjalanan pencarian keluarga mendiang Pak Moko. Tak jauh memang, ternyata hanya sekira 200an meter dari letak patung Bogani.

Seorang ibu di warung menunjukkan rumah adiknya Pak Moko, mendiang Harsono Mokodompit, yang ternyata adalah ayah dari Liliyanti Mokodompit, seorang staf di Sekretariat Dewan DPRD Bolmong. Lili sudah cukup akrab dengan para awak media.

Karena urusan mendadak, ia dan suaminya Soejarwo Kastur mengajak untuk ikut serta di mobil Avanza yang mereka kendarai.

"Ayo ikut, nanti di dalam mobil saya cerita tentang Tua' Moko. Kebetulan lagi hujan," ajak dia dan suaminya.

Di perjalanan menuju kantor cabang Bank Sulut yang terletak di Jalan Kartini Kotamobagu. Pembicaraan pun mengalir begitu saja.

"Tua' Moko memang yang membuat patung Bogani. Kakak beradik dua-duanya seniman. Ayah saya pun seorang pelukis sekaligus pematung. Patung di Gedung Bobakidan, sepasang laki-laki dan perempuan itu ayah saya yang membuat. Juga dengan patung di Taman Makam Pahlawan. Nah, kalau patung-patung karya Tua' Moko, nanti coba saya hubungi lewat telepon salah satu putranya di Jakarta," tutur Lili, putri ke lima dari mendiang Harsono Mokodompit.

Sesampainya di tujuan, suaminya turun lalu masuk ke dalam Bank. Lili pun mencoba menghubungi putranya Pak Moko. Saat berhasil dihubungi, lalu mereka bertegur sapa. Putranya yang bernama Dzikrullah Mokodompit pun menceritakan. Dari penuturan ayahnya (Pak Moko) semasa hidup, ada beberapa patung di Manado yang juga dibuat oleh ayahnya.

"Ayah pernah cerita, kalau patung Bogani itu dia yang membuat. Tahun tepatnya saya tidak ingat lagi. Ada beberapa patung juga yang dibangunnya di Manado dan Gorontalo. Kalau di Manado itu patung Worang di Pasar 45. Terus patung Kuda. Juga patung di lapangan Tikala, ada yang pegang-pegang obor itu. Ada yang di Gorontalo, patung Nani Wartabone," kenang putra kedua Pak Moko, dari tujuh bersaudara ini.

Pak Moko berpulang 4 Desember 2010 silam karena stroke. Ketujuh putra dan putrinya pun menetap di Jakarta dan Manado. Dzikrullah menuturkan, saat di Jakarta, ayahnya pernah beberapa kali menggelar pameran lukisan semasa hidup.

"Ayah beberapa kali menggelar pameran lukisan, di Blok M Square, Ancol, juga di Pasar Seni Jakarta," terangnya, Kamis (27/11).

Ia sekeluarga berencana akan mempertanyakan kembali ke pemerintah setempat, mengenai klaim dari beberapa hasil karya mediang ayahnya. Juga meminta pemerintah agar mencantumkan nama pembuat di setiap patung hasil karya ayahnya.

Pembicaraan pun berakhir. Lili dan suaminya mengajak kembali ke rumah, untuk melihat lukisan hasil karya Pak Moko, yang terpampang di ruang tamu rumahnya. Sesampainya di rumah, sebuah lukisan ukuran 1.30 x 1.30 meter menyambut kami. Terlukis empat orang perempuan cantik berhijab dan seorang bocah perempuan berhijab pula, dengan raut wajah berbeda-beda

"Lukisan ini saya ambil di rumah Tua' di Manado. Beruntung lukisan ini masih ada. Jadi bukti kalau Tua' memang seorang pelukis," katanya. Sambil mengusap-usap lukisan tersebut.

Kemudian ibunya Lili, Ramlah Manoarfa menujukkan foto Pak Moko yang menghiasi dinding ruang tamu.

"Ini foto mendiang Pak Moko, kakak dari suami saya. Rambutnya panjang tapi dikuncir. Istrinya Linawaty Talot, juga sudah meninggal dunia," tutur Ramlah.

Ia juga menunjuk sebuah mural di tembok rumah, karya mendiang suaminya. Sepintas melihat foto Pak Moko, jika rambutnya digerai sambil mengenakan ikat kepala, juga dengan janggut lebatnya semasa ia muda, Pak Moko mirip dengan patung Bogani hasil karyanya. Hal itupun dikatakan Lili, sebab Pak Moko memang sangat mirip dengan wajah patung Bogani.

Tak berlama-lama lagi, wartawan koran ini pamitan. Sesudah itu, Chairun Mokoginta mengabari, ia baru saja bertemu dengan H.D Makalalag, mantan Ketua KPU, yang pada saat patung Bogani dibangun, ia adalah kepala urusan rumah tangga di masa kepemimpinan Bupati O.N Mokoagow.

"Saya baru saja bertemu dengan H.D Makalalag. Ia juga mengatakan patung Bogani di Kotobangon dibangun saat pemerintahan Bupati O.N. Mokoagow dan yang membuatnya adalah Tawakal Mokodompit," terang Chairun.

Terang sudah, siapa yang berjasa dengan karya hebat patung Bogani. Simbol patriotisme di Kabupaten Bolmong. Sejarah harus diluruskan. Sejarah patut dikenang. Agar generasi kita tahu, negeri Totabuan memiliki seniman-seniman hebat.


Patung Bogani (Bagian 3)


Bogani menjadi maskot KPU Kota Kotamobagu. Gambar: KPU Kota Kotamobagu

BOGANI DIJADIKAN MASKOT DAN DIHORMATI

Berbagai cara menjadi bentuk sanjungan mereka kepada tokoh Bogani. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Kotamobagu menjadikan maskot Pemilihan Wali Kota Kotamobagu (Pilwako) 24 Juni 2013 silam, hingga Anggota Dewan Perkawilan Daerah (DPD) RI Benny Ramdhani (BRANI) yang melakukan “ritual” pembasuhan Patung Bogani.

SAAT ditelepon, Ketua KPU Kotamobagu, Nayodo Kurniawan mengatakan sedang berada di acara duka keluarga.

“30 menit lagi yah, kalau sudah di rumah nanti saya hubungi lagi,” katanya. Setelah menunggu, tidak sampai 30 menit lamanya, telepon berdering dan ternyata dari Nayodo yang biasa disapa Kak Nanang.

“Saya sudah di rumah, kesini saja,” ajaknya, disusul dengan sedikit petunjuk letak rumahnya yang berada di Kelurahan Gogagoman, Kecamatan Kotamobagu Barat.

Disambut di teras rumah panggungnya, Kak Nanang segera mengulas tentang penulisan sejarah pembuat Patung Bogani, yang dipublikasikan koran Radar Bolmong, edisi Rabu (26/11) dan Kamis (27/11).

“Iya saya baca, memang seharusnya hal-hal seperti ini digali, agar generasi muda tahu,” katanya, sambil memantik korek apinya. Sebatang rokok tersulut, lalu cerita berlanjut.

Wartawan koran ini menanyakan alasan, kenapa saat Pilwako 24 Juni 2013 silam, KPU Kotamobagu menjadikan Bogani sebagai maskot.

“Bogani adalah sosok kesatria, jujur, amanah dan memiliki keselarasan antara perkataan dan perbuatan. Sehingga KPU Kotamobagu menjadikan Bogani sebagai maskot, dengan maksud agar masyarakat melihat, sosok seperti Bogani yang pantas menjadi pemimpin dalam membawa Kotamobagu ke depan,” jelas Kak Nanang.

Ia pun meminta kepada pemerintah agar terus menjadikan Bogani sebagai maskot Bolmong sepanjang masa.

“Harus jadi maskot sepanjang masa. Insya Allah, jika ada Pilwako selanjutnya, Bogani akan tetap menjadi maskot KPU,” harapnya.

Bukan hanya itu, ia meminta pemerintah agar bisa menganggarkan di Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD), terkhusus untuk dinas terkait melakukan riset sejarah.

“Pemerintah harus ada anggaran untuk itu. Bahkan bisa membuat buku sejarah Bolmong, yang dirangkum dari catatan atau keterangan para sejarahwan. Buku-bukunya bisa dibagi di sekolah-sekolah, biar jadi referensi para generasi muda,” terang Nayodo dengan nada serius.

Tak lama kemudian datang Aditya Tagela, salah satu komisioner devisi hukum dan pengawasan KPU Kotamobagu.

Ditanyai soal ide pencatutan Bogani sebagai maskot. Nayodo dan Aditya sepakat, itu adalah ide bersama.

“Itu ide bersama, ada plenonya juga saat itu,” terang Nayodo yang disepakati Aditya.

Setelah bercerita panjang lebar, ia mengambil sebuah kaos yang bergambar tokoh kartun Bogani-yang menjadi maskot-lalu menghadiahkan kaos itu kepada wartawan koran ini.

Berpamitan pulang, wawancara pun berlanjut kepada salah satu anggota DPD RI perwakilan Bolmong, Benny Ramdhani. Sedang berada di Ibukota Jakarta, Benny diwawancarai melalui sambungan telepon. Salah satu momen penting yang dilakoninya saat Pesta Demokrasi 9 April 2014. Ia yang mencalonkan diri sebagai perwakilan Bolmong untuk merebut kursi di DPD RI, berhasil menarik simpatik masyarakat dengan aksinya yang melakukan “ritual” pembasuhan patung Bogani.

Bogani adalah simbol heroisme dan patriotisme. Patung Bogani itu seolah-olah dilupakan. Momennya pada saat itu, tatkala suara calon perwakilan Bolmong terancam dicuri, maka itu sebagai bentuk permintaan restu kepada Bogani, untuk siap melakukan perjuangan jika nanti ada kecurangan,” terang Benny dengan nada suara penuh semangat

Selain itu, ditambahkannya, pembasuhan patung Bogani adalah bentuk kritik kepada semua pihak, yang mengabaikan dan bertindak seasalnya terhadap patung Bogani.

“Kita lihat saat ramai pesta demokrasi, ada beberapa stiker partai yang ditempelkan di tubuh patung Bogani. Selain itu di ujung tombaknya diikatkan bendera partai, harusnya itu dilarang,” sampai Benny, Jumat (28/11).

Benny juga mengeluhkan kurangnya perhatian pemerintah untuk melakukan perawatan patung-patung dan monumen-monumen bersejarah di Bolmong. Juga kepada generasi muda, ia menyampaikan agar terus menjaga dan membuka mata hati, supaya bisa meneladani tokoh Bogani, sebagai simbol perjuangan.

Besar harapan Benny, agar seluruh elemen masyarakat di Bolmong, bisa mengenal lebih jauh ke dalam, menggali sejarah dan budaya daerah yang mulai terlupakan.

Benny Ramdhani saat aksinya membasuh patung Bogani. Foto: Koleksi pribadi

Catatan: Ketiga liputan bersambung Patung Bogani, dimuat di koran Radar Bolmong, sewaktu saya masih sebagai wartawan di sana. Sengaja saya sadur di blog, untuk kepentingan dokumentasi pribadi.

Wednesday, November 26, 2014

Patung Bogani (Bagian 1)

Patung Bogani di simpang tiga Kotobangon. Foto: Sutha

PATUNG BOGANI YANG TERLUPAKAN

Tak banyak yang memperhatikan lalu prihatin dengan sebuah patung, yang berdiri tegar di simpang tiga Kelurahan Kotobangon. Patung Bogani, sekujur warna cokelat tubuhnya memudar dan berlumut, seakan waktu memakannya perlahan dan membuat kita melupakannya.

