Tuesday, December 5, 2017

Seorang Laki-Laki yang Harus Pulang


Beberapa helai pakaian telah meringkuk di dalam keril, yang membuat keril itu segemuk bayi gajah. Kamis malam, 26 Oktober 2017, saya menyiapkan barang-barang kebutuhan selama perjalanan yang akan saya awali dari Kota Gorontalo.

Sebelumnya, saya sudah memberitahu inang kos, saya akan keluar kota selama beberapa hari. Bahkan mungkin bisa sebulan penuh. Saya sekaligus membayar uang kos untuk sebulan ke depan.

Semuanya siap. Saatnya untuk tidur, sebab pukul 6 pagi saya harus berangkat ke bandara, untuk terbang ke Manado. Baru saja mata ini mau terpejam, saya dikabari seorang kawan sekampung lewat pesan BBM.

"Kita di Gorontalo. Manjo bagate."

Awalnya saya enggan bertemu. Apalagi mereka sedang berasyik-masyuk dengan berkendi-kendi bir. Saya bukan anti alkohol, sebab saya peminum juga. Hanya waktu saja yang tak tepat.

"Adoh, pasti mo mabo. Pagi kita musti ka bandara."

Tapi kawan saya ini memaksa. Dan membuat saya tak bisa menolak, sebab kali pertama ke Gorontalo untuk kegiatan komunitas kami, sekitar 2004 lalu, saya sempat menginap di kosnya, sewaktu ia bersekolah di Gorontalo. Itu kali pertama dan terkhir kami duduk selantai bersama di Gorontalo.

"Kapan lagi baku dapa bagini di Gorontalo?"

Sebenarnya saya sempat menyatakan alasan kedua, kalau saya tidak tahu di mana lokasi mereka. Kendaraan juga tak punya. Dan jarum jam sudah menunjuk pukul 11 malam. Apalagi ia tidak bisa mengirim map lokasi. Hanya menyebut nama sebuah lapangan.

"Wartawan kong ndak mo dapa ni alamat?"

Sebaris pesan darinya itu, membikin saya tak bisa berapologi lagi.

Saya menuju tempat mereka dengan pengendara bentor yang cukup paham lokasi yang saya sebutkan. Saya menghubungi pengendara bentor itu, yang kebetulan langganan saya. Sebab pukul 11 malam, biasanya bentor sepi.

Setelah hampir 20 menit membelah malam Gorontalo, saya sampai di sebuah tanah lapang. Satu mobil diparkir dengan pintu belakang menganga. Ada sekardus bir terparkir di sana. Kawan saya, duduk melingkar dengan orang-orang yang belum saya kenal.

"Kita ada deng Iki." Ternyata, ada satu kawan lagi dari Kotamobagu.

Setelah keliling berjabat tangan, saya disuguhi bir yang sudah dicampur salah satu merek minuman beralkohol.

Malam itu, terasa ringkas. Saya mabuk berat. Yang bisa saya ingat, saya dibonceng seseorang menuju kos. Ia mengantar saya di depan kamar kemudian pamit.

Di kos, tak berselang lama, sopir mobil yang akan saya tumpangi ke bandara, mengetuk-ngetuk pintu kamar.

"So jam enam," teriak sopir, yang kebetulan istrinya, anak dari inang kos saya. Rumahnya hanya bersebelahan dengan kamar saya.

Masih setengah sadar, saya segera memilah-milah barang yang hendak saya bawa. Satu keril dan satu drybag. Saya segera masuk ke mobil. Berangkat.

Setelah setengah perjalanan, saya baru sadar, saya lupa memakai sepatu. Saya hanya mengenakan sendal. Selanjutnya, saya mulai merogoh kantong. Dompet ada. Ponsel android, tidak ada. Ponsel mungil, tidak ada. Kemudian saya meraba kepala saya, topi juga tidak ada. Ah, Donal Bebek, kau akan selalu sial.

Saya hanya tercenung selama perjalanan. Meter demi meter, saya mulai mengikhlaskan barang-barang itu.

Sesampai di bandara, saya baru ingat, jika tiket online pesawat ada di email. Biasanya, seperti kebanyakan orang, saya hanya menunjukkan email lewat ponsel android.

Saya segera mengeluarkan laptop di drybag, kemudian keliling di bandara, meminta tolong kepada siapa saja yang berkenan memancarkan hotspot, agar saya bisa mengakses email lewat laptop.

Seorang bapak, yang saya temui kali pertama menolak mentah-mentah. Kemudian bapak yang kedua, berbaik hati. Setelah berhasil mengakses email, saya segera menuju kantor pelayanan, untuk mencetak tiket tersebut. Selesai sudah.

Penerbangan ke Manado cukup singkat. Tidak cukup sejam. Saya segera memesan taksi, yang mengantar saya menuju hotel tempat pelaksanaan kegiatan workshop Safety Journalist dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia. Sebagai koodinator divisi advokasi AJI Gorontalo, saya yang diutus.

Di lobi salah satu hotel di Manado, saya harus menunggu beberapa jam lagi, sebab waktu check in dari panitia baru pada pukul 12 siang. Saya sempat tertidur di sofa, sampai akhirnya dibangunkan petugas hotel, yang sekaligus menyerahkan kunci kamar.

Di kamar, saya tergesa-gesa menyalakan laptop, menghubungkannya ke wifi hotel, dan membuka facebook. Saya mengirim pesan facebook ke kawan saya. Saya mengatakan, dua ponsel dan topi saya barangkali jatuh di tanah lapang, di lokasi ngebir.

Pesan saya lama ia balas. Tapi pesan darinya, yang terbalas pada sore harinya, membuat saya girang. Ia mengatakan ponsel android itu dikantonginya. Sementara ponsel mungil tidak berhasil ditemukan di lokasi. Dan topi saya, katanya telah berpindah kepala.

"Ngana yang kase pa kita."

Ah, sudahlah. Asal ponsel android saya selamat. Menurutnya, teman mereka orang Gorontalo, yang mengantar saya ke kos, menemukan ponsel android itu di tanah lapang, sewaktu ia kembali mengamankan sisa-sisa pesta.

"Bae dia kase pulang," kata kawan saya.

Saya segera menanyakan posisinya sekarang, apakah masih di Gorontalo atau telah kembali ke Desa Passi. Ia mengaku sedang dalam perjalanan pulang.

Berbekal status di facebook, saya dikabari seorang teman yang akan berangkat ke Manado. Saya menghubunginya, untuk dititipi ponsel tersebut. Sekaligus saya menitip sepatu yang ada di rumah saya, di Desa Passi.

Esok harinya, saat workshop pertama berlangsung, Sabtu 28 Oktober 2017, ponsel android dan sepatu boots saya tiba dari Kotamobagu. Ingin rasanya saya meloncat dari atap hotel yang kami tinggali saat itu, yang katanya bangunan tertinggi di Kota Manado. Hotel yang lift-nya sering macet.

Workshop berlangsung sampai Minggu 29 Oktober 2017. Esok siangnya, Senin 30 Oktober 2017, saya terbang ke Makassar. Sebenarnya, itu pengganti tiket pulang saya ke Gorontalo. Saya sengaja memilih ke Makassar, dari sana, saya terbang lagi ke Jakarta.

Pada perjalanan ini, satu-satunya tujuan saya sebenarnya ke Kota Cirebon. Ada sesuatu hal yang harus saya ikhtiarkan di sana. Bertepatan, pada bulan berikutnya, November, ada Kongres X AJI di Solo bersamaan dengan Festival Media. Itu hanya bonus dalam perjalanan saya kali ini.

Bonus lainnya, di Solo nanti, melalui grup telegram, kabarnya para redaktur Tabloid Jubi Papua, tempat saya bekerja, akan berkumpul sekaligus momen itu dipergunakan untuk rapat redaksi.

Kembali ke perjalanan dari Makassar menuju Jakarta. Sesampai di Jakarta, sore hari, saya melanjutkan perjalanan menuju stasiun Gambir. Karena macet, bus tumpangan dari bandara ke Gambir memakan waktu sampai tiga jam. Saya baru tiba di Gambir sekitar pukul 9 malam.

Di stasiun, saya dipandu teman saya di Cirebon dari japrian whatsapp, tutorial mencetak tiket online kereta api. Dia sebelumnya sudah membantu saya membelikan tiket online, sebab tiket online yang saya pesan melalui aplikasi KAI, tidak bisa dibayar. Nasib penghuni Pulau Sulawesi, kami tak memiliki rel kereta api. Kabarnya sedang dibangun. Entah dua ribu belas berapa rampung.

Di Gambir, saya dituntun menuju mesin untuk mencetak tiket. Saya cukup memasukkan kode booking di layar monitor, dan tiket tercetak. Setelah itu, saya harus menunggu dua jam lagi.

Keberangkatan kereta sengaja saya pilih pukul 11 malam, mengingat kemungkinan pesawat delay atau macet parah, sebelum sampai Gambir.

Selama menunggu waktu keberangkatan, saya diarahkan teman saya, untuk mencicipi bakmi GM. Mudah menemukan tempat makan itu. Hanya berjarak tiga ruko dari dalam stasiun. Saat memesan bakmi, saya hanya disuguhi alat makan berupa sumpit. Saya tidak lihai memakai sumpit, meski pernah diajarkan saudara saya sewaktu di Bali. Tapi akhirnya bakmi itu tersikat habis.

Sebelum pukul 11 malam, saya naik ke tempat tunggu kereta api, setelah memindai tiket di pintu masuk yang dijaga petugas stasiun. Kereta api menuju Cirebon tiba. Namanya Cirebon Ekspress atau kerap disingkat Cireks. Perjalanan ke Cirebon memakan waktu 3-4 jam. Perkiraan, saya akan tiba pukul 2 dini hari.

Fasilitas di kereta api terasa nyaman. Apalagi di sisi kereta api, disediakan colokan. Itu benda yang sangat dibutuhkan seorang pengelana. Sering bermodalkan google map, tentunya android harus dalam kondisi hidup.

Saya tertidur selama perjalanan tapi sesekali terjaga. Saat kembali tertidur untuk kesekian kalinya, saya terbangun ketika stasiun Cirebon tinggal 30 menit lagi.

Menurut teman saya, tidur di kereta api lumayan aman, jika jarak tempuh perjalanan tidak terlalu jauh. Yang harus waspada, jika dari Jakarta ke Yogyakarta atau ke Surabaya, dengan waktu tempuh sampai 8 jam ke atas. Biasanya penumpang kelelahan dan tertidur pulas. Keadaan itu yang dipergunakan copet untuk beraksi. Tapi di kereta biasanya ada petugas brimob yang sesekali patroli.

Benar, saya tiba di stasiun sekitar pukul 2 pagi. Saya berjalan ke depan stasiun diikuti beberapa sopir jasa angkutan dan pengendara becak. Saya menolak tawaran mereka, dengan alasan masih ingin merokok. Tepat di pintu masuk stasiun, saya bertanya ke seorang petugas jaga, di sekitar stasiun adakah homestay atau hotel murah? Ia menjawab sembari menunjuk ke arah depan stasiun sekitar seratusan meter.

"Itu, Cordova."

Setelah menawarkan sebatang rokok kepadanya, saya berjalan menuju hotel itu. Harga per malam termasuk murah. Dari 30an ribu, 70an ribu, sampai 100an ribu.

Saya memilih yang 70an ribu, sebab itu hanya twin bed. Kalau yang 30 ribu kata penjaga hotel, ada tiga kasur tapi melantai, dan tanpa kipas angin. Aneh juga rasanya tidur sendiri di kamar hotel, dengan dua kasur kosong berjejer. Untuk kamar yang twin bed, saya sengaja menyatukan dua kasur.

Cordova termasuk hotel tua. Kendati bagian depannya sudah direnovasi. Bangunan lama tepat di belakang, dan kamar saya di sana. Saya diantar seorang pak tua menuju kamar. Sepanjang lorong hotel, dekorasi dan panjangan kuno menghiasi hotel. Ada dua buah cermin tua di lobi belakang, dan di tengahnya aquarium berkaca buram berhias tembaga. Dua ekor ikan putih pucat tampak menempel di dinding kaca.

Perasaan saya pagi itu tidak enak. Sekitar pukul 4 pagi, saya mendengar ada yang sedang menyapu di halaman belakang. Saya sempat mengintip lewat jendela. Dari sekira sepuluh kamar yang mengitari halaman belakang, dan membentuk huruf O, hanya ada satu kamar lagi di seberang yang lampunya menyala. Pertanda sedang ada tamu.

Saya berusaha untuk tidak tidur pagi itu. Semua lampu saya biarkan menyala. Ketika azan Subuh sayup-sayup terdengar, saya mulai lega sebab sebentar lagi hari akan terang.

Teman saya, baru akan menjemput pukul 12 siang, saat istirah kerja. Dan ketika pagi sudah benderang, saya akhirnya tertidur pulas. Saya terbangun pukul 11 siang dan mulai bersiap-siap. Tak berselang lama, teman saya dan sopirnya datang menjemput.

Siang itu, saya diajak menyantap empal gentong. Kalau di Makassar ada cotonya, maka di Cirebon mungkin cotonya itu, ya, empal gentong. Saya bukan penyuka daging sapi, kecuali disate. Tapi ketika mencicipi empal gentong dari daging sapi yang tak amis, empuk, dan renyah itu, lidah saya seketika cocok.

Setelah makan sepuasnya, kami pergi mencari homestay untuk saya menginap selama dua pekan. Saya bahkan sempat mengunduh aplikasi Mami Kost di App Store. Lumayan membantu, tapi rata-rata nomor yang dihubungi mengatakan sudah penuh.

Harga homestay rata-rata per hari 100an ribu. Jika saya menginap selama dua pekan, atau 14 hari, bisa sampai sejuta lebih. Setelah masuk keluar lorong, teman saya menganjurkan untuk menengok salah satu tempat kos, yang pernah ia datangi dulu. Kami berhasil menemukannya. Pemiliknya orang bugis.

