Monday, October 16, 2017

Pulitzer

Suatu hari di tahun 1868, hanya sehari setelah diterima sebagai wartawan di koran Westliche Post, Joseph Pulitzer membuat heboh warga St. Louis, Missouri. Setengah kolom berita kasus pencurian di toko buku Roslein yang ditulisnya di koran itu,  berbeda dengan berita-berita tentang kasus yang sama yang dimuat oleh koran-koran lain. Para redakturnya memarahinya. Mereka menganggap Pulitzer merusak reputasi Westliche Post.

Di koran-koran lain, para wartawan menulis, pencuri di toko Roslein adalah sesosok laki-laki berpostur jangkung, rambut pirang, dan di pelipisnya ada tanda cacat. Berita itu ditulis berdasarkan keterangan dari Peters, koordinator wartawan di kepolisian, yang dipercaya oleh polisi dan para wartawan, untuk menyampaikan semua keterangan polisi.

Lewat beberapa jam setelah kasus pencurian itu diselidiki oleh polisi, seorang opsir memang telah berbicara kepada Peters: Pencuri di toko Roslein, berdasarkan keterangan saksi-saksi, adalah seorang laki-laki yang pada tengah malam terlihat mondar-mandir di depan toko dengan ciri-ciri tinggi, rambut blondi dan ada codet di pelipisnya. Peters lalu menyampaikan semua keterangan polisi itu kepada rekan-rekannya, para wartawan yang tidak punya atau tidak bisa mengakses keterangan polisi. Dan keesokannya, keterangan Peters yang mengutip keterangan polisi, menjadi berita di seluruh koran yang terbit St. Louis kecuali di Westliche Post.

Di koran itu, Pulitzer menulis dengan yakin dan terang: Pencurinya adalah asisten toko bernama John Eggers yang sudah meninggalkan St. Louis dengan menumpang kereta api pagi. Orang itulah yang bertugas membuka dan mengunci pintu toko, dan juga tahu nomor kode lemari besi tempat uang hasil penjualan buku disimpan. Tapi gara-gara beritanya berbeda dengan berita-berita dari koran lain, para redaktur Pulitzer marah besar. Mereka menuding Pulitzer telah menghancurkan nama besar Westliche Post. “Pembaca menertawakan koran kita,” kata seorang redaktur, “Karena berita yang kamu tulis berbeda dengan berita-berita di koran lain.”

Dia mengadukan Pulitzer ke redaktur pelaksana, dan sama dengan redaktur yang marah kepada Puliutzer, redatur pelaksana  itu juga menganggap Pulitzer telah membuat kesalahan fatal. “Kenapa bisa sampai begini?” dia bertanya kepada Pulitzer.

Pulitzer berusaha menjawab tapi seseorang kemudian menyela. Orang itu menjelaskan kepada redaktur dan redaktur pelaksana yang memarahi Pulitzer bahwa yang ditulis oleh Pulitzer adalah berita yang benar. “Baru saja saya bertemu dengan Pak Roslein. Dia menceritakan, polisi telah menangkap pencuri di tokonya dan pencurinya juga sudah mengaku. Namanya John Eggers, asisten dan kasir di toko Pak Roslein.”

Para redaktur Pulitzer terperangah. Mereka tak bisa lagi membantah berita yang ditulis oleh Pulitzer. Berita kasus pencurian di toko Roselin yang isinya berbeda dengan berita-berita di koran-koran lain pada hari itu, dan oleh mereka telanjur dianggap merusak reputasi Westliche Post, ternyata adalah berita yang memang “berbeda”. Dari mana Pulitzer mendapat bahan-bahan berita itu?

Hanya beberapa jam pada hari Pulitzer diterima sebagai wartawan di Westliche Post, redakturnya yang belakangan memarahinya, memberinya penugasan. Dia ingin menguji Pulitzer, anak muda berusia 21 tahun, kurus, jangkung, yang dinilainya kaku dan bodoh; untuk mencari berita dan berita itu adalah kasus pencurian di toko buku Roslein yang terjadi pada malam sebelumnya. Dia berpesan kepada Pulitzer: “Kamu pergi ke toko itu tapi tak usah cari berita sendiri. Kamu tidak akan bisa. Hubungi saja Peters. Dia yang akan memberikan keterangan padamu.”

Pulitzer mendatangi toko Roslein, dan di luar toko itu, dia mendapati semua wartawan telah menunggu Peters yang terlihat sedang berbicara dengan opsir di dalam toko. Saat Peters keluar dari toko, para wartawan lantas mengerubunginya. Dari mulut Peters kemudian meluncur keterangan tentang ciri-ciri pencuri di toko buku Roslein berdasarkan keterangan polisi.

Konon lagi bertanya alasan polisi mencurigai lelaki dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh Peters, para wartawan itu malah menelan semua keterangan Peters, dan hal itu membuat Pulitzer terheran-heran. Mereka para wartawan, tapi hanya mencatat semua keterangan tanpa bertanya satu patah pun kendati keterangan Peters banyak yang belum jelas dan memang tidak jelas.

Pulitzer karena itu memberanikan untuk bertanya kepada Peters: Mengapa polisi mencurigai orang dengan ciri-ciri yang disebutkan itu? Dan Peters yang baru kali pertama melihat Pulitzer malah kebingungan menjawab. “Iya ya, mengapa... Tapi kamu pergilah ke opsir itu senyampang dia masih berada di toko. Tanyakanlah sendiri.”

Pulitzer, wartawan baru itu, bergerak masuk ke toko Roslein. Dia mengenalkan diri dan menerangkan identitasnya tapi polisi yang menyelidiki pencurian itu menghardiknya. “Semua keterangan sudah ada pada Peters. Tanya sama dia. Jelas? Sekarang kamu keluar.”

Roslein yang juga berada di dalam toko segera tertarik dengan keberanian Pulitzer. Dia meminta kepada opsir agar memberi kesempatan Pulitzer untuk bertanya, dan polisi itu tak punya pilihan. Sinis dia bertanya kepada Pulitzer tentang yang hendak ditanyakan. Pulitzer tak membuang kesempatan. Dia bertanya dengan pertanyaan menohok: Siapa yang bertugas membuka dan mengunci pintu toko setiap hari?

Polisi tak bisa menjawab tapi Pak Roslein membantunya. Dia menjelaskan, yang membuka dan mengunci pintu toko adalah John Eggers, pembantu di tokonya.

“Tuan Roslein, kenapa Anda tidak menjelaskan bahwa Anda punya asisten?” tanya polisi.
“Maaf opsir, saya kira keterangan tentang John tidak penting,” jawab Roslein, ”Lagi pula, hari ini dia meminta izin tak masuk kerja karena sakit.”
“Tidak. Seharusnya Anda menjelaskan tentang John. Ini fakta yang hilang. Dan apakah John tahu nomor kode peti besi toko Anda?”
“Saya memberitahunya. Dia merangkap kasir di toko ini. Orangnya jujur.”

Polisi terkejut mendengar penjelasan Pak Roslein. Dia lantas menjelaskan, sebelum datang ke toko Roslein, telah melihat John naik kereta api pagi ke arah barat. Dia yakin pencuri di toko Roslein adalah John. Tidak salah lagi.

Pulitzer menyimak semua percakapan polisi dan Roslein. Tapi sementara keduanya terus terlibat tanya-jawab, dia segera keluar dari toko dan bergegas menuju stasiun. Di sana Pulitzer menanyai sejumlah orang tentang John. “Barangkali Anda melihatnya tadi. Orangnya seperti ini, seperti itu.”

Kepada Pulitzer, beberapa orang mengaku memang melihat John berdasarkan ciri-ciri yang disebut oleh Pulitzer, telah naik kereta api pagi. Pulitzer mencatat semua kesaksian mereka, dan setiba di kantornya, dia segera menulis semua temuannya menjadi berita setengah kolom. Berita itulah yang keesokannya membuat heboh warga St. Louis karena isinya berbeda dengan isi berita koran-koran lain.

Mengapa Pulitzer menulis berita berbeda?  Kepada redakturnya dia menjelaskan, dia tidak puas dengan keterangan Petters dan keterangan polisi, yang banyak tidak jelas, dan dia benar.

Bagi wartawan, keterangan sumber seharusnya memang tak hanya disikapi dengan hati-hati, melainkan harus pula disikapi dengan kritis dan skepstis. Tidak dipercaya. Hanya dengan sikap semacam itulah, berita yang ditulis oleh wartawan akan punya nilai meskipun berita itu mungkin akan berbeda dengan yang ditulis oleh wartawan lain.

Anda tahu bukan siapa Pulitzer itu?

Benar, dia wartawan. Bukan juru propaganda pemilu. Bukan humas aparat dan para politisi. Bukan corong suara kekuasaan dan kepentingan. Hanya seorang wartawan, yang reputasi dan keterkenalan namanya tentu saja melampaui nama Anda dan nama saya.

Oleh Rusdi Mathari (Cak Rusdi)

[Cuplikan bebas dari “Joseph Pulitzer Front Page Pioneer”, salah satu bahan cerita untuk kelas menulis Mojok di Yogyakarta]

*Dari dinding Facebook Cak Rusdi, 1 Oktober 2016*

Sunday, October 15, 2017

Pembatas Buku

Aku meloncat halaman demi halaman. Dalam gelap buku terkatup. Kedua sisi menindih, atau mungkin merangkul. Aku hanya meraba dalam pengap.

Pada halaman sebelas. Aku membacai cerita penuh galuh. Berserakan di lantai licin berbusa bir, dalam kamar bising dan bingkai jendela bau pesing. Ada tawa dan lenguhan.