Liputan: Kristianto Galuwo

SEJARAH memang untuk diingat. Mereka yang tidak mengenal masa lalunya, akan dikutuk untuk mengulanginya. Begitu kata George Santayana, filsuf asal Spanyol (1863-1952). Begitu pun dengan masyarakat Bolmong, mungkin harus diingatkan kembali dengan sejarah Bogani. Tidak banyak generasi muda yang mengenal dan tahu siapa Bogani, bahkan hanya untuk seonggok patungnya pun, mungkin sebagian masyarakat Bolmong tidak atau belum mengetahui sejarahnya.

Menurut sejarah, Alex B. Wetik yang merupakan salah satu pendiri Jurusan Seni Rupa di Lembaga IKIP Manado atau UNIMA, ia adalah pelukis sekaligus pematung yang mendesain Patung Bogani. Ia pun dikenal membuat patung-patung di Sulawesi Utara di antaranya: patung Sam Ratulangi di Manado, Yesus di Gereja Katolik St. Ignasius Manado, relief di Gedung Bukit Inspirasi Tomohon, patung Sam Ratulangi di Tondano, patung Sarapung dan Korengkeng di Tondano, dan patung Bogani di Kotamobagu, pun masih banyak karya-karya lainnya.

Akan tetapi, sumber lain yang merupakan budayawan Bolmong, Chariun Mokoginta mengatakan, dari hasil penelusurannya, pelukis dan pematung yang membuat patung Bogani adalah Tawakal Mokodompit.

"Menurut sepengetahuan saya, Tawakal Mokodompit yang membuat patung Bogani. Kiprahnya dalam seni lukis pun hingga ke ibukota Jakarta. Dia bersama Pak Tino pernah mengisi program acara 'Mari Menggambar' di stasiun TVRI dulu. Adiknya pun Harsono Mokodompit adalah seorang pelukis. Tapi saya pernah menelusuri keberadaan mereka, hingga diketahui keduanya sudah meninggal dunia. Yang saya kenal, keduanya adalah budayawan sekaligus pematung di Bolmong," tutur Chairun saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Genggulang Kecamatan Kotamobagu Utara, Rabu (26/11).

Kedua kakak beradik itu menurut Chairun, sangat memperhatikan kebudayaan Bolmong dari segi adat istiadat, semboyan-semboyan budaya, juga simbol-simbol.

"Setahu saya juga keduanya itu di masa muda mulai eksis di dunia seni. Seingat saya saat kepempimpinan Bupati O.N Mokoagow, mungkin di periode tahun 1966-1976, patung Bogani dibuat," tutur Chairun, sambil mengingat-ingat.

Diceritakannya, tokoh Bogani yang menjadi model patung adalah Bogani Paloko. Sebab yang bermukim di sekitar aliran sungai dan wilayah Kotobangon sampai ke puncak Ilongkow adalah bogani Paloko.

"Ada begitu banyak Bogani di Bolmong, seperti Bogani Ki Bagat, Inde Indou, Inde Dikit, Dugian, Paloko, Ponamboian, Dondo, Pongayow, Lingkit, Mogedag dan masih banyak lagi. Tapi menurut saya, yang menjadi tokoh patung Bogani adalah Bogani Paloko. Sebab dulu yang berdiam di sekitar aliran sungai adalah Bogani Paloko dan masyarakat yang dipimpinnya," urainya, sambil mempersilakan wartawan koran ini, untuk minum teh yang dihidangkan istrinya.

Diketahui ada dua sebutan untuk simbol patriotisme di Bolmong itu. Bogani untuk laki-laki dan Bigani untuk perempuan. Dari bahasa 'purba' Mongondow, diartikan Bogani adalah manusia yang bisa menghilang.

"Artinya Bogani itu manusia yang bisa menghilang. mereka pun dipilih karena sifat dan sikap mokodotol atau patriotisme yang dimilikinya," terangnya.

Menurut Chairun ada satu semboyan yang menjadi sebuah prinsip bagi para Bogani.

"Prinsipnya yakni tampangan dodot atau artinya pemimpin dulu yang harus mati baru sesudah itu rakyat," dituturkan Chairun dengan gestur tubuhnya yang mengisyaratkan seorang Bogani menaungi rakyatnya di antara kaki kiri dan kanannya.

Ada empat kriteria menurut Chairun agar bisa menjadi Bogani. Yang pertama Mokodotol atau sikap patriotisme. Yang kedua adalah Mokorakup yang artinya bisa mengayomi masyarakat yang dipimpinnya, baik itu dari kecukupan sandang dan pangan. Ketiga Mokodia yang diartikan mampu mengemban amanah, paham dengan budaya dan adat istiadat, juga mampu menerapkan keadilan tidak terkecuali anggota keluarga. Yang keempat Mokoanga' yang diartikan harus simpatik perilakunya.

Mengenai dua senjata yang digenggam patung Bogani, diberi nama Tungkudon untuk tongkat yang juga sekaligus sebuah tombak, di genggaman tangan kanannya. Sedangkan tameng di tangan kiri diberi nama Kaleaw. Dari posisi Patung, diutarakan Chairun adalah apa yang disebut dengan opat noponulukan atau empat penjuru angin.

"Ini dari perspektif budaya yah, kiblatnya orang Mongondow itu menghadap utara. Jadi Tungkudon-nya menghadap utara atau Tombaian artinya kebahagiaan atau kesenangan. Kalau ke barat itu disebut Toyopan yang artinya tidak baik, karena itu patungnya agak condong ke selatan. Sedangkan timur itu disebut Silangan, makanya harus dibelakangi karena tidak baik menantang arah terbitnya matahari. Untuk ke selatan itu Tontongan artinya apa yang nampak dalam pandangan," urai Chairun. Ia kembali memantik api dan menyulut rokoknya, kemudian melanjutnya cerita.

"Tidak pernah para Bogani dulu berselisih. Ada sejarah soal Mokodoludut, pemimpin dari Dumoga. Versinya ada dua menurut hikayat, Mokodoludut itu berasal dari telur. Sementar versi logisnya, ia bayi yang ditemukan Bogani Amalie dan Inalie. Saat ditemukan katanya ada suara gemuruh dan angin yang bertiup kencang. Semua Bogani berkumpul dan kemudian disepakati bayi tersebut diasuh dan dibesarkan. Sebab akan menjadi pemimpin nantinya," tuturnya.

Chairun pun mengakhiri perbincangan panjang dengan penyampaian, bahwa budaya-budaya Bolmong beraneka ragam. Tokoh-tokoh dan para pelaku sejarah pun harus diingat. Agar generasi bisa memahami, betapa Bolmong ini begitu kaya kebudayaannya dan memiliki sejarah patriotisme yang patut dikenang.

Sunday, October 19, 2014

Anuar

Novel-novel karya Anuar Syukur
Nama depanmu, menarik ingatku pada Chairil Anwar, meski dengan ejaan berbeda. Tapi sekali berarti, sudah itu mati kata Charil Anwar, lalu kalimat itu merangkul kalian.

Kau, Anuar. Tak pernah kita bersua, karyamu tak pernah kubacai, suaramu tak pernah kudengar. Hingga corong pada pagi pemakamanmu, mengisyaratkan duka yang seharusnya tertunda. Sebab mungkin, di suatu kala, kita bisa duduk sembari menyesap segelas kopi bersama, di pojok saung yang tengah kau raut dengan keringat. Kita bicara tentang bibit tanaman apa yang sedang kau semai. Pun kisah cinta apa lagi yang mau kau sampulkan.

Anuar, aku mau menyapamu penulis dan marhaenis. Itu jauh lebih merdeka. Semerdeka buku-buku novel berdebu yang bertumpuk di rak lemarimu. Tadi adik perempuanmu menyeka debu-debu itu. Seketika kenangan yang menebal di sampulnya terbang.

Anuar, ada belasan novelmu. Mau kupinjam tapi pemiliknya sedang istirah. Mau kubaca tapi penulisnya sudah berpulang. Tapi kata adikmu, sekali-kali datanglah ke rumah. Ada dinangoi, secangkir kopi, dan buku-bukumu menunggu.

Apa kabar grup Pinotaba di Facebook? 2012 silam, pernah aku mengirim pesan ke admin grup, agar aku bisa diterima membaur. Tapi kau tolak, kau kurang yakin kalau aku anak asli Mongondow. Iya, Pinotaba itu Perhimpunan Putra Totabuan. Mungkin marga Galuwo-ku begitu purba bagimu. Aku mengirimimu pesan lagi, "Mungkin Dinangoi sudah dilabeli seperti Pizza, jadi hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mencicipinya. He-he-he...."

Lalu kau sapa aku, utat. Segera pula kau terima permintaanku untuk bergabung dengan grup Pinotaba. Ah, lucu kala mengingatnya. Padahal itu hanya canda. Hingga dua tahun kemudian, tiga bulan yang lalu, aku meminta nomor ponselmu lewat pesan Facebook. Cukup lama kau balas. Mungkin karena kesibukanmu berkebun. Tak sempat pula kuhubungi. Sampai di sini, ada sesalku yang tersisa.

Berita pemakamanmu, sedang dicetak. Aku yang meliputnya tadi. Sempat kunukil status di akun Facebook-mu, "sibuk dgn alam nyata, hp tinggal satu2nya membuat malas gonta-ganti kartu. Mau beli hp tapi tak beruang. Akhirnya dunianya si maya sering kutinggalkan, hehe... Konsentrasi mononggoba' (berkebun)."

Iya, Anuar, menulis dan berkebun, keduanya giat yang mencipta sesuatu, jauh melampaui usia kita. Di antara nyata dan maya, ada keabadian. Semoga damai di sana. Di saung tak berujung.

Sukur moanto' utat, Anuar Syukur.

Saturday, October 11, 2014

Kerja dan Kawan

Lama tak menulis kawan... Blog ini hampir berdebu setebal korengan gerhana bulan kemarin.
Menulis pasti selalu tentang mood. Jikalau tak mood, tulisan jadi serupa permen karet yang diemut-emut dan sekejap saja hambar. Dua bulan kerja di tempat baru, dengan jam kerja yang lumayan menguras segala energi. Tak ada lagi yang tersisa, bahkan untuk menulis di blog ini, coba kukais sedikit demi sedikit, hingga setumpuk kalimat kukarungi dan siap dicurah.
Media ini, selangkah-keluar-dari garis batas lingkaran comfort zone-ku, kawan.
Kawanku pernah berkata, "Ya' (nama tenarku selain Sigidad, ha ha ha). Kamu tidak cocok kerja jadi wartawan. Kamu cocoknya nulis di blog, tulisan-tulisanmu pure dari imajinasi dan sebagian pengalamanmu. Beda memang dengan berita yang setiap hari kamu kantongi tuk dibawa ke dapur redaksi. Pengalaman dan yang "dicari" beda. Tapi, memang kamu memang lebih cocok nulis di blog aja."
Kawan, menulis di blog adalah comfort zone, sementara aku ingin keluar dari zona itu. Mencoba yang baru, terlibat langsung dengan para lakon dalam berita yang kuraup sehari-hari. Sejauh mana aku bisa bertahan, keluar dari imajinasi. Kali ini aku ingin terlibat dengan fakta terhampar jelas di depan mata.
Ah, kawan... Pertanyaanmu melengkapiku, seperti Batman yang melengkapi Joker.
Nyebut kata "kawan", jadi ingat Hakim B M Cintia Buana SH dan Erick Christoffel SH. Kedua hakim ini akrab dengan kata "kawan". Setiap kali sidang, terdakwa pria seringkali disapa kawan oleh mereka berdua.
Kenapa jadi ngomongin hakim? maklum, kerja di bawah payung media baru, juga pos liputan baru, setiap harinya berkawan dengan para hakim, jaksa, pengacara, panitera, dan puluhan tahanan siap sandang gelar narapidana. Pun keluarga terdakwa dan saksi-saksi. Mereka adalah remah-rotiku ke puncak pemahaman tentang hidup. Mereka melengkapiku.
Pos liputan Hukum dan Kriminal (Hukrim), sebut media tempatku mengais rejeki. Radar Bolmong, nama medianya. Iya, kawan-kawanku hampir separuh di sini, baik yang telah pergi, atau mereka yang datang duluan sebelum aku.
Mereka kerja di sini. Bukan hanya sekadar kerja, tapi menggali, menimba, dan memahami apa itu media yang sesungguhnya. Manado Post Group, siapa yang tak kenal? kata Kats (nama sapaan ketua) Uwin Mokodongan, guru sekaligus kawan, "Begitulah kerja di media sesungguhnya."
Mulanya, aku menjadi "penggores tinta", di salah satu media elektronik yang, ah, lumayan bagus sepak terjangnya, bersama Kats. Hingga diterjang badai "ego". Bubar dan meninggalkan "Sang Tuan". Nomaden, berpindah lagi ke salah satu media elektronik milik orang terpandang. Akan tetapi, rasaku, sudah tiba waktunya melompat lagi ke media yang sesungguhnya. Ingin melihat tinta tercetak nyata, bukan di maya.
Memang, ini jamannya yang maya. Akan tetapi, maya di sini belum nyata. Bahkan Jakarta belum senyata ini.
Demi kerja di sini, aku rela indekos di samping kantor. Kamarku, jarak tiga meter, dengan deru dan bising percetakan terngiang di balik bantal. Tapi, ada rasa bangga, jauh menembus kapuk. Hasil liputan kami dicetak ribuan. Tersebar ke empat penjuru Kadipaten. Dibaca ribuan "tuan" dan rakyat Bolmong.
Mau tetap enjoy dengan kerjamu kawan? Pekerjaanmu adalah kawanmu.

