Wednesday, December 28, 2016

Catatan Singkat Akhir Tahun...


2016 akan segera berlalu. Tahun yang merampas begitu banyak kawan terbaikku. Yayang, Bedew, dan Boneng. Tiga kawan yang serupa seribu.
Sebelum mereka masing-masing berpulang, ada ucap pamit yang tak pernah terbacai.
Yayang sempat bergurau denganku, tentang masa lalu yang selalu menjadi kenangan terbaik, setelah usia semakin menua lalu anak-anak terlahir sebagai boneka manja yang, harus ditemani setiap saat melebihi apa pun.
Juga istri yang selalu cemas dan bertanya-tanya: ke mana suamiku? Padahal untuk tidur di ranjang yang sama, adalah satu-satunya jalan pulang yang ada di benaknya. Waktu telah menjadi hanya tiga saja baginya: untuk dia sendiri, anak, dan istrinya. Bahkan orangtua dan teman-teman tak lagi mendapat jatah yang banyak untuk itu.
Bedew dengan kenangan apa saja yang selalu ingin ia putar kembali. Ia bisa membawa kami ke masa lalu dengan segera. Makan di rumah makan yang dulu kerap kali kami singgahi, lalu memilih menu yang sama. Mendengarkan lagu yang telah lama terhapus dari memori ponsel. Mengelabui pagi dengan cerita yang berulang-ulang. Seolah-olah waktu tidak pernah beranjak.
Ia selalu punya banyak cara untuk membuat kami kaget, tertawa, dan berulang kali memuja masa lalu. Sebab baginya di masa lalu ada bagian-bagian terbaik yang tak boleh dilupakan.
Boneng akan selalu cerewet dengan kisahnya yang tak pernah lepas dari makanan. Ia pintar memasak tapi tak banyak makan. Baginya melihat teman bercucur keringat ketika melahap hasil masakannya, adalah sebuah kebahagiaan yang kekal.
Jangan pernah mengemis makanan kepadanya. Sebab wajah lapar sudah sangat dikenalinya. Bahkan sebelum lapar itu hadir, ia akan mendahuluinya dengan tanya, "So makang?"
2016 akan segera berlalu. Di tahun ini, lebih banyak hari yang kuhabiskan di desa kelahiran. Ingin untuk berlama-lama di sini sudah bulat. Tapi sepertinya berada lama di sini, hanya membuat tanya itu semakin menebal setiap hari. Sebuah pertanyaan yang hadir berulang-ulang kali: ke mana kalian pergi, kenapa begitu lama kembali?

Thursday, December 8, 2016

Kota-kota Para Pengutuk

Di kota-kota itu garis-garis hujan membengkok pulang ke langit
Air-air itu enggan menyentuh atap-atap rumah yang menebal oleh amarah
Air-air itu tiada sudi menyapa pepohonan yang tumbuh di pekarangan tuan-tuan bermata bara

Di kota-kota itu mereka suka mengutuk berkah...

Tuesday, December 6, 2016

Kembali...

                : untuk Kats (Uwin Mokodongan)

Telah ia pangkas cerita dari rambutnya yang memanjang. Kini kulit kepalanya selalu licin seperti lumba-lumba. Ada sisa-sisa pasir pantai, embun gunung, dan debu-debu bui di pelipisnya. Itu remah-remah kecil yang tercecer dari peristiwa-peristiwa besar.

Dahulu, tatkala jalanan berubah menjadi punggung ular, meliuk dan licin, ada seutas temali dari langit yang mengikat pundaknya. Menjaganya dari keterasingan akan gulita malam, yang hanya berhias bulan berbentuk taring babi. Kali itu, aku mendengar hela nafasnya selelah pendaki.

Bola bumi di genggamannya berkali-kali lepas. Menggelinding di hamparan langit berbintang gemintang, lalu kembali di antara petak-petak kolam, dan terselip di celah tiang-tiang rumah yang meninggi. Ada sepucuk surat pula di sana. Surat yang tak pernah terbaca oleh siapa pun, selain oleh pagi, petang, dan malam.

Di lengannya ada gelang-gelang yang mengebat, dan bukan datang dari masa lalu. Tapi dari masa yang menyeret langkahnya meliar di antara candi-candi purba, mata-mata biru, dan bayangan seorang perempuan yang di sakunya selalu ada foto ibu.

Ia selalu menyuruh perempuan itu menyimpan foto ibunya dalam laci. Bukan dalam saku. Namun foto itu serupa tato yang menubuh. Serupa kenangan akan rahim ibu. Kemudian mereka berdua sepakat untuk saling mengenang dulu.

Dari jarak yang tak pernah menua, dan dari waktu yang tak pernah memanjang, ia putuskan kembali ke lanskap desa yang selalu akrab dengannya sedari kanak-kanak. Gunung yang meninju langit, udara rimba, dan pagi yang berkabut. Dan tentu saja desa yang meringkas jarak dengan putrinya.

Seperti mengelus kepalanya yang gundul, ia sesekali mengelus buah kelapa yang tergantung mengering, tempat rambut bayinya direndam dalam sunyi. Lalu buah itu bergerak seperti bandul. Coba menemukan arah yang tepat untuk dipilih.

Akhirnya sepasang lengan membuatnya beranjak. Mengajaknya bertamu ke rumah-rumah beratap duka, suka, dan gelak tawa. Mengajaknya duduk berhadap-hadapan dengan para tetua. Mengajaknya menyesap buih-buih embun, dan cangkir kopi yang tak pernah ia sukai karena memupuk insomnianya, yang akhirnya ia cintai sebagai minuman para leluhur.

Di sanalah sebuah jalan memanjang dari masa lalu menuju masa depan. Satu jalan untuk kembali...

Saturday, November 26, 2016

Seandainya Sigi Ngomong Gini...


Papa, sekarang Sigi sudah TK lho. Di TK Al-Quran. Kata Mama, sekolah itu mahal. Tapi kualitasnya bagus.

Sigi lantas bertanya, "Kualitas itu apa?"

Mama menjawab, "Kualitas itu mutu. Biar lebih sederhana, kata Mama, 'itu TK terbaik, yang bagus, nyaman, yang terbaik pokoknya'."

Suatu hari, Sigi bermain dengan Amel. Dia anak yang rumahnya hanya berdekatan dengan rumah Sigi. Amel juga sedang sekolah. Dia di TK tapi yang hanya jalan kaki. Sementara Sigi harus naik bentor atau diantar dengan motor oleh Mama.

Sigi baru tahu beberapa hari kemudian, ternyata Amel di TK yang jaraknya cuma dekat dengan rumah Sigi. Makanya dia suka jalan kaki.

Sigi lalu bertanya lagi kepada Mama, "Kenapa Sigi tidak sekolah di tempatnya Amel?"

"Sigi kan di TK Al-Quran, biar cepat tahu membaca Al-Quran." kata Mama.

Sewaktu Sigi pulang dari TK, Sigi melihat Amel berjalan dengan teman-temannya menuju rumahnya. Teman-teman Amel, teman-teman Sigi juga. Ada Bonbon, Siti, Ayu, Lesi, dan Jiko. Mereka terlihat senang sekali pulang sekolah bersama-sama sambil jalan kaki.

"Ma, Sigi mau jalan kaki ke sekolah seperti Amel dan teman-teman lainnya."

"Kan sekolahnya Sigi di kota, bukan di desa."

"Tapi Sigi kalau pulang sekolah, dijemput pakai bentor atau motor. Tidak jalan kaki seperti Amel."

"Jauh jaraknya dari kota ke desa, Sigi. Lagipula harus hati-hati biar tidak ditabrak motor, bentor, atau mobil."

"Tapi, sekolah Amel kan dekat. Mereka juga jalannya ikut halaman belakang sekolah."

"Nanti saja kalau Sigi sudah lanjut ke SD. Kan, SD-nya dekat dari rumah."

Nah, suatu hari lagi, Pa, Amel mengajak Sigi bermain. Sewaktu sedang bermain, Amel suka melantunkan doa makan. Dia lancar mengucapkannya.

Sigi lalu bertanya, "Mel, kok bisa membaca doa?"

"Iyalah, kan diajarkan guru di TK."

"Kata Mama, cuma di sekolahnya Sigi di TK Al-Quran yang bisa cepat membaca Al-Quran."

"Di TK kami juga diajarkan, Sigi."

"Waduh, Mama bohong berarti."

Setelah bermain dengan Amel, Sigi segera menemui Mama. Tahu tidak, Pa, Sigi masih saja dibohongin Mama.

"Iya, tapi di TK-nya Amel, tidak selengkap TK-nya Sigi."

"Buktinya, Amel juga bisa doa-doa lainnya. Sama seperti doa-doa yang Sigi hafal lho, Ma."

Mama kemudian terdiam lama, Pa. Sebenarnya Sigi suka gerah ketika harus ke sekolah kemudian memakai penutup kepala.

"Apa itu harus, Pa?"

"Pakai jilbab?"

"Iya."

"Tidak haruslah, apalagi buat anak-anak tidak wajib."

"Iya, Sigi lihat Amel dan teman-teman lain juga ke TK tidak pakai gituan. Tapi mereka lancar membaca doa-doa."

