Tuesday, July 22, 2014

Sapu Lidi dan Sebuah Pelukan

Sampang. Januari 1996 ...

Masih terlalu pagi, ketika ibu membangunkanku untuk bersegera ke sekolah. Usiaku kini sepuluh tahun. Kelas 3 Sekolah Dasar.

"Ini sapu lidi yang dipesan ibu gurumu," kata Ibu sambil meletakkan sapu lidi itu di sampingku. Ibuku merautnya sendiri.

Kebetulan hari ini hari Jumat. Ada mata pelajaran Olahraga, Agama, dan PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Sapu lidi itu pesanan ibu guru Suhasni, ia guru mata pelajaran PMP.

Namaku Shadra Ghadir Khum, biasa dipanggil Saga. Entah kenapa ayah dan ibu menamaiku demikian. Aku berusaha mencari tahu. Tapi tak kunjung kutemukan di buku-buku perpustakaan sekolah apalagi di setiap mata pelajaran yang guru-guru ajarkan. Sebenarnya mudah, aku tinggal bertanya kepada ayah ataupun ibu, atau kepada guru-guru. Tapi terlalu mudah, tidak mendidikku untuk belajar mencari tahu. Pikirku begitu. Nantilah, pasti ada buku yang kutemukan dan bisa menjawabnya.

"Aku pamit dulu Bu," kuciumi punggung tangannya.

Ah, lagi-lagi olahraga. Senam. Lalu dilanjutkan dengan praktek lari maraton. Setelah fisik terasa lelah, tapi bugar seketika hadir saat selesai mandi. Hari Jumat, hari ini biasanya aku mandi hingga empat kali. Pagi tadi, selesai olahraga, pergi ke masjid untuk sholat Jumat, dan mandi lagi sore nanti.

Setelah pelajaran olahraga, kali ini ada mata pelajaran Agama. Setelah itu baru masuk pada jam mata pelajaran PMP.

Ibu Suhasni dengan wajah cerah masuk ke ruang kelas, "Ayo anak-anak, kumpulkan sapu lidi yang kemarin ibu pesan kepada kalian."

Setelah semua murid mengumpulkan sapu lidi. Ibu Suhasni mengambil satu sapu lidi yang berada di sudut ruangan kelas. Bukan di antara puluhan sapu lidi yang kami kumpulkan tadi. Sapu lidi itu warnanya kecoklatan. Warisan dari kakak-kakak kelas.

"Kali ini kita akan membahas soal Bhineka Tunggal Ika," kata Ibu Suhasni sambil mengambil sebatang lidi dari himpunan sapu lidi.

Ia mematahkannya. "Lihat anak-anak. Dengan mudahnya sebatang lidi ini bisa dipatahkan. Akan tetapi, jika kita mencoba mematahkan ratusan batang lidi yang disatukan, akan sulit nantinya."

Ia mengambil sapu lidi itu dan coba mematahkannya, "Coba kalian perhatikan."

Semakin kuat ia mencoba mematahkan sapu lidi itu. Himpunan batangan lidi itu makin merangkul satu dengan lainnya dengan erat.

Kejadian itu, kembali terbayang di benakku. Di tahun 2014. Ketika arti dari namaku sendiri yakni Shadra Ghadir Khum telah kuketahui. Di tahun sekarang ini rakyat Indonesia merayakan pesta demokrasi. Tanggal 9 Juli kemarin.

Ingatan ketika sebatang lidi yang ringkih dan kecoklatan itu, yang tampak telah biliun debu dibelainya dan yang diterbangkannya ke udara, coba kuhubungkan dengan Pemilu (Pemilihan Umum) sekarang ini. Siapa yang memiliki jumlah batangan lidi terbanyak, maka akan menjadi satu kekuatan yang tak akan terpatahkan.