Sewa sebulan 900 ribu, dengan fasilitas kasur, lemari, meja, kursi, kamar mandi, dan pendingin ruangan. Cirebon cukup panas. Jika dibandingkan total harga sewa homestay selama dua pekan, harga kos ini lebih murah. Kendati saya menginap tidak sampai sebulan.

Setelah melihat kamar, saya pun memilih tinggal di kos itu. Teman saya pulang ke rumahnya, dan baru akan menjemput saya sore harinya, untuk pergi melihat-lihat kliniknya. Saya istirah sejenak, kemudian menyelesaikan mengedit berita di Tabloid Jubi online.

Saya sempat membuat status di facebook tentang Kota Cirebon. Di dalam kereta, saya menuliskan ini ...

Kota kecil ini tentu saja lebih ramai dari kotaku: Kotamobagu, di Sulawesi Utara. Di Kota Cirebon, semuanya ada. Termasuk rel kereta api yang tak kami miliki di Sulawesi.

Cirebon, kota yang begitu banyak menawarkan makanan enak. Jika kali pertama ke sini, kalian harus merasakan empal gentong. Rasanya, tak perlu ke surga.

Selain empal gentong, ada nasi jamblang, mi koclok, dan nasi lengko yang tak kalah enaknya. Dan masih banyak lagi makanan khas Cirebon lain, yang bisa kalian nikmati. Namun, sejauh cicipan lidah ini, empal gentong ialah yang terbaik. Ingin tahu lebih banyak soal kuliner di Cirebon? Gugling.

Menyoal objek wisata, baik budaya dan sejarah, Cirebon kaya akan itu. Peninggalan kolonial bertaburan di kota ini. Selain itu, di kota ini terdapat makam para syekh dan makam Sunan Gunung Jati. Karena itu kota ini disebut pula Kota Wali. Keraton juga ada. Mau lebih jelas, gugling.

Berada lebih dari dua pekan di kota ini, tentunya bukan tanpa alasan. Saya, membahasakan situasi ini: sebagai bentuk ikhtiar dari takdir perjalanan hidup saya.

Sejenak menepi di sini, adalah hal paling berharga. Saya dikelilingi kebaikan-kebaikan yang tak satu pun sanggup saya balas.

Orang-orang di sini ramah. Saya sekejap bertambah teman. Dari mereka kalangan atas, menengah, hingga yang paling bawah. Ketiga lapisan ini tak terpisahkan, sebab saling berkelindan. Kebaikan dari yang di atas, akan bercucuran ke yang paling bawah. Tak semuanya begitu memang. Masih bisa ditemui sisi-sisi congkak, dari kota-kota kecil seperti ini, yang mulai merangkak menjadi keji.

Di Cirebon, saya menemukan antitesis dari kalimat: sakit pasti mahal. Tak semua dokter memungut biaya seenaknya kepada para pasien. Ada yang menerima seikhlasnya dan mematok harga sesuai kemampuan pasiennya. Selain itu, dokter-dokter ini rela membuka klinik yang jarak tempuhnya lumayan jauh dari rumah. Mereka mencari tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota, dan lebih mendekatkan diri kepada orang-orang desa.

Dokter-dokter ini suka menyebut diri mereka sebagai: dokter desa. Saya pernah bertanya, "Kenapa tidak membuka klinik di rumah atau di area perkotaan?" Jawaban yang saya dapat, "Di kota akan lebih ramai pasien."

Tentu saja jawaban itu mengherankan. Sebab yang namanya mencari duit, tentu saja ingin pelanggan yang banyak. Tapi dokter-dokter ini memilih membuka klinik jauh dari perkotaan, agar bisa lebih dekat dengan orang-orang yang terpinggirkan.

Klinik mereka berada di salah satu tepi lorong sebuah desa. Menuju desa ini, persawahan hijau akan dilewati. Memang kondisi di desa ini, tidak seperti desa kebanyakan yang kita kenal. Misal; sepi, akses jalan sedikit susah, dan fasilitas kurang memadai. Tapi di desa tempat klinik mereka berada, sudah jauh lebih maju. Penjual buah-buahan dan makanan berjejer sepanjang jalan. Beberapa kios berderet pula. Selain ontel dan becak, kendaraan roda dua dan empat pun cukup ramai. Sebab desa ini pusat kecamatan dari desa-desa kecil di sekitarnya.

Selama di sini, ada banyak hal yang saya pelajari. Dari seorang sopir, saya belajar tentang arti kesetiaan. Dari seorang mang becak, saya belajar soal kegigihan, dan percaya bahwa usia hanya deretan angka. Dari seorang pendatang nun jauh yang memilih menikah di sini, saya belajar bahwa kebaikan kerap menular. Dari seorang penjual makanan, saya belajar jikalau untung sudah lebih dari cukup, untuk apalagi menambah jualan? Dan dari beberapa dokter di sini, saya belajar kalau hidup memiliki batas, dan jika itu sudah dicapai, mau apa lagi?

Menyoal kebaikan, banyak hal yang tak harus diutarakan. Sebab makna kebaikan akan berkurang, jika semuanya harus dituturkan satu per satu. Disimpan saja sebagai cermin, agar selalu teringat berbuat baik kepada orang lain.

Ah, terima kasih untuk segala kebaikan di kota ini; makanannya yang enak, keramahan, dan kotanya yang indah. Sampai berjumpa lagi tahun depan ... empal gentong!

Stasiun Cirebon, Rabu, 15 November 2017.

Begitu panjang yang saya alami di kota ini, dan semuanya tak harus saya utarakan. Sebab setiap harinya, berisi kebaikan-kebaikan dari orang di sekitar saya.

Saya berangkat dari Cirebon menuju Yogyakarta, sesuai tanggal yang tertera pada tulisan itu, pukul 10 siang. Sore harinya, pukul 3 sore saya baru tiba di Yogyakarta. Perjalanan dari Cirebon memakan waktu 5-6 jam.

Yogyakarta salah satu kota yang saya idam-idamkan, selain Bali, Jayapura, dan Lombok. Dua kota lain sudah saya jejaki kecuali Lombok. Tak lama menemukan penginapan murah di Yogya. Hanya sepuluh menitan dari stasiun, saya berhasil menemukan Hotel Utara. Hotel ini sebenarnya direkomendasikan teman saya. Harga per malam hanya Rp80 ribu untuk twin bed. Single bed Rp100 ribu. Saya memilih twin bed dan memakai trik ketika di Cordova. Menyatukannya.

Saya rencananya menginap di Yogya selama sepekan, sembari menunggu Fesmed dan Kongres X AJI di Solo, yang rangkaian acaranya dimulai 21 November.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Hotel Utara, saya sudah tertarik dengan dekorasinya. Hotel ini serupa losmen yang pernah saya tonton serialnya di TVRI semasa kecil. Di teras mungil, ada dua kursi rotan dan mejanya berasal taplak bermotif batik. Jendelanya memanjang dan berterali besi. Menurut teman saya, hotel ini termasuk cagar budaya, karena dulu pernah menjadi barak para prajurit belanda.

Akses menuju pusat kota, seperti Tugu, Alun-Alun, Keraton, dan Malioboro juga dekat. Yang jauh tentu saja Borobudur, Prambanan, dan kantor Mojok yang ada di Jakal kilo 13, Sleman sana.

Tapi Yogya, sejak saya tiba, hujannya awet. Jika hendak janjian dengan teman, kami harus memilih tempat indoor. Saya sempat bertemu Mentari, yang desanya tetanggaan dengan desa saya, di Bolaang Mongondow.

Setelah mengunjungi Malioboro, Borobudur, dan Taman Pintar (tempat ini yang membikin barang bawaan saya semakin berat), saya pun menyempatkan diri melawat ke kantor Mojok. Tentang kunjungan saya di Mojok, saya sempat mengirim naskahnya, yang sialnya tidak lolos tayang. Berikut naskahnya ...

Selain Borobudur, Prambanan, Malioboro, Keraton, dan ratusan objek wisata lain di Yogyakarta, rasanya tak komplet jika tak melawat ke salah satu objek wisata yang baru saja tenar, yaitu kantor Mojok.

Jika Anda berada di pusat Kota Yogyakarta, hanya berbekal gugelmep di aplikasi gojek atawa grab, Anda pasti akan segera menemukan kantor Mojok. Asal jangan naik becak gowes aja. Bahkan becak mesin motor, mungkin bisa ngos-ngosan kalau ke kantor Mojok.

Saya ingatkan, berdasarkan pengalaman saya pada Jumat 17 November 2017 kemarin, ketika memesan grab, di gugelmep biasanya keluar kantor Mojok.co dan Mojok Store di Ngaglik, Sleman. Waktu mesan saya kepakai alamat yang Mojok.co. Dan akhirnya nyasar ke Gang Elang. Saya pikir itu alamat yang sama, sebab sama-sama Ngaglik, Sleman.

Kantornya mayan jauhlah dari kota. Sekitar 30an menit, ditambah lampu merah yang bisa berkali-kali saking macetnya, ditambah nyasar, bisa 40 menitan. Ongkos grabcar Rp49 K. Saya naik mobil karena gerimis. Kalok grabbike hanya berkisar Rp28 K.

Akhirnya setelah menghubungi Pemimpin Redaksi (Pemred) Mojok, Prima Sulistya, saya dikasih tahu kalau itu alamat lama. Kantor yang baru, jaraknya masih lumayanlah jauhnya. 16 menitan lagi lama tempuhnya. Biasanya orang Yogya nyebutnya di Jakal km 13. Angkringan Mojok kalau saya tidak salah ingat, kata Prima ada di Jakal km 9. Jakal itu akronim Jalan Kaliurang. Bukan Jaka Kalong. Saya saja baru ngeh pas janjian dengan teman yang kontrakannya ada di Jakal km 6. Terus saya nanya, Jakal itu apaan?

Saat menuju kantor Mojok, rutenya kalau kayak di Bali, ya, kita sedang menuju Ubud. Beberapa jalan masih melewati persawahan nan menawan. Terus udaranya tipis-tipis AC di angka 20an. Apalagi saat itu sedang hujan. Mungkin itu alasannya mereka milih ngantor di Ngaglik. Biar saat menulis, lebih nyaman. Sepi.

Tapi menemukan kantor ini tak semudah yang saya kira. Saya dan sopir grab masih muter-muter lorong, nanya ke bapak-bapak yang malah kebingungan, sampai akhirnya saya harus menghubungi Prima lagi. Setelah Prima menampakkan behelnya di depan kantor yang tanpa plang itu, sopir grab seketika mendengus dan ngucapin: ohhhh. Dongkol. Mungkin kalau si sopir ini jadi intel, dan jalan sendirian, pasti harus nongkrong di perempatan lorong dulu, mantau-mantau, nungguin kemilau behel Prima atawa giginya Agus.

Untung saja, saya tidak dikasih patokan tiang listrik. Kecuali tiang listriknya ditabrak Papa Setnov atau digigit Agus Mulyadi. Baru bisa jadi patokan. Bukan saja patokan, malah bekas gigitan Agus itu, bakal menambah popularitas tiang listrik depan kantor Mojok itu, dan menjadi destinasi pariwisata baru lagi di Yogyakarta.

Saat masuk kantor Mojok, pandangan saya yang tengah menyapu seisi ruangan, mentok ke gigi, eh, wajahnya Agus. Puja gigi ajaib, akhirnya ketemu orang ini.

Di deretan kursi pertama, saya menyalami Aditya Rizki si webmaster. Kemudian ada Manajer Keuangan, Dyah Permatasari, yang transferannya selalu ditunggu-tunggu para penulis Mojok, yang pada kere seperti si Adlun Fakir, eh Fiqri. Tapi sayang, Dyah saat itu juga harus pamit.

Setelah itu, baru saya menyalami Prima. Selanjutnya, Agus, yang sejak saya masuk senyum terus. Tapi senyum itu kayaknya efek 3D dari giginya. Berikutnya ada Arman Dhani, si pendekar twitter, yang tengah berasyik-masyuk dengan game. Kemudian ada Azka Maula, yang khusyuk menggambar ilustrasi di pen tablet.

Sayang seribu malang, sebab Kepala Suku, Puthut EA, sedang ke Malang. Sekretaris Redaksi, Audian Laili, dan Desainer Grafis, Ega Fansuri, yang biasa jadi duetnya Agus Mulyadi di Movi, juga tidak ada. Tapi mayan tergantikanlah, karena mantan Pemred, Eddward S Kennedy, ternyata mampir juga ke Mojok, beberapa menit setelah saya.

Ada hal teristimewa yang saya alami, dan sebelumnya tidak pernah terjadi selama saya menjadi wartawan. Saya dibikinin kopi sama seorang Pemred. Jarang-jarang lho, Pemred bikinin kopi. Meski Prima bukan Pemred di media yang mempekerjakan saya. Tapi jujur saja, kopinya terlampau pahit. Dan bubuk kopinya sampai nangkring di sesap kali pertama. Itu kopi brapa sendok ngana taruh e?

Agus yang sedari tadi senyam-senyum terus, mengajak saya ngobrol. Saya iri kepada makhluk yang namanya sebanyak rambu-rambu lalu lintas ini. Agus, wajahnya selalu ceria. Senandungnya mengikuti lagunya Abid Ghoffar bin Aboe Dja'far a.k.a Ebiet G. Ade yang disetel Azka di komputer, lebih sering terdengar, daripada ucapan yang keluar dari mulutnya. Kayaknya ini anak, emaknya ngidam kaset pita kali yak? Atau mungkin toa masjid.

Selama berada di kantor Mojok, saya sedikit memahami cara kerja redaksi. Mereka membicarakan isu, tentu saja, saat itu soal Papa Setnov, tertawa, mengumpat, kemudian menuliskannya secepat kereta api Shanghai Maglev di China. Posting.