Dan nama-nama yang tak kukenal itu, berbicara tentang bahagia. Tapi bukan bahagia akan cinta. Mereka menyebut cinta hanyalah kelakar. Lalu menertawainya.

Aku melihat cahaya dan berpindah lagi ke halaman empat puluh satu. Gulita. Ada nama baru lagi. Nama seorang dula, yang kerap menyesali hidup.

Hidupnya tak pernah berpinar. Ia berkata bahagia hal yang muskil. Orang-orang dula seperti dia, dan orang-orang yang duduk di geta, sedang tidak benar-benar hidup. Hanya berjalan menuju redup.

Aku lama di halaman itu. Hampir sepekan, dengan umpatan. Sampai pendar cahaya memisahkan aku, dengan halaman yang penuh senandika. Kata terakhir yang kubacai: biarkan dunia ini hubar-habir.

Halaman sembilan puluh. Salah satu nama kukenali, dari halaman sebelas. Gadis yang telah dewasa. Menikah dan bahagia, tanpa cinta.

Ia sedang menggendong bayi. Matanya penuh kasih menatap bayi, yang sesekali memuntahkan susu. Tapi ia membayangkan wajah lain. Wajah yang pernah dikecupnya, lalu dimuntahi.

Sebulan aku dengan halaman ini. Membacai berulang kali kisahnya, dan tak pernah tahu untuk siapa cintanya. Laki-laki itu tak ada di halaman sebelas. Perempuan itu kembali berbicara dengan bayi, yang tak pernah mengerti bahasanya.

Udara pantai menyergapku, sebelum aku dijepitkan ke halaman seratus dua puluh tiga. Aku bertemu seorang kakek. Ia pedofilia dan baru saja ditangkap.

Kakek itu mencumbu seorang bocah perempuan. Di bui, penisnya disundut rokok seorang sipir. Tapi kakek itu hanya tertawa. Ia berkata: aku cinta anak itu, dan aku tetap mencintainya sampai membusuk di sini.

Kakek itu kembali berkata: cinta itu bukan seperti pembatas buku, yang hanya singgah dan melompati halaman demi halaman tak berurut. Sipir itu menamparnya. Kakek itu kembali berujar: cinta juga bukan seperti tamparan ini. Dan aku seperti ditampar.

Setelah dari pantai, aku kembali berpindah di halaman seratus tujuh puluh satu. Aku hanya menemu sisi lembar kosong, dan gambar jalan bercabang di sebelahnya. Aku lama berdiam di halaman ini, sebab pembatas buku tak pernah terselip di akhir cerita. Aku tak pernah mengerti seisi buku, seperti kata kakek itu.

Mungkin, seperti itukah cinta?

Saturday, October 7, 2017

Terciduknya Idola Para Pengidap Sindrom Stockholm

pixabay.com
Jalanan masih lenggang. Seorang anak perempuan berusia sekitar 10 tahun, terlihat menunduk beberapa kali dan seakan bergegas. Rambut emasnya yang sepundak dan berponi, sesekali diterpa angin. Pagi itu, ia hendak berangkat ke sekolah, dari rumah orangtuanya di Wien-Donaustadt, Austria.

Tiba-tiba sebuah van putih mengerem di dekat gadis kecil itu. Seorang pria turun. Ia membekap anak itu dan menyeretnya masuk ke mobil.

Pagi, Senin 2 Maret 1998, sekitar pukul 7 pagi, gadis mungil bernama Natascha Kampusch itu, dinyatakan hilang.

Si penculik, pria dewasa bernama Wolfgang Priklopil, lantas membawa Natascha ke rumahnya di Strasshof dekat Ganserndorf, di Lower Austria. Pria jomblo yang hidup sendiri pula di rumahnya yang berukuran besar, telah membuatkan ruangan khusus untuk korbannya itu.

Di rumah itu, ibu si penculik yang hanya sesekali datang membersihkan dan merapikan rumah anak tunggalnya itu, lalu pergi, tak pernah mengetahui ada gadis cilik yang disekap anaknya di ruang bawah tanah.

Selama penyekapan, Priklopil kerap menganiaya Natascha. Di tahun-tahun pertama, Priklopil menyuruh Natascha memanggilnya Gebieter atau tuan. Jika Natasya tidak ingin makan, Proklopil menghajarnya. Selain itu, ada pengeras suara yang terhubung ke kamar penyekapan yang hanya 2 x 3 meter itu, yang sering dipakai Priklopil untuk meneriakkan kalimat: patuhi aku!

Kalimat itu, berulang kali diteriakkan setiap hari, untuk mendoktrin Natascha. Penyekapan selama bertahun-tahun itu, sampai pada hari tatkala Natascha mulai menstruasi. Lantai kamar dipenuh ceceran darah. Priklopil kesal lalu memukul Natascha, kemudian menyuruhnya membersihkan ceceran darah.

Seiring waktu, sadar Natascha telah remaja, Priklopil mulai memperkosanya. Berkali-kali. Hingga suatu hari, ibunya Priklopil menduga, jika anaknya itu sudah memiliki pacar. Sebab ibunya menemukan beberapa helai rambut di baju Priklopil, saat hendak mencucinya. Atas kejadian itu, Priklopil mencukur habis rambut Natascha.

Berbagai macam siksaan keji diterima Natascha. Meski pada malam-malam berikutnya, Priklopil tidak lagi mengikat tangan Natacha ke ranjang, saat memperkosanya. Terkadang ia menghibur Natascha dengan memberinya hadiah. Pernah saat Natal tiba, Natascha dihadiahi sebuah walkman. Selain itu, di kamar penyekapan, Priklopil juga kerap memberi bacaan berupa majalah dan buku.

Natascha sebenarnya pernah berupaya bunuh diri, dengan membakar tisu toilet menggunakan kompor listrik. Tapi upaya itu gagal, karena Priklopil memergokinya.

Niat melarikan diri pun sering surut, meski sebenarnya Natascha beberapa kali punya peluang. Namun doktrin dari Priklopil, seperti telah mengungkungnya. Hampir sama kasus dengan yang diperbuat Ramsay Bolton kepada Theon Greyjoy, di film Game of Thrones. Tapi kejadian yang menimpa Natascha bukan fiksi. Kisahnya ini pernah difilmkan dengan judul 3.096 Days, sesuai jumlah hari selama penculikan. Semua yang saya ceritakan ini, ada dalam film.

Sembilan tahun lamanya Natascha diculik, akhirnya Rabu 23 Agustus 2006, di usianya yang menginjak 18 tahun, ia berkesempatan kabur. Priklopil saat itu berniat menjual van putihnya. Ketika Natascha disuruh membersihkan van di depan rumah, Priklopil saat itu tengah menelepon. Melihat Priklopil lengah, secepat kilat Natascha membuka pintu pagar yang tak dikunci, lalu melarikan diri sekencang mungkin.

Setelah berhasil kabur dan meminta tolong, Natascha akhirnya dijemput polisi di salah satu rumah warga yang membantunya. Sementara Priklopil, memilih jalan pintas menuju rel kereta api, menunggu maut menjemputnya dengan moncong kereta.

Saat Natascha diberitahu, kalau penculiknya bunuh diri, ia menangis tersedu-sedu. Polisi ketika masa pendampingan, melihat ada gejala sindrom stockholm (respon psikologis, yang mana pada beberapa kasus korban penculikan atau sandera, menjadi setia dan malah mencintai penculiknya) pada Natascha.

Selama penculikan itu, Natascha pernah pada titik ketika ia merasa penculiknya lebih menyanyanginya, dan memberi perhatian lebih dibandingkan orangtuanya. Apalagi saat Natascha kerap diberi hadiah, ditambah lagi sebelum Natascha diculik, ia baru saja bertengkar dengan orangtuanya.

Beberapa tahun kemudian sesudah penculikan, Natascha menulis dalam buku otobiografinya, "Saya masih anak-anak dan saya butuh sentuhan kasih sayang. Jadi, setelah beberapa bulan di gudang bawah tanah, saya meminta penculik saya untuk memeluk saya. Itu sangat sulit. Saya menjadi sesak nafas karena panik ketika dia memeluk terlalu kencang. Setelah beberapa kali mencoba, kami berhasil melakukannya, tidak terlalu dekat, tidak terlalu kencang, tetapi cukup sehingga saya bisa membayangkan perasaan sentuhan yang penuh kasih dan perhatian."

Jauh tahun dan jarak dari kejadian penculikan Natascha, tepatnya kemarin, Sabtu 7 Oktober 2017, di Jakarta, berita tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang berhasil menangkap Ketua Pengadilan Tinggi Manado, Sudiwardono, bersama salah satu anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI), yang juga politikus Golkar, Aditya Anugrah Moha, tersebar di media massa. Dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) tersebut, KPK menyita uang dolar Singapura yang nilainya kurang lebih Rp1 miliar rupiah.

Dari kronologis yang dicomot dari Kumparan.com, pada Kamis 5 Oktober 2017, Sudiwardono dan istrinya tiba di Jakarta dari Manado. Keduanya menginap di salah satu hotel di kawasan Pecenongan. Kamar dipesan atas nama orang lain.

Pada Jumat 6 Oktober 2017, sekitar pukul 23.15 WIB, Sudiwardono dan istrinya kembali ke hotel setelah acara makan malam. Saat berada di tangga darurat hotel, uang itu diserahkan Aditya Anugrah Moha (Didi). Diduga pemberian uang terkait perkara banding terdakwa Marlina Mona Siahaan (MMS), mantan Bupati Bolaang Mongondow (Bolmong) dua periode, yang tak lain ialah ibu kandungnya Didi.

