Wednesday, August 2, 2017

Kota yang Beranjak Congkak

Sebuah kota menjadi persinggahan sombong. Gedung-gedung berlomba-lomba menjadi galah pencongkel langit. Ketika langit runtuh, orang-orang panik berlarian mencari lantai terendah. Manusia memang gemar tempat yang tinggi, tapi terlalu takut untuk tak kembali ke bawah.

Di kota yang beranjak congkak ini, aku pernah menjala tawa dan bala sekaligus. Meletakkan kedua nasib itu ke dalam guci retak. Sembari lengan kiri kubiarkan bergelantungan pada lorong cahaya. Aku lalu memilih melepaskan genggaman itu, hingga jatuh menimpa tiada.

Sekali kulihat kota ini dari atas langit. Hamparan awan seperti kasur dan selimut hotel bintang lima. Ada sebuah liang biru menganga di sana. Sebagai celah sinar matahari 'tuk menikam binasa siapa saja yang lemah.

Mungkin benar, kota adalah yang sebenar-benarnya kehidupan. Sebab kematian hanya jadi biasa. Nyawa jadi serupa nyamuk-nyamuk yang meletup pada jala raket listrik. Setelah itu, mencari lagi dengung ruh yang siap untuk dibunuh.

Tak ada yang kurindukan dari kedua kota tempat aku sejenak tinggal. Yang satunya mengusir pergi dan yang satunya lagi meminta kembali. Dari asing kembali ke asing. Tempat yang sama ketika cuaca hanya kata yang sia-sia dari mulut seorang peramal tua.

Makassar, Juli menjelang Agustus, 2017.

Wednesday, July 19, 2017

Kelebat di Gunung Klabat

Aku genggam sepotong es krim di tengah kabut dan kelebat Gunung Klabat. Serupai anak, aku jilati dari kaki hingga ke puncak. Aku mabuk gila kala itu. Udara dingin aku tantang telanjang.

Aku habiskan es krim tanpa gigil. Meski hujan menyusul setelah dipanggil halilintar. Dingin tetap aku cumbu dengan diam. Dan waktu semakin singkat di lidah jalan bercabang dua.

Aku kembali membuka satu bungkus es krim yang mengeras. Lelehan empat garis turun perlahan. Bungkus demi bungkus berserakan di lantai. Aku kelelahan.

Aku rebah di kaki gunung besar yang terlihat samar dan kecil. Suara empat atau tiga jenis burung bergantian terdengar. Ditambah suara pepohonan bambu yang bergesekan. Merdu sekali sebagai selimut tidur.

Aku masih dengan kelebat itu ...

Sunday, June 25, 2017

Tragedi Azan Subuh

Ilustrasi: Mojok.co

Tak hanya di Papua dan Maluku, mop sebenarnya juga bertebaran di Sulawesi Utara, terutama di kalangan Suku Minahasa, Sanger, dan Mongondow. Cerita-cerita lucu itu rata-rata mirip satu sama lain, bahkan ada yang mirip betul dengan mop Papua, dengan nama yang berbeda saja. Mop orang Minahasa misalnya, akan menggunakan nama-nama tokoh seperti Tole, Waseng, Mince, Nyong, atau Noni. Sementara di Sanger, ada nama-nama Ungke, Utu, Wawu, dan Alo’. Sedangkan Uyo’, Anu’, dan Lengkebong beredar dalam cerita-cerita Mongondow.

Saya berasal dari Mongondow, dan berikut kisah-kisah lucu daerah saya tersebut.

Lagu Garuda Pancasila

Lengkebong duduk di bangku SD kelas 4. Usianya baru 10 tahun. Pada suatu Jumat, Ibu Titing si wali kelas mengumpulkan semua siswa, termasuk Lengkebong.

“Sebelum torang libur, Ibu mau kasi tau. Senin nanti, torang pe kelas dapa pilih jadi kelompok penyanyi pas upacara,” kata Wali Kelas.

“Horeeeeee!” anak-anak berteriak girang, sementara Lengkebong hanya menguap.

“Jadi, hari ini, sebelum pulang, torang latihan manyanyi dulu,” ajak Wali Kelas.

Setelah beberapa kali latihan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, tiba saatnya untuk lagu bebas.

“Ngoni samua hapal lagu ‘Garuda Pancasila’?” tanya Wali Kelas.

Anak-anak kompak menjawab, “Iyooo!”

Lengkebong kembali menguap.

Ibu Titing kemudian menyuruh anak-anak bernyanyi, tentu saja dengan aba-aba kedua tangannya.

“Garuda Pancasilaaa … silaaa ….”

Ibu Titing mengernyitkan dahi. Ia seperti mendengar ada suara yang serupa gema. Ia kembali memberi isyarat dengan tangan.

“Garuda Pancasilaaa … silaaa ….”

Hal serupa kembali terjadi, Ibu Titing makin heran.

“Kenapa ada suara macam gema bagitu e?”

Anak-anak hanya bertukar pandang. Sekali lagi, Ibu Titing menyuruh anak-anak bernyanyi, dan gema itu terdengar lagi. Bagian sila itu selalu telat.

Penasaran, Ibu Titing kemudian menyuruh satu per satu anak menyanyi di depan kelas. Ia bermaksud menyeleksi.

“Coba ngana, Anu’,” katanya kepada seorang anak perempuan.

Anu’ kemudian maju ke depan kelas dan bernyanyi.

“Garuda Pancasilaaa. Akulah pendukungmuuu ….”

Anu’ berhenti setelah diberi aba-aba oleh Ibu Titing.

“So bole. Coba ngana, Uyo’.”

Kali ini seorang bocah laki-laki maju. Dan seperti Anu’, Uyo’ lancar-lancar saja. Demikian pula anak-anak lainnya. Hingga tiba giliran Lengkebong.

“Sekarang ngana, Lengkebong.”

Gontai Lengkebong maju ke depan kelas. Setelah mendapat aba-aba dari Ibu Titing, Lengkebong mulai menyanyi.

“Burung Garuda Pancasilaaa ….”

Sontak saja tawa menebal di ruang kelas.

Anak TK

Anu’ girang karena ia mulai masuk TK. Selama sepekan, ibunya kerap mengantar Anu’ ke TK Siti Masita yang hanya berjarak sepelempar bola kasti. Selain diberi bekal makanan dan kue, Anu’ juga sering diberi jajan seribu rupiah. Uang itu bisa dipakai Anu’ untuk membeli makanan ringan yang ia suka.

Setelah yakin Anu’ bisa pergi sekolah sendiri, ibunya dengan lembut bertanya, “Anu’ so bole pigi sekola sandiri?”

Anu’ yang mungil dan berlesung pipit itu tersenyum sembari mengangguk.

“Betul, so brani?” Ibunya mengulang kembali pertanyaan. Sebenarnya ibunya tidak khawatir jika Anu’ berangkat ke TK sendirian. Sebab dari rumah menuju TK, Anu’ hanya menyeberangi tanah lapang, bukan jalan raya.

“Iyo, co boye (so bole),” jawab Anu’.

Mendengar jawaban Anu’, ibunya kemudian hanya mengantar putrinya itu sampai di beranda. Anu’ diberi jajan seribu rupiah, yang dimasukkan ibunya ke saku seragam. Pandangan ibunya terus membuntuti Anu’, sampai anak itu selamat mencapai gerbang TK.

Hari berikutnya, seperti biasa ibunya memberi jajan kepada Anu’. Masih dengan jumlah yang sama: seribu rupiah. Kali ini ibunya tidak lagi mengekori langkah Anu’.

Di tengah perjalanan, tanpa disadari Anu’, uang jajannya terjatuh. Sesampainya di TK, ia segera masuk ke kelas. Pelajaran menghitung dimulai.

“Anak-anak, kalu tiga ditambah tiga, berapa?”

“Enaaammm!” kompak anak-anak menjawab termasuk Anu’.

Setelah puas dengan berhitung, Ibu Guru itu coba menaikkan level ke perhitungan uang. Ia mengambil beberapa koin dan uang kertas seribuan.

Anak-anak cepat tanggap dengan maksudnya. Hampir semua pertanyaan sederhana terjawab, seputar penambahan koin ratusan dan uang kertas seribuan. Ibu guru sengaja memakai alat peraga koin dan seribuan, sesuai kemampuan berhitung anak-anak.

Tiba-tiba terdengar suara tangisan. Dan anak yang menangis itu … Anu’.

“Kiapa sayang?” Ibu Guru mendekat lalu mengelus-elus rambut Anu’.

“Anu’ pe jajan calibu (seribu) ilang.”

Ibu guru kemudian mengambil selembar uang seribu yang dijadikannya alat peraga barusan.

“Napa, ibu tukar jo?” tawar Ibu Guru kepada Anu’.

Anu’ dengan malu-malu, mengambil uang pemberian ibu guru. Tapi … Anu’ masih menangis.

Ibu Guru tampak heran. “Kiapa manangis ulang, Anu’ sayang?” Tapi Anu’ terus menangis.

“Anu’ sayang, kan ibu guru so tukar tu doi yang ilang? Kiapa masih manangis, sayang?”

Sesenggukan Anu’ menjawab.

“Bagini … co dua libu (so dua ribu).”

Ramadan dan Durian

Di kampung saya, Desa Passi di Kabupaten Bolaang Mongondow yang masih bermimpi talak tiga dari Sulawesi Utara itu, musim durian selalu datang bersamaan dengan Ramadan. Tapi itu dulu, ketika saya masih dikejar Ibu dengan lelehan bubur pisang. Ketika musim durian sudah tak tentu seperti sekarang, masih terkenang sejumlah cerita lucu tentang Ramadan dan musim durian. Cerita berikut setiap tahun menjadi bahan bualan kami ketika nongkrong di posko Ramadan desa.

