Monday, December 23, 2013

Di Teras Rumah Buya Hamka Menjelang Natal

"Selamat Hari Natal Dan Tahun Baru 2015"

Satu kalimat di atas menjadi maklumat keramat MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan bersolek beruntun menjadi polemik snow ball bagi umat kita (islam) di Indonesia ― bahwa itu sesat. Iya, benar itu fatwa yang setiap tahun menggelinding sejak mula ucap itu diutarakan dan ditanda-tangani Buya Hamka, pertama kali pada tanggal 7 Maret tahun 1981 dan terus diamini. Sebenarnya Hamka tak melarang pengucapan selamat Natal, tapi yang dinyatakan terlarang adalah mengikuti upacara Natal ― liturgi.

Kita tentu saja masih ingat Gus Dur, sang guru bangsa yang aroma ke-pluralitasan-nya selalu menohok ujung cuping hidung para pengkhidmatnya hingga sekarang. Ia yang acapkali dengan santainya menggumamkan, "Gitu aja kok repot (Yasir Wa La Tuasir)."

Guru bangsa ini mengajari kita untuk berani mencukur botak rambut kita kala berada di kuil, atau menyelipkan kemboja di telinga, dan berani bersalaman mesra dengan Santa dan pendeta, lalu hening bersama pada malam misa Natal, ataupun reriungan di bawah kerucut bangunan, dan kemudian meratapi tembok sinagoga dengan rapalan mantra Musa. Atau... Ia mengajari kita memandangi langit kosong berserak gemintang, dan berkata, "Lihatlah, kita tak sendiri."

Yah, kata mereka, mengakui Tuhan itu banyak subjektif, kan? Nah, bukankah kita mengakui Tuhan itu satu subjektif pula? Hamka ketawa sembari menyuguhkan secangkir kopi. Sedang aku terus menengadah pandang. Kita memang makhluk yang beragam, kataku pada langit.

Di teras rumahnya, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) berkisah tentang buku novel karyanya "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck" dan filmnya sedang booming saat ini. Sementara di ujung lorong, Pramoedya Ananta Toer (Pram) terus mengukir kata "Plagiat" di kulit tembok rumahnya, dan meminta agar anak bangsa mem-film-kan karya tetralogi-nya, Bumi Manusia. Karyanya itu, ia maui bukan anak asing luar antah berantah yang mengiming-imingnya uang lalu membikinnya, lantas memboyongnya ke rumah bertembok marmer Italia. Pram hanya mau, anak negeri mengemasi potong demi potong dialog dalam buku, dan terucap oleh 72 bidadari dari rekah bibir yang tersayat.

Di teras rumah ini, kisah berlanjut makin mengecil serupa boneka Rusia Matryoshka dan makin ke titik nadir. Merendah dengan ujar yang pungkas, "Silahkan mengucapkan Selamat Hari Natal dan Tahun Baru," ujar Hamka yang tiba-tiba saja raga rentanya mengencang.

Pada titik ini aku seketika stagnan. Tak perlu membual dengan ratusan lapisan kulit ular, yang terus berganti dan menyisakan kering. Sebab dari fatwa itu, manusia terjerat dalam pusaran dogmatis. Kemudian selalu berakhir kepada para Nabi ― yang merubah tongkatnya menjadi ular, atau muncrat air dari ujung jemari. Hamka memutuskan: sendal kalian dilepas jika di teras.

Aku tak ingin berbicara tentang Nabi di depan Hamka. Sebab manusia akan menjadi sangat kecil di cangkir bumi. Cukup kuseruput dua kali bibir cangkir ini, dan Hamka membisikanku se-paragraf kalimat-kalimat dari kata pengantarnya ― di salah-satu kitab Tan Malaka, "Islam Dalam Tinjauan Madilog" Biarku sitir paragrafnya: "Adapun setelah membaca "Islam Dalam Tinjauan Madilog" insyaflah saya bahwasanya di jaman modern ini untuk membela agama perlulah kita memperluas pengetahuan, di dalam ilmu-ilmu yang amat perlu diperhatikan di jaman baru. Sosiologi, dialektika, logika, dan lain-lain sebagainya yang berkenaan dengan masyarakat modern, tidaklah boleh diabaikan kalau betul kita ingin iman Islam itu menguasai masyarakat jaman sekarang."

Logika, aku seorang penganut Yudaisme yang mempunyai seorang kakak laki-laki dan mengawini seorang muslimah, dan kemudian ia memilih menjadi seorang muslim. Kala itu acara khitanan anaknya digelar, dan aku menghadiri acara tersebut, mengucapkan selamat. Sesaat setelah acara itu, tiba-tiba saja keimanan saya berubah, dan tetes darah merembesi selangkangan paha. Aku disunat pula pikirku, padahal aku sudah di-metzitzah b'peh. (Ketawa terbahak-bahak)

Di teras rumahnya itu, Hamka melangkah masuk ke dalam rumah. Lalu kembali dengan kepul cerek dan kretek. Duduk dan berkata, "Beri aku hadiah Natal, Santa!"

Powered by Telkomsel BlackBerry®


Sunday, December 22, 2013

Sepanci Ubi Milik Ibu

Sepanci ubi ditanak lunak
Mendidih jadi siap disantap
Itu sebelanga ubi dan kasih Ibu
Di atas bara dan abu tundra

Raganya belum mau ringkih
Seraya menggelung rambut
Ibu menghitung putih, berharap abadi
Ia masih ingin mencabuti ubi, bukan rambut putih

Sepanci ubi....
Ibu selalu tahu, Robbi
Kita di dunia terjatuh dan terkapar
Kemudian menjalari bumi

Tak ada sesal apalagi kesal
Meski, Huh! Acap kali terlontar
Rupamu yang kekal, mengemasi ucap caci dan benci
Lalu menanamnya di sudut kebun

Sepanci ubi milik ibu
Ia selalu mau berbagi

(Thanks Mother and Sigimom, puisi ini terpilih untuk dibukukan oleh Garasi 10 Bandung, Dedikasi Untuk Ibu, "Mom, The First God That I Knew" (https://m.facebook.com/events/228604620646748?view=permalink&id=234596690047541&_rdr) \m/(˘̶̀⌣˘̶́҂)

Powered by Telkomsel BlackBerry®

The Godfather

Jauh sebelum aku dan kakak-kakakku dilahirkan, entah masih berada di mana jiwa kami saat itu. Pertanyaan itu selalu hadir setiap memandangi kedua orang-tuaku. Mereka media agar kami bisa meneriaki dunia. Malam ini, pertanyaan itu kembali hadir, sesaat setelah ayah tiba-tiba saja rengsa dengan teriak yang hampir hilang. Di rumah ini, tinggal aku satu-satunya anak yang tersisa. Memapahnya ke kamar mandi, dan dengan telinga yang terus siaga kala tidur.

Tadi saat di kamar mandi, seekor cicak memangsa serangga di dinding samping bohlam. Nyawa begitu saja terlahap, oleh detik, menit, jam, bahkan tahun pun akan terasa sangat singkat. Hidup selama ini, kami yang masih muda dan gagah, pun tak ketinggalan kerap merasakan maut mengecup kening dengan hening. Tapi hingga kini, kami masih berdiri gagah.

Ayah pernah segagah kami di kemarin yang lampau. Sepulang kantor mengurusi kolam di belakang rumah, pulang dengan memikul seikat kayu bakar dan lima hingga enam sisir pisang, juga beberapa ekor ikan yang mulutnya telah terjahit seutas temali dari rautan pelepah pohon pisang. Ayah terlihat sangat gagah saat itu. Tak seperti yang sedang aku saksikan saat ini.

Puluhan tahun lalu, aku hanya bocah yang selalu merasa nyaman berada di antara kain sarungnya yang serupa ayunan, sembari menonton TV di rumah tetangga. Puluhan tahun lalu hingga sekarang, tak pernah ada tamparan mendarat di pipi, layaknya yang sering aku terima dari para guru-guru di sekolah. Hanya beberapa kali gertak cambuk ikat pinggang yang tak pernah terlecut.

Ada satu kebiasaan yang hingga sekarang, tidak bisa dihilangkan darinya. Merokok. Pernah sekali-duakali aku ingatkan, tapi jawaban darinya yang klasik dan berulang-kali terucap, "Kita meninggal bukan karena ini (rokok), tapi disebabkan oleh maut." Itu jawaban yang singkat dan meringkus segalanya. Dan karena jawaban itu pula, hingga sekarang, jika aku kehabisan rokok di tengah malam buta, tak perlu jauh-jauh ke warung, menembus gigil malam, sebab di bawah bantal tidurnya, selalu terselip sebungkus rokok di sana. Itu sebungkus rokok yang terlampau istimewa. Apapun mereknya.

Kini raga itu menggigir, rengsa dengan sekujur tubuh penuh peluh. Tapi candaan dari kedua pasutri termulia di muka bumi ini masih sempat-sempatnya terlontar. "Besok pake pampers jo ne," tanya ibu, dan singkat dijawab olehnya, "Jadi sama deng Sigi."

Cepat sembuh ayah. Bukan hanya di tahun ini harap dan doaku untuk kesehatan ayah, juga ibu. Selalu. Bahkan meski harus kutukar dengan kesehatanku.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, December 20, 2013

IBU

Hampir cerlang hari ini, yang seketika merengut tirai embun pagi. Tampak dua lengan itu sedang membasuh kantuk dengan percikan-percikan air di wajah rentanya. Di sudut kamar mandi berdindingkan lempeng tipis besi berkarat, ada ember penuh oleh air dengan setumpuk pakaian siap dibilas. Ada laron-laron mati di kulit air bergelembung sabun itu, yang diramaikan pula oleh puluhan sayap-sayap terputus dari jasad alit yang mengambang. Hembusan nafas lelahnya tampak melukis udara dingin. Tapi perempuan itu tetap jongkok membilas nasib.

Matahari belum menengadah. Dan sederet jemuran terkulai basah menggilas semut-semut yang berjejeran di atas temali. Banyak semut yang terkulum basah, sementara lainnya ringan jatuh dan mendarat enteng di permukaan tanah, bersamaan dengan peluh perempuan itu, dan tetesan air dari deretan pakaian. Kini, setelah selesai dengan seember air, ia masih melanjutkannya dengan menjerang sepanci air lagi, membikin segelas teh untuknya, dan segelas kopi untuk suaminya, kemudian setelah itu, dilanjutkannya menanak bubur untuk sarapan anaknya. Urusannya dengan air belum selesai, karena ia masih akan memandikan anaknya yang mau berangkat ke taman kanak-kanak.

Rasanya... Apa yang tentang dia, tentang ibu, selalu terlalu banyak, memoriku penuh untuk mengingat, dan selalu ― hanya Ibu. Kita punya bejibun kisah tentang dia, tapi coba ceritakan satu? Maka yang akan kamu tulis hanya ― IBU.

(Aku terlalu mabuk untuk melanjutkannya!)

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, December 13, 2013

Kata-kata Dari Langit-langit

Malam ini kami niskala, hanya untuk malam ini
Yang tuarang, yang tundra, bingung
Bukan di keduanya kami berpijak
Sekali lagi, kami niskala

Kata mereka, manusia dari lempung
Memiuh yang di langit
Jadilah kita, mereka, dan segala yang hidup, pun yang mati
Tapi kita jatuh terpacak diam sesaat di bumi
Kemudian digoda kehendak
Kita bergerak

Kami tak ingin bicara yang di langit malam ini
Ups! Aku bicara tentang memiuh
Ah, itu di cetak kitab
Tapi kami percaya
Kata ibu, kata bapak
Kata leluhur...

Jangan-jangan itu benar?
Ah, kata leluhur benar
Iya itu benar
Sudahlah
Kita nisakala, kan?

Malam ini


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Saturday, November 30, 2013

Cekung dan Cembung

Kamu tahu, benda-benda cekung di sekeliling kamarku? Atau ini semua hanya ilusi dari dua-tiga dimensi? Atau... Apa itu yang ada di genggamanmu? Benda cembung itu. Coba kamu telisik seksama; ada cetak digit angka, inisial, cetak huruf, atau nama. Apa itu? Kode ACT? Ah, silahkan ke Wiki.

Air. Yah, dahaga seringkali meni-rrr-up (lidah leluhur saya bergetar) tenggorokan. Lalu celingukan bukan sedang mencari-cari (dengan slow motion). Sesuatu sedang meradang di dalam batang leher. Kemudian tenggelam.