Setelahnya, KPK segera menangkap Didi di lobi hotel. Sementara hakim Sudi, diciduk di kamar hotel dengan barang bukti di kamar, berupa uang 30 ribu dolar Singapura dalam amplop putih, dan 23 ribu dolar Singapura dalam amplop cokelat yang diketahui adalah sisa pemberian sebelumnya.

Selain itu, KPK ikut mengamankan 11 ribu dolar Singapura di mobil Didi, yang mana uang tersebut bagian dari total komitmen fee secara keseluruhan. Sebelumnya pada Agustus lalu, telah diserahkan 60 ribu dolar Singapura.

Malam itu ada lima orang yang diamankan. Masing-masing Didi, hakim Sudi, inisial Y istrinya hakim, YDM ajudannya Didi, bersama M sopir pribadinya Didi.

Selanjutnya, Sabtu 7 Oktober 2017, sejak dini hari sampai sore, para tersangka menjalani pemeriksaan. Sekitar pukul 20.00 WIB, KPK mengumumkan status tersangka terhadap hakim Sudi dan Didi.

Kasus OTT terhadap Didi seketika heboh. Sabtu siang, hingga malam hari, beranda facebook saya ramai dengan status yang menganggap kasus OTT terhadap Didi, adalah bentuk kasih dan bakti terhadap orangtua.

Belum lama ini, ibunya Didi yang lebih dikenal dengan penggunaan inisial MMS, tersandung kasus korupsi dana Tunjangan Penghasilan Aparat Pemerintah Desa (TPAPD) Kabupaten Bolmong, tahun anggaran 2010, dengan kerugian negara kurang lebih Rp1,2 miliar.

MMS sendiri mantan Bupati Bolmong selama dua periode, 2001–2006 dan 2006-2011. Ketika divonis bersalah tahun ini, MMS masih duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulut. Putranya, Didi, tercatat pernah maju juga sebagai calon Bupati Bolmong pada 2011. Namun ia gagal, dan memilih maju menjadi anggota DPR RI dan terpilih untuk kedua kalinya pada 2014.

Sewaktu penetapan tersangka, MMS menuai dukungan dari sebagian masyarakat Bolmong. Ia dianggap dikriminalisasi, kendati koruptor lainnya dengan kasus yang sama dan sudah dihukum, bahkan ada yang telah bebas, tidak pernah menuai dukungan yang sama. Hanya MMS yang didukung mati-matian.

MMS menerima kemuliaan dengan dukungan 1000 lilin, juga 1000 tanda tangan, sampai aksi koin 1 miliar. Sebab MMS dikultuskan sebagai Bunda Pembaharuan, yang telah memekarkan Kabupaten Bolmong yang berdiri sejak 23 Maret 1954 itu, menjadi empat kabupaten dan satu kotamadya. Sejak 2007, awalnya yang dimekarkan Kota Kotamobagu dan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut). Tahun berikutnya, 2008, dimekarkan lagi menjadi Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) dan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel).

Pemekaran tentunya dengan harapan agar wilayah Bolmong bisa berdikari menjadi provinsi. Namun hingga sekarang, belum ada kepastian jika Bolmong akan segera menjadi provinsi. Semoga saja bisa secepatnya, biar ada pengkultusan tokoh baru lagi. Dan jika tokoh-tokoh itu berhasil menjadikan Bolmong sebagai provinsi, kendati nantinya berbuat salah, pokoknya harus dibela. Sebab mereka tokoh yang berhasil mendirikan Provinsi Bolmong. Titik!

Layaknya jasa-jasa MMS, apa pun yang miring dan buruk terkait dengannya, jelas tetap menuai dukungan dari sebagian warga Bolmong. Bahkan pernah tercatat sebanyak 23 Organisasi masyarakat (Ormas), dan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), juga mahasiswa, yang melakukan aksi pembelaan terhadap MMS. Sakti betul!

Tidak sedikit pula, di medsos yang membuat tagar #SaveMMS dan bla bla lainnya, kala itu. Hingga saat kasus terciduknya putra MMS kemarin, tagar berbeda kembali mencuat di medsos. Kali ini untuk anaknya #SaveADM atau #SaveDidi dan bla bla lainnya.

Kebanyakan status yang bergulir di beranda saya, menyanjung tindakan yang diambil Didi. Menurut mereka Didi telah berbakti kepada ibunya, dan Tuhan tahu hal itu, meski salah di mata hukum.

Eh, ngoni jangan bawa-bawa nama Tuhan. Ngoni kira Tuhan termehek-mehek lia ini kasus model bagini?

Apalagi dalam aksi penyuapan, pakai kode "pengajian" segala.

Dicomot lagi dari Kumparan.com, menurut Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif, untuk mengamankan proses suap tersebut, Aditya dan Sudiwardono menggunakan kode "pengajian". Jarang-jarang lho katanya kode seperti itu.

Jika para pemuja tokoh korup masih menunjukkan simpton atau gejala sindrom stockholm, mari kita selipkan sebongkah akal sehat dalam menilai status-status mereka di medsos.

Pertama, jika seandainya tindakan Didi sebagai upaya menyelamatkan ibunya, eh, kasusnya MMS itu korupsi! Mencuri uang rakyat dan telah divonis bersalah.

Kedua, ibu mana yang tega menyepakati tindakan anaknya, yang jelas salah dan berisiko besar? Apalagi anaknya itu berkeluarga? Ini berlaku jika memang sang ibu tahu apa yang akan anaknya perbuat. Jika tidak, tahu seberapa sakit hati sang ibu, ketika tahu nasib anaknya sekarang?

Ketiga, jika benar seorang anak ingin berbakti kepada ibunya, kenapa tidak memilih; mendampinginya selama proses sidang, kalau terbukti bersalah dan divonis maka diberi dorongan semangat, untuk bisa melaluinya dan menyadari kesalahannya. Anggaplah itu sebagai pencuci dosa di dunia, agar di akhirat ibunya tidak lagi disiksa api neraka.

Mungkin seperti itu bentuk bakti kepada ibu? Bukan malah menyalakan tungku api lagi di neraka.

Seperti halnya Natascha, para pemuja tokoh korup, selama bertahun-tahun didoktrin untuk patuh. Natascha selama dalam penyekapan kerap diteriaki kalimat: patuhi aku! Hampir setiap hari. Kendati sering mengalami perlakuan buruk, orang-orang seperti Natascha akan terkungkung dengan kata-kata itu. Sama seperti perilaku kebanyakan orang yang mencintai atau memuja tokoh yang sebenarnya salah satu terdakwa kasus koruptor.

Jika dukungan itu berasal dari kerabat, atau dari mereka yang memiliki ikatan emosional, masih bisa dianggap wajar, meski sebenarnya itu mengisyaratkan jika kesalahan ternyata memiliki batas toleransi. Bagi mereka yang pernah merasakan kebaikan MMS, balas budi satu-satunya adalah dengan tetap mendukungnya mati-matian. Padahal seharusnya, untuk kasus korupsi, tak ada secuil pun tempat untuk kata toleransi bertengger di sana.

Hal yang sama berlaku pula, kepada para perindu sosok Soeharto! Selama tiga dekade berkuasa, sebagian banyak masyarakat Indonesia, terhidu wabah sindrom stockholm. Yang terkena penyakit ini akan mengalami distorsi, dislokasi, dan disorientasi. Sederhananya orang-orang ini akan kesulitan menentukan jati diri, dan tidak lagi menggunakan akal sehat.

Rezim Orde Baru yang menelan tumbal jutaan nyawa manusia, kasus korupsi menggunung, dan manipulatif, tetap dipuja hingga sekarang.

Saya kira, sudah selayaknya Indonesia bikin museum koruptor. Pajang semua foto para koruptor di seluruh wilayah Indonesia di sana. Selain foto, taruh profil dan kasusnya. Biar jadi ingatan sejarah, bahwa koruptor itu menjijikkan. Bukan malah disanjung-sanjung.

Tapi sudahlah ... menyamakan isi kepala kita dengan orang lain memang hal yang muskil. Kendati sebenarnya, sebagian banyak kita--manusia--dikaruniai akal sehat. Untuk apa coba? Untuk bisa membedakan yang mana bakti dan mana suap. Atau yang mana koruptor dan mana konduktor. Eh!

Saya terbahak-bahak ketika ada teman yang membuat status: apa hubungan bakti kepada orangtua dan penyuapan atau korupsi? Oh, mungkin hubungannya: kerja bakti dalam korupsi.

Ah, satu-satunya tagar yang layak untuk kasus ini: #SaveAkalSehat. Itu saja!

Tuesday, October 3, 2017

Kalau Cacingan Mesti Minum Bir Banyak-Banyak

Foto Mojok.co
Praktik IPA

Satu hari Ibu Guru kasih praktik pelajaran IPA di kelas Timo. Ibu guru yang manis itu bernama Enci’ Yulia. Timo dan teman-teman sekelas yang sedang mekar masa remajanya dikasih praktik dampak mengonsumsi alkohol.

“Anak-anak, kalian sudah kelas dua SMP, jadi praktik ini cukup jadi pelajaran buat kalian saja, jangan dicoba di rumah!” teriak Enci’ Yulia.

Anak-anak manggut-manggut saja mendengar penjelasan Enci’ yang saat itu sedang menyiapkan bahan-bahan praktik.

“Ini ada dua botol. Botol yang satu diisi air mineral, sementara yang satu diisi alkohol,” jelas Enci’.

Setelah itu Enci’ memperlihatkan dua ekor cacing tanah yang masih hidup dari dalam toples kecil transparan.

Timo dan teman-temannya kali ini lebih serius menatap Enci’. Kelas jadi sesunyi pemakaman.

“Sekarang Enci’ kasih masuk cacing yang satu ke botol air mineral. Yang satunya lagi ke botol bir,” kata Enci’ sambil mencemplungkan kedua ekor cacing itu ke masing-masing mulut botol.