Azka yang biasa membikin ilustrasi, juga tampak teliti melukis wajah-wajah orang yang hendak dijadikan bahan lelucon. Misal, saat itu, Iqbal Aji Daryono, yang foto gondrongnya seperti John Lennon baru keluar salon, dipilih sebagai ilustrasi di info penulis berikutnya.

Arman Dhani dari rehat nyinyirnya, memilih meripres otaknya dengan main game. Setelah itu pantengin laptop, menulis. Sementara Rizki yang kalemnya minta ampun--sampai-sampai saya jadi tidak tegaan sewaktu sibukin dia nyariin buku dan kaus--, tengah serius pantengin laptop juga. Prima jangan ditanya lagi, kelincahan jarinya seperti pianis Ananda Sukarlan.

Dan ... Agus? Sudah saya bilang, dia makhluk terbahagia di alam semesta ini. Kerjaannya senyum, ketawa, bersenandung, dan mindahin pantat dari satu kursi ke kursi lain. Tapi karena Agus sedang santai, dialah yang banyak bercakap-cakap dengan saya. Orangnya cepat lengket.

Eddward S Kennedy yang biasa mereka panggil Panjul, lebih banyak dengan gadget, nyisir rambut pirangnya--yang kata Agus mirip Hatta Rajasa--dengan jejarinya, dan sedikit-sedikit benerin kausnya di bagian perut. Tampak dari perutnya, dia sangat sejahtera di Kumparan.

Hari itu, ada juga satu lagi pria, mungkin dia si Dony Iswara, yang biasa mosting-mosting di media sosial. Tapi si Dony ini kebanyakan di dalam kamar. Sibuk lemesin jejarinya mungkin, setelah seharian skrol-skrol klik-klik. Atawa malah mungkin dia si Ali Ma'ruf yang bertugas menjadi videografer. Saya tidak kenal wajah mereka berdua soalnya.

Nah, bagi kalian yang ingin berwisata ke kantor Mojok, diharapkeun membawa uang tunai. Sebab ada banyak buku layaknya toko buku di Taman Pintar, dan kaus-kaus yang tentu saja kerennya ngalahin kaus-kaus dilapakan Borobudur yang serupa labirin itu.

Saya hanya sempat membeli satu novel karya Puthut EA: Seorang Laki-Laki yang Keluar Dari Rumah. Karena judulnya hampir sama dengan keadaan saya, yang sedang keluar rumah dari awal tahun dan belum pulang-pulang. Sama satu kaus kloningan dengan yang dipakai Agus saat itu. Bagian depan kaus bertuliskan: speak english, drive american, kiss french, party caribbean, dress italian, spend arabic, agus magelangan. Asyu!

Agus sempat bilang gini, "Masak ke sini hanya beli bukunya Mas Puthut?"

Mungkin dari kalimat itu, terselubung iklan buku-bukunya yang itu tuh: Diplomat Kenangan, Bergumul dengan Gus Mul, dan Jomblo Tapi Hafal Pancasila. Atawa bukunya Arman Dhani: Dari Twitwar ke Twitwar. Atawa bukunya Eddward Kennedy: Sepak Bola Seribu Tafsir.

Tapi ... ya, begitulah. Kalian masih kalah tenar dan sakti dengan Kepala Suku. Dan uang di dompet saya tinggal cukup untuk satu buku dan satu kaus. Tentu saja saya prioritaskan yang sakti. Buku kalian ada di antreanlah. Sekalian nunggu bukunya Pemred Prima kelak, yang mungkin saja bakal diberi judul: Kamus Behel-Behel Indokarta.

Salam sayang selalu, for ngoni …

Iya, judul tulisan saya kali ini, sepenggal meminjam judul bukunya Puthut EA itu.

Saya berada di Yogya hanya sepekan saja. Tapi di sana, saya bertemu teman facebook dari Medan, Lae Dikki. Bertemunya saat saya mengunjungi Borobudur. Selanjutnya, kami bertemu lagi di Starbucks Malioboro. Ia sempat bilang, jangan sungkan, dia yang traktir.

Hari terakhir di Yogya, saya menghabiskan waktu berjam-jam di Malioboro. Saya berbincang-bincang dengan tukang becak, pedagang kaki lima yang kakinya buntung dan memakai kursi roda. Mereka kebanyakan mengeluh. Tukang becak mengeluhkan soal penertiban di sekitar Malioboro. Biasanya beberapa kali mereka dilarang mangkal. Sementara pedagang kaki lima difabel, mengeluhkan soal jalur khusus penyandang cacat sepanjang Malioboro, yang sebagian rutenya menjadi lapakan suvenir dan tenda warung makan.

Ah, tiba waktunya meninggalkan Yogya. Selasa siang, 21 November 2017, saya berangkat ke Solo. Selama perjalanan, saya termasuk jarang sekali membuka grup pertemanan baik di whatsaap dan telegram. Saya sengaja membisukan pemberitahuan. Kecuali ada japrian, laporannya segera muncul di layar. Di luar itu, aplikasi media sosial instagram saya sengaja koneksikan dengan facebook, agar apa saja yang saya bagikan di instagram, pun terbagi di facebook.

Dalam perjalanan ke stasiun, Mbak Dewi yang tinggalnya di Surakarta, salah satu kawan editor online di Tabloid Jubi, menjapri saya. Ia menanyakan kapan keberangkatan saya dari Yogya. Saya mengatakan hari ini juga. Ia menyarankan, sesampainya saya di Solo, agar segera menuju Cakra Homestay. Nantinya, saya sekamar dengan editor Jubi dari Padang, Uda Syof, dan kawan Syam yang sesama anggota AJI Gorontalo. Saya mengiyakan.

Tiket kereta Prameks dari Yogya ke Solo hanya Rp8 ribu. Kaka Viktor sempat bercanda, harganya masih lebih mahal obat Paramex. Kata Mbak Dewi, penumpang harus cepat-cepat ke stasiun, sebab berebut kursi. Saya beruntung tiba 20 menitan sebelum kereta datang.

Perjalanan ke Solo hanya sejam. Sesampainya di stasiun, saya segera jatuh cinta dengan kota ini. Seorang bapak, ketika saya menanyakan di mana pintu keluar, menunjuk dengan sopan dan mengantar dua meter ke depan, sampai tulisan exit terlihat.

Saat saya memesan grab, harga yang tertera Rp8 ribu. Ketika saya sampai di depan lorong masuk ke homestay, dan merogoh dompet, ternyata uang saya tinggal satu lembar lima puluh ribuan, dan lima ribuan. Sopir itu tak memiliki kembalian jika saya membayar dengan uang lima puluh ribuan.

"Lima ribu aja, mas," katanya. Untuk pengemudi jasa angkutan semacam gojek dan grab, memang butuh poin. Namun, uang pendapatan pun nantinya untuk mereka.

Saat memasuki lorong menuju homestay, saya memandang tembok tua meninggi sepanjang lorong di Kauman itu, yang pintu-pintu dan jendela-jendelanya tampak purba. Gerbang homestay pun jangkung, dikililingi tembok lima meteran berbeling dan berkawat duri.

Saat bel saya pencet keempat kalinya, penjaga homestay membuka gerbang. Pagar logam itu berderit. Dan ... saya terperangah melihat bangunan homestay. Awalnya saya mengira, bangunan homestay ini modern atau seperti homestay kebanyakan.

Saya mengikuti pesan Mbak Dewi, dengan menyebutkan namanya kepada penjaga.

"Oh, temannya Mbak Dewi. Mari sini," Ia menuntun saya menuju kamar.

Sepanjang jalan menuju kamar, saya terkagum-kagum dengan arsitektur bangunan, dekorasi, dan pajangan-pajangan. Dari lukisan yang menempel di dinding, lampu gantung di teras, meja dan kursi, gamelan, dan banyak lagi perangkat kuno lainnya. Saya bahkan tidak menyangka, homestay ini memiliki kolam renang, meski kecil, tapi di depan kolam ada seperangkat lagi gamelan di panggung mungil.

Kamar saya terletak di lantai dua. Baru saja saya sampai di kamar, terdengar percakapan asing di bawah. Saya menengok ke bawah dan ada tiga orang asing tengah ditemani penjaga, hendak melihat-lihat dan memilih kamar.

Saya segera menjapri Mbak Dewi. Saya menanyakan harga sewa homestay tersebut. Ia mengirimkan daftar harga dari seratusan sampai dua ratusan. Termahal, kamar VIP yang per malamnya Rp400 ribu.

Saya bilang, untuk sekelas Bali, pasti harga homestay ini lebih mahal lagi. Kamar kami dilengkapi pendingin ruangan, twin bed ditambah satu kasur. Sebab sekamar nanti, rata-rata penghuninya tiga orang. Sama seperti kamar untuk redaktur Jubi dari Papua.

Kata Mbak Dewi, anak pemilik homestay, teman sekelasnya sewaktu SMP. Dulu, homestay ini pabrik batik. Jika disesuaikan dengan usia pabrik, bangunannya sudah berusia 150 tahun.

Selain saya dan kru Jubi, Eva dari AJI Manado, teman-teman dari AJI Pekanbaru dan Bandung, juga akan menginap di homestay ini, karena Hotel Keprabon penuh. Sebenarnya AJI Indo menyediakan hotel juga bagi kami, peserta Fesmed dan Kongres, di Hotel Keprabon dan The Sunan, tapi sepertinya, pantat ini sudah lengket dengan homestay ini. Sama-sama gratisan juga.

Saya menghabiskan waktu berkeliling homestay, sembari menunggu teman-teman dari Papua dan Uda Syof dari Padang. Sementara salah seorang teman dari AJI Gorontalo yang juga redaktur Jubi, Syam, tertunda keberangkatannya dari Magelang, sebab anaknya sakit dan sedang perawatan.

Pukul 7 malam, saya pergi mencari makan di depan lorong. Langkah kaki saya tersandung pada penjual sate ayam asal Madura. Saat menunggu pesanan sate, saya pangling ketika salah satu artis lewat mengendarai sepeda. Jay Subiakto. Atau mungkin hanya mirip saja. Kata penjual sate, dia akhir-akhir ini sering terlihat lewat dengan sepeda.

"Mungkin datang pas pernikahan anak Jokowi. Kan, rame tuh sama artis," kata penjual sate yang namanya mirip dengan nama teman saya, Syam.

Setelah makan, saya celingak-celinguk mencari warung di sekitar. Saya bertanya kepada penjual sate, di mana ada warung atau maret-martan.

"Waduh, di sini gak boleh ada indomaret atau alfamart. Adanya warung, tapi masuk lorong samping toko batik itu. Nanti jalan seratusan meter, mentok, ada warung."

Saya menuruti petunjuknya. Sepanjang jalan, saya memang tidak menemukan warung lain apalagi maret-martan.

Saat kembali ke homestay, ternyata teman-teman dari Papua su datang eee ... ada Kaka Minggus, Jean, Timo, Angela, Yulan, dan yang terakhir ini, Zely asli Aceh, yang baru kali pertama bersua. Sewaktu ke Jayapura beberapa bulan lalu, kami tidak sempat berjumpa.

Kami saling bersalaman dan bertukar kangen sambil menunggu Uda Syof dari Padang.

Fesmed di Grha Solo Raya, rencananya akan dibuka 23 November 2017. Sambil menunggu Fesmed dibuka, sore 22 November 2017, kami dari Jubi rapat redaksi di bangunan serupa menara di homestay. Untuk sampai ke atas, kami harus menaiki tiga lantai dengan anak tangga yang melengkung dari dalam hingga ke luar, yang menempel di satu sisi tembok.

Syam dari Magelang, Edi Faisol dari Semarang, dan Kaka Viktor dari Jayapura belum tiba. Saat rapat berlangsung, siang itu, kawan Wawan si anak bawang dari AJI Gorontalo, tiba. Saya mengarahkan dia menuju kamar sambil melemparkan kunci dari atas.

Wawan juga membawa ponsel mungil saya dari Gorontalo, yang ternyata tertinggal di kamar kos. Saya sempat meminta bantuannya untuk mengecek ponsel itu, karena beberapa kali saya hubungi, masih aktif. Kalau pun jatuh, pasti sudah ada orang yang menemukannya dan nomor cantik namanya Sigi: 5161, pasti dipatahkan dan dibuang si penemu. Ternyata benar, hanya ketinggalan di kamar.

Sejam kemudian, rapat redaksi selesai. Saya dan Wawan segera mencari tempat untuk mencetak backdrop yang akan dipasang di stand AJI Gorontalo di lokasi Fesmed.

Setelah berjalan lumayan jauh dan tak berhasil menemukan tempatnya, saya membuka aplikasi grab, memesan, dengan memakai alamat tujuan berkata kunci percetakan. Ada sekira lima nama tempat percetakan yang muncul. Kami belum sampai di tujuan, dan sopir menujuk salah satu tempat percetakan. Wawan turun dan ternyata benar, tempat itu bisa mencetak backdrop dalam waktu sejam.

Sambil menunggu, saya mengajak si anak bawang ini makan. Takutnya, ia belum makan-makan, sebab perjalanannya kali ini, tanpa membawa bekal acar apalagi nasi suwir dari Gorontalo. Setelah makan, saya pamit duluan ke lokasi Fesmed untuk mengecek lokasi stand.

Sore itu, titik lokasi masing-masing stand AJI Kota se-Endonesa baru ditempeli kertas bertuliskan nama masing-masing AJI Kota. Setelah menemukan titik itu, saya tinggal menunggu Wawan, sambil bercakap-cakap dengan banyak kawan dari AJI per kota sepelosok Endonesa.

Malam harinya, saya pamit ke homestay untuk mengedit berita. Wawan menuju Hotel Keprabon, kamar jatah untuk peserta AJI Kota. Sebab Syam rencananya akan tiba malam harinya, dan menginap di Cakra Homestay. Kasur hanya tiga, untuk saya, Syam, dan Uda Syof. Daripada disuruh ngalas di lantai pakai handuk, Wawan bijak memilih menginap di Keprabon.