Alkisah, ada pohon durian yang menjulang tinggi dan berdampingan dengan masjid desa. Pohon itu berbuah lebat dan matang tepat di pertengahan bulan puasa.

Ada seorang bapak yang dipercayakan menjadi imam masjid kala itu. Ia sering dipanggil Papa Midi.

Pada suatu subuh, setelah bersantap sahur, Papa Midi segera menuju masjid. Sang imam ini sama halnya dengan penduduk lainnya, doyan makan durian.

Sesampainya di masjid, yang selalu sepi di pertengahan Ramadan, sang imam memilih menghabiskan selinting rokok kreteknya dulu sebelum masuk ke masjid. Menurut cerita, peristiwa ini terjadi medio ’70-an, dan satu-satunya penerangan berasal dari lampu minyak.

Saat asyik merokok, Papa Midi tergoda menuju pohon durian di samping masjid. Setiap siang, ia memang suka mengecek kalau ada buah jatuh. Subuh itu, berbekal cahaya korek api, ia tidak menemukan apa-apa.

Setelah dongkol dan rokok di jepitan jemari pupus, Papa Midi melangkah masuk ke masjid. Ia merapat ke jam tua seukuran piring yang menempel di dinding papan. Masjid kala itu masih dibangun dari papan. Bahkan jendela lebarnya tanpa daun jendela. Hanya sekali lompat, seketika posisi kita sudah berada di luar masjid.

Sudah waktu untuk mengumandangkan azan, gumamnya setelah melirik jam. Papa Midi kemudian berteriak mengumandangkan azan, sebab masjid kala itu belum difasilitasi pengeras suara.

“Allaaahu akbar allaaaaaahu akbar!” Baru saja ia memulai azan ketika … kraaaak! Terdengar bunyi durian jatuh.

Sang muazin kaget. Tak ingin ada yang mendahuluinya, ia segera mengakhiri azan, “Laa ilaaha illallaah!”

Setelah itu, sang muazin melompati jendela.


Artikel ini sebelumnya dimuat di Mojok.co

Sunday, May 7, 2017

Selamat Jalan Didi


Waktu memang bangsat! Ketika semua hal telah lewat, tak ada satu pun ilmu teluh yang bisa menyeretnya kembali. Saya berharap, cukup sudah tahun kemarin yang tega merenggut kawan-kawan karib. Setelahnya, biarkan dulu mereka menua. Sebab kami masih ingin bersua.

Tapi tahun ini, ternyata sama biadabnya. Baru saja kemarin saya dikabari Themmy kalau Didi masuk rumah sakit. Ia dioperasi karena luka dalam. Ada orang yang entah alasannya apa, dan tak pernah tahu kalau Didi satu dari sebagian kecil orang yang rela berjuang untuk nelayan-nelayan tradisional di Manado, lalu orang itu tega menancapkan belati di hatinya.

Orang itu mungkin juga tak pernah tahu... Didi seorang ayah.

Didi satu dari banyak teman saya di komunitas punk di Manado. Saya memang tidak seliar mereka kini, yang tetap gemar memburu panggung-panggung gig, berpogo ria, dan menikmati hidup seperti waktu tak pernah sedikit pun beranjak.

Di Daseng, saung sederhana bagi para nelayan-nelayan menambatkan perahu mereka, Didi adalah teman yang tahu bagaimana caranya menghibur kami. Dari pesta gelas, dansa botol, ikan-ikan bakar berselimut dabu-dabu, hingga nada-nada tinggi yang mengutuk pengurukan laut.

Daseng memang satu-satunya saung yang gagah menantang gedung-gedung congkak, yang berderet di atas lahan reklamasi sepanjang boulevard.

Saya ingat tahun kemarin, ketika Themmy dan kawan-kawan Daseng, mengaransemen lagu "Nenek Moyangku Seorang Pelaut" dan merekamnya untuk Didi. Itu untuk persiapan gig yang tinggal beberapa hari lagi. Lagu itu memang diciptakan spesial untuk orang-orang seperti Didi.

Ah, Didi... Februari kemarin kau masih menjemput saya di sekretariat AJI Kota Gorontalo. Dengan vespa pink kesayanganmu, kita mengelilingi kota lalu menjebak malam ke dalam botol, agar malam tak akan pernah ke mana-mana.

Waktu meski terkadang biadab, ia memiliki caranya sendiri agar kita bisa berdamai dengannya. Ia mempertemukan kita untuk terakhir kalinya. Itu seperti kata pamit darimu.

Selamat jalan Didi. Kau hanya istirah dari lelah. Dan tanah begitu bahagia memeluk orang-orang sepertimu.

Titip duka ini untuk istri dan putra gagahmu.

Sulang untukmu!

Thursday, May 4, 2017

Itu bukan 'ndeso', tapi lapar na(r)si(s), dan itu biasa...


Dua orang gadis dari balik kaca bening, terlihat sibuk memotret makanan yang tersaji. Bergiliran, keduanya meminta dipotret dari berbagai sudut. Seorang gadis melangkah ke luar restoran, lantas memotret temannya dari balik kaca. Belasan menit, mereka menghabiskan waktu saling potret, lalu video mereka yang viral di Youtube itu terhenti sebelum keduanya menyantap makanan. Ada yang iseng merekam tingkah kedua remaja itu dari lantai dua gedung, yang berseberangan dengan restoran.

Sejak video itu viral, ribuan komentar merisak tingkah kedua gadis itu. Padahal uang milik mereka, ponsel buat motret juga milik mereka, tapi sepertinya kedua hal itu tidak mampu membendung hasrat merisak para netizen.

Di Kotamobagu, baru-baru ini, sedang ramai pula soal merisak atau bullying, masih terkait makanan. Sejak dibukanya restoran cepat saji KFC di Kotamobagu belum lama ini, menurut kabar yang seliweran di beranda facebook saya, restoran itu banjir kunjungan. Orang-orang mengantri seperti kawanan itik masuk kandang.

Untuk restoran cepat saji rasa Amerika, sebenarnya di Kotamobagu sudah jauh-jauh tahun ada. Texas Chicken lebih dulu menjalari lidah-lidah para penikmat ayam kriuk racikan negeri Om Sam itu. Sejak dibuka, Texas yang berada di lantai tiga Paris Superstore itu ramai. Tapi seiring waktu, pelanggan berkurang sebab isi saku tidak melulu buat narsis. Ada banyak kebutuhan lain selain makan.

Adalah Vanna Vay, yang membikin status pemicu netizen mengeroyoknya di facebook. Dikutip dari statusnya yang sekarang sudah dihapus, ia menuliskan: Huiillaaaa nyesek2 ngantree buat dpt ayam desonya kebangetan.

Saya tidak mendapat informasi lebih ketika beberapa media menuliskan beritanya. Tidak ada penjelasan apakah Vanna Vay saat itu ikut mengantri di KFC, lalu memotret dan mengunggahnya di facebook, atau ia hanya mengunggah foto yang entah dicomotnya dari mana, lantas diikuti statusnya di atas.

Tidak ada yang salah baik itu Vanna Vay, atau pun orang-orang yang tampak mengantri di foto tersebut. Ia hanya keliru saja ketika menempatkan kata 'ndeso'. Sebab istilah 'ndeso' atau 'kampungan' tidak melulu berkonotasi negatif. Netizen yang tampaknya gemar main korek itu lantas menyirami statusnya dengan bensin.

Saya juga menentang penjelasan dalam KBBI yang menyatakan: kam.pung.an, Adjektiva (kata sifat), (1) Kiasan berkaitan dengan kebiasaan di kampung; terbelakang (belum modern); kolot; (2) Kiasan tidak tahu sopan santun; tidak terdidik; kurang ajar.

Penjelasan KBBI tersebut jelas saja menyudutkan orang-orang yang bermukim di kampung atau pedesaan. 'Ndeso' hanyalah istilah baru ketika kata 'kampungan' mulai garing di telinga.

Mengenai istilah kampungan, yang KBBI pada penjelasan kedua bicara soal adab, mari coba bandingkan mana yang lebih beradab orang kota atau orang kampung.

Saya pernah membaca sebuah buku, yang saya lupa judulnya apa, tapi penulisnya saya ingat, kalau tidak salah Jalaludin Rahmat a.k.a Kang Jalal. Ia memberikan contoh mengenai adab orang kota dan orang desa. Seorang sosiolog melakukan uji coba kepada warga yang tinggal di perkotaan dan pedesaan.

Suatu ketika, menjelang hujan, sosiolog itu sengaja memarkir sepeda motornya di depan salah satu rumah di perkotaan. Ia mengintainya dari jarak jauh. Ketika hujan lebat, sepeda motor yang sengaja tidak dikunci setir itu, dibiarkan saja oleh orang-orang yang lalu lalang, pun oleh pemilik rumah.

Sementara itu, uji coba yang dilakukannya pada satu rumah di pedesaan, ketika hujan turun, pemilik rumah mendorong motornya lalu meneduhkannya. Penelitian itu ia lakukan tak hanya di satu rumah saja. Tapi lebih banyak rumah lagi baik itu di perkotaan dan pedesaan. Setelah itu ia mengambil kesimpulan, bahwa orang desa jauh lebih empati atau simpati dibandingkan orang yang tinggal di perkotaan.

Pembaca mungkin juga pernah mengalami, ketika mengontrak rumah di perkotaaan. Masyarakat perkotaan cenderung individualis. Seberapa banyak kalian mengenal tetangga ketika hidup di perkotaan?

Menyoal siapa yang lebih beradab dalam memperlakukan manusia lainnya, atau pun alam sekitar, jauh lebih beradab orang-orang yang tinggal di pedesaan. Bahkan untuk penyelesaian masalah, masyarakat di pedesaan cenderung menggunakan kebiasaan berunding. Semangat gotong-royong pun mudah ditemui.