#Nev_Marhaen

Friday, September 5, 2014

JK (Jempol Kapalan) Demi JK (Jokowi-Kalla)


Saya jarang menonton tipi, selain program acaranya yang itu-itu saja, hanya sedikit program acara yang bergizi dan bernilai edukasi. Metro Tv satu-satunya stasiun tipi yang terkadang mengoda jemari ini untuk memencet tombol on di remote tipi.

Tapi, menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 9 Juli 2014. Saya semakin aktif menongkrong di depan layar tipi. Apapun stasiun tipi yang menayangkan soal Pilpres. Pasti saya kejar dengan jemari dan bersegera menekan tombol angka siaran stasiun tipi tersebut. Entah ruh apa yang dimiliki Jokowi, hingga setiap pemberitaan tentangnya, pasti mau saja diri ini terus update. Entah itu di media cetak, media elektronik, postingan-postingan di sosial media (sosmed) dari twitter, facebook, kaskus, atau pun di aplikasi pertemanan Blackberry Messegger (BBM). Apa terlebih setelah ada debat calon presiden (capres). Tak sabar menanti dan siap-siap melanjutkan debat dengan pendukung capres yang satunya lagi di BBM, twitter, atau facebook.

Yang paling menarik tatkala di setiap recent updates (RU) di BBM, mereka pendukung capres (calon presiden) nomor urut 1, Prabowo-Hatta, mulai melancarkan fitnah-fitnah. Dari foto-foto hasil editan, hingga status-status yang mengundang rasa geli. Saya, dan beberapa teman yang sama-sama mendukung Jokowi-Kalla, seringkali sahut-sahutan dengan mereka, dan mencoba menghadang ataupun mengklarifikasi setiap isu-isu yang coba mereka layangkan. Gayung bersambut, bahkan tak sedikit dari mereka adalah para sahabat kami sendiri. Yah, dipimpin oleh rezim militer selama berapa dekade, mungkin telah membuat mereka amnesia. Saya pikir begitu. Selain itu, meski jempol ini kapalan, membela kebenaran jauh lebih mulia tinimbang diam, duduk, dan mangut-mangut.

Dari kalangan perempuan. Seringkali saya temui alasan-alasan lucu mereka kenapa memilih capres nomor urut 1, Prabowo: dari mulai mendukung Prabowo karena ia lebih ganteng, lebih keren, dan lebih macho, hingga alasan bahwa Prabowo lebih hebat berpidato. Tak heran memang, bahkan penyanyi, dan aktor film berbakat saja, mereka nilai bukan dari kualitas, tapi dari paras. Dari kecakapan berpidato, mereka bukan melihat ide dan gagasan, tapi gestur dan verbalnya saja.

Dari delapan ratusan teman saya di BBM . Ada empat ratus lebih kontak yang terdiri dari perempuan. Dari pendukung yang militan, yang ikut rame, hingga yang, yah, alasan itu, ganteng. Saya mencoba membangun komunikasi dengan mereka, sesopan mungkin. Lantas bertanya, "Kenapa mbak milih Prabowo?". Dan seringkali jawaban mereka sama, "Prabowo ganteng!".


Ada beberapa dari mereka yang memang masuk dalam garis kepartaian. Dan mereka-mereka ini meski bumi terbelah dua, dan tempat pemungutan suara (TPS) berada di belahan bumi yang satunya lagi, tetap saja mereka akan menyeberangi langit dan mencoblos Prabowo. Maka saya tak harus menghabiskan energi dengan mereka ini. Saya lebih fokus kepada mereka yang ikut rame, sama yang memilih dengan alasan paras. Alhamdulillah, dengan sedikit "dongeng" tentang Orde Baru (Orba) yang membikin jempol ini kapalan, dan karena mereka perempuan, hati mereka pun lebih cepat terenyuh dan terengut untuk pindah posisi. On the right side. Tak sedikit, seratus lebih yang berhasil sembuh dari amnesia. Efektif.

Saya termasuk salah satu Barisan Relawan (Bara) Jokowi-Kalla di kabupaten saya, Bolaang Mongondow. Sebuah kabupaten yang sedang memperjuangkan untuk menjadi sebuah Propinsi. Di samping ikut mengkampanyekan Jokowi-Kalla di sosmed. Dari reriungan bersama teman-teman pun seringkali figur Jokowi menjadi pembahasan kami. Baik itu dengan teman-teman sesama pendukung, atau pun dengan mereka yang bukan.

Momen Pilpres kali ini sangat menguji soal kejujuran kita, karena seiring dengan bulan suci Ramadhan. Satu-satunya kaos yang bergambar Jokowi, adalah kaos pemberian yang paling berharga di tahun ini. Saya memakainya di Lebaran pertama, dengan kemeja kotak-kotak yang kubeli. Alangkah bangganya memakai kaos bergambar pemimpin negara ini, seperti Bung Karno, Gus Dur, dan sekarang ini salah satu tokoh yang mewakili wong cilik, yakni Jokowi.

Dari hasil perdebatan saya dengan beberapa sahabat yang berseberangan dengan kami. Saya wujudkan dalam salah satu puisi.

Terima kasih Pak Jokowi, Pak Jusuf Kalla. Bangsa ini tak mau lagi mendengar kata "JIKA", tapi kata "JK".

Puisi Tak Ber-jika

Derap-derap langkah yang kemarin
Terdengar ada gelisah ikut terseret
Dengan sekonyong-konyong dua pesan kupunguti di ubin dingin
BERBUAT!
Isi pesan itu
Sedangkan pesan yang satunya tak kubuka

Kata si itu lebih pantas jika puisi cinta untuk Nusa
Saat ini, iya, kala kata kalah jadi cela
Tapi, puisi itu tak ber-jika, puisi itu tak ber-nusa
Puisi itu serupa sayatan angin di lindap subuh
Menyayat dedaunan berembun
Dingin, diam, dan... Ah, biarkan Ilahi menggumamkannya

Bahkan puisi tak bisa dipelajari
Ia suci tapi tak dirangkuli sampul kitab
Bait-baitnya hadir saat subuh hendak menyetubuhi malam
Lalu berbisik, "Bangun Nak, hari baru, Nusa baru, tanpa jika!"

Kembali puisi itu berbisik, tak lirih, ada nada berat mencubiti setiap tanya
"Kenapa tak kau buka pesan yang satunya lagi?"

Genggam tiba-tiba merekah
Di secarik kertas kusut di sana tertulis
"Kita menang Nak, bukan lagi jika!"

Thursday, August 28, 2014

Konstatasi, Kualifikasi, dan Konstitusi


Ratusan kasus atau perkara berbeda yang bertengger, datang dan pergi, di sebuah gedung yang bernama Pengadilan Negeri Kota Kotamobagu. Muara dari semua rekam-jejak dan putusan peristiwa pidana maupun perdata di Bolaang Mongondow Raya.

Pengadilan Negeri Kota Kotamobagu. Gedungnya dua lantai yang diapit oleh Jalan Ade Irma dan Jalan Datoe Binangkang, di pusat Kota Kotamobagu.

Lingkungannya asri didekap rerimbun pepohonan. Saat masuk, sebuah tangga di sebelah kiri menuntun kita ke lantai dua, di mana para hakim berkantor dengan tumpukan perkara di dalam hati dan akal mereka, untuk ditimang-timang.

Sementara untuk dua ruang sidang perkara, tangganya paling belakang bangunan, pun ada musholah di sana. Ruang sidang yang di sebelah kanan saat kita kesana, ada dua sel tahanan tiarap di bawah tangga. Di situ tempat bercokol para tahanan dengan mimik wajah dan perkara yang berbeda-beda. Nasib mereka, tergantung dari ketukan palu sang hakim.

Enam orang hakim yang tersisa di Pengadilan Negeri Kotamobagu ini. Ketua Majelis Hakim namanya I Dewa Made B. Watsara S.H, yang masing-masing formasi hakim anggotanya, Christy A. Leatemia S.H dan Harianto Mamonto S.H. Sedangkan formasi satunya lagi, Hakim Ketua Nur Dewi Sundari S.H, dengan hakim anggotanya Erick I. Christoffel S.H dan B. M. Cintia Buana S.H.

Ketika para hakim menganalisa sebuah perkara, itu tidak mudah. Ada tahapan-tahapan di mana setiap perkara harus ditelisik seksama.

"Mulanya kita mengkonstatir perkara, kita menganalisanya lalu merumuskan peristiwa. Setelah itu kita mengkualitisir, menetapkan peristiwa hukumnya dari yang sudah dikonstatir. Nah, tahap ketiga kita mengkonstituir, tahap penetapan hukum dan memberi keadilan suatu putusan," jelas Erick layaknya seorang dosen Fakultas Hukum kepada mahasiswanya.

Seringkali juga diakui Erick, bahwa beban psikis hadir seketika saat menganalisa sebuah perkara yang berbeda-beda.

"Beban psikis pasti ada. Perkara yang kita analisa berbeda-beda," akunya, Kamis (28/8) kemarin. Saat itu ia duduk di kursi dan meja kerja yang berdekatan dengan pintu masuk ruang sidang sebelah kanan, dari arah pintu masuk para hakim menuju ruang sidang. Selangkah dua langkah saja, ruang sidang terbentang sudah.

Sesaat kemudian, ia bersiap diri menuju ruang sidang, sembari membuka lemari tempat "jubah keadilan" menggantung di dalam. Sebuah bef putih berbentuk dasi dikalungkan di leher. Disusul toga hitam yang sudah terjahit simare merah dikenakannya. Tampak bef menyembul keluar dari dalam balutan toga.

Kali ini, Hakim Ketua Nur Dewi Sundari S.H, Erick I. Christoffel S.H dan B. M. Cintia Buana S.H, tepatnya akan memutuskan sebuah perkara pidana perlindungan anak. Sebuah sidang tertutup untuk umum.

Di dalam ruang sidang yang terlihat lapang, berjejeran di belakang, kursi memanjang yang dikhususkan bagi pengunjung sidang yang, kali ini hanya seorang tahanan dengan rompi oranyenya menunggu lugu. Jaksa Penuntut Umum dan seorang pengacara duduk di tempat biasanya, mereka berdua duduk di samping kanan dan kiri, serupa pengawal keadilan. Seorang panitera pun telah siap dengan pena di samping kiri para hakim, jika posisi kita dari pintu masuk pengunjung sidang. Setelah itu pintu ditutup rapat oleh penjaga. Ketukan palu terdengar. Nasib terdakwa ditentukan di dalam.