Beberapa saat kemudian cacing yang berada di botol air mineral bergerak-gerak, sementara cacing di botol bir hanya sepersekian detik setelah masuk, mati.

“Nah, sudah lihat to? Coba anak-anak ambil kesimpulan dari percobaan ini.”

Semuanya diam mendengar pertanyaam Enci’.

“Ayo jawab. Jangan malu-malu, kalian,” kata Enci’ memberi semangat.

Timo akhirnya memberanikan diri maju ke depan kelas. Seisi kelas tetiba riuh dengan tepuk tangan.

“Apa kesimpulannya, Timo?” tanya Enci’.

Timo menjawab, “Bagini Enci’ … tadi kita lihat cacing di dalam botol air putih hidup to. 

Sedang di botol bir mati. Berarti kesimpulannya, kalau kitorang cacingan, musti minum bir banyak-banyak.”

Kompetisi Kangkung

Suatu hari, sepulang sekolah Timo dan dua orang temannya mampir di pinggir telaga lalu asyik bercerita.

Salah satu teman Timo bernama Hengky, setelah melihat tanaman kangkong (kangkung) di telaga, membuka pembicaraan dengan mengatakan kangkong di kampungnya tumbuh subur.

“Eee, kalau di kampung kami, makan batang kangkung dua buah sudah kenyang!” kata Hengky.

Teman yang satu lagi, Aguz, tak mau kalah lalu menimpali, “Ah, itu ndak ada apa-apanya, di kampung kami, dalamnya batang kangkung jadi jalan tikus!”

Timo yang sedari tadi belum menanggapi cerita soal kangkong akhirnya terpancing.

“Eee, kampung kalian semua masih biasa. Di kampung kami tikus ndak bisa lewat dalam batang kangkung.”

Mendengar itu, Aguz bertanya, “Ooo, berarti di kampung ngana kangkongnya kecil-kecil to?”

Sambil mencibir Timo menjawab, “Eh, itu tikus ndak bisa lewat karena ada kucing di dalam.”

Megawati & Jokowi

Timi, adik perempuan Timo yang baru kelas 3 SD suatu hari sepulang sekolah bertanya kepada kakaknya.

“Kakak, Ibu Megawati itu, Pak Jokowi punya mantankah?” tanya Timi polos.

“Eh, ngana masih kecil sudah cerita-cerita begitu. Ndak betul itu,” Timo menyanggah.

“Hiii, tadi Ibu Guru yang bilang begitu no,” Timi berusaha meyakinkan kakaknya.

“Presiden Jokowi punya istri itu Ibu Iriana. Bukang Ibu Megawati,” jelas Timo.

Timi yang masih kurang yakin dengan kakaknya kemudian berkata, “Berarti salah Ibu Guru yang bilang Ibu Megawati itu mantan presiden.”

Perampokan

Pukul 7 pagi Timo berangkat ke sekolah. Di depan gerbang sekolah Hengky dan Aguz menunggunya.

“Eh, Timo, ngana sudah bikin PR?” tanya Hengky.

“Adoh! Saya lupa, Teman!” kata Timo sambil menepuk jidatnya.

“Enci’ bakal cubit kita bertiga ini,” kata Aguz.

Timo memelintir ujung rambut keritingnya berkali-kali. Tak lama kemudian ia bersuara, 

“Tenang, kita ada alasan. Nanti kalian dua iya-iya saja di kelas.”

Sesampainya di kelas Enci’ Yulia menanyakan PR pelajaran IPA kepada para siswa.

“Anak-anak semua ada bikin PR to?”

Serentak kelas diriuhi suara: iya. Hanya Timo, Hengky, dan Aguz yang diam. Enci’ lantas bertanya kepada mereka bertiga, “Kalian bertiga ada bikin PR tidak?”

“Begini ceritanya, Enci’. Tadi pas mau kemari, kami bertiga kena rampok,” kata Timo.
Mendengar itu Enci’ balik khawatir, “Tapi kalian bertiga ndak apa-apa to?”

“Iya, Enci’, ndak apa-apa,” jawab mereka bertiga serentak.

“Terus PR kalian mana?” tanya Enci’.

“Itulah, Enci’ … perampok bawa kami punya isi tas sekalian dengan buku PR-nya,” jawab Timo.

Dari Sabang sampai Sorong

Setelah disuruh membeli beras di warung, Timo yang baru saja mau pulang ke rumah dikagetkan dua orang pria yang beradu mulut di depan gang.

Setelah mendengar adu mulut, Timo akhirnya tahu ternyata kedua pria itu, yang satunya berasal dari Sorong, satunya lagi dari Merauke.

“Eh, ko orang Merauke, awas kalau ko pergi ke Jakarta, ko jangan berani lewat Sorong eee!” ancam pria Sorong. Maksudnya ketika orang Merauke hendak ke Jakarta naik 
pesawat, tidak boleh lewat atau transit di Sorong.

Tak mau kalah, pria yang berasal dari Merauke berkata, “Eh, ko orang Sorong, awas ko kalau upacara, jangan ko berani menyanyi lagu ‘Dari Sabang sampai Merauke’, ko stop saja di Sorong eee.”

Artikel ini sebelumnya dimuat di Mojok.co

Surat Sakit Puitis untuk Ibu Guru

Once upon a time … seorang bocah SD bernama Ungke lahir dan tumbuh di Kota Manado. Nama bocah ini sebenarnya keren: Stefanus Corneles. Cuma lantaran ini anak keturunan Suku Sangir (dari Sangihe, satu kabupaten di Sulawesi Utara), nama Ungke yang merupakan panggilan akrab untuk laki-laki Suku Sangir melekat kepadanya.

Ada beberapa mop tentang Ungke yang kerap kali dituturkan orang Manado dan sekitarnya. Ungke melegenda di kawasan Indonesia timur, dari ia kanak-kanak hingga kakek-kakek. Berikut beberapa mop tentang Ungke ketika dia bocah.

Pelajaran Sejarah

Ungke baru saja naik kelas 4 SD. Suatu pagi ia berangkat ke sekolah dan ketika sampai, semua siswa sedang apel di lapangan. Baru setelah itu satu per satu mereka dikandangin, eh, masuk kelas maksudnya.

Di kelas Enci’ (ibu guru) sudah menunggu mereka. Enci’ ini dikenal paling rajin serajin-rajinnya rajin di antara semua guru. Karena itu dia selalu lebih dulu berada di kelas, mendahului para siswa.

Pelajaran dimulai dengan pertanyaan.

“Anak-anak masi inga to pelajaran di kelas-kelas sebelumnya soal pahlawan nasional. So talalu le kalo so lupa (terlalu kalau sampai lupa). Enci’ mo tes tanya ulang sekarang.”

Pandangan Enci’ menyapu seisi kelas, kemudian berhenti di bangku Ungke.

“Ungke kenal Wolter Mongisidi?” tanya Enci’.

“Nyandak no,” jawab Ungke polos.

“Kalo Sam Ratulangi?”

“Kita nintau le.”

“Bagimana lei ngana ini? Samua ngana nintau. Ndak ja blajar ngana kang?”

Mendengar perkataan Enci’, Ungke balik bertanya.

“Enci’ kenal Eges Pinontoan, Mul Rumengan, deng Eling Sondakh?”

“Nyandak no Ungke … Sapa dorang itu?” tanya Enci’ dengan kedua alis yang tampak saling merangkul saking herannya.

“So itu no Enci’. Kita le ndak kenal nama-nama yang Enci’ tanya-tanya tadi. Samua kan ada kenalan masing-masing to?”

Benua Australia

Bukan hanya soal pahlawan nasional yang jadi masalah di kelas. Enci’ yang mengajar IPS tadi pun menemui masalah lain. Kayaknya memang itu Enci’ sedang sial.

Masalah itu diceritakan kembali oleh Ungke kepada bapaknya sepulang sekolah.

“Enci’ marah-marah pa Ungke tadi,” lapor Ungke.

“Kiapa le?” tanya bapaknya, yang sudah tidak heran lagi dengan laporan semacam itu.

“Enci’ tanya … ‘Di mana letaknya Benua Australia?’ Kong Ungke nintau,” cerita Ungke.

Bapaknya mendengus lalu berkata, “So itu ngana. Kalo bataru barang inga-inga (kalau taruh barang ingat-ingat).”

Surat Sakit

Setelah kejadian itu, Ungke tidak masuk sekolah selama tiga hari. Ia akhirnya mau sekolah setelah dibujuk bapaknya.

Sesampainya di sekolah Ungke ditanyai wali kelasnya.

“Kiapa Ungke ndak maso-maso?”

“Ungke ada saki … uhuk! Uhuk!” jawab Ungke sambil pura-pura batuk.

“Kalo saki kirim surat izin ne,” kata wali kelas.

“Percuma le mo kirim surat. Ibu guru le ndak mo balas.”

Ikut Les

Lantaran Ungke ketinggalan beberapa mata pelajaran, Enci’ memberikan les khusus untuk siswa yang ketinggalan mata pelajaran. Selain Ungke, ada Utu, Alo, dan Tole. Les diberikan di sekolah pada sore hari.

Pertama kali hadir Alo dan Utu. Sementara Ungke dan Tole sudah hampir setengah jam tak kunjung datang.

“Ngoni dua ndak dapa lia pa Ungke deng Tole (kalian berdua nggak lihat Ungke dan Tole)?” tanya Enci’.

“Tadi pulang sekolah, dorang dua baramain palinggir (layang-layang),” kata Alo.

“Memang nakal laeng itu anak dua itu,” Enci’ menggerutu.