"Iya, tapi di sekolah Sigi kan aturannya begitu. Jadi ikut dulu aturannya."

Seminggu kemudian, Sigi baru berani bilang sama Mama, kalau Sigi gerah memakai penutup kepala. Tahu apa reaksinya, Pa?

"Kalau begitu, tidak usah sekolah. Mau dibikin bagus, tidak mau."

Begitu jawaban Mama, Pa. Mama marah-marah sambil benerin jilbabnya. Oh ya, Pa, Mama sekarang sudah pakai jilbab.

"Iya, Papa tahu. Itu pilihan Mama. Jika Sigi besar nanti, Sigi juga berhak memilih. Tentu saja tidak boleh dipaksakan."

"Pa, Sigi boleh nanya sama Papa?"

"Nanya apaan?"

"Kok, Papa sama Mama tidak tinggal serumah seperti Kakek dan Nenek?"

"Hmm... Tunggu ya, Papa mikir dulu apa jawaban sederhananya."

"Jangan lama-lama, Pa."

"Iya, tidak lama... Hmm..."

Setelah beberapa menit kemudian...

"Begini, Papa dan Mama sudah bercerai. Cerai itu, kalau misalnya Papa sama Mama sudah tidak sejalan lagi."

"Sejalan?"

"Iya, maksudnya Papa punya pilihan jalan lain. Begitu juga Mama."

"Terus Sigi harus milih jalan mana?"

"Ya, Sigi tidak harus memilih jalan mana. Papa ada untuk Sigi. Begitu juga Mama ada untuk Sigi."

"Kalau Sigi butuh Papa dan Mama?"

"Kan, bisa sewaktu-waktu Papa dan Mama sama-sama dengan Sigi."

"Tapi tidak sering."

"Iya, Sigi... Cerai itu karena agama juga sudah melarang Papa dan Mama sama-sama serumah."

"Kenapa agama melarang?"

"Ya, karena sudah begitu aturannya. Nanti Sigi dari TK terus lanjut sekolah, maka Sigi akan paham soal itu."

"Padahal sekolah Sigi, kata Mama sekolah agama. Tapi Sigi belum dapat pelajaran itu selain membaca, menulis, menggambar, dan baca Al-Quran."

"Iya, karena Sigi belum cukup umur. Nanti Sigi juga akan lebih banyak belajar soal agama. Semua agama. Di TK hanya sebagai dasarnya saja."

"Papa agamanya sama kan dengan Mama?"

"Iya, papa juga punya agama yang sama dengan Mama. Nanti kalau besar, Sigi juga berhak memilih agama apa yang Sigi mau."

"Kata guru di sekolah, tidak boleh ikutan agama lain. Harus tetap dengan agama Islam."

"Itu kata guru. Kalau kata Papa, nanti Sigi berhak memilih mana yang baik untuk Sigi."

"Agama yang baik itu apa sih, Pa?"

"Semua agama baik. Karena semua mengajarkan kebaikan."

"Kalau Sigi memilih semua agama itu?"

"Memahaminya saja. Tidak harus memilih semuanya."

"Memahami itu seperti apa?"

"Sigi mengerti. Sigi tahu apa yang baik dari semua agama. Kemudian Sigi yang menentukan. Seperti Sigi hendak memilih pensil berwarna, yang sesuai dengan yang Sigi mau pakai untuk mewarnai gambar Sigi."

"Sigi suka warna merah."

"Semua warna itu indah. Mau merah, biru, hitam, putih, kuning, dan lain sebagainya. Biar mereka berbeda-beda, mereka tetap disebut warna, kan?"

*Kemudian Sigi dijemput kakeknya*

Castro Eropassi

Tato di punggung Bro Donna. Foto: Koleksi pribadi

Bangku dan meja di SMP Negeri 2 Passi kala itu kerap dipenuhi coretan nama. Selain tinta pena, spidol, Tipp-Ex, nama-nama itu juga diukir menggunakan paku atau benda tajam lainnya. Saya salah satu yang gemar mengukir nama di bangku, meja, dinding, atau pintu kelas.

Saya belum mengenal seni tato sewaktu SMP. Nanti setelah SMA, saya mulai mengenal band-band cadas bertato seiring ramainya VCD player. Dari sanalah, kami yang terbiasa mengukir nama-nama di bangku, meja, dinding, atau toilet sekolah, mulai bersulih mencoret kemeja sekolah.

Logo-logo band luar negeri seperti Guns N' Roses, Metallica, Scorpion, Sepultura, dan masih banyak lagi, kerap kali kami ukir di bagian bawah kemeja sekolah. Satu-satunya bagian paling aman, sebab jika hendak ke sekolah kami diwajibkan memasukkan bagian bawah kemeja serapi-rapinya ke dalam celana. 

Seiring waktu, di desa Passi (Eropassi), saya mulai mengenal seorang kerabat yang bernama Fidel Pranata Damopolii. Ayahnya bernama Syahrial Damopolii, salah satu politikus yang cukup dikenal. Nama Fidel mirip dengan nama tokoh revolusioner asal Kuba, Fidel Castro yang kerap disiarkan di televisi. Kebetulan, selain disapa Donna, ia juga memiliki a.k.a Fidel atau Castro.

Bahkan, di punggungnya bertengger tato bertuliskan Castro. Meski gaya hidupnya dikenal cukup hedonis kala itu sebab ayahnya menjadi Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Utara, Bro Donna tidak pernah berjarak dengan warga di desa kami. Bukan itu saja, pergaulannya dikenal hingga di pasar-pasar, lingkungan kumuh, bahkan di mana saja.

Sejak itulah, saya mulai tertarik dengan tokoh Fidel Castro yang menjadi panutannya. Kala itu, membaca buku-buku tentang Fidel Castro cukup sulit. Apalagi zaman itu belum ada internet masuk desa, apalagi gadget berfasilitas internet. Cara satu-satunya berkumpul dengan kerabat-kerabat yang lebih tua, dan yang sudah banyak tahu tentang Sang Comandante itu.

Dari cerita-cerita itulah, saya mulai mengenal Fidel Castro, Che Guevara, Mao Zedong, Pol Pot, Lenin, Ho Chi Minh, yang hampir tidak pernah saya temui dalam mata pelajaran sejarah di sekolah. 

Sampai suatu hari, saya berkesempatan duduk melingkar dengan beberapa senior di desa saya. Salah satunya Bro Donna. Ia ramah dan suka tertawa. Ia tidak mau dituakan atau dianggap lebih tinggi derajatnya dengan siapapun. Ia sangat egaliter.

Seiring waktu, Bro Donna akhirnya mengikuti langkah ayahnya di dunia politik. Ia terpilih menjadi salah satu anggota legislatif di DPRD Provinsi Sulawesi Utara. Meski begitu, jika sesekali ia pulang ke desa kami, ia tetap menyempatkan diri untuk duduk bercengkerama dengan warga, pun dengan teman-teman sebayanya.

Kemudian, sakit merenggut usianya yang masih terlalu muda, pada Selasa, 28 September 2010. Ia masih berstatus anggota legislatif ketika berpulang. Pada hari pemakamannya, saya belum pernah melihat pelayat sebanyak itu. Mobil-mobil berderet di tanah lapang di depan rumahnya, pun mengular di sepanjang jalan hingga ratusan meter.

Hari ini, Sang Comandante, Fidel Castro, juga berpulang. Antara Kuba dan Eropassi. Saya seketika ingat dengan Bro Donna. Ia salah satu yang menjadi inspirasi untuk mengukir tubuh saya dengan wajah Sigi, Donal Bebek, dan Nietzsche.

Selamat jalan Comandante, semoga kalian bertemu di sana, reriungan bersama teman-teman lainnya. Dan merayakan pertemuan itu sembari membakar cerutu...

Wednesday, November 16, 2016

Gladys di Kota(razia)mobagu (10)


"Jika kau tidak sungguh-sungguh pada jalan itu. Kau akan luput membacai tanda-tanda." (Baca sebelumnya: Bagian 9)

Perkataan Lina lumayan menciptakan celah di jemari Gladys. Gundah yang sedari tadi di genggamannya, perlahan-lahan bercereran dari sela-sela jemarinya.

"Dys. Niatmu untuk menjadi jurnalis itu mulia. Bukan karena ingin uang. Apalagi profesi itu harus memiliki hati." Lina kali ini tiba-tiba menjadi begitu bijaksana.

"Iya, Lin. Menjadi jurnalis tidak akan kaya harta. Tapi kaya ilmu. Lumayan, untuk kasih pesan yang benar ke anak-cucu kita nanti."

"Jadi, aku yang tidak bercita-cita jadi jurnalis, bakal kasih pesan yang salah ke anak-cucuku?"

"Aduh, kau ini mau jadi apa pun, pasti pesan-pesanmu ke anak-cucu yang tidak benar semua."

"Gila!" Kali ini guling mendarat tepat di wajah si empunya.


***


“Jadi, ada mantan wali kota yang terlibat?” tanyaku kepada Yudi. Dia seorang jaksa di Kejaksaan Negeri Kotamobagu.