Syam tiba, saat saya sedang makan sate Madura yang nama penjualnya itu juga Syam. Setelah itu kami berangkat ke Grha Solo Raya. Wawan sudah lebih dulu di sana. Kotak per kotak stand berdiri tegak. Backdrop dipasang. Selesai.

Saya pergi menyapa kawan-kawan AJI lagi yang baru tiba. Kebetulan ada beberapa teman yang sempat se-workshop dulu. Pun kawan-kawan sesama kontributor di beritagar.id dari beberapa wilayah di Endonesa.

Esok harinya, Fesmed dibuka dengan meriah. Semua stand berisi pernak-pernik khas, dan berbagai macam kreativitas berhamburan. Workshop bertema jurnalistik pun tinggal dipilih. Selama dua hari Fesmed berlangsung. Dari 23-24 November.

Selanjutnya, setelah Fesmed, Kongres X AJI dilaksanakan di The Sunan Hotel, dari 25-27 November. Abdul Manan dan Revolusi Riza terpilih sebagai Ketua dan Sekretaris Jenderal AJI periode 2017-2020 sebagai calon tunggal.

Selama Fesmed dan Kongres saya beberapa kali mencuri waktu untuk bisa berkeliling Kota Solo. Saya sempat berkunjung ke Monumen Pers Nasional dan beberapa objek wisata budaya dan sejarah lainnya.

Waktu berpisah pun tiba. Setelah berkasih-kasih dengan kawan-kawan AJI, esoknya, saya harus kembali melanjutkan perjalanan. Kaka Viktor dengan baik hati membelikan saya tiket pesawat pulang ke Gorontalo. Saya sadar diri, gratisan, tentu saja saya memilih kota keberangkatan yang harganya mungkin bisa di bawah sejuta. Sebab dari Solo atau Yogya harganya bisa sampai di atas Rp1,5 juta. Satu-satunya pilihan termurah adalah Surabaya.

Saya berangkat ke Surabaya. Sehari sebelumnya, kawan redaktur Jubi, Timo, berangkat lebih dulu ke Surabaya. Ia hendak mengunjungi adiknya. Ia pulang ke Jayapura, lewat Surabaya juga, di tanggal yang sama 30 November 2017, tapi waktu yang berbeda. Saya siang. Dia malam.

Perjalanan ke Surabaya dengan kereta ditempuh hampir 5 jam. Sesampainya di Surabaya, hujan awet seperti Yogya dan Solo. Sejak di kereta, saya dikabari kawan Themmy, yang pernah menjadi anggota AJI Gorontalo. Tapi sejak berdomisili lagi di Surabaya, ia pindah ke AJI Surabaya.

Saya berbohong kepadanya, kalau saya dari stasiun Gubeng Surabaya, langsung menuju Bandara Juanda. Sama halnya ketika beberapa kawan AJI Gorontalo, yang menanyakan apakah saya sudah di Gorontalo. Untuk ini, saya memohon maaf ya. Semoga bisa bersua di lain waktu.

Saya terpaksa berbohong, bukan apa-apa, setelah dari Solo dan perjalanan panjang ini, saya seperti ingin menepi dulu dari hiruk pikuk per-AJI-an. Apalagi Fesmed dan Kongres kemarin, puas sudah bersua dengan kawan-kawan AJI.

Di Surabaya, saya dipersilakan menginap di kos salah satu kawan yang pernah tinggal setahun di Kotamobagu. Saya juga baru ingat, beberapa karib asal Kotamobagu, yang pernah saya singgahi sewaktu mereka di Makassar beberapa tahun lalu, pun sedang mengenyam pendidikan di Surabaya. Kami janjian ngopi, sehari sebelum saya pulang ke Gorontalo.

30 November 2017, saya berangkat dari yang asing, mengitari tempat-tempat asing, dan kembali ke asing. Asing dalam pengertian, saya sedang tidak berada di tanah kelahiran. Betapa rindu akan kampung halaman, menggunung di dalam hati.

Memilih tinggal bukan di tanah kelahiran, selalu menjadi pilihan tersulit bagi sebagian orang, termasuk saya. Berada jauh dari masakan ibu, tawa Sigi, dan denting gelas kawan-kawan sedari kecil.

Hal yang teramat saya rindukan selain Sigi, adalah masakan ibu. Saya termasuk orang yang rakus. Di rumah, saya bisa makan sampai lima kali sehari. Berat badan saya, seketika akan meng-gajah jika di rumah. Itulah sebabnya, saya selalu cepat tersinggung jika menyoal makan. Hal itu berlaku bukan untuk saya sendiri, tapi jika itu menimpa orang lain juga.

Merasa lapar itu biasa. Tapi ketika ada orang lain yang menyinggung soal makanan, saya seketika akan mencoret namanya dari daftar pertemanan.

Menyoal makanan ini, saya pernah memiliki pengalaman yang membuat saya semakin mengerti, kawan sebaik apa pun itu, bisa seketika menjadi buruk perilakunya, tanpa kita tahu apa alasannya. Kawan jenis ini termasuk endemik.

Suatu malam di masa yang lampau, ketika saya kembali dari mewawancara narasumber, saya menemukan salah seorang kawan saya bersila di teras sebuah rumah. Saya tahu, ia lapar dan kawan ini tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Saya yang pernah merasa lapar selapar-laparnya lapar selama berbulan-bulan, menawari dia untuk membeli makanan.

"Kamu sudah makan?"

"Sudah tadi."

"Makan apa? Tidak ada makanan apa pun di dapur. Jangan berdusta atau malu. Ini, untuk beli makananmu. Saya sudah makan tadi di luar."

Saya menyerahkan uang dua puluh ribu sambil menitip rokok batangan, kalau saja masih ada sisa kembalian.

Sedikit malu-malu, ia mengambilnya. Ia berjalan kaki menuju warung makan. Beberapa menit kemudian, ia kembali tapi tak membawa kantong makanan.

"Habis."

"Oh, beli saja di tempat lain," saran saya.

Tahu letak warung makan lain lumayan jauh jika berjalan kaki, ditambah fisik yang berisi sisa-sisa energi nol koma nol, ia berusaha meminjam motor ke kawan satu lagi yang berada di dalam rumah.

"Kak, pinjam motor."

"Mau beli apa?"

"Makanan."

"Makanan siapa? Kalau makanan untukmu, pergi sana! Kalau bukan, jangan! Kamu tinggal di sini bukan untuk disuruh-suruh!"

Saya yang tak tuli ini, dari luar mendengar jelas perkataan kawan itu. Saya tak perlu merentang apa yang sering saya lakukan di rumah ini, apalagi menyoal makanan. Cukup yang merasakan menyimpan dalam-dalam semua itu.

Sejak kejadian itu, saya menghapus namanya dari daftar pertemanan. Tapi, kawan itu malah dibela-bela, dan berjamaah para pembela itu mengatakan saya terlalu berkecil hati.

Sebelumnya, saat mengelilingi beberapa kota, hampir di setiap kloset yang saya singgahi untuk membuang hajat, saya kerap menyebut namanya, kemudian meludah ke dalam lubang kloset!

Diiringi doa: semoga segala keburukannya ikut hanyut bersama tinja dan air kencing. Ah, itu doa baik yang buruk ... yang pernah saya rapalkan seumur hidup.

Mau ke mana lagi tahun depan? Atau cukup menetap di desa saja. Di rumah saja. Sebab rumah, satu-satunya tempat yang tak pernah menyinggung saya soal makanan.

Dan itu berarti saya harus … pulang.

Monday, November 20, 2017

Melawat ke Mojok, Salah Satu Objek Wisata Andalan di Yogyakarta

Selain Borobudur, Prambanan, Malioboro, Keraton, dan ratusan objek wisata lain di Yogyakarta, rasanya tak komplet jika tak melawat ke salah satu objek wisata yang baru saja tenar, yaitu kantor Mojok.

Jika Anda berada di pusat Kota Yogyakarta, hanya berbekal gugelmep di aplikasi gojek atawa grab, Anda pasti akan segera menemukan kantor Mojok. Asal jangan naik becak gowes aja. Bahkan becak mesin motor, mungkin bisa ngos-ngosan kalau ke kantor Mojok.

Saya ingatkan, berdasarkan pengalaman saya pada Jumat 17 November 2017 kemarin, ketika memesan grab, di gugelmep biasanya keluar kantor Mojok.co dan Mojok Store di Ngaglik, Sleman. Waktu mesan saya kepakai alamat yang Mojok.co. Dan akhirnya nyasar ke Gang Elang. Saya pikir itu alamat yang sama, sebab sama-sama Ngaglik, Sleman.

Kantornya mayan jauhlah dari kota. Sekitar 30an menit, ditambah lampu merah dan nyasar, bisa 40an menit. Ongkos grabcar Rp49 K. Saya naik mobil karena gerimis. Kalok grabbike hanya berkisar Rp28 K.

Akhirnya setelah menghubungi Pemimpin Redaksi (Pemred) Mojok, Prima Sulistya, saya dikasih tahu kalau itu alamat lama. Kantor yang baru, jaraknya masih lumayanlah jauhnya. 16 menitan lagi lama tempuhnya. Biasanya orang Yogya nyebutnya di Jakal km 13. Angkringan Mojok kalau saya tidak salah ingat, kata Prima ada di Jakal km 9. Jakal itu akronim Jalan Kaliurang. Bukan Jaka Kalong. Saya saja baru ngeh pas janjian dengan teman yang kontrakannya ada di Jakal km 6. Terus saya nanya, Jakal itu apaan?

Saat menuju kantor Mojok, rutenya kalau kayak di Bali, ya, kita sedang menuju Ubud. Beberapa jalan masih melewati persawahan nan menawan. Terus udaranya tipis-tipis AC di angka 20an. Apalagi saat itu sedang hujan. Mungkin itu alasannya mereka milih ngantor di Ngaglik. Biar saat menulis, lebih nyaman. Sepi.

Tapi menemukan kantor ini tak semudah yang saya kira. Saya dan sopir grab masih muter-muter lorong, nanya ke bapak-bapak yang malah kebingungan, sampai akhirnya saya harus menghubungi Prima lagi. Setelah Prima menampakkan behelnya di depan kantor yang tanpa plang itu, sopir grab seketika mendengus dan ngucapin: ohhhh. Dongkol. Mungkin kalau si sopir ini jadi intel, dan jalan sendirian, pasti harus nongkrong di perempatan lorong dulu, mantau-mantau, nungguin kemilau behel Prima atawa giginya Agus.

Untung saja, saya tidak dikasih patokan tiang listrik. Kecuali tiang listriknya ditabrak Papa Setnov atau digigit Agus Mulyadi. Baru bisa jadi patokan. Bukan saja patokan, malah bekas gigitan Agus itu, bakal menambah popularitas tiang listrik depan kantor Mojok itu, dan menjadi destinasi pariwisata baru lagi di Yogyakarta.

Saat masuk kantor Mojok, pandangan saya yang tengah menyapu seisi ruangan, mentok ke gigi, eh, wajahnya Agus. Puja gigi ajaib, akhirnya ketemu orang ini.

Di deretan kursi pertama, saya menyalami Aditya Rizki si webmaster. Kemudian ada Manajer Keuangan, Dyah Permatasari, yang transferannya selalu ditunggu-tunggu para penulis Mojok, yang pada kere seperti si Adlun Fakir, eh Fiqri. Tapi sayang, Dyah saat itu juga harus pamit.

Setelah itu, baru saya menyalami Prima. Selanjutnya, Agus, yang sejak saya masuk senyum terus. Tapi senyum itu kayaknya efek 3D dari giginya. Berikutnya ada Arman Dhani, si pendekar twitter, yang tengah berasyik-masyuk dengan game. Kemudian ada Azka Maula, yang khusyuk menggambar ilustrasi di pen tablet.

Sayang seribu malang, sebab Kepala Suku, Puthut EA, sedang ke Malang. Sekretaris Redaksi, Audian Laili, dan Desainer Grafis, Ega Fansuri, yang biasa jadi duetnya Agus Mulyadi di Movi, juga tidak ada. Tapi mayan tergantikanlah, karena mantan Pemred, Eddward S Kennedy, ternyata mampir juga ke Mojok, beberapa menit setelah saya.

Ada hal teristimewa yang saya alami, dan sebelumnya tidak pernah terjadi selama saya menjadi wartawan. Saya dibikinin kopi sama seorang Pemred. Jarang-jarang lho, Pemred bikinin kopi. Meski Prima bukan Pemred di media yang mempekerjakan saya. Tapi jujur saja, kopinya terlampau pahit. Dan bubuk kopinya sampai nangkring di sesap kali pertama. Itu kopi brapa sendok ngana taruh e?

Agus yang sedari tadi senyam-senyum terus, mengajak saya ngobrol. Saya iri kepada makhluk yang namanya sebanyak rambu-rambu lalu lintas ini. Agus, wajahnya selalu ceria. Senandungnya mengikuti lagunya Abid Ghoffar bin Aboe Dja'far a.k.a Ebiet G. Ade yang disetel Azka di komputer, lebih sering terdengar, daripada ucapan yang keluar dari mulutnya. Kayaknya ini anak, emaknya ngidam kaset pita kali yak? Atau mungkin toa masjid.

Selama berada di kantor Mojok, saya sedikit memahami cara kerja redaksi. Mereka membicarakan isu, tentu saja, saat itu soal Papa Setnov, tertawa, mengumpat, kemudian menuliskannya secepat kereta api Shanghai Maglev di China. Posting.

Azka yang biasa membikin ilustrasi, juga tampak teliti melukis wajah-wajah orang yang hendak dijadikan bahan lelucon. Misal, saat itu, Iqbal Aji Daryono, yang foto gondrongnya seperti John Lennon baru keluar salon, dipilih sebagai ilustrasi di info penulis berikutnya.