Setelah sepuluh menit lagi menunggu, akhirnya yang disebut-sebut datang.

“Kiapa ngoni dua terlambat?” tanya Enci’ kesal.

“Tadi kita baku dapa deng ibu pendeta. Trus ibu pendeta minta tolong suruh ambe kunci gereja dapa tinggal di rumah,” kata Tole.

“Kong ngana dang, Ungke?”

“Pas Tole mo ambe kunci gereja, dia pangge le pa kita.”

Mendengar alasan kedua bocah tengil itu, Enci’ tak bisa berbuat apa-apa selain segera memulai les.

Bersiul

Meski telah mengikuti les beberapa kali, Ungke masih sering membikin kesal Enci’. Beberapa soal yang ditanya Enci’ dijawab salah oleh Ungke.

“Ngana ini biongo (bodoh) memang!” teriak Enci’ di kelas.

Ungke ditertawai teman sekelasnya.

Sepulangnya dari sekolah Ungke kembali melapor kepada bapaknya.

“Pa’, tadi Ungke, Enci’ kase bataria (berteriak) akang biongo,” tuturnya.

“Mar Enci’ nyandak pukul to?” selidik bapaknya yang merasa khawatir.

“Ndak pukul. Cuma dapa kase bataria bagitu.”

“Biar ndak pukul, mar nimbole Enci’ kase bataria bagitu. Papa’ nyandak terima! Besok Papa’ ka sekolah!”

Esoknya, Ungke ditemani bapaknya ke sekolah. Bapaknya pergi mencari Enci’ yang mengatai anak kesayangannya itu.

Setelah bertemu Enci’ yang dimaksud bapak Ungke segera melemparkan pertanyaan.

“Kiapa Enci’ bilang biongo kita pe anak?”

Enci’ itu tampak pucat. Seluruh guru di sekolah dan siswa-siswi berkerumun.

“Kalo memang Enci’ pande, sekarang kita tes pa Enci’!” kata bapaknya.

“Mo … mooo … tes apa?” tanya Enci’ itu gugup.

“Coba Enci’ tulis ini!” Bapak Ungke lalu bersiul.

Semua orang menggaruk kepala secara berjamaah.

Like father, like son ….

Surat Sakit Bagian II

Setelah berkali-kali beralasan sakit, akhirnya Ungke asli sakit.

“Pa’ …,” panggil Ungke dari kamar.

Bapaknya segera menuju kamar, “Kiapa le?”

“Ungke barasa demam.”

Telapak tangan kanan bapaknya segera mendarat di jidat anak satu-satunya itu.

“Keode’, saki butul ngana ini.”

“Tulis akang surat izin saki pa ibu guru. Supaya ndak mo dapa marah ulang,” pinta Ungke.

Bapaknya yang lihai merayu ibunya ketika masih pacaran dengan surat-surat cinta puitis lantas menulis surat izin sakit versi puisi.

Di pagi yang cerah
mentari menyembul dari punggung bukit
kembang-kembang mekar di taman
tapi ada satu kembang yang layu …
Ungke yang layu.

Barang Kotor

Libur sekolah akhirnya tiba. Ungke bersama bapak dan ibunya berlibur ke kampung halaman di Sangihe. Mereka berkunjung ke rumah oma dan opa dari sebelah bapaknya.

“Ado, so basar Oma pe cucu ini e,” kata Oma saat kali pertama melihat Ungke. Oma juga mencubit pipinya Ungke.

“Makang dulu sana. Ada ubi rubus deng ikang bakar,” kata Oma.

Ungke segera berlari menuju dapur. Saat makan, tetiba bagian kepala ikan bakar yang sedang diemut-emut Ungke jatuh. Ungke baru saja mau memungut, tapi teriakan Oma mengagetkannya.

“Ndak usah punggu. Kalo barang so ciri (jatuh) so kotor itu,” kata Oma.

Ungke menuruti perintah Omanya.

Setelah makan, Ungke menuju halaman belakang, melihat-lihat pantai. Tetiba Oma yang sedang membawa piring kotor ke tempat cucian piring terpeleset dan jatuh.

Opa yang melihat kekasihnya itu terjatuh segera menolong mengangkat Oma.

Melihat itu Ungke segera berteriak, “Opa, kalo barang so ciri ndak usah punggu. So kotor!”

Artikel ini sebelumnya dimuat di Mojok.co

Friday, September 8, 2017

Seorang Bapak di Pesawat


Dari Sentani Airport, saya bersua pandang dengan bapak itu. Dia duduk dua deret di depan saya. Setelah sampai di Sorong, tadinya saya berpikir ia akan turun. Tapi ia tak beranjak dari kursinya.

Pesawat yang saya tumpangi untuk pulang ke Gorontalo, selain transit di Sorong, selanjutnya menuju Manado. Uda Syof, salah seorang sesepuh di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, yang sederet kursi dengan saya, turun di Manado. Uda Syof berasal dari Padang. Sebelumnya Uda sama-sama dengan saya menghadiri undangan perayaan hari lahir Tabloid Jubi di Jayapura. Sementara saya masih melanjutkan perjalanan pulang ke Gorontalo.

Perjalanan menuju Gorontalo dari Manado itulah yang mempertemukan saya dengan bapak itu. Usianya hampir seperti usia ayah saya ketika saya SMA. Kira-kira 60an.

Ia mengenakan jaket wol abu-abu, dengan celana kain hitam yang tampak longgar. Sendal yang ia pakai, hampir sewarna dengan kulitnya. Rambut beruban di kepalanya tinggal sedikit. Ia tersenyum ketika saya duduk di sampingnya. Beberapa giginya telah tanggal. Karena senyumnya itu, saya seperti menemukan celah nyaman untuk bertanya.

"Bapak dari Jayapura tadi, ya?"

"Iya. Kamu?"

"Saya juga dari Jayapura. Satu pesawat terus sama bapak. Saya perhatikan, memang hanya saya dan bapak yang pergi ke Gorontalo."

"Oh, ya? Ngapain di Jayapura?"

"Mengunjungi keluarga di Hamadi." Saya memutuskan belum mau jujur bahwa saya seorang jurnalis.

"Sama. Saya juga mengunjungi anak saya di Abepura."

Kami mulai terlibat tanya jawab. Beruntung meski hanya empat hari di Jayapura, saya banyak bertanya soal nama tempat. Jadi alamat yang saya sebutkan, ialah alamat saudara saya di Hamadi yang kebetulan pantainya, sebelumnya jadi tempat piknik kru Tabloid Jubi.

Bapak itu mulai akrab dengan saya. Ia kemudian bercerita banyak tentang Papua, selama 25 tahun menetap di sana. Selama tinggal di Papua, ia bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hampir semua wilayah Papua bagian utara telah ia jelajahi. Kecuali bagian selatan, seperti Merauke dan Timika.

"Dulu orang-orang asli Papua itu tidak begitu. Orang-orangnya tidak mabuk-mabukan di jalan. Tapi pendatanglah yang mulai mengajari mereka minum alkohol," tuturnya.

Ia mengatakan hidup di Papua sekarang kurang nyaman. Sebab kasus demi kasus seperti penjambretan, pencurian, pemerkosaan, dan pembunuhan kerap terjadi. Bahkan anak-anak muda semakin tidak karuan. Mabuk-mabukan di jalanan, sampai menghirup lem di tempat umum.

"Saya tahu persis perkembangan di Papua. Dulu tidak begini. Kota semakin ramai dengan pendatang yang menularkan hal-hal negatif."

Sewaktu bekerja di BMKG, ia mengaku sering turun ke lapangan untuk keperluan pendataan. Dari situlah ia banyak menjaring pengalaman dengan orang asli Papua.

"Kalau kamu beli barang jualan, kamu bisa ambil barang itu lalu meletakkan uang di meja, jika pedagangnya tidak ada di tempat. Tak ada satu pun orang yang berani mengambil uang itu."

Ia juga sering melihat, ketika dagangan mama-mama Papua tidak laku, mama-mama itu akan membuang dagangan mereka di sungai.

"Dagangan mereka seperti sayur-sayuran akan dibuang. Besok baru cari lagi untuk dijual. Memang mereka belum paham konsep jual beli."

Orang-orang Papua, tidak khawatir dengan untung rugi berjualan kala itu. Sebab menurut bapak itu, orang-orang Papua tidak akan kelaparan. Ingin makan, tinggal pangkur sagu dan sisanya bisa disimpan berbulan-bulan. Hutan, sungai, danau, dan laut juga menyediakan lauk yang berlimpah. Buah-buahan dan sayur mayur tinggal main petik.

Mungkin sama halnya dengan suku Badui atau Kasepuhan Ciptagelar, mereka yang tak mengenal konsep jual beli. Beras dilarang diperjual-belikan. Sebab budaya gotong royong dan berbagi, masih begitu kental. Jika hasil alam melimpah, kenapa harus serakah?

Perbincangan kami sempat terhenti saat pramugari mulai membagikan dus kue. Kemudian berlanjut dan kian merambat ke persoalan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Ia bercerita, ketika hendak mendata di salah satu wilayah terpencil, ia dan seorang temannya harus berjalan kaki selama dua hari.

"Saya bawa kopi, gula, rokok, pinang, dan kapur sirih. Ketika sampai di kampung, kami menyampaikan maksud, bahwa hendak mencari data apakah di tempat itu pernah terjadi gempa. Selama berbincang saya menawarkan apa saja yang saya bawa tadi."

Setelah dipertemukan dengan ketua adat, mereka duduk berbincang sambil minum kopi. Maksud kedatangan mereka pun mendapat respons baik, sebab di wilayah tersebut pernah dilanda gempa besar.