Setelah sidang putusan selesai, Hakim Ketua Nur Dewi Sundari S.H, meluangkan waktu untuk diwawancarai.

"Setelah semua tahap, kami musyawarah. Dan pada saat sidang, kami harus yakin saat membacakan putusan dan mengetukkan palu. Beban psikis saat memutuskan itu tidak ada, karena kita sudah melewati semua tahap saat menganalisa perkara," jelas hakim yang biasa disapa Dewi. Ia memang satu di antara dua "dewi" di Pengadilan Negeri ini, yang satunya lagi Christy A. Leatemia S.H.

Tidak mudah menjadi seorang hakim. Dari memeriksa sebuah perkara, menganalisa secara seksama, hingga merunutkan sebuah peristiwa. Di "jubah keadilan" para hakim, terjahit pula ratusan helai benang perkara, hingga kebenaran terurai dan diputuskan dengan gema ketukan palu.

Wednesday, August 13, 2014

Kopi Kotamobagu


Kopi Kotamobagu


Gunung Ambang terlihat dari Tudu Passi.
Gunung Ambang terlihat dari Tudu Passi.

Kotamobagu adalah salah satu kota di provinsi Sulawesi Utara. Dulunya wilayah ini menjadi ibukota kabupaten Bolaang-Mongondow. Setelah terjadi pemekaran wilayah, Kotamobagu menjadi masuk wilayah kotamadya dan ibukota kabupaten berpindah ke kota Lolak. Wilayah Kotamobagu dikelilingi pegunungan. Dari sekian gunung yang di sana terdapat satu gunung yang paling mencuat. Gunung Ambang namanya.

Dari tanah di sekitar gunung Ambang inilah dulu kopi Kotamobagu dihasilkan. Sama seperti wilayah lain di Nusantara, kopi menjadi tanaman yang wajib tanam penduduk pada jaman penjajahan Belanda di daerah ini. Tanaman kopi ditanam di lahan belakang rumah atau di lahan perkebunan. Sampai sekarang sebagian kecil penduduk desa masih mempertahankan untuk membudidayakan tanaman kopi.

Desa saya, desa Passi, terdapat di bagian puncak salah satu bukit di Kotamobagu. Dari desa ini jika kita naik ke puncak bukit yang disebut Tudu Passi, kita bisa menikmati kopi Kotamobagu sambil melihat pemandangan yang terhampar luas termasuk kerlap-kerlip Kotamobagu di malam hari.
Secangkir Kopi Kotamobagu siap disruput.
Secangkir Kopi Kotamobagu siap disruput.

Ada satu kisah yang menohok hati beredar kala kopi masih menjadi pundi gulden bagi kas kolonial Belanda. Kisahnya, di setiap dasar lesung yang terparkir di rumah-rumah penduduk diberi plakat dari tembaga yang berguna untuk memantau lesung itu digunakan untuk menumbuk padi atau biji kopi. Siapa yang ketahuan telah menumbuk kopi akan dihukum tembak. Bayangkan saja, untuk menikmati secangkir kopi nyawa menjadi taruhan. Di hitam cangkir kopi kita sekarang, selalu ada cerita kelam dan perjuangan di baliknya. Ada kisah penindasan juga kisah heroik yang tenggelam di hitam kopi. Karena dengan tindakan sewenang-wenang penjajah saat itu, bangkit jiwa untuk melawan dari rakyat. Kopi adalah revolusi. Hal ini memperkuat pendapat bahwa di setiap revolusi ada andil bercangkir-cangkir kopi yang menghadirkan buah-buah pikiran perlawanan.

Setelah masa kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945 hingga kini kopi Kotamobagu masih tetap bertahan dari segala perubahan jaman. Meski banyak juga yang telah menggantinya dengan tanaman yang lebih menjanjikan seperti tanaman vanilli dan cengkeh, karena mengejar harga vanilli dan cengkih yang sempat melambung tinggi. Tanaman kopi masih terus bertahan di daerah kaki gunung Ambang, tepatnya di kecamatan Modayag. Desa-desa di kecamatan ini sebagian kecil masih menjadi penghasil tanaman kopi. Dulu, sebagian dari penduduk desa ini datang dari pulau Jawa sebagai buruh di perkebunan kopi pada jaman penjajahan Belanda. Sampai masa kemerdekaan mereka beranak-pinak dan memilih tinggal. Sekarang, para penghasil kopi sudah tersebar di wilayah-wilayah lain di kabupaten ini.

Kopi Kotamobagu merupakan jenis arabica yang ditanam pada ketinggian 600-2200 mdpl di kaki dan punggung gunung Ambang. Kopi Kotamobagu sudah cukup terkenal kenikmatannya. Dalam gala dinner antara pemerintah Republik Ceko dan Kedutaaan Besar Indonesia kopi Kotamobagu turut dihadirkan. Kopi ini merupakan trade mark provinsi Sulawesi Utara, dan menjadi satu-satunya produk kopi berkualitas di sana yang tidak kalah dengan jenis kopi-kopi lainnya di Indonesia. Meski kita tahu bahwa soal citarasa mungkin lebih bersifat subjektif, tapi untuk bisa berkomentar lebih Anda harus mencoba kenikmatan kopi Kotamobagu ini.
Kopi Kotamobagu
© kopikotamobagu.com

Ada satu kedai kopi di Kotamobagu yang sekarang cukup populer meski tempatnya kecil layaknya kedai-kedai kopi biasanya. Tak sulit untuk menemukannya karena kota ini tak terlalu besar. Letaknya tepat di depan lapangan desa Sinindian yang tak jauh dari pusat kota Kotamobagu. Namanya mirip dengan nama tempat minum kopi di kota Manado yakni Jarod (jalan roda). Bedanya di sini bukanlah sederetan kedai-kedai kopi. Hanya ada satu kedai kopi. Saya lebih suka menamainya Kedai Kopi Aba' (sebutan di sini untuk orang tua yang artinya sama dengan sebutan ‘Abah’). Aba' pemilik sekaligus peramu kopi cukup familiar di seantero Kotamobagu.

Meski kedainya sederhana tempat ini dilengkapi fasilitas jaringan wi-fi, dengan pengunanya dipungut biaya Rp 5.000 setiap datang berkunjung. Aba' tak ketinggalan jaman meski usianya hampir menginjak 50 tahun (prediksi saya). Selain untuk menarik pelanggan, Aba' cukup tahu apa yang dibutuhkan orang-orang saat ini untuk bisa mengakses informasi selain tumpukan koran di meja rotannya. Itu yang membuat banyak mahasiswa dan wartawan sering mangkal di sini. Para pejabat kabupaten sesekali juga datang berkunjung, kemudian berbincang-bincang soal isu hangat perkembangan politik. Secangkir kopi dan roti bakarnya harganya cukup murah meriah. Uang limabelas ribuan tak akan tandas di kantongmu.

Sebenarnya selain di kedai kopinya Aba', ada beberapa tempat tongkrongan lain yang menyajikan minuman kopi di kota ini tapi tak sepopuler tempatnya Abak. Mungkin karena rasanya yang khas mampu meringkus hasrat orang-orang untuk selalu kembali ke sini. Kopi ini dibikin dari sejuta pengalaman hidup Aba' dengan cerek kopinya. Cara membuatnya pun sederhana. Cukup menjerang air dengan campuran kopi Kotamobagu dan gula yang hanya Aba' sendiri tahu takarannya. Kopi panas tersaji begitu cepat dan cekatan. Sempat saya berpikir, jika Aba' nanti mangkat, posisinya akan digantikan oleh siapa, karena tak pernah saya lihat ada orang lain di sana selain tubuh ringkih namun cekatan ini. Semoga saja Aba' selalu dianugerahi kesehatan dan umur panjang agar kami masih tetap bisa menjadi bala seruputnya. Satu yang Aba' tak bisa lakukan adalah menahan tidur dengan lebih lama, pukul 01.00 lewat tengah malam ia sudah dibuat menyerah oleh kantuk. Dan para pengunjungnya pun memaklumi.

Hingga hari ini saya cukup lega karena meski telah menetap di Bali, tapi masih saja sering dikirimi kopi Kotamobagu oleh keluarga. Pernah pula saya membaca buku Dewi Lestari, Filosofi Kopi. Dari sana saya bersama seorang teman tergerak hati ingin membuka rumah kopi sekaligus rumah baca di kota Lolak. Kami memilih kota itu, karena selain tak ingin bersaing dengan kedai kopinya Aba' atau lebih tepatnya khawatir kalah bersaing, lahan di sana adalah satu-satunya lahan yang tersedia dan milik teman saya. Kedai impian itu bakal diwujudkan sekembalinya kami dari perjalanan mengelilingi nusantara. Teman saya pun masih akan menyelesaikan studi di kota Makassar.

Secangkir kopi adalah mimpi. Hitamnya adalah warna pembuka kita saat bermimpi. Hari ini, mau pagi, siang, sore atau malam, saya masih menyempatkan diri beranjak untuk menjerang segelas air, dengan dua sendok kopi Kotamobagu, satu sendok gula pasir “Persia” diaduk melawan atau pun searah jarum jam hingga uapnya berfatamorgana. Kopi Kotamobagu siap diseruput. Tersesap begitu nikmat di dalam mulut. Lengkaplah sudah komposisi hari ini.

(Artikel ini pernah dimuat di www.minumkopi.com website punyanya Puthut Ea (penulis), tapi ada beberapa kesalahan editing, jadi di sini saya edit lagi) :D

Thursday, August 7, 2014

Gelora Ambang, Riwayatmu Kini...

Penulis: Kristianto Galuwo 

Gelora Ambang, stadion yang pernah menjadi kebanggaan kita. Saya yakin, ada banyak kenangan, pengalaman, kisah, dan prestasi yang pernah terukir di sini, oleh kita orang Bolaang Mongondow.
Bukan sedikit cerita yang pernah saya dengar tentang Gelora Ambang dari mereka yang di era 80 hingga 90-an adalah remaja-remaja yang aktif dan penuh kenangan di stadion ini. Ada lomba renang, pertunjukan sandiwara, teater, pacuan kuda, ragam perlombaan seni budaya, kejuaran atletik, dan pameran. Bahkan arena konser artis-artis lawas seperti: Nike Ardila, Poppy Merkuri, Andy Liani, Power Metal, Andromeda Band, Nicky Astria, Gito Rollis, Ikang Fauzi, dan sederet artis ibukota lainnya termasuk yang paling jadul, Euis Darliah. Saya salah satu yang pernah menyaksikan langsung  konser Power Metal, saat  masih duduk di bangku sekolah dasar.

Waktu melaju cepat, kekuasaan berganti,  stadion yang dibangun pada era kepemimpinan Bupati Drs Jambat Damopolii (alm) yang dahulunya dikunjungi ribuan manusia, kini sepi dari riuh kegiatan, bak bentangan belantara belukar yang mengubur ribuan kenangan pada masa keemasan di jaman 80 hingga 90-an.

Tapi stadiun ini, di awal millenium, seolah kembali menemukan roh-nya lewat aksi Persibom yang seolah hadir sebagai pengganti kuda-kuda pacu yang ‘mati’, pertunjukan seni budaya yang hilang, perlombaan ragam jenis olah raga atletik, entertain, serta pameran pembangunan yang dahulu biasa di gelar pemerintah kabupaten di tempat ini.