Mendadak dunia cekung menikung, cembung
menggembung... Dan semuanya kembali datar ― tergenang ― begitu tenang. Ini aneh, kenapa tak direngut saja cekung mata anak busung lapar tadi? Oh, atau kamu sudah jadi anak angkatnya si Carlos Slim Helu. Aku tahu, ia menghubungiku kemarin.
Seperti kemarin, yang habis, dan terjual. Masa selalu hadir beraneka corak. Ragam budaya, ragam basantara, dan jutaan butir pasir di atas timbangan beras. Eh, ngomong apa kamu? Mabuk? Iya, saya mabuk, tapi bukan dengan pasir! Tapi ini dari perasan beras, kenapa kamu marah? Sok, religi? Kamu tahu ballo? Itu beras, kamu makan beras? Tutup mulutmu! Ini pelepah kurma. Kamu bingung, kan? Kenapa Dewi Sri duduk selonjoran di pematang Jawa? Ia tersesat kesana karena mabuk.

Si anak angkatnya Carlos kini sedang mencangkul. Dengan mata melotot ― cembung. Ia mulai dari bertanya. Tanah itu kalau disemai bisa hamil? Perutnya bisa cembung? Apa sih, bedanya cekung sama cembung? Cangkul sontak menjawab: Itu tergantung bagaimana caramu mencangkul. Mencangkul kan bikin tanah cekung, tapi gundukan tanah di belakangmu jadi cembung. Mencangkul dan tertimbun. Bingung. Pah! Cangkul bisa bicara? Tunggu dulu. Itu di internet. Ternyata ia sedang main games FarmVille. Sial.

Hei! Kamu. Ingat yang kemarin? Iya, benar... Yang kemarin, ada dua perempuan sedang kebingungan saat belanja kutang. Kamu ingat? Sewaktu lengan mereka turun ke saku, tampak siang dengan segera berubah sore. Kamu melihatnya di mana? Kita, kita melihatnya di internet. Aih!
Sudah jam berapa? Sudah jam lima. Sebaiknya kamu pergi saja, ada makanan di meja. Kalau besok kamu melihat yang cekung-cembung. Kamu ajak saya. Saya mau mencangkul. Sebaiknya kamu pergi.

Satu huruf, tiga kata, lima baris kalimat, tiga paragraf, lima bab, satu buku. Tanpa tanda baca. Aku menulisnya kala cegukan, dan tersihir begitu saja. Tiba-tiba ada. Bodoh! Mabuk!

Ah, si maling kutang!

Powered by Telkomsel BlackBerry®






Wednesday, November 27, 2013

Kemarau di Negeri Kikuka (Dongeng untuk Sigi)

Di sebuah negeri yang bernama Kikuka. Negeri yang hanya dihidupi hewan-hewan berawalan huruf K. Hanya ada Kelinci, Keledai, Kancil, Kalajengking, Kerbau, Kepiting, dan hewan berawalan huruf K lainnya.

Pada suatu hari yang kemarau, dua hewan berbeda spesies sedang terlibat pembicaraan soal panas matahari yang semakin membakar bumi.

Kelinci bertanya, "Kau tahu Keledai, kenapa bumi semakin panas, dan matahari seperti sudah di atas kepala kita?"

"Kau salah bertanya Kelinci, aku hewan yang pandir. Coba kau tanyakan kepada Kancil, ia sangat cerdik, dan pasti pintar, dan bisa menjawab." jawab si Keledai sembari terus melahap rerumputan.

Kelinci bergegas pergi ke sungai yang tak jauh letaknya dari tempat mereka berada. Benar juga, ada Kancil di sana sedang menyesap air sungai yang tampak kabur dan hanya sedikit itu.

"Hei! Kancil!" teriak Kelinci yang membuat kaget Kancil.

Dengan mata memicing dan sungut hidung yang masih basah, Kancil itu menyahut, "Ada apa Kelinci? Sudah berapa batang wortel yang kau habiskan, kemudian merasa haus dan datang kesini?"

"Aku tidak sedang haus, tapi aku ingin bertanya," jelas Kelinci.

Dahi Kancil mengerut dan saling merangkul, "Pertanyaan apakah itu gerangan?"

"Kenapa bumi semakin panas ya?"

"Oh, soal itu, mari kujelaskan di sana," ajak Kancil ke salah satu pohon besar di tepi sungai. Pohon yang masih rimbun di tengah musim kemarau.

"Kau tahu Kelinci, bumi kita mempunyai lapisan ozon yang berguna menyaring cahaya matahari," Kancil mulai bercerita.

"Nah, kamu lihat rimbun dedaunan pohon ini," lanjut Kancil sambil menengadah, yang diikuti pula oleh Kelinci.

"Dedaunan itu memiliki fungsi yang hampir sama dengan lapisan ozon,"

Kini dahi Kelinci yang dipenuhi bulu tebal terlihat saling merangkul, tapi kedua telinga besarnya tetap berdiri tegak. Siaga. "Tunggu dulu, apa hubungannya?"

"Biar kulanjutkan. Dedaunan itu melindungi kita dari panas matahari, bukan? Coba saja kalau dedaunan itu tidak ada, pasti kita akan merasakan panas terik matahari langsung mengenai kulit kita."
Anggukan dari Kelinci sebagai tanda ia mulai paham dengan apa yang dijelaskan oleh Kancil.

"Lantas apa yang membuat daun-daun itu gugur, kalau contohnya yang pohon tadi?" tanya Kelinci lagi.

"Ini semua perbuatan manusia, coba kau ke perkotaan, karbon monoksida dari asap kendaraan di sana, kepulan asap dari pabrik-pabrik, dan masih banyak lagi hal lainnya yang menyebabkan lapisan ozon itu menipis, atau parahnya hingga berlubang. Lihat pohon ini, coba kamu memelihara api di bawahnya, kepulan asapnya pasti akan membuat daun-daun layu dan gugur,"
Penjelasan Kancil itu membikin Kelinci meringis dan terlihat gigi depannya makin menonjol keluar.

"Kau tahu Kelinci. Kalau pepohonan di hutan ini juga ditebang. Itu juga bisa mengakibatkan lapisan ozon menipis, karena tetumbuhan itu menyerap karbon yang dilepaskan oleh kendaraan atau kepulan asap pabrik-pabrik tadi," jelas Kancil dengan nada sedih, sambil memandang pepohonan yang membentang di hadapan mereka.

Tak lama kemudian Kepiting dengan langkah khasnya datang menghampiri mereka berdua.

"Sedang apa kalian? Pacaran ya? Tak bisa kubayangkan kalau nanti bayi kalian nanti jadi makhluk apa," sapa Kepiting dengan gurauan.

"Nah, ini dia salah satu hewan yang nanti jadi korban penipisan lapisan ozon," kata Kancil.

"Apa hubungannya denganku?"

"Kami sedang membahas soal lapisan ozon, dan kamu Kepiting, salah satu hewan yang paling terkena dampak buruk jika radiasi ultra violet nantinya berlebih," jelas Kancil.

"Aku kan punya cangkang untuk berlindung," jawab Kepiting dengan pongah.

"Justru cangkangmu itu yang nanti akan berubah menjadi penggorengan,"

Kepiting mengatupkan kedua capitnya. "Bikin ngeri saja kau Kancil!"

"Iya, apa yang dikatakan Kancil itu benar," kata Kelinci.

"Kenapa kau bisa sampai kesini?" tanya Kancil.

"Di pantai panasnya memang makin menjadi,"

"Ah, andai saja lautan itu tak asin," harap Kancil, agar ia bisa minum sepuasnya.

Dari seberang terlihat Kerbau, Keledai, dan Kalajengking datang mendekati mereka.

"Kata Keledai, kalian sedang bicara soal cuaca ya?" tanya Kerbau sesampainya.

"Iya, cuaca yang semakin panas. Lihat saja sungai itu makin kering," ujar Kancil sambil menunjuk ke arah sungai dengan moncongnya.

Kalajengking turut membaur bersama mereka, "Tapi aku baik-baik saja, cuaca panas sudah biasa bagiku," katanya angkuh.

"Hei! Kalajengking, bagimu biasa, tapi tidak dengan kami," teriak Kepiting geram. "Kalau kau kesini mau duel, sini denganku! Kita beradu capit di sini!" lanjutnya sengit.

"Hei, hei, tenang dulu kawan. Kita di sini sedang ingin membahas persoalan yang dampak buruknya untuk kita semua. Kamu juga Kalajengking, meski kamu sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini, tapi apakah kamu mampu bertahan jika hutan ini terbakar habis karena panas matahari yang berlebihan?" Kancil coba menenangkan suasana yang mulai memanas itu.

Keledai yang sedari tadi bungkam memilih bersuara, "Kalian ini kenapa? Kita sama-sama hewan tapi membicarakan soal kerusakan bumi ini yang diakibatkan ulah manusia, dan hanya manusia itu sendiri yang bisa mengatasinya."

Semua terdiam mendengar ucapan Keledai barusan.

"Sebaiknya kita pergi saja mencari makan dan minum, untuk membuat kita tetap bertahan hidup. Dan untuk Kalajengking dan Kepiting, sebaiknya capit kalian digunakan untuk mencari mangsa saja, bukan untuk diadu," nasehat Keledai.

Sejurus kemudian, mereka beranjak pergi dengan kepala tertunduk. Kepiting dan Kalajengking berjalan dengan saling bergandengan capit. Kepiting yang cara khasnya berjalan ke kiri, ke kanan itu, menyeret Kalajengking bersamanya. Melihat kejadian lucu itu. Kelinci, Kancil, Kerbau, dan Keledai tertawa lepas. Kepiting dan Kalajengking menoleh ke belakang, dan ikut pula tertawa.

Ah, andai saja manusia bisa tertawa layaknya mereka.

Akh! Pologi

Sebagai seorang blogger, tentu saja saya pemerhati tulisan-tulisan yang malang melintang, membuana, di jagad semesta maya ini. Dan saat tulisannya Eko Paputungan nyungsep ke dalam kolom chat saya lewat BC. Jempol saya tentu sangat tertarik untuk menekan enter (ta lebet).

Wuih! Kaget bukan kepalang saat membaca tulisan tanggapan Eko yang sebagai Ketua HMI Bolmong (http://ekspap.blogspot.ca/2013/11/yukur-moanto-kakanda-katamsi-tapi-ide.html?m=1) atas tulisan Bang KG (Katamsi Ginano) kemarin di blog Kronik Mongondow (http://www.kronikmongondow.blogspot.ca/2013/11/gerombolan-itu-bernama-hmi-bolmong-raya.html?m=1).

Sewaktu saya membaca tulisan Bang KG kemarin, yang menyoal demo HMI Bolmong, Senin (25/11), yang datang "menjambani" rudis Walikota. Sebenarnya bukan tonteek-tonteek dan loleke di tulisannya yang sinisme itu ― yang perlu diperhatikan. Tapi kritikannya atas tindakan trespassing (masuk tanpa izin) yang dilakukan sekumpulan pendemo ke halaman rudis Walikota. Di desa saya di Passi, orang yang masuk tanpa izin, "so salah dua-A, adat deng aturan (hukum)". Tentu saja bukan hanya itu substansi dari tulisan Bang KG. Dan saya akan terus mengikuti "debat" blog kalian nantinya (hitung-hitung dapat ilmu).

Tulisan ini bukan bentuk apologi kami (lintasbmr.com). Ini pure datang dari gelinjang dodobku, karena nama media tempat saya mengais rezeki disebut-sebut dalam tulisan Eko. Menyoal carep yang salah menginformasikan, atau salah memberi data berita kepada redaktur kami. Dan yang lucunya juga, carep yang meliput demo itu terdaftar sebagai anggota himpunan yang dipimpin Eko itu sendiri. Tapi tentu saja bukan ke-organisasian itu yang menjadi soal, dan sebagai patner kerja, saya akan membela, karena data yang sudah teman saya kirimkan tak ada satu pun kesalahan.

Di tulisan Eko, redaktur kami Uwin Mokodongan memberi komentar: "Bung Eko, ada sepenggal jawaban yang saya sisipkan di sini, terkait kebingungan Anda soal pemberitaan lintasbmr.com yang menurut Bung keliru. Saya mulai lewat kutipan ini: "... hal itu terjadi ketika pihak Satpol PP Pemkot KK yang dikepalai Sahaya Mokoginta hendak mengamankan massa pendemo yang memasuki Rumah Dinas Walikota" dan "… massa demonstran mulai berarak memasuki halaman Rumah Dinas Walikota."

Jawaban Uwin adalah: "Data yang kami dapatkan melalui wartawan saat meliput langsung demonstrasi HMI Bolmong Raya, adalah demikian. Saya bentangkan kutipannya: "... berdasarkan pantauan lintasbmr.com di lokasi demonstrasi, hal itu terjadi ketika pihak Satpol PP Pemkot KK yang dikepalai Sahaya Mokoginta hendak mengamankan massa pendemo yang memasuki Rumah Dinas Walikota."