Arman Dhani dari rehat nyinyirnya, memilih meripres otaknya dengan main game. Setelah itu pantengin laptop, menulis. Sementara Rizki yang kalemnya minta ampun--sampai-sampai saya jadi tidak tegaan sewaktu sibukin dia nyariin buku dan kaus--, tengah serius pantengin laptop juga. Prima jangan ditanya lagi, kelincahan jarinya seperti pianis Ananda Sukarlan.

Dan ... Agus? Sudah saya bilang, dia makhluk terbahagia di alam semesta ini. Kerjaannya senyum, ketawa, bersenandung, dan mindahin pantat dari satu kursi ke kursi lain. Tapi karena Agus sedang santai, dialah yang banyak bercakap-cakap dengan saya. Orangnya cepat lengket.

Eddward S Kennedy yang biasa mereka panggil Panjul, lebih banyak dengan gadget, nyisir rambut pirangnya--yang kata Agus mirip Hatta Rajasa--dengan jejarinya, dan sedikit-sedikit benerin kausnya di bagian perut. Tampak dari perutnya, dia sangat sejahtera di Kumparan.

Hari itu, ada juga satu lagi pria, mungkin dia si Dony Iswara, yang biasa mosting-mosting di media sosial. Tapi si Dony ini kebanyakan di dalam kamar. Sibuk lemesin jejarinya mungkin, setelah seharian skrol-skrol klik-klik. Atawa malah mungkin dia si Ali Ma'ruf yang bertugas menjadi videografer. Saya tidak kenal wajah mereka berdua soalnya.

Nah, bagi kalian yang ingin berwisata ke kantor Mojok, diharapkeun membawa uang tunai. Sebab ada banyak buku layaknya toko buku di Taman Pintar, dan kaus-kaus yang tentu saja kerennya ngalahin kaus-kaus dilapakan Borobudur yang serupa labirin itu.

Saya hanya sempat membeli satu novel karya Puthut EA: Seorang Laki-Laki yang Keluar Dari Rumah. Karena judulnya hampir sama dengan keadaan saya, yang sedang keluar rumah dari awal tahun dan belum pulang-pulang. Sama satu kaus kloningan dengan yang dipakai Agus saat itu. Bagian depan kaus bertuliskan: speak english, drive american, kiss french, party caribbean, dress italian, spend arabic, agus magelangan. Asyu!

Agus sempat bilang gini, "Masak ke sini hanya beli bukunya Mas Puthut?"

Mungkin dari kalimat itu, terselubung iklan buku-bukunya yang itu tuh: Diplomat Kenangan, Bergumul dengan Gus Mul, dan Jomblo Tapi Hafal Pancasila. Atawa bukunya Arman Dhani: Dari Twitwar ke Twitwar. Atawa bukunya Eddward Kennedy: Sepak Bola Seribu Tafsir.

Tapi ... ya, begitulah. Kalian masih kalah tenar dan sakti dengan Kepala Suku. Dan uang di dompet saya tinggal cukup untuk satu buku dan satu kaus. Tentu saja saya prioritaskan yang sakti. Buku kalian ada di antreanlah. Sekalian nunggu bukunya Pemred Prima kelak, yang mungkin saja bakal diberi judul: Kamus Behel-Behel Indokarta.

Salam sayang selalu, for ngoni …

Tuesday, November 14, 2017

Amit Cirebon Jeh ...

Kota kecil ini tentu saja lebih ramai dari kotaku: Kotamobagu, di Sulawesi Utara. Di Kota Cirebon, semuanya ada. Termasuk rel kereta api yang tak kami miliki di Sulawesi.

Cirebon, kota yang begitu banyak menawarkan makanan enak. Jika kali pertama ke sini, kalian harus merasakan empal gentong. Rasanya, tak perlu ke surga.

Selain empal gentong, ada nasi jamblang, mi koclok, dan nasi lengko yang tak kalah enaknya. Dan masih banyak lagi makanan khas Cirebon lain, yang bisa kalian nikmati. Namun, sejauh cicipan lidah ini, empal gentong ialah yang terbaik. Ingin tahu lebih banyak soal kuliner di Cirebon? Gugling.

Menyoal objek wisata, baik budaya dan sejarah, Cirebon kaya akan itu. Peninggalan kolonial bertaburan di kota ini. Selain itu, di kota ini terdapat makam para syekh dan makam Sunan Gunung Jati. Karena itu kota ini disebut pula Kota Wali. Keraton juga ada. Mau lebih jelas, gugling.

Berada lebih dari dua pekan di kota ini, tentunya bukan tanpa alasan. Saya, membahasakan situasi ini: sebagai bentuk ikhtiar dari takdir perjalanan hidup saya. Sejenak menepi di sini, adalah hal paling berharga. Saya dikelilingi kebaikan-kebaikan yang tak satu pun sanggup saya balas.

Orang-orang di sini ramah. Saya sekejap bertambah teman. Dari mereka kalangan atas, menengah, hingga yang paling bawah. Ketiga lapisan ini tak terpisahkan, sebab saling berkelindan. Kebaikan dari yang di atas, akan bercucuran ke yang paling bawah. Tak semuanya begitu memang. Masih bisa ditemui sisi-sisi congkak, dari kota-kota kecil seperti ini, yang mulai merangkak menjadi keji.

Di Cirebon, saya menemukan antitesis dari kalimat: sakit pasti mahal. Tak semua dokter memungut biaya seenaknya kepada para pasien. Ada yang menerima seikhlasnya dan mematok harga sesuai kemampuan pasiennya. Selain itu, dokter-dokter ini rela membuka klinik yang jarak tempuhnya lumayan jauh dari rumah. Mereka mencari tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota, dan lebih mendekatkan diri kepada orang-orang desa.

Dokter-dokter ini suka menyebut diri mereka sebagai: dokter desa. Saya pernah bertanya, "Kenapa tidak membuka klinik di rumah atau di area perkotaan?" Jawaban yang saya dapat, "Di kota akan lebih ramai pasien."

Tentu saja jawaban itu mengherankan. Sebab yang namanya mencari duit, tentu saja ingin pelanggan yang banyak. Tapi dokter-dokter ini memilih membuka klinik jauh dari perkotaan, agar bisa lebih dekat dengan orang-orang yang terpinggirkan.

Klinik mereka berada di salah satu tepi lorong sebuah desa. Menuju desa ini, persawahan hijau akan dilewati. Memang kondisi di desa ini, tidak seperti desa kebanyakan yang kita kenal. Misal; sepi, akses jalan sedikit susah, dan fasilitas kurang memadai. Tapi di desa tempat klinik mereka berada, sudah jauh lebih maju. Penjual buah-buahan dan makanan berjejer sepanjang jalan. Beberapa kios berderet pula. Selain ontel dan becak, kendaraan roda dua dan empat pun cukup ramai. Sebab desa ini pusat kecamatan dari desa-desa kecil di sekitarnya.

Selama di sini, ada banyak hal yang saya pelajari. Dari seorang sopir, saya belajar tentang arti kesetiaan. Dari seorang mang becak, saya belajar soal kegigihan, dan percaya bahwa usia hanya deretan angka. Dari seorang pendatang nun jauh yang memilih menikah di sini, saya belajar bahwa kebaikan kerap menular. Dari seorang penjual makanan, saya belajar jikalau untung sudah lebih dari cukup, untuk apa lagi menambah jualan? Dan dari beberapa dokter di sini, saya belajar kalau hidup memiliki batas, dan jika itu sudah dicapai, mau apa lagi?

Menyoal kebaikan, banyak hal yang tak harus diutarakan. Sebab makna kebaikan akan berkurang, jika semuanya harus dituturkan satu per satu. Disimpan saja sebagai cermin, agar selalu teringat berbuat baik kepada orang lain.

Ah, terima kasih untuk segala kebaikan di kota ini; makanannya yang enak, keramahan, dan kotanya yang indah. Sampai berjumpa lagi tahun depan ... empal gentong!

Stasiun Cirebon, Rabu, 15 November 2017.

Sunday, November 5, 2017

Selamat Menempuh Eges Baru


Pernikahan adalah fase terumit dari manusia. Kenapa saya mengatakan rumit? Sebab hidup sejalan dengan orang lain tentunya hal yang sulit. Kita harus berbagi makanan, uang, bahagia, sedih, dan malu. Saking rumitnya banyak yang gagal. Termasuk saya.

Tepat 4 November dua kawan baik saya memilih menapaki fase itu. Salah satunya Pasra Hidayat Mamonto atau Eges. Ia kawan wartawan, ketika di Radar Bolmong, periode 2015.

Satu hal yang paling lucu ialah saat mengingat nama depannya. Pasra. Konon saking inginnya anak perempuan, setiap kelahiran, orangtuanya kerap berharap, agar yang lahir bayi mungil nan cantik. Namun saat kelahiran ketiga atau keempat (saya lupa), bayi laki-laki ini terlahir.

Ayah dan ibunya memilih pasrah. Kemudian ia dinamai: Pasra (tanpa h) Hidayat. Hidayat mungkin diambil dari kata "hidayah", yang bisa jadi sebagai bentuk hormat atas ketetapan Tuhan, bahwa manusia memang memiliki keterbatasan. Tidak bisa memilih jenis kelamin.

Sewaktu menjadi wartawan, saya sering menemui Eges dengan ketekunannya di sudut kantor. Ia bisa membikin belasan berita selama beberapa jam, melebihi kami. Maklum, ia wartawan yang sedang naik daun dan disenangi para pejabat kala itu.

Karirnya cukup gemilang, ia bisa gonta-ganti ponsel pintar hanya selang dua atau tiga bulan. Mungkin itu semua bayaran setimpal, atas kerja kerasnya meringkus kata "sepakat", untuk setiap kontrak atau advetorial.

Ada tiga hal yang sama antara saya dan Eges. Kami memiliki banyak uban. Kendati punyanya lebih banyak. Itu pertanda pekerja keras, mungkin. Rambut sampai menua lebih awal. Berikut, kami sama-sama anak bungsu. Dan terakhir, saya dan Eges sama-sama anak yatim.

Eges cerewet. Apalagi ketika mabuk. Ia juga dikenal berdarah cecak--sebutan untuk orang yang cepat mabuk. Tapi seiring waktu, Eges mulai menempatkan diri. Ia telah mengurangi asupan alkohol dan memperbanyak minum susu. Sampai akhirnya, tabungannya telah penuh, dan Eges memilih menikah di bulan ini.

Mungkin benar, kawan, jika orangtuamu senang dengan anak perempuan, kenapa bukan kalian yang mewujudkan itu? Semoga dikaruniai bayi perempuan mungil nan cantik. Biar ayahmu yang telah lebih dulu berpulang tersenyum di sana, pun ibumu yang semoga diberi kesehatan, agar masih bisa menunggu dan memeluk cucunya.

Kalau yang lahir nanti laki-laki, jangan sekali-kali memikirkan nama: Terserah. Tidak lucu jika anakmu bernama panjang: Terserah Pasrah Pada Hidayah Tuhan.

Ah, selamat menikah, kawan ...

Saturday, November 4, 2017

Mang Kancil


Namanya Mang Kancil. Mungkin karena postur tubuhnya kecil. Sewaktu keluar homestay, Mamang kebetulan mangkal di depan sambil makan singkong goreng. Karena aplikasi gojek saya error, dan tahu kalau tujuan saya lumayan jauh, saya sebenarnya tidak tega makai becak. Apalagi pas tahu usia Mamang sudah 61 tahun.

Dia menawarkan jasa. Dan saya tidak bisa menolak. Sewaktu mau gowes, sandalnya sempat lepas. Maklum, berat badan saya di atas 70 kilo. Selama perjalanan saya nanya-nanya sejak kapan narik. Mamang ngaku sejak 1982. Setahun setelahnya baru saya netas di dunia yang fana(s) ini.

Malam ini purnama. Sebenarnya saya ingin main ke Gedung British American Tobacco (BAT). Dari tempat saya lumayanlah kalau naik becak. Sekitar tujuan kilo.

Gedung BAT dari hasil gugling, mulai digunakan pada 1924 dan dirancang F.D. Cuypers & Hulswit bergaya Art Deco, gaya yang bermula pada awal 1920-an dan digunakan sampai setelah Perang Dunia II.

Gaya atau struktur Art Deco berdasar pada bentuk geometris matematis yang terlihat elegan, glamor, fungsional dan modern. Dari foto-foto yang saya pindai di gugling memang gedungnya artistik.

Beberapa tahun lalu, Gedung BAT jadi pabrik rokok, PT Bentoel International Investama (BINI). Dan saat ini gedung itu sudah tidak digunakan lagi untuk membikin rokok. Sudah dijual. Kabarnya  miliaran.

Sewaktu gowes, sesekali Mamang mengetuk bagian logam becak dengan tangannya, sebagai klakson manual saat bertemu kendaraan atau pejalan kaki. Baru saja cerita-cerita dengan Mamang, soal istri ketiganya, kami sudah sampai di Alun-Alun Kejaksan. Salah satu titik keramaian di Kota Cirebon. 

Saya pilih ke Alun-Alun dulu biar Mamang tidak kecapean. Tepat di samping Alun-Alun berdiri megah Masjid At-Taqwa.

"Mamang sudah makan?"

"Belum, jalan terus dari jam 4 sore."

Saya mengajaknya makan tapi dia menolak. Alasannya masih kenyang makan singkong goreng tadi.

"Merokok?"

"Iya."

Saya membelikannya sebungkus rokok kretek sama korek kayu, yang ia tolak pula awalnya. Tapi setelah dipaksa, akhirnya ia terima.

"Ini buat Mamang nunggu."

Di Alun-Alun, saya hanya menikmati sepintas saja lalu pergi mencari makan. Sekalian nebeng ngecars hape. Setelah makan saya kembali ke parkiran becak.

Saya coba bertanya apakah Mamang sanggup dari Alun-Alun ke Gedung BAT. Ia menyatakan sanggup.