Dari dua calon pemimpin. Aku memilih Jokowi. Bukan Prabowo si mantan jendral itu. Ayahku pun suka dengan sosok Jokowi. Kata ayah, mudah-mudahan Jokowi bisa memperhatikan pemeluk agama minoritas di Indonesia, khususnya di wilayah tempat kelahiran kami.

Di tahun 2014 teknologi makin pesat perkembangannya. Aku mulai mengenal internet selain buku-buku bacaan yang sudah lebih mudah didapatkan pula. Arti namaku pun kutemukan dari internet. Shadra, adalah nama filsuf atau pemikir islam asal Syiraz, sebuah kota yang paling terkenal di Iran. Filsuf pada abad 16 Masehi. Sedangkan Ghadir Khum, adalah lokasi yang terletak di antara Kota Makkah dan Kota Madinah, Saudi Arabia. Menurut penganut Syiah, di tempat inilah Ali bin Abu Thalib dinobatkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Wali dan Khalifah Ar-Rasyidin umat Islam. Aku makin mengenal dengan baik namaku sendiri, sama seperti aku mengenal baik Prabowo.

Aku dan keluargaku tidak tinggal lagi di Sampang, Madura. Sekarang kami menetap di Banjarmasin. Alasan kami pindah bukan karena direlokasi oleh pemerintah sejak konflik Sampang kemarin. Ayah memang dipindah-tugaskan ke sini sejak tahun 2000. Ayahku seorang PNS. Ketika ditanya kenapa tidak suka dengan Prabowo. Jawaban yang kudapati hanya sebait kalimat singkat, "Ini persoalan akidah, Nak."

Aku kembali teringat dengan kisah sapu lidi tadi. Waktu ke TPS kemarin untuk mencoblos. Alat yang digunakan untuk mencoblos adalah sebuah paku. Kali ini imajinasiku bukan lagi tentang sebatang lidi. Sebatang lidi tadi mungkin adalah pengandaian ketika aku masih bocah. Aku telah tumbuh menjadi sebuah logam besi. Aku kali ini sebuah paku yang berhimpun dengan jutaan paku lainnya dan menjelma menjadi palu besar. Palu yang siap menghantam bangunan kokoh yang bernama kekuasaan.

Dalam permenungan, aku melihat Prabowo serupa palu yang selalu melihat masalah adalah sebuah paku. Siap memukul dan menancapkan kami ke setiap tempat yang ia suka. Sementara Jokowi, adalah ia yang membangkitkan semangat perlawanan kami. Jokowi berhasil menghimpun kami menjadi satu kekuatan. Menjadi sebuah godam.

Lidi, paku, dan sebuah palu. Ketiganya adalah alat. Bukan berarti kita rakyat yang bisa diperalat. Keputusan ada pada kita. Kita tinggal memilih. Kita tidak ingin amnesia terus, lantas mencambuki tubuh kita dengan seikat lidi, menghujamkan paku ke kepala, dan menenggelamkannya ke dalam akal sehat kita dengan satu pukulan palu.

"Kamu telah sembuh, Nak!" teriak Jokowi dari podium kemenangan.

Aku melangkah ke halaman belakang. Mendapati ayah yang sedang mengurusi ayam jagonya. Ia menatapku. Kali ini ada bulir-bulir air matanya memberat jatuh. Mengundang satu-dua bulir air mata dari kelopak mataku.

"Ayah rindu kampung halaman, Nak!"

Aku lantas merangkulnya. Memeluk layaknya seorang kawan lama yang baru saja berjumpa.

"Ayah, kenapa kita bisa saling membenci?"

"Kita bisa saling membenci, tapi entah kenapa kita harus saling membunuh. Ayah tak pernah mengerti."

"Saga. Pergilah ke rumah Fatan, kalian lama tak saling tegur hanya karena beda pilihan calon pemimpin. Terlebih, Fatan satu sekolah denganmu di Sampang pula. Pelukanmu ini pantas untuk dia."

Kini, aku lebih termaknai akan arti dari Bhineka Tunggal Ika.