“Iya. Aku sengaja membocorkan ini kepadamu. Hanya kau yang bisa kupercaya,” kata Yudi.

Sebundel dokumen ia serahkan. Di dalamnya, berisi data keterlibatan beberapa pejabat, juga upaya penghilangan bukti dari pihak Kejaksaan. Termasuk data keterlibatan mantan wali kota di Kotamobagu. Meski mantan wali kota itu sudah berakhir masa jabatannya, tapi di tahun ini, kasus korupsi itu terkuak dan satu per satu menyeret tersangka ke dalam jeruji. Salah satunya pamannya Indra, anggota dewan di DPRD Kotamobagu.

“Terima kasih, Yud. Kau sudah banyak membantu sejauh ini.”

Setelah beberapa jam mengobrol dengan Yudi, di salah satu jembatan yang terbilang cukup sepi itu, aku pamitan. Yudi pun bergegas pergi mengendarai mobilnya.

Tiba di kamar, aku segera membuka isi ransel. Laptop kukeluarkan, menyusul sebuah map berisi dokumen.

Aku duduk sejenak. Kemudian menghubungi Deni. "Den, kau di mana?"

"Baru mau ke kedai kopi, bikin berita. Kau?"

"Aku baru sampai di kos. Aku punya data baru soal kasus pamannya Indra. Tapi sebaiknya kita ke rumahku saja."

"Oke. Kau bisa duluan. Aku segera menyusul."

Usai menelepon Deni, aku tiba-tiba ingat Gladys. Terlalu sibuk dengan semua urusan ini, membuat kami seakan berjarak. Padahal hubungan kami baru saja sedang merangkak.

"Hei, di mana?" Aku putuskan menghubungi Gladys.

"Sigid. Senang mendengar suaramu. Aku lagi jalan dengan Lina. Kau?"

"Maaf, Dys. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk. Aku sedang bersama Deni. Rencana mau ke rumahku di Desa Passi. Ada urusan yang harus diselesaikan."

"Iya, aku mengerti. Pasti berat untuk persahabatan kalian." Gladys ternyata mengikuti setiap pemberitaan terkait kasus pamannya Indra. Juga mengenai perkelahian Umar dan Indra dari pemberitaan beberapa media online lokal.

“Iya, Dys. Terima kasih atas pengertiannya.”

“Kau sudah menghubungi aku, itu sudah lebih dari cukup. Hati-hati di jalan, ya. Kapan-kapan ajak aku ke desamu."

"Iya, pasti."

Aku kembali memasukkan laptop dan dokumen ke dalam ransel. Lampu sengaja kunyalakan, sebab hari sudah sore menjelang malam. Setelah mengunci pintu, aku menghidupkan sepeda motor.

Desa Passi, hanya sepuluh menit perjalanan dari kos. Meski jarak dari desaku ini menuju Kota Kotamobagu tak begitu jauh, tapi aku memilih menyewa kamar kos di kota. Aku terlalu sering pulang malam, dan udara dingin sepanjang perjalanan menuju rumah, bisa berakibat buruk bagi kesehatan. Bakal tipis dada ini diparut dingin.

Jalan menuju desaku menanjak sebab berada di puncak. Udaranya dingin. Aku sengaja memilih di desa, sebab dokumen yang aku dapatkan kali ini cukup rahasia. Setidaknya cemas bisa berkurang, ketika membahasnya bersama Deni di rumah, ketimbang di kamar kos.

Sudah hampir sebulan, aku tidak berkunjung ke rumah. Ayah dan ibu pasti bakal mengajakku berbincang lama. Aku lantas memilih menuju rumah kakak. Dia kakakku satu-satunya. Sebelumnya aku sempat menghubunginya. Rumahnya tengah kosong, sebab mereka sekeluarga berkunjung ke rumah mertuanya. Aku mengantongi kunci duplikat rumah kakakku. Sudah sejak SMA.

Aku coba kembali menghubungi Deni. Tak diangkat. Mungkin ia tengah di perjalanan. Aku segera masuk ke dalam rumah kakakku. Baru saja mau menutup pintu, sebuah sepeda motor terlihat masuk ke halaman rumah. Itu motor Deni. Ia memang tahu letak rumah kakakku. Kami dulu sering ke sini, merampah bebek. Umar dan Deni yang kerap jadi koki. Sementara aku dan Indra hanya bisa menyalakan api dan menghabiskan makanan.

“Den, dokumen yang aku dapatkan ini cukup penting,” bisikku di depan pintu.

“Soal kasus pamannya Indra?”

“Iya. Tapi ternyata kasusnya sampai merembet kepada para pejabat tinggi.”

“Wah!”

“Dan kau tahu, yang terlibat adalah mantan wali kota!”


Deni ternganga. Ia segera merebut dokumen itu. Membaca dengan saksama. Matanya membelalak sebab mantan wali kota itu cukup ia kenal. Salah satu putri wali kota itu pernah berpacaran dengan Deni.

(Bersambung)

Monday, October 24, 2016

Saya Bukan Dubuk!

Ilustrasi NaturePhoto-CZ.com

Alamat email saya dua bulan lalu pernah saya bagikan di laman Facebook. Bukan apa-apa, hanya sepenggal pemberitahuan bagi siapa yang berkenan mengirimkan artikel, cerpen, atau puisi, di situs berita degorontalo.co yang saya asuh bersama teman-teman AJI Kota Gorontalo.

Sejak alamat email itu saya bagikan, satu per satu teman-teman mengirim karya. Ada yang layak tayang, ada pula yang tidak. Bukan sok selektif, tapi begitulah aturannya. Kalau bagus ya dimuat. Bahkan, status panjang teman-teman di Facebook, jika menarik akan kami minta untuk ditayangkan.

Kecuali bagi para blogger, kami menyediakan sindikasi Gorontalo Blogger yang kontennya kami beri nama: GoBlog!. Di situ wadah bagi para blogger yang baru belajar menulis. Tidak hanya pemula, beberapa penulis dan penyair andal di Gorontalo dan Manado, blog mereka juga sering kami sindikasi di GoBlog!. Semua tulisan jika memenuhi standar—asal orisinil—pasti tayang. Saya senang elan teman-teman yang turut memajukan dunia literasi. Saya bahkan banyak belajar dari mereka.

Tapi bukan itu masalahnya. Sejak alamat email saya bagikan kemarin, kemudian berdatangan pesan-pesan aneh. Lucu, sebab rata-rata menyinggung soal seteru antara Katamsi Ginano dan Audy Kerap. Pun sama kasus yang jalin-kelindan dengan satu-dua pewarta, termasuk dengan beberapa situs berita di Bolmong.

Jika saya rangkum, akan menjadi satu pertanyaan: kenapa berdiri di pihak Kronik Mongondow? Maaf, sejak beberapa tahun lalu saya akrab dengan Bang KG (sapa saya kepada Katamsi Ginano). Kami akrab karena saya ingin belajar menulis. Papa Attar (Ahmad Alheid) yang pertama mengenalkan kami. Selain dengan Bang KG, Papa Attar juga memberi petunjuk agar saya belajar kepada Ayah Abang (Amato Assagaf).

Saya bukan bagian dari orang-orang yang suka mendikotomikan hitam-putih. Bahkan saya tidak sedang berdiri di atas cacian malaikat, atau berdiri di atas lantunan ayat-ayat suci dari setan.

Alam raya sekolah saya. Dan segala isinya adalah guru. Bahkan semut pun mengajarkan: ketika bertemu salinglah bertegur sapa. Tidak sedikit fabel yang mengajarkan baik-buruk perilaku dengan mengibaratkan binatang.

Kali pertama saya menjadi wartawan, saya tidak pernah memilih berteman. Saya juga bukan apa-apa, kenapa harus memilih? Bukan hanya di Kotamobagu, di Bolmut pun cara saya bergaul begitu. Silakan tanya wartawan-wartawan di sana. Di Gorontalo juga sama, atau di Jakarta ketika bertemu 19 jurnalis se-Indonesia penerima beasiswa liputan. Mereka sampai hari ini menganggap saya lucu, unyu, dan target empuk untuk diolok. Makanya mereka kerap kangen merisak saya. Dan saya hanya pasrah.

Di Manado apalagi; tempat saya pernah mengamen, menjadi binatang di jalanan, dan menumpang sana-sini. Tapi saya bukan dubuk! Yang suka memakan bangkai sisa buruan dan santapan singa.

Bukankah begitu yang kalian maksudkan? Tiga tulisan saya; Menjadi Wartawan Tak Semudah Mengupil, Untuk Neno, dan Kualitas Buruk Media Online di Bolmong di blog pribadi, kalian anggap memihak Kronik Mongondow. Baca lagi dengan saksama tiga tulisan itu. Tentunya setelah otak kalian direbus dulu biar berguguran bakteri-bakteri. Atau usai kedua bola mata kalian direndam deterjen seharian, gahar sampai terang.