Selanjutnya: "... saat massa demonstran tiba di kantor Pemkot KK, mereka kecewa karena Walikota dan Wakil Walikota tidak berada di tempat karena tengah menghadiri acara yang dilaksanakan PGRI Kotamobagu di Gedung Siti Barokah. Geram karena Walikota tak berada di kantor, massa demonstran akhirnya memilih berarak ke rumah dinas Walikota yang terletak hanya beberapa meter dari kantor Pemkot KK. Mereka bergerak ke rumah dinas sembari terus berorasi."

Pertanyaan Uwin: "Mana data yang salah di atas yang membuat Bung garuk-garuk kepala? Dan mengatakan tak ada kesesuaian antara fakta lapangan dan pemberitaan?

Ah, Eko... Saya ingin membaur sedikit, soal hujat-menghujat, sepertinya Anda lebih paham soal itu, karena BC Anda kemarin, saya tak mungkin keliru menyimak nama salah satu hewan disebut.

Hahahaha.... "Jangan meludah melawan angin!" cubit Nietzsche.

Dan untuk fabel, "Udang bicara Kepiting, ketika dibakar sama-sama berubah warna menjadi merah," yang Anda artikan sebagai: "Mengkritik orang lain padahal diri sendiri masih sering melanggarnya."

Saya tidak akan menggaruk-garuk kepala untuk itu. Tepok jidat!

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Saturday, November 23, 2013

Patung Bogani

Hiruk-pikuk Kota Kotamobagu dengan terik matahari yang bertengger di ubun-ubun pada pukul dua belas siang, memantik didih yang memuaikan segala baja. Tapi tidak dengan sebuah patung yang berada tepat di pertigaan Osion, Kotobangon. Meski bersikutan dengan seutas jembatan yang di bawahnya ada alir sungai, tak membuatnya tampak segar. Tapi ia tetap terlihat tegar.

Patung Bogani. Fatamorgana yang meruap sebab panas kulit aspal, memanggangnya dan menghanguskan seketika jamur-jamur musim penghujan yang menyelimuti dan melumuti kulitnya. Cat kecoklatan dan purba di sekujur tubuhnya seperti mengisyaratkan: aku sejarah yang terlupakan, aku hanya seonggok patung yang ter-vandalis oleh ketidakpedulian, dan istirah di belukar salah satu bukit yang mencuat, mendinding Kotamu. Di bukit Tudu Passi. Pun belulang yang terserak di seantero kandung bumimu.

Satu dua hal yang menambah kesedihan; seliweran kita para liliput Bogani, apakah masih sempat menjelikan pandang dan memikirkan hal yang biasa itu menjadi tak biasa? Seonggok patung yang dengan kekar dan perkasa, memaksa bertahan dari sejarah yang mengelupas dan akan binasa, ia butuh sekerjap tatap. Atau kita memang benar-benar telah melupakannya?

Dari sekian banyak patung-patung yang hanya mengilustrasikan sosok wajah, patung Bogani adalah salah satu patung yang memiliki eksistensi sepenuhnya, dari mulai: bentuk tubuh yang ideal bagi penggambaran sosok manusia, senjata tombak, dan tameng siaga di genggamannya. Patung ini tak hanya sekadar penanda ke kiri, ke kanan, atau berpusarnya puluhan kendaraan. Ia adalah kabah-nya Bolaang Mongondow.

Mungkin dibandingkan dengan ratusan patung bersejarah dan arca-arca galian di pelosok negri, patung Bogani memang tak setara. Patung ini, yang menjadi hiasan sebuah kota, yang cenderung meramaikan lanskap sebuah perkotaan, yang seharusnya dirawat dengan baik, terbengkalai begitu saja. Siapa yang mau berpose dengan patung ini? Mungkin hanya orang udik yang rela. Tapi setidaknya, mereka yang udik lebih memahami apa itu bentuk kesederhanaan dan penghormatan sejarah. Orang-orang yang rela berpose dan udik itu, lebih mulia dari mereka yang berdasi, mereka yang enggan.

Entah engkau dibikin dari lempung, semen, atau sekumpulan raga yang terbuang. Saya akan sangat dengan bangga memunggungimu dan bergagah-gagahan sekalipun setara tengkukmu. Saya anak Bolaang Mongondow yang akan terus bertanya, "Ki ine nomia kon patong Bogani?" (Siapa yang membuat patung Bogani?)

Penelusuranku tak sia-sia. Setelah menjaring beberapa link di internet. Saya dipertemukan dengan salah satu blogger (http://graceeditha.wordpress.com/2010/10/18/alex-b-wetik-ayah-teman-guru-ku/) yang ternyata adalah putri kandung dari seniman asal Minahasa yang melukis patung Bogani. Grace M. E. Wetik namanya, putri dari sang seniman Alex B. Wetik. Terima kasih untuk karya besarmu pak Alex.

Mari berpose!

Monday, November 18, 2013

Syam, Bukan Matahari (Cerpen Nukila Amal)

SYAM, tak seperti namanya, bukan seorang matahari. Ia antitesis cahaya dan segala yang terang. Semisal lukisan, ia bukan figur di tengah yang terang-benderang berdiri gagah berkacak pinggang, namun siluet gelap berjubah hitam yang bersandar di sudut. Siluet yang mengamati segala di sekitar, di dalam dan di luar lukisan.

Syam manusia temaram. Yang cemerlang adalah benaknya. Dan matanya. Matanya menatap tajam wajah dan tingkah-polah orang-orang di sekitarnya. Menghunjam cemerlang, daya hunusnya kerap membuat orang tak nyaman, dan mereka dalam hati menganggapnya menjengkelkan atau menggentarkan.

Matanya bisa tak berkedip lama, menatap siapa pun yang bicara di depannya. Jika ia sedang begitu, hanya Tuhan dan dirinya yang tahu apa yang sedang ia pikirkan. Syam seorang ironis sejati, bicaranya kerap tampak berlawanan dengan akal sehat banyak manusia. Ini dilakukannya nyaris tanpa usaha. Ia memasang muka jernih, muka bingung, muka jemu, muka tolol, muka dingin, muka apa saja sesuai orang yang dihadapi. Tetapi, selalu ada jejak semacam sinisme halus, keisengan, kalau bukan kekurangajaran.

Jejak itu sudah permanen, apa pun ekspresi wajahnya. Lalu Syam menjawab bicara setelah membiarkan mereka bicara panjang-lebar secara sok aksi dan bergaya. Keterampilan bicaranya yang tenang tapi akrobatik mampu menjungkirbalikkan pikiran dan perasaan orang-orang. Ia mampu mengeluarkan sifat paling buruk dari dalam diri seseorang. Orang-orang, yang umumnya berlalu darinya dengan satu kesimpulan serupa: ia bajingan, sembari menyesali dan mengutuk hari perjumpaan dengannya. Bicaranya kerap baru dipahami orang-orang seminggu, sebulan atau setahun kemudian, seakan punya masa inkubasi tertentu. Maka suaranya lalu terngiang menyiksa jam-jam larut mereka sebelum tidur, mencabik kepastian dan kepalsuan diri mereka sebagai manusia. Ia sangat mungkin sering muncul dalam mimpi buruk sejumlah orang.

Syam, sesekali saja melihat terbit matahari. Jarang berbaju rapi, atau mencukur jenggot dan rambut. Sekilas ia tampak awut-awutan, tapi jika diamati lebih dekat, kuku-kuku tangannya selalu pendek dan bersih. Sebersih kemeja dan telinganya. Perawakannya tinggi kurus, seakan tidak teratur makan—dan memang demikian adanya. Ia makan tiga kali sehari hanya jika sedang bersama ketiga sahabatnya—Batara, Anya, dan Ale. Syam lebih suka mengurung diri membaca buku. Begitu banyak buku dihabiskan dalam kecepatan di atas rata-rata orang. Ia suka mengutip perkataan atau tulisan siapalah yang sesuai kesempatan apalah—sering ia lakukan untuk sekadar menjengkelkan ketiga temannya. Ia mengutip Heraklitus atau Konfusius, Isutzu dan Lao Tzu, Charles atau Jean Fourier, Ibnu 'Arabi dan Hammurabi, Novalis, dan sejumlah novelis. Juga Rilke dan Roethke, atau penyair Cina dinasti T'ang dan penyair Polandia pascaperang. Jika tidak sedang mengutip, Syam senang mendefinisikan. Maka, cinta adalah "lirisisme cengeng berdua bertiga berjamaah", keseksian adalah "kemampuan untuk merefleksikan kenikmatan potensial."

Syam sudah sering mempermalukan para sahabatnya. Ketiganya mesti menanggung malu oleh ujar atau ulah Syam di pelbagai acara pergaulan. Biasanya melibatkan korban yang menantang berkelahi, sakit hati atau menangis.
"Oh, benjol memar biru ungu…."
"Nggak bakal begini kalau kamu tadi pura-pura pingsan."
"Atau pura-pura cacat. Pulang sana…."
Begitulah ketiga temannya mengeluh dan mengumpat sepulang dari suatu acara. Syam tak menjawab, ia santai rebahan di sofa dengan kompres es batu di dahi.
 .
SYAM dulu tak seperti ini. Syam 1.0 seambisius pemuda-pemuda lain seumurnya, menatap penuh harap masa depan yang masih panjang terbentang, menerakan mimpi-mimpi sepanjang jalan. Syam dulu bersinar-sinar seperti nama Arabnya. Ia arsitek, penganut dan penganjur penggunaan bahan-bahan setempat dalam bangunan yang dirancangnya. Ia tak peduli dengan konsep arsitektur modern yang diterapkan rekan-rekan arsitek—mereka yang tentu kariernya lebih laju—dan kerap menolak proyek properti kepingin modern yang tak menerima konsep "muatan lokal" yang diajukannya. Begitu banyak prospek yang dilewatkannya begitu saja. Ia lebih mirip tukang ketimbang arsitek, mengerjakan sendiri detail bangunan sembari menebarkan ilmu pada mandor hingga kuli bangunan tamatan SMP . Jika sedang tidak menggambar di kertas kalkir besar, ia mencorat-coret sketsa di buku gambar besar. Ia juga suka mencorat-coret buku kecil, atau mengetik di laptop. Sesekali ia menulis sejumlah esai kritis yang panjang, tak hanya tentang arsitektur namun melebar ke hal-hal lain. Sesekali ia pacaran, datang ke pesta-pesta, naik-turun gunung, ke kelab jazz—cara-cara melupa yang dapat dimengerti manusia.

Di akhir 2005, tiba-tiba segala berubah. Sesuatu telah mengubah Syam luar-dalam. Sesuatu yang biasa terpandang mata, namun mampu membelokkan dan menekuk takdir seseorang dengan teramat fatal. Sesuatu yang akan sangat dikenali seseorang, takkan pernah tampak sama di matanya, menjelma doa dan mimpi buruk, membayang pada benda yang disentuh dan wajah yang ditatap, melekat di langkah kaki sepanjang jalan. Adalah air yang telah meredupkan matahari dalam diri Syam. Matahari yang dulu tak garang kini tinggal temaram.
Air telah mengingkarinya. Mengingkari umat manusia dan kepastian matematika hitungan mereka. 1 + 1 = 2 tak berlaku bagi air. Setitik tambah setitik tetaplah setitik air. Titik-titik air yang bergabung-gabung memperbanyak diri. Merambah pergi dari Sumatra ke Jawa dan entah ke terus ke mana, menyusuri pelan-pelan jarak, menjelma jadi segala warna dan rupa. Selalu akan dikenalinya. Air yang cuma singgah. Sementara. Seperti dirinya.

Air telah singgah menerjang kampung halamannya, menjelma jadi luapan bah dengan mahadaya penghancur apa pun dan siapa pun. Dan Syam tak ada di sana, berada jauh dari segala mala, dari keluarga. Mereka yang mesti mengalah dalam kuasa air, tertelan di dalam murkanya yang buta. Syam tiba di sana pada hari kedua, ketika mayat-mayat masih segar berlumur lempung berserakan di jalanan. Telah beberapa tahun lalu, namun masih seperti kemarin dirasakannya, masih keluar dalam mimpi buruk berulang yang terus menghantui malam-malamnya.

Air bah telah mengubah Syam jadi pertapa, ia tiba-tiba seakan bertambah tua. Uban tiba-tiba memenuhi kepalanya, wajahnya dibiarkan berjanggut. Ia mengalihkan cicilan apartemennya pada seorang rekan arsitek lajang yang masih ingin bermimpi dan ia pindah ke rumah pamannya, menempati paviliun teduh yang telah lama kosong. Di suatu malam paman tertuanya telah meminta, "Syam, tinggallah di sini…." Bibinya telah lebih dulu berlinang. Ini terjadi setelah Syam sempat lama menghilang dari Jakarta. Ia pulang kampung mengerjakan proyek pembangunan rumah-rumah yang hancur bersama beberapa teman arsiteknya. Ia juga membangun kembali mesjid dan SD bersama para penyintas di kampungnya. Ini kerja konstruksinya yang terakhir kali, ia lalu berhenti sama sekali.

