Sunday, October 19, 2014

Anuar

Novel-novel karya Anuar Syukur
Nama depanmu, menarik ingatku pada Chairil Anwar, meski dengan ejaan berbeda. Tapi sekali berarti, sudah itu mati kata Charil Anwar, lalu kalimat itu merangkul kalian.

Kau, Anuar. Tak pernah kita bersua, karyamu tak pernah kubacai, suaramu tak pernah kudengar. Hingga corong pada pagi pemakamanmu, mengisyaratkan duka yang seharusnya tertunda. Sebab mungkin, di suatu kala, kita bisa duduk sembari menyesap segelas kopi bersama, di pojok saung yang tengah kau raut dengan keringat. Kita bicara tentang bibit tanaman apa yang sedang kau semai. Pun kisah cinta apa lagi yang mau kau sampulkan.

Anuar, aku mau menyapamu penulis dan marhaenis. Itu jauh lebih merdeka. Semerdeka buku-buku novel berdebu yang bertumpuk di rak lemarimu. Tadi adik perempuanmu menyeka debu-debu itu. Seketika kenangan yang menebal di sampulnya terbang.

Anuar, ada belasan novelmu. Mau kupinjam tapi pemiliknya sedang istirah. Mau kubaca tapi penulisnya sudah berpulang. Tapi kata adikmu, sekali-kali datanglah ke rumah. Ada dinangoi, secangkir kopi, dan buku-bukumu menunggu.

Apa kabar grup Pinotaba di Facebook? 2012 silam, pernah aku mengirim pesan ke admin grup, agar aku bisa diterima membaur. Tapi kau tolak, kau kurang yakin kalau aku anak asli Mongondow. Iya, Pinotaba itu Perhimpunan Putra Totabuan. Mungkin marga Galuwo-ku begitu purba bagimu. Aku mengirimimu pesan lagi, "Mungkin Dinangoi sudah dilabeli seperti Pizza, jadi hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mencicipinya. He-he-he...."

Lalu kau sapa aku, utat. Segera pula kau terima permintaanku untuk bergabung dengan grup Pinotaba. Ah, lucu kala mengingatnya. Padahal itu hanya canda. Hingga dua tahun kemudian, tiga bulan yang lalu, aku meminta nomor ponselmu lewat pesan Facebook. Cukup lama kau balas. Mungkin karena kesibukanmu berkebun. Tak sempat pula kuhubungi. Sampai di sini, ada sesalku yang tersisa.

Berita pemakamanmu, sedang dicetak. Aku yang meliputnya tadi. Sempat kunukil status di akun Facebook-mu, "sibuk dgn alam nyata, hp tinggal satu2nya membuat malas gonta-ganti kartu. Mau beli hp tapi tak beruang. Akhirnya dunianya si maya sering kutinggalkan, hehe... Konsentrasi mononggoba' (berkebun)."

Iya, Anuar, menulis dan berkebun, keduanya giat yang mencipta sesuatu, jauh melampaui usia kita. Di antara nyata dan maya, ada keabadian. Semoga damai di sana. Di saung tak berujung.

Sukur moanto' utat, Anuar Syukur.