Di artikel Menjadi Wartawan Tak Semudah Mengupil saya menyinggung tentang wartawan-wartawan karbitan. Yang tersinggung berarti mereka karbitan. Di artikel Untuk Neno bahkan si Neno bersepakat dengan apa yang saya tulis. Semerunduk padi, saya coba membalas tulisan Neno yang, memang bukan dimaksudkan kepada saya. Tapi saya hanya hendak berbagi dengannya. Di artikel Kualitas Buruk Media Online di Bolmong saya mengajak untuk mari belajar sama-sama. Jika sekerdil itu pemahaman kalian, wahai para anonymous, maka tebaslah bambu lalu buatlah tangga. Biar tinggi sudah akal kalian. Biar ketika makan, kalian tahu memilah mana beras, mana pasir.

Sekali lagi, saya tidak sedang menyantap sisa buruan singa; mengambil untung, menempel tenar, atau hendak mendompleng popularitas. Saya ini dilingkari "kutukan donal bebek". Bagaimana mau cari untung? Paling-paling tetap sial juga. Kalian terlalu kemaruk menilai saya yang unyu ini.

Jika saya ikut terpingkal-pingkal dengan artikel di Kronik Mongondow, lalu membagikannya, itu karena saya sepakat bahwa orang-orang yang dirisak adalah mereka yang dakar. Apa repotnya sih mengaku salah? Tentu saja sedari awal, bukan nanti ketika perkara telah dihampar. Jangan pernah menunda maaf, itu saja.

Purbasangka negatif hanya akan berakhir di sumur bekas. Tilik lagi tulisan saya, tulisan Bang KG, terkait permasalahan Olden—yang bahkan sudah berjabat erat dengan orang-orang sadar sikap. Baca sesudah salat juga bisa biar dapat hidayah. Saya bahkan tidak menyelungkur perkara Olden, tapi soal perangai buruk wartawan.

Kalau masih tidak suka, sila terang-terangan lewat tulisan. Saya heran kenapa negeri para Bogani dan Bigani ini, akhirnya hanya berisi orang-orang pecundang seperti kalian. Di luar pemilik blog Buruh Kata yang tulisannya meski ia memilih menjadi anonim, tapi sarat pesan positif. Menjadi ghost writer tidak apa-apa, asalkan tulisannya bernas.

Itu bukan alibi, sebab berkali-kali orang mengira Buruh Kata itu saya. Dan saya malah menduga itu Bang KG, yang sedang iseng lantas pura-pura menurunkan maqam. Tapi Bang KG saja heran lantas mengaku itu bukan dia. Masing-masing penulis memang memiliki langgam. Dari situlah sidik jari membekas. Siapapun pemilik akun Buruh Kata, tetaplah menulis; sesadis-sadisnya sadis, sepedis-pedisnya pedis.

Saya juga tidak akan repot-repot menekan pilihan capture atau screenshot, untuk mengabadikan isi email kalian. Kalau mau mengetahui siapa kalian, mudah saja. Saya punya teman peretas sakti, yang bisa menelusuri bahkan sampai ke akun medsos kalian. Ia pernah membuktikan ketika blogger haters Jokowi di Pilpres, diretasnya hingga ke juntai akar terdalam.

Tapi isi email kalian, nasibnya sudah di logo tong sampah. Tempat yang sama, yang cocok untuk kalian. Sebab cukup sudah, orang-orang dijejali istilah baru: kita mokapcur pa ngana!

Sunday, October 23, 2016

Kualitas Buruk Media Online di Bolmong

picture solopos.com

Tahun kemarin, dunia jurnalistik di Indonesia meriuh dengan polemik senjakala media cetak. Wartawan Kompas, Bre Redana, menuliskan: kami wartawan media cetak, seperti penumpang kapal yang kian dekat menuju akhir hayat, di artikel "Inikah Senjakala Kami..." Kompas edisi 28 Desember 2015. Bre juga menyentil media-media online, yang kerap menyajikan berita-berita kurang bermutu.

Di akhir tahun 2015, ada beberapa media cetak yang akhirnya menghembus nafas terakhir. Seperti: The Jakarta Globe, Medio Desember, Sinar Harapan, Harian Bola, lalu disusul Koran Tempo Minggu yang berhenti cetak.

Media-media cetak di Amerika, sudah jauh-jauh tahun berjatuhan. Sejak 2009 sudah 40 koran di Amerika bangkrut di antaranya: Tribune Co, The New York Times, Majalah Newsweek, Majalah Reader's Digest, dan Rocky Mountain News. 2013 lalu, Washington Post, menambah daftar panjang itu. Jurnalisme digital membabat habis media-media cetak di sana. Di negeri Uncle Sam itu, mereka sudah lebih dulu membaca tanda-tanda zaman.

Tidak bisa dipungkiri, pesatnya perkembangan teknologi membuat orang semakin mudah mengakses berita-berita lewat gadget. Namun yang disayangkan, ada saja berita-berita tidak bermutu, hoax, judul eye catching, kejar klik, dan tidak mendidik, yang beredar di media online.

Untuk memagari stigma buruk media online, maka bermunculanlah media-media online yang mengedepankan mutu jurnalistik. Seperti pindai.org, historia.id, tirto.id, dan ada beberapa lagi. Media-media online itu mengandalkan indepth reporting. Bukan kecepatan. Seperti kecepatan yang jadi jualan utama media-media online lain yang mengandalkan breaking news, reporting the news as it happens.

Menukil perkataan Gabriel García Márquez (a.k.a Gabo), “Mereka digerakkan oleh semangat bahwa cerita terbaik adalah yang pertama kali dimuat, bukan oleh cerita yang paling bagus dituturkan.” Media online memang seharusnya tidak boleh kalah dari media cetak, berkenaan dengan cara penyajian beritanya. Ignatius Haryanto, Remotivi.or.id, mengatakan media online di luar negeri, seperti Pro Publica pernah menerima penghargaan Pulitzer, beberapa tahun yang lalu.

Keunggulan jurnalisme digital, selain bisa menampung big data, pun menyuguhkan realitas yang lebih utuh. Misalnya video bisa dalam satu tubuh berita selain foto. Tapi saya tidak ingin bicara terkait senjakala media cetak dan kebangkitan jurnalisme digital, yang sudah sering didebat oleh beberapa wartawan kawakan.

Saya, sebagai jurnalis yang kini kembali menetap di tanah leluhur, Desa Passi, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), sadar diri bahwa kualitas media-media cetak maupun online di sini masih memprihatinkan. Sudahlah media cetak yang ketika mendirikannya harus bermodalkan ratusan juta. Maka dengan sendirinya, perkembangan media cetak khususnya se-raya Bolmong seperti 'jalan siput'. Sedangkan media online, seperti amuba yang dengan cepat membelah diri.

Dari puluhan media online di Bolmong, coba pindai apakah pernah melakukan liputan indepth reporting? Saya pernah membuat status di sosmed ketika tahu bahasa daerah — bahasa Lolak sudah merangkak menuju punah. Tapi tidak ada satupun media di Bolmong yang meliput tentang itu secara mendalam. Baik media cetak ataupun online. Yang bisa disimak di sini, hanya berita-berita rilis dari humas yang terang saja membikin mata lelah dengan judul-judulnya.

Saya pikir, dosa-dosa media online di Bolmong sudah terlalu banyak. Penyajian berita yang mengandalkan kecepatan sering berbuah cibiran. Penjudulan yang salah, isi berita yang membingungkan, dan abai kaidah jurnalistik. Kata Bill Kovach: kualitas jurnalisme menentukan kualitas masyarakatnya.

Pedoman Media Siber yang dipajang di website, hanya seperti pajangan pot-pot bunga plastik. Tidak pernah terlintas untuk saksama membacanya. Selain itu, rekrutmen wartawan baru yang sering mengedepankan asas pertemanan, akhirnya mengabaikan mutu.

Siapa saja bisa menjadi wartawan atau mendirikan media online. Tidak ada yang berhak melarang itu. Tapi ketika semangat itu didorong oleh hal-hal yang tidak baik semisal; tidak patuh UU Pers, Kode Etik Jurnalistik, dan Pedoman Media Siber, maka yang dipermalukan ialah wartawan atau media itu sendiri.

Jurnalis adalah profesi yang sangat dihargai di dunia. Tidak sedikit karya-karya liputan para jurnalis, yang akhirnya dibukukan dan difilmkan. Seperti hasil liputan Truman Capote dalam bentuk buku berjudul In Cold Blood, yang akhirnya difilmkan dengan judul Capote. Copote menyumbang satu pengertian baru yang sangat penting dalam bahasa Inggris. Cold blood yang berarti "sangat kejam" didefinisikan setelah tulisan itu. Ada juga film Spotlight yang kemarin berhasil meraih penghargaan Oscar sebagai film terbaik. Kill the Messengger, All the President's Men, A Thousand Time Good Night, The Bang Bang Club, dan masih banyak lagi.

Bagi yang malas membaca dan memiliki hobi menonton, alternatif belajar bisa dengan menyimak film-film di atas. Di situ ada: cara peliputan investigasi, indepth reporting, bagaimana mengakses data, memburu sumber-sumber, memotret, peace journalisme, buruknya jadi reporter imajiner, journalistic truth, skeptical, self cencorship, embedded journalism, dan masih banyak lagi.