Syam di malam-malam hari sering bercakap dengan bibi, paman, bibi tertua yang sudah agak pikun dan sepupunya yang masih sekolah. Selalu ia menghindari percakapan tentang masa lalu atau kampung halaman mereka. Ia kemudian lebih banyak mengurung diri di kamar. Sesekali ia menghilang pergi entah ke mana, tak berkabar. Kemudian muncul lagi di Jakarta. Di banyak akhir pekan, ia ke rumah Ale dan Anya, namun lebih sering bercakap dengan Om Nala, ayah si kembar. Topik obrolan mereka seakan tak pernah habis, juga punya lelucon sendiri yang hanya dimengerti keduanya. Lalu Anya dan Ale merasa sebal dan pergi tidur. Sesekali Syam kelamaan mengobrol lalu menginap di kamar tamu atau di kamar Ale.

Ketiga temannya sering datang menyambangi paviliun Syam. Mereka sering datang mengendap-endap mirip pasukan khusus dalam misi rahasia. Masalahnya, bibi tertua suka mencegat dan menyuruh mereka duduk dulu membaca surat-surat Alquran. Bibi tertua mendengarkan sambil manggut-manggut setuju jika lafalan mereka benar dan memarahi dengan galak jika keliru. Ketiganya sungguh gentar dibuatnya. Batara memakai kalung salib besar jika ke sana, sebab bibi tertua sering lupa dan selalu ia kena giliran pertama.

Mereka saksikan bagaimana kamar Syam kian lama kian dipenuhi buku-buku. Berjejer di rak, bertumpuk di atas lantai, berserakan di meja tulis. Meja arsitek tak lagi ada, bernasib sama dengan sejumlah piranti arsitektur yang dihibahkannya. Syam masih sering menulis. Beberapa esai panjang-pendek masih ditulisnya. Ada yang dikirimnya untuk publikasi, ada yang tidak. Dua kali ia menerjemahkan novel tebal yang ia suka. Satu kali ia iseng menulis novel lebih tebal. Itu sebuah novel aneh; judul, isi, juga nama penulis—anagram dari nama aslinya—namun novel aneh itu dipuji para kritikus padahal sesungguhnya mereka kebingungan. Tak ada foto penulis atau riwayat hidup, peluncuran buku, wawancara, Syam hanya bersurat dengan penerbit. Cuma tiga temannya yang tahu siapa penulis novel serba aneh itu. Hanya Anya yang membaca novel aneh sampai tamat, Ale menyerah di bab lima, Batara membeli tapi tidak baca sama sekali. "Dengar bicaranya saja aku mau semaput, apalagi baca buku tulisnya."

Saat itu tak seorang pun menanya, di kemudian hari akan ada pula "buku tulis Anya".
KAKIKU berat di atas tanah. Dalam satu sapuan mata, kulihat segala berserak. Kudengar gumam istighfar berulang, begitu samar, gamang, hingga kuragukan jika kalimat itu memang milikku, jika keluar dari mulutku, ataukah langkah kakiku. Apakah kakiku menapak satu-satu, ataukah panjang-panjang berlari.Yang pasti hanya rasa keintiman lama itu, seperti mengenali wajah seseorang yang bertahun-tahun kemudian kutemui, namun ia terlanjur jenazah. Wajah yang masih kukenali, tetapi raut mati.

Ini kampung yang pernah. Jalanan yang pernah. Aku mencari jejak rumahku. Jalanan penuh puing dan rangka bangunan, lumpur serupa enamel yang melapisi semua yang pernah. Semacam bebauan bergerak di udara, di atas kelupas aspal dan gelimpangan mayat. Begitu banyak mereka…. Bau ini, kutahu kelak akan menghantuiku di antara banyak aroma lain di tempat-tempat lain. Maka aku menukar aroma itu dengan harum gardamun di kain ibu, wangi deterjen kemeja ayah saat salat Jumat, semerbak tiga tangkai mawar di tangan adikku, melati kering di seprai nenek.

Kukenali masjid. Empat dinding putihnya masih berdiri tegak menandu kubah, tak berpucuk. Di halaman masjid, seseorang berwajah putih mengangkat bulan sabit dan bintang jatuh. Di langit, matahari seperti daun melayang. Pecahan kaca dan patahan kayu timpa-menimpa dengan pohon tumbang dan bongkah beton di mana-mana.Tak jauh dari masjid, kedai nasi yang pernah. Tempat aku dan ayahku duduk minum kopi di sore-sore hari seusai mengaduk semen dinding mesjid bertahun lalu.

Kukenali dua tiga wajah akrab tetangga. Mereka berwajah putih. Mereka bukan mendiang, telah diluputkan maut. Sedang yang berserakan, wajah-wajah mereka berwarna lempung. Aku tak tahu apa warna wajahku.

Rumahku. Dinding-dindingnya masih tegak berdiri meski rompal, mengangakan luka. Berserakan bilah-bilah kayu, bongkahan bata kelabu, retakan ubin dan kaca. Kukenali setiap detail yang pernah, suatu kali telah tergenggam tanganku dan ayahku. Kami membangun kembali rumah tua warisan kakek, dalam satu pulangku ketika cuti. Dengan lihai aku mengamalkan ilmu dan pekerjaanku di ibukota. Aku buruh yang menyusun batu-bata, aku arsitek yang menggambar cetak biru rumah, aku pengunjung yang datang tak teratur. Ke rumah yang pernah.

Kukenali seketika. Ayah, ibu, nenek, adik. Wajah mereka jernih bersenyum. Mereka duduk di atas tikar pandan, mendengarkan nenekku menyanyi lagu berbahasa lama yang tak kumengerti, seperti pernah dulu kala. Nenek jeda menyanyi, menyapaku, "Kau sudah pulang." Mereka tak sedih, sebab "Maut datang terlalu cepat untuk sempat bersedih, biarlah kau ingat kami dalam bahagia ini." Wajah-wajah mereka lempung cemerlang. Mereka melambai, gerak menyuruh pergi. "Mulailah kerjamu di sini."

Aku berpaling. Kurasakan air di lempung wajah mereka, air di pipiku dingin, apa bedanya. Aku tak tahu apa warna wajahku. Melangkah keluar, di jalanan kulihat seorang anak lelaki berwajah putih, memeluk sebuah sisa tiang. Ia menatapku, tertawa senang memperlihatkan gigi putih susu. Ia menandak-nandak gembira, melompat, menari, masih tertawa. Aku menghampirinya, heran mengapa ia begini riang di tengah semua yang muram.

Anak lelaki menatapku, dahinya berkeringat oleh tarian dan lompatan. Peluh turun ke bajunya yang berdebu, ada banyak bekas luka di badannya. Ia menyeka dahi dan mendongak menatap wajahku yang menjulang. Jarinya memberi isyarat agar aku membungkuk ke arahnya. Aku membungkuk, menatap bola matanya yang bundar. Seakan kukenali ia.

Anak lelaki mengamati mata dan keningku, lalu menepuk-nepuk pipiku. "Air melukakan kita."
"Siapa namamu?"
"Syam. Kau sudah besar sekarang."
"Kau tak seperti yang kuingat. Aku… aku dulu tak seriang ini."
"Aku harus bergembira ria."
"Mengapa?"
"Sebab sudah harus begitu. Tambah malam, aku akan tambah bahagia. Mestinya kau lihat aku nanti jam dua belas malam nanti."
"Mengapa?"
"Sebab sudah harus begitu. Dirimu besok hari akan berduka, terlalu berduka. Maka aku, dirimu yang kemarin, harus melewatkan waktuku dengan sangat bahagia."

Anak lelaki berpaling, "Aku pergi dulu, temanku sudah memanggil. Dia tahu." Anak lelaki menunjuk ke arah seorang anak perempuan yang berdiri tak jauh, berbaju kuning-hitam dengan pita, tengah menatapku lekat. Kurasa anak perempuan memang sudah tahu.
"Sedih. Jangan. Berkepanjangan " Anak lelaki berkata sembari melompat tiga kali. "Bahkan mesjid ini pun akan berdiri lagi."

Anak lelaki berlari menuju temannya. Mereka lalu berjongkok dan bermain. Anak perempuan mulai menyanyi, suaranya bening tinggi, mengalir seringan udara. Sebuah kidung dalam bahasa lama.
Dan tiba-tiba bahasa lama itu kupahami. Anak perempuan menyanyi kidung tentang jelmaan-jelmaan air. Seiring kidung, segala warna dan rupa air berkilasan. Air di tepian mata, air di dahi anak lelaki, air yang menggumpal berarak di atas kepala, air yang mundur menuju cakrawala, air di dalam lumpur di kakiku, air di dalam tubuh para jenazah…. Air yang sama, yang pernah berayun di kelopak mawar adikku, di dahi ayahku kala subuh hari, gelembung sabun yang pecah di basuhan kain ibuku, kopi dan kue halia buatan nenekku…. Air yang sama, dalam banyak jelmaannya. Akan kukenali rupa dan warna mereka semua. Sedang aku masih tak tahu, apa warna wajahku—
Syam terjaga. Selalu, ia terjaga dari mimpi itu dengan dada sesak dan pipi lembab. Dirasanya ada jari yang menyeka pipinya. Syam membuka mata, melihat Anya tengah membungkuk ke dekatnya dengan mata risau sambil memanggil namanya, "Syam, Syam…."

Dalam beberapa lintas detik Syam melihat Anya berwajah putih anak kecil perempuan berpita. Syam mengerjapkan mata dan kembali melihat wajah Anya yang biasa. Di latar belakang, dikenalinya bentuk-bentuk temaram di kamar tamu rumah Anya. Syam meraih jari Anya di rahangnya, mendekapnya erat-erat seakan tangan Anya sauh terakhir tempat berpegang seusai laut terjauh. Anya berbaring di sisinya, tak bicara apa-apa.

Ruang temaram sempurna, hening begitu lama. Di suatu saat, manusia temaram bersuara. Suara Syam lamat-lamat mengalir ke telinga Anya, satu-satunya manusia di dunia yang ia ceritakan tentang mimpi itu. Anya merasakan denyut jantung di dada Syam, setiap hirup nafasnya. Syam merasakan basah mengumpul di bahu kemejanya. Tetes peluhnya, linang air mata Anya, apa bedanya. Anya masih tak bicara apa-apa hingga Syam selesai bicara dan ruangan kembali hening. Mereka berbaring seperti itu sepanjang sisa malam.

(Koran Tempo, 29 Januari 2012)
Powered by Telkomsel BlackBerry

Gelora Ambang

Jam 11.00 WITA. Mendung tebal menggantung di langit Kotamobagu Rabu (30/10), ketika saya dan seorang teman memutuskan ke Gelanggang Olahraga (Gelora) Ambang, Togop, Kota Kotamobagu.


Tak butuh waktu lama menemukan stadion yang pernah jadi kebanggaan di masa keemasan Persatuan Sepakbola Bolaang Mongondow (Persibom), kala Kabupaten Bolaang Mongondow dipimpin Bupati Marlina Moha Siahaan. Letaknya tak jauh dari pusat kota. Jika ditarik garis lurus, jaraknya dari kantor Pemerintah Kota (Pemkot) Kotamobagu hanya sekitar dua ratus meter.

Sekira tiga menit menerobos gerimis dengan sepeda motor, tibalah kami di lokasi tujuan. Pemandangan mengharu-biru segera menyergap: Gelora Ambang bak lahan tidur yang lama ditelantarkan dengan bangunan-bangunan tak terurus; tribun depan, yang didiami beberapa keluarga, dikerubuti semak-belukar. Lapangan tenis yang sukar dikenali lagi, hanya lantai birunya yang tampak seperti biru langit di antara arak-arakan awan kelabu.

Kondisi tadi belum seberapa. Saat kendaraan roda dua kami merangsek ke dalam, tak ada lagi tameng yang mengitari lapangan sepakbola. Lapangan hampa tertembus pandang begitu saja. Kemuning tanaman jagung memasuki usia matang menyambut kami. Hingga sapuan tatapan ke sekeliling memupus, hanya tampak tanaman jagung dan belukar tak terawat. Semrawut. Tribun barat lebih mirip gelondongan kayu raksasa di hutan liar dan dirayapi segala jenis tetumbuhan simbiosis parasitisme. Seng atapnya karatan dan bocor di sana-sini. Cat tiang-tiangnya mengelupas dan juga berkarat.

