Wednesday, June 26, 2013

Kesaktian Abunti di Pilwako Kamunce

Ini kisah dari negeri Komkomci. Sebuah negeri yang juga dijuluki negeri para Lonua'.
Di Komkomci, terdapat kota bernama Kamunce. Kota ini akan segera melakukan pemilihan Walikota. Selayaknya pesta demokrasi, suasana kota nampak penuh berhias bendera dan bangunan-bangunan posko pendukung. Rakyat pun gembira menyambut momen ini.

Persaingan antar kandidat yang ketat, membuat Tim Sukses masing-masing kandidat harus memutar otak beradu strategi dan tak-tik. Beragam siasat ditempuh. Dari yang menggunakan akal sehat, hingga yang berbau mistik.

Ya, kota Kamunce sedang menjadi "gila" dengan momen ini. Tak-tik, siasat, strategi, dan cara apapun bakal ditempuh asalkan kandidat yang mereka dukung menang.

***
Kulutuk adalah salah seorang kandidat Walikota di kota Kamunce yang memiliki Tim Sukses yang cukup ahli dalam politik. Salah satu yang terkenal adalah seorang yang bernama Kondo. Ia lulusan dari Universitas Kukule. Sebuah Universitas terkenal di negeri Kolokang―negeri tetangga Komkomci.

Kondo yang semasa kuliah dikenal rajin ditambah punya hobi baca buku terutama yang, bertema politik dianggap cukup menjadi bagian dari tim pemenangan. Lantaran Kondo sendiri memang telah memiliki pengalaman menjadi Tim Sukses yang berhasil mengantarkan kandidat yang didukung ke kursi kekuasaan. Kredibilitasnya dalam urusan pemilihan pemimpin kepala daerah semacam Bupati dan Walikota sudah teruji. Memang bukan berarti di kota Kamunce tak ada pawang politik. Bahkan dengan level lebih di atas Kondo banyak. Namun satu yang membedakan Kondo dengan pawang politik yang dimiliki kota Kamunce adalah, Kondo mempercayai hal-hal gaib atau yang berbau klenik alias perdukunan. Sedangkan pawang politik lain tidak mempercayai hal-hal yang demikian.

Selidik punya selidik Kondo ternyata memiliki pertemanan dengan seorang dukun sekaligus tukang ramal yang tiba-tiba saja namanya cukup tersohor di khalayak yang mempercayai praktek perdukunan. Tempat sang dukun tinggal ini tak begitu jauh dari kota Kamunce. Ketatnya persaingan antar kandidat membuat Kondo mengusulkan kepada pasangan kandidat yang didukungnya, untuk pergi mengunjungi rumah sang dukun untuk diramal sekalian minta petunjuk, petuah dan sebagainya yang pendek kata demi tujuan kemenangan.

Gayung bersambut. Kandidat mengiyakan. Jelang sebulan waktu pencoblosan mereka berangkat ke suatu wilayah di Komkomci bernama Kumpa, tempat sang dukun tinggal.
Perjalanan ditempuh cukup 1 jam mengendarai kereta kuda. Sesampainya mereka di sana, Kondo terlebih dahulu masuk ke kediaman sang dukun―yang ternyata diklaim juga sebagai gurunya―dengan berlagak begitu segan dan sopan. Sang dukun yang ditemui ini bernama Abunti.

Rombongan kandidat dipersilakan masuk. Setelah perkenalan, sudah bisa ditebak apa saja yang akan terjadi selanjutnya; kemenyan dibakar, bibir komat-kamit, nama dituliskan di atas secarik kertas, lalu dukun bernama Abunti ini mulai menerawang. Apa hasilnya? Abunti meminta kepada Kulutuk (kandidat Walikota) agar sepulang dari kunjungan ini―setelah memberi mahar tentunya―agar melakukan semua yang disyaratkan. Salah satunya adalah menempelkan nama sang dukun (Abunti), ke kereta kuda yang dipakai setiap Tim Sukses dari Kulutuk di bagian depan. Nama (Abunti) ini terlebih dahulu dicetak di sebuah media lalu ditempelkan di bagian depan kereta. Syarat ini harus dipenuhi. Jaminannya adalah kemenangan. Tak ayal, Kulutuk yang meskipun sebelumnya tak mempercayai praktek-praktek perdukunan karena agama yang dianutnya melarang, akhirnya mematuhi semua apa yang disyaratkan sang dukun bernama Abunti. Semua karena demi kemenangan.

***
Syarat itu segera diindahkan. Nama Abunti dicetak di sebuah media yang mudah merekat. Sejumlah kereta kuda mulai dihiasi dengan nama Abunti.

Seminggu menjelang hari pemilihan, Kulutuk yang tentunya ditemani Kondo dan beberapa sahabat Tim Sukses kembali mengunjungi rumah Abunti. Kebetulan hari itu hari Jumat. Seperti biasa, Kulutuk menerima wejangan dari Abunti dan ramalan-ramalannya. Ada satu yang menarik dari dukun ini di mana tangan kirinya senantiasa memegang sebuah alat penghitung semacam Sempoa. Entah apa yang ia hitung. Namun bisik-bisik mengatakan kalau jumlah huruf dari kandidat, tanggal lahir dan tahun beserta bilangan-bilangan lain termasuk jumlah hari dan sebagainya, senantiasa dikomparasikan sang dukun untuk kepentingan penerawangan. Sepintas orang akan mengira kalau dukun ini ahli juga dalam ilmu hitung menghitung.

***
Tibalah saat yang paling ditunggu-tunggu. Hari pemilihan tiba. Hampir seluruh rakyat Kamunce berpartisipasi memberikan hak pilihnya. Dan sebagaimana yang telah diterawang Abunti, termasuk syarat yang diindahkan, Kulutuk menang. Seluruh pendukungnya bersorak-sorai. Beberapa kereta kuda yang di bagian depannya tertera nama Abunti berkonvoi mengarak para pendukung dan Tim Sukses. "Abunti benar, Abunti benar, sang Abunti benar, hidup Abunti, terima kasih Abunti," demikian luapan kegembiran para Tim Sukses, Kondo, termasuk Kulutuk sang kandidat yang menang. Matanya berkaca-kaca, haru, tak menyangka Abunti berkata benar.

Di kejauhan, seseorang tegak berdiri di bawah pohon Kandasuli dengan tatapan kosong. Sepertinya sarat beban. Entah siapa orang ini. Bibirnya yang kering sekonyong-konyong merekah dan terbata hendak mengucapkan sesuatu. Sepertinya; "Adakah tumbal dari semua ini ... "