Media-media online di Bolmong, jarang sekali ditemukan konten-konten bermanfaat selain berita tentang pejabat. Cobalah liputan-liputan objek pariwisata, kuliner, sejarah, dan hal-hal sederhana lainnya yang melibatkan masyarakat. Untuk liputan investigasi, sila menuduh lalu buktikan. Tentunya investigasi dalam arti kasus yang belum pernah dimuat media lain, lalu disajikan mendalam.

Laporan investigasi, tidak harus beranjak dari hal-hal besar. Bahkan soal temuan tahu isi berformalin juga termasuk investigasi. Tentunya dengan riset mendalam dan disajikan layaknya makanan lezat. Atau gigi palsu yang ternyata dibuat dari bahan yang berbahaya bagi kesehatan. Praktik pungli juga bisa menjadi bahan investigasi. Apalagi sedang gencar-gencarnya diserukan oleh Presiden Jokowi.

Di Bolmong banyak pemula yang masih segar dan berpotensi. Sayangnya, ketika mereka terjun ke dunia jurnalistik, mereka terpaksa harus terbawa arus. Kuncinya terus belajar, jika memang lurus bercita-cita menjadi jurnalis. Kami selalu menunggu karya-karya terbaik tercipta dari kalian. Dan di saat itulah, kami akan mengangkat pena dan menghormati kalian.

Selalu ingat pula, "Technology is easy, but journalism is hard."

Saturday, October 22, 2016

Untuk Neno

picture http://gambar-foto-wallpaper.blogspot.co.id/

Salam kenal, Neno Karlina Paputungan. Entah bagaimana, ternyata kita sudah berteman di Facebook. Hanya saja kamu memakai nama Calsita Catelyna Soekarno di akun Facebook. Saya juga baru tahu, setelah kamu mengomentari tulisan saya lalu membagikannya. Biar sok akrab, saya panggil Neno saja. Namanya lucu ya? Seperti film animasi Finding Nemo.

Kemarin, saya sempatkan membaca dua tulisanmu di detotabuan.com karena dibagikan teman-teman di sosmed. Saya juga baru tahu, kalau posisimu sebagai koordinator liputan (korlip) merangkap wartawan biro Bolmong, setelah saya intip di susunan redaksi.

Bagus ya, di Bolmong semakin banyak perempuan yang tertarik dengan dunia jurnalistik. Selain teman-teman baik saya; Eling, Yuyun, Dinda, dan Eby.

Begini, saya cuma ingin menyampaikan (dengan berusaha sehalus mungkin karena kamu perempuan) kalau dua tulisanmu itu masih banyak kekurangan. Tinggal banyak belajar dan terus asah kemampuan, pasti akan jadi bagus. Dan alangkah lebih bagus lagi jika typo dalam dua tulisanmu itu diperbaiki. Tukang kritik itu konsultan gratis lho. Daripada mereka yang suka memuji dan membiarkan kesalahan. Itu seperti mendorong kita ke dalam semak berduri.

Nah, apalagi kalau tidak salah Neno mengaku masih bau pelatihan jurnalistik. Jika masih bau pelatihan, tentu ada yang melatih bukan? Atau sedang melatih diri sendiri?

Sebenarnya sederhana. Menulis itu hanya butuh kemauan dan kecermatan. Saya juga kerap kali salah. Bahkan saat menulis ini, saya juga mungkin ada beberapa kesalahan. Tipsnya, usai menulis baca lagi tulisannya. Perbaiki mana ejaan yang salah dan penggunaan kata baku sesuai EYD, baru diunggah. Kan, sayang, capek-capek menulis terus cepat-cepat diposting dan ternyata banyak kesalahan.

Apalagi, tulisan Neno diposting di portal berita detotabuan.com dan mungkin dibaca ratusan atau mungkin ribuan orang. Menjadi penulis itu, kita juga harus belajar menjadi pembaca. Penempatan titik, koma, dan tanda baca lainnya juga diperhatikan. Tidak mau kan, Neno membaca kalimat panjang tanpa tanda koma dan titik? Hosa au' a.

Tapi sebenarnya yang terpenting ketika menulis itu sih, ide tulisan. Setelah menemukan ide, maka mulailah menulis. Jangan dulu takut salah. Tapi kalau baru belajar, cobalah membuat blog. Gratis pula. Saya juga suka tertawa sendiri saat membaca tulisan-tulisan lama di blog.

Nah, untuk pemborosan kata dalam kalimat juga bisa dipelajari di internet. Google sudah menyediakan apa yang kita butuhkan. Tinggal kemauan untuk belajar yang terus dikomporin.

Saya beri contoh untuk menghemat kata dalam kalimat di bawah ini:

Neno ingin menulis dan mengirim surat kepada Ebi.

Jika kalimat itu disingkat, biar tidak boros, maka jadinya seperti di bawah ini:

Neno menyurati Ebi.

Menyurati itu sudah termasuk menulis dan mengirim surat, kan?

Terus penggunaan kata baku sesuai KBBI. Jika tidak ada kamus, di ponsel bisa diunduh aplikasi KBBI. Seperti kata 'risiko' yang selalu dieja salah menjadi 'resiko'. Atau 'sekedar' padahal yang benar 'sekadar'. 'Silakan' yang masih sering kelebihan vitamin 'h' menjadi 'silahkan' padahal kata dasarnya 'sila'. Ada juga 'merubah' padahal yang benar itu 'mengubah' karena kata dasarnya 'ubah'. Masih banyak lagi. Apalagi soal preposisi. Semuanya tersedia di internet. Sila cari di Wikipedia. Asal jangan malas saja.

Soal tulisan di Kronik Mongondow, waduh, itu mah biasa. Sudah pernah jadi wartawan media cetak yang hampir setiap hari dibentak? Keuntungan di media cetak hampir semua wartawan diwajibkan menulis berita di kantor. Ada ruang redaksinya. Sebenarnya media online juga punya dapur redaksi. Jadi ketika redaktur sedang mengedit berita — untuk wartawan baru — wajib duduk di samping redaktur. Perhatikan ketika pengeditan. Belum pernah mengalami: kata yang typo terus dibesarkan redaktur? Setelah itu dibentak!

Kata-kata seperti: kodok, idiot, tolol, tumpul, setang, bodok, dega' gulapung bi' kon bonu ulu, dan lain sebagainya, sudah biasa di telinga. Bukan apa-apa, tujuannya biar kita terus belajar dari kesalahan. Jadi wartawan juga jangan cengeng. Nah, karena Neno perempuan, biar ingin bermental logam, coba berteman dengan yang nama Eling. Dijamin, Neno akan banyak belajar menjadi wartawati tangguh. Apalagi sama Yuyun. Bisa juga berteman dengan Dinda dan Eby. Setidaknya mereka sudah lebih dulu terjun di dunia jurnalistik dan sudah banyak mencicipi garam.

Ngomong soal yang lebih dulu terjun menjadi buruh tinta, saya salah satu yang sepakat dengan pendapat: wartawan itu tidak ada senior dan junior. Ngana yang dianggap baru, kalau bisa menulis lebih baik dari mereka yang mengaku lebih dulu jadi wartawan, maka yang dianggap berbakat itu ngana. Tuhan memang adil, karena membagi masing-masing manusia dengan bakat tersendiri. Dan bukan hal yang tidak mungkin, jika suatu saat Neno akan lebih bagus menulisnya.

Akhir kata, tulisan ini tidak perlu dibalas lalu diposting di detotabuan.com. Jika hendak membalas, bikinlah blog ne. Saya juga bukan bermaksud menggurui. Tapi hanya ingin berbagi. Deng inga, inga, inga, jangan amplopan, ting!

Gladys di Kota(razia)mobagu (9)


Tujuannya hanya agar oplah naik dan berita dikunjungi ribuan pembaca di media online. (Baca sebelumnya: Bagian 8)

Kekurangan informasi kepada masyarakat memang sangat terasa, baik itu di perkotaan ataupun pedesaan. Kasus tentang Perlindungan Anak malah menjadi momok tersendiri di berbagai desa pelosok. Kebanyakan perkara menjerat remaja-remaja tanggung, yang bahkan ketika ditanyai kenapa melakukan itu, sering kali dijawab dengan polos, bahwa mereka saling suka. Hanya itu. Saling suka. Tapi hukum tidak mengenal kata suka sama suka. Apalagi cinta.

Dalam Undang-undang Perlindungan Anak, ada beberapa pasal yang memang mengatur perkara tindak pidana seperti pedofilia, pemerkosaan anak di bawah umur, pelecehan seksual, dan kekerasan terhadap anak-anak. Dan Amir dijerat dengan dalil pemerkosaan. Bahkan keterangan pacarnya semakin memberatkan Amir, bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah paksaan.

“Aku heran, kenapa pacarku tega mengatakan itu. Jika itu paksaan orangtua, sungguh tega sekali ada orangtua yang mengajarkan anak mereka untuk berbohong,” kata Amir, sambil mengetuk-ketuk pelan tembok sel dengan punggungnya.

Selanjutnya Amir bercerita mengenai sejumlah uang yang diminta kedua orangtua pacarnya. Orangtua Amir yang hanya petani, tak sanggup memenuhi permintaan itu. 60 juta… Gila! Amir yang hanya pengemudi becak motor setelah sekolahnya kandas di kelas 2 SMA, sampai membayangkan meski kedua betis dan lengannya meledak, dia tetap tidak sanggup menghasilkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat.