Kembali ke persoalan statusnya Vanna Vay, ia juga memutuskan menghapus statusnya lalu meminta maaf kepada netizen. Urusan selera juga tak perlu diperdebatkan menukil perkataan teman. Pun urusan mengantri di tempat makan. Apalagi urusan memotret makanan, sebab saya juga sering melakukan itu. Apalagi makanan-makanan tradisional, yang kami masak sendiri. Apa yang salah dengan itu?

Jika ada yang mengatakan kalau mengunggah foto-foto makanan di sosial media itu, hanya membuat iri orang-orang yang tidak mampu, sepertinya pernyataan itu bisa disanggah. Kenapa juga ia tidak mampu membeli makanan, tapi bisa-bisanya membeli paket data lalu sosmed-an? Yang bangsat itu para koruptor yang merampas hak-hak mereka.

Dan urusan dengan orang-orang tidak mampu, masing-masing orang punya caranya sendiri untuk benar-benar ada, dan berdiri di samping mereka.

Oke, Vanna Vay, urusan KFC dan statusmu itu seupil. Ada yang lebih besar dan itu yang seharusnya perlu dibahas. Tentang, nasib rumah-rumah makan ayam bakar atau goreng di Kotamobagu.

Semoga mereka bisa bertahan...

Kalau sudah tidak ada pilihan lagi, merapatlah ke Teras Insomnia.

Thursday, April 27, 2017

Selamat Hari Raya Usia, Sigi


Maaf, biasanya setiap ulang tahun Sigi, ayah utang tulisan di blog dan diunggah tepat pukul 00.00 am, beriringan dengan ucapan. Kali ini ayah telat, semalam diajak teman ayah ketemu teman lamanya dari Poso yang datang berkunjung ke Gorontalo.

Berada di radius kiloan meter jauhnya dari jaringan internet IndiHome sekretariat, android ayah seketika jadi sebatang kayu. Ucapan dari ibumu yang ditautkan di facebook, baru bisa ayah baca sekembalinya dari menongkrong.

Apa kabar Sigi? Rambutmu masih karibo (keriting) 'kan? Jangan dibonding ya... Nanti bukan lagi My Little Medusa. Kemarin sewaktu di kampung ayah ingat, kita pernah jalan-jalan mengendarai motor ayah, pergi ke acara ulang tahun anaknya teman ayah. Dan ujung rambutmu membuat ayah bersin berkali-kali. Ayah memangkumu saat mengendarai motor, sebab di usiamu yang baru lima tahun, kewaspadaan ayah melampaui tingginya menara Limboto. 

Oh, ya, ayah sekarang berada di Gorontalo, makanya pengandaian menara Limboto sesuai domisili saja, biar Sigi nanti penasaran dengan kota Gorontalo. Jika tumbuh besar nanti, sekali-kali mainlah ke kota ini. Harga makanannya murah meriah. Para penjualnya berkiblat kepada para Psiokrat (mereka yang menuding kaum Merkantilis penyebab harga tinggi). Ah, nantilah Sigi pelajari tentang mereka, ayah juga cuma tahu sedikit soal mazhab itu. Sila berbantah-bantahan juga nanti. Karena begitulah menjadi manusia. 

Sigi sudah enam tahun ya? Waduh, tak terasa waktu begitu cepat menyeretmu menuju dewasa. Semoga ayah masih sempat melihatmu tumbuh setinggi ayah. Biar nanti ayah ingatkan terus bahwa menjadi dewasa itu membosankan. Satu-satunya cara agar tidak bosan, Sigi harus banyak berbagi dengan alam juga rajin membaca. Apa saja, asalkan bacaan itu bisa membuatmu berpikir: sifat mencari tahu itu memang sepenuhnya milik kanak-kanak. Tak banyak orang dewasa yang begitu. Kendati buku mereka segudang, waktu untuk bekerja telah menyita luang terlalu banyak. Waktu mereka berbagi dengan alam juga tersita. Di zamanmu kelak, semoga buku masih bertahan. Dan alam masih indah.

Tadi ibumu berkata: Sigi lupa hari ini ulang tahun. Padahal ibumu yang lupa, bahwa anak-anak itu selalu menemukan hal-hal baru setiap saat. Untuk perayaan setahun sekali, tentu saja Sigi akan lupa. Meski diingatkan di hari sebelumnya, Sigi akan cepat melupakannya setelah memegang pensil berwarna, lalu mencoret buku dengan gambar-gambar aneh. Seperti gambar ikan kemarin itu. Bentuknya mirip jenis ikan purba yang mungkin saja telah punah. Tapi tampangnya tak seseram monster laut (yang suka ditulis begitu oleh media). Lucu karena gambar ikannya penuh benjolan. Ada juga gambar burung berkaki satu.

Masih suka menggambar 'kan? Kemarin ayah kerap kali berpesan pada ibumu, kurangi pantengin gadget. Ibumu yang memberikan porsi terlalu banyak dengan gadget. Tapi bukan menyalahkan ibumu, itu karena ibumu tidak tahu saja dampaknya. Anak-anak akan kurang peka dengan sekitarnya. Mereka kurang berinteraksi dengan anak-anak lain, bebatuan, rerumputan, bunga, atau dinding kosong mana yang mulus untuk dicoreti. Tapi sesekali main gadget juga tidak mengapa. Asal kontrasnya dikurangi. Kasihan mata indah Sigi nanti.

Beberapa pekan lalu, ayah menonton videonya Sigi sedang merapal doa-doa pendek. Juga dengan artinya. Kemudian video Sigi sedang diajarkan mengaji. Sekolah di TK Alquran, mengharuskan anak didiknya begitu ya? Membaca doa dengan bahasa Arab itu baik. Mengaji juga baik. Tapi metode menghafal itu sih, yang agaknya kurang baik. Bermain sana!

Membaca Alquran itu juga baik. Tapi ayah heran saja, ketika Sigi diajari membaca apa yang belum selayaknya dicerna anak-anak, apalagi kalam Ilahi. Ada sih, saatnya Sigi mengenal kitab lebih dalam. Bukan hanya pada pembacaan, tapi pemaknaan. Tapi, ya, sudahlah... Sigi juga sedang berproses untuk menuju ke sana. Sigi sedang coba diajarkan mengenali huruf Arab, meski itu bisa dilakukan di usia yang tepat nanti. Kenali saja ya, jangan berharap pahala seperti orang-orang dewasa.

Kalau nanti bersama ayah, Sigi silakan bermain sepuas hati. Tahu tidak, saking bosannya orang dewasa dengan dunianya, mereka iri dengan dunia kanak-kanak. Itulah kenapa, orang dewasa ingin kalian cepat dewasa, biar mereka punya teman untuk melewati kebosanan. Dan jeleknya, ayah juga salah satu dari makhluk aneh berjuluk: deeeeewaaasaaaaaa...

Dan karena ayah telanjur masuk perangkap menjadi dewasa, ayah dulu sempat mengubah nama akun facebook ayah yang satu, menjadi namamu Sistha Ghasyafani (disingkat Sigi). Tapi satu-satunya alasan ayah mempertahankan akun itu, karena ada banyak tulisan yang ayah unggah di sana. Bukan tulisan ayah, tapi beberapa referensi bacaan yang hampir semua link-nya hilang di ponsel ayah. Sigi kelak tak perlu memakai akun itu. Kalau pun sudah cukup umur dan ingin, silakan. Mudah-mudahan ayah belum pikun mengingat kata sandinya. Akun itu juga menjadi album fotonya Sigi. Semoga facebook masih terus bertahan. Padahal, jika Sigi remaja nanti, mungkin eranya sosmed yang bisa diakses lewat pikiran. Hii, ngeri canggihnya.

Kemarin sempat ribut soal isu pedofilia lho. Para pedofil pemburu foto-foto bocah sempat ayah takuti. Tapi privasi untuk foto-foto Sigi juga telah disetel, meski sampai sekarang ayah juga kerap kali mengunggah foto-foto Sigi lewat akun facebook ayah. Tapi segala macam ketakutan wajar bagi orangtua. Kesalahan kami juga sebagai orangtua, yang terlalu gemes melihat foto anaknya dan secepat kilat membagikannya di sosmed. Postingan ini juga menyertakan fotomu. Dasar, perilaku orang dewasa.

Sigi kelak bakal mengerti, bahwa para pedofil juga makhluk Tuhan. Hanya keadaan saja yang sedang tidak adil, mengakibatkan mereka sakit seperti itu. Ngeri sih, mengetahui nasib korban-korban, dan caci maki segera melesat dari mulut banyak orang termasuk ayah. Apalagi jika korbannya sampai dibunuh. Nanti hati-hati dengan orang seperti itu, ya.

Tapi selain membayangkan nasib korban, ayah kerap kali membayangkan: seperti apa masa kanak-kanak para pedofil, kemudian seiring waktu mereka tumbuh dewasa dan akhirnya mengidap gangguan kejiwaan itu? Begitu bejatnya waktu yang menyeret mereka menjadi dewasa. Ah, semoga kalian para pedofil cepat diberi kesembuhan. Upaya mendoakan kesembuhan kalian, lebih baik daripada mengutuk.

Waduh, ayah makin ngelantur. Nanti ayah dikomentari para aktivis perlindungan anak. Meski ayah juga suka heran kepada mereka, di beberapa poster kampanye, foto anak-anak juga yang dipajang. Ah, sudah dulu ya... masing-masing orangtua yang paling tahu menjaga anak-anaknya. Itu pagar yang tidak sembarangan orang bisa melompatinya.

Eh, kue ulang tahun Sigi sudah ayah pesan. Maaf kali ini ayah tidak bisa mengantar langsung.

Selamat hari raya usia. Jangan pernah bosan dengan ucapan ini: Jangan pernah dewasa...