Saya mungkin adalah generasi penghabisan yang, masih sempat menyaksikan langsung kejayaan Persibom berlaga. Baru-baru ini, saat mencoba menengok kembali gambaran-gambaran yang pernah ada di stadion yang kini merana, sontak ada rasa sedih mengharu-biru dan menggulung dalam benak;  dulu kami berdesak-desakan di sini, mengantri tiket masuk, menyoraki Persibom, dan pulang dengan rasa bangga meski seringkali juga dengan kepala tertunduk.

Tapi pekan kemarin, ketika memacu sepeda motor ke tempat ini, mulut saya ternganga melihat Gelora Ambang yang kini bak hutan belantara; tribun depan yang digulung semak-belukar, puluhan mess atlit yang raib entah kemana hingga menyisakan reruntuhan pondasi pondok yang berbentuk semacam batu kubur yang tak dikenali. Lapangan basket yang digagahi belukar, arena teater yang menyimpan bau pesing jaman ‘purba’, dan pemandangan lain menyerupai bangunan bangunan ‘mati’ di Chernobyl  Ukraina.

Saya lantas berkendara  ke area tribun sebelah barat yang dibangun pada masa kejayaan klub sepakbola Fajar Bulawan era kepemimpinan Bupati Marlina Moha Siahaan. Tribun yang dulu disesaki para Bom Mania kini lebih mirip gudang  kayu  yang  jadi santapan rayap. Tinggal tunggu topan meniup maka bablaslah sudah.  Belukar juga ganas menggerayangi onggokan kayu yang rapuh.

Saat sedang miris dengan pemandangan ini, telinga saya menangkap sayup  suara anak-anak yang sepertinya datang dari arah kolam renang. Saya bahkan hampir tidak bisa menemukan jalan ke arah itu sebab belukar rimbun di mana-mana. Sejenak sempat usil berpikir, jangan-jangan itu suara penunggu Gelora Ambang. Maklum, suasana horror entah kenapa cepat menyergap  tatkala berada di sini.

Saya bergerak mencari ringkih suara yang tersisa itu dan akhirnya menemu jalan tikus yang menuntun saya memasuki area kolam renang.  Gerimis turun ketika itu. Ada empat orang  bocah laki-laki dan dua perempuan yang sedang mandi. Ada dua fasilitas kolam renang di sini; yang berukuran besar tinggal menambah kemirisan tatkala pemandangan yang ditampilkan adalah ubin raksasa tempat berkubangnya rawa dan tetumbuhan yang akan cepat benakmu mengambil prasangka bahwa, jangan-jangan ada anakonda bersemayam di situ, atau mungkin buaya, soa-soa (biawak), patola (ular piton) dan binatang berbisa lainnya. Sedangkan kolam yang satunya lagi, di mana para bocah sedang latihan berenang, itu satu-satunya fasilitas yang dirawat seadanya oleh seorang perempuan berumur  50-an yang biasa disapa Tanta Ebi.

Ia adalah penjaga  kolam. Suaminya “juru kunci” Gelora Ambang.  Perempuan ini membuka  kantin seadanya di tepi kolam yang menawarkan pisang goroho goreng sebagai menu andalan. Sebagai penjaga kolam yang luput perhatian dari pemerintah, ia cukup meminta Rp 3.000 kepada setiap orang yang datang mandi sepuasnya.

Usai bercakap-cakap sejenak dengan Tanta Ebi, saya pamit pulang dan menyempatkan diri  bersinggah di Kantor Pemkot Kota Kotamobagu hendak menemui  Asisten III, Dra Djumiati Makalalag, untuk bertanya seputar status Stadion Gelora Ambang yang masih terhitung sebagai aset Pemkab Bolmong.

Ia tak berada di tempat sehingga saya mengontaknya melalui telepon selular. Makalalag, menyampaikan bahwa saat pemekaran dan Ibukota Kabupaten Bolaang Mongondow pindah ke Lolak, aset itu masih terhitung sebagai aset milik Pemkab Bolmong dan hingga kini belum ada penyerahan secara resmi.

“Memang baru-baru ini antara Pemkot dan Pemkab, ada rencana pembahasan untuk penyerahan aset secara resmi. Tapi waktunya belum disepakati kapan persisnya,” kata Makalalag melalui pesan singkat via handphone, Rabu 30/10/2013, lalu ia menyarankan saya selaku wartawan lintasbmr.com supaya bertemu langsung dengan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Kotamobagu Mustafa Limbalo, atau menemui Kepala Dinas PPKAD.

Pada sebuah kesempatan saat  Dialog Publik yang dilangsungkan HMI Bolmong pada, Sabtu 16/11/2013, di Restoran Lembah Bening Sinindian, saya sempat bertemu Sekda Kota Kotamobagu Mustafa Limbalo dan menanyakan soal status Gelora Ambang. Dikatakan oleh Limbalo bahwa, Gelora Ambang memang terhitung sebagai  salah satu aset di antara 39 aset milik Pemkab Bolmong yang masih berada di wilayah Kotamobagu. Ia mengatakan, persoalan aset ini akan segera diselesaikan dalam waktu dekat ini.

Untuk diketahui, persoalan aset milik Pemkab Bolmong yang berada di wilayah pemerintahan Kotamobagu, hingga kini masih terkatung-katung pengelolaanya semenjak Ibukota Kabupaten Bolaang Mongondow pindah ke Lolak tahun 2010 silam. Mengemuka wacana  agar aset yang tertinggal, diserahkan saja pihak Pemkab Bolmong ke Pemkot Kotamobagu. Para pemangku kebijakan antara kedua belah pihak telah ada kata sepakat. Akan tetapi realisasi penyerahan aset tersebut hingga saat ini urung dilakukan. Alhasil, banyak aset terbengkalai, termasuk bekas Kantor Pemkab Bolmong dan sejumlah kantor SKPD, termasuk Rumah Jabatan Bupati di Bukit Ilongkow yang santer dijadikan lokasi judi sabung ayam oleh masyarakat.

Akan halnya dengan Stadion Gelora Ambang, aset yang satu ini memang sudah lama terbengkalai melewati hitungan 1 dekade bahkan  sebelum pemekaran terjadi dan jauh hari sebelum pemerintah kabupaten Bolaang Mongondow pindah alamat ke Lolak, kondisi stadion Gelora Ambang memang sudah ‘sakit’ kronis.

Ah, Gelora Ambang. Riwayatmu kini....

 (Tulisan ini pernah dimuat di media elektronik www.lintasbmr.com, waktu saya masih sebagai reporter di media itu. Saya bermaksud ingin mengabadikan tulisan ini di blog pribadi saya.)

Wednesday, August 6, 2014

Laksi Pamuntjak di: “Sepuluh Jam Untuk Sastra Indonesia”

Tulisan ini, ingin saya simpan di Getah Semesta.

Paris...
07 Desember 2008

Oto-fiksi dalam Sastra Indonesia: Pramoedya Ananta Toer dan Nh. Dini.

Oleh: Laksmi Pamuntjak

Saya ingin membuka percakapan ini dengan mengutip penyair John
Ashberry. Dan kalimat ini tidak terdapat dalam salah satu puisinya,
melainkan muncul dalam sebuah ceramah di Columbia University . " Ada
saatnya kita sadar bahwa tak ada satupun laku manusia yang lebih
dramatis dan meyakinkan ketimbang laku kita sendiri."

Saya sering merenungi kalimat ini. Nampaknya John Ashberry tak hanya
membuat sebuah komentar estetik tentang hidup dan karya orang-orang di
sekitarnya, tapi juga tentang masa sekarang, masa di mana kita hidup,
dan juga tentang perubahan fundamental—yang tak selalu disadari—dalam
bagaimana kita bercerita.

Dengan kata lain, John Ashberry mempermasalahkan efektivitas narasi
tradisional dalam membangun plot, dan dalam menjalin sejumlah aksi
manusia melalui tokoh yang bukan diri kita sendiri—yang berhasil
melampaui hukum alam dan mengambil alih baik diri mereka sendiri
maupun kondisi yang mereka alami—dengan cara yang meyakinkan dan
"nyata" bagi para pembaca.

Izinkan saya bercerita tentang pengalaman saya sendiri. Suatu hari,
saya mengirim pada teman saya 29 halaman cerita pendek saya lewat
email, cerita pendek yang tadinya saya niatkan sebagai sebuah
"novella." Saya ingin mendengar pendapatnya mengenai tulisan yang
berdasarkan hidup saya sendiri itu. Sembilan bulan lamanya saya
bergulat dengan teks ini; ia membuat saya bahagia sekaligus tersiksa.
Kadang saya merasa ia berada dalam kendali saya, tapi lebih sering ia
menyeret saya ke dalam alurnya sendiri. Ia membebaskan sekaligus
mememenjara.

Teman saya ini seorang teman lama. Ia seorang pembaca yang cermat dan
terlatih. Terhadap sebuah teks, ia kritis dan menuntut; ia terus ingin
tahu, ingin tahu lebih banyak, mengenai hidup manusia yang terkandung
dalamnya. Ia memilih subyek yang menarik minatnya, kemudian
menyelaminya dengan ketekunan seorang ilmuwan. Ia menilik untuk
mengerti, ia mengerti untuk puas.

Entah berapa surat terlayang di antara kita. Tentu, ia juga bercerita
mengenai dirinya, tapi yang mengalir, sesungguhnya, adalah sungai
kenangan saya.

Dan apa kata kawan saya itu, yang pagi itu menatapi saya tajam-tajam,
tak ubahnya seorang guru terhadap muridnya? "Kamu menutup-nutupi
begitu banyak hal mengenai dirimu." katanya, "Sebagai orang yang cukup
tahu apa yang telah kamu lalui, saya terus terang tak puas."
Masalahnya cukup sederhana, katanya: detailnya tidak cukup.

Pada titik itu saya terhenyak. Ia memang buru-buru menambahkan bahwa
pendapat ini berasal dari seseorang yang merasa mengenal saya;
seseorang yang punya bias, yang mungkin menjadikannya "… bukan seorang
kritik yang tepat, karena saya sudah terlalu masuk dalam detail
kehidupanmu." Tapi saya merasa bukan itu persoalannya: saya yakin ada
sesuatu dalam struktur atau roh tulisan itu sendiri yang tak memadai,
yang tak "menjadi". Kecurigaan saya terbukti ketika ia menambahkan
bahwa selama ini ia lebih sering membaca novel – novel dalam arti yang
tersempit: yang punya awal, bagian tengah dan akhir, dengan titik di
mana ia "selesai".

Siang itu saya pulang ke rumah dengan perasaan tak karuan. Saya merasa
gamang, tercerabut. Saran kawan saya menghisap pengetahuan saya
mengenai diri saya sendiri: benahi kronologinya, perjelas setiap
lokasi, terangkan hubungan si ini dan si itu, perkenankan kita menemui
lagi karakter ini … semuanya tuntutan bahwa yang diekspresikan harus
juga dijelaskan.

Pada akhirnya, saya tetap bertahan dengan struktur lama. Ini bukan
karena saya tak bersedia menerima kritik, tapi karena saya yakin bahwa
persepsi kita mengenai fiksi – apalagi fiksi yang berangkat dari
otobiografi – tidak cocok. Saya tak mau terlalu jauh menyimpulkan
bahwa latar belakang disiplin kita yang berbeda – ia ilmu pasti, saya
humaniora – juga berperan dalam cara kita melihat apa yang relevan
dalam kedirian seseorang. Tapi kehausan akan detail itu, akan yang
"benar" dan yang sahih (dan ia bukan pembaca yang malas, atau yang tak
imajinatif) mau tak mau adalah sesuatu yang kualitatif, sesuatu yang
hanya bisa diukur dan diperiksa dari terjadi atau tidaknya sesuatu –
kapan, bagaimana dan mengapa – sesuatu yang bisa dirunut sebab dan
akibatnya. Dengan kata lain, sesuatu yang bersumber dari fakta.