Pada malam berikutnya, ia dipertemukan dengan seorang pria berjanggut putih dan rambut keritingnya sebahu. Pria paruh baya itu mengajaknya masuk hutan. Hanya sekilo saja jaraknya dari kampung, dan sudah tampak seberkas cahaya obor.

"Teman saya memilih tidur karena lelah mendata seharian. Di tempat yang kami tuju, sudah berbaris sekitar seribu orang anggota OPM," tuturnya dengan suara setengah berbisik.

Selanjutnya ia diajak duduk di salah satu pondok. Ia mengeluarkan bungkusan kopi dan gula. Dua bungkus rokok diletakkan di lantai kayu. Tak berselang lama, tawa menebal di hutan malam itu.

"Saya baru tahu kalau pria berjanggut itu ternyata ketuanya. Mereka baik. Bahkan ketika kami mau pulang, barang bawaan kami semua dipikul oleh mereka. Saya menolak barang kami dipikul, takut merepotkan, tapi kami dipaksa. Padahal sebenarnya berat juga ransel dan alat-alat yang kami bawa," kenangnya sambil tertawa.

Pesawat sebentar lagi mendarat di Gorontalo. Bapak itu izin ke toilet. Sebelum pesawat benar-benar pada posisi landing, ia sudah kembali ke kursi lalu coba mengenakan sabuk pengaman. Setelah tiga kali mencoba karena mungkin faktor usia, akhirnya ia bisa mengenakan sabuk itu.

Setelah pesawat mendarat di Jalaluddin Airport, saya pamitan dengan bapak itu. Ia dijemput mobil avanza sewarna dengan jaketnya. Dari jendela mobil, ia melambaikan tangan yang segera saya balas pula dengan beberapa kali lambaian, hingga mobil itu mengecil dan hilang di ujung pintu keluar bandara.

Dan ... saya baru sadar, kami tidak saling bertukar nama dan alamat.

Wednesday, September 6, 2017

Opa Pe Nama Marlon, Tapi Biasa Dipanggil Maria

Ilustrasi Mojok.co

Opa Marlon dan Oma Maria pasutri yang tinggal dan menua di Dumoga. Dumoga adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara.

Mereka berdua hingga usia senja dikenal paling suka bercanda oleh warga sekitar. Meski banyak masalah, rumah tangga mereka awet. Pasutri ini memegang teguh tagline tandingan Pegadaian: mengatasi masalah dengan bercanda.

Ada banyak cerita yang beredar tentang perjalanan hidup Opa Marlon dan Oma Maria, hingga salah seorang dari mereka berpulang lebih dulu menghadap Yang Maha Kuasa. Semuanya akan dirangkum dalam enam mop berikut.

Opa Nae Kalapa

Opa meski sudah 70 tahun, raganya sehat dan jiwanya sentosa. Suatu hari Oma ingin sekali minum air kelapa muda. Oma lalu meminta Opa memanjat pohon kelapa setinggi tiang listrik di samping rumah. Tentu saja Opa tidak bisa menolak. Tidak ada anak atau cucu pula di rumah yang bisa disuruh, semuanya telah hidup masing-masing.

“Hati-hati mo ciri,” kata Oma.

“Jangan pandang enteng, biar tua bagini mar Opa masih kuat bapanjat. Apalagi bapanjat pa Oma,” canda Opa.

Oma tertawa mendengar pernyataan bodoh Opa barusan meski dalam hatinya tetap khawatir. Apalagi melihat celana Opa kedodoran saat memanjat.

“Eh, Opa! Ngana pe calana somo ta lucur. Ngana pe bolpoin so mo kaluar!” teriak Oma.

“Bekeng kage jo ngana ini. Ndak lama kita turung kong coret-coret pa ngana deng ni bolpoin!” sahut Opa.

Oma yang merasa diserang balik, membalas, “Stel le ngana. Tinta so kering le!”

Opa Minta Susu

Karena ada urusan mendadak, Opa harus berangkat ke Kota Kotamobagu. Opa ketika itu naik mikrolet.

Di dalam mikrolet, di sebelah Opa ada seorang ibu yang sedang menyusui anaknya.

“Capat jo basusu. Kalo ndak Mama’ mo kase pa Opa di sabalah,” bujuk ibu itu.

Tapi anak itu tetap enggan menyusu.

“Oh, kase biar, Mama’ so mo kase pa Opa jo,” ancam ibu itu.

Wajah Opa memerah. Rambut peraknya seakan ikut tersemir menjadi merah. Jantung Opa deg-degan, sebab sebentar lagi mikrolet akan memasuki kota, tapi ibu dan anak itu masih terlibat adu tolak-bujuk.

Saking tidak tahannya, akhirnya Opa bersuara, “Maaf, Ibu, coba cepat ambil keputusan ne. Soalnya Opa so mo turung ini.”

Lubang Buaya

Suatu hari Opa ketahuan selingkuh. Di hape Opa ada beberapa SMS dari selingkuhannya yang luput dihapus. Oma membacanya saat Opa terlelap.

Oma akhirnya memutuskan pisah ranjang dengan Opa. Oma mengungsi ke rumah anaknya.

Saat berada di rumah anaknya, Oma mengirim SMS berisi pantun kepada Opa.

“Buah matoa jatuh di kebaya. Biar so tua mar buaya.”

Opa menerima SMS tersebut, “Oh, mo baku balas pantun dang.”

Opa membalas SMS-nya Oma dengan pantun juga.

“Keladi tua rasa pepaya. Biar so tua, mar kita le so bosan deng lubang buaya.”

Oma naik pitam setelah membaca SMS dari Opa. Ia segera membalas SMS dari Opa.

“So ini lubang buaya ini yang makang korban jendral-jendral. Satu kali deng ngana pe kopral kacili itu.”

Nama Sapa?

Setelah rujuk dan tinggal bersama lagi, Opa dan Oma kembali merajut benang-benang kasih sayang.

Suatu malam, baru saja mereka berdua melangkah menuju kamar, tetiba mereka dicegat oleh dua pria bertopeng di depan pintu. Ternyata kedua perampok itu sudah lebih dulu masuk kamar dengan mencungkil jendela.

“Dudu situ ngoni dua!” bentak salah satu perampok, sambil menunjuk kasur dengan sebilah parang.

Dengkul Opa dan Oma bergetar seirama ketika melangkah menuju kasur.

“Ngana pe nama sapa?” tanya perampok kepada Oma.

“Maria,” jawab Oma.

Tetiba perampok yang ternyata kakak beradik itu berkata, “Adoh, Oma pe nama sama deng torang dua pe Mama’ pe nama. Oma kaluar jo sana.”

Kedua perampok itu lanjut bertanya kepada Opa, “Kong ngana pe nama sapa?”

Opa dengan pelan dan gemetar menjawab, “Marlon … mar anak kompleks biasa pangge Maria.”

Nama Sayang-Sayang

Setelah selamat dari perampokan malam itu, Opa dan Oma dikunjungi semua anak dan cucunya. Rumah jadi ramai.

Setiap kali ada anak atau cucu berkunjung, Opa pasti memanggil Oma dengan sebutan darling, honey, dan my love. Itu untuk menunjukkan aura kasih sayang dalam rumah tangga mereka.

Salah seorang cucu perempuan berusia 18 tahun mendekati Opa lalu bertanya, “Opa, kiapa Opa jaga pangge pa Oma dengan nama darling, honey, deng my love? Romantis skali Opa ini. Apa de pe rahasia dang?”

Opa lalu mengajak cucunya itu mendekat.

“Badiam ne … Jaga ni rahasia. Sebenarnya … Opa so lupa Oma pe nama sapa,” kata Opa Marlon yang sudah mulai pikun.

Pinjam Hape

Tahun demi tahun berlalu. Opa mulai sakit-sakitan, begitu juga Oma. Tapi ternyata fisik Oma masih jauh lebih kuat tinimbang Opa.

Sore. Hujan mewarnai lanskap desa menjadi abu-abu. Oma kala itu sedang berteduh di salah satu rumah anaknya, tak jauh dari rumahnya. Oma baru saja dari apotek, membeli obat untuk Opa. Ia menitipkan Opa kepada salah seorang cucu laki-lakinya.

Saat menunggu hujan reda, dari kejauhan Oma melihat cucu laki-lakinya berlari di tengah deras hujan. Ada yang janggal di hati Oma.

“Omaaaaaa! Opa so ndak bangon-bangon. Birman so banya di rumah. Dorang bilang Opa so meninggal!”

Bungkusan obat di genggaman Oma terlepas. Anak dan cucu lainnya di rumah itu segera memeluk Oma.

“Sapa yang ada hape? Oma mo pinjam dulu,” pinta Oma terisak-isak.

“Mo bekeng apa so Oma? Pake hape ini jo,” kata salah seorang cucunya sambil menyodorkan hape android.

“Oma mo buka pesbuk. Mo ganti status dari menikah jadi lajang.”


(Tulisan ini sebelumnya dimuat di Mojok.co)

Kalau Adam dan Hawa Orang Minahasa, Kita Pasti Masih Tinggal di Surga

Ilustrasi Mojok.co

Akhir Juli dan awal Agustus jadi pekan yang menyibukkan bagi saya. Baru saja kembali dari Kota Manado yang berada di lengan Pulau Sulawesi pada pertengahan Juli, saya harus melanjutkan perjalanan ke kaki Sulawesi, tepatnya ke Kota Makassar. Mudah-mudahan tidak lanjut ke selangkangan, eh!

Ada beberapa agenda pertemuan yang tak perlu dibentang di sini. Dari pertemuan-pertemuan itu, telinga saya kerap kali menangkap mop yang dituturkan kengkawan-kengkawan dari pelosok negeri. Berikut kisah-kisahnya.

