Friday, May 20, 2022

Allisya

No comments
Tujuh tahun lalu, negeri kita pernah digegerkan dengan kasus mengerikan pembunuhan Engeline Megawe, di Kota Denpasar, Bali. 

Pada 6 Mei 2015, awalnya nama yang menebal di lini masa ialah Angeline. Anak perempuan berusia 8 tahun ini, sebelumnya dinyatakan hilang oleh keluarga angkatnya, melalui laman Facebook bertitel "Find Angeline-Bali's Missing Child". 

Setelah diselidiki polisi, akhirnya kasus hilangnya Engeline terungkap. Seumpama durian masak, di mana pun kita menyembunyikannya, baunya akan tetap terhidu. Pada 10 Juni 2015, bau menyengat dan gundukan tanah di halaman belakang rumah mereka di Jalan Sedap Malam, Denpasar, membuat polisi curiga lalu menggalinya. Jasad Engeline ditemukan terkubur di sana. 

Ibu angkatnya, Margriet Christina Megawe ditetapkan sebagai tersangka. Melalui persidangan yang panjang, akhirnya Margriet dihukum seumur hidup pada persidangan 29 Februari 2016. 

Pagi tadi, sejumlah media sosial riuh dengan unggahan dugaan penganiayaan yang menyebabkan tewasnya anak perempuan bernama Allisya. 

Dari hasil memindai unggahan di media sosial, Allisya baru berusia 5 tahun. Ia berasal dari kota saya pula: Kotamobagu. Allisya meninggal pada Rabu (18/5/2022), di tempat tinggal barunya di Kota Gorontalo bersama ayah kandung dan istri barunya. 

Awalnya, Allisya tinggal bersama neneknya di Kotamobagu. Kemudian ayahnya mengajak Allisya ke Gorontalo, karena akan disekolahkan di Taman Kanak-Kanak di sana. Pihak keluarga korban menduga Allisya meninggal secara tidak wajar, karena selain ditemukan lebam di tubuhnya, ada patahan gagang sapu di rumah tersebut. 

Belum banyak media yang memberitakan kasus ini secara jernih. Dari laporan Gopos.id, Kasat Reskrim Polres Gorontalo Kota, Iptu Mohamad Nauval Seno STK SIK, mengatakan laporan kasus tersebut sudah diterima. Saat ini masih dalam proses penyidikan lebih lanjut. Kasat sendiri belum menjelaskan detail dan kronologi kejadian tersebut. 

Saya pernah menonton film yang bahkan saking lamanya saya lupa judulnya. Di film itu, ada sejumlah pasangan yang setelah menikah memilih "childfree" atau memutuskan untuk tidak memiliki anak. Ada banyak faktor kenapa mereka memilih childfree misal alasan finansial, latar belakang keluarga, gaya hidup, dan lain sebagainya.

Tetapi dalam film itu, alasan salah satu pasangan ini cukup mencengangkan. Karena mereka berdua pecinta alam, mereka tidak ingin anak mereka tumbuh di kondisi lingkungan yang semakin rusak di masa depan.

Tentu itu bukan hanya terjadi dalam sebuah film. Karena childfree sudah banyak dilakoni sejumlah orang, termasuk di negara kita. Bayangkan saja, untuk memutuskan memiliki atau tidak memiliki anak saja mereka bisa mempertimbangkannya sedemikian rupa.

Maka, sungguh biadab orangtua yang tega menganiaya bocah semungil Allisya. Orang dewasa memang menyebalkan!

Duka sedalam-dalamnya untukmu, peri kecil ...

Al-Fatihah ...