Selagi asyik berkeliling, kami dikagetkan suara anak-anak kecil yang bermain riang di kolam renang. Lima sampai enam orang anak laki-laki dan perempuan sedang mandi di sana. Oh, ternyata masih ada juga salah satu fasilitas di sini yang bisa digunakan selain bangunan lainnya yang difungsikan sebagai tempat tinggal.

Hujan yang kian deras memaksa kami berteduh di tribun mini di area kolam renang. Sedangkan anak-anak itu kelihatan bertambah riang seiring makin melebatnya hujan. Mereka berteriak-teriak, tertawa, berlari di tepian kolam, meloncat, berenang, dan sesekali menyelam.
Di dekat kolam, ada seorang ibu yang biasa disapa Tanta Ebi sebagai penjaga kolam. Suaminya Romy Gunena adalah "juru kunci" Gelora Ambang. Tanta Ebi sendiri membuka warung kecil-kecilan yang lebih mirip kantin. Menurut Tanta Ebi, untuk mandi di kolam, setiap anak dipunguti biaya Rp. 3 ribu. "Dorang boleh mandi sampe malamise (mereka bisa mandi sampai gelagapan tenggelam)," ujar Tanta Ebi bergurau.

Hanya tinggal kolam berair dangkal, tempat anak-anak bermain itu, yang masih termanfaatkan. Sedangkan kolam besar di sebelahnya dibiarkan tak terurus; hampir seluruh ubin lantainya tertutup lumpur yang mulai ditumbuhi rerumputan setinggi betis orang dewasa.
Melihat anak-anak jumpalitan di kolam kemudian berlarian kecil ke tribun mini dan menikmati kudapan pisang goroho goreng, membikin perut saya tergoda lapar lantas memesan sepiring pisang goreng goroho yang disajikan dengan potongan-potongan kecil atau biasa disebut pisang stick.

Begitu hujan mereda, kami bergegas ke kantor Pemkot Kotamobagu setelah berpamitan dengan Tanta Ebi untuk menemui Asisten III, Dra Djumiati Makalalag untuk menanyakan status aset Gelora Ambang. Yang dituju sedang tidak di tempat. Kami menghubunginya lewat ponsel, namun tak terhubung. Setelah disusul dengan pesan singkat, ia membalasnya setelah berselang dua jam. Ia mengatakan bahwa aset itu belum ada penyerahan secara resmi dari Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Bolmong (Bolaang Mongondow). "Ada rencana pembahasan untuk penyerahan secara resmi nantinya, tapi waktunya saya belum tahu persis. Nanti coba ditanya kepada Sekkot (Sekretaris Kota) dan Kadis PPKAD (Kepala Dinas Pengelolah Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah)," balasnya di pesan singkat.

Harusnya kami berlama-lama di Gelora Ambang tadi. Agar lebih lama mengenang. Ada yang harus menggelora kembali. Miris mengingat kembali apa yang baru saja kami lihat. Dana milyaran telah habis digerus dari kantong rakyat hanya untuk biaya perawatan atau sekadar pugar sana-sini.

Pada masa penjajahan Belanda, infrastruktur yang dibangun oleh mereka hingga kini awet. Berabad-abad tetap bertahan. Karena mereka pikir akan hidup selamanya di negeri ini. Jika hal yang sama dipikirkan oleh para pihak yang menangani proyek pembangunan prasarana di negeri ini. Maka tak akan ada lagi 'tembok' di negeri (atau daerah) ini yang akan dibangun asal-asalan. Runtuh, remuk, dan punah seketika. Binasa tak tersisa. 

Rolling

Anda kenal The Rolling Stones?

Sudah tentu kenal. Grup musik rock asal Inggris yang berkiprah sejak tahun 1960-an. Stones menggemakan musik dan lirik-lirik lagu gila mereka hingga melesak ke dalam moncong gua Esa Ala. Semua negeri yang memiliki gua, pasti gaung musik mereka telah terdengar.

Kenapa saya jadi ingat grup band ini? Saat tengah berada di zona ritual rolling kabinet Pemerintahan Kota Kotamobagu. Seketika saja, salah satu lagu Stones, I Can't Get No melesat dalam ingat. Lagu yang mendapat urutan keempat lagu terbaik Stones. Agak sulit memang menentukan yang mana lagu terbaik dari sekian banyak album yang telah dirilis sejak awal mula mereka berkarir di dunia musik. Namun, upaya untuk memilah dan memilih itu dilakukan oleh Mojo (salah satu majalah musik terkenal di Inggris) saat ulang tahun Stones yang ke-40.

Nah, saat rolling kabinet, satu-satunya yang menghibur saya hanya lagu itu. Karena apapun soal rolling kabinet pasca peralihan tampuk kekuasaan. Pasti sangat membosankan dengan format repetesi, berulang-ulang ― sama ― dan kita sudah tahu, siapa yang didepak dan didapuk.
Seperti majalah Mojo, sebuah tabloid yang selalu memberitakan para pelaku seni. Maka sama halnya dengan media-media cetak maupun online di daerah ini yang memberitakan tentang mereka para pelaku kebijakan (dengan sedikit
terpaksa kata 'kebijakan' saya pakai). Ritual rolling selalu menjadi yang terhangat dan paling ditunggu-tunggu. Disaat pelantikan dan pengambilan sumpah, saya berani bertaruh, bukan nama Tuhan lagi yang mereka sebut, tapi nama si Ratu (atau si Raja).

Bicara soal loyalitas, para pemegang kekuasaan harus banyak mengoleksi film-film mafia, gangster, dan triad. Lucu jika melihat para penjilat yang seharusnya ditembak mati malah mendapatkan tempat yang layak, dan secara tiba-tiba berkelindan dengan majikan barunya sangat akrab. Sedangkan mereka yang begitu loyal dengan yang namanya 'atasan' bukan 'tuan', ditendang begitu saja meski kinerja mereka selama ini cukup baik.

Acapkali yang menjadi korban, pegawai-pegawai negeri sipil yang selama ini tanpa sadar tersesat dalam labirin kekuasaan. Sebagian ada yang hampir atau sudah menemukan pintu bertuliskan "Eureka!". Pun ada yang malah kembali ke asal mula jejak langkah. Namun, satu hal yang selalu menjadi pelajaran dari setiap pengembara karir, bahwa ada yang lebih kuasa di atas segala yang paling berkuasa di muka bumi ini. Dan kita seringkali dibisiki satu kalimat, "Tuhan tak tidur, dan selalu memberi jalan."

Bicara soal rolling kabinet memang bikin boring. Makanya saya tak panjang bicara soal itu (kurang paham juga). Tapi, disaat-saat bosan, Stones akan selalu menghibur kita sekalian para pencinta kegilaan yang selalu merdeka.

Mari terus menggelinding!

When I'm watchin' my TV
and a man comes on to tell me
how white my shirts can be.
Well he can't be a man 'cause he doesn't smoke the same cigarrettes as me.
I can't get no, oh no no no.
Hey hey hey, that's what I say.

Wednesday, October 30, 2013

Ya Atau Tidak

Deru angkot tua satu-satu memecah subuh yang masih gelap. Semburat sorot lampunya memotong embun-embun tebal padat membungkus pagi. Dingin masih mencengkeram. Tapi, pagi ini, ada manusia paruh baya dengan temali mengebat erat di genggamannya. Dua punuk lembu tampak menonjol basah menghela gerobak penuh muatan, merayap tegas menembus kabut tebal di lindap subuh itu. Pemandangan yang membuat suasana pagi itu segar seperti senyum lelaki.

Gerobaknya berkejar-kejaran dengan beberapa orang di tepi jalan. Orang-orang dengan sajadah terkulai di bahu. Mereka sedang menuju rumah Tuhan. Lain dengannya yang mau ke pasar dengan tumpukan kayu yang harus ia lekaskan pagi ini. Entah siapa yang sedang benar-benar ke rumah Tuhan.

"Mamonag pa o (mau ke bawah dulu)," sapanya.

"O'o (iya)," serempak mereka menyahut.

Yang di atas memang harus menengok ke bawah dan menyapa. Tapi, sekali lagi, entah siapa yang benar-benar di atas dan di bawah. Nasib seringkali sulit ditebak. Seperti putaran roda gerobak.

Selang empat puluh menit, ia pun tiba di pasar. Tumpukan kayu di atas gerobak dihempaskannya ke bahu jalan. Kemudian dirapikan kembali dengan segera. Siap dijual.

Satu jam ia menunggu dengan dua batang rokok saja. Pasar makin ramai seiring pagi merekah disiram cerlang cahaya mentari. Kerumunan orang bertengkar dengan lalat dan terik ketika matahari merangkak naik kian tinggi. Ini pasar tradisional yang multi dimensional. Ratusan lapak pedagang dengan aneka jualan, terlihat serupa menjajakan nasib.

"Bole lima ribu satu ika (apakah boleh lima ribu seikat)?" seorang ibu menawar.

"Lima stenga jo, Bu," sahutnya, meminta tambahan lima ratus perak.

"Lima ribu jo kwa'," si ibu tak hendak surut dengan tawarannya, berjongkok, menepukkan tangan pada seikat kayu.

"Iyo jo dang (baiklah)," pasrahnya. Pikirnya, di jaman ini masih syukur kayu bakar bisa bersaing dengan bahan bakar lainnya, sembari pandangan matanya menyaput jejeran tabung gas elpiji dari sebuah toko yang baru saja dibuka pemiliknya.

Usai membayar, si ibu berlalu. Hampir sejam kemudian baru ada lagi pembeli yang menghampirinya.

"Brapa satu ika (berapa seikat)?" tanya pembeli itu.

Ia mendongak ke arah datangnya suara, tersenyum, "Anam ribu, Bu (enam ribu, Ibu)."

"So nimbole kurang (apakah tak bisa kurang)?" si ibu yang berjongkok di samping ikatan kayu mengerling kepada si penjual.

"Lima stenga jo (lima setengah saja)," dia menegaskan harga.

"Ampa ribu jo (empat ribu saja, ya)?" tanya si ibu berharap mendapat harga lebih rendah.

"Adoh, nimbole noh (aduh, tidak bisa)," jawabannya kukuh dengan raut wajah tetap ramah.

Kala tawar-menawar itu tengah berlangsung, tiba-tiba puluhan polisi pamong praja datang menyerbu.

"So bilang nimboleh bajual sini (sudah dikatakan tidak boleh berjualan di sini)!" teriak beberapa orang di antara mereka.

Ada yang kocar-kacir, namun tak sedikit yang memilih tak beranjak. Beberapa perempuan tua, yang kesehariannya berjualan di tempat itu, hanya bisa melongo dan sesekali berbisik mengumpat. Barangkali, mereka ingin protes dengan sikap semena-mena dan jauh dari sopan-santun itu.

"Nogiboli don kami bo tantu bi' angoyon bongkaron (kami sudah membayar, tapi masih saja selalu digelandang)," keluh seorang nenek.

"Deeman natua , inde. Kaka andon pinomiaan pasar nobagu pomampingan bo moiko doi' bi' maya kon tua (bukan begitu, nek. Kan sudah dibuatkan pasar baru untuk pindah, tapi kalian tidak mau ke sana)," seorang polisi pamong praja menjawab sengit.

Para polisi pamong praja tak ingin terlibat depat panjang. Tugas mereka adalah bertindak menertibkan pasar tersebut dari pedagang yang membangkang keputusan pemerintah kota setempat. Cepat dan cekatan membongkar tumpukan jualan dan lapak para pedagang.

Si penjual kayu tak luput dari gerudukan petugas ini. Tumpukan kayu bakar jualannya bak dilalap api, diangkut kawanan pamong praja, tak tersisa dari tempatnya, senasib dengan jualan pedagang lainnya yang membuat pemandangan di pasar itu menjadi kering kerontang.

Gerobak sapi sewaan tadi pagi sudah ia titipkan ke salah seorang tetangganya –yang juga sesama pedagang di pasar itu—untuk dibawa pulang. Istri si tetangga masih di sini. Mereka bersitatap, bungkam, dan nanar. Hampa.

Sejurus kemudian, si pedagang memecah kebisuan, "Bain don tumakoy kon bentor kita mo buyi (nanti naik becak motor saja kita pulang). Semburat ucapan dari bibir yang nampak kering dengan nada bergetar, yang disahuti dengan anggukan si perempuan.

Mereka baru hendak mengangkat kaki, ketika suara gaduh teriakan sekelompok orang mengagetkan penghuni pasar. Keributan belum usai rupanya.

"Ini pasar torang punya (pasar ini milik kami)!" koar mereka yang baru tiba.