***

Masalah yang mendasar dalam fiksi otobiografi sebenarnya bukan dalam
mengolah dan menyeimbangkan unsur fiksi dan fakta, tapi dalam
memutuskan fakta mana yang harus disingkap dan mana yang tidak, antara
"kebenaran" dan "setengah-kebenaran". Dalam fiksi dan dalam
otobiografi, narator orang pertama selalu memerlukan sebuah dalih,
sebuah helat, untuk memulai.

Sebelum abad ke 20, berbicara mengenai diri sendiri, baik dalam laku,
lisan maupun tulisan, tak pernah merupakan sesuatu yang terpuji:
novel-novel dan otobiografi-otobiografi klasik yang berpura-pura
menjadi memoar orang lain rata-rata dimulai dengan apologia bagi si
Aku. Zaman sekarang pun, ketika ke-aku-an tak lagi perlu dibela,
sebuah buku telaah diri, sebuah novel mengenai pribadi penulis,
senantiasa mengundang pembenaran. Mungkin akan "berguna" bagi orang
lain. Saya harus menuliskan hidup saya. Ada sesuatu yang ingin saya
gali, yang saya tak mengerti. Ini bukan mengenai saya, ini mengenai
orang lain. Mengenai orang-orang banyak.

Bagi banyak pengarang kontemporer, otobiografi – atau
semi-otobiografi, pengadopsian yang imajinatif dari sebuah persona –
adalah cara terampuh untuk membuat fiksi mereka berbicara, mengenai
dan terhadap keterasingan dan kekacauan hidup modern. Mereka melekat,
menyambalewa tak ubahnya sesosok bayangan abadi, di tapal batas
nonfiksi dan otobiografi. Dan inilah yang sesungguhnya mengusik kawan
saya, sang penggemar novel, beserta para tradisionalis lain. Mereka
terusik karena mereka tak menyadari bahwa novel zaman sekarang
tetaplah novel, bahwa sesuatu yang dihimpun dari ke-tak ada-an secarik
kertas kosong dan kesunyian sebuah ruang tak kalah absahnya dengan
sebuah cerita epik yang menghadirkan puluhan tokoh dan hamparan
geografi yang luas.

Betapapun, kecenderungan baru ini – yang tak begitu baru lagi di
Eropa; usianya paling tidak sudah lebih dari satu abad – masih saja
dipermasalahkan di Amerika, tak jarang dengan nada cemooh. Reaksi ini
memang konsekuensi alamiah dari bagaimana fiksi dan otobiografi
diajarkan secara tradisional: salah satunya melalui kontradiksi.

Pertama, kita diajarkan bahwa penulis diharuskan menulis hanya
mengenai apa yang ia ketahui. Kedua, bahwa otobiografi, memoar, jurnal
dan surat-menyurat dianggap bentuk-bentuk artistik yang inferior
terhadap novel tradisional. Tapi, dengan demikian, bagaimana kita bisa
menilai Midnight's Children, yang diakui sendiri oleh pengarangnya,
Salman Rushdie, sebagai karya berlandaskan visi "cermin yang pecah",
sebuah dunia setengah nyata setengah maya yang riap dan lebat, yang
disusun di atas ingatan yang "khilaf"?

Kita semua tahu, Rushdie melewatkan separuh hidupnya di luar Bombay ;
sebelum menulis Midnight's Children, yang terbit tahun 1981, ia
mengunjungi kota kelahirannya untuk "mengingat": pakaian orang pada
tahun 50 dan 60-an, poster film dan iklan, lagu-lagu lama. Karena,
secara kuantitatif, "mengingat" adalah lain dari "mengetahui",
haruskah kita mempermasalahkan validitas dan otentitas penulisnya
sesuai dengan diktum di atas, tanpa memedulikan pengaruh karya itu
pada kesadaran kita? Pada saat yang sama, bagaimana kita menghargai
jurnal Sylvia Plath, yang menyingkap sesuatu mengenai anatomi depresi
(yang, kita semua tahu, berakhir dengan tragis?) James Joyce dengan
The Portrait of an Artist as a Young Man? Rilke dengan The Letters of
a Young Poet-nya (yang, hampir satu abad kemudian, dicontoh dengan
brilian oleh satiris Vanity Fair Christopher Hitchens)? Bagaimana kita
menjelaskan sekaligus menciutkan peran Grace Paley dalam sastra modern
– ia yang selama karirnya berfiksi memakai tokoh Faith, seorang ibu
beranak dua, sebagai alter-egonya? Atau Umar Kayam, dengan tokohnya Ki
Ajeng dalam Manga Ora Mangan Kumpul, yang kita semua tahu adalah
alter-egonya?

Pergeseran fiksi dari kanvas-kanvas besar – mitos, laga, cerita epik –
ke dalam narasi kehidupan sebagaimana hidup itu sendiri – sesuatu yang
diinternalisasi, patologis, dan quotidian – berlangsung pada saat yang
sama radio, majalah dan film menjadi bagian kesehari-harian kita.
Begitu rupa hingga kita layak bertanya: mengapa, di zaman tabloid dan
televisi, kisah-kisah heroik harus dibebankan pada para penulis? Kita
tahu anasir-anasirnya: "Fakta lebih seru dari fiksi!", "Kita bercerita
kepada diri kita sendiri supaya tetap hidup."

Kita telah tiba di sebuah zaman di mana fantasi dan faktafiksi
diborong oleh medium-medium elektronik yang membawa semacam kondisi
kultural "keterasingan" di tengah apa yang sebut impuls elektronik.
Kita membutuhkan sebuah suara yang dapat menembus dinding, semacam
lorong kontak, di tengah deru informasi, eksibionisme, Oprah Winfrey,
dan mekanisme pemasaran 24 jam yang kita kenal sebagai "seni
komunikasi."

Dan oleh karena itulah para penulis mulai melongok ke peti diri, dan,
dengan girang campur takjub, menemukan hal-hal yang kecil, intim tapi
tak kalah menarik di dalamnya. Kita harus tahu, harus mencari tahu,
bagaimana orang lain hidup—di balik pintu dan jendela tertutup rapat,
di sisi weker yang tersetel pada jam-jam tertentu, di tengah
suara-suara yang terbungkam, di dalam ruang-ruang yang terapit dan
terancam. Psike sang individu, si "aku", yang tercerabut dari segala
apa dan senantiasa dirundung bahaya, adalah psike seorang dalam
perjalanan; perjalanan tersebut, tanpa awal dan akhir yang jelas, dan
tanpa garansi akan adanya perubahan, sesungguhnya adalah esensi Kisah
Modern, atau "the modern story." Dan dengan demikianlah, sejarah kita
urai, helai demi helai.

Chairil Anwar pernah mengatakannya: terbang dengan the only possible
non-stop flight, sonder menemu, sonder mendarat. Saya rasa ini bukan
saja sebuah pekik kemerdekaan, tapi juga pengakuan atas batas yang
dihadapi manusia justru ketika ia mencari dirinya. Dalam sajak "Senja
di Pelabuhan Kecil", Chairil meloncat-loncat begitu saja ketika
menghadirkan pelbagai benda-benda di depan matanya ("gudang", "rumah
tua", "tali temali") dan ia membaurkan semua itu, secara simultan,
dengan baris-baris solilokui tentang isi hatinya; ia juga membawakan
bunyi-bunyi kata yang sangat beragam dan perhentian yang tak
terduga-duga di tengah kalimat. Realitas dari luar dan dalam dirinya
mengalir, dan pertemuan terjadi dengan yang kebetulan, langsung,
individual, sekaligus begitu jauh dan dekat, tanpa bisa
diklasifikasikan.

Pada akhirnya, di penghujung abad ke 20, sastra memang melakukan yang
hanya bisa dilakukan oleh sastra: menyelusup ke dalam kepala orang
lain, mengalami sejenak bagaimana rasanya menjadi seseorang yang bukan
kita. Ia mengekspresikan, bukan menjelaskan; ia merupakan penyingkapan
kehidupan interior yang tak habis-habis, di mana si aku adalah
penghubung antara kenyataan dan imajinasi. Apabila abad ke 19 berpusat
pada perkembangan sebuah keadaan, kata penyair Italia Cesare Pavese,
abad ke 20 adalah mengenai esensi yang statis.

Tapi, memang bukan tanpa masalah. Sebuah narasi orang ketiga, berbeda
dengan orang pertama, dengan sendirinya mampu menciptakan ilusi bahwa
cerita itu sedang berlangsung sekarang, saat ini. Kisah seorang
narator orang pertama, tidak bisa tidak, harus mengenai masa lalu.
Bercerita adalah menceritakan kembali. Dan pada saat itulah terbuka
kemungkinan untuk salah. Salah karena satu atau lain hal: ingatan yang
khilaf, jiwa manusia yang tak terbaca, jarak yang meniadakan antara
masa lalu dan masa kini, keterbatasan bahasa.

Javier Marias menulis, dalam kalimat-kalimat pertama Dark Back of Time:

"Saya percaya saya masih belum pernah keliru dalam membedakan fiksi
dan realita, meski saya telah mencampuradukkan keduanya lebih dari
sekali, seperti halnya semua orang, tak hanya para novelis dan penulis
tapi semua orang yang telah menceritakan sesuatu semenjak permulaan
waktu, dan tak ada satupun orang di dalam waktu yang diketahui itu
telah melakukan sesuatu di luar bercerita dan bercerita, atau
menyiapkan, atau memikirkan sebuah cerita, atau merencanakannya. Siapa
saja bisa menyampaikan sebuah anekdot mengenai sesuatu yang terjadi,
dan karena menyatakan sesuatu adalah menyimpangkan dan
memutarbalikannya, bahasa tak kuasa mereproduksi kejadian dan oleh
karenanya tak perlu mencoba melakukannya sama sekali …"

Dengan kata lain: menceritakan kembali sama saja dengan fiksi.

Monday, August 4, 2014

Puisi Berbalas

:: Gaza tak perlu metafora ::

maaf saya tidak tahu kalau ada
Agama bernama zionis dan hamas
zionis itu Yahudi, hamas itu Islam
apa harus begitu kita tafsirkan

Agama apa, alasan apa
tanpa dosa, tanpa rasa
membunuh wanita dan balita tak berdaya
merobohkan masjid dan gereja,
hancurkan rumah sakit dan sekolah

dalam cengkraman kebiadaban yang nyata
puisi sama hambarnya dengan air mata
sebab bicara tentang Gaza
tak perlu lagi metafora
semua punah karena senjata

*Jamal Rahman Iroth
(Malam Lebaran 2014)

Gayung bersambut untuk puisi Jamal.

~ Gaza dan Puisi ~

Gaza perlu puisi, kah?
Air mata itu puisi
Metafora dari langit

Gaza perlu puisi, kah?
Puisi ialah bahasa suci
Mampu meringkus nyata

Gaza perlu puisi, kah?
Metafora adalah ayat
Perlu ditafsir mereka yang beradab

Gaza perlu puisi, kah?
Ah, penyair tahu itu
Bahkan dengan diam

Gaza di ujung sana
Kau tikamkan paku sejajar pelupuk mata
Kutahu kau diam
Di Negri ini

@Sigidad
(Malam Sempitan 2014)

Bang KG, asal bo i-LIMI-tu' to?

Saat berbaring untuk rehat sejenak, menyegarkan sepasang bola mata yang berjam-jam pantengin tiga film di layar laptop. Tiga broadcast messages (BC) tiba-tiba menyembul di kolom chat BBM saya. Isinya, tulisan Bang KG (sapa saya kepada Katamsi Ginano). Dua buah link tulisan runut di situ: 
( http://kronikmongondow.blogspot.com/2014/08/sesal-silaturahmi-politik-1.html?m=1 ) dan yang satunya lagi: ( http://kronikmongondow.blogspot.com/2014/08/sesal-silaturahmi-politik-2.html?m=1 ).