Bercerita dengan Amir, semakin membuat beban di pundak Umar terasa ringan. Dia seperti mendapat perbandingan, bahwa apa yang tengah dihadapinya, ternyata belum seberapa.

“Aku dan teman-temanku akan coba membantumu,” kata Umar, sambil menepuk pundak Amir. Meski Umar tahu, hukuman selama apa yang akan dihadapi Amir nanti. Namun dia hendak menyampaikan maksud, bahwa teman barunya itu sedang tak sendiri.

Sepanjang hari mereka bercerita, sedangkan di sudut ruang sel, Indra masih bergeming. Cahaya matahari dari jendela kecil pun telah berganti temaram lampu.

Lalu seisi sel tiba-tiba diriuhkan oleh tiga tahanan baru. Tiga pemuda itu setelah ditanyai oleh beberapa tahanan lain, ternyata mereka baru saja dirazia akibat pesta minuman keras dan mabuk obat batuk di kamar kos. Tradisi ketika ada penghuni baru pun diberlakukan. Sama seperti yang Umar dan Indra alami saat pertama kali tiba. Memijat tahanan lain. Itu yang paling ringan. Sedangkan yang terberat, merasakan kepal tinju para penghuni tahanan.


***

Di kamar kos, Gladys berbaring di atas ubin yang dilapisi karpet biru. Tampak dia pelan-pelan meremas bibir bawahnya. Pandangannya menempel ke langit-langit kamar. Seakan-akan langit-langit kamar koyak dan dia sedang menuju ruang lain. Gladys sedang memikirkan Sigid. Dan ciuman itu.

"Dys! Menghayal lagi?"

Langit-langit kamar seakan runtuh. Gelembung-gelembung pikiran Gladys meletus satu per satu.

Gladys mengumpati Lina yang telah membuatnya kaget. "Sialan!"

"Ha-ha-ha... Eh, akhir-akhir ini sepertinya wajahmu sumringah terus," goda Lina.

"Sedang jatuh cinta?" susul Lina lagi.

"Diam, ah!"

"Ayo, jatuh cinta sama Mr. Journalist?"

"Oh, my god!" Gladys melempari Lina dengan guling.

"Lin, kau pernah merasa menginginkan sesuatu karena dipengaruhi sesuatu lainnya?"

"Maksudmu?"

"Begini... Aku ingin jadi jurnalis. Dan keinginan itu muncul sejak aku merasa dekat dengan Sigid. Sampai akhirnya aku... Akuu... Suka kepadanya."

"Lalu, masalahnya apa?"

"Sigid pernah bilang. Jika kita menyenangi sesuatu karena sesuatu, maka ketika sesuatu itu hilang, apa yang kita senangi akan ikut hilang juga." Gladys coba mengingat apa yang dikatakan Sigid semampunya.

"Kalian sudah jadian?" Wajah Lina tampak heran namun bahagia.

"Aduh! Jangan dipotong dulu!"

"Oke. Oke. Hmm... Menurut aku benar yang dikatakan Sigid. Tapi bagaimana jika itu dibalik. Kau suka Sigid karena dia jurnalis. Dan ketika dia tidak lagi menjadi jurnalis, kau tidak harus kehilangannya, bukan?"

"Tumben, logikamu licin kali ini. Tapi, bagaimana jika hal yang pertama itu benar-benar terjadi."

"Maksudmu, ketika kau putus dengan Sigid, cita-citamu menjadi jurnalis juga ikut pupus?"

"Iya, Lin."


"Jika kau tidak sungguh-sungguh pada jalan itu. Kau akan luput membacai tanda-tanda."

(Bersambung)

Wednesday, October 19, 2016

Menjadi Wartawan Tak Semudah Mengupil


Ilustrasi satuharapan.com

Sila kalian memindai di Facebook lalu cari nama Olden Wein Kakalang. Apa yang kalian temukan? Hanya bentuk kotak berisi siluet terang serupa foto KTP laki-laki. Itu tandanya si pengguna sedang menonaktifkan (mungkin sementara) akunnya.

Setelah menonaktifkan akun Facebook-nya, yo dega' dodob i Olden na' limbukon inaloan katopol au'?

Siapa yang tak gentar dihajar habis-habisan di pemberitaan oleh sejumlah wartawan di Bolmong; dilaporkan ke Polres Bolmong, terus disusul ke tempatnya bekerja di RSUD Kotamobagu. Sekelas bupati, gubernur, bahkan presiden saja bisa kudisan hanya karena dihajar berita-berita miring.

Perkara yang bertengger di pundak Olden sebenarnya sepele. Saya juga baru setengah serius menyimak sehari yang lalu. Seorang teman lama, Zakir, yang juga seorang wartawan, menautkannya di beranda Facebook saya. Saya coba bertanya, tapi alih-alih mendapat penjelasan darinya, saya malah mendapat petunjuk dari seorang teman wartawan pula, Renza. Darinya saya disuruh menengok akun Facebook milik Rahman Rahim, yang juga seorang wartawan.

Kendati tidak berteman di Facebook, saya bisa menyimak timeline yang dibagikan Rahman. Ada berita video, postingan foto, dan diskusi alit nan alot dari teman-teman wartawan di sana. Dari situ saya mafhum, geger apa yang sedang melanda dunia jurnalistik di Bolmong sekarang ini.

Sebenarnya di kolom chat BBM saya, berita-berita terkait Olden sudah berserakan. Tapi setelah membaca judul, saya selalu memilih untuk tidak mengeklik kemudian segera menekan opsi end chat. Sederhana saja, saya tidak ingin waktu saya tersita oleh hal-hal yang tidak bermanfaat. Seperti koran, kita berhak memilih untuk membeli atau tidak. Begitupun berita yang tersebar di internet, kita yang menentukan untuk menguras paket data atau tidak. Jangan sia-siakan membaca dengan estimasi waktu lima sampai sepuluh menit, untuk hal-hal yang tidak berguna.

Sampai kemarin sore, tiga artikel menyembul riuh di kolom chat BBM. Satu artikel dari blog Kronik Mongondow, lalu menyusul dua artikel masing-masing dari Neno Karlina Paputungan dan Fay Manoppo, yang disebar dari media daring lokal. Soal artikel, sejelek apapun, saya pasti akan membacanya. Setidaknya dia berusaha menulis. Asal jangan berita jelek.

Merunut bacaan, saya memulainya dari tulisan si empu Kronik Mongondow, Katamsi Ginano. Kemudian tulisan dari Neno. Terakhir tulisan dari Fay. Lucunya, dari ketiga tulisan yang dibagikan teman-teman di BBM, saya sudah bisa menduga berdiri di pihak yang mana mereka. Akhirnya, alih-alih mendalami kasus salah satu pasien BPJS di RSUD Kotamobagu yang diduga ditelantarkan pihak rumah sakit. Awak media di Kotamobagu malah diseret ke persoalan sepele.

Di sini, saya tidak ingin mendaras ketiga tulisan itu. Argumen siapa yang paling benar. Saya hanya hendak berbagi. Ini terkait tulisan saya kemarin "7 Ciri Wartawan Kepala Balon", yang beruntung naskahnya berhasil lucu dan lolos di Mojok.co.

Reaksi yang muncul tentu beragam usai tulisan itu disebar. Di Twitter, bahkan ada yang turut berbagi info tambahan. Yang katanya: wartawan yang memberitakan para koruptor tapi amplopan, memang benar adanya. Mereka bahkan suka bergantian mendatangi si koruptor atau keluarganya. Biasa, minta jatah kue.

Sementara di BBM, banyak yang japri (akronim dari jalur pribadi yang artinya chating berdua) terus curhatan. Dari yang merasa menyesal karena jarang memberitakan keluhan warga, sampai sikap jujur yang mengakui dari ketujuh ciri Wartawan Kepala Balon, ia termasuk di dalamnya. Lain lagi di Facebook, reaksi yang berhasil saya pindai hanya lucu-lucuan saja. Entahlah, mungkin ada yang status nyinyir tapi saya luput memindai.

Saya juga mendapat info tambahan dari teman-teman yang japri lewat BBM. Baik dari wartawan dan mereka yang berprofesi lain. Bahkan dari salah satu pegawai yang bilang ada beberapa wartawan yang hampir setiap hari ke kantornya, terus minta duit. Bahkan ia menyebut mereka sebagai wartawan Pak Ogah. Saya kira Pak Ogah hanya sebutan untuk tukang parkir liar yang suka bilang, "Cepek dulu dong."

"Nanti satu kali, kita mofoto ne pa dorang, Kak?" katanya.

"Oh, iyo, foto jo. Supaya kita kanal le."

Sebenarnya, saya turut sedih ketika orang-orang berkomentar demikian. Sebab profesi wartawan adalah profesi saya juga. Tapi mau apalagi, faktanya memang demikian.