Sepertinya mereka lagi. Sekumpulan orang yang mengaku sebagai "ahli waris" lahan pasar ini. Lahan pasar ini, memang, masih menjadi sengketa dengan pihak pemerintah kota. Lahan tempat menggantung nasib ternyata nasibnya pun masih menggantung. Ada yang gagu menatap mereka dengan mata berbinar ambigu. Entah airmata jenis apa yang pantas diteteskan untuk menangisi perilaku mereka –sudah menjadi rahasia umum karakter orang-orang penuh klaim ini.

"Mo buyi don kitada mani'ka, topilik mo kacau don naa (lebih baik kita pulang saja, sebentar lagi pasti terjadi kekacauan)," ajaknya.

Mereka berdua bergegas ke tempat biasanya becak motor mangkal. Memilih pulang dan berharap sesegera mungkin sampai di rumah, jauh dari carut-marut pasar: tempat nasib mereka saling bertumpuk, mematungi hari-hari dengan menghitung kibasan lembar uang, dan tempat di mana kata "ya" atau "tidak" paling sakral dilapalkan.

Pada akhirnya, ada yang harus berkata "ya" untuk sengketa pasar, walau sebelumnya gigih mengatakan "tidak". Sama seperti mantra dalam tawar-menawar yang abadi antara penjual dan pembeli: "ya" atau "tidak".


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, October 25, 2013

Abu-Abu

Rimba terlalu sepi malam ini. Ada ketakutan menelan jutaan siluet pepohonan. Segala hewan nokturnal memilih bungkam dan sepertinya lebih diam dari mati. Malam ini, hantu pun enggan menggoda.

Satu jam. Dua jam. Tiga jam. Terdengar suara rumput kering saling bergesekan. Tak ada yang bisa memastikan suara apa. Jika saja seekor Otus manadensis rela bertengger di cabang basah. Menyergap tanpa suara, tanpa kepakan sayap. Tapi malam ini. Semua mati. Kecuali daun kering itu.

Hutan di rimba masih terus menutup mata. Hingga sederak batuk memecah. Segala yang mati di rimba ini kembali bersedia hidup untuk menyaksikan siapa yang berani mengalahkan ketakutan malam ini. Tampak tak jauh sosok ringkih menyeret kaki melukis sepanjang tanah dengan satu warna. Gelap. Langkahnya coba memetakan dunia. Kini, ada seekor Otus mengintai. Otus yang bisu.

Ada yang kembali mendidih di lehernya. Dan batuk berderak untuk kedua kali. Kabut tersingkap oleh suara itu. Satu dua gemintang mengintip. Disusul puluhan, ratusan, jutaan, dan tak terkira lagi. Seketika rimba dan langit diramaikan batuk.

Terlalu lama di gulita sosok itu makin misteri. Kenapa ia memilih gelap jika di luar sana ada yang menawarkan cahaya. Tapi gelap seringkali menajamkan indra. Jika ditanya kepada orang buta apa warna kesukaannya, ia pasti mejawab gelap, bukan hitam. Ia tak pernah diberi kesempatan mengenali warna. Alangkah bodoh bertanya warna kepada buta. Jika ditanya apa yang paling ia damba, mungkin ia menjawab, cahaya. Tapi sekali lagi pertanyaan bodoh. Pernahkah seseorang ditanyai sesuatu yang jawabannya tak pernah ia kenali.

Satu demi satu makhluk malam bermunculan dari lubang gelap di tegap pepohonan raksasa, dari balik batu, rerimbun semak, kulit tanah, dari angin. Tiga kunang-kunang meloncati udara. Jangkrik-jangkrik memetik kecapi. Kini riuh di rimba. Orang itu menghidupkan. Tapi ia bukan Isa. Yang tadi mati ingin berterima kasih. Tapi ia bukan Sulaiman yang bisa membalas ucap. Ia terhenti, duduk pada batu seukuran pusara. Selonjoran dengan sepuluh jemari kaki mau menggaruk langit dan punggung kaki yang penuh lintah. Semakin jelas. Ia bukan hantu. Meski baunya persis cacing tanah.

Kenapa hantu kebanyakan digambarkan dengan dua warna saja. Hitam putih. Kenapa tak abu-abu. Pertanyaan itu membatu. Menunggui pantat yang siap menduduki. Lihat, ia masih bisu seperti batu yang abu-abu.

Pepohonan makin merangkul. Memaksanya menghidu udara kematian. Meremas paru-parunya yang ternyata telah berpuluh-puluh tahun bergelayutan pada rating rapuh. Ah, malam selalu menyimpan rahasia. Ia yang kini tak lagi mendamba cahaya. Apalagi gelap sedari janin menyelaputi binar matanya yang, kini diitari keriput abadi. Ia hanya ingin mencari sebongkah batu abu-abu dengan meraba. Untuk pusara yang nanti menduduki jenazahnya.

Rimba kembali semati batu. Hanya Otus yang benar-benar mengenalinya. Ia bukan jantan, bukan betina. Ia abu-abu.

Powered by Telkomsel BlackBerry®







Tuesday, October 15, 2013

Inisial KG Untuk Tiga Nama (Perjumpaanku dengan Bang KG)

Ada yang menggelinjang di dalam dada saat dikabari Papa Attar (sapaanku buat Ahmad Alheid) sedari pagi kemarin, kalau ia akan berkunjung ke Kotamobagu untuk sekadar bertemu, bertepuk dada dan merangkul punggung kawan purbanya Katamsi Ginano yang saat ini sedang mudik Lebaran Qurban.

Aku bakalan ketemu sekaligus dengan para "Dewa" tinta ini, pikirku. Juga dengan istri dan putra semata wayangnya Papa Attar: Rini dan Attar. Aku memanggil anak ini "Attar si Penyair" sebab namanya yang mirip penyair sufi dari Persia. Melihat Attar jadi ingat Abang dan Ateng putranya Amato Assagaf yang, kemarin malam ikut begadang dengan kami di Rumah Kopi Korot.

Mereka, adalah "kebetulan-kebetulan" lainnya yang Tuhan Maha Kebetulan remah-rotikan di takdir hidupku. Cerita kisah mereka tinggal kupunguti satu-satu dan kukantongi. Selalu kusimpan untuk membantu menuntunku ke arah pulang kelak. Aku jatuh cinta dengan cara Tuhan mempertemukan kami. Direkatkan lewat tulisan yang menggetah. Getah Semesta.

Akhirnya, KG dan KG ketemu juga. Inisial KG yang pertama untuk diriku sendiri, Kristianto Galuwo. Sedangkan KG yang kedua untuk Katamsi Ginano.

"Nah, ini dia baru da cumu-cumu tadi, umur panjang skali ni Sigidad," ujarnya yang terbahasa klasik dan digagap-gemakan beberapa orang lainnya. Batinku menyahut; ini dia si empu blog Kronik Mongondow yang serupa penyakit kronis bagi para pejabat "nakal" di BMR.

Kami pun bersalaman, disusul kepalan tinju kanannya menantang akrab. Kuseruduk saja dengan kepalan childhood-ku. Tak lupa kucondongkan badanku ke samping kanannya, berjabat tangan dengan Papa Attar yang juga telah lebih dulu hadir di sana. Lanjut bersalaman dengan Abang Uling (sapaku untuk Musly Mokoginta) yang ternyata turut larut juga bersama mereka. Sementara yang lainnya, coba kulemparkan senyum satu-satu dan terbalas akrab.

Setelah dipersilakan duduk, kusapu sekeliling sekali lagi. Jarod meriuh dengan para awak media. Pembicaraan mereka yang sempat terhenti dilanjutkan. Bang KG (sapaku untuknya) dengan gaya serupa konduktor memimpin orkestra menarikku masuk ke cerita dan membaur seketika. Gestur tubuhnya menghidupkan opera di bilik bambu Jarod. Pun guyonan ala Bang KG yang versi verbalnya baru kini bisa kudengar, menggelitik urat tawa kami.

Larut luruh kami mendengar sabdanya. Dari kisah para penulis cerpen tenar lengkap dengan perjalanan hidup mereka yang tak terduga, seperti A.S Laksana dan buku kumpulan cerpennya Bidadari Yang Mengembara, dan ternyata adalah kawan baiknya. Hingga ke negeri Matahari menemui Eiji Yoshikawa dengan karya besarnya Musashi. Tak lupa wejangan bagi kami para pewarta yang masih liat.

Waktu kami reriungan di Jarod habis. Tapi tidak dengan malam ini, selanjutnya kami ditawari untuk bersantap bebek di rumahnya Syarif, salah satu kawan akrab mereka yang tadi juga duduk bersama kami. Setelah saling bertukar buku dengan Papa Attar yang meminjami aku buku: Elemen Elemen Jurnalisme, Bill Kovach & Tom Rosenstiel, kami bergegas merapat ke rumahnya Syarif.

Bang KG, Papa Attar, dan Syarif lebih dulu jalan. Dan ternyata ada tugas yang lumayan mengucurkan keringat menunggu mereka di sana. Rumah tetangga Syarif yang berdampingan dan baru saja akan dibangun, nyaris saja kebakaran.

Kami menemukan mereka dan beberapa rekan lainnya yang berjibaku memadamkan kobaran api, masih mengitari lokasi. Tampak tumpukan arang kayu berserakan masih mengepulkan asap, dan sisa jelaga menjilati dinding pagar pembatas rumah yang terbuat dari atap seng.

Di depan rumah, sambil menyeka keringat Papa Attar bercerita kepadaku; "Kitorang turung di got di muka situ ba timba aer tadi, Bang Tamsi yang lebe dulu lari ka blakang kong ba sirang."

Mendengar cerita Papa Attar dengan napas memburu, meminjam sedikit kata-kata Dewi Lestari: tampaknya selain menulis, gali kubur, narik becak, pekerjaan memadamkan kebakaran sangat membutuhkan asupan kalori yang cukup tinggi. Salut untuk sikap heroik mereka.

Setelah lelah mendaras kasus kebakaran itu. Lapar mengerang. Kini ada yang menggoda di meja makan: ubi rebus dan bebek rampah-rampah RW. Bulir-bulir keringat turun bersamaan dengan senda gurau kami yang duduk melantai di ubin dingin.

Keadaan terus sama hingga kami menandaskan segala apa yang di atas meja makan. Kemudian melanjutkan cerita yang bahkan sempat menyentuh wilayah langit Ilahi. Posisi duduk kami yang melingkar di lantai, bersila, selonjoran, dan jika saja ada beberapa nyala lilin, kami lebih mirip sekte sesat yang sedang melakukan ritual sambil mendengar rapalan mantra-mantra dari rahib.

Iblis pun disebut-sebut malam itu. Aku teringat sebuah cerita yang pernah kubaca (aku lupa judul bukunya) tentang iblis. Iblis ini kondisinya tengah sekarat. Seorang pendeta yang tak sengaja berjumpa dengannya, kemudian terkesiap dan mengeluarkan pedang. Pendeta akan membunuhnya. Iblis berkata tunggu, sebelum membunuh, biarkan ia bercerita banyak. Iblis kemudian bertutur panjang lebar tentang betapa penting arti dirinya bagi kehidupan, bagi manusia, dan juga bagi si pendeta. Iblis bertanya, "Katakan padaku wahai pendeta, apakah yang akan mendorongmu untuk tetap beribadah, jika aku mati kelak?" pendeta kebingungan menjawabnya dan akhirnya memutuskan untuk menyelamatkan si iblis. Ia membasuh luka iblis dan membopongnya ke tempat di mana ia bisa dirawat.

Yang kuingat dari cerita di atas hanya penulisnya saja, Kahlil Gibran. Jika diinisialkan maka ia KG yang ketiga.

Masih banyak lagi topik pembicaraan malam itu. Dan... waktu yang mempertemukan, waktu pula yang menyentil erat jabat agar jangan terlalu lama menggenggam. Setelah itu, apalagi yang bisa ditawarkan oleh waktu dan "kebetulan" lainnya?

Tepukan Bang KG di pundakku sembari melafadzkan sepotong kalimat suci: "Teruslah menulis, itu hidupmu" membikinku menggigil seperti ketika Ahmad pertama kali mendengar ucapan Jibril. Antara baca dan tulis. Keduanyalah yang membedakan kita dengan makhluk Tuhan lainnya di muka bumi. Superioritas kita sebagai manusia.

Kembali kepalan tinju diarahkan. Kemudian pintu geser mobil menutup pelan dengan jendela kaca yang masih terbuka. Teriakku; "Tu oto bagus pake ba culik akang Bang!" dan disahutinya, "Memang itu!"

Bang KG melaju dengan mobil itu, membelah malam Kotamobagu dan kembali pergi mencuri jutaan kata yang, siap dirajutnya menjadi selimut agar tidurnya tetap selalu lelap. Sebab apa yang paling berharga dalam hidup adalah: saat kita mampu membuat nyaman diri kita, meski itu hanya dengan sehelai selimut usang.

Damai di bumi
Damai di langit
Damai kami sepanjang hari.