Setelah menekan tombol enter. Tulisan yang pertama saya bacai. Dari awal paragraf dan seterusnya Bang KG bertutur menyoal silahturahmi. Dari judul tulisan "Sesal Silaturahmi Politik", saya belum menemukan kesesalan apa itu. Hingga paragraf ke-13 saya baru tahu. Bang KG kesal dengan sebuah pintu rumah yang tertutup. Pintu tuan rumah yang mengutus seorang tukang sonsoma kepada Bang KG. Tuan rumah itu adalah Limi Mokodompit.

Saya sendiri masih mempunyai tali persaudaraan dengan Om Limi (sapa saya kepada Limi Mokodompit), tapi sangat jarang ketemu. Saya baru beberapa kali ke rumahmya. Lebih sering kakak saya Samsir Galuwo yang hampir setiap malam ke sana. Tapi saya akan coba bertutur pula akan pengalaman saya saat pertama kali ke rumah itu.

Kala itu, saya diutus untuk mengantarkan undangan duka keluarga. Saya membaca sepintas nama dan alamat yang tercatut di amplop, Limi Mokodompit di Jalan Baru, Gogagoman. Meski sebelumnya saya tidak pernah berkunjung ke rumah Om Limi, namun sudah beberapa kali saya melewati istana megahnya. Bersegera saya menuju rumah itu yang, berada tak jauh dari Klenteng. Sesampainya di sana, gerbang rumah terkunci. Tapi ada sebuah pintu kecil berterali besi menganga bak mulutnya gerbang. Setelah beberapa kali mengucapkan salam. Seorang perempuan paruh baya melangkah menuju ke arah saya, lalu mengajak saya masuk.

Rumah itu memang begitu megah dengan pekarangan serupa semesta. Pintu depan rumah itu seingat saya berada di sudut kiri rumah. Seorang ibu mempersilakan saya masuk dan duduk. Saya pun akhirnya tahu kalau ibu itu istrinya Om Limi, sedangkan perempuan yang menyambutku di depan gerbang tadi seorang pembantu. Tanpa basa-basi saya menyampaikan maksud kedatangan yang, hendak mengantarkan undangan. Setelah menyerahkan undangan, saya masih sempat ditawarkan untuk dibuatkan teh. Dengan sopan saya menolak karena terburu-buru untuk mengantarkan undangan-undangan lainnya.

Itu pengalaman pertama saya saat mengunjungi rumah Om Limi. Memang sangat berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Bang KG di tulisannya. Di samping itu, situasinya pun jelas berbeda. Di saat Bang KG datang menghadiri undangannya Om Limi, jika pintu rumah itu tertutup rapat, mungkin si tuan rumah bermaksud memfokuskan tetamunya untuk reriungan bersama di bawah atap kanopi. Tak berserakan sana-sini. Dan bisa rembuk, saling diskusi, dan berbagi. Bukankah itu maksud silahturahmi?

Jika tafsir Bang KG soal pintu tertutup itu berbeda, jelas itu adalah pendapat pribadinya Bang KG. Dan apapun soal pendapat, setiap insan merdeka untuk berpendapat. Tapi, alangkah lebih baiknya jika kita selalu melihat sisi baik dari seseorang. Lagipula, dari tulisannya Bang KG, yang kusimak dari awal tutur, Bang KG malah berkisah tentang sebuah kesederhanaan dan kesan "mana-mana". Bukankah lebih sederhana kita duduk reriungan di bawah atap kanopi, ketimbang di dalam ruang tamu berpermadani?

Bang KG, asal bo ilimitu' to?

Itu sekadar pendapat pribadi saya menyoal tulisan Bang KG. Iya, tetap merdeka, dan selalu berpikir positif. Merdeka bukan berarti kita meniadakan kebaikan di sana. Dan berpikir positif adalah sebuah kebaikan.

Salam. Lama tak membaca tulisan Bang KG. Meski sudah di senja Idul Fitri. Saya ucapkan Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Oh, ya... Bang KG, kemarin waktu salaman sama Om Limi, pake kepalan tinju atau jabat tangan? Hehehe...

Tuesday, July 22, 2014

Berbagi Keresahan

Saung Layung Arus Balik. Lahir dari rahim semesta. Sebuah manifestasi dari kesadaran kolektif akan pentingnya pendidikan yang memerdekakan. Pendidikan yang membebaskan.

Saung Layung Arus Balik ialah bentuk tangkisan tatkala hegemoni budaya populer membombardir sendi-sendi masyarakat kota dan pedesaan lewat asupan tontonan-tontonan yang hampir tidak memiliki nilai edukasi dan tak bergizi.

Saung Layung Arus Balik adalah semangat. Luapan gairah untuk menyelamatkan generasi muda dari gerus jaman yang kian beringas. Layaknya Jugernault, jaman modern melahap setiap manusia yang berpayung kebodohan. Mencernanya dan memuntahkannya kembali bersama jutaan orang gagal dan putus asa di atas muka bumi. Hidup di lantai terbawah --- terdalam dari sebuah kota, tak pernah nampak mereka ada. Bahkan tak terpikirkan.

Di lindap subuh yang sepi. Sebagian anak terbangun tepat pukul 05.00. Mereka bersujud untuk menunaikan tugas sebagai mahluk Tuhan. Saat itu belum ada yang tampak beda pada anak-anak ini. Tunggu hingga mereka mulai duduk di samping meja makan untuk sarapan; mengisi penuh perutnya dengan nasi, daging, serta susu. Sementara yang lain sedang memakan singkong, pisang, dan segelas air putih untuk disesap.

Ada anak yang berseragam merah putih lengkap dengan topi dan dasi. Sementara anak yang lainnya bangun dengan pakaian rombeng, lusuh, dan berhari-hari melekat di raga mereka.

Anak yang satunya berangkat ke sekolah dengan menggunakan kendaraan. Sedangkan anak ini melangkah gontai dan terpaksa menuju tempat pembuangan sampah dengan karung terkulai di atas pundak.

Anak yang sedang menikmati pelajaran sekolah sebagai hak anak bangsa. Dan satunya lagi mengais sampah sebagai tulang punggung keluarga.

Anak yang beruntung itu mampu memanjakan akal mereka dengan sains. Namun bagaimana dengan posisi anak yang menenteng karung dan kurang beruntung itu? Anak yang sarapannya singkong rebus dan berbalut pakaian bekas dan lusuh? Si anak yang bukunya adalah tumpukan sampah plastik dan pensilnya adalah pengait?


Si anak yang butuh pelukan dan kewajiban kita untuk mengajarkan apa yang telah Tuhan lebihkan kepada kita. Anak-anak ini wajib kita selamatkan.

Pendidikan adalah gerbangnya, partisipasi teman-teman adalah kuncinya. Berikan mereka kesempatan untuk hidup layak di kemudian hari dengan bekal ilmu pengetahuan yang kita bagi. Pendidikan untuk mengagungkan kemanusiaan. Dan anak-anak ini ialah mahluk yang bernama, MANUSIA.

Makassar. Juli 2014 ...

Oleh: Sandry Anugerah
(Salah satu inisiator Rumah Belajar: Saung Layung Arus Balik)

Api Lilin

Nyala dalam terang
Tak punya arti
Nyala dalam gelap
Ia membakar diri, Nak

Di kamar kecil
Api dan lilin jadi basah
Meleleh, beku, terbakar
Tapi gelap terukur

Jongkok buang hajat
Ke dalam lubang gelap
Cahya lilin makin binasa
Redup dihembus nafas

Hidup dan mati
Terang dan gelap
Makan dan buang hajat
Kita meleleh di tanah

Negri ini punya api
Punya air, punya hutan
Tapi sayang, Nak
Kita tak punya semangat

Raih korekmu
Nyalakan lilinmu
Itu semangatmu
Bukan redup mereka

Fri-18-Juli 2014
11:42 pm

Sapu Lidi dan Sebuah Pelukan

Sampang. Januari 1996 ...

Masih terlalu pagi, ketika ibu membangunkanku untuk bersegera ke sekolah. Usiaku kini sepuluh tahun. Kelas 3 Sekolah Dasar.

"Ini sapu lidi yang dipesan ibu gurumu," kata Ibu sambil meletakkan sapu lidi itu di sampingku. Ibuku merautnya sendiri.

Kebetulan hari ini hari Jumat. Ada mata pelajaran Olahraga, Agama, dan PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Sapu lidi itu pesanan ibu guru Suhasni, ia guru mata pelajaran PMP.

Namaku Shadra Ghadir Khum, biasa dipanggil Saga. Entah kenapa ayah dan ibu menamaiku demikian. Aku berusaha mencari tahu. Tapi tak kunjung kutemukan di buku-buku perpustakaan sekolah apalagi di setiap mata pelajaran yang guru-guru ajarkan. Sebenarnya mudah, aku tinggal bertanya kepada ayah ataupun ibu, atau kepada guru-guru. Tapi terlalu mudah, tidak mendidikku untuk belajar mencari tahu. Pikirku begitu. Nantilah, pasti ada buku yang kutemukan dan bisa menjawabnya.

"Aku pamit dulu Bu," kuciumi punggung tangannya.

Ah, lagi-lagi olahraga. Senam. Lalu dilanjutkan dengan praktek lari maraton. Setelah fisik terasa lelah, tapi bugar seketika hadir saat selesai mandi. Hari Jumat, hari ini biasanya aku mandi hingga empat kali. Pagi tadi, selesai olahraga, pergi ke masjid untuk sholat Jumat, dan mandi lagi sore nanti.

Setelah pelajaran olahraga, kali ini ada mata pelajaran Agama. Setelah itu baru masuk pada jam mata pelajaran PMP.

Ibu Suhasni dengan wajah cerah masuk ke ruang kelas, "Ayo anak-anak, kumpulkan sapu lidi yang kemarin ibu pesan kepada kalian."

Setelah semua murid mengumpulkan sapu lidi. Ibu Suhasni mengambil satu sapu lidi yang berada di sudut ruangan kelas. Bukan di antara puluhan sapu lidi yang kami kumpulkan tadi. Sapu lidi itu warnanya kecoklatan. Warisan dari kakak-kakak kelas.

"Kali ini kita akan membahas soal Bhineka Tunggal Ika," kata Ibu Suhasni sambil mengambil sebatang lidi dari himpunan sapu lidi.

Ia mematahkannya. "Lihat anak-anak. Dengan mudahnya sebatang lidi ini bisa dipatahkan. Akan tetapi, jika kita mencoba mematahkan ratusan batang lidi yang disatukan, akan sulit nantinya."

Ia mengambil sapu lidi itu dan coba mematahkannya, "Coba kalian perhatikan."

Semakin kuat ia mencoba mematahkan sapu lidi itu. Himpunan batangan lidi itu makin merangkul satu dengan lainnya dengan erat.

Kejadian itu, kembali terbayang di benakku. Di tahun 2014. Ketika arti dari namaku sendiri yakni Shadra Ghadir Khum telah kuketahui. Di tahun sekarang ini rakyat Indonesia merayakan pesta demokrasi. Tanggal 9 Juli kemarin.

Ingatan ketika sebatang lidi yang ringkih dan kecoklatan itu, yang tampak telah biliun debu dibelainya dan yang diterbangkannya ke udara, coba kuhubungkan dengan Pemilu (Pemilihan Umum) sekarang ini. Siapa yang memiliki jumlah batangan lidi terbanyak, maka akan menjadi satu kekuatan yang tak akan terpatahkan.

Dari dua calon pemimpin. Aku memilih Jokowi. Bukan Prabowo si mantan jendral itu. Ayahku pun suka dengan sosok Jokowi. Kata ayah, mudah-mudahan Jokowi bisa memperhatikan pemeluk agama minoritas di Indonesia, khususnya di wilayah tempat kelahiran kami.