Untung Adam dan Hawa Bukang Orang Minahasa

Pagi itu kami bergegas ke Pasar Beriman di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, yang juga dijuluki Pasar Ekstrem.

Dari Kota Manado, jaraknya hanya 30-an menit. Di pasar tersebut di-display berbagai macam daging binatang. Bagi pengunjung yang belum terbiasa, harus kuat imannya. Mungkin itu alasannya pasar itu dinamakan Pasar Beriman.

Di sana kita bisa temui daging kelelawar, tikus hutan, anjing, kucing, babi hutan, hingga ular sanca yang nama lokalnya ular patola.

Saat perjalanan menuju pasar itulah, di dalam mobil, salah seorang kawan saya menceritakan mop yang terkait dengan kunjungan kami kali ini. Sebut saja nama kawan itu Fay.

“Ngoni so pernah dengar ini mop tentang ular patola?” tanya Fay. Saya sendiri sudah berkali-kali, tapi kengkawan semobil lainnya yang berasal dari Jambi, Bantaeng, Lembata, dan Maluku belum pernah mendengarnya.

“Oke, lanjut cirita saja!” kata saya.

“Begini, torang manusia kan punya nenek moyang itu Adam dan Hawa, dorang dua tinggal di surga to?”

“Ya, ya, ya,” kata kawan dari Maluku.

“Kenapa mereka berdua dibuang ke bumi? Lantaran iblis yang berubah jadi ular goda to?”

“Iya, baru dorang dua makang buah apel di pohong terlarang,” sambung kawan dari Lembata.

Gayung bersambut, Fay segera menuntaskan mopnya, “Nah, coba kalu Adam dan Hawa itu orang Minahasa. Pasti yang ada makang bukang apel, tapi ularnya! Dan kitorang manusia masih tinggal di surga.”

Sontak seisi mobil riuh dengan tawa. Saya yang sudah pernah mendengar mop itu pun masih tergelitik dan ikut tertawa.

Pancasila Ada Berapa Sila?

Mop kali ini diceritakan kawan dari Larantuka. Kawan ini menceritakannya ketika kami sudah berada di Kota Makassar.

Sebut saja nama kawan ini, Om Bin. Ketika itu, ada sesi tanya jawab pada acara bertema lingkungan hidup. Om Bin menyisipkan satu mop sebelum mulai bertanya. Ice breaking, katanya.

“Ada teman saya pergi bertemu Pak Camat,” Om Bin mulai bercerita.

“Kemudian, saat bertemu Pak Camat, teman saya ini ditanyai, ada berapa sila di Pancasila?”

“Teman saya itu menjawab tiga. Ia kemudian ditampar Pak Camat,” lanjut Om Bin.

“Setelah itu teman saya pulang, lalu bertemu dengan saya. Ia kemudian bercerita, Pak Camat baru saja menamparnya.”

“Itu kenapa? Saya bertanya. Lalu kata teman saya, Pak Camat bertanya berapa sila di Pancasila. Ternyata teman saya menjawab tiga. Karena itulah dia ditampar,” kata Om Bin.

“Saya kemudian bilang, kenapa tidak dijawab lima. Lalu teman saya menyahut, tiga saja sudah ditempeleng, apalagi dijawab lima!”

Om Bin sukses membikin seisi ruang pertemuan membahana oleh tawa peserta.

Kuda Muntah

Kali ini mop datang dari teman saya asal Palu. Saya ganti namanya jadi Mawar saja, eh, kerna dia laki-laki, sebut saja Mukmun.

Mukmun mengisahkannya saat perjalanan menuju kawasan karts di Rammang-Rammang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Dari Kota Makassar jaraknya hanya sejam naik bus. Mukmun teringat mop ini kerna melihat tugu jagung yang kami lewati.

Di dalam bus, Mukmun bercerita, suatu hari ada orang Manado bertemu orang Makassar bertemu di perjalanan dalam sebuah mobil.

“Orang Makassar bertanya kepada orang Manado … kalu di Manado apa nama makanan favorit di sana?” tutur Mukmun.

“Orang Manado menjawab, kalau di tempat asalnya ada namanya Tinutuan dan itu ada campuran jagung.”

Mukmun serius bercerita, kendati bising lalu-lalang kendaraan sedikit meredam volume suaranya.

“Kase kuat sadiki bacirita!” teriak seorang teman di deretan kursi sebelah.

Mukmun mengeraskan suaranya, “Nah, orang Manado itu bilang, jagung juga makanan andalan di Manado. Tapi, orang Makassar itu bilang, kalau di Makassar, jagung itu buat makanan kuda.”

Ada beberapa kawan di dalam bus yang cekikikan.

“Orang Manado diam saja. Kemudian di tengah perjalanan ini orang Makassar mulai mabuk jalan. Kemudian ia muntah dan isinya jagung semua,” lanjut Mukmun.

“Orang Manado lalu teriak ke sopir, agar mobilnya disetop dulu. Sopir lantas bertanya, ada apa gerangan? Lalu kata orang Manado … ini ada kuda so muntah!”

Mukmun juga sukses membuat bus berguncang.

Malam Pertama

Dua kisah berikut, meski bukan panenan mop dari perjalanan Manado—Makassar tadi, hendaknya bisa menjadi pamungkas mop kita kali ini. Keduanya tentang Alo’ dan Mince.

Setelah lama berpacaran, akhirnya Alo’ dan Mince memutuskan menikah. Pernikahan mereka dihelat begitu sederhana.

Usai prosesi pernikahan, malam harinya Alo’ dan Mince akan menikmati malam pertama. Itu malam yang ditunggu-tunggu. Maklum, mereka berdua selama pacaran memang berkomitmen untuk tidak berhubungan intim jika belum sah menikah.

Malam itu Alo’ tanpa sengaja memakai celana dalam yang dijahit dari karung tepung terigu. Alo’ memang hidup kekurangan, bahkan untuk menikah saja ia harus menabung selama tujuh tahun.

Setelah mereka berdua berada di dalam kamar, Alo’ mulai mencumbu Mince. Satu per satu pakaian tanggal dan berserakan di lantai.

“Ooo … Tuhan!” Tiba-tiba Mince teriak kemudian jatuh pingsan. Alo’ kebingungan.

Sampai akhirnya Alo’ sadar, Mince ternyata kaget melihat celana dalamnya yang tertulis: BERAT BERSIH 25 KG.

Behel

Setelah lama menikah dan memiliki putri satu-satunya berusia 5 tahun, Alo’ dan Mince mulai dibanjiri rezeki.

Warung kecil-kecilan mereka laris manis. Sampai akhirnya mereka bisa membeli dua buah ruko. Kehidupan mereka pun akhirnya sejahtera.

Pada suatu malam Alo’ mengajak Mince masuk ke kamar.

“Mince sayang, manjo kwa ka kamar.”

“Sabar kwa, sadiki le,” jawab Mince.

Raut wajah Alo’seperti menuntut, “Sayang, mari jo kwa!”

Akhirnya Mince tidak bisa menolak bujukan suaminya itu, “Manjo dang, sayang.”

Mereka berdua bergegas menuju kamar. Kebetulan anak mereka sudah pulas.

“Sayang, coba kase mati tu lampu,” pinta Alo’.

Mince beranjak lalu memadamkan lampu.

Setelah lampu padam, terdengar suara Alo’, “Mince sayang, coba ngana lia ne kita pe behel … glow in the dark.”

“Ku**cu** deng ngana, Alo’. Jadi cuma mo kase tunjung akang ngana pe behel dang?”

Tinju Mince melesat ke “biji” Alo’.


(Tulisan ini sebelumnya dimuat di Mojok.co)

Wednesday, August 2, 2017

Kota yang Beranjak Congkak

Sebuah kota menjadi persinggahan sombong. Gedung-gedung berlomba-lomba menjadi galah pencongkel langit. Ketika langit runtuh, orang-orang panik berlarian mencari lantai terendah. Manusia memang gemar tempat yang tinggi, tapi terlalu takut untuk tak kembali ke bawah.

Di kota yang beranjak congkak ini, aku pernah menjala tawa dan bala sekaligus. Meletakkan kedua nasib itu ke dalam guci retak. Sembari lengan kiri kubiarkan bergelantungan pada lorong cahaya. Aku lalu memilih melepaskan genggaman itu, hingga jatuh menimpa tiada.

Sekali kulihat kota ini dari atas langit. Hamparan awan seperti kasur dan selimut hotel bintang lima. Ada sebuah liang biru menganga di sana. Sebagai celah sinar matahari 'tuk menikam binasa siapa saja yang lemah.

Mungkin benar, kota adalah yang sebenar-benarnya kehidupan. Sebab kematian hanya jadi biasa. Nyawa jadi serupa nyamuk-nyamuk yang meletup pada jala raket listrik. Setelah itu, mencari lagi dengung ruh yang siap untuk dibunuh.

Tak ada yang kurindukan dari kedua kota tempat aku sejenak tinggal. Yang satunya mengusir pergi dan yang satunya lagi meminta kembali. Dari asing kembali ke asing. Tempat yang sama ketika cuaca hanya kata yang sia-sia dari mulut seorang peramal tua.

Makassar, Juli menjelang Agustus, 2017.

Wednesday, July 19, 2017

Kelebat di Gunung Klabat

Aku genggam sepotong es krim di tengah kabut dan kelebat Gunung Klabat. Serupai anak, aku jilati dari kaki hingga ke puncak. Aku mabuk gila kala itu. Udara dingin aku tantang telanjang.

Aku habiskan es krim tanpa gigil. Meski hujan menyusul setelah dipanggil halilintar. Dingin tetap aku cumbu dengan diam. Dan waktu semakin singkat di lidah jalan bercabang dua.