Mamang ini tinggalnya lumayan jauh dari pusat kota. Sampai 30an kilo. Dia harus naik angkot dan menitip becak ke tuannya. Ia hanya tukang narik aja. Setoran per lima hari Rp25 ribu. Harga becaknya kalau dibeli Rp500 ribu. Tapi ia mengaku tidak sanggup membeli becak, yang telah menemaninya selama tiga tahun. Ia pindah-pindah tuan selama narik.

Mamang narik dari pukul 4 sore sampai 5 pagi. Katanya, dia khusus narik malam. Jadi baru pagi hari dia pulang ke rumah. Menurut Mamang, kalau nabung 4 bulan, harga becak bisa ia lunasi. Tapi uang penghasilan buat makan aja. Apalagi cucunya sudah mau SMA.

Saat menuju Gedung BAT, ketika melewati kota tua, ia berbisik ...

"Hapenya jangan dipegang-pegang. Nanti ada yang ngawe."

Ia mengingatkan saya. Jika saja ada yang ngawe atau jambret. Apalagi becaknya tak sanggup mengejar jika jambretnya pakai motor. Tapi menurut Mamang, jambret atau copet masih jarang sih.

Beberapa menit kemudian kami sampai di Gedung BAT.

"Ini Gedung British American Tobacco. BAT," jelasnya dengan ejaan yang lumayan nginggris.

Sesampai di BAT, saya mulai memotret. Mamang memarkir becaknya tak jauh dari tempat jualan kopi. Ia tampak terkantuk-kantuk.

"Pesan kopi, Mang," kata saya sambil menyerahkan uang.

"Dua ya? Situ minum juga?"

"Iya."

Setelah itu ia memesan kopi di kedai dorong tepat di samping becak. Mamang kembali dengan dua gelas kopi, lalu kami melanjutkan cerita tentang istri ketiganya ...


(((Foto tra usah heran ee, bobot saya lumayan berat)))

CBN, 4 November 2017.

Thursday, November 2, 2017

Selamat Menyelam Lebih Dalam di Bumi Manusia



Episode Shandry ...

Jejaring semesta akan mempertautkan pikir serupa. Shandry Anugerah Hasanuddin, lima tahun silam hanyalah kawan dari frekuensi yang merambat di udara. Kami sedang genit-genitnya mencari Tuhan di pepohonan, langit, tanah, bebatuan, dan ponsel-ponsel pintar. Berbantah-bantahan ialah keharusan. Sebab pikir harus terus didesak dengan pertanyaan: siapa aku?

Kami dimantrai kata-kata, tentang manusia yang harus memikirkan dari mana asalnya. Jika tidak, laiknya seekor kelinci yang disihir dan keluar dari dalam topi pesulap, ia hanya diriuhi tepuk tangan penonton, tanpa pernah ingin mencari tahu dari mana asalnya. Manusia bukan kelinci. Bukan binatang.

Di Desa Bilalang, tempat Shandry kali pertama menyeret langkah, ada setumpuk kenangan yang kerap membisikkan kata pulang. Rumah yang dikitari bunga dan pepohonan, dialiri sungai dan diteduhi berumpun bambu. Rumah tempat neneknya sering ditemui menyirat rindu kepada cucu-cucunya di pojok yang kekal.

Dari sana, tekadnya untuk menata semangat anak-anak muda di desa semakin teguh. Desa adalah tempat yang membuat rasa khawatirnya terus ada, dibandingkan kejamnya mama kota di negeri seberang dan bising jalanan yang penuh sesak dengan orang-orang berdasi kupu-kupu, tapi tak pernah merasa terbang bebas.

Shandry memilih menemui para petani berpeluh, dan mendengar cerita tentang berapa lama lagi panen tiba. Atau para penambang dengan kisah-kisah mereka tentang seberapa dalam galian, dan anak-istri yang menanti di rumah selama berbulan-bulan.

Di desa itu pula, beberapa bocah riang diajak berpesta dengan kata-kata di rumah belajar Saung Layung Arus Balik. Di sini, semesta adalah guru, katanya. Tempat bocah-bocah itu diberi kebebasan menggambar dan menulis apa saja yang terlintas di imajinasi mereka, lalu menamainya sesuka hati.

Mungkin desa, ialah genta, agar kelak ia mendengar seperti apa kuasa yang mampu menggerakkan orang-orang terpinggirkan, yang membuat mereka bisa reriungan dengan tawa lepas, dan tak ada lagi kecemasan akan seberapa tebal kepul asap di dapur nanti.

Suatu sore, tepat di bebatuan sungai yang berada di tepi kandang ayamnya, Shandry membasuh dan melarung selembar kenangan. Ia ingin lembar kisah baru.


Episode Gita ...


Perempuan berambut sepundak itu, barangkali luput mengenaliku ketika beberapa kali singgah di rumahnya, pada sisa-sisa malam di Kotamobagu. Aku kenali dia dari sosok ayahnya yang begitu akrab dengan kami, yang nokturnal ini. Ayahnya sering disapa Om Nus. Meja biliar di sudut rumahnya dulu, jadi persinggahan kami ketika kota tak lagi menawarkan kesenangan apa-apa.

Brigitha Kartika Mokoginta namanya. Gita, begitu nama kecilnya, beranjak tumbuh di antara landskap kota berdebu. Patung Bogani tegar berdiri tak jauh dari rumahnya, tepat di tepi sungai yang mengalir pula di belakang rumahnya. Patung yang tampak jenuh, karena penduduk kota mungil itu tak pernah mengajaknya selfie.

Rutinitas kantor, tak menjeratnya begitu saja, untuk terpaku pada pekerjaan. Sering, larik demi larik puisi pendeknya bertaburan di sela-sela penat kantor, dan di jeda postingan foto-fotonya bersama teman sejawat. Puisi, menurutnya mampu mendalami kejujuran, sebab puisi tak bisa berbohong.

Gita berwajah ibu, namun terlalu dekat dengan ayahnya. Karena itu, pundaknya tampak lebih tegar. Ia seperti siap menjunjung apa saja beban hidup di punggungnya.

Senyum manisnya selalu terkembang. Gita tak banyak berkata-kata. Mungkin baginya, senyum sudah lebih dari cukup untuk menjawab setiap tanya.

Pernah suatu hari, Gita membenamkan wajahnya di bantal. Ia berteriak sekencang-kencangnya, setelah mendengar kabar salah satu teman sekantornya, Bedewin, terlalu belia berpulang.

Persahabatan, mungkin ialah satu-satunya hal yang paling menghiburnya saat bekerja. Tapi ketika itu hilang, bukan berarti langit akan selalu bertudung halimun. Ada yang akan datang melebihi pertemanan, yang gemar menggaruk-garuk gitarnya. Dan orang itu setia menyikap satu demi satu awan mendung dengan kidung cinta.


Episode Bersama ...

Mokoginta, marga yang jadi isyarat jikalau Shandry dan Gita memiliki pertalian klan. Ibunya Shandry bermarga Mokoginta. Marga yang sesekali ia rekatkan di ekor namanya. Namun hal itu bukan berarti cinta mereka dipertemukan kekerabatan.

Entah kapan Shandry mengenali Gita lebih dekat. Mungkin dengan mengajak Gita jauh lebih dalam mengenali dunia literasi. Lebih dalam mengeja puisi demi puisi.

Jodoh benar adanya saling melengkapi. Shandry berperangai sanguin, dan tentu saja terlalu banyak berbicara, lantas dipertemukam dengan Gita yang tak banyak bicara.

Namun, bukankah itulah keagungan suatu hubungan? Shandry harus menyesap kemuliaan diam. Dan Gita belajar, dalam hidup banyak hal yang harus diutarakan. Meski itu penderitaan.

Kini, fase hidup mereka berpindah. Menikah. Apa yang diharapkan dari sebuah pernikahan? Tentu saja kebahagiaan. Tapi kebahagiaan muskil sempurna, ketika tak ada cobaan yang menguatkan cinta.

Selamat menyelam lebih dalam di Bumi Manusia ...

Akurlah hingga uzur, sampai rambut kalian dipenuhi awan berlajur.



CBN, 3 November 2017

Tuesday, October 24, 2017

Braga dan Jeda yang Terlalu Lama

Kotamobagu, kota mungil sekali kitar, pasti kelar. Jika pulang ke Desa Passi, malam-malam panjang lebih banyak saya habiskan di kota yang hanya berjarak sebatang rokok pupus, dari desa saya.

Beberapa bulan lalu, saya dikabari seorang karib, ada acara literasi dan musik di Kedai Kampung Bogani, di Kotamobagu. Kami diminta tampil di acara bertajuk Literasik itu.

Setelah latihan selama beberapa jam saja, kami bersiap menuju kedai. Saat memasuki pelataran kedai, saya ditemui seorang pria dengan logat kental dari dataran tinggi Kecamatan Modayag.

"Sigidad, kang?"

"Oh, iyo, ini Vicky to?"

"Iyo."

Pria bernama Vicky itu lantas menganjurkan saya untuk segera mendaftarkan nama band ke panitia. Saya memberitahunya, jika nama band kami yang inalillahi kerennya itu, sudah terdaftar. Siapa yang tidak kenal Saung Layung Arus Balik (SLAB), band indie teraneh di Bolaang Mongondow, yang hanya terbentur, eh, terbentuk, dan tampil setahun sekali, lalu bubar lagi itu?

Literasik malam itu berlangsung syahdu. Kami tampil dengan segala kekurangan dan kelebihan, yang sebetulnya lebih banyak kelebihannya daripada kekurangannya. Maksud saya, kelebihan gugup.

SLAB membawakan musikalisasi Derai-Derai Cemara dari versi Banda Neira, yang kami improvisasi menjadi persembahan yang tiada tara jeleknya.

"Eh, bagus ngoni tadi no," kata salah satu kawan.

Testimoninya, kendati sudah sering kami dengar setiap tampil, malam itu cukup membuat dada saya mekar seketika, sebelum terkatup dan layu setelah menyaksikan hasil rekaman video. Bangsat! Kaki saya terlalu banyak gerak, pertanda gugup, dan beberapa kali suara saya sumbang.

Siapa yang tak malu, sebab malam itu, ada band indie lokal yang benar-benar band, sedang mengisi jeda acara. Namanya mengingatkan saya ketika masa krisis pangan, selama tinggal di sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Gorontalo. Saking sekaratnya, kami terpaksa hanya makan mangga seharian yang pohonnya tumbuh lebat tepat di depan sekretariat. Nama band itu, Beranda Rumah Mangga, atau disusutkan menjadi Braga.

Suara vokalisnya teduh. Iringan musiknya merdu. Ditambah suara dua yang mendayu-dayu. Dibandingkan SLAB, tentu Braga adalah Ungu, dan kami Pasha, eh, maksudnya payah.

Saya yang baru sekali melihat penampilan mereka, segera gugling di yucup. Benar sudah, ada klip video mereka dengan lagu berjudul "Di Kedai Ini". Saya mendengarkannya. Apik.

Lagu "Di Kedai Ini", berlatar kedai yang sedang kami tempati saat itu. Berkisah tentang seorang gadis yang menanti kekasihnya, yang bedebahnya tak kunjung datang.

Vicky, gitaris sekaligus pencipta lagu, sebelumnya memang saya kenal dari pertemanan pesbuk. Saya malah penggemar film-film pendeknya. Belakangan, saya baru tahu kalau mereka juga punya band. Jelas saja SLAB merasa tersaingi.

Selanjutnya, setelah malam itu, lagu "Di Kedai Ini" saya donlot dari yucup. Berkali-kali saya dengarkan jelang tidur. Sayangnya lagu itu tidak bisa menjadi lullaby atau pengantar tidur. Soalnya saya sering kepikiran kopi. Iya, saya jika minum kopi pada malam hari, bawaannya jadi susah tidur.

Setelah beberapa bulan kemudian, saya kembali ke Gorontalo. Pekan lalu, Braga kembali merilis single kedua berjudul "Patah Menjadi Air Mata". Saya menontonnya di yucup, dan seketika suka dengan lagu itu. Liriknya puitis dan sarat makna mistis, eh, filosofis.

Lagu itu seperti diceritakan Vicky, terinspirasi dari sebatang pohon di sekitar Danau Tondok. Pohon kering itu, diibaratkannya sebagai petapa tua. Kira-kira begitu yang saya bacai dari hasil curhatannya, sepanjang tiga edisi di Tribun Manado online.

Saya sebenarnya merasa kesal kali pertama membaca curhatannya itu. Kesal sebab tulisan itu menggantung, dan harus menunggu edisi lanjutan. Seperti sedang menunggu apdetan Game of Thrones saja.

Saya pikir, ada jeda terlalu lama dalam tulisan yang superkeren itu. Padahal seharusnya bisa dijadikan satu tulisan utuh, sebab catatannya juga tidak panjang-panjang amat. Payah betul Tribunnya. Mau ngejar klik?

Dari tulisan yang berjeda itu, saya membacai ada jarak cipta yang terlalu jauh dari lagu satu ke lagu berikutnya. Tahun bukan waktu yang pendek. Saya kira, Braga, kendati di tengah kesibukan pekerjaan masing-masing personel, harus banyak meluangkan waktu, agar satu album bisa tercipta. Sialan, masak hanya dua lagu saja. Tambah dong!

Namun, laiknya sebuah karya memang butuh proses. Saya lebih menghargai karya yang memakan waktu lama, sebab tentu saja karya tersebut dibalut kontemplasi yang dalam. Itu mungkin jadi alasan kenapa saya menyukai lagu dari Braga.

Saya, juga tidak terlalu suka dengan karya yang instan. Semisal puisi, yang bisa diproduksi puluhan dalam sepekan. Atau, puisi-puisi yang diminta dibuatkan. Bagi saya, puisi lahir dari salah satu sudut ruang imajinasi, yang mana butuh kedalaman renung untuk bisa menemuinya. Begitu pun lirik lagu.