Ada juga wartawan yang bilang, "Terus keluarga saya mau dikasih makan apa?" Saya balas, "Aduh, jadi wartawan itu digaji, kan?" Tapi yang miris, kebanyakan wartawan memang tidak digaji layak oleh pihak perusahaan. Mereka berharap dari fee ketika berhasil mendapat advetorial, iklan, atau berita berbayar. Namun jika ada wartawan yang digaji layak terus amplopan, apa bedanya dengan pejabat yang digaji dan dapat tunjangan, terus dia korupsi?

Hey, it's not so easy being a journalist. Menjadi wartawan itu tidak mudah, bro. Tak semudah mengupil. Bahkan menulis berita dan menulis fiksi itu, lebih mudah menulis fiksi. Ketika menulis fiksi, kau tinggal menghayal. Tapi menulis berita, butuh verifikasi berkali-kali. Ejaan nama yang salah saja bisa fatal.

Sebenarnya, persoalan kualitas wartawan juga kerap kali berawal dari rekrutmen. Di Bolmong, perusahaan media cetak maupun online mana yang menerima wartawan dengan syarat menyertakan contoh karya jurnalistik? Karena tahu menulis ialah yang utama untuk menjadi wartawan.

Sampai di sini saya hanya bisa membayangkan, jika sekarang ada orang yang mengatakan: saya ini seorang wartawan yang suka minta-minta duit, dan saya sendiri memang melakukan itu, bo onuon au'?

Mungkin benar: perkataan orang menyiratkan apa yang sedang terjadi. Mereka menilai profesi wartawan itu begitu brengseknya, ya karena perilaku wartawan yang memang brengsek. Dan ketika mereka menilai profesi wartawan begitu mulia, ya karena memang pekerjaan ini dijalankan dengan mulia. Kata Gabriel García Márquez (a.k.a Gabo): menjadi jurnalis itu adalah pekerjaan terbaik di dunia.

Sangat disayangkan jika kita harus berjalan mundur. Padahal sejarah pers di Indonesia berangkat dari perjuangan yang berdarah-darah. Perjuangan melawan penjajah dan Orde Baru. Lantas di penghujungnya hanya berisi limbah. Sejatinya media itu menjadi watchdog (anjing pengawas/penjaga) bukan lapdog (anjing peliharaan).

Jika berani mendaku sebagai jurnalis, maka bersikaplah selayaknya seorang jurnalis. Ada teman seprofesimu yang tengah dianiaya terkait kerja jurnalistik, maka rasakan dukanya. Tunjukkan solidaritasmu. Bukan hal-hal sepele yang dibesar-besarkan, sementara hal-hal besar disepelekan.

Tabe' takin salamat...

motayak kon bulawan
modapot kon Namlea
mobali' wartawan
dika mocengeng ulea

Saturday, October 15, 2016

7 Ciri Wartawan 'Kepala Balon'

Ilustrasi Mojok.co
Saya nyaris saja menelan permen karet ketika sedang fokus membaca perbincangan di salah satu grup Whatsapp. Ngomong-ngomong, lucu juga kali ya kalau setelah menelan permen karet saya jadi punya kekuatan supernya Rupi, di film kartun One Piece, dan mendadak bisa memanjangkan lengan, kaki, leher, dan titit. Eh!
Tapi lupakan dulu soal panjang memanjangkan itu, jamaah Mojokiyah. Ada yang lebih penting. Jadi, di grup Whatsapp saya, kengkawan sesama wartawan tengah riuh membahas kasus intimidasi dan kekerasan terhadap jurnalis oleh sekelompok intoleran dan anggota TNI.
Sebagai Koordinator Divisi Advokasi di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Gorontalo, terang saja saya terkejut. Musababnya, yang terpapar intimidasi kali ini dari jurnalis KBR di Jakarta. Sementara sebelumnya, kasus penganiayaan juga menimpa salah satu anggota AJI Kota Gorontalo, dan teman saya di KBR menelepon saya untuk konfirmasi. Lah, sekarang balik KBR yang tertimpa kasus yang beda-beda tipis.
Minggu 2 Oktober, ketika meliput aksi kelompok intoleran yang menolak jemaat GBKP Pasar Minggu untuk beribadah, salah satu jurnalis KBR dihalang-halangi dan diintimidasi.
Belum selesai membahas itu, saya dikabari lagi soal penganiayaan jurnalis Net TV, yang dilakukan oleh anggota TNI di Madiun. Busyet! Padahal belum lama ini di Medan, kasus pemukulan juga dilakukan oleh anggota TNI dan pelecehan seksual kepada salah satu wartawati di sana. Tidak jera-jeranya mereka.
Rasa heran sekaligus marah teraduk. Kendati sudah berkali-kali tindakan seperti itu terjadi, dan kata maaf kerap berbusa-busa dari mulut para petinggi TNI, tetap saja ada anggota mereka yang mengulang kembali tindakan tidak manusiawi tersebut. Bukankah itu bentuk pembangkangan dari anggota kepada para Jenderal?
Tidak terlaksananya proses hukum dan transparansi di peradilan militer, salah satu penyebab kenapa perilaku itu subur bak jamur di taik sapi.
Jangankan kasus pemukulan, kasus pembunuhan terhadap jurnalis saja tidak tuntas-tuntas. Dan bukan tidak mungkin, sesudah kejadian kemarin, besok dan seterusnya kejadian yang sama akan terulang, seperti sinetron Tuyul dan Mbak Yul yang di-reborn.
Sampai di sini, yang saya sesalkan bukan hanya dari sisi pelaku intimidasi dan kekerasan saja. Namun juga sikap solidaritas yang tipis dari sesama wartawan seluruh Indonesia.
Tak dinyana, dari senarai kasus intimidasi dan kekerasan terhadap jurnalis, dimulai kasus intimidasi sekelompok intoleran yang menimpa jurnalis Rappler Indonesia pada Juni lalu ketika tengah meliput Simposium Anti PKI, tidak pula mendapatkan dukungan yang masif dari para wartawan se-Indonesia.
Lihat saja dari kasus yang berlanjut yakni kekerasan terhadap wartawan di Medan. Berikut pelecehan seksual kepada salah satu wartawati yang juga bertugas di Medan. Aksi-aksi dukungan dan perlawanan hanya terlihat di beberapa titik kota.
Di bulan ini saja, sudah dua kasus intimidasi dan kekerasan terjadi, di antaranya intimidasi dari sekelompok intoleran kepada reporter KBR di Jakarta tadi. Disusul penganiayaan terhadap reporter Net TV di Madiun, yang bahkan mendapat ancaman usai babak belur dihajar oleh beberapa anggota TNI.
Sejumlah organisasi dan individu pers terlihat asyik-asyik saja. Seolah-olah tidak ada yang terjadi. Saya tidak sok suci ketika menuliskan ini, tapi setidaknya hati kalian wahai sesama wartawan, ikut bergetar ketika mendengar teman sekuli-tinta diintimidasi dan dianiaya.
Saking kesalnya saya, kalian itu saya namai wartawan ‘kepala balon’. Iya, sekeras-kerasnya kepala batu, masih bisa terkikis oleh tetesan air. Tapi bagi para wartawan ‘kepala balon’, maka hanya angin yang meletus ketika jarum ditusukkan ke kepala kalian.
Berikut 7 ciri-ciri wartawan ‘kepala balon’ yang menurut saya, harus lebih banyak menekur diri.
Memuja Udin, Mengabaikan Perlawanan
Gampang untuk mendeteksi wartawan jenis ini. Lihat saja tiap saat hari peringatan tewasnya jurnalis Udin–yang dibunuh karena berita pada 16 Agustus 1996 di Yogyakarta–para wartawan jenis ini mendadak akan memajang foto profilnya Udin di akun sosmed. Kemudian sederet kalimat tertulis di status, “Kami tidak melupakanmu Udin.”
Coba tanya kepada wartawan itu, selain Udin, ada berapa jurnalis lain yang juga dibunuh karena berita? Paling-paling dia buru-buru gugling. Selain itu, ketika terjadi kasus intimidasi dan kekerasan terhadap jurnalis saat ini, wartawan jenis ini akan diam-diam saja.
Mereka hanya tahu Udin setahun sekali. Titik!
Seliweran Saat ‘Hari-Hari Besar’
Ciri yang ini juga mudah dikenali. Saat hari-hari besar semisal HUT TNI ke-71 pada 5 Oktober, mereka muncul. Di leher mereka tergantung id card. Yang mengenakan rompi juga masih bisa ditemui. Mereka akan menawarkan pemasangan advetorial atau berita-berita berbayar.
Jika berhasil membujuk advetorial atau berita berbayar, maka bacalah isi beritanya yang penuh kata-kata sanjungan. Tapi jika tidak, maka bersiap-siaplah, sebab bulu hidung yang bergantung sisa ingus pun, akan mereka tulis.
Hobi Foto Bareng Pejabat
Ciri kali ini paling banyak ditemui di sosmed. Beranda kalian akan dijejali foto-foto groufie dari si wartawan bersama para pejabat. Sebelum dikenalnya moto selfie dan groufie, biasanya mereka foto bareng pejabat sambil kedua telapak tangan tertangkup di anu. Biar kelihatan segan dan sopan. Terus difoto dari depan.
Setelah dikenalnya moto groufie, sikap kaku mulai hilang. Yang tampak kini di setiap foto: wajah dengan senyum merekah, mata berbinar, dan sesekali lengan saling bertumpuk di bahu. Serasa kakak beradik.
Pilkada Tiba, Waktunya Memihak
Wartawan itu tidak boleh terafiliasi dengan partai politik. Ketika Pilkada, tidak boleh memihak. Tapi yang tampak dari wartawan jenis ini, malah sebaliknya. Sekarang ini, misalnya, ketika jelang Pilkada serentak, foto-foto calon pemimpin daerah yang dijagokan si wartawan dipajang di sosmed. Disusul status berisi inisial calon atau sederet jargon mereka.
Bagi wartawan jenis ini, ketika Pilkada tiba maka waktunya panen uang sebanyak-banyaknya. Berita-berita pencitraan ditulis. Berita-berita provokatif ditujukan kepada lawan politik si calon yang diusung.
Edodoeee, ngana ini wartawan atau tim sukses?
Hanya Tahu Cara Menulis Berita Tentang Pemerintah
Ciri yang ini banyak pula ditemui. Baik media cetak maupun online. Apalagi sejak internet membumi di hampir seluruh wilayah Indonesia, mulai bermunculan media-media online yang berisi berita-berita 90% tentang pejabat, 10% tentang rakyat.
Wartawan jenis ini kebanyakan mengandalkan rilis-rilis dari humas. Yang isinya tentu saja puja-puji kinerja pemerintah dan kegiatan seremonial. Padahal poin pertama pada sembilan elemen jurnalisme menurut Bill Kovach; loyalitas jurnalis itu kepada warga. Bukan kepada para pejabat.
Bangga Menulis Berita Korupsi, tapi Terima Suap
Yang jenis ini juga banyak. Praktik buruk wartawan seperti ini, biasanya dilakukan secara diam-diam. Tapi sebenarnya sudah menjadi rahasia umum.
Wartawan jenis ini bangga sekali membagikan berita tentang pejabat korup. Namun hanya satu atau dua berita yang dimuat. Kelanjutannya sampai proses hukum, biasanya beritanya mulai redup. Ya, mungkin sudah dihubungi sanak saudara si koruptor, terus ditanyai nomor rekening. Atau jika hendak berjaga-jaga, ya terima uang tunai.
Selalu Bicara Uang, Bukan Berita
Jenis yang satu ini, juga bertebaran di rumah kopi dan sosmed. Mereka akan berdebat soal angka-angka, saat pencairan kontrak berita dengan pemerintah daerah. Bahkan sukar dibedakan, mereka ini wartawan atau akuntan.
Soal tata cara penulisan berita yang sesuai kaidah jurnalistik, maupun tanda baca, bagi mereka urusan belakangan. Asal berkas-berkas pencairan sudah melaju ke meja-meja para penanda-tangan. Cair! cair! cair!
Demikianlah hasil penerawangan saya soal ciri-ciri wartawan ‘kepala balon’. Semoga setelah membaca ini, kepala kalian bisa berubah menjadi balon lampu, berpijar dan menerangi gulita dunia jurnalistik.