Aku kembali membuka satu bungkus es krim yang mengeras. Lelehan empat garis turun perlahan. Bungkus demi bungkus berserakan di lantai. Aku kelelahan.

Aku rebah di kaki gunung besar yang terlihat samar dan kecil. Suara empat atau tiga jenis burung bergantian terdengar. Ditambah suara pepohonan bambu yang bergesekan. Merdu sekali sebagai selimut tidur.

Aku masih dengan kelebat itu ...

Sunday, June 25, 2017

Tragedi Azan Subuh

Ilustrasi: Mojok.co

Tak hanya di Papua dan Maluku, mop sebenarnya juga bertebaran di Sulawesi Utara, terutama di kalangan Suku Minahasa, Sanger, dan Mongondow. Cerita-cerita lucu itu rata-rata mirip satu sama lain, bahkan ada yang mirip betul dengan mop Papua, dengan nama yang berbeda saja. Mop orang Minahasa misalnya, akan menggunakan nama-nama tokoh seperti Tole, Waseng, Mince, Nyong, atau Noni. Sementara di Sanger, ada nama-nama Ungke, Utu, Wawu, dan Alo’. Sedangkan Uyo’, Anu’, dan Lengkebong beredar dalam cerita-cerita Mongondow.

Saya berasal dari Mongondow, dan berikut kisah-kisah lucu daerah saya tersebut.

Lagu Garuda Pancasila

Lengkebong duduk di bangku SD kelas 4. Usianya baru 10 tahun. Pada suatu Jumat, Ibu Titing si wali kelas mengumpulkan semua siswa, termasuk Lengkebong.

“Sebelum torang libur, Ibu mau kasi tau. Senin nanti, torang pe kelas dapa pilih jadi kelompok penyanyi pas upacara,” kata Wali Kelas.

“Horeeeeee!” anak-anak berteriak girang, sementara Lengkebong hanya menguap.

“Jadi, hari ini, sebelum pulang, torang latihan manyanyi dulu,” ajak Wali Kelas.

Setelah beberapa kali latihan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, tiba saatnya untuk lagu bebas.

“Ngoni samua hapal lagu ‘Garuda Pancasila’?” tanya Wali Kelas.

Anak-anak kompak menjawab, “Iyooo!”

Lengkebong kembali menguap.

Ibu Titing kemudian menyuruh anak-anak bernyanyi, tentu saja dengan aba-aba kedua tangannya.

“Garuda Pancasilaaa … silaaa ….”

Ibu Titing mengernyitkan dahi. Ia seperti mendengar ada suara yang serupa gema. Ia kembali memberi isyarat dengan tangan.

“Garuda Pancasilaaa … silaaa ….”

Hal serupa kembali terjadi, Ibu Titing makin heran.

“Kenapa ada suara macam gema bagitu e?”

Anak-anak hanya bertukar pandang. Sekali lagi, Ibu Titing menyuruh anak-anak bernyanyi, dan gema itu terdengar lagi. Bagian sila itu selalu telat.

Penasaran, Ibu Titing kemudian menyuruh satu per satu anak menyanyi di depan kelas. Ia bermaksud menyeleksi.

“Coba ngana, Anu’,” katanya kepada seorang anak perempuan.

Anu’ kemudian maju ke depan kelas dan bernyanyi.

“Garuda Pancasilaaa. Akulah pendukungmuuu ….”

Anu’ berhenti setelah diberi aba-aba oleh Ibu Titing.

“So bole. Coba ngana, Uyo’.”

Kali ini seorang bocah laki-laki maju. Dan seperti Anu’, Uyo’ lancar-lancar saja. Demikian pula anak-anak lainnya. Hingga tiba giliran Lengkebong.

“Sekarang ngana, Lengkebong.”

Gontai Lengkebong maju ke depan kelas. Setelah mendapat aba-aba dari Ibu Titing, Lengkebong mulai menyanyi.

“Burung Garuda Pancasilaaa ….”

Sontak saja tawa menebal di ruang kelas.

Anak TK

Anu’ girang karena ia mulai masuk TK. Selama sepekan, ibunya kerap mengantar Anu’ ke TK Siti Masita yang hanya berjarak sepelempar bola kasti. Selain diberi bekal makanan dan kue, Anu’ juga sering diberi jajan seribu rupiah. Uang itu bisa dipakai Anu’ untuk membeli makanan ringan yang ia suka.

Setelah yakin Anu’ bisa pergi sekolah sendiri, ibunya dengan lembut bertanya, “Anu’ so bole pigi sekola sandiri?”

Anu’ yang mungil dan berlesung pipit itu tersenyum sembari mengangguk.

“Betul, so brani?” Ibunya mengulang kembali pertanyaan. Sebenarnya ibunya tidak khawatir jika Anu’ berangkat ke TK sendirian. Sebab dari rumah menuju TK, Anu’ hanya menyeberangi tanah lapang, bukan jalan raya.

“Iyo, co boye (so bole),” jawab Anu’.

Mendengar jawaban Anu’, ibunya kemudian hanya mengantar putrinya itu sampai di beranda. Anu’ diberi jajan seribu rupiah, yang dimasukkan ibunya ke saku seragam. Pandangan ibunya terus membuntuti Anu’, sampai anak itu selamat mencapai gerbang TK.

Hari berikutnya, seperti biasa ibunya memberi jajan kepada Anu’. Masih dengan jumlah yang sama: seribu rupiah. Kali ini ibunya tidak lagi mengekori langkah Anu’.

Di tengah perjalanan, tanpa disadari Anu’, uang jajannya terjatuh. Sesampainya di TK, ia segera masuk ke kelas. Pelajaran menghitung dimulai.

“Anak-anak, kalu tiga ditambah tiga, berapa?”

“Enaaammm!” kompak anak-anak menjawab termasuk Anu’.

Setelah puas dengan berhitung, Ibu Guru itu coba menaikkan level ke perhitungan uang. Ia mengambil beberapa koin dan uang kertas seribuan.

Anak-anak cepat tanggap dengan maksudnya. Hampir semua pertanyaan sederhana terjawab, seputar penambahan koin ratusan dan uang kertas seribuan. Ibu guru sengaja memakai alat peraga koin dan seribuan, sesuai kemampuan berhitung anak-anak.

Tiba-tiba terdengar suara tangisan. Dan anak yang menangis itu … Anu’.

“Kiapa sayang?” Ibu Guru mendekat lalu mengelus-elus rambut Anu’.

“Anu’ pe jajan calibu (seribu) ilang.”

Ibu guru kemudian mengambil selembar uang seribu yang dijadikannya alat peraga barusan.

“Napa, ibu tukar jo?” tawar Ibu Guru kepada Anu’.

Anu’ dengan malu-malu, mengambil uang pemberian ibu guru. Tapi … Anu’ masih menangis.

Ibu Guru tampak heran. “Kiapa manangis ulang, Anu’ sayang?” Tapi Anu’ terus menangis.

“Anu’ sayang, kan ibu guru so tukar tu doi yang ilang? Kiapa masih manangis, sayang?”

Sesenggukan Anu’ menjawab.

“Bagini … co dua libu (so dua ribu).”

Ramadan dan Durian

Di kampung saya, Desa Passi di Kabupaten Bolaang Mongondow yang masih bermimpi talak tiga dari Sulawesi Utara itu, musim durian selalu datang bersamaan dengan Ramadan. Tapi itu dulu, ketika saya masih dikejar Ibu dengan lelehan bubur pisang. Ketika musim durian sudah tak tentu seperti sekarang, masih terkenang sejumlah cerita lucu tentang Ramadan dan musim durian. Cerita berikut setiap tahun menjadi bahan bualan kami ketika nongkrong di posko Ramadan desa.

Alkisah, ada pohon durian yang menjulang tinggi dan berdampingan dengan masjid desa. Pohon itu berbuah lebat dan matang tepat di pertengahan bulan puasa.

Ada seorang bapak yang dipercayakan menjadi imam masjid kala itu. Ia sering dipanggil Papa Midi.

Pada suatu subuh, setelah bersantap sahur, Papa Midi segera menuju masjid. Sang imam ini sama halnya dengan penduduk lainnya, doyan makan durian.

Sesampainya di masjid, yang selalu sepi di pertengahan Ramadan, sang imam memilih menghabiskan selinting rokok kreteknya dulu sebelum masuk ke masjid. Menurut cerita, peristiwa ini terjadi medio ’70-an, dan satu-satunya penerangan berasal dari lampu minyak.

Saat asyik merokok, Papa Midi tergoda menuju pohon durian di samping masjid. Setiap siang, ia memang suka mengecek kalau ada buah jatuh. Subuh itu, berbekal cahaya korek api, ia tidak menemukan apa-apa.

Setelah dongkol dan rokok di jepitan jemari pupus, Papa Midi melangkah masuk ke masjid. Ia merapat ke jam tua seukuran piring yang menempel di dinding papan. Masjid kala itu masih dibangun dari papan. Bahkan jendela lebarnya tanpa daun jendela. Hanya sekali lompat, seketika posisi kita sudah berada di luar masjid.

Sudah waktu untuk mengumandangkan azan, gumamnya setelah melirik jam. Papa Midi kemudian berteriak mengumandangkan azan, sebab masjid kala itu belum difasilitasi pengeras suara.

“Allaaahu akbar allaaaaaahu akbar!” Baru saja ia memulai azan ketika … kraaaak! Terdengar bunyi durian jatuh.

Sang muazin kaget. Tak ingin ada yang mendahuluinya, ia segera mengakhiri azan, “Laa ilaaha illallaah!”

Setelah itu, sang muazin melompati jendela.


Artikel ini sebelumnya dimuat di Mojok.co