Di tahun 2014 teknologi makin pesat perkembangannya. Aku mulai mengenal internet selain buku-buku bacaan yang sudah lebih mudah didapatkan pula. Arti namaku pun kutemukan dari internet. Shadra, adalah nama filsuf atau pemikir islam asal Syiraz, sebuah kota yang paling terkenal di Iran. Filsuf pada abad 16 Masehi. Sedangkan Ghadir Khum, adalah lokasi yang terletak di antara Kota Makkah dan Kota Madinah, Saudi Arabia. Menurut penganut Syiah, di tempat inilah Ali bin Abu Thalib dinobatkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Wali dan Khalifah Ar-Rasyidin umat Islam. Aku makin mengenal dengan baik namaku sendiri, sama seperti aku mengenal baik Prabowo.

Aku dan keluargaku tidak tinggal lagi di Sampang, Madura. Sekarang kami menetap di Banjarmasin. Alasan kami pindah bukan karena direlokasi oleh pemerintah sejak konflik Sampang kemarin. Ayah memang dipindah-tugaskan ke sini sejak tahun 2000. Ayahku seorang PNS. Ketika ditanya kenapa tidak suka dengan Prabowo. Jawaban yang kudapati hanya sebait kalimat singkat, "Ini persoalan akidah, Nak."

Aku kembali teringat dengan kisah sapu lidi tadi. Waktu ke TPS kemarin untuk mencoblos. Alat yang digunakan untuk mencoblos adalah sebuah paku. Kali ini imajinasiku bukan lagi tentang sebatang lidi. Sebatang lidi tadi mungkin adalah pengandaian ketika aku masih bocah. Aku telah tumbuh menjadi sebuah logam besi. Aku kali ini sebuah paku yang berhimpun dengan jutaan paku lainnya dan menjelma menjadi palu besar. Palu yang siap menghantam bangunan kokoh yang bernama kekuasaan.

Dalam permenungan, aku melihat Prabowo serupa palu yang selalu melihat masalah adalah sebuah paku. Siap memukul dan menancapkan kami ke setiap tempat yang ia suka. Sementara Jokowi, adalah ia yang membangkitkan semangat perlawanan kami. Jokowi berhasil menghimpun kami menjadi satu kekuatan. Menjadi sebuah godam.

Lidi, paku, dan sebuah palu. Ketiganya adalah alat. Bukan berarti kita rakyat yang bisa diperalat. Keputusan ada pada kita. Kita tinggal memilih. Kita tidak ingin amnesia terus, lantas mencambuki tubuh kita dengan seikat lidi, menghujamkan paku ke kepala, dan menenggelamkannya ke dalam akal sehat kita dengan satu pukulan palu.

"Kamu telah sembuh, Nak!" teriak Jokowi dari podium kemenangan.

Aku melangkah ke halaman belakang. Mendapati ayah yang sedang mengurusi ayam jagonya. Ia menatapku. Kali ini ada bulir-bulir air matanya memberat jatuh. Mengundang satu-dua bulir air mata dari kelopak mataku.

"Ayah rindu kampung halaman, Nak!"

Aku lantas merangkulnya. Memeluk layaknya seorang kawan lama yang baru saja berjumpa.

"Ayah, kenapa kita bisa saling membenci?"

"Kita bisa saling membenci, tapi entah kenapa kita harus saling membunuh. Ayah tak pernah mengerti."

"Saga. Pergilah ke rumah Fatan, kalian lama tak saling tegur hanya karena beda pilihan calon pemimpin. Terlebih, Fatan satu sekolah denganmu di Sampang pula. Pelukanmu ini pantas untuk dia."

Kini, aku lebih termaknai akan arti dari Bhineka Tunggal Ika.

Sunday, July 13, 2014

Puisi Tak Ber-jika

Derap-derap langkah yang kemarin Terdengar ada gelisah ikut terseret
Dengan sekonyong-konyong dua pesan kupunguti di ubin dingin
BERBUAT!
Isi pesan itu
Sedangkan pesan yang satunya tak kubuka

Kata si itu lebih pantas jika puisi cinta untuk Nusa
Saat ini, iya, kala kata kalah jadi cela
Tapi, puisi itu tak ber-jika, puisi itu tak ber-nusa
Puisi itu serupa sayatan angin di lindap subuh
Menyayat dedaunan berembun
Dingin, diam, dan... Ah, biarkan Ilahi menggumamkannya

Bahkan puisi tak bisa dipelajari
Ia suci tapi tak dirangkuli sampul kitab
Bait-baitnya hadir saat subuh hendak menyetubuhi malam
Lalu berbisik, "bangun Nak, hari baru, Nusa baru, tanpa jika!"

Kembali puisi itu berbisik, tak lirih, ada nada berat mencubiti setiap tanya
"Kenapa tak kau buka pesan yang satunya lagi?"

Genggam tiba-tiba merekah
Di secarik kertas kusut di sana tertulis
"Kita menang Nak, bukan lagi jika!"

@Sigidad
Eropassi
Thu-10-July-'14
1:07 am

(Puisi untuk 7uang 7okowi)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, June 2, 2014

Tuhan, Aku Ingin Ibu Membentakku Sekali Lagi

Pagi terasa seperti biasanya meski di hari Minggu. Suara bising ibu memenuhi segala penjuru rumah. Sedangkan suara ayah, sudah lama kurindukan sejak kepergiannya dua tahun yang lalu.

Di rumah yang sempit ini, suara bisik-bisik dari dapur pun akan kedengaran begitu jelas. Apalagi teriakan.

"Gilang! Coba lihat teman sebayamu, meski di hari Minggu mereka selalu bangun pagi dan pergi memancing," teriak ibu.

Aku menarik kembali selimut. Tubuhku terbalut layaknya kepompong. Akan tetapi suara ibu tetap saja memenuhi seisi rumah. Kuraih segepok bantal dan kusumpalkan ke kepala. Suara berisik itu agak teredam.

Yang kusebut ibu itu. Bergegas mengeluarkan sepeda tuanya dari pintu dapur. Ibu masih sempatkan kembali ke pintu kamarku dan entahlah apa yang ia utarakan. Aku semakin erat membekapkan bantal ke kepalaku.

Ibu memilih pergi. Ada yang harus ia gegaskan hari ini. Seperti biasanya, ia ke pasar untuk berjualan. Sepasang telapak kaki berputar mengayuh sepeda tua. Fisiknya yang tegar tampak tak sepadan dengan kendaraannya. Sebuah bakul berisi sayur-mayur tergantung di punggungnya. Sementara aku, dengan lega menyingkirkan bantal yang membikin nafasku sesak dan selimut yang membuatku gerah di kamar tanpa kipas angin ini. Aku kembali tidur dengan tenang tanpa omelan.

Bumi dengan cepatnya mengitari matahari. Tanpa kusadari hari sudah siang. Melangkahku ke dapur dan melihat menu masakan ibu hari ini. Tampak lima potong tempe goreng tergolek di atas piring dan, semangkuk sayur daun singkong berendam di situ. Ah, yang satunya kecambah, dan yang satunya lagi dedaunan. Aku serupa anak kambing saja.

Kurogoh kedua saku celana dan kudapatkan lembaran uang lima ribuan. Hasil dari menang taruhan ikan cupang semalam di rumahnya Dodi. Segeraku melangkah ke warung terdekat dan membeli dua bungkus mi instan dan sebutir telur ayam. Mungkin ini bisa membantuku tetap riang hingga sore nanti.

Oh, ya, namaku Gilang. Usiaku lima belas tahun. Aku anak satu-satunya, tapi sepertinya itu tak membuatku istimewa. Sebelum ayahku meninggal, aku tetap seperti Gilang saat ini. Gilang yang selalu dibentak.

Sore pun tiba. Sudah waktunya ibuku pulang ke rumah. Tapi mungkin kali ini ia agak telat, sebab hujar mengguyur sejak siang tadi. Di belakang rumah aku duduk termangu menatap bocah-bocah tetangga yang berlarian telanjang dan girang saat mandi hujan. Mereka tak memusingkan selangkangan dan kemaluan mereka. Hujan jadi serupa wahana bermain yang paling dahsyat di mata mereka. Aku jadi ingat masa kecilku yang, tiba-tiba saja membuat kedua bola mataku berair. Aku mengesat bulir-bulir air mata yang mulai menuruni pipi. Dan tiba-tiba saja aku jadi ingat ibuku.

"Bu Inggit! Lihat ibuku?" teriakku kepada perempuan separuh baya yang lewat di depan rumah dengan terburu-buru.

Ia melemparkan wajahnya ke arahku, "Eh, Dek Gilang, tadi ibumu di seberang sungai, mungkin nungguin perahu buat nyebrang."

"Makasih Bu Inggit."

Sudah pukul lima sore. Di seisi rumah, hanya terdengar suara perutku yang keroncongan. Di dapur tak ada lagi beras dan lauk. Sepiring nasi, tempe, dan sayur tadi pun sudah kutandaskan setelah beberapa jam melahap mi instan tadi dan lapar kembali mendera. Dan kini, tak ada lagi yang tersisa. Tapi bukan itu yang membuatku gusar, tapi suara bentak ibu. Aku rindu suara bentak ibu, bukan suara keroncongan perut.

Aku beranjak ke kamar ibu. Di atas almari ada sebuah pigura foto ayah, ibu, dan aku. Sedangkan di sebelahnya ada sebuah buku tulis yang tampak usang. Kuraih dan kubaca. Sebuah tulisan di lembaran ketiga membuatku tertarik.

Namanya Gilang Dipantara. Aku yang memilih dan menamainya demikian. Ayahnya Dipantara Nagara pun setuju dengan nama itu.

Saat terlahir di kamar reyot ini dengan bantuan dukun beranak. Ada hal yang lucu terjadi di saat musim penghujan. Beberapa kali Gilang terbangun karena tetesan air hujan dari atas genteng yang bocor. Tangisnya begitu dahsyat seperti ingin protes kepada nasib dan negeri ini.
Aku Raden Ajeng Dewi Anggraini, terlahir dari keluarga keraton yang memilih hidup dengan Dipa, suamiku tercinta, seringkali tak sanggup menghadapi durjanya kehidupan. Aku mahasiswi yang memilih lari dari bangku sekolah dan singasana istanaku demi Dipa dan Gilang. Bukan tanpa alasan, tapi tetes air hujan yang merembesi atap rumah kami, lebih membuatku nyata hidup ketimbang berada di istana fatamorgana.

Gilang, jika dunia ini semakin keras menghujamkan keserakahannya, kepada dirimu, dan kepada mereka yang serupa denganmu. Tetaplah berdiri di atas kebenaran dan keadilan. Dan ingat, jangan pernah bermimpi menjadi pangeran. Cukup jadilah manusia. Apa adanya. Sederhana.

Dewi Anggraini
Jogja. Minggu, 15 Oktober 1998
.

Kedua kelopak mataku yang sedari tadi menebal tak mampu lagi membendung air mata. Aku bergegas berlari keluar rumah dan pergi menjemput ibu di tempat penyeberangan. Hanya berjarak tigaratus meter saja dari rumah kami. Tempat penyeberangan itu tampak ramai. Mereka bukan sedang mau menyeberang, tapi sedang berjibaku berusaha menyelamatkan beberapa orang di tengah derasnya arus sungai. Pandangku memburu sekeliling mencari ibuku. Tak kutemui ibuku di antara kerumunan. Hingga datang Dodi dan Rido yang memelukku erat.

"Gilang! Ibumu hanyut saat perahu yang ditumpanginya terbalik tadi!"

Ucapan Dodi dan Rido yang serentak itu serupa bentakkan ibu pagi tadi. Tapi kali ini bukan membuatku enggan untuk bangkit. Aku tersungkur di lumpur dengan air mata yang mengalahkan derasnya hujan.

"Tuhaannn!!! Aku ingin ibu membentakku sekali lagi!!! Ibuuuu!!!