Artikel ini sebelumnya dimuat di Mojok.co

Thursday, October 6, 2016

Gladys di Kota(razia)mobagu (8)


... Kami berempat baru akrab setelah kelas tiga SMP. (Baca sebelumnya: Bagian 7)

Meski berbeda sekolah, kami merasa memiliki kecocokan satu dengan lainnya, setelah pertemuan di salah satu warung internet. Kami adalah tim yang hebat, ketika game counter strike sedang menggumpal di nadi para remaja. Kemudian saat SMA, kami memilih satu sekolah. Persahabatan kami semakin erat.

"Den, kita pernah bertengkar persoalan uang sewaktu SMA. Ketika kita menang taruhan counter strike."

"Kita semua tidak akan melupakan kejadian itu."

Umar memakai uang taruhan untuk membayar iuran sekolahnya. Uang yang diberikan ibunya, dipakainya untuk membeli ganja dari seorang mahasiswa. Umar memilin sendiri ganja kering yang dibelinya. Delapan linting, kami mabuk dengan sangat biadab kala itu. Kami menghabiskan kebiadaban-kebiadaban di pantai.

Ketika kami menanyai Umar soal uang taruhan, dia tidak menjelaskan dengan jujur. Dia mengaku uang itu hilang. Kami menghindarinya untuk waktu yang lama. Sampai suatu hari kami akhirnya tahu. Uang itu dipakainya untuk membayar iuran sekolah, yang digunakannya menebus sebuah kebiadaban yang terlampau indah, untuk remaja seumuran kami.

"Dan sejak saat itu, kita sepakat membenci masalah yang disebabkan oleh uang," ujar Deni.

"Juga membenci ketidakjujuran." Aku seketika beranjak dari kasur. "Den! Media ini tidak boleh dibiarkan mati! Aku mandi dulu."

***

Bau pesing menebal di dalam ruangan berukuran 7 x 7 meter. Ada belasan orang yang sekarang mendekam di dalam sel. Mereka saling berhimpitan dengan raut wajah yang sama. Kosong.

Umar tampak bersandar di salah satu sudut sel. Tepat di atasnya, jendela kecil berjeruji membagi sinarnya dari luar. Dia menatap garis-garis cahaya itu, sembari membayangkan tubuhnya mengecil dan meniti di atasnya. Dia ingin segera pergi dan berlari ke alam bebas. Duduk di kedai kopi, membaca buku, atau menendang kaleng bir kosong di jalanan.

Tak jauh dari posisi Umar, Indra tengah berbaring di atas kardus. Sedari tadi kedua lipatan tangannya menjadi bantal. Matanya tertutup. Meski sudah beberapa jam bersama dalam satu sel, mereka berdua belum terlibat pembicaraan. Untuk masalah yang masih memanas, mulut bisa berkata begitu banyak, atau malah menjadi lebih irit.

Seorang tahanan, tiba-tiba menegur Umar. “Hei, kau perkara apa?”

“Menurutmu?” Umar  balik bertanya, setelah sadar yang menegurnya adalah seorang remaja.

“Semoga tidak lebih berat dariku. Ancamannya 15 tahun hukuman penjara.” cerita remaja itu.

Penasaran dengan usia remaja itu, Umar bertanya, “Usiamu berapa?”

“19 tahun,” jawabnya.

“Kau kasus pembunuhan?” Umar coba menebak.

“Bukan. Aku dianggap memerkosa pacar. Aneh, kan? Pacar, diperkosa.”

Tahanan yang belakangan dikenali bernama Amir itu seperti mendapat teman untuk mencurahkan isi hatinya. Pacarnya yang masih kelas 1 SMA, hamil. Dia mengaku sangat mencintai pacarnya itu, lalu dengan seyakin-yakinnya mengakui perbuatannya dan bersedia menikah. Namun sayangnya, kedua orang tua pacarnya tidak suka dengan Amir. Dia akhirnya dilaporkan ke polisi sampai nasibnya kini berada sekurung badan dengan Umar.

“Apakah cinta mengenal usia?”

Pertanyaan polos namun begitu dalam dari Amir, pelan dan seperti menembus tembok sel. Pertanyaan yang mewakili mereka-mereka yang pernah mengalami perkara yang sama. Meski untuk perkara yang termasuk dalam Undang-undang Perlindungan Anak itu, tidak melulu menjerat pasangan yang sedang dimabuk cinta, semacam Amir.

“Tidak ada yang salah dengan cinta kalian. Hanya saja, cinta kalian terlalu membara untuk pacarmu yang masih belia.”

“Tapi aku bersedia bertanggung-jawab!”

“Hmm… Itulah kenapa aku kurang sepakat ketika hukuman itu bertujuan untuk membuat efek jera. Hukum dibuat seharusnya untuk mendidik masyarakat agar menjadi awas.”

“Maksudmu, aku kurang belajar tentang risiko yang akan aku hadapi?”

“Lebih tepatnya, negara kurang mendidik orang-orang sepertimu soal itu.”

Umar bercerita, sempat beberapa kali dia meliput persidangan, sewaktu masih menjadi wartawan magang di sebuah media cetak. Pengacara, jaksa, dan hakim kerap kali mengeluarkan pernyataan, bahwa semakin berat tindak pidana maka semakin tinggi hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku kejahatan. Dan itu agar ada efek jera terhadap masyarakat.

“Kalian masih terlalu muda. Bahkan untuk sekadar menyadari apa yang kalian perbuat itu sangat berisiko, kalian belum bisa.”

Umar lanjut menceramahi Amir, bahwa sosialisasi mengenai hukum sangat  minim di negara ini. Media pun terlalu sedikit memberi porsi perihal perluasan informasi terkait aturan hukum. Tanda awas bagi media, ketika perkara telah ada, pelaku diseret, dan kemudian dijatuhi hukuman. Lalu berita ditebar. Mereka merasa telah mewanti-wanti masyarakat lewat judul yang dibesar-besarkan. Benar bahwa media tak sedikit pun membantu masyarakat. Mereka gagap dan ingin mengumbar apa saja yang sedang hangat. Tujuannya hanya agar oplah naik atau berita dikunjungi ribuan pembaca di media online.

(Bersambung)