Sunday, April 9, 2017

Ibu-Ibu Bercaping

Foto dari Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng

Aku menemui ibu-ibu bercaping yang sedang menyimpan mata, mulut, dan kuping mereka di lumbung. Kata seorang ibu dengan bahasa isyarat; tak perlu lagi tatap benci, teriak caci, dan dengar basa-basi. Cukup mengecor pintu surga. Biar merah neraka tak jilati hijau hutan dan sawah mereka.

Aku melukis wajah ibuku di wajah-wajah kosong mereka. Puluhan ibu dengan wajah serupa, mengitari tungku dan periuk. Bara mereka cipta dari lembar demi lembar uang kertas. Untuk apa uang, jika mereka tinggal di surga?

Aku pernah mengeja cerita tentang berpeluh-peluh almanak yang telah mereka lewati. Di antara sengat hujan, cambukan matahari, dan arus angin yang terus memilin, tak pernah sedikit pun mereka bergetar takut. Sebab melawan tindas adalah iman termegah yang mereka yakini.

Aku merekam ingatan tentang pria-pria berlengan logam, yang menghempaskan caping dari kepala seorang ibu. Pria- pria tegap yang tak pernah sadar, tubuh mereka tersusun dari tetes demi tetes air susu ibu.

Aku menyusuri anak-anak sungai yang mengurat di bawah pegunungan kapur. Warna airnya tak sejernih air di kolam renang rumah-rumah mewah. Tapi di sana lelah dibasuh oleh lumpur. Bukan serakah yang tak mungkin terbasuh, sekalipun oleh air Gangga.

Aku menangis ketika maut merebut satu di antara mereka. Tapi percuma air mata. Tak mampu menenggelamkan istana. Tak perlu pula melejang ke dalam. Tembok penghalang dari adukan semen dan koin itu terlalu kukuh. Kecuali tumpahkan bara sekam dari langit.

Aku juga menemukan sepotong puisi yang terselip di antara dinding bambu sebuah gubuk. Di sana tertulis: kejahatan tak selamanya bertahta. Tapi mungkinkah kebaikan selalu menjadi pemenang?

Thursday, March 30, 2017

Makan

Sore itu saya merasa sangat lapar. Baru sadar ternyata seharian belum makan. Uang saya tinggal 10 ribu. Tapi itu sudah lebih dari cukup, sebab tak jauh dari sini, ada rumah makan langganan yang harga sepiring nasi dan lauk ikan hanya 10 ribu. Mau lebih murah ada lagi yang 5 ribuan, tapi porsinya sedikit. Saya memilih ke warung makan langganan itu.

Saya segera memesan sepiring nasi sesampainya di warung makan. Lauk ikan goreng dan sayur buncis, tampak ramai di atas gundukan nasi. Lahap saya makan ketika itu.

Sisa nasi di piring tinggal sekali dua jumput. Lalu tiba-tiba seorang nenek masuk ke warung makan. Di genggamannya ada beberapa lembar uang lusuh seribuan.

"Mau beli apa?" kata remaja penjaga warung makan. Itu anak gadis pemilik warung.

"Ikan saja," pinta nenek itu sembari menyerahkan uang.

Gadis itu segera menghitung jumlah uang.

"Harga lima ribu, ya?"

"Iya," jawab nenek itu. Sesekali ia merapikan sarung yang melilit pinggang hingga lututnya.

"Tolong dibanyakin kuahnya, ya."

Gadis itu mengiyakan. Ia malah memberi bonus sayur.

Saya tercenung melihat apa yang tengah terjadi di depan mata saya. Bahkan dua jumput nasi di piring saya, belum tersentuh lagi sama sekali. Justru kebaikan gadis dan nasib nenek itu yang jauh menyentuh ke dalam lubuk hati.

Setelah nenek itu berterima kasih lalu pamit, saya segera menandaskan makanan, lantas gegas membayar. Tujuan saya, ingin membuntuti nenek itu dengan sepeda motor. Karena jalannya pelan, saya bisa menyusulnya saat masuk ke dalam lorong. Saya mengambil jarak sekitar 20 meter, agar nenek itu tidak curiga. Bisa-bisa nenek itu berpikir saya akan merampok lauknya. Apes.

Letak rumahnya ternyata cukup jauh. Dari tempat saya, masih sekitar 100 meter ke arah timur. Setelah itu, ia harus melewati lorong sempit yang diimpit rumah-rumah mewah. Saya terus membuntutinya, bahkan sesekali berhenti karena jarak saya dan nenek itu semakin dekat. Jalannya pelan sekali.

Setelah melewati lorong sempit, sekitar 30an meter berjalan, nenek itu masuk ke sebuah rumah papan tepat di samping tembok tinggi rumah mewah. Saya melewati rumah itu dengan memacu motor lebih cepat lagi, agar nenek itu tidak bisa mengenali saya.

Kendati motor dipacu, saya sempatkan menengok ke arah rumah mungil bercat hijau, tempat nenek itu tinggal. Tepat di dalam rumah nenek itu, ada dua bocah perempuan duduk di atas tikar. Tapi hamparan tikar itu kosong. Atau mungkin motor saya terlalu cepat jadi luput memperhatikan saksama. Entahlah, mungkin nasi yang akan mereka makan bersama lauk itu, masih di penanak nasi di dapur.

Semoga mereka tidak pernah kelaparan. Semoga...


  • (Catatan: saya baru ingat cerita ini, setelah pengingat di ponsel saya berbunyi tadi, kejadiannya baru beberapa pekan lalu)

Tuesday, March 28, 2017

Sejak itu

Langkahmu terhenti
sejak warna pasir bersulih rupa
sejak bibir pantai tak lagi memagut sampan.

Namamu tenggelam
sejak bocah terkubur angka-angka
sejak tangisan menjadi api.

Cintamu terurai
sejak nyiur-nyiur terpupus
sejak jala menjaring sakit.

Sejak itu
sajak-sajakmu
hanyut.

Friday, March 24, 2017

Angin

Pagi ini
tulang belulang angin retak
serpihannya jatuh ke punggungku
seketika itu, aku berembus
pergi mencari tungku.

Saturday, March 18, 2017

Ceritakan...

Ceritakan padaku bumi, tentang sujud-sujud yang ujub itu. Tentang kerumunan orang yang sedang melangitkan pujian. Pun tentang barisan yang sia-sia. Sebab kau lebih tahu bumi. Kau terlalu tua untuk tidak mengetahui semuanya.

Ceritakan juga padaku langit. Tentang mulut-mulut yang tak tahu beda puja dan puji. Tentang doa-doa yang digugurkan dari kerajaanmu. Pun tentang kilahan bahwa hati tak akan mampu menembus langitmu, kecuali dengan tengadah dan pinta yang berkali-kali. Sebab kau yang paling tahu langit. Kau terlalu luas untuk tak mengetahui itu.

Lalu apa pula yang lebih megah dari susunan lampu menyilaukan di atas bumimu, dan menara-menara yang hendak menusuk langitmu itu?

Ah, bukankah cahaya akan lebih indah berdampingan dengan gelap?

Sunday, March 12, 2017

Selamat Datang di Rimba, Kawan!


Duka bertebaran. Begitu pula suka. Kabar keluarga yang berpulang hanya bisa  saya tangisi dari kejauhan. Kabar kawan yang berbahagia pun turut saya rayakan dari sini, Gorontalo.

Pekan lalu, kawan Wawan Gobel mengirimi saya pesan. Selembar foto undangan bertinta emas terukir nama Wawan Gobel Mokoginta dan Irawati Makalungsenge-Mokodongan. Setelah itu, kami saling berbalas pesan.

“Maaf ya kawan, kali ini saya tidak bisa hadir.” Hanya itu yang dengan berat hati bisa saya sampaikan.

Jarak Gorontalo ke Kotamobagu memang tak setengah hari perjalanan. Tapi bukan soal jarak, kali ini waktu yang menjerat kaki. Sebab jika tak disibukkan dengan pekerjaan, saya telah berlari kencang menuju desa tercinta, ketika mendengar kakak perempuan dari ibu saya berpulang tempo hari.

Wawan, seperti beberapa kawan yang menamakan kelompok mereka Pondok Patah Hati (PPH), hanya saling kenal dari jejaring sosial. Kendati kami tinggal tak berjauhan. Mereka semuanya belajar di negeri seberang, tanah tempat Fort Rotterdam memancang kokoh, Makassar. Saya pernah dijamu di pondok itu, selama tiga bulan, sebelum saya melanjutkan perjalanan ke pulau para dewata bermukim.

Di Makassar itulah, saya belajar banyak tentang arti kebijaksanaan. Bagaimana seorang murid yang terbiasa kencing berlari, bisa menjadi seorang yang bijak bestari.

Wawan yang tinggi badannya seperti galah bambu pencongkel langit, cukup akrab dengan saya. Sama akrabnya dengan kawan-kawan lainnya. Mereka memang lunak berkawan.

Saya mengenal Wawan, sebagai manusia yang terlalu sibuk dengan layar komputer tinimbang buku-buku. Meski buku-bukunya berjejer di lemari, hasil dari memilah uang jajan dan ongkos kuliah. Wajarlah ia begitu. STMIK Dipanegara, Makassar, tempatnya menjaring ilmu yang mendidiknya menjadi seperti itu.

Kami pernah bicara tentang sebagian manusia yang serupa kelinci dari topi sang penyulap, yang tak pernah mempertanyakan dari mana ia berasal.

Kami pernah bertukar pikir tentang agama-agama yang dicari dengan peluh, bukan dari warisan para sepuh.

Kami pernah berbantah-bantahan tentang kelahiran hingga kematian, dan apa yang menyambut kami setelah kematian.

Dan kami pernah pula sepakat, bahwa kebijaksanaan tak seharusnya dicangkok dari satu kepala ke kepala lain. Sebab kebijaksanaan tak perlu diajarkan. Yang perlu dilakukan hanyalah memberi petunjuk, agar orang itu bisa menemukan kebijaksanaannya sendiri. Toh, kita sendiri juga belum menemukan kebijaksanaan, bukan?