Sunday, October 13, 2013

SIGI



Bapaknya Kristianto, ibunya bulan pucat yang selalu cemas di tepi langit. Ketika hujan memberi arti pada warna merah, keduanya menikah. Setelah itu tidak ada lagi yang bisa diceritakan tentang mereka kecuali bahwa dengan duka yang nyaris mengusaikan harapan, gadis itu pun lahir. Mereka menamakannya Sigi. Artinya, sekali tercipta sudah itu abadi.

Aku mencintai Sigi tanpa tahu kenapa. Dalam bahasa psikoanalisa Slavoj Zizek, aku memiliki jawaban bagi setiap kerinduanku akan Sigi tanpa pernah benar-benar tahu apa yang sesungguhnya menjadi pertanyaan. Sigi adalah jawaban itu sendiri; simptom yang menjalin batas antara kesadaran dan ketidaksadaranku. Tapi apa yang menjadi pertanyaan bagi kehadirannya?

Di penghujung malam, di penghujung mimpi, ketika embun gemetar oleh tiupan angin dan fajar mengintai seperti kebangkitan kembali ide komunisme dalam kepala Badiou, aku mencoba untuk menuliskan biografi perkenalanku dengan Sigi. Aku menemukan 66 episode perkenalan yang dibagi oleh persinggahan-persinggahan kami. Dalam perjalanan yang cukup panjang sebuah biografi memerlukan kemampuan kita untuk memungut kembali remah-remah ingatan.

Sigi tidak berdiam dalam ingatanku padanya tapi dalam biografi perkenalan yang aku ciptakan dengan ingatan yang kabur akan masa laluku sendiri; itulah kenapa kita bisa menerima gagasan yang buruk tentang cinta, kerinduan, juga harapan. Dan di penghujung malam itu, setelah bangkit dari bunuh diri yang melelahkan, aku mulai menulis. Suasana tetap sepi seperti cuaca hari itu. Dari dalam kepala, samar-samar aku dengar suara Lionel Ritchie.


Episode Eropa yang Pertama
Hello…
Isn't me you're looking for?
(Lionel Ritchie)

Aku mengenal Sigi pertama kalinya sebagai seorang gadis yang menghitung cahaya di permukaan riak sungai Rheine. Rambutnya ikal dan senyumnya bersimpul. Waktu itu, dia duduk dekat pintu rumah kopi bertuliskan kutipan sebuah puisi Jerman pra-Goethe. "Aku orang Mongondow," katanya dengan jemari yang kering. Musim belum beranjak, masih panas yang sama meski kali ini tanpa matahari.

"Sigi," aku mencoba untuk mengulang nama itu dan secara refleks mengembalikan ingatanku pada cara Edward de Verre melukiskan Juliet lewat lidah Romeo. Mata aristokrasi tidak bisa santun menatap kecantikan seorang perempuan tapi mereka punya banyak kata untuk menangkap jiwa dari kecantikan itu sendiri. Lengkap dengan luka-lukanya. "Aku seorang bohemian," kataku memperkenalkan diri.

Setengah jam berikutnya adalah sebuah kisah cinta.

Aku memesan dua cangkir latte. Satu cangkir untukku dan satu cangkir lagi untuk memberiku alasan mengenang Sigi serta kehadirannya yang luput dari semua puisi yang pernah aku tulis. Sigi mengangkat wajahnya dari busa cappuccino, menyalakan rokok dan melepaskan resahnya bersama asap putih yang keluar dari mulutnya. Wajahnya datar tanpa senyum namun cintanya berlarian seperti kanak-kanak.

Kami bercerita tentang begitu banyak hal sembari tetap menjaga jarak dari biografi masing-masing. Cinta memang selalu menghapus biografi pecinta dan yang dicinta dari pembicaraan. Memberi kita begitu banyak kesempatan untuk mengikis pelan-pelan perjumbuhan akal sehat dengan kenyataan. Menjadi metafisika yang kehilangan subyek dan mempertaruhkan segalanya pada Ada tanpa harus menghitung waktu.

Di Jerman, para filsuf pecinta seperti Nietzsche dan Heidegger, telah menuliskan dengan alir Rheine yang sama bagaimana aku akan bertemu Sigi dan melumat sejarah ke dalam bahasa. Membunuh perjumpaan demi ingatan akan Ada, seperti cara dua orang berbeda sia-sia melukiskan pertemuan yang sama dalam tafsiran hermeneutis. Sigi tampak bosan pada ujung rambutnya. Mengusirnya ke punggung lewat bahunya yang mungil. Tangan kanannya menjemput cangkir cappuccino sementara tangan kirinya menuntun aku keluar dari kenyataan.

Angin berhembus dingin di musim panas Eropa yang semu, memerahkan hidung melayu Sigi. Membuatnya tampak seperti tuhan-tuhan perempuan dalam cerita pagan kaum Aria sebelum Hitler gagal menangkap keunggulan ras kulit putih dalam perang yang mempersatukan rasionalitas Eropa menjadi Filsafat Kontinental Modern, lengkap dengan kelupaan mereka pada tuhan-tuhan perempuan berwajah Asia seperti Sigi.


Episode Eropa yang Kedua
Lady…
Your love is the only love I need
(Lionel Ritchie)


Masih di Jerman. Negeri yang mempersembahkan padaku Kant, Fichte, Schelling dan Hegel dalam satu paket yang utuh meski gagal disimpulkan di benak Nietzsche. Namun ini adalah cerita lain tentang Sigi. Aku mengenalnya sebagai seorang perempuan yang menukar kecantikannya dengan kalimat pertama dari poin 360 dalam karya Hegel Phenomenology of Spirit yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh A. V. Miller dan diterbitkan Oxford University Press tahun 1977:

"Self-consciousness which, on the whole, knows itself to be reality, has its object in its own self, but as an object which initially is merely for self-consciousness, and does not as yet possess [objective] being which confronts it as a reality other than its own; and self-consciousness, by behaving as a being-for-it-self, aims to see itself as another independent being."

Sigi membiarkan langkahnya membawa tubuhnya yang kurus terbungkus jaket bulu panjang, perlahan menyusuri jalan sepi Messkirch, Baden-Wurttemburg untuk menangkap cintaku di desa kelahiran Heidegger itu. Bukan tanpa alasan kami berada di situ dan berharap bisa mencintai satu dengan yang lain dengan cara seperti itu. Karena jika kesadaran-diri dapat mengenali dirinya sebagai obyek bagi kesadaran-diri itu sendiri, lalu kenapa aku selalu gagal mengenali Sigi dalam kenyataan dirinya?

Jawabannya aku temukan di belokan satu blok dari tempat Heidegger memutuskan untuk mengenali Ada. Dialektika telah gagal dalam langkah Sigi. Kecantikannya akan tetap tinggal, bersama dengan keperempuanannya, dalam tema ontologis yang ditinggalkan Hegel bagi Heidegger: dialektika buntung tesis-antitesis yang selalu berarti Ada dan bagaimana Sigi meninggalkan aku di persimpangan itu. Kami akan selalu bertemu meski tanpa sublasi.

Bunyi derak daun jendela toko kelontong Messkirch terdengar seperti irama lagu Love is Blue dalam instrumentalia Paul Mauriat ketika Sigi menjauh dariku. Lengang seperti cakrawala dan aku menemukan air mataku berubah menjadi Jerman yang asing di dalam kepala para filsuf Yahudi di tahun 1940an. Rasionalisme Hegelian telah gagal dua kali, pertama, di kamp-kamp konsentrasi Nazi dan, kedua, di cakrawala yang menelan tubuh Sigi menjadi titik dalam buku puisi Dante Alighieri yang terlambat aku baca.

Seminggu setelah itu adalah sebuah puisi cinta.

Namun Sigi tidak bersedih karena dia adalah hiburan bagi dirinya sendiri. Dia telah menjadi proses seperti Ruh Absolut Hegel. Dia telah menjadi perubahan itu sendiri. Kekal dalam zaman yang berulang sebagai bahasa bagi cinta yang aku tinggalkan di Freiburg seminggu sebelum aku meninggalkan Jerman menuju halaman 115 dari Philosophical Explanations karya Robert Nozick yang diterbitkan tahun 1981 oleh The Belknap Press: WHY IS THERE SOMETHING RATHER THAN NOTHING?


Episode Eropa yang Ketiga
And I…
I want to show you all my love
(Lionel Ritchie)


Bagaimanapun juga, yang nyata tidak selalu masuk di akal dan yang masuk di akal tidak selalu nyata, seperti Sigi. Seperti juga cinta tidak selalu dari dan untuk cinta. Kali ini aku berada di pelataran Plaza de Chateau, Paris. Sekitar tiga meter dari tempat Sigi duduk mendengarkan musik pop Amerika yang dibawakan lamat-lamat oleh seorang violis Perancis berdarah Aljazair. Sigi menundukkan punggungnya saat suara biola itu mengiris kenangannya akan masa lalu yang jauh di Bolaang Mongondow.

Aku mengenalnya waktu itu sebagai seorang perempuan asing. Dan ketika kami sudah punya cukup alasan untuk janji makan malam, aku lupa bahwa tidak pernah ada lilin untuk mata Sigi yang selalu basah. Waktu itu kapitalisme telah memperkaya miliaran orang dan menggusarkan para pecinta negara yang semakin payah dalam simulakra tanda. Kami juga berbincang tentang libertarianisme sebagai pilihan ideologis terakhir yang paling masuk di akal bagi eksistensi umat manusia hari ini. Makan malam yang indah untuk mengenang pembebasan Thomas Paine dari penjara kaum Jacobin Perancis dengan seorang gadis bermata basah.

Sigi suka sekali menulis semua perbincangan kami dan melemparkannya ke udara dan membiarkan kertas-kertas itu terbang di udara Perancis musim gugur. Lalu kami melewatkan banyak malam berikutnya dengan film-film Perancis yang ragu-ragu dari Goddard hingga Noe. Dalam pantulan cahaya film-film itulah aku mencoba untuk melukis kembali Sigi sebagai seorang perempuan yang berbeda yang, ketika pagi datang lewat jendela motel tempat aku menginap, berubah menjadi bocah mungil dengan lidah merah jambu.

Beberapa detik kemudian adalah sebuah kemungkinan.

Berapa kalipun aku mengenal Sigi, dia tetap saja Sigi yang sama yang hanya aku kenal dari foto-foto lucu dan tato di tubuh bapaknya. Dia adalah putriku yang telah diculik takdir karena aku tercipta dari api dan Sigi tercipta dari cahaya. Dia adalah penggal demi penggal imajinasi dalam upayaku mengenal hidupku sendiri di batas pertemuan paling luar dari seni dan filsafat. Dia adalah puisi dialektika Hegel yang gagal membaca sejarah tapi mampu mengulang Ada.

Ya, Sigi adalah putriku yang telah diculik oleh takdir yang sama yang telah mempertemukan bapaknya dengan bulan pucat yang selalu cemas di tepi langit.


Manado 2013

Amato Assagaf

Saturday, October 5, 2013

My Bad Grandpa

Apa kenangan terindahmu dengan sosok kakek?

Beruntung bagi kalian yang masih bisa mencicipi kenangan itu. Tidak denganku, yang bahkan diberi kesempatan untuk mengenalnya pun tak pernah. Terlahir terlalu bungsu dalam keluarga memang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Kita bisa dimanjakan kedua orang tua dan keluarga tapi tidak oleh kenangan yang purba.

Kenapa hari ini aku begitu ingat dengan sosok itu?

Berawal dari duka dari seorang tetangga kemarin sore yang masih memiliki tali persaudaran yang erat dengaku. Seorang kakek dari teman, sanak saudara sekaligus suami dari adik kakekku. Turut berduka cita aku haturkan untuk kalian. Semoga arwah beliau diberi tempat yang layak di sisi Allah SWT.
Tiba-tiba saja ada yang mengusik asik di pikiranku, bahwa meski mereka telah kehilangan, tapi jauh di lubuk hati terdalam mereka, ada kenangan yang pernah mereka miliki. Bungsu sepertiku tak pernah hidup dengan sosok kakek dari pihak ayah maupun ibu.