Entahlah, masing-masing orang punya penilaian, bukan?

Saya tunggu lagu berikutnya dari Braga. Mungkin tahun depan, tak mengapa. Asal jangan ada lagi mangga di antara kita.

Monday, October 16, 2017

Pulitzer

Suatu hari di tahun 1868, hanya sehari setelah diterima sebagai wartawan di koran Westliche Post, Joseph Pulitzer membuat heboh warga St. Louis, Missouri. Setengah kolom berita kasus pencurian di toko buku Roslein yang ditulisnya di koran itu,  berbeda dengan berita-berita tentang kasus yang sama yang dimuat oleh koran-koran lain. Para redakturnya memarahinya. Mereka menganggap Pulitzer merusak reputasi Westliche Post.

Di koran-koran lain, para wartawan menulis, pencuri di toko Roslein adalah sesosok laki-laki berpostur jangkung, rambut pirang, dan di pelipisnya ada tanda cacat. Berita itu ditulis berdasarkan keterangan dari Peters, koordinator wartawan di kepolisian, yang dipercaya oleh polisi dan para wartawan, untuk menyampaikan semua keterangan polisi.

Lewat beberapa jam setelah kasus pencurian itu diselidiki oleh polisi, seorang opsir memang telah berbicara kepada Peters: Pencuri di toko Roslein, berdasarkan keterangan saksi-saksi, adalah seorang laki-laki yang pada tengah malam terlihat mondar-mandir di depan toko dengan ciri-ciri tinggi, rambut blondi dan ada codet di pelipisnya. Peters lalu menyampaikan semua keterangan polisi itu kepada rekan-rekannya, para wartawan yang tidak punya atau tidak bisa mengakses keterangan polisi. Dan keesokannya, keterangan Peters yang mengutip keterangan polisi, menjadi berita di seluruh koran yang terbit St. Louis kecuali di Westliche Post.

Di koran itu, Pulitzer menulis dengan yakin dan terang: Pencurinya adalah asisten toko bernama John Eggers yang sudah meninggalkan St. Louis dengan menumpang kereta api pagi. Orang itulah yang bertugas membuka dan mengunci pintu toko, dan juga tahu nomor kode lemari besi tempat uang hasil penjualan buku disimpan. Tapi gara-gara beritanya berbeda dengan berita-berita dari koran lain, para redaktur Pulitzer marah besar. Mereka menuding Pulitzer telah menghancurkan nama besar Westliche Post. “Pembaca menertawakan koran kita,” kata seorang redaktur, “Karena berita yang kamu tulis berbeda dengan berita-berita di koran lain.”

Dia mengadukan Pulitzer ke redaktur pelaksana, dan sama dengan redaktur yang marah kepada Puliutzer, redatur pelaksana  itu juga menganggap Pulitzer telah membuat kesalahan fatal. “Kenapa bisa sampai begini?” dia bertanya kepada Pulitzer.

Pulitzer berusaha menjawab tapi seseorang kemudian menyela. Orang itu menjelaskan kepada redaktur dan redaktur pelaksana yang memarahi Pulitzer bahwa yang ditulis oleh Pulitzer adalah berita yang benar. “Baru saja saya bertemu dengan Pak Roslein. Dia menceritakan, polisi telah menangkap pencuri di tokonya dan pencurinya juga sudah mengaku. Namanya John Eggers, asisten dan kasir di toko Pak Roslein.”

Para redaktur Pulitzer terperangah. Mereka tak bisa lagi membantah berita yang ditulis oleh Pulitzer. Berita kasus pencurian di toko Roselin yang isinya berbeda dengan berita-berita di koran-koran lain pada hari itu, dan oleh mereka telanjur dianggap merusak reputasi Westliche Post, ternyata adalah berita yang memang “berbeda”. Dari mana Pulitzer mendapat bahan-bahan berita itu?

Hanya beberapa jam pada hari Pulitzer diterima sebagai wartawan di Westliche Post, redakturnya yang belakangan memarahinya, memberinya penugasan. Dia ingin menguji Pulitzer, anak muda berusia 21 tahun, kurus, jangkung, yang dinilainya kaku dan bodoh; untuk mencari berita dan berita itu adalah kasus pencurian di toko buku Roslein yang terjadi pada malam sebelumnya. Dia berpesan kepada Pulitzer: “Kamu pergi ke toko itu tapi tak usah cari berita sendiri. Kamu tidak akan bisa. Hubungi saja Peters. Dia yang akan memberikan keterangan padamu.”

Pulitzer mendatangi toko Roslein, dan di luar toko itu, dia mendapati semua wartawan telah menunggu Peters yang terlihat sedang berbicara dengan opsir di dalam toko. Saat Peters keluar dari toko, para wartawan lantas mengerubunginya. Dari mulut Peters kemudian meluncur keterangan tentang ciri-ciri pencuri di toko buku Roslein berdasarkan keterangan polisi.

Konon lagi bertanya alasan polisi mencurigai lelaki dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh Peters, para wartawan itu malah menelan semua keterangan Peters, dan hal itu membuat Pulitzer terheran-heran. Mereka para wartawan, tapi hanya mencatat semua keterangan tanpa bertanya satu patah pun kendati keterangan Peters banyak yang belum jelas dan memang tidak jelas.

Pulitzer karena itu memberanikan untuk bertanya kepada Peters: Mengapa polisi mencurigai orang dengan ciri-ciri yang disebutkan itu? Dan Peters yang baru kali pertama melihat Pulitzer malah kebingungan menjawab. “Iya ya, mengapa... Tapi kamu pergilah ke opsir itu senyampang dia masih berada di toko. Tanyakanlah sendiri.”

Pulitzer, wartawan baru itu, bergerak masuk ke toko Roslein. Dia mengenalkan diri dan menerangkan identitasnya tapi polisi yang menyelidiki pencurian itu menghardiknya. “Semua keterangan sudah ada pada Peters. Tanya sama dia. Jelas? Sekarang kamu keluar.”

Roslein yang juga berada di dalam toko segera tertarik dengan keberanian Pulitzer. Dia meminta kepada opsir agar memberi kesempatan Pulitzer untuk bertanya, dan polisi itu tak punya pilihan. Sinis dia bertanya kepada Pulitzer tentang yang hendak ditanyakan. Pulitzer tak membuang kesempatan. Dia bertanya dengan pertanyaan menohok: Siapa yang bertugas membuka dan mengunci pintu toko setiap hari?

Polisi tak bisa menjawab tapi Pak Roslein membantunya. Dia menjelaskan, yang membuka dan mengunci pintu toko adalah John Eggers, pembantu di tokonya.

“Tuan Roslein, kenapa Anda tidak menjelaskan bahwa Anda punya asisten?” tanya polisi.
“Maaf opsir, saya kira keterangan tentang John tidak penting,” jawab Roslein, ”Lagi pula, hari ini dia meminta izin tak masuk kerja karena sakit.”
“Tidak. Seharusnya Anda menjelaskan tentang John. Ini fakta yang hilang. Dan apakah John tahu nomor kode peti besi toko Anda?”
“Saya memberitahunya. Dia merangkap kasir di toko ini. Orangnya jujur.”

Polisi terkejut mendengar penjelasan Pak Roslein. Dia lantas menjelaskan, sebelum datang ke toko Roslein, telah melihat John naik kereta api pagi ke arah barat. Dia yakin pencuri di toko Roslein adalah John. Tidak salah lagi.

Pulitzer menyimak semua percakapan polisi dan Roslein. Tapi sementara keduanya terus terlibat tanya-jawab, dia segera keluar dari toko dan bergegas menuju stasiun. Di sana Pulitzer menanyai sejumlah orang tentang John. “Barangkali Anda melihatnya tadi. Orangnya seperti ini, seperti itu.”

Kepada Pulitzer, beberapa orang mengaku memang melihat John berdasarkan ciri-ciri yang disebut oleh Pulitzer, telah naik kereta api pagi. Pulitzer mencatat semua kesaksian mereka, dan setiba di kantornya, dia segera menulis semua temuannya menjadi berita setengah kolom. Berita itulah yang keesokannya membuat heboh warga St. Louis karena isinya berbeda dengan isi berita koran-koran lain.

Mengapa Pulitzer menulis berita berbeda?  Kepada redakturnya dia menjelaskan, dia tidak puas dengan keterangan Petters dan keterangan polisi, yang banyak tidak jelas, dan dia benar.

Bagi wartawan, keterangan sumber seharusnya memang tak hanya disikapi dengan hati-hati, melainkan harus pula disikapi dengan kritis dan skepstis. Tidak dipercaya. Hanya dengan sikap semacam itulah, berita yang ditulis oleh wartawan akan punya nilai meskipun berita itu mungkin akan berbeda dengan yang ditulis oleh wartawan lain.

Anda tahu bukan siapa Pulitzer itu?

Benar, dia wartawan. Bukan juru propaganda pemilu. Bukan humas aparat dan para politisi. Bukan corong suara kekuasaan dan kepentingan. Hanya seorang wartawan, yang reputasi dan keterkenalan namanya tentu saja melampaui nama Anda dan nama saya.

Oleh Rusdi Mathari (Cak Rusdi)

[Cuplikan bebas dari “Joseph Pulitzer Front Page Pioneer”, salah satu bahan cerita untuk kelas menulis Mojok di Yogyakarta]

*Dari dinding Facebook Cak Rusdi, 1 Oktober 2016*

Sunday, October 15, 2017

Pembatas Buku

Aku meloncat halaman demi halaman. Dalam gelap buku terkatup. Kedua sisi menindih, atau mungkin merangkul. Aku hanya meraba dalam pengap.

Pada halaman sebelas. Aku membacai cerita penuh galuh. Berserakan di lantai licin berbusa bir, dalam kamar bising dan bingkai jendela bau pesing. Ada tawa dan lenguhan.

Dan nama-nama yang tak kukenal itu, berbicara tentang bahagia. Tapi bukan bahagia akan cinta. Mereka menyebut cinta hanyalah kelakar. Lalu menertawainya.

Aku melihat cahaya dan berpindah lagi ke halaman empat puluh satu. Gulita. Ada nama baru lagi. Nama seorang dula, yang kerap menyesali hidup.

Hidupnya tak pernah berpinar. Ia berkata bahagia hal yang muskil. Orang-orang dula seperti dia, dan orang-orang yang duduk di geta, sedang tidak benar-benar hidup. Hanya berjalan menuju redup.

Aku lama di halaman itu. Hampir sepekan, dengan umpatan. Sampai pendar cahaya memisahkan aku, dengan halaman yang penuh senandika. Kata terakhir yang kubacai: biarkan dunia ini hubar-habir.

Halaman sembilan puluh. Salah satu nama kukenali, dari halaman sebelas. Gadis yang telah dewasa. Menikah dan bahagia, tanpa cinta.

Ia sedang menggendong bayi. Matanya penuh kasih menatap bayi, yang sesekali memuntahkan susu. Tapi ia membayangkan wajah lain. Wajah yang pernah dikecupnya, lalu dimuntahi.

Sebulan aku dengan halaman ini. Membacai berulang kali kisahnya, dan tak pernah tahu untuk siapa cintanya. Laki-laki itu tak ada di halaman sebelas. Perempuan itu kembali berbicara dengan bayi, yang tak pernah mengerti bahasanya.

Udara pantai menyergapku, sebelum aku dijepitkan ke halaman seratus dua puluh tiga. Aku bertemu seorang kakek. Ia pedofilia dan baru saja ditangkap.

Kakek itu mencumbu seorang bocah perempuan. Di bui, penisnya disundut rokok seorang sipir. Tapi kakek itu hanya tertawa. Ia berkata: aku cinta anak itu, dan aku tetap mencintainya sampai membusuk di sini.

Kakek itu kembali berkata: cinta itu bukan seperti pembatas buku, yang hanya singgah dan melompati halaman demi halaman tak berurut. Sipir itu menamparnya. Kakek itu kembali berujar: cinta juga bukan seperti tamparan ini. Dan aku seperti ditampar.

Setelah dari pantai, aku kembali berpindah di halaman seratus tujuh puluh satu. Aku hanya menemu sisi lembar kosong, dan gambar jalan bercabang di sebelahnya. Aku lama berdiam di halaman ini, sebab pembatas buku tak pernah terselip di akhir cerita. Aku tak pernah mengerti seisi buku, seperti kata kakek itu.

Mungkin, seperti itukah cinta?

Saturday, October 7, 2017

Terciduknya Idola Para Pengidap Sindrom Stockholm

pixabay.com
Jalanan masih lenggang. Seorang anak perempuan berusia sekitar 10 tahun, terlihat menunduk beberapa kali dan seakan bergegas. Rambut emasnya yang sepundak dan berponi, sesekali diterpa angin. Pagi itu, ia hendak berangkat ke sekolah, dari rumah orangtuanya di Wien-Donaustadt, Austria.

Tiba-tiba sebuah van putih mengerem di dekat gadis kecil itu. Seorang pria turun. Ia membekap anak itu dan menyeretnya masuk ke mobil.

Pagi, Senin 2 Maret 1998, sekitar pukul 7 pagi, gadis mungil bernama Natascha Kampusch itu, dinyatakan hilang.

Si penculik, pria dewasa bernama Wolfgang Priklopil, lantas membawa Natascha ke rumahnya di Strasshof dekat Ganserndorf, di Lower Austria. Pria jomblo yang hidup sendiri pula di rumahnya yang berukuran besar, telah membuatkan ruangan khusus untuk korbannya itu.

Di rumah itu, ibu si penculik yang hanya sesekali datang membersihkan dan merapikan rumah anak tunggalnya itu, lalu pergi, tak pernah mengetahui ada gadis cilik yang disekap anaknya di ruang bawah tanah.