Pada suatu senja pula, ia pernah bertanya tentang bagaimana masa depan yang cerah bisa dibagi-bagikan percuma. Orang-orang tak perlu susah memikirkan masa depan yang gemilang, jika orang lain saling berbagi nasib baik. Tapi seperti itulah nasib kata Chairil Anwar: kesunyian masing-masing.

Kemudian waktu terus menjalar dan satu per satu menggugurkan apa yang pernah kami genggam erat. Kami meringkuk dan dibuat menggigil oleh waktu. Kami mulai percaya, bahwa hidup memang adalah kesunyian masing-masing.

Wawan, akhirnya seperti kawan lainnya, memutuskan untuk memasuki rimba yang pernah dan gagal saya lewati. Rimba yang tak melulu sunyi. Sebab di sana, ada beragam suara yang mengajak kita dengan terpaksa harus mencari jalan keluar.

Dan hari ini, ia memilih masuk ke dalam rimba dengan seorang perempuan yang tentu saja harus ia jaga dan hidupi.

Selamat menikah, kawan…

Selamat datang di rimba…

Gagal boleh, mati jangan!

Tuesday, March 7, 2017

Terka

Di sana ada duka
Ada suka di sana
Di sana ada luka
Ada jika di sana

Hanya menerka
Menerka hanya

Menerka duka
Suka mereka
Menerka luka
Jika mereka

Manusia penerka
Penerka manusia

Coba ... terka!

Monday, March 6, 2017

Dewasa

Dewasa?
hanya mantra
agar anak-anak
lupa keajaiban mereka

Tuhan

Tuhan?
hanya sebuah nama
yang mewakili
kelemahan manusia.

Agama

Agama?
hanya agar senggama
tak disebut zina.

Gila

Gila?
hanya bentuk
kehidupan berbeda
dan nasib kita
tak harus sama.

Jomblo

Jomblo?
hanya sindiran
padahal mereka
mengontrol populasi.

Pacar

Pacar?
hanya status
yang rentan dihapus
oleh kata putus.

Hujan

Hujan?
hanya fenomena alam
yang dipuisikan
agar kau dipeluk.

Rindu

Rindu?
hanya rayu
agar kau bisa
mengulang cumbu.

Sunday, March 5, 2017

Cinta

Cinta?
hanya desah berkali-kali
sampai kau teriak
minta kawin.

Friday, March 3, 2017

BLACKBERRY


Bebe ini begitu bersejarah. Wadah saya menulis. Beberapa bulan lalu, tombol delete-nya copot. Tapi masalah itu masih bisa diatasi. Saya tinggal menandai huruf yang typo lalu menekan huruf yang benar, maka typo akan terganti secara otomatis.

Saya jarang menulis di ponsel android. Sering typo dan tidak nyaman. Laptop saya keyboard-nya juga bermasalah. Harus ditekan kuat-kuat setiap huruf, angka, simbol, dan fungsi lainnya.

Hari ini, kondisi Bebe ini semakin parah. Layarnya mulai menghitam. Seperti hidup saja dan luka di layar yang pecah, mengeluarkan bercak darah menghitam. Semakin hari semakin bertambah lebar. Saya yang biasa menulis di memo, mulai merasa tidak nyaman.

Banyak tulisan lahir dari Bebe ini. Baik itu berita, puisi, artikel, dan cerpen. Rasanya, lebih cepat dan praktis menulis di sini. Saya bisa menulis di mana saja, mau saat perjalanan di dalam bus, mobil, atau boncengan di motor. Bisa di tempat-tempat nongkrong, di leput, dego-dego, rumah kopi, pinggir telaga, pantai, puncak, bahkan di kuburan teman. Saya merasa lebih produktif menulis ketika Bebe ini baik-baik saja.

Nomor ekor 5161 (SIGI) saya, hari ini dipindah di ponsel android. Tanpa nomor, kali ini fungsinya hanya sebagai alarm bangun pagi.

Terima kasih Bebe Onix 2, juga untuk Gemini yang terpaksa dijual ke teman yang lihai membujuk, katanya: anak pertamanya mau lahir dan ingin merekam video atau memotretnya. Kabarnya Gemini itu juga sudah rusak.

Seperti manusia, mungkin sudah saatnya kalian berpulang. Sekali berarti, sudah itu mati.

Thursday, February 23, 2017

Merawat Alam dengan Tradisi Tumpe


Pelabuhan Gorontalo. Foto: Sigidad
DI bibir dermaga malam itu, laut terhampar serupa karpet hitam. Tapi itu bukan sebagai tanda penyambutan, melainkan pertanda sebentar lagi kami harus segera mengarungi teluk Tomini.

Pukul 9 malam, kapal feri yang kami tumpangi bertolak dari pelabuhan Gorontalo menuju Luwuk Banggai. Itu kali pertama saya berkunjung ke sana.

“Nanti kita berlabuh di pelabuhan Pagimana,” kata salah satu teman.

Kami berangkat 8 Januari 2016. Perjalanan akan kami tempuh semalaman. Kapal feri biasanya berlabuh sekitar pukul 6 pagi di pelabuhan Pagimana.

Saat itu, ada kami bertujuh yang berangkat dari Gorontalo. Saya, Jufri, Chris, Opan, Ivol, dan Andri. Mat berasal dari Batui. Ia yang mengajak kami. Batui adalah salah satu desa dan kecamatan di kabupaten Banggai. Mat selama ini kuliah di Gorontalo, dan setelah tamat ia memilih bekerja pula di Gorontalo.

Alasan kami ke Batui, ingin menyaksikan salah satu prosesi adat yang sudah turun temurun di sana. Namanya tradisi Tumpe.  Selain itu, ada sebuah niat tulus yang hendak kami utarakan kepada masyarakat di sana.

“Sebenarnya, ritual Tumpe ini diadakan setiap penghujung tahun. Akhir 2015 seharusnya semua prosesi telah dilaksanakan. Tapi kali ini ditunda dan dilaksanakan pada awal 2016. Itu karena kami kesulitan mengumpulkan telur maleo untuk ritual,” cerita Mat.

Percakapan kami jenak terhenti. Kami satu per satu pergi memesan kopi di kafetaria mungil di sudut buritan kapal.

Saat saya berjalan menuju kafetaria, saya menyaksikan kesenjangan sosial yang sangat nampak. Kami beruntung bisa mendapat kelas VIP. Sementara penumpang lain, harus berdesak-desakan tidur di buritan selebar setengah lapangan futsal. Selain dingin, keadaan di buritan sangat bising.

Di kapal memang terbagi berbagai kelas. Dari kelas kardus, kasur, sampai yang berbilik. Dan mereka yang tidur di buritan adalah kelas kardus.

Bau keringat dan logam menyatu, meruap dan menebal sepanjang jalan saya menuju kafetaria.

Orang-orang dengan segala nasib berserakan di lantai, di antara kafetaria mungil dan deretan kursi seadanya yang juga harus berebutan. Orang-orang yang duduk berjejer, seperti sedang menonton pementasan nasib dari mereka yang rebah di atas kardus-kardus.

Setelah masing-masing memesan kopi, kami melanjutkan percakapan. Tapi tidak lama, saya memilih menuju kamar untuk istirah.

Saya dibangunkan pukul 5 pagi oleh Opan. Kami bergegas menuju buritan lagi, untuk mengabadikan matahari terbit. Deretan bukit-bukit di pulau seberang dan awan-awan seakan menyatu. Dan matahari dengan cantiknya menyembul perlahan dari balik bukit.
Matahari terbit saat mendekati pelabuhan Pagimana. Foto: Sigidad
Akhirnya kami tiba juga di pelabuhan Pagimana. Kami dijemput dua orang kawan asal Batui juga, Kadir dan Abdi. Perjalanan kami lanjutkan dengan mobil. Di perjalanan, kami menyempatkan singgah di air terjun Salodik.

Salodik sangat indah. Ada belasan atau mungkin puluhan air terjun setinggi satu sampai tiga meter yang bersusun-susun. Tapi saya sempat terenyuh dengan kondisi gazebo-gazebo yang telah reyot dimakan rayap. Beberapa di antaranya telah roboh. Seorang penjaga menjelaskan, bahwa pemerintah setempat memang kurang memperhatikan objek pariwisata Salodik. Sangat disayangkan memang. Padahal tarifnya cukup murah, hanya dua ribu per pengunjung dengan menawarkan keindahan alam yang begitu asri dan sejuk.
Air terjun Salodik. Foto: Sigidad

Kami tak berlama-lama, karena harus melanjutkan perjalanan ke Batui. Setelah dari Salodik, perjalanan terlewati dengan lelah dan lelap. Bahkan lanskap kota Luwuk tidak sempat saya saksikan, sebab saya ketiduran di mobil.

Saya terbangun dan mobil kami masih terus melaju menuju Batui. Sejam kemudian, perusahaan Liquefied Natural Gas (LNG) dengan cerobong api besar seperti obor raksasa menyambut kami. LNG adalah blok minyak dan gas milik Medco Grup yang bekerja sama dengan Pertamina.

“Kita sudah di kecamatan Batui,” kata Mat.

Hanya beberapa menit kemudian, kami tiba di desa Batui. Rumah kerabatnya Mat, menjadi persinggahan selama kami berada di sana. Setelah saling bertukar nama dan saling kenal dengan pemilik rumah, kami diajak makan.

Saat makan, pembicaraan kami selain tentang perkenalan, dilanjutkan dengan percakapan serius tentang apa yang harus diperbuat masyarakat Batui, untuk mempertahankan tradisi Tumpe, yang mulai tergerus industri. Karena memang itulah tujuan kami.

Dari perbincangan itu, saya mulai mafhum apa itu tradisi Tumpe dan kenapa harus dipertahankan. Prosesi Molabot Tumpe sudah ada sejak tahun 1500-an. Dari catatan buku berwarna kusam yang hanya diketik dan dicetak seadanya, yang diperlihatkan Mat, diceritakan dulu ada seorang lelaki bernama Adi Cokro, dari kerajaan Jawa di Kediri, datang ke tanah Banggai. Kemudian orang Banggai mulai memanggilnya Adi Soko.

Diketahui, di tanah Banggai, sejak tahun 1200-an, Islam sudah ada, yang dibawa dan disiarkan oleh Syeh Djabar dari Hadramaut. Tujuan kedatangan Adi Soko di Banggai, hendak memperdalam agama Islam.

Orang-orang Banggai mulai menyukai Adi Soko, yang berperilaku arif dan bijak. Karena itu, Adi Soko diangkat menjadi Raja Banggai. Ia dinikahkan pula dengan putri Raja Motindok di Batui bernama Sitti Aminah. Setelah menikah, lahirlah putra mereka yang diberi nama Abu Kasim.

Saat Abu Kasim lahir, sang kakek, Raja Motindok, menghadiahi sepasang burung maleo. Tapi seiring waktu berjalan, Adi Soko yang juga sebagai Raja Banggai, berkeinginan untuk kembali ke tanah Jawa.

Ketika Adi Soko kembali ke tanah Jawa, sepasang maleo itu turut dibawanya, sementara istri dan anaknya ditinggal dan menetap di Gunung Tatandak.

Tampuk kerajaan saat itu kosong. Masyarakat Banggai ingin mencari raja baru, setelah ditinggal pergi Adi Soko. Kemudian pilihan jatuh kepada Abu Kasim.

Setelah diputuskan, para petinggi kerajaan pergi menjemput Abu Kasim, akan tetapi ia menolak menjadi raja karena teringat pesan ibunya. Isi pesan ibunya mengatakan: agar Abu Kasim jangan menjadi raja, sebab jika kelak menjadi raja, maka seumur hidup mereka tidak akan pernah bertemu lagi.

Sesuai pesan itulah, Abu Kasim memilih untuk menolak menjadi raja, lalu memutuskan pergi ke tanah Jawa untuk menemui ayahnya, Adi Soko. Setelah berhasil menemukan ayahnya, ia diamanahi agar segera pergi menemui saudaranya Mandapar di Ternate. Mandapar juga anak Adi Soko dari istrinya yang berdarah Portugis di Maluku Utara.

Abu Kasim akhirnya sepakat dengan ayahnya. Dan ketika pulang, sepasang maleo yang pernah diberikan kakeknya, Raja Matindok, kepada Adi Soko, dibawa kembali ke Banggai. Sebab, di tempat Adi Soko, burung maleo tidak bisa beranak-pinak.

Selanjutnya, Abu Kasim pergi menemui Mandapar di Ternate. Setelah dibujuk, Mandapar akhirnya bersedia menjadi Raja Banggai.

Bagaimana nasib sepasang maleo yang dibawa Abu Kasim? Burung itu dibawa ke Batui dan dilepas di Bakiriang. Abu Kasim juga menitipkan pesan kepada sang kakek, agar telur pertama dari sepasang maleo itu, dibawa ke Kerajaan Banggai.

Proses pengantaran telur maleo pertama itulah yang disebut Tumpe. Hingga sekarang, amanah untuk mengantar telur dilaksanakan setiap tahunnya dengan prosesi adat.

“Tapi sekarang telur maleo susah didapat di Batui dan sekitarnya,” terang Mat.

Hal itu disebabkan ekspansi besar-besaran dari perusahaan-perusahaan. Di antaranya, LNG Donggi Senoro yang menguasai Suaka Margasatwa Bakiriang, juga perkebunan sawit PT. Kurnia Luwuk Sejati (KLS), yang telah menanam sawit di Bakiriang sejak 1999.
Lokasi perusahaan LNG. Foto: Sigidad

Akibat habitat maleo terganggu, masyarakat Batui harus pergi ke kabupaten Morowali untuk membeli telur sebanyak 160-an butir, guna keperluan ritual.

“Kami harus membeli dengan harga lima puluh ribu per butir,” terang Mat.

Kendati dalam prosesi adat Tumpe mereka menggunakan telur maleo, masyarakat Batui turun temurun diajarkan untuk menjaga kelestarian habitatnya. Mereka mengambil telur maleo seperlunya saja. Tapi sejak perusahaan-perusahaan masuk di lokasi tanah adat dan merusak habitat burung maleo, akhirnya masyarakat Batui harus berpikir keras untuk menemukan telur maleo.

Sebenarnya, masyarakat adat Batui pernah melawan demi mempertahankan tanah adat. Tahun 2004, pepohonan di wilayah Kusali Bola Totonga, ditebang oleh perusahaan kayu. Marah dengan penebangan itu, masyarakat berbondong-bondong mengepung kantor polisi di kecamatan, untuk menuntut keadilan.

Akan tetapi, pihak kepolisian terkesan membela pihak perusahaan kala itu. Bahkan pelaku bebas berkeliaran. Merasa tuntutan mereka tidak dipenuhi, masyarakat mulai terpancing emosi dan melempari kantor polisi dengan batu. Keadaan ricuh.

"Bahkan ada yang membawa martil dan coba merobohkan kantor polisi. Kantor itu nyaris rata dengan tanah,” kenang Mat.

Beberapa hari kemudian, yang melakukan demo mulai diciduk satu per satu, termasuk Mat. Ada 28 orang ditangkap, salah satunya ketua lembaga adat. Mereka dituntut penjara 7 tahun dan dikenakan pasal perbuatan makar dan perusakan fasilitas umum.

“Kami menjalani hukuman penjara 6 bulan saja, termasuk saya karena dianggap provokator. Lainnya, penjara 4 bulan," tutur Mat, yang sewaktu memimpin demo, ia masih berstatus mahasiswa semester tiga di salah satu universitas di Gorontalo.

Pada Oktober 2010, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah menyurati Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), yang isinya menyebutkan: petugas BKSDA Sulteng menemukan perambahan Suaka Margasatwa Bakiriang menjadi perkebunan sawit milik PT. KLS seluas 562,08 hektar. Perambahan tersebut dilakukan sejak 2000. Padahal, Kawasan Suaka Margasatwa Bakiriang telah ditetapkan berdasarkan SK Menhut Nomor 394/kpts-II tahun 1998 tanggal 21 April 1998 dengan luas 12.500 hektar.

Sore pun tiba. Kami harus mengusai pembicaraan itu, lalu menyiapkan diri untuk menuju lokasi pelaksanaan ritual Monsawe.


SEPOTONG langit terlihat seperti terpanggang obor raksasa, sepanjang perjalanan kami menuju lokasi. Fenomena itu berasal dari cerobong api perusahaan LNG. Sepanjang tahun, langit di Batui selalu seperti itu. Berwarna tembaga pada malam hari.

Kami menggunakan mobil, menyusuri jalan berkerikil. Ritual Monsawe akan segera dilaksanakan, sebagai ucapan sukur atas selesainya pelaksanaan Tumpe.

Proses pengantaran telur sudah dilaksanakan sejak 24 Desember 2015. Dituturkan oleh Mat, pada prosesi itu, puluhan orang memakai baju adat merah, sembari memegang dua butir telur maleo yang terbungkus daun menyerupai lontar dan telah didoakan tetua adat.

Orang-orang itu beriringan menuju muara sungai, tempat perahu adat yang terpasang bendera bersandar. Perahu dilengkapi gong dan rebana, yang dibunyikan untuk menyambut mereka.

“Sekitar seratus lebih telur maleo dibawa ke Pulau Peling, lokasi Kerajaan Banggai. Perjalanan ini ditempuh sehari semalam dengan perahu,” kata Mat.

Asyik mendengarkan cerita Mat, tak sadar, kami sudah sampai di lokasi prosesi adat. Di lokasi yang jarak tempuhnya menggunakan mobil sekitar dua puluh menit, masyarakat Batui telah ramai memenuhi Kusali. Kusali adalah bangunan tempat pelaksanaan prosesi Monsawe. Tampak orang-orang tua, muda, dan anak-anak sibuk merapikan Kusali.

Ada empat Kusali yang letaknya saling berjauhan, di antaranya Kusali Loa, Kusali Kuop, Kusali Bola Totonga, serta Kusali Matindok. Malam itu, kami berada di Kusali Bola Totonga, yang menjadi tempat ketiga puncak perayaan Tumpe.

Kami meletakkan barang bawaan di pondok yang dibangun warga di sekeliling Kusali. Ada beberapa pondok yang dibangun permanen berbahan kayu beratap seng. Sementara bangunan lain, dibangun sederhana dengan bambu dan terpal. Yang muda, biasanya mendirikan tenda.

Selain umbul-umbul merah putih, ada pula tiang bendera memancang di depan Kusali. Di atasnya dikibarkan bendera merah putih. Padahal dulu, bendera yang digunakan harusnya berwarna merah. Bendera mulai diganti sejak terjadinya peristiwa 1965.
Kusali, tempat prosesi adat digelar. Foto: Sigidad
Alasan diganti, menurut orang-orang Batui, dikarenakan mereka sempat dituduh bagian dari komunis oleh komando distrik militer setempat.

Malam itu, Kusali menjelma menjadi perayaan yang menyerupai malam pesta pernikahan. Dapur umum dibangun. Asap menebal. Suasana riuh oleh senda gurau masyarakat Batui.

Puluhan ibu-ibu di dapur umum, seperti hasil kloningan dari ibu saya sendiri. Mereka sangat ramah, penuh tawa, dan kerap mengajak makan setiap kali kami lewat.

Setelah lelah berkeliling Kusali dan pondok-pondok, saya rebah sejenak di pondok keluarganya Mat. Dan... kemudian saya pun terlelap.