Dan karena kebetulan yang seketika terjadi semalam saat ditayangkan di salah satu tivi swasta iklan sebuah film bergenre komedi terbaru dari Jackass Present berjudul Bad Grandpa yang akan tayang Okotober ini. Sinopsis Jackass Presents: Bad Grandpa 2013: Irving Zisman (Johnny Knoxville) seorang kakek 86 tahun berada dalam perjalanan mengelilingi Amerika bersama sahabat terbaik, yaitu Cucu-nya yang berusia 8 tahun, Billy (Jackson Nicholl). Film ini tentang Irving Zisman dan Billy yang akan membuat penonton melihat hal-hal paling gila yang mereka lakukan saat terekam kamera tersembunyi, perjalanan seru dan kekonyolan mereka yang pernah tertangkap di kamera.
Orang-orang nyata dalam situasi nyata, membuat film ini benar-benar kacau dan penuh komedi. http://optionradar.blogspot.ca/2013/09/film-jackass-presents-bad-grandpa-2013-di-bioskop.html

Mengenai kakekku, ada satu pesan dari kemisteriusan marga Galuwo yang kini bersanding di namaku. Bahwa berpetualanglah dalam hidup. Kita boleh terlahir di suatu tempat, tapi hal yang terhebat saat kita tumbuh besar, dikenal, dan kemudian wafat di tempat yang berbeda nantinya.

Pernah aku mencoba menelusuri sejarah marga Galuwo hingga menemukan jalan buntu. Menggelung kisah-kisah dari ayah sekaligus keluargaku, mencoba menemukan ujung benang kusut dari marga ini. Dan niatku pun tertahan. Mungkin alangkah lebih baik, ada satu misteri yang tak perlu terungkap. Seperti yang tersisa dalam kotak Pandora. Sebuah harapan.

Sebuah keajaiban yang terjadi di hidupku hari ini. Saat aku merasa bahwa, meski tak pernah memiliki pun kita mampu merasakan kenangan itu. Imajinasi adalah sebuah bentuk nyata di dunianya sendiri.

Selalu merindumu Kakek M. Galuwo. Karena untuk apa sebuah kemisteriusan sosokmu dan leluhurku, jika darahmu mengalir membaur dalam darahku.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, October 1, 2013

Puisi Selamat Ultah Buat Komdan Aca'

Selamat Ulang Tahun

Selamat hari di mana kau dilahirkan dari gua garba yang maha suci Ibundamu.
Yang kamu, dia, kita dan mereka selalu junjung hingga dunia diluluh lantakkan.

Selamat hari dan tahun yang berbeda, tapi bulan dan tanggal yang sama, di mana kamu diluaskan dari sempitnya "rumah rahim" Ibundamu.

Selamat hari ketika tangisanmu menjahit luka dari penantian kedua orang tuamu dan tangisanmu yang merangkul tawa dan tangis sekaligus.

Selamat Hari Ulang Tahun Bung Aca'

Doa kami tak seluas laut Mediterania dan tak sepanjang sungai Nil.

Hanya... Semoga segala doa dan keinginanmu akan melesat tinggi di angkasa raya, mencuri bintang-bintang dan naik ke atas langit hingga lapis terakhir langit ILAHI.

#Cheeerrsssss

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Friday, September 27, 2013

Puisi Ulang Tahun Buat Sahabat DB

Adakah suci terbentang di sepanjang waktu
Dalam rentang rentang kisah yang berjalan menjadi lalu
Dalam batu
Helai daun yang diterkam angin
Pun di carik kertas yang usang bersama kerontang jalan muda yang terengut

Adakah hitam menggelepar di lorong lorong yang tergilas roda hidup
Membiru bersama kisah-kisah manis yang, meriang bersama cerita-cerita elang dan camar mematuk tangkai rapuh di pantai

Putih
Hitam
Biru
Merah
Darah
Amarah
Dahaga
Suci
Dimanakah langkah menempuh tujuan
Yang gigir di antara keinginan paling sepi dan brutal

Hari berganti
Dunia terang
Kicau burung merentang di belantara hijau dan kilau cakrawala

Hari
Bulan
Tahun
Tik tik tak tak
Roda roda berputar
Kita berada di mana nafas menghitung langkah
Langkah langkah gelisah
Langkah langkah penuh harap
Langkah langkah merah, biru, hitam, putih suci membilang

Pada purnama lima malam lalu
September yang penuh arti
Tiga hari sebelum Gestapu pecah
Pada nafas waktu malam ini
Kami teriakkan: tumpah! tumpah! tumpah!
Gelas kosong berdentang, jangan pecahkan, minum isinya
Minum hingga pagi menjelang
Dan matari memberi harapan baru
Selamat ulang tahun kawan!

-Owen Mokodongan

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Wednesday, September 18, 2013

Negara Genting Jendral

Deru maut bersahutan gagak teriak
Denting genting subuh beradu bunyi senjata
Tang! Ting! Tang!
Meruap amis dari lantai ubin
Bau mesiu menyeruak di udara
Sontak jerit tangis, robek gulita

Negara genting Jendral!
Sedang diseret ke nganga sumur luka
Jendral tipu Jendral
Prajurit hantam Prajurit
Saling babat siapa hebat
Iblis itu Kapitalis, kah?

Palu dan arit
Kelu dan jerit
Berjejer lapar ngunyah genjer-genjer
Kini bertukar cekam dibantai juta
Terbujur, tumpuk, busuk dan hancur

Negara genting Jendral!
Tapi kalian berdiri mematung
Mati, tak ada geraan
Padahal kalian punya jantung
Pun darah merah seperti amarah

Negara genting Jendral!
Dibiarken hingga kini
Dari September ke September
Masih metik genjer-genjer


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kalung Bulan

Bulan di ujung gunung
Dikalungi tiga warna yang katanya jembatan para bidari
Pelangi menggelung
Bersama makin bawa meninggi berdiri

Gemuruh senar digaruk jemari
Berpuluh-puluh lagu senandung
Rapat menerkam dari arah kiri
Ah, para tetangga kami tersanjung atau mau memancung

Di teras bulan makin melancung
Kawan mari kemari
Bulan diam, basah disepuh tenung
Langit diarak-araki halimun dan para peri

Kata mereka matari
Membagi cahya biar malam terlihat cekung
Cerlang gemintang menari
Menggeser gulita makin ke ujung

Kalung itu masih menggantung
Kawan mari kemari
Kita bersenandung bukan kidung
Makin ke kiri, tak sendiri.


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, September 3, 2013

Pertanyaan Si Gila

Ingin ku kunyah bara itu
Sepotong demi sebongkah
Biar mereka tak lupa dengan rasa
Duhai makhluk yang berdiri

Masih kenal kah kalian apa itu api?
Apa itu air?
Apa itu debu?
Apa itu lumpur?
Apa itu cahya?

Aku masih ingat segala
Tak tersimpan dalam memori
Karna hanya yang gila yang kini bisa merasa
Manusia gila tak memiliki memori
Tersisa hanya hati

Coba tanya kakek!
Tanya nenek!
Tanya bapak!
Tanya ibu!
Tanya kepada manusia!
Atau kepada segala makhluk yang katanya senantiasa melafadzkan asmaNya
Apa mereka manusia, yang teriak itu masih memiliki hati?
Aku pikir tak lagi
Hanya manusia gila yang punya

Yang waras bertepuk tangan
Yang gila melurut dada kemudian menabuhnya
Yang waras tak lagi memiliki bunyi tepukan
Yang gila dadanya bergemuruh

Oh, duhai Yang Esa
Mereka mau meniru si gila
Tapi mereka tak lagi memiliki tangan untuk ditepuk, dada untuk ditabuh
Berbahagialah kalian yang gila
Aku tak hanya memiliki pertanyaan dan ingatan
Aku memiliki kawan

Serentak kami yang gila pun bertanya...
Siapa kami para penggilaMu ini?


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Thursday, August 22, 2013

Aku Ingin

Aku ingin meminjam senyummu malam itu
Senyum puas ketika selesai senggama
Bukan cemberut pun desah bosan suami pada istri
Istri yang lupa bersolek dan banyak makan

Aku ingin meminjam tawamu malam itu
Tawa renyah kala srimulat menggelar lelucon
Bukan duka sinetron anak tiri yang dijambak rambutnya
Atau duka sekumpulan artis yang melayat dengan make up tebal

Jika tak kau beri, bolehkah aku mencurinya darimu
Aku pikir kita terlalu dekat untuk bisa berseteru
Terlalu lama bersama untuk bisa marah

Aku hanya ingin senyum dan tawamu
Cuma itu

Tahukah mereka tentang senja yang pernah kita ketawai
Malam yang merenggut cerlang siang
Burung-burung berarak pulang ke sarang
Tapi kita terus tertawa

Aku hanya ingin malam itu
Aku ingin


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Monday, August 5, 2013

Lebaran

Lebaran sebentar doang
Lebaran sebentar doang
Abis itu...
Si Lebaran pulang
Lebaran pulang
Lebaran pulang
Lebaran, sebentar doang.

Pengggalan lirik lagu dari Band Punk Marjinal yang bermarkas di Taring Babi, Ibukota Jakarta itu, terdengar hanya seperti sebuah celoteh asal-asalan. Tapi ada makna besar terkandung di setiap lirik lagunya.

Saya sedang tidak ingin membahas seluruh bait dalam lagu itu, tapi hanya sepenggal saja; Lebaran sebentar doang, abis itu si Lebaran pulang.
Sungguh menyiratkan sebuah momen yang hanya sebentar. Sebuah peristiwa sakral yang diagung-agungkan tapi dalam interval waktu yang singkat saja.
Memang sebuah momen selalu hanya sebentar, sekilas, pun sekejap. Tapi, saat kita merasakannya, kita seakan-akan telah memilikinya lebih. Merasakan diri kita sebagai manusia dengan dan saling memaafkan. Lebaran adalah ketika kita menjadi manusia lagi.
Tak penting dengan pakaian baru, tak penting pula dengan segala tetek bengek persoalan barang-barang baru. Cukup uluran tangan, ikhlas dan memaafkan, kita seperti melepaskan sesuatu. Kekhilafan, seakan lepas begitu saja dengan jabat dan peluk erat.

Bicara soal Lebaran, pun pesona 'pumpun' (belanja pakaian baru) yang merajalela menggeser makna Lebaran itu sendiri, menjadikannya hanya sekadar sebuah ibadah 'Thawaf' di pusat-pusat perbelanjaan. Bukan lagi seperti ritus ibadah Thawaf, yang belajar bahwa segala sesuatu berputar, kembali ke fitrah, kembali ke awal. Karena pada dasarnya semua orang berada pada lintasan yang berputar-putar saja. Bukan pakaian yang menjadikan kita sebagai manusia baru, tapi apa yang ada di balik pakaian itu.
Kata Ali Syari'ati, "Aku sering melihat orang yang tak ada baju di badannya. Juga sering melihat baju yang tak ada orang di dalamnya". Kalimat ini menurut interpretasi diri saya pribadi, dan mungkin relevan dengan momen Lebaran saat ini bahwa; masih banyak orang-orang di luar sana, di jalanan, di bawah kolong jembatan, dan berbagai tempat hina dina yang tak berpakaian tapi lebih mulia di mata Tuhan. Juga banyak manusia-manusia dengan pakaian yang brandit, harga selangit, tapi tak secuilpun mendapatkan makna hidup sebagai manusia."

Ya, Lebaran sebentar doang. Setelah itu si Lebaran pergi. Setelahnya apakah kita menjadi manusia yang fitrah lagi, tergantung pada pencapaian masing-masing individu umat yang menjalaninya dengan keikhlasan. Saya pun tak jauh dari keburukan, bahkan Lebaran kali ini mungkin satu-satunya yang baik dalam diri saya, hanya ketika tulisan ini hadir.

Lebaran seperti sebuah konsep pembelajaran secara horisontal kepada kita umat manusia, secara kolektif, tanpa ada sekat-sekat agama. Dengan sebegitu singkatnya kata 'maaf', kita telah memanusiakan manusia lainnya.

Mohon maaf lahir dan bathin.

Powered by Telkomsel BlackBerry®







Tuesday, July 30, 2013

Bumiku

Turun ke jalan lalu mari melangkah
Sebab kaki untuk menggagahi Bumi
Jejaki setiap taman yang dirambati rerumput hijau
Meski seharusnya kaki kita tenggelam di kolam susu.

Di sini tak ada bidadari bertujuh
Hanya bidadari beribu
Mau pilih mana?
Rasanya Taman Firdaus tak seindah ini
Lalu kenapa merindunya?

Ada pula yang katanya bara api
Dan segala horor dan siksa
Tapi kenapa takut?
Bukankah kita tak pernah sekalipun merasakannya.
Diteror imajinasi. Dorrr!!!

Mari turun ke jalan kemudian berlari
Tangkap biru, panas dan warna udara
Kita tak akan benar-benar tahu kapan
matahari mengecup Bumi
Jadi tak perlu menggedor pintu keras-keras.
Tetaplah di luar.

Bumiku, semakin renta
Di punggungnya tak lagi banyak bulu tumbuh
Jangan cemberut jika aku terus mengelusmu dengan telapak kaki
Karena nanti kita akan saling besedekap
Kekal tanpa sorga dan neraka.
Hanya Bumiku.


Powered by Telkomsel BlackBerry®