Selama penyekapan, Priklopil kerap menganiaya Natascha. Di tahun-tahun pertama, Priklopil menyuruh Natascha memanggilnya Gebieter atau tuan. Jika Natasya tidak ingin makan, Proklopil menghajarnya. Selain itu, ada pengeras suara yang terhubung ke kamar penyekapan yang hanya 2 x 3 meter itu, yang sering dipakai Priklopil untuk meneriakkan kalimat: patuhi aku!

Kalimat itu, berulang kali diteriakkan setiap hari, untuk mendoktrin Natascha. Penyekapan selama bertahun-tahun itu, sampai pada hari tatkala Natascha mulai menstruasi. Lantai kamar dipenuh ceceran darah. Priklopil kesal lalu memukul Natascha, kemudian menyuruhnya membersihkan ceceran darah.

Seiring waktu, sadar Natascha telah remaja, Priklopil mulai memperkosanya. Berkali-kali. Hingga suatu hari, ibunya Priklopil menduga, jika anaknya itu sudah memiliki pacar. Sebab ibunya menemukan beberapa helai rambut di baju Priklopil, saat hendak mencucinya. Atas kejadian itu, Priklopil mencukur habis rambut Natascha.

Berbagai macam siksaan keji diterima Natascha. Meski pada malam-malam berikutnya, Priklopil tidak lagi mengikat tangan Natacha ke ranjang, saat memperkosanya. Terkadang ia menghibur Natascha dengan memberinya hadiah. Pernah saat Natal tiba, Natascha dihadiahi sebuah walkman. Selain itu, di kamar penyekapan, Priklopil juga kerap memberi bacaan berupa majalah dan buku.

Natascha sebenarnya pernah berupaya bunuh diri, dengan membakar tisu toilet menggunakan kompor listrik. Tapi upaya itu gagal, karena Priklopil memergokinya.

Niat melarikan diri pun sering surut, meski sebenarnya Natascha beberapa kali punya peluang. Namun doktrin dari Priklopil, seperti telah mengungkungnya. Hampir sama kasus dengan yang diperbuat Ramsay Bolton kepada Theon Greyjoy, di film Game of Thrones. Tapi kejadian yang menimpa Natascha bukan fiksi. Kisahnya ini pernah difilmkan dengan judul 3.096 Days, sesuai jumlah hari selama penculikan. Semua yang saya ceritakan ini, ada dalam film.

Sembilan tahun lamanya Natascha diculik, akhirnya Rabu 23 Agustus 2006, di usianya yang menginjak 18 tahun, ia berkesempatan kabur. Priklopil saat itu berniat menjual van putihnya. Ketika Natascha disuruh membersihkan van di depan rumah, Priklopil saat itu tengah menelepon. Melihat Priklopil lengah, secepat kilat Natascha membuka pintu pagar yang tak dikunci, lalu melarikan diri sekencang mungkin.

Setelah berhasil kabur dan meminta tolong, Natascha akhirnya dijemput polisi di salah satu rumah warga yang membantunya. Sementara Priklopil, memilih jalan pintas menuju rel kereta api, menunggu maut menjemputnya dengan moncong kereta.

Saat Natascha diberitahu, kalau penculiknya bunuh diri, ia menangis tersedu-sedu. Polisi ketika masa pendampingan, melihat ada gejala sindrom stockholm (respon psikologis, yang mana pada beberapa kasus korban penculikan atau sandera, menjadi setia dan malah mencintai penculiknya) pada Natascha.

Selama penculikan itu, Natascha pernah pada titik ketika ia merasa penculiknya lebih menyanyanginya, dan memberi perhatian lebih dibandingkan orangtuanya. Apalagi saat Natascha kerap diberi hadiah, ditambah lagi sebelum Natascha diculik, ia baru saja bertengkar dengan orangtuanya.

Beberapa tahun kemudian sesudah penculikan, Natascha menulis dalam buku otobiografinya, "Saya masih anak-anak dan saya butuh sentuhan kasih sayang. Jadi, setelah beberapa bulan di gudang bawah tanah, saya meminta penculik saya untuk memeluk saya. Itu sangat sulit. Saya menjadi sesak nafas karena panik ketika dia memeluk terlalu kencang. Setelah beberapa kali mencoba, kami berhasil melakukannya, tidak terlalu dekat, tidak terlalu kencang, tetapi cukup sehingga saya bisa membayangkan perasaan sentuhan yang penuh kasih dan perhatian."

Jauh tahun dan jarak dari kejadian penculikan Natascha, tepatnya kemarin, Sabtu 7 Oktober 2017, di Jakarta, berita tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang berhasil menangkap Ketua Pengadilan Tinggi Manado, Sudiwardono, bersama salah satu anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI), yang juga politikus Golkar, Aditya Anugrah Moha, tersebar di media massa. Dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) tersebut, KPK menyita uang dolar Singapura yang nilainya kurang lebih Rp1 miliar rupiah.

Dari kronologis yang dicomot dari Kumparan.com, pada Kamis 5 Oktober 2017, Sudiwardono dan istrinya tiba di Jakarta dari Manado. Keduanya menginap di salah satu hotel di kawasan Pecenongan. Kamar dipesan atas nama orang lain.

Pada Jumat 6 Oktober 2017, sekitar pukul 23.15 WIB, Sudiwardono dan istrinya kembali ke hotel setelah acara makan malam. Saat berada di tangga darurat hotel, uang itu diserahkan Aditya Anugrah Moha (Didi). Diduga pemberian uang terkait perkara banding terdakwa Marlina Mona Siahaan (MMS), mantan Bupati Bolaang Mongondow (Bolmong) dua periode, yang tak lain ialah ibu kandungnya Didi.

Setelahnya, KPK segera menangkap Didi di lobi hotel. Sementara hakim Sudi, diciduk di kamar hotel dengan barang bukti di kamar, berupa uang 30 ribu dolar Singapura dalam amplop putih, dan 23 ribu dolar Singapura dalam amplop cokelat yang diketahui adalah sisa pemberian sebelumnya.

Selain itu, KPK ikut mengamankan 11 ribu dolar Singapura di mobil Didi, yang mana uang tersebut bagian dari total komitmen fee secara keseluruhan. Sebelumnya pada Agustus lalu, telah diserahkan 60 ribu dolar Singapura.

Malam itu ada lima orang yang diamankan. Masing-masing Didi, hakim Sudi, inisial Y istrinya hakim, YDM ajudannya Didi, bersama M sopir pribadinya Didi.

Selanjutnya, Sabtu 7 Oktober 2017, sejak dini hari sampai sore, para tersangka menjalani pemeriksaan. Sekitar pukul 20.00 WIB, KPK mengumumkan status tersangka terhadap hakim Sudi dan Didi.

Kasus OTT terhadap Didi seketika heboh. Sabtu siang, hingga malam hari, beranda facebook saya ramai dengan status yang menganggap kasus OTT terhadap Didi, adalah bentuk kasih dan bakti terhadap orangtua.

Belum lama ini, ibunya Didi yang lebih dikenal dengan penggunaan inisial MMS, tersandung kasus korupsi dana Tunjangan Penghasilan Aparat Pemerintah Desa (TPAPD) Kabupaten Bolmong, tahun anggaran 2010, dengan kerugian negara kurang lebih Rp1,2 miliar.

MMS sendiri mantan Bupati Bolmong selama dua periode, 2001–2006 dan 2006-2011. Ketika divonis bersalah tahun ini, MMS masih duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulut. Putranya, Didi, tercatat pernah maju juga sebagai calon Bupati Bolmong pada 2011. Namun ia gagal, dan memilih maju menjadi anggota DPR RI dan terpilih untuk kedua kalinya pada 2014.

Sewaktu penetapan tersangka, MMS menuai dukungan dari sebagian masyarakat Bolmong. Ia dianggap dikriminalisasi, kendati koruptor lainnya dengan kasus yang sama dan sudah dihukum, bahkan ada yang telah bebas, tidak pernah menuai dukungan yang sama. Hanya MMS yang didukung mati-matian.

MMS menerima kemuliaan dengan dukungan 1000 lilin, juga 1000 tanda tangan, sampai aksi koin 1 miliar. Sebab MMS dikultuskan sebagai Bunda Pembaharuan, yang telah memekarkan Kabupaten Bolmong yang berdiri sejak 23 Maret 1954 itu, menjadi empat kabupaten dan satu kotamadya. Sejak 2007, awalnya yang dimekarkan Kota Kotamobagu dan Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut). Tahun berikutnya, 2008, dimekarkan lagi menjadi Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) dan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel).

Pemekaran tentunya dengan harapan agar wilayah Bolmong bisa berdikari menjadi provinsi. Namun hingga sekarang, belum ada kepastian jika Bolmong akan segera menjadi provinsi. Semoga saja bisa secepatnya, biar ada pengkultusan tokoh baru lagi. Dan jika tokoh-tokoh itu berhasil menjadikan Bolmong sebagai provinsi, kendati nantinya berbuat salah, pokoknya harus dibela. Sebab mereka tokoh yang berhasil mendirikan Provinsi Bolmong. Titik!

Layaknya jasa-jasa MMS, apa pun yang miring dan buruk terkait dengannya, jelas tetap menuai dukungan dari sebagian warga Bolmong. Bahkan pernah tercatat sebanyak 23 Organisasi masyarakat (Ormas), dan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), juga mahasiswa, yang melakukan aksi pembelaan terhadap MMS. Sakti betul!

Tidak sedikit pula, di medsos yang membuat tagar #SaveMMS dan bla bla lainnya, kala itu. Hingga saat kasus terciduknya putra MMS kemarin, tagar berbeda kembali mencuat di medsos. Kali ini untuk anaknya #SaveADM atau #SaveDidi dan bla bla lainnya.

Kebanyakan status yang bergulir di beranda saya, menyanjung tindakan yang diambil Didi. Menurut mereka Didi telah berbakti kepada ibunya, dan Tuhan tahu hal itu, meski salah di mata hukum.

Eh, ngoni jangan bawa-bawa nama Tuhan. Ngoni kira Tuhan termehek-mehek lia ini kasus model bagini?

Apalagi dalam aksi penyuapan, pakai kode "pengajian" segala.

Dicomot lagi dari Kumparan.com, menurut Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif, untuk mengamankan proses suap tersebut, Aditya dan Sudiwardono menggunakan kode "pengajian". Jarang-jarang lho katanya kode seperti itu.

Jika para pemuja tokoh korup masih menunjukkan simpton atau gejala sindrom stockholm, mari kita selipkan sebongkah akal sehat dalam menilai status-status mereka di medsos.

Pertama, jika seandainya tindakan Didi sebagai upaya menyelamatkan ibunya, eh, kasusnya MMS itu korupsi! Mencuri uang rakyat dan telah divonis bersalah.

Kedua, ibu mana yang tega menyepakati tindakan anaknya, yang jelas salah dan berisiko besar? Apalagi anaknya itu berkeluarga? Ini berlaku jika memang sang ibu tahu apa yang akan anaknya perbuat. Jika tidak, tahu seberapa sakit hati sang ibu, ketika tahu nasib anaknya sekarang?

Ketiga, jika benar seorang anak ingin berbakti kepada ibunya, kenapa tidak memilih; mendampinginya selama proses sidang, kalau terbukti bersalah dan divonis maka diberi dorongan semangat, untuk bisa melaluinya dan menyadari kesalahannya. Anggaplah itu sebagai pencuci dosa di dunia, agar di akhirat ibunya tidak lagi disiksa api neraka.

Mungkin seperti itu bentuk bakti kepada ibu? Bukan malah menyalakan tungku api lagi di neraka.

Seperti halnya Natascha, para pemuja tokoh korup, selama bertahun-tahun didoktrin untuk patuh. Natascha selama dalam penyekapan kerap diteriaki kalimat: patuhi aku! Hampir setiap hari. Kendati sering mengalami perlakuan buruk, orang-orang seperti Natascha akan terkungkung dengan kata-kata itu. Sama seperti perilaku kebanyakan orang yang mencintai atau memuja tokoh yang sebenarnya salah satu terdakwa kasus koruptor.

Jika dukungan itu berasal dari kerabat, atau dari mereka yang memiliki ikatan emosional, masih bisa dianggap wajar, meski sebenarnya itu mengisyaratkan jika kesalahan ternyata memiliki batas toleransi. Bagi mereka yang pernah merasakan kebaikan MMS, balas budi satu-satunya adalah dengan tetap mendukungnya mati-matian. Padahal seharusnya, untuk kasus korupsi, tak ada secuil pun tempat untuk kata toleransi bertengger di sana.

Hal yang sama berlaku pula, kepada para perindu sosok Soeharto! Selama tiga dekade berkuasa, sebagian banyak masyarakat Indonesia, terhidu wabah sindrom stockholm. Yang terkena penyakit ini akan mengalami distorsi, dislokasi, dan disorientasi. Sederhananya orang-orang ini akan kesulitan menentukan jati diri, dan tidak lagi menggunakan akal sehat.

Rezim Orde Baru yang menelan tumbal jutaan nyawa manusia, kasus korupsi menggunung, dan manipulatif, tetap dipuja hingga sekarang.

Saya kira, sudah selayaknya Indonesia bikin museum koruptor. Pajang semua foto para koruptor di seluruh wilayah Indonesia di sana. Selain foto, taruh profil dan kasusnya. Biar jadi ingatan sejarah, bahwa koruptor itu menjijikkan. Bukan malah disanjung-sanjung.

Tapi sudahlah ... menyamakan isi kepala kita dengan orang lain memang hal yang muskil. Kendati sebenarnya, sebagian banyak kita--manusia--dikaruniai akal sehat. Untuk apa coba? Untuk bisa membedakan yang mana bakti dan mana suap. Atau yang mana koruptor dan mana konduktor. Eh!

Saya terbahak-bahak ketika ada teman yang membuat status: apa hubungan bakti kepada orangtua dan penyuapan atau korupsi? Oh, mungkin hubungannya: kerja bakti dalam korupsi.

Ah, satu-satunya tagar yang layak untuk kasus ini: #SaveAkalSehat. Itu saja!