Duuuunnnnggg… duuuunnnngggg… duuuunnnngggg....

Suara mendengung itu terdengar sayup-sayup. Riuh orang lalu-lalang pun berdengung serupa sekumpulan lebah. Saya mungkin sedang bermimpi. Sampai ketika mata saya terbuka, ternyata suara yang masuk ke alam bawah sadar saya, berasal dari dalam Kusali.

"Sudah dimulai?" tanya saya kepada kakak perempuannya Mat.

"Iya, baru dimulai," jawabnya.

Saya melirik jam di ponsel. Sudah pukul 10 malam. Saya bergegas menuju tempat ritual, yang sebenarnya hanya berjarak seperlemparan gundu dari pondok. Saat masuk ke dalam, bunyi gong yang ditabuh, memenuhi seisi ruangan. Gemuruh dua kalimat syahadat selaras dengan ketukan-ketukan gong. Meski memakai jaket, dingin perlahan merangkul.

Di ritual ini, kabarnya nanti ada beberapa orang dari berbagai usia, yang akan dibuai oleh roh leluhur, yang mereka sebut Tontembang--bukan kemasukan yang lebih berkonotasi pada roh jahat.

Sepuluh menit kemudian, dua orang nenek di samping sebuah altar, tubuhnya mulai bergetar. Dalam posisi bersila, keduanya seperti sedang dibuai. Tubuh mereka bergoncang mengikuti irama gong dan syahadat.

"Itu sudah Tontembang?" tanya saya penasaran, pada seorang perempuan di samping saya.

"Iya, sudah."

"Apakah pernah ada anak-anak yang Tontembang?"

"Iya, ada. Biasanya yang anak-anak hanya bermain ketika Tontembang."

Jawabannya itu, membikin saya merinding. Tapi karena gemuruh syahadat, rinding perlahan berubah jadi rasa haru. Nuansa islami sangat terasa malam itu. Satu per satu, dari yang muda hingga renta, mulai tertarik masuk ke dalam pusaran syahadat.

Tubuh mereka satu per satu dirasuki roh-roh leluhur. Kain berwarna merah menutupi pundak, sebagai penanda bahwa lima panca indra mereka telah dikendalikan roh. Beberapa orang ibu yang Tontembang, sembari gemulai menari, berjalan keluar beriringan untuk mengambil air wudu.

"Itu, yang keluar ambil wudu, masih Tontembang?"

"Iya, nanti mereka masuk kembali," jawabnya. Tak tergurat sedikit pun kesal di wajahnya, saat meladeni setiap pertanyaan-pertanyaan saya.

"Terus, bagaimana jika yang masuk nanti roh jahat?"

"Ada yang bisa mengusir, nanti ‘kan ditanyai, kalau memang bukan roh leluhur, pasti diusir," jelasnya.

Tiba-tiba, di tempat para kaum laki-laki berjejer, ada seseorang yang dengan posisi bersila lantas tubuhnya terangkat ke udara. Seperti sebuah loncatan. Semua orang kaget. Meski hanya sekitar lima detik di udara, dengan tinggi loncatan satu meter, saya coba menalar, bagaimana bisa orang dalam posisi bersila, bisa meloncat setinggi itu?

Beberapa orang sudah Tontembang. Foto: Sigidad
Sudah puluhan orang mulai dibuai roh leluhur. Kain merah sebagai tanda bahwa orang-orang ini sudah Tontembang. Yang unik, roh leluhur menguasai tubuh tidak harus sesuai gender. Ada roh leluhur perempuan, yang masuk ke dalam tubuh laki-laki. Ada pula sebaliknya, roh leluhur laki-laki, yang masuk ke raga perempuan.

Seorang perempuan, tampak memakai kopiah, merokok, dan duduk bersila dengan tegap layaknya seorang laki-laki. Perangainya berubah total menjadi laki-laki. Ia juga menyulut sebatang rokok kretek dan mengisapnya.

Prosesi itu berlangsung sepanjang malam. Tapi, orang-orang yang Tontembang tak sedikit pun terlihat lelah.

Pukul 4 pagi, kantuk kembali menyergap. Saya memilih kembali ke pondok. Dari dalam pondok, hampir setiap saat, saya melihat orang-orang tampak berlari mengerumuni tempat ritual. Mereka yang hanya di luar, bergelantungan di jendela.

Kemudian, terdengar kabar dari yang sempat menyaksikan, bahwa ada seekor burung maleo terbang masuk ke dalam Kusali. Padahal di sekitar situ, tidak bakalan lagi ditemui burung maleo.

Lantunan syahadat, tabuhan gong dan gendang, membikin mata saya cepat meredup...
Mereka yang Tontembang  menari dan bersyahadat hingga pagi hari. Foto: Sigidad
Pukul 7 pagi, mata saya menyala terang. Saya kembali masuk ke dalam tempat ritual. Semakin bertambah orang yang mengenakan kain merah. Mereka berdiri berpasang-pasangan, menari-nari. Saya hanya tidak habis pikir, sebab beberapa di antaranya usianya sudah renta. Tapi mereka tahan menari selama berjam-jam.

Dan, kawan saya, Mat, yang sedari malam ikut dalam pusaran ritual, tubuhnya tiba-tiba bergetar. Saya segera merogoh ponsel di kantong. Saya coba merekam momen itu. Ia tiba-tiba masuk ke dalam arena ritual, yang berada paling tengah. Setiap yang Tontembang, pasti akan menuju atau dibimbing ke tengah arena.

Hamparan karpet merah dibuat kusut oleh liuk tubuhnya. Gesturnya seperti orang bersilat, kemudian berganti menyerupai seorang panglima sambil berkacak pinggang. Kemudian kedua lengannnya terbentang dan berayun-ayun, seperti mengisyaratkan ajakan agar lafadz syahadat lebih dikeraskan.

Tak lama, tubuhnya lunglai bersujud. Ia dituntun untuk keluar arena. Ia lantas memilih keluar dari tempat ritual dan menuju pondok. Saya yang saat itu sudah kembali ke pondok, diajaknya untuk menjauh dari tempat ritual.

"Ayo, ikut saya."

"Mau ke mana?"

"Agak sedikit menjauh dari sini. Jika mendengar lantunan syahadat itu, saya seperti ditarik kembali ke alam lain," ceritanya, sembari terus melangkah menuju sebuah pondok berlantai dua, di dekat gerbang masuk Kusali.

Di belakang pondok, ia terus mengusap wajahnya yang masih pucat pasi. Dua orang laki-laki turut serta bersama kami saat itu. Salah satunya, ternyata adalah kerabat dekatnya.

"Bagaimana perasaanmu tadi? tanyaku.

"Aduh, saya tidak tahu lagi. Saya tidak dalam keadaan sadar." Ia coba mengingat.

Melihat raut wajahnya, saya coba mengalihkan pembicaraan. Saya bertanya kepada kerabatnya itu, apakah di wilayah sekitar Kusali, sudah ada perkebunan sawit. Saya mendapati jawaban yang membuat selengkung senyuman di wajah saya.

"Jaraknya tidak jauh dari sini, tapi saya sudah memagari batasnya. Saya mengingatkan kepada mereka, kalau sampai lewat batas tanah adat ini, maka nyawa saya jadi taruhan!"

Bangga saya dibuatnya. Di tengah gempuran perusahaan-perusahaan rakus, masih ada semangat-semangat melawan seperti itu, meski yang lainnya lebih memilih jatuh dalam pelukan korporasi. Nasib abadinya ritual ini ada di tangan orang-orang seperti mereka.

Mat memilih kembali ke pondok, setelah ritual berakhir, pukul 9 pagi. Saat melangkah menuju pondok, sebuah lantunan tembang terdengar begitu menyayat.

"Itu yang menyanyi laki-laki, tapi roh perempuan yang masuk," jelasnya.

Saya berlari menuju pengeras suara, untuk merekam tembang itu. Nyanyian itu melurut hati saya.

Bait-bait sabda dari alam yang transendental itu kira-kira mengartikan: kebersamaan harus dijaga, sebab prosesi adat ini hanya digelar sekali dalam setahun. Maka tradisi Tumpe diharapkan menjadi momen untuk tetap menjaga sikap gotong-royong, saling membantu, dan mempererat persaudaraan.

Selarik pesan moral yang datang menembus dari alam Mulk yang tidak terukur oleh indra jasad.
Telur-telur maleo yang direbus, dihidangkan setelah melewati proses ritual dan dibacai doa para tetua adat. Foto: Christopel Paino.
Pukul 9 pagi, prosesi ditutup dengan makan bersama. Jamuan makanan ditebar di meja panjang. Ada beberapa butir telur maleo yang direbus menghiasi meja makan. Setelah didoakan tetua adat, warga dijatahi potongan-potongan telur maleo itu.

Setelah acara makan bersama selesai, orang-orang mulai berjibaku merapikan Kusali. Pekan depan mereka akan melanjutkan prosesi adat itu, di Kusali Matindok. Itu Kusali tempat prosesi adat terakhir.

Kami semua kembali ke rumah kerabatnya Mat. Dan malam harinya kami mengadakan diskusi bersama tokoh pemuda dan tokoh-tokoh adat. Dalam diskusi, kawan-kawan saya yang sudah berpengalaman dalam advokasi masyarakat adat, bertukar pendapat dengan mereka mengenai hak tanah adat bagi masyarakat adat.

Sejak Keputusan Mahkamah Konstitusi No. 35 Tahun 2012 tentang Pengakuan Hak Ulayat sebagai Milik Masyarakat Adat, masyarakat adat bisa bernafas lega. Tokoh adat dan masyarakat bisa mulai membuat peta tanah adat. Hal itu sebagai penyelesaian konflik yang kerap terjadi antara masyarakat adat dengan pemerintah maupun perusahaan.

Malam itu mereka sepakat untuk mulai membentuk tim dan akan menandai di mana saja batas tanah adat, yang mulai dikepung bahkan diambil alih oleh perusahaan. Diskusi diringkus dengan kesepakatan itu.

Tujuan perjalanan kami ke Batui, sesungguhnya bukan hanya ingin menyaksikan prosesi adat Tumpe. Akan tetapi, niat terbesar kami adalah membantu masyarakat adat di sana, untuk merebut kembali hak mereka.

Akhirnya, ekspedisi yang kami namai: Ekspedisi Gembira, berakhir. Kami harus segera kembali ke Gorontalo esok harinya. Perjalanan kami hanya dari 8 sampai 10 Januari.

Setelah kami pulang, ritual Tumpe hingga sekarang tetap terjaga. Kabar terakhir, masyarakat adat sudah mulai membuat peta di mana saja lokasi tanah adat. Perjuangan mereka untuk merebut tanah adat terus berkobar, mengalahkan nyala cerobong api raksasa LNG.


JAUH dari Luwuk Banggai, di kota tempat kami berada, Gorontalo, pada suatu malam dua orang kawan yang juga bersama-sama ke Batui tempo hari, Mat dan Ivol, mengalami kejadian aneh. Tubuh mereka bergetar dan salah seorang tiba-tiba bersuara serak, sembari mengucapkan bahasa yang kami tidak mengerti.

Ia mengajak kami semua mendekat dengan isyarat tangan. Kami segera mendekat dengan posisi melingkarinya. Ia kembali mengucapkan beberapa patah kata. Seketika bola mata saya basah. Saya seolah-olah paham dengan perkataannya.

“Terima kasih banyak telah membantu kami,” katanya melalui mulut Mat, yang diutarakan dengan bahasa daerah Banggai atau Silingan Banggai.

Dan Mat setelah sadar mengaku, ia tidak begitu fasih berbahasa Banggai, apalagi Silingan Banggai yang diutarakannya barusan ada kata-kata yang begitu "purba". Hanya orang-orang lanjut usia yang bisa memahami dengan saksama.

Ah, terima kasih kembali masyarakat Batui. Kami banyak belajar tentang bagaimana mencintai alam dari kalian. Semoga bisa berkunjung lagi ke sana...


Catatan: Sebagian data saya kutip dari liputan kawan Christopel Paino di mongabay.co.id, yang saat itu turut bersama kami ke Batui.

Tuesday, January 31, 2017

Cocoklogi di Balik Pamali dan Tradisi


Beberapa hari lalu, setiap bohlam di rumah kami dikerumuni laron. Cara terampuh mengatasi itu ialah dengan mematikan lampu di dalam rumah. Sedangkan yang di luar dibiarkan menyala agar laron-laron beralih ke luar rumah.
Seperti kata orang tua zaman dulu, jika laron-laron muncul maka itu pertanda musim hujan akan segera tiba. Saya coba memastikannya dengan menelusurinya di internet, dan benar saja, ada beberapa artikel yang mengulas jelas tentang itu.
Yang aneh dari serangga hasil mutasi rayap itu, jika mereka sangat menyukai cahaya, kenapa mereka tidak keluar pada siang hari? Ah, mungkin matahari terlalu tinggi untuk mereka raih.
Tapi, artikel ini tidak sedang mengulas detail soal laron, melainkan soal pertanda tibanya musim hujan. Iya, setelah laron-laron itu muncul beberapa hari lalu, hanya selang satu hari hujan mulai turun. Parahnya, siang kemarin disertai hujan deras, angin kencang, dan petir. Di stasiun-stasiun tv, ramalan cuaca ekstrem juga sudah disiarkan. Sulawesi Utara termasuk di dalamnya.
Nah, ada fenomena yang unik ketika badai datang kemarin. Di desa kami, Desa Passi, yang terletak di Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara, ada cara unik untuk menangkal badai. Sebenarnya itu kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang kami. Yaitu meletakkan alat pencukur kelapa tradisional beserta sebilah parang di pekarangan rumah.
Aneh, bukan? Saat hujan deras, angin kencang, dan petir, eh, malah orang-orang tua mengeluarkan dua benda itu lalu menaruhnya di pekarangan rumah.
Saya iseng juga memikirkan maksud dari kebiasaan itu. Apakah dua benda itu merupakan alat ukur canggih di masa itu tentang seberapa besar badai bisa diketahui? Yakni dengan hanya melihat apakah parang yang ditancapkan bakal roboh atau pencukur kelapa itu terempas diterpa angin.
Tapi, bukankah atap-atap rumah yang beterbangan dan robek serupa kertas sudah lebih dari cukup? Atau pepohonan yang tumbang di sana-sini. Atau bendera-bendera partai jelang pilkada serentak yang terbawa angin dan hujan serupa anai-anai di hari kiamat. (Untuk yang terakhir ini saya malah bersyukur. Bendera-bendera partai itu jadi polusi visual di desa kami.)
Dari percakapan-percakapan orang-orang tua dulu, katanya nenek moyang kami sengaja meletakkan dua benda itu di pekarangan rumah dengan maksud sebagai penangkal atau lebih tepatnya perangkap petir. Pencukur kelapa bergerigi terbuat dari logam besi, sama halnya dengan parang. Bisa jadi, ketika petir turun menyambar, maka lecutan petir akan terarahkan ke kedua benda itu. Betapa rasionalnya nenek moyang kita, bukan?
Saat badai menerpa kemarin, foto-foto dua benda itu menjadi viral di beberapa sosial media, khususnya teman-teman sewilayah. Anehnya, banyak yang berkomentar bahwa itu kebiasaan bodoh. Padahal mereka tidak pernah coba mencari tahu apa maksud dari kebiasaan itu.
Sama halnya seperti ketika orang tua melarang kita menyapu rumah di malam hari. Pamali. Setelah mendengar alasan mereka, ternyata di zaman dulu, rumah-rumah warga semuanya terdiri dari rumah-rumah panggung. Jika menyapu malam, debu-debu akan berterbangan lalu mengenai orang-orang yang sedang berjalan di depan atau samping bawah rumah. Kebiasaan itu terus terbawa hingga rumah-rumah modern tak berkaki dibangun.
Juga larangan untuk jangan menjahit di malam hari. Itu berkaitan dengan penerangan di rumah zaman dulu, yang hanya menggunakan lampu minyak atau lampu botol. Jika menjahit dengan cahaya yang minim, tentu saja jejari kita rentan tertusuk jarum. Larangan itu juga menjadi kebiasaan hingga sekarang—di zaman yang begitu terang benderang.
Tak sedikit larangan-larangan seperti itu dibalut dengan alasan-alasan mistis. Atau hal-hal yang tak masuk akal. Tapi, tampaknya maksudnya sebenarnya baik.
Misalnya, larangan untuk jangan memotong kuku atau rambut di malam hari, yang katanya nanti akan berusia pendek atau ditemui dedemit. Padahal alasan masuk akal dari larangan itu persis seperti larangan jangan menjahit malam. Karena penerangan yang minim kala itu. Jika memotong rambut malam hari di zaman dulu, bersiap-siaplah telinga kita juga ikut terpotong. Atau alih-alih memotong kuku, malah jejari kita yang habis terpangkas.
Juga soal larangan agar jangan menduduki bantal tidur karena pantat kita nantinya bakal bisulan. Padahal sebenarnya larangan itu bermaksud baik. Bantal adalah tempat kepala kita berlabuh ketika tidur. Kepala manusia begitu dihormati karena tempat otak berdiam. Sangat tidak sopan jika kita menduduki bantal yang dipakai orang untuk tidur. Apalagi ketika kita duduk, bantal itu kita kentuti.
Selain deretan larangan di atas, yang cukup membuat kedua alis saya saling merangkul itu, soal larangan untuk jangan coba-coba duduk di depan pintu depan rumah, jika ada perempuan yang sedang hamil di dalam rumah tersebut. Jika hal itu terjadi, si perempuan hamil itu bakal kesulitan saat melahirkan.
Tapi, sebenarnya satu-satunya alasan rasional, yakni ketika kita duduk di depan pintu rumah, sebenarnya kita menghalangi arus lalu lintas di rumah tersebut. Otomatis, si perempuan hamil itu bakal kesulitan untuk melewati pintu rumah, jika kita duduk di sana. Dan itulah sebenarnya alasan kenapa larangan itu dibuat.
Ada juga satu larangan yang saya masih ingat jelas. Kejadiannya saat itu saya masih duduk di sekolah dasar. Sepulang sekolah, saya dan dua orang teman lainnya bermain gundu di pekarangan rumah. Seperti biasa, kami menumbuk-numbuk tanah dengan batu untuk membuat lubang. Hanya beberapa detik kemudian, nenek keluar dari rumah lalu meneriaki kami.
“Hoiii! Jangan menumbuk-numbuk tanah dengan batu. Nanti ayamnya mati semua.”
Kami yang saat itu baru berusia sekitar tujuh tahun saling berpandangan. Heran. Apa hubungannya tanah yang ditumbuk-tumbuki dengan ayam yang bakal mati bergelimpangan?
Bertahun-tahun kemudian, saya coba menemukan korelasi atau sekadar cocoklogi yang tepat untuk kedua kasus itu. Semuanya terjawab, saat saya hendak tidur siang, kemudian terdengar dari pekarangan suara tanah yang ditumbuk-tumbuki batu. Dentuman batu yang bertemu tanah itu terdengar sangat mengganggu. Seperti bunyi detak jantung seorang jomblo yang tengah menunggu pesan singkat dari seseorang pada Sabtu malam.
Dan ternyata … anak kakak saya dan teman-temannya yang baru pulang sekolah, rupanya hendak bermain gundu. Asu!

Artikel ini sebelumnya